Anda di halaman 1dari 8

Teori Organisasi dan Manajemen Sentralisasi Disusun Oleh :fredy anggara

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung 2012

SENTRALISASI

a.

Definisi Sentralisasi Sentralisasi adalah memusatkan seluruh wewenang atas segala urusan yang menyangkut pemerintahan kepada tingkat pusat. Sentralisasi banyak digunakan pada pemerintahan lama di Indonesia sebelum adanya otonomi daerah. Bahkan pada zaman kerajaan, pemerintahan kolonial, maupun di zaman

kemerdekaan.Istilah sentralisasi sendiri sering digunakan dalam kaitannya dengan kontrol terhadap kekuasaan dan lokasi yang berpusat pada satu titik. Secara terminology sentralisasi adalah 1. Menurut B.N. Marbun sentralisasi adalah pola kenegaraan yang memusatkan seluruh pengambilan keputusan politik ekonomi, social di satu pusat. 2. Sentralisasi adalah seeluruh wewenang terpusat pada pemerintah pusat Berdasarkan defenisi diatas bisa kita interpretasikan bahwa sistem sentralisasi itu adalah bahwa seluruh decition (keputusan/Kebijakan) dikeluarkan oleh pusat, daerah tinggal menunggu instruksi dari pusat untuk melaksanakan kebijakan-kebijakan yang telah digariskan menurut uu. menurut ekonomi manajemen sentralisasi adalah memusatkan semua wewenang kepada sejumlah kecil manager atau yang berada di suatu puncak pada sebuah struktur organisasi. sentralisasi banyak digunakan pemerintah sebelum otonomi daerah. kelemahan sistem sentralisasi adalah dimana sebuah kebijakan dan keputusan pemerintah daerah dihasilkan oleh orang-orang yang berada di pemerintah pusat sehingga waktu untuk memutuskan suatu hal menjadi lebih lama b. Kelebihan Sentralisasi Secara teoritis, sentralisasi memiliki keunggulan.Keunggulannya adalah: 1. organisasi menjadi lebih ramping dan efisien. Seluruh aktivitas organisasi terpusat sehingga pengambilan keputusan lebih mudah. 2. perencanaan dan pengembangan organisasi lebih terintergrasi. Tidak perlu jenjang koordinasi yang terlalu jauh antara unit pengambilan keputusan dan yang melaksanakan atau terpengaruh oleh pengambilan keputusan tersebut 3. .peningkatan resources sharing dan sinergi. Sumberdaya dapat dikelola secara efisien karena dilakukan secara terpusat. 4. pengurangan redundancies asset dan fasilitas lain. Satu set dapat dipergunakan secara bersama-sama tanpa harus menyediakan asset yang sama untuk pekerjaan yang berbeda-beda.

5. perbaikan koordinasi. Koordinasi menjadi lebih mudah karena adanya unity of command. 6. pemusatan expertise. Keahlian dari anggota organisasi dapat dimanfaatkan secara maksimal karena pimpinan dapat memberi wewenang. c. Kelemahan Sentralisasi 1. kemungkinan penurunan kecepatan pengambilan keputusan dan kualitas keputusan .pengambilan keputusan dengan pendekatan sentralisasi seringkali tidak mempertimbangkan factor-factor yang sekiranya berpengaruh terhadap pengambilan keputusan tersebut. 2. demotivasi dan disinsentif bagi pengembangan unit organisasi. Anggota organisasi sulit mengembangkan potensi dirinya karena tidak ada wahana dan dominasi pimpinan yang terlalu tinggi. 3. penurunan kecepatan untuk merespon perubahan lingkungan. Organisasi sangat bergantung pada daya respon sekelompok orang saja. 4. peningkatan kompleksitas pengelolaan. Pengelolaan organisasi akan semakin rumit karena banyaknya masalah pada level unit organisasi yang di bawah. 5. perspektif luas, tetapi kurang mendalam. Pimpinan organisasi akan mengambil keputusan berdasarkan perpektis organisasi secara keseluruhan tapi tidak atau jarang mempertimbangkan implementasinya akan seperti apa. d. Dampak Positif dan Negatif Sentralisasi Segi Ekonomi Dari segi ekonomi, efek positif yang di berikan oleh sistem sentralisasi ini adalah perekonomian lebih terarah dan teratur karena pada sistem ini hanya pusat saja yang mengatur perekonomian. Sedangkan dampak negatifnya adalah daerah seolah-olah hanya di jadikan sapi perahan saja dan tidak dibiarkan mengatur kebijakan perekonomiannya masing- masing sehingga terjadi pemusatan keuangan pada Pemerintah Pusat.

Segi Sosial Budaya Dengan di laksanakannya sistem sentralisasi ini, perbedaan-perbadaan kebudayaan yang dimiliki bangsa Indonesia dapat di persatukan.Sehingga, setiap daerah tidak saling menonjolkan kebudayaan masing-masing dan lebih menguatkan semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang di miliki bangsa Indonesia . Sedangkan dampak negatif yang di timbulkan sistem ini adalah pemerintah pusat begitu dominan dalam menggerakkan seluruh aktivitas negara. Dominasi pemerintah pusat terhadap pemerintah daerah telah menghilangkan eksistensi daerah sebagai tatanan pemerintahan lokal yang memiliki keunikan dinamika sosial budaya tersendiri, keadaan ini dalam jangka waktu yang panjang mengakibatkan ketergantungan kepada pemerintah pusat yang pada akhirnya mematikan kreasi dan inisiatif lokal untuk membangun lokalitasnya.

Segi Keamanan dan Politik Dampak positif yang dirasakan dalam penerapan sentralisasi ini adalah keamanan lebih terjamin karena pada masa di terapkannya sistem ini, jarang terjadi konflik antar daerah yang dapat mengganggu stabilitas keamanan nasional Indonesia. Tetapi, sentralisasi juga membawa dampak negatif dibidang ini. Seperti menonjolnya organisasi-organisasi kemiliteran. Sehingga, organisasi-organisasi militer tersebut mempunyai hak yang lebih daripada organisasi lain. Dampak positif yang dirasakan di bidang politik sebagai hasil penerapan sistem sentralisasi adalah pemerintah daerah tidak harus pusing-pusing pada permasalahan yang timbul akibat perbedaan pengambilan keputusan, karena seluluh keputusan dan kebijakan dikoordinir seluruhnya oleh pemerintah pusat. Sehingga

keputusan yang dihasilkan dapat terlaksana secara maksimal karena pemerintah daerah hanya menerima saja. Sedangkan dampak negatifnya adalah terjadinya kemandulan dalam diri daerah karena hanya terus bergantung pada keputusan yang di berikan oleh pusat. Selain itu, waktu yang dihabiskan untuk menghasilkan suatu keputusan atau kebijakan memakan waktu yang lama dan menyebabkan realisasi dari keputusan tersebut terhambat. e. konsekwensi Sentralisasi Konsekwensi dari sistem sentralisasi adalah dimana sebuah kebijakan dan keputusan pemerintah daerah dihasilkan oleh orang-orang yang berada di pemerintah pusat sehingga waktu untuk memutuskan suatu hal menjadi lebih lama. Selain itu juga keputusan dan kebijan yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat juga tidak tepat sasaran sehingga perkembangan pembnagunan yang diharapakn jauh dari kenyataan sehingga berinplikasi kepada pembanguna yang tidak merata pembagian hasil pendapatan daerah/ dana yang berimbang dari pusat juga tidak layak dan tidak sesuai. Sentralisasi juga akan mendapatkan kendala dan kesulitan dalam hal pengawasan

Contoh Kasus Sentralisasi,Perkebunan dan Kehidupan Petani Meskipun Peninggalan Orde Baru Seharusnya Pusat Tidak Lepas Tangan

MUNGKIN ini salah satu contoh sentralisasi pemerintahan dan kebijakan yang berakhir buruk. Untuk menjadi contoh, ini pun bisa sebagai salah satu contoh peninggalan buruk Orde Baru hasil persekongkolan pemerintah pusat dengan pengusaha yang dekat dengan kekuasaan. Bagaimana tidak? Pemerintah pusat yang punya program, tetapi nyatanya, pemerintah kabupaten yang harus menanggung akibatnya. Bupati Luwu Utara (Lutra) Luthfi A Mutty jelas kesal betul dengan sikap pemerintah yang lepas tangan atas program transmigrasi yang kebetulan lokasinya berada di daerahnya. Sejak awal, dan di atas kertas, program ini tampak begitu bagus dan menjanjikan. Dengan program bernama pola Plasma Inti Rakyat (PIR) sejumlah keluarga transmigran didatangkan ke Lutra (awalnya Luwu). Kepada keluarga transmigran ini, mereka dijanjikan untuk mengelola kebun kelapa sawit, yang mulai dari pembibitan, penanaman, hingga pascapanen akan dikerjasamakan dengan sejumlah pengusaha. Salah satu perusahaan tersebut adalah milik Ari Sigit, cucu mantan Presiden Soeharto. "Memang awalnya sempat dilakukan acara penanaman perdana atau pembibitan. Tapi, itu memang hanya acara seremonial belaka, yang bibitnya pun diambil paksa dari PT Perkebunan. Selanjutnya, tidak ada lagi tindak lanjutnya. Mungkin sejak awal maksudnya hanya akal-akalan saja agar pengusaha bersangkutan dapat memperoleh pinjaman bank atau bantuan luar negeri, apalagi dengan alasan untuk kepentingan ekonomi masyarakat. Tapi sekarang, jadinya apa? Masyarakat yang telantar," kata Luthfi dengan berapi-api. Agaknya rasa kesal juga yang menyebabkan Luthfi akhirnya mencabut izin tiga perusahaan yang hanya datang membawa janji-janji itu. Diakui Luthfi, hal ini terpaksa dilakukan karena hingga masa berlaku izin hampir berakhir, tidak ada kegiatan apa-apa yang dilakukan perusahaan tersebut. Ketiga perusahaan yang dicabut izinnya adalah PT Lolo Persada (10.000 hektar), PT Fajar Multi Darma (17.000 hektar), dan PT Kasimar

Tiar Sembada yang arealnya juga mencapai puluhan ribu hektar. Salah satu perusahaan ini adalah milik Ari Sigit, cucu mantan Presiden Soeharto. Kepala Dinas Tenaga kerja dan Transmigrasi Kabupaten Lutra Hasdullah mengatakan, semula, setelah melihat program PIR ini tidak jalan, pemerintah kabupaten mengubah program PIR menjadi Transmigrasi Umum Perkebunan (Tubun). "Konsep awalnya, ini dipersiapkan untuk mengelola kebun plasma saja, di mana setiap keluarga mendapat 2,5 hektar lahan. Tapi nyatanya, setelah masuk tahun kelima, program ini pun tidak jalan. Yang ada hanya pembibitan, tapi penanaman tidak jalan," ujar Hasdullah. Pemerintah, lanjut Hasdullah, mengubah lagi program ini menjadi transmigrasi umum dan masing-masing keluarga memperoleh dua hektar lahan. Meskipun berganti nama beberapa kali, program ini tetap tidak jalan. Yang lebih disesalkan kemudian, lanjut Luthfi, karena pusat terkesan tidak bertanggung jawab. Akan halnya masyarakat yang telantar ini, sekarang harus menjadi tanggungan pemerintah kabupaten. Hal ini pantas saja karena setelah setahun jaminan hidup untuk transmigran tidak diberikan lagi, pemerintah kabupaten yang kemudian melanjutkan pemberian jaminan hidup ini. Kendatipun ini bukan kewajiban, tapi pemerintah kabupaten tetap melakukan ini mengingat masyarakat butuh makan, sementara tanah garapan yang dijanjikan belum dapat diolah. Sementara itu, untuk mengandalkan tanah garapan seluas setengah hektar yang berada di pekarangan rumah, juga tidak dapat jadi andalan untuk hidup sehari-hari. Untuk 260 keluarga transmigran di Buso, misalnya, Pemerintah Kabupaten Lutra akhirnya menganggarkan dana sebesar ratusan juta rupiah. Dana ini digunakan untuk pengadaan bibit lada dan tanaman lain untuk ditanam masyarakat di pekarangan rumahnya.

DENGAN berbagai hal yang dilakukan Pemerintah Lutra, nyatanya persoalan belum selesai sampai di sini karena para transmigran juga mendesak pemerintah untuk segera menerbitkan sertifikat tanah sesuai dengan yang dijanjikan saat menyetujui mengikuti program tersebut. Memang, Pemerintah Kabupaten Lutra sudah mengupayakan hal ini, misalnya dengan menganggarkan sejumlah dana untuk pengurusan surat tanah secara gratis. Sampai tahun 2003, terhitung sudah 800-an persil yang diterbitkan pemerintah setempat. Lagi-lagi, tidak ada andil pusat di sini. "Kami minta dengan sangat agar pemerintah pusat bertanggung jawab. Pusat jelas telah menelantarkan para transmigran. Pemerintah tidak seharusnya lepas tangan, apalagi dengan mengatakan bahwa saat ini zamannya otonomi daerah. Mereka tetap harus memikirkan persoalan ini karena sejak awal ini program pusat yang dibawa ke daerah dan tidak selesai sampai sekarang. Yang jelas, kami tidak akan sanggup menyelesaikan persoalan ini sendiri apalagi dalam waktu singkat. Butuh waktu lama, sementara transmigran sudah tidak tahan," ujar Luthfi.

Sumber http://hitsuke.blogspot.com/2009/05/sentralisasi-dan-desentralisasi.html Wikipedia sentralisasi dan desentralisasi Indonesia