Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN BACA

A. IDENTITAS BUKU Judul buku Penulis ISBN Tahun terbit Penerbit Kota terbit : Filsafat Ilmu Pengetahuan : Prof. Konrad Kebung, Ph.D : 978-602-8963-28-2 : 2011 : Prestasi Pustaka Publisher : Jakarta

Jumlah halaman : 332 halaman Bagian BAB yang di rangkum : 1. BAB 7 Kepastian dan Kebenaran Ilmiah 2. BAB 10 Ilmu Pengetahuan dan Nilai 3. BAB 11 Ilmu Pengetahuan dan Masyarakat

BAB 7 KEPASTIAN DAN KEBENARAN ILMIAH Dalam telaah-telaah mengenai Filsafat Ilmu Pengetahuan kita menemukan banyak masalah dan pemecahannya. Masalah-masalah itu antara lain, kepastian, kebarangkalian, kesesatan dalam ilmu-ilmu empiris dan ilmu eksakta dan lainlainsuatu masalah pokok adalah kebenaran dan kepastian. Pengetahuan selalu mengandung kebenaran dalam arti bahwa apa yang kita klaim sebagai isi pengetahuan kita haruslah benar. Kita menemukan beberapa teori mengenai kebenaran : 1. Kebenaran sebagai penyesuaian (the correspondent theory of truth)

Peletak dasar teori ini adalah Aristoteles. Menurutnya sesuatu yang ada sebagai tidak ada dan sebaliknya adalah salah. Kemudian ia mengatakan hal yang ada sebagai ada dan yang tidak ada sebagai tidak ada adalah benar. Dengan hal tersebut muncul kebenaran sebagai penyesuaian antara apa yang dikatakan atau dipikirkan dengan kenyataan. 2. Kebenaran sebagai keteguhan (the coherent theory of truth)

Pandangan ini didukung oleh Pythagoras, Parmenides, Spinoza, dan Hegel. Teori ini dianut oleh kaum rasionalis. Kebenaran tidak lagi ditemukan dalam kesesuaian dengan kenyataan. Melainkan dalam relasi antara proposisi baru dengan proposisi lama atau yang sudah ada. Maka suatu pengetahuan atau proposisi dianggap benar kalau sejalan dengan pengetahuan atau proposisi sebelumnya. Matematika dan ilmu pasti sangat cocok dengan teori kebenaran ini. Penekanan pada apriori rasional dan deduktif. Di sini pengenal dan subjek lebih dipentingkan daripada objek. 3. Teori pragmatis tentang kebenaran (the pragmatic theory of truth)

Teori ini dikembangkan oleh Charles Sanders Peirce dan William James. Kebenaran memiliki arti yang sama dengan kegunaan. Suatu ide benar adalah ide yang bisa memungkinkan seseorang melakukan sesuatu secara paling berhasil dan tepat guna. Ide yang benar pasti juga memiliki konsekuensi praktis pada tindakan tertentu (J. Dewey). Kebenaran yang ditemukan disini adalah menyangkut knowhow, kalau manusia berhasil menciptakan sesuatu.

4.

Teori Kebenaran Performatif (Performative theory of truth)

Anggapan tentang terlaksananya kebenaran dalam bahasa (ungkapan) manusia berasal dari Inggris (Frank Ramsey, John Austin, dan Peter Strawson). Mereka melawan teori klasik bahwa benar dan salah adalah ungkapan deskriptif. Suatu pernyataan dianggap benar kalau ia menciptakan realitas. 5. Teori Kebenaran Historis

Teori kebenaran historis pada umumnya diakui oleh kelompok post-modernis atau strukturalis dan post-strukturalis. Menurut mereka kebenaran selalu bersifat historis dan selalu berpusat pada kebebasan batin setiap manusia, dan bukannya ditentukan lebih dahulu atau ditentukan oleh orang lain. Dalam arti setiap manusia dan kebudayaan terdapat unsure kebenaran.

Sifat-sifat Kebenaran Ilmiah

Rasional-logis berdasarkan kesimpulan yang logis rasional dari premis-premis tertentu

Empiris berdasarkan kebenaran ilmiah yang dapat diuji kebenarannya

Sifat pragmatis mau menggabungkan dua sifat kebenaran (rasional logis dan empiris)

Kepastian dan Kebenaran Dalam diskusi tentang macam-macam teori kebenaran, pertanyaan yang muncul ialah apakah kebenaran ilmiah bersifat pasti atau sementara? Jawaban atas pertanyaan tersebut memunculkan dua pandangan berbeda, yaitu pandangan kaum rasionalis yang menekankan kebenaran logis-rasional dan pandangan kaum empiris yang menekankan kebenaran empiris. Karena itu kita harus berbicara tentang taraf-taraf kepastian (subjektivitas dan objektivitas). Pemakaian istilah S dan O sudah dibicarakan, demikian pula pengetahuan yang dimengerti sebagai kesadaran si subjek tentang objek yang dikenalnya. Disana jelas terjadi pada pihak subjek (yang dapat membedakan objek dari dirinya) dan dari pihak objek yang seolah membuka diri kepada S. terang justru terjadi dalam diri S (Kant dengan pengetahuan apriori-sintesis). Dari sudut pengetahuan kita mengenal apa yang disebut evidensi dan kepastian. Dalam hubungan S dan O, evidensi terletak pada pihak objek. Sedangkan kepastian ada pada pihak subjek. Evidensi adalah terang atau daya objek yang menampakan diri, sedangkan kepastian ialah keyakinan dalam diri subjek bahwa apa yang dikenalnya sungguh adalah objek yang ingin diketahuinya. Kepastian berkaitan dengan subjek (rasionalis). Kaum rasionalis yakin bahwa kebenaran sebagai keteguhan bersifat pasti, karena kesimpulannya hanyalah merupakan konsekuensi logis dari teori, pernyataan atau hukum ilmiah lainnya. Sebab itu sejauh teori atau hukum benar kesimpulannya juga benar.

BAB 10 ILMU PENGETAHUAN DAN NILAI A. Teori dan Terapan Dari aspek historis, ilmu-ilmu terapan sebenarnya jauh lebih tua daripada ilmuilmu deduktif dan empiris. Perlu diketahui bahwa pengetahuan diperoleh manusia lewat menghentikan reaksi spontan yang serta merta dan kemudian berefleksi dan berfikir tentang segala yang berhubungan dengan ilmu (hubungan sebab-akibat). Pengetahuan seperti ini memiliki jaminan kepastian benar dan tinggi. Pengetahuan-pengetahuan praktis yang memiliki tujuan-tujuan tertentu, yang tersusun dari sistem ilmu baru yang memiliki sifat terapan apabila perujudannya langsung terungkap dalam hasil penerapan itu sendiri. Namun yang menjadikan suatu pengetahuan sebagai ilmiah bukannya karena pengetahuan itu dapat diterapkan, melainkan karena sifatnya sebagai hasil pemahaman secara teoritis. Setiap perluasan kemungkinan penerapan dan setiap eksplorasi kemungkinan penerapan dan setiap eksplorasi jangkauan penerapan baru selalu didasarkan pada akibat suatu teori baru. Penerapan selalu mengandalkan proses perubahan yang terarah untuk tujuan-tujuan praktis membutuhkan metode dan cara kerja praktis dan penanganan secara ilmiahsistematis. Dalam ilmu-ilmu kemasyarakatan orang menggunakan metode-metode sejarah dan matematika terapan yang sama sekali baru ( matematika angka, persamaan diferensial, aljabar computer, statistic, dll). B. Ilmu, Nilai, dan Keadaan Bebas Nilai Apakah ilmu bebas nilai? Untuk menjaab pertanyaan tersebut kita perlu membedakan antara penyelenggaraan ilmu dan penerapan ilmu, antara mengusahakan ilmu dengan menggunakan sesuatu yang menggunakan ilmu. Bahwa ilmu meakili nilai tertentu, ini tidak dapat diragukan. Ia bernilai sebab ia menghasilkan pengetahuan yang dapat dipercaya, yang obyektif dan dikaji secara kritis. Bebas nilai adalah tuntutan bagi ilmu pengetahuan agar ilmu pengetahuan dikembangkan dengan tidak memperhatikan nilai-nilai lain di luar ilmu agar ilmu pengetahuan dikembangkan demi ilmu pengetahuan dan tidak didasarkan pada pertimbangan lain diluar ilmu pengetahuan.

C. Kecenderungan Dasar Soal Bebas Nilai dalam Ilmu Pengetahuan Ilmu harus bebas nilai dan lepas dari nilai-nilai di luar ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan bertujuan memberi pemahaman tentang pelbagai masalah hidup. Namun untuk apa pemahaman atau penjelasan atas masalah-masalah hidup? Untuk menjawab pertanyaan dalam tersebut melihat kita tujuan membedakan ilmu dua macam yaitu

kecenderungan

dasar

pengetahuan,

kecenderungan puritan-elitis dan pragmatis. Kesimpulan : Kecenderungan puritan-elitis hanya demi kebenaran yang

Bagi kelompok puritan elitis, penjelasan ini memuaskan rasa ingin tahu manusia. Kecenderungan pragmatis

Bagi kelompok pragmatis yang paling penting adalah bahwa ilmu pengetahuan berguna bagi manusia untuk memecahkan berbagai persoalah dalam hidup. D. Etika Keilmuan Etika secara etimologis berasal dari kata ethos yang berarti adat, kebiasaan, watak atau susila. Dalam filsafat, etika berbicara tentang tingkah laku atau perbuatan manusia dalam kaitan antara baik dan buruk, etika yang dibahas secara ilmiah sama dengan filsafat moral. Baik dan buruk adalah suatu penilaian atas apa yang bisa dilihat dan dirasakan seperti perbuatan, tingkah laku, gerakan-gerakan, dan kata-kata. Sedangkan banyak aspek lain menyangkut motif, watak atau suara hati sulit dinilai. Juga terdapat berbagai macam pembagian etika yang dapat disimpulkan dalam dua macam yaitu etika deskriptif dan etika normatif. Etika deskriptif hanya melukiskan, menggambarkan, menjelaskan dan menceritakan sesuatu seperti adanya dan tidak memberikan penilaian atau memberikan pedoman bagaimana seharusnya bertindak. Etika normative sebaliknya sudah memberikan penilain baik dan buruk, yang harus dibuat atau tidak. Etika normative bisa bersifat umum kalau ia mengajukan prinsip-prinsip umum yang harus diikuti, seperti nilai, motivasi suatu perbuatan, suara hati, dan lain-lain. Etika normative khusus berbicara mengenai pelaksanaan prinsip-prinsip umum di atas seperti etika pergaulan, etika dalam pekerjaan, bisnis, dan lain-lain.

BAB 11 ILMU PENGETAHUAN DAN MASYARAKAT

A. Ilmu Pengetahuan dan Hidup Untuk dapat menjelaskan hubungan antara ilmu pengetahuan dan hidup kita perlu membuat pembedaan antara ilmu pengetahuan dengan apa yang disebut life world. Dunia ilmu pengetahuan adalah dunia fakta sedangkan life world mencakup pengalaman subyektif praktis manusia aktu lahir, hidup, mati, dan berbagai pengalaman ekstensial lainnya. Dunia ilmu pengetahuan adalah dunia obyektif, universal, dan rasional, sedangkan life world adalah dunia sehari-hari yang bersifat subjektif, praktis, dan situasional. Berikut ini adalah dampak atau pengaruh ilmu pengetahuan atas hidup kita. 1. 2. 3. Dampak Intelektual Dampak Sosial Praktis Watak Intelektual

B. Ilmu Pengetahuan dan Politik Melalui teknik ilmiah ilmu pengetahuan berhasil menjadi sarana bagi pengembangan kekuasaan serta control terhadap masyarakat. Para penguasa dibantu untuk mengembangkan organisasi sosial yang solid demi kepentingan kekuasaan. 1. Teknik Ilmiah dan Kekuasaan Teknik ilmiah dan kekuasaan memiliki hubungan yang sangat erat. Dalam perjalanan sejarah du contoh yang dapat menjelaskan hubungan ini yakni oligarki dan perang. Oligarki : Sistem pemerintahan dengan kekuasaan tertinggi ada dalam sekelompok orang yang memiliki paham atau keyakinan tersendiri. : Adalah praktik kuasa dengan maksud mengalahkan dan menghancurkan seluruh potensi musuh.

Perang

2.

Demokrasi Istilah demokrasi ini memiliki banyak nuansa. Pada abad 18 dan 19 di

Eropa J Locke dan J.Rousseau dan J.S. Mill demokrasi dihubungkan dengan kebebasan dari penguasa yang despotis, kebebasan berfikir dan mengemukakan pendapat. Kini, ketika teknik-teknik ilmiah digunakan secara meluas, demokrasi digunakan sebagai senjata untuk melindungi individu dari masyarakat. Kita juga melihat bahwa permasalahan yang dihadapi masyarakat juga sangat berbeda dari tempat ke tempat, dari satu periode sejarah yang satu ke periode sejarah yang lain. Demokrasi menjadi urgen kalau kita ingin agar individu terlindung dari tendensi-tendensi teknis yang memperbesar kemungkinan individu untuk menjadi komponen mesin. Ada tiga urgensi utama dari penerapan demokrasi dalam masyarakat ilmiah agar : 1) Individu melihat dirinya berguna 2) Terlindung dari kemalangan dan jaminan sosial yang harus diterima, dan 3) Berkesempatan untuk berinisiatif dan tidak merugikan orang lain. 3. Peranan ilmuan Dimana-mana dalam negara-negara modern sedang berjalan proses sientisasi pendidikan. Para ilmuwan berperan penting dalam pengambilan keputusankeputusan politik lewat menjadi staf dalam bidang penelitian dan lembagalembaga konsultasi public. Juergen Habermas mengemukakan tiga model hubungan kerja ini : a. Model Desisionistik Model ini keputusan akhir dalam bidang public ada dalam tangan para penguasa yang pada dasarnya lebih memberikan perhatian pada konflik kepentingan dan nilai. Ilmuan bertugas melayani kepentingan kekuasaan agar kebijakannya dapat dijalankan di dalam masyarakat. Dasar kerjasama adalah kaitan erat antara nilai/kepentingan dan teknik yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan atau kepentingan. b. Model Teknokratis Model ini mengunggulkan peran ilmuan yang professional. Pemegang kekuasaan tergantung pada para ilmuwan. Para ilmuwan yakin bahwa hanya

ilmu pengetahuan lah yang dapat memecahkan pelbagai masalah teknis dan praktis di lapangan. Teknik dan praktik justru harus bisa dipertemukan. Karena itu perlu ada diskusi antara dua kelompok ini. c. Model Pragmatis Pada model pragmatis ini dituntut suatu interaksi antara ilmuwan dan politisi dalam diskusi yang dilengkapi dengan informasi dan pertimbanganpertimbangan ilmiah. Keduanya memiliki hubungan timbal balik. Ilmuan dan politisi saling mendukung. Para ilmuwan didorong oleh kaum politisi untuk memikirkan kebutuhan-kebutuhan praktis masyarakat. Model ini paling mendekati tuntutan bagi demokratisasi.