Anda di halaman 1dari 24

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Tanah merupakan bagian permukaan bumi, yang digunakan untuk berbagai hal. Tempat berdirinya bangunan, hingga kematian, semua itu dilakukan di tanah. Dalam dunia pertanian sendiri, tanah digunakan sebagai media tumbuh tanaman, penyedia unsur hara tanaman, penyedia air dan lai-lain. Untuk mempelajari tentang tanah harus dimulai satu persatu dari yang sederhana hingga yang kompleks. Dalam mengenal suatu tanah, kita perlu melihat tekstur, struktur dan konsistensi tanah. Ketiga hal tersebut merupakan awal yang sangat penting bagi ilmu tanah, maka dari itu, perlu adanya praktikum yang telah dilaksanakan mengenai tekstur, struktur dan konsistensi tanah. 1.2. Tujuan Adapun tujuan dari praktikum tentang tekstur, struktur, konsistensi tanah adalah membandingkan tekstur,struktur dan konsistensi tanah pada penggunaan lahan yang berbeda.

1.3. Manfaat Adapun manfaat diadakannya praktikum ini adalah untuk menambah wawasan dan ilmu pengetahuan tentang dasar-dasar ilmu tanah dan cara menentukan tekstur, struktur, dan konsistensi tanah dengan cara yang sederhana dan mudah untuk dipraktekkan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1. Definisi a. Tekstur tanah Tekstur tanah menunjukkan kasar halusnya tanah atas dasar perbandingan banyaknya butir butir pasir, debu, dan liat. (Hardjowigeno, 1987) Tekstur tanah adalah perbandingan relatif dari berbagai golongan besar partikel tanah dalam suatu massa tanah terutama perbandingan antara fraksi-fraksi liat, lempung, dan pasir

(Subagyo, 1979) Tekstur tanah ialah keadaan tingkat kehalusan tanah yang terjadi karena terdapatnya perbedaan komposisi kandungan fraksi pasir debu dan liat yang terkandung pada tanah, dari ketiga fraksi tanah tersebut, partikel pasir mempunyai ukuran diameter paling besar yaitu 2-0,05 mm, debu dengan ukuran <0,002 mm (penggolongan berdasarkan USDA). ( As Syakur,2007)

b. Struktur tanah Struktur merupakan gumpalan kecil dari butir butir tanah. Gumpalan struktur ini terjadi karena butir butir pasir, debu, dan liat terikat satu sama lain oleh suatu perekat seperti bahan organik, oksida oksida besi dan lain lain. 1987) Struktur tanah merupakan sifat fisik tanah yang menggambarkan susunan keruangan partikel-partikel tanah yang bergabung satu (Hardjowigeno,

dengan

yang

lainnya

membentuk

agregat.

(Handayanto dan Sunarminto, 2002) Struktur merupakan gumpalan tanah yang berasal dari partikel-partikel tanah yang saling merekat satu sama lain karena adanya perekat misalnya eksudat akar, hifa, jamur, lempeng, humus, dan lain-lain. (Ariyanto,2009) c. Konsistensi tanah Konsistensi adalah daya tahan atau ketahanan tanah terhadap pengaruh (Sarief, 1986) luar yang akan mengubah keadaannya.

Soil consistence is a trem used to describe the resistance of a soil at various moisture contents to mechanical stress or manipulations. (NYK, 2009) Konsistensi tanah adalah mencerminkan gaya-gaya adhesi dan kohesi yang menahan partikel tanah. et al,2009) (E.Handayanto

2.2. Faktor-faktor yang mempengaruhi : a. Tekstur tanah Bahan Induk Susunan kimia dan mineral bahan indul tidak hanya mempengaruhi intensitas tingkat pelapukan, tetapi kadang-kadang menentukan jenis vegetasi alami yang tumbuh diatasnya. Waktu Banyaknya waktu yang diperlukan untuk pembentukan tanah berbedabeda

Iklim Iklim merupakan factor yang amat penting dlam proses pembentukan tanah. Suhu dan curah hujan juga sangat berpengaruh terhadap intensitas reaksi kimia dan reaksi fisika dalam tanah. Topografi Faktor topografi ini bias dalam dalam bentuk perbedaan tinggi suatu daratan atau bentuk wilayah suatu daerah termasuk didalamnya juga perbedaaan kecuraman lereng. Organisme Pengaruh organisme dalam proses pembentukan tanah tidaklah kecil. Akumulasi bahan organik, unsur hara, dan pembentukan struktur tanah yang stabil sangat dipengaruhi oleh organisme dalam tanah. Disamping itu unsur nitrogen dapat diikat oleh organisme ke dalam tanah dari udara bebas. (Hardjowigeno, 1987)

b. Struktur tanah Bahan induk Variasi penyusun tanah tersebut mempengaruhi pembentukan

agregat-agregat tanah serta kemantapan yang terbentuk. Bahan organic tanah Bahan organic tanah merupakan bahan pengikat setelah mengalami pencucian. Pencucian tersebut diperapat dengan adanya organisme tanah. Vegetasi

Akar tanaman dapat menembus tanah dan membentuk celah-celah. Disamping itu dengan adanya tekanan akar, maka butir-butir tanah semakin melekat dan padat. Organisme tanah Organisme tanah dapat mempercepat terbentuknya agregat. Selain itu juga mampu berperan langsung dengan membuat lubang dan menngemburkan tanah. Waktu Waktu menentukan semua factor pembentuk tanah berjalan. Semakin lama waktu berjalan, maka agregat yang terbentuk pada tanah tersebut makin baik. Iklim Iklim berpengaruh pada proses pngeringan, pembasahan, pembekuan, pencairan. Iklim merupakan factor yang sangat berpengaruh pada pembentukan agregat tanah. (Anonymous, 2009) c. Konsistensi tanah Kandungan air - Partikel tanah bergerak lebih mudah jika pada tanah basah, air berperan sebagai pelumas - Kekuatan tanah mengikat jika tanah kering - Tanah menjadi mampat, makin berat diolah jika basah

Tekstur tanah - Kekuatan tanah meningkat dengan meningkatkan kandungan liat - Tanah-tanah berliat lebih kuat disbanding tanah berpasir

Berat jenis tanah - Makin berat tanah, makin kuat (Handayanto et al, 2009) Mineral Tanah Semakin banyak susunan elemen mineral tanah di dalam tanah, maka menggambarkan bahwa daya ikat antar partikel tanah besar dan dengan padatnya susunan elemen mineral tanah maka ketahanan suatu massa tanah akan kuat. Hal ini dikarenakan kecilnya rongga yang ada. Demikian juga sebaliknya, semakin sedikit susunan elemen mineral tanah di dalam tanah, maka menggambarkan bahwa daya ikat antar partikel tanah kecil dan dengan renggangnya susunan elemen mineral tanah maka ketahanan suatu massa tanah akan lemah. (Darmawijaya, 1990) Bahan Organik Tanah (BOT). Suatu massa tanah mengandung bahan organik. Plastisitas tanah yang mengandung banyak bahan organik akan menurun seiring

dengan penurunan kohesi dan sifat lainnya. Hal ini biasa terjadi pada tanah yang gembur sehingga dapat dikatakan konsistensi tanah tersebut adalah rendah. (AAK, 1981)

2.3 Dampak yang Diakibatkan Tekstur, Struktur, dan Konsistensi terhadap Sifat Tanah a. Tekstur tanah Struktur Tanah Struktur tanah merupakan gumpalan kecil dari butir-butir tanah. Konsistensi Tanah

Konsistensi tanah menunjukkan kekuatan daya kohesi butir-butir tanah atau adhesi butir-butir tanah dengan benda lain. Drainase Tanah Drainase adalah aliran air yang ada di dalam tanah. Tekstur tanah yang berbeda akan mempunyai drainase yang berbeda pula. Mudah tidaknya air hilang dari tanah menentukan ciri khas dari drainase tanah tersebut. Porositas Bagian yang tidak terisi bahkan padat tanah (terisi oleh udara dan air). Jenis Tanah Setiap masing-masing tanah mempunyai teksturnya sendiri-sendiri. Pengolahan Jika tanahnya lunak maka pengolahan tanah akan lebih mudah, dan sebaliknya jika tekstur tanahnya keras, maka akan mempersulit tanah untuk diolah. (Guswono, 1983) b. Struktur tanah Erosi Struktur tanah akan mempengaruhi tingkat erosi pada permukaan tanah. Jika struktur tanahnya granuler, maka tanah permukaan akan semakin (Islami, 1995) Lengas Tanah Lengas tanah adalah kadar air di dalam tanah. Apabila struktur tanah granuler, maka liatnya rendah sehingga kadar airnya akan tinggi. (Sutanto, 2005) cepat terbawa erosi.

Perakaran Apabila struktur granuler, maka akar tanaman akan semakin mudah menembus tanah. Akar tanaman yang menembus tanah akan membentuk (Sutanto, 2005) Perlokasi Perlokasi yaitu pergerakan air di dalam tanah, apabila strukturnya baik, maka (Sutanto, 2005) Pengolahan Tanah Susah tidaknya suaut tanah diolah juga bergantung pada jumlah kadar air (Sutanto, 2005) Infiltrasi Infiltrasi yaitu meresapnya air ke dalam tanah. Infiltrasi lebih cepat terjadi pada tanah yang berdebu daripada tanah yang liat. (Sutanto, 2005) Porositas Porositas adalah nisbah ruang pori terhadap volume bahan padat yang berperan penting terhadap lengas tanah, temperatur, unsur hara tanaman, ruang perakaran, dan pengolahan tanah. Apabila strukturnya granuler (Sutanto, 2005) c. Konsistensi tanah Perakaran tanah Konsistensi yang tinggi akan menyebabkan akar susah untuk menembus tanah, begitu juga sebaliknya. maka pori-porinya semakin besar. di dalam tanahnya. perlokasi juga akan lancar. bidang bidang belah atau retakan tanah.

Organisme Organisme akan semakin mudah hidup jika konsistensi tinggi, begitu juga sebaliknya. Pengolahan tanah Jika konsistensi tinggi, maka energy yang dibutuhkan semakin besar. Struktur tanah Perubahan struktur tanah dapat terjadi oleh pengaruh derajat kohesi dan adhesi dalam suatu massa tanah. Apabila daya ikat antar partikel tanah dengan air besar, maka dapat menyebabkan struktur tanah menjadi (Sarief,1986) lebih kompak dan teguh.

2.4 Pengaruh Tekstur, Struktur, dan Konsistensi dalam Bidang Pertanian a. Pengaruh Tekstur Tekstur tanah yang terdiri atas fraksi pasir, debu, dan liat sangat berpengaruh terhadap usaha pertanian. Tanah liat mengandung bahan organik dan unsur hara yang lebih tinggi dari pasir dan debu. Dengan demikian tanah yang paling baik untuk budidaya pertanian adalah tanah yang liat karena lebih banyak mengandung banyak bahan organik dan mineral. Makin banyak unsur hara dan air yang diserap tanaman semakin terjamin kebutuhannya selama proses pertumbuhan dan produksinya. (Guswono,1983) Tekstur dan Pengolahan Pertanian saling berhubungan. Tanah terburuk untuk pengolahan adalah tanah yang bertekstur dominan pasir. Hal ini disebabkan karena pasir memiliki porositas yang terlalu besar, sehingga air akan mudah diserap dan pada waktu yang

bersamaan air juga akan dilepas, sehingga tanah bertekstur pasir memerlukan pengolahan tersendiri, utamanya terkait pada porositas tanah. sedangkan tanah terbaik untuk pengolahan adalah tanah bertekstur lempung. Tanah ini memiliki tekstur berimbang yang saling melengkapi, sehingga pengolahan pada tanah lempung tidak terlalu intensif. (Foth,1994) b. Pengaruh Struktur Dalam membicarakan struktur tanah, seringkali kita mendengar istilah agregat tanah. Yang dimaksud agregat tanah adalah individu dari susunan partikel primer dan partikel sekunder. Struktur tanah memiliki sifat yang tidak tetap, yang mana sangat dipengaruhi oleh iklim dan aktivitas biologi, yang selanjutnya mempengaruhi proses kimia dan fisika di dalam tanah. Oleh karena itu, kemampuan agregat tanah untuk bertahan terhadap kemungkinan terjadinya kerusakan yang disebut sebagai kemantapan agregat merupakan sifat yang penting dalam kaitannya dengan pertumbuhan tanaman. Agregat tersusun sedemikian rupa sehingga mempunyai pori yang cocok unutk tanaman. (Guswono,1983) c. Pengaruh Konsistensi Dalam mengetahui konsistensi tanah maka terdapat berbagai manfaat terutama dalam bidang pertanian, yaitu dapat menentukan cara pengolahan tanah yang baik, dapat menentukan jenis tanaman yang cocok serta dapat mengetahui kadar air dalam tanah.

(Guswono,1983)

10

Makin tinggi tingkat konsistensi tanah, maka pengolahan pada tanah tersebut akan makin sulit. Sama halnya sebagaimana pengaruh tekstur dan struktur, konsistensi tanah juga memengaruhi perakaran tanaman, infiltrasi, serta tingkat pengolahan tanah. makin tinggi konsistensi suatu tanah, makin terhambat perakaran suatu tanaman dan infiltrasi air, serta makin sulit pengolahan pada tanah.

(Gliessman,2000)

11

BAB III METODOLOGI


3.1 Alat dan Bahan 3.1.1 Alat Jangka Sorong, spidol, papan tulis, piring 3.1.2 Bahan Sampel tanah dan air 3.2 Alur Kerja (Diagram Alir) a. Penentuan tekstur tanah secara feeling method Sampel Tanah Tanah diletakkan di atas tangan ( 1 sendok makan) Ditambah sedikit air

Rasakan perbandingan dominan pasir, debu, atau liat Uraian Amati dan hasil pengamatan dicatat pada table yang telah disediakan kerja :

1. Menyiapkan sampel tanah (3 contoh tanah, yang dominan berpasir, dominan debu, dan dominan liat) dan air. 2. Ambil sedikit tanah (kira-kira 1 sendok makan) contoh masing-masing secara terpisah, letakkan ditelapak tangan lalu beri sedikit air, lalu

12

gosok-gosok pada telapak tangan. Rasakan dan kemudian tafsirkan seberapa banyak kandungan pasir, debu, dan liat dengan merasakan tingkat kekerasannya. 3. Memijit-mijit tanah dan menggulungnya menjadi bola, kemudian menafsirkan berapa besar kandungan liat yang ada dengan merasakan lekat tidaknya tanah tersebut, 4. Ditambah sedikit air lagi sampai tanah itu bisa digulung, dibuat gulungan dengan diameter cm dan panjangnya sekitar 5cm. Perlu diperhatikan : apakah tanah bisa digulung atau tidak, dan bila dibengkokkan patah atau tidak. o Tanah yang mudah digulung menandakan partikel pasir banyak o Tanah yang bisa di gulung menunjukkan jumlah partikel liat banyak o Tanah yang mudah patah menandakan pengaruh sifat pasir masih cukup besar o Yang tidak patah menunjukkan bahwa sifat liat mendominasi tanah ini dan sifat pasir sangat kecil. b. Penentuan struktur tanah Penyiapan sampel agregat (lempeng, gumpal membulat, gumpal bersudut, tiang) dan jangka sorong

Pengukuran panjang, lebar dan tinggi Hasil pengukuran dicatat dalam table yang telah disediakan

13

Uraian kerja : 1. Menyiapkan contoh tanah yang akan digunakan dalam praktikum, seperti : lempeng, gumpal membulat, gumpal bersudut, dan tiang, 2. Mempersiapkan alat yang digunakan dalam hal ini jangka sorong dan alat tulis, 3. Mengukur panjang, lebar, dan tinggi dari struktur tanah tersebut dengan menggunakan jangka sorong, 4. Mencatat hasil pengamatan.

c. Penentuan konsistensi tanah dalam keadaan basah Penyiapan alat dan bahan Ambil tanah (tanah hutan produksi & hutan semusim) secukupnya dan diletakkan di tangan serta pemberian air secukupnaya Dipijit dengan ibu jari dan telunjuk Dipijat dan rasakan (merasakan kelekatan dengan cara menempel dan melepas ibu jari) Buat gulungan dan bentuk cincin

Kurang lebih 0,5cm Tentukan plastisitas

Hasil pengamatan kelekatan & plastisitas dicatat di tabel pengamatan

Kurang lebih 0,5cm

14

Uraian kerja : 1. Ambillah agregat kemudian semprotlah dengan air sampai basah, kemudian lakukan : pijit-pijit denga ibu jari dan telunjuk : rasakan bagaimana kelengketannya dengan merasakan menempel dan melepas ibu jari dan telunjuk, Buatlah gulungan pita tanah dengan diameter sekitar 0.5cm dan panjang 5cm, kemudian bengkokkan sehingga kedua ujungnya bertemu : perhatikan apakah gulungan itu patah atau tidak. Inilah yang dinamakan plastisitas tanah. 2. Kemudian uraikan sifat konsistensi tanah dalam keadaan basah.

15

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Gambar Macam-Macam Struktur dan Segitiga Struktur a. Macam-macam struktur tanah

Gambar 1. Gumpal bersudut

Gambar 2. Gumpal membulat

b. Segitiga Tekstur

16

Gambar 3. Segitiga Tekstur tanah

4.2 Tabel Pengamatan


Tabel 1. Pengamatan Tekstur Tanah

Piring

Tekstur Sangat Plastis

Lempung Berliat Sangat Lekat Agak Plastis

Pasir Agak Lekat Sangat Plastis

Pasir Berlempung Sangat Lekat

Tabel 2. Pengamatan Struktur Tanah

Struktur Gumpal Bersudut Gumpal Membulat Lempeng Tiang

Panjang (cm) 7,23 4,33

Lebar (cm) 6,45 3,35

Tinggi (cm) 6,33 2,99

6,55 7,33

6,40 5,63

0,46 3,33

17

Tabel 3. Pengamatan Konsistensi tanah

Lokasi Hutan Produksi

Tekstur Tanah Liat Berpasir

Konsistensi Agak Lekat Sangat Plastis

Komposit Semusim

Tanah Liat Berpasir

Lekat Plastis

4.3 Analisa dan Interpretasi a. Tekstur tanah Dalam melakukan pengamatan tekstur tanah melalui cara feeling method yang telah dilakukan, terdapat tiga jenis tekstur tanah, yaitu piring A (lempung berliat), piring B (pasir), dan piring C (pasir berlempung). Pada tanah piring A dapat dikatakan lempung berliat karena adanya ciri-ciri rasa agak kasar, membentuk bola agak teguh bila kering, membentuk gulungan bila dipirid dan gulungan mudah hancur serta daya lekat yang sedang. Tanah piring B dikatakan bertekstur pasir, karena ada rasa kasar jelas, tidak membentuk bola dan gulungan, serta tidak melekat. Sedangkan untuk tanah di piring C adalah tanah yang bertekstur pasir berlempung dengan ciri-ciri rasa kasar sangat jelas, membentuk bola yang mudah sekali hancur, serta sedikit sekali melekat. Perbedaan tekstur antar piring

18

tersebut, dapat dikarenakan karena sampel tanah yang diambil pada lahan yang berbeda pula, sehingga menentukan tekstur yang terjadi. b. Struktur tanah Pada pengamatan struktur tanah pada bentuk dan susunan atau tipe terdapat empat jenis tanah yang mempunyai struktur berbeda, yaitu tanah yang berstruktur gumpal bersudut, gumpal membulat, lempeng dan tiang. Dalam melakukan pengamatan struktur tanah tersebut, dibutuhkan alat bantu ukur yaitu jangka sorong. Hal yang kami ukur atau amati adalah panjang, lebar dan tinggi yang tertera pada tabel 2. Panjang, lebar serta tinggi pada bentuk/tipe tanah dapat menunjukkan baik tidaknya struktur tanah sebagai contoh pekembangan dari struktur tanah atau agregat tanah yang sempurna yang mampu memperbaiki sistem aerasi atau gerakan-gerakan air. (Hardjowigeno, 2003) c. Konsistensi Tanah Pada pengamatan konsistensi tanah, hal yang diamati adalah kelekatannya, tingkat plastisitasnya dan keadaan tanah dengan kondisi basah. Pada uji kelekatan tanah dari hutan produksi mempunyai tingkat kelekatan agak lekat (setelah ditekan, material tanah masih terlihat pada ibu jari dan telunjuk, tetapi kemudian mudah lepas sehingga menjadi bersih ), sedangkan untuk tanah yang berasal dari komposit semusim, tingkat kelekatannya adalah lekat ( setelah ditekan, material tanah masih melekat pada ibu jari dan telunjuk, dan sulit untuk dilepaskan, ada kecenderungan untuk merekatkan). Daya lekat tersebut merupakan kualitas adhesi material tanah dengan bahan lainnya yang ditunjukkan dengan kekuatan kelekatannya.

19

Pada uji tingkat plastisitas, tanah dari hutan produksi mempunyai tingkat sangat plastis ( bisa dibentuk gulungan dan bisa menjadi cincin, perubahan bentuk massa tanah bisa terjadi dengan tekanan yang kuat ), sedangkan untuk tanah dari komposit semusim mempunyai tingkat plastis (bisa digulung menjadi cincin tetapi beberapa detik kemudian cincin tersebut akan putus). Hutan produksi mempunyai tingkat konsistensi yang sangat plastis dibandingkan dengan lahan komposit semusim, hal ini dikarenakan keadaan tanah dalam kondisi basah sehingga kandungan air di dalamnya ikut berpengaruh terhadap konsistensi yang dipengaruhi oleh vegetasi yang hidup atau mati di lahan hutan produksi tersebut. 4.4 Hubungan dan Manfaat Praktikum dalam Bidang Pertanian di Lapang Dengan kita melakukan praktikum dasar ilmu tanah tentang tekstur, struktur, serta konsistensi tanah maka kita akan mengetahui hal-hal yang penting untuk membudidayakan suatu tanaman yang berhubungan dengan media tanam. Tekstur tanah sangat mempengaruhi usaha pertanian dimana tekstur tanah yang kasar, tidak dapat menjadi media tanam yang baik. Tekstur tanah yang halus, dapat menjadi media tanam, tetapi kurang baik karena mempengaruhi kuat tidaknya perakaran. Pengaruh struktur tanah terhadap pertumbuhan terjadi secara langsung. Struktur tanah yang remah (ringan) pada umumnya menghasilkan laju pertumbuhan tanaman lebih tinggi dibandingkan struktur tanah yang padat. Konsistensi tanah sendiri juga berpengaruh pada media tanam suatu tanaman, dengan mengetahui kemantapan suatu tanah dan kegemburan tanah, sehingga dapat diolah dengan baik.

20

BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan Pada piring A, kandungan pasir dan debu hampir sama besar dibanding dengan liat. Pada piring B, kandungan pasirnya dominan. Pada piring C, kandungan pasirnya lebih besar dibanding dengan daripada kandungan liat dan debunya. Pada pengamatan struktur tanah terdapat empat jenis struktur tanah yang berbeda, yakni gumpal membulat, gumpal bersudut, lempeng dan tiang. Tingkat kelekatan hutan produksi sangat lekat, sedangkan pada tanah semusim agak kurang lekat. Tanah dari hutan produksi maupun dari hutan semusim mempunyai tingkat plastisitas yang agak plastis. 5.2 Saran a. Dengan mengetahui deskripsi tentang tekstur, struktur dan konsistensi tanah, maka diharapkan kita dapat menjaga dan mempertahankan keaslian dari tanah yang masih alami, dan melakukan pelestarian tanah. b. Penyampaian materi dalam praktikum jangan terlalu cepat.

21

DAFTAR PUSTAKA AAK. 1981. Tanah dan Pertanian. Kanisus Yogyakarta. Anonymous.2009.www.bwn123.wordpress.com. Diakses 10 oktober 2009 Ariyanto.2009.Struktur Tanah.Lecture Note. Universitas Negeri Sebelas Maret As-Syakur.2007.www. as syakur.blogspot.com/tekstur tanah. Diakses 10 oktober 2009 Brady,NYK.1974.The Nature and Properties of Soil. Mac Millan Publishing Inc.NY Darmawijaya. 1990. Dasar-Dasar Ilmu Tanah, Perkasa. Foth, Henry D. 1994. Fundamentals of Soil Science. New York: John Whilley and Sons, Inc. Gliessman, R.Stephen.2000. Sustainable AGROECOLOGY Ecological Processes in Media Tanah. Jakarta: Sarana

Agriculture. CRC Press LLC., Florida

Guswono, S. 1983. Sifat dan Ciri Tanah. Kanisus Yogyakarta. Handayanto dan Sunarmanto.2002. UGM.3(1):10-17 Handayanto et al.2009. Dasar Ilmu Tanah. FP UB. Malang Handayanto,Utami & Ismunandar.2009.Dasar Ilmu Tanah.FP UB.Malang Hardjowigeno, Dr. Ir. Sarwono. 1987. Ilmu Tanah. Jakarta: PT Mediatama Sarana Perkasa. Islami, Titik, dan Utomo, Wadi Hadi. 1995. Hubungan Tanah, Air, dan Tanaman. Semarang: IKIP Semarang Press. Subagyo. 1979. Dasar-Dasar Ilmu Tanah.Erlangga.Jakarta Kajian Struktur Tanah Lapis Olah.

22

Sutanto, Rachman. 2005. Dasar-Dasar Ilmu Tanah.Kanisus.Yogyakarta Syarief.1986.Konservasi Tanah dan Air. Pustaka Buana. Bandung

LAMPIRAN

Alat praktikum

Gambar 1. Jangka Sorong Bahan praktikum

23

Gambar 2. Air

Gambar 3. Tanah A

Gambar 4. Tanah B

Gambar 5. Tanah C

Gambar 6. T. hutan Produksi

Gambar 7. T. komposit semusim

24