Anda di halaman 1dari 28

PROPOSAL PENELITIAN

STUDI KOMPARATIF AL-GHAZALI DAN MASLOW (PERSPEKTIF MOTIVASI PENDIDIKAN DAN APLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN AGAMA ISLAM)

Latar Belakang Masalah Salah satu cara memahami hakekat manusia adalah dengan pendekatan yang lebih mengarah kepada teori tentang kepribadian manusia. Dewasa ini telah banyak hasil yang dicapai oleh para ahli psikologi dalam usaha untuk menyusun teori kepribadian. Pembahasan tentang kepribadian ini berkaitan erat dengan perilaku manusia yang salah satu determinannya adalah motivasi. Motivasi merupakan salah satu faktor terjadinya perubahan tingkah laku sebagi hasil belajar. Tanpa motivasi, minat siswa tidak akan timbul, sehingga kebutuhan yang mendasar tidak akan terpenuhi, yang menyebabkan perbuatan belajar tidak akan terjadi secara efektif..1 Belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif mantap berkat latihan dan pengalaman. Belajar sesungguhnya adalah ciri khas manusia dan yang membedakannya adalah binatang. Belajar yang dilakukan oleh manusia merupakan bagian dari hidupnya, berlangsung seumur hidup, kapan saja dan dimana saja, baik di sekolah, di kelas, di jalanan dalam waktu yang dapat ditentukan sebelumnya.2 Makna pendidikan Islam, yaitu pendidikan yang bertujuan membentuk
1 Karti Soeharto, Teknologi Pembelajaran. (Surabaya : Intellectual Club Surabaya, 1999), hal. 5-6 2 Oemar Hamalik, Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem. (Jakarta : Bumi Aksara, 2004), hal. 154

individu menjadi makhluk yang bercorak diri berderajat tinggi menurut ukuran Allah untuk mewujudkan jaran Allah. Hal ini didasarkan pada sumber pendidikan Islam yang meliputi, Al-Quran, As-Sunnah, Kata-kata sahabat (Madzhab Shahabi), kemaslahatan umat/sosial (Mashalil al-Mursalah), Tradisi atau adat kebiasaan masyarakat (Urf), hasil pemikiran para ahli dalam Islam (Ijtihad). Pesatnya perkembangan IPTEK dan arus globalisasi menuntut adanya pemikiran yang arif untuk bisa mengelola dan mengemas pendidikan agama Islam agar bisa diterima dalam wujud aplikasi di masyarakat sosial. Pendidikan Agama Islam adalah pendidikan yang secara substansial perlu dikelola dan dikemas dengan baik, karena penanaman nilai moral dalam agama pada generasi bangsa menjadi hal yang mutlak dilakukan. Menanamkan nilai agama pada anak bangsa sama halnya dengan memberikan arahan, pedoman dan modal hidup yang terbaik yang akan membantu mereka survive di setiap keadaan. Pendidikan merupakan proses yang lebih besar dari sekedar aktifitas persekolahan. Pendidikan merupakan proses pemberian sifat sosial kemanusiaan (Humanisai) kepada makhluk hidup.3 Yakni pendidikan merupakan proses pengembangan sosial yang mengubah individu dari sekedar makhluk biologis menjadi makhluk sosial agar hidup bersama realitas zaman dan masyarakatnya. Pendidikan dipandang sebagai seni mentransfer warisan dan ilmu membangun masa depan. Pendidikan merupakan proses pengembangan individu secara menyeluruh di dalam pusat sosialnya. Pendidikan merupakan proses persiapan untuk hidup melalui kehidupan itu sendiri dimana aspek-aspek fisik, intelektual, dan spiritual individu diperhatikan. Atas dasar itu, tugas pendidikan
3 Ali, Heri Noer. Watak Pendidikan Islam. Friska Agung Insani Jakarta, hlm: 23. 2000

adalah memperhatikan pendidikan hati, kepala, dan tangan (heart, head, hand).4 Manusia dengan dianugrahi potensi fitrah merupakan agen perubahan dan pendidikan merupakan alat perubahan. Maka untuk menciptakan perubahan dalam proses pendidikan perlu adanya motivasi dalam aktivitas pendidikan. Seperti yang telah di jelaskan dalam firman Allah berikut:

c) !$# w it $tB BQqs)/ 4Lym (#rit $tB NkRr'/ 3

Artinyna: Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (al-Rad 13:11) Tujuan pendidikan (Islam) adalah membantu membentuk akhlak yang mulya, mempersiapkan diri untuk kehidupan dunia dan akhirat, menekankan segi kerohanian dan menyiapkan untuk hidup dan mencari rizki, persiapan untuk mencari rizki dan pemeliharaan segi-segi kemenfaatan, menciptakan manusia yang baik dan bertakwa yang menyembah Allah dalam arti yang sebenarnya, yang membangun struktur pribadinya sesuai dengan syariah Islam serta melaksanakan segenap aktifitas kesehariannya sebagai wujud ketundukannya pada Tuhan. Sebagaiman firman Allah berikut:

tBur M)n=yz `g:$# }RM}$#ur w)$ br7u9


Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.(QS. Ad-Dzaariyaat : 56) Peroses pendidikan, juga merupakan sebagai bagian dari tugas kekhalifahan manusia. Sebagaimana Firman Allah dalam kitab Suci Al-Quran:
4 Ibid, hlm: 24

Artinya: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." (QS. Al-Baqarah : 30) Menurut pandangan Islam, peroses pendidikan harus dilaksanakan oleh manusia secara bertanggung jawab. Oleh karenanya Islam tentunya memberikan garis-garis besar tentang pelaksanaan pendidikan. Islam. Memberikan konsepkonsep yang mendasar tentang pendidikan, dan menjadi tanggung jawab manusia untuk menjabarkan dan mengaplikasikan konsep-konsep dasar tersebut dalam praktik kependidikan. Karena manusia adalah khalifah Allah, yang berarti bahwa manusia mendapat kuasa dan limpahan wewenang dari Allah untuk melaksanakan pendidikan terhadap alam dan manusia, maka manusialah yang bertanggung jawab untuk melaksanakan pendidikan di muka bumi ini. Islam adalah Agama yang hadir di muka bumi ini untuk menyampaikan ajaran-ajaran tentang kemanusiaan dan keadilan bagi seluruh umat manusia. Ajaranajaran Islam perlu dipahami melalui jalan praksis karena fungsi agama ini adalah untuk memberikan solusi-solusi yang terbaik atas segala problem sosial yang ada dalam masyarakat. Persoalan moral sosial dalam Islam. Oleh karena itu dalam mengemban dan juga melaksanakan fungsi kekhalifahannya di muka bumi ini, maka manusia dituntut untuk menjalankan norma-norma moral sosial, baik yang berbentuk hablumminallah maupun hablumminannas. Moral memiliki pengertian bahwa manusia diharapkan mampu mengatasi sifat-sifat jahatnya dan mengembangkan sifat-sifat baik dalam dirinya. Paul Foulquie mendefinisikan moral sebagai aturan kebiasaan, yang apabila ditaati dan

oT) @%y` F{$# Zpx=yz

dipatuhi, akan mengantarkan manusia meraih segenap tujuannya. Biasanya moral sangat terkait dengan persoalan-persoalan bagaimana meraih kebahagiaan dalam diri manusia. Dalam menjabarkan moral, ada tiga alasan mengapa kebanyakan orang menganggap pengertian di atas: (1) moralitas pada hakikatnya bersangkut paut pada persoalan bagaimana manusia itu bisa hidup dengan baik; (2) agama merupakan salah satu pranata kehidupan manusia yang paling kuno; dan (3) dalam praktek keberagamaan ada kepercayaan bahwa Tuhan akan memberikan pahala kepada orang yang baik dan menjatuhkan hukuman bagi orang yang jahat, sehingga secara psikologis agama dapat menjadi penjamin yang kuat bagi hidup yang bermoral. Berdasarkan penggolongan determinan perilaku manusia itulah para ahli psikologi mengemukakan teori-teorinya tentang motivasi. Di antara teori motivasi yang dikemukakan adalah teori aktualisasi diri yang pertama kali dikemukakan oleh Carl Rogers dan kemudian dikembangkan oleh Abraham H. Maslow. Abraham H. Maslow ini dianggap sebagai tokoh madzhab ketiga dari aliran psikologi yang melakukan penelitan dengan cara meneliti orang-orang yang sehat sebagai obyeknya.

Di sisi lain, Al-Ghazali melalui pendekatan tasawufnya banyak mengungkap hakikat dan perilaku manusia. Dari pemikiran-pemikiran Al-Ghazali yang fenomenal ini banyak terlahir pemikir-pemikir baru di bidang psikologi Islam. Diantara pemikiran Al-Ghazali adalah konsepnya tentang fitrah yang dikenal dengan sebutan al-Nafs al-Rabbaniyyah. Konsep fitrah Al-Ghazali berkaitan erat

dengan pembahasan tentang motivasi. Untuk menjelaskan motivasi perilaku manusia, Al-Ghazali menyuguhkan konsep syahwat sebagai motivasi mendekat (alsabab al-dakhili) dan ghadlab sebagai motivasi menjauh (al-sabab al-khariji). Untuk itu kami mengambil tema, Studi Komparatif Al-Ghazali Dan Maslow (Perspektif Motivasi Pendidikan Dan Aplikasinya Dalam Pembelajaran Agama Islam), dengan tujuan untuk mengarahkan dan mencari solusi penanaman pembelajaran yang tepat guna menciptakan manusia yang berpandidikan sebagai insan kamil, terutama dalam realitas kehidupan sosial dalam mengaplikasikan nilainilai Pendidikan Islam. Rumusan Masalah Bagaimana memaknai hakikat manusia? Bagaimana teori motivasi pendidikan? Apa perbedaan dan kelebihan dari teori motivasi pendidikan Al-Ghazali dan Maslow? Bagaimana aplikasi motivasi pendidikan dalam pembelajaran agama Islam? Al-Ghazali dan Maslow dalam menanamkan

Tujuan Penelitian Dengan mengetahui hakikat manusia, maka akan mempermudah kita dalam mengaplikasikan motivasi dalam pembelajaran. Untuk mengetahui teori motivasi Maslow dan Al-Ghazali dalam menanamkan pendidikan. Untuk mengetahui perbedaan dan kelebihan dari teori motivasi pendidikan Al-

Ghazali dan Maslow. Agar motivasi pendidikan dapat diaplikasikan dalam pembelajaran agama Islam secara tepat dan benar

Manfaat Penelitian Kegunaan penelitian yang ingin di capai adalah sebagai berikut : Sebagai sumbangan pemikiran yang bersifat literal untuk pengembangan wawasan ke-Islaman, serta upaya memperkaya khazanah intelektual muslim dalam dunia pendidikan Penelitian ini akan memberikan gambaran secara deskriptif tentang pemikiran kedua tokoh besar tentang motivasi pendidikan dan aplikasinya dalam pembelajaran agama Islam. Untuk menambah peradigma peneliti tentang motivasi pendidikan dan aplikasinya dalam pembelajaran agama Islam.

Batasan Masalah Agar hasil penelitian ini dapat terarah dalam mencapai tujuan, dan tidak menyimpang dari judul yang telah di tetapkan sebelumnya, maka peneliti membatasi permasalahan sebagai berikut: Penelitian ini dibatasi pada komparasi pemikiran Al-Ghazali dan Maslow tentang motivasi ditinjau dari sudut pandang implikasinya terhadap pendidikan.

Teori Motivasi Pendidikan Maslow dan Al-Ghazali Fungsi Motivasi Pendidikan Dan Aplikasinya Dalam Pembelajaran Agama Islam Mencari titik korelasi kelebihan, perbedaan dan persamaan prespektif Maslow dan Al-Ghazali tentang Motivasi Pendidikan Dalam efektifitas Pembelajaran.

Kajian Pustaka Hakekat Manusia Pandangan Filsafat Tentang Manusia Dalam filsafat terdapat empat aliran dalam memandang manusia, yaitu materialisem monism yang memandang bahwa hakekat manusia adalah sebuah materi. Kedua, aliran filsafat spiritualisme yang memandang bahwa hakekat manusia adalah ruh dan jiwa. Ketiga, aliran filsafat idealisme yang memandang bahwa manusia adalah perpaduan badan yang material dan jiwa yang tidak material . dan keempat aliaran filsafat dualisme yang beranggapan bahwa hakekat manusia adalah jasmani dan ruh yang keduanya merupakan sesuatu yang saling berbeda. Pandangan Psikologi Tentang Manusia Ada empat aliran psikologi yang dijadikan rujukan dalam merumuskan teori tentang manusia, yaitu psikoanalisa, behavioristik, humanistik, dan transpersonal. Sigmund Freud (1856-1939) menyatakan bahwa Motivasi belajar

manusia terdiri atas tiga system dan tiga strata kesadaran. Tiga sistem adalah id (das es), ego (das ich), dan super ego (uber ich). Sedangkan tiga strata kesadaran adalah alam sadar (the preconscious), alam sadar (the conscious), dan alam tak sadar (the unconscious). Pandangan Behavioristik yang dipelopori John Broadus Watson, memandang manusia dengan konsep stimulus respon (S-R). Perilaku manusia terbentuk melalui pembiasaan klasik (classical conditioning), hokum akibat (law of effect), pembiasaan operant (operant conditioning), dan peneladanan (modeling). Sementara aliran Humanistik yang dipelopori Abraham H. Maslow memandang manusia memiliki potensi yang baik dan makhluk bermartabat, bertanggung jawab, dan mampu merealisasikan potensipotensinya sesuai dengan jati dirinya sehingga mencapai aktualisasi diri. Adapun dalam pandangan aliran Transpersonal manusia memiliki kebutuhan paling tinggi yaitu kebutuhan spiritual yang membuat mampu mencapai posisi transendensi diri melewati batas kesadaran biasa yang pada suatu saat mampu mencapai tingkat penghayatan mistis, penyatuan diri dengan Tuhan yang Maha Besar. Selain itu, psikologi apa pun alirannya, menunjukkan bahwa filsafat manusia yang mendasarinya bercorak Antrposentrisme yang menempatkan Manusia sebagai pusat dari segala pengalaman dan relasi-relasinya, serta penentu segala peristiwa yang menyangkut maslah manusia dan kemanusiaan. Pandangan ini mengangkat derajat manusia ke tempat yang

teramat tinggi. Ia seakan-akan prima causa yang unik, pemilik akal budi yang sangat hebat, serta memiliki kebebasan penuh untuk berbuat apa yang dianggap baik dan sesuai baginya. Sampai dengan penghujung abad XX ini, terdapat empat aliran besar psikologi, yaitu: Psikoanalisis (Psychoanalysis) Psikologi Prilaku (Behavior Psychology) Psikologi Humanistik (Humanistic Psychology) Psikologi Transpersonal (Transpersonal Psychology).5 Pandangan Islam Tentang Manusia Islam memandang manusia sebagai makhluk Tuhan yang memiliki keunikan dan keistimewaan tertentu, sebagai salah satu makhluknya. Karakteristik eksistensi manusia harus dicari dalam relasi dengan sang Pencipta dan makhluk Tuhan yang lainnya. Ada tiga kata kunci dalam memahami konsep Islam tentang manusia, yaitu basyar, insan, fitrah, dan nafs, dan ruh. Konsep basyar menunjukkan posisi manusia sebagai makhluk biologis yang memerlukan kebutuhan dasar (physiological needs). Sedangkan konsep insan menunjukkan bahwa manusia adalah totalitas yang memiliki fisik dan psikis, badaniah dan ruhaniah, individualistik, khas, unik, berbeda antara manusia satu dengan yang laiinya. Sementara nafs dan ruh merupakan tentara hati manusia (junud al-qalb).
5 Elizabeth B. Hurlock, Perkembangan Anak (Jilid 2). Penerbit: Erlangga, Jakarta 1993. hal.49

Hati manusia ini telah memiliki potensi yang disebut fitrah. Demikian penjelasan Al-Ghazali. Adapun ragam relasi tersebut antara lain: Hubungan manusia dengan dirinya sendiri (hablum minannafsi), yang ditandai oleh kesadaran untuk melakukan amal maruf nahi mungkar (QS. 3 : 110) atau sebaliknya mengumbar nafsu-nafsu rendah (QS. 38 : 6; QS. 45 : 23) Hubungan antar manusia (hablum minannas), dengan usaha membina silaturahmi (QS.4:1) atau memutuskannya (QS. 12: 100) Hubungan manusia dengan alam sekitar (hablum minal alam), dengan upaya pelestarian dan pemanfaatan alam dengan sebaik-baiknya (QS. 11: 6) atau sebaliknya menimbulkan kerusakan alam (QS. 30 : 41) Hubungan manusia dengan sang Pencipta (hablum minallah), dengan kewajiban ibadah kepadanya (QS. 51: 56) atau menjadi ingkar dan syirik kepadanya (QS. 4: 48) Mengenai ragam dan corak relasi-relasi tersebut perlu dijelaskan bahwa sekalipun manusia seakan-akan merupakan pusat hubungan (Center of Relatedness), tetapi dalam ajaran Islam pusat segalanya bukanlah manusia, melainkan sang Pencipta, yaitu: Allah SWT. Dengan demikian landasan filsafat mengenai manusia dalam ajaran Islam bukan Antroposentrisme, melainkan Theosentrisme atau lebih tepat Allah-sentrisme. Jadi, Hakekat Manusia dalam Islam adalah: maujud multi dimensi yang

bebas, spesialis, luhur dan mulia yang mempunyai kelebihan subtansial dari seluruh hewan yang lain. Atau dengan kata lain hewan yang mempunyai jiwa, dapat berfikir dan memahami hakekat-hakekat universal, jiwa dan akal yang membedakan dari seluruh hewan yang lain. penciptaannya di mulai dari materi yang tidak mempunyai kecerdasan, namun setelah meniti peringkat-peringkat kesempurnaan, ia berubah menjadi suatu bentuk maujud yang lebih utama dari materi.6 (QS. alMukminun: 12-14), yang merupakan proses pentahapan kesempurnaan materi manusia dan QS. as-Sajadah: 7-9, serta QS. al-Hijr: 29. Pandangan Barat Tentang Manusia Bahwa hakekat manusia menurut prespektif Barat adalah: hewan pembuat alat, pembangun, dan penghasil barang yang dapat berbicara, karena dalam keyakinan mereka, manusia adalah: binatang yang telah memperoleh kesempurnaan, namun belum melewati batas-batas

kebinatangannya, sehingga seluruh perbuatan, prilaku, karakter dan ilmu serta pemikirannya tidak lebih bersumber dari pengaruh-pengaruh dan kebutuhan materi, seperti: makan, air, udara, hubungan seks dll. 7 Manusia menurut pandangan ini, merupakan maujud materi dan mempunyai satu dimensi dan tidak mempercayai akan adanya ruh, karena menurut mereka ruh dan jiwa manusia tidak lebih bersumber dari reaksi kimiawi materi. Adapun manusia, mempunyai dua diri dalam dirinya, antara lain:
6 Amini Ibrahim, Agar Tak Salah Mendidik. Penerbit Al-Huda Jakarta 2006. 7 Ibid,

Diri Hewani membutuhkan air, makan, tempat tinggal, dan udara, rasa lapar, haus, kesenangan dan insting seksual Diri Insani berasal dari alam abstrak, ilmu, qudrah, kemulyaan, rahmat, kedermawan, cahaya, kebajikan dan keadilan atau secara umum berasal dari alam kesempurnaan dan memiliki kesesuaian dengan alam tersebut, yaitu: cenderung kepada kesempurnaan mutlak dan nilai-nilai insani, sampai menggapai maqam qurb ilahi (kedekatan kepada Allah) (QS. asy-Syams: 7-11). Pengertian Motivasi Belajar Pengertian Motivasi Istilah motivasi baru digunakan sejak awal abad kedua puluh. Selama beratus-ratus tahu, manusia dipandang sebagai makhluk rasional dan intelek yang memilih tujuan dan menentukan sederet perbuatan secara bebas. Nalarlah yang menentukan apa yang dilakukan manusia. Manusia bebas untuk memilih, dan pilihan yang ada baik atau buru, tergantung pada intelegensi dan pendidikan individu, oleh karenanya manusia bertanggung jawab penuh terhadap setiap pelakunya. 8 Motivasi merupakan daya penggerak yang menyebabkan seseorang melakukan sesuatu perbuatan dengan cara tertentu. Apabila kekuatan itu bersumber dari dalam diri seseorang daya penggerak itu disebut motif. Daya penggerak yang bersumber di luar diri seseorang daya penggerak di sebut insentif.
8Abdur Rahman Shaleh, Psikologi Suatu Pengantar dalam Perspektif Islam (Jakarta: Prebada Media, 2004), hal. 128

Istilah motivasi menunjuk kepada semua gejala yang terkandung dalam stimulasi tindakan kearah tujuan tertentu dimana sebelumnya tidak ada gerakan menuju kearah tujuan tersebut. Motivasi dapat berupa dorongan-dorongan dasar atau internal atau intensif di luar diri individu atau hadiah. Sebagai suatu masalah di dalam kelas, motivasi adalah proses membangkitkan, dan mengontrol minat-minat.9 Ada dua prinsip yang dapat digunakan untuk meninjau motivasi, ialah : Motivasi dipandang sebagai suatu proses. Pengetahuan tentang proses ini akan membantu kita menjelaskan kelakuan yang kita amati dan untuk memperkirakan kelakuan-kelakuan lain pada seseorang. Menentukan karakteristik dari proses ini dengan melihat petunjuk-petunjuk dari tingkah lakunya. Apakah petunjuk-petunjuk dapat dipercaya, dapat dilihat kegunaannya dapat memperkirakan dan menjelaskan tingkah laku lainnya. Menurut Mc. Donald, Motivasi adalah perubahan energi dalam diri (pribadi) seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan. Didalam perumusan ini dapat kita lihat, bahwa ada tiga unsur yang saling berkaitan yaitu sebagai berikut: Motivasi dimulai dari adanya perubahan energi dalam pribadi. Perubahanperubahan dalam motivasi timbul dari perubahan perubahan tertentu di dalam sistem neuropisiologis dalam organisme manusia, misalnya
9 Oemar Hamalik, Psikologi Belajar Mengajar. (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2000), hal. 173

karena terjadi perubahan dalam sistem pencernaan maka timbul motif lapar. Motivasi ditandai dengan timbulnya perasaan affectife arousal . Mulamula merupakan ketegangan psikologis, lalu merupakan suasana emosi. Suasana emosi ini menimbulkan kelakuan yang bermotif perubahan ini mungkin bisa dan mungkin tidak bisanya dapat melihatnya dalam perbuatan Motivasi ditandai dengan reaksi-reaksi untuk mencapai tujuan. Pribadi yang bermotivasi mengadakan respons-respons yang dituju kearah suatu tujuan. Respons-respons itu berfungsi mengurangi ketegangan yang disebabkan oleh perubahan energi dalam dirinya.10

Teori Motivasi Al-Ghazali Struktur Jiwa Menurut Al-Ghazali manusia terbagi ke dalam tiga dimensi, yaitu dimensi materi, dimensi nabati, dimensi hewani, dan dimensi kemanusiaan. Dalam tiga dimensi itu struktur jiwa manusia terdiri atas al-qalb, al-ruh, al-nafs, dan al-aql. Unsur yang empat ini mengerucut pada satu makna yakni latifah atau al-ruh al-rabbaniyyah yang merupakan esensi manusia yang memiliki daya cerap, mengetahui dan mengenal, dan sekaligus menjadi obyek pertanggungjawaban atas

10 Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar. (Jakarta : Bumi Aksara, 2003), hal. 158159

perbuatan yang dilakukannya. Junud al-Qalb sebagai Unsur Motivasi Menurut Al-Ghazali sebuah perilaku terjadi karena peran dari Junud al-Qalb atau tentara hati. Dalam diri manusia terdapat dua kelompok Junud al-Qalb, yaitu yang bersifat fisik berupa anggota tubuh yang berperan sebagia alat dan yang bersifat psikis. Yang bersifat psikis mewujud dalam dua hal yaitu syhawat dan ghadlab yang berfungsi sebagai pendorong (iradah). Syahwat mendorong untuk melakukan sesuatu (motif mendekat) dan ghadlab mendorong untuk menghindar dari sesuatu (motif menjauh). Adapun tujuan dari perilaku tersebut adalah untuk sampai kepada Allah. Tetapi dalam praktiknya perilaku ini terbagi ke dalam hirariki motivasi Ammarah (hedonistik), motivasi Lawwamah (skeptik), dan motivasi Muthmainnah (spiritualistic).

Teori Motivasi Maslow Hakikat Manusia Tentang hakekat manusia Maslow berpendapat bahwa manusia memiliki satu kesatuan jiwa dan raga yang bernilai baik, dan memiliki potensi-potensi. Yang dimaksud baik itu adalah yang mengakibatkan perkembangan kea rah aktualisasi diri. Kebutuhan Pokok Manusia Manusia memiliki kebutuhan dasar yang akan selalu menjadi motivasi perilakunya, yaitu kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan keselamatan,

kebutuhan akan memiliki dan rasa cinta, kebutuhan akan harga diri, dan kebutuhan akan aktualisasi diri. Untuk dapat sampai pada tingkat aktualisasi diri semua kebutuhan-kebutuhan pokok manusia pada tingkat sebelumnya harus terpenuhi. Selain kebutuhan pokok tersebut yang disebut basic needs manusia juga memiliki metaneeds sebagai kebutuhan pertumbuhan seperti keadilan, keindahan, keteraturan, dan kesatuan. Kebutuhan Pokok sebagai Unsur Motivasi Teori Motivasi Maslow dibentuk atas dasar teori hirarki kebutuhan pokok. Dengan kata lain pemenuhan kebutuhan-kebutuhan pokok inilah yang memotivasi manusia berbuat sesuatu. Teori ini tidak sekedar bersifat homeostatis tetapi juga homeostatis psikologis. Bahkan pada tingkat puncak kebutuhan yang disusun Maslow mengarah kepada mistisisme. Fungsi Motivasi Menurut S. Nasution, bahwa fungsi motivasi adalah sebagai berikut:11 Mendorong manusia untuk berbuat. Menentukan arah perbuatan, yakni kearah tujuan yang ingin dicapai. Menyelesaikan perbuatan, yakni menyelesaikan perbuatan-perbuatan yang harus dilakukan. Konsep Motivasi Dalam Pandangan Islam Psikologi Islami adalah: corak psikologi berlandaskan citra menusia menurut ajaran Islam, yang mempelajari keunikan dan pola prilaku manusia sebagai ungkapan pengalaman interaksi dengan diri sendiri, lingkungan
11 Tabrani Rusyan dkk, Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar. Rosda Karya. Bandung.1989. hal 107.

sekitar dalam alam keruhanian, dengan tujuan meningkatkan kesehatan mental dan kualitas keberagaman.12 Adapun rumusan tersebut mengandung unsur antara lain: Corak Psikologi, berlandaskan nilai-nilai Islami, dengan menerapkan metodologi ilmiah Berdasarkan citra manusia menurut ajaran Islam, yakni: manusia yang memiliki martabat yang tinggi sebagai khalifah di bumi dengan fitrahnya yang suci dan beriman serta memiliki ruh disamping raga dan jiwa. Keunikan dan pola prilaku manusia, yang merupakan sasaran telaah paling nyata dalam psikologi umum dan Islam. Di mana prilaku dianggap sebagai ungkapan atau manisfestasi pengalaman manusia yang melibatkan unsur-unsur dan proses pemikiran , perasaan, sikap, kehendak, prilaku, dan relasi antar manusia.. Psikologi Islam, selain melakukan telaah mengenai keunikan

pengalaman sebagai penghayatan personal yang utuh, juga berusaha memahami polanya, yaitu: hal-hal persisten dan konsisten dari prilaku yang berulang-ulang terjadi. Interaksi dengan diri sendiri, lingkungan sekitar dan alam keruhanian, sebagai salah satu karakteristik manusia yaitu: sadar diri dan mampu melakukan distansi dan berdialog dengan dirinya, Manusia pun bukan makhluk soliter, ia berhubungan dengan lingkungan alam fisik. Psikologi Islam, sebagai corak psikologi yang mengakui adanya dimensi ruh
12 Bastaman Djumhana Hanna, pengantar Ancok Djamaludin. Integrasi Psikologi Dengan Islam (Menuju Psikologi Islam). Pustaka Pelajar Yogyakarta 1995.

atau mengakui adanya pengalaman kerohanian manusia. Meningkatkan kesehatan mental dan kualitas keberagamaan, di mana kreteria kesehatan mental antara lain: Bebas dari gangguan dan penyakit kejiwaan Mampu menyesuaikan diri dengan dalam pergaulan sosial Menjaga kelestarian lingkungan sekitar Merealisasi berbagai tujuan psikologi Islam. Karena kondisi sehat mental merupakan ungkapan iman dan takwa kepada Tuhan. Dan inilah tujuan dan misi utama Psikologi Islam, yaitu: membantu mengembangkan kondisi sehat mental dan sekaligus menungkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan diri pribadi dan masyarakat. Psikologi Islam, mempunyai jangkauan yang lebih luas, antara lain: dalam fungsi dan tujuan, serta ruang lingkupnya. Kalau fungsi psikologi umum sejauh ini hanya berkisar sekitar pemahaman, pengendalian, dan peramalan, namun dalam psikologi Islam menambahkannya dengan fungsi pengembangan ilmu dan pendidikan. Selain itu tujuan psikologi untuk mengembangkan mental yang sehat pada diri pribadi dan masyarakat, di lengkapi psikologi Islam dengan inti kesehatan mental yakni: Iman dan Takwa kepada Tuhan. Demikian pula pengalaman manusia sebagai sarana telaah psikologi kontemporer, di perluas dengan pengalaman keruhanian, sehingga Ruang Lingkup Psikologi Islami tidak saja mencangkup dimensi-dimensi PsikoBiologi, Psiko-Eksistensial, Psiko-Sosial, Tetapi Juga Psiko-Spiritual.

Adapun Islam Memandang konsep Psikologi Tentang Motivasi AlGhazali dan Maslow, adalah: Psikoanalisis (Al-Ghazali) Al-Ghazali berpendapat sebuah perilaku terjadi karena peran dari Junud al-Qalb atau tentara hati. Dalam diri manusia terdapat dua kelompok Junud al-Qalb, yaitu yang bersifat fisik berupa anggota tubuh yang berperan sebagia alat dan yang bersifat psikis. Yang bersifat psikis mewujud dalam dua hal yaitu syhawat dan ghadlab yang berfungsi sebagai pendorong (iradah). Syahwat mendorong untuk melakukan sesuatu (motif mendekat) dan ghadlab mendorong untuk menghindar dari sesuatu (motif menjauh). Adapun tujuan dari perilaku tersebut adalah untuk sampai kepada Allah. Tetapi dalam praktiknya perilaku ini terbagi ke dalam hirariki motivasi Ammarah (hedonistik), motivasi Lawwamah (skeptik), dan motivasi Muthmainnah (spiritualistic). Namun jelas bukan hanya itu. Manusia pun memiliki potensi dan kualitas-kualitas insani yang baik, indah dan bermanfaat. Bahkan dalam pandangan Islam manusia secara fitriah adalah suci dan beriman.13 Walaupun demikian dilihat sebagai upaya memahami

sunnahtullah, maka psikoanalisis merupakan suatu pendekatan yang paling tepat untuk memahami salah satu dimensi manusia yang disebut An-Nafs al-Ammarah (QS. Yusuf, 12: 53). Gagasan Psikologi motivasi yang diungkap oleh Maslow
13 Setiap yang dilahirkan adalan fitrah/suci (Hadits), lihat pula dalam QS. al-Araf (7): 172, mengenai kesaksian ruh anak Adam as. Yang menyatakan diri beriman kepada Allah SWT.

Maslow berpendapat bahwa manusia memiliki satu kesatuan jiwa dan raga yang bernilai baik, dan memiliki potensi-potensi. Yang dimaksud baik itu adalah yang mengakibatkan perkembangan kearah aktualisasi diri. Manusia memiliki kebutuhan dasar yang akan selalu menjadi motivasi perilakunya, yaitu kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan keselamatan, kebutuhan akan memiliki dan rasa cinta, kebutuhan akan harga diri, dan kebutuhan akan aktualisasi diri. Untuk dapat sampai pada tingkat aktualisasi diri semua kebutuhan-kebutuhan pokok manusia pada tingkat sebelumnya harus terpenuhi. Selain kebutuhan pokok tersebut yang disebut basic needs (kebutuhan dasar) manusia juga memiliki metaneeds sebagai kebutuhan pertumbuhan seperti keadilan, keindahan, keteraturan, dan kesatuan. Teori Motivasi Maslow dibentuk atas dasar teori hirarki kebutuhan pokok. Dengan kata lain pemenuhan kebutuhan-kebutuhan pokok inilah yang memotivasi manusia berbuat sesuatu. Teori ini tidak sekedar bersifat homeostatis tetapi juga homeostatis psikologis. Bahkan pada tingkat puncak kebutuhan yang disusun Maslow mengarah kepada mistisisme. Penerapan Motivasi Dalam Pembelajaran Agama Islam Pengakuan populer akan penerapan motivasi dalam keberhasilan penyesuaian terhadap kehidupan modern telah memberi dorongan yang kuat pada study telaah ilmiah tentang paradigma pendidikan. Pentingnya motivasi belajar menjelaskan bahwa orang tidak dapat lagi

mempersalahkan faktor bawaan atau lingkungan yang buruk untuk ciri-ciri kepribadian mereka yang tidak menguntungkan, melainkan harus

menyalahkan dirinya sendiri yang tidak bisa mengembangkan memotivasi pola kepribadian yang tidak menguntungkan itu. Misal: Beberapa ahli akan menyalahkan prilaku seseorang atas dasar keturunan, yang lain akan menyalahkan lingkungan keluarga, tetapi saya menyalahkan kamu, Besty, jelas dan sederhana!. Karena kepribadian , seperti halnya banyak bidang perkembangan lain, dapat dikendalikan melalui penyeimbangan motivasi, dengan bimbingan dan bantuan yang dapat mengembangkan pola berpilir yang akan memungkinkan penyesuaian berhasil. Dalam berbagai hal, kesadaran adalah merupakan dorongan terbesar untuk studi pentingnya motivasi belajar, di mana perkembangan mental kepribadian dapat dikendalikan dengan prinsip motivasi. Oleh karena itu pola motivasi juga dapat dimodifikasi dengan cara yang menghasilkan penyesuaian pribadi dan sosial yang lebih baik dalam aplikasi nilai-nilai pendidikan. Walaupun tidak ada bukti bahwa ada batas waktu sejauh mana belajar tidak dapat memodifikasi ciri atau konsep diri yang tidak diinginkan, terdapat bukti bahwa tahun-tahun awal kehidupan merupakan tahun Kritis untuk perkembangan kepribadian dan dengan tiap tahun yang berlalu, perubahan akan lebih sulit dicapai. Karena manusia atau anak adalah pribadi yang unik, berbeda antara yang satu dengan yang lain, maka Jean Soto mengatakan: bahwa setiap anak

memerlukan metode penanganan tersediri, karena setiap individu manusia sangat unik, seluruh karakteristiknya harus didekati dan difahami secara spesifik dan maksimal. Sel-sel otak manusia misalnya, sangat luar biasa dan memerlukan pengetauan yang luar biasa pula. Perbedaan manusia bukan karena faktor IQ saja, tapi juga faktor lain, seperti: karakter, termasuk di dalamnya akhlak, kepribadian, pembawaan dan lain sebagainya.14 Setiap anak itu unik, tujuan utama dari setiap pendidikan dan pengajaran adalah kita mendidik anak dengan segala kekurangan dan potensinya yang ada, sehingga potensi ini bias kita kembangkan untuk kebaikannya secara lebih maksimal. G. Metode Penelitian Jenis Dan Pendekatan Penelitian Dalam penelitian karya ilmiah, dapat menggunakan salah satu dari tiga bagian grand metode yaitu library research, ialah karya ilmiah yang didasarkan pada literatur atau pustaka, field research, yaitu penelitian yang didasarkan pada penelitian lapangan, dan Bibliographic research, yaitu penelitian yang menfokuskan pada gagasan yang terkandung dalam teori.15 Berdasarkan tiga grand metode di atas dan mengingat subyek studi serta sifat masalah dan fenomena yang ada, maka jelas yang akan digunakan adalah Bibliographic research atau penelitian kepustakaan. Bibliographic research dapat menggunakan metode deskriptif analitik
14 Amini Ibrahim, Agar Tak Salah Mendidik. Penerbit Al-Huda, Jakarta 2006. 15 Tim Dosen IKIP Jakarta, Memperluas Cakrawala Penelitian Ilmiah. IKIP Jakarta, hal. 6 1988.

yaitu data yang diperoleh berupa kata-kata, gambar dan prilaku, yang tidak dituangkan dalam bentuk bilangan atau statistik, melainkan tetap dalam bentuk kualitas dengan memberi pemaparan gambaran mengenai situasi yang diteliti dalam bentuk uraian naratif.16 Secara terperinci metode ini lebih menggambarkan apa adanya tentang suatu variabel, gejala atau keadaan.17 Untuk mewujudkan gambaran yang lebih kongkrit. Penelitian deskriptif analitik, dapat menggunakan content analysis yang menekankan pada analisis ilmiah tentang isi peran suatu komunikasi.18 Content Analysis memanfaatkan prosedur yang dapat menarik kesimpulan dari sebuah buku atau dokumen.19 Dari pesan komunikasi tersebut dipilih-pilih (disortir), dilakukan kategorisasi (Pengelompokan) antara data yang sejenis dan selanjutnya dianalisis secara kritis. Sumber Data Datadata yang diteliti sepenuhnya dikumpulkan dari kepustakaan.

Data-data yang ada dibagi dalam tiga bagian, yaitu: primer, sekunder dan umum. Data primer disini adalah data-data yang berkaitan dengan Teori motivasi pendidikan dan aplikasinya dalam pembelajaran agama islam yang ditulis langsung oleh sang tokoh baik dalam buku maupun tulisan-tulisan pendek sang tokoh.
16 Margono, Metode Penelitian Pendidikan. Rineka Cipta, hal. 190 Jakarta 2000. 17 Suharsismi Arikunto, Manajemen Penelitian. Rineka Cipta, hal. 310 Jakarta 2000. 18 Lexy J Moleong, Metode Penelitian Kualitatif. Remaja Rosda Karya, hal. 163164 Bandung 1990. 19 Noeng Muhadjir, Metode Penelitian Kualitatif. Rake Sarasin, hal. 72 Yogyakarta 1992.

Data sekunder adalah pemikiran-pemikiran yang diperoleh dari hasil interpretasi para tokoh kemudian, sedangkan data umum adalah teori-teori yang berkaitan dengan Konsep Motivasi pendidikan dan aplikasinya dalam

pembelajaran agama islam yang bisa digunakan untuk menganalisa pemikiran tokoh utama. Prosedur Pengumpulan Data Karena penelitian ini fokus pada gagasan dan pemikiran Al-Ghazali dan Maslow tentang konsep Motivasi pendidikan moral dan aplikasinya dalam pembelajaran agama islam, maka Al-Ghazali dan Maslow dilihat sebagai pengarang dari gagasan-gagasan yang ditulisnya dalam berbagai buku atau tulisan-tulisan pendeknya. Oleh karena itu dalam penelitian ini, data esensial diambil dari sumber primer, sedangkan data sekunder hanya dipakai sebagai bahan konfirmasi atau sebagai penunjang dari sumber pertama. Teknik Analisa Data Data-data yang terkumpul di analisis dengan cara membandingkan di antara keduanya peneliti menggunakan metode hermeneutik, deskriptif, komparasi-kritis dan holistik. Metode hermeneutik digunakan untuk membaca dan memahami pikiranpikiran sang tokoh sebagaimana yang tertulis dalam karya-karyanya, yakni memahami sebuah teks yang ditulis pada masa tertentu agar bisa difahami dalam konteks sekarang (Sumaryana, 1996, 31). Dari bacaan masing-masing teks tersebut, secara induktif kemudian dijelaskan dalam bentuk tulisan yang baik dan sistematis dengan menggunakan

metode deskriptif (Winarno, 1978, 132; Muhajir, 1996, 66). Selanjutnya pemikiran kedua tokoh tersebut dibandingkan dan didialogkan dimana persamaan dan perbedaanya, kelebihan dan kekurangannya, dengan

menggunakan komparasi-kritis. Terakhir, dari hasil perbandingan ditarik kesimpulan umum sehingga didapakan pemahaman baru yang utuh dan baik, sehingga dapat diaplikasikan dalam pembelajaran agama Islam, dengan menggunakan metode holistik. (Bagus, 1996,293).

Sistematika Pembahasan Untuk memberikan gambaran mengenai sistematika pembahasan disusun sebagai berikut: Bab I Pendahuluan : Berisi tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, batasan masalah, metode penelitian dan sistematika pembahasan. Bab II Kajian Pustaka : Teori Motivasi Pendidikan. berisi tentang persepsi secara umum mengenai Motivasi Pendidikan dalam pembelajaran Agama Islam. Bab III Perspektif Motivasi Pendidikan Al-Ghazali Dan Maslow: Berisi tentang gambaran umum Pemikiran kedua tokoh tentang Motivasi Pendidikan Moral dalam pembelajaran Agama Islam. Bab IV Pemikiran Al-Gazali Dan Maslow : Berisi tentang teori motivasi pendidikan, serta aplikasinya dalam pembelajaran agama Islam. Bab V Pembahasan : Berisi tentang analisa dalam korelasi persamaan,

perbedaan dan kelebihan dari kedua pemikiran tokoh tersebut, serta bentuk aplikasi dari teori motivasi kedua tokoh dalam pembelajaran agama Islam. BAB VI Penutup: Berisi kesimpulan dari hasil penelitian dan saran yang relevan untuk penelitian selanjutnya, bagi dosen, mahasiswa dan lembaga terkait.

DAFTAR PUSTAKA

Amini Ibrahim, 2006. Agar Tak Salah Mendidik. Penerbit Al-Huda Jakarta. Allport, G.W. 1961. Pattern And Growth In Personality. New York: Holt, Elizabeth B. Hurlock, 1993. Perkembangan Anak (Jilid 2). Penerbit: Erlangga, Jakarta. Elizabeth B. Hurlock, 1993 Perkembangan Anak (Jilid 2). Penerbit Erlangga Jakarta. http://kajiislam.wordpress.com/2008/08/09/teori-motivasi-barat-vs-timur/ Lexy J Moleong, 1990 Metode Penelitian Kualitatif. Remaja Rosda Karya, Bandung. Margono, 2000. Metode Penelitian Pendidikan. Rineka Cipta, Jakarta. Noeng Muhadjir, 1992. Metode Penelitian Kualitatif. Rake Sarasin, Yogyakarta. Suharsismi Arikunto, 2000. Manajemen Penelitian. Rineka Cipta, Jakarta. Tim Dosen IKIP Jakarta, 1988. Memperluas Cakrawala Penelitian Ilmiah. IKIP Jakarta.