Anda di halaman 1dari 51

BAB I PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan faktor yang sangat penting dalam kehidupan manusia untuk melakukan pembangunan di segala bidang. Pendidikan memungkinkan manusia untuk terus tumbuh dan berkembang dengan potensi yang dimilikinya hingga mampu untuk mengoptimalkan kemampuannya. Kesuksesan pendidikan berkaitan erat dengan proses belajar dan mengajar yang dapat mengembangkan bakat, minat dan kepribadian setiap peserta didik. Segala proses pendidikan selalu diarahkan untuk menyediakan atau menciptakan manusia- manusia terdidik bagi kepentingan bangsa dan negara. Pendidikan menyediakan banyak cabang ilmu pengetahuan yang akan dibutuhkan peserta didik untuk mendukung kemampuannya dalam kepentingan bangsa dan negara salah satunya adalah matematika. Matematika merupakan cabang ilmu pengetahuan yang terdapat dalam kurikulum sekolah dan diajarkan disetiap jenjang sekolah, baik tingkat dasar, menengah, maupun di perguruan tinggi. Menurut Dreeben (Hamzah, 2001:7) matematika diajarkan di sekolah dalam rangka memenuhi kebutuhan jangka panjang (long-term functional needs) bagi siswa dan masyarakat. Sedangkan menurut Sujono (Hamzah, 2001:8) matematika perlu diajarkan di sekolah karena matematika menyiapkan siswa menjadi pemikir dan penemu, matematika menyiapkan siswa menjadi warga negara yang hemat, cermat dan efisien dan matematika membantu 1

siswa mengembangkan karakternya. Pendapat yang lain adalah pendapat Stanic (Hamzah, 2001:8) menegaskan bahwa tujuan pembelajaran matematika di sekolah adalah untuk meningkatkan kemampuan berfikir siswa, peningkatan sifat kreativitas dan kritis. Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat dikatakan bahwa pembelajaran matematika di sekolah merupakan hal penting yang dibutuhkan suatu negara untuk membentuk generasi pembangunan yang berkualitas. Dalam pembelajaran aktif siswa dipandang sebagai subyek bukan obyek dan belajar lebih dipentingkan daripada mengajar. Disamping itu siswa ikut berpartisipasi ikut mencoba dan melakukan sendiri yang sedang dipelajari. Sedangkan dalam pembelajaran yang mengacu pada pembelajaran aktif, fungsi guru adalah menciptakan suatu kondisi belajar yang memungkinkan siswa berkembang secara optimal. Berdasarkan hasil pengamatan, proses pembelajaran yang digunakan di SMP Muhammadiyah 7 Panton Labu adalah pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher oriented). Siswa masih belum aktif dalam kegiatan pembelajaran dan selama pembelajaran guru lebih menekankan penyampaian tekstual serta kurang

mengembangkan motivasi dan kemampuan belajar matematika. Metode pembelajaran seperti ini umumnya dikenal sebagai metode ekspositori. Diskusi antar kelompok jarang dilakukan pada metoda ini sehingga interaksi dan komunikasi antara siswa dengan siswa lainnya maupun dengan guru masih belum terjalin selama proses pembelajaran.

Pembelajaran matematika dengan metode ekspositori cenderung meminimalkan keterlibatan siswa sehingga guru nampak lebih aktif. Kebiasaan bersikap pasif dalam pembelajaran dapat mengakibatkan sebagian besar siswa takut dan malu bertanya pada guru mengenai materi yang kurang dipahami. Suasana belajar di kelas menjadi sangat monoton dan kurang menarik. Hal ini masih dianggap kurang mendukung tujuan setiap proses

belajar mengajar yang menginginkan hasil yang optimal. Kegiatan ini akan tercapai secara optimal jika siswa sebagai subjek terlibat secara aktif baik fisik maupun emosinya dalam proses belajar mengajar. Menyangkut hal tersebut, maka dibutuhkan satu metoda yang mampu meningkatan aktivitas, pola berfikir kritis, dan kreatif serta hasil belajar matematika
khususnya pokok bahasan bangun ruang. Bangun ruang merupakan materi yang sangat

penting dikuasai karena materi ini banyak diaplikasikan dalam ilmu pengetahuan lain, salah satunya sangat berguna bagi siswa yang ingin melajutkan pendidikan ke jurusan yang berbasis matematika. Bangun ruang juga sangat dibutuhkan dalam

implementasinya terhadap pendidikan berbasis masyarakat sebagai proses aplikasi mengingat banyak hal tidak terlepas dari bangun yang bervolum. Permasalahan di atas menuntut guru mencari solusi guna membantu siswa agar lebih mudah dalam memahami materi bangun ruang dengan menerapkan pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) mencakup suatu kelompok kecil siswa yang bekerja sebagai sebuah tim untuk menyelesaikan sebuah masalah,

menyelesaikan suatu tugas, atau untuk mengerjakan sesuatu untuk mencapai tujuan bersama lainnya. Salah satu cooperative learning adalah STAD. Menurut Suherman dkk (2003:260) inti dari STAD (Student TeamsAchievementDivisions) adalah guru menyampaikan suatu materi, kemudian para siswa bergabung dalam kelompoknya yang terdiri atas empat atau lima orang untuk menyelesaikan soal-soal yang diberikan oleh guru. Setelah selesai mereka menyerahkan pekerjaannya secara tunggal untuk setiap kelompok kepada guru. Berdasarkan uraian sebelumya, peneliti, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul: Meningkatkan Kemampuan Siswa pada Materi Bangun Ruang Melalui Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD di Kelas VII SMP Muhammadiyah 7 Panton Labu Tahun Pelajaran 2011/2012.

1.2

Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dari penelitian

iniadalah Bagaimanakah Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD yang dapat meningkatkan kemampuan siswa pada materi Bangun Ruang dikelas VII di SMP Muhammadiyah 7 Panton Labu?

1.3

Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah tersebut di atas, maka tujuan penelitian ini adalah

untuk mendeskripsikan penerapan model pembelajaran tipe STAD yang dapat

meningkatkan kemampuan siswa pada materi bangun ruang dikelasVII SMP Muhammadiyah 7 Panton Labu.

1.4.

Manfaat Penelitian 1. Bagi Peneliti, Guru dan Sekolah Menambah wawasan, pengetahuan dan keterampilan peneliti khususnya yang terkait dengan penelitian yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Dapat digunakan sebagai bahan referensi atau masukkan tentang model pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan hasil belajar siswa. informasi bagi lembaga (sekolah) terkait dalam meningkatan mutu pendidikan di Provinsi Aceh. 2. Bagi Siswa Memudahkan siswa dalam memahami materi matematika khususnya bangun ruang dengan semangat kerjasama antar siswa, motivasi dan daya tarik siswa terhadap matematika.

BAB II LANDASAN TEORITIS

2.1

Konsep Dasar Belajar


Gagne dan Berliner (dalam Anni, 2005:2) menyatakan bahwa belajar merupakan

proses dimana suatu organisme mengubah perilakunya karena hasil dari pengalaman. Morgan (dalam Anni, 2005:2) menyatakan bahwa belajar merupakan perubahan relatif permanen yang terjadi karena hasil dari praktek atau pengalaman. Slavin (dalam Anni, 2005:2) menyatakan bahwa belajar merupakan perubahan individu yang disebabkan oleh pengalaman. Menurut Hitzman belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi dalam diri manusia disebabkan oleh pengalaman yang dapat mempengaruhi tingkah laku manusia (Muhibbin, 2005:90). Kegiatan belajar merupakan unsur yang sangat mendasar dalam setiap penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan. Jadi perubahan yang ditimbulkan oleh pengalaman baru dapat dikatakan belajar apabila mempengaruhi prilaku dalam kehidupan sehari-hari dalam batas tertentu.

Menurut Hamalik (2003:50) terdapat unsur-unsur yang terkait dalam proses belajar diantaranya: 1) motivasi siswa, 2) bahan belajar, 3) alat bantu belajar, 4) suasana belajar, 5) kondisi subjek yang belajar. Kelima unsusr inilah yang bersifat dinamis yang dapat berubah, menguat atau melemah yang mempengaruhi kualitas belajar siswa. Proses belajar pada hakikatnya Merupakan perubahan dalam tingkah laku seseorang dalam situasi tertentu yang

berulang-ulang berdasarkan keadaan seseorang. Pembelajaran adalah upaya menciptakan iklim dan pelayanan terhadap kemampuan, potensi, minat, bakat dan kebutuhan siswa yang beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dengan siswa serta antara siswa dengan siswa. (Suyitno, 2004:2) Berdasarkan pendapat-pendapat mengenai batasan-batasan pengertian belajar maka dapat disimpulkan bahwa belajar pada dasarnya pengalaman yang sama dan berulang-ulang dalam situasi tertentu serta berkaitan dengan perubahan tingkah laku. Perubahan tingkah laku tersebut meliputi perubahan keterampilan, kebiasaan, sikap, pengetahuan dan

pemahaman. Sedang yang dimaksud pengalaman adalah proses belajar tidak lain adalah interaksi antara individu dengan lingkungannya.

2.2

Pengertian Pembelajaran Kooperatif Menurut Ismail (dalam Widyantini, 2008:4), istilah model pembelajaran

mempunyai makna yang lebih luas daripada strategi, metode, atau prosedur. Suatu model pembelajaran mempunyai empat ciri khusus yang tidak dipunyai oleh strategi atau metode tertentu, yaitu rasional teoritik yang logis yang disusun oleh penciptanya, tujuan pembelajaran yang akan dicapai, tingkah laku mengajar yang diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan, serta lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Menurut Muslimin (2000), semua model pembelajaran ditandai dengan adanya struktur tugas, struktur tujuan, dan struktur penghargaan. Menurut Muslimin (2000), pembelajaran kooperatif merupakan pendekatan

pembelajaran yang mengutamakan adanya kerjasama antar siswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran. Sementara itu menurut Wina (2006), model pembelajaran kelompok adalah rangkaian kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa dalam kelompok-kelompok tertentu untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan. Ada empat unsur penting dalam strategi pembelajaran kooperatif, yaitu adanya peserta dalam kelompok, adanya aturan kelompok, adanya upaya belajar setiap anggota kelompok, dan adanya tujuan yang harus dicapai. Sementara menurut Anita dalam Cooperative Learning (dalam Widyantini, 2008:4), model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran yang mengutamakan adanya kelompok-kelompok serta di dalamnya menekankan kerjasama. Tujuan model pembelajaran kooperatif adalah hasil belajar akademik siswa meningkat dan siswa dapat menerima berbagai keragaman daritemannya serta mengembangkan keterampilan sosial. Menurut banyak keluhankeluhan guru tentang pembelajaran yang menggunakan diskusi kelompok yang sudah dilakukan, diantaranya: a. pemborosan waktu; b. siswa tidak dapat bekerjasama dengan teman secara efektif dalam kelompok; c. siswa yang rajin dan pandai merasa pembagian tugas dan penilaiannya tidak adil; d. siswa yang kurang pandai dan kurang rajin akan merasa minder bekerjasama dengan teman-temannya yang lebih mampu; e. terjadi situasi kelas yang gaduh.

Telah disebutkan di atas bahwa tidak semua kerja dengan menggunakan diskusi kelompok bisa dianggap sebagai belajar dengan pembelajaran kooperatif. Oleh karena itu, guru perlu mengembangkan wawasan tentang pembelajaran kooperatif sehingga dapat meminimalkan keluhan-keluhan yang ada. Ada unsur-unsur dasar dimana suatu pembelajaran disebut pembelajaran kooperatif. Dalam proses pembelajaran kooperatif, siswa didorong untuk bekerjasama pada suatu tugas bersama dan mereka harusmengoordinasikan usahanya untuk menyelesaikan tugas yang diberikan guru. Prinsip dasar dalam pembelajaran kooperatif (Muslimin dkk, 2000) adalah sebagai berikut. a) Setiap anggota kelompok (siswa) bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dikerjakan dalam kelompoknya. b) Setiap anggota kelompok (siswa) harus mengetahui bahwa semua anggota kelompok mempunyai tujuan yang sama. c) Setiap anggota kelompok (siswa) harus membagi tugas dan tanggung jawab yang sama di antara anggota kelompoknya. d) Setiap anggota kelompok (siswa) akan dievaluasi. e) Setiap anggota kelompok (siswa) berbagi kepemimpinan dan membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya. f) Setiap anggota kelompok (siswa) akan diminta untuk mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.

10

Ciri-ciri pembelajaran kooperatif sebagai berikut. 1. Siswa dalam kelompok secara kooperatif menyelesaikan materi belajar sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai. 2. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan yang berbeda-beda, baik tingkat kemampuan tinggi, sedang, dan rendah. Jika mungkin, anggota kelompok berasal dari suku atau agama yang berbeda serta memperhatikan kesetaraan jender. 3. Penghargaan lebih menekankan pada kelompok daripada masing-masing individu. Menurut Muslimin (2000), hasil penelitian yang menunjukkan manfaat pembelajaran kooperatif bagi siswa dengan hasil belajar yang rendah antara lain: meningkatkan pencurahan waktu pada tugas;
a) rasa harga diri menjadi lebih tinggi; b) memperbaiki kehadiran; c) penerimaan terhadap perbedaan individu menjadi lebih besar; d) perilaku mengganggu menjadi lebih kecil; e) konflik antar pribadi berkurang; f) sikap apatis berkurang; g) motivasi lebih besar atau meningkat; h) hasil belajar lebih tinggi; i) meningkatkan kebaikan budi, kepekaan, dan toleransi.

11

Tabel 2.1 Sintaks/langkah dalam pembelajaran kooperatif Langkah Langkah 1 Indikator Tingkah Laku Guru Menyampaikan tujuan dan Guru menyampaikan tujuan memotivasi siswa pembelajaran dan mengomunikasikan kompetensi dasar yang akan dicapai serta memotivasi siswa. Langkah 2 Menyajikan informasi Guru menyajikan informasi kepada siswa. Langkah 3 Mengorganisasikan siswa ke Guru menginformasikan dalam kelompok-kelompok pengelompokkan siswa. belajar Langkah 4 Membimbing kelompok Guru memotivasi serta belajar memfasilitasi kerja siswa untuk materi pembelajaran dalam kelompok-kelompok belajar. Langkah 5 evaluasi Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi pembelajaran yang telah dilaksanakan. Langkah 6 Memberikan penghargaan Guru memberi penghargaan hasil belajar individual dan kelompok. Sumber: Widyantini, 2008:6 Menurut Arends (1997), model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai 3 (tiga) tujuan yakni : a. Pretasi Akademik Belajar kooperatif sangat mengunungkan baik bagi siswa yang memiliki kemampuan tinggi maupun kemampuan rendah. siswa berkemamapuan lebih tinggi dapat menjadi tutor bagi siswa yang berkemampuan rendah. Dalam

12

proses ini siswa berkemampuan lebih tinggi secara akademis mendapat keuntungan, karena pengetahuannya dapat lebih mendalam. b. Penerimaan akan keanekaragaman Belajar kooperatif menyajikan peluang bagi siswa dari berbagai laar belakang dan kondisi, untuk berkerja dan saling bergantung pada tugastugas rutin, melalui penggunaan struktur penghargaan kooperati dapat belajar menghargai satu sama lain. c. Pengembangan ketrampilan sosial. Belajar kooperatif bertujuan mengajarkan keterampilan kerjasama dan kolaborasi. pada siswa keterampilan

2.3

Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Beberapa tipe pembelajaran kooperatif yang dikemukakan oleh beberapa ahli

antara lain Slavin (1985), Lazarowitz (1988), atau Sharan (1990) adalah tipe Jigsaw, tipe NHT (Number Heads Together), tipe TAI (Team Assited Individualization), dan tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions). Dalam penelitian ini, akan dibahas pembelajaran kooperatif tipe STAD. Alasan dipilih pembahasan pembelajaran kooperatif tipe STAD karena pembelajaran kooperatif tipe STAD merupakan pembelajaran kooperatif yang paling sederhana. Selain itu, dapat digunakan untuk memberikan pemahaman konsep materi yang sulit kepada siswa dimana materi tersebut

13

telah dipersiapkan oleh guru melalui lembar kerja atau perangkat pembelajaran yang lain. Pembelajaran kooperatif tipe STAD dikembangkan oleh Slavin. Langkah-langkah penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah sebagai berikut. a) Guru menyampaikan materi pembelajaran kepada siswa sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai. Guru dapat menggunakan berbagai pilihan dalam menyampaikan materi pembelajaran ini kepada siswa. Misal, antara lain dengan metode penemuan terbimbing atau metode ceramah. Langkah ini tidak harus dilakukan dalam satu kali pertemuan, tetapi dapat lebih dari satu. b) Guru memberikan tes/kuis kepada setiap siswa secara individu sehingga akan diperoleh nilai awal kemampuan siswa. c) Guru membentuk beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 45 anggota, dimana anggota kelompok mempunyai kemampuan akademik yang berbedabeda (tinggi, sedang, dan rendah). Jika mungkin, anggota kelompok berasal dari budaya atau suku yang berbeda serta memperhatikan kesetaraan jender. d) Guru memberikan tugas kepada kelompok berkaitan dengan materi yang telah diberikan, mendiskusikannya secara bersama-sama, saling membantu

antaranggota lain, serta membahas jawaban tugas yang diberikan guru. Tujuan utamanya adalah memastikan bahwa setiap kelompok dapat menguasai konsep dan materi. Bahan tugas untuk kelompok dipersiapkan oleh guru agar kompetensi dasar yang diharapkan dapat dicapai.

14

e) Guru memberikan tes/kuis kepada setiap siswa secara individu f) Guru memfasilitasi siswa dalam membuat rangkuman, mengarahkan, dan emberikan penegasan pada materi pembelajaran yang telah dipelajari. g) Guru memberi penghargaan kepada kelompok berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar individual dari nilai awal ke nilai kuis berikutnya. Pembelajaran kooperatif tipe STAD merupakan kooperatif yang paling

sederhana sehingga mudah digunakan oleh guru-guru yang baru mulai menggunakan pendekatan pembelajaran kooperatif. Menurut Slavin (1995,1997) STAD terdiri dari siklus kegiatan pengajaran yang tetap seperti berikut ini: 1. Mengajar. Guru menyajikan materi pembelajaran. penyajian materi ini meliputi komponen, yakni pendahuluan, pengembangan dan praktek terbimbing pelajaran. 2. Kegiatan kelompok . Siswa berkerjasama dalam kelompok masing-masing untuk mengauasi materi pembelajaran. 3. Tes. siswa mengerjakan kuis atau tugas lain secara individual (misalnya tes essay atau kinerja) 4. Penghargaan tim. skor tim dihitung berdasarkan skor peningkatan anggota tim, dan sertifikat laporan berkala kelas, ataa papan pengumuman digunakan untuk memberi penghargaan kepada tim yang berhasil mencetak skor tinggi.

Pada penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD, setelah guru mengajarkan suatu materi pelajaran, siswa bekerja dalam kelompok dengan dilengkapi lembar kerja siswa (LKS). Tugas yang ada di dalam LKS terdiri dari tugas-tugas yang dapat

15

membantu siswa dalam menuntaskan materi pelajaran. Anggota dalam satu kelompok dapat saling membantu dalam memahami materi tersebut. Di akhir kegiatan

pembelajaran, wakil dari tiap kelompok mempresentasikan hasil kerja kelompoknya dan kelompok lain menanggapi hasil kerja kelompok tersebut. Setiap minggu atau tiap dua minggu siswa akan diberi tes, biasanya seaara individual. Nilai yang diperoleh dalam tes, bagi kelompok yang memperoleh nilai tinggi diberi penghargaan. Siswa tetap berada dalam kelompok yang sama selama beberapa kali pertemuan. Aktivitas siswa antara lain mengikuti penjelasan guru secara aktif, bekerja sama dalam menyelesaikan tugas dalam kelompok, memberikanpenjelasan kepada teman

sekelompoknya, mendorong kelompok untuk berpartisipasi secara aktif, berdiskusi, dan sebagainya. Agar pembelajaran kegiatan yang berisi berlangsung secara efektif, siswa diberikan lembar

pertanyaan atau tugas anggota kelompok adalah mencapai

ketuntasan materi yang disajikan guru dan saling membantu teman sekelompoknya untuk mencapai ketuntasan belajar. Belajar belum selesai jika salah satu teman sekelompok belum menguasai bahan pembelajaran. Dalam pembelajaran kooperatif, penghargaan diberikan kepada kelompok. Berikut ini langkahlangkah yang umum dilakukan pada model pembelajaran koopretif tipe STAD di dalam kelas (lihat juga Tabel 2.1).

16

1.

Penyajian kelas Materi atau bahan dalam pembelajaran kooperatif Tipe STAD pada awalnya di

sampaikan pada penyajian kelas. Penyajian kelas ini biasanya menggunakan pengajaran langsung atau diskusi yang dipimpin guru. Penyajiankelas dapat pula menggunakan audio visual. Penyajian materi pelajaran dalam pembelajaran kooperatif tipe STAD hanya difokuskan pada pokok-pokok tertentu yang di anggap paling penting.

Gambar 2.1 Guru memberikan penjelasan fungsi kelompok 2. Pembentukan kelompok Kelompok dibentuk terdiri dari empat atau lima siswa dengan memperhatikan tingkat kemampuan siswa jenis kelamin, ras atau etnis. Fungsi utama dari kelompok adalah untuk memastikan bahwa semua anggota kelompok terlibat dalam kegiatan belajar, dan untuk lebih spesifik adalah mempersiapkan anggota kelompok menghadapi kuis (tes). Setelah guru menyajikan materi pelajaran, setiap kelompok mempelajari

17

materi secara bersama. Belajar bersamaini meliputi mendiskusikan masalah, membandingkan jawaban, dan mengoreksi miskonsepsi jika ada anggota kelompok yang tidak memahami materi atau membuat kesalahan. Salah satu cara pembentukan kelompok berdasarkan kemampuan hasil nilai siswa adalah seperti berikut ini (lihat tabel 2.2). Tabel 2.2 Contoh pembagian kelompok berdasarkan hasil nilai siswa Kemampuan No. Nama 1 Trogonraja 2 Elang Tinggi 3 Kusuma 4 Valentinus 5 Fitrya 6 Rohman 7 Fakri 8 Ridwan Sedang 9 Anwaruddin 10 Fauzia 11 Fahmi 12 Vinsen 13 Febrian 14 Andrew Rendah 15 Restu 16 Respati Sumber: Widyantini, 2008:8 Ranking 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Kelompok A B C D D C B A A B C D D C B A

Kelompok A terdiri dari Trogonraja, Ridwan, Anwarudin, dan Respati.Kelompok B terdiri dari Elang, Fakri, Fauzia, dan Restu. Kelompok Cterdiri dari Kusuma, Rohman, Fahmi, dan Andrew. Sementara itu,kelompok D terdiri dari Valentinus, Fitrya, Vinsen, dan Febrian.Menurut Slavin (1995), guru memberikan penghargaan pada

18

kelompokberdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar dari nilai dasar (awal) ke nilai kuis/tes setelah siswa bekerja dalam kelompok. 3. Kuis Setelah siswa belajar dalam kelompoknya masing-masing, siswa diberikan kuis secara individual maupun kelompok. Saat menjawab kuis yang diberikan kepada kelompok berupa pertanyaan yang berasal dari siswa kelompok lain atau dari guru. Siswa dalam satu kelompok wajib mendiskusikan dan menjawabnya. Dan keaktifan siswa dalam kelompok akan dilihat dan dinilai langsung oleh guru. Berbeda dengan kuis yang diberikan untuk kelompok, kuis yang diberikan secara individual tidak dibenarkan adanya diskusi dan saling membantu walau satu kelompok. Siswa sebagai individu bertanggung jawab terhadap apa yang telah dipelajarinya.

Gambar 2.2 Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi pembelajaran

19

4. Skor peningkatan individual Ide ini dimaksudkan untuk memberikan setiap siswa tujuan yang dapat diperoleh jika ia bekerja keras dan melakukan lebih baik. Setiap siswa dapat memberikan kontribusi poin maksimum pada kelompoknya dalam sistem skor, untuk itu siswa harus bekerja secara baik Siswa rnemperoleh poin untuk kelompoknya didasarkan pada derajat skor kuis mereka (persentase benar) melampaui skor dasar mereka.Perhitungan skor perkembangan/peningkatan individual seperti pada Tabel 2.3. Tabel 2.3Perhitungan Nilai Peningkatan Skor tes akhir Lebih dari 20 poin dibawah skor awal 20 hingga 1 poin dibawah skor awal Skor awal hingga 20 poin diatas skor awal lebih dari 20 poin diatas skor awal nilai sempurna Sumber: (Maidiyah, 2004:12) 5. Penghargaan kelompok Kelompok dapat memperoleh sertifikat atau hadiah jika rata-rata skornya Nilai Peningkatan 5 10 20 30 30

melampui kriteria tertentu. Adapun tingkat penghargaan terhadap prestasi kelompok adalah kelompok dengan rata-rata skor 15 disebut kelompok batik, kelompok dengan rata-rata skor 20 disebut kelompok hebat, kelompok dengan rata-rata skor 25 disebut

20

kelompok super. Skor kelompok siswa dapat juga digunakan untuk menentukan hingga 20% nilai mereka (lihat Tabel 2.4). Tabel 2.4 Tingkat Penghargaan Kelompok Nilai rata rata kelompok 5-14 15-24 25-30 Sumber: (Maidiyah, 2004:12) Penghargaan Baik Hebat Super

Menurut Slavin (1995), guru memberikan penghargaan pada kelompok berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar dari nilai dasar (awal) ke nilai kuis/tes setelah siswa bekerja dalam kelompok.Cara-cara penentuan nilai penghargaan kepada kelompok dijelaskansebagai berikut.Langkah-langkah memberi penghargaan kelompok, yaitu: a) menentukan nilai dasar (awal) masing-masing siswa. Nilai dasar (awal)dapat berupa nilai tes/kuis awal atau menggunakan nilai ulangansebelumnya; b) menentukan nilai tes/kuis yang telah dilaksanakan setelah siswabekerja dalam kelompok, misal nilai kuis I, nilai kuis II, atau rata-ratanilai kuis I dan kuis II kepada setiap siswa, yang kita sebut dengannilai kuis terkini; c) menentukan nilai peningkatan hasil belajar yang besarnya ditentukanberdasarkan selisih nilai kuis terkini dan nilai dasar (awal) masing-masingsiswa dengan menggunakan kriteria berikut ini (lihat Tabel 2.5).

21

Tabel 2.5 Tabel nilai peningkatan hasil belajar Kriteria Nilai kuis/tes terkini turunlebih dari 10 poin di bawah nilai awal Nilai kuis/tes terkini turun 1 sampai 10 poindi bawah nilai awal Nilai kuis/testerkini sama dengan nilai awal sampai dengan 10 poin di atas nilai awal Nilai kuis/tes terkini lebih dari 10poin di atas nilai awal Sumber: Widyantini, 2008:9 Nilai Peningkatan 5 10 20

30

Penghargaan kelompok diberikan berdasarkan rata-rata nilaipeningkatan yang diperoleh masing-masing kelompok denganmemberikan predikat cukup, baik, sangat baik, dan sempurna.Kriteria untuk status kelompok (Muslimin dkk, 2000): a) Cukup, bila rata-rata nilai peningkatan kelompok kurang dari 15(rata-rata nilai peningkatan kelompok < 15) b) Baik, bila rata-rata nilai peningkatan kelompok antara 15 dan 20(15 < rata-rata nilai peningkatan kelompok < 20) c) Sangat baik, bila rata-rata nilai peningkatan kelompok antara 20dan 25 (20 < rata-rata nilai peningkatan kelompok < 25) d) Sempurna, bila rata-rata nilai peningkatan kelompok lebih atausama dengan 25 (rata-rata nilai peningkatan kelompok > 25). Contoh proses penentuan penghargaan kelompok.

22

Tabel 2.6 Contoh proses penentuan penghargaan kelompok


Kelompok/ No.

Nama Siswa

20 30 20 30 30 130 Rata-rata = 130:5 =26 Pengharagaan kelompok II adalah Sangat Baik II 1 Robin 100 98 98 98 10 2 Jako 73 94 46 70 10 3 Mefanu 71 83 100 91 30 4 Prasetyo 96 86 91 5 Budi 66 100 100 100 30 80 Rata-rata = 80:5 =18 Pengharagaan kelompok II adalah Sangat Baik Sumber: Widyantini, 2008:9 Keterangan: Nilai dasar (awal) = nilai tes awal. Nilai kuis/tes terkini = rata-rata nilai kuis I dan kuis II. Nilai penghargaan kelompok = rata-rata nilai peningkatan di kelompok.

1 2 3 4 5

Andi Cahya Faiz Fatma Anita

Tes Nilai Nilai Rata-rata Awal Kuis Kuis nilai kuis II I & II I 96 97 96 96 76 100 100 100 88 95 96 95 45 72 62 67 34 31 60 45

Nilai Nilai peningkatan Penghargaan Kelompok

26 Sempurna

18 Sangat Baik

23

2.4

Langkah-langkah Pembelajaran Matematika Langkah-langkah pembelajaran matematika yang akan diterapkan pada model

pembelajaran tipe STAD dengan pendekatan interaktif dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Langkah 1:Penyajian kelas Materi atau bahan dalam pembelajaran kooperatif Tipe STAD pada awalnya di sampaikan pada penyajian kelas. Penyajian kelas ini biasanya menggunakan pengajaran langsung atau diskusi yang dipimpin guru. Penyajian kelas dapat pula menggunakan audio visual. Penyajian materi pelajaran dalam pembelajaran kooperatif tipe STAD hanya difokuskan pada pokok-pokok tertentu yang di anggap paling penting. Langkah 2: Pembentukan kelompok Kelompok dibentuk terdiri dari empat atau lima siswa dengan memperhatikan tingkat kemampuan siswa jenis kelamin, ras atau etnis. Fungsi utama dari kelompok adalah untuk memastikan bahwa semua anggota kelompok terlibat dalam kegiatan belajar, dan untuk lebih spesifik adalah mempersiapkan anggota kelompok menghadapi kuis (tes). Setelah guru menyajikan materi pelajaran, setiap kelompok mempelajari materi secara bersama. Belajar bersama ini meliputi mendiskusikan masalah, membandingkan jawaban, dan mengoreksi miskonsepsi jika ada anggota kelompok yang tidak memahami materi atau membuat kesalahan.

24

Langkah 3: Kuis Setelah siswa belajar dalam kelompoknya masing-masing, siswa diberikan kuis secara individual. Saat mengerjakan kuis, siswa dalam satu kelompok tidak boleh saling membantu. Siswa sebagai individu bertanggung dipelajarinya. Langkah 4: Skor peningkatan individual Ide ini dimaksudkan untuk memberikan setiap siswa tujuan yang dapat diperoleh jika ia bekerja keras dan melakukan lebih baik. Setiap siswa dapat memberikan kontribusi poin maksimum pada kelompoknya dalam sistem skor, untuk itu siswa harus bekerja secara baik Langkah 5: Penghargaan kelompok Kelompok dapat memperoleh sertifikat atau hadiah jika rata-rata skornya jawab terhadap apa yang telah

melampui kriteria tertentu. Adapun tingkat penghargaan terhadap prestasi kelompok adalah kelompok dengan rata-rata skor 15 disebut kelompok batik, kelompok dengan rata-rata skor 20 disebut kelompok hebat, kelompok dengan rata-rata skor 25 disebut kelompok super. Skor kelompok siswa dapat juga digunakan untuk menentukan hingga 20 % nilai mereka.

25

2.4 2.4.1

Materi Bangun Ruang Prisma Prisma adalah bangun ruang yang dibatasi oleh dua bidang sejajar serta beberapa

bidang yang saling berpotongan menurut garis-garis sejajar. Dua bidang yang sejajar dinamakan bidang alas dan bidang atas. Bidang-bidang lainnya disebut sebagai bidang tegak. sedangkan jarak antara kedua bidang disebut tinggi prisma. Prisma diberi nama berdasarkan bentuk segi-n pada bidang alas atau bidang atas. prisma ada dua jenis yaitu prisma tegak dan prisma miring, Pada bahasan ini khusus dibahas prisma tegak saja. prisma tegak adalah prisma yang rusuk-rusuk tegaknya tegak lurus terhadap bidang alas.

Gambar 2.3 Prisma tegak segi empat ABCD, EFGH


a. A,B,C,D,E F,G,H adalah titik-titik sudut prisma b. Segi empat ABCD adalah bidang alas prisma c. Segi empat EFGH adalah bidang atas prisma d. ABEF,DCHG, BCHE, dan ADGF adalah sisi - sisi tegak prisma

26

e. AB, BC, CD,DA adalah rusuk-rusuk prisma pada bidang alas f. FE, EH,HG,GF adalah rusuk-rusuk prisma pada bidang datar

g. AF, BE,CH,dan DG adalah rusuk tegak prisrna h. DBEG disebut bidang diagonal

2.4.2

Limas Limas adalah bangun ruang yang dibatasi oleh sebuah segi-n (yang disebut

bidang alas) dan beberapa buah bidang berbentuk segitiga (yang disebut bidang tegak) yang bertemu pada satu titik persekutuan (yang disebut titik puncak). Limas diberi nama berdasar segi-n pada bidang alasnya.

Gambar2.4 Limas segi empat T,ABCD


a. A,B,C,D adalah titik sudut limas dan T adalah titik puncak b. AB,BC,CD, DA adalah rusuk bidang sisi alas limas c. TA,TB,TC,TD adalah rusuk sisi bidang tegak limas d. TAB,TBC,TCD,TAD adalah bidang sisi tegak limas e. TP disebut tinggi limas f. BDT disebut bidang diagonal limas.

27

BAB III METODE PENELITIAN

3.1

Jenis dan Pendekatan Penelitian Pada penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan melihat

hasil belajar siswa berdasarkan nilai evaluasi yang dilakukan pada bidang studi matematika. Pelaksanaan penelitian difokuskan dalam pokok bahasan Bangun Ruang Sisi Datar, yakni pada kelas VII semester genap tahun pelajaran 2011/2012, model
pembelajaran kooperatif (cooperative learning) yang dipilih dalam pelakanaan penelitian

ini adalah model STAD.

3.2

Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SMP Muhammadiyah 7 Panton Labu Kabupaten

Aceh Utara, termasuk SMP tempat peneliti mengajar guna memudahkan pemantauan perubahan kemampuan siswa. Peneliti merupakan penduduk daerah sekitar sekolah dan mengenal siswa yang umumnya juga bermukim di daerah yang sama. Hal ini semakin memudahkan peniliti untuk melakukan perbandingan keaktifan siswa sebelum menerima pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan setelah menerima pembelajarannya. Sekolah ini masih termasuk sekolah pedalaman karena jarak jangkau dari pusat kota yang cukup jauh. Kondisi ini menyulitkan siswa untuk

27

28

mendapatkan fasilitas pendukung seperti bahan bacaan praktis matematika seperti dari initernet. Guru yang dilibatkan secara langsung dalam penelitian ini adalah guru kelas VII dan Kepala Sekolah.

3.3

Subjek Penelitian Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VII-1 SMP Muhammadiyah 7 Panton

Labu Kabupaten Aceh Utara yang berjumlah 28 siswa dan terdiri dari 12 siswa lakilaki dan 16 orang siswa perempuan. Penentuan subjek penelitian yang dilakukan oleh peneliti melalui pertimbangan dari guru bahwa kelas tersebut belum pernah digunakan sebagai subjek penelitian.

3.4

Teknik Pengumpulan Data Data yang dibutuhkan dalam penelitian ini berupa hasil evaluasi dari tes awal

hingga tes akhir, keaktifan siswa, respon dari siswa maupun guru yang berada di lingkungan sekolah khususnya di lingkungan kelas VII-1 dari setiap pertemuan selama proses belajar mengajar dan data lainnya yang mendukung. Untuk mendapatkan data dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik pengumpulan data berupa: 1. Tes Tes yang digunakan berupa kuis individu yang fungsinya untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa setelah mempelajari materi himpunan dengan menggunakan model pembelajran kooperatif tipe STAD. Tes ini akan menghasilkan lembar penghargaan untuk tiap siswa.

29

2.

Observasi Dalam penelitian ini terdapat dua pedoman observasi, yaitu observasi keaktifan

siswa dan observasi pelaksanaan pembelajaran kooperatif tipe STAD. Observasi keaktifan siswa difokuskan pada pengamatan keaktifan siswa selama proses pembelajaran pada materi bangun ruang. Sedangkan observasi pelaksanaan

pembelajaran STAD difokuskan pada aktivitas guru maupun siswa selama proses pembelajaran. Dan pengamatan yang belum terdapat pada pedoman observasi dituliskan pada lembar catatan lapangan. 3. Angket Angket dibagikan dan diisi oleh siswa yang fungsinya untuk mengetahui respon siswa terhadap pelaksanaan pembelajaran matematika dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD.

3.5

Teknik Analisis Data Teknik analisis data dalam penelitian yang telah dilakukan dengan menggunakan

tahaptahap berikut ini: 1. Reduksi data, merupakan proses kegiatan menyeleksi, memfokuskan dan menyederhanakan data yang diperoleh mulai awal kegiatan pengumpulan data hingga penyusunan laporan hasil penelitian.

30

2.

Penyajian data, dilakukan dengan mengumpulkan informasi yang diperoleh dari hasil reduksi. Seluruh informasi yang diperoleh disusun secara naratif yang memungkinkan penelitian untuk membuat kesimpulan dan mengambil tindakan.

3.

Penarikan kesimpulan, merupakan pengungkapan akhir dari setiap tindakan yang diberikan. Kegiatan ini mencakup pencarian makna data dan memberikan penjelasan. selanjutnya. dilakukan kegiatan verifikasi data. Penelitian ini menggunakan teknik analisis data berupa reduksi data yaitu

kegiatan pemilihan data, penyelenggaraan data serta transformasi data kasar dari hasil catatan lapangan. Penyajian data berupa sekumpulan informasi dalam bentuk tes naratif yang disusun, diatur dan diringkas sehinggamudah untuk dipahami. Hal ini dilakukan secara bertahap kemudian dilakukan penyimpulan dengan cara diskusi bersama mitra seprofesi. Untuk menjamin pemantapan dan kebenaran data yang dikumpulkan dan dicatat dalam penelitian digunakan triangulasi. Triangulasi diartikan sebagai teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yag telah ada (Sugiyono, 2005:83) 1. Analisis Hasil Belajar Siswa Hasil tes siswa dianalisis untuk menentukan peningkatan ketuntasan siswa, nilai individu , skor kelompok dan penghargaan kelompok. a. Peningkatan ketuntasan mengikuti ketentuan sekolah bawa siswa dinyatakan lulus dalam setiap tes jika nilai yang diperoleh 65 dengan niali maksimum

31

100. Maka dalam penelitian ini juga menggunakan ketentuan yang ditetapkan sekolah. Untuk menentukan persen (persen) ketuntasan siswa dengan ,menggunakan persen (%) ketuntasan yaitu sebagai berikut: ( ) b. Peningkatan prestasi siswa juga dilihat dari hasil belajar jangka pendeknya yang ditunjukkan dengan kenaikan nilai rat-rata pada setiap siklus. Dari data diperoleh skor untuk setiap tes, rata-rata nilai siswa dengan menggunakan perhitungan sebagai berikut:

, dengan x = nilai siswa; n= jumlah siswa

c. Peningkatan nilai individu siswa diperolej dengan membandingkan skor dasar siswa (rata-rata nilai siswa sebelumnya) dengan nialai sekarag. Aturan pemberian skor peningkatan individu mengikuti aturan dalam Widyantini (2008: 9) seperti pada halaman 21. d. Perolehan penghargaan kelompok dengan melihat jumlah rata-rata skor

tiap kelompok. Aturan perolehan penghargaan kelompok mengikuti aturan seperti pada halaman 22 (Widyantini, 2008:9). 2. Analisis Data Observasi Untuk memperoleh analisis data observasi yang baik, ada dua hal pokok yang harus ditinjau yaitu data observasi keaktifan siswa dan data observasi kemampuan guru.

32

2a.

Analisis Data Kemampuan Guru Selain data keaktifan siswa, data kemampuan guru juga dibutuhkan untuk

menunjang keberhasilan model pemebelajaran kooperatif tipe STAD. Data kemampuan guru berpedoman pada lembar observasi kemampuan guru. Peniliaian dilihat dari hasil skor pada lembar observasi yang digunakan. Persentase diperoleh dari skor pada lembar observasi dikualifikasikan untuk menentukan seberapa besar peran guru untuk mengarahkan, membimbing dan pemahaman konsep yang akan dibawakan di dalam kelas. Kemampuan guru dalam hal ini dilihat dari keaktifan kelas yang dibimbingnya selama dalam mengikuti proses pembelajaran. Untuk setiap tindakan persentase diperoleh dari rata-rata persentase kemampuan pada tiap pertemuan. Hasil data observasi ini dianalisis dengan pedoman kriteria sebagai berikut (Tabel 3.1): Tabel 3.1 Kriteria kemampuan guru Persentase 75% - 100% 50% - 74, 99% 25% - 49,99 % 0% - 24,99% Kriteria Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah

Peneliti menggunakan kriteria tersebut karena dalam lembar observasi terdapat empat kriteria keaktifan. Cara menghitung persentase keaktifan siswa (Sugiyono, 2001:81) berdasarkan lembar observasi untuk tiap pertemuan adalah sebagai berikut:

33

2b.

Analisis data Observasi Keaktifan Siswa Data hasil observasi dianalisis untuk mengetahui keaktifan siswa yang

berpedoman pada lembar observasi keaktifan siswa. Peniliaian dilihat dari hasil skor pada lembar observasi yang digunakan. Persentase diperoleh dari skor pada lembar observasi dikualifikasikan untuk menentukan seberapa besar keaktifan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran. Untuk setiap siklus persentase diperoleh dari rata-rata persentase keaktifan siswa pada tiap pertemuan. Hasil data observasi ini dianalisis dengan pedoman kriteria sebagai berikut (Tabel 3.2): Tabel 3.2 Kriteria keaktifan siswa Persentase 75% - 100% 50% - 74, 99% 25% - 49,99 % 0% - 24,99% Kriteria Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah

Peneliti menggunakan kriteria tersebut karena dalam lembar observasi terdapat empat kriteria keaktifan. Cara menghitung persentase keaktifan siswa (Sugiyono, 2001:81) berdasarkan lembar observasi untuk tiap pertemuan adalah sebagai berikut:

34

3.

Analisis Angket Respon Siswa Angket respon siswa terdiri dari 18 pertanyaan dengan rincian 16 butir pertanyaan positif (+) dan dua butir pertanyaan negatif (-). Penskoran angket untuk butir (+) adalah 4 untuk jawaban selalu, 3 untuk jawaban sering, 2 untuk jawaban kadang-kadang dan 1 untuk jawaban tidak pernah. Untuk butir (-) adalah skor 1 untuk jawaban selalu, 2 untuk jwaban sering, 3 untuk jawaban kadang-kadang dan 4 untuk jawaban tidak pernah. Data hasil angket dibuat kualifikasi dengan kriteria sebagai berikut:

Tabel 3.3 Kriteria respon siswa Persentase 75% - 100% 50% - 74, 99% 25% - 49,99 % 0% - 24,99% Kriteria Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah

Peneliti menggunakan kriteria tersebut karena dalam angket respon terdapat empat pilihan jawaban sehingga terdapat empart kriteria respon. Cara menghitung persentase angket respon menurut Sugiyono (2001:81) sebagai berikut:

35

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian Berdasarkan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD yang telah dilakukan pada materi bangun ruang dikelas VII-I SMP Muhammdiyah 7 PantonLabu diperoleh hasil penelitian mengenai hasil belajar siswa, Aktivitas siswa selama pembelajaran, kemampuan guru dalam mengelolah pembelajaran, serta respon. Analisis data hasil penelitian yang telah diperoleh dilakukan dengan mengolah semua data atau informasi yang diperoleh dari hasil observasi, angket dan data tes ujian, selajutnya dideskripsikan dan dikelompokkan berdasarkan permasalahan masingmasing. Adapun hasil penelitian yang telah diperoleh seperti uraian berikut. 4.1.1 Hasil Belajar Siswa Sebelum menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada materi bangun ruang kelas VII SMP Muhammadiyah 7 Panton Labu, peneliti memberikan pretes kepada siswa dengan tujuan untuk mengetahui kemampuan sebelum dilaksanakan kegiatan pembelajaran. Hasil prestes yang diberikan kepada siswa akan dijadikan sebagai tolak ukur peningkatan hasil belajar siswa setelah diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada materi bangun ruang. Data ini akan digunakan

36

36

sebagai data pembanding yang akan digunakan pada pemberian penghargaan terhadap siswa sekaligus sebagai data pembanding tingkat keaktifan siswa. Berdasarkan pretes yang telah diberikan kepada siswa, diperoleh data awal kemampuan siswa yang ditunjukkan pada Tabel 4.1. Tabel 4.1 Kemampuan siswa sebelum pembelajaran kooperatif tipe STAD Keterangan ( KKM > 65 ) Tidak Tuntas Tidak Tuntas Tidak Tuntas Tidak Tuntas Tidak Tuntas Tidak Tuntas Tidak Tuntas Tidak Tuntas Tidak Tuntas Tidak Tuntas Tidak Tuntas Tidak Tuntas Tidak Tuntas Tidak Tuntas

No.

NISN

Nama Siswa

Nilai Prestes Siswa 23 36 34 32 43 44 41 43 42 35 35 24 34 56

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

9981122936 9981122913 9981122957 9991708669 9981122918 9981122939 9981122900 9981122937 9991708652 9986251656 9991708664 9935435681 9981122947 9981122954

Subjek 1 Subjek2 Subjek3 Subjek4 Subjek5 Subjek6 Subjek7 Subjek8 Subjek9 Subjek10 Subjek11 Subjek12 Subjek13 Subjek14

37

15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29

9981122953 9981122920 9971300662 9981122955 9981122907 9991708680 9981122948 9981122934 9981122902 9991708684 9956452136 9991708656 9991708682 9981122919 9991708953

Subjek15 Subjek16 Subjek17 Subjek18 Subjek19 Subjek20 Subjek21 Subjek22 Subjek23 Subjek24 Subjek25 Subjek26 Subjek27 Subjek28 Subjek29 Jumlah ratarata

26 25 28 26 28 38 48 59 48 46 45 43 30 38 40 37,59

Tidak Tuntas Tidak Tuntas Tidak Tuntas Tidak Tuntas Tidak Tuntas Tidak Tuntas Tidak Tuntas Tidak Tuntas Tidak Tuntas Tidak Tuntas Tidak Tuntas Tidak Tuntas Tidak Tuntas Tidak Tuntas Tidak Tuntas

Sumber: hasil tes Berdasarkan Tabel 4.1 diatas, diketahui bahwa kemampuan siswa kelas SMP Muhammadiyah 7 Panton labu sebelum model pembelajaran kooperatif tipe STAD diterapkan bangun ruang di bawah nilai keteria ketuntasan minimal (KKM) yaitu 65 yang ditetapkan sekolah tersebut. Sehingga dalam hal ini, tidak ada siswa yang mencapai ketuntasan berdasarkan KKM yang ditetapkan sekolah.

38

Setelah menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada materi bangun ruang di kelas VII SMP Muhammadiyah 7 Panton Labu. Penelitian memberikan postes untuk mengetahui hasil belajar siswa pada materi bangun ruang untuk masingmasing pertemuan. Postes diberikan kepada siswa mengenai pokok bahasan kubus dan balok yang telah diajarkan. Berdasarkan postes yang diberikan kepada siswa, diperolah data hasil belajar siswa pada materi bangun ruang seperti tabel berikut ini. Tabel 4.2 Kemampuan siswa setelah pembelajaran kooperatif tipe STAD Keterangan ( KKM > 65 ) Tuntas Tuntas Tuntas Tidak Tuntas Tuntas Tuntas Tidak Tuntas Tidak Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tidak Tuntas

No.

NISN

Nama Siswa

Nilai Prestes Siswa 75 67 78,5 50,8 68 72 45 63 76 68 85 48

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

9981122936 9981122913 9981122957 9991708669 9981122918 9981122939 9981122900 9981122937 9991708652 9986251656 9991708664 9935435681

Subjek 1 Subjek 2 Subjek 3 Subjek 4 Subjek 5 Subjek 6 Subjek 7 Subjek 8 Subjek 9 Subjek 10 Subjek 11 Subjek 12

39

13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29

9981122947 9981122954 9981122953 9981122920 9971300662 9981122955 9981122907 9991708680 9981122948 9981122934 9981122902 9991708684 9956452136 9991708656 9991708682 9981122919 9991708953

Subjek 13 Subjek 14 Subjek 15 Subjek 16 Subjek 17 Subjek 18 Subjek 19 Subjek 20 Subjek 21 Subjek 22 Subjek 23 Subjek 24 Subjek 25 Subjek 26 Subjek 27 Subjek 28 Subjek 29 Jumlah rata rata

67 68 47 49 45 67 76 67 50 78 47 67 78 78 78 68 67 65,29

Tuntas Tuntas Tuntas Tidak Tuntas Tidak Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tidak Tuntas Tuntas Tidak Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas

Sumber: hasil tes Dari data hasil belajar siswa pada materi bangun ruang seperti pada Tabel 4.2 di atas, terlihat bahwa banyaknya siswa yang tidak mencapai ketuntasan belajar berjumlah 8 orang atau sebesar 27,59% sedangkan jumlah siswa yang mencapai ketuntasan secara

40

individual berdasarkan nilai KKM yang ditetapkan oleh SMP Muhammadiyah 7 Panton Labu sebanyak 21 orang siswa atau sebesar 72,41 %. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa materi bangun ruang di kelas VII-I SMP Muhammadiyah 7 Panton Labu yang diajarkan dengan model pembelajaran Kooperatif tipe STADmemiliki peningkatan hasil belajar mencapai 72 %. Untuk menentukan kriteria peningkatan hasil belajar setelah diterapkan madel

pembelajaran kooperatif tipe STAD peneul mengacu pada kriteria yang dietapkan oleh Riduwan (2003 : 228 ), yakni : 0,80 0,100 0,60 0,799 0,40 0,599 0,20 0,399 0,00 0,199 : Sangat tinggi : tinggi :Cukup : rendah : Sangat rendah

Apabila ditinjau berdasarkan peningkatan hasil belajar siswa sebelum dan sesudah diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada matei bangun ruang pada siswa kelas VII SMP Muhammdiyah 7 Panton Labu berdasarkan nilai pretes dan postes siswa, maka dapat dilihat peningkatan hasil belajar siswa seperti pada Tabel 4.3. Tabel ini menunjukkan peningkatan hasil belajar siswa setelah diterapkan Model Pembelajaran Kooperatif tipe STAD pada materi bangun ruang.

41

Tabel 4.3Peningkatan prestasi siswa Nilai Post tes Siswa 75 67 78,5 50,8 68 72 45 63 76 68 85 48 67 68 47 49 45 67 76 67 50 78 47 67 78 78 78 68 67 65,29

No.

NISN

Nama Siswa

Nilai Pretes Siswa 23 36 34 32 43 44 41 43 42 35 35 24 34 56 26 25 28 26 28 38 48 59 48 46 45 43 30 38 40 37,59

Koefisien Peningkatan Hasil Belajar Siswa 0,52 0,31 0,45 0,19 0,25 0,28 0,04 0,20 0,34 0,33 0,50 0,24 0,33 0,12 0,21 0,24 0,17 0,41 0,48 0,29 0,02 0,19 0,01 0,21 0,33 0,35 0,48 0,30 0,27 0,2829

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29

9981122936 9981122913 9981122957 9991708669 9981122918 9981122939 9981122900 9981122937 9991708652 9986251656 9991708664 9935435681 9981122947 9981122954 9981122953 9981122920 9971300662 9981122955 9981122907 9991708680 9981122948 9981122934 9981122902 9991708684 9956452136 9991708656 9991708682 9981122919 9991708953 Sumber: hasil tes

Subjek 1 Subjek 2 Subjek 3 Subjek 4 Subjek 5 Subjek 6 Subjek 7 Subjek 8 Subjek 9 Subjek 10 Subjek 11 Subjek 12 Subjek 13 Subjek 14 Subjek 15 Subjek 16 Subjek 17 Subjek 18 Subjek 19 Subjek 20 Subjek 21 Subjek 22 Subjek 23 Subjek 24 Subjek 25 Subjek 26 Subjek 27 Subjek 28 Subjek 29

Jumlah rata rata

42

Dari tabel diatas, berdasarkan koefisien peningkatan hasil belajar siswa yang diperoleh dari selisih nilai postes dengan nilai pretes siswa (nilai postesnilai pretes) yang dibagi 100 (nilai tertinggi dalam penilaian) menunjukan bahwa secara umum terdapat hasil belajar siswa setelah diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada materi bagun ruang di kelas VII-I SMP Muhammadiyah 7 Panton Labu. Dari jumlah rata-rata koefisien peningkatan hasil belajar siswa sebesar 0,2829 dan mengacu pada kriteria peningkatan yang telah ditetapkan, disimpulkan bahwa peningkatan hasil belajar siswa dikategorikan masih rendah. 4.1.2 Aktivitas Siswa Aktivitas siswa selama penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD pada materi Bangun ruang. Aktivitas siswa yang diamati selama pembelajaran kooperatif tipe STAD pada mater bangun ruang di kelas VII-I SMP Muhammdiyah 7 Panton Labu dilakukan terhadap 1 kelompok siswa. Setiap anggota kelompok siswa yang diamati selama pembelajaran kooperatif tipe STAD terdiri dari siswa yang berkemampuan pandai, sedang dan rendah. Dari hasil pengamatan terhadap aktivitas siswa selama berlangsungnya pembelajaran kooperatif tipe STAD yang dilakuakan sebanyak dua kali pertemuan, diperoleh hasil penelitian seperti pada tabel yang disajikan pada Tabel 4.4

43

Tabel 4.4 Presentase aktivitas siswa berdasarkan pengamatan


Presentase aktivitas siswa RPP I 1. Mendengarkan/ memperhatikan guru/teman. penjelasan 15% 7%< P < 18% 23.03 RPP II 20,45 21,74 Rerata (%)

Waktu No Katagori pengamatan Ideal

Toleransi (5%)

2. 3.

Membaca/memahami masalah di LKS Menyelesaikan masalah atau menemukan solusi pemecahan masalah Membandingkan temuan diskusi kelompok dengan hasil diskusi kelompok lainna. Bertanya/menyampaikan pendapat atau ide kepada guru atau teman sekelompok Menarik simpulan Suatu konsep yang ditemukan atau suatu prosedur yang dikerjakan siswa. Prilaku yang tidak relevan dengan KBM seperti, Melamun, berjalan- jalan diluar kelompok belajarnya. membaca buku lain/ mengerjakan tugas mata pelajaran lain,bermainmain denganteman atau mengganggu teman lain).

10%

5%< P < 15%

18,42

15.65

17.04

25% 25%

22%< P < 32% 25%< P < 35%

13,82 9,87

10,62 11,35

12,22 10,61

4.

5.

15%

5%< P < 15%

17,11

10,58

13,85

6.

10%

5%< P < 15%

14,47

24,74

19,61

7.

2%

2%< P < 15%

3,29

6,61

4.95

44

Berdasarkan hasil penelitian mengenai aktivitas siswa seperti disajikan pada tabel 4.4 diatas, serta mengacu pada waktu ideal persentase toleransi yang ditetapkan, diketahui persentase ratarata aktivitas siswa untuk katagori pengamatan yang terdapat pada nomor 1,2,3,4,5 dan 6 berada di dalam batas interval persentase toleransi yang ditetapkan. sehingga dapat disimpulkan bahwa aktivitas siswa selama pembelajaran pada materi bangun ruang telah efektif. 4.1.3 Kemampuan Guru Mengelola Pembelajaran Kooperaif Tipe STAD Berdasarkan kemmpuan guru penelitian yang telah dilakukan juga diperoleh data tingkat

dalam mengelola pembelajaran kooperaif tipe STAD pada maeri

bangun ruang di kelas VII SMP Muhammadiyah 7 Panton Labu. Adapun data tingkat kemapuan guru diperoleh berdasarkan pengamatan Guru sekolah SMP Muhammadiyah 7 Panton Labu yang bertindak sebagai Observasi. Data tingkat kemampuan guru yang telah diperoleh disajikan seperti pada tabel berikut ini. Tabel 4.5 Tingkat kemampuan guru (TKG) mengelola pembelajaran
Aspek yang diamati Kegiatan pendahuluan Kemampuan guru memotivasi mengkomunikasikan tujuan pembelajaran siswa/ I 3 4 RPP Rata- rata II 3 3 3 3,5

Kemampuan menghubungkan pelajaran saat itu dengan pelajaran sebelumnya atau membahas PR

45

Kemampuan menginformasikan langkah pembelajaran

langkah

3 3

5 4

4 3,5

Kemampuan menggunakan alat/media seperti alat peraga lainnya untuk menarik perhatian siswa Kegiatan inti Kemampuan guru menjelaskan atau mengajukan masalah real/nyata Kemampuan mengarahkan siswa untuk menemukan jawabn dan cara memecahkan masalah. Kemampuan mengamati menyelesaikan soal/ masalah cara siswa untuk

3 4

5 4

4 4

Kemampuan mendorong siswa membandingkan jawaban dengan teman.

Kemampuan mendorong siswa untuk mau bertanya, mengeluarkan pendapat atau menjawab pertanyaan. Kegiatan Penutup Kemampuan menegaskan hal hal penting/inisari berkaitan dengan pembelajaran. Kemampuan megelola Waktu Antusias Siswa Antusias Guru Rata rata

3,5

4 5 4 5 3,77

5 5 4 5 4,08

4,5 5 4 5 3,93

Berdasarkan hasil pengamatan tingkat kemamapuan guru seperti tabel 4.5 diatas, diketahui bahwa ratarata tingkat kemampuan guru pada pertemuan pertama dan kedua

46

di peroleh skor masing masing yaitu 3,77 dan 4,08 sedangkan ratarata dari ratarata tingkat kemampuan guru (TKG) untuk RPP I dan RPP II adalah 3,39. Dengan mengacu pada kreteria tingkat kemampuan Guru (TKG) yang ditetapkan, maka tingkat kemampuan guru dalam mengelolah pembelajaran kooperatif tipe STAD pada materi Bangun ruang di katakan Baik. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tingkat kemampuan guru mengelolah pembelajaran kooperatif tipe STAD pada materi bangun ruang dikelas VII-I SMP Muhammdiyah 7 Panton Labu adalah Cukup. 4.2 Pembahasan Berdasarkan hasil analisis nilai matematika semester I siswa kelas VII SMP Muhammadiyah 7 Panton Labu menunjukkan keadaan sampel yang homogen. Artinya data berdistribusi normal dan memiliki varians yang tidak berbeda secara signifikan. Ini menunjukkan bahwa sebelum diberi perlakuan kedua kelompok mempunyai kemampuan awal yang sama sehingga kelompok eksperimen dapat diberi perlakuan yaitu dengan pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan kelas kontrol menggunakan metode ekspositori, nilai kontrol dilakukan
menggunakan pretes untuk melihat kemampuan siswa dalam metode eksipositori (berorientasi pada guru). Dalam pembelajaran ini waktu yang digunakan adalah 3 kali pertemuan (6 jam pelajaran). Setelah perlakuan diberikan kepada kelas eksperimen dan kelas kontrol didapatkan rata-rata hasil belajar matematika kelas ekperimen untuk tiap-tiap aspek lebih baik dibandingkan dengan rata-rata hasil belajar matematika.

47

Pada awal penelitian siswa yang menjadi sampel pada kelas eksperimen merasa kebingungan dan merasa mendapat beban dengan adanya suatu metode yang tidak biasa mereka dapatkan, namun dengan bimbingan guru, siswa mulai dapat memahami dan dapat menyesuaikan diri dengan metode ini. Pada saat pengelompokkan terkadang terjadi kegaduhan yang menyita waktu pembelajaran. Bersama dengan teman sekelompoknya siswa menyelesaikan tugas dan mengerjakan LKS. Dengan adanya kebebasan yang lebih untuk beraktivitas, proses pembelajaran terkadang mengalami gangguan dengan adanya siswa yang saling mengganggu antar kelompok dan timbulnya ketidakcocokan antar anggota dalam satu kelompok, akan tetapi hal ini dapat dikendalikan oleh guru. STAD didesain untuk memotivasi siswa supaya memberi semangat dan tolong menolong untuk mengembangkan keterampilan yang diajarkan guru. Hasil belajar kelas eksperimen yang menggunakan model pembelajaran STAD pada pokok bahasan bangun ruang sisi datar lebih baik karena siswa lebih mudah menentukan dan memahami konsep-konsep yang sulit dengan mendiskusikan bersama temannya. Melalui diskusi akan terjalin komunikasi dan terjadi interaksi dengan siswa lain dengan saling berbagi ide serta memberi kesempatan pada siswa untuk mengungkapkan pendapatnya. Dengan belajar secara berkelompok siswa yang lebih pandai dapat memberikan bantuan kepada siswa yang kurang pandai. Ini dapat

48

menumbuhkan motivasi belajar bagi siswa yang akan berdampak positif pada hasil belajar mereka. Penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dalam pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar siswa karena dengan menerapkan metode baru siswa tidak merasa jenuh sehingga termotivasi dan terlibat secara aktif dalam pembelajaran. Dalam pelaksanaan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD siswa yang aktif hanya siswa tertentu saja dan belum menyeluruh sehingga kesan pembelajaran searah masih terlihat. Selain itu dalam pembelajaran kooperatif tipe STAD siswa yang berkemampuan rendah masih merasa rendah diri. Pada kelas pra perlakuan yang pembelajarannya menggunakan metode ekspositori peranan lebih aktif dimainkan oleh guru yang lebih banyak memainkan aktivitas dibandingkan dengan siswa. Keaktifan siswa dalam proses pembelajaran berkurang karena metode ini merupakan kegiatan mengajar yang terpusat pada guru. Guru aktif memberikan penjelasan terperinci tentang materi, mengelola dan mempersiapkan bahan ajar, kemudian menyampaikan kepada siswa. Sebaliknya siswa berperan pasif tanpa banyak melakukan kegiatan. Seringkali siswa yang pandai merasa dirinya mampu untuk menyelesaikan tugas sendiri, siswa yang kurang pandai hanya menyalin pekerjaan siswa yang lebih pandai serta adanya rasa takut untuk mengeluarkan pendapat. Hal ini membuat guru kesulitan untuk mengetahui siswa mana yang kurang mampu menyerap materi pelajaran yang diberikan.

49

Berdasar hasil observasi mengenai kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran pada kelas eksperimen menunjukkan adanya peningkatan persentase dari tindakan I sampai dengan tindakan akhir (III). Pada tindakan I dan II dari perhitungan persentase menunjukkan pembelajaran sudah baik, sedangkan pada tindakan III persentase menunjukkan bahwa pembelajaran menjadi sangat baik. Selain kemampuan guru, aktivitas siswa dalam pembelajaran pun meningkat. Hal ini terlihat dari peningkatan persentase aktivitas siswa dari tindakan I sampai III. Pada tindakan I menunjukkan aktivitas siswa cukup, tindakan II menunjukkan aktivitas siswa baik, sedang tindakan III menunjukkan aktivitas siswa menjadi sangat baik. Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa hasil belajar siswa kelas eksperimen memiliki peningkatan keaktifan siswa yang signifikan. Hal ini didukung oleh aktivitas siswa dan kemampuan guru yang semakin meningkat pada setiap pembelajaran. Secara umum adanya perbedaan hasil belajar antara kelas eksperimen dan kelas kontrol dimungkinkan karena dalam model pembelajaran kooperatif tipe STAD dikembangkan keterampilan siswa dalam bekerja sama, berkomunikasi, dan menerima orang lain untuk menyelesaikan tugas secara bersama sehingga memotivasi siswa untuk belajar dan akhirnya berpengaruh terhadap hasil belajar.

50

BAB V PENUTUP 5.1 Simpulan Berdasarkan hasil data, maka dapat disimpulkan bahwa Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD sudah dapat mencapai taraf peningkatan kemampuan siswa dalam pembelajaran matematika pada materi bangun di kelas VII SMP Muhammadiyah 7 Panton Labu. Selain itu penerapan model pembelajaran tipe STAD juga dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa dan juga meningkatkan kinerja guru dalam melakukan kegiatan pembelajaran. 5.2 Saran - saran Mengingat penerapan model pembelajaran koopretif tipe STAD dapat meningkatkan kemampuan siswa, oleh karena itu siswa menyarankan: 1. Dari hasil penelitian yang telah diperoleh kemungkinan masih dapat kesalahan baik dari peneliti maupun dari pengamat (observasi). Oleh karena itu,

diharapkan kepada peneliti lain agar memilih observasi yang memiliki pemahaman sesuai dengan bidang penelitian yang dilakukan. 2. Disarankan pada pihak lain untuk melakukan penelitian yang sama pada materi lain sebagai bahan perbandingan dari hasil penelitian ini.

51

51

DAFTAR PUSTAKA Anni, Catharina Tri. 2005. Psikologi Belajar. Semarang: UPT MKK Universitas Negeri Semarang. Darmawan, 2009.Upaya Meningkatan Basil Belajar siswa tentang Bagun Datar Melalui Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Unsyiah. Hamalik, Oemar. 2003. Matematika Kreatif: Konsep dan Terapannya. Yogyakarta: Tiga Serangkai. Hamzah. 2007. Pembelajaran Matematika Menurut Teori Pembelajaran Konstruktivisme, (online), ( WWW.DEPDIKNAS.GO.ID, diakses 11 Juni 2012) Maidiyah, Erni. 2004. Makalah Pengembangan Model Pembelajaran Berbasis Kompetensi. Darussalam, Banda Aceh: FKIP Unsyiah. Muhibbun, Syah. 2005. Psikologi Pendidikan: Dengan Pendekatan Baru. Bandung: Remaja Rosdakarya. Muslimin, dkk.2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: UNESA UNIVERSITY PRESS. Suherman, Erman. 2003. Strategi Pembelajaran Kontemporer. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia Suyitno, Amin. 2004. Dasar-dasar dan Proses Pembelajaran Matematika I. Semarang: Jurusan Matematika FMIPA UNNES. Widyantini. 2008. Penerapan Pendekatan Kooperatif STAD dalam Pembelajaran Matematika SMP. Yogyakarta: Departeman Pendidikan Nasional, Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Matematika. Wina, Sanjaya. 2007. Strategi pembelajaran Kooperatif: Berorientasi standar proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. STAD Seminar FKIP