Anda di halaman 1dari 8

Pedoman Penanggulangan Banjir Pedoman Banjir Latar Belakang Bencana banjir merupakan kejadian alam yang dapat terjadi

setiap saat dan sering mengakibatkan kehilangan jiwa, kerugian harta, dan benda. Kejadian banjir tidak dapat dicegah, namun dapat dikendalikan dan dikurangi dampak kerugian yang diakibatkannya. Karena datangnya relatif cepat, untuk mengurangi kerugian akibat bencana tersebut perlu dipersiapkan penanganan secara cepat, tepat, dan terpadu. Sebagian tugas Dinas dan/atau Badan Hukum yang mengelola Wilayah Sungai adalah melaksanakan pengendalian banjir dan penanggulangan kekeringan. Untuk mendukung pelaksanaan tugas tersebut diperlukan Pedoman Teknis Menejemen Banjir. Maksud dan Tujuan Pedoman ini dimaksudkan sebagai acuan kerja Dinas dan/atau Badan Hukum yang mengelola wilayah sungai dan instansi lain dalam menyelenggarakan kegiatan manajemen banjir agar dapat dilaksanakan secara cepat, tepat, dan berhasil guna; sesuai dengan pola pengelolaan wilayah sungai. Pedoman ini digunakan bersama pedoman lain yang terkait dengan maksud saling melengkapi. Tujuan pedoman ini adalah terselenggaranya manajemen banjir yang menyeluruh dan terpadu dalam sistem wilayah sungai, sehingga korban jiwa, kerusakan atau kerugian harta benda dan/atau kerusakan lingkungan sebagai dampak tak terkendalinya daya rusak air dapat dicegah dan dihindari, atau diusahakan menjadi seminimal mungkin. Ruang Lingkup Ruang Lingkup pedoman ini mencakup pengendalian banjir dan penanggulangan bencana banjir, terdiri dari pokok bahasan yang menyangkut pengertian, kelembagaan, manajemen, pendanaan, dan koordinasi. Pengertian Dalam pedoman ini yang dimaksud dengan: 1. Sungai adalah tempat-tempat dan wadah-wadah air termasuk sumber daya alam non hayati yang terkandung di dalamnya, serta jaringan pengaliran air mulai dari mata air sampai muara dengan dibatasi kanan dan kirinya serta sepanjang pengalirannya oleh garis sempadan. 2. Wilayah sungai adalah kesatuan wilayah pengelolaan air permukaan dalam satu atau lebih Daerah Aliran Sungai. 3. Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah sebuah kawasan yang dibatasi oleh pemisah topografis, yang menampung, menyimpan, dan mengalirkan air ke anak sungai dan sungai utama yang bermuara ke danau atau laut. 4. Palung sungai adalah cekungan yang terbentuk oleh aliran air secara alamiah atau buatan manusia untuk mengalirkan air dan sedimen. 5. Garis sempadan sungai adalah garis maya batas luar pengamanan sungai. 6. Daerah sempadan adalah lahan yang dibatasi oleh garis sempadan dengan kaki tanggul sebelah luar atau antara garis sempadan dan tebing tinggi untuk sungai yang tidak bertanggul. 7. Bantaran sungai adalah lahan pada kedua sisi sepanjang palung sungai, dihitung dari tepi sungai sampai dengan kaki tanggul sebelah dalam 8. Daerah manfaat sungai adalah mata air, palung sungai, dan daerah sempadan yang tidak dibebaskan. 9. Daerah penguasaan sungai adalah dataran banjir, daerah retensi, bantaran, atau daerah sempadan yang tidak dibebaskan 10. Daerah retensi adalah lahan yang ditetapkan untuk menampung air banjir untuk sementara waktu. 11. Dataran banjir adalah lahan yang pada waktu-waktu tertentu terlanda atau tergenang air banjir. 12. Banjir adalah suatu keadaan sungai di mana aliran airnya tidak tertampung oleh palung sungai. 13. Pengendalian banjir adalah upaya fisik dan nonfisik untuk pengamanan banjir dengan debit banjir sampai tingkat tertentu yang layak (bukan untuk debit banjir yang terbesar). 14. Penanggulangan banjir adalah segala upaya yang dilakukan agar banjir tidak menimbulkan gangguan dan kerugian bagi masyarakat, atau untuk mengurangi dan menekan besarnya kerugian yang ditimbulkan oleh banjir. 15. Debit banjir rencana adalah debit banjir yang dipakai untuk dasar perencanaan pengendalian banjir dan dinyatakan menurut kala ulang tertentu. Besarnya kala ulang ditentukan dengan mempertimbangkan segi keamanan dengan risiko

tertentu serta kelayakannya, baik teknis maupun lingkungan. 16. Bangunan sungai adalah bangunan air yang berada di sungai, danau, dan/atau di daerah manfaat sungai; yang berfungsi untuk konservasi, pendayagunaan, dan pengendalian sungai. 17. Mitigasi bahaya banjir (flood damage mitigation) adalah upaya menekan besarnya kerugian/bencana akibat banjir. 18. Pengelolaan dataran banjir (flood plain management) adalah pengelolaan dataran banjir sedemikian rupa sehingga meminimal akibat banjir yang mungkin terjadi. 19. Bahan banjiran adalah bahan yang diperlukan untuk penanggulangan darurat kerusakan yang disebabkkan oleh banjir termasuk tanah longsor karena banjir. 20. Daerah tangkapan air (catchment area) adalah daerah resapan air dari suatu daerah aliran sungai. Manajemen Banjir Pengendalian Banjir Pengendalian banjir dimaksudkan untuk memperkecil dampak negatif dari bencana banjir, antara lain: korban jiwa, kerusakan harta benda, kerusakan lingkungan, dan terganggunya kegiatan sosial ekonomi. Prinsip Pengendalian Banjir a. Menahan air sebesar mungkin di hulu dengan membuat waduk dan konservasi tanah dan air. b. Meresapkan air hujan sebanyak mungkin ke dalam tanah dengan sumur resapan atau rorak dan menyediakan daerah terbuka hijau. c. Mengendalikan air di bagian tengah dengan menyimpan sementara di daerah retensi. d. Mengalirkan air secepatnya ke muara atau ke laut dengan menjaga kapasitas wadah air. e. Mengamankan penduduk, prasarana vital, dan harta benda. Strategi Pengendalian Banjir Dalam melakukan pengendalian banjir, perlu disusun strategi agar dapat dicapai hasil yang diharapkan. Berikut ini strategi pengendalian banjir. a. Pengendalian tata ruang Pengendalian tata ruang dilakukan dengan perencanaan penggunaan ruang sesuai kemampuannya dengan mepertimbangkan permasalahan banjir, pemanfaatan lahan sesuai dengan peruntukannya, dan penegakan hukum terhadap pelanggaran rencana tata ruang yang telah memperhitungkan Rencana Induk Pengembangan Wilayah Sungai. b. Pengaturan debit banjir Pengaturan debit banjir dilakukan melalui kegiatan pembangunan dan pengaturan bendungan dan waduk banjir, tanggul banjir, palung sungai, pembagi atau pelimpah banjir, daerah retensi banjir, dan sistem polder. c. Pengaturan daerah rawan banjir pengaturan tata guna lahan dataran banjir (flood plain management). penataan daerah lingkungan sungai, seperti: penetapan garis sempadan sungai, peruntukan lahan di kiri kanan sungai, dan penertiban bangunan di sepanjang aliran sungai. d. Peningkatan peran masyarakat Peningkatan peran serta masyarakat diwujudkan dalam: o pembentukan forum peduli banjir sebagai wadah bagi masyarakat untuk berperan dalam pengendalian banjir. o bersama dengan Pemerintah dan pemerintah daerah dalam menyusun dan menyosialisasikan program pengendalian banjir. o menaati peraturan tentang pelestarian sumber daya air, antara lain tidak melakukan kegiatan kecuali dengan ijin dari pejabat yang berwenang untuk: mengubah aliran sungai; mendirikan, mengubah atau membongkar bangunan-bangunan di dalam atau melintas sungai; membuang benda-benda atau bahan-bahan padat dan/atau cair ataupun yang berupa limbah ke dalam maupun di sekitar sungai yang diperkirakan atau patut diduga akan mengganggu aliran; dan pengerukan atau penggalian bahan galian golongan C dan/atau bahan lainnya. e. Pengaturan untuk mengurangi dampak banjir terhadap masyarakat o penyediaan informasi dan pendidikan; o rehabilitasi, rekonstruksi, dan/atau pembangunan fasilitas umum;

o melakukan penyelamatan, pengungsian, dan tindakan darurat lainnya; o penyesuaian pajak; dan o asuransi banjir. f. Pengelolaan daerah tangkapan air o pengaturan dan pengawasan pemanfaatan lahan (tata guna hutan, kawasan budidaya, dan kawasan lindung); o rehabilitasi hutan dan lahan yang fungsinya rusak; o konservasi tanah dan air, baik melalui metoda vegetatif, kimia, maupun mekanis; o perlindungan/konservasi kawasankawasan lindung. g. Penyediaan dana o pengumpulan dana banjir oleh masyarakat secara rutin dan dikelola sendiri oleh masyarakat yang tinggal di daerah rawan banjir; o penggalangan dana oleh masyarakat umum di luar daerah yang rawan banjir; dan o penyediaan dana pengendalian banjir oleh Pemerintah dan pemerintah daerah. Kesiapsiagaan Menghadapi Bencana Banjir Tahap sebelum terjadi banjir Kegiatan yang dilakukan adalah meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman bahaya banjir, meliputi: 1. penyebarluasan peraturan perundang-undangan atau informasi-informasi, baik dari Pemerintah maupun pemerintah daerah, berkaitan dengan masalah banjir; 2. pemantauan lokasi-lokasi rawan (kritis) secara terus-menerus; 3. optimasi pengoperasian prasarana dan sarana pengendali banjir; 4. penyebarluasan informasi daerah rawan banjir, ancaman/bahaya, dan tindakan yang harus diambil oleh masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana; 5. peningkatan kesiapsiagaan organisasi dan manajemen pengendalian banjir dengan menyiapkan dukungan sumber daya yang diperlukan dan berorientasi kepada pemotivasian individu dalam masyarakat setempat agar selalu siap sedia mengendalikan ancaman/bahaya; 6. persiapan evakuasi ke lokasi yang lebih aman; 7. penyediaan bahan-bahan banjiran untuk keadaan darurat, seperti: karung plastik, bronjong kawat, dan materialmaterial pengisinya (pasir, batu ,dan lain-lain), dan disediakan pada lokasi-lokasi yang diperkirakan rawan/kritis; 8. penyediaan peralatan berat (backhoe, excavator, truk, buldozer, dan lain-lain) dan disiapsiagakan pada lokasi yang strategis, sehingga sewaktu-waktu mudah dimobilisasi; 9. penyiapan peralatan dan kelengkapan evakuasi, seperti: speed boat, perahu, pelampung, dan lain-lain. Saat terjadi banjir Kegiatan yang dilakukan dititikberatkan pada: 1. Penyelenggaraan piket banjir di setiap posko. 2. Pengoperasian sistem peringatan banjir (flood warning system) o Pemantauan tinggi muka air dan debit air pada setiap titik pantau. o Melaporkan hasil pemantauan pada saat mencapai tingkat siaga kepada dinas/instasi terkait, untuk kemudian diinformasikan kepada masyarakat sesuai dengan Standar Prosedur Operasional Banjir. 3. Peramalan Peramalan banjir dapat dilakukan dengan cara: analisa hubungan hujan dengan banjir (rainfall runoff relationship), metode perambatan banjir (flood routing), metode lainnya. 4. Komunikasi Sistim komunikasi digunakan untuk kelancaran penyampaian informasi dan pelaporan, dapat menggunakan radio komunikasi, telepon, faximili, dan sarana lainnya. 5. Gawar/Pemberitaan Banjir (Pemberitaan) Gawar/pemberitaan banjir dilakukan dengan sirine, kentongan, dan/atau sarana sejenis lainnya dari masing-masing pos pengamatan berdasarkan informasi dari posko banjir.

Penanggulangan Bencana Banjir Mitigasi Mitigasi ancaman bahaya banjir dilakukan agar keadaan darurat yang ditimbulkan oleh bahaya banjir dapat diringankan atau dijinakan efeknya melalui: a. Pengoperasian dan pemeliharaan sarana dan prasarana pengendalian banjir. b. Perlindungan sumberdaya air dan lingkungan. Tanggap Darurat Tanggap darurat ditujukan untuk meningkatkan kemampuan mengatasi keadaan darurat akibat banjir, dilakukan dengan cara: a. mengerahkan sumber daya, seperti: personil, bahan banjiran, peralatan, dana dan bantuan darurat; b. menggerakkan masyarakat dan petugas satuan tugas penanggulangan bencana banjir; c. mengamankan secara darurat sarana dan prasarana pengendali banjir yang berada dalam kondisi kritis; dan d. mengevakuasi penduduk dan harta benda. Pemulihan Pemulihan dilakukan terhadap sarana dan prasarana sumber daya air serta lingkungan akibat bencana banjir kepada fungsi semula, melalui: a. inventarisasi dan dokumentasi kerusakan sarana dan prasarana sumber daya air, kerusakan lingkungan, korban jiwa, dan perkiraan kerugian yang ditimbulkan; b. merencanakan dan melaksanakan program pemulihan, berupa: rehabilitasi, rekonstruksi atau pembangunan baru sarana dan prasarana sumberdaya air; dan c. penataan kembali kondisi sosial ekonomi masyarakat yang terkena bencana banjir. Pengawasan Salah satu tugas dinas dan/atau badan hukum yang mengelola wilayah sungai adalah melaksanakan pengendalian banjir. Agar tugas tersebut dapat terlaksana sebagaimana mestinya, maka diperlukan pengawasan oleh BPBD provinsi (atau Satkorlak) dan BPBD kabupaten/kota (Satlak) yang meliputi: o pengawasan terhadap dampak dari banjir o pengawasan terhadap upaya penanggulangannya. Kelembagaan Pengaturan Pengendalian banjir di suatu wilayah sungai diselenggarakan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, atau badan hukum sesuai kewenangan masing-masing, yang pelaksanaannya dikoordinasikan oleh BNPB, BPBD provinsi (atau Satkorlak), dan BPBD kabupaten/kota (Satlak). Organisasi Pengendalian banjir merupakan sebagian tugas yang diemban oleh pengelola sumber daya air wilayah sungai. Untuk melaksanakan tugas tersebut, di dalam struktur organisasi pengelola sumber daya air wilayah sungai terdapat unit yang menangani pengendalian banjir. Tugas-tugas unit yang menangani pengendalian banjir adalah: a. melaksanakan pengumpulan data, pembuatan peta banjir, penyusunan rencana teknis pengendalian banjir; b. melaksanakan analisis hidrologi dan penyebab banjir; c. melaksanakan penyusunan prioritas penanganan daerah rawan banjir; d. melaksanakan pengendalian bahaya banjir, meliputi tindakan darurat pengendalian dan penanggulangan banjir; e. menyusun dan mengoperasikan sistem peramalan dan peringatan dini banjir; f. melaksanakan persiapan, penyusunan, dan penetapan pengaturan dan petunjuk teknis pengendalian banjir; dan g. menyiapkan rencana kebutuhan bahan untuk penanggulangan banjir. Sumber Daya Pendukung Personil a. Kelompok tenaga ahli

Tenaga ahli yang diperlukan adalah tenaga ahli yang memenuhi kualifikasi di bidang sumber daya air, antara lain: bidang hidrologi, klimatologi, hidrolika, sipil, elektro mekanis, hidrogeologi, geologi teknik, dan tenaga ahli lainnya yang berhubungan dengan masalah banjir. b. Kelompok tenaga lapangan Dalam pelaksanaan pengendalian banjir, dibutuhkan petugas lapangan dalam jumlah cukup, utamanya untuk kegiatan pemantauan dan tindakan turun tangan. Sarana dan Prasarana Peralatan dan bahan dalam rangka pengendalian banjir terdiri dari: peralatan hidrologi dan hidrometri (antara lain: peralatan klimatologi, AWLR, ARR, extensometer); peralatan komunikasi (antara lain: radio komunikasi, telepon, faksimili); alat-alat berat dan transportasi (antara lain: bulldozer, excavator, truk); perlengkapan kerja penunjang (antara lain: sekop, gergaji, cangkul, pompa air); perlengkapan untuk evakuasi (antara lain: tenda darurat, perahu karet, dapur umum, obat obatan); bahan banjiran (a.l. karung plastik, bronjong kawat, bambu, dolken kayu). Dana Dalam pengendalian banjir, diperlukan alokasi dana yang diupayakan selalu tersedia. Dana yang diperlukan tersebut harus dialokasikan sebagai dana cadangan yang bersumber dari APBN, APBD, atau sumber dana lainnya. Dana cadangan disediakan sesuai ketentuan yang berlaku. Koordinasi Lembaga Koordinasi Berkaitan dengan pengendalian banjir, lembaga koordinasi yang ada adalah Tim Penanggulangan Bencana Alam. Pada tingkat nasional adalah Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), pada tingkat provinsi adalah BPBD provinsi (jika belum dibentuk dikoordinir oleh Satkorlak PB), dan pada tingkat kabupaten/kota adalah BPBD kabupaten/kota (jika tidak dibentuk dikoordinir oleh Satlak PB). Obyek yang dikoordinasikan dalam pengendalian serta penanggulangan banjir dapat dipisahkan menjadi tahapan sebelum banjir, saat banjir, dan sesudah banjir. Sebelum Banjir a. Perencanaan rute evakuasi dan tempat penampungan penduduk. b. Perencanaan program penyelamatan dan pertolongan kepada masyarakat. c. Perencanaan rute pengiriman material penanggulangan pada tempat-tempat kritis. d. Perencanaan rute pengiriman logistik kepada masyarakat. e. Perencanaan jenis dan jumlah bahan serta peralatan banjiran. f. Penyiapan sarana dan prasarana pendukung serta Sumberdaya Manusia. Saat Banjir a. Evakuasian penduduk sesuai dengan prosedur. b. Memberikan bantuan kepada penduduk. Sesudah Banjir a. Pemulihan kembali pemukiman penduduk, prasarana umum, bangunan pengendali banjir, dan lain-lain. b. Pengembalian penduduk ke tempat semula. c. Pengamatan, pendataan kerugian dan kerusakan banjir. Mekanisme Koordinasi Koordinasi dalam pengendalian banjir dilakukan secara bertahap melalui BPBD kabupaten (Satlak PB), BPBA, dan BNPB. Dalam forum koordinasi tersebut, dilakukan musyawarah untuk memutuskan sesuatu yang sebelumnya mendengarkan pendapat dari anggota yang mewakili instansi terkait.

Sistem Pelaporan Dinas/Instansi/Badan hukum pengelola wilayah sungai melaporkan hal-hal sebagai berikut: a. karakteristik banjir (antara lain: hidrologi banjir, peta daerah rawan banjir, banjir bandang); b. kejadian banjir (antara lain: waktu, lokasi, lama dan luas genangan banjir); c. kerugian akibat banjir (antara lain: korban jiwa, harta benda, sosial ekonomi); d. kerusakan (antara lain: sarana dan prasarana, permukiman, pertanian, perikanan, lingkungan); e. penanggulangan darurat; dan f. usulan program pemulihan secara menyeluruh. Laporan tersebut di atas disampaikan kepada Bupati/Walikota/Gubernur/Menteri sesuai dengan jenis dan tingkatannya. Metode Pemantauan Banjir 1. Pemantauan Kondisi Cuaca (Curah Hujan)

Berdasarkan pemantauan liputan awan dan peluang hujan harian dari citra MTSAT, terlihat bahwa sejak tanggal 20-23 Desember 2006 di Provinsi NAD berpeluang hujan lebat (Gambar 14). Air hujan dalam kurun waktu tersebut kemungkinan besar terakumulasi, sehingga memicu terjadinya banjir yang puncaknya terjadi pada tanggal 23 Desember 2006. Sejak tanggal 24-26 Desember 2006, awan bergerak ke arah timur dan selatan. Di Provinsi NAD, kondisi liputan awan mengalami penurunan dan kembali dalam kondisi normal (Gambar 5 7). Namun demikian, pada periode mendatang, kemungkinan besar akan terulang lagi kondisi serupa. Pemantauan curah harian dari Qmorph menunjukkan kecenderungan yang sama (Gambar 813). Terlihat bahwa sejak tanggal 21-23 Desember 2006, wilayah Provinsi NAD mempunyai curah hujan pada kisaran 10175 mm/hari. Puncak curah hujan terjadi pada tanggal 23 Desember 2006, yaitu mencapai 175 mm/hari, sedangkan pada tanggal 24 dan 25 Desember 2006 tidak terjadi hujan. 2. Pemantauan Kondisi Morfologi

Berdasarkan analisis dari data DEM_SRTM dan LANDSAT-7 ETM+, diketahui bahwa lokasi banjir merupakan daerah dengan morfologi dataran aluvial yang luas dengan kemiringan 03 %. Daerah perbukitan denudasional yang luas memanjang ke arah selatan - barat laut. Memperhatikan kondisi geomorfologinya, perbukitan denudasional merupakan daerah yang mempunyai potensi longsor, sedangkan di bagian bawah (dataran) merupakan daerah yang berpotensi banjir. Gambar 14 merupakan citra DEM-SRTM yang menggambarkan kondisi morfologi secara regional di Provinsi NAD dan lebih spesifik di daerah sekitar lokasi banjir. Gambar 15-17 memperlihatkan lokasi banjir berturut-turut di wilayah Kabupaten Aceh Tamiang dan Aceh Timur, Kabupaten Bireun dan Aceh Utara, serta Kabupaten Gayo Lues. 3. Pemantauan Kondisi Hidrologi Aliran Sungai Di Provinsi NAD, terdapat sekitar 55 sistem Daerah Aliran Sungai (DAS). Banjir yang terjadi di Aceh sangat dipengaruhi oleh kondisi DAS, terutama morfologi DAS dan penutupan lahan. Lokasi banjir yang terjadi merupakan bagian dari sistem DAS Kr. Jambo Aye, S. Tamiang, Kr. Tripa, Kr. Peusangan, Kr. Peureulak, Kr. Mane, Kr. Keureuteu, Kr. Peudada, Kr. Bayeun, Kr. Langsa, Kr. Pase, Kr. Idi Reyeuk, Kr. Piadah, Kr. Pandrah, dan Kr. Jeungki. DAS yang paling luas adalah Kr. Jambe Aye, Kr. Peusangan, dan S. Tamiang. Berdasarkan data citra Landsat tahun 2002 dan 2006 terindikasi adanya lahan-lahan terbuka yang terdapat pada daerah hulu DAS (Gambar 18-20). Sumber: Laporan Pemantauan Bencana Banjir Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (Desember 2006). Pusat Pengembangan Pemanfaatan dan Teknologi Penginderaan Jauh. LAPAN Penyebab Terjadinya Tanah Longsor Pada prinsipnya, tanah longsor terjadi bila gaya pendorong pada lereng lebih besar daripada gaya penahan. Gaya penahan umumnya dipengaruhi oleh kekuatan batuan dan kepadatan tanah, sedangkan gaya pendorong dipengaruhi oleh besarnya sudut lereng, air, beban, serta berat jenis tanah/batuan.

TAHAPAN MITIGASI BENCANA TANAH LONGSOR Pemetaan Menyajikan informasi visual tentang tingkat kerawanan bencana alam geologi di suatu wilayah, sebagai masukan kepada masyarakat dan atau pemerintah kabupaten/kota dan provinsi sebagai data dasar untuk melakukan pembangunan wilayah agar terhindar dari bencana.. Pemeriksaan Melakukan penyelidikan pada saat dan setelah terjadi bencana, sehingga dapat diketahui penyebab dan cara penaggulangannya. Pemantauan Pemantauan dilakukan di daerah rawan bencana, pada daerah strategis secara ekonomi dan jasa, agar diketahui secara dini tingkat bahaya, oleh pengguna dan masyarakat yang bertempat tinggal di daerah tersebut. Sosialisasi Memberikan pemahaman kepada Pemerintah Provinsi /Kabupaten /Kota atau Masyarakat umum, tentang bencana alam tanah longsor dan akibat yang ditimbulkannnya. Sosialisasi dilakukan dengan berbagai cara antara lain, mengirimkan poster, booklet, dan leaflet atau dapat juga secara langsung kepada masyarakat dan aparat pemerintah Pemeriksaan bencana longsor Bertujuan mempelajari penyebab, proses terjadinya, kondisi bencana dan tata cara penanggulangan bencana di suatu daerah yang terlanda bencana tanah longsor. Gejala Umum Tanah Longsor

Munculnya retakan-retakan di lereng yang sejajar dengan arah tebing. Biasanya terjadi setelah hujan. Munculnya mata air baru secara tiba-tiba. Tebing rapuh dan kerikil mulai berjatuhan.

Tanah Longsor Tanah longsor merupakan jenis gerakan tanah. Tanah longsor sendiri merupakan gejala alam yang terjadi di sekitar kawasan pegunungan. Semakin curam kemiringan lereng suatu kawasan, semakin besar pula kemungkinan terjadi longsor. Longsor terjadi saat lapisan bumi paling atas dan bebatuan terlepas dari bagian utama gunung atau bukit. Pada dasarnya sebagian besar wilayah di Indonesia merupakan daerah perbukitan atau pegunungan yang membentuk lahan miring. Lahan atau lereng yang kemiringannya melampaui 20 umumnya berbakat untuk bergerak atau longsor. Tapi tidak selalu lereng atau lahan yang miring berpotensi untuk longsor. Secara garis besar faktor penyebab tanah longsor sebagai berikut. 1) Faktor alam a) Kondisi geologi antara lain batuan lapuk, kemiringan lapisan tanah, gempa bumi dan letusan gunung api. b) Iklim yaitu pada saat curah hujan tinggi. c) Keadaan topografi yaitu lereng yang curam. 2) Faktor manusia a) Pemotongan tebing pada penambangan batu di lereng yang terjal. b) Penimbunan tanah di daerah lereng. c) Penebangan hutan secara liar di daerah lereng. d) Budidaya kolam ikan di atas lereng. e) Sistem drainase di daerah lereng yang tidak baik.

f) Pemompaan dan pengeringan air tanah yang menyebabkan turunnya level air tanah. g) Pembebanan berlebihan dari bangunan di kawasan perbukitan. Usaha mitigasi bencana tanah longsor berarti segala usaha untuk meminimalkan akibat terjadinya tanah longsor. Langkah-langkah yang dilakukan untuk menekan bahaya tanah longsor dibagi menjadi tiga, yaitu: 1) Tahap awal atau tahap preventif Tahap awal dalam upaya meminimalkan kerugian akibat bencana tanah longsor adalah sebagai berikut. a) Mengidentifikasi daerah rawan dan melakukan pemetaan. b) Penyuluhan pencegahan dan penanggulangan bencana alam dengan memberikan informasi mengenai bagaimana dan mengapa tanah longsor. c) Pemantauan daerah rawan longsor. d) Perencanaan pengembangan sistem peringatan dini di daerah rawan bencana. e) Menghindari bermukim atau mendirikan bangunan di tepi lembah sungai terjal. f) Menghindari melakukan penggalian pada daerah bawah lereng terjal yang akan mengganggu kestabilan lereng sehingga mudah longsor. g) Menghindari membuat sawah baru dan kolam pada lereng yang terjang karena air yang digunakan akan memengaruhi sifat fisik lereng. Lereng menjadi lembek dan gembur sehingga tanah mudah bergerak. h) Menyebarluaskan informasi bencana gerakan tanah melalui berbagai media sehingga masyarakat mengetahui. 2) Tahap bencana Usaha yang perlu dilakukan ketika suatu daerah terkena bencana tanah longsor antara lain berikut ini. a) Menyelamatkan warga yang tertimpa musibah. b) Pembentukan pusat pengendalian atau crisis center. c) Evakuasi korban ke tempat yang lebih aman. d) Pendirian dapur umum, pos-pos kesehatan, dan penyediaan air bersih. e) Pencegahan berjangkitnya wabah penyakit. f) Evaluasi, konsultasi, dan penyuluhan. 3) Tahap pascabencana Setelah bencana tanah longsor terjadi, bukan berarti permasalahan selesai, tetapi masih ada tahapan yang perlu dilakukan untuk mengurangi jumlah kerugian, yaitu: a) Mengupayakan mengembalikan fungsi hutan lindung seperti sediakala. b) Mengevaluasi dan memperketat studi Amdal pada kawasan vital yang berpotensi menyebabkan bencana. c) Penyediaan lahan relokasi penduduk yang bermukim di daerah bencana, dan di sepanjang bantaran sungai. d) Normalisasi area penyebab bencana. e) Rehabilitasi sarana dan prasarana pendukung kehidupan masyarakat yang terkena bencana alam secara permanen. f) Menyelenggarakan forum kerja sama antardaerah dalam penanggulangan bencana. Para ilmuwan mengkategorikan bencana tanah longsor sebagai salah satu bencana geologi yang paling bisa diperkirakan. Ada tiga tanda untuk memantau kemungkinan terjadinya tanah longsor yaitu: 1) Keretakan pada tanah yang berbentuk konsentris (terpusat) seperti lingkaran atau paralel dan lebarnya beberapa sentimeter dengan panjang beberapa meter. Bentuk retakan dan ukurannya yang semakin lebar merupakan parameter ukur umum semakin dekatnya waktu longsor. 2) Penampakan runtuhnya bagian-bagian tanah dalam jumlah besar. 3) Kejadian longsor di satu tempat menjadi pertanda kawasan tanah longsor lebih luas lagi.