Anda di halaman 1dari 11

PELAYANAN KESEHATAN RUMAH (HOME CARE) LANSIA a.

Definisi Menurut Warhola (1980, dalam Smith & Maurer, 2000) perawatan kesehatan rumah adalah suatu pelayanan kesehatan secara komprehensif yang diberikan kepada klien atau individu atau keluarga di tempat tinggal mereka (di rumah), bertujuan untuk memandirikan klien dalam pemeliharaan kesehatan, peningkatan derajat kesehatan, upaya pencegahan penyakit, dan risiko kekambuhan serta rehabilitasi kesehatan. Home care bagi lansia merupakan salah satu unsur pelayanan kesehatan secara luas yang ditujukan untuk kesehatan perorangan atau kesehatan keluarga di tempat tinggal mereka untuk tujuan promotif, rehabilitatif, kuratif, assesment dan mempertahankan kemampuan individu untuk mandiri secara optimal selama mungkin. Sedikitnya terdapat empat kelompok penderita yang dapat secara efektif dan efisien dilakukannya home care yaitu penyakit kronik multisistem, kondisi terminal pada keganasan, kondisi kronik pada lansia dan demensia. Tentunya potensi-potensi setempat perlu dilibatkan seperti pihak keluarga, masyarakat, dokter keluarga, perawat keluarga, asuransi kesehatan, dan yayasan atau lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang kesehatan untuk diajak menjalin kerjasama dalam berbagai beban seefektif mungkin (Walsh & Wieck, 1987). Pendirian home care secara umum bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup usia lanjut, sedang rehabilitatif yaitu pencegahan sekunder dan tertier yaitu pengobatan kronik penderita keganasan atau penyakit lainnya serta menghambat laju penyakit dan menghambat timbulnya keterbatasan-keterbatasan (disability) sehingga penderita dapat mempertahankan otonominya selama mungkin. Secara khusus, tujuan yang diharapkan dari pendampingan dan perawatan lanjut usia di rumah (Stanhope & Lancaster, 1996) adalah: 1. Meningkatnya kemampuan lanjut usia untuk menyesuaikan diri terhadap proses perubahan dirinya secara fisik, mental dan sosial. 2. Terpenuhinya kebutuhan dan hak lanjut usia agar mampu berperan dan berfungsi di masyarakat secara wajar. 3. Meningkatnya kemampuan keluarga dan masyarakat dalam pendampingan dan perawatan lanjut usia di rumah.

4. Terciptanya rasa aman, nyaman dan tentram bagi lanjut usia baik di rumah maupun di lingkungan sekitarnya. Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa perawatan kesehatan dirumah (home care) diberikan kepada individu dan keluarga baik keluarga dengan lansia di rumah tinggal mereka yang melibatkan berbagai disiplin ilmu atau profesi dalam suatu tim kesehatan untuk melakukan perawatan kesehatan di rumah dengan tujuan untuk memberikan kondisi yang sehat secara optimal dan terbebasnya klien dari penyakit yang diderita. b. Kebijakan/ peraturan pemerintah yang terkait Untuk lebih meningkatkan kinerja pelayanan prasarana lansia dan mutu pelayanan yang diberikan, maka berbagai pendekatan perlu dilaksanakan, salah satunya adanya hukum dan perundang-undangan, antara lain: 1. UU No. 4 tahun 1965 tentang pemberian bantuan bagi orang jompo 2. UU No. 14 tahun 1969 tentang ketentuan pokok mengenai tenaga kerja 3. UU No. 6 tahun 1974 tentang ketentuan pokok kesejahteraan social 4. UU No. 3 tahun 1982 tentang jaminan sosial tenaga kerja 5. Permenkes No. 920 tahun 1986 tentang pelayan medik swasta 6. Keputusan Menteri Koordinasi Kesejahteraan Rakyat Nomor 05 Tahun 1990 tentang pembentukan kelompok kerja tetap kesejahteraan usia lanjut. 7. Surat keputusan menteri kesehatan Nomor 134 Tahun 1990 tentang pembentukan tim kerja geriatric 8. UU Kes.No. 23 tahun1992 tentang kesehatan 9. UU No. 2 tahun 1992 tentang usaha perasuransian 10. UU No. 10 tahun 1992 tentang perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga sejahtera 11. PP No. 21 tahun 1994 tentang penyelenggaraan pembangunan keluarga sejahtera 12. PP No. 27 tahun 1994 tentang pengelolaan perkembangan kependudukan 13. PP No. 32 tahun 1996 tentang tenaga kesehatan 14. UU No. 13 tahun 1998 tentang kesejahteraan lansia (tambahan lembaran negara Nomor 3796) sebagai pengganti UU No. 4 tahun 1965 tentang pemberian bantuan bagi orang jompo.

15. PP No. 25 tahun 2000 tentang perimbangan keuangan pusat dan daerah 16. Kepmenkes No. 1239 tahun 2001 tentang registrasi dan praktik perawat 17. SK Menpan No. 94/KEP/M. PAN/11/2001 tentang jabatan fungsional perawat 18. UU No. 29 tahun 2004 tentang praktik kedokteran 19. UU No. 32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah 20. Kepmenkes No. 128 tahun 2004 tentang kebijakan dasar puskesmas
21. Kepmenkes No. 279 tahun 2006 tentang pedoman penyelenggaraan Perkesmas

c. Program/Kegiatan Home care merupakan pelayanan kesehatan di rumah. Pelayanan kesehatan diberikan secara komprehensif (promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif) dengan menggunakan teknologi yang sederhana maupun teknologi tinggi tetapi tepat guna. Bentuk pelayanan kesehatan yang dilaksanakan di rumah klien yang merupakan pelayanan professional, menggunakan metode sistematik dalam manajemen kasus. Lingkup pelayanan meliputi : 1. Pelayanan asuhan keperawatan 2. Konsultasi medik 3. Pelayanan sosial dan upaya menciptakan lingkungan terapeutik
4. Pelayanan informasi dan rujukan

5. Pendidikan, pelatihan dan penyuluhan kesehatan dalam rangka memandirikan klien dan keluarga 6. Hygiene dan sanitasi perorangan serta lingkungan 7. Pelayanan perbantuan untuk kegiatan social Adapun program/kegiatan home care (perawatan kesehatan rumah) pada lansia yang dapat dilaksanakan, antara lain: 1. Manajemen kasus home care a. Melakukan seleksi kasus Melakukan spesifikasi pasien lansia dengan perawatan khusus (usia lanjut pasca rawat inap dan risiko tinggi) seperti cidera, diabetes mellitus, gagal jantung, asma berat, stroke, amputasi, luka kronis, nutrisi melalui infus, dll. Disamping itu, pelayanan perawatan rumah dilakukan juga bagi lansia mandiri meliputi upaya promotif dan preventif.

b. Melakukan pengkajian kebutuhan pasien Perawat melakukan pengkajian pada kebutuhan pasien sepert kondisi fisik, kondisi psikologis, status sosial ekonomi, pola perilaku pasien, sumbersumber yang tersedia di keluarga pasien. c. Membuat perencanaan pelayanan 1) Membuat rencana kunjungan 2) Membuat rencana tindakan 3) Menyeleksi sumber-sumber yang tersedia di keluarga/masyarakat d. Melakukan koordinasi pelayanan 1) Memberi informasi berbagai macam pelayanan yang tersedia 2) Membuat perjanjian kepada pasien dan keluarga/pendamping pasien tentang pelayanan 3) Menkoordinasikan kegiatan tim sesuai jadwal 4) Melakukan rujukan pasien e. Melakukan pemantauan dan evaluasi pelayanan 1) Memonitor tindakan yang dilakukan oleh tim 2) Menilai hasil akhir pelayanan (sembuh, rujuk, meninggal, menolak) 3) Mengevaluasi proses manajemen kasus 4) Monitoring dan evaluasi kepuasan pasien secara teratur Untuk dapat menilai hasil pemantauan dan penilaian tersebut diatas, diperlukan indikator sebagai berikut : No. 1. Indikator (dalam kurun waktu 1 tahun) Prosentase pra usia lanjut yang dilayani (proporsi pra usia lanjut yang mendapat 2. pelayanan dari yang membutuhkan pelayanan) Prosentase usia lanjut yang dilayani (proporsi usia lanjut yang mendapat pelayanan dari yang 3. membutuhkan pelayanan) Prosentase Pramusila yang telah mendapat pelatihan .% .% Target nasional .%

4. 5. 6. 7. 8.

Prosentase Pramusila yang aktif melakukan pelayanan Prosentase pengasuh yang terlibat dalam perawatan kesehatan di rumah Jadwal kegiatan tim Notulen rapat tim minimal sekali dalam seminggu Prosentase peningkatan kemandirian klien yang dirawat dinilai berdasarkan indeks ADL (Kazt, 1960) Frekuensi kunjungan Pramusila sesuai kontrak kerja

.% .% Ada/tidak Ada/tidak .%

9.

Ada/tidak

2. Asuhan keperawatan a. Pengkajian 1) 2) 3) 4) 5) 6) 1) 2) 3) 1) 2) 3) Riwayat kesehatan Lingkungan sosial dan budaya Spiritual Pemeriksaan fisik Kemampuan pasien atau lansia dalam pemenuhan kebutuhan seharihari Kemampuan keluarga dalam merawat keluarga lansia Aktual Resiko Potensial Penentuan prioritas masalah Menentukan tujuan Menyusun rencana secara komprehensif
b. Diagnosa keperawatan

c. Intervensi keperawatan

d. Implementasi

1) Menumbuhkan dan membina hubungan saling percaya dengan cara memanggil nama klien 2) Menyediakan penerangan cukup: cahaya matahari, ventilasi rumah, hindarkan dari cahaya silau 3) Meningkatkan rangsangan panca indra melalui buku-buku yang dicetak besar dan berikan warna yang dapat dilihat
4) Mempertahankan dan melatih daya orientasi realita: kalender, jam,

foto-foto.
5) Memberikan perawatan sirkulasi: hindarkan pakaian yang sempit,

mengikat/menekan, mengubah posisi, dukung lansia untuk melakukan aktivitas, serta melakukan penggosokan pelan-pelan waktu mandi.
6) Memberikan perawatan pernafasan dengan membersihkan hidung,

melindungi dari angin, dan meningkatkan aktivitas pernapasan dengan latihan napas dalam (latihan batuk). Hati-hati dengan terapi oksigen, perhatikan tanda-tanda gelisah, keringat berlebihan, gangguan penglihatan, kejang otot, dan hipotensi.
7) Memberikan perawatan pada organ pencernaan: beri makan porsi

kecil tapi sering, beri makanan menarik dan dalam keadaan hangat, sediakan makanan yang lansia sukai, makanan yang cukup cairan, banyak makan buah dan sayur, berikan makanan yang tidak membentuk gas, serta sikap fowler waktu makan.
8) Memberikan

perawatan

genitourinaria

dengan

mencegah

inkontinensia dengan menjelaskan dan memotivasi lansia untuk BAK tiap 2 jam serta observasi jumlah urine pada saat akan tidur. Untuk seksualitas, sediakan waktu untuk lansia konsultasi.
9) Memberikan

perawatan kulit. Mandi: gunakan sabun yang

mengandung lemak, hindari menggosok kulit dengan keras, potong kuku tangan dan kaki, hindari menggaruk dengan keras, serta berikan pelembab (lotion) untuk kulit. 10)Memberikan perawatan muskuloskeletal: bergerak dengan keterbatasan, ubah posisi tiap 2 jam, cegah osteoporosis dengan latihan,

lakukan latihan aktif/pasif, senam lanjut usia, serta anjuekan keluarga atau pendamping lansia untuk membuat klien mandiri.
11)

Memberikan perawatan psikososial: jelaskan dan motivasi

untuk sosialisasi, bantu dalam memilih dan mengikuti aktivitas, fasilitasi pembicaraan, sentuhan pada tangan untuk memelihara rasa percaya, berikan penghargaan, serta bersikap empati. 12)Memelihara keselamatan: usahakan agar pagar tempat tidur (pengaman) tetap di pasang, posisi tempat tidur yang rendah, kamar dan lantai tidak berantakan dan licin, cukup penerangan, bantu untuk berdiri, serta berikan penyangga pada waktu berdiri bila di perlukan. e. Evaluasi 1) Mengukur efektifitas dan efisiensi pelayanan 2) Dilaksanakan selama proses dan akhir pemberian asuhan keperawatan.
3) Pencatatan dan pelaporan home care :

a. Pencatatan manajemen kasus


1)

Persetujuan pasien atau keluarga atau pendamping Jadwal kunjungan Lembar pengobatan Tindakan tim Rujukan kasus Penghentian perawatan Pengkajian keperawatan Perencanaan asuhan keperawatan Evaluasi asuhan keperawatan Home Care Dinas kesehatan kabupaten Dinas kesehatan provinsi

pasien 2) 3) 4) 5) 6) 1) 2) 3) 1) 2) 3)

b. Pencatatan pelaksanaan asuhan keperawatan

c. Alur pelaporan

4) 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) rumah d. Peran petugas kesehatan

Departemen kesehatan Jumlah pasien home care Frekuensi kunjungan rumah tiap kasus Jumlah pasien yang mendapat pengobatan Jumlah pasien yang dirujuk Jumlah pasien yang meninggal Penyebab kematian Tingkat keberhasilan/kemandirian pasien Jenis tenaga yang memberi pelayanan kesehatan

d. Materi pelaporan

Pemberi layanan keperawatan di rumah terdiri dari dua jenis tenaga (Hitchcock & Thomas, 2003), yaitu : 1. Tenaga informal Tenaga informal adalah anggota keluarga atau teman yang memberikan layanan kepada klien tanpa dibayar. Diperkirakan 75% lanjut usia di Amerika dirawat oleh jenis tenaga ini. 2. Tenaga formal Tenaga formal adalah perawat yang harus bekerja bersama keluarga untuk menyelesaikan masalah kesehatan, sehingga harus memperhatikan semua aspek kehidupan keluarga. Oleh karena itu perawat di masyarakat dituntut untuk mampu berfikir kritis dan menguasai ketrampilan klinik dan harus seorang RN. Dengan demikian diharapkan perawat dapat memberikan layanan sesuai dengan standard yang telah ditetapkan. Pemberi perawatan kesehatan rumah dan peran tenaga kesehatan (Depkes, 2003), antara lain : 1. Perawat Pelayanan kesehatan rumah dilakukan terhadap klien sesuai kebutuhannya oleh perawat profesional yang sudah dan masih terdaftar memiliki izin praktek

dengan kemampuan ketrampilan asuhan keperawatan di rumah. Berdasarkan Kepmenkes RI No. 1239/Menkes/SK/XI/2001 tentang registrasi dan praktik perawat bahwa praktik keperawatan merupakan tindakan asuhan keperawatan yang dilakukan oleh perawat secara mandiri dan profesional melalui kerjasama bersifat kolaboratif dengan klien dan tenaga kesehatan lainnya sesuai ruang lingkup wewenang dan tanggung jawab. Peran perawat dalam perawatan kesehatan rumah berupa koordinasi dan pemberi asuhan keperawatan, antara lain : a. Koordinator b. Pemberi pelayanan kesehatan dimana perawat memberikan perawatan langsung kepada klien dan keluarganya. c. Pendidik, perawat mengadakan penyuluhan kesehatan dan mengajarkan cara perawatan secara mandiri.
d. Pengelola, perawat mengelola pelayanan kesehatan atau keperawatan klien e. Konselor, memberikan konseling atau bimbingan kepada klien dan keluarga

berkaitan dengan masalah kesehatan klien f. Advocate (pembela klien), yang melindungi dalam pelayanan keperawatan. g. Sebagai peneliti, untuk mengembangkan pelayanan keperawatan. Pada keadaan dan kebutuhan tertentu perawat dapat koordinasi/kolaborasi dengan dokter untuk tindakan diluar kewenangan perawat, berupa pengobatan dan tindak lanjut keperawatan klien ataupun melakukan rujukan kepada profesi lain. 2. Dokter Program perawatan rumah umumnya berada dibawah pengawasan dokter untuk memastikan masalah kesehatan klien. Dokter berperan dalam memberikan informasi tentang diagnosa medis klien, test diagnostik, rencana pengobatan dan perawatan rumah, penentuan keterbatasan kemampuan, upaya perawatan, pencegahan, lama perawatan, terapi fisik, dll. Bila diperlukan dilakukan kolaborasi dengan perawat, dimana perawat yang melakukan kunjungan rumah harus mendapat izin dan keterangan dari dokter yang bersangkutan sebagai penanggung jawab therapi program. Program perawatan dirumah harus

dilakukan follow up oleh dokter tersebut minimal setelah 60 hari kerja, sehingga dapat disepakati apakah program dilanjutkan atau tidak. 3. Speech Therapist Merupakan pelayanan kesehatan yang diberikan bagi klien dengan gangguan atau kesulitan dalam berbicara dan berkomunikasi, dengan tujuan untuk membantu klien agar dapat mengoptimalkan fungsi-fungsi otot bicara agar memiliki kemampuan dalam berkomunikasi melalui latihan berbicara. 4. Fisioterapis Program yang dilakukan adalah tindakan berfokus pada pemeliharaan, pencegahan, dan pemulihan kondisi klien di rumah. Aktivitas perawatan kesehatan rumah yang dilakukan adalah melakukan latihan penguatan otot ekstremitas, pemulihan mobilitas fisik, latihan berjalan, aktif-pasif, atau tindakan terapi postural drainage klien COPD. Latihan lain berhubungan dengan penggunaan alat kesehatan tertentu, seperti, pemijatan, stimulasi listrik saraf, terapi panas, air, dan penggunaan sinar ultraviolet. Dalam hal ini fisioterapist juga mempunyai kewajiban untuk mengajarkan klien atau keluarganya tentang langkah-langkah dalam latihan program yang diberikan. 5. Pekerja Sosial Medis Pekerja sosial medis yang sudah mendapatkan training/pelatihan dapat diperbantukan dalam perawatan klien dan keluarganya untuk jangkan waktu yang panjang, khususnya pada klien dengan penyakit kronis (long term care). Pekerja sosial sangat berguna pada masa transisi dari peran perawatan medis atau perawat kepada klien/keluarga.
e. Analisis pelaksanaan program

Program yang dilakukan pada home care lansia ini merupakan program kesehatan lansia secara umum yang mana mengelola semua kasus masalah lansia baik masalah fisik, masalah psikososial, maupun spiritual. Asuhan keperawatan yang dilaksanakan pada homecare ini tidak jauh berbeda dengan konsep asuhan dasar pada umumnya, hanya saja sasarannya khusus lansia. Disamping itu, pelayanan perawatan rumah dilakukan juga bagi lansia mandiri meliputi upaya promotif dan preventif. Program homecare ini sudah

terancang sistematik dalam suatu manajemen kasus, dimana pada rancangan program pelaksanaan home care dimulai dari perencanaan manajemen kasus home care, rancangan asuhan keperawatan yang akan diberikan, serta pencatatan dan pelaporan home care dalam bentuk tabel indikator penilaian. Namun, dalam program homecare lansia ini belum terlihat adanya program unggulan yang bisa menjadi dayatarik dari homecare itu sendiri. Selain itu, mengenai biaya juga belum dipaparkan secara rinci sehingga untuk kedepannya diperlukan suatu keterpaduan baik dari aspek petugas, tempat, waktu, biaya, pesan, serta dalam manajemen kegiatan agar kegiatan pelayanan homecare dapat berdaya guna. Selain itu untuk menunjang pelayanan perawatan kesehatan rumah yang optimal perlu diadakan pelatihan dan pendidikan bagi setiap petugas kesehatan, instansi, serta anggota masyarakat yang akan melaksanakan kegiatan pelayanan pada lansia, baik melalui pelatihan dan pendidikan dalam maupun luar negeri.

Dinas sosial, 2011, Dinsos : Bantu 120 Lansia Melalui Home Care, http://wartapedia.com/sosial/pmks/3288-dinsos--bantu-120-lansia-melalui-homecare.html (Akses: 28 Juni 2012) Muqie, 2008, Pelaksanaan Pelayanan Lanjut Usia Melalui Program Home Care di PSTW Budhi Dharma, http://budhidharma.depsos.go.id/modules.php? name=News&file=article&sid=8 (Akses: 28 Juni 2012)