Anda di halaman 1dari 59

BAB I PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang Skizofrenia adalah gangguan psikotik yang kronik, pada orang yang

mengalaminya tidak dapat menilai realitas dengan baik dan pemahaman diri buruk (Kaplan dan Sadock, 1997). Gejalanya dibagi menjadi 2 kelompok yaitu primer yang meliputi perubahan proses pikir, gangguan emosi, kemauan, dan autisme. Sedangkan gejala sekunder meliputi waham, halusinasi, gejala katatonik. Gejala sekunder merupakan manifestasi untuk menyesuaikan diri terhadap gangguan primer. Skizofrenia dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu simplex, hebefrenik, katatonik, paranoid, tak terinci, residual (Maslim, 2000). Dari beberapa jenis Skizofrenia diatas, terdapat Skizofrenia paranoid. Jenis ini ditandai oleh keasyikan (preokupasi) pada satu atau lebih waham atau halusinasi, dan tidak ada perilaku seperti pada tipe terdisorganisasi atau katatonik. Secara klasik Skizofrenia tipe paranoid ditandai terutama oleh adanya waham kebesaran atau waham kejar, jalannya penyakit agak konstan (Kaplan dan Sadock, 1998). Pikiran meloncat (Flight of ideas) lebih sering terdapat pada mania, pada Skizofrenia lebih sering inkoherensi. Kriteria waktunya berdasarkan kondisi klien jiwa sulit diramalkan, karena setiap saat dapat berubah. Waham merupakan suatu keyakinan tentang isi pikiran yang tidak sesuai dengan kenyataan atau tidak cocok dengan intelegensia dan latar belakang kebudayaannya, keyakinan tersebut dipertahankan secara kokoh dan tidak dapat diubah-ubah (Maramis, 1998)

Membagi waham dalam dua kelompok, yaitu primer dan sekunder. Waham primer timbul secara tidak logis, tanpa penyebab dari luar. Sedangkan waham sekunder biasanya logis kedengarannya, dapat diikuti dan merupakan cara untuk menerangkan gejala-gejala Skizofrenia lain, waham dinamakan menurut isinya, salah satunya adalah waham kebesaran (Kaplan dan Sadock, 1997). Waham kebesaran adalah waham peningkatan kemampuan, kekuatan, pengetahuan, identitas, atau hubungan khusus dengan dewa atau orang terkenal (Kaplan dan Sadock, 1997). Waham kebesaran dapat terentang pembesar- besaran yang ringan sampai karakteristik sesungguhnya dari waham kebesaran psikotik. Isi waham umpamanya pasien telah melakukan penemuan yang penting atau memiliki bakat yang tidak diketahui atau kesehatan yang sangat baik (Kusuma 1997) Medikamentosa yang direkomendasikan oleh the National Institute for Clinical Excellene (NICE) menjadi pilihan pertama untuk kasus baru adalah antipsikotik atipikal (olanzapine, risperidone). Obat ini juga baik digunakan untuk pasien yang tidak menunjukkan penurunan gejala dengan terapi antipsikotik tipikal. Sedangkan pengobatan konvensional dengan antipsikotik tipikal seperti Chlorpromazine, haloperideol efektif untuk mengobati gejala-gejala positif (seperti ideas of reference,delusi, halusinasi) namun angka keberhasilannya cukup rendah (atau bahkan malah memperparah) untuk menghilangkan gejala negatif (afek datar, alogia, avolition). Selain itu juga terdapat efek samping lain seperti efek ekstrapiramidal (gejala mirip Parkinson, distonia akut, akathisia), tardive dyskinesia (pada 24% pasien), neuroleptic malignant syndrome, dan hyperprolactinaemia (Cameron, 2004). Pengobatan dalam Islam telah diatur sedemikian rupa sehingga sesuai dengan ajaran Islam. Salah satu prinsip dalam pengobatan dalam Islam selain harus bebas dari

unsur yang diharamkan, pengobatan juga merupakan tindakan untuk mencegah timbulnya sesuatu yang lebih buruk lagi. Pengobatan penderita Skizofrenia dengan pemberian Haloperidol atau Chlorpromazine merupakan tindakan untuk mengobati penyakit tersebut. Allah menciptakan penyakit serta obatnya, bagi setiap umat Islam berkewajiban untuk berobat pada ahlinya serta memilih cara pengobatan yang lebih besar faedahnya, seperti pada pasien Skizofrenia yang pengobatannya menggunakan Haloperidol dan Chlorpromazine. Sehubungan dengan hal itu di atas, perlu dikaji lebih lanjut tentang perbandingan efek samping dari Haloperidol dan Chlorpromazine pada pasien Skizofrenia ditinjau dari kedokteran dan Islam.

1.2.

Permasalahan 1. Bagaimana farmakologi obat-obat antipsikotik ? 2. Bagaimana perbandingan efek samping Haloperidol dan Chlorpromazine? 3. Bagaimana pandangan Islam terhadap perbandingan efek samping Haloperidol dan Chlorpromazine pada pasien Skizofrenia ?

1.3. 1.3.1

Tujuan Tujuan Umum Mengetahui tentang tentang perbandingan efek samping dari Haloperidol dan Chlorpromazine pada pasien Skizofrenia ditinjau dari segi kedokteran dan sudut pandang Islam

1.3.2

Tujuan Khusus 1. Memahami farmakologi obat-obat anti psikotik

2. Memahami perbandingan efek samping Haloperidol dan Chlorpromazine 3. Memahami pandangan Islam tentang perbandingan efek samping Haloperidol dan Chlorpromazine pada pasien Skizofrenia.

1.4.

Manfaat 1. Bagi penulis, untuk menambah pengalaman dalam cara membuat karya ilmiah yang baik dan benar dalam bidang ilmu Kedokteran dan agama Islam mengenai perbandingan efek samping dari Haloperidol dengan Chlorpromazine pada pasien Skizofrenia. 2. Bagi Universitas Yarsi, dengan penyusunan skripsi ini diharapkan dapat memperkaya khasanah ilmu pengetahuan di perpustakaan Universitas Yarsi serta menjadi bahan masukan bagi civitas akademika mengenai perbandingan efek samping dari Haloperidol dengan Chlorpromazine pada pasien Skizofrenia ditinjau dari kedokteran dan Islam. 3. Bagi masyarakat, diharapkan masyarakat dapat mengetahui dan memahami tentang perbandingan efek samping dari Haloperidol dengan

Chlorpromazine pada pasien Skizofrenia ditinjau dari kedokteran dan Islam.

BAB II

EFEK SAMPING HALOPERIDOL DAN CHLORPROMAZINE PADA PASIEN SKIZOFRENIA DITINJAU DARI KEDOKTERAN

2.1.

Sejarah Psikofarmaka Sejarah perkembangan terapi organik dalam psikiatri dimulai sejak

pertengahan tahun 1800-an sampai sekarang, walaupun pada tahun 1960 kumpulan obat psikiatrik pada dasarnya sudah diketahui, tetapi terapi organik seperti terapi elektrokonvulsif (ECT) yang dipelopori oleh Ugo Cerletti dan Licio Bini, terapi koma insulin dikembangkan oleh Manfreud Sakel, dan bedah psiko (psiko surgery) diperkenalkan oleh Antonio Egas Moniz, semuanya dimulai pada paruh pertama abad ke X dan disebut sebagai revolusi biologis dalam psikiatri (Eight, 2008). Awal tahun 1950-an setelah diperkenalkannya Chlorpromazine (Torazine), obat psikoterapetik yang menjadi terapi psikiatrik khususnya untuk pasien dengan penyakit mental yang serius (Eight, 2008). Di tahun 1949 dokter psikiatrik Australia John Cade menggambarkan terapi untuk luapan manik dengan lithium (eskalith). Sambil melakukan percobaan terhadap binatang, Cade menemukan bahwa lithium karbonat menyebabkan binatang menjadi lethargi, dan mengarahkannya memberikan obat kepada beberapa pasien psikiatrik yang teragitasi yang mendapatkan manfaat terapetik dari obat (Eight, 2008).

Charpenter mensintesis Chlorpromazine (suatu anti psikotik fenotiazine alifatik) pada tahun 1950 dalam usaha untuk mengembangkan suatu obat histaminik yang akan berperan sebagai pelengkap anestetik. Perusahaan obat-obatan melaporkan kemampuan obat untuk menginduksi tidur buatan. Laporan oleh Paraire dan Siguald , John Delay, Piere Deniker, Heinz Lehmann dan Narran menggambarkan efektifitas Chlorpromazine dalam mengobati agitasi parah dan psikosis. Chlorpromazine dengan

cepat diperkenalkan kepada dokter psikiatrik Amerika, dan obat lain dengan efektifitas yang serupa juga disintesis termasuk Haloperidol (haldol) yaitu suatu anti psikotik butyrofenon di tahun 1958 oleh Paul Janssen (Eight, 2008).

2.2.

Definisi Skizofrenia Skizofrenia adalah salah satu jenis psikosis dengan gangguan dasar pada

kepribadian, distorsi khas proses pikir, kadang-kadang ada perasaan bahwa dirinya sedang dikendalikan oleh kekuatan dari luar dirinya, waham yang kadang-kadang aneh, gangguan persepsi, afek abnormal yang tak terpadu dengan situasi sebenarnya dan autisme. Meskipun demikian, kesadaran yang jernih dan kapasitas intelektual biasanya tidak terganggu (Kaplan, 1997).

2.2.1

Etiologi Sampai saat ini etiologi Skizofrenia belum diketahui secara pasti etiologi

Skizofrenia bersifat multifaktorial, yaitu organobiologis, psikoedukatif dan sosial budaya (sosiokultural) yang saling berhubungan satu sama lain (Maramis, 1994).

2.2.2

Faktor Organobiologis Faktor keturunan juga menentukan timbulnya Skizofrenia. Hal ini telah

dibuktikan dengan penelitian tentang keluarga penderita Skizofrenia dan terutama studi anak kembar. Angka kesakitan bagi saudara tiri ialah 0,9-1,8%, bagi saudara kandung 7-15%, bagi anak dengan salah satu orang tua yang menderita Skizofrenia 716%, bila kedua orang tua menderita Skizofrenia 40-68%, bayi kembar dua telur 215%, bayi kembar satu telur 61-86% (Maramis, 1994).

Skizofrenia merupakan gangguan yang bentuk transmisinya bukan berpola Mendelian tetapi diduga berbentuk multifaktorial-poligenik yaitu selain terdapat kontribusi berbagai faktor lingkungan seperti faktor pranatal, perinatal dan pascanatal, terdapat pula penumpukan lebih dari dua gen. Gen yang diduga menimbulkan Skizofrenia dapat mengkode reseptor neurotransmitter, enzim, neuromodulator dan gen yang bertanggung jawab untuk perkembangan neuron. Saat ini ada usaha menggunakan metode penelitian yang lebih canggih, misalnya dengan metode genetik molekuler. Salah satu strategi penelitian yang digunakan yaitu linkage analysis. Karena Skizofrenia merupakan penyakit yang kompleks, deteksi gen atau penentuan lokasi kromosom secara tepat sulit dipastikan. Oleh karena itu, penelitian replikasi perlu dilakukan. Diharapkan suatu hari, tehnik molekuler genetik dapat menentukan gen Skizofrenia sehingga dapat memperbaiki dan menghasilkan pengetahuan yang tepat mengenai patogenesis Skizofrenia (Amir, 1998). Faktor organobiologis yang dapat menyebabkan terjadinya Skizofrenia adalah sebagai berikut; 1. Endokrin Skizofrenia diduga disebabkan oleh suatu gangguan endokrin. Teori ini dikemukakan karena Skizofrenia sering timbul pada waktu pubertas, waktu kehamilan atau puerpuerium dan waktu klimaterium. Tetapi hal ini perlu penelitian lebih lanjut (Maramis, 1994). 2. Metabolisme Ada orang yang menyangka bahwa Skizofrenia disebabkan oleh suatu gangguan metabolisme karena penderita dengan Skizofrenia tampak pucat dan tidak sehat, ujung ekstremitas agak sianotis, nafsu makan berkurang dan berat

badan menurun. Mungkin Skizofrenia disebabkan oleh suatu inborn error of metabolism, tetapi hubungan terakhir belum ditemukan (Maramis, 1994). Belakangan ini teori metabolisme mendapat perhatian lagi berhubung dengan penelitian memakai obat halusinogenik, seperti Meskalin dan Asam Lisergik Diethilamide (LSD-25). Obat-obat ini dapat menimbulkan gejala-gejala yang mirip dengan Skizofrenia tetapi reversibel. Mungkin Skizofrenia disebabkan oleh suatu inborn error of metabolism, tetapi hubungan terakhir belum ditemukan (Maramis, 1994). 3. Susunan Saraf Pusat Walaupun telah banyak penelitian yang membuktikan adanya kelainan anatomi, fungsi dan neurokimia otak pada penderita Skizofrenia, diagnosis Skizofrenia sampai saat ini masih tetap berdasarkan manifestasi klinik. Hal ini disebabkan oleh karena tidak satupun dari kelainan otak tersebut yang patognomonik untuk Skizofrenia Walaupun demikian, adanya kelainan otak pada penderita Skizofrenia tidak dapat dibantah lagi (Maramis, 1994). Telah banyak para peneliti yang melaporkan adanya lesi di berbagai regio otak Skizofrenia seperti di korteks serebri yaitu korteks frontal, ganglia basalis dan sistem limbik. Kelainan pada korteks frontal berupa pengurangan jumlah sel-sel piramid dan sel interneuron, pada ganglia basalis ditemukan penurunan volume globus palidus dan substansia nigra sedangkan pada sistem Limbik didapatkan adanya penurunan volume jaringan hipokampus dan parahipokampus serta kelainan susunan sitoarsitektur pada daerah parahipokampus penderita Skizofrenia (Maramis, 1994). Pada penderita Skizofrenia juga terdapat pelebaran sulkus dan fisura korteks serebri. Kelainan ini menunjukkan pengurangan volume gyrus korteks. Diduga

bahwa pelebaran sulkus merupakan kelainan genetik, karena tidak didapatkan hubungan antara pelebaran sulkus dan fisura dengan umur dan lama sakit (Maramis, 1994). 4. Kelainan Neurofisiologis Dengan PET (Positron Emission Tomography), terlihat adanya hipofrontalitas yaitu terdapat penurunan aliran darah otak ke regio frontal. Hipofrontalitas berhubungan dengan penurunan aktivitas dopamin dan fungsi kognitif. Dengan pemberian agonis dopamin, hipofrontalitas dan fungsi kognitif dapat diperbaiki (Maramis, 1994). 5. Kelainan Neuro kimia Suatu kelompok neurotransmiter terdiri dari dopamin, norepinefrin, epinefrin, serotonin, asetilkholin dan histamin. Dopamin, norepinefrin dan epinefrin disintesis dari asam amino yang sama,tirosin,dan diklasifikasikan dalam satu

kelompok sebagai katekolamin.Serotonin disintesis dari asam amino triptofan dan merupakan satu-satunya indolamin dalam kelompok itu.Serotonin juga dikenal sebagai 5-hidroksitriptamin(5-HT) (Liza, 2009). Sampai tahun 1959, dopamine belum dianggap sebagi neurotransmitter di dalam sistem saraf pusat melainkan sebagai precursor norepinephrin. Lima sistem atau alur penting dopaminergik telah diketahui pada otak. Sistem pertama yang paling terkait dengan perilaku adalah mesolimbi-mesokortikal, yang berawal dari badan-badan sel dekat substantia nigra menuju sistem limbic dan neokorteks. Sistem yang kedua yaitu alur nigrostriatal terdiri dari neuron-neuron yang berawal dari substantia nigra ke nucleus kaudatus dan putamen; yang berperan dalam koordinasi pergerakan dibawah kesadaran. Sistem ketiga,yaitu sistem

tuberoinfundibuler menghubungkan nukelus arkuatus dan neuron preventrikuler ke

hipotalamus dan pituitary posterior. Dopamine yang dirilis oleh neuron-neuron ini secara fisiologis menghambat sekresi prolactin. Sistem dopaminergik keempat yaitu alur medulari-periventrikuler terdiri dari neuron-neuron di nucleus dari vagus yang proyeksi tidak diterangkan dengan jelas. Sistem ini mungkin berperan dalam perilaku makan. Sistem kelima yaitu alur insertohipotalamus membentuk hubungan didalam hipotalamus dan dengan nucleus septum lateralis. Fungsinya belum diketahui. Penurunan aktifitas dopamin pada sistem-sistem ini dikaitkan dengan gangguan pada pasien Schizophren (Mubarak, 2008).

2.2.3

Faktor Psikoedukatif Teori Adolf Meyer: Skizofrenia tidak disebabkan oleh suatu penyakit badaniah,

sebab dari dahulu hingga sekarang para sarjana tidak dapat menemukan kelainan patologi-anatomis atau fisiologis yang khas pada susunan saraf. Sebaliknya Meyer mengakui suatu konstitusi yang inferior atau penyakit badaniah dapat mempengaruhi timbulnya Skizofrenia. Menurut Meyer Skizofrenia merupakan suatu reaksi yang salah, suatu maladaptasi. Oleh karena itu timbul suatu disorganisasi kepribadian dan lama-kelamaan orang itu menjauhkan diri dari kenyataan (autisme). Hipotesa Meyer ini kemudian memperoleh banyak penganut di Amenika Serikat dan memakai istilah Reaksi Skizofrenia(Meyer,1906) Teori Sigmund Freud: juga termasuk teori psikogenik. Bila kita memakai formula Freud, maka pada Skizofrenia terdapat: kelemahan ego, yang dapat timbul karena penyebab psikogenik ataupun somatik. Superego dikesampingkan tidak bertenaga lagi dan Id yang berkuasa serta terjadi suatu regresi ke fase narsisisme. Kehilangan kapasitas untuk pemindahan (tranference) sehingga terapi psikoanalitik tidak mungkin (Meyer,1906)

10

2.2.4

Faktor Sosiokultural Beberapa ahli teori telah menyatakan bahwa industrialisasi dan urbanisasi

dapat menjadi penyebab Skizofrenia. Walaupun beberapa data mendukung teori tersebut, stres sekarang dianggap menimbulkan efek utamanya dalam menentukan waktu onset dan keparahan penyakit (Kaplan, 1997).

2.3

Gambaran Klinis Skizofrenia Definisi dan batasan tentang Skizofrenia tidaklah sama pada berbagai literatur.

Tergantung pada gejala klinis yang menonjol, Skizofrenia dibedakan atas tipe paranoid, katatonik, disorganized, undifferentiated dan residual. Klasifikasi yang lain menambahkan tipe simpleks, tipe tak tergolongkan, depresi pasca Skizofrenia dan tipe lainnya (Depkes, 1993). Gambaran klinis Skizofrenia seringkali didahului oleh gejala dan tanda pramorbid (sebelum sakit), kemudian diikuti oleh fase penyakit berupa gejala prodromal, fase aktif dan fase residual. Gejala pramorbid dapat berupa kepribadian skizoid, skizotipal, paranoid atau ambang, dengan ciri-ciri pencuriga, tertutup, banyak diam, pasif, eksentrik, mempunyai sedikit sekali atau tidak ada teman akrab, atau menarik diri dari pergaulan sekitarnya (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, 1994). Gejala prodromal dapat berlangsung beberapa minggu sampai beberapa tahun sebelum gejala-gejala tersebut cukup untuk didiagnosis sebagai psikotik Skizofrenia. Gejalanya dapat berupa kehilangan minat terhadap sekolah atau pekerjaannya, menarik diri dari kehidupan sosial, hendaya dalam hygiene diri dan dalam berpakaian, tingkah

11

laku yang aneh, gangguan dalam berkomunikasi, afek yang tumpul atau tak serasi, ide yang aneh, penghayatan dan persepsi yang tak lazim (Maisarah, 1997) Gejala fase aktif, menonjolnya gejala-gejala psikotik seperti waham, halusinasi, perilaku dan pola pikir yang kacau dan aneh, alam perasaan yang tumpul, mendatar atau tidak wajar (Depkes, 1983). Fase residual, merupakan sisa dari gejala-gejala fase aktif, jadi tidak ada lagi gejala-gejala fase aktif yang menonjol dan lebih sering didapatkan gejala-gejala negatif (Depkes, 1993). Pada perjalanan penyakit terutama pada fase aktif kemungkinan didapatkan gangguan perilaku seksual berupa penurunan libido seksual pada penderita Skizofrenia yang didominasi oleh gejala negatif. Hal ini dari segi neuroendokrinologi dapat diterangkan bahwa penderita Skizofrenia yang didominasi oleh gejala negatif tersebut didapatkan kadar dopamin yang rendah sedangkan sebaliknya pada penderita yang didominasi oleh gejala positif, didapatkan kadar dopamin yang tinggi. Kadar dopamin yang rendah tersebut menyebabkan sekresi prolaktin meningkat, kadar prolaktin yang meningkat dalam darah akan menginhibisi sekresi hormon hormon seksual dan libido (Van Kammen and Marder, 1995). Gejala-gejala di atas menyebabkan penderita mempunyai hendaya dalam menilai diri dan realitas sekitarnya. Hendaya ini menyebabkan gangguan dan ketidakmampuan dalam melakukan fungsi penting dalam kehidupannya seperti fungsi pekerjaan, merawat diri dan membina relasi sosial (Maisarah, 1997).

2.4

Kriteria Diagnostik Berdasarkan kriteria dari DSM IV adalah sebagai berikut:

12

A. Paling sedikit terdapat satu dari beberapa kriteria dibawah ini selama suatu fase penyakit: Waham yang aneh (isi nya jelas tak masuk akal, dan tidak berdasarkan kenyataan), seperti waham dikendalikan oleh suatu kekuatan luar (delucion of being controlled), penyiaran pikiran (thought broadcasting), penyisipan pikiran (thought insertion), penyedotan pikiran (thought

withdrawal). Waham somatik, kebesaran, agama, nihilistik, atau waham lainnya yang bukan waham kejar atau cemburu. Waham kejar atau cemburu yang disertai halusinasi dalam bentuk apapun. Halusinasi dengar yang dapat berupa suara yang selalu memberi komentar tentang tingkah laku atau pikirannya atau dua atau lebih suara yang saling bercakap cakap. Inkoherensi, kelonggaran asosiasi pikiran yang jelas, jalan pikiran yang tidak masuk akal, atau kemiskinan pembicaraan yang disertai oleh paling sedikit satu dan yang disebut dibawah ini: Afek yang tumpul, mendatar, atau tidak serasi (inappropriate), Berbagai waham atau halusinasi, Katatonia atau tingkah laku lainnya yang sangat kacau (disorganized) B. Deteriorasi dari taraf fungsi penyesuaian sebelumnya dalam bidang pekerjaan, hubungan sosial dan perawatan dirinya C. Jangka waktu: Gejala penyakit itu berlangsung secara terus menerus selama paling sedikit satu bulan dalam suatu periode didalam kehidupan seseorang, disertai dengan terdapatnya beberapa gejala penyakitnya pada saat diperiksa sekarang. Masa satu bulan itu harus mencakup fase aktif dimana terdapat gejala pada kriteria A, dengan atau tanpa fase prodormal atau terdapatnya gejalagejala seperti Penarikan diri atau isolasi dari hubungan sosial

13

Hendaya (impairment) yang nyata dalam fungsi peran sebagai pencari nafkah, siswal/mahasiswa, atau pengatur rumah tangga Tingkah laku aneh yang nyata (seperti mengumpulkan sampah, berbicara sendiri di tempat umum, menimbun makanan) Hendaya yang nyata dalam higiene diri dan berpakaian Afek yang tumpul, mendatar atau tak serasi (inappropriate) Pembicaraan yang melantur (digressive), kabur, berbelit, sirkumstansial, atau metaforik (perumpamaan) ide (gagasan) yang aneh atau tak lazim, atau pikiran magik, seperti takhayu1, clairvoyance, telepati, indra keenam, orang lain dapat merasakan perasaannya, ide-ide yang berlebihan, gagasan mirip waham yang menyangkut diri sendiri Penghayatan persepsi yang tak lazim, seperti ilusi yang selalu berulang, merasa hadirnya suatu kekuatan atau seseorang yang sebenarnya tidak ada. D. Apabila terdapat gejala lengkap dari sindrom manik atau depresif, gejala itu berkembang setelah ada gejala psikotik apapun dari kritenia A, atau berjangka waktu relatif lebih pendek dari jangka waktu gejala psikotik pada kriteria A E. Onset fase prodromal atau fase aktif dari penyakitnya timbul sebelum usia 45 tahun F. Tidak disebabkan oleh Gangguan Mental Organik atau Retardasi Mental (Kaplan, 1997). 2.5 Perjalanan Penyakit dan Prognosis Perjalanan penyakit Skizofrenia yang paling sering adalah bersifat fluktuasi antara eksaserbasi dan remisi, namun jarang mencapai kembali ke fungsi semula.

14

Prognosis penyakit ini berbeda antara berbagai kepustakaan karena bedanya definisi atau batasan yang dipakai (Depkes, 1993). Angka penyembuhan dari Skizofrenia dilaporkan 10-60% dan semua penderita Skizofrenia mampu menjalani kehidupan normal. Kira-kira 20-30% akan selalu mengalami hendaya dalam semua aspek kehidupannya (Maisarah, 1997).

2.6

Terapi pada Skizofrenia Mengingat etiologi Skizofrenia yang kompleks maka pendekatan dalam

penatalaksanaan Skizofrenia bersift eklektik holistik yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidupnya dengan menjunjung tinggi bahwa manusia harus dipandang sebagai suatu kesatuan yang paripurna (Maramis, 1994). 2.6.1 Terapi Organobiologis Ada 2 macam cara: 1. Fisik, yaitu dengan Terapi Elektrokonfulsi (Terapi kejang listrik) Mekanisme kerja elektrokonfulsi belum diketahui dengan jelas. Dapat dikatakan bahwa terapi elektrokonfusi dapat memperpendek serangan Skizofrenia dan mempermudah kontak dengan penderita Akan tetapi terapi ini tidak dapat mencegah serangan yang akan datang (Maramis, 1994). 2. Kimia, yaitu dengan obat-obat Neuroleptik (Antipsikosis) Mekanisme kerja obat antipsikosis adalah memblokade Dopamine pada reseptor pasca sinaptik neuron di otak, khususnya di sistem limbik dan ekstrapiramidal (Dopamine D2 receptor antagonists). Obat Antipsikosis yang baru (misalnya Risperidone) disamping berafinitas terhadap Dopamine D2 receptors juga terhadap Serotonin 5 H12 Receptors (Maslim, 1997). Gejala sasaran obat Antipsikosis adalah pada hendaya berat dalam kemampuan

15

menilai realitas, hendaya berat dalam fungsi-fungsi mental, hendaya berat dalam fungsi sosial kehidupan sehari-hari. Pada umumnya pemberian obat antipsikosis sebaiknya dipertahankan selama 3 bulan sampai I tahun setelah semua gejala psikosis mereda sama sekali. Untuk pasien dengan serangan sindrom psikosis yang multiepisode, terapi pemeliharaan (maintenance) diberikan paling sedikit lima tahun. Pemberian yang cukup lama ini dapat menurunkan derajat kekambuhan 2,5-5 kali (Maslim, 1997).

2.6.2

Terapi Psikoedukatif Jenis psikoterapi yang dapat membantu dan menambah efek farmakologis

adalah psikoterapi yang bersifat individual. Psikoterapi individual diantaranya adalah : psikoterapi suportif, behavior (perilaku), kognitif, termasuk reedukasi, rekonstruksi kepribadian serta berbagai pelatihan dan conditioning (pembiasaan) perilaku (Kaplan, 1997).

2.6.3

Terapi Sosiokultural Pada terapi yang berorientasi pada aspek sosial budaya, keluarga merupakan

lingkungan terdekat dengan pasien dalam arti pekembangan psikoedukasi maupun panutan kultur dari pasien sebagian besar dibentuk dalam dan oleh lingkungan keluarga. Oleh karena itu dalam penatalaksanaan terhadap pasien Skizofrenia. keluarga harus diikutsertakan. Keluarga merupakan faktor yang sangat berpengaruh, baik sebagai etiologi, atau dalam kekambuhan, perjalanan penyakit maupun prognosis pasien Skizofrenia (Sejahtera, 1994). Sikap keluarga terhadap penderita Skizofrenia dapat diketahui dengan mengukur Ekspresi Emosi (EE) dari keluarga tersebut. Brown dam kawan-kawan menyatakan bahwa pasien yang berasal dari lingkungan keluarga

16

yang mempunyai ekspresi emosi yang tinggi mempunyai risiko kekambuhan lebih besar dibandingkan dengan pasien yang berasal dari lingkungan keluarga yang ekspresi emosinya rendah yaitu 58% : 16% (Sejahtera, 1994). Dari hasil penelitian aspek keluarga dan kekambuhan pada Skizofrenia, maka dianggap perlu untuk memasukan intervensi psikoedukatif pada keluarga dalam pengobatan Skizofrenia. Hal ini dapat menurunkan atau mencegah kekambuhan dan meningkatkan kemampuan adaptasi sosial penderita Skizofrenia (Martono, 1990). Halhal yang harus diperhatikan dalam intervensi tersebut adalah Penderita dalam pengobatan neuroleptika. Infervensi yang dilakukan bersifat singkat (antara 6-25 session). Fokus utama adalah mengurangi kritik dan keterlibatan yang berlebihan dari keluarga. Terapi tidak hanya ditujukan pada masalah penderita tetapi membantu meringankan seluruh beban keluarga (Martono, 1990). Selain itu, perlunya upaya rehabilitasi sebagai usaha untuk mengembalikan pasien ke masyarakat untuk menjadikannya sebagai warga yang swasembada dan berguna seperti dengan memberikan terapi kerja yang merupakan pertimbangan penting dalam pengobatan, dengan memberikan aktivitas yang terapeutik maka akan menolong pasien memulihkan, meningkatkan kembali daya konsentrasi, kemampuan komunikasi, daya ingat, kemauan dan fungsi kepribadian lainnya (Martono, 1990).

2.7

Mekanisme kerja Antipsikotik dan Manfaat Klinis

17

Antipsikotik adalah antagonis dopamin dan menyekat reseptor dopamin di berbagai jaras di otak. Antipsikotik atipikal juga meningkatkan keefektifan serotonin (Widjaja, 2001). Semua obat anti psikosis pada dasarnya mempunyai efek primer (efek klinis) yang sama pada dosis ekivalen, perbedaan utama pada efek sekunder (efek samping: sedasi, otonomik, ekstrapiramidal). Pemilihan jenis antipsikosis mempertimbangkan gejala psikosis yang dominan dan efek samping obat. Pergantian disesuaikan dengan dosis ekivalen. Apabila obat antipsikosis tertentu tidak memberikan respons klinis dalam dosis yang sudah optimal setelah jangka waktu yang tepat, dapat diganti dengan obat antipsikosis lain (sebaiknya dan golongan yang tidak sama) dengan dosis ekivalennya. Apabila dalam riwayat penggunaan obat antipsikosis sebelumnya sudah terbukti efektif dan efek sampingnya ditolerir baik, maka dapat dipilih kembali untuk pemakaian sekarang. Bila gejala negatif lebih menonjol dari gejala positif pilihannya adalah obat antipsikosis atipikal. Sebaiknya bila gejala positif lebih menonjol dibandingkan gejala negatif pilihannya adalah tipikal. Begitu juga pasien-pasien dengan efek samping ekstrapiramidal pilihan kita adalah jenis atipikal. Obat

antipsikotik yang beredar dipasaran dapat dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu anti psikotik generasi pertama (APG I) dan antipsikotik generasi ke dua (APG II) (Widjaja, 2001). APG I bekerja dengan memblok reseptor D2 di mesolimbik, mesokortikal, nigostriatal dan tuberoinfundibular sehingga dengan cepat menurunkan gejala positif tetapi pemakaian lama dapat memberikan efek samping berupa: gangguan ekstrapiramidal, tardive dyskinesia, peningkatan kadar prolaktin yang akan menyebabkan disfungsi seksual/peningkatan berat badan dan memperberat gejala negatif maupun kognitif. Selain itu APG I menimbulkan efek samping antikolinergik

18

seperti mulut kering pandangan kabur gangguan miksi, gangguan defekasi dan hipotensi. APG I dapat dibagi lagi menjadi potensi tinggi bila dosis yang digunakan kurang atau sama dengan 10mg diantaranya adalah trifluoperazine, Haloperidol dan pimozide. Obat-obat ini digunakan untuk mengatasi sindrom psikosis dengan gejala dominan apatis, menarik diri, hipoaktif, waham dan halusinasi. Potensi rendah bila dosisnya lebih dari 50mg diantaranya adalah Chlorpomazine dan thioridazine digunakan pada penderita dengan gejala dominan gaduh gelisah, hiperaktif dan sulit tidur. APG II sering disebut bekerja pada serotonin dan dopamin pada ke empat jalur dopamin di otak yang menyebabkan rendahnya efek samping extrapiramidal dan sangat efektif mengatasi gejala negatif. Obat yang tersedia untuk golongan ini adalah Clozapine, Olanzapine, Quetiapine dan Risperidon (Widjaja, 2001). Penggunaan utama antipsikotik untuk Skizofrenia, sindrom otak organik dengan psikosis. Obat ini juga berguna untuk pasien yang mengalami ansietas berat namun bagi pasien yang menyalahgunakan obat karena Benzodiazepin dikontra indikasikan bagi mereka (Widjaja, 2001).

2.8 2.8.1

Chlorpromazine dan Derivat Kimia

Chlorpromazine (CPZ) adalah 2-klor-N- (dimetil-aminopropil)- fenotiazin. Derivat fenotiazin lain didapat dengan cara substitusi pada tempat 2 dan 10 inti fenotiazin (Sulistia G, 1995).

19

2.8.2

Farmakodinamik. CPZ (Largactil) berefek farmakodinamik sangat luas. Largactil diambil dari

kata large action (Sulistia G, 1995).

a).

Susunan Saraf Pusat.

CPZ menimbulkan efek sedasi yang disertai sikap acuh tak acuh terhadap rangsang dan lingkungan. Pada pemakaian lama dapat timbul toleransi terhadap efek sedasi. Timbulnya sedasi amat tergantung dari status emosional penderita sebelum minum obat.

Chlorpromazine berefek antipsikosis terlepas dari efek sedasinya. Refleks terkondisi yang diajarkan pada tikus hilang oleh CPZ. Pada manusia kepandaian pekerjaan tangan yang memerlukan kecekatan dan daya pemikiran berkurang. Aktivitas motorik diganggu antara lain terlihat sebagai efek kataleptik pada tikus. CPZ menimbulkan efek menenangkan pada hewan buas. Efek in juga dimiliki oleh obat lain, misalnya Barbiturat, Narkotik, Meprobamat, atau Klordiazepoksid.

Berbeda dengan barbiturat, CPZ tidak dapat mencegah timbulnya konvulsi akibat rangsang listrik maupun rangsang oleh obat. Semua derivat fenotiazin mempengaruhi ganglia basal, Sehingga menimbulkan gejala parkinsonisme (efek ekstrapiramidal).

Chlorpromazine dapat mengurangi atau mencegah muntah yang disebabkan oleh rangsangan pada chemoreceptor trigger zone. Muntah yang disebabkan oleh kelainan saluran cerna atau vestibuler, kurang

20

dipengaruhi, tetapi fenotiazin potensi tinggi, dapat berguna untuk keadaan tersebut.

Fenotiazin terutama yang potensinya rendah menurunkan ambang bangkitan sehingga penggunaannya pada pasien epilepsi harus sangat berhati-hati. Derivat piperazin dapat digunakan secara aman pada penderita epilepsi bila dosis diberikan bertahap dan bersama anti konvulsan (Sulistia G, 1995).

b).

Neurologik Pada dosis berlebihan, semua derivat fenotiazin dapat menyebabkan gejala

ekstrapiramidal serupa dengan yang terlihat pada parkinsonisme (Sulistia G, 1995). Dikenal 6 gejala sindrom neurologik yang karakteristik dari obat ini. Empat di antaranya biasa terjadi sewaktu obat diminum, yaitu distonia akut, akatisia, parkinsonisme dan sindrom neuroleptik malignant yang terakhir jarang terjadi. Dua sindrom yang lain terjadi setelah pengobatan berbulan-bulan sampai bertahun-tahun, berupa tremor perioral (jarang) dan diskinesia tardif (Sulistia G, 1995).

c).

Otot Rangka Chlorpromazine dapat menimbulkan relaksasi otot skelet yang berada dalam

keadaan spastik. Cara kerja relaksasi ini diduga bersitaf sentral, sebab sambungan saraf-otot dan medula spinalis tidak dipengaruhi CPZ (Sulistia G, 1995).

d)

Endokrin

21

CPZ menghambat ovulasi dan menstruasi. CPZ juga menghambat sekresi ACTH. Efek terhadap sistem endokrin ini terjadi berdasarkan efeknya terhadap hipotalamus (Sulistia G, 1995). Semua fenotiazin, kecuali Klozapin menimbulkan hiperprolaktinemia lewat penghambatan efek sentral dopamin.

e).

Kardiovaskular CPZ dapat menimbulkan hipotensi berdasarkan beberapa hal, yaitu: (1) refleks

presor yang penting untuk mempertahankan tekanan darah dihambat oleh CPZ; (2) CPZ berefek bloker; dan (3) CPZ menimbulkan efek inotropik negatif pada jantung. Toleransi dapat timbul terhadap efek hipotensif CPZ. Efek samping hipotermia dapat digunakan pada terapi hibernasi. Efek antikolinergik berupa takikardia, mulut dan tenggorok kering, sering terjadi pada pemberian fenotiazin. Perlu digunakan berhatihati pada penderita glaukoma dan hipertrofi prostat (Sulistia G, 1995)

2.8.3

Farmakokinetik Pada umumnya semua fenotiazin diabsorpsi dengan baik bila diberikan per oral

maupun parenteral. Penyebaran luas ke semua jaringan dengan kadar tertinggi di paruparu, hati, kelenjar suprarenal dan limpa. Sebagian fenotiazin mengalami hidroksilasi dan konyugasi, sebagian lain diubah menjadi sulfoksid yang kemudian diekskresi bersama feses dan urin. Setelah pemberian CPZ dosis besar, maka masih ditemukan ekskresi CPZ atau metabolitnya selama 6-12 bulan (Sulistia G, 1995).

2.8.4.

Indikasi.

22

Indikasi utama fenotiazin ialah Skizofrenia yang adalah gangguan psikosis yang tersering ditemukan. Gejala psikotik yang dipengaruhi secara baik oleh fenotiazin dan antipsikosis lain ialah ketegangan, hiperaktivitas, combativeness, hostality, halusinasi, delusi akut, susah tidur, anoreksia, perhatian diri yang buruk, negativisme dan kadang-kadang mengatasi sifat menarik diri. Pengaruhnya terhadap insight, judgement, daya ingat dan orientasi kurang. Pemberian antipsikotik sangat memudahkan perawatan pasien. Walaupun antipsikosis sangat bermanfaat untuk mengatasi gejala psikosis akut, namun penggunaan antipsikosis saja tidak mencukupi untuk merawat pasien psikotik. Perawatan, perlindungan, dan dukungan mentalspiritual terhadap pasien sangatlah penting (Sulistia G, 1995). Semua antipsikosis kecuali mesoridazin, molindon, tioridazin dan klozapin mempunyai efek antiemetik (Sulistia G, 1995). Chlorpromazine merupakan obat terpilih untuk menghilangkan hiccup. Obat ini hanya diberikan pada hiccup yang berlangsung berhari-hari sangat mengganggu. Penyebab hiccup seringkali tidak dapat ditemukan, tetapi nervositas dan kelainan di esofagus atau lambung mungkin merupakan kausanya. Dalam hal yang terakhir, terapi kausal harus dilakukan (Sulistia G, 1995).

2.8.4

Efek Samping Batas keamanan CPZ cukup lebar, sehingga obat ini cukup aman. Efek

samping umumnya merupakan perluasan efek farmakodinamiknya. Gejala idiosinkrasi mungkin timbul, berupa ikterus, dermatitis dan leukopenia. Reaksi ini disertai eosinofilia dalam darah perifer (Sulistia G, 1995).

23

Efek Samping lainnya yaitu gejala ekstrapiramidal serupa dengan yang terlihat pada parkinsonisme, mengantuk, apatis, pucat, bermimpi buruk, insomnia, depresi, agitasi, perubahan emosi, kejang , mulut kering, hidung tersumbat, konstipasi, kesulitan buang air kecil, pandangan kabur, hipotermia, namun kadang kadang panas, hipotensi, takikardia, aritmia, terjadi perubahan EKG, gangguan menstruasi dan menghambat ovulasi, galaktore, ginekomastia, impotensi, perubahan berat badan, Agranulositosis, Leukopenia, Leukositosis, Anemia Hemolitik, perubahan fungsi hati, sindrom yang menyerupai Lupus Eritematosis ( Liza, 2009). Efek samping dari Chlorpromazin lainnya seperti nyeri tenggorok atau demam, pandangan kabur, midriasis, disorientasi terhadap waktu,orang dan tempat, halusinasi, kejang, demam tinggi, dilatasi pupil,Stupor dan koma, menurunnya libido, erupsi kulit, urtikaria, makulopapular, petekie,dermatitis alergik dan fotosensitivitas (Kaplan, 1997).

2..8.6 Sediaan Clorpromazine tersedia dalam bentuk tablet 25 mg,100 mg serta larutan suntik 25 mg/ml. Larutan CPZ dapat berubah warna menjadi merah jambu oleh pengaruh cahaya (Sulistia G, 1995). Perfenazin tersedia sebagai tablet 2 dan 4 mg. Tioridazin tersedia dalam bentuk tablet 25 mg dan 100mg. Flufenazin tersedia dalam bentuk tablet 1 mg. Masa kerja flufenazin cukup lama, sampai 24 jam (Sulistia G, 1995).

2.9 2.9.1

Haloperidol Kimia

24

Haloperidol

adalah

4-[4-(-chlorophenyl)-4-hydroxy

1-piperidyl]-1-(4-

fluorophenyl)-butan-1-one.

2.9.2

Farmadinamik Struktur Haloperidol berbeda dengan fenotiazin, tetapi butirofenon

memperlihatkan banyak sifat farmakologi fenotiazin. Pada orang normal, efek Haloperidol mirip fenotiazin piperazin. Haloperidol memperlihatkan antipsikotik yang kuat dan efektif untuk fase mania penyakit manik depresif dan Skizofrenia. Efek fenotiazin piperazin dan butirofenon berbeda secara kuantitatif karena butirofenon selain menghambat efek dopamin, juga meningkatkan turn over ratenya G, 1995). (Sulistia

a.

Susunan Saraf Pusat. Haloperidol menenangkan dan menyebabkan tidur pada orang yang mengalami eksitasi. Efek sedatif Haloperidol kurang kuat dibanding dengan CPZ, sedangkan efek Haloperidol terhadap EEG menyerupai CPZ yakni memperlambat dan menghambat jumlah gelombang teta. Haloperidol dan CPZ sama kuat menurunkan ambang rangsang konvulsif. Haloperidol menghambat sistem dopamin di hipotalamus, juga menghambat muntah yang ditimbulkan oleh apomortin (Sulistia G, 1995).

25

b.

Sistem Saraf Otonom Efek Haloperidol terhadap sistem saraf otonom lebih kecil daripada efek antipskotik lain; walaupun demikian Haloperidol dapat menyebabkan pandangan kabur (blurring of vision). Obat ini menghambat aktivasi reseptor yang disebabkan oleh amin simpatomimetik. tetapi hambatannya tidak sekuat hambatan CPZ 1995). Sistem kardiovaskular dan respirasi. Haloperidol menyebabkan hipotensi, tetapi tidak sesering dan sehebat akibat CPZ. Haloperidol menyebabkan takikardia meskipun kelainan EKG belum pernah dilaporkan. Chlorpromazine atau Haloperidol dapat menimbulkan potensiasi dengan obat penghambat respirasi (Sulistia G, 1995). (Sulistia G,

2.9.3

Farmakokinetik Haloperidol cepat diserap dari saluran cerna. Kadar puncaknya dalam plasma

tercapai dalam waktu 2-6 jam sejak menelan obat, menetap sampai 72 jam dan masih dapat ditemukan dalam plasma sampai berminggu-minggu. Obat ini ditimbun dalam hati dan kira-kira 1% dari dosis yang diberikan diekskresi melalui empedu. Ekskresi Haloperidol lambat melalui ginjal, kira-kira 40% obat dikeluarkan selama 5 hari sesudah pemberian dosis tunggal (Sulistia G, 1995).

2.9.4

Indikasi Indikasi utama Haloperidol ialah untuk psikosis. Butirofenon dapat juga

digunakan sebagai obat pilihan untuk mengobati sindrom Gilles de la Tourette, suatu kelainan neurologik yang aneh yang ditandai dengan kejang otot hebat, menyeringai (grimacing) dan explosive utterances of foul expletives (coprolalia, mengeluarkan katakata jorok)disebut juga hiperkinetik child (Sulistia G, 1995).

26

2.9.5

Efek Samping Haloperidol menimbulkan reaksi ekstrapiramidal dengan insidens yang tinggi,

terutama pada penderita usia muda. Pengobatan dengan Haloperidol harus dimulai dengan hati-hati. Dapat tenjadi depresi akibat reversi keadaan mania atau sebagai efek samping yang sebenarnya. Perubahan hematologik ringan dan selintas dapat terjadi, tetapi hanya leukopenia dan agranulositosis sering dilaporkan. Frekuensi kejadian ikterus akibat Haloperidol rendah. Haloperidol sebaiknya tidak diberikan pada wanita hamil sampai terdapat bukti bahwa obat ini tidak menimbulkan efek teratogenik (Sulistia G, 1995). Efek samping Haloperidol berbeda pada berbagai tingkatan usia. Efek samping yang sering terjadi pada anak-anak adalah efek piramidal. Sementara itu, pada pasien usia lanjut efek samping yang sering muncul adalah efek ekstrapiramidal dan hipotensi ortostatik (Prima, 2008). Gerakan involunter seperti Distonia, akathisia, tardive dyskinesia juga bias timbul akibat pengobatan dari Haloperidol tersebut (Kaplan,1997).

2.9.6. Sediaan Haloperidol tersedia dalam haldol dan govotil sediaan tablet 2 mg dan 5 mg serta larutan suntik lodomer 5 mg/ml, injeksi sebagai dekanoat 50 mg/ml. Paparan sinar matahari dapat menghilangkan warna dan menyebabkan endapan berwarna merah ataupun abu- abu setelah beberapa minggu (Sulistia G, 1995).

2.10

Mekanisme kerja Haloperidol dan Chlorpromazine

27

Walaupun semua obat antipsikosis efektif menyekat reseptor D2, kekuatan penyekatan yang berkaitan dengan daya kerja lain reseptor tersebut berbeda pada masing-masing obat. Sejumlah eksperimen terhadap ikatan reseptor- ligan telah dilakukan untuk menemukan satu kerja reseptor yang dapat memprediksi efikasi obatobat antipsikosis. Misalnya, studi invitro tentang ikatan menunjukkan bahwa Chlorpromazine ternyata lebih efektif dalam menyekat -1-adrenoseptor dari pada reseptor D2 . kedua unsur tersebut juga relatif kuat menyakat reseptor 5-HT2 . bagaimanapun juga, afinitas reseptor D1, sebagaimana diukur dengan penggantian ligan D1, selektif, SCH23390 relatif lemah. Haloperidol bekerja lebih banyak pada reseptor D2; dan memberikan efek terhadap 5-HT2 dan reseptor -1, tetapi tak begitu berpengaruh terhadap reseptor D1. phymozide bekerja secara ekslusif pada reseptor D2. clozaphine antipsikosis atipikal, yang menujukkan perbedaan klinis yang jelas dari yang lainnya, lebih mengikat D4 , 5-HT2, -1, dan reseptor histamine H1,daripada reseptor D2 dan D1. Risperidone hampir sama kuatnya dalam menyakat D2 dan reseptor 5-HT2. Obat yang baru-baru ini diperkenalkan, olanzapine, ternyata lebih poten sebagai antagonis reseptor 5-HT2, dengan potensi yang lebih sedikit dan hampir sama pada reseptor D1,D2,dan -1. sedangkan serpindole lebih poten sebagai antagonis 5-HT2 dan relatif poten sebagai antagonis D2 dan -1. Kesimpulan yang sederhana dari eksperimen tersebut : Chlorpromazine 1 = 5-HT2 > D2 > D1 Haloperidol : D2 > D1 = D4 > 1 > 5-HT2 Dari penjelasan diatas, tampak bahwa pengikatan reseptor D1, tersebut paling sedikit kemungkinannya untuk diprediksi manfaat klinisnya, tetapi afinitas reseptor lain yang paling sulit untuk diinterpretasi. Penelitian baru-baru ini dilakukan untuk mengetahui senyawa antipsikosis atipikal yang lebih selektif terhadap sistem

28

mesolimbik (untuk mengurangi efek-efeknya pada sistem ekstrapiramidal) atau memberi efek pada reseptor neurotransmitter pusat seperti pada asetilkolin dan asam amino eksitatorik yang masih belum diajukan sebagai target kerja obat-obat antipsikosis (Mubarak, 2000).

2.11

Penatalaksanaan pencegahan terhadap efek samping Dalam memilih pertimbangkan gejala psikosis yang dominan dan efek samping

obat, Chlorpromazine yang efek samping sedatifnya kuat terutama digunakan untuk sindrom psikosis dengan gejala dominan gaduh gelisah, hiperaktif, sulit tidur, kekacauan pikiran, perasaan, dan perilaku, dan sebagainya (Mubarak, 2000). Efek Sedasi, terutama merupakan akibat dari penghambatan reseptor dopamine tipe 1. Pada awal pengobatan dengan Chlorpromazine pasien sebaiknya diperingatkan untuk tidak mengemudikan kendaraan dan mengoperasikan mesin.Memberikan dosis antipsikotik harian sebelum tidur menghilangkan masalah dari sedasi (Kaplan,1997). Hipotensi ortostatik, jika akan menggunakan Chlorpromazine Intramuskular (IM), klinis harus mengukur tekanan darah pasien (berbaring dan berdiri) sebelum dan setelah dosis pertama dan selama beberapa hari terapi. Jika diperlukan,pasien harus diperingatkan tentang kemungkinan jatuh pingsan dan harus diberikan instruksi untuk bangun dari tidur perlahan-lahan,duduk pertama kali dengan kaki berjuntai, menunggu beberapa menit,dan duduk atau berbaring jika merasa akan pingsan. Gejala dapat ditangani dengan membaringkan pasien dengan kaki lebih tinggi dibandingkan kepala, kadang-kadang ekspansi volume atau vasopressor seperti norepinefrin (Levophed) dan agen presor adrenergic 1 murni seperti metaraminol (Aramine) adalah obat terpilih untuk gangguan (Kaplan,1997).

29

Efek Hematologis, gangguan hematologis yang membahayakan adalah agranulositosis. Agranulositosis paling sering terjadi selama tiga bulan pertama terapi, jika pasien melaporkan suatu nyeri tenggorok atau demam,hitung darah lengkap harus dilakukan segera untuk memeriksa kemungkinannya.Jika indeks darah adalah rendah,Chlorpromazine harus dihentikan (Kaplan,1997). Efek Antikolinergik perifer, sering ditemukan dan terdiri dari mulut dan hidung kering, pandangan kabur, konstipasi, retensi urine, dan midriasis. Beberapa pasien juga mengalami mual muntah. Untuk mulut kering pasien dapat dianjurkan untuk sering membilas mulutnya dengan air dan tidak mengunyah permen karet atau permen yang mengandung gula, karena hal tersebut dapat menyebabkan infeksi jamur pada mulut atau peningkatan insidensi karies gigi. Konstipasi harus diobati dengan preparat laksatif, dan apabila berkembang menjadi ileus paralitik dianjurkan untuk pemberian Pilocarpine. Bethanechol (Urecholine) 20 sampai 40 mg sehari mungkin berguna pada beberapa pasien dengan retensi urine (Kaplan,1997). Efek Antikolinergik sentral, gejala aktivitasnya adalah agitasi parah; disorientasi terhadap waktu, orang dan tempat; halusinasi, kejang, demam tinggi, dilatasi pupil, Stupor dan koma dapat timbul. Terapi toksisitas antikolinergik adalah dengan menghentikan obat penyebab, pengamatan medis yang ketat dan physostigmine (Antilirium,Eserine), 2 mg melalui infuse IV lambat, diulangi dalam satu jam seperlunya. Terlalu banyak physostigmine adalah hypersalivasi dan berkeringat. Atropine sulfate (0,5 mg) dapat membalikkan efek toksisitas physostigmine (Kaplan,1997). Efek Endokrin, beberapa laporan telah menyatakan bahwa terapi kondisi dengan bromocriptine (Parlodel), atau yohimbin (Yocon) adalah berhasil pada beberapa pasien

30

yang mengalami impotensi,namun tetap dipertimbangkan resiko eksaserbasi (Kaplan,1997). Efek dermatologis, seperti erupsi kulit, urtikaria, makulopapular,

petekie,dermatitis alergik dan fotosensitivitas yang muncul pada awal terapi dan dapat menghilang dengan spontan. Reaksi fotosensitivitas yang menyerupai terbakar mata hari (sunburn) yang parah dapat dicegah dengan memberitahu pasien agar tidak berada di bawah sinar matahari lebih dari 30 sampai 60 menit, dan harus menggunakan tabir surya (sun screen) (Kaplan,1997). Overdosis, terapinya harus termasuk pemakaian arang aktif (activated charcoal), jika mungkin dan lavase lambung. Pemakaian emetic tidak didindikasikan. Kejang, dapat diobati dengan diazepam (Valium) IV atau Phenytoin (Dilantin) (Kaplan,1997). Haloperidol memiliki efek sedative lemah digunakan untuk sindrom psikosis dengan gejala dominan apatis, menarik diri, perasaan tumpul, kehilangan minat dan inisiatif, hipoaktif, waham, halusinasi, dan sebagainya. Pemberian Haloperidol dimulai dengan dosis awal sesuai dengan dosis anjurannya yaitu 1 atau 2mg. Dinaikkan dosisnya 2 sampai 3 hari sampai mencapai dosis efektif (Mulai timbul perbedaan gejala), Dosis per hari yang efektif antara 5-20 mg. Evaluasi dilakukan tiap 2 minggu dan bila perlu dosis dinaikkan, sampai mencapai dosis optimal. Dosis ini dipertahankan sekitar 8-12 minggu (stabilisasi) kemudian diturunkan setiap 2 minggu sampai mencapai dosis pemeliharaan. Dipertahankan 6 bulan sampai 2 tahun (diselingi masa bebas obat 1-2 hari /minggu ). Kemudian tappering off, dosis diturunkan tiap 2-4 minggu dan dihentikan (Mubarak,2000). Distonia, paling sering timbul pada laki-laki muda (kurang dari 40 tahun), diperkirakan merupakan hiperaktivitas dopaminergik di ganglia basalis yang terjadi

31

jika kadar obat dalam system saraf pusat mulai menurun, profilaksis dengan antikolinergik seperti Benztropine 0,5-2 mg 3x sehari;IM atau IV 1-2 mg biasanya mencegah berkembangnya distonia (Kaplan,1997). Akathisia, perasaan subjektif adanya rasa tidak nyaman pada otot yang menyebabkan pasien gaduh gelisah,berganti-ganti duduk dan berdiri secara cepat, gerakan-gerakan tersebut tidak dapat dikendalikan oleh pasien dan obat yang efektif adalah Propanolol (Inderal) (30-120 mg sehari), Benzodiazepin dan Clonidin (Catapres) (Kaplan,1997). Tardive dyskinesia, merupakan gangguan pergerakan di luar kendali pasien yang muncul setelah pengobatan Haloperidol yang lama ,dieksaserbasi oleh stres dan menghilang selama tidur. Gangguan pergerakan tersebut bisa dicegah dengan penggunaan Haloperidol hanya denga dosis yang diindikasikan dan dengan dosis efektif yang terendah, namun apabila sudah terdiagnosis tardive dyskinesia maka menurunkan dosis dan mengganti Haloperidol dengan antipsikotik baru termasuk Clozapin adalah strategi terapi yang utama, namun penggunaan Carbamazepine atau Benzodiazepine efektif dalam menurunkan gejala tersebut (Kaplan,1997). Untuk efek samping non neurologis pencegahan dan penatalaksanaan sama dengan pada Chlorpromazine (Kaplan,1997). Pada anak-anak atau usia lanjut dosis Haloperidol diturunkan dan dapat dimulai dengan 0,5 1,5 mg/ hari dengan pemberian 2 atau 3 kali perhari (Mubarak, 2000). Obat antipsikosis long acting (Haloperidol 50mg/mL IM, untuk 2-4 minggu) sangat berguna pada pasien yang tidak mau atau sulit teratur makan obat ataupun yang tidak efektif terhadap medikasi oral. Dosis dimulai dengan 0,5 mL setiap 2 minggu pada bulan pertama kemudian baru ditingkatkan 1mL setiap bulan (Mubarak, 2000).

32

Haloperidol sering menimbulkan gejala ekstrapiramidal, meliputi kaku otot, hipersalivasi, distonia, diskinesia maka diberikan tablet trihexylphenidine (artane) 3-4 x 2mg/hari atau sulfas athropin 0,5-0,75 mg IM (Mubarak, 2000).

BAB III

33

EFEK SAMPING HALOPERIDOL DAN CHLORPROMAZINE PADA PASIEN SKIZOFRENIA DITINJAU DARI ISLAM

3.1 Efek Samping Haloperidol Dan Chlorpromazine Skizofrenia merupakan suatu gangguan psikotik yang kronik, sering mereda namun hilang timbul dengan manifestasi klinis yang amat luas variasinya (Kaplan,1998). Penyakit ini sangat menyusahkan bagi penderita maupun keluarganya karena onset terjadinya pada saat dewasa muda produktif yaitu dibawah 45 tahun, dan dalam perjalanan penyakitnya akan mengalami kemunduran (deteriorasi) dan taraf fungsi sebelumnya. baik fungsi sosial, pekerjaan maupun kemampuan merawat diri sendiri. Dalam perjalanan penyakitnya, Skizofrenia mempunyai 3 fase, yaitu fase prodromal, fase aktif dan fase residual dan dapat berkembang menjadi (Kaplan,1998): 1. Subkronik, yaitu bila individu menunjukkan penyakit terus-menerus, paling sedikit 6 bulan dan kurang dari 2 tahun. 2. Kronik, sama dengan di atas tetapi lebih dari 2 tahun. 3. Subkronik dengan eksaserbasi akut, yaitu timbul ulangnya gejala psikotik yang jelas pada seseorang dalam keadaan subkronik. 4. Kronik dengan eksasebasi akut, sama seperti di atas tetapi dalam keadaan kronik. 5. Dalam keadaan remisi, yaitu keadaan yang sama sekali tidak menunjukkan gejala gejala penyakit, terlepas apakah ia memakai obat atau tidak. Sesuai dengan anjuran agama untuk berobat jika sakit, sebaiknya penderita Skizofrenia dianjurkan untuk berobat agar kondisinya dapat pulih ke tingkat kesehatan yang seoptimal mungkin, sesuai hadits Nabi:

34

Artinya : Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan obatnya dan menjadikan setiap penyakit ada obatnya, maka berobatlah kamu, dan Jangan berobat dengan yang haram (HR. Abu Dawud). Dan karena penderita tidak merasa dirinya sakit dan karenanya tidak ada motivasi untuk berobat maka peran serta keluarga sangat dibutuhkan yaitu dalam hal mewaspadai timbulnya gejala dan membawa penderita ke dokter. Hal ini sesuai dengan firman Allah:


Artinya : Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang - orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati dengan kesabaran. (Q.S. alAshr (103:1-3). Pengobatan yang diberikan pada penderita Skizofrenia ini bersifat eklektik holistik. Dengan pendekatan ini diharapkan penderita dapat kembali berfungsi secara wajar dalam kehidupannya sehari-hari baik di rumah, di sekolah / kampus, di tempat kerja dan di lingkungan keluarganya. Jika ditinjau dari tujuan dan jenis terapi yang diberikan maka menurut pandangan Islam diperbolehkan. Karena hal tersebut telah diteliti oleh ahlinya seperti oleh para dokter jiwa.

Penatalaksanaan Holistik tersebut terdiri dari:

35

1. Psikoedukatif, berguna untuk membantu dan menambah efek farmakologis, antara lain psikoterapi suportif, perilaku, kognitif, termasuk re-edukasi, rekonstruksi kepribadian serta berbagai pelatihan dan conditioning (pembiasan) perilaku (Kaplan dkk, 1997). 2. Psikososial. dimaksudkan agar penderita mampu kembali beradaptasi dengan lingkungan sosial dan mampu merawat diri mampu mandiri sehingga tidak menjadi beban bagi keluarga dan masyarakat (Hawari, 2001). 3. Psikoreligius, sangat berguna untuk meluruskan gejala patologis dengan pola sentral keagamaan berupa kegiatan ritual keagamaan seperti sholat, berdoa, zikir, ceramah keagamaan dll, dengan demikian diharapkan keyakinan atau keimanan penderita dapat pulih kembali ke jalan yang benar. Dan terutama agar pasien memperoleh ketenangan dan penyembuhan penyakit. Seperti keyakinan Nabi Ibrahim yang diceritakan dalam al Quran:

Artinya : Dan apabila aku sakit Dialah yang menyembuhkan (Q.S. AsySyuaraa (26): 80) 4. Psikofarmaka, sangat efektif untuk menghilangkan gejala klinis Skizofrenia atau dengan kata lain penderita Skizofrenia dapat diobati karena obat psikofarmaka mempengaruhi neurotransmitter otak penderita Skizofrenia yang terganggu. Berkat kemajuan di bidang Ilmu Kedokteran Jiwa, saat ini telah ditemukan obat antipsikotik baru yang disebut Haloperidol dan Chlorpromazine. Obat - obat psikofarmaka konvensional pertama kali disintesis atau berasal dari senyawa kimia Phenothiazine yang selanjutnya berbagai antipsikotik yang secara struktural berbeda tapi tidak berbeda secara farmakodinamik dan phenothiazine diperkenalkan dalam praktek klinis. Kemudian laboratorium dari salah satu riset 36

Belgia, khususnya Paul Janssen, memperkenalkan Haloperidol, suatu butyrophenone; Pimozide, suatu diphenylbutylpiperidine; dan terakhir Chlorpromazine (Kaplan dkk, 1997). Chlorpromazine (CPZ) adalah 2-klor-N- (dimetil-aminopropil)- fenotiazin. Derivat fenotiazin lain didapat dengan cara substitusi pada tempat 2 dan 10 inti fenotiazin. Chlorpromazine menimbulkan efek sedasi yang disertai sikap acuh tak acuh terhadap rangsang dan lingkungan. Pada pemakaian lama dapat timbul toleransi terhadap efek sedasi. Timbulnya sedasi amat tergantung dari status emosional penderita sebelum minum obat (Sulistia G, 1995). Haloperidol berguna untuk menenangkan keadaan mania penderita psikosis yang karena hal tertentu tidak dapat diberi fenotiazin. Reaksi ekstrapiramidal timbul pada 80% penderita yang diobati Haloperidol. Oksipertin merupakan derivat butirofenon yang banyak persamaannya dengan CPZ. Oksipertin berefek blokade adrenergik dan antiemetik serta dapat menimbulkan parkinsonisme pada manusia (Sulistia G, 1995). Meneliti dan mendapatkan jenis obat baru ini merupakan usaha manusia untuk mengembangkan obat antipsikotik yang efektif dengan efek samping yang lebih kecil. Efek samping Haloperidol dan Chlorpromazine yaitu efek subyektif seperti rasa kantuk dan lelah serta menurunnya performa pada pasien. Obat psikotik lebih banyak bekerja pada daerah subkortikal, hipersinkronisasi yang ditimbulkan oleh obat antipsikotik dapat berakibat kelumpuhan diwaktu-waktu tertentu pada pasien yang tidak pernah mengalami kelumpuhan sebelumnya serta gangguan disfungsi seksual, hanya perbedaannya Chlorpromazine lebih efektif dalam menyekat -1-adrenoreseptor dari pada reseptor D2 dibandingkan Haloperidol (Mubarak, 2008).

37

3.2.

Skizofrenia menurut Pandangan Islam Allah SWT secara harfiah telah menciptakan manusia sebagai mahluk yang

paling sempurna dengan dilengkapi oleh akal, perasaan, kemauan dan kehendak. Sebagaimana Allah SWT berfirman:


Artinya: Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaikbaiknya (QS. At-Tin (95): 4). Akal merupakan satu-satunya perbedaan yang sangat mendasar pada diri manusia terhadap mahluk ciptaan Allah SWT yang lainnya. Tetapi dengan kehendakNya pula akal seseorang dapat menjadi rusak atau hilang. Orang yang menggunakan akalnya pada dasarnya adalah orang yang cerdas (Asysyarawi, 1999). Secara etimologi akal memiliki arti al-imsak (menahan), al-ribath (ikatan), alhajr (menahan), al-nahyu (melarang), dan Manu (mencegah). Berdasarkan makna bahasa ini maka yang disebut orang yang berakal (al-aqil) adalah orang yang mampu menahan dan mengikat hawa nafsu. Jika hawa nafsu terikat maka jiwa rasionalitasnya mampu bereksistensi. Nama lain dari akal adalah hulm, nuha, hijir dan hujjah. Akal merupakan salah satu bagian dari daya nafsani manusia yang memiliki dua makna, yaitu: 1. Akal jasmani, yaitu salah satu organ tubuh yang terletak di kepala. Akal ini lazim disebut dengan otak (al-dimagh) yang bertempat di dalam kepala. 2. Akal ruhani, yaitu cahaya (al-nur) ruhani dan daya nafsani yang dipersiapkan untuk memperoleh pengetahuan (al-marifah) dan kognisi (al-mudrikat). Akal diartikan sebagai energi yang mampu memperoleh, menyimpan dan mengeluarkan pengetahuan. Akal merupakan daya kekuatan untuk memperoleh segala ilmu. Ilmu akal meliputi ilmu yang duniawi dan ukhrowi. Beberapa nash yang 38

mendukung eksistensi akal sebagai bagian dari diri manusia, disebutkan dalam hadist Nabi SAW:


Artinya: Tidak dijadikan Allah suatu makhluk yang terlebih mulia pada-Nya daripada akal (HR. al-Bukhari-Muslim). Penyakit Skizofrenia merupakan gangguan jiwa dimana pasien tidak mampu menilai mana yang nyata dan mana yang bukan nyata, atau biasa disebut kehilangan akal sehat (gila). Adapun gejala dari Skizofrenia adalah: 1. Secara umum juga dijumpai waham dan halusinasi yang bersifat mengambang serta terputus-putus. Bersifat dibuat-buat terhadap agama, filsafat, dan tema abstrak lainnya, makin mempersukar orang memahami jalan pikirannya. 2. Perilaku yang tidak bertanggung jawab, tanpa tujuan dan tanpa maksud. Suasana perasaan (mood), pasien yang dangkal dan tidak wajar (inapproriate). Sering disertai oleh cekikikan atau perasaan puas diri (self-satisfied). 3. Senyum-senyum sendiri (self absorbed smiling), atau oleh sikap yang angkuh atau tinggi hati, tertawa menyeringai, mengibuli secara bersenda gurau, keluhan yang hipokondrik, dan ungkapan kata yang diulang-ulang (reiterated phrases). 4. Proses berfikir mengalami disorganisasi dan pembicaraan tak menentu serta inkoheren. Ada kecenderungan untuk tetap menyendiri (solitary). Perubahan-perubahan sosial yang serba cepat sebagai konsekwensi

modernisasi dan industrilisasi ataupun kemajuan ilmu mempunyai dampak dalam kehidupan masyarakat. Stres psikososial dapat merupakan salah satu faktor pencetus, yang menyebabkan perubahan dalam kehidupan seseorang sehingga orang itu terpaksa mengadakan adaptasi atau menanggulangi stresor yang timbul (Abdullah, 2002, Hawari, 2001).

39

Sehingga hal-hal seperti ini dapat menyebabkan kesehatan fisik dan jiwa dari seseorang dapat menurun dan mengganggu fungsi kehidupannya sehari-hari, Allah SWT berfirman:


Artinya: Allah menganugrahkan Al Hikmah (kefahaman yang dalam rentang Al Quran dan As Sunah) kepada siapa yang dikehendak-Nya. Dan Barangsiapa yang dianugrahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakal-lah yang dapat mengambil pelajaran (QS. Al-Baqarah (2): 269). Suatu penyakit yang menutupi atau mengganggu akal, akan menyebabkan akal tidak mampu menangkap suatu objek dengan benar dan disertai kebingungan dan kekacauan pikiran. Orang yang akalnya tertutup atau terganggu, tidak dapat membedakan antara yang benar dan yang salah, atau antara yang baik atau yang buruk (Ichtiar Barn Van Hoeve, 2000). Akal menurut agama Islam merupakan daya pikir yang terdapat pada jiwa manusia, daya yang dalam Al-Quran digambarkan memperoleh pengetahuan. Akal harus mampu menjelaskan untuk apa orang tersebut hidup, bagaimana harus mengisi dan menjalani hidup. Akal mampu menghantarkan manusia pada esensi kemanusiaan (haqiqah insaniyah). Secara psikologi akal memiliki fungsi kognisi (daya cipta). Kognisi adalah suatu konsep umum yang mencakup semua bentuk pengenalan dalam berimajinasi, memprediksi, berfikir, mempertimbangkan, menduga dan menilai. Dalam Al-Quran komponen nafsani yang mampu berakal adalah kalbu, Allah SWT berfirman:

40


Artinya: Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang ada di dalam dada (QS. A1-Hajj (22): 46). Akal dan kalbu bisa dipengaruhi oleh lingkungan, pengaruh lingkungan ini terkadang bisa baik dan bisa juga buruk. Apabila kalbu ini berfungsi secara normal, maka kehidupan manusia menjadi baik. Sebab kalbu memiliki nature ilahiyyah atau rabbaniyyah, karena baik buruk kalbu tergantung pada pilihan manusianya itu sendiri. Hal itu sesuai dengan Sabda Nabi Muhammad SAW:


Artinya: Sesungguhnya di dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging, apabila ia baik, maka baiklah seluruh tubuhnya dan jikalau ia rusak maka rusaklah seluruh tubuhnya, ingatlah bahwa ia adalah kalbu (HR. Al-Bukhari dari Numan ibn Basyir). Kehilangan akal dapat terjadi dalam situasi dan kondisi yang berbeda, seperti hilang akal sesaat, hilang akal sementara, atau hilang akal permanen. Hilang akal sesaat lebih dikenal dengan sebutan lupa atau tidak ingat. Dengan bantuan stimulan tertentu maka seseorang akan mudah mengingatnya kembali tanpa kesulitan. Untuk hilang akal sementara seperti tidur atau pingsan, apabila penyebab hilang akal telah selesai, maka seseorang akan pulih kembali dan hilang akal sementaranya.

41

Sedangkan orang yang hilang akal secara permanen, maka hal inilah yang biasa disebut sebagai gila (Skizofrenia). Sedangkan orang yang rusak akal adalah orang yang tidak mampu mempergunakan akalnya sehingga hawa nafsu dapat menguasai dirinya (buruk akhlak), ia tidak mampu mengendalikan diri dan akan sulit memahami kebenaran, karena seseorang yang dikuasai hawa nafsu akan mengakibatkan terhalang untuk memahami kebenaran (Hawari, 1999).

3.3.

Anjuran Berobat Bagi Penderita Skizofrenia Dalam Islam Selama manusia hidup tidak pernah luput dari berbagai masalah, sesuai dengan

syariat Islam maka masalah yang ada harus dipecahkan, misalnya bila menderita sakit maka solusinya adalah berobat. Islam mengajarkan dalam memecahkan masalah serta menetapkan apa tujuan tindakan, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW : (Bahreisy, 2000)


Artinya : Sesungguhnya setiap amal perbuatan itu tergantung dari niat dan tujuannya, dan manusia akan memperoleh apa yang diniatkannya. (H.R Al Bukhari) Zulkifli (1994) mengatakan bahwa seseorang dikatakan sakit adalah bila terdapat ketidaknormalan pada fisik, mental (iman, jiwa dan qalbu) dan sosialnya. Penyakit bukan hanya terdapat pada ketidaknormalan fisik saja tetapi iman, jiwa dan qalbu seseorang juga bisa sakit, begitu juga pada keadaan sosialnya. Dapat dibedakan antara sakit fisik, iman, dan sosial sebagai berikut: 1. Sakit Fisik Sakit fisik adalah bila kondisi tubuh dalam keadaan tidak normal, baik secara fisik atau secara fisiologis. Penyakit fisik diantaranya kelainan bawaan, penyakit

42

infeksi, tumor, penyakit karena terpapar benda tajam atau tumpul dan lain-lain, sebagaimana firman Allah SWT berikut:


Artinya: Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang pincang, tidak (pula) bagi orang sakit, dan tidak (pula) bagi dirimu sendiri, Makan (bersama-sama mereka) dirumah kamu sendiri atau dirumah bapakbapakmu, dirumah ibu-ibumu, dirumah saudara- saudaramu yang laki-laki, di rumah saudaramu yang perempuan, dirumah saudara bapakmu yang lakilaki, dirumah saudara bapakmu yang perempuan, dirumah saudara ibumu yang laki-laki, dirumah saudara ibumu yang perempuan, dirumah yang kamu miliki kuncinya atau dirumah kawan-kawanmu. tidak ada halangan bagi kamu Makan bersama-sama mereka atau sendirian.(Q.S. An-Nuur (24): 61). 2. Sakit Mental Sakit mental adalah yang berhubungan dengan iman, jiwa dan qalbu seseorang. a. Sakit Iman

43

Seseorang dikatakan sakit imannya bila orang tersebut mengaku dirinya muslim tapi ia tidak melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah SWT, sebagaimana firman Allah berikut:


Artinya: Tetapi mereka berpaling, Maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon bidara (QS. Saba (34): 16) Obat bagi mereka yang sakit iman adalah mengabdikan hidupnya semata-mata untuk mendapatkan ridho Allah SWT, seperti firman Allah berikut:


Artinya: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan semesta alam (QS.Al-An am (6): 162). b. Sakit Jiwa Sakit jiwa adalah perilaku atau psikologis seseorang yang secara khusus berkaitan dengan gejala penderitaan strees di dalam satu atau lebih fungsi manusia yaitu perilaku, psikologis atau biologis. Malas dan putus asa adalah beberapa contoh gangguan kejiwaan. Setiap muslim dilarang Allah SWT untuk berputus asa, sebagaimana firman-Nya berikut:

...

44

Artinya: Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir" (QS. Yusuf (12):87) c. Sakit Qalbu Sakit qalbu adalah hati yang sedang mengalami sakit yang disebabkan oleh karena kurang atau tidak disirami dengan dzikir kepada Allah SWT dapat menurunkan Iman seseorang. Qalbu orang yang sehat adalah ibarat cermin yang bila cermin itu kotor maka selalu dibersihkan sehingga selalu bersih, sedangkan qalbu yang sakit adalah ibarat cermin yang kotor yang tidak pernah dibersihkan, sehingga menjadi sakit dan sulit disembuhkan. Obat untuk orang sakit qalbu adalah dengan selalu mengingat Allah SWT, sebagaimana firman-Nya berikut:


(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram (QS.Ar-rad(13): 28). 3. Sakit Sosial Sakit sosial adalah bila kebutuhan sandang, pangan dan papan tidak tercukupi untuk menopang kehidupan. Bagi seorang muslim kekurangan yang dialami, harus disadari bahwa hal ini merupakan suatu ujian dari Allah SWT, seperti dikatakan dalam firman Allah:


45

Artinya: Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar (QS. Al-Baqarah(2): 155). Skizofrenia merupakan sakit mental (kejiwaan). Bagi orang yang divonis menderita sakit tersebut, kata-kata itu akan menimbulkan perasaan takut dan khawatir bagi lingkungn keluarga maupun lingkungan sekitar. Berusaha untuk sembuh dan mengobati penyakitnya merupakan tindakan yang dianjurkan dalam Islam. Dalam hal ini penderita disuruh untuk berobat. Mengenai pengobatan ini ada dua hadits yang terkenal, yaitu menganjurkan berobat bila sakit dan melarang berobat dengan yang haram (Uddin, 2002).

: . . :
Artinya : Usamah bin Syarik berkata: Di waktu saya beserta Nabi Muhammad SAW, datanglah beberapa orang badui, lalu mereka bertanya, Ya Rasullulah, apakah kita mesti berobat?. Ya, wahai hamba Allah, berobatlah engkau, karena Allah tidak mengadakan penyakit, melainkan ia adakan obatnya, kecuali satu penyakit. Tanya mereka: Penyakit apakah itu?Jawab beliau:Tua(HR. Ahmad). Jadi jelaslah bahwa Allah SWT menurunkan penyakit beserta dengan obatnya. Oleh karena itu manusia hendaklah berikhtiar dan bersabar dalam menyembuhkan penyakitnya. Sabar dan tidak gelisah dalam menghadapi cobaan atau penyakit adalah selaras dengan firman Allah SWT :


46

Artinya: Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)(Q.S. Luqman (31): 17). Rasullulah SAW bersabda :

:
Artinya: Ketika Rasullulah SAW mengunjungi seorang laki-laki Anshar beliau menunjukkan diri kepadanya serta menanyai, maka dia menjawab: Ya Nabiyallah, aku sudah tujuh malam sudah tidak memejamkan mata dan tidak seorang pun datang menengok aku. Lalu Rasullulah SAW bersabda: Hai saudarku, sabarlah, niscaya engkau akan keluar dari dosa-dosamu seperti pada saat engkau memasukinya(HR. Ibnu Abidduniya). Sebagai umat Islam apabila terkena suatu penyakit harus tetap berusaha dan tidak boleh berputus asa untuk mendapatkan penyembuhan, seperti firman Allah SWT:


Artinya: Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir". (Qs. Yusuf (12):87)

47

Manusia boleh memanfaatkan apa saja yang ada di bumi, bahkan apa saja yang ada di alam semesta ini untuk dimakan, diminum, dipakai sebagai pakaian, obatobatan, kendaraan, perhiasan dan sebagainya kecuali yang jelas diharamkan oleh Allah SWT. Rasullulah SAW bersabda :


Artinya : Allah tidak menjadikan penyembuhan dengan apa yang diharamkan atas kamu. (H.R Al-Baihaqi) Ulama menyatakan yang dimaksud dengan al-muharram sebagaimana dinyatakan dalam hadist nabi di atas, bukan hanya khamr tetapi juga menyangkut segala sesuatu yang membahayakan kepala, otak dan menghilangkan ingatan baik dari bahan-bahan tumbuhan atau obat-obatan yang membahayakan, zat-zat adiktif lain yang meliputi penggunaan obat bius (al-mukhadirrat seperti ganja, kokain , heroin, dan sebagainya. Diharamkan karena unsur zat itu memabukkan, akan merusak fungsi otak, melalaikan dzikir kepada Allah dan membahayakan tubuh, ulama sepakat mengharamkannya (Zuhroni dkk, 2003). Dalam mengobati penyakit tersebut, Islam menyuruh untuk menanyakan kepada orang yang ahli di bidang itu. Hal ini terlihat jelas dalam Al Quran :


Artinya : Dan kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang

48

mempunyai pengetahuan, jika kamu tidak mengetahui (Q.S. An Nahl (16): 43). Sebagaimana juga Rasullulah SAW bersabda:


Artinya: "Perbuatan yang baik adalah bertanya kepada orang yang ahli dan sesudah itu mengerjakan nasihatnya. " (HR. Abu Dawud)

Juga dalam hadits yang diriwayatkan oleh al Bukhari :

:
Artinya: Abu Hurairah berkata : Sabda Rasullulah SAW : Apabila suatu urusan di serahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya (HR. Al Bukhari) Dalam hadits lainnya Rasullulah SAW bersabda :

: : : :
Artinya: Amar bin Dinar meriwayatkan, dari Hilal bin Jasaf bahwa Rasullulah SAW mengunjungi orang sakit, lalu bersabda, bawakan ke dokter maka berkatalah dari orang yang hadir, Ya, karena Allah Azza Wa Jalla tidak menurunkan suatu penyakit melainkan menurunkan pula penyembuhnya(HR. Al Bukhari dan Muslim).

Dari ayat dan hadits di atas jelaslah bahwa Islam menyuruh berusaha untuk menyembuhkan penyakit yang dideritanya dengan berobat ke dokter, sebagai orang yang lebih mengetahui atau ahli dalam bidang penyakit tersebut.

49

Hal yang perlu diingat adalah separah apapun penyakit yang diderita, ingatlah Allah tidak mungkin memberikan suatu penyakit yang tidak sanggup dipikul seorang muslim, dan kuasaNya tidak akan bisa dicegah meskipun dokter-dokter diturunkan untuk menolong, namun tanpa kekuasaan Allah sakit yang dialami tidak akan sembuh, karena dokter dan obat adalah sarana kesembuhan. Sebagaimana dalam Al-Quran mengutip ucapan Nabi Ibrahim yang menyebutkan :

Artinya : dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku,(Qs. AsySyuaraa(26):80) Rasullulah SAW bersabda:


Artinya: Setiap penyakit ada obatnya, jika obat itu tepat untuk penyakitnya, maka kesembuhan itu atas izin Allah(HR. Muslim).

3.4.

Pandangan Islam Terhadap Perbandingan Efek Samping Haloperidol Dan Chlorpromazine Pada Pasien Skizofrenia Penggunaan Haloperidol dan Chlorpromazine ditujukan untuk tujuan kesehatan

dan kesembuhan penderita Skizofrenia. Semua ini dilakukan dalam rangka mengamalkan petunjuk Islam yang lurus dan mendorong umatnya agar berobat bila mana tubuhnya sakit. Pada prinsipnya syariat Islam menganjurkan belajar ilmu kedokteran dan mempraktekkannya karena tujuannya untuk kemaslahatan manusia, bermanfaat bagi mereka dan kesehatan tubuh mereka. Salah satu cara yang mesti dilakukan oleh kalangan medis adalah dengan penggunaan Haloperidol dan Chlorpromazine.

50

Menurut para ulama, hukum pemberian obat pada penderita Skizofrenia hukumnya wajib karena untuk memulihkan kembali kondisi jiwa yang terganggu (gila) kembali menjadi sehat dibenarkan dalam Islam, karena niat dan motivasi utamanya adalah penyempurnaan fungsi sebagai pengobatan. Di antara ayat yang dapat dijadikan sebagai dalil pengobatan dengan menggunakan Haloperidol dan Chlorpromazine, dianggap sebagai upaya menjaga kehidupan dari gangguan kejiwaan dan menghindari dari yang dapat membinasakannya. Allah SWT berfirman:


Artinya : Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa : Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan kerena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi ini, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memlihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keteranganketerangan yang jelas, kemudian banyak di antara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi (QS Al-Maidah (5) : 32). Berdasarkan ayat ini, Allah menghargai setiap upaya mempertahankan kehidupan manusia dari gangguan kejiwaan, menjauhkan diri dari hal yang dapat membinasakannya.

51

Bagaimanakah Islam memandang orang yang gila? Kedudukan orang gila dalam Islam, berdasarkan hadits dan Aisyah RA.:

: ,
Artinya: Diangkatkan kalam (taklif/tugas) dari tiga golongan, yaitu orang tidur sampai ia bangun, dan anak-anak sampai ia bermimpi (baligh), dan dari orang gila sampai ia sadarkan diri (HR. Ahmad. Abu Daud dan Tirmidzi). Dalam hadits ini menyampaikan pesan bahwa penderita Skizofrenia (orang gila) tidak memiliki beban apapun dalam hubungannya dengan kawajiban keberagamaannya. Sekalipun di dalam hukum Islam, orang gila (Skizofrenia) terbebas dari berbagai kewajiban keberagamaan karena hilang akalnya. Akan tetapi muatan dari hadits di atas mengisyaratkan bahwa orang gila memiliki kesempatan untuk sampai ia sadarkan diri. Hal ini berarti merupakan kewajiban dari setiap orang yang berada disekitarnya, terlebih orang yang mampu (keluarga, medis dan paramedis). Untuk membantu mengendalikan fungsinya agar dapat kembali sadarkan diri dan beribadah kepada Allah SWT. Karena apabila penyakit tersebut tidak diobati akan mengakibatkan kesehatan jiwanya makin terganggu (parah) dan akan mengganggu lingkungan keluarga maupun sekitarnya. Tetapi apabila diobati penyakit tersebut bisa kembali sadarkan diri dan dapat melaksanakan ibadah kembali kepada Allah SWT, seperti shalat, puasa dan lain sebagainya. Keterkaitan kesehatan jiwa dengan agama dinyatakan oleh Dadang Hawari, bahwa dari semua cabang ilmu kedokteran, ilmu kedokteran jiwa dan kesehatan jiwa adalah paling dekat dengan agama, bahkan ada titik temu antara keduanya. Dari agama penyakit jiwa dapat dicegah atau mempertinggi kemampuan seseorang dalam mengatasi penderitaan dan mempercepat proses penyembuhan (Zuhroni dkk, 2003).

52

Untuk mengobati Skizofrenia digunakan obat antipsikosis Haloperidol dan Chlorpromazine. Dengan melihat struktur kimia tersebut merupakan senyawa devirat fenotiazin dan devirat butirofenon, senyawa tersebut tidak memabukkan, tidak bersifat adiktif dan tidak mengandung bahan-bahan yang di haramkan sehingga halal dan dapat digunakan. Allah AWT melarang untuk berobat dengan yang haram, seperti dikatakan dalam hadits Nabi SAW berikut:. Sebagaimana hadits Nabi SAW:

()

Artinya: Allah tidak menjadikan penawar bagi kamu sesuatu yang sudah diharamkan atas kamu. (H.R Baihaqi). Begitu juga hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah:

( )
Artinya : "Rasulullah SAW melarang menggunakan obat yang al khabits, yakni yang meracuni". (HR Ahmad, Muslim, Ibnu Majah, dan al-Turmudzi).

Menilai keadaan ini, menurut agama Islam harus diperhatikan manakah yang lebih besar manfaat atau mudharatnya dari Haloperidol Dan Chlorpromazine. Manfaat Haloperidol Dan Chlorpromazine (Sulistia G, 1995): 1. Efektif dalam penatalaksanaan jangka panjang maupun pendek yaitu menurunkan gejala akut dan mencegah eksaserbasi (kekambuhan) lebih lanjut. 2. Lebih efektif mengatasi gejala positif dibandingkan untuk gejala negatif. 3. Lebih responsif pada pasien tipe Paranoid. 4. Dari segi harga lebih murah jika dibandingkan dengan obat Antipsikotik Atipik. 5. Meningkatkan kualitas hidup.

53

Mudharatnya Haloperidol dan Chlorpromazine (Sulistia G, 1995): 1. Terjadi gangguan disfungsi seksual. 2. Gangguan jantung, otonomik, hematologis dan metabolik. 3. Juga dapat menimbulkan gejala negatif.

Fakta lain menunjukkan, selama ini dokter menggunakan antipsikotik dengan pertimbangan: 1. Terutama untuk memperbaiki gejala positif, karena biasanya pasien datang ke dokter pada fase akut. 2. Efek samping tersebut akan hilang jika obat dihentikan (Kaplan dkk, 1997). Dari penjelasan di atas maka menurut agama Islam pengobatan penderita Skizofrenia dengan penggunaan Antipsikotik diperbolehkan karena manfaatnya jauh lebih banyak, dengan syarat dokter dapat menekan risiko munculnya efek samping tersebut sekecil mungkin yaitu dengan meningkatkan ketelitian dokter dalam hal memberikan obat-obatan Antipsikotik tersebut, seperti kapan pengobatan dimulai, kapan harus dihentikandan kapan harus dimulai kembali. Tentunya juga dengan ketepatan memberi dosis dari jenis obatnya. Hal ini berpedoman pada hadits Nabi

Artinya: Sesungguhnya Allah Taala menyukai bila seseorang mengerjakan sesuatu pekerjaan dilakukan dengan teliti (Riwayat Baihaki, Abu YaIa, Ibnu Asakir)

54

BAB IV KAITAN PANDANGAN ILMU KEDOKTERAN DAN AGAMA ISLAM PERBANDINGAN EFEK SAMPING DARI HALOPERIDOL DAN CHLORPROMAZINE PADA PASIEN SKIZOFRENIA

Berdasarkan uraian pada Bab II dan Bab III terdapat kaitan pandangan antara ilmu Kedokteran dan Islam, yaitu sebagai berikut: Berdasarkan pandangan kedokteran bahwa pengobatan Skizofrenia dengan antipsikotik yaitu dengan Haloperidol dan Chlorpromazine harus diikuti dengan pengetahuan tentang efek samping yang mungkin bisa terjadi, Terlihat lebih banyak

55

efek samping ekstrapiramidal pada kelompok Haloperidol dan efek samping seperti mulut kering dan sedatif pada kelompok Chlorpromazine. Obat antipsikotik lebih banyak bekerja pada daerah mesokortikal, mesolimbik,dan nigrostriatal . Islam adalah agama yang mengatur seluruh dinamika kehidupan umatnya. Pengobatan Skizofrenia dengan antipsikotik yaitu Haloperidol dan Chlorpromazine diperbolehkan karena bertujuan untuk menjaga kesehatan dan kesembuhan bagi penderita Skizofrenia. Obat ini aman diberikan karena menggunakan derivat fenotiazin dan derivat butirofenon dan tidak mengandung bahan-bahan yang diharamkan oleh Islam. Efek samping dapat diantisipasi dan dihilangkan dengan pemberian dosis obat yang sesuai dengan aturan. Penggunaan Chlorpromazine sering menimbulan hipotensi orthostatik bila terjadi atasi dengan Noradrenalin (effortil, IM). Efek samping ini dapat dicegah dengan tiduran selama 5-10 menit setelah diberikan obat tersebut. Sedangkan Haloperidol sering menimbulkan gejala ekstrapiramidal, maka diberikan tablet trihexylphenidin (artane) atau sulfas atropin. Perbandingan efek samping

Chlorpromazine lebih efektif dalam menyekat 1-adrenoreseptor dari pada reseptor D2 dibandingkan Haloperidol.

56

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1

Kesimpulan 1. Farmakologi obat-obatan antipsikotik yaitu obat antipsikosis menyekat reseptor D2 pascasinaps didalam sistem saraf pusat, terutama di sistem mesolimbik frontal, dapat dilihat dari pemeriksaan PET (Positron Emission Tomography) peningkatan densitas reseptor dopamin diotak pasien skizophrenia yang belum pernah dirawat dengan obat-obat antipsikosik.

57

2. Efek samping Chlorpromazine lebih ke efek sedatif, seperti lemas, mengantuk sampai tertidur , dilihat dari reseptor 1 yang merupakan antisympathomimetik properties yang dapat mengakibatkan turunnya tekanan darah, takikardi, vertigo, hipersalivasi, disfungsi seksual serta adanya pengaruh yang cukup besar pada reseptor- reseptor lain yang mengakibatkan efek samping yang muncul menjadi lebih banyak, seperti terdapat gejala idiosinkrasi berupa ikhterus, dermatitis, dan lainnya. Pada potensi tinggi Chlorpromazine yang merupakan derivat fenotiazin dapat merangsang chemoreseptor trigger zone sehingga mengakibatkan efek samping seperti muntah dan pendarahan saluran cerna atau vestibuler. Efek- efek yang timbul sama dengan efek yang ditimbulakan oleh Haloperidol, namun pada Haloperidol yang merupakan derivat dari Butirofenon efek sedatif yang timbul lemah dibanding Chlorpromazine. Haloperidol menghambat sistem dopamin dan hipotalamus, sehingga bisa mencegah muntah yang ditimbulkan oleh apomorfin. Untuk sistem cardiovaskular, Haloperidol dapat menimbulkan hipotensi tapi tidak sekuat Chlorpromazine. Efek neurologik obat ini pada dosis berlebihan akan menyebabkan gejala ekstrapiramidal serupa dengan yang terlihat pada sindrom parkinson, Haloperidol lebih poten untuk pasien Skizofrenia karena lebih besar pengaruhnya dalam menghambat reseptor D2, namun untuk pasien Skizofrenia yang gaduh gelisah sebaiknya pilih Chlorpromazine karena efek sedatifnya besar.
3.

Pandangan Islam terhadap pengobatan Skizofrenia dengan antipsikotik yaitu Haloperidol dan Chlorpromazine diperbolehkan karena bertujuan untuk menjaga kesehatan dan kesembuhan bagi penderita Skizofrenia, obat ini aman diberikan dan

58

tidak mengandung bahan-bahan yang diharamkan oleh Islam. Efek samping dapat diantisipasi dan dihilangkan dengan pemberian dosis obat yang sesuai dengan aturan

5.2

Saran 1. Untuk masyarakat agar dapat mengetahui informasi mengenai perbandingan efek samping Haloperidol dan Chlorpromazine pada pasien Skizofrenia dilihat dari ilmu kedokteran dan sudut pandang islam serta bagi keluarga yang salah satu anggotanya menderita Skizofrenia agar tetap menuntun, membimbing untuk menjalankan kewajiban kewajiban agama seperti shalat dan puasa 2. Untuk Dokter agar memahami pengobatan pada pasien schizophrenia sehingga terapi dapat diberikan secara holistik, dan juga memahami efek samping obat sehingga lebih berhati-hati dalam pemberian obat.

3. Untuk umat Islam agar lebih meningkatkan kualitas keimanannya agar dapat berfikir rasional sehingga dapat menyingkirkan mitos yang lebih mengarah kepada akidah yang salah,seperti menganggap bahwa Skizofrenia disebabkan oleh makhluk halus/ kekuatan supranatural,yang dimana sebenar-benarnya Skizofren adalah kondisi medis yang dapat dipulihkan oleh obat-obatan

59