Obat-obat Baru Anti Malaria

Emiliana Tjitra Pusat Penelitian Penyakit Menular, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI, Jakarta

ABSTRAK Salah satu kendala dalam penanggulangan malaria adalah masalah pengobatan kausal karena sampai saat ini belum ditemukan obat antimalaria yang ideal dan hanya kina sebagai obat antimalaria penyelamat. Di samping itu kasus Plasmodium resisten terhadap obat antimalaria sudah menyebar luas dan bertambah berat. Untuk mengantisipasi hal tersebut, sejumlah obat antimalaria sintetis telah dan sedang diuji coba pada akhir abad ini. Obat-obat ini dikenal sebagai antimalaria baru yang belum terdaftar, beredar dan dipakai di Indonesia. Meflokuin, halofantrin dan artesunat (derivat artemisinin) adalah obat antimalaria baru yang bersifat skizontosida darah, dan telah diuji coba terhadap penderita malaria falsiparum tanpa komplikasi. Obat-obat ini memberi basil yang baik dengan efek samping ringan. Angka kesembuhan, waktu bebas panas dan waktu bebas parasit yang dibutuhkan adalah 94 – 100%, 9,3 – 25 jam dan 47,1– 59 jam untuk meflokuin; 98,4%, 22,4 ± 22,7 jam dan 58,3 ± 5,2 jam untuk halofantrin; 75%, 14,0 ± 4,6 jam dan 32,0 ± 5,9 jam untuk artesunat. Derivat artemisinin lain yaitu artesunat dan artemether (parenteral) sedang dan akan diuji coba untuk penderita malaria berat atau dengan komplikasi; halofantrin juga sedang diuji coba untuk malaria falsiparum dengan komplikasi tidak berat dan malaria vivaks. Obat antimalaria baru lainnya yang juga bersifat skizontosida darah dan belum pernah diuji coba di Indonesia adalah yinghaosu, pyronaridine, piperaquine dan atovaquone. diberikan, serta resistensi Plasmodium terhadap obat antimalaria yang sudah meluas. Pengobatan malaria tidak hanya meliputi pengobatan kausal dengan obat antimalaria, pengobatan simptomatik atau suportif juga tidak kalah pentingnya. Hal ini disebabkan karena malaria merupakan penyakit sistemik yang dapat mengenai organ otak, paru, hati, ginjal dan sebagainya yang juga perlu diperbaiki kelainan patofisiologinya. Obat antimal aria sudah sejak lama dikenal dan sudah banyak ditemukan tetapi sampai saat ini belum ada yang ideal. Obat antimalaria yang ideal adalah obat yang efektif terhadap semua

PENDAHULUAN Malaria adalah salah satu penyakit menular yang merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia terutama di Indonesia Bagian Timur. Salah satu kendala dalam penanggulangan malaria adalah masalah pengobatan, walaupun Badan Kesehatan Dunia (WHO) maupun Departemen Kesehatan telah mempunyai pedoman penatalaksanaan kasus malaria. Kesulitan dalam pengobatan diawali dari kepastian diagnosis sedini mungkin sampai pada kegagalan pengobatan. Kegagalan pengobatan dapat disebabkan karena keterlambatan mendapat pengobatan, ketidaktepatan regimen dan dosis obat yang

efek samping ringan dan toksisitas rendah(1). Efek samping yang pernah dilaporkan adalah sindrom Steven Johnson yang dapat berakibat fatal. penderita malaria dengan komplikasi atau malaria berat yang sensitif klorokuin dapat diberikan klorokuin 5 mg basa/kg BB dalam larutan infus 10 ml/kg BB NaCl 0. DKI dan Kaltim). Pembatasan penggunaan obat tersebut berguna untuk menekan berkembangnya kasus resisten terhadap obat-obat antimalaria lainnya. Sulsel. Waktu paruh kina pada 2. Waktu paruh klorokuin adalah 1–2 bulan tetapi waktu paruh yang sebenarnya untuk pengobatan adalah 6–10 hari(11). Kasus P. Klorokuin Klorokuin merupakan obat antimalaria kelompok 4-aminokuinolin yang bersifat skizontosida darah untuk semua jenis Plasmodium manusia dan gametositosida P. Sampai saat ini kina merupakan satu-satunya obat antimalaria penyelamat untuk pengobatan malaria komplikasi atau malaria berat dan juga malaria resisten multidrug(1. dosis tunggal(1). sulfadoksin/sulfalen-pirimetamin. cara pemakaian mudah. Angka kesembuhan yang dilaporkan sangat bervariasi antara 10-100% dengan derajat resistensi yang beragam antara R I – R III(9≠9). penderita yang ditemukan di DKI Jakarta merupakan kasus import. Dosis total klorokuin untuk malaria tanpa komplikasi dan sensitif klorokuin adalah 25 mg basa/kg BB. harganya terjangkau oleh seluruh lapisan penduduk dan mudah diperoleh. SP tidak dipakai untuk profilaksis(1. Meluas dan bertambah beratnya derajat resistensi terhadap obat ini. Penilaian sensitivitas obat hanya baru dapat dilakukan terhadap obat-obat yang bersifat skizontosida darah dengan tes in vitro menggunakan kit WHO dan tes in vivo sistim 7 hari untuk di lapangan atau sistim 28 hari atau lebih di klinik atau di rumah sakit(23). Sumut. penderita yang ditemukan di DKI Jakarta dan Bali merupakan kasus import.9% atau dextrosa 5%. .pirimetamin Merupakan obat antimalaria kombinasi antara golongan sulfonamida/sulfon dengan diaminopirimidin yang bersifat skizontosida jaringan P. Sulfadoksin/Sulfalen . Klorokuin dikemas dalam bentuk tablet dan suspensi untuk pemberian peroral. rasanya tidak pahir. muntah dan sakit perut. Kina Kina merupakan obat antimalaria kelompok alkaloida kinkona yang bersifat skizontosida darah untuk semua jenis Plasmodium manusia dan gametositosida P. 3. Bila tidak ada kina dihidroklorida. vivax dan P. beredar dan dipakai di Indonesia. tetapi umumnya penelitian ditujukan kepada P. sejumlah obat antimalaria sintetis telah dan sedang diuji coba pada akhir abad ini. falciparum resisten in vivo atau in vitro terhadap sulfadoksin-pirimetamin sudah ditemukan di 9 propinsi Indonesia (Irja. Kina dikemas dalam bentuk tablet untuk pemberian peroral dan larutan untuk pemberian parenteral. Kombinasi obat ini digunakan secara selektif untuk pengobatan radikal malaria falsiparum di daerah-daerah dengan proporsi P. dalam 4 jam. mual. Waktu paruh sulfonamida adalah 180 jam.12). malariae. Meluasnya kasus resisten terhadap obat ini mungkin disebabkan pemakaian yang tidak terkontrol karena obat tersebut dijual bebas. Jateng. Obat-obat ini dikenal sebagai obat antimalaria baru yang belum terdaftar. Obat antimalaria yang ada dan telah dipakai di Indonesia adalah klorokuin. semakin dominan dan telah resisten terhadap banyak obat antimalaria(8–10). Dosis yang diberikan untuk pengobatan malaria falsiparum tanpa komplikasi yang resisten klorokuin adalah sulfadoksin 25 mg/kg bb. Lampung. Efek samping yang pernah dilaporkan adalah pusing.15). dan larutan untuk pemberian parenteral. dan pemakaian antibiotika golongan sulfa yang juga meluas. diplopia. Klorokuin juga dipakai sebagai obat antimalaria pilihan untuk profilaksis dengan dosis 5 mg basa/kg BB/minggu. kina dan primakuin. falciparum karena jenis Plasmodium ini yang biasanya berhubungan dengan malaria berat yang banyak menimbulkan kematian. Di samping itu terdapat beberapa obat yang terdaftar sebagai antibiotika di Indonesia tetapi dapat juga bekerja sebagai antimalaria yaitu golongan tetrasiklin. Kasus P. Kasus P. skizontosida darah dan sporontosida untuk ke empat jenis plasmodium manusia. OBAT ANTIMALARIA DI INDONESIA 1. diberikan dalam 3 hari yaitu hari 1 dan 2 masing-masing 10 mg basa/kg BB dan pada hari 3 adalah 5 mg basa/kg BB dengan dosis tunggal. diulang setiap 12-24 jam sampai mencapai dosis total 25 mg basa/kg BB dalam 3 hari(1. vertigo. Hal ini yang membuat penderita minum obat tidak sesuai aturan atau menolak di samping rasanya yang pahit. Obat antimalaria dapat dikelompokkan menurut rumus kimia dan efek atau cara kerja obat pada stadia parasit. Aceh. Walaupun telah ditemukan kasus Plasmodium vivax resisten terhadap klorokuin(4–7). falciparum. Sulfadoksin/sulfalen . obat ini tidak diberikan untuk bayi. malariae. Angka kesembuhan yang dilaporkan adalah antara 92-100% dengan derajat resisten R I – R II(9). vivax resisten in vivo terhadap klorokuin juga telah dilaporkan oleh beberapa peneliti berdasarkan konsentrasi klorokuin dalam darah serum yang diukur dengan cara High Performance Liquid Chromatography (HPLC) yang sudah melebihi 15 ng/ml(13). mungkin disebabkan oleh pemakaian yang tidak terkontrol dan penggunaan yang tidak tepat karena obat tersebut dijual bebas. Obat ini merupakan obat pilihan utama untuk pengobatan dan pencegahan semua jenis malaria yang dipakai dalam program pemberantasan malaria(1).12). dosis tunggal. Penggunaan obat-obat yang terdaftar sebagai antimalaria sudah diatur dan dibakukan oleh Departemen Kesehatan sesuai dengan daerah dan sensitivitas Plasmodium falciparum terhadap obat-obat antimalaria.jenis dan stadia parasit. menyembuhkan infeksi akut maupun laten. falciparum resisten in vivo dan atau in vitro terhadap klorokuin sudah ditemukan di 27 propinsi Indonesia. Riau. vivax dan P. dan pirimetamin 1. mudah pemberiannya. Untuk mengantisipasi hal tersebut. sedangkan pirimetamin adalah 90 jam(14). klindamisin dan lain-lain.pirimetamin (SP) dikemas dalam bentuk tablet untuk pemberian peroral. falciparum resisten terhadap klorokuin yang tinggi(1).25 mg/kg bb.

Doksisiklin dan minosiklin dikemas dalam bentuk tablet atau kapsul untuk pemberian peroral. selama 5 hari. Dosis pengobatan radikal malaria falsiparum adalah 0. Penggunaan doksisiklin sebagai profilaksis kausal dengan dosis 100 mg/hari. 10 ml/kg bb. Dosis yang diberikan adalah 1. Obat ini tidak dipakai sebagai obat antimalaria dalam program. dosis kina untuk anak-anak adalah 10 mg garam/kg bb.25–0.(13–14. Waktu paruhnya adalah 6 jam(19–20). Angka kesembuhan yang diperoleh adalah 100% dan waktu bebas parasit yang dibutuhkan adalah 2–6 hari. Obat ini tidak dianjurkan dipakai dan juga tidak dipakai untuk profilaksis kausal dalam program(1). sedangkan pada penderita malaria tanpa komplikasi 16 jam dan pada malaria berat 18 jam(16). dengan dosis awa120 mg garam atau 16.. gametositosida dan sporontosida untuk jenis Plasmodium manusia. kina diberikan dalam larutan NaCl atau Dextrosa 5%. 3) Lain-lain Kloramfenikol.. vivax resisten in vivo terhadap kina pada penderita pasca transfusi juga telah ditemukan di sebuah rumah sakit di DKI Jakarta(7). 4. penggunaannya selektif.15). Waktu paruh doksisiklin adalah 18–22 jam. tiap 8 jam selama 7 hari.7 mg basa/kg bb. tiap 8 jam selama 3 hari untuk mencapai Minimal Inhibitory Concentration (MIC)(15). Tetrasiklin. Oleh karena primakuin bukan merupakan obat antimalaria yang bersifat skizontosida darah. sulfametoksasol-trimetoprim dan siprofloksasin (kuinolon) merupakan antibiotika lain yang juga bersifat ant=malaria dan bekerja lambat.21). Oleh karena kerjanya lambat dan kurang efektif. kurang disukai karena memerlukan waktu yang agak lama (7 hari) dan efek samping yang ditimbulkan. Pemberian dosis awal (loading dose) dengan maksud lebih cepat memberi basil. dalam 4 jam pertama. dosis tunggal selama 5–14 hari.3 mg basal kg bb. Dosis yang diberikan adalah 250 mg setiap 8 jam selama 7 hari(1. falciparum dan juga yang resisten klorokuin(22–23). falciparum. . Di Thailand. obat ini digunakan bersama obat antimalaria lain yang kerjanya cepat dan menghasilkan efek potensiasi antara lain dengan kina. Efek samping yang dilaporkan adalah gangguan saluran pencernaan yaitu mual. tetapi tidak diberikan kepada penderita yang dalam 48 jam sebelumnya sudah diberi kina. Obat ini tidak diberikan pada anak-anak yang berumur < 8 tahun dan pada ibu hamil karena dapat menyebabkan perubahan warna gigi dan gangguan pertumbuhan gigi dan tulang. falciparum resisten in vitro terhadap kina sudah ditemukan di 5 propinsi Indonesia (Jabar. Obat ini pernah diteliti di luar negeri untuk pengobatan malaria falsiparum resisten Primakuin Primakuin merupakan obat antimalaria kelompok 8-aminokuinolin yang bersifat skizontosida jaringan. Klindamisin pernah diteliti pada penderita malaria falsiparum yang in vitro resisten klorokuin di RSU Dili. Obat ini digunakan bersama obat antimalaria lain yang hanya bersifat skizontosida darah untuk mendapatkan pengobatan radikal. OBAT ANTIBIOTIKA YANG BERKHASIAT ANTIMALARIA 1) Tetrasiklin Tetrasiklin. Hal ini mungkin disebabkan kurangnya laporan atau penelitian terhadap obat ini. Obat ini tidak diberikan pada bayi dan ibu hamil. 2) Klindamisin Klindamisin merupakan antibiotika yang juga bersifat skizontosida darah untuk P. Pada pengobatan kina parenteral dapat terjadi hipoglikemi(18) dan efek samping yang paling sering ditemukan adalah tinitus. dosis tunggal pada hari 1 pengobatan. muntah dan sakit perut(14). maka sulit dan belum diketahui cara mengukur sensitivitas in vivo atau in vitro obat ini.orang sehat 11 jam. Dosis yang diberikan untuk penderita malaria tanpa komplikasi yang resisten multidrug adalah 10 mg garam/kb bb. Waktu paruh tetrasiklin adalah 8 jam. Efek samping yang dilaporkan adalah gangguan saluran pencernaan (mual. dosis tunggal.375 mg basa/kg bb.14–15). ovale dan malariae. Tetrasiklin yang dipakai sebagai obat antimalaria adalah bentuk kapsul untuk pemberian peroral.5–2 mg/kg bb. Kasus P. Klindamisin dikemas dalam bentuk kapsul untuk pemberian peroral dengan dosis 5–10 mg/kg bb. doksisiklin dan minosiklin merupakan obat antimalaria kelompok antibiotika tetrasiklin yang bersifat skizontosida jaringan dan skizontosida darah untuk P.3 mg basa/kg bb. Dosis kina setiap hari untuk bayi dihitung 10 mg garam/umur dalam bulan. Dosis yang diberikan adalah 300 mg tiap 12 jam peroral. Kasus P. muntah dan sakit perut) dan sistim hemopoetik (anemi.15). Penggunaan primakuin untuk profilaksis kausal masih dalam penelitian. dalam 4 jam berikutnya dan diulang setiap 8 jam sampai penderita dapat menelan obat untuk kemudian diselesaikan pengobatannya per oral sampai hari ke 7.17). dibagi dalam 3 bagian dan diberikan selama 7 hari(1. akan diteliti di daerah P. Timtim pada tahun 1989. diberikan primakuin 0. Dalam hal ini diberikan kina dosis 8. Resistensi terhadap kina dampaknya belum meluas dan berat.5–0. Untuk pengobatan radikal malaria vivaks. Jateng. dilanjutkan dengan dosis 10 mg garam atāu 8. Irja dan Kaltim)(9). dalam program tidak digunakan untuk profilaksis(1). sedangkan efek sampingnya adalah gangguan saluran pencernaan ringan dan bersifat sementara(25).75 mg basa/kg bb. eritromisin. Untuk penderita malaria berat atau dengan komplikasi. Primakuin dikemas dalam bentuk tablet untuk pemberian peroral. tiap 12 jam selama 7 hari(14. Obat ini dipakai selektif dalam pengobatan malaria falsiparum resisten klorokuin atau multidrug dan biasanya dipakai bersama dengan kina. untuk itu dalam pengobatan malaria falsiparum resisten multidrug dianjurkan menggunakan kombinasi dengan obat antimalaria lain yang bekerja cepat antara lain kina(23-24). sehingga sulit untuk menilai sensitivitas antimalarianya. tiap 12 jam selama 5 hari. tiap 8 jam selama 4 hari kemudian dilanjutkan dengan dosis 15 mg garam/kg bb. falciparum resisten klorokuin (Irja). Obat ini bekerja lambat. doksisiklin dan minosiklin merupakan obat yang sudah lama dikenal dan dipakai sebagai antibiotika. NTT. leukopeni dan methemoglobinemi)(1.

Belum lama ini dilaporkan adanya efek samping halofantrin pada jantung (QTc memanjang dan aritmia ventrikel). kemudian dilanjutkan 250 mg/minggu. Peneliti-peneliti di negara lain mendapatkan angka kesembuhan 28–100% dengan waktu bebas panas yang dibutuhkan lebih lambat yaitu 28. kemudian dilanjutkan 50 mg tiap 12 jam pada 4 hari berikutnya.7 jam. Oleh sebab itu WHO menghendaki perbaikan keterangan mengenai obat ini(51). Penggunaan meflokuin untuk profilaksis akan diteliti dengan dosis awa1750 mg yaitu 250 mg/hari dosis tunggal selama 3 hari pada minggu pertama. 24 dan 48 jam (3 hari) sehingga dosis total mencapai 240– 300 mg(53). meflokuin memberikan angka kesembuhan 94–100%. Waktu paruh artesunat parenteral sangat cepat yaitu diperkirakan hanya 48 menit(16).37). Oleh sebab itu obat ini telah dan sedang diteliti untuk mempersiapkan mendapat obat antimalaria alternatif yang efektif dalam pengobatan malaria falsiparum resisten multidrug. Efek samping yang. Waktu paruh meflokuin adalah 3 minggu pada orang sehat dan 2 minggu pada penderita malaria(32–34). waktu bebas panas dan waktu bebas parasit yang dibutuhkan adalah 98. 58. Irja.3–25 jam dan waktu bebas parasit 47. Efek samping yang ditemukan hanya mual yang bersifat ringan dan sembuh tanpa pengobatan(38).4 – 75.2 mg/kg bb. obat ini sangat efektif. Irja dan Kaltim dengan derajat resisten RII–RIII(9. dosis tunggal atau dibagi dalam 2 dosis tiap 12 jam(16–17. halofantrin dapat diberikan kembali dengan dosis sama pada hari ke 3 atau 7(44-45). Angka kesembuhan untuk malaria vivaks maupun malaria falsiparum adalah 100%(48). tiap 6 jam dengan dosis total 24 mg/kg bb. Walaupun meflokuin belum pernah dipakai. Untuk memperlambat terjadinya resistensi. Untuk mencegah rekrudesen. ditemukan kasus resisten di tiga propinsi yaitu Jawa Tengah. Dosis parenteral yang dianjurkan pada pengobatan malaria dengan komplikasi adalah 1. ditemukan 1 kasus resisten R I.klorokuin dengan kombinasi obat antimalaria lain yang bekerja cepat yaitu kina atau amodiakuin(26–29). falciparum resisten multidrug(44). Obat ini merupakan basil perkembangan obat tradisional Cina untuk penderita demam yang dibuat dari ekstrak tumbuhan Artemesia annua L (qinghao) yang sudah dipakai sejak ribuan tahun yang lalu. 4. Dari uji klinis. . 2) Halofantrin Halofantrin merupakan obat antimalaria golongan fenantren metanol yang bersifat skizontosida darah untuk semua jenis Plasmodium manusia dan strain P. Efikasi obat tersebut cukup baik dengan angka kesembuhan. 22. peroral. tablet artesunat pada awalnya memberikan angka kesembuhan 100% (s/d hari ke 14) ke- .9 jam(43. Halofantrin dikemas dalam bentuk tablet. dan malaria berat. Dosis yang digunakan untuk pengobatan malaria tanpa komplikasi adalah 8–10 mg/kg bb. OBAT ANTIMALARIA BARU 1) Meflokuin Meflokuin merupakan obat antimalaria golongan 4-metanol kuinolin yang bersifat skizontosida darah untuk semua jenis Plasmodium manusia dan strain P. Obat ini tidak diberikan pada wanita hamil trimester I(17). Peneliti-peneliti di negara lain mendapatkan angka kesembuhan yang beragam yaitu 33–100% dan waktu bebas panas yang dibutuhkan lebih lama yaitu 67–84 jam(30.. falciparum resisten klorokuin dan multidrue"). selain halofantrin juga diberikan primakuin dosis tunggal setiap hari pada 14 hari pertama dan dilanjutkan tiap 2 hari untuk 14 hari berikutnya untuk mencegah reinfeksi dan relaps. Waktu paruhnya adalah 1–2 hari. palpitasi dan pusing yang bersifat ringan dan sembuh tanpa pengobatan(47).1 jam dan waktu bebas parasit lebih lambat atau lebih cepat yaitu 42.8 – 68. dapat dikombinasikan dengan sulfadoksin-pirimetamin (MSP)(36). Kemasan obat ini tergantung dari jenis derivat artemisinin yaitu : Artesunat Obat ini ada yang dalam bentuk tablet untuk pemberian peroral dan bentuk serbuk kering dengan pelarut NaHCO3 5% untuk pemberian parenteral (intravena atau intramuskular). Efek samping yang juga paling sering dijumpai oleh peneliti-peneliti lain adalah mual yang sembuh tanpa pengobatan(16. vivax.30).49).2 jam. diberikan pada 0. Pada uji coba klinik pada penderita malaria falsiparum tanpa komplikasi di RS ITCI. tercatat adalah diare. obat ini tidak diberikan pada wanita hamil. Balikpapan. Pada pengobatan malaria falsiparum tanpa komplikasi. falciparum in vivo dan atau in vitro. 3) Artemisinin (Qinghaosu) Artemisinin merupakan obat antimalaria golongan seskuiterpen lakton yang bersifat skizontosida darah untuk P. Dosis meflokuin untuk pengobatan adalah 15–29 mg/kg bb. Tidak ditemukan perbēdaan nyata efikasi antara penderita malaria falsiparum tanpa komplikasi yang in vitro sensitif dan resisten klorokuin.4%.1–59 jam(37–38). Salah satu penyebab sangat beragamnya angka kesembuhan halofantrin adalah absorbsi obat tersebut yang akan meningkat bila disertai dengan makanan berlemak(50). falciparum dan P. Meflokuin dikemas dalam berituk tablet dan suspensi untuk pemberian peroral. Obat ini sudah diteliti di Indonesia sebagai persiapan untuk mendapatkan obat alternatif dalam pengobatan malaria falsiparum resisten multidrug terutama apabila juga telah resisfen terhadap kina. Dosis oral yang dianjurkan pada pengobatan malaria falsiparum tanpa komplikasi adalah 600 mg dalam 5 hari yaitu 100 mg tiap 12 jam pada hari 1. Pada uji coba klinik halofantrin di RS ITCI Balikpapan.nual. Karena adanya efek foetotoksik. kapsul dan suspensi untuk pemberian peroral.35). waktu bebas panas 9.3 ± 5. Obat ini tidak digunakan untuk profilaksis dan sedang diteliti di Indonesia sebagai persiapan untuk mendapatkan obat alternatif pada pengobatan malaria falsiparum tanpa komplikasi yang resisten multidrug. bekerja sangat cepat dan toksisitasnya rendah(52). pada penelitian sensitivitas P.39–43). Obat ini tidak diberikan pada wanita hamil dan menyusui karena mempunyai efek foetotoksik.4 ± 2. Pada penelitian pengobatan malaria di Arso.

7 jam dan 31. sufadoksin-pirimetamin. mual. Dosis oral adalah 300 – 400 mg. maka dalam pengobatan digunakan kombinasi dengan obat antimalaria lain antara lain meflokuin. dua kali sehari pada hari 1 dan kemudian dilanjutkan satu atau dua kali sehari dengan dosis total 1200 g. Sehubungan dengan cukup tingginya angka rekrudesen.6 – 27. dan 480 mg untuk 7 hari. yaitu 120 mg pada hari 1 dilanjutkan 60 mg pada hari berikutnya. Di Cina.mudian menjadi 75% pada hari ke 28. Angka kesembuhan yang diperoleh 54% dengan waktu bebas panas dan waktu bebas parasit yang dibutuhkan adalah 14. Pyronaridine dikemas dalam bentuk tablet dan kapsul untuk pemberian peroral. meflokuin dan ginghaosu(65–66).7% dengan waktu bebas panas dan waktu bebas parasit yang dibutuhkan adalah 14. dan tidak ditemukan perbedaan yang nyata pada waktu bebas panas dan waktu bebas parasit yang dibutuhkan. sakit perut dan muntah-muntah(14. pengobatan malaria dengan artesunat intravena 240 mg memberikan angka kesembuhan 48. memberi angka kesembuhan 74 – 98%(60). sakit perut dan diare yang bersifat sementara dan sembuh tanpa memerlukan pengobatan(59). memberi angkakesembuhan 76–90% dengan waktu bebas panas sedikit lebih lama yaitu kurang dari 2 hari dan waktu bebas parasit hampir sama yaitu juga kurang dari 2 hari. Obat ini dikemas dalam bentuk tablet untuk pemberian peroral. Uji coba pengobatan malaria berat dengan artemether intramuskular sedang dan akan dilakukan di Indonesia. 360 mg untuk 5 hari. Dosis awal yang dianjurkan adalah 3. 360 mg untuk 5 hari.3 – 58. dan pengobatan tampaknya sangat tergantung dari lamanya pengobatan selain dosis yang tepat. Arteether Obat ini dalam larutan (I3-etil eter) yang dikemas dalam ampul untuk pemberian intramuskular. Efek samping yang ditemukan adalah demam dan penurunan jumlah retikulosit(59). Dosis parenteral adalah 300 mg intramuskular atau intravena. Demikian pula pada pengobatan malaria dengan artesunat intramuskular dosis 240 mg untuk 3 hari. dilanjutkan 300 mg pada 6 jam berikutnya dan 600 mg pada jam ke 24(71. Dosis total oral yang pernah diteliti pada penderita malaria falsiparum tanpa komplikasi di Cina adalah 240 mg untuk 3 hari. dua kali sehari tiap 8 jam. diare.0 jam dan 32.5 – 22. 4) Yinghaosu Yinghaosu merupakan obat antimalaria golongan seskuiterpen peroksid yang bersifat skizontosida darah untuk P. Efek . dan doksisiklin(60.4%. 94% dan 98%.9 jam dan 35. Efek samping yang ditemukan antara lain : sakit kepala.62–64).1 – 68. Waktu paruh obat ini diperkirakan 63 ± 5 jam. dan 480 mg untuk 7 hari. falciparum dan sudah digunakan luas di Cina lebih dari 10 tahun yang lalu(71).9 jam. Efek samping yang ditemukan adalah tenesmus. Dosis total yang biasa dipakai adalah 1500 mg yaitu dosis awal 600 mg. pengobatan malaria tanpa komplikasi dengan artemether oral dosis total 500 – 700 mg untuk 5 – 7 hari. 5) Pyronaridine Pyronaridine merupakan obat antimalaria derivat hidroksianilino benso-naftridin yang mempunyai struktur sama dengan mepakrin dan amodiakuin. pusing.2 jam(59). Dilaporkan obat ini tidak ditemukan resisten silang dengan klorokuin.6 jam dan 32.0 ± 4. Angka kesembuhan yang diperoleh dengan dosis-dosis tersebut adalah 48%.9 – 38. Uji coba pengobatan artesunat intravena 240–300 mg untuk penderita malaria berat sedang dilaksanakan di RSU Balikpapan. sakit perut. falciparum dan P. Di Thailand. falciparum terutama yang resisten klorokuin.2 jam. Peneliti-peneliti di Thailand dengan menggunakan dosis tablet artesunatyang sama. gatal-gatal dan rambut rontok(55–58). Waktu bebas panas dan waktu bebas parasit yang dibutuhkan oleh pekerja di Thailand dan Cina adalah 36 dan 57 jam. Efek samping yang dilaporkan hanya skin rash(59).69–70). Angka kesembuhan di Cina adalah 33. 6) Piperaquine Piperaquine merupakan obat antimalaria yang bersifat skizontosida darah untuk P. Bila digunakan dosis total 480 mg untuk 7 hari.6 – 29. Artemisinin Obat ini dalam bentuk tablet (dihidroartemisinin) untuk pemberian peroral dan supositoria (artemisinin) untuk pemberian perrektal.5 jam. muntah. Waktu paruh artemether intramuskular adalah 12 jam(16). Tidak ditemukan efek samping secara klinis dan laboratoris(54). kemudian dilanjutkan 1. Obat ini masih dalam penelitian(61). serta memperlambat terjadinya resisten.2% dan 97./hari pada hari berikutnya sehingga dosis total adalah 480 mg untuk 5 hari. pada pengobatan dikombinasikan dengan sulfadoksin-pirimetamin(70). Dosis total supositoria rektal yang juga pernah diteliti untuk penderita malaria di Cina adalah 2800 mg untuk 3 hari yaitu 600 mg pada 0.3% dengan waktu bebas panas dan waktu bebas parasit yang dibutuhkan adalah 20. Waktu bebas panas dan waktu bebas parasit yang dibutuhkan oleh ke 3 kelompok tersebut tidak berbeda nyata yaitu antara 19. Efek samping yang dilaporkan ailalah skin rash dan penurunan jumlah retikulosit(59).2 – 52.3 – 100% dengan derajat resisten R I – R 11I(72–73). dan bentuk untuk parenteral yang lebih efektif. dikemas dalam bentuk kapsul untuk pemberian peroral dan dalam ampul untuk pemberian intramuskular. 4 jam pada hari 1. Obat ini bersifat skizontosida darah untuk P. Obat ini juga dikembangkan dari tanaman obat tradisional Cina yang dapat diberikan peroral atau parenteral.9 – 76.2 mg/kg bb.0 ± 5.8 jam.4 jam dan 64. memberikan angka kesembuhan 48%.6 mg/kg bb. memberikan angka kesembuhan 94./hari pada hari 1. vivax resisten multidrug dan sudah digunakan luas di Cina sejak lebih 10 tahun yang lalu(67–68). Efek samping yang pernah ditemukan adalah diare. Untuk memperlambat terjadinya resisten. Di Cina dengan dosis artemether seperti ini memberi angka kesembuhan 93. kemudian dilanjutkan 2 kali 400 mg pada hari ke 2 dan 3.5%. Artemether Obat ini dalam bentuk larutan minyak.72). 90. dengan waktu bebas panas dan waktu bebas parasit yang dibutuhkan adalah 14.

Management of severe and complicated malaria. 20. 11. Watt G. Sulaksono S dkk. 59 : 407–412. belum beredar dan belum dipakai di Indonesia. WHO Regional Office for South-East Asia. 2 : 51. Ciprofloxacin treatment of drugresistant falciparum malaria. Chantavanich P dkk. 44 (5) : 547–552. Quinine-tetracycline and quinine-bactrim treatment of acute falciparum malaria in Thailand. biasanya dikombinasikan dengan antimalaria lain antara lain sulfadoksin-pirimetamin(71). Clinical importance of antimalarial pharmacokinetics. Parquette AR. 309: 61-66. Basri H. WHO Technical Report Series 1973. Resistance to chloroquine by Plasmodium vivax in Irian Jaya. FKUI. KESIMPULAN 1) Obat antimalaria baru adalah obat yang belum terdaftar sebagai obat antimalaria. Pharmacokinetics of primaquine in man. Churchill FC. 7. Colwell EJ. 324 (13) : 927. Tjitra E. 20 Mei 1993. Harinasuta T. Geneva. Oemijati S. 67 : 125–132. Dosis yang efektif untuk pengobatan masih dalam penelitian. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. New Delhi. tidak memberikan angka kesembuhan yang memuaskan (72% dan 61%). Lancet 1993. World Health Organization. World Health Organization. 1991. 278 : 81–89. 3) Setiap penelitian obat antimalaria baru umumnya bertujuan mempersiapkan obat antimalaria alternatif yang efektif untuk pengobatan malaria falsiparum resisten multidrug dan malaria berat. WB Saunders Co 1986. 30. Hoffman SL. Antibiotics and Chemotherapy 1952. Hickman RL. World Health Organization. 3rd ed. Clinics in Tropical Medicine and Communicable Diseases. Letter : Chloroquine resistant Plasmodium vivax from Indonesia : New Engl J Med 1991. Patchen LC. 6. 164 : 602–604. Edstein MD dkk. Mount Dl. Termond E dkk. N Engl J Med 1983. Pandaan. Am J Trop Med Hyg 1991. Lacteritz EM. 6) Yinghaosu. Marwoto H. 29. Am J Trop Med Hyg 1983. pyronaridine. Situasi malaria di Indonesia. Indonesia. atau dengan dosis yang lebih tinggi yaitu 750 mg tiap 8 jam selama 7 hari. J Infect Dis 1991. hanya kina masih sebagai obat antimalaria penyelamat. Division of Control of Tropical Diseases. Casillas J. A case report : Transfusion vivax malaria resistant to multidrug (akan diterbitkan). Lukito B. Basri H. 5. Hickman RL. Pribadi W. 21 (2) : 144–149. Obat ini dikemas dalam bentuk tablet untuk pemberian peroral. World Health Organization. Suprijanto S dkk. 28. 19 : 745–750. Geary TG. 18. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta. Pribadi W. 13. halofantrin dan tablet artesunat merupakan obat antimalaria yang telah diteliti pada penderita malaria falsiparum tanpa komplikasi di daerah resisten klorokuin dan atau multidrug. Ruiz – Sanchez F. Arbani PR. sedangkan artesunat intravena dan artemether intramuskular sedang dan akan diteliti pada penderita malaria berat. Malaria : Tes resistensi in vivo dan in vitro untuk P. 7) Atovaquone Atovaquone merupakan obat antimalaria kelompok hidroksinaftokuinon yang bersifat skizontosida darah untuk P. Paredes EM dkk. Drug resistance of Plasmodium falciparum in several parts of Indonesia. 529. Severe hypoglycaemia and hyperinsulinaemia in falciparum malaria. Fletcher KA. J Chromatogr 1983. Malaria : Treatment of malaria. Bul Penelit Kes 1991. 9. Untuk daerah yang diketahui adanya kasus resisten terhadap piperaquine. Warrell DA. Studies on the pharmacokinetics of primaquine. 5) Halofantrin sedang diuji coba klinik untuk penderita malaria falsiparum dengan komplikasi tidak berat dan malaria vivaks. Ward SA. Tjitra E. 32 (2) : 221–225. Schwartz IK. Transaction of the Royal Society of Tropical Medicine and Hygiene. Purnomo dkk. WHO Regional Publications. Analysis of filterpaper-absorbed. Eur J Clin Pharmacol 1984. 4. 84 (Suppl 2) : 1–65. Wemsdorfer WH. Mihaly GW. Bunnag D. 3 : 181–189. 26. Price Evans DA. pipēraquine dan atovaquone merupakan obat antimalaria baru lain yang belum diteliti. Pengobatan infeksi P. 24. uji coba atovaquone pada penderita malaria falsiparum tanpa komplikasi dengan dosis 750 mg tiap 8 jam. 27. Shank D. 8. 1990. Karbwang J. 17. Bull WHO 1981. Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman. Simposium QBC. Di Thailand. Benjasurat Y dkk. Vivax malaria resistant to treatment and prophylaxis with chloroquine. 16. Looareesuwan S. 2. White NJ. 4) Meflokuin. Jawa Timur. Ann Trop Med Parasitol 1973. Colwell EJ. Pumomo dkk. Clindamycine activity against chloroquine resistant P. Oleh sebab itu dalam pengobatan malaria falsiparum. Schwartz IK. finger-stick blood samples for chloroquine and its major metabolite using high-performance liquid chromatography with fluorescence detection. Bergqvist Y. Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman. sebaiknya atovaquone dikombinasikan dengan obat antimalaria lain yang mempunyai efek potensiasi(75). 1991. Severe and complicated malaria. Seaberg LS. Bila dikombinasikan dengan proguanil atau tetrasiklin akan memberikan angka kesembuhan 96 – 100%. Patchen LC. FKUI. Gluzman IY dkk. falciparum in vitro. Murphy GS. Jakarta. A phase II clinical trial of mefloquine in patients with chloroquine resistant falciparum malaria in . J Infect Dis 1984. 25. Gunawan S. Frisk-Holmberg M. Effects of antibiotics on P. 28 Nopember 1991. Br J Clin Pharmacol 1985. 2nd ed 1990. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Penelitian obat antimalaria. 12. 3. Intravenous amodiaquine and oral amodiaquine/erythromycin in the treatment of chloroquine-resistant falciparum malaria. Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman. Am J Trop Med Hyg 1972. South-East Asia Series no 9. The Clinical Management of Acute Malaria. The single dose kinetics of chloroquine and its major metabolite desethylchloroquine in healthy subjects. 150 (6) : 904-911. 341 : 96–100. 15. 10. 1 (1) : 171–224. Lancet 1985. 1991. 21. Gilles HM. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih ditujukan kepada Kepala Puslit Penyakit Menular dan Panitia Simposium dan Lokakarya Malaria di Manado yang mempercayakan saya membicarakan makalah ini. A practical handbook. Asia Pacific J Pharmacol 1988. Edwards G dkk. 19. Obat ini diharapkan dapat berguna untuk pengobatan malaria falsiparum resisten klorokuin atau multidrug karena cara kerjanya berbeda dengan obat antimalaria skizontosida darah lainnya sehingga diperkirakan tidak terjadi resisten silang dengan obat-obat tersebut(74). 26 : 521–530. Jensen JB. Micocycline and tetracycline treatment of acute falciparum malaria in Thailand. falciparum yang resisten terhadap klorokuin dengan klindamisin. Studies of the absolute bioavailability and effects of dose size. Seminar Parasitologi Nasional VI dan Kongres P4I V. 23. falciparum. Malaria : Penatalaksanaan malaria berat di rumah sakit dan puskesmas no 16. White NJ. ii : 805–808. Gilles HM dkk. 1991. White N. 14. KEPUSTAKAAN 1.samping yang dilaporkan adalah muntah-muntah(72). 22. dan memberikan hasil yang cukup baik dengan efek samping yang ringan dan sembuh tanpa pengobatan. Baird JK. Simposium & Workshop on drug resistance of Plasmodium falciparum. Malaria : Pengobatan no 3. dosis total 3 gram. falciparum. kasus resisten yang sudah menyebar dan bertambah berat. falciparum no 9. 2) Penelitian obat antimalaria barn dilakukan karena sampai saat ini belum ada obat antimalaria yang ideal. 23–25 Juni 1990. 19 (4) : 15–23. Intraprasert R dkk.

Von Bredow J dkk. Pamplin CL. 36.Thailand. 41. Georgia. XIII th Internat Congr for Tropical Medicine and Malaria. Akan dibawakan pada Annual Meeting of the American Society of Trop Med and Hygiene. Schwartz DE. Jomtien. XIII th Intemat Congr for Tropical Medicine and Malaria. Edwards G. Bhisutthibhand.artesunate. 59. 1992. Eastern Thailand. falciparum to pyronaridine and sodium artesunate in Hainan island. Clinical trials of artemether and artesunate in the treatment of falciparum malaria in Myanmar. Shwe T. In vitro activity of chloroquine. Double blind randomised clinical trial of two different regiments of oral artesunate in falciparum malaria. Cai XH and Tang X. Lancet 1992. Bull WHO 1987. 39. November 29 – December 4. Sabchareon A. Noc 9 : 1039–1040. Fus S. Chlids GE. Oemijati S. Amsterdam. Kuile F. XIII th International Congress for Tropical Medicine and Malaria. Chang C dkk. Basri H dkk. 22 : 93–96. Bunnag D. Site and mode of action of atovaquone. Looareesuwan S dkk. Luxemburger F dkk. 22 : 539–543. Clinical trials on artemisinin and its derivates in treaytment of malaria in China. Amsterdam. Internat Congr for Tropical Medicine and Malaria. 1993. Double blind randomised clinical trial of oral artesunate at once or twice daily dose in falciparum malaria. Ward SA dkk. Clinical pharmacokinetics of meflowuine. 71–77. Sensitivity of P. Tjitra E. 34. London. Fu YJ and Jia J. A preliminary report. Jaquet C. 31. 60. China. Li GQ. November 29 – December 4. 47. Bull WHO 1983. 71. Viravan C. Bul Penelit Kes 1992. Fu LC. Ren DX. Pattaya. Biological characterization of novel bicyclic peroxides as potential antimalarial agents. 32 : 173–177. 35. Brockelman CR. Tjitra E. 66. 1993. A dozen years research in strategy for treatment of chloroquine-resistant falciparum malaria after ceasing of chloroquine use in malaria endemic areas of Hainan island. Southeast Asian J Trop Med Pbl Hlth 1990. XII th International Congress for Tropical Medicine and Malaria. Bunnag D. PR China. A new antimalaria drug . Primaquine adjunct to 28 day evaluation of halofantrine vs chloroquine for therapy of malaria in people remaining exposed to infection. Bunnag D. Southeast Asian J Trop Med Pub Hlth 1989. 61. Oemijati S. November 29 – December 4. Fryauff DJ. Et: J Clin Pharmacol 1987. Qinghaosu Antimalaria Coordinating Research Group. November 29 – December 4. Thailand. Milhous W dkk. 30 October – 4 November 1993. Jaquet C. Pang LW. Gutteridge WE. 86 : 7–10. Amsterdam. Oemijati S. 28 : 70–84. Southwast Asian J Trop Med Pbl Hlth 1991. Atlanta. Jomtien. 1993. 33. 61 (5) : 809–814. Br J Clin Pharmacol 1986. Pengobatan artesunat pada penderita malaria falsiparum tanpa komplikasi di daerah resisten multidrug. 63. Horton RI. Pattaya. Thimasarn K. Pribadi W dkk. 22 : 380–385. 61 (2) : 299–305. Tjitra E. 51. desethyl chloroquine and pyronaridine against Plasmodium falciparum. Repeat course of halofantrine for the treatment of highly resistant P. R II and R III type resistance of Plasmodium falciparum to combination of mefloquine and sulfadoxine/ pyrimethamine in Indonesia. November 29 – December 4. Thailand. 19 (4) : 264–279. 92 : 811–816. Ketrangsee S. 52. De Souza Jose . XII th IntematCongr for Tropical Medicine and Malaria. Karbwang J dkk. Thailand. Br J Clin Pharmacol 1989. Lancet 1984. 339 : 821–824. Halofantrine in the treatment of multidrug resistant malaria. Thailand. Structure activity relationship of novel bicyclic peroxide antimalarials related to Yinghaosu. 18 – 23 September. Looareesuwan S dkk. Guangxi. 1988. 73. 1992. Tolerance and pharmacokinetics of arteether in man. 62. Southeast Asian J Trop Med Pbl Hlth 1991. Thailand. 21 (3) : 404-411. Wahlin B dkk. 65. Studi perbandingan pengobatan halofantrin antara penderita malaria falsiparum tanpa komplikasi yang in vitro sensitif dengan yang resisten klorokuin. XII th Internat Congr for Tropical Medicine and Malaria. 1992. Looareesuwan S. Bul Penelit Kes 1992. 20 (3) : 371–378. 23 – 25 Agustus 1993. The Netherlands. Chemotherapy 1982. Jomtien. 22 : 534–538. Hoffman SL. Vijaykadga S. 50. 58. Clin Pharmacokinet 1990. Mefloquine suladoxine pyrimethamine (MSP) combination delays in vitro emergence of mefloquine resistance in multiple drug resistant Plasmodium falciparum. Fu YX dkk. November 29 – December 4. Looareesuwan S. Pribadi W dkk. A phase I clinical trial of mefloquine in Brazilian male subjects. 40. Artemisinin Meeting. 72. Campbell JR dkk. 67. Pengobatan malaria falsiparum tanpa komplikasi dengan halofantrin di daerah resisten klorokuin. Am J of Trop Med Hyg 1988. Bjarkman A. Stohler HR. 26 : 372–379. 18 – 23 September. Chantavanich P dkk. 65 (2) : 223–226. 45. Kager P. Dixon KE dkk. 37. falciparum malaria in Thailand. 18–23 September 1988. Artemisinin Meeting. 74. Thailand. 25th – 27th April. The cardiac effects of antimalaria treatment with halofantrine. Single dose mefloquine pharmacokinetics in healthy Thai subjects and Thai patients with falciparum malaria. London. Randomised comparative study of mefloquine. Hutchinson DBA. 669) in initial field trials in Thailand. 43. Quillin pharmaceutical. XIII th Internat Congr for Tropical Medicine and Malaria. Liu DQ dkk. ii : 1360–1361. Kinetics of a new antimalarial. In vitro activity of pyronaridine against field isolates and reference clones of Plasmodium falciparum. Malikul S dkk. Viravan C. Southeast Asian J Trop Med Pbl Hlth 1992. Vanjanonta S dkk. 1992. Eamsila C. 42. Parasitology Today Suppl 1989. Dimpudus AJ. Bunnag D. Bali. Karbwang J. Nosten F. Overview of clinical studies on artemisinin derivates in Thailand. Southeast Asian J Trop Med Pbl Hlth 1991. 53. Suppl Parasitology Today 1989 : 65–79. China Med J 1979. 1992. China. 20 (3) : 25–33. Pattaya. 1992. Lancet 1993 (in press). 1988. Hartmann D dkk. November 29 – December 4. The pharmacokinetics of mefloquine when given alone or in combination with sulphadoxine and pyrimethamine in Thai male and femalee subjects. Oemijati S. White NJ. 66 (2) : 227–235. Bull WHO 1988.Maria. Tran TH. 25th – 27th April. Desjardins RE. 57. Hofheinz W. XIII th Internat Congr for Tropical Medicine and Malaria. Thanomsub B. 25th – 27th April. Bull WHO 1983. Jomtien. qinghaosu and pyrimethamine-sulfadoxine in patients with falciparum malaria. Tjitra E. Randomised comparison in the treatment of falciparum malaria with dihydroartemisinin tablet and piperaquine. falciparum malaria in Thailand. 70. Evaluation of Atovaquone in the treatment of uncomplicated P. London. Pinichpongse S. Clinical trial of artesunate and artemether on multidrug resistant falciparum malaria in Thailand. 1992. Lancet 1985. 38 : 24–29. Jomtien. Pharmacokinetics of halofantrine in man : effects of food and dose size. Pattaya. Seminar Parasitologi Nasional VII dan Kongres P4I VI. 44. Pattaya. Looareesuwan S. XIII th Internat Congr for Tropical Medicine and Malaria. Malaria : Treatment efficacy of halofantrine (WR 171. Karbwang J. Win K. 1992. Hensler B. Randomised trial of artesunate and mefloquine alone and in sequence for acute uncomplicated falciparum malaria. 69. Arnold K. 49. the two enantiomers of chloroquine. Clin Pharmacol Therapeut 1979. A phase III clinical trial of mefloquine in children with chlorowuine-resistant falciparum malaria in Thailand. Jomtien. Thailand. The Netherlands. Thailand. A study of curative effect on several antimalarial drugs – 302 cases of falciparum malaria. November 29 – December 4. Baird JK. Amsterdam. 46. 32. XIII th Internat Congr for Tropical Medicine and Malaria. Pengobatan penderita malaria falsiparum tanpa komplikasi dengan meflokuin di daerah resisten klorokuin. Pattaya. Fu LC dkk. Milton KA. Yamokgul P dkk. Antimalaria studies in qinghaosu. Artemisinin Meeting. Masciadri R dkk. 55. mefloquine. The Netherlands. Denpasar. Eckert G. Jomtien. Peter W. Smith Kline & French. Comparative trial of the response of Plasmodium falciparum to halofantrine and mefloquine in Trat provinces. XIII th Internat Congr for Tropical Medicine and Malaria. Guo XB. Boudreau EF. 23 (1) : 55–58. Artemisinin and its derivates in the treatment of falciparum malaria in Vietnam. Studies on a new antimalarial compound pyronaridine. 18 – 23 September. Bul Penelit Kes 1993 (akan diterbitkan). Paar SN. Li GQ. Pattaya. Viravan C. Phase III double blind comparative study of Fansimef® and Lariam® for the curative treatment of Plasmodium falciparum infections in Thailand. Qiu CD. 75. 68. The Netherlands. Brechkenridge AM dkk. Trans R Soc Trop Med Hyg 1992. Jomtien. Viravan C dkk. 64. Safety. 48. Pattaya. Pribadi W dkk. 20 (1) : 1–8. Single dose kinetics of mefloquine in man. . 38. Looareesuwan S dkk. 1988. Chongsuphajaisidhi T. Pribadi W dkk. Viravan C. Halofantrine : an overview of efficacy and safety. 56. 54. Guo XB.