Anda di halaman 1dari 4

Paper Filsafat Manusia

FREEDOM JEAN PAUL SARTRE

Oleh:
1. Citra Nuri Rohani S 2. Indah Astrid (11510614) (13510489)

Kelas SMPS02

Fakultas Psikologi

Universitas Gunadarma
Tb. Simatupang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan

I.

Riwayat Hidup Jean-Paul Sartre

Lahir

: 21 Juni 1905 Paris, Perancis Meninggal : 15 April 1980 (74 tahun) Paris, Perancis Pekerjaan : Penulis, filsuf Aliran Sastra : Eksistensialisme, Marxisme Tema : Metafisika, Epistemologi, Etika, Politik, Fenomenologi, Ontologi

Jean-Paul Sartre adalah seorang filsuf dan penulis. Pasangannya adalah seorang filsuf wanita bernama Simone de Beauvoir. Sartre banyak meninggalkan karya penulisan diantaranya berjudul Being and Nothingness atau Ada dan Ketiadaan. Sartre dianggap mengembangkan aliran eksistensialisme, ia menyatakan, eksistensi lebih dulu ada dibanding esensi (L'existence prcde l'essence). Manusia tidak memiliki apa-apa saat dilahirkan dan selama hidupnya ia tidak lebih hasil kalkulasi dari komitmen-komitmennya pada masa lalu. Karena itu menurut Sartre, satu-satunya landasan nilai adalah kebebasan manusia (L'homme est condamn tre libre)

Kutipan

"L'existence prcde l'essence." ("Eksistensi mendahului esensi(intisari)") (Dari L'existentialisme est un humanisme) "L'homme est condamn tre libre." ("Manusia dihukum untuk menjadi bebas") (Dari L'existentialisme est un humanisme) "L'enfer, c'est les autres." ("Neraka adalah orang lain.") (Dari Huis-clos)

II.

Kebebasan Menurut Jean Paul Sartre


Tilikan kebebasan dicetuskan oleh Jean Paul Sartre dalam bukunya yang berjudul eksistensialisme humanisme. Sartre menggagas bahwa manusia adalah kebebasan. Konsep kebebasan yang mengalir dari Sartre tidak dapat dipahami lepas dari gagasannya mengenai cara berada manusia di dunia yang dia lukiskan secara radikal dalam dua bentuk, antara lain etre-pour-soi (being-for-itself) dan etre-en-soi (being-in-itself).

A. Etre-en-soi (being-in-itself)
Dalam karya monumentalnya tentang Ltre et le nat (Being and Nothingness), Sartre mencetuskan dua cara berada di dunia, yaitu etre-en-soi (being-in-itself) dan etrepour-soi (being-for-itself). Menurut Sartre, etre-en-soi yang berarti ada-pada-dirinya sama sekali identik dengan dirinya, karena etre-en-soi itu tidak aktif, tidak afirmatif dan tidak negatif. Etre-en-soi itu tidak memiliki masa depan dan tidak mempunyai kemungkinan ataupun tujuan. Etre-en-soi merupakan suatu tipe eksistensi benda-benda yang tidak berkesadaran dan padat. Kepadatan benda-benda tersebut membuat etre-en-soi tidak mungkin menjadi dalam arti bahwa ada yang belum mewujudkan dirinya tetapi sekaligus lepas dari adanya sekarang (being is not yet what it will be that is already what is not). Oleh karena itu, etre-en-soi menurut Sartre merupakan sesuatu yang kontingen, artinya ada begitu saja, tanpa fundamen, tanpa dasar, tanpa diciptakan dan tanpa diturunkan dari sesuatu yang lain. Dengan kata lain, etre-en-soi itu adalah dirinya sendiri. Jadi, etre-en-soi adalah kesadaran yang bersifat intensional, artinya kesadaran yang menjadi bentuk dari kehadiran diri terhadap diri sendiri. Artinya, dia sadar bahwa dia ada atau berada dalam dunia. Keberadaannya dalam dunia merupakan keberadaan yang sempurna karena ketiadaan tidak dapat masuk ke dalamnya. Keberadaannya terjadi karena ia sendiri yang mengaktualisasikan atau merealisir dirinya. Dia tidak diasalkan dan karena itu, dia ada hanya untuk dirinya sendiri. Etre-en-soi (being-in-itself) yang memiliki sifat kontingen dengan sendirinya dapat dikatakan bahwa ia tertutup untuk dirinya sendiri sekaligus penuh untuk dirinya sendiri. Hal ini mengandaikan bahwa etreen-soi tidak memiliki efek ke luar karena dia tidak berkesadaran. Maka, etre-en-soi tidak pernah ada dan tidak pernah dapat menempatkan dirinya sebagai ada bagi yang lain karena dia kontingen, tanpa dasar yang menopang.

B. Etre-pour-soi (being-for-itself)
Lawan dari etre-en-soi menurut Sartre adalah etre-pour-soi (being-for-itself) yang berarti ada-bagi-dirinya. Ada-bagi-dirinya berkaitan dengan kesadaran bahwa manusia memiliki kesadaran akan dirinya bahwa dia ada. Kesadaran bahwa dirinya ada hendak mengatakan suatu cara berada manusia. Dengan kata lain, manusia hubungan dengan dirinya sendiri. Oleh karena itu, etre-pour-soi dapat dikatakan sebagai suatu kesadaran yang tidak mengikuti prinsip identitas sebagaimana etre-en-soi. Ketiadaan prinsip identitas dalam etre-pour-soi mau mengatakan bahwa manusia selalu memiliki kesadaran terhadap dirinya tetapi kesadaran itu sendiri tidak identik dengan dirinya sendiri, karena kesadarannya mengarah kepada objek. Sehingga kesadaran manusia muncul seiring

dengan hadirnya sesuatu (objek) yang ada di depannya. Namun, sesuatu yang disadarai itu bukanlah dirinya. Oleh karena itu, manusia sadar bukan disebabkan oleh karena dirinya sendiri yang membuat dirinya sadar melainkan oleh karena dirinya menyadari sesuatu itu. Dengan demikian, apa yang disadari itu tidak identik dengan dirinya. Ketidakidentikan manusia dengan apa yang disadarinya menunjukkan bahwa kesadaran itu negativitas, yaitu suatu kesadaran yang menunjukkan bahwa etre-pour-soi itu memiliki ciri it is not what it is. Artinya, ketidakidentikkan manusia dengan dirinya memiliki aspek kesadaran yang menidak. Oleh karena itu, kesadaran tidak sama dengan benda-benda karena benda-benda itu merupakan suatu entitas yang disadari (objek) sedangkan manusia adalah entitas yang tidak sama dengan sesuatu yang disadari karena antara manusia dan objek terdapat suatu jarak. Jadi, etre-pour-soi merupakan eksistensi yang berkesadaran atau sesuatu yang bukan dirinya dan sekaligus apa yang dirinya bukan (being what is not and not being what it is). Artinya bahwa kesadaran tidak pernah identik dengan dirinya sendiri, bahkan kesadaran itu tidak mempunyai identitas karena tidak bisa dekat dengan dirinya. Hal ini mengandaikan bahwa kesadaran itu bukanlah keseluruhan sehingga terdapat suatu pemisahan antara subyek dengan dirinya sendiri. Pemisahan inilah yang disebut sebagai ketiadaan (nothingness), di mana manusia dipisahkan dari esensinya yang kemudian membuat kesadaran itu tidak pernah padat, artinya selalu merupakan kekurangan dari keberadaannya.

III.

Daftar Pustaka
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Jean-Paul_Sartre http://plato.stanford.edu/entries/sartre/