P. 1
El Nino Southern Oscillation

El Nino Southern Oscillation

|Views: 25|Likes:
Dipublikasikan oleh Okta Veanti Desak Putu

More info:

Published by: Okta Veanti Desak Putu on Jul 10, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/18/2013

pdf

text

original

NAMA NPT KELAS

: DESAK PUTU OKTA VEANTI : 13.09.1933 : METEOROLOGI IV B

Interaksi Laut dan Atmosfer pada Saat Peristiwa El Nino Southern Oscillation (ENSO)

Hubungan antara laut dan atmosfer adalah sangat erat. Dapat kita lihat dari siklus hidrologi yang merupakan sirkulasi air di planet bumi ini. Energi matahari yang merupakan penggerak utama dari siklus ini memanaskan samudra sehingga air laut menguap. Sembilan puluh persen penguapan terjadi di laut, sepuluh persen sisanya barulah penguapan yang terjadi di perairan lainnya dan dari evapotranspirasi. Dari penguapan tersebut uap air menuju atmosfer kemudian didinginkan dan membentuk awan di atmosfer. Dari awan yang sudah matang akan muncul presipitasi dan kemudian jatuh ke tanah. Air yang mengalir di permukaan akan kembali menuju laut baik melalui sungai ataupun meresap dan tersimpan di daratan. Dari siklus tersebut dapat kita lihat bahwa pengaruh laut sangat besar terhadap kejadian cuaca terutama dalam hal pembentukan presipitasi. Presipitasi hampir tidak mungkin terjadi tanpa penguapan dari lautan akibat sinar matahari (90% penguapan berasal dari lautan). Keadaan laut yang dapat mempengaruhi cuaca salah satunya suhu muka laut. Pengaruh suhu muka laut dapat kita lihat dari salah satu fenomena laut yang dapat mempengaruhi keadaan atmosfer terutama di daerah tropis, yaitu El Nino dan La Nina

a. Pengertian El Nino dan La Nina Nama El Niño diambil dari bahasa Spanyol yang berarti “anak laki-laki”, merujuk pada bayi Yesus Kristus dan digunakan karena arus ini biasanya muncul selama musim Natal; sedangkan La Niña berarti "gadis kecil". Karena fluktuasi dari tekanan udara dan pola angin di Selatan Pasifik yang menyertai El Niño, fenomena ini dikenal dengan nama El Niño– Southern Oscillation (ENSO). Gejala El Niño tidak selalu diikuti dengan Southern Oscillation, dan tanpa kombinasi keduanya efek global tidak terjadi. El Nino terjadi karena pemanasan di ekuator samudra pasifik dan pemanasan global juga menjadi salah satu unsurnya. Selain memberikan kerugian, el nino juga memberikan keuntungan pada Indonesia. Contohnya, ikan tuna di Pasifik bergerak ketimur. Namun, ikan yang berada di Samudera Hindia bergerak masuk ke selatan Indonesia. Hal itu karena perairan di timur samudera ini mendingin, sedangkan yang berada di barat Sumatera dan selatan Jawa menghangat. Hal ini membuat indonesia mendapat banyak ikan tuna dan ikan tuna pada daerah Indonesia bagian timur memiliki ukuran yang sangat besar jika dibandingkan dengan di daerah lain.

b. Evolusi Temperatur Permukaan Laut

Pada kondisi normal di Equator, laut Pasifik Barat lebih panas di bandingkan dengan Pasifik Timur. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh :  Rotasi Bumi  Daerah Tropis, equator  Mixing layer Letak daerah di ekuator yaitu dimana pertemuan antara angin pasat dan karena bumi ini berotasi sehingga angin pasat merupakan angin Timuran. Angin pasat ini memiliki komponen dari timur ke barat sehingga ada gaya yanng membawa materi seolah-olah akan bergerak ke Barat (arus Timur). Hal ini berkaitan dengan Sirkulasi Walker yaitu sirkulasi atmosfer yang berada di permukaan bumi sepanjang ekuator menuju ke Barat dan atmosfer bagian atasnya menjadi lawannya akibat dari penyeimbang dan geser angin. Sirkulasi ini secara tidak langsung juga disebabkan oleh adanya rotasi bumi yang bergerak memutar dari Barat ke Timur. Akibat dari rotasi ini akan menimbulkan penumpukan materi (massa air laut) di Barat, sehingga lapisan pencampuran/ mixing layer lebih tebal di bagian Barat. Termoklin di sepanjang ekuator Pasifik juga lebih dangkal di Pasifik Timur di banding dengan Pasifik Barat pada keadaan normalnya. Adanya evolusi temperatur permukaan air laut di sepanjang ekuator di laut Pasifik selama El Nino/La Nina. Fluktuansi kondisi air laut yaitu berkaitan dengan menghangat dan mendinginnya temperatur air laut. Menghangatnya air laut di bagian Timur-Tengah Pasifik Equatorial dari pada kondisi normalnya yaitu dapat disebut sebagai kondisi El Nino. Sedangkan pada kondisi La Nina

disebut sebagai kondisi mendinginnya air di bagian Timur-Tengah Pasifik Ekuatorial dari pada kondisi normalnya. Mendingin dan menghangatnya air laut ini berkaitan dengan perpindahan kolam panas (warm pool). b. Kondisi El Nino & La Nina

Dalam kondisi La Nina, air laut di Pasifik Timur lebih panas dai kondisi normalnya. Hal ini menyebabkan adanya konveksi yang lebih besar dari normalnya di bagian Pasifik Timur, sehingga menyebabkan Indonesia pada saat La Nina memiliki curah hujan yang lebat. Kondisi termoklin di bawah laut di sepanjang equator Laut Pasifik ketika La Nina yaitu lebih dangkal di Pasifik Timur dan lebih dalam di Pasifik Barat dari pada kondisi normalnya. Pada kondisi El Nino, air laut di Pasifik menghangat dan angin melemah di sepanjang ekuator sehingga konveksi akan berkembang di sepanjang Pasifik, maka akan terbentuk awan-awan mesoscale di wilayah Pasifik yang dapat membentuk badai. Kondisi termoklin ketika El Nino adalah termoklin dalam di Laut Pasifik Timur dan dangkal di Pasifik Barat dari pada kondisi normalnya.

c.

Distribusi Temperatur Permukaan Laut

Untuk distribusi temperatur permukaan laut ketika La Nina dan El Nino berbeda yaitu, ketika El Nino aliran air yang bertemperatur dingin yang pada keadaan normalnya muncul, kini menjadi tidak ada. Ketika El Nino yang sangat kuat akan muncul air yang berteperatur panas di sepanjang ekuator. Ketika La Nina aliran air dingin di Pasifik Timur lebih muncul dari pada keadaan normalnya. Dalam kaitannya dengan respon nonlinear dari lautan, La Nina tidak hanya merupakan lawan/kebalikan dari El Nino.

d. Distribusi Curah Hujan

Ketika El Nino terjadi konveksi maksimum di International Date Line (IDL) sehingga akan memproduksi daerah yang kondisinya ekstrim basah dengan curah hujan yanng tinggi dan kadang konveksi yang dalam dapat menghasilkan awan-awan berpotensi badai. Sedangkan seperti daerah Indonesia yang kondisi normalnya daerah basah menjadi daerah dengan kondisi kering. Curah hujan yang turun di daerah Indonesia berkurang akibat berkurangnya konveksi yang terjadi di sekitarnya. Sedangkan ketika La Nina konveksi menguat di daerah Indonesia sehingga curah hujan lebih banyak turun di banding kondisi normalnya. Kadang curah hujan yanng berlebihan menyebabkan di Indonesia sampai terjadi bencana Banjir dan tanah longsor. Sebaliknya di sekitar daerah IDL kondisi cuaca kering.

e.

Anomali SLP (Sea Level Pressure)

Ketika El Nino kondisi SLP di Pasifik Barat yaitu sekitar Australia Utara dan Indonesia berada di atas normalnya dan sebaliknya kondisi SLP di daerah Timur Pasifik sekitar Pantai Amerika Selatan berada di bawah kondisi normalnya. Kondisi SLP bernilai negatif (-) yaitu ketika anomali SLP berada di laut Amerika Utara. Sedangkan ketika La Nina kondisi SLP di Pasifik Barat berada di bawah normalnya dan SLP di Timur Pasifik berada di atas normalnya. SPL positif (+) yaitu ketika anomali muncul positif di laut Amerika Utara.

f.

Durasi El Nino dan La Nina

El Nino muncul setiap 4-5 tahun dan bertahan selama 12-15 bulan lamanya. Untuk Perisiwa El Nino yang kuat akan muncul sekali setiap 10-15 tahun. Sedangkan La Nina muncul sampai 1-3 tahun.

g.

Evolusi SST, angin 850 mb dan Anomali Presipitasi

Selama El Nino curah hujan diangkat di atas temperatur laut yang tinggi secara abnormal, sedangkan angin timuran lemah secara abnormal pula. Selama La Nina, curah hujan ditekan ketika temperatur laut lebih rendah dari pada normalnya dan angin timaran lebih kencang dari normalnya. Hubungan antara SST, angin 850 mb, dan presipitasi berbeda-beda dari waktu ke waktu.

h. Kandungan Panas di Laut Bagian Atas dan Termoklin
Dalam prediksi, kandungan panas di laut bagian atas dijadikan sebagai prediktor yang diwakilkan oleh kedalaman termoklin. Selama El Nino, kedalaman termoklin berangsur-angsur berubah dari barat ke timur. Ketika di Pasifik Barat termoklin lebih dalam dari normalnya, pada kondisi inilah El Nino mulai muncul. Selama El Nino, termoklin semakin dalam di sepanjang Pasifik ekuator. Hal ini menunjukkan adanya transfer energi. Sedangkan di akhir El Nino, termoklin akan semakin dangkal di hampir semua tempat.

Ketika kedalaman termoklin sudah dangkal, bahkan sedikit saja anomali angin timuran dapat menyebabkan terjadinya upwelling. Upwelling membawa air yang lebih dingin ke permukaan. Kondisi ini merangsang tumbuhnya La Nina secara tiba-tiba. Angin Rendah dan Kedalaman Termoklin : Sebuah Kesimpulan

El Nino Angin timuran yang lebih lemah dari pada normal mengurangi upwelling di sepanjang ekuator. Hal ini menyebabkan semakin dalamnya kedalaman termoklin sepanjang timur sampai ke tengah Pasifik. Transfer energi dari barat ke timur mengurangi kedalaman termoklin di sepanjang Pasifik Barat.

La Nina Angin timuran yang lebih kencang dari pada normal, memperkuat upwelling di sepanjang ekuator. Hal ini menyebabkan termoklin mendangkal dan SST lebih rendah di Pasifik Timur. Angin timuran yang lebih kencang ini menyimpan pula air di Pasifik barat, yang meningkatkan energi panas, dan karenanya meningkatkan pula kedalaman termoklin di wilayah tersebut.

i.

Transisi Alam

El Nino ke La Nina Berlangsungnya El Nino membuat kedalaman termoklin menjadi lebih dangkal dari pada normal di sepanjang ekuator Pasifik. Ketika termoklin menjadi dangkal, bahkan sedikit fluktuasi angin akan memperdingin permukaan laut akibat meningkatnya upwelling. Kondisi ini akan merangsang munculnya La Nina secara tiba-tiba. Transisi ini bisa memakan waktu satu sampai dua bulan. La Nina ke El Nino Menguatnya angin timuran membuat air terakumulasi di sepanjang Passifik barat, menyebabkan melambatnya pembentukan kembali kolam panas. Seiring dengan semakin intensif dan meluasnya kolam panas, termoklin juga semakin dalam. Proses ini terus berlangsung hingga terbentuk kondisi yang menguntungkan untuk berkembangnya El Nino. Transisi ini jauh lebih lambat, hingga memakan waktu sekitar satu sampai dua tahun.

Struktur Termoklin : Fase Awal El Nino Pada Januari 1997, permulaan dari peristiwa El Nino 1997-98, termoklin mendalam di sepanjang Pasifik barat. Isoterm 20°C berada di kedalaman dimana kontras temperatur merupakan yang terbesar. Ketika fenomena tersebut dimulai, termoklin semakin dangkal di sepanjang Pasifik barat.

Struktur Termoklin : Fase Puncak dan Akhir El Nino Pada Januari 1998, ketika fenomena ini mencapai puncaknya, termoklin mendekati horizontal di sepanjang ekuator Pasifik. Hingga Juni 1998, termoklin menjadi sangat dangkal di pasifik tengah, hingga menghasilkan kondisi yang baik untuk dimulainya La Nina.

Struktur Termoklin : Fase La Nina Selama fase awal La Nina (Januari 1998), termoklin di ekuator di Pasifik Barat semakin dalam. Ketika fenomenanya semakin intensif (Juni 1999), termoklin semakin dalam lagi dan kolam panas semakin meluas.

Temperatur Permukaan Laut : dari El Nino ke La Nina Adanya transisi yang cepat dari fase hangat ke dingin. Munculnya air yang lebih dingin di sepanjang Pasifik timur mengisyaratkan berakhirnya El Nino dan munculnya La Nina. Keberadaan air dingin di timur/tengah Pasifik meningkatkan gradien temperatur antara timur dan barat sehingga memperkuat hembusan angin timuran. Angin timuran yang kencang meningkatkan upwelling, memperbesar gradien temperatur antara Pasifik timur dan barat. Dimulainya proses ini akan memakan waktu untuk pembalikan aliran. Kemunculan air yang lebih hangat dari normal di permukaan dan subpermukaan laut mendekati The International Date Line memicu proses lainnya, yang kemudian membentuk kondisi El Nino.

Dari peristiwa El Nino ini terlihat jelas kalau hubungan antara laut dan atmosfer sangat erat. Dalam menganalisa keadaan cuaca, interaksi antara laut dan atmosfer harus dipelajari dengan baik.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->