Anda di halaman 1dari 72

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kekuasaan lembaga peradilan di Indonesia, secara konstitusional diatur dalam undang undang Dasar 1945 sebagai salah satu pemegang kekuasaan Negara dibidang yudikatif, yang merupakan kekuasaan untuk menyelenggarakan peradilan dalam rangka menegakkan hukum dan keadilan, sebagaimana diatur dalam Pasal 24 undang undang dasar 1945 (amandemen) yang menentukan bahwa : (1) Kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan ; (2) Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan Badan peradilan agama, lingkungan peradilan militer, peradilan tata usaha negara, dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi ; Kedudukan Mahkamah Agung merupakan puncak dari badan badan peradilan empat lingkungan peradilan, yakni peradilan umum, peradilan agama, peradilan militer, peradilan tata usaha Negara, yang masing masing lingkungan peradilan tersebut terdiri dari peradilan tingkat pertama maupun peradilan tingkat banding.

Pada Negara Negara demokrasi yang dijalankan berdasarkan hukum (democracy under rule of law, democratische rechtsstaat) ada beberapa pilar utama kekuasaan kehakiman yang harus dihormati dan dijunjung tinggi, yaitu : independent, impartial, fair, dan competent .1) Penegakan hukum melalui lembaga pengadilan yang pro keadilan dan bebas dari intimidasi didalamnya terkandung makna, yaitu : a. Direktif, sebagai pengarah dalam pembangunan untuk membentuk masyarakat yang hendak dicapai sesuai dengan tujuan kehidupan bernegara ; b. Integratif, sebagai pembinaan kesatuan bangsa ; c. Stabilitatif, sebagai pemeliharaan dan penjaga keselarasan, keserasian, dan keseimbangan dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat ; d. Prefektif, sebagai penyempurna terhadap tindakan administrasi Negara, maupun sikap tindak warga Negara dalam kehidupan bernegara dan bermasyakarakat ; e. Korektif, baik terhadap warga Negara maupun penyelenggaraan Negara dalam mendapat keadilan.2)

Bagir Manan, Peranan Pedoman Tingkah Laku Hakim sebagai Penjaga Kekuasaan Kehakiman Yang Merdeka, dijakarta, 22 April 2009. Syahran Basah, Fungsi Hukum dalam kehidupan Masyarakat, dalam Tiga Tulisan tentang Hukum, Amrico, 1986, hlm. 24-25.
2)

1)

Hakim sebagai pelaku kekuasaan kehakiman merupakan pejabat publik yudisial dan karenanya hakim bukan jabatan dibidang eksekutif, sehingga hakim dalam melaksanakan kekuasaan kehakiman adalah bersifat merdeka, terlepas dari pengaruh kekuasaan pemerintah maupun intervensi dari mana pun atau siapa pun. Namun demikian, hakim sebagai salah satu penegak hukum dalam melaksanakan kekuasaan kehakiman tidak dapat serta merta berbuat semaunya tanpa mendasarkan pada peraturan perundang undangan yang berlaku yang memberikan kewenangan dan menuntun hakim dalam melakasanakan tugas yudisialnya, tetapi hakim sebagai aktor utama atau figure sentral dalam proses peradilan dituntut mempunyai profesionalisme dalam menegakkkan hukum dan keadilan. Sehingga dalam melaksanakan tugas yudisialnya, hakim harus dapat mempertanggung jawabkan kepada Tuhan Yang Maha Esa maupun kepada masyarakat. Dalam rangka menjaga harkat dan menegakkan kehormatan, keluhuran, martabat serta perilaku hakim, maka dibentuklah lembaga komisi yudisial yang bersifat mandiri yang diangkat oleh Presiden dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat (Vide Pasal 24 B Ayat (1) dan Ayat (3) Undang Undang Dasar 1945).

Pengawasan yang dilakukan oleh Komisi Yudisial kepada Hakim merupakan pengawasan yang bersifat eksternal dengan mendasarkan pada etika profesi (kode etik dan pedoman perilaku hakim), sedangkan pengawasan internal atas tingkah laku hakim, pelaksanaan tugas administrasi dan keuangan dilakukan oleh Mahkamah Agung, tetapi dalam melaksanakan pengawasan tersebut, tidak boleh mengurangi kebebasan hakim dalam memeriksa dan memutus perkara, sehingga Mahkamah Agung dan/atau Komisi Yudisial wajib: a. Mentaati norma dan peraturan perundang-undangan ; b. Berpedoman pada kode etik dan pedoman perilaku hakim ; c. Menjaga kerahasiaan keterangan dan informasi yang diperoleh ;

Pedoman tingkah laku

Hakim (code of judicial ethics) sebagai

peraturan etika (rules of ethics) dan secara normative bukan sebuah aturan hukum, baik ditinjau dari wewenang membuat menetapkan, isi (materi muatan), cara menetapkan dan cara menegakkan pedoman tingkah laku hakim tida memenuhi syarat sebagai ketentuan hukum (legal norms). Pedoman tingkah laku hakim adalah aturan moral (etik) yang bertujuan untuk membangun dan memperkukuh standar moral (etik) tingkah laku hakim. Sebagai aturan moral (etik), pedoman Perilaku Hakim

dimanapun-lebih menentukan segi-segi kewajiban yang wajib diemban dan dipikul oleh hakim baik secara individual maupun secara kolektif. Oleh karena perilaku profesi hakim merupakan salah satu aspek yang mendapatkan perhatian masyarakat di masa perubahan (reformasi) ini, dan berdasarkan pasal 32 A jo. Pasal 81 B Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009 tentang Perubahan kedua Undang Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung, maka telah diterbitkan kode etik dan pedoman perilaku hakim yang merupakan pedoman bagi hakim dalam memberikan bimbingan terhadap keutamaan moral dalam melaksanakan tugas kedinasan maupun dalam melakukan hubungan dengan masyakarat, hal mana kode etik pedoman perilaku hakim dimaksud juga merupakan pedoman bagi Mahkamah Agung RI dan Komisi Yudisial RI dalam melakukan fungsi pengawasan internal maupun ekternal, sebagaimana termuat dalam keputusan bersama Ketua Mahkamah Agung Rid an Komisi Yudisial RI Nomor 047/KMA/SKB/IV/2009 dan Nomor 02/SKB/P.KY/IV/2009

tentang kode etik dan pedoman perilaku hakim. Sedangkan dalam era perubahan ini salah satu aspek yang tidak kalah penting dalam mewujudkan danm meningkatkan profesionalisme hakim yang dapat memberikan keadilan bagi pencari keadilan adalah aspek kemampuan atau pengetahuan hakim secara individual, baik kemampuan

hukum materiil maupun hukum formal, sehingga untuk merealisasikan hal tersebut Mahkamah Agung secara berkala mengadakan pelatihan, bimbingan teknis, temu ilmiah kepada para hakim dan bahkan memberikan beasiswa kepada para hakim untuk melanjutkan pendidikan formal yang lebih tinggi (S-2, S-3) agar hakim mempunyai pengetahuan yang memadai untuk menghadapi perkembangan sosial, politik, budaya maupun teknologi yang begitu cepat berubah, sehingga hakim mempunyai bekal yang cukup dalam mengadili perkara. Namun demikian, meskipun hakim dalam menyelenggarakan kekuasaan peradilan bersifat merdeka, tetapi apabila hakim tersebut

melakukan pencederaan terhadap etika profesi dan pedoman perilaku hakim atau peraturan perundang-undangan yang berlaku, maka hakim tersebut secara kasuistis dapat dikenakan sanski yang bersifat pidana dan atau sanksi administrative. Pencederaan etika profesi hakim dalam lembaga peradilan sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah tidak dipenuhinya sarana dan prasarana bagi hakim selaku penegak hukum maupun sebagai warga masyarakat, hal tersebut menjadi tanggung jawab Negara untuk memberikan jaminan keamanan bagi hakim dan pengadilan , kecukupan kesejahteraan, kelayakan fasilitas, pemberian anggaran yang memadai.

Secara realita, apakah perhatian Negara kepada hakim sudah diberikan secara optimal karena apabila kita mengamati gedung kantor pengadilan didaerah-daerah, rumah dinas hakim, sarana-sarana perkantoran dipengadilan serta kesejahteraan hakim sangat memprihatinkan. Meskipun demikian, Mahkamah Agung dalam era Reformasi sebagai konsekuensi perkembangan sosial dan budaya, berupaya

melakukan langkah-langkah strategis dalam menghadapi perubahan paradigma yang ada dalam masyarakat untuk menjadikan lembaga peradilan yang mandiri, netral, kompeten, transparan, akuntabel, dan berwibawa yang mampu menegakkan hukum dan keadilan. Oleh karena itulah menurut penulis sangatlah menarik untuk ditelusuri, diteliti lebih jauh dan ditulis dalam bentuk skripsi mengenai :

KUALITAS

PROFESIONALISME

DALAM

PROSES

PEMBARUAN DAN KONSEKUENSI TERHADAP PENCEDERAAN ETIKA PROFESI DALAM LEMBAGA PERADILAN.

B. Permasalahan

Berdasarkan uraian tersebut, maka permasalahan yang akan dibahas adalah:

1. Apakah masyarakat bangsa Indonesia telah menempatkan lembaga peradilan dalam posisi yang tepat dalam rangka sistem penyelenggaraan kehidupan bangsa dan Negara ? 2. Bagaimanakah peradilan Indonesia menjawab tantangan perubahan sebagai konsekuensi perkembangan global ?

C. Ruang Lingkup dan Tujuan Penelitian.

1. Ruang Lingkup Yang dibahas dalam skripsi ini adalah mengenai Apakah masyarakat bangsa Indonesia telah menempatkan lembaga peradilan dalam posisi yang tepat dalam rangka sistem penyelenggaraan kehidupan bangsa dan Negara ? Bagaimanakah peradilan Indonesia menjawab tantangan perubahan sebagai konsekuensi perkembangan global ?, namun untuk membatasi ruang lingkup pembahasan maka dalam hal ini penulis hanya meneliti isi daripada Undang Undang yang berkenaan dengan hal tersebut dan yang menjadi sangat penting dalam sorotan masyarakat khususnya dalam penulisan skripsi ini . Selain itu untuk membatasi objek penelitian maka dalam hal ini penulis

hanya akan melakukan penelitian hanya terbatas pada undang undang tersebut saja.

2. Tujuan Penelitian a. Untuk menjelaskan bahwasanya Hakim sebagai pelaksana

kekuasaan kehakiman semakin dituntut mempunyai Integritas tinggi, dan professional, sehingga hakim memperoleh kepercayaan dari masyarakat. Dan Hakim sebagai salah satu profesi penegak hukum harus berbenah dan mengubah pola pikir dan pola budaya yang selama ini dipahami dalam rangka mempersiapkan dan menghadapi struktur hukum nasional di era perubahan ini. Sebagai usaha dalam menegakkan hukum lebih menjanjikan dan dapat dilakukan apabila hakim benar-benar dibimbing dan dipimpin oleh perangkat peraturan yang benar-benar berorientasi dan berpihak pada penegakan hukum dan keadilan. Adapun sikap yang terbaik dalam melakukan pembenahan hukum di Indonesia adalah dengan menyelenggarakan reformasi yang terkait perencanaan, legislasi, dan penerapan hukum. b. Agar para hakim bukannya sama sekali menutup mata terhadap kritik dari semua lapisan masyarakat, tetapi para hakim benar-benar

10

menyadari bahwa peningkatan

kualitas keilmuan, keterampilan

teknis yudisial maupun kualitas integritas moral dan karakter. c. Untuk menambah ilmu dalam memperkuat tradisi dialektika akademik yang ditandai dengan dinamika sikap kritis dan sekaligus inovatif sebagai tanggung jawab sejarahnya untuk menyemai dan melahirkan sesuatu yang baru yang lengkap dan lebih jelas dalam Undang Undang tersebut.

D. Metodelogi.

Sesuai dengan ruang lingkup pembahasan dalam skripsi ini metodologi yang digunakan dalam penulisan adalah sebagai berikut : 1. Jenis Penelitian dan Sifat Penelitian : Jenis Penelitian Jenis Penelitian dalam skripsi ini adalah penelitian yuridis empiris yang meliputi penelitian terhadap identifikasi hukum dan efektifitas hukum. Sifat Penelitian Sifat penelitian dalam penulisan skripsi ini adalah bersifat eksploratoris dalam hal ini penelitian melakukan penelitian terhadap

11

Kualitas Profesionalisme Dalam Proses Pembaruan Dan Konsekuensi Terhadap Pencederaan Etika Profesi Dalam Lembaga Peradilan . 2. Jenis dan Sumber Data a ) Jenis Data Data yang di pergunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. 1) Data Primer, yaitu data yang diperoleh dari penelitian lapangan (field Research) 2) Data Sekunder, yaitu data yang diperoleh dari kepustakaan (library Research) b) Sumber Data Sumber data yang dipergunakan dalam skripsi ini yaitu : 1. Data primer Yaitu data yang bersumber atau di peroleh dari penelitian lapangan (field Research). Dengan cara wawancara dengan para Pejabat yang berwenang di Kantor Pengadilan Negeri Muara Enim. 2. Data sekunder yaitu data yang bersumber atau di peroleh dari penelitian Kepustakaan ( library research ) yang berupa :

12

a) Bahan hukum primer yaitu Undang-undang, Peraturan Pemerintah, Keputusan Presiden, Peraturan Presiden,

Keputusan Mahkamh Agung. b) Bahan hukum sekunder yaitu data yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer yang berbentuk buku-buku ilmiah yang berkaitan dengan Peran Peradilan Indonesia dan pengadilan, hasil penelitian dan berbagai makalah, hasil seminar, majalah jurnal ilmiah dan surat kabar yang berkaitan dengan penelitian. c) Bahan hukum tersier (penunjang) yaitu bahan-bahan yang memberi petunjuk terhadap bahan hukum primer maupun sekunder seperti kamus, ensiklopedia dan sebagainya. 3. Tehnik Pengumpulan Data a. Data Primer Data Primer yaitu tehnik pengumpulan data, dengan cara melakukan Penelitian Lapangan (Field Reseach) di Kantor Pengadilan Negeri Muara Enim. Data tersebut dikumpulkan melalui : 1. Wawancara (interview), yaitu dilakukan dengan cara

mengajukan pertanyaan langsung kepada responden (Pejabat yang berwenang di Pengadilan Negeri Muara Enim) secara

13

terarah (directive interview) dan mendalam (depth interview) dengan berpedoman pada daftar pertanyaan yang telah

dipersiapkan terlebih dahulu. 2. Pengamatan (observasi), yaitu mengadakan pengamatan dan pencatatan secara metode pengumpulan data yang dilakukan secara sistematis terhadap lingkungan kerja dalam kegiatan yang ada untuk memperoleh hasil sesuai dengan sasaran dalam rangka mendapatkan kelengkapan data melalui situs di internet. b. Data Sekunder Data sekunder, yaitu tehnik pengumpulan data yang diperoleh dari penelitian Kepustakaan (library Research) yang relevan dengan pokok permasalahan peran Peradilan Indonesia dalam mengawasi Lembaga Peradilan. 4. Tehnik Analisa Data Tehnik analisa data primer dan sekunder yang dikumpulkan dalam penelitian akan dianalisa secara kualitatif, penelitian ini akan menghasilkan data deskriptif analitis yaitu apa yang dinyatakan oleh responden secara tertulis atau lisan yang diteliti dan dipelajari sebagai suatu yang utuh. Untuk selanjutnya di tarik suatu kesimpulan.

14

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Etika dan Etika Profesi Kata etik (atau etika) berasal dari kata ethos (bahasa Yunani) yang berarti karakter, watak kesusilaan atau adat. Sebagai suatu subyek, etika akan berkaitan dengan konsep yang dimiliki oleh individu ataupun kelompok untuk menilai apakah tindakan-tindakan yang telah

dikerjakannya itu salah atau benar, buruk atau baik.3) Menurut Martin [1993], etika didefinisikan sebagai the discipline which can act as the performance index or reference for our control system. Etika adalah refleksi dari apa yang disebut dengan self control, karena segala sesuatunya dibuat dan diterapkan dari dan untuk kepentingan kelompok social (profesi) itu sendiri.4) Kehadiran organisasi profesi dengan perangkat built-in

mechanism berupa kode etik profesi dalam hal ini jelas akan diperlukan

Munir Fuady, Citra Aditya. 2005. Etika Profesi Hukum bagi Hakim, Jaksa, Advokat, Notaris, Kurator, dan Pengurus. Bandung : Mandar Maju
4)

3)

Ibid 3

15

untuk menjaga martabat serta kehormatan profesi, dan di sisi lain melindungi masyarakat dari segala bentuk penyimpangan maupun penyalah-gunaan keahlian (Wignjosoebroto, 1999). Sebuah profesi hanya dapat memperoleh kepercayaan dari masyarakat, bilamana dalam diri para elit profesional tersebut ada kesadaran kuat untuk mengindahkan etika profesi pada saat mereka ingin memberikan jasa keahlian profesi kepada masyarakat yang

memerlukannya. Etika disebut juga filsafat moral adalah cabang filsafat yang berbicara tentang praxis (tindakan) manusia. Etika tidak mempersoalkan keadaan manusia, melainkan mempersoalkan bagaimana manusia harus bertindak. Tindakan manusia ini ditentukan oleh bermacam-macam norma. Norma ini masih dibagi lagi menjadi norma hukum, norma moral, norma agama dan norma sopan santun. Norma hukum berasal dari hukum dan perundang- undangan, norma agama berasal dari agama sedangkan norma moral berasal dari suara batin. Norma sopan santun berasal dari kehidupan sehari-hari sedangkan norma moral berasal dari etika. Etika (ethics) berarti moral sedangkan etiket (etiquette) berarti sopan santun.5)

5)

Ibid 3 hal 14

16

Persamaan antara etika dengan etiket yaitu: 1. Etika dan etiket menyangkut perilaku manusia. Istilah tersebut dipakai mengenai manusia tidak mengenai binatang karena binatang tidak mengenal etika maupun etiket. 2. Kedua-duanya mengatur perilaku manusia secara normatif artinya memberi norma bagi perilaku manusia dan dengan demikian menyatakan apa yag harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Justru karena sifatnya normatif maka kedua istilah tersebut sering dicampuradukkan. Perbedaan antara etika dengan etiket yaitu : 1. Etiket menyangkut cara melakukan perbuatan manusia. Etiket menunjukkan cara yang tepat artinya cara yang diharapkan serta ditentukan dalam sebuah kalangan tertentu.Etika tidak terbatas pada cara melakukan sebuah perbuatan, etika memberi norma tentang perbuatan itu sendiri. Etika menyangkut masalah apakah sebuah perbuatan boleh dilakukan atau tidak boleh dilakukan. 2. Etiket hanya berlaku untuk pergaulan. Etika selalu berlaku walaupun tidak ada orang lain. Barang yang dipinjam harus dikembalikan walaupun pemiliknya sudah lupa.

17

3. Etiket bersifat relatif. Yang dianggap tidak sopan dalam sebuah kebudayaan, dapat saja dianggap sopan dalam kebudayaan lain.Etika jauh lebih absolut. Perintah seperti jangan berbohong, jangan mencuri merupakan prinsip etika yang tidak dapat ditawar-tawar. 4. Etiket hanya memadang manusia dari segi lahiriah saja sedangkan etika memandang manusia dari segi dalam. Penipu misalnya tutur katanya lembut, memegang etiket namun menipu. Orang dapat memegang etiket namun munafik sebaliknya seseorang yang berpegang pada etika tidak mungkin munafik karena seandainya dia munafik maka dia tidak bersikap etis. Orang yang bersikap etis adalah orang yang sungguhsungguh baik. Etika perlu dibedakan dari moral. Ajaran moral memuat pandangan tentang nilai dan norma moral yang terdapat pada sekelompok manusia. Ajaran moral mengajarkan bagaimana orang harus hidup. Ajaran moral merupakan rumusan sistematik terhadap anggapan tentang apa yang bernilai serta kewajiban manusia. Etika merupakan ilmu tentang norma, nilai dan ajaran moral. Etika merupakan filsafat yang merefleksikan ajaran moral. Pemikiran filsafat mempunyai 5 ciri khas yaitu bersifat rasional, kritis, mendasar, sistematik

18

dan normatif (tidak sekadar melaporkan pandangan moral melainkan menyelidiki bagaimana pandangan moral yang sebenarnya). Etika Dalam Penggunaan TI (Technology Informasi) Etika secara umum didefinisikan sebagai suatu kepercayaan atau pemikiran yang mengisi suatu individu, yang keberadaannya bisa dipertanggungjawabkan terhadap masyarakat atas prilaku yang diperbuat. Biasanya pengertian etika akan berkaitan dengan masalah moral. Moral adalah tradisi kepercayaan mengenai prilaku benar dan salah yang diakui oleh manusia secara universal. Perbedaannya bahwa etika akan menjadi berbeda dari masyarakat satu dengan masyarakat yang lain.. Dua aktivitas utama etika komputer (James H. Moore) :

1. waspada,.. 2. sadar. Tiga alasan utama minat masyarakat yang tinggi pada etika computer 1. kelenturan logika (logical malleability), kemampuan memrograman komputer untuk melakukan apa pun yang kita inginkan.

19

2. faktor transformasi (transformation factors), contoh fasilitas e-mail yang bisa sampai tujuan dan dapat dibuka atau dibaca dimanapun kita berada, 3. faktor tak kasat mata (invisibility factors). Semua operasi internal komputer tersembunyi dari penglihatan, yang membuka peluang pada nilai-nilai pemrograman yang tidak terlihat, perhitungan yang rumit terlihat dan penyalahgunaan yang tidak tampak Hak Sosial dan Komputer (Deborah Johnson)6) 1. Hak atas akses komputer, yaitu setiap orang berhak untuk mengoperasikan komputer dengan tidak harus memilikinya. Sebagai contoh belajar tentang komputer dengan memanfaatkan software yang ada; 2. Hak atas keahlian komputer, pada awal komputer dibuat, terdapat kekawatiran yang luas terhadap masyarakat akan terjadinya

pengangguran karena beberapa peran digantikan oleh komputer. Tetapi pada kenyataannya dengan keahlian di bidang komputer dapat membuka peluang pekerjaan yang lebih banyak;

6)

wartawarga.gunadarmaetika-pemanfaatan-teknologi-informasi Jakarta, 2005

20

3. Hak atas spesialis komputer, pemakai komputer tidak semua menguasai akan ilmu yang terdapat pada komputer yang begitu banyak dan luas. Untuk bidang tertentu diperlukan spesialis bidang komputer, seperti kita membutuhkan dokter atau pengacara; 4. Hak atas pengambilan keputusan komputer, meskipun masyarakat tidak berpartisipasi dalam pengambilan keputusan mengenai

bagaimana komputer diterapkan, namun masyarakat memiliki hak tersebut. Hak atas Informasi (Richard O. Masson)7) 1. Hak atas privasi, sebuah informasi yang sifatnya pribadi baik secara individu maupu dalam suatu organisasi mendapatkan perlindungan atas hukum tentang kerahasiannya; 2. Hak atas Akurasi. Komputer dipercaya dapat mencapai tingkat akurasi yang tidak bisa dicapai oleh sistem nonkomputer, potensi ini selalu ada meskipun tidak selalu tercapai; 3. Hak atas kepemilikan. Ini berhubungan dengan hak milik intelektual, umumnya dalam bentuk program-program komputer yang dengan

7)

Ibid 6 hal 19

21

mudahnya dilakukan penggandaan atau disalin secara ilegal. Ini bisa dituntut di pengadilan; 4. Hak atas akses. Informasi memiliki nilai, dimana setiap kali kita akan mengaksesnya harus melakukan account atau izin pada pihak yang memiliki informasi tersebut. Sebagai contoh kita dapat membaca datadata penelitian atau buku-buku online di Internet yang harus bayar untuk dapat mengaksesnya.

B. Pengertian Lembaga Peradilan

Kata lembaga antara lain diartikan sebagai 1) asal mula (yang akan menjadi sesuatu); bakal (binatang, manusia, tumbuhan); (2) bentuk (rupa, wujud) yang asli; (3) acuan; ikatan (tentang mata cincin dsb); (4) badan (oganisasi) yang tujuannya melakukan penyelidikan keilmuan atau melakukan suatu usaha; dan (5) pola perilaku manusia yang mapan, terdiri atas interaksi sosial berstruktur di suatu kerangka nilai yang relevan. Kamus tersebut juga memberi contoh frasa menggunakan kata lembaga, yaitu lembaga pemerintah yang diartikan badan-badan pemerintahan dalam lingkungan eksekutif. Kalau kata pemerintahan diganti dengan kata

22

negara, diartikan badan-badan negara di semua lingkungan pemerintahan negara (khususnya di lingkungan eksekutif, yudikatif, dan legislatif).8) Untuk memahami pengertian lembaga secara lebih dalam, kita dapat mendekatinya dari pandangan Hans Kelsen mengenai the concept of the State Organ dalam bukunya General Theory of Law and State. Hans Kelsen menguraikan bahwa Whoever fulfills a function determined by the legal order is an organ, artinya siapa saja yang menjalankan suatu fungsi yang ditentukan oleh suatu tata hukum (legal order) adalah suatu organisasi. 9) Menurut Kelsen, parlemen yang menetapkan undang-undang dan warga negara yang memilih para wakilnya melalui pemilihan umum samasama merupakan organisasi negara dalam arti luas. Demikian pula hakim yang mengadili dan menghukum penjahat dan terpidana yang menjalankan hukuman tersebut di lembaga pemasyarakatan adalah juga merupakan organ negara. Pendek kata dalam pengertian yang luas ini organisasi negara itu identik dengan individu yang menjalankan fungsi atau jabatan tertentu dalam konteks kegiatan bernegara. Inilah yang disebut sebagai jabatan

8) 9)

K.Wantjik Saleh, kehakiman dan peradilan, Jakarta : Simbur Cahaya, 1976 Ibid 8

23

publik atau jabatan umum (public offices) dan pejabat publik atau pejabat umum (public officials).10) Di samping pengertian luas itu, Hans Kelsen juga menguraikan adanya pengertian organisasi negara dalam arti yang sempit, yaitu pengertian organ dalam arti materiil. Individu dikatakan organ negara hanya apabila ia secara pribadi memiliki kedudukan hukum yang tertentu (...he personally has a specific legal position). Suatu transaksi hukum perdata, misalnya, kontrak, adalah merupakan tindakan atau perbuatan yang menciptakan hukum seperti halnya suatu putusan pengadilan.11) Istilah Peradilan dan Pengadilan adalah memiliki makna dan pengertian yang berbeda, perbedaannya adalah :12) 1. Peradilan dalam istilah inggris disebut judiciary dan rechspraak dalam bahasa Belanda yang meksudnya adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan tugas Negara dalam menegakkan hukum dan keadilan. 2. Pengadilan dalam istilah Inggris disebut court dan rechtbank dalam bahasa Belanda yang dimaksud adalah badan yang melakukan peradilan berupa memeriksa, mengadili, dan memutus perkara.

10) 11) 12)

Ibid 9 SANKRI, Buku I Prinsip-prinsip Penyelenggaraa Negara, LAN RI, 2003 Dikutip dari artikel Hubungan antar Lembaga, Indoskripsi.com

24

3. Kata Pengadilan dan Peradilan memiliki kata dasar yang sama yakni adil yang memiliki pengertian: a. Proses mengadili. b. Upaya untuk mencari keadilan c. Penyelesaian sengketa hukum di hadapan badan peradilan. d. Berdasar hukum yang berlaku. Reformasi hukum di bidang lembaga hukum menyeruak dalam penerapan system peradilan satu atap di Indonesia yang melahirkan amandemen UUD 1945 yakni pasal 24 ayat (2) menyebutkan bahwa kekuasaan kehakiman dilakukan dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha Negara, dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi. Kemudian UU No. 4 Tahun 2004 Tentang Kekuasaan Kehakiman Pasal 10 ayat (2) menyebutkan bahwa badan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung meliputi badan peradilan dalam lingkungan peradilan umum, peradilan agama, peradilan militer, dan peradilan tata usaha Negara.

25

Ke-4 lembaga peradilan tersebut berpuncak di Mahkamah Agung, baik dalam hal teknis yudisialnya maupun non teknis yudisialnya. Adapun strata ke-empat lembaga tersebut adalah : a. Lingkungan peradilan umum terdiri dari Pengadilan Negeri sebagai pengadilan tingkat pertama dan Pengadilan Tinggi sebagai pengadilan tingkat banding dan berpuncak di MA-RI. b. Lingkungan peradilan agama terdiri dari Pengadilan Agama sebagai pengadilan tingkat pertama dan Pengadilan Tinggi Agama sebagai pengadilan tingkat banding dan berpuncak di MA-RI. Adapun Pengadilan Agama yang ada di provinsi Nanggroe Aceh Darussalam berdasar Keputusan Presiden No. 11 Tahun 2003 diubah menjadi Mahkamah Syariyyah, seadangkan Pengadilan Tinggi Agama Banda Aceh Darussalam diubah menjadi Mahkamah Syariyyah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. c. Lingkungan Peradilan militer terdiri dari Mahkamah Militer sebagai pengadilan tingkat pertama dan Mahkamah Militer Tinggi sebagai pengadilan tingkat banding dan berpuncak di MA-RI. d. Lingkungan peradilan tata usaha Negara terdiri dari Pengadilan Tata Usaha Negara sebagai pengadilan tingkat pertama dan Pengadilan

26

Tinggi Tata Usaha Negara sebagai pengadilan tingkat banding dan berpuncak di MA-RI. Adapun kewenangan absolut Mahkamah Syariyyah dan Mahkamah Syariyyah Provinsi adalah kewenangan Pengadilan Agama dan Pengadilan Tinggi Agama, ditambah dengan kewenangan lain yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dalam ibadah dan syiar Islam yang ditetapkan dalam Qanun. Kewenangan lain tersebut dilaksanakan secara bertahap sesuai dengan kemampuan kompetensi dan ketersediaan sumber daya manusia dalam kerangka system peradilan nasional. Mengenai kewenangan relatif Mahkamah Syariyyah adalah daerah hukum eks Pengadilan Agama yang bersangkutan, sedangkan kewenangan relatif Mahkamah Syariyyah Provinsi adalah daerah hukum eks Pengadilan Tinggi Agama Banda Aceh. Pengalihan Badan Peradilan Konsekuensi dari UU Kekuasaan Kehakiman adalah pengalihan organisasi, administrasi, dan finansial badan peradilan di bawah Mahkamah Agung. Sebelumnya, pembinaan badanbadan peradilan berada di bawah eksekutif (Departemen Kehakiman dan HAM, Departemen Agama, Departemen Keuangan) dan TNI, namun saat ini seluruh badan peradilan berada di bawah Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi.

27

Berikut adalah peralihan badan peradilan ke Mahkamah Agung: 1. Organisasi, administrasi, dan finansial pada Direktorat Jenderal Badan Peradilan Umum dan Peradilan Tata Usaha Negara Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia, Pengadilan Tinggi, Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara, Pengadilan Negeri, dan Pengadilan Tata Usaha Negara, terhitung sejak tanggal 31 Maret 2004 dialihkan dari Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia ke Mahkamah Agung. 2. Organisasi, administrasi, dan finansial pada Direktorat Pembinaan Peradilan Agama Departemen Syariah Agama, Propinsi, Pengadilan dan Tinggi

Agama/Mahkamah

Pengadilan

Agama/Mahkamah Syariah, terhitung sejak tanggal 30 Juni 2004 dialihkan dari Departemen Agama ke Mahkamah Agung. 3. Organisasi, administrasi, dan finansial pada Pengadilan Militer, Pengadilan Militer Tinggi, dan Pengadilan Militer Utama, terhitung sejak tanggal 1 September 2004 dialihkan dari TNI ke Mahkamah Agung. Akibat perlaihan ini, seluruh prajurit TNI dan PNS yang bertugas pada pengadilan dalam lingkup peradilan militer akan beralih menjadi personel organik Mahkamah Agung, meski pembinaan keprajuritan bagi personel militer tetap dilaksanakan oleh Mabes TNI.

28

Peralihan

tersebut

termasuk

peralihan

status

pembinaan

kepegawaian, aset, keuangan, arsip/dokumen, dan anggaran menjadi berada di bawah Mahkamah Agung.

C. Dasar Hukum yang menjadi landasan dalam lembaga peradilan

Disamping

perubahan

mengenai

penyelenggaraan

kekuasaan

kehakiman, UUD 1945 juga mengintroduksi suatu lembaga baru yang berkaitan dengan penyelenggaraan kekuasaan kehakiman yaitu Komisi Yudisial. Komisi Yudisial bersifat mandiri yang berwenang mengusulkan pengangkatan hakim agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat serta perilaku hakim. Seperti Dalam Dasar Hukum berikut : A. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 Perubahan UUD 1945 yang membawa perubahan mendasar mengenai penyelengaraan

kekuasaan kehakiman, membuat perlunya dilakukan perubahan secara komprehensif mengenai Undang-Undang Ketentuan-

ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman mengatur mengenai

29

badan-badan peradilan penyelenggara kekuasaan kehakiman, asasasas penyelengaraan kekuasaan kehakiman, jaminan kedudukan dan perlakuan yang sama bagi setiap orang dalam hukum dan dalam mencari keadilan.13) B. Undang Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2009 Tentang Perubahan kedua atas undang-undang nomor 14 Tahun 1985 Tentang Mahkamah agung. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dalam Pasal 24 menegaskan bahwa kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan. Mahkamah Agung adalah salah satu pelaku kekuasaan kehakiman yang membawahi badan peradilan dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan militer, dan lingkungan peradilan tata usaha negara. Undang-Undang ini adalah Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004. Perubahan dilakukan karena Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004, khususnya yang menyangkut pengawasan,
Undang Undang No. 4 Tahun 2004 (Perubahan UUD 1945) tentang Kekuasaan Kehakiman, Jakarta, Tim Visimedia Pustaka Newsroom, November : 2009.
13)

30

sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan kebutuhan hukum masyarakat dan ketatanegaraan menurut Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Mahkamah Agung adalah pengadilan negara tertinggi dari semua lingkungan peradilan yang berada di bawahnya. Oleh karena itu, Mahkamah Agung melakukan pengawasan tertinggi terhadap badan peradilan dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan militer, dan lingkungan peradilan tata usaha negara. Akan tetapi, Mahkamah Agung bukan satu-satunya lembaga yang melakukan pengawasan karena ada pengawasan eksternal yang dilakukan oleh Komisi Yudisial. Berdasarkan Pasal 24 B Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Komisi Yudisial dan

berwenang

mengusulkan

pengangkatan

hakim

agung

mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat, serta perilaku hakim. Oleh karena itu, diperlukan kejelasan tentang pengawasan yang menjadi kewenangan Mahkamah Agung dan pengawasan yang menjadi kewenangan Komisi Yudisial. Pengawasan yang dilakukan oleh Mahkamah Agung meliputi pelaksanaan tugas yudisial, administrasi, dan keuangan, sedangkan pengawasan yang menjadi

31

kewenangan Komisi Yudisial adalah pengawasan atas perilaku hakim, termasuk hakim agung. Dalam rangka pengawasan diperlukan adanya kerja sama yang harmonis antara Mahkamah Agung dan Komisi Yudisial. Dalam Ayat (1): Yang dimaksud dengan "calon hakim agung yang berasal dari hakim karier" adalah calon hakim agung yang berstatus aktif sebagai hakim pada badan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung yang dicalonkan oleh Mahkamah Agung. Dalam Ayat (2): Yang dimaksud dengan "calon hakim agung yang juga berasal dari nonkarier" adalah calon hakim agung yang berasal dari luar lingkungan badan peradilan. C. Keputusan Bersama Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia Dan Ketua Komisi Yudisial Republik Indonesia Nomor : 047/Kma/Skb/Iv/2009 Nomor : 02/Skb/P.Ky/Iv/2009 Tentang Kode Etik Dan Pedoman Perilaku Hakim .Pengadilan yang mandiri, netral (tidak memihak), kompeten, transparan, akuntabel dan berwibawa, yang mampu menegakkan wibawa hukum, pengayoman hukum, kepastian hukum dan keadilan merupakan conditio sine qua non atau persyaratan mutlak dalam sebuah negara yang berdasarkan hukum. Pengadilan sebagai pilar utama dalam penegakan hukum dan keadilan serta proses pembangunan peradaban bangsa.

32

Tegaknya hukum dan keadilan serta penghormatan terhadap keluhuran nilai kemanusiaan menjadi prasyarat tegaknya martabat dan integritas Negara. Dan hakim sebagai aktor utama atau figur sentral dalam proses peradilan senantiasa dituntut untuk mengasah kepekaan nurani, memelihara integritas, kecerdasan moral dan meningkatkan profesionalisme dalam menegakkan hukum dan keadilan bagi masyarakat banyak. Oleh sebab itu, semua wewenang dan tugas yang dimiliki oleh hakim harus dilaksanakan dalam rangka menegakkan hukum, kebenaran dan keadilan tanpa pandang bulu dengan tidak membeda-bedakan orang seperti diatur dalam lafal sumpah seorang hakim, dimana setiap orang sama kedudukannya di depan hukum dan hakim. Wewenang dan tugas hakim yang sangat besar itu menuntut tanggungjawab yang tinggi, sehingga putusan pengadilan yang diucapkan dengan irah-irah Demi Keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa menunjukkan kewajiban menegakkan hukum, kebenaran dan keadilan itu wajib dipertanggungjawabkan secara horizontal kepada semua manusia, dan secara vertikal

dipertanggungjawabkan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

33

Untuk mewujudkan suatu pengadilan sebagaimana di atas, perlu terus diupayakan secara maksimal tugas pengawasan secara internal dan eksternal oleh Mahkamah Agung Republik Indonesia dan Komisi Yudisial Republik Indonesia.

D. Tanggung Jawab Lembaga Peradilan Salah satu masalah yang sangat penting dalam upaya perbaikan sistem peradilan dan penegakan hukum dan keadilan di Indonesia adalah masalah manajemen. Persoalan manajemen ini biasanya kurang mendapat perhatian serius di kalangan sarjana hukum yang mendominasi pengelolaan pelbagai lembaga-lembaga hukum di tanah air kita. Mulai dari fungsi penyidikan, penuntutan, pembelaaan, pengadilan, sampai ke fungsi eksekusi dan pemasyarakatan selalu didominasi oleh para sarjana hukum yang tidak begitu terlatih dalam urusan administrasi dan manajemen. Karena itu, hampir semua lembaga-lembaga hukum di tanah air kita menghadapi persoalan-persoalan administrasi dan manajemen yang kurang responsif dan cenderung ketinggalan zaman dalam menghadapi

perkembangan dalam masyarakat yang menuntut akses keadilan (access to

34

justice) yang lebih adil dan berkepastian dan pelayanan hukum (legal services) yang lebih efisien dan terbuka.14) Dalam pengertiannya yang paling sederhana, urusan manajemen itu menyangkut persoalan man, money, and material, yaitu sumber daya manusia, sistem administrasi keuangan, dan urusan sarana dan prasarana penunjang. Ketiganya dapat dibedakan dalam dua urusan, yaitu administrasi yang langsung berhubungan dengan manajemen perkara, dan administrasi yang berhubungan dengan kelembagaan organisasi lembaga hukum yang bersangkutan. 15) Dalam kaitan dengan lembaga peradilan, maka aspek administrasi dan manajemen ini biasa dibedakan antara urusan kepaniteraan dan urusan kesekretariatan badan-badan peradilan sebagai pelaksana kekuasaan kehakiman. Dalam pengertiannya yang lebih kompleks, persoalan manajemen itu dapat dibedakan dalam beberapa aspek, yaitu :16) (i) perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi; 1. MANAJEMEN PERKARA Dalam Manajemen perkara, dimulai sejak pelaporan, pengaduan, ataupun pendaftaran pelayanan hukum sampai ke tahap eksekusi
http://jimly.com/makalah/namafile/63/REFORMASI_TATA_KELOLA_MANAJEMEN_ PERADILAN.pdf diakses 14 desember 2011 15) ibid 12 16) ibid 14
14)

35

putusan dan pemasyarakatan merupakan satu kesatuan proses mulai dari terjadinya peristiwa hukum dalam masyarakat sampai terwujudnya keadaan atau terpulihkannya kembali keadilan dalam masyarakat. Dalam proses itu diperlukan adanya jaminan bahwa: (i) Prosesnya berlangsung tepat dalam menjamin keadilan (justice) dan kepastian hukum (legal certainty); (ii) Prosesnya berlangsung efisien, cepat dan tidak membebani para pihak di luar kemampuannya; (iii) menurut aturan hukumnya sendiri, yaitu berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku sejak sebelum perkara itu sendiri terjadi; (iv) Secara independen tanpa campur tangan atau dipengaruhi oleh kepentingan-kepentingan politik dan ekonomi dari pihak-pihak lain atau kepentingan salah satu pihak dengan merugikan pihak yang lain; dan (v) Secara akuntabel dan transparan sehingga hasilnya dapat dipercaya oleh para pihak dan masyarakat pada umumnya.

Untuk mengharapkan adanya perbaikan di lembaga peradilan, kelima hal itu sangat penting untuk diperhatikan. Para pencari keadilan

36

(justice seekers) harus dibuat yakin dan percaya bahwa proses yang ia tempuh akan menghasilkan keadilan yang pasti dan kepastian yang adil. Prosesnya cepat dan efisien, sehingga tidak membebani atau yang hanya dapat dijangkau oleh mereka yang mampu. Misalnya, jika sesuatu persoalan dapat diselesaikan dalam waktu hanya 1 hari, mengapa mesti dtunggu sampai 1 minggu, 1 bulan, atau bahkan 1 tahun. Proses peradilan berjalan independen, sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku, tidak diintervensi untuk kepentingan politik atau ekonomi oleh pihak manapun secara tidak adil. Kecuali untuk halhal yang wajib dirahasiakan, maka keseluruhan proses menuju keadilan itu haruslah terbuka sehingga dapat dikontrol oleh masyarakat dan para pihak yang berperkara. Untuk mewujudkan keenam hal tersebut dalam praktik, ada beberapa faktor menentukan yang perlu mendapat perhatian, yaitu: (a) Faktor Substansi Aturannya. Dalam hal ini yang paling menentukan adalah hukum acara yang diterapkan dalam proses, baik peradilan pidana, perdata, tatausaha negara, peradilan agama, maupun peradilan konstitusi (tata negara), perlu disempurnakan sesuai dengan kebutuhan zaman;

37

(b) Faktor Sumber Daya Manusia. Baik panitera maupun petugas administrasi pada umumnya perlu terus menerus mengikuti perkembangan zaman, sehingga dapat bekerja efisien dan produktif. Demikian pula para hakim, dari waktu ke waktu harus pula terus menerus memutakhirkan diri dengan pengetahuanpengetahuan baru tentang hukum dan peraturan perundangundangan yang berkembang sangat dinamis. (c) Faktor Sistem Informasi dan Komunikasi Hukum. Oleh karena dunia hukum dewasa ini sudah berkembang semakin kompleks, maka teknologi informasi dan komunikasi (ICT) tidak dapat tidak harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dalam

mengembangkan sistem administrasi dan manajemen, baik manajemen peradilan maupun manajemen kelembagaan. (d) Faktor Dukungan Sarana dan Prasarana serta Anggaran. Cara kerja peradilan harus dilngekapi dengan pelbagai sarana dan prasarana yang memadai. Prasarana bangunan, ruang persidangan, dan fasilitas

perlengkapan

teknologi,

sistem

renumerasi

kesejahteraan yang memadai sangat diperlukan untuk menjamin kualitas dan produktifitas kerja peradilan.

38

(e) Faktor Kepemimpinan. Yang sering diabaikan adalah pentingnya peran kepemimpinan dalam menyukseskan agenda perbaikan sistem dan iklim kerja di lembaga hukum. Ketua, Wakil Ketua, Sekretaris dan Panitera sangat menentukan berhasil tidaknya upaya-upaya perbaikan sistemik. 2. ADMINISTRASI PERSONIL Dalam Administrasi personalia perlu diperbaiki dengan didukung oleh data dasar yang memadai. Harus dicegah jangan sampai masih ada pengadilan di suatu daerah yang kekurangan jumlah hakim karena jumlah perkaranya sangat banyak, sedangkan di daerah lain ada pengadilan yang jumlah hakimnya banyak menganggung karena perkaranya sangat sedikit. Pola distribusi hakim yang tidak didasarkan atas data dasar yang benar, tentu dapat menyebabkan hal-hal semacam itu. Demikian pula dari segi kualitas dan proporsionalitas bidang keahlian para hakim yang harus memeriksa perkara. Harus dicegah jangan sampai hakim dengan keahlian berbeda harus menangani perkara yang menuntut keahlian yang khusus. Di samping itu, perkembangan pengetahuan hakim akan dinamika hukum dan peraturan perundang-

39

undangan juga sangat penting, sehingga kegiatan pendidikan bagi para hakim mutlak dlakukan secara bertahap dan terus menerus. Sebaiknya, di setiap pengadilan, dapat pula diupayakan agar terbentuk suatu kultur dan iklim kerja intelektual yang mendorong semangat dan kegairahan belajar serta kegemaran membaca, mencari informasi pengetahuan, dan berdiskusi yang intensif di kalangan para hakim. Dengan demikian, kualitas para hakim dapat terus menerus mengikati perkembangan hukum dalam teori dan praktik, yang justru sangat diperlukan dalam menyelesaikan pelbagai perkara yang dihadapi. 3. ADMINISTRASI KEUANGAN Ketidakpercayaan masyarakat terhadap lembaga-lembaga hukum dan peradilan salah satunya disebabkan oleh masalah uang, yaitu uang korupsi, suap, biaya perkara, dan lain-lain pelanggaran yang terkait dengan uang. Semua ini, di samping berkaitan dengan kerakusan atau motif jahat dari pelakunya, juga terkait dengan persoalan tertib administrasi keuangan. Sebaiknya, setiap pengadilan berusaha keras untuk memperbaiki sistem administrasi keuangan dengan menjadikan kualifikasi nilai auditing atau pemeriksaan keuangan sebagai sasaran atau target. Kualifikasi nilai tertinggi adalah Wajar Tanpa

40

Pengecualian (WTP). Setiap pengadilan harus didorong untuk berlomba-lomba mendapatkan nilai WTP atas laporan keuangannya. Sistem administrasi keuangan yang baik dapat menjadi modal yang kuat dalam membangun sistem administrasi yang bersih dan bebas korupsi. Bersihnya administrasi keuangan itu juga niscaya akan mempengaruhi sistem administrasi di bidang-bidang yang lain, sehingga secara keseluruhan sistem administrasi lembaga peradilan yang bersangkutan akan menjadi baik dan bersih pula. Administrasi keuangan yang baik akan menyebabkan administrasi personalia dan administrasi pelayanan juga menjadi baik dan bersih. Hal ini pada gilirannya akan menyebabkan efektif dan efisiennya tata kelola peradilan (judicial governance) sebagai bahan utama untuk tercapainya tujuan

mewujudkan keadilan yang terpercaya. 4. SISTEM INFORMASI DAN KOMUNIKASI HUKUM Tata kelola peradilan yang baik (good judicial governance) sangat memerlukan ketersediaan pelbagai informasi dan data dasar yang lengkap dan mudah diakses, serta media komunikasi yang efektif dan efisien. Untuk itu, pengadilan harus memanfaatkan jasa teknologi informasi dan komunikasi modern dengan sebaik-baiknya. Seperti

41

halnya computer, internet dan sarana hand-phone tidak hanya berfungsi rutin untuk komunikasi personal berkenaan dengan kegiatan rutin sehari-hari. Internet, hand-phone, dan ipad dapat dipakai untuk jenisjenis komuinikasi yang serius dengan sangat efisien dan sekaligus efektif. Internet tidak hanya perlu dipakai untuk berkirim email ataupun hanya untuk membuat website yang mudah diakses bagi pencari keadilan. Internet dan teknologi informasi dan komunikasi modern dapat dan harus pula dipakai untuk keperluan memperbaharui cara kerja lembaga-lembaga hukum, khususnya pengadilan dalam memberikan pelayanan-pelayanan keadilan. Internet dan bahan-bahan informasi elektronik lainnya sudah seharusnya diperlakukan sebagai alat bukti yuang sah dalam proses peradilan. Demikian pula alat-alat komunikasi mutakhir harus dimungkinkan untuk dimanfaatkan dalam proses pemeriksaan dan persidangan peradilan. Keperluan semacam itu, untuk sebagian memerlukan perubahan undang-undang yang berkaitan dengan hukum acara pemeriksaan. Akan tetapi sebagian lainnya tidak memerlukan perubahan undang-undang sama sekali. Pemanfaatan jasa teknologi informasi dan komunikasi semacam itu dalam proses hukum dapat dilakukan tanpa harus

42

menunggu peraturan yang membolehkan hal itu. Yang diperlukan hanyalah kreatifitas kepemimpinan dan kesadaran pimpinan untuk senantiasa memutakhirkan diri dengan segala jenis teknologi modern yang berguna untuk efisiensi dan efektifitas upaya hukum dan pelayanan keadilan. 5. FAKTOR KEPEMIMPINAN Dari semua faktor di atas, dalam kenyataan praktiknya di lapangan, yang paling utama adalah faktor kepemimpinan. Karena itu, semua pimpinan lembaga-lembaga hukum haruslah mengalami

pencerahan yang tersendiri mengenai upaya-upaya perbaikan tata-kelola yang dimaksudkan disini. Untuk itu, penting diatur kembali mengenai persyaratan untuk menjadi Ketua, Wakil Ketua, dan Panitera Pengadilan. Demikian pula, Ketua dan Wakil Ketua Mahkamah serta Panitera harus dipilih orang-orang yang mempunyai sense of administration and management, bukan sekedar menguasai bidang hukum tertentu. Penguasaan bidang hukum merupakan prasyarat kualitatif bagi semua hakim dan apalagi hakim agung. Akan tetapi, untuk menjadi pimpinan sudah seharusnya criteria kemampuan menajerial menjadi prasyarat mutlak karena yang bersangkutan harus

43

memimipin institusi peradilan. Apalagi di masa-masa sekarang dimana lembaga-lembaga hukum kita pada umumnya sedang menghadapi tantangan berat untuk berbenah diri secara internal guna memenuhi standar-standar baru di bidang tata kelola yang baik (good judicial governance). Tidak mengapa jika Ketua Pengadilan dan Ketua Mahkamah Agung dibebaskan dari beban menangani perkara, mengingat beban tugas di bidang administrasi dan manajemen memerlukan perhatian yang sangat besar dewasa. Sedangkan

penanganan perkara dapat didistribusikan kepada para hakim anggota yang harus memusatkan perhatiannya hanya kepada proses pemeriksaan dan mengadili perkara. Selama ini, memang berkembang pengertian bahwa setiap hakim harus menangani perkara sesuai dengan tugas dan tanggungjawab hakim sebagai penegak keadilan. Namun, dalam kenyataan praktik, pengertian demikian ini tidak dapat dipahami secara kaku. Dalam menangani perkara, tugas dan tanggungjawab Ketua dapat

didelegasikan kepada para anggota yang tentunya ketika menjatuhkan pilihan kepada si A atau si B untuk menjadi ketua sudah harus memahami konsekwensi dari pemilihan itu, yaitu bahwa para anggota harus siap menerima pendelegasian tugas dan tanggungjawab untuk

44

menangani perkara dan membebaskan ketua dan wakil ketua dari beban tanggungjawab penenganan perkara. Lagi pula harus diingat bahwa semua jabatan kepemimpinan sudah dengan sendiri mengandung fungsi administrator. Karena itu, Ketua dan Wakil Ketua memang mempunyai tugas dan fungsi yang berbeda dari hakim pada umumnya, yaitu dalam menangani perkara. Ketua dan Wakil Ketua adalah administrator tertinggi lembaga peradilan, meskipun tugas dan tanggungjawab teknis administrasi peradilan sehari-hari berada di pundak Panitera dan Sekretaris Pengadilan. Karena itu, jika timbul masalah hukum dalam penanganan urusan administrasi itu maka yang bertanggungjawab adalah Panitera dan/atau Sekretaris sesuai dengan kewenangannya masing-masing. Namun, dalam praktik, apalagi, dalam kultur politik dan birokrasi yang masih sangat feodalistik dan paternalistik, faktor kepemimpinan puncak lembaga peradilan memang terletak di tangan ketua, bukan di tangan sekretaris atau panitera. Semua kewibawaan pimpinan kelembagaan pengadilan ada di puncak pimpinan, yaitu pada Ketua Pengadilan dan Ketua Mahkamah Agung, bukan terpusat pada sekretaris atau pun panitera. Di bawah pengaruh kewibawaan para ketua lah berhasil tidaknya upaya kita membenahi sistem administrasi dan

45

manajemen peradilan ditentukan. Jika kita mendapat seorang ketua yang cukup tercerahkan (enlightened), tentu sistem administrasi dan manajemen peradilan akan dapat dibenahi sehingga berpengaruh bagi terbentuknya iklim dan suasana kerja yang lebih progresif, efektif, dan efisien di semua badan peradilan negara kita. Disamping itu juga, dapat kita lihat fungsi daripada lembaga peradilan sebagai berikut :17) 1. FUNGSI PERADILAN a. Sebagai Pengadilan Negara Tertinggi, Mahkamah Agung merupakan pengadilan kasasi yang bertugas membina keseragaman dalam penerapan hukum melalui utusan kasasi dan peninjauan kembali menjaga agar semua hukum dan undang-undang diseluruh wilayah negara RI diterapkan secara adil, tepat dan benar. b. Disamping tugasnya sebagai Pengadilan Kasasi, Mahkamah Agung berwenang memeriksa dan memutuskan pada tingkat pertama dan terakhir. c. semua sengketa tentang kewenangan mengadili : - permohonan peninjauan kembali putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap (Pasal 28, 29,30,33 dan 34 Undang-undang Mahkamah Agung No. 14 Tahun 1985).
17)

Syafiie, Inu Kencana. 1994 . Ilmu Pemerintahan. Bandung : Mandar Maju.

46

- semua sengketa yang timbul karena perampasan kapal asing dan muatannya oleh kapal perang Republik Indonesia berdasarkan peraturan yang berlaku (Pasal 33 dan Pasal 78 Undang-undang Mahkamah Agung No 14 Tahun 1985). - Erat kaitannya dengan fungsi peradilan ialah hak uji materiil, yaitu wewenang menguji/menilai secara materiil peraturan perundangan dibawah Undang-undang tentang hal apakah suatu peraturan ditinjau dari isinya (materinya) bertentangan dengan peraturan dari tingkat yang lebih tinggi (Pasal 31 Undang-undang Mahkamah Agung Nomor 14 Tahun 1985).

2. FUNGSI PENGAWASAN a. Mahkamah Agung melakukan pengawasan tertinggi terhadap jalannya peradilan di semua lingkungan peradilan dengan tujuan agar peradilan yang dilakukan Pengadilan-pengadilan

diselenggarakan dengan seksama dan wajar dengan berpedoman pada azas peradilan yang sederhana, cepat dan biaya ringan, tanpa mengurangi kebebasan Hakim dalam memeriksa dan memutuskan perkara (Pasal 4 dan Pasal 10 Undang-undang Ketentuan Pokok Kekuasaan Nomor 14 Tahun 1970).

47

b. Mahkamah Agung juga melakukan pengawasan : - Terhadap pekerjaan Pengadilan dan tingkah laku para Hakim dan perbuatan Pejabat Pengadilan dalam menjalankan tugas yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas pokok Kekuasaan Kehakiman, yakni dalam hal menerima, memeriksa, mengadili, dan

menyelesaikan setiap perkara yang diajukan kepadanya, dan meminta keterangan tentang hal-hal yang bersangkutan dengan teknis peradilan serta memberi peringatan, teguran dan petunjuk yang diperlukan tanpa mengurangi kebebasan Hakim (Pasal 32 Undang-undang Mahkamah Agung Nomor 14 Tahun 1985). - Terhadap Penasehat Hukum dan Notaris sepanjang yang

menyangkut peradilan (Pasal 36 Undang-undang Mahkamah Agung Nomor 14 Tahun 1985).

3. FUNGSI MENGATUR a. Mahkamah Agung dapat mengatur lebih lanjut hal-hal yang diperlukan bagi kelancaran penyelenggaraan peradilan apabila terdapat hal-hal yang belum cukup diatur dalam Undang-undang tentang Mahkamah Agung sebagai pelengkap untuk mengisi kekurangan atau kekosongan hukum yang diperlukan bagi

48

kelancaran penyelenggaraan peradilan (Pasal 27 Undang-undang No.14 Tahun 1970, Pasal 79 Undang-undang No.14 Tahun 1985). b. Mahkamah Agung dapat membuat peraturan acara sendiri bilamana dianggap perlu untuk mencukupi hukum acara yang sudah diatur Undang-undang.

4. FUNGSI NASEHAT a. Mahkamah Agung memberikan nasihat-nasihat atau pertimbanganpertimbangan dalam bidang hukum kepada Lembaga Tinggi Negara lain (Pasal 37 Undang-undang Mahkamah Agung No.14 Tahun 1985). Mahkamah Agung. b. memberikan nasihat kepada Presiden selaku Kepala Negara dalam rangka pemberian atau penolakan grasi (Pasal 35 Undang-undang Mahkamah Agung No.14 Tahun 1985). Selanjutnya Perubahan Pertama Undang-undang Dasar Negara RI Tahun 1945 Pasal 14 Ayat (1), Mahkamah Agung diberikan kewenangan untuk

memberikan pertimbangan kepada Presiden selaku Kepala Negara selain grasi juga rehabilitasi. Namun demikian, dalam memberikan pertimbangan hukum mengenai rehabilitasi sampai saat ini belum ada peraturan perundang-undangan yang mengatur pelaksanaannya.

49

c. Mahkamah Agung berwenang meminta keterangan dari dan memberi petunjuk kepada pengadilan disemua lingkunga peradilan dalam rangka pelaksanaan ketentuan Pasal 25 Undang-undang No.14 Tahun 1970 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman. (Pasal 38 Undang-undang No.14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung).

5. FUNGSI ADMINISTRATIF a. Badan-badan Peradilan (Peradilan Umum, Peradilan Agama, Peradilan Militer dan Peradilan Tata Usaha Negara) sebagaimana dimaksud Pasal 10 Ayat (1) Undang-undang No.14 Tahun 1970 secara organisatoris, administrative dan finansial sampai saat ini masih berada dibawah Departemen yang bersangkutan, walaupun menurut Pasal 11 (1) Undang-undang Nomor 35 Tahun 1999 sudah dialihkan dibawah kekuasaan Mahkamah Agung. b. Mahkamah Agung berwenang mengatur tugas serta tanggung jawab, susunan organisasi dan tata kerja Kepaniteraan Pengadilan (Undangundang No. 35 Tahun 1999 tentang Perubahan Atas Undang-undang No.14 Tahun 1970 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman).

50

6. FUNGSI LAIN-LAIN Selain tugas pokok untuk menerima, memeriksa dan mengadili serta menyelesaikan setiap perkara yang diajukan kepadanya, berdasar Pasal 2 ayat (2) Undang-undang Nomor 14 Tahun 1970 serta Pasal 38 Undang-undang Nomor 14 Tahun 1985, Mahkamah Agung dapat diserahi tugas dan kewenangan lain berdasarkan Undang-undang.

51

BAB III KUALITAS PROFESIONALISME DALAM PROSES PEMBARUAN DAN KONSEKUENSI TERHADAP PENCEDERAAN ETIKA PROFESI DALAM LEMBAGA PERADILAN.

A.

Bangsa Indonesia dalam menempatkan Posisi Peradilan dalam Sistem Penyelenggaraan Kehidupan bangsa dan Negara. Undang - Undang Dasar 1945 menegaskan bahwa Indonesia ialah Negara yang berdasarkan atas hukum (rechsstaat). Pengaturan ini berarti sebagai suatu Negara, Indonesia telah memilih Negara hukum sebagai bentuk Negara, yang mengandung makna bahwa setiap tindakan dan akibatnya yang dilakukan oleh setiap warga masyarakat dinegara ini harus didasarkan dan diselesaikan dengan cara-cara yang menurut hukum. Untuk menghadapi permasalahan yang kompleks dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, maka lembaga peradilan sebagai lembaga yang berfungsi menegakkan hukum harus mempergunakan peran yang demikian sentral untuk menyelesaikannya, karenanya lembaga peradilan harus mempunyai kemampuan yang memadai. Kemampuan lembaga peradilan untuk menyelenggarakan fungsinya sangat dipegaruhi oleh kemampuan elemen-elemen dalam sistem peradilan, karena lemahnya dalam salah satu elemen dalam sistem peradilan sangat menentukan

52

keberhasilan dalam menyelenggarakan fungsinya untuk mengadili perkara sesuai dengan hukum dan keadilan. Dalam mengomentari masalah tentang penegakan hukum dan peranan penegak hukum, Charles Reith, Pakar ilmu kepolisian Inggris berpendapat : The problems of disorder is the problem of underforced and unenforable laws, dan if lack of the securing law observance. Hal mana runtuhnya Republik Democratie Weimar di Jerman (1918-1933) dan Republik Kuo Mintang Chiang Kay Shek di Tiongkok yang keduaduanya mulai dengan cita-cita yang tinggi tetapi runtuh, oleh karena terlalu banyak membuat peraturan-peraturan yang unerforced bahkan unenforceable, dan karena itu menimbulkan demoralisatie, coruptie, kejahatan, dan perpecahan serta kekacauan dalam masyarakat.18) Tidak sedikit pendapat ahli yang dengan tegas menyatakan bahwa baik hukum materiil maupun hukum formil di Indonesia mengandung berbagai masalah mulai out of date dan tidak sesuai lagi dengan semangat demokrasi dan kemerdekaan karena masih merupakan warisan kolonial Belanda, aturan yang tumpang tindih, tidak membela kepentingan rakyat dan lebih merupakan legitimasi kebutuhan sesaat. Keberadaan perundang-

Ateng Syafrudin, Catatan Kecil tentang Pemerintahan, Pendidikan, dan Hukum, dalam Butir-butir pemikiran dalam hukum, memperingati 70 Tahun Prof.Dr.Arief Sidharta, SH., PT.Refika Aditama, 2008, hlm.231.

18)

53

undangan yang mengandung masalah sering menimbulkan kesulitan bagi hakim dalam memutus perkara, hal mana dalam menghadapi masalah tersebut, justru hakim yang dijadikan korban menjadi tempat tumpuan kesalahan. Masyarakat cenderung menuntut hakim untuk bersifat legalistik mengikuti teks perundang-undangan, bahkan dalam kasus tertentu hakim diharuskan mengesampingkan hukum tertulis demi membela kepentingan sekelompok masyarakat. Meskipun pada prinsipnya, hakim adalah merdeka menentukan sikap dalam putusannya, namun sebebas-bebasnya hakim atau sepragmatis sekalipun, hakim tetap harus memutus menurut hukum, baik hukum dalam arti harfiah berupa teks maupun hukum yang sudah ditafsirkan atau direkonstruksi.19) Karena dinamika masyarakat (dunia) yang begitu cepat,

memberikan implikasi terhadap kebutuhan membuat aturan cenderung meningkat, sehingga menimbulkan keadaan over regulasi atau hiper regulation, baik terjadi dalam tradisi common law maupun civil law.20)

Bagir Manan, Sambutan Ketua Mahkamah Agung RI Pada Peresmian Pengadilan Tinggi Agama Ternate, 18 April 2006, dalam Kumpulan Naskah Pidato Ketua Mahkamah Agung RI, Mahkamah Agung RI, 2007, hlm. 21.
20)

19)

Richard Susskind, The Future of law, Facing the Challenges of Information

Technology.

54

Sebagai akibat over regulasi atau hiper regulasi muncul kecenderungan aliansi hukum (hukum makin lama makin terasing) dari masyarakatnya sendiri, bahkan dari kalangan ahli hukum sendiri. Karena itu dibutuhkan kelompok profesional yang mengkhususkan keahliannya dibidang hukum, yang terus menerus mengikuti perkembangan hukum. Pendidikan bidang hukum juga dituntut menyesuaikan orientasi kurikulumnya sesuai dengan irama perubahan itu. 21) Seperti yang dikatakan oleh Prof. Dr. Bagir Manan, dalam sambutan beliau ketika puluncuran buku Menegakkan Hukum Suatu Pencarian. tahun 2010 : bahwa ternyata peradilan Indonesia sudah terlalu lama ditelantarkan orang. Berdasarkan pernyataan tersebut dapat dipahami bahwa peradilan Indonesia tidak dapat berjalan sendiri dalam mengemban penegakan hukum dan keadilan di Indonesia, tetapi lembaga peradilan harus didukung oleh kelompok profesi lain yang terkait dengan penegakan hukum, sehingga apabila lembaga peradilan dibangun oleh semua lapisan masyarakat, maka tugas dan tanggung jawabnya dalam penegakan hukum dapat dilakukan secara optimal. Berdasarkan hasil penelitian, masyarakat yang mengkritisi putusan pengadilan sangat bermanfaat untuk membangun, bahan masukan dan
21)

Richard Susskind, Megatrend 2000.

55

cermin bagi lembaga peradilan agar menjadi lembaga yang lebih baik, sebagai wujud kepeduliannya kepada institusi peradilan, dan lembaga peradilan tidak membela putusan yang pernah diucapkan para hakim yakin apa yang diputus tersebut adalah suatu kebenaran dan keadilan. Kebenaran dan Keadilan tidak membutuhkan pembelaan karena apabila ia dipergunjingkan oleh berbagai kepentingan yang melatarbelakanginya, maka kebenaran dan keadilan itu cepat atau lambat akan menunjukkan kebenaran dan keadilan itu sendiri. Berbicara sekitar kasus-kasus pertanahan, penulis teringat pada isyarat yang pernah diutarakan oleh alm. Prof. Dr. AP. Parlindungan, SH., ketika menjadi Rektor USU Tahun 1981 : bahwa hendaknya pemerintah segera mengambil langkah kebijakan yang tepat dibidang pertanahan khususnya distribusi tanah yang diperuntukkan bagi rakyat. Apabila kebijakan-kebijakan itu terlambat dilakukan, tidak dapat dibayangkan kekacauan apa yang akan terjadi.22) Isyarat ilmuwan tersebut disampaikan sudah sekitar 3 dasarwarsa yang lalu, ternyata masih relevan sampai saat ini. Sebagai contoh : Suatu keadaan yang terjadi di masyarakat perkebunan Sumatera Utara, khususnya di Medan dan sekitarnya. Dahulu para buruh
22)

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/13337/1/10E00158.pdf diakses 14

Desember 2011

56

perkebunan masih muda belia, kuat dan perkasa telah mengabdikan dirinya demi kegiatan perkebunan yang dikelola oleh perusahaan (BUMN), lokasinya ketika itu masih hutan belantara 20 km dari kota Medan. Sang buruh bekerja dengan tekun, penuh pengabdian dengan gaji sangat rendah, serta diberikan pemondokan seadanya dan lahan disekitar pemondokan 5.000 m2 yang dapat mereka gunakan bercocok tanam, hingga mereka beranak cucu dan akhirnya tua dan pensiun. Lahan tersebut sekarang dijadikan perluasan kota. Orang bermodal melirik tempat itu untuk tempat usahanya. Sang buruh di hari tuanya beserta keluarga mengharapkan perolehan hak atas tanah yang dihuni puluhan tahun itu dengan mengajukan permohonan untuk membeli dengan cara mencicil dengan uang pensiunnya kepada perusahaan. Permohonan mereka serta merta ditolak dengan alasan tanah tersebut diperlukan untuk kepentingan perusahaan, sehingga buruh tadi diminta untuk

meninggalkan lokasi itu dengan diberikan uang pindah seadanya Rp 250.000,- (tahun 1998) dan sang pensiunan buruh diberikan tempat pemondokan yang jauh dari kota (ditepi hutan lagi). Setelah sang pensiunan buruh pindah ternyata lahan yang pernah mereka huni puluhan tahun dan telah terjalin hubungan batin yang kuat antara penghuni dengan tanah itu ternyata oleh perusahaan dialihkan haknya kepada para investor

57

yang sama sekali tidak pernah mempunyai hubungan emosional dengan tanah. Melihat kenyataan demikian, sang pensiunan buruh tertusuk rasa keadilannya dan anak cucunya menyaksikan ikut merasakan perilaku ketidakadilan yang dialami orang tuanya. Manakala permasalahan ini dibawa ke Pengadilan, meskipun yang dilakukan oleh perusahaan secara yuridis formal tindakannya adalah benar, tetapi secara esensi tindakan tersebut tidak adil dipandang dari sudut kepentingan para pensiunan buruh dan keluarga yang telah mengabdikan hidupnya kepada perusahaan. Apakah pada kondisi demikian pengadilan akan bersikukuh dengan keadilan yang prosedural ? sementara masyarakat hukum mendesak agar pengadilan yang professional mampu mengesampingkan keadilan dan kebenaran yang prosedural demi tercapainya kebenaran dan keadilan yang substansial. Mari kita renungkan jangan terburu untuk menghujat pengadilan.

Dalam perwujudan perubahan hukum nasional, usaha menegakkan hukum lebih menjanjikan untuk dapat dilakukan apabila hakim benarbenar dibimbing dan dipimpin oleh perangkat peraturan yang benarbenar berorientasi dan berpihak pada penegakan hukum dan keadilan.

58

Hal tersebut sesuai dengan penetapan Sunaria K. Sunyatavijaya, bahwa pembentuk undang-undang berkewajiban membuat undangundang yang sungguh bermanfaat dan hanya undang-undang dan peraturan Negara yang dibentuk tidak dapat dilaksanakan adalah sumber demoralisatie masyarakat, coruptie profiteurs dalam kekacauan dan kejahatan dan menempatkan haki dan alat-alat Negara yang cakap dan jujur dalam gewetensconflicts dan kesulitan-kesulitan lainnya.23) Ketaatan kepada undang-undang menurut De Spiegel yang dikutip oleh Van Poelje, tergantung pada keutamaan para penduduk. Undang-undang harus banyak meyakinkan daripada memerintah, ia harus mampu mempengaruhi kecenderungan-kecenderungan kehendak rakyat, jika kehendak umum itu cenderung kepada yang buruk dan jahat, jika suatu bangsa tidak lagi memiliki rasa hormat dan malu atau rasa takut, maka undang-undang tidak lagi mempunyai pengaruh lagi sekalipun ia ditulis dengan darah.24) Dan juga, semestinya pengadilan juga mengubah perannya dan semata-mata menjadi corong undang-undang, kepada pengadilan yang mewakili dan mendengarkan suara rakyat. Bahkan ada ujaran, bahwa

23)

Ateng Syafrudin, Op cit., hlm. 231 Ateng Syafrudin, Op cit., hlm. 232

24)

59

pengadilan hendaknya mampu menyuarakan mereka atau golongan yang unrepresented dan underrepresented.25) Pada era pembaruan ini, dimana interaksi sosial menghendaki perilaku professional, transparan, akuntabel, dan efisien, maka hakim sebagai pelaksana kekuasaan kehakiman semakin dituntut mempunyai integritas tinggi, dan professional sehingga hakim memperoleh

kepercayaan dari masyarakat dan pencari keadilan hal mana pada saat ini aspek yang mendapat perhatian dari publik untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat kepada lembaga peradilan (in casu hakim) antara lain berkaitan dengan perilaku dan kualitas putusan hakim yang bersangkutan. Hakim sebagai salah satu profesi penegak hukum harus berbenah dan mengubah pola pikir dan pola budaya yang selama ini dipahami dan milikinya dalam rangka mempersiapkan dan menghadapi struktur hukum nasional di era perubahan ini. Dalam mewujudkan lembaga peradilan yang mandiri tidak hanya mensyaratkan adanya kemampuan dan professionalisme hakim, tetapi juga memerlukan aspek penunjang dan pendukung lembaga peradilan, agar proses peradilan dapat dilakukan

25)

Satjito Raharjo, Membedah Hukum Progresif, 2008 : 38

60

secara optimal sebagaimana apa yang dikehendaki oleh para pencari keadilan dan masyarakat. Namun demikian, hakim dalam menyelenggarakan proses peradilan sering terjadi melakukan pelanggaran kode etik dan pedoman perilaku hakim, hal mana tindakan hakim tersebut dapat dipengaruhi oleh bebrapa faktor, diantaranya adalah tidak dipenuhinya sarana dan prasarana bagi hakim selaku penegak hukum maupun sebagai masyarakat, hal tersebut seharusnya menjadi tanggung jawab Negara untuk memberikan jaminan keamanan bagi hakim dan pengadilan, kecukupan kesejahteraan, kelayakan fasilitas, pemberian anggaran yang memadai. Secara realita, apakah perhatian Negara kepada hakim sudah diberikan secara optimal, karena apabila kita mengamati gedung kantor pengadilan negeri didaerah daerah, rumah dinas hakim, sarana-sarana perkantoran dipengadilan serta kesejahteraan hakim sangat

memprihatinkan. Di samping itu, salah satu sebab hakim melakukan

penyimpangan terhadap kode etik dan pedoman perilaku hakim dikarenakan masih kurangnya kecerdasan spiritual, yang menurut : Satjipto Raharjo dikatakan, bahwa kecerdasan spiritual dapat menggugah

61

rasa moral, dengan memberikan suatu kemampuan untuk mengendalikan ketentuan yang kaku lewat pengertian (Understanding) dan rasa keterlibatan. Masyarakat dalam melihat keberadaan hakim, seharusnya harus memperhatikan dan mempertimbangkan bahwa hakim adalah manusia, sehingga hakim harus diperlakukan secara adil oleh masyarakat dalam penyelenggaraan peradilan, artinya hakim seharusnya diperlakukan secara manusiawi yang mempunyai rasa, asa dan karsa, sehingga terhadap hakim yang melakukan salah dan khilaf yang melanggar kode etik dan pedoman perilaku hakim , hal tersebut dapat dikenai sanksi administrasi, atau apabila tindakannya telah melanggar ketentuan hukum pidana maka dapat juga dikenai sanksi pidana. Tetapi harus diingatkan dalam penindakan tersebut harus dilakukan dengan cara-cara yang tepat melalui tangan dewan kehormatan hakim. Untuk apa? Kehormatan Mahkamah

(Peradilan) dan Korps Hakim perlu djaga oleh semua pihak demi keselamatan Negara hukum, jangan sampai bangsa ini terjebak oleh pepatah : karena nila setitik , rusak susu sebelanga. Sebaliknya dalam melakukan kebajkan, kearifan, dan keadilan di dalam tugasnya, Korps Hakim tidak mengharapkan pujian-pujian atau penghargaan dari pihak

62

manapun, karena hal itu dapat menurunkan kualitas keiklasan yang telah dibangunnya.

B.

Peradilan Indonesia Menjawab Tantangan Perubahan sebagai Konsekuensi Perkembangan Global.

Pepatah kuno dari Heraklitus menyatakan bahwa semua senantiasa berubah, dan yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri (Pantha Rhei), perubahan dan dinamika hukum di Indonesia sangat dipengaruhi perubahan lembaga peradilan, hal mana perubahan tersebut disebabkan oleh adanya globalisasi.26) Para ilmuwan dalam menanggapi gejala dan perkembangan globalisasi berbeda pendapat, sebagian berpendapat, globalisasi adalah keharusan bahkan berkah dari dunia modern, sedangkan sebagian berpendapat bahwa globalisasi adalah saat Negara-negara kaya dan perusahaan internsional secara bebas memperebutkan Negara dan warga Negara dari Negara berkembang. Para era globalisasi ini, usaha untuk membentuk sistem hukum Indonesia yang utuh dan sempurna merupakan suatu upaya yang tidak pernah berakhir, karena wajah hukum di Indonesia saat ini tampak
26)

Abdul Manan, Aspek-aspek Pengubah Hukum, Kencana, Jakarta, 2005, hlm. 10

63

semakin sulit untuk mengimbangi perubahan situasi terjadi begitu cepat, sehingga usaha untuk melakukan perubahan penyesuaian hukum selalu ketinggalan dengan perkembangan dan perubahan dibidang sosial, budaya, ekonomi, politik, serta informasi teknologi. Reformasi yang diperjuangkan mulai Tahun 1998 oleh elemenelemen bangsa dengan keras telah menuntut dengan paksa agar pemerintahan diselenggarakan dengan menjunjung tinggi hukum dan keadilan. Kini, era Reformasi sudah berjalan, tapi tampaknya harapan untuk mewujudkan Negara hukum yang demokratis untuk kesejahteraan rakyat masih sebatas mimpi dan wacana. Rakyat sudah mulai kurang sabar untuk menunggu kapan rakyat tidak lagi kesulitan untuk mengakses layanan kesehatan dan memperoleh pendidikan yang berkualitas. Bahkan lebih tragis lagi, sekarang ini sudah tampak masyarakat kecil kesulitan memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari, konflik sosial kerap terjadi, penggusuran terhadap tempat tinggal masyarakat dan tempat usaha para pedagang kecil terus marak dilakukan, lapangan pekerjaan kian menyempit, dan berakhir pada pemiskinan dan kemiskinan.27)

Asep Warlan Yusuf, Memuliakan Hukum yang Berkeadilan dalam Alam Demokrasi yang Berkeadilan, dalam Butir-butir Pemikiran dalam Hukum, memperingati 70 Tahun Prof. Dr. Arief Sidharta, SH., PT. Refika Aditama, 2008, hlm. 216

27)

64

Meskipun demikian, para hakim bukannya sama sekali menutup mata terhadap kritik, tudingan, dan cibiran dari semua lapisan

masyarakat, Mahkamah Agung khususnya para hakim benar-benar menyadari bahwa peningkatan kualitas keilmuan, keterampilan teknis yudisial maupun kualitas integritas moral dan karakter para hakim merupakan kebutuhan yang mendesak. Hal mana seiring telah dibakukannya kode etik dan pedoman perilaku hakim, yang terdiri dari : berperilaku adil, berperilaku jujur, berperilaku arif dan bijaksana,

berperilaku mandiri, berintegritas tinggi, bertanggung jawab, menjunjung tinggi harga diri, berdisiplin tinggi, berperilaku rendah hati, bersikap professional. Tanpa berniat untuk membanggakan diri, Mahkamah Agung dan lembaga peradilan yang ada dibawahnya telah berusaha keras untuk melakukan perubahan yang meliputi : peningkatan kualitas SDM, perubahan manajemen dan administrasi peradilan secara transparan dan efisien, serta membuka akses seluas-luasnya kepada public untuk mengetahui kinerja peradilan Indonesia, sebagaimana yang telah dimuat dalam cetak biru pembaruan peradilan yang telah dimulai sejak Tahun 2003 yang diketahui oleh Bpk. Prof. Dr. Paulus E. Lotullung, SH., yang

65

diawali dengan perubahan empat lingkungan peradilan telah berada satu atap dibawah Mahkamah Agung RI. Pada tahun 2007, Mahkamah Agung, Departemen Keuangan dan BPK ditetapkan oleh pemerintah sebagai Pilot Project reformasi birokrasi yang meliputi : reformasi manajeman SDM, reformasi manajemen keuangan asset, reformasi manajemen teknologi dan informasi. Dalam periode 2009, Mahkamah Agung RI telah melakukan berbagai langkah strategis di bidang pembaruan, adapun program prioritas Mahkamah Agung dan lembaga peradilan, 28) antara lain : 1. Program keterbukaan informasi di Pengadilan Mahkamah Agung telah mengeluarkan Surat Edaran Nomor : 144/KMA/SK/VIII/2007 tentang keterbukaan Informasi di Pengadilan, secara prinsip mandate dari surat edaran tersebut adalah memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk dapat mengakses informasi di Pengadilan, sehingga akses publik tersebut tidak semata-mata dilihat dari bentuk fisik meja informasi yang ada di Pengadilan, tetapi sejauh mana pengadilan dapat memberikan informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat.

28)

Laporan Tahunan Mahkamah Agung RI Periode Tahun 2009.

66

2. Program Pengembangan Sistem Pengadilan yang Akuntabel dan Transparan pada tanggal 4 Juni 2009 Mahkamah Agung telah mengeluarkan SK Ketua MA RI Nomor 076/KMA/SK/VI/2009 tentang Pedoman Pelaksanan Pengawasan di Lingkungan Lembaga Peradilan, yang mengatur mengenai mekanisme pengaduan masyarakat yang dilingkungan peradilan, sebagai upaya Mahkamah Agung untuk menciptakan sistem pangaduan masyarakat yang ideal sehingga citra dan wibawa lembaga peradilan terjaga dan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga peradilan pun meningkat. 3. Program Pengembangan Rencana Strategis dan Cetak Biru Pembaruan MA - RI 2010 2035. Dalam pengembangan cetak biru Mahkamah Agung 2010-2035, selain berupaya untuk mengakomodasi asas-asas peradilan, tetapi juga memuat kerangka pemikiran badan peradilan yang unggul (framework for court excellence) yang dirumuskan oleh konsorsium internasional sebagai acuan (benchmark). Selain itu, dilakukan beberapa kegiatan terkait dengan

pengembangan ini, antara lain :Diagnosis organisasi (organizational

67

diagnostic assessment) untuk mendapatkan pemetaan terhadap kondisi terkini serta tantangan yang dihadapi oleh Mahkamah Agung RI ; 29) a. Telah merumuskan visi dan misi Mahkamah Agung yang baru, yaitu : Visi : Terwujudnya Badan Peradilan Indonesia yang Agung ;

Misi : 1. Menjaga kemandirian badan peradilan ; 2. Memberikan pelayanan hukum yang berkeadilan kepada pencari keadilan ; 3. Meningkatkan kualitas kepemimpinan badan peradilan ; 4. Meningkatkan kredibilitas dan transparansi badan peradilan; b. Penyusunan Rencana Strategis Mahkamah Agung RI sejalan dengan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional ; c. Peningkatan Program Pengikisan Tunggakan Perkara ; Mahkamah Agung RI telah menyempurnakan standar tentang tunggakan perkara, dengan SK Ketua Mahkamah Agung RI Nomor 138/KMA/SK/IX/2009 tanggal 11 September 2009 tentang jangka waktu penanganan perkara pada Mahkamah Agung RI yang memberikan penekanan penyelesaian proses berperkara di Mahkamah
29)

www.mahkamahagung.go.id/images/LTMARI-2009.pdf

68

Agung RI kepada administrator yudisial, juga memberikan batasan waktu kepada Hakim Agung yang menangani perkara ; d. Penyempurnaan Agung; e. Dengan Peraturan Mahkamah Agung RI nomor 02 Tahun 2009 tanggal 12 Agustus 2009, bahwa biaya proses penyelesaian perkara dibebankan kepada para pihak yang berperkara, yang dikelola oleh panitera yang dipertanggungjawabkan kepada pihak yang berperkara dan besarnya ditetapkan dalam putusan ; f. Peningkatan Agung RI; g. Penerbitan situs informasi perkara online,fitur ini juga dapat diakses melalui situs Mahkamah Agung RI : http://www.mahkamahagung.go.id dan dapat juga melalui http://sms.mahkamahagung.go.id/perkara yang memuat informasi tentang status perkara yang ditangani oleh Mahkamah Agung RI ; h. Penyempurnaan Ketentuan Mengenai Peninjauan Kembali ; i. Surat Edaran Mahkamah Agung RI Nomor 10 Tahun 2009 tentang Pengajuan Peninjauan Kembali, telah memberikan batasan peninjauan kembali dalam satu perkara hanya dapat diajukan 1 (satu) kali. Sistem Informasi perkara, Kepaniteraan Mahkamah Sistem Pengelolaan Keuangan Perkara Mahkamah

69

j. Melakukan langkah strategis dalam bidang ; pembinaan dan pengelolaan sumber daya manusia, pengawasan internal, Litbang Diklat Mahkamah Agung RI. Berdasarkan hasil penelitian dan wawancara terhadap hakim, didapat mengenai bagaimanakah peradilan Indonesia menjawab tantangan

perubahan sebagai konsekuensi perkembangan global, di Indonesia saat ini khususnya di lembaga peradilan telah adanya suatu sistem yang mengakar dimana mempunyai peran yang sangat penting yaitu pelayanan prima terhadap masyarakat, untuk menunjang sistem tersebut diperlukan bantuan dan dukungan dari masyarakat banyak agar peradilan Indonesia dapat berjalan dengan cepat mudah dan biaya ringan. Yang dilengkapi dengan Informasi teknologi yang mana masyarakat dapat mengetahui lebih banyak mengenai keterbukaan putusan pengadilan yang telah di masukkan kedalam website dan internet lainnya.

70

BAB IV PENUTUP

Dari uraian uraian diatas dan pembahasan bab - bab terdahulu, maka penulis dapat memperoleh kesimpulan serta dapat memberikan saran saran sebagai berikut : A. Simpulan Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa : 1. Melalui Hakim sebagai pelaksana kekuasaan kehakiman semakin dituntut mempunyai Integritas tinggi, dan professional, sehingga hakim memperoleh kepercayaan dari masyarakat. Hakim sebagai salah satu profesi penegak hukum harus berbenah dan mengubah pola pikir dan pola budaya yang selama ini dipahami dalam rangka mempersiapkan dan menghadapi struktur hukum nasional di era perubahan ini. Usaha menegakkan hukum lebih menjanjikan untuk dapat dilakukan apabila hakim benar-benar dibimbing dan dipimpin oleh perangkat peraturan yang benar-benar berorientasi dan berpihak pada penegakan hukum dan keadilan.

71

2. Tidak boleh atau bukannya sama sekali menutup mata terhadap kritik dari semua lapisan masyarakat, Mahkamah Agung khususnya para hakim benar-benar menyadari bahwa peningkatan kualitas keilmuan, keterampilan teknis yudisial maupun kualitas integritas moral dan karakter para Hakim merupakan kebutuhan yang mendesak. Adapun sikap yang terbaik dalam melakukan pembenahan hukum di Indonesia adalah dengan menyelenggarakan reformasi yang terkait perencanaan, legislasi, dan penerapan hukum. Dalam pengembangan cetak biru Mahkamah Agung 2010-2035, selain berupaya untuk mengakomodasi asas-asas peradilan, tetapi juga memuat kerangka pemikiran badan peradilan yang unggul (framework for court excellence) yang dirumuskan oleh konsorsium internasional sebagai acuan (benchmark). Karena sesuai dengan Peranan dan Fungsinya Lembaga Peradilan yaitu: Melindungi masyarakat melalui upaya penanganan dan pencegahan kejahatan, merehabilitasi pelaku kejahtan, dan melakukan upaya inkapasiti terhadap orang yang merupakan ancaman terhadap masyarakat. Menegakkan dan memajukkan the rule of law dan penghormatan pada hukum dengan menjamin adanya due process of law dan

72

perlakuan yang wajar bagi tersangka, terdakwa, dan terpidana, melakukan penuntutan dan membebaskan prang yang tidak bersalah yang dituduh melakukan kejahatan. Menjaga hukum dan ketertiban. Menghukum pelaku kejahatan sesuai falsalfah pemidanaan yang diamut. Membantu dan memberi nasihat pada korban kejahatan.

B. Saran Saran 1. Hendaknya lembaga peradilan diperlukan dan ditempatkan pada posisi yang adil di dalam penegakan hukum, dan harus dibangun oleh semua lapisan masyarakat : 2. Keberadaan lembaga legislative juga sangat berperanan dalam penegakan hukum, karena peraturan perundang-undangan yang

mengandung masalah sering menimbulkan kesulitan bagi hakim dalam penegakan hukum, hal mana dalam menghadapi masalah tersebut, justru hakim yang dijadikan korban dan tempat tumpuan kesalahan, sehingga hukum nasional harus bercirikan responsive terhadap perkembangan dan aspiratif terhadap penghargaan masyarakat.