Anda di halaman 1dari 22

PENGEMBANGAN EKSTRAKURIKULER PAI

MAKALAH Disusun Untuk Memenuhi Tugas Kelompok Semester IV Program Strata Satu (S1) Fakultas Tarbiyah Kelompok Kelas : B Reguler Mata Kuliah : Pengembangan Kurikulum Dosen Dr. RAHMAT RAHARJO, M.Ag

Disusun Oleh : 1. EKO SUMARNO 2. MUHAMAD MUMINAN

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NAHDLATUL ULAMA (STAINU) KEBUMEN 2012 1

KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Illahi Rabbi yang telah memberikan rahmat, dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini guna memenuhi tugas mata kuliah Pengembangan Kurikulum, dengan judul Pengembang Ekstrakurikler PAI. Dalam penulisan makalah ini kami tidak terlepas dari bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan ini kami ingin menyampaikan terimakasih kepada:
1. Yth. Dr. Rahmat Raharjo, M.Ag selaku pembimbing mata kuliah

Pengembangan Kurikulum. 2. Kedua Orang Tua Kami yang telah memberikan motivasi kepada kami semua.
3. Teman teman seperjuangan kami yang telah memberi semangat. 4. Serta semua pihak yang membantu tersusunnya makalah ini.

Tidak ada yang dapat kami perbuat untuk membalas budi semua pihak kecuali mendoakan semoga amal baik yang telah diberikan kepada kami termasuk amal sholeh yang diterima disisi Allah swt. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kami semua pada khususnya dan para pembaca pada umumnya. Kebumen, Juni 2012

Penyusun 2

DAFTAR ISI JUDUL. i KATA PENGANTAR.. ii DAFTAR ISI iii BAB I PENDAHULUAN
A. B.

Latar Belakang... Rumusan Masalah.. Tujuan Penulisan Manfaat Penulisan. Pengertian Ekstrakurikuler PAI . Kedudukan Ekstrakurikuler PAI dalam KTSP. Manfaat Ekstrakurikuler PAI ..... Prinsip-prinsip Program Ekstrakurikuler PAI .. Jenis-jenis Kegiatan Ekstrakurikuler PAI .. Perbedaan Ekstrakurikuler dengan Kurikuler Kesimpulan Saran.

1 2 3 3 4 6 7 9 11 15 17 18 19

C. D.
A. B. C. D. E.

BAB II PEMBAHASAN

F.
A. B.

BAB III PENUTUP

DAFTAR PUSTAKA

BAB I 3

PENDAHULUAN A. Latar belakang Masalah Sekolah adalah lembaga pendidikan formal yang melaksanakan pendidikan dan pengajaran dengan sengaja, teratur, dan terencana. Dengan kata lain, sekolah sebagai institusi pendidikan yang formal menyelenggarakan pendidikan secara berencana, sengaja, terarah, dan sistematis oleh para guru profesional dengan program yang dituangkan ke dalam kurikulum untuk jangka waktu tertentu dan diikuti oleh para peserta didik pada setiap jenjang pendidikan tertentu. Sebagai lembaga pendidikan formal, secara umum, sekolah memiliki tiga tanggung jawab yang mendasar, yaitu:1 Tanggung jawab formal, Tanggung jawab keilmuan, dan Tanggung jawab fungsional, Sekolah dituntut untuk mampu menjalankan tiga bentuk tanggung jawab tersebut secara optimal. Untuk itu, pada umumnya, sekolah tidak membatasi tanggung jawab formal kependidikan dengan sekedar menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar yang dilakukan secara rutin, tapi juga berupaya mengembangkan keterampilan siswa melalui kegiatankegiatan terprogram lainnya, dengan tujuan agar hasil belajar yang diperoleh siswa menjadi lebih maksimal.

Asep Hery Hermawan, dkk. Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran, Jakarta: UT. 2008, hal. 20

Di antara kegiatan-kegiatan terprogram yang diselenggarakan oleh sekolah dalam rangka meningkatkan hasil belajar siswanya adalah program kegiatan ekstrakurikuler, baik yang sama sekali tidak terkait dengan mata pelajaran maupun yang masih memiliki kaitan dengan mata pelajaran tertentu. Program kegiatan ekstrakurikuler pada mata pelajaran tertentu yang diselenggarakan sekolah lebih sering untuk mata pelajaran ilmu-ilmu eksakta dan bahasa, seperti matematika, fisika, kimia, dan bahasa Inggris. Sementara, mata pelajaran lain sering diabaikan termasuk mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Padahal, bidang studi Pendidikan Agama Islam sangat penting bagi siswa serta wujud pelaksanaan tanggung jawab sekolah terhadap orang tua yang mempercayakan penanaman nilainilai agama anak kepada sekolah, terlebih alokasi waktu untuk bidang studi Pendidikan Agama Islam yang sangat minim, yaitu hanya 2 jam pelajaran dalam satu minggu atau 90 menit dalam seminggu. B. Rumuusan Masalah Berdasarkan pada uraian tersebut di atas, dalam makalah ini akan menguraikan mengenai: 1. Apa pengertian Ekstrakurikuler PAI? 2. Bagaimana kedudukan Ekstralurikuler PAI dalam KTSP? 3. Apa prinsip-prinsip Ekstrakurikuler PAI? 4. Apa perbedaan Ekstrakurikuler dengan Kurikuler?

C. Tujuan Penulisan Penulisan makalah ini bertujuan, diantaranya yaitu:


1. Mengetahui pengertian Ekstrakurikuler PAI. 2. Mengetahui kedudukan Ekstrakurikuler PAI dalam KTSP.

3. Mengetahui prinsip-prinsip Ekstrakurikuler PAI. 4. Mengetahui perbedaan Ekstrakurikuler dengan Kurikuler. D. Manfaat Penulisan
1. Memberikan pengertian dan pemahaman pada para pendidik

tentang Pengembangan Ekstrakurikuler PAI. 2. Memberikan tambahan wahana kepustakaan pada Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Kebumen.

BAB II PEMBAHASAN PENGEMBANGAN EKSTRAKURIKULER PAI A. Pengertian Ekstrakurikuler PAI Pengertian ekstrakurikuler dapat ditemukan dalam panduan pengembangan diri yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan Nasional. Ekstrakurikuler adalah kegiatan pendidikan diluar mata pelajaran untuk membantu pengambangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, dan minat mereka melalui kegiatan yang secara khusus diselenggarakan oleh pendidik dan atau tenaga kependidikan yang berkemampuan dan berwenang di Sekolah/Mandrasah.2 Ekekstrakurikuler adalah kegiatan yang dilakukan siswa Sekolah atau Universitas, di luar jam belajar kurikulum standar. Kegiatan-kegiatan ini ada pada setiap jenjang pendidikan dari sekolah dasar sampai Universitas. Kegiatan ekstrakurikuler ditujukan agar siswa dapat mengembangkan kepribadian, bakat, dan kemampuannya diberbagai
2

Depdiknas RI, Panduan Pengembangan Diri, Jakarta: Depdiknas, 2006, hal.

12

bidang diluar akademik. Kegiatan ini diadakan secara swadaya dari pihak sekolah maupun siswa-siswi itu sendiri untuk merintis kegiatan di luar jam pelajaran Sekolah.3 Pendidikan Agama Islam merupakan istilah yang menunjuk pada operasional dalam usaha pendidikan ajaran-ajaran agama Islam dan merupakan sub sistem pendidikan Islam.Dengan kata lain lain, Pendidikan Agama Islam adalah aplikasi pendidikan agama Islam dalam pembelajaran di sekolah, baik dalam bentuk kegiatan belajar mengajar ataupun kegiatan lainnya yang bertujuan untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan Islam. Maka yang dimaksud dengan Pendidikan Agama Islam dalam penelitian ini adalah proses pembelajaran agama Islam melalui bidang studi Pendidikan Agama Islam. Dari pengertian di atas, dapat dinyatakan bahwa yang dimaksud dengan program kegiatan ekstrakurikuler Pendidikan Agama Islam adalah rancangan atau usaha-usaha yang dijalankan dalam bentuk kegiatan yang dilakukan di luar jam pelajaran tatap muka, baik dilaksanakan di sekolah atau di luar sekolah dengan tujuan untuk memperluas wawasan pengetahuan dan kemampuan yang telah dipelajari siswa dalam bidang studi Pendidikan Agama Islam.4
Asep Herry Hermawan, dkk. Pengembangan Kurikulum dan Pelajaran, Jakarta: UT, 2008, hal. 4 Suryobroto, Proses Belajar Mengajar di Sekolah (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1997) hlm.271
4 3

B. Kedudukan Ekstrakurikuler dalam Kurikulum KTSP Dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan Indonesia,

pemerintah terus berupaya melakukan berbagai reformasi dalam pendidikan diantaranya dwngan diluncurkannya permendiknas No. 22 tentang standar isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah serta permendiknas No. 23tentang standar kompetensi kelulusan untuk satuan pendidikan dasar dan menengahuntuk mengatur pelaksanaan peraturan tersebut pemerintah mengeluarkan pula permendiknas no. 24 tahun 2006. Ketiga peraturandiatas memuat hal-hal penting, diantaranya adalah bahwa satuan pendidikan dasar dan menengah mengembangkan dan menetapkan kurikulum tingkat satuan dasar dan menengah. Di dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan struktur kurikulum yang dikembangkan mencakup 3 komponen yaitu: 1. Mata pelajaran, 2. Muatan local, 3. Pengembangan diri. Komponen pengembangan diri yang relatif baru dan berlaku untuk dikembangkan pada semua jenjang pendidikan.5 Baik pendidikan umum, pendidikan kejuruan, pendidikan khusus, meskipun demikian pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru, tetapi juga bisa difasilitasi oleh koselor atau tenaga pendidikan lain yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler.6

Rusman, Manajemen Kurikulum, (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2009),

hlm.413

C. Manfaat Ekstrakurikuler Kegiatan ekstrakurikuler yang diselenggarakan sekolah, tentunya membawa manfaat, baik bagi siswa, sekolah, pendidikan, maupun bagi masyarakat luas. Secara terinci manfaat kegiatan ekstrakurikuler sebagai berikut : 1. Manfaat kegiatan ekstrakurikuler bagi siswa : Untuk memberikan kesempatan bagi pemantapan ketertarikan yang telah tertanam serta pembangunan ketertarikan yang baru. Untuk memberikan pendidikan sosial melalui pengalaman dan pengamatan,

terutama

dalam

hal

perilaku

kepemimpinan,

persahabatan, kerjasama, dan kemandirian. Untuk membangun semangat dan mentalitas bersekolah. Untuk memberikan kepuasan bagi perkembangan jiwa anak atau pemuda. Untuk memberikan kesempatan bergaul bagi siswa. Untuk mengembangkan religiusitas, juga kepedulian terhadap kondisi sosial budaya masyarakat.7

E. Mulyasa, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2007), hlm. 283
7

Rahmat Raharjo, Inovasi Kurikulum PAI : Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran (Yogyakarta: Magnum Pustaka, 2010) hlm. 156

10

2. Manfaat

kegiatan

ekstrakurikuler

bagi

pengembangan

kurikulum : Untuk memberikan tambahan pengayaan pengalaman di kelas. Untuk mengeksplorasi pengalaman belajar yang baru yang mungkin menunjung kurikulum. Untuk memberikan tambahan kesempatan dalam bimbingan kelompok ataupun individu. Untuk memberikan motivasi dalam proses pembelajaran di kelas.
3. Manfaat kegiatan ekstrakurikuler bagi masyarakat:8

Untuk mempromosikan sekolah yang lebih baik dan hubungan masyarakat. Untuk meningkatkan ketertarikan yang besar pada masyarakat dan dorongan mereka kepada sekolah. 4. Manfaat kegiatan ekstrakurikuler bagi sekolah :

Untuk membantu perkembangan kerjasama kelompok yang lebih efektif antara personel dan penanggung jawab akademis siswa. Untuk mengintegrasikan lebih dekat beberapa devisi di sekolah. Untuk menyediakan sedikit peluang yang dirancang untuk membantu siswa dalam memanfaatkan situasi guna memecahkan masalah yang dihadapi.
8

Ibid, hal. 13

11

D. Prinsip-Prinsip Program Ekstrakurikuler Dengan berpedoman kepada tujuan dan maksud kegiatan ekstrakurikuler di sekolah dapat ditetapkan prinsip-prinsip program ektrakurikuler. Program ekstrakurikuler adalah:9 Semua murid, guru, dan personel administrasi hendaknya ikut serta dalam usaha meningkatkan program. Proses adalah lebih penting daripada hasil. Program hendaknya memperhitungkan kebutuhan khusus sekolah. Program harus dinilai berdasarkan sumbangannya kepada nilainilai pendidikan di sekolah dan efisiensi pelaksanaannya. Kegiatan ini hendaknya menyediakan sumber-sumber motivasi yang kaya bagi pengajaran kelas, sebaliknya pengajaran kelas hendaknya juga menyediakan sumber motivasi yang kaya bagi kegiatan murid. Kegiatan ekstrakurikuler ini hendaknya dipandang sebagai integral dari kesekuruhan program pendidikan di sekolah, tidak sekedar tambahan atau sebagai kegiatan yang berdiri sendiri.

Oteng sutisna, Administrasi Pendidikan (Bandung: Nuansa, 2003), hlm. 146

12

Pada dasarnya tidak terdapat perbedaan yang prinsipil antara kegiatan ekstrakurikuler pendidikan agama Islam dengan kegiatan ekstrakurikuler pada umumnya, baik tujuan, manfaat, prinsip, dan lain sebagainya. Perbedaan yang ada hanya pada orientasi pelaksanaannya kepada ajaran agama Islam serta dalam jenis kegiatan ekstrakurikuler yang diselenggarakan. Sejalan dengan pengertian yang dikemukakan oleh Departemen Pendidikan Nasional tentang kegiatan ekstrakurikuler dapatlah didefinisikan kegiatan ekstrakurikuler Pendidikan Agama Islam sebagai kegiatan yang dilakukan di luar jam pelajaran tatap muka, dilaksanakan di sekolah atau di luar sekolah agar lebih memperkaya dan memperluas wawasan pengetahuan dan kemampuan yang telah dipelajari oleh siswa dalam bidang studi Pendidikan Agama Islam. Dengan demikian, kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler Pendidikan Agama Islam yang diselenggarakan sekolah bertujuan untuk mencapai tujuan-tujuan kurikuler Pendidikan Agama Islam yang mencakup 7 pokok bahan pelajaran, yaitu: Keimanan, Ibadah, Al Qur'an, Akhlak, Muamalah, Syariah, dan Tarikh.

E. Jenis-jenis Kegiatan Ekstrakurikuler PAI

13

Kegiatan ekstrakurikuler dapat dilakukan baik secara perorangan atau kelompok. Kegiatan perseorangan dimaksudkan untuk meningkatkan pengetahuan, penyaluran bakat serta minat siswa. Sedangkan kediatan kelompok dimaksudakn untuk oembinaan masyarakat.10 Adapun jenis-jenis kegiatan ekstrakurikuler Pendidikan Agama Islam di sekolah adalah sebagai berikut:11 1. Kegiatan ekstrakurikuler yang memiliki kaitan dengan bidang studi Pendidikan Agama Islam. Dalam hal ini, kegiatan ekstrakurikuler tersebut diarahkan kepada kegiatan pengayaan dan penguatan terhadap materi-materi pembahasan dalam bidang studi Pendidikan Agama Islam, seperti program kegiatan ekstrakurikuler membaca al-Quran (kursus membaca al-Quran). Kegiatan ini sangat penting mengingat kemampuan membaca al-Quran merupakan langkah awal pendalaman dan pengakraban Islam lebih lanjut. 2. Kegiatan ekstrakurikuler yang tidak memiliki kaitan dengan bidang studi Pendidikan Agama Islam. Kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler tersebut dapat berupa: a. Kesenian, Kesenian sebagai kegiatan ekstrakurikuler Pendidiakn Agama Islam bisa berupa seni baca al-Quran, qasidah, kaligrafi, dan sebagainya. Di samping memberikan
10

Moh. User usman, lilies setiawati, Upaya Opitmalkan Kegiatan Belajar Mengajar, (Bandung: PT. Remajaja Rosdakarya, 1993), hlm. 22
11

ibid

14

keterampilan kepada siswa, seni seperti dinyatakan oleh Wardi Bachtiar, bisa membangun sesuatu perasaan keagamaan atau mengganti perasaan yang telah melekat dengan perasaan yang baru. b. Pesantren Kilat, Pesantren kilat adalah kajian dasar Islam dalam jangka waktu tertentu antara 2-5 hari tergatung situasi dankondisi. Kegiatan ini dapat diadakan di dalam atau di luar kota asalkan situasinya tenang, cukup luas, dapat menginap dan fasilitas memadai. c. Tafakur Alam, Tafakur alam adalah kegiatan yang bertujuan untuk menyegarkan kembali jiwa yang penat sambil menghayati kebesaran penciptaan Allah s.w.t. dan menguatkan ukhuwah. Biasanya berlangsung 1-3 hari dan diadakan di luar kota: pegunungan, perbukitan, taman/kebun raya, pantai dan lain sebagainya.
d. Shalat Jumat berjamaah. Bagi sekolah yang memiliki fasilitas

untuk menyelenggarakan shalat Jumat berjamaah, bisa menjadikan aktivitas ibadah ini sebagai bagian dari program kegiatan esktrakurikuler. Dalam kegiatan ekstrakurikuler ini, siswa tidak hanya sekedar menjalankan shalat secara berjamaah, tapi juga terlibat dalam penyelenggaraannya.12

12

Rahmat Raharjo, Inovasi Kurikulum PAI : Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran (Yogyakarta: Magnum Pustaka, 2010) hlm. 156

15

e. Majalah dinding.Sebagai kegiatan ekstrakurikuler, majalah dinding memiliki dua fungsi, yaitu : a). wahana informasi keislaman, b). pusat informasi kegiatan Islam baik internal sekolah maupun eksternal. Agar efektif, muatan informasi Islam dalam majalah dinding hendaknya yang singkat, padat, informatif, dan aktual. dan Masih banyak lagi jenis-jenis kegiatan ekstrakurikuler yang dapat diselenggarakan di sekolah tergantung kepada kebutuhan sekolah dan siswa.

F. Perbedaan Kegiatan Ekstrakurikuler dan Kegiatan Kurikuler (Intrakurikuler) Kegiatan ektrakuriluler berbeda dengan kegiatan kurikuler (intrakurikuler). Perbedaan keduanya ini dapat Dilihat dari beberapa aspek, antara lain (1) sifat kegiatan; (2) waktu pelaksanaan; (3) sasaran dan tujuan program; (4) teknis pelaksanaan dan; (5) evaluasi dan criteria keberhasilan. a. Sifat Kegiatan Bila dilihat dari sifat kegiatan, kegitan kurikuler merupakan kegiatan yang wajib diikuti oleh setiap siswa. Kegiatan kurikuler bersifat mengikat. Program kurikuler berisi berbagai kemampuan dasar dan kemampuan minimal yang harus dimiliki siswa di suatu tingkat sekolah (lembaga pendidikan). Oleh karenanya maka 16

keberhasilan pendidikan ditentukan oleh pencapaian siswa pada tujuan kegiatan kurikuler ini. Sebaliknya, kegiatan ektrakurikuler lebih bersifat sebagai kegiatan penunjang untuk mencapai program kegiatan kurikuler serta untuk mencapai tujuan pendidikan yang lebih luas. Sebagai kegiatan penunjang, maka kegiatan ekstrakurikuler sifatnya lebih luwes dan tidak terlalu mengikat. Keikutsertaan siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler yang diprogramkan lebih bergantung pada bakat, minat, dan kebutuhan siswa itu sendiri. b. Waktu Pelaksanaan Kalau ditinjau dari waktu pelaksanaan, waktu untuk kegiatan kurikuler pasti dan tetap, dilaksanakan sekolah secara terus-menerus setiap hari sesuai dengan kalender akademik. Sedangkan waktu pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler sangat bergantung pada sekolah yang bersangkutan, lebih bersifat fleksibel dan dinamis. c. Sasaran dan Tujuan Sebagai kegiatan inti persekolahan yang wajib diikuti oleh seluruh siswa, kegiatan kurikuler memiliki sasaran dan tujuan yang berbeda dengan kegiatan ekstrakurikuler.

17

Kegiatan kurikuler berhubungan dengan kegiatan untuk menumbuhkan kemampuan akademik siswa, sementara kegiatan ekstrakurikuler lebih menumbuhkan pengembangan aspek-aspek lain seperti pengembangan minat, bakat, kepribadian, dan kemampuan sebagai makhluk sosial, disamping tentu saja, sebagai pembantu pencapaian tujuan kegiatan kurikuler. d. Teknis Pelaksanaan Teknis pelaksanaan kegiatan kurikuler, sebagai kegiatan inti persekolahan, sangatlah ketat dan teratur, dengan struktur program yang pasti sesuai kalender akademik. Kegiatan kurikuler berada di bawah tanggungjawab guru bidang studi atau guru kelas. Sementara itu kegiatan ekstrakurikuler, penanggung

jawabnya dapat guru kelas, guru bidang studi yang mungkin lebih bersifat team work, sesuai dengan keahlian para guru tersebut untuk bidang-bidang tertentu. Bahkan tak jarang sekolah mempekerjakan tenaga dari luar untuk melaksanakan kegiatan ekstrakurikuler, di mana tenaga luar tersebut memiliki keahliankeahlian khusus yang diprogramkan pada kegiatan ekstrakurikuler. e. Evaluasi dan Kriteria Keberhasilan Keberhasilan kegiatan kurikuler ditentukan oleh

keberhasilan siswa dalam menguasai kompetensi yang sesuai 18

dengan kurikulum yang diberlakukan oleh sekolah. Evaluasi keberhasilan pencapaian ditentukan dengan menggunakan tes. Pada kegiatan ekstrakurikuler, kriteria keberhasilan lebih ditentukan oleh proses dan keikutsertaan dalam kegiatan itu. Analisis dan evaluasi keberhasilan dilakukan secara kualitatif.

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Dari Penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

19

1. Kegiatan

ekstrakurikuler

Pendidikan

Agama

Islam

adalah

rancangan atau usaha-usaha yang dijalankan dalam bentuk kegiatan yang dilakukan di luar jam pelajaran tatap muka, baik dilaksanakan di sekolah atau di luar sekolah dengan tujuan untuk memperluas wawasan pengetahuan dan kemampuan yang telah dipelajari siswa dalam bidang studi Pendidikan Agama Islam. 2. Di dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan struktur kurikulum yang dikembangkan mencakup 3 komponen yaitu: 1. Mata pelajaran, 2. Muatan local, 3. Pengembangan diri 3. Perbedaan ekstrakurikuler dengan kurikuler dapat dilihat dari beberapa aspek, antara lain (1) sifat kegiatan; (2) waktu pelaksanaan; (3) sasaran dan tujuan program; (4) teknis pelaksanaan dan; (5) evaluasi dan criteria keberhasilan.
4. Kegiatan ekstrakurikuler dapat dilakukan baik secara perorangan

atau kelompok. Kegiatan perseorangan dimaksudkan untuk meningkatkan pengetahuan, penyaluran bakat serta minat siswa. Sedangkan kediatan kelompok dimaksudakn untuk oembinaan masyarakat. B. Saran Demikian makalah yang bisa kami sampaikan, makalah ini pasatinya jauh dari kesempurnaan, tidak lain dikarenakan minimnya pengetahuan kami. Dengan tangan terbuka dan lapang dada kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan dengan rendah hati kami akan mendengar 20

saran, guna mengevaluasi makalah ini, semoga makalah ini memberi manfaat bagi kita. Amin.

DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas RI, Panduan Pengembangan Diri, Jakarta: Depdiknas, 2006

21

Hermawan, Asep Hery, dkk. Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran, Jakarta: UT. 2008 Mulyasa, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2007. Raharjo, Rahmat, Inovasi Kurikulum PAI, Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran, Yogyakarta: Magnun, 2010 Rusman, Manajemen Kurikulum, Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2009 Suryobroto, Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: PT Rineka Cipta, 1997 Sutisna, Oteng, Administrasi Pendidikan. Bandung: Nuansa, 2003 Usman, Moh. User, lilies setiawati, Upaya Opitmalkan Kegiatan Belajar Mengajar, (Bandung: PT. Remajaja Rosdakarya, 1993),

22