P. 1
Sejarah Krisbow

Sejarah Krisbow

|Views: 998|Likes:
Dipublikasikan oleh ainachilles

More info:

Published by: ainachilles on Jul 09, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/26/2014

pdf

text

original

GRUP KAWAN LAMA

Sebuah Fenomena Entrepreneurship

Dari satu toko kecil di kawasan Glodok warisan sang ayah, Kuncoro Wibowo dan adik-adiknya berhasil membangunnya menjadi kerajaan bisnis perkakas terkemuka di Asia Tenggara. Bagaimana usaha ini bisa meraksasa?
Alex Widjaja, pemilik toko di Kawasan Glodok, mengaku tak pernah membayangkan kalau salah satu keluarga pemilik toko alat pertukangan yang telah lama menjadi tetangganya bisa sukses memiliki perusahaan besar. Pasalnya, dulu toko milik Wong Jin (almarhum), tetangga dan temannya itu, tak lebih istimewa dari toko-toko lain di sana, termasuk toko Alex sendiri. Yang ia tahu, putra-putra Wong Jin memang rajin dan mau bersusah payah membantu ayahnya berdagang di toko. "Mereka anak-anak muda pekerja keras," tutur Alex yang tahun ini genap berusia 62 tahun. Alex mengaku ikut gembira dan takjub mengetahui putra-putra sobatnya itu kini telah berhasil membangun bisnis berskala besar dengan bendera Grup Kawan Lama (GKL). Ketakjubannya makin bertambah setelah diberitahukan bahwa gerai Ace Hardware dan Index yang mulai bertebaran di Jabotabek, ternyata juga milik keluarga kawan lamanya itu. Boleh jadi, bukan hanya Alex yang cukup terkejut dengan perkembangan bisnis GKL, tapi juga sejumlah pedagang Glodok yang tokonya berdekatan dengan toko milik Wong Jin. Maklum, puluhan tahun lalu, bisnis keluarga ini bisa dibilang tak ada apa-apanya. Bayangkan. Tahun 1960-an, toko kecil yang berdagang perkakas teknik ini tak berbeda dari toko-toko sejenis lainnya di Glodok. Ukurannya hanya sekitar 3 x 3 meter, dan tampilan ruangannya sederhana, bahkan terkesan kusam dan gelap. Di toko itulah Wong Jin yang warga Tionghoa, selain mencari nafkah juga mengajarkan kepada anak-anaknya -terutama anak lelaki tertuanya, Kuncoro Wibowo -- tentang bagaimana berdagang dan melayani pembeli, serta bagaimana bekerja keras dan belajar. Toko kecil itu sendiri sudah dibuka Wong Jin sejak tahun 1950. Roda kehidupan memang berputar. Terbukti di tangan generasi kedua -- Kuncoro Wibowo dan adik-adiknya -- GKL menjelma menjadi perusahaan besar yang menguasai bisnis perdagangan perkakas di Indonesia. Produk yang dipasarkan tak kurang dari 20 kategori dan meliputi lebih dari 60 ribu item.Sekitar 90% produk yang dijual GKL ini merupakan produk impor yang diproduksi perusahaan perkakas besar dunia. Keistimewaan GKL terutama karena mampu keluar dari kerumunan para pemain di bisnis distribusi produk perkakas dengan menunjukkan kelasnya sendiri. Bukan rahasia lagi, hampir semua pemain distribusi perkakas teknik di Indonesia adalah perusahaan kelas toko alias UKM yang banyak terdapat di bilangan Kota (Jakarta). Sulit menyebutkan bisnis mereka sebagai bisnis korporasi. GKL-lah yang paling sukses melewati kerumunan itu. ”Di Asia Tenggara, kalau Anda bandingkan dengan perusahaan distributor danshowroom perkakas lain, kamilah yang terbesar dan paling lengkap," ujar seorang eksekutif Kawan Lama. Tampaknya klaim sang eksekutif GKL itu tak berlebihan. Berbeda jauh dari para kompetitornya yang hampir semua masih menempati toko atau ruko, GKL sudah punya banyak gerai, showroom, dan kantor pusat sendiri yang cukup mentereng. Di gedung yang dijadikan markas besarnya itu GKL membuka showroom untuk displai produk seluas 2.000 m2. Showroom dilengkapi dengan sistem katalog yang terkomputerisasi sehingga sangat memudahkan visualisasi produk ke calon pembeli. Kehadiran perangkat canggih itu juga memungkinkan simulasi dan testing produk bagi calon pembeli yang ingin menjajal produk. Showroom ini dikelola salah satu anak usaha GKL yang paling tua, yakni PT Kawan Lama Sejahtera, yang kini diperkuat sekitar 1.200 karyawan. Yang tak kalah menarik, jumlah produk yang dipasarkan (termasuk yang diageni) GKL sekitar 130 merek. Hebatnya, GKL hanya mau mengageni merek-merek perkakas tiga besar (the big three) dunia. Malah, untuk mengageni merek yang punya pasar besar, GKL mendirikan perusahaan tersendiri (dedicated). Misalnya ada PT Indo Kompressigma untuk mengelola penjualan produk kompresor udara paling top di dunia dari Jerman bermerek Kaeser. Lalu, PT Miller Weldindo memasarkan mesin las asal Amerika Serikat bermerek Miller. Ada pula PT Kawan Lama Multiweldindo, pemegang lisensi pemasaran mesin las merek Saf (Prancis). Sementara PT Global Tools Indonesia memasarkan berbagai tool bermerek Facom (Prancis). Ada lagi salah satu merek yang diageni GKL dan sekarang tengah naik daun, yakni Sensormatic. Produk untuk keamanan ini berbentuk scanner yang banyak dipakai kalangan pengelola gedung (hotel, mal, dan lainnya), khususnya untuk melakukan scanning terhadap kemungkinan pengunjung yang membawa bahan peledak. GKL memasarkan produk ini di bawah bendera PT Sensormatic Indonesia. ”Kami memasarkan produk-produk itu dengan pola joint venture dengan prinsipal,” ujar Kuncoro Wibowo, yang juga CEO GKL.

” katanya menegaskan. fastening tool. melainkan hanya boleh bekerja. unsur-unsur inilah yang bisa membalikkan nasib dari nobody menjadi somebody yang terpandang. Itulah yang terjadi pada GKL. GKL juga menegakkan aturan di kantor karyawan tak boleh baca koran atau majalah. kerja keras. yang Rp 50 disimpan untuk properti atau investasi lain. Pengusaha yang selalu datang ke kantor pukul 08. Pasalnya. Apa yang salah terus diperbaiki. anak keempat dari 9 bersaudara. Untuk memasarkan produk-produknya itu GKL mendirikan 9 cabang di berbagai kota. dan sebagainya." katanya bangga.” Kuncoro mengungkapkan kiatnya. tiap pagi bawa teko yang sudah diisi teh oleh ibu. "Kami termasuk yang paling awal yang bisa melakukan penjualan dengan approach ke pabrikan. Dan. lubrikasi dan pembersih). “Jika mereka memperoleh Rp 100. Sepulang dari sekolah langsung menuju toko. Jadi bila ada industri yang butuh alat-alat perkakas. kami menyediakannya. semangat terus belajar. Ketika itu Cina belum terbuka. malah bisa dibilang cukup keras. namanya akan muncul di layar monitor.00 ini dikenal punya kepemimpinan ( leadership) yang kuat. karena perbedaan cara berpikir dan adanya keinginan untuk maju. Pengusaha yang lebih suka tampil dengan potongan rambut cepak ini menceritakan. sedari kecil memang sudah terbiasa bekerja keras -. GKL memang menyediakan aneka produk mulai dari perkakas pemotongan (cutting tool). masih bertahan bermitra dengan GKL. pengepakan dan pengiriman barang. produk kimia (untuk adesif. Selain belajar dari tempaan pengalaman selama melayani pelanggan di toko. Meski tak duduk di bangku kuliah. Ia belajar sambil bekerja di lapangan. harus bisa diperoleh. diesel. yang terurai kemudian adalah cerita kewirausahaan (entrepreneurship) yang penuh teladan.” ungkapnya lagi.Selain merek-merek top itu masih ada puluhan merek lain yang diageni GKL. jiwa dan semangat kewirausahaan Kuncoro memang terasa kental. Ketika penjual lain lebih banyak menunggu pembeli datang ke toko. Duit itu terus diputar sehingga seperti snow ball. Sebenarnya bisa dipahami bila Kuncoro menerapkan gaya ini. di toko kecil itu. Tak ayal kematangan berbisnisnya pun cepat terbentuk.” kata Kuncoro seraya menjelaskan rata-rata para prinsipal yang mereknya diageni dari awal sampai sekarang. Ketika berusia 17 tahun ayahnya sudah biasa melepas Kuncoro dan adiknya untuk menggulirkan usaha dagang keluarga sendiri. Pendeknya. “Mungkin semimiliter. lightening equipment. Misalnya untuk urusan pembelian.” kata seorang manajer di GKL menilai. alat-alat pengukuran dan presisi.dan mulai mengageni produk-produk luar negeri. terutama setelah Kuncoro dan adik-adiknya menerima tongkat estafet pengelolaan toko yang didirikan sang ayah. ”Keunikan kami adalahone stop shopping concept. Di tahun 1980-an itu.” ujar Kuncoro yang memang hanya tamatan SLTA. ia dan adik-adiknya sudah biasa membantu ayahnya bekerja di toko. ibu mengirimkan rantang nasi yang zaman dulu masih pakai rantang rotan. sedangkan Kuncoro dan dan adik-adik lelakinya ikut membantu melayani di toko.” ungkap pria yang mengaku tiga bulan dalam setahun waktunya dihabiskan di luar negeri itu. Kuncoro. sampai dilepas oleh ayah kami. membimbing adik-adiknya. Pasalnya. alarm. Malahan di usia 17 tahun itu Kuncoro sudah pergi ke luar negeri sendiri guna mencari produk-produk perkakas yang potensial diageni. Kenyataannya.” tambah Kuncoro berterus terang kepada tim SWA yang mewawancarainya. Contohnya. cat. Kuncoro sendiri sudah menjalankannya. seperti asembling mobil. “Saya kalau sudah punya keinginan. Bukan rahasia lagi bagi kalangan karyawan GKL. karyawan yang datang ke kantor telat. ia juga banyak mengambil kursus informal untuk mengasah wawasan bisnisnya. Ketika makan siang. Kuncoro melihat perusahaannya bisa berkembang jauh lebih pesat dibanding para pesaing yang sekarang masih jualan di ruko-ruko. Sebelum menyuruh anak buahnya bekerja keras. pihaknya memilih jemput bola. barang dagangannya mulai dari obeng kecil hingga kompresor dan diesel yang besarnya memenuhi ruangan. Hong Kong dan Jepang.00 dan pulang pukul 21.dan masih dilakukannya hingga sekarang. . Ia memberi contoh perbedaan dalam mengembangkan bisnis. secara tidak sadar itu terus bergulir sampai kami bisa mandiri. “Saya sudah sering pergi cari produk ke Singapura. “Saya melihat kesempatan dan timing. Boleh dibilang. “Saya percaya dengan orang ( people) dan selalu mengadaptasi teknologi baru. cleaning service. Adik perempuannya biasanya berperan sebagai kasir." kata Kuncoro yang kini mempekerjakan 3 ribu orang di kelompok usahanya. ketika masih SD. lanjut Kuncoro. “I want to be something different. ia memimpin sebuah perusahaan penjualan yang memang menuntut disiplin tinggi dan kerja keras. Salah satu alasannya. Bukan masa kuliah formal bertahun-tahun yang mengasah keterampilan bisnis Kuncoro. Yang membuat GKL cepat melaju bisa dibilang karena kegigihan Kuncoro baik dalam menangkap peluang pasar. Menyingkap perjalanan bisnis GKL memang amat menarik. di dalamnya banyak pelajaran tentang sebuah perjuangan bisnis. dia ingin selalu melakukan sesuatu yang berbeda. melainkan lebih karena tempaan kerja keras dan otodidak. Sebab. automotive service & testing equipment. pengeboran (drilling tool). kedisplinan. “Saya ingat kalau ke toko. tak berarti Kuncoro tak suka belajar.” kenang kelahiran 1956 yang punya hobi mengoleksi korek api ini. “Prinsip saya learning by practicing. hingga membangun organisasi bisnis. pihaknya tergolong perusahaan lokal pertama yang berinisiatif mencari pasar. perkakas keselamatan kerja. Selain itu. Kalau kami tidak. menggandeng prinsipal luar negeri. kompresor. waktu itu barang-barang bermerek dan berkualitas mulai bergerak di sini seiring dengan berkembangnya industri. Kuncoro rajin mengembangkan hubungan dengan para prinsipal – termasuk mengunjungi pameran di mancanegara -.

kini Krisbow sangat sukses dan merupakan merek lokal terbesar di bisnis perkakas. Kuncoro kemudian memilih Index yang sudah sukses di Thailand. GKL juga mengembangkan Index Furnishing sejak 2004. Presdir PT Ace Hardware Indonesia. ternyata kehadiran dua jenis gerai GKL itu secara tak langsung telah mengedukasi konsumen perkakas di perkotaan bahwa berbelanja perabot dan perkakas tak harus berdesak-desakan atau kepanasan. tapi sudah diekstensi untuk 22 kategori produk yang meliputi lebih dari 4. Kini. tapi lebih memberi solusi di antara kebutuhan pelanggan dan kemampuan pembelian. Sosro. perlengkapan Natal dan hari-hari besar. berhasil mentransformasi dari sekadar penjual atau agen berbagai produk milik perusahaan lain menjadi perusahaan yang punya merek sendiri. Alasan lainnya. perlengkapan rumah tangga. Index merupakan waralaba furnitur dari Thailand. Mal Artha Gading dan Mal Metropolitan Bekasi. tapi juga dalam strategi menjual dan melayani klien. Hanya saja. Langkah GKL meluncurkan merek sendiri ini merupakan terobosan (breakthrough) bagi pemain lokal. Sebenarnya. Tak heran. di akhir tahun 1970 bisa pindah ke ruko yang lebih baik. Jadi. Perkembangan jumlah gerai ritel yang menjadi andalan GKL untuk membidik pasar massal ini cukup bagus. Padahal. aksesori otomotif. tim sales kami selalu menanyakan ke calon pelanggan apa kebutuhannya dan berapa banyak dana yang dimiliki. semula Kuncoro sempat akan membangun merek sendiri dengan pemasoknya para pengusaha furnitur lokal. Sekarang mencapai 16 gerai. mulai dari cat dan perlengkapannya. Direktur Pemasaran KLS.menjadi model pemasaran B2C alias ritel. Krisbow mampu bersaing dekat dengan Kaeser yang merupakan market leader dunia. perlengkapan kemah dan barbeku. Selain Ace Hardware. Bila awalnya hanya sebuah toko berukuran 3 x 3 meter di Glodok. kini justru lebih suka . hingga furnitur.500 item. misalnya. lampu. Yang lebih menarik. Hal ini bisa dibuktikan dari makin intensifnya GKL mengembangkan gerai ritel perkakasnya: mulai dari Ace Hardware. Jumlah gerai Ace Hardware pun terus bertambah. bagi kebanyakan orang awam. Keberadaan Ace Hardware dan Index menjadi bukti bahwa GKL telah mulai mentransformasi pemasarannya dari yang semula didominasi pola pemasaran B2B -. Setidaknya GKL sudah punya tiga gerai. kini GKL juga mulai bertransformasi dari yang sebelumnya hanya fokus di bisnis B2B alias menyasar segmen korporat yang besar (big account). Ultrajaya. sampai semester pertama 2006. tak lagi mengandalkan pendekatan penjualan konvensional. Krisbow Tools Center. peralatan dan bahan berkebun. Di bidang pemasaran. Dan akhirnya. Tak heran. Ace Hardware menyediakan lebih dari 50 ribu jenis produk. akan buka dua gerai Index di Makassar dan Bandung. Dahulu. dan lainnya. Paulus Ong.” papar Tony Sartono. ke perusahaan yang juga gencar menggarap pasar ritelmassal. terdiri dari 12 kategori (disebut departemen). tahun 1985 bisa menambah gerai menjadi tiga ruko. perlengkapan mandi. Di antaranya. GKL sukses melakukan berbagai transformasi. Toko Krisbow Perkakas. Merek Krisbow sendiri kini tak hanya dipakai untuk produk kompresor. berangkatnya bukan kami punya barang dan silakan Anda beli. Sebagaimana dijelaskan Rudy Hartono. Pasalnya. Terobosan tak hanya dilakukan dalam bentuk pengembangan merek sendiri. kalangan mapan perkotaan tak suka berbelanja sendiri untuk urusan perkakas dan lebih memilih mendelegasikan ke para pembantu atau tukang. “Jadi. hingga Dunia Teknik. tahun 1997 bisa membangun gedung sendiri. Sebagai perusahaan pemasar perkakas. bukan pasar massal (mass market). banyak para majikan (terutama dari kalangan muda) yang tak sungkan lagi berbelanja perabot atau perkakas sendiri. Kurangnya popularitas ini karena memang bidang bisnis GKL yang lebih banyak menyasar ke pelanggan perusahaan. belum muncul kesadaran membangun merek sendiri.Dengan prinsip-prinsip itulah GKL terus berkembang. sejak diluncurkan 1995 pertumbuhan penjualan Ace Hardware minimal 25% per tahun. tetapi telah mengimplementasi pendekatan konsultasi. Di pasar kompresor misalnya. tapi kalangan pengusaha lokal itu tak mau dengan alasan takut desain produknya malah dijiplak. Lalu. di bisnis ini hampir 100% pemain lokal sebatas berperan sebagai agen atau distributor. boleh dibilang GKL dikelompokkan sebagai korporasi besar. melainkan bisa dilakukan di sebuah toko besar dengan suasana yang nyaman. yakni di Puri Indah. hanya saja Index lebih mengarah ke produk perabot rumah tangga (home furnishing). bukan asli merek ritel milik GKL. Sebab itu.yang sangat mengandalkan manajemen big account -. Didukung jaringan penjualan GKL yang kuat. perkakas rumah. hadiah. Unilever. skala bisnisnya boleh dipertandingkan dengan mereka itu. tersebar di beberapa kota besar di Indonesia. Kalangan ibu rumah tangga. kunci pintu. Rencananya. engsel dan handel pintu. nama Kawan Lama memang tak sepopuler pemain di industri fast moving & consumer goods semisal Coca-Cola. konsep Index hampir sama dengan ritel Ace Hardware. Sebut saja Ace Hardware. KLS misalnya. Hal ini terlihat dari keberadaan merek Krisbow yang tak lain merupakan merek yang murni dimiliki dan dikembangkan oleh GKL. Index. Dari situ tim sales membantu memberikan solusi terbaik. kontribusi penjualan Krisbow terhadap GKL mencapai sekitar 10%. Namun sekarang tak mengherankan. Direktur Operasional PT Home Center Indonesia – pengelola Index – menjelaskan pihaknya kini terus gencar mengembangkan supermarket perabot rumah tangga (home furnishing) itu. Grup Wings.

GKL ingin mengembangkan sendiri dan tidak berencana mewaralabakan atau menggandeng investor lain.datang sendiri ke Ace Hardware untuk membeli perkakas pemotong dahan. meski punya merek sendiri (Krisbow). Adapun kalau dilihat kontribusinya. Freeport Indonesia. Pilihan strategi ini rupanya tak diputuskan tanpa alasan. Catatan kritisnya. GKL juga memilih fokus di distribusi saja. yakni penjualan perkakas. kini hampir semua perusahaan besar di Indonesia menjadi pelanggan GKL untuk pengadaan perkakas. GKL berhasil ikut membangun gaya hidup yang berhubungan dengan perkakas. Aneka Tambang.” tuturnya.” tandasnya. Itulah mengapa.” kilah Kuncoro. 50% diperkirakan masih dari KLS. “Mereka melakukan strategi forward integrated. KP berkonsep lebih independen dengan varian produk yang lebih banyak dibanding KTC. Artinya. Selain itu pasti semakin memperkuat bargaining power di hadapan pemasok. Seorang eksekutif di GKL menyebutkan.” . kalau mengacu pada perhitungan Pusat Data Bisnis Indonesia. tidak di manufakturing. Sebuah sumber juga menyebutkan. Sayang Kuncoro tak bersedia menyebutkan berapa omset grup usahanya saat ini.” Kuncoro berterus terang. KPC. Surabaya dan Bandung. GKL tak mau asal cari mitra. dan Kramayuda Tiga Berlian). sekarang muncul hobi baru seperti berkebun ataupun ngebengkel. Bahkan. dan lain-lain. perusahaan-perusahaan semen. dan Rp 300-400 juta untuk KTC. Boleh dibilang. Lihat saja. pabrik elektronik. Perbedaan KP dan KTC sendiri terletak pada luas bangunan dan fokus usahanya. perusahaan pertambangan (PT Bukit Asam. meningkatkan kualitas layanan. Dalam kaitannya dengan brand building. meski GKL punya banyak anak usaha. mesin pembersih lantai. selain Ace Hardware dan Index. peranti pengecatan. Sekadar menyebut klien-klien besarnya: Garuda Indonesia. Namun. Toko Krisbow) grup ini lebih cepat. Darmadi menilai kalau langkah itu dikelola dengan baik. Lihat saja. saya pikir lama-kelamaan juga akan jatuh. Ruangannya pun tak seluas dan selengkap Ace Hardware. Hanya saja. suku cadang. Ternyata dari studi banding ke luar negeri Kuncoro mendapatkan jawaban bahwa model bisnis distribusi perkakas pun bisa survive dan membesar. Persyaratan yang ditetapkan untuk menjadi mitra pemilik KP dan KTC antara lain: memiliki lokasi strategis dengan luas bangunan minimal 150 m2. GKL malah membuka peluang kerja sama dengan investor yang berminat. Dua jenis gerai ini mulai diluncurkan 2003. Kuncoro mengaku optimistis. yakni penjualan furnitur. Darmadi memberikan catatan. yang harus diperhitungkan adalah penentuan lokasi. “Kami tak punya single customer yang mengontribusi lebih dari 3% sales kami. saya pikir peluangnya bagus. sebagian besar dimiliki oleh mitra investor. Pada Ace Hardware dan Index. ia melihat GKL masih kurang dalam melakukan emotional bonding ke konsumen. membuat program loyalitas dan terus-menerus membangun citra. “Kalau berhenti. ”Memang produknya beda. Cerdiknya. melihat langkah GKL bertransisi dari B2B ke B2C dengan mengembangkan jaringan ritel merupakan upaya mendekatkan diri ke kalangan konsumen akhir. mereka cuma sekadar buka kemudian jual. Hanya Index yang sedikit melebar. setidaknya omset grup ini di kisaran Rp 1 triliun. akan memperkuat posisinya di pasar. Sementara dalam membesarkan KP dan KTC. tapi nature of business-nya masih sama. Index. perusahaan alat-alat berat.” ia menegaskan. semuanya masih masuk dalam kompetensi intinya. Darmadi menyarankan GKL untuk terus konsisten membangunawareness. sehingga akhirnya memutuskan fokus di distribusi saja. PT Tambang Timah. pengamat pemasaran. yakni Krisbow Perkakas (KP) dan Krisbow Tools Center (KTC). soal jaringannya jangan diremehkan. Selama ini orientasi pemasaran GKL hampir 70%-80% ke kalangan end user. Mengenai kinerja anak-anak usaha GKL. “Kalau mereka bisa memilih lokasi yang baik dan pas. Tahun 1994 manajemen GKL melakukan benchmarking ke luar negeri untuk memutuskan apakah mau menggarap manufakturing atau distribusi/penjualan saja. Langkah ini juga menguntungkan karena semakin memungkinkan memperoleh margin lebih besar. Namun. sudah ada 17 gerai (16 KP dan satu KTC). Lokasi gerai ini tersebar di Jakarta. tahun 2006 GKL punya target membuka 20 gerai baru (baik KP maupun KTC). Ace Hardware dan Index. keramik. ragam produk yang dipajang memang tak selengkap di Ace Hardware karena memang fokus dengan merek Krisbow. Hanya saja belakangan ini perkembangan bisnis ritel (Ace Hardware. Gulf Resources) plus sederet perusahaan lainnya. sebagian perkakas manufakturnya juga dipasok GKL. serta memiliki dana Rp 800 juta-1 miliar untuk KP. Sebenarnya. pelanggannya hampir ada di semua sektor yang berbasis manufakturing. buka kemudian jual. GKL juga mengembangkan jenis gerai lain. proses manufakturingnya dilakukan lewat outsourcing (toll manufacturing) Yang pasti. Indomobil. Panarub Industry. ketika Toyota Astra Motor hendak melakukan setting pabrik untuk memproduksi dan meluncurkan Innova dua tahun lalu. bukan pedagang. Newmont. Disebutkan Kuncoro. Sisi lain yang menarik dari GKL adalah strateginya untuk fokus. Selama ini tiga anak usaha yang pertumbuhannya paling pesat adalah KLS. Jumlah pelanggan GKL diperkirakan lebih dari 10 ribu. Adaro. Dari sejumlah KP dan KTC yang sudah berjalan. Darmadi Durianto. dan tahun 2007 ditargetkan menambah 50 gerai baru. perusahaan asembling otomotif (Astra International. “Brand building belum mereka lakukan secara optimal.

sejauh ini kita tidak dapat menyimpulkan bahwa Ace Hardware sukses di pasar. lanjut Kafi. Mohamad B. barang bisa dipakai dan harganya pantas. “Tapi kita tidak dapat memprediksi seberapa lama mereka bisa bertahan karena mereka tidak punya pesaing.” kata Kuncoro. sebenarnya sebelum krisis GKL selalu memegang teguh kebijakan bahwa pihaknya hanya mau mendistribusikan atau menjadi agen produk-produk perkakas top 3 di dunia. Namun ke depan ia sudah berpikir untuk menyerahkan kepemimpinan pengelolaan bisnisnya kepada orang lain (profesional). Saya cukup capek dan sudah waktunya menikmati hidup yang pendek ini. Itu memang positioning GKL. Apa pun penilaian orang. “Ini seperti ombak. Abraham Susanto. Ia berhitung. Kafi Kurnia dari Peka Consulting. Krisbow bukanlah nama asing. “Ace Hardware kini menari sendirian. bila ada pengusaha yang ingin menyaingi GKL saat ini. A. Kafi berpendapat. Kafi mengakui. penguasaan pasarnya di pasar perkakas di Tanah Air. Siti Ruslina. Implikasinya. Iskandar. Tutut W. bukan berarti dapat disimpulkan kalau GKL sudah sukses. Reportase: Eddy D. dulunya tak ada tapi langsung bisa melebarkan sayap ke mana-mana. Merek ini pun dipakai untuk beragam jenis produk. menurut Kafi. Tapi apakah penjualannya bagus atau tidak. para pebisnis tidak melihat bidang ini sebagai mainstream.. “Tapi sejauh ini kami belum butuh dana dari luar untuk pengembangan bisnis. Kuncoro sendiri tetap melihat prospek bisnisnya cukup cerah. “Kebetulan ia masuk ke bisnis yang belum dilirik orang.” kata Kafi. kita hanya bisa melihat ekspansi gerainya di mana-mana dengan areanya yang cukup luas. Kebanyakan industri lebih realistis dan memilih back to basic dalam membeli barang. brankas. Celah itulah yang dilihat manajemen GKL sehingga meluncurkan Krisbow sebagai merek perkakas kelas menengah yang diposisikan sebagai substitusi merek asing yang makin mahal. Kalau kita melihat sejarah. Penyebab awalnya. mungkin saja pengalamannya tidak lagi aplikatif di masa mendatang. mereka enggan membeli merek-merek kelas dunia yang harganya makin mahal saat krisis.” ujarnya. Harga produk-produk Krisbow 30%-40% lebih murah dari merek-merk besar dunia. sudah tergolong telat. Soal IPO. Brand awareness-nya di kalangan pengguna perkakas cukup kuat.” tandas Kafi. BOKS Krisbow: Merek Lokal yang Berkibar Tanpa Pabrik Di bisnis perkakas di Indonesia. yang melihat di Indonesia pemain di kategori ini memang sangat kurang dan cenderung masih tertutup. GKL tak sulit meluncurkan merek Krisbow meski tak punya pabrik perkakas sendiri. Belum ada benchmark bagi Ace Hardware hingga saat ini. akankah mereka sukses? Kafi tak bisa memastikan. Biarkan jalan apa adanya dulu. Handayani. Yang penting buat mereka. Merek lokal ini banyak dikenal orang melalui sejumlah produknya yang didistribusikan secara massal di berbagai ritel perkakas dan hypermarket/supermarket. Demikian juga secara administratif. Di segmen kompresor. Kendati demikian. sebab di bisnis ritel perkakas ini belum ada benchmark. pompa. CEO Grup Kawan Lama.” Kuncoro menjelaskan. bukankah sebuah empire tidak bisa (bertahan) lebih dari tiga keturunan.” katanya. Kalau begitu. ia menilai sebenarnya bisa dilakukan kapan pun karena secara internal sudah siap. Kaeser. Seperti dijelaskan Kuncoro Wibowo. Toh. Saya harus sudah menyiapkan generasi baru.” ujar Kuncoro jujur. yang belakang sudah menggulung ke depan. jaringan GKL sudah begitu luas. Herning Banirestu. orang tetap akan mengunjungi karena tak ada alternatif lain. Riset: Asep Rohimat. ia hanya ingin memastikan perusahaannya tetap eksis di pasar meski ia bukan leadernya lagi. Krisbow adalah merek yang sangat populer dan bersaing ketat dengan produk kompresor buatan Jerman. Dedi Humaedi. misalnya. “Namun setelah krisis 1997. gunting dan alarm. Sikap prudent seperti ini agaknya merupakan kelebihan bisnis GKL lainnya. GKL cukup tahu siapa saja pabrikan perkakas di dunia yang bisa dipesan .” Kafi menyimpulkan. dengan jam terbang cukup panjang di bisnis ini. “One day. Pasalnya. Dalam benak Kuncoro sekarang ini. meski harga barangnya mahal dan servisnya tak bagus pun. mungkin kami akan IPO sehingga kepemilikannya tak hanya dipegang keluarga. tak seperti ritel umum. “Itu belum tentu! Seperti Ace Hardware. Sebab. pasar perkakas juga mengalami kontraksi. Daya beli kalangan industri yang selama ini menjadi target pasar GKL mengalami penurunan. Kelahiran merek Krisbow dipicu idealisme melahirkan produk alternatif sebagai solusi saat krisis moneter beberapa tahun lalu. Alasannya. sehingga hanya merek-merek ternama dunia yang diageni. Tak aneh. antara lain kompresor berukuran besar (dipakai bengkel dan pabrik besar). melihat sukses GKL sebenarnya lebih karena hoki saja. Begitu pula.S.” katanya bertamsil. GKL dengan Ace Hardwarenya tetap merupakan fenomena.Pengamat pemasaran lainnya. “Saya mulai tired.

500 item. Maklum. melainkan sebagai merek kedua. pelaku industri dan kalangan pehobi. Apalagi. “Tidak perlu memiliki pabrik sendiri. produk-produk Krisbow telah dipasarkan ke Malaysia dan Singapura sejak tahun lalu. Yang pasti. Kami ambil barang jadinya lalu dikemas dengan brand sendiri. melainkan perusahaan lokal yang mementingkan aspek value for money. “Krisbow tak menggantikan merek-merek yang ada. Manajemen KLS bisa memasarkan produk sebanyak itu karena menggandeng banyak pabrik di luar negeri sebagai mitra toll manufacturing. KLS juga akan menggandeng pabrikan di India dan Vietnam. Produk yang dipasarkan PT Kawan Lama Sejahtera (KLS) dengan merek Krisbow tak kurang dari 4. Target pasarnya. karena merupakan penggalan nama salah seorang adik Kuncoro. tapi sebagai merek tambahan dari yang sudah ada. Jadi. di bisnis perkakas industri seperti yang digeluti GKL. Industri ini memang amat berbeda dari industri food & beverage. Manajemen KLS tak memosisikan Krisbow sebagai produk yang berkualitas lebih rendah dibanding produk asing yang dijajakannya.untuk membuatkan produk (toll manufacturing). Maklum. Pabrik yang digandeng rata-rata bukan pemasok/prinsipal yang produknya diageni KLS sebelumnya. Asal-usul nama Krisbow sendiri bagi kalangan internal GKL bukan rahasia lagi. yang terdiri dari 22 kategori produk. misalnya. di industri perkakas hampir tak ada single manufacturer yang memproduksi hanya satu merek milik sendiri. di industri ini dibutuhkan pengetahuan teknologi manufaktur yang lebih maju -. mereka betul-betul mitra baru. Taiwan.” ujar Kuncoro.” kata Kuncoro menjelaskan. kebanyakan pemain adalah merek asing. Target pasar yang dituju memang bukan perusahaan multinasional. Kami anggap dunia adalah pabrik kami.hal yang sering jadi menjadi kendala buat kebanyakan pemain lokal. Kini Krisbow termasuk segelintir merek lokal asli yang cukup mapan di industrinya. Merek Krisbow diluncurkan pada 1998. yang jumlah merek lokalnya lumayan banyak. Korea dan Cina. yakni Krisnadi Wibowo. . Ada yang dari Jepang.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->