Anda di halaman 1dari 28

OPTIMASI ELECTRICAL SUBMERSIBLE PUMP (ESP)

DARI ANALISA DATA PRODUKSI HARIAN


DI SUMUR X LAPANGAN Y


PROPOSAL
SKRIPSI



OLEH:
MUHAMMAD AGUNG PAMBUDI
113050177/TM


PRODI TEKNIK PERMINYAKAN
FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN
YOGYAKARTA
2012
OPTIMASI ELECTRICAL SUBMERSIBLE PUMP (ESP)
DARI ANALISA DATA PRODUKSI HARIAN
DI SUMUR X LAPANGAN Y

I. LATAR BELAKANG MASALAH
Dalam memproduksikan minyak dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu
dengan cara sembur alam (natural flow) dan sembur buatan (artificial lift). Cara
pertama dilakukan bila tekanan reservoir cukup tinggi, sehingga dapat
mengalirkan fluida ke permukaan secara alamiah. Sedangkan cara yang kedua
dilakukan apabila tekanan reservoir tidak mampu lagi mengalirkan fluida
kepermukaan secara alamiah. Salah satu metode yang digunakan dalam
menangani masalah yang kedua adalah dengan menggunakan Pompa Benam
Listrik (Electrical Submersible Pump-ESP).
Metode pengangkatan fluida dengan ESP banyak digunakan karena sangat
efektif dan efisien untuk sumur yang menpunyai produktivitas indeks (PI) yang
besar, sumur yang dalam, serta untuk sumur-sumur miring. Ada banyak pilihan
jenis pompa ESP yang beredar di pasaran dimana tiap perusahaan
mengembangkan dan membuat bermacam-macam ukuran serta type dari pompa
benam listrik sehingga dapat dipilih type dan ukuran yang sesuai dengan
perhitungan.
Unit peralatan ESP di dalam sumur mempunyai usia (running time)
tertentu, sehingga laju produksinya tidak sesuai dengan harapan. Beberapa faktor
yang berpengaruh terhadap laju produksi sumur-sumur ESP diantaranya adalah
adanya berkurangnya cadangan minyak, adanya problem produksi (kepasiran,
conning, emulsi, scale dan sebagainya) dan desain pompa yang tidak optimal.
Dalam mendesain atau merencanakan pompa benam listrik (Pump Design)
ada 3 (tiga) hal penting yang harus di perhitungkan agar pompa dapat bekerja
pada kapasitas yang optimal, yaitu Head Capacity, Pump Efficiency dan Brake
Horse Power sehingga untuk memproduksikan fluida dengan kapasitas produksi
maksimum dan kapasitas kerja pompa yang optimum.

II. MAKSUD DAN TUJUAN
Maksud dan tujuan penelitian ini adalah mengoptimasikan sumur-sumur
ESP dengan mengetahui laju produksi, pump setting depth dan ukuran serta type
unit pompa yang tersedia. Dari hasil tersebut diharapkan dapat memilih unit
pompa ESP yang sesuai untuk menghasilkan laju produksi yang optimum.

III. TEORI DASAR
3.1. Produktivitas Formasi
Pada umumnya sumur-sumur yang baru ditemukan mempunyai tenaga
pendorong alamiah yang mampu mengalirkan fluida hidrokarbon dari reservoir
kepermukaan dengan tenaganya sendiri. Seiring berjalannya waktu produksi,
kemampuan dari formasi untuk mengalirkan fluida tersebut akan mengalami
penurunan, yang besarnya sangat tergantung pada penurunan tekanan reservoir.
Parameter yang menyatakan produktivitas formasi adalah Index Produktivitas (PI)
dan Inflow Performance Relationship (IPR).
Index Produktivitas (PI) merupakan index yang digunakan untuk menyatakan
kemampuan suatu formasi untuk berproduksi pada suatu beda tekanan tertentu.
wf s
P P
q
PI

= ................................................................................... (3-1)
dPwf
dq
PI = ........................................................................................ (3-2)
Inflow Performance Relationship (IPR) merupakan pernyataan PI secara
grafis yang menggambarkan perubahan-perubahan dari harga tekanan alir dasar
sumur (Pwf) versus laju alir (q) yang dihasilkan karena terjadinya perubahan
tekanan alir dasar sumur. Apabila tekanan reservoir di bawah tekanan bubble
point minyak, dimana gas semula larut akan terbebaskan, membuat fluida menjadi
dua fasa. Menurut Muskat, bentuk IPR pada kondisi tersebut melengkung,
sehingga PI menjadi suatu perbandingan antara perubahan laju produksi dq
dengan perubahan tekanan alir dasar sumur, dPwf.

3.2.Aliran Fluida dalam Pipa
3.2.1.Sifat Fisik Fluida
A. Kelarutan Gas Dalam Minyak (Rs)
Sistem minyak pada tekanan yang tinggi, gas akan terlarut dalam minyak,
dengan demikian harga kelarutan gas meningkat dan sebaliknya apabila terjadi
penurunan tekanan, fasa gas akan terbebaskan dari larutan minyak. Jumlah gas
yang terlarut akan konstan, apabila tekanan mencapai tekanan saturasi (Bubble
Point Pressure-Pb).

B. Faktor Volume Formasi
Faktor volume formasi diperlukan untuk memperkirakan volume fluida
pada suatu tekanan dan temperatur tertentu. Perubahan volume fluida yang
menyertai perubahan tekanan dan temperatur disebabkan oleh terbebaskannya gas
sebagai akibat perubahan tersebut

C Viskositas
Viskositas merupakan keengganan suatu fluida untuk mengalir. Harga
viskositas ini dipengaruhi oleh temperatur dan tekanan, pada temperatur yang
tinggi harga viskositas fluida akan mengecil dan sebaliknya pada temperatur
rendah harga viskositas akan semakin besar.

D. Faktor Deviasi Gas
Salah satu korelasi yang digunakan dalam perhitungan faktor deviasi gas
(Z), yaitu korelasi Standing dan Katz.



E. Specific Gravity Fluida
Specific Gravity fluida (SG) adalah perbandingan antara densitas fluida
tersebut dengan fluida yang lain pada kondisi standart (14.7 psi, 60
o
F). Untuk
menghitung besarnya SG fluida tertentu, biasanya air diambil sebagai patokan
densitas sebesar 62.40 lb/cuft.
3.2.2. Friction Loss
Secara umum persaman gradient tekanan yang digunakan untuk setiap
fluida yang mengalir pada sudut kemiringan pipa tertentu dinyatakan dengan tiga
komponen, yaitu adanya perubahan energi potensial (elevasi), adanya gesekan
pada dinding pipa dan adanya perubahan energi kinetik.
acc f el
dL
dP
dL
dP
dL
dP
dL
dP
(

+
(

+
(

=
(

....................................... (3-3)
dL g
VdP
d g 2
V f
sin
g
g
dL
dP
c c
2
c

+ u =
(

......................................... (3-4)
Keterangan :
= densitas fluida, lb/cuft
V = kecepatan aliran, ft/dt
f = faktor gesekan
d = diameter dalam pipa, inchi
a = sudut kemiringan pipa
g = percepatan gravitasi, ft/dt
2

g
c
= faktor konversi
Bila fluida mengalir didalam pipa maka akan mengalami tegangan geser
(shear stress) pada dinding pipa, sehingga terjadi kehilangan sebagian tenaganya
yang sering disebut dengan friction loss. Willian-Hazen membuat suatu
persamaan empiris untuk friction loss (hf), yaitu:
(
(

=
8655 , 4
85 , 1
85 , 1
ID
Q
C
100
0830 , 2 hf ........................................... (3-5)
Keterangan:
C = konstanta dari bahan yang digunakan dalam pembuatan pipa
Q = laju produksi, gallon/menit
ID = diameter dalam pipa, inchi

3.2.3. Tekanan, Head dan Gradient Tekanan
Tekanan hidrostatik suatu fluida adalah tekanan yang disebabkan oleh
suatu kolom fluida pada suatu luasan. Bila dinyatakan secara matematis :
h
144
1
P
f
= , lb/in
2
............................................................. (3-6)
Pada suatu kolom fluida, tekanan pada suatu titik adalah sama dengan
tekanan pada permukaan fluida ditambah dengan tekanan akibat kolom fluida
setinggi titik tersebut dari permukaan. Ketinggian tersebut disebut Head.
f
SG x 433 , 0
P
H = , ft ................................................................ (3-7)
Gradient tekanan disebabkan oleh suatu kolom fluida pada satu unit
ketinggian, sehingga bila Persamaan (3-7) domasukkan P = 1 psi dan H = 1 ft,
maka gradient tekanan (G
f
) adalah :
f f
SG x 433 , 0 G = ................................................................... (3-8)

3.3. Pompa Benam Listrik (Electric Submersible Pump-ESP)
Pada dasarnya Pompa Benam listrik adalah pompa centrifugal bertingkat
banyak, dimana setiap tingkat terdiri dari dua bagian, yaitu impeller (bagian yang
berputar) dan diffuser (bagian yang diam) serta memiliki poros yang dihubungkan
langsung dengan motor penggerak. Motor penggerak ini menggunakan tenaga
listrik yang di supplai dari permukaan dengan perantaraan kabel listrik.
Sedangkan sumber listrik diambil dari power plant yang ada di lapangan minyak.

3.3.1. Prinsip Kerja Pompa Benam Listrik
Prinsip kerja pompa benam listrik adalah berdasarkan pada prinsip kerja
pompa sentrifugal dengan poros tegak, setiap stage terdiri dari impeller dan
diffuser, yang dalam operasinya fluida diarahkan ke dasar impeller dengan arah
tegak gerak putar diberikan pada cairan oleh sudu-sudu impeller. Gaya sentrifugal
fluida menyebabkan aliran radial dan cairan meninggalkan impeller dengan
kecepatan tinggi dan diarahkan kembali ke impeller berikutnya oleh diffuser.
Cairan yang ditampung dalam rumah pompa kemudian dievaluasikan melalui
diffuser, sebagian tenaga kinetik diubah menjadi tenaga potensial berupa tekanan,
karena cairan dilempar ke luar, maka terjadi proses penghisapan.

3.3.2. Peralatan Electric Submersible Pump (ESP)
Secara umum peralatan Pompa Benam Listrik dapat dibagi menjadi dua
bagian, yaitu peralatan di bawah permukaan dan peralatan di atas permukaan.
Gambar 3.1. memperlihatkan secara lengkap peralatan di atas dan di bawah
permukaan dari Pompa Benam Listrik.

A. Peralatan Bawah Permukaan
Peralatan ini dalam satu kesatuan di ujung tubing produksi dan
dibenamkan kedalam fluida sumur. Adapun peralatan untuk bawah permukaan
adalah sebagai berikut:
1. PSI Unit (Pressure Sensing Instruments)
PSI (Pressure Sensing Instrument) adalah suatu alat yang mencatat tekanan
dan temperatur dalam sumur. Secara umum PSI unit mempunyai 2 komponen
pokok, yaitu :
a. PSI Down Hole Unit
Dipasang dibawah Motor Type Upper atau Center Tandem, karena alat ini
dihubungkan pada Wye dari Electric Motor yang seolah-olah merupakan
bagian dari Motor tersebut.
b. PSI Surface Readout
Merupakan bagian dari system yang mengontrol kerja Down Hole Unit
serta menampakkan (Display) informasi yang diambil dari Down Hole
Unit.
2. Motor Listrik
Motor ini berfungsi sebagai tenaga penggerak bagi unit pompa (prime
mover). Merupakan motor induksi tiga fasa yang terdiri dari dua kumparan, yaitu
stator (bagian yang diam) dan rotor (bagian yang bergerak). Rotor ini
dihubungkan dengan poros yang terdapat pada pompa (shaft) sehingga impeller
pompa akan berputar. Karena diameter luarnya terbatas (tergantung diameter
casing), maka untuk mendapatkan horse power yang cukup maka motor dibuat
panjang dan berganda (tandem). Motor ini diisi dengan minyak yang mempunyai
tahanan listrik (dielectric strength) tinggi. Minyak tersebut selain berfungsi
sebagai pelumas juga berfungsi sebagai tahanan (isolasi) dan sebagai penghantar
panas motor yang ditimbulkan oleh perputaran rotor ketika motor tersebut bekerja.
Panas tersebut dipindahkan dari rotor ke housing motor yang selanjutnya dibawa
kepermukaan oleh fluida sumur yang terproduksi.
3. Seal Section (Protector)
Protector (Reda) sering juga disebut dengan Seal Section (Centrilift) atau
Equalizer (ODI). Alat ini dipasang diantara gas separator dan motor listrik yang
mempunyai 4 (empat) fungsi utama, yaitu: untuk mengimbangi tekanan motor
dengan tekanan di annulus, sebagai tempat duduknya Thrust Bearing (yang
mempunyai bantalan axial dari jenis marine type) untuk meredam gaya axial yang
ditimbulkan oleh pompa, sebagai penyekat masuknya fluida sumur ke dalam
motor listrik serta memberikan ruang untuk pengembangan / penyusutan minyak
motor sebagai akibat dari perubahan temperatur dalam motor listrik pada saat
bekerja atau saat dimatikan.

1
2
3
4
5
6
7
8
10
9
11 12
13
14
15
16
1 Transformer bank
2 Switchboard
3 Ammeter
4 Surface cable
5 Junction box
6 Well head
7 Bleeder valve
8 Round cable
9 Splice
10 Tubing
11 Flat cable
12 Pump
13 Intake
14 Protector
15 Motor
16 Centralizer






























Gambar 3.1. ESP Unit (Courtesy TRW-Reda)
4. Intake (Gas Separator)
Intake/Gas Separator dipasang dibawah pompa dengan cara
menyambungkan sumbunya (shaft) memakai coupling. Intake ada yang dirancang
untuk mengurangi volume gas yang masuk kedalam pompa, disebut Gas
Separator, tetapi ada juga yang tidak yang disebut Intake atau Standart Intake.
5. Unit Pompa
Unit pompa merupakan Multistage Centrifugal Pump, yang terdiri dari:
impeller, diffuser, shaft (tangkai) dan housing (rumah pompa). Di dalam housing
pompa terdapat sejumlah stage, dimana tiap stage terdiri dari satu impeller dan
satu diffuser. Jumlah stage yang dipasang pada setiap pompa akan dikorelasi
langsung dengan Head Capacity dari pompa tersebut. Dalam pemasangannya bisa
menggunakan lebih dari satu (tandem) tergantung dari Head Capacity yang
dibutuhkan untuk menaikkan fluida dari lubang sumur ke permukaan. Impeller
merupakan bagian yang bergerak, sedangkan diffuser adalah bagian yang diam.
Seluruh stage disusun secara vertikal, dimana masing-masing stage dipasang
tegak lurus pada poros pompa yang berputar pada housing. Prinsip kerja pompa
ini, yaitu fluida yang masuk kedalam pompa melalui intake akan diterima oleh
stage paling bawah dari pompa, impeller akan mendorongnya masuk, sebagai
akibat proses centrifugal maka fluida akan terlempar keluar dan diterima oleh
diffuser.
Oleh diffuser, tenaga kinetis (velocity) fluida akan diubah menjadi tenaga
potensial (tekanan) dan diarahkan ke stage selanjutnya. Pada proses tersebut fluida
memiliki energi yang semakin besar dibandingkan pada saat masuknya. Kejadian
tersebut terjadi terus-menerus sehingga tekanan head pompa berbanding linier
dengan jumlah stages, artinya semakin banyak stages yang dipasangkan, maka
semakin besar kemampuan pompa untuk mengangkat fluida.



6. Unit Kabel Listrik
Power yang dibutuhkan oleh motor disalurkan dari permukaan melalui
kabel listrik yang dilapisi dengan penyekat. Kabel ini ditempatkan sepanjang
tubing dengan Clamp. Unit kabel ini terdiri atas tiga buah kabel tembaga yang
satu sama lain dipisahkan dengan pembalut terbuat dari karet dan keseluruhannya
dibungkus dengan pelindung baja. Ada dua jenis kabel, yaitu flat cable (pipih) dan
round cable (bulat), yang penggunaannya tergantung pada besarnya ruang
(clearances) yang tersedia.
7. Check Valve dan Bleeder Valve
Check valve dipasang 23 joint diatas pompa, gunanya untuk menahan
liquid agar tidak turun ke bawah yang dapat mengakibatkan pompa berputar
terbalik sewaktu pompa mati. Bleeder valve berada 1 joint diatas check valve
digunakan untuk mengeringkan fluida ke annulus bila suatu bar (besi) dijatuhkan
dalam tubing untuk membukanya.

B. Peralatan di Atas Permukaan
Peralatan diatas permukaan terdiri atas : Wellhead, Junction Box,
Switchboard dan Transformer.
1. Wellhead
Wellhead atau kepala sumur dilengkapi dengan tubing hanger khusus yang
mempunyai lubang untuk cable pack off atau penetrator. Cable pack off ini
biasanya tahan sampai tekanan 3000 psi. Tubing hanger dilengkapi juga dengan
lubang untuk hidraulic control line, yaitu saluran cairan hidraulik untuk menekan
subsurface ball valve agar terbuka.
2. Junction Box
Junction Box merupakan suatu tempat yang terletak antara switchboard
dan wellhead yang berfungsi untuk tempat sambungan kabel atau penghubung
kabel yang berasal dari dalam sumur dengan kabel yang berasal dari Switchboard.
Junction Box juga digunakan untuk melepaskan gas yang ikut dalam kabel agar
tidak menimbulkan kebakaran di switchboard.

3. Switchboard
Berfungsi sebagai pengendali atau kontrol peralatan pompa yang
ditenggelamkan kedalam sumur. Alat ini merupakan kombinasi dari motor starter,
alat pelindung dari overload/underload, alat pencatat tegangan serta kuat arus
listrik selama dalam kondisi operasi atau ammeter recording.
4. Transformer
Berfungsi sebagai pengubah tegangan dari primary voltage menjadi
voltage yang disesuaikan dengan kebutuhan motor yang digunakan. Alat ini
terediri dari core atau inti yang dikelilingi oleh coil dari lilitan kawat tembaga.
Keduanya baik core maupun coil direndam dengan minyak trafo sebagai
pendingin dan isolasi. Perubahan tegangan akan sebanding dengan jumlah lilitan
kawatnya.

3.3.3. Dasar-dasar Perhitungan ESP
3.3.3.1. Perkiraan Laju Produksi Maksimum
Laju produksi sumur yang diinginkan harus sesuai dengan produktivitas
sumur. Pada umumnya fluida yang mengalir dari formasi ke lubang sumur terdiri
dari tiga fasa, yaitu gas, minyak dan air, maka dalam pengembangan kelakuan
aliran tiga fasa dari formasi ke lubang sumur dapat menggunakan analisis regresi
dari Metode Pudjo Sukarno.
( ) ( )
2
r wf 2 r wf 1 o
max , t
o
P P A P P A A
q
q
+ + = ....................... (3-9)
Keterangan :
A
n
= konstanta persamaan (n = 0, 1 dan 2) dimana harganya berbeda
untuk water cut yang berbeda. Hubungan antara konstanta tersebut
dengan water cut ditentukan pula dengan analisis regresi:
( ) ( )
2
2 1 0 n
WC C WC C C A + + = ........................................ (3-10)
C
n
= konstanta untuk masing-masing harga A
n
(dalam Tabel III-1).


Tabel III-1.
Konstanta C
n
Untuk Masing-Masing A
n


A
n
C
0
C
1
C
2

A
0
0.980321 0.115661 10
-1
0.179050 10
-4

A
1
0.414360 0.392799 10
-2
0.237075 10
-5

A
2
0.564870 0.762080 10
-2
0.202079 10
-4


Sedangkan hubungan antara tekanan alir dasar sumur terhadap water cut
dapat dinyatakan sebagai P
wf
/P
r
terhadap WC/(WC @ P
wf
= P
r
), dimana (WC @
P
wf
= P
r
) telah ditentukan dengan analisis regresi dan menghasilkan persamaan
berikut :
| |
r wf 2 1
r wf
P / P P Exp P
P P @ WC
WC
=
=
................................. (3-11)
Dimana harga P
1
dan P
2
tergantung dari harga water cut dan dapat ditentukan
dengan persamaan berikut :
) WC ( Ln 130447 . 0 606207 . 1 P
1
= .................................... (3-12)
) WC ( Ln 110604 . 0 517792 . 0 P
2
+ = ................................. (3-13)
dimana water cut dinyatakan dalam persen (%) dan merupakan data uji produksi.

3.3.3.2. Total Dynamic Head (TDH)
Total dynamic head adalah suatu istilah yang menyatakan total pressure dimana
pompa bekerja, dinyatakan sebagai head (ketinggian kolom cairan, ft). TDH juga
dinyatakan sebagai perbedaan tekanan (pressure differential) sepanjang pompa
(outlet-inlet), atau sebagai kerja yang dilakukan oleh pompa pada cairan untuk
menaikkan energi dari tingkat tertentu ke tingkat lainnya.

f
t
fl H
SG
2,31 x P
Z TDH + + = ........................................................ (3-14)

Atau :
f
t
fl H
Gf
P
Z TDH + + = ................................................................. (3-15)
Keterangan :
TDH = Total Dynamic Head
Z
fl
= Kedalaman dari permukaan fluida dianulus pada saat sumur sedang
berproduksi (producing fluid level), ft
P
t
= Tekanan tubing di permukaan, psi
SG = Specific Gravity
H
f
= Kehilangan tekanan karena friksi,
G
f
= Gradien tekanan fluida, psi/ft

3.3.3.3. Daya Kuda (Horse Power) dan Effisiensi
TDH dan laju produksi diketahui, maka hydraulic horse power dapat
ditentukan dengan persamaaan sebagai berikut :
C
SG x TDH x q
HHP = ................................................................ (3-16)
Keterangan :
HHP = Hydraulic horse power yang diberikan oleh pompa, hp
C = Faktor konversi (135770 jika q dalam BPD, TDH dalam ft dan 6580
jika q dalam m
3
/hari, TDH dalam m).
Input brake horse power dari permukaan ke pompa dapat dinyatakan
dengan menggunakan term koreksi dengan effisiensi pompa, motor dan
kehilangan tekanan di kabel (effisiensi kabel), jadi :

HHP
BHP = , ft........................................................................... (3-17)
Keterangan :
BHP = Brake horse power, hp
= Effisiensi total, %

3.3.3.4. Suction Head dan Kavitasi
Suction Head (Tinggi Hisap)
Air akan naik mengikuti torak sampai pada mencapai ketinggian Hs jika di
dalam silinder atau torak yang semula berada dipermukaan cairan.

P x 144
Hs = , ........................................................................... (3-18)
Keterangan :
Hs = Suction head, ft
P = Tekanan permukaan cairan, psi
= Densitas fluida, lb/cuft

Kavitasi dan Net Positive Suction Head (NPHS)
Gas yang semula terlarut di dalam cairan terbebaskan jika tekanan absolut
cairan pada suatu titik di dalam pompa berada di bawah tekanan saturasi (Pb) pada
temperatur cairan. Gelembung-gelembung gas ini akan mengalir bersama-sama
dengan cairan sampai pada daerah yang memiliki tekanan lebih tinggi dicapai
dimana gelembung tadi akan mengecil. Fenomena ini disebut sebagai kavitasi
yang dapat menurunkan effisiensi dan merusak pompa.
Kejadian ini berhubungan dengan kondisi penghisapan, dan apabila
kondisi penghisapan berada diatas tekanan buble point, maka kavitasi tidak
terjadi. Kondisi minimum yang dikehendaki untuk mencegah terjadi kavitasi pada
suatu pompa deisebut sebagai Net Positive Suction Head (NPHS). NPHS adalah
tekanan absolut di atas tekanan saturasi yang diperlukan untuk menggerakkan
fluida masuk ke dalam impeller.

3.3.3.5. Pump Setting Depth
Suatu batasan umum untuk menentukan letak kedalaman pompa dalam
suatu sumur adalah bahwa pompa harus ditenggelamkan di dalam fluida sumur.
Static Fluid Level (SFL, ft)
Apabila sumur dalam keadaan mati (tidak diproduksikan), sehingga tidak
ada aliran, maka tekanan didepan perforasi sama dengan tekanan statik sumur
(P
s
). Sehingga kedalam permukaan fluida di annulus (SFL< ft) adalah :
Gf
Pc
Gf
Ps
D SFL + = , feet ........................................................ (3-19)
Working Fluid Level / Operating Fluid Level (WFL, ft).
Bila sumur diproduksikan dengan rate produksi sebesar q (bbl/D), dan
tekanan aliran dasar sumur adalah Pwf (psi), maka ketinggian (kedalaman bila
diukur dari permukaan) fluida di annulus adalah :
Gf
Pc
Gf
Pwf
D WFL + = , feet .................................................... (3-20)
Keterangan :
SFL = Statik Fluid Level, ft
WFL = Working Fluid Level, ft
Ps = Tekanan Statik sumur, psi
Pwf = Tekanan alir dasar sumur, psi
q = Rate produksi, bbl/day
D = Kedalaman sumur, ft
Pc = Casing Head Pressure, psi
Gf = Gradient Fluida Sumur, psi/ft

a) Pump Setting Depth Minimum
Merupakan kedalaman pompa yang tenggelam di permukaan fluida, agar
tekanan di annulus yang berada di depan impeller tingkat pertama lebih besar dari
tekanan bubble point. Tekanan masuk pompa (PIP) di depan impeller tingkat
pertama = Pc + Pb, sehingga Pump Setting Depth minimum (PSD
min
) adalah :
Gf
Pc
Gf
Pb
WFL min PSD + + = , feet .......................................... (3-21)

b) Pump Setting Depth Maksimum
Kedalaman pompa maksimum (PSD
max
) ditentukan dengan
persamaan :
Gf
Pc
Gf
Pb
D max PSD + = , feet ............................................... (3-22)

c) Pump Setting Depth Optimum.
Terbuka dan tertutupnya casing head akan mempengaruhi tekanan casing
atau tekanan yang bekerja pada permukaan dari fluida di annulus. Hal ini akan
mempengaruhi besarnya suction head dari pompa, dan besarnya suction head ini
akan berpengaruh dalam menentukan setting depth pompa yang optimum.

Untuk casing head tertutup, maka :
Kedalaman pompa optimum =
f
atm
G
P PIP
WFL

+ ................. (3-23)
Untuk casing head terbuka, maka :
Kedalaman pompa optimum =
f
c
G
P PIP
WFL

+ ..................... (3-24)
3.3.3.5. Perkiraan Jumlah Tingkat Pompa
Untuk menghitung jumlah tingkat pompa (stage), sebelumnya dihitung
dahulu Total Dynamic Head (TDH, ft) pada laju produksi yang diinginkan dan
Pump Setting Depth tertentu.
ft , H H WFL TDH
THP f
+ + = ........................................... 3-25)
Selanjutnya penentuan jumlah tingkat pompa (St) dengan persamaan:
Hp
TDH
St = .................................................................................. (3-26)

Keterangan :
WFL = working fluid level, ft
H
f
= head dari total kehilangan tekanan karena gesekan pada dinding, ft
H
THP
= head dari tubing head pressure, ft (THP dibagi gradient fluida)
Hp = head pompa setiap stage, ft/stage (dari grafik pump perform. curve)

3.3.3.6. Pemilihan Ukuran Motor
Dalam pemilihan motor yang sesuai, apabila besarnya horse power yang
dibutuhkan motor pada hasil perhitungan tidak tersedia dalam tabel, maka dipilih
motor yang memiliki horsepower lebih besar yang paling mendekati. Pemilihan
ukuran motor didasarkan atas hal-hal sebagai berikut :
a. Tegangan listri yang tersedia
b. Ukuran casing sumur
c. Besarnya horsepower yang dibutuhkan
d. Kedalaman pompa
Besarnya horsepower yang dibutuhkan (HP motor) adalah sebesar:
HP Hp St SG motor HP
f
= ............................................ (3-27)
Keterangan :
SG
f
= spesific gravity fluida
St = jumlah tingkat pompa yang dipakai
Hp = horsepower motor untuk tiap stage (pump performance curve)
3.3.3.7. Pemilihan Kabel Listrik
Pemilihan kabel termasuk diantaranya ialah pemilihan ukuran kabel, tipe
kabel dan panjang kabel. Ukuran kabel yang tepat adalah tergantung beberapa
faktor antara lain penurunan voltage, ampere, clearance (jarak) antara production
string dengan casing. Baik Reda maupun Centrilift telah membuat grafik-grafik
penurunan voltage pada kabel untuk beberapa harga ampere motor yang berbeda.



3.3.3.8. Pemilihan Switchboard dan Transformer
Di dalam menentukan switchboard yang akan dipakai perlu diketahui
terlebih dulu berapa besarnya voltage yang akan bekerja pada switchboard
tersebut. Besarnya tegangan yang bekerja pada switchboard dapat dihitung dari
persamaan berikut ini :
Volt V V V
c m s
+ = ............................................................... (3-28)
Volt Drop Voltage ) 100 L ( V
c
= ..................................... (3-29)
Voltage Drop adalah kehilangan voltage, volt/1000 ft (dari grafik voltage
drop chart). Dengan mengetahui besarnya tegangan permukaan (Vs), maka dapat
dipilih tipe switchboard yang sesuai.
Untuk menentukan besarnya transformer yang diperlukan dihitung dengan
persamaan berikut :
KVA ,
1000
73 . 1 I V
T
m s

= .................................................... (3-30)
Keterangan :
V
s
= surface voltage, volt
V
m
= motor voltage, volt
V
c
= correction voltage, volt
L = panjang kabel, ft
T = ukuran transformer, KVA
V
s
= surface voltage, volt
I
m
= ampere motor, Ampere

IV. METODELOGI
4.1. Pembuatan kurva IPR Tiga Fasa
Prosedur pembuatannya kinerja aliran tiga fasa dari Metode Pudjo Sukarno
adalah sebagai berikut :
Langkah 1. Mempersiapkan data-data penunjang meliputi :
Tekanan Reservoir/Tekanan Statis Sumur
Tekanan Alir Dasar Sumur
Laju Produksi Minyak dan Air
Harga Water Cut (WC) berdasarkan data Uji Produksi (%)
Langkah 2. Penentuan WC@ Pwf Ps
Menghitung terlebih dahulu harga P
1
dan P
2
yang diperoleh dari
Persamaan (3-12) dan (3-13). Kemudian hitung harga WC@ Pwf
Ps dengan Persamaan (3-11).
Langkah 3. Penentuan konstanta A
0
, A
1
dan A
2

Berdasarkan harga WC@PwfPs kemudian menghitung harga
konstanta tersebut menggunakan Persamaan (3-10) dimana
konstanta C
0
, C
1
dan C
2
diperoleh dalam Tabel III-1.
Langkah 4. Penentuan Qt maksimum
Menghitung Qt maksimum dari Persamaan (3-9) dan konstanta A
0
,
A
1
dan A
2
dari langkah 3.
Langkah 5. Penentuan Laju Produksi Minyak (Qo)
Berdasarkan Qt maksimum langkah 4, kemudian menghitung harga
laju produksi minyak qo untuk berbagai harga Pwf.
Langkah 6. Penentuan Laju Produksi Air (Qw)
Menghitung besarnya laju produksi air dari harga Water Cut (WC)
pada tekanan alir dasar sumur (Pwf) dengan persamaan :
Qo
WC 100
WC
Qw
|
.
|

\
|

= ............................................... (3-31)
Langkah 7. Membuat tabulasi harga-harga Qw, Qo dan Qt untuk berbagai
harga Pwf pada Ps aktual .

Langkah 8. Membuat grafik hubugan antara Pwf terhadap Qt , diamana Pwf
mewakili sumbu Y dan Qt mewakili sumbu X.

4.2. Evaluasi Unit ESP Terpasang
a. Penentuan Specific Gravity Fluida Campuran
1. SG
rata-rata
=
WOR 1
) SG x (WOR ) SG x (1
w o
+
+

2. Gf = 0,433 psi/ft x SG
rata-rata

Pengaruh adanya gas Gf dikurangi 10 %

b. Penentuan Pump Intake Pressure (PIP)
PIP = Pwf Gf x (HS HPIP)

c. Perhitungan Gas
1. Menentukan kelarutan gas dalam minyak (Rs) @ intake
2. Menentukan Faktor Volume Formasi Gas (Bg) @ intake
3. Menentukan Faktor Volume Formasi Minyak (Bo) intake
4. Menentukan total fluida dan persentase volume gas bebas @ intake.
Menentukan total volume gas, minyak dan air @ intake
Vt = Vo + Vg + Vw
Menentukan persentase volume gas bebas terhadap total volume
fluida @ intake
% Volume Gas Bebas =
t
g
V
V
x 100 %

d. Penentuan Total Dynamic Head (TDH)
1. Menentukan Producing / Working Fluid Level (Z
fl
)
Working Fluid Level (Z
fl
) = HS -
Gf
Pwf



2. Menentukan Tubing Friction Loss (Hf)
Friction Loss (F) =
4.8655
1.85 1.85
ID
34.3
Qt
C
100
2.083
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|

Tubing Friction Loss (Hf) = Friction Loss (F) x PSD
3. Menentukan Tubing Head (H
t
)
Tubing Head (H
t
) =
Gf
) (P Pressure Tubing
t

4. Menentukan Total Dynamic Head (TDH)
f
t
fl H
Gf
P
Z TDH + + =

e. Penentuan jumlah stages
Jumlah Stages =
stages per Head
TDH


f. Pemilihan Jenis Motor
1. Menentukan Hydraulic Horse Power (HHP)
HHP =
C
SG x TDH x q

2. Menentukan Brake Horse Power (BHP)
BHP =
Kabel Motor pompa
Eff x Eff x Eff
HHP


g. Penentuan Kecepatan Alir di Annulus Motor (Flow Velocity)
Flow Velocity (FV) =
2
motor
2
casing
) (OD ) (ID
Qt x 0,0119



h. Penentuan Terjadinya Kavitasi
1. P = Pb PIP
2. = SG x 8,33
3. P = 0,052 x x h
4. h =
x 0,052
P

5. Kavitasi =
stage per Head
h



4.3. Desain Electric Submersible Pump (ESP)
Desain pompa usulan dilakukan dengan pengaturan dan penyesuaian
kembali tipe pompa, jumlah stage, motor dan lain-lain berdasarkan data produksi
yang diinginkan sesuai dengan produktivitas formasi dalam suatu periode tertentu,
sehingga diperoleh laju produksi (Q
L
) yang optimum.
Data yang diperlukan
Water Cut
Gas Oil Ratio
Water Oil Ratio
Laju Alir Minyak (Qo)
Laju Alir Air (Qw)
Laju Alir Gas (Qg)
Water Specific Gravity (SGw)
Oil Specific Gravity (SGo)
API Gravity
Tekanan Statis (Ps)
Tekanan Saturasi (Pb)
Tekanan Alir Dasar Sumur (Pwf)
Tekanan Tubing (Pt)
ID Tubing
ID Casing
Mid Perforasi
Pump Setting Depth







Data Sifat Fisik
Batuan Formasi
Data Sifat Fisik
Fluida Formasi
Data Sumur Data Produksi

Porositas ()


API Minyak

Diameter Tubing

Laju Produksi Total
(Qt)

Permeabilitas (K)


SG Gas

Diameter Casing

Qo

Saturasi Fluida
(Sw)

SG Air Formasi

Panjang Tubing

Water Cut

Tekanan Kapiler
(Pc)

Kelarutan Gas (Rs)

Kedalaman
Interval Formasi

GLR Formasi

Wetabilitas


o, g, w

Ketinggian Fluid
Level

GOR

Viskositas dan
Densitas Minyak

Temperatur
Dasar Sumur

WOR

Temperatur
Permukaan


PI

PSD


PS

Tipe dan Stage
Pompa Terpasang

SG Gas Injeksi

Motor


PC

Tipe Kabel


Pwh

Switchboard dan
Transformer

Pwf

Kurva Pressure
Transverse Sumur

Gradien Fluida, Pb



RENCANA DAFTAR ISI TUGAS AKHIR

HALAMAN JUDUL
HALAMAN PENGESAHAN
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR TABEL
DAFTAR LAMPIRAN
BAB I. PENDAHULUAN
BAB II. TINJAUAN UMUM LAPANGAN
2.1. Keadaan Geologi Lapangan
2.2. Karakteristik Reservoir Lapangan
2.3. Sejarah Produksi Lapangan
BAB III. TEORI DASAR
3.1. Produktifitas Formasi
3.2. Kelakuan Aliran Fluida dalam Pipa dan Friction Loss
3.2.1. Sifat fisik Fluida
3.2.2. Friction Loss
3.2.3. Tekanan Head dan Gradien Tekanan
3.3. Pompa Benam Listrik ( ESP )
3.3.1. Peralatan Pompa Benam Listrik
3.3.2. Karakteristik Kinerja ESP
3.3.2.1. Kurva Kelakuan ESP
3.3.2.2. Brake Horse Power
3.3.2.3. Kurva Intake Pompa
3.3.3. Dasar Perencanaan Electric Submersible Pump (ESP)
3.3.3.1. Perkiraan Laju Produksi Maksimum
3.3.3.2. Pembuatan Kurva IPR Tiga Fasa
3.3.3.3. Perkiraaan Pump Setting Depth
3.3.3.4. Penentuan Jumlah Tingkat Pompa
3.3.3.5. Pemilihan Motor dan Horse Power
3.3.3.6. Pemilihan Kabel Listrik
3.3.3.7. Pemilihan Switchboard dan Transformer
BAB IV. OPTIMASI ELECTRICAL SUBMERSIBLE PUMP
(ESP) DARI DATA PRODUKSI HARIAN
4.1. Evaluasi Efisiensi Pompa Terpasang
4.2. Optimasi Dan Desain Ulang Pompa ESP Terpasang
4.2.1 Penentuan Laju Produksi yang Diinginkan
4.2.2 Perkiraan Pump Setting Depth (PSD)
4.2.3 Penentuan Total Dynamic Head (TDH)
4.2.4 Pemilihan Tipe dan Ukuran Pompa
4.2.5 Penentuan Jumlah Stage
4.2.6 Pemilihan Motor
4.2.7 Pemilihan Switchboard dan Transformer
4.2.8 Penentuan Q
optimum
dan Effisiensi Pompa
4.2.9 Penentuan Pompa yang Dipilih
4.2.10 Analisa Perubahan BOPD Hasil Analisa Dengan
Desain Ulang ESP
4.2.11 Analisa Perubahan Water Cut Yang Menunjukkan
Nilai Ekonomis Tertinggi Dari Desain ESP
BAB V. PEMBAHASAN
BAB VI. KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR SIMBOL
LAMPIRAN






















RENCANA DAFTAR PUSTAKA

1. Beggs, H. D., Production Optimization Using Nodal Analysis, Oil and Gas
Consultant International Inc., Tulsa, Oklahama, 1991.
2. Brown, E., Kermit, The Technology of Artificial Lift Method, Volume 1
Division of PennWell Publishing Co., Tulsa, Oklahama, 1984.
3. Brown, E., Kermit, The Technology of Artificial Lift Method, Volume 2B
Division of PennWell Publishing Co., Tulsa, Oklahama, 1984.
4. Brown, E., Kermit, The Technology of Artificial Lift Method, Volume 4
Division of PennWell Publishing Co., Tulsa, Oklahama, 1984.