Anda di halaman 1dari 8

PHIMOSIS

Phimosis adalah suatu keadaan dimana kulit penis (preputium) melekat pada bagian kepala penis (glans) dan mengakibatkan tersumbatnya lubang saluran kemih, sehingga bayi dan anak menjadi kesulitan dan rasa kesakitan pada saat buang air kecil. Phimosis secara fisiologis terjadi secara alami pada bayi laki-laki yang baru lahir. Patologis dari phimosis didefinisikan sebagai ketidakmampuan untuk menarik kulup setelah sebelumnya yang dapat ditarik kembali dan terjadi setelah masa pubertas, biasanya sekunder oleh karena scar/parut dari distal pada kulup penis. Hal ini dapat disebabkan oleh infeksi kronis yang disebabkan oleh kurangnya memperhatikan kebersihan pada penis. Fimosis seringkali terjadi pada anak-anak. Fimosis terdiri dari dua macam yaitu fimosis yang sebenarnya (true phimosis) dan fimosis palsu (pseudo phimosis). Fimosis yang sebenarnya adalah fimosis yan disebabkan oleh sempitnya muara di ujung kulit kemaluan secara anatomis sedangkan fimosis palsu adalah fimosis yang bukan disebabkan oleh kelainan anatomi melainkan karena adanya faktor perlengketan antara kulit pada penis bagian depan dengan glans penis sehingga muara pada ujung kulit kemaluan seakan-akan terlihat sempit. Rickwood dan rekan-rekannya menyediakan definisi medis yang spesifik mengenai phimosis: phimosis yang sesungguhnya adalah kulit distal penis (preputium) yang kaku dan tidak bisa ditarik, yang disebabkan oleh Balanitis Xerotica Obliterans (BXO). Jika phimosis ini dibiarkan maka kotoran-kotoran yang tertinggal di ujung penis akan sering menimbulkan infeksi, akibatnya anak menjadi lebih sering demam dan nafsu makannya akan turun, ujung-ujungnya ini bias mengganggu masa pertumbuhan si anak. Lalu ada pula kemungkinan timbulnya infeksi pada saluran air kemih (ureter) kiri dan kanan yang akan merambat ke ginjal dan menimbulkan kerusakan pada ginjal. Kepala penis anak laki-laki mungkin bisa kencang setelah masa puber. Ini adalah kondisi yang sepenuhnya normal dan itu bukan phimosis. Menurut pengalaman di dalam kebudayankebudayaan dimana penyunatan tidak biasa dilakukan, pengencangan ini sangat jarang membutuhkan pengobatan. Peregangan yang terjadi dengan sendirinya biasanya muncul seiring dengan meningkatnya kedewasaan. Seseorang bisa mengharapkan 50 persen dari anak laki-laki

yang berusia sepuluh tahun; 90 persen dari anak laki-laki yang berusia 16 tahun, dan 98-99 persen dari pria yang berusia 18 tahun untuk memiliki kulit khatan yang sepenuhnya bisa ditarik. Pengobatan jarang dibutuhkan. Jika perawatan memang penting, maka hal itu seharusnya tidak dilakukan hingga setelah masa puber dan pria bisa menimbang pilihan terapis dan mengambil keputusan berdasarkan informasi yang ia miliki. Perhatikan bahwa kulit khitan anak-anak belum matang dan tidak boleh ditarik paksa untuk dibersihkan atau untuk alasan appaun lainnya, karena tindakan ini akan menyebabkan keruskan pada jaringan-jaringan yang sedang berkembang. Anak itu harus diberitahu bahwa kulit khatannya pada akhirnya akan bisa ditarik. Orang pertama yang menarik kulit khatan tersebut harus anak itu sendiri. Di salah satu artikel, fimosis pada bayi atau anak kecil ini adalah hal yang lazim, bahkan di Jepang, fimosis ditemukan pada 88% bayi yang berusia 1 hingga 3 bulan dan 35% pada balita berusia 3 tahun. Pada artikel lainnya, saya temukan bahwa fimosis ini bisa disembuhkan dengan bantuan penarikan kulit ujung penis secara rutin, beberapa diantaranya bahkan dibiarkan saja karena akan menghilang sendiri seiring dengan tumbuhnya si anak.

Patofisiologi Penis dari laki-laki yang belum dikhitan terdiri dari batang penis, glans penis, sulcus coronal glans penis, dan preputium (kulup). Phimosis yang fisiologis merupakan hasil dari adhesi lapisan-lapisan epitel antara preputium bagian dalam penis dengan glans penis. Adhesi ini secara spontan akan hilang pada saat ereksi dan retraksi kulup secara intermiten, jadi seiring dengan bertambahnya usia (masa puber) phimosis fisiologis akan hilang diikuti dengan penambahan usia. Higienitas yang buruk pada daerah sekitar penis dan episode balanitis atau balanophostitis berulang yang mengarah terbentuknya scar pada orificium preputium, dapat mengakibatkan fimosis patologis. Retraksi preputium secara paksa juga dapat mengakibatkan luka kecil pada orificio preputium yang dapat mengarah ke scar dan berlanjut phimosis. Pada orang dewasa yang belum berkhitan memiliki resiko phimosis secara sekunder karena kehilangan elastisitas kulit dan kurangnya frekuensi ereksi. Pasien dengan phimosis, baik fisiologis dan patologis, beresiko berkembang menjadi paraphimosis ketika kulup ditarik secara paksa melewati glans penis.

Phimosis Fisiologis Manisfestasi Klinis

Phimosis Patologis

Dari anamnesis dapat diketagui beberapa hal. Orangtua dari pasien yang menderita phimosis fisiologis biasanya membawa pasien ke dokter setelah mengetahui ketidakmampuan anaknya untuk menarik kulup selama pembersihan rutin atau pada saat memandikan sang anak. Orangtua juga mungkin merasa khawatir karena ballooning pada preputium pada saat proses miksi, yang sebenarnya hal itu normal pada anak-anak laki-laki. Dari segi phimosis patologis bisa diketahui dari anamnesis pada laki-laki yang mengalami nyeri pada saat ereksi, ada pula gejala hematuria, infeksi saluran kemih yang berulang, nyeri pada preputium atau melemahnya pancaran urin pada saat miksi. Dari pemeriksaan fisik, pada phimosis didapatkan bahwa preputium yang tidak dapat ditarik kearah proksimal hingga melewati glans penis. Pada phimosis fisiologis, orificio preputium tidak terdapat scar atau jaringan parut dan terlihat sehat/baik-baik saja. Sedangkan pada phimosis yang patologis dapat terlihat kontraksi dari cincin putih fibrosa di sekitar orificio preputium.

Pemeriksaan Penunjang

Untuk phimosis diagnosis klinis sudah dapat ditegakkan hanya dari gejala klinis dan pemeriksaan fisik, sehingga tidak ada indikasi untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium atau penciteraan. Terapi Ilmu pengetahuan medis telah mengembangkan tiga kelas perawatan yang berbeda dengan penyunatan yang ekstrem atas kulit khatan yang mengencang. Pengobatan pertama adalah perawatan medis dengan mengoleskan salep di kepala penis, yang kedua adalah perlahan-lahan menarik bukaan kulit khatan untuk membuatnya lebih besar, dan yang ketiga adalah menggunakan pembedahan untuk membuat bukaan kepala penis lebih luas. Ketiga perawatan itu didiskusikan di bawah ini. Pengobatan Aktual

Tahun 1990an telah melihat datangnya penggunaan obat-obatan steroidal dan non steroidal yang aktual untuk mengobati kulit khitan yang mengencang (phimosis) pada anak laki-laki. Salep steroid saat ini menjadi perawatan yang paling diminati untuk phimosis, karena rendahnya ketidakwajaran, sedikitnya rasa sakit atau trauma, dan rendahnya biaya. Laporan-laporan pada literatur medis dari Swedia, Norwegia, Denmark, Italia, Perancis, Australia, Serbia, dan Amerika Serikat telah menunjukkan kemanjuran salep steroid ini atas penyempitan kepala penis pada anak laki-laki. Penggunaan salep steroid pada kulit khitan memiliki efek mempercepat pertumbuhan normal dan perluasan kulit khitan yang terjadi setelah beberapa tahun dan biasanya memberikan hasil berupa kulit khitan yang langsung bisa ditarik. Kulit khitan yang sempit biasanya pada akhirnya dapat meluas dengan sendirinya tanpa memerlukan pengobatan.

Pengobatan ini tidak membutuhkan pembedahan. Tidak ada trauma dan risiko pembedahan. Perawatan ini tidak mahal. Kulit khitan dan semua fungsi protektif, rangsangan seksual, sensori, dan fisik seksual masih tetap dipertahankan. Juga dilaporkan tingkat kesukesan di kisaran 85-95 persen. Pengobatan dari kepala penis yang sempit dan tidak bisa ditarik dengan salep steroid direkomendasikan oleh the American Academy of Pediatrics dalam Circumcision Policy Statement tahun 1999. CIRP memberikan daftar pustaka dari artikel-artikel medis atas penggunan salep steroid untuk mengobati phimosis. Ilmuwan telah mengadakan riset atas penggunaan salep steroid

didalam pengobatan medis (tanpa pembedahan) atas kulit khatan yang tidak bisa ditarik. Semua telah menemukan bahwa pengobatan medis seperti itu aman dan memiliki tingkat kesuseksan sekitar 85 %. Yilmaz et al. merekomendasikan penggunaan dari salep steroid untuk menghindari rasa ragu-ragu, stress, dan trauma yang disebabkan oleh penyunatan. Perluasan dan peregangan

Kulit yang berada di bawah tekanan menjadi lebih luas dengan cara menumbuhkan sel-sel baru. Membesarnya ukuran kulit ini terjadi karena penarikan yang lembut selama jangka waktu tertentu. Perawatan ini tidak traumatis dan tidak merusak. Peregangan secara manual bisa dilakukan tanpa bantuan dari dokter maupun paramedis. Perawatan ini tidak mahal. Pertolongan terhadap phimosis dengan teknik peregagnan memiliki keuntungan berupa terjaganya semua jaringan kulit khatan dan syara-syaraf kenikmatan seksual. Metode Beaug telah terbukti berhasil untuk banyak orang. Perawatan Gabungan

Sebuah laporan dari Italia mengenai kombinasi penggunaan salep steroid dan peregangan untuk memberikan membebaskan kulit khatan yang tidak bisa ditarik. Alternatif Operasi Tradisional

Preputioplasty adalah istilah medis untuk operasi plastik pada kulit khitan. Tindakan itu adalah alternatif yang lebih tradisional terhadap penyunatan tradisional atau dorsal slit (menyobek sedikit ujung kulit khatan sehingga kepala penis terekspos) untuk perawatan dari preputial stenosis atau phimosis. Banyak dokter telah menyarankan alternatif operasi atau pembedahan untuk penyunatan karena banyaknya masalah, risiko, komplikasi,dan kerugian dari penyunatan Keuntungan-keuntungan dari preputioplasty antara lain adalah lebih cepat, pemulihannya lebih tidak menyakitkan, lebih sedikit ketidakwajaran, serta kulit khatan dan bermacam-macam fungsinya yakni fungsi protektif, erogenous, dan seksual fisiologis masih bisa dipertahankan.

1. Spilsbury K, Semmens JB, Wisniewski ZS, Holman CD (2003). "Circumcision for phimosis and other medical indications in Western Australian boys". Med. J. Aust. 178 (4): 1558. PMID 12580740. http://www.mja.com.au/public/issues/178_04_170203/spi10278_fm.html 3. Ohjimi T, Ohjimi H (1981). "Special surgical techniques for relief of phimosis". J Dermatol Surg Oncol 7 (4): 32630. PMID 7240535 2. Oster J (1968). "Further fate of the foreskin. Incidence of preputial adhesions, phimosis, and smegma among Danish schoolboys". Arch. Dis. Child. 43 (228): 2003

4. dasar urologi, basuki purnomo 5. Ricardo Munarriz a; Lily Talakoub a; Wendy Kuohung a; Melissa Gioia a; Lisa Hoag a; Elizabeth Flaherty a; Kweonsik Min a; Seong Choi a; Irwin Goldstein, The Prevalence of Phimosis of the Clitoris in Women Presenting to the Sexual Dysfunction Clinic: Lack of Correlation to Disorders of Desire, Arousal and Orgasm, Journal of Sex & Marital Therapy, Volume 28, Issue 1 Supplement 1 February 2002 , pages 181 185 6. Richard A Santucci, MD, FACS, Chief of Urology, Detroit Receiving Hospital ; Phimosis, Adult Circumcision, and Buried Penis (http://emedicine.medscape.com/article/442617overview) 7. Hina Z Ghory, MD ; Phimosis and Paraphimosis (http://emedicine.medscape.com/article/777539-overview) 8. Meuli M, Briner J, Hanimann B, Sacher P. Lichen sclerosus et atrophicus causing phimosis in boys: a prospective study with 5-year followup after complete circumcision. J Urol. Sep 1994;152(3):987-9 9. Van Howe RS (1998). "Cost-effective treatment of phimosis". Pediatrics 102 (4): E43. A review of estimated costs and complications of 3 phimosis treatments (topical steroids, praeputioplasty, and surgical circumcision). The review concludes that topical steroids should be tried first, and praeputioplasty has advantages over surgical circumcision. This article also provides a good discussion of the difficulty distinguishing pathological from physiological phimosis in young children and alleges inflation of phimosis statistics for purposes of securing insurance coverage for post-neonatal circumcision in the United States.
10. Berdeu D, Sauze L, Ha-Vinh P, Blum-Boisgard C (2001). "Cost-effectiveness analysis of treatments for phimosis: a comparison of surgical and medicinal approaches and their economic effect". BJU Int. 87 (3): 23944

11. Beaug M (1997). "The causes of adolescent phimosis". Br J Sex Med 26 (Sept/Oct).
12. Beaug, Michel (1991). "Conservative Treatment of Primary Phimosis in Adolescents". Faculty of Medicine, Saint-Antoine University. http://www.cirp.org/library/treatment/phimosis/beauge/.

13. Saxena AK, Schaarschmidt K, Reich A, Willital GH (2000). "Non-retractile foreskin: a single center 13-year experience". Int Surg 85 (2): 1803