Anda di halaman 1dari 27

Situasi Upaya Kesehatan

BAB IV : Situasi Upaya Kesehatan Tujuan pembangunan kesehatan menuju Aceh sehat 2010 adalah meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud kesehatan masyarakat yang optimal, melalui terciptanya masyarakat dan daerah yang ditandai oleh penduduk hidup dengan perilaku yang sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata serta memiliki derajat kesehatan yang optimal di seluruh wilayah Republik Indonesia. Upaya kesehatan diarahkan untuk meningkatkan mutu dan kemudahan pelayanan kesehatan yang makin terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat dalam rangka meningkatkan status kesehatan masyarakat. A. UPAYA KESEHATAN IBU DAN ANAK (KIA) Beberapa indikator menajemen yang digunakan untuk menilai kinerja program KIA dapat dirinci bebagai berikut: 1. Pertolongan Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan Indikator ini merupakan output dari hasil kegiatan yang dilakukan oleh petugas kesehatan dari pelayanan kesehatan dasar dan rujukan, untuk melihat sejaumana masyarakat (keluarga sasaran) akses ke pelayanan kesehatan dan persalinannya dilakukan oleh tenaga kesehatan profesional (dokter spesialis kebidanan, dokter umum, bidan, pembantu bidan dan perawat bidan) dan tenaga non kesehatan yaitu dukun bayi (dukun bayi dilatih dan tidak dilatih). Persalinan dengan perolongan tenaga kesehatan (Nakes) merupakan salah satu indikator Indonesia Sehat 2010 (IIS 2010) dan Indikator Standar Pelayanan Minimal (SPM). Dari gambaran pengumpulan data program dan profil kesehatan Kabupaten/Kota pada tahun 2006 menunjukkan peningkatan cakupan dibandingkan pada tahun 2005. Persentase cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan tahun 2006 adalah 74,50% dan pada tahun 2005 adalah 73,31%, dari nilai peningkatan sebesar 1,19% menunjukkan masih perlu kekuatan didalam pemahaman masyarakat terhadap pertolongan persalinan melalui tenaga kesehatan, penempatan dan fungsi bidan didesa harus menjadi dapat lebih dipacu secara maksimal mengingat harapan cakupan IIS2010 dan SPM adalah 90%. bila dilihat berdasarkan kabupaten/kota adalah sebagai berikut ini: Tabel IV.1 Cakupan Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan Per Kabupaten/Kota di Provinsi NAD

No Kabupaten /Kota Tahun 2006 Tahun 2005 No Kabupaten /Kota Tahun 2006 Tahun 2005

1 Aceh Selatan 62,53 31,65 12 Aceh Jaya 81,02 16,05

Bertenaga by KerSip Open Source

Dibuat: 24 August, 2010, 09:07

2 Aceh Tenggara 64,80 44,48 13 Nagan Raya 64,30 50,43

3 Aceh Tengah 72,79 71,45 14 Gayo Lues 50,07 49,38

4 Bener Meriah 67,36 66,80 15 Simeulue 69,64 68,70

5 Bireuen 66,74 65,48 16 Pidie 82,70


Bertenaga by KerSip Open Source Dibuat: 24 August, 2010, 09:07

59,61

6 Aceh Utara 79,33 78,34 17 Aceh Besar 88,41 87,43

7 Aceh Timur 79,94 79,89 18 Banda Aceh 96,88 93,21

8 Aceh Tamiang 74,91 73,81 19 Kota Sabang 90,45 90,02

9 Aceh Singkil 70,98 70,75 20 Lhokseumawe


Bertenaga by KerSip Open Source Dibuat: 24 August, 2010, 09:07

93,26 89,97

10 Aceh Barat 61,72 60,68 21 Kota Langsa 85,03 84,26

11 Aceh Barat Daya 59,28 54,88

Bila dilihat pada tabel diatas menunjukkan seluruh Kabupaten mengalami peningkatan pertolongan persalinan, peningkatan ini disebabkan adanya penambahan tenaga bidan desa dan laporan yang diberikan semakin baik dan akurat. Sedangkan masih belum tercapainya target dibeberapa Kabupaten karena jumlah bidan yang masih kurang dan masih kurangnya kesadaran masyarakat untuk melakukan persalinan pada tenaga kesehatan dan kedepan yang diperlukan adalah sosialisasi kepada masyarakat terhadap perlunya kesadaran masyarakat untuk melakukan persalinan kepada tenaga kesehatan. Grafik berikut memberikan gambaran cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan menurut Kab/Kota dengan membandingkan Tahun 2006 dengan Tahun 2005 Grafik IV.1Cakupan Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan Per Kabupaten/Kota di Provinsi NAD Tahun 2005 dan 2006 Dari gambaran diatas menunjukkan beberapa kebupaten cakupannya lebih baik dari tahun sebelumnya terutama kabupaten Aceh Jaya meningkat tajam dari tahun 2005 walupun belum dapat mencapai 90% dan beberapa Kabupaten/Kota yang masih sangat rendah yaitu dibawah 70% adalah Aceh Selatan, Aceh Tenggara, Bener Meriah, Bireun, Nagan Raya, Aceh Barat Daya, Simeulue, Aceh Barat dan Gayo Luwes. Sedangkan yang mencapai target yaitu Kota Lhokseumawe, Sabang serta Banda Aceh. 2. Cakupan K1 dan K4 Cakupan pelayanan antenatal dapat dipantau melalui pelayanan kunjungan baru ibu hamil (K1) dengan standar 5T yang menggambarkan aksessibilitas (keterjangkauan pelayanan). Pelayanan ibu hamil pada kunjungan ke 4 kali kunjungan (K4) minimal 4 kali memeriksa kehamilannya pada petugas kesehatan yaitu Ante Natal Care (ANC) satukali pada semester I, ANC dua kali pada semester II, ANC dua kali pada semester III. Bila seorang ibu hamil tidak memenuhi syarat tersebut maka tidak dihitung sebagai K4 sehingga hal inilah yang cenderung menyebabkan perbedaan antara K1, K4 dan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan cukup tinggi. Cakupan K1 pada tahun 2006 adalah 85,73%, cakupan K4 tahun 2006 adalah 75,92%, sedangkan pencapaian indikator SPM adalah 90% berarti masih ada 14% lagi harus dapat dicapai sampai tahun depan. Grafik berikut memberi gambaran cakupan K1 dan K4 menurut pada tahun 2006 dengan tahun 2005 di Provinsi
Bertenaga by KerSip Open Source Dibuat: 24 August, 2010, 09:07

Nanggroe Aceh Darussalam: Grafik IV.2Cakupan K1 dan K4 Dibandingkan Tahun 2005 dan 2006 Bila dilhat dari grafik diatas menunjukkan peningkatan jumlah sasaran dan kunjungan baik kunjungan pertama (K1) dan Kunjungan ke empat (K4) pada tahun 2006 dibandingkan tahun 2005 yang lalu,hal ini menunjukkan keinginan masyarakat terutama ibu hamil memeriksa kandungannya ke petugas kesehatan sudah lebih baik. Bila dilihat pada setiap Kabupaten/Kota adalah sebagai berikut: Tabel IV.2 Cakupan K1 dan K4 Per Kabupaten/Kota di Provinsi NAD

KAB/KOTA % K1 % K4

2005 2006 2005 2006

Aceh Selatan 46,88 79,07 33,57 71,71

Aceh Tenggara 53,61 77,87 45,88 65,76

Aceh Tengah 77,86 66,22 69,38 61,02

Bener Meriah 99,15


Bertenaga by KerSip Open Source Dibuat: 24 August, 2010, 09:07

78,84 94,99 75,32

Bireuen 86,11 81,71 77,81 73,54

Aceh Utara 91,66 92,79 76,94 83,51

Aceh Timur 78,54 89,34 67,10 80,42

Aceh Tamiang 87,02 88,53 83,56 79,88

Aceh Singkil 91,19 92,35 72,89 72,38

Aceh Barat
Bertenaga by KerSip Open Source Dibuat: 24 August, 2010, 09:07

89,99 87,58 81,03 79,14

Aceh Barat Daya 81,05 91,10 63,88 88,21

Aceh Jaya 68,80 74,26 56,39 64,76

Nagan Raya 70,48 83,13 62,04 79,09

Gayo Lues 79,18 61,99 70,53 51,01

Simeulue 80,73 95,23 66,31 81,32

Pidie
Bertenaga by KerSip Open Source Dibuat: 24 August, 2010, 09:07

87,00 85,98 70,32 69,34

Aceh Besar 93,49 86,83 82,51 74,24

Kota Banda Aceh 79,84 86,22 67,31 77,06

Kota Sabang 99,26 99,39 98,28 92,22

Kota Lhokseumawe 95,71 99,01 87,35 88,07

Kota Langsa 91,57 91,66 87,11 81,76

Bertenaga by KerSip Open Source

Dibuat: 24 August, 2010, 09:07

Dari tabel disamping menunjukkan peningkatan diseluruh Kabupaten/Kota terhadap pelayanan K1 dan K4 namun untuk Kabu paten Bireuen dan Aceh Besar mengalami penu runan. 3. Ibu Hamil Mendapat Fe dan Imunisasi TT Salah satu program untuk memperkecil angka kematian ibu melahirkan adalah pencapaian Cakupan ibu hamil mendapat 90 tablet Fe dan program Imunisasi TT, dalam tahun 2006 secara Kabupaten/Kota dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel IV.3 Cakupan Fe 3 dan TT 2 pada Ibu Hamil Per Kabupaten/Kota di Provinsi NADTahun 2006.

NO KABUPATEN/KOTA % Fe 3 % TT2

1 Aceh Selatan 22,90 38,23

2 Aceh Tenggara 65,76 65,76

3 Aceh Tengah
Bertenaga by KerSip Open Source Dibuat: 24 August, 2010, 09:07

58,30 72,29

4 Bener Meriah 75,32 75,32

5 Bireuen 58,28 45,97

6 Aceh Utara 81,84 75,17

7 Aceh Timur 63,45 77,74

8 Aceh Tamiang 81,38 77,74

9 Aceh Singkil 39,39 73,20

10 Aceh Barat 77,47


Bertenaga by KerSip Open Source Dibuat: 24 August, 2010, 09:07

42,82

11 Aceh Barat Daya 15,86 69,55

12 Aceh Jaya 64,76 64,76

13 Nagan Raya 79,09 79,09

14 Gayo Lues 51,01 51,01

15 Simeulue 61,30 88,70

16 Pidie 39,19 70,23

17 Aceh Besar 10,56 58,77


Bertenaga by KerSip Open Source Dibuat: 24 August, 2010, 09:07

18 Kota Banda Aceh 75,87 77,06

19 Kota Sabang 12,76 67,07

20 Kota Lhokseumawe 83,11 77,90

21 Kota Langsa 57,31 78,52

Provinsi 57,19 67,52 Bila dilhat dari tabel disamping menunjukkan masih rendahnya pencapaian program pemberian Fe3 dan TT2 terhadap ibu hamil dimana secara provinsi NAD untuk Fe3 57,19% dan TT2 67,52%, sedangkan secara Kabupaten/ Kota yang peling terendah adalah Aceh Selatan dan beberapa kabupaten lainnya, sedangkan Kabupaten Aceh Utara, Tamiang dan Kota Lhokseumawe telah mencapai lebih 80% untuk program Fe3 dan Simeulue untuk Program TT2.

Dari target 90% yang harus dicapai berarti masih banyak hal yang harus disiapkan dan dikerjakan agar pencapaian indikator untuk seluruh wilayah dapat tercapai secara maksimal. 4. Pemberian ASI Eksklusif Pemberian ASI Eksklusif masih jauh dari target yang diharapkan. Faktor dominant yang menghambat pemberian ASI Eksklusif ini umumnya adalah kebiasaan masyarakt memberikan makanan / minuman beberapa saat setelah lahir berupa madu, larutan gula, susu bubuk, pisang Wak, dsb yang merupakan tradisi turun temurun. Persentase pemberian ASI Eksklusif hanya 6 %, sementara pemberian ASI dan minuman lainnya / pemberian makanan & minuman selain ASI di NAD juga masih tinggi. B. PENANGGULANGAN GIZI KURANG. 1. Penanggulangan Kekurangan Energi Protein Penanggulangan KEP dilakukan melalui beberapa intervensi yang dilakukan pada saat skreening kasus, intervensi antara lain penyuluhan individual dan konseling, pengetahuan tentang pola asuh keluarga dan PMT. Pemberian makanan tambahan (PMT) pemulihan dan bila keadaan status gizi anak belum mengalami perbaikan maka diteruskan dengan pemberian makanan tambahan pemeliharaan. Pada kasus - kasus kronis yang memerlukan rawatan di fasilitas
Bertenaga by KerSip Open Source Dibuat: 24 August, 2010, 09:07

pelayanan kesehatan dasar (Puskesmas) maka kasus di rawat inapkan bahkan bila memerlukan rawatan lanjutan dapat di rujuk ke RSUD, biaya rujukan sementara di dapat dari biaya APBN. Langkah-langkah yang telah ditempuh cukup efektif didalam menurunkan angka gizi buruk dilapangan dengan angka kemiskinan yang cukup tinggi kondisi gizi buruk dan kurang dapat dikatakan merupakan prioritas didalam penyelesaian untuk setiap tahunnya, Secara grafik dapat terlihat sebagai berikut: Grafik IV.3Kecenderungan Gizi Kurang Dan Gizi Buruk Pada Balita Pemantauan Status Gizi (Psg) Di Nanggroe Aceh Darussalam Dari gambaran diatas menunjukkan tahun 2005 menunjukkan peningkatan gizi kurang namun pada tahun 2006 terjadi penurunan yang cukup tajam dengan intervensi berbagai kegaiatan PMT dengan dibantu oleh NGO. Penyebab kondisi gizi balita bukan hanya disebabkan oleh kondisi kesehatan saja tetapi faktor-faktor lain diluar kesehatan sangat mempengaruhi seperti kesejahteraan, pendidikan, lapangan kerja dan lain-lain. 2. Penanggulangan Kekurangan Vitamin A (KVA) Program penanggulangan KVA telah dimulai sejak tahun 1970-an namun sampai saat ini masalah KVA masih menjadi salah satu masalah gizi utama di Indonesia. KVA tingkat berat (Xeropthalmia) yang dapat menyebabkan kebutaan sudah jarang ditemui, tetapi KVA tingkat sub-Klinis yaitu KVA yang belum menampakkan gejala nyata masih diderita oleh sekitar 50 % balita di Indonesia. Sampai saat ini strategi penanggulangan KVA masih bertumpu pada pemberian kapsul Vitamin A dosis tinggi. Kapsul Vitamin A biru (100.000 IU) diberikan kepada bayi (6-11 bulan) satu kali dalam setahun yaitu pada bulan Februari atau Agustus, sedangkan kapsul Vitamin A merah (200.000 IU) diberikan kepada anak balita (1-5 tahun) setiap bulan Februari dan Agustus, serta kepada ibu nifas paling lambat 30 hari setelah melahirkan. TABEL IV.4Cakupan Vit. A pada bayi bulan Februari dan Agustus Tahun 2006 untuk Provinsi NAD

No Kabupaten/ Jlh Blt BULAN % BULAN %

Kota Balita FEBRUARI FEB AGUSTUS AGUST

1 Aceh Selatan 18.611 17.798


Bertenaga by KerSip Open Source Dibuat: 24 August, 2010, 09:07

95,63 12.145 65,26

2 Aceh Tenggara 24.847 17.697 71,22 12.122 48,79

3 Aceh Tengah 19.726 16.801 85,17 15.520 78,68

4 Bener Meriah 17.496 15.436 88,23 8.654 49,46

5 Bireuen 34.594 31.925 92,28 23.648


Bertenaga by KerSip Open Source Dibuat: 24 August, 2010, 09:07

68,36

6 Aceh Utara 71.540 65.696 91,83 41.733 58,34

7 Aceh Timur 34.565 34.268 99,14 27.400 79,27

8 Aceh Tamiang 24.626 24.460 99,33 20.222 82,12

9 Aceh Singkil 22.122 18.696 84,51 10.295 46,54

10
Bertenaga by KerSip Open Source Dibuat: 24 August, 2010, 09:07

Aceh Barat 12.184 11.719 96,18 4.757 39,04

11 Abdya 13.412 10.249 76,42 8.627 64,32

12 Aceh Jaya 7.017 1.899 27,06 5.492 78,27

13 Nagan Raya 11.434 9.541 83,44 6.791 59,39

14 Gayo Lues 12.049 9.665


Bertenaga by KerSip Open Source Dibuat: 24 August, 2010, 09:07

80,21 6.072 50,39

15 Simeulue 17.464 9.640 55,20 7.548 43,22

16 Pidie 51.036 48.640 95,31 44.428 87,05

17 Aceh Besar 34.285 25.859 75,42 19.013 55,46

18 Banda Aceh 14.496 14.496 100,00 11.772


Bertenaga by KerSip Open Source Dibuat: 24 August, 2010, 09:07

81,21

19 Sabang 3.626 3.020 83,29 3.626 100,00

20 Lhokseumawe 25.395 15.657 61,65 13.760 54,18

21 Langsa 13.864 13.067 94,25 8.936 64,45

PROVINSI 484.389 416.229 85,93 312.561 64,53

3. Persentase Balita Yang Naik Badan dan Balita Bawah Garis Merah. Indikator lain yang sangat penting untuk dicermati didalam pelaksanaan pelayanan kesehatan adalah persentase balita
Bertenaga by KerSip Open Source Dibuat: 24 August, 2010, 09:07

yang baik badan dan balita dibawah garis merah, secara nasional diharapkan 15% adalah nilai maksimal yang harus menjadi perhatian oleh semua pihak. Grafik IV.4Status Gizi Balita Di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Tahun 2006

Bila dilihat grafik diatas menunjukkan masih rendahnya jumlah balita yang ditimbang hal ini perlu mendapat perhatian secara masksimal dari petugas kesehatan di seluruh wilayah di Provinsi NAD, secara rinci dapat dilihat per wilayah Kabupaten Kota dibawah ini: Grafik IV.5Status Gizi Balita BGM+BGTDi Kabupaten/Kota Tahun 2006 Dari grafik diatas menunjukkan Kabupaten Aceh Utara merupakan kabupaten yang peling tertinggi memiliki balita dibawah garis merah dan dibawah garis titik, selanjutnya adalah Kabupaten Pidie. C. PENANGGULANGAN KESEHATAN JIWA MASYARAKAT. Program ini pada tahun 2002 mulai dirintis mengingat dikwatirkannya terjadi kecenserungan peningkatan kasus gangguan psikologis di masyarakat akibat adanya konflik yang bekepanjangan. Kegiatan awal yang dilakukan adalah pelatihan tenaga dokter dan perawat untuk mempu melakukan deteksi dini gangguan jiwa di masyarakat, mampu meberikan terapi sesuai kewenangannya dan memberikan konseling kepada klien yang dipastikan mengalami gangguan. Kondisi pasca tsunami ternyatakan membuktikan bahwa trend kejadian gangguan jiwa dan psikososial semakin meningkat. Diawali dengan assessment dan kajian terhadap kondisi masyarakat yang tinggal didaerah konflik dan kondisi masyarakat yang terkena bencana tsunami, memberi indikasi bahwa pendekatan asuhan keperawatan kesehatan jiwa untuk masyarakat menjadi salah satu alternatif untuk menjawab permasalahan ini. Awal Juli 2006 memalui lokakarya, seminar dan desiminasi hasil kajian tentang kesehatan jiwa masyarakat di Provinsi NAD, maka ditetapkan suatu pendekatan Community Mental Health Nurse (CMHN) yaitu suatu pendekatan asuhan keperawatan jiwa masyarakat yang dapat dilakukan oleh perawat dengan pengawasan dokter melalui pelatihan khusus untuk kesehatan jiwa. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi kurangnya tenaga kesehatan jiwa (baik perawat jiwa maupu psikiatri/dokter spesialis kesehatan jiwa) yang sangat langka. Pelatihan CMHN ini difokuskan pada tenaga perawat, sementara untuk konseling dan juga terapi medis dengan psikotropika dilakukan oleh dokter memalui pelatihan GP Plus. Tabel dibawah ini akan memperlihatkan jumlah penderita dengan gangguan jiwa yang terdeteksi oleh perawat CMHN di puskesmas berdasarkan Kabupaten/Kota tahun 2005 2006. TABEL IV.5Jumlah Kasus Gangguan Jiwa di Puskesmas CMHNDan Kasus yang ditandatangani oleh Parawat CMHN dengan AsuhanKeperawatan Tahun 2006

No Kabupaten/Kota Jumlah Pasien Jumlah Pasien CMHN

Dgn Asuhan Kepawatan

1 Aceh Selatan 240 144

2 Aceh Tenggara
Bertenaga by KerSip Open Source Dibuat: 24 August, 2010, 09:07

0 0

3 Aceh Tengah 69 0

4 Bener Meriah 67 0

5 Bireuen 1314 953

6 Aceh Utara 1311 686

7 Aceh Timur 303 85

8 Aceh Tamiang 114 40

9 Aceh Singkil 222


Bertenaga by KerSip Open Source Dibuat: 24 August, 2010, 09:07

148

10 Aceh Barat 258 258

11 Aceh Barat Daya 428 122

12 Aceh Jaya 282 180

13 Nagan Raya 185 0

14 Gayo Lues 56 33

15 Simeulue 169 92

16 Pidie 1371 430


Bertenaga by KerSip Open Source Dibuat: 24 August, 2010, 09:07

17 Aceh Besar 520 176

18 Kota Banda Aceh 115 115

19 Kota Sabang 36 0

20 Kota Lhokseumawe 441 137

21 Kota Langsa 116 57

PROVINSI 7617 3656 Dari data diatas belum semua penderita gangguan jiwa yang dilaporkan telah ditangani oleh perawat CMHN, baru 42% penderita yang telah tercaver oleh perawat terlatih, hal ini kemungkinan disebabkan karena akses untuk menjangkau kasus sulit. Sebagimana diketahui keberadaan kasus lebih sering dilokasi terpencil dan pedalaman. Konsekwensinya adalah puskesmas dan kabupaten harus menyediakan biaya transportasi petugas untuk menjangkau kasus dengan gangguan jiwa dimasyarakat. Kondisi ini menjadi permasalahan tehnis pada umumnya dikabupaten/kota.Tabel berikut memberikan informasi jumlah kasus pasung di 11 Kabupaten/Kota yang melaporkan temuan kasus pasung selama tahun 2005-2006. TABEL IV.6Distribusi Penderita Pasung Yang Dilaporkan dan Penangannya Tahun 2006

Bertenaga by KerSip Open Source

Dibuat: 24 August, 2010, 09:07

No Kabupaten/Kota Jumlah Pasien Yg Jumlah Pasien Yg Jumlah Pasien Pasung

Dipasung Dipasung dan Ditangani Yang Sudah Dilepas

1 Aceh Selatan 3 3 0

2 Aceh Tenggara 0 0 0

3 Aceh Tengah 0 0 0

4 Bener Meriah 0 0 0

Bertenaga by KerSip Open Source

Dibuat: 24 August, 2010, 09:07

5 Bireuen 22 22 14

6 Aceh Utara 20 20 9

7 Aceh Timur 3 3 0

8 Aceh Tamiang 4 4 0

9 Aceh Singkil 5 5 5

10 Aceh Barat 13 13 10
Bertenaga by KerSip Open Source Dibuat: 24 August, 2010, 09:07

11 Aceh Barat Daya 3 3 0

12 Aceh Jaya 2 2 1

13 Nagan Raya 5 5 5

14 Gayo Lues 0 0 0

15 Simeulue 2 2 2

16 Pidie 39 30 12
Bertenaga by KerSip Open Source Dibuat: 24 August, 2010, 09:07

17 Aceh Besar 3 3 2

18 Kota Banda Aceh 0 0 0

19 Kota Sabang 0 0 0

20 Kota Lhokseumawe 6 4 2

21 Kota Langsa 3 3 0

PROVINSI 133 122


Bertenaga by KerSip Open Source Dibuat: 24 August, 2010, 09:07

62 Tabel diatas memberikan informasi bahwa terdapat 133 kasus pasung di 18 Kabupaten/Kota, 122 kasus diatantaranya telah ditangani oleh petugas CMHN, sebanyak 62 kasus yang ditangani sudah dilepas dari pasungannya.

Bertenaga by KerSip Open Source

Dibuat: 24 August, 2010, 09:07