Anda di halaman 1dari 6

BAB 3

UJI KEKERASAN VICKERS FAUZI WIDYAWATI NIM : 210133004 Kelas : 2FEA

1. Tujuan Praktikum a. Mahasiswa mengetahui dan memahami mengenai pengujian kekerasan. b. Mahasiswa dapat memahami dan melaksanakan proses pengujian. c. Mahasiswa mampu menguji benda uji sesuai prosedur pengujian. d. Mahasiswa mampu mengolah data dan menganalisa pengujian kekerasan. 2. Dasar Teori 2.1 Pendahuluan Pengujian Kekerasan Kekerasan dapat didefinisikan sebagai kemampuan suatu bahan untuk dapat menahan penetrasi benda yang lebih keras. Dalan pengujian kekerasan, maka dibutuhkan benda pemberi beban yang lebih keras dari pada benda yang akan di uji. Pengujian kekerasan adalah salah satu metoda yang paling sering digunakan untuk mengetahui karakterisik suatu benda uji. Dikatakan paling sering digunakan karena pada pengujian ini sudah dapat mewakili beberapa pengujian lain yang lebih rumit dan biaya yang lebih mahal. Dalam satu kali pengujian sudah dapat mengetahui sifat benda, struktur mikro, dan nilai kekerasan benda tersebut. SKALA MOHS Mohs telah menetapkan urutan skala kekerasan beberapa bahan :
Bahan Grafit Talk Kapur Batu Kapur Spaat lumer Apatit Baja Lunak Spaat Kwarsa Topaz Baja dikeraskan Korundum Intan Skala kekerasan 0,5 1 1 2 3 4 5 Kira-kira 6 6 7 8 Kira-kira 8 9 10

Daftar disamping menunjukan bahwa Intan merupakan bahan paling keras dengan skala kekerasan 10, artinya intan mampu melukai/menggores bahan lainya secara permanen. Jadi bahan dengan skla kekerasan tinggi mampu melakukan penetrasi terhadap bahan lainya dengan skala kekerasan lebih rendah.

2.2 Jenis-jenis Pengujian Kekerasan Jenis-jenis pengujian bahan dibagi dalam dua kelompok yaitu pengujian dengan merusak (destructive test) dan pengujian tanpa merusak ( non destructive test). Pengujian dengan merusak dilakukan dengan cara merusak benda uji dengan cara diberikan pembebanan/ penetrasi sampai benda uji tersebut rusak, dari pengujian ini akan diperoleh informasi mengenai kekuatan dan sifat mekanik bahan. Pengujian tanpa merusak dilaksanakan dengan memberi perlakuan tertentu terhadap bahan uji sehinga diketahui adanya cacat berupa retak atau rongga pada benda uji /produk tsb. Pengujian dengan merusak ( destructive test) terdiri dari: 1. Pengujian Tarik (Tensile Test) 2. Pengujian Tekan (Compressed Test) 3. Pengujian Bengkok ( Bending Test) 4. Pengujian Pukul ( Impact Test ) 5. Pengujian Puntir ( Torsion Test) 6. Pengujian Lelah (Fatique Test) 7. Pengujian Kekerasan ( Hardness Test). Pengujian tanpa merusak ( non destruktive test) terdiri dari: 1. Dye Penetrant Test 2. Electro Magnetic Test 3. Ultrasonic Test 4. Sinar Rongent 2.3 Pengujian Kekerasan Vickers Pengujian kekerasan Vickers dikembangkan pada 1921 oleh Robert L. Smith dan George E. Sandland di Vickers Ltd sebagai alternatif dari pengujian kekerasan Brinell. Tes Vickers sering lebih mudah digunakan daripada uji kekerasan lainnya karena perhitungan yang diperlukan adalah independen dari ukuran indentor, dan indentor dapat digunakan untuk semua bahan terlepas dari kekerasan. Tes Vickers dapat digunakan untuk semua logam dan memiliki salah satu skala terluas di antara tes kekerasan. Unit kekerasan diberikan oleh tes ini dikenal sebagai Piramida Jumlah Vickers (HV) atau Diamond Piramida Kekerasan (DPH). Jumlah kekerasan dapat dikonversi menjadi unit pascal. 2.4 Prinsip Pengujian Vickers Bersadarkan ASTM E384 Metode uji meliputi penentuan Knoop dan bahan kekerasan Vickers, verifikasi Knoop dan mesin pengujian kekerasan Vickers, dan kalibrasi Knoop standar dan blok uji Vickers. Metode uji meliputi Knoop dan kekerasan Vickers pengujian yang dilakukan menggunakan uji kekuatan dalam mikro

(9,807 10 -3 untuk 9,807 N) (1 sampai 1000 gf) makro (> 9,807-1176,80 N) (> 1 kg sampai 120 kgf).
Catatan 1-Sebelumnya versi ini memaksa uji standar terbatas pada 9,807 N (1 kgf).

Metode uji meliputi semua persyaratan untuk melakukan uji kekerasan Vickers makro sebagaimana ditentukan sebelumnya dalam Metode Uji E92 , Metode Uji Standar untuk Pengujian Kekerasan Vickers. Metode uji meliputi analisis terhadap sumber sumber kesalahan yang dapat terjadi sumber-sumber selama Knoop dan pengujian Vickers dan bagaimana faktor-faktor mempengaruhi faktor faktor akurasi, keterulangan, dan kemampuan untuk memproduksi hasil tes. Ketika Knoop dan kekerasan Vickers tes dikembangkan, tingkat kekuatan yang dikembangkan, ditentukan dalam satuan gram-force (gf) dan kilogram force (kgf). Standar ini gram force menentukan satuan kekuatan dan panjang dalam Sistem Satuan Internasional (SI), yaitu kekuatan dalam Newton (N) dan panjang dalam mm atau m . Namun, karena preseden Namun, historis dan penggunaan umum lanjutan, kekuatan nilai dalam gf dan unit kgf disediakan untuk informasi dan sebagian besar diskusi dalam standar ini serta metode pelaporan hasil tes mengacu pada unit-unit.

F = Gaya penetrasi (N) penetra A = Luas penetrasi (mm) HV = nilai kekerasam vickers (kgf) 2.5 Indenter pengujian Vickers Indenter terbuat dari intan karena memiliki nilsi kekerasan paling tinggi dank arena metode Vickers digunakan untuk semua benda uji,sehingga indenter harus mampu tekan yang baik. Indente berbentuk piramida dengan kemiringan 136o. bentukan penetrasi adalah belah ketupat yang dihitung adalah diagonal dari penetrasi tersebut.

2.6 Proses Pengujian Kekerasan Vickers Pastikan benda uji sejajar parallel pada bagian atas dan bawah. Benda uji dibersihkan dari pelumas, oksida, bahan asing. Sebelum digunakan,kalau bia benda uji di etsa agar permukaan benda uji bersih. Setting alat uji Vickers pada pembebanan 1 kg. Posisikan benda uji pada dudukan dan dekatkan pada lensa hingga focus. Geser lensa optic dengan indenter lalu pencet tombol START, tunggu hinggan selesai. 7. Geser kembali indenter dengan lensa dan posisikan garis hitam pertama pada titik ujung kiri benda uji. 8. Geserkan satu garis hitam lagi pada ujung titik sebelah kanan hsil penetrasi. 9. Lalu ukur berapa panjang (d1) dalam satuan micron (). 10. Putar 90o pengukuran garis dan lakukan hal yang sama seperti tahap 7 hingga 9. 11. Maka didapatkan nilai panjang (d2) dalam satuan micron (). 1. 2. 3. 4. 5. 6.

Jejak hasil penetrasi pengujian vickers 2.7 Keuntungan Pengujian Vickers Dalam pengujian mikro dapat juga untuk melihat mikrostruktur benda uji. Tanpa kita ketahui sebelumnya nama benda tetapi sudah bias menebak dari susunan mikro strukturnya. Dapat digunakan untuk lapisan tipis. Indenter tetap sama walaupun berbeda jenis benda uji. Permukaan hasil penetrasi selalu memiliki sudut yang sama. Nlai kekerasan memiliki korelasi yang hampir sama dengan pengujian brinell. 2.8 Kekurangan Pengujian Vickers Memerlukan waktu yang lama untuk pengujian. Nilai kekerasan bervariasi dikarenakan penetrasi yang kecil.

3. Bahan dan Alat a. Bahan 1. SS 2. FeCr 25 3. Al 4. GxMn 5. FCD 70 6. Ni Hard 7. Cr 27 8. 300 M 9. Baja 10. FC 25 b. Alat Peralatan yang dipakai untuk pengujian Vickers adalah : 1. Alat pengujian vickers

2. Indenter

4. Data Praktikum 5. Analisis 6. Kesimpulan 7. Daftar pustaka http://www.astm.org/Standards/E3.htm http://www.astm.org/Standards/E384.htm http://teknik-mesin1.blogspot.com/2011/06/uji-kekerasan-vickers.html http://en.wikipedia.org/wiki/Vickers_hardness_test