Anda di halaman 1dari 26

I.

PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang Kolam yang sering dijadikan kegiatan budidaya tidak dapat lepas dari keberadaan air sebagai media dan juga tanah, dimana di dalamnya terdapat unsur-unsur hara makro dan mikro. Karena unsur-unsur tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan, sehingga mengakibatkan nilai-nilai unsur mikro dan makro di perairan tidak konstan dan stabil. Oleh karena itu perlu adanya pengelolaan kolam. Pengelolaan kolam merupakan faktor penting setelah penentuan kesesuaian lahan budidaya kolam dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan dan budidaya kolam berkelanjutan (Karthik et al, 2005 dalam Ratnawati dkk, 2010). Salah satu dari kegiatan pengelolaan kolam adalah pemupukan. Menurut Amin dan Pantjara (2002), pemupukan dimaksudkan sebagai usaha pemberian nutrient ke dalam tanah atau di kolam dengan tujuan untuk meningkatkan daya dukung perairan guna menghasilkan makanan alami bagi mikroorganisme. Lebih lanjut ditegaskan oleh Huet (1978), bahwa pemupukan merupakan usaha untuk meningkatkan kesuburan perairan. Dengan menambah unsur hara secara periodik melalui pemupukan dalam jumlah tertentu ke dalam perairan akan merangsang pertumbuhan fitoplankton sehingga mempengaruhi kesuburan perairan. Pemupukan adalah untuk memelihara atau memperbaiki kesuburan tanah dan air dengan memberikan unsur atau zat hara kedalam tanah yang secara langsung atau tidak langsung dapat menyumbang bahan makanan pada algae. Disamping itu pemupukan juga akan memperbaiki pH tanah atau air dan memperbaiki lingkungan air bagi tempat hidup dan tumbuh algae

(Subarijanti,2000).

Budidaya ikan di kolam ialah kegiatan usaha pemeliharaan atau pembesaran ikan di kolam mulai dari ukuran benih (juvenil) sampai menjadi ukuran yang layak untuk dikonsumsi. Budidaya ikan laut sudah sejak seabad yang lalu dipraktekkan di banyak negara di Asia, termasuk indonesia. Sampai dasawarsa yang lalu komoditi ikan umumnya digolongkan sebagai hasil sampingan di kolam, karena kolam itu terutama digunakan untuk memelihara ikan bandeng. Benih ikan secara alami masuk ke dalam kolam bersama air pasang yang mengaliri kolam itu. Budidaya ikan intensif dilakukan dengan telnik yang canggih dan memerlukan masukan (input) biaya yang besar, sebagai imbangan dari masukan yang tinggi maka dapat dicapai volume produksi yang sangat tinggi pula (Ahmad, 2006 dalam Alwi, 2011).

I.2. Maksud dan Tujuan


Maksud dari pembuatan makalah ini adalah untuk menambah wawasan mengenai pengaruh pupuk terhadap peningkatan kesuburan perairan dan pertumbuhan plankton sebagai pakan alami dalam perairan. Tujuan dari makalah ini adalah untuk mengetahui pengaruh pupuk terhadap peningkatan kesuburan perairan dan pertumbuhan plankton sebagai pakan alami dalam perairan. I.3. Tempat dan Waktu Praktikum ini dilaksanakan di UPR Sumber Mina Lestari Desa Sumbersekar Kec. DAU Kab. Malang, Jawa Timur. Pelaksanaannya

dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 17 Desember 2011 Pukul 10.00-12.00 WIB.

I.4. Kegunaan Kegunaan dari makalah ini adalah agar dapat dijadikan bahan rujukan mengenai pemupukan pada tanah kolam.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pemupukan Pemupukan adalah proses pemberian pupuk pada kolam. Setelah dilakukan tahap tahap sebelumnya, air dikolam harus dipupuk dengan pupuk NPK dosis 4 5 ppm dan penambahan pupuk organik (kotoran ayam) dosis 0,1 ppm. Gunanya, untuk menyuburkan pertumbuhan plankton setelah plankton mati karena aplikasi klorin. Bila plankton sama sekali tidak tumbuh maka harus dimasukkan bibit plankton yang diperoleh dari laboratorium yang membuat kultur tersebut. Bila plankton tidak dibenarkan diambil dari kolam lain karena kekhawatiran akan tertular penyakit (Suyanto,2009 dalam Alwi 2011).

2.2. Jenis jenis Pupuk Pupuk dibagi menjadi 2 yaitu pupuk organik dan pupuk anorganik. Pupuk organik merupakan salah satu jenis pupuk yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesuburan tanah mengingat sifat pupuk organic yang sangat menonjol yaitu mengandung unsure hara makro dan mikro (Amin, 2010). Pupuk organik merupakan pupuk yang digunakan untuk maksud memperbaiki struktur tanah, daya meresapkan air hujan, daya mengikat air, ketahanan terhadap erosi. Selanjutnya dikatakan bahwa terbentuknya humus, pupuk organic juga memperbaiki kehidupan biologi tanah dan mineral (unsure hara) dan hasil proses mineralisasi humus (Setyamidjaya, 1986 dalam Amin, 2010).

2.2.1. Pupuk organik Menurut Syarief (1985) dalam Amin (2010), mengemukakan bahwa pupuk organik memiliki kesanggupan melepaskan zat hara secara berangsur-angsur

sesuai dengan tingkat perombakannya sehingga kelestarian zat hara dalam perairan dapat terjaga. Pupuk organik mengandung unsur hara makro dan mikro secara lengkap, namun dalam jumlah sedikit dan lambat tersedia, karena memerlukan proses mineralisasi agak lama. Selain itu, pupuk organik juga mengandung asam-asam organik, hormon, dan zat perangsang tumbuh yang sangat dibutuhkan tanaman dan tidak dimiliki oleh pupuk anorganik. Penggunaan pupuk organik lebih berperan dalam memperbaiki kesuburan unsur tanah hara dan (Badan kualitas tanaman dan

dibandingkan

sebagai

pensuplai

Penelitian

Pengembangan Pertanian, 2010). Menurut Lukitaningsih (2008), pupuk organik: pupuk yang sebagian besar atau seluruhnya terdiri dari bahan organik yang berasal dari tanaman dan atau hewan yang telah melalui proses rekayasa, dapat dibentuk padat atau cair yang digunakan untuk mensuplai bahan organik, memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah. 2.2.2. Pupuk Anorganik Menurut Lukitaningsih (2008), pupuk anorganik: Pupuk hasil proses rekayasa secara kimia, fisik dan atau biologis dan merupakan hasil industri atau pabrik pembuat pupuk. 2.3. Faktor-Faktor Yang Harus Diperhatikan Dalam Pemupukan a. Jenis pupuk Pupuk dibagi atas 2 golongan yaitu pupuk alam yang meliputi pupuk hijau, pupuk kandang, dan kompos yang seringkali disebut juga pupuk organik. Sedangkan yang kedua ialah pupuk buatan yang biasa disebut pupuk anorganik, pupuk ini jenisnya lebih banyak (Subarijanti, 2000).

Jenis pupuk anorganik yang biasa digunakan dalam kegiatan budidaya adalah urea (NH2 CONH2) dan TSP (Ca(H2PO4)), sedangkan pupuk organik yang biasa digunakan adalah fermentasi saponin dan fermentasi pakan rusak. Fungsi dan dosis yang digunakan dari masing-masing jenis pupuk tersebut relatif berbeda tergantung dari kondisi perairan dan tingkat kebutuhannya berdasarkan pengamatan yang dilakukan di lapang (Marinda, 2008). b. Dosis pupuk Pupuk buatan atau anorganik yang dipergunakan untuk perikanan biasanya urea dan TSP. Dosis yang digunakan 40 50 kg/ha dan 15 50 kg/ha. Pupuk diberikan 12 14 hari sebelum penebaran benih, sebagai pupuk dasar sebanyak setengah dari dosis seluruhnya (Subarijanti,2000). c. Cara pemupukan Menurut Subarijanti (2000), penggunaan pupuk organik biasanya dengan cara mengonggokkan pupuk di pelataran dan membenamkannya ke dalam tanah sebelum kolam/kolam diairi, dengan dosis tertentu tergantung jenis pupuk yang digunakan. Untuk pupuk anorganik, pupuk diberikan 12-14 hari sebelum penebaran benih, sebagai pupuk dasar sebanyak setengah dari dosis seluruhnya. Pada waktu pemupukan pintu pemasukan dan pengeluaran harus ditutup, air dalam kolam diusahakan macak-macak sampai 2-3 hari. Pupuk ditebarkan merata pada dasar kolam/kolam, kemudian air dimasukkan sampai setinggi 5 cm. Bila kelekap mulai tumbuh, air dimasukkan lagi sampai mencapai ketinggian kurang lebih 15 cm, kemudian air berangsur-angsur dinaikkan sampai mencapai ketinggian 80 cm. d. Waktu pemupukan

Pemupukan pada umumnya dilakukan pada waktu musim kemarau. Hal ini dikarenakan membantu proses pengeringan lahan selain itu agar pupuk yang ditebar tidak mengalami pencuian oleh air hujan. 2.4. Hubungan Kesuburan Tanah Dengan Kesuburan Perairan Tanah yang banyak mengandung bahan organik dikatakan sebagai pemasok zat hara N dan P yang dapat mempercepat pertumbuhan alga di kolam atau kolam. Sedangkan keberadaan alga merupakan indikator kesuburan perairan. Dari beberapa hasil penelitian menyatakan bahwa tingginya kesuburan tanah diikuti tingginya kesuburan air. Tanah kolam yang bersifat alkalis yaitu pH nya 6 -7, kaya akan garamgaram natrium, menyebabkan pertumbuhan kelekap menjadi baik sehingga kolam tersebut dikatakan memiliki perairan yang subur (Suyanto, 1984 dalam Subarijanti, 2000).

III. MATERI DAN METODE

3.1 Materi Praktek Kerja Lapang Materi praktikum mencakup segala alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum. Alat dan bahannya berhubungan dengan kegiatan pengamatan dan analisa kualitas air. 1. Persiapan alat dan bahan 3. Pengukuran dan analisa parameter kualitas air 3.2 Metode Pengambilan Data Metode yang digunakan dalam Praktikum ini adalah metode observasi, yaitu metode pengumpulan data dimana peneliti mencatat informasi sesuai yang disaksikan, dengan mengandalkan penglihatan dan pendengaran, memulai interaksi, menyelesaikan tugas lapang (Gulo, 2002). Tujuan dari pelaksanaan metode observasi adalah untuk mendapatkan data berdasarkan pengamatan secara langsung dengan menggunakan alat indra, faktual dan akurat mengenai data-data kegiatan pengamatan dan analisa kualitas air kolam Budidaya Ikan Nila (Oreochromis niloticus). 3.3 Teknik Pengambilan Data Teknik yang digunakan dalam pengambilan data pada Praktikum ini menggunakan dua macam data, yakni Data Primer dan Data Sekunder. Data Primer dilihat hanya dari observasi sedangkan Data Sekunder didapatkan di lapangan secara langsung dan tidak langsung. 3.3.1 Data Primer Metode pengambilan data dapat dilakukan melalui beberapa cara, diantaranya adalah Observasi yang merupakan metode pengumpulan data yang dilakukan secara sistematis dan sengaja melalui pengamatan dan pencatatan

terhadap gejala-gejala yang diteliti (Usman dan Akbar, 1995). Observasi biasa diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan dengan sistematik untuk fenomena-fenomena yang diselidiki. Dalam arti yang luas observasi sebenarnya tidak hanya terbatas kepada pengamatan yang dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung. Pengamatan tidak langsung misalnya melalui quisioner dan test (Hadie, 1981). Observasi dilakukan mengenai proses pengambilan sampel air kolam, pengamatan dan analisa kualitas air kolam tersebut.

3.3.2 Data Sekunder Data sekunder adalah data yang bukan diusahakan sendiri pengumpulannya oleh peneliti misalnya dari Biro Statistik, majalah, keterangan-keterangan, atau publikasi lainnya. Jadi data sekunder berasal dari tangan kedua, ketiga dan seterusnya, artinya melewati satu atau lebih pihak yang bukan peneliti sendiri. Karena itu perlu adanya pemeriksaan ketelitian. Bukan berarti bahwa data sekunder kalah bermutu dibandingkan dengan data primer, bahkan kalau Kepentingan data sekunder adalah untuk membuat (a) latar belakang masalah penelitian (b) informasi alternatip yang dapat dibandingkan dengan informasi primer, sehingga diperoleh pemahaman baru bagi periset. Sehingga laporan penelitian lebih memiliki dukungan data yang dapat memperkuat citra akademis (c) data sekunder dapat dijadikan sumber rujukan utama ketika peneliti hendak menginformasikan hal-hal yang bersifat makro (d) untuk jenis penelitian kepustakaan dan studi kajian buku (referensi), maka data sekunder merupakan informasi utama (Marzuki,1989 dan Salim, 2009). Data sekunder adalah data yang diperoleh dari pihak lain secara tidak langsung diperoleh dari subyek yang diteliti (Azwar, 1998). Data sekunder dapat diperoleh dari studi-studi sebelumnya yang dikumpulkan dan disatukan atau yang

diterbitkan oleh beberapa instansi lain misalnya majalah, keterangan-keterangan atau publikasi lainnya (Suparmoko, 1999). Data sekunder dalam Praktikum ini diperoleh melalui laporan-laporan, pustaka yang menunjang yang terkait dengan pengamatan dan analisa kualitas air kolam Budidaya Ikan Nila (Oreochromis niloticus).

3.4 Alat-alat Praktek Kerja Lapang Alat-alat yang digunakan dalam kegiatan Praktikum ini adalah peralatan yang biasa digunakan dalam pengambilan sampel dan pengamatan kualitas air, yaitu : 3.4.1 DO Buret (1) Botol DO (8) Statif (1) Pipet tetes (6) Pipet Volume (1) Bola Hisap (1) Cool Box (1) Corong (1) 3.4.2 CO2 Buret (1) Botol (8) Statif (1) Pipet tetes (6) Pipet Volume (1) Bola Hisap (1) Cool Box (1) Corong (1) 3.4.3 Nitrat Cuvet (8) Spektrofotometer Cawan porselin (8) Spatula (8) Gelas ukur 50ml (8) Breaker glass (8)

10

Hot Plate (2) Bola hisap (1) Pipet volume (1) Pipet tetes (1)

3.4.4 Phospat Cuvet (8) Spektrofotometer Cawan porselin (8) Spatula (8) Gelas ukur 50ml (8) Breaker glass (8) Hot Plate (2) Pipet tetes (2) 3.4.5 TOM Buret (1) Statif (1) Corong (1) Thermometer (8) Spatula (8) Gelas ukur 50ml (8) Erlenmeyer 50ml (8) Hot Plate (2) Bola hisap (1) Pipet volume (1) Pipet tetes (2) 3.4.6 Plankton Plankton net (4) Pipet tetes (1) Botol film (8) 3.5 Bahan Praktek Kerja Lapang Bahan-bahan yang digunakan dalam pelaksanaan Praktikum ini antara lain : 3.5.1 DO NaOH + KI (50ml) MnSO4 (50ml) Amilum (25ml) H2SO4 (50ml) Na2S2O3 0.025N (150ml) Aquades

11

3.5.2 CO2 3.5.3 Nitrat Asam fenol disulfonik (25ml) NH4OH 1:1 (100ml) Kertas saring aquades 3.5.4 Phospat SNCl2 (5ml) Amonium molybdat (25ml) Aquades 3.5.5 TOM KMNO4 0.01N (150ml) H2SO4 1:4 (50ml) Na oxalate (75ml) Aquades 3.5.6 Plankton Lugol Air Kolam

3.7 Pengukuran dan Analisa Parameter Kualitas Air Dalam Praktek Kerja Lapang ini dilakukan pengukuran dan analisis kualitas air dengan parameter fisika yakni suhu dan cahaya. Sedangkan untuk parameter kimia yaitu pH,N,P,TOM,DO,CO2, dan yang semuanya dapat mempengaruhi keberadaan dan kehidupan fitoplankton. 3.7.1 Karbondioksida (CO2) Menurut Effendi (2003), langkah-langkah untuk mengukur kadar karbondioksida terlarut adalah sebagai berikut :

Ukur 25 ml air sampel dan masukan ke dalam erlenmeyer, kemudian tambahkan 1-2 tetes indikator PP. Bila air berwarna merah berarti air tersebut tidak mengandung CO2 bebas Bila air tetap tidak berwarna, cepat titrasi dengan Na2CO3 0,0454N sampai warna menjadi merah (pink) pertama kali

12

Catat volume titran yang digunakan Hitung dengan rumus :

CO2 (mg/l) =

Vtitran * Ntitran * 22 *1000 Vairsampel

Dan didapatkan hasil

3.7.2 pH (Yuli dan Kusriani, 2005) Menyiapkan pH paper atau pH pen. Memasukkan pH paper ke dalam sampel air sekitar 3 menit, kemudian dicocokkan perubahan warna pada pH paper dengan kotak standar. Menstandarisasi terlebih dahulu pH pen sebelum digunakan dengan aquades. Masukkan pH pen ke dalam air dan kemudian lihat angka pada layar pH pen. Setelah dipakai segera standarisasi kembali.

3.7.3 Suhu (Yuli dan Kusriani, 2005) Langkah-langkah untuk mengukur suhu adalah sebagai berikut : Memasukkan Thermometer Hg ke dalam perairan dan ditunggu beberapa saat sampai air raksa di dalam Thermometer Hg menunjukkan skala tertentu.

Mencatat skala yang ditunjukkan oleh thermometer Hg dalam satuan 0C. Membaca skala pada Thermometer Hg saat masih berada di dalam perairan dan jangan sampai tangan menyentuh bagian tubuh

Thermometer. 3.7.4 Phospat (Tim Asisten Praktikum Limnologi, 2008) Langkah-langkah untuk mengukur phospat adalah sebagai berikut :

13

Reagen ammonium molibdat 25 gr Dilarutkan dalam 175 ml aquadest Ditambahkan 280 ml H2SO4 pekat Dilarutkan sampai 1 liter Hasil SnCl2 dilarutkan sebanyak 2,5 gr Dilarutkan dalam 100 ml gliserol Larutan Standart Phospat Timbang 0,2195 gr KH2PO4 Dilarutkan dalam 1 liter aquadest Ambil 50 ml yang dilarutkan dalam 500 ml aquadest (mengandung 5 mg/L H2PO4).

Diukur dan dituangkan air sampel ke dalam Erlenmeyer sebanyak 25 ml Ditambahkan 1 ml ammonium molybdate dan dikocok hingga homogeny Ditambahkan 3 tetes SnCl2 dan dihomogenkan Masukan ke dalam cuvet dan dianalisa dengan spektrofotometer sebagai nilai y dan kadar ortofosfatnya dihitung dengan menggunakan rumus y = a+bx

Hasil

3.7.5 Nitrat (Tim Asisten Praktikum Limnologi, 2008) Langkah-langkah untuk mengukur nitrat adalah sebagai berikut :

14

Disaring air sampel sebanyak 25 ml dan masukkan ke dalam cawan porselin.

Lalu uapkan di atas hot plate sampai kering (terbentuk kerak) Ditunggu hingga dingin dan kemudian ditambahkan 0,5 Asam Fenol Disulfonik dan diaduk dengan spatula sampai kerak larut

Tambahkan aquadest sebanyak 2,5 ml Tambahkan NH4OH sampai terbentuk warna Masukkan dalam cuvet dan menganalisa di spektrofotometer sebagai nilai y dan nilai nitratnya dihitung dengan menggunakan rumus y = a+bx

3.7.6 Kelimpahan Fitoplankton (Bloom, 1998) - Mengambil sampel air sebanyak 10 liter kemudian disaring dengan menggunakan plankton net no. 25. - Menetesi sampel dengan Lugol sebanyak 3-4 tetes dan diberi label. - Mengamati sampel air dengan mikroskop dengan minimal 5 lapang pandang. - Menghitung dengan menggunakan rumus :

N=
Keterangan : N C

C x At As x S x V

: Jumlah plankton (sel/ml) : Jumlah individu plankton dalam lapang pandang

At : Luas cover glass (mm2) As : Luas lapang pandang (mm2) V S : Volume tetesan(ml) : Jumlah lapang pandang

15

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Keadaan Umum Lokasi 4.1.1 Letak Geografis dan Keadaan Sekitar UPR (Unit Pembenihan Rakyat) Sumber Mina Lestari terletak di Dusun Banjar tengah Desa Sumbersekar Kecamatan Dau Kabupaten Malang. Dusun Banjar tengah merupakan salah satu dusun yang berada di Desa Sumbersekar kecamatan Dau dengan luas wilayah 53 ha dan pada ketinggian daratan 760 m dpl. Suhu minimum 16 - 18C dan suhu maksimum 26 - 28C dan curah hujan rata-rata 875 - 3000 mm per tahun. Desa Sumber Sekar Kecamatan Dau Kabupaten Malang dengan batasbatas : Sebelah Utara Sebelah Selatan Sebelah Timur Sebelah Barat : berbatasan dengan Desa Dadaprejo : berbatasan dengan Desa Gading Kulon : berbatasan dengan Desa Mulyo Agung : berbatasan dengan Kecamatan Junrejo

Jarak kecamatan DAU dari pusat kota malang 10 km ke arah

4.2Manajemen Kualitas Air 4.2.1 Suhu

16

Suhu merupakan salah satu faktor yang berpengaruh dalam ekosistem perairan. Perubahan suhu sangat berpengaruh terhadap proses fisika, kimia dan biologi badan air (Effendi, 2003). Suhu air merupakan faktor yang sangat banyak mendapat perhatian dalam pengkajian pengkajian kelautan. Data suhu air dapat dimanfaatkan bukan saja untuk mempelajari gejala gejala fisika di dalam laut tetapi juga dalam kaitannya dengan kehidupan hewan dan tumbuhan (Nontji, 2005). Hasil pengukuran suhu yang telah dilakukan pada kolam ikan Nila semi permanen di Sumber Mina Lestari adalah 31,5C. Suhu ini merupakan suhu yang kurang optimal bagi kehidupan fitoplankton sebagai pakan alami. Menurut Tambaru (2003), suhu yang sesuai untuk kehidupan fitoplankton berkisar antara 20 300C. Suhu berpengaruh langsung terhadap tumbuhan dan hewan, yakni pada laju fotosintesis tumbuh tumbuhan dan proses fisiologi hewan khususnya derajat metabolisme dan siklus reproduksinya.

4.2.2 pH Dari hasil data yang diperoleh pada perhitungan pH didapatkan nilai pH pada kolam ikan Nila semi alami adalah 8,78. Ini berarti kondisi pH dilokasi perairan tersebut cenderung basa, keadaan tersebut masih sesuai untuk biota akuatik. Hal ini didukung oleh pendapat Djatmika (1986), menyatakan bahwa derajat keasaman ditentukan oleh konsentrasi ion H+ air kolam dikatakan bersifat asam dan dikatakan bersifat basa bila pH-nya lebih besar dari 7. pH 6,5-9 berarti ikan mengalami pertumbuhan optimal. Menurut (Kordi dan Tancung,2007) pH air mempengaruhi tingkat

kesuburan perairan karena mempengaruhi kehidupan jasad renik. Pada perairan asam ikan kurang produktif. Pada pH rendah kandungan oksigen terlarut akan

17

berkurang,sebagai akibatnya konsumsi oksigen menurun,aktivitas pernafasan naik dan selera makan berkurang. Hal yang sebaliknya terjadi pada suasana basa. Atas dasar ini,maka budidaya perairan akan optimal dengan kisaran pH 7,5-8,7 dan akan berhasil baik pada pH 6,5-9,0.

4.2.3

DO (Dissolved Oxygent)

Oksigen terlarut merupakan salah satu penunjang utama kehidupan di laut. Sumber utama oksigen dalam air laut adalah udara melalui proses difusi dan dari proses fotosintetis fitoplankton. Oksigen terlarut dalam laut dimanfaatkan oleh organisme perairan untuk respirasi dan penguraian zat-zat organik oleh mikroorganisme (Simanjuntak, 2004). Kecepatan difusi oksigen ke dalam air sangat lambat Oleh karena itu, Fitoplankton merupakan sumber utama dalam penyediaan oksigen terlarut dalam perairan (Mulyanto, 2002). Hasil pengukuran DO yang telah dilakukan pada kolam di Sumber Mina Lestari adalah 15,52 mg/liter pada kolam pertama dan 19,47 mg/liter pada kolam kedua. Kandungan oksigen dalam air yang ideal adalah antara 3-7 ppm (Subarijanti, 1990).

4.2.4 CO2 Gas karbondioksida (CO2) memegang peranan penting sebagai sumber makanan bagi semua tumbuhan hijau, yang mampu berfotosintesis baik tumbuhtumbuhan renik seperti fitoplankton maupun tumbuhan tingkat tinggi (Soeseno, 1974). Gas karbondioksida (CO2) yang terdapat di perairan dapat berasal dari berbagai sumber yaitu : difusi dari atmosfer, air hujan yang jatuh kepermukaan

18

perairan, air yang melewati tanah organik, respirasi tumbuhan, hewan dan bakteri aerob dan anaerob (Effendi, 2003). Hasil pengukuran yang telah dilakukan pada kolam ikan Nila semi permanen di Sumber Mina Lestari tidak terdapat CO2 bebas. Menurut Subarijanti (1990), CO2 dalam perairan sangat dipengaruhi oleh nilai pH perairan. Pada pH < 6.5 maka CO2 dalam perairan akan didominasi oleh CO2 bebas, pada pH berkisar 6 8.3 maka CO 2 bebas akan berubah bentuk menjadi ion bikarbonat, dan pada pH > 8.3 bentuk ion bikarbonat akan berubah bentuk menjadi ion karbonat. Sebaliknya apabila perairan pH perairan turun maka ion bikarbonat akan berubah kembali menjadi bikarbonat dan akhirnya berubah kembali menjadi CO2 bebas. Reaksi yang terjadi adalah CO2 + H2O H2CO3 HCO3H2CO3 H+ + HCO3H+ + CO32-

Andayani (2005) mengatakan pada siang hari fitoplankton mengubah karbondioksida lebih cepat. Selama karbondioksida diubah, karbonat terkumpul dan terhidrolisasi yang menyebabkan pH bertambah. Dalam kondisi pH diatas 8.3 fitoplankton fotosintesis. menggunakan ion bikarbonat untuk melakukan proses

4.2.5

Nitrat

Nitrat merupakan hasil dari reaksi biologi yaitu nitrogen organik. Limbah industri dan domestik akan mengandung nitrat dan akan menjadi polusi untuk permikaan air. Nitrat merupakan elemen esensial atau sebagian nutrien dalam proses eutrofikasi, pada perairan alami mineral nitratr hanya sedikit. Soda nitrat (NaNO3) merupakan komponen utama pada endapan. Penambahan nitrat pada perairan dapat berasal dari pupuk yang tercuci dari tanah pertanian. Residu dari

19

limbah perternakan, juga mengandung nitrogen organik dan apabila teroksidasi juga akan menjadi nitrat. Bahan ini juga dapat digunakan sebagai elektron aseptor oleh beberapa mokrobia (Arfiati, 2001). Dari hasil dan data perhitungan nitrat nitrogen pada kolam ikan Nila semi alami dengan spektrofotometer diperoleh hasil y = 0,076 sehingga diperoleh hasil akhir 0,77 mg/L. Keadaan tersebut termasuk terlalu subur atau eutrofik. Hal ini dapat disebabkan oleh sumber air yang digunakan dalam kolam-kolam ini melewati lahan pertanian dimana terdapat unsur-unsur anorganik yang dapat langsung terbawa larut oleh air dan masuk ke dalam kolam. Pernyataan ini

didukung oleh pendapat Effendi (2003), kadar nitrogen yang lebih dari 0,2 mg/L dapat mengakibatkan terjadinya eutrofikasi (pengayaan) perairan yang

selanjutnya menstimulir pertumbuhan algae dan tumbuhan air secara pesat (blooming). Nitrat dapat digunakan untuk mengelompokan tingkat kesuburan perairan oligotropik memiliki kadar nitrogen antar 0-1 mg/L, perairan mesotropik memiliki kadar nitrat 1-5 mg/L dan perairan eutropik memiliki kadar nitrat yang berkisar antara 5-50 mg/L. Dengan nilai hasil fosfat yang ditemukan tersebut maka dapat disimpulkan nilai tersebut sangat besar baik untuk perairan karena tidak menurunkan kapasitas dan untuk mengikat oksigen.

4.2.6

Fosfat

Unsur fosfor selain jumlahnya sedikit juga sering kali tidak seimbang dengan unsur nitrogen, sehingga unsur ini seringkali dikatakan sebagai faktor pembatas, terutama pembatas pertumbuhan fitoplankton. Sumber fosfor dalam perairan umum, berasal dari limbah rumah tangga dan sisasisa pupuk dari persawahan disekitarnya yang masuk melalui air (Subarijanti, 2005).

20

Fosfor di dalam perairan terdiri dari dua komponen, yaitu : (1) fosfor yang dapat larut (P terlarut) adalah dalam bentuk fosfat seringkali disebut Orthofosfat, (2) fosfat organik yaitu yang terdapat dalam organisme-organisme plankton dan bahan-bahan organik lainnya dalam air. Fosfat organik (Orthoposfat) dalam bentuk unsur P yang efektif bagi pertumbuhan fitoplankton, dimana

ketersediaannya ditentukan oleh faktor lingkungan, seperti alkalinitas, pH dan kandungan bahan organik serta keanekaragaman unsur-unsur lain misalnya kalsium (Ca), besi (Fe), dan alumunium (Al) (Subarijanti, 1990). Dari hasil dan data perhitungan ortofosfat di kolam ikan Nila semi alami dengan spektrofotometer diperoleh hasil y = 0,094 sehingga diperoleh nilai kadar ortofosfat adalah 0,11 mg/L. Perairan ini terlalu subur (eutrofik) bagi biota perairan. Hal ini dikarenakan sumber air yang digunakan dalam kolam-kolam ini melewati lahan pertanian dimana terdapat unsur-unsur anorganik yang langsung terbawa oleh air dan masuk ke dalam kolam. Menurut Andayani (2005), konsentrasi fosfor dalam air sangat rendah, konsentrasi ostofosfat yang biasanya tidak lebih dari 5-20 mg/L dan jarang melebihi 1000mg/L dalam kolam ikan subur di Albana, ortofosfat larut rata-rata 20mg/L dan total fosfat 10 mg/L. Menurut Effendi (2003), kadar fosfat pada perairan alami berkisar antara 0,005-0,02 mg/L P-PO4, sedangkan pada air tanah biasanya sekitar 0,02mg/L PPO4. Kadar fosfat dalam ortofosfat (P-PO4) jarang melebihi 0,1 mg/L meskipun pada perairan eutotrof kadar fosfat total pada perairan jarang melebihi 1mg/L . Menurut Arfiati (2001), perairan dengan kadar ortofosfat kurang dari 0,001 mg/L merupakan perairan subur (oligotrofik), 0,01 0,05 mg/L merupakan perairan agak subur (mesotrofik), Dan lebih dari 0,1 mg/L termasuk perairan yang subur (eutrofik).

4.3 Manajemen Hama dan Penyakit

21

.. 4.4 Plankton 4.4.1 Jenis dan Komposisi Fitoplankton Dari hasil pengamatan jenis fitoplankton yang ditemukan di kolam benih terdiri dari 3 filum yaitu (1) Chlorophyta terdiri dari 4 genus yaitu Chlorella, Pediastrum, Ulotrix, Selenastrum dan Scenedesmus; (2) Chrysophyta terdiri dari 3 genus yaitu Diatoma, Navicula dan Nitzchia; (3) Euglenophyta terdiri dari dari 1 genus yaitu Phacus. Hasil pengamatan sampel air di kolam benih dan kolam induk ditemukan jenis fitoplankton sebagai berikut: a. Phyllum Chrysophyta Sachlan (1972) menyatakan phyllum ini terbagi menjadi 3 sub phyllum Xanthophyceae, Chrysophyceae dan Bacilariophyceae dan memiliki ciri umum : Dinding sel terdiri dari bahan silikat Sel terdiri dari 2 bagian Memiliki pigmen xanthopil dan karotin Pada umumnya berflagel (Heterokontae) Phyllum Chrysophyta yang ditemukan selama pengamatan pada kolam semipermanen antara lain Diatoma, Navicula dan Nitzchia. b. Phyllum Chlorophyta Dalam evolusi alga, phyllum Chlorophyta (alga hijau) dianggap langsung berasal dari alga biru. Chlorophyta merupakan phyllum yang paling penting di perairan tawar dan phyllum ini memberi warna hijau dalam perairan (Sachlan, 1972). Alga hijau akan tumbuh dengan baik apabila intensitas cahaya matahari cukup tersedia (Subarijanti, 1990). Chlorophyta mempunyai sifat-sifat umum yaitu : Isokontae, yaitu memiliki flagel yang sama panjang

22

Memiliki pigmen klorofil a, b karotene dan xanthopil Memiliki dinding sel selulosa Phyllum Chlorophyta yang ditemukan selama pengamatan pada kolam

semipermanen antara lain Chlorella, Pediastrum, Scenedesmus, Selenatrum dan Ulotrix. c. Phyllum Euglenophyta Phyllum ini hidup 90% dalam air tawar. Pada perairan yang tergenang, beberapa genus dari golongan Euglenophyta, dapat membentuk cysta yang menutupi seluruh permukaan perairan dan berwarna merah, hijau, kuning atau campuran dari warna-warna tersebut (Sachlan, 1972). Sifat umum lainnya yang dimiliki oleh phyllum ini adalah Mempunyai titik merah bagian anterion dalam tubuhnya yang sensitif

terhadap sinar dan dianggap sebagai matanya Mempunyai cadangan makanan Mempunyai pigmen chlorofil a dan b carotine, sedang warna merah yang

ada dalam badannya disebabkan oleh adanya haematochroon. Phyllum Euglenophyta yang ditemukan selama pengamatan pada kolam semipermanen yaitu Phacus.

23

IV. PENUTUP

4.1 Kesimpulan Dari hasil uraian di atas, maka dapat diambil kesimpulan antara lain: 1. Komposisi fitoplankton yang diperoleh didominasi oleh kelaBacillariophyceae dan zooplankton didominasi oleh kelas Crustaceae 2. Salah satu usaha yang dilakukan untuk meningkatkan kesuburan kolam adalah dengan cara pemupukan. 4.2 Saran Sebaiknya dalam pemupukan harus memperhatikan kondisi dan jenis tanah kolam yang akan dipupuk.

24

DAFTAR PUSTAKA

Alwi, 2011. Dasar-Dasar Akuakultur. www.scribd.com/boc/21752501/bab-IIdasqul. Amin, M. 2010. Dinamika Plankton Pada Budidaya Ikan Windu (Penaeus monodon FABRICUS) Yang Menggunakan Jenis Pupuk Organik Di Kolam. Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur hal.837-844. Amin, M, dan Pantjara, B. 2002. Penggunaan berbagai pupuk organik terhadap kelimpahan plankton pada bak terkontrol. Prosiding Seminar Nasional Inovasi Teknologi Tepat Guna Berorientasi Agribisnis Untuk Pemberdayaan Masyarakat Dalam Pembangunan Pertanian Wilayah. Balitbang Pertanian, hlm: 263-269. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2010. Peta Potensi Penghematan Pupuk Anorganik dan Pengembangan Pupuk Organik Pada Lahan Sawah Indonesia. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Kementerian Pertanian.

Huet, M. 1978. Texbook of fish culture: Breeding and Cultivation of Fish. Fishing Press. Inc. Cueson City, Philippines, 436 pp. Lukitaningsih. 2008. Jenis jenis Pupuk. www.lukitaningsih.blogspot.com. Marinda, 2008. Pemupukan Air Kolam. http://marindroina.blogspot.com/2008/07/pemupukan-air-kolam-02-jenis-dan.html.

Ratnawati, E., A. Mustafa, Anugriati. 2010. Faktor Pengelolaan yang Mempengaruhi Produksi Ikan Bandeng (Chanos chanos) di Kolam Kabupaten Bone, Provinsi Sulawesi Selatan. Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur hal. 151-159. Subarijanti, H. U. 2000. Pemupukan dan Kesuburan Perairan. Universitas Brawijaya Malang.

25

26