Anda di halaman 1dari 16

Tugas Kegiatan Belajar 1 1. Teknik yang digunakan untuk mendenifisikan sebuah produk.

Dalam memproduksi suatu produk pasti dibutuhkan suatu desain produk yang didalam desain produk tersebut terdapat atribut produk yang terdiri dari merek, jenis produk, desain kemasaan hingga kandungan yang terdapat pada produk yang diproduksi. Contoh produk agribisnis adalah Bakpao Telo ungu, dimana bahan dasar dari produk ini adalah 60 % telo ungu dan 40% terigu. Dari segi desain kemasan sendiri dari produk Bakpao Telo Ungu sendiri sudah sangatlah bagus. Ini dillihat dari pemilihan warna kemasan yang cenderung berwarna ungu yang sangat identik dengan warna bahan baku bakpao tersebut yaitu telo ungu. Untuk jenis produk sendiri, perusahaaan bakpao telo mempunyai beberapa produk yang berbahan dasar telo ungu antara lain Bakpao Telo, Mie Telo, Es Krim telo. Tetapi dari sekian macam produk yang ditawarkan, produk Bakpao Telo adalah produk unggulan atau ikon dari perusahaan telo tersebut. Perusahaaan Bakpao telo sendiri dalam mencantumkan produknya dalam kemasan selalu menyertakan kata telo karena telo ungu merupakan bahan dasar dari semua produk yang diproduksi oleh perusahaaan tersebut. Sementara dari segi kandungan yang terdapat dalam produk bagi kesehatan khususnya adalah ubi jalar ungu mengandung lisin, Cu, Mg, K, Zn ratarata 20%. Dia juga merupakan sumber karbohidrat dan sumber kalori yang cukup tinggi. Ditambah dengan sumber vitamin dan mineral, vitamin yang terkandung dalam ubi jalar antara lain vitamin A, vitamin C, thiamin (vitamin B1), dan riboflavin. Sedangkan mineral dalam ubi jalar diantaranya adalah zat besi (Fe), fosfor (P), dan kalsium (Ca). Kandungan lainnya adalah protein, lemak, serat kasar dan abu. Total kandungan pigmen warna ungu ( antosianin ) bervariasi pada setiap tanaman dan berkisar antara 20 mg/100 g sampai 600 mg/100 g berat basah. Total kandungan antosianin ubi jalar ungu adalah 519 mg/100 g berat basah. 2. Daur hidup produk, beserta paparan strategi yang harus dilakukan dalam setiap tahapan daur hidup produk

Daur hidup produk itu di bagi menjadi empat tahap, yaitu : 1. Tahap Perkenalan (introduction). Pada tahap ini, barang mulai dipasarkan dalam jumlah yang besar walaupun volume penjualannya belum tinggi. Barang yang di jual umumnya barang baru (betul-betul baru) Karena masih berada pada tahap permulaan, biasanya ongkos yang dikeluarkan tinggi terutama biaya periklanan. Promosi yang dilakukan memang harus agresif dan menitikberatkan pada merek penjual. Di samping itu distribusi barang tersebut masih terbatas dan laba yang diperoleh masih rendah. Perusahaan telo berdiri pada tahun 1984. Jadi pada tahap pengenalannya bisa dilakukan dengan memasarkan langsung kekonsumen. 2. Tahap Pertumbuhan (growth). Dalam tahap pertumbuhan ini, penjualan dan laba akan meningkat dengan cepat. Karena permintaan sudah sangat meningkat dan masyarakat sudah mengenal barang bersangkutan, maka usaha promosi yang dilakukan oleh perusahaan tidak seagresif tahap sebelumnya. Di sini pesaing sudah mulai memasuki pasar

sehingga persaingan menjadi lebih ketat. Cara lain yang dapat dilakukan untuk memperluas dan meningkatkan distribusinya adalah dengan menurunkan harga jualnya. Pada tahap pertumbuhan ini, perusahaan bakpao telo semakin dikenal oleh masyarakat luas karena pesaing sendiri dari perusahaan ini sangatlah kecil. 3. Tahap Kedewasaan (maturity) Pada tahap kedewasaan ini kita dapat melihat bahwa penjualan masih meningkat dan pada tahap berikutnya tetap. Dalam tahap ini, laba produsen maupun laba pengecer mulai turun. Persaingan harga menjadi sangat tajam sehingga perusahaan perlu memperkenalkan produknya dengan model yang baru. Pada tahap kedewasaan ini, usaha periklanan biasanya mulai ditingkatkan lagi untuk menghadapi persaingan. Pada tahap ini, perusahaan bakpao telo tidak hanya memproduksi bakpao telo. Ada mie telo, es krim telo. Jadi laba yang diperoleh produsen tidak saja berpusat pada produk bakpao telo saja. 4. Tahap Kemunduran (decline) Hampir semua jenis barang yang dihasilkan oleh perusahaan selalu mengalami kekunoan atau keusangan dan harus di ganti dengan barang yang baru. Dalam tahap ini, barang baru harus sudah dipasarkan untuk menggantikan barang lama yang sudah kuno. Meskipun jumlah pesaing sudah berkurang tetapi pengawasan biaya menjadi sangat penting karena permintaan sudah jauh menurun. Apabila barang yang lama tidak segera ditinggalkan tanpa mengganti dengan barang baru, maka perusahaan hanya dapat beroperasi pada pasar tertentu yang sangat terbatas. Altematif-alternatif yang dapat dilakukan oleh manajemen pada saat penjualan menurun antara lain: a. Memperbarui barang (dalam arti fungsinya). b. Meninjau kembali dan memperbaiki program pemasaran serta program produksinya agar lebih efisien. c. Menghilangkan ukuran, warna, dan model yang kurang baik. d. Menghilangkan sebagian jenis barang untuk mencapai laba optimum pada barang yang sudah ada. e. Meninggalkan sama sekali barang tersebut. Perusahaan bakpao telo selalu berusaha memunculkan inovasi produk baru yang berkualitas untuk selalu menjaga konsistensi pemasaran perusahaan. Dari fenomena tersebut, strategi yang dapat dilakukan oleh perusahaan bakpao telo ialah: 1. Tahap Perkenalan (Introduction) Menerapkan strategi penetrasi lambat (slow penetration strategy), yakni peluncuran produk baru dengan tingkat promosi rendah dan harga rendah. Harga rendah ini dapat mendorong penerimaan produk yang cepat dan biaya promosi yang rendah. 2. Tahap Pertumbuhan(Growth) a. Meningkatkan kualitas produk serta menambahkan keistimewaan produk baru dan gaya yang lebih baik. b. Perusahaan menambahkan model model baru dan produk produk penyerta (yaitu, produk dengan berbagai ukuran, rasa, dan sebagainya yang melindungi produk utama) c. Perusahaan memasuki segmen pasar baru. d. Perusahaan meningkatkan cakupan distribusinya dan memasuki saluran distribusi yang baru. e. Perusahaan beralih dari iklan yang membuat orang menyadari produk (product awareness advertising) ke iklan yang membuat orang memilih produk (product preference advertising) 3. Tahap Kedewasaan (Maturity) a. Memodifikasi pasar dimana perusahaan berusaha untuk memperluas pasar untuk merek yang mapan. b. Perusahaan mencoba menarik konsumen yang merupakan pemakai produknya. c. Menggunakan strategi peningkatan keistimewaan (feature improvement) yaitu bertujuan menambah keistimewaan baru yang memperluas keanekagunaan, keamanan atau kenyaman produk.

d. Strategi defensif dimana perusahaan untuk mempertahankan pasar yang mana hasil dari strategi ini akan memodifikasi bauran pemasaran. e. Strategi perbaikan model yang bertujuan untuk menambah daya tarik estetika produk seperti model, warna, kemasan dan lain lain. 4. Tahap Penurunan (Decline), strategi yang diterapkan meliputi: a. Manambah investasi agar dapat mendominasi atau menempati posisi persaingan yang baik. b. Mengubah produk atau mencari penggunaan/manfaat baru pada produk.

3. Referensi lain tentang tahapan/proses desain dan pengembangan sebuah produk

Langkah langkah dalam mengembangkan produk baru antara lain, yaitu : 1. Pengembangan Ide

1. Pengembangan Ide Dapat dikembangkan dari pasar atau dari teknologi. Ide pasar diperoleh dari kebutuhan pelanggan. Identifikasi dari kebutuhan pasar ini akan menghasilkan pengembangan teknologi dan produk baru untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Pada sisi lain, ide dapat timbul dari teknologi yang ada atau yang baru. Pendayagunaan teknologi merupakan sumber yang kaya akan ide-ide untuk produk baru. Dalam perusahaan bakpao telo sendiri, ide untuk mengembangkan makanan yang berasal dari bahan dasar telo muncul dari pemilik perusahaan yaitu Ir Unggul Abinowo yang ingin suatu mendirikan Sentra Pengembangan Agrobisnis Terpadu (SPAT) yang memproduksi produk yang berbahan baku dari hasil pertanian. Produk yang dihasilkan dari Sentra Pengembangan Agrobisnis Terpadu (SPAT) yang terkenal adalah Bakpao Telo. 2. Desain Produk Tahapan ini memperhatikan terhadap pisik produk baru. Proses disain produk pada tahap ini berkaitan dengan pengembangan disain terbaik dari ide produk baru. Jika disain awal ini disetujui, dapat dibuat sebuah atau beberapa prototype untuk pengujian dan analisis lebih lanjut. Dalam disain awal, banyak sekali dipertimbangkan akan tradeoff antara biaya, kualitas dan performansi produk. Hasilnya merupakan suatu rancangan produk yang memiliki daya saing dalam pasar dan dapat diproduksi. 3. Pengujian Protype Pegujian prototype bertujuan untuk mengesahkan penampilan pemasaran dan teknis. Satu cara untuk menilai performansi pasar adalah membuat sejumlah prototype yang cukup untuk mendukung uji pasar dari produk baru tersebut. Maksud dari pengujian pasar adalah untuk mengumpulkan data kuantitatif dari tanggapan pelanggan mengenai produk tersebut. Prototipe juga diuji untuk mengetahui performansi teknis produk yang bersangkutan. Selama tahap disain akhir, gambar dan spesifikasi produk dikembangkan. Sesuai dengan hasi pengujian prototype, perubahan-perubahan tertentu dapat digabungkan menjadi disain akhir.Jika terdapat perubahan, produk dapat diuji lebih lanjut untuk memastikan performansi produk akhir.Selanjutnya pada penyelesaian spesifikasi disain hingga produksi dapat dilaksanakan. 4. Dalam menetapkan pengembangan produk Kotler menggunakan pendekatan modifikasi bauran pemasaran, perluasan lini produk, menambah citra dan diversifikasi produk. Jelaskan! a. Modifikasi Bauran Pemasaran Kotler (2000) mendefinisikan bahwa bauran pemasaran adalah kelompok kiat pemasaran yang digunakan perusahaan untuk mencapai sasaran pemasarannya dalam pasar sasaran. Sedangkan modifikasi bauran pemasaran yaitu berusaha mendorong volume penjualan dengan memodifikasi berbagai elemen bauran pemasaran lain. Tujuan dari modifikasi bauran pemasaran, yaitu meningkatkan pertumbuhan perusahaan, menawarkan rentang produk secara lengkap kepada grosir, memperoleh kekuatan pemasaran dan melakukan penghematan dalam distribusi, periklanan, dan penjualan langsung, dan melakukan diversifikasi guna menghindari ketergantungan pada salah satu produk.

b. Perluasan lini Lini produk merupakan sekelompok produk yang berhubungan erat karena mempunyai fungsi yang sama, dijual kepada kelompok pelanggan yang sama, dipasarkan melalui saluran distribusi yang sama atau berada dalam kisaran harga yang sama, namun tiap lini produk biasanya dikelola oleh eksekutif yang berbeda. Perluasan lini dapat disebut juga dengan variasi produk guna memperluas bisnisnya. c. Menambah Citra dan Diversivikasi Untuk mempertahankan dan meningkatkan mutu produk sekaligus untuk menjaga citra perusahaan, suatu perusahaan haruslah mengambil langkah-langkah penting seperti diversifikasi produk dan peningkatan mutu pelayanan. Dalam hal diversifikasi produk perusahaan harus senantiasa memberikan inovasi-inovasi baru dari produknya agar pelanggan tidak merasa jenuh. 5. Penjelasan desain produk yang tangguh Desain produk yang tangguh adalah sebuah desain yang dapat diproduksi sesuai dengan permintaan walaupun pada kondisi yang tidak memadai pada proses produksi. Pada produk kami adalah Bakpao Telo. Desain produk ini sama dengan kebanyakan bakpao yang sudah ada di pasaran, yaitu berbentuk bulat. Desain produk ini tetap dipertahankan karena konsumen tidak terlalu menuntut adanya desain produk yang baru. Permintaan disini berarti permintaan konsumen namun bisa permintaan standar atau permintan minoritas atau bahkan mayoritas konsumen.Perusahaan Bakpao Telo tetap bisa membuat desain produk bakpao (bulat) walau kondisi perusahaan sedang tidak baik. Artinya, desain produk tersebut merupakan desain produk standar perusahaan apapun yang terjadi.

Tugas Kegiatan Belajar 2 1. Dalam kegiatan produksi, peramalan dilakukan untuk menentukan jumlah permintaan terhadap suatu produk dan merupakan langkah awal dari proses perencanaan dan pengendalian produksi. Peramalan permintaan harus memperhatikan : a. Siklus produk : Terdapat empat tahapan atau siklus produk, yaitu perkenalan, pertumbuhan, pematangan dan penurunan. Dalam menentukan kuantitas produk yang akan dijual maka sebuah perusahaan harus memperhatikan siklus ini. Kelompok kami memilih perusahaan Bakpao Telo sebagai contoh. Misal pada tahap perkenalan, produk yang dijual atau diproduksi sebanyak 100 buah bakpao. Pada tahap pertumbuhan, berarti produk sudah stabil maka perusahaan memproduksi 200 buah bakpao. Jika pada tahap perkenalan perusahaan Bakpao Telo sudah memproduksi sebanyak 200 buah maka akan ada resiko produk tersebut tidak terlalu laku di pasaran sehingga perusahaan mengalami kerugian di awal ia mulai usaha. b. Sumber Daya Manusia : Mempekerjakan, melatih dan memberhentikan pekerja semua tergantung pada permintaan. Jika departemen SDM harus mempekrjakan pekerja tambahan tanpa adanya persiapan, akibatnya kualitas pelatihan menurun dan kualitas pekerja menurun. Maka dari itu jika perusahaan ingin meningkatkan kuantitas penjualan maka ia harus memikirkan kuantitas dan kualitas sumber daya manusianya juga agar kualitas produk tetap terjaga dan perusahaan tidak mengalami kerugian. c. Kapasitas produksi : Saat kapasitas tidak mencukupi, maka kekurangan yang diakibatkan bisa berarti tidak terjaminnya pengiriman, kehilangan konsumen dan kehilangan pangsa pasar. Namun sebaliknya, jika kapasitas berlebihan maka biaya produksi bisa melonjak tajam. d. Manajemen rantai pasokan : Hubungan yang baik dengan pemasok serta harga barang dan komponen yang bersaing bergantung pada peramalan yang akurat.

2. Ada dua pendekatan dalam melakukan peramalan permintaan, yaitu: a. Peramalan Kuantiatif b. Peramalan Kualitatif Carilah referensi tentang kedua pendekatan tersebut! Pada dasarnya teknik peramalan dibedakan menjadi dua, yaitu teknik peramalan kualitatif dan peramalan kuantitatif. Teknik peramalan kualitatif berhubungan dengan data-data kualitatif, sedangkan teknik peramalan kuantitatif berdasarkan data-data yang berupa angka-angka. A. PERAMALAN KUANTITATIF 1. Teknik dan Analisis Runtut Waktu Teknik runtut waktu dalam prakiraan permintaan sering dipergunakan, mengingat bahwa teknik ini relatif mudah dijalankan dan siapa saja mampu untuk melakukannya. Pengertian runtut waktu sering dikonotasikan sebagai serangkaian waktu yang beruntutan periodesasinya sepanjang periode dimana prakiraan permintaan diproyeksikan. Misalnya mingguan, bulanan, kwartalan, dan tahunan, tergantung keinginan dari pihak-pihak yang melakukan prakiraan permintaan ini. Kalau diinginkan mingguan atau bulanan atau kwartalan dan tahunan. Ini sesuai dengan kebutuhan periodik yang akan diharapkan hasilnya sebagai prediksi volume atau jumlah permintaan atau potensi pertumbuhan permintaan. Dalam praktek sering digambarkan bahwa waktu berurutan yang dimaksudkan digambarkan dalam diagram dalam sumbu horizontal atau absis. Pada sumbu absis atau horizontal digambarkan sebagai timing atau waktu dan periode data diplotkan. Sedangkan sumbu vertikal digambarkan sebagai nilai atau jumlah permintaan atau volume dan nilai penjualan yang berhasil direkam sesuai periode yang ditentukan atau diharapkan. Perlu diperhatikan disini, bahwa klasifikasi waktu menurut sifat keruntutannya dapat dikelompokkan dalam empat kategori: a) Trend Sekuler b) Siklus Fluktuasi c) Variasi Musim d) Pengaruh Tak Teratur 2. Trend Sekuler Peramalan model trend sekuler dilakukan dengan menarik garis secara kasar atau serampang mengikuti kecenderungan permintaan yang terjadi secara siklus dari tahun ke tahun. Kalau kecenderungan permintaan di tahun-tahun yang akan datang naik maka garis trend yang kita tarik cenderung menaik untuk tahun yang akan datang. Tetapi kalau kecenderungannya turun maka kita tarik garis trend menurun untuk tahun-tahun yang akan datang. Model penarikan garis semacam ini ada sejumlah data atau variabel lain yang perlu kita jadikan sebagai data atau variabel pendukung serta asumsi yang bisa memperkuat kecenderungan garis yang telah kita buat itu. a) Fluktuasi siklus Siklus perubahan atau naik turunnya volume permintaan selama tahuntahun yang telah lalu dan yang akan datang yang kita telah tarik kecenderungannya tentu disebabkan atau dipengaruhi oleh sejumlah faktor yang secara periodik dan tetap harus ada atau terjadi selama periode tahunan yang akan datang. Biasanya siklusnya telah bisa kita duga sebelumnya bahwa datangnya permintaan yang meningkat pada periode tertentu sudah bisa kita prediksi kejadiannya. Begitu juga atas terjadinya penurunan permintaan oleh konsumen kita mesti dapat menduga sebelumnya pada periode tertentu selama tahun yang bersangkutan. b) Metode proyeksi trend Metode proyeksi trend ini merupakan metode yang paling sederhana dibanding dengan metode lainnya. Karena di dalam metode ini hanya menarik secara garis lurus sesuai dengan kecenderungan data time series yang ada. Jika data time series yang dijadikan pijakan dalam menarik garis lurus ini ada kecenderungan meningkat, maka garis lurus yang ditarik cenderung naik sesuai dengan kecenderungan peningkatan yang terjadi atau akan terjadi. Jika

sebaliknya maka cenderung juga sebaliknya dalam menarik garis lurus yang akan ditarik. Tergantung dari kecenderungan atau trend yang akan diikuti naik atau turunnya. Tabel 1 Permintaan Musiman Almari Kulkas di Indonesia (dalam ribuan unit) Periode Kwartal 1 2 3 4 1999 11 15 12 14 2000 12 17 13 16 2001 14 18 15 17 2002 15 20 16 19

Berdasarkan data dalam contoh di atas, maka dapat kita susun tabel yang akan menunjukkan secara berurutan kecenderungan volume permintaan sejak 1999 sampai dengan tahun 2002. Data dalam tabel 1 dapat disusun sebagai berikut dalam tabel 2. Tabel 2 Data permintaan lemari kulkas di Indonesia 1999 - 2002 (dalam ribuan unit) Tahun Kwartal 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 n = 15 Jumlah 11 15 12 14 12 17 13 16 14 18 15 17 15 20 16 19 Perubahan (%) 0 +35 -20 +16,6 -14,2 +41,6 -23,5 +23,0 -12,5 +28,5 -16,6 +13,3 -11,7 +33,3 -20,0 +18,7 +91,6 Keterangan naik turun naik turun naik turun naik turun naik turun naik turun naik turun naik

1999

2000

2001

2002

So sebagai tahun dasar adalah tahun 1999 kwartal 1 bernilai 11. b = 91,6 = 6,1066 % atau = 0,061066 15 Sehingga forecasting ke depan dapat diikhtisarkan sebagai berikut: Tabel 3 Tahun 2003 Kwartal 17 18 19 20 21 Volume permintaan (St) = 11 + 0,061066(17) = 12,038 = 11 + 0,061066(18) = 12,099 = 11 + 0,061066(19) = 12,160 = 11 + 0,061066(20) = 12,221 = 11 + 0,061066(21) = 12,282 Ikhtisar prediksi volume permintaan tahun 2003

dan seterusnya dan seterusnya Meramalkan dengan metode seperti ini sangat mudah dan bersifat sembarang garis yang ditarik. Oleh karena itu hasil prediksinya cukup kasar dan dimungkinkan terdapat penyimpangan yang cukup besar. Meski demikian bahwa prediksinya cukup terbimbing dengan kecenderungan yang terarah searah dengan kecenderungan yang ada dari data yang diperoleh berdasar pengalaman historis. Jadi kalau pada kuartal 17 sampai dengan kwartal 20 tahun 2003 yang akan datang ingin diprediksi berapa kecenderungan permintaan akan bergerak maka kecenderungannya berkisar seperti yang dihasilkan pada tabel 3. c) Metode Variasi Musim Melakukan prakiraan volume permintaan konsumen di waktu-waktu yang akan datang dapat didasarkan pada gelombang musiman yang melekat pada kultur budaya atau kebiasaan dari masyarakat. Tetapi dapat juga karena faktor sifat dan keadaan alam yang melekat pada iklim atau cuaca. Misalnya produksi musim semi, gugur dan musim penghujan dan bahkan musim kemarau, produk apa yang sedang atau akan datang musimnya. Sifat masyarakat yang menimbulkan musiman ini oleh karena faktor budaya dan kebiasaan misalnya karena musim hari raya keagamaan. Pada saatsaat itu biasanya masyarakat akan memiliki hajat yang cukup besar dalam melakukan pemenuhan konsumsi barang keperluan pesta dan sehari-hari. Maka dapat dipastikan pada periode ini permintaan akan kebutuhan dan keperluan konsumsi akan meningkat dalam jumlah yang cukup berarti. Demikian juga ketika datang musim bulan-bulan baik maka banyak masyarakat menggunakan bulan tersebut melaksanakan hajat perkawinan, pesta perkawinan, dan hajat-hajat yang lain yang memerlukan pesta dan upacara-upacara sacral yang memerlukan konsumsi dan persediaan barang kebutuhan untuk keperluan tersebut. Contoh dapat diberikan dalam variasi musiman ini antar lain misalnya dalam memenuhi kebutuhan konsumsi daya listrik dapat dilihat sebagai berikut.

Tabel 4

Jumlah kebutuhan daya listrik tahun 1999 s/d 2002 (dalam jutaan kw)

Tahun 1999

2000

2001

2002

Kwartal 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

Jumlah Daya 11 15 12 14 12 17 13 16 14 18 15 17 15 20 16 18

Dari data pada tabel 4 ini terlihat bahwa pola pemakaian listrik nampak atau cenderung memiliki pola yang tetap pada periode kwartalannya. Setiap kwartalnya pada setiap tahunnya cenderung berpola sama. Yaitu pada kwartal pertama, kedua, dan ketiga dapat disimpulkan memiliki pola perubahan dan kenaikan yang seragam. Polanya seragam sebagai gejala naik, turun, dan naik.

Dari gejala ini dapat dipastikan bahwa pemakaian listrik pada kwartal kedua cenderung naik. Pada kwartal ketiga cenderung menurun. Kemudian pada kwartal keempat cenderung naik lagi. Dengan pola seperti itu dapat kita simpulkan bahwa pihak penyedia daya listrik akan tahu dalam prediksinya atau pola pemakaian daya listrik yang diminta oleh masyarakat. Kapan harus diturunkan penyediaannya, dan kapan harus menyediakan dalam jumlah yang cukup oleh karena ada kecenderungan ada peningkatan pada kwartal-kwartal tertentu yang harus diantisipasi penyediaannya. d) Metode Rata-rata Bergerak Metode rata-rata bergerak ini delakukan untuk lebih memperbaiki hasil dari metode trend yang dinilai cukup kasar dan cukup beresiko penyimpangan dari hasil trend seperti yang kita telah tampilkan sebelum ini. Metode rata-rata bergerak, sesuai dengan namanya bergerak dilakukan dengan pengelompokkan periode waktu dihitung rata-ratanya menurut pengelompokkan waktu yang dinilai dapat mewakili sifat data yang akan dihitung. Misalnya apakah dihitung per tiga, empat atau lima bulanan dalam suatu satuan waktu yang akan kita pilih. Ini tergantung dari sifat data maupun kepentingan peramalan terhadap data yang tersedia. Sifat data yang akan dihitung rata-ratanya setidaknya dilatarbelakangi oleh kondisi umum yang normal, dan tidak terjadi gejolak yang tak teratur yang mencerminkan ketidaknormalan kondisi sehingga data muncul terlalu berfluktuasi yang sangat tinggi. Kepentingan peramalan yang akan dipakai apakah dalam skup jangka pendek nilai ramalan yang diketahui atau dalam jangka atau rentang waktu yang lebih panjang. Kalau menggunakan rentang waktu yang lebih pendek maka hasil rata-rata bergerak yang akan kita peroleh akan lebih mendekati kondisi sifat data yang sebenarnya dan rata-rata yang kita temukan terdistribusi atau tersebar pada kelompok data faktual. Sedangkan jika satuan waktu yang lebih panjang, rata-rata yang akan kita peroleh akan lebih mewakili sejumlah data yang lebih banyak dan beraneka macam fluktuasinya, sehingga rata-rata bergeraknya lebih tersebar dan kurang mewakili fakta sifat data yang tersebar tersebut. Terkecuali sifat data lebih homogen dan tidak terlalu fluktuatif. e) Metode rata-rata tertimbang (Exponential Smoothing) Metode exponential smoothing ini merupakan metode yang lebih halus lagi dari pada metode rata-rata bergerak. Jadi metode ini lebih hati-hati dalam memprediksi atau meramal permintaan yang akan terjadi di masa akan datang. Apabila kita memperhatikan sifat data time series, maka ada kecenderungan bahwa metode rata-rata tertimbang akan lebih disukai dipilih daripada metode rata-rata bergerak. Mengapa demikian, karena di dalam metode rata-rata tertimbang menyertakan faktor-faktor yang relevan yang menjadi penyebab tersebarnya data time series. Hal ini diimplementasikan ke dalam perkiraan dari faktor terjadinya fluktuasi pada data time series ke dalam resiko penyimpangan prakiraan, sehingga hasil prakiraan dari masing-masing prakiraan lebih kecil risiko fluktuasi penyimpangan. Dan angka rata-rata tertimbang tertentu yang dipilih merupakan komposisi persebaran atas terjadinya keakuratan dan resiko penyimpangan yang mungkin akan terjadi sebagai mendasari prakiraan yang dihasilkan. Demikian untuk perhitungan prakiraan berikutnya secara berjenjang dari prakiraan sebelumnya ke prakiraan selanjutnya di dalam periode yang diramalkan. Hal ini dimaksudkan untuk meratakan resiko penyimpangan sehingga resiko tersebut berada pada persebaran yang lebih merata keseluruhan periode yang diprakirakan.

B. PERAMALAN KUALITATIF Peramalan dengan metode ini jika data kuantitatif yang berkaitan faktor-faktor yang langsung mempengaruhi permintaan tidak cukup memadai. Apabila dari data yang tidak cukup memadai ini dipaksakan untuk dasar peramalan maka hasilnya diperkirakan atau dikhawatirkan terjadi bias, tidak proporsional, dan tidak memiliki relevansi yang cukup kuat. Oleh karena itu dipergunakan metode peramalan kualitatif. Tetapi dengan metode ini dapat dipergunakan untuk mendukung metode forecasting kuantitatif. Hal ini dilakukan dalam rangka untuk mengantisipasi jika metode kuantitatif yang biasa dilakukan berdasar data historis yang mungkin telah dilakukan itu perlu ada koreksi dari hasil metode kualitatif ini. Jadi dengan demikian metode kualitatif ini masih diperlukan dalam usaha mengoreksi hasil peramalan berdasarkan data yang menyangkut perilaku permintaan dan konsumen. Justru dalam metode kualitatif akan digali dan diselidiki fenomena terakhir yang menyangkut keinginan dan kebutuhan konsumen. Sehingga metode kualitatif merupakan kelengkapan dan penyempurnaan dari metode kuantitatif. Forecasting kualitatif ini dapat dikelompokkan ke dalam beberapa metode teknik seperti akan dijelaskan berikut ini. 1. Teknik Survey Teknik survey ini merupakan suatu alat meramalkan yang cukup penting khususnya untuk memprediksi kejadian-kejadian atau kecenderungankecenderungan dalam jangka pendek mendatang ini. Survey biasanya menggunakan alat interview atau daftar pertanyaan yang akan ditujukan para responden yang terpilih dan yang dituju. Sesuai kelompok yang memang diperkirakan akan menjadi sasaran pasar yang dituju oleh perusahaan. Survey ini dilakukan untuk meramalkan variabel ekonomi yang memang berhubungan baik langsung maupun tidak langsung dengan permintaan konsumen atau pasar yang dituju. Variabel-variabel ekonomi yang disurvey ini misalnya variabel yang berhubungan dengan budget rumah tangga yang dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Sasaran dan klasifikasi sasaran dan jenis kebutuhan dan keperluan dari kelompok responden ini dapat dikategorikan sebagai berikut: a. Survey tentang budget keperluan rumah tangga masyarakat eksekutif bisnis dan pemerintahan yang sekiranya berkait dengan rencana perusahaan. Survey ini diharapkan dapat merekam keseluruhan anggaran setiap rumah tangga yang disurvey. b. Survey mengenai barang atau jasa yang diperlukan bagi para pelaku bisnis yang akan memperdagangkan barang atau jasanya. Mereka ini mungkin pelaku bisnis yang bergerak pada bisnis distributor, pengecer atau pedagang besar. c. Survey ini dilakukan bagi para rumah tangga umum mengenai keperluan rumah tangga, produk atau barang apa secara periodic diperlukan dan frekuensi pemenuhan yang dilakukan untuk masa-masa yang akan datang, dan lain-lain. Dari metode survey berdasar kelompok sasaran ini sebenarnya terkandung maksud dari surveyor bahwa barang dan jasa apa saja yang dibutuhkan, berapa frekuensi pemenuhan kebutuhan dan faktor-faktor apa saja yang pada umumnya yang mempengaruhi perilaku beli mereka ini. Sehingga secara tidak langsung perusahaan melihat peluang dan apa saja yang bisa ditarik sebagai kepentingan bagi perusahaan atas hasil-hasil survey ini untuk memprediksi dan memperkirakan perilaku pasar atau konsumen perusahaan. Bila diklasifikasikan bahwa hasil survey ini merupakan bagian dari kegiatan riset pasar yang dilakukan oleh perusahaan. Dari sini berbagai kemungkinan yang diperoleh adalah munculnya variabel ikutan yang dapat diprediksi Apa yang bisa

dimanfaatkan oleh perusahaan yang hendak atau sudah diproduksi dan dijual kepada pasar yang dituju yang telah disurvey ini. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa hasil survey ini sebagian atau seluruhnya dapat dipergunakan untuk memprediksi permintaan konsumennya dari produk yang dibuat dan jual oleh perusahaan . 2. Teknik Jajak Pendapat (Opinion Pools) Teknik jajak pendapat sering dilakukan untuk melengkapi data dari survey. Jajak pendapat dari para pakar, para eksekutif, dari masyarakat umum, atau dari konsumen. Jajak pendapat ini lebih bersifat pandangan atau pendapat pribadi (subjektif) dari respondennya, sebaliknya teknik survey lebih bersifat objektif. Sebelum peluncuran produk baru, biasanya diadakan pre test dan jajak pendapat terhadap responden yang menjadi sampel. Teknik pooling ini melibatkan berbagai media seperti media TV, telepon, koran, surat, SMS, email, atau internet untuk menyebarkan kuesioner atau daftar pertanyaan tentang berbagai informasi yang dibutuhkan perusahaan. Laporan atau pernyataan resmi dari suatu perusahaan atau pemerintah suatu negara dapat digunakan sebagai sumber data guna meramalkan kondisi ekonomi di masa yang akan datang, sekaligus dapat digunakan untuk membuat strategi bersaing dalam pasar bebas. Peramalan kualitatif atau teknologis, yaitu peramalan yang didasarkan atas data kualitatif masa lalu. Hasil peramalan yang ada tergantung pada orang yang menyusunnya, karena peramalan tersebut sangat ditentukan oleh pemikiran yang bersifat intuisi, judgement (pendapat) dan pengetahuan serta pengalaman dari penyusunnya.Metoda kualitatif dibagi menjadi dua metode yaitu: Metode eksploratif Pada metoda ini dimulai dengan masa lalu dan masa kini sebagai awal dan bergerak ke arah masa depan secara heuristik, sering kali dengan melihat semua kemungkinan yang ada. Metode normative Pada metode ini dimulai dengan menetapkan sasaran tujuan yang akan datang, kemudian bekerja mundur untuk melihat apakah hal ini dapat dicapai berdasarkan kendala, sumber daya dan teknologi yang tersedia. Peramalan kuantitatif, yaitu peramalan yang didasarkan atas data kuantitatif pada masa lalu. Hasil peramalan yang dibuat tergantung pada metode yang digunakan dalam peramalan tersebut. Metode yang baik adalah metode yang memberikan nilai-nilai perbedaan atau penyimpangan yang mungkin. Peramalan kuantitatif hanya dapat digunakan apabila terdapat tiga kondisi sebagai berikut: (Makridakis, 1988) Informasi tentang keadaan masa lalu. Informasi tersebut dapat dikuantifikasikan dalam bentuk data numerik. Dapat diasumsikan bahwa beberapa aspek pola masa lalu akan terus berkelanjutan pada masa yang akan datang. Metode peramalan kuantitatif terbagi atas dua jenis model peramalan yang utama, yaitu: 1. Model deret berkala (time series), yaitu: Metode peramalan yang didasarkan atas penggunaan analisa pola hubungan antara variabel yang akan diperkirakan dengan variabel waktu, yang merupakan deret waktu. 2. Model kausal, yaitu metode peramalan yang didasarkan atas penggunaan analisa pola hubungan antara variabel lain yang mempengaruhinya, yang bukan waktu yang disebut metode korelasi atau sebab akibat. 3. Carilah hasil penemuan yang bertema tentang permalan permintaan produk menggunakan pendekatan pada tugas no.2 di atas. Paparkan dan intrepetasikan hasilnya. Peramalan Kuantitatif Peramalan permintaan produk kulkas dengan peramalan kuantitatif dapat menggunkan metode proyeksi trend, dimana ini merupakan metode yang paling sederhana dibanding dengan metode lainnya. Jika data time series yang dijadikan pijakan dalam menarik garis lurus ini ada kecenderungan meningkat, maka garis

lurus yang ditarik cenderung naik sesuai dengan kecenderungan peningkatan yang terjadi atau akan terjadi. Jika sebaliknya maka cenderung juga sebaliknya dalam menarik garis lurus yang akan ditarik. Tergantung dari kecenderungan atau trend yang akan diikuti naik atau turunnya. Tabel 1 Permintaan Musiman Almari Kulkas di Indonesia (dalam ribuan unit) Periode 1999 2000 2001 2 0 0 2 15 20 16 19

Kwartal

1 2 3 4

11 15 12 14

12 17 13 16

14 18 15 17

Berdasar data dalam contoh di atas, maka dapat kita susun tabel yang akan menunjukkan secara berurutan kecenderungan volume permintaan sejak 1999 sampai dengan tahun 2002. Data dalam tabel 1 dapat disusun sebagai berikut dalam tabel 2. Tabel 2 Data permintaan lemari kulkas di Indonesia 1999 - 2002 (dalam ribuan unit) Tahun Kwartal 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 n = 15 Jumlah 11 15 12 14 12 17 13 16 14 18 15 17 15 20 16 19 Perubahan (%) 0 +35 -20 +16,6 -14,2 +41,6 -23,5 +23,0 -12,5 +28,5 -16,6 +13,3 -11,7 +33,3 -20,0 +18,7 +91,6 Keterangan naik turun naik Turun naik turun naik Turun naik turun naik Turun naik turun naik

1999

2000

2001

2002

So sebagai tahun dasar adalah tahun 1999 kwartal 1 bernilai 11. b = 91,6 = 6,1066 % atau = 0,061066 15 Sehingga forecasting ke depan dapat diikhtisarkan sebagai berikut: Tabel 3 Tahun 2003 Kwartal 17 18 19 20 21 dan seterusnya. Meramalkan dengan metode seperti ini sangat mudah dan bersifat sembarang garis yang ditarik. Oleh karena itu hasil prediksinya cukup kasar dan dimungkinkan terdapat penyimpangan yang cukup besar. Meski demikian bahwa prediksinya cukup terbimbing dengan kecenderungan yang terarah searah dengan kecenderungan yang ada dari data yang diperoleh berdasar pengalaman historis. Jadi kalau pada kuartal 17 sampai dengan kwartal 20 tahun 2003 yang akan datang ingin diprediksi berapa kecenderungan permintaan akan bergerak maka kecenderungannya berkisar seperti yang dihasilkan pada tabel 3. Peramalan Kualitatif Permintaan produk the Botol beradasarkan aspek warna the yang mempengaruhinya. Contoh ini dibuat dengan melihat aspek perilaku konsumen yang ada pada msayrakat, dimana hasil wawancara kepada konsumen bahwa warna sangat mempengaruhi pemebelian the dipasaran. 4. Persyaratan untuk memperoleh hasil peramalan yang berakurasi tinggi 1. Penentuan tujuan. Langkah pertama terdiri atas penentuan macam estimasi yang di inginkan. Sebaliknya tujuan tergantung pada kebutuhan informasi para manajer. Analis Untuk mengetahui apa kebutuhan mereka dan menentukan : Variabel- variabel yang akan di estimasi Siapa yang menggunakan hasil peramalan Untuk tujuan-tujuan apa hasil peramalan akan di gunakan Estimasi jangka panjang atau jangka pendek yang di inginkan Kapan estimasi di butuhkan Bagian-bagian peramalan yang di inginkan 2. Pengembangan model. Setelah tujuan di tetapkan langkah berikutnya adalah mengembangkan suatu model, yang merupakan penyajian secara lebih sederhana sistem yang dipelajari 3. Pengujian model. Sebelum ditrapkan, model biasanya di uji untuk menentukan tingkat akurasi , validitas dan reliabilitas yang di harapkan. Ini sering mencakup penerapannya pada data historik, dan penyiapan estimasi untuk tahun-tahun sekarang dengan nyata yang tersedia. 4. Penerapan model. Setelah pengujian, analisis menerapkan model dalam tahap ini , data historik di masukkan dalam model untuk menghasilkan suatu ramalan 5. Revisi dan evaluasi. Ramalan-ramalan yang telah di buat harus senantiasa di perbaiki dan di tinjau kembali. Perhatikan mungkin perlu di lakukan karena adanya perubahanperubahan dalam perusahaan atau lingkungannya, seperti tingkat harga produk ,karakteristik- karakteristik produk, pengeluaran-pengeluaran pengiklanan, tingkat pengeluaran pemerintah, kebijakan moneter dan kemajuan teknologi atau teknik Volume permintaan (St) = 11 + 0,061066(17) = 12,038 = 11 + 0,061066(18) = 12,099 = 11 + 0,061066(19) = 12,160 = 11 + 0,061066(20) = 12,221 = 11 + 0,061066(21) = 12,282 Ikhtisar prediksi volume permintaan tahun 2003

peramalan. Lankah ini di perlukan untuk menjaga kualitas estimasi-estimasi di waktu yang akan datang. 5. Seandainya saudara seorang pelaku agribisnis ( kemukakan apa produk agribisnis yang saudara produksi ). Coba lakukan analisis peramalan permintaan terhadap produk tersebut. a. Faktor yang harus di pertimbangkan : 1. Skedul produksi Merancang waktu dalam proses produksi, di ikuti dengan perencanaan kuantitas barang yang di produksi. 2. Perencanaan pemenuhan kebutuhan bahan Dengan menganalisis besarnya bahan yang diperlukan, adanya pengurangan/ penambahan bahan. 3. Kebutuhan Tenaga kerja Merencanakan tenaga kerja secara efektif dan efisien. 4. Penentuan lokasi Dengan memilih lokasi perusahaan yang strategis dengan/ dekat dengan masyarakat. 5. manajemen produk, operasi, keuangan dan pemasaran Untuk manajemen produk, lebih di tekankan pada keunggulan/ kualitas produksi manajemen operasi yakni meramalkan sistem/ proses input menjadi output sesuai dengan permintaan. Selain faktor-faktor tersebut juga memperhatikan daur hidup produk yang meliputi ( tahap pengenalan, tahap pertumbuhan dan percepatan, tahap kedewasaan dan tahap kemunduran b. Metode yang digunakan dalam melakukan peramalan Menggunakan metode kuatitatif dengan teknik peramalan model assosiatif (hubungan sebab-akibat). Karena teknik ini menggabungkan banyak variabel atau faktot yang mungkin mempengaruh kuantitas yang sedang di ramalkan. c. Bagaimana hasilnya jelaskan Hasilnya sesuai dengan banyaknya permintaan dari konsumen, serta meliputi kepuasan konsumen dari segi kuantitas, kualitas produk dan ketersediaan produk berdasarkan jumlah permintaan.

DAFTAR PUSTAKA Anonymous. 2012. Disain Produk. (online) artikel diunduh dari: http://ocw.usu.ac.id/course/download/4160000079-manajemen-operasi/tdi_437_. diakses tangal 14 Maret 2011. Anonymous. 2012. Analisis Bauran Pemasaran. (online) ppt. diunduh dari: http://www.docstoc.com/docs/32492812/Analisis-Bauran-Pemasaran-(MarketingMix). Diakses pada tanggal 14 Maret 2011. Anonymous. 2012. Tahapan dan Strategi Siklus Hidup Produk. (online) artikel diunduh dari: http://jurnal-sdm.blogspot.com/2010/01/siklus-hidup-produk-product-lifecycle_28.html. diakses pada tanggal 14 Maret 2011. Anonymous. 2012. Disain Produk. (online) artikel diunduh http://www.websukat.com/smu-books/managerial-economics/3-demandforecasting.pdf Diakses pada tanggal 14 Maret 2011. Handoko, T. Hani. 2008. Dasar-Dasar Manajemen Produksi dan Operasi. BPFE : Yogyakarta Kotler dan Armstrong, (terjemahan Alexander Sindoro), 2000, Dasar-dasar Pemasaran, Prenhallindo, Jakarta. Ramadhany, Oemmy. 2012. Siklus Hidup Produk (Product Life Cycle). (online) artikel 28 Agustus 2008. Diunduh dari: http://abume.wordpress.com/2008/08/28/siklus-hidupproduk-product-life-cycle/. Diakses pada tanggal 14 Maret 2011. Prasetya, Drs. Hery dan Lukiastuti, SE.,MM. 2009 Manajemen Operasi. Yogyakarta : Media Pressindo Schroeder, Roger G. Manajemen Operasi. 1994. PT. Gelora Aksara Pratama: Jakarta dari:

MANAJEMEN PRODUKSI DAN OPERASI PERUSAHAAN MODUL II

Disusun Oleh : Kelompok 2 Ilham Nugroho Qadarisman Ilyas Willy Dion Pasalbessy Aprilisa Dipo Baskoro Septin Suryandari Y.W. (0910440101) (0910440174) (0910440216) (0910440246) (0910440314)

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2012