Anda di halaman 1dari 7

Pengertian minat Minat diartikan sebagai kehendak, keinginan atau kesukaan (Kamisa,1997 : 370).

Minat adalah sesuatu yang pribadi dan berhubungan erat dengan sikap. Minat dan sikap merupakan dasar bagi prasangka, dan minat juga penting dalam mengambil keputusan. Minat dapat menyebabkan seseorang giat melakukan menuju ke sesuatu yang telah menarik minatnya. (Gunarso,1995 : 68). Minat merupakan sumber motivasi yang mendorong orang untuk melakukan apa yang mereka inginkan bila mereka bebas memilih (Hurlock, 1995 : 144). Minat terbagi menjadi 3 aspek, yaitu: (Hurlock, 1995 : 117) a) Aspek Kognitif Berdasarkan atas pengalaman pribadi dan apa yang pernah dipelajari baik di rumah, sekolah dan masyarakat serta dan berbagai jenis media massa. b) Aspek Afektif Konsep yang membangun aspek kognitif, minat dinyatakan dalam sikap terhadap kegiatan yang ditimbulkan minat. Berkembang dari pengalaman pribadi dari sikap orang yang penting yaitu orang tua, guru dan teman sebaya terhadap kegiatan yang berkaitan dengan minat tersebut dan dari sikap yang dinyatakan atau tersirat dalam berbagai bentuk media massa terhadap kegiatan itu. c) Aspek Psikomotor Berjalan dengan lancar tanpa perlu pemikiran lagi, urutannya tepat.Namun kemajuan tetap memungkinkan sehingga keluwesan dan keunggulan meningkat meskipun ini semua berjalan lambat. Macam minat Minat dibedakan menjadi 2 yaitu: (Witherington, 1999 : 26) a) Minat primitif Disebut pula minat biologis, yaitu minat yang berkisar soal makanan dan kebebasan aktifitas. b) Minat kultural Disebut juga minat sosial yaitu minat yang berasal dari perbuatan yang lebih tinggi tarafnya. Kriteria Minat Menurut Nursalam (2003), minat seseorang dapat digolongkan menjadi a) Rendah Jika seseorang tidak menginginkan obyek minat b) Sedang Jika seseorang menginginkan obyek minat akan tetapi tidak dalam waktu segera. c) Tinggi Jika seseorang sangat menginginkan obyek minat dalam waktu segera. Beberapa kondisi yang mempengaruhi minat a) Status ekonomi

Apabila status ekonomi membaik, orang cenderung memperluas minat mereka untuk mencakup hal yang semula belum mampu mereka laksanakan. Sebaliknya kalau status ekonomi mengalami kemunduran karena tanggung jawab keluarga atau usaha yang kurang maju, maka orang cenderung untuk mempersempit minat mereka. b) Pendidikan Semakin tinggi dan semakin formal tingkat pendidikan yang dimiliki seseorang maka semakin besar pula kegiatan yang bersifat intelek yang dilakukan. Seperti yang dikutip Notoatmojo, 1997 dari L.W. Green mengatakan bahwa Jika ada seseorang yang mempunyai pengetahuan yang baik, maka ia mencari pelayanan yang lebih kompeten atau lebih aman baginya. Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai pelayanan kesehatan akan mempengaruhi pemanfaatan fasilitas pelayanan yang ada sehingga berpengaruh pada kondisi kesehatan mereka. c) Tempat tinggal Dimana orang tinggal banyak dipengaruhi oleh keinginan yang biasa mereka penuhi pada kehidupan sebelumnya masih dapat dilakukan atau tidak. Faktor faktor utama yang mempengaruhi minat seseorang (Yuwono, 2001 : 40) a) Kondisi pekerjaan Tempat kerja yang memiliki suasana yang menyenangkan dengan didukung oleh kerja sama yang profesional, saling bantu dapat meningkatkan produksi. b) Sistem pendukung Dalam bekerja sangat diperlukan sistem pendukung yang memadai bagi para pekerjanya sehingga diperoleh hasil produksi yang maksimal, misalnya fasilitas kendaraan, perlengkapan pekerjaan yang memadai, kesempatan promosi, kenaikan pangkat/kedudukan. c) Pribadi pekerja Semangat kerja, pandangan pekerja terhadap pekerjaannya, kebanggan memakai atribut bekerja, sikap terhadap pekerjaannya. Cara menimbulkan minat Minat dapat ditimbulkan dengan cara: (Effendi dan Praja, 1993 : 72) a) Membangkitkan suatu kebutuhan. b) Menghubungkan dengan pengalaman yang lampau. c) Memberikan kesempatan untuk mendapat hasil yang lebih baik.

Manfaat ada di PSAK

Minat..

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001) minat yaitu kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu. Menurut Widyastuti, dkk (2004) minat adalah keinginan yang didorong oleh suatu keinginan setelah melihat, mengamati dan membandingkan serta mempertimbangkan dengan kebutuhan yang diinginkannya. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pada minat ini, yaitu: a. Minat merupakan faktor yang mempengaruhi perilaku seseorang. b. Minat menunjukkan seberapa keras seseorang berani mencoba melakukan sesuatu. c. Minat menunjukkan seberapa banyak upaya yang diusahakan seseorang untuk melakukan sesuatu. d. Minat menunjukkan seberapa suka seseorang terhadap sesuatu. Widyastuti, Suryaningsum dan Juliana. 2004. Pengaruh Motivasi terhadap Minat Mahasiswa Akuntansi Untuk Mengikuti Pendidikan Profesi Akuntansi. Simposium Nasional Akuntansi VII.

Persepsi KEmudahan Gilang Persepsi terhadap kemudahan menggunakan internet adalah persepsi nasabah bank terhadap kemampuan mereka dalam menggunakan internet yang diukur melalui indikator: a. Efisiensi waktu b. Kemampuan melakukan transaksi c. Kemudahan operasional internet banking. d. Penggunaan yang fleksibel Minat pemanfaatan teknologi berhubungan dengan cara perusahaan merencanakan dan mengatur teknologi informasi dalam mencapai manfaat potensial dan efektif (Croteau dan Bergeron, 1992). Teknologi informasi diterapkan sesuai dengan strategi bisnis. Oleh karenanya, perusahaan dapat mengadopsi berbagai tipe pemanfaatan

teknologi tergantung pada strategi bisnisnya. Persepsi tentang kemudahan dalam menggunakan teknologi informasi merupakan faktor yang dominan untuk menjelaskan persepsi dari manfaat dan penggunaan suatu sistem. Persepsi tentang manfaat mempunyai pengaruh yang kuat terhadap penggunaan sistem. Pemanfaatan teknologi berhubungan dengan perilaku menggunakan teknologi tersebut untuk

menyelesaikan tugas. Thompson et al melakukan penelitian terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi pemanfaatan personal computer dengan menggunakan teori perilaku yang diajukan oleh Triandis (1980). Pemanfaatan teknologi informasi merupakan manfaat yang diharapkan oleh pengguna sistem informasi dalam melaksanakan tugasnya, berdasarkan intensitas pemanfaatan, pengukurannya

frekuensi pemanfaataan, dan jumlah aplikasi atau

perangkat lunak yang digunakan.

Persepsi Manfaat

UKURAN PERUSAHAAN
Perusahaan yang besar memiliki shareholder dalam jumlah banyak dan tersebar luas sehingga dapat meningkatkan agency cost (Hossain et al., 1995 dalam Oyelere et al., 2003). Watts dan Zimmermann (1978, dalam Marston dan Polei, 2004) menyatakan bahwa terkait dengan teori agensi, perusahaan besar memiliki agency cost yang besar karena perusahaan besar harus menyampaikan pelaporan keuangan yang lengkap kepada shareholders sebagai wujud pertanggungjawaban manajemen. Agency cost tersebut berupa biaya penyebarluasan laporan keuangan, termasuk biaya cetak dan biaya pengiriman laporan keuangan kepada pihak-pihak yang dituju oleh perusahaan (Oyelere et al., 2003). Praktik IFR dalam penyebarluasan laporan keuangan merupakan usaha untuk mengurangi besarnya agency cost. Marston dan Polei (2004) menyatakan bahwa perusahaan yang lebih besar memiliki tingkat kompleksitas yang tinggi sehingga investor akan membutuhkan informasi keuangan perusahaan yang lebih banyak untuk membuat keputusan investasi yang lebih efektif. Lebih lanjut, terkait dengan political cost, Marston Polei (2004) menjelaskan bahwa perusahaan besar lebih mudah diawasi kegiatannya di pasar modal dan di lingkungan sosial pada umumnya, sehingga memberi tekanan pada perusahaan untuk melakukan pelaporan keuangan yang lebih lengkap dan luas melalui IFR. Hasil penelitian Creven Marston (1999), sebagaimana dikutip Marston dan Polei (2004) menunjukkan hubungan yang signifikan antara ukuran perusahaan dengan IFR. Dengan demikian hipotesis yang diajukan: H1: Ukuran perusahaan berpengaruh positif terhadap IFR

2.1.4. Skala Usaha Skala usaha merupakan kemampuan perusahaan dalam mengelola usahanya dengan melihat berapa jumlah karyawan yang dipekerjaan dan berapa besar pendapatan yang diperoleh perusahaan dalam satu periode akuntansi (Nicholls dan Holmes, 1988). Jumlah pendapatan atau penjualan yang dihasilkan perusahaan dapat

menunjukkan perputaran asset atau modal yang dimiliki oleh perusahaan, sehingga semakin besar pendapatan atau penjualan yang diperoleh perusahaan semakin besar pula tingkat kompleksitas perusahaan dalam menggunakan informasi akuntansi. Jumlah karyawan dapat menunjukkan berapa kapasitas perusahaan dalam mengoperasionalkan usahanya, semakin besar jumlah karyawan semakin besar tingkat kompleksitas perusahaan, sehingga informasi akuntansi sangat dibutuhkan. 2.2.2. Pengaruh Skala Usaha terhadap Penggunaan Informasi Akuntansi oleh Holmes dan Nicholls, (1988) Skala usaha berpengaruh positif terhadap tingkat penyiapan dan penggunaan informasi akuntansi (Holmes dan Nicholls, 1988). Hasil penelitian mereka menyatakan bahwa tingkat informasi akuntansi yang disediakan tergantung pada skala usaha, yang diukur dengan jumlah pendapatan atau hasil penjualan dan jumlah karyawan. Apabila skala usaha meningkat, maka proporsi perusahaan dalam penyediaan dan penggunaan informasi akuntansi statutori, anggaran dan informasi tambahan juga meningkat. Hasil penelitian Holmes dan Nicholls (1988) ini dapat digunakan sebagai dasar hipotesis dalam penelitian ini bahwa skala usaha berpengaruh terhadap penggunaan informasi akuntansi.

Skala usaha juga berhubungan positif terhadap tingkat penyediaan informasi akuntansi. Hal ini dapat dipahami bahwa semakin besar perusahaan, maka semakin kompleks kebutuhan perusahaan akan informasi yang dibutuhkan. Tingkat informasi akuntansi yang disediakan tergantung pada skala usaha, apabila skala usaha meningkat, maka proporsi perusahaan dalam penyediaan informasi akuntansi juga meningkat, (Holmes dan Nicholls, 1988 dan 1999; Murniati, 2002; Grace, 2003 dan Hadiyahfitriyah, 2006).

SDM Penggunaan variabel dalam penelitian ini mengacu pada faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan pelanggan atas suatu produk. Kepuasan Pelanggan dalam hal ini dapat disamakan dengan persepsi pelaku UMKM , sedangkan produk yang dimaksud adalah SAK Etap itu sendiri. Menurut Zeithml (2003:86) menyebutkan bahwa kepuasan pelanggan dipengaruhi oleh persepsi terhadap kualitas jasa/pelayanan termasuk di dalamnya adalah kualitas produk..

Masing-masing variabel tersebut memiliki definisi operasional yang berbeda-beda. Difinisi operasional ini menjelaskan cara tertentu yang digunakan oleh peneliti dalam mengambarkan suatu contruct sehingga akan memudahkan peneliti lainya dalam memahami hasil penelitian atau mengembangkan cara pengukuran yang lebih baik. Definisi operasional dari variabelvariabel di atas adalah sebagai berikut : Variabel Kehematan Variabel ini mengandung difinisi operasional bahwa proses penyusunan laporan keuangan dengan mengadopsi SAK Etap haruslah lebih hemat dalam artian tidak menelan biaya yang relative besar dari pada jika sak umum Variabel kemudahan Variabel ini mengandung difinisi operasional bahwa penyusunan laporan keuangan dengan mengadopsi SAK Etap haruslah lebih mudah jika dibannding mengunakan SAK Umum. Hasil 19,4% memberikan persepsi sangat setuju lbh hemat 46,3 % setuju 34,3% ragu2,tidak setuju, sangat tidak setuju 46,3 setuju bah 26,3 ragu. 1 hemat 1SAK ETAP CALP a. lokasi dan bentuk hokum perusahaan serta alamat kantor yang terdaftar b. Penjelasan mengenai jenis usaha dan kegiatan utamanya SAK Umum a. nama perusahaan suatu asosiasi astau perserikatan atau perkumpulan b. nama anggota direksi dan komisaris c. Jumlah karyawan pada akhir tahun atau rata-rata jumlah karyawan selama tersebut Laporan Laba Rugi Etap A. Pendapatan

B. C. D. E. Umum a. b. c. d. e.

Beban keuangan Bagian laba atau rugi dari investasi Beban Pajak Laba atau Rugi Bersih

Laba rugi Usaha Beban pinjaman Laba rugi dari aktivitas normal perusahaan Pos luar biasa Hak minoritas

MUdah Langsung dan tidak langsung Imbalan kerja Kebijakan Akuntansi Normal

13.1 sangat setuju hemat. Bedasarkan hasil wawancara karena jika terjadi kesalahn adalam penaksiran umur ekonomis saat melakukan penyusutan aktiva tetap maka respoden hanya perlu mengecek ulang tanpa harus menganti metode penyusutan

Sampel dipilih dengan mengunakan metode quota sampling, instrumen penelitian kuisioner dan wawancara mendalam (indepth interview).untuk menguji reabilitas kuesioner tersebut mak digunakan cronbrach alpha, sedangkan untuk menguji validitas mengunakan korelasi karl pearson.

Zeithaml, ValarieA. 2003. Services Marketing: Third Edition. New York: The Mc Graw-Hill Companies.Inc.