Anda di halaman 1dari 11

PROSES PENGOLAHAN GULA KRISTAL PUTIH PADA PT. PG RAJAWALI II UNIT SUBANG, JAWA BARAT. 1. STASIUN PENGOLAHAN a.

Stasiun Penggilingan Stasium penggilingan adalah stasiun pada pt rajawali ii yang termasuk dalam bagian instalasi dari perusahaan. Stasiun ini terdiri atas beberapa bagian. Bagian pertama adalah bagian loader bahan baku (tebu) dari luar pabrik ke dalam pabrik. Bagian penerimaan dan loader ini terdiri atas tiga unit pemasukan (feed), yaitu direct feed dari kebun yang terdiri atas dua jenis pemasukan, yaitu truck tipper dan loading tebu dari trailer dengan bantuan alat hilo, serta feeding dari caneyard dengan bantuan cane stacker. Truck tipper adalah teknk loading tebu dari truck dengan menjomplangkan truk pada sebuah alat hidrolik yang diposisikan tepat disamping cane carrier dan dinaikkan pada salah satu sisinya dan membentuk sudut terhadap cane carrier sedemikian sehingga bagian belakang truk menjadi lebih rendah dari bagian depannya dan tebu yang terdapat pada bagian bak truk akan langsung dijatuhkan pada cane carrier (conveyor tebu). Sementara loading tebu dari trailer dilakukan dengan mengaitkan bagian alas dari trailer dengan sebuah kait pada salah satu sisi alas trailer yang selanjutnya kait tersebut akan bergerak naik dan mengungkit bagian alas dari trailer tersebut dan menjatuhkan muatan tebu pada cane table. Cane table adalah meja penerimaan tebu untuk loading dari trailer dan caneyard yang digunakan untuk loading tebu dengan jumlah yang besar sehingga diperlukan penadah sebelum masuk ke cane carrier. Cane table dilengkapi dengan pisau pisau yang dapat digerakkan untuk membawa/mengait tebu yang ada diatasnya masuk ke dalam cane carrier. Cane table memiliki kemiringan tertentu sehingga tebu akan mudah dimasukkan ke dalam cane carrier. Cane table juga memiliki leveller, yaitu alat berbentuk batang yang melintang di atas cane table yang memiliki pisaupisau yang terangkai tegak lurus dengan leveller dan terseusun mengelilingi leveller dengan susunan seperti ulir yang bergerak berlawanan dengan arah tebu masuk.hal ini dimaksudkan untuk mengatur ketinggian tebu yang masuk ke cane table, karena jika tumpukan tebu yang masuk ke cane table terlalu tinggi maka tebu tersebut dapat limpat ke luar dari cane carrier. Teknik loading tebu juga dilakukan dengan loading tebu dari cane yard (stasiun penumpukan tebu yang datang dari kebun) dengan bantuan dorongan dari cane stacker. Cane stacker adalah mobil ganal yang memiliki alat berupa pisau yang memiliki dua garpu bermata banyak yang dapat saling mencapit sehingga bisa membawa tebu dari cane yard masuk ke cane table kedua. Tabu yang masuk ke dalam cane carrier selanjutnya akan dibawa masuk ke dalam cane cutter. Cane cutter adalah alat berupa pisau berputar yang arah putarannya searah dengan arah masuknya tebu sedemikian sehingga kehilangan nira akibat kerusakan fisik bisa diminimalisasi. Pemotongan tebu ini bertujuan untuk memotong tebu menjadi menjadi potongan yang lebih kecil sehingga proses pemerasan air nira tebu dalat lebih mudah dilakukan. Tebu yang sudah dipotong-potong di cane cutter selanjutnya akan masuk kedalam alat bernama unigrator. Unigrator adalah alat penghalus tebu yang memiliki mekanisme kerja seperti menumbuk tebu yang sudah dipotong-potong dalam cane cutter dengan palu-palu berputar. Sepanjang cane carrier antara cane cutter dan unigrator terdapat dua leveller untuk mengatur ketinggian tebu. Setelah tebu keluar dari unigrator, maka cane carrier akan membawa tebu ke dalam cane elevator, yaitu berupa conveyor yang membawa tebu yang akan digiling dengan sudut kemiringan yang sangat tinggi. Stasiun penggilingan pada pt pg rajawali ii memiliki empat unit alat penggiling yang pada setiap alat penggilingnya memiliki 3 buah alat pemeras berupa silinder besar yang berputar dengan lambat dimana ketiganya tersusun saling berhadap-hadapan(?) dengan arah putaran yang saling berlawanan, sehingga akan menghasilkan efek pemerasan pada tebu yang masuk ke penggilingan ketiga silinder pemerahan ini digerakkan oleh turbin berpenggerak uap baru

yang dihasilkan dari boiler (tekanannya 20) sementara uap bekas dari boiler akan dilarikan ke bagian pabrikasi untuk bahan baku uap pada bagian pemurnian, penguapan dan pemasakan. Kecepatan sudut yang masuk ke turbin memiliki kecepatan yang sangat tinggi (>3000 rpm) dan akan diperlambat oleh serangkaian gear box yang memiliki tiga buah kemampuan (high medium dan low) yang selanjutnya kecepatan putar turbin akan diperlambat secara bertahap hingga hanya memliki kecepatan 0,167 rpm/6rpm (?). sementara tekanan dari setiap silinder untuk memeras tebu diatur oleh tekanan dari dua tabug hidrogen yang memiliki tekanan hingga 2500 psi, sedemikian sehingga tiap tiap gilingan akan memiliki tekanan hingga 150-175. Proses penggilingan dimulai dari pemasukan tebu yang sudah halus ke dalam gilingan pertama yang kecepatan masuknya diatur oleh seorang operator yang mengatur kecepatan jalannya cane carrier/elevator yang akan masuk kedalam gilingan. Pengaturan ini dilakukan secara manual, meskipun dapat diatur otomatis, namun diakui bahwa hasil perahan kurang maksimal bila dibandingkan jika diatur secara manual. Operator akan mengamati masuknya tebu lewat bukaan pada cane elevator berupa dua buah jendela kaca yang bisa mengintip kepenuhan dari cane elevator. Bila du ajendela sudah dipenuhi oleh tebu maka operator akan memperlambat masuknya tebu ke dalam gilingan, begitu juga sebaliknya. Tebu yang masuk ke dalam gilingan pertama akan diperas dan nira yang dihasilkan akn langsung dialirkan kedalam cush-cush yang berupa rel yang memiliki penyaring. Nira hasil perahan pertama ini disebut NPP (Nira Perahan Pertama). Selain tebu yang sudah halus, pada gilingan satu juga ditambahkan kapur beningan, yaitu cairan susu kapur dengan tingkat kekentalan rendah hanya 0,2oBe. (macih gak tau kenava ditambain kapru). Kaporit juga ditambahkan pada gilingan satu (untuk membunuh mikroorganisme atau menjernihkan air nira (kali ya)). Hasil ampas dari saringan cush-cush- juga dimasukkan ke gilingan satu untuk digiling bersama. Hasil ampas dari gilingan 1 akan dijadikan unpan (feed) bagi glingan 2 dan pada ampas tesebut juga ditambahkan nira imbibisi dari gilingan 3. Penambahan nira imbibisi ini bertujuan untuk melarutkan nira yang masih berada dalam ampas untuk diperas di gilingan 2. Pada gilingan dua yang menjadi feed adalah ampas dari gilingan 1 yang sudah ditambahkan dengan nira imbibisi dari gilingan 3. Hasil perahan dari gilingan 2 ini selanjutnya akan disebut NPL (Nira Perahan Lanjutan) dan akan digabung dengan NPP untuk dimasukkan ke dalam cush-cush sekat pertama untuk selanjutnya disaring di DSM Screen dan hasil saringan dari NPP dan NPL akan ditampung sebagai nira mentah di dalam Bak penampungan nira mentah. Hasl dari gilingan dua berupa ampas dari gilingan dua yang selanjutnya akan ditambahkan dengan nira imbibisi dan air imbibisi sebagai feed bagi gilingan tiga. Pada gilingan tiga, yang menjadi feed adalah ampas perasan dari gilingan dua yang sudah ditambahkan dengan air imbibisi, nira imbibisi dari gilingan empat, dan penambahan fosfat. Penambahan fosfat dimaksudkan untuk mengikat kotoran yang terdapat dalam nira, namun kenapa ditambahkan di gilingan tiga, bukan di bak penampung nira mentah?Wallahualam bishshawab. Hasil perahan dari gilingan tiga berupa ampas perahan tebu dan nira yang akan dijadikan nira imbibisi pada ampas gilingan 1. Nira dari gilingan tiga, sebelum dipompakan ke ampas gilinhan 1 akan dilewatkan melalui cush-cush dan ampasnyaakan bergabung dengan ampas-ampas lain dan ditransportasikan ke gilingan 1. Oh iya, nama cane conveyor untuk tiap gilingan disebut intermediate carrier. Feed bagi gilingan empat adalah ampas tebu dari gilingan tiga yang sudah ditambahkan dengan air imbibisi. Hasil perahan pada gilingan empat adalah berupa nira yang akan dilarikan ke ampas gilingan dua sebagai nira imbibisi serta bagasse kering yang akan dilarikan ke stasiun boiler yang akan dijadikan sebagai bahan bakar. Cush-cush memiliki bak penampungan dibawahny ayang berguan untuk menampung nira yang sudah disaring di atasnya. Bak penampung ini memiliki tiga sekat, sekat 1 digunakan untuk menampung hasil saringan dari NPP dan NPL (nira dari gilingan 1 dan 2) dan selanjutnya nira pada sekat 1 ini akan di-overflow ke DSM Screen untuk meisahkan antara nira dengan ampas halus, selanjutnya, ampas halus ini akan

dibawa kembali ke dalam cush-cush untuk disaring dan hasil saringannya ditampung dalam sekat 2. Pada sekat 2 juga ditambahkan nira dari gilingan 4 yang selanjutnya akan dipompakan ke ampas gilingan 2 sebagai nira imbibisi, sementara pada sekat 3 berisi nira hasil saringan dari nira gilingan 3 yang disaring di atas cush-cush yang selanjutnya nira ini akan dipompakan ke ampas nira 1 sebagai nira imbibisi. Selanjutnya ampas yang tersaring dari cush-cush akan dibawa ke gilingan 1 untuk diperah lagi (bingung antara sebagai tambahan empas gilingan 1 (digiling di gilingan 2) atau memang digiling di gilingan 1). Hasil asringan NPP+NPL dari DSM Screen akan dilarikan ke bak penampungan nira sementara yang selanjutnya akan dipompakan ke bagian pabrikasi sebagai nira mentah yang sudah siap diolah. Semua pipa penampung NPP dan NPL serta nira hasil gilingan 3 dan 4 terbuat dari tembaga untuk menghindari kontaminasi bakteri yang dapat terjadi bila dipakai penampung dari besi yang dapat terkorosi oleh nira yang bersifat agak asam dan dapat menjadi sarang bakteri, selain itu, penampung aliran nira dari gilingan ke cush-cush juga didesain terbuka, yang dimaksudkan untuk meminimalisasi kemungkinan berkembang biaknya bakteri dengan meminimalisasi luas penampang dari penampung aliran nira. Selain itu pada NPP, juga ditemukan penggunaan air untuk mendorong nira perasan eprtama untuk bisa bergerak, hal ini dimaksudkan karena sudut kemiringan dari penampung aliran nira PPsangat rendah sehingga nira agak sulit bergerak dan harus dibantu dengan dorongan air. Pada stsiun gilingan kapasitas giling sebesar 30.000kw dan terdiri ats 15 operator termasuk mandor. Stasiun gilingan juga mengenal jam henti dan bila jam henti terjadi, maka akan dimanfaatkan untuk perbaikan alat. Penjagaan kualitas dari tebu gilingan dilakukan dengan mengukur nilai pol dan brix dari ampas pada masing masig gilingan, semakin rendah pol maka semaikn efektif pemerahan yang terjadi apda stasiun gilingan. Dan semakin tinggi pol ampas mengindikasikan kurangnya efektif kegiatan penggilingan atau kurangnya air imbibisai yang ditambahkan. Target = air imbibisi harus >30% (kenapa ?)Pengukuran dilakukan oleh staf laboratorium dengan selang waktu satu jam sekali. Hambatan yang pernah terjadi hingga dapat menghentikan kegiatan gilingan adalah masuknya benda asing yang cukup besar dan keras seperti pisau dari grape loader ke dalam glingan sehingga gilingan tidak bisa bekerja. Kinerja penggilingan dapat diukur pula dari hasil perahan nira pada bak penamung nira mentah. Hasil perahan per jamnya dapat diketahui secara real time. Terdpat 5 layar informasi pada stasiun penggilinngan yang dapat mengukur kerja guilingan. Layar pertama menunjukkan pukul saat kegiatan gilingan berlangsung, layar kedua berisi level ketinggian bak nira. Jika level ketinggian bak nira mencapai 80-85% maka kegiatan penggilingan harus dihentikan karena pompa untuk menarik nira dari pabrikasi tidak akna kuat menarik nira dengan level ketinggian yang terlalu tinggi (130), layar ketiga menunjukkan hasil perahan per jam yang didapat saat itu juga, dan layar keempat menunjukkan hasil perahan per jam yang didapat pada satu jam sebelumnya. Layar informasi terakhir berisi tentang setting tarikan nira dari bagian pabrikasi yang nilainya barbanding lurus dan berkorelasi dengan level ketinggian nira. b. Stasiun Pemurnian Stasiun pemurnian adalah stasiun bagian pabrikasi yang bertujuan untuk memisahkan bagian nira dan pengotor (bukan nira), stasiun pemurnian dimulai dari bak penampung nira mentah yang dipantau secara terus menerus level ketinggiannya, level ketinggian dari bak nira mentah akan menentukan kegiatan pabrikasi lainnya, karena jika level nira melebihi 130 maka pompa untuk menarik nira ke bagian pabrikasi tidak akan kuat. Sehingga saat level ketinggian bak nira sudah mencapai 80% maka kegiatan gilingan akan dihentikan dan nira akan ditarik hingga levelnya mencapai angka yang rendah (6-7, kayaknya). Settingan tarikan dari bagian pabrikasi maksimal sebesar 145 m3/jam jika level ketinggian nira sudah mencapai >50%. Sementara tarikan terendah tercatat pada angka 100 m3/jam untuk level ketinggian

nira kurang dari 10%. Kekuatan tarikan ini diatur dari bagian flow meter pada bagian pabrikasi. Nira yang masuk ke bagian pemurnian harus dijaga kontinuitas dan konsistensi flownya. Hal ini dikarenakan pada bagian pemurnian terdapat pengaturan nilai pH dengan penambahan kapur dan belerang, sehingga bila nira yang masuk tidak konsisten dan teratur flow masuknya maka nilai pH yang tercatat pada tangki saccharat akan mengalami fluktuasi dan tidak akan didapat nilai pH yang stabil. Sehingga pada bak nira mentah juga terdapat pipa sirkulasi yaitu pipa yang mengalirkan nira mentah yang melebihi dari kapasitas tarikan dari bagian pabrikasi, sehingga nira yang masuk ke bagian pemurnian akan selalu konsisten dan nilai pH juga tidak akan mengalami fluktuasi yang berlebihan. Zaman dahulu kala, digunakan timbangan bolougne yang dapat menimbang nira mentah yang tertampung dan mengalirkannya ke bagian JHC 1 saat massa tertimbangnya sudah mencapai tiga ton. Namun penggunaan timbangan bolougne ini dirasa kurang efisien bagi penimbangan nira mentah karena bentuk nira mentah yang cenderung cair, sehingga saat penimbangan harus menunggu nira mentah diam stabil baru bisa diukur massanya. nira mentah yang sudah ditampung di bak penampungan nira mentah selnajutnya akan dipompakan ke pan pemanas 1 (Juice Heater 1). Bagian dalam JHC 1 berbentuk sarang lebah dengan pipa-pipa (tromol) bersekat 5-6 (?) yang pada pipa tersebut nira akan dimasukkan, sementara pada ruang antar pipa akan dimasukkan uap panas bekas dari gilingan. Nira akan dimasukkan dari bagian bawah pipa dan dipompakan uap pada ruang antar pipa sedemikian sehingga nira akan menjadi panas, bergolak, naik dan akan masuk ke pipa diruang sebelahnya yang dibatasi oleh sekat. Setelah nira sudah memasuki semua ruang dari bagian pemanasan yang dibaasi oleh sekat maka nira selanjutnya akan dipompakan ke bagian tangki saccharat. Pemanasan pertama ini bertujuan untuk membunuh mikrorganisme yang terdapat pada nira dan menggumpalkan koloid. Tidak digunakan suhu yang terlalu tinggi karena sifat nira yang agak asam akan dapat menyebabkan rusaknya sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa saat terpapar suhu yang tinggi (literaturnya kagak tahu). Untuk meminimalisasi efek rusaknya sukrosa karena sifat asam pada nira maka setelah dilakukan pemanasan di JHC 1 maka nira selanjutnya akan dipompakan ke tangki saccharat. Tangki saccharat adalah tangki tempat pencampuran antara nira mentah, kapur dan sirop dari pemasakan. Pencampuran nira mentah dengan kapur bertujuan untuk menaikkan pH nira mentah dan mengikat kototran yang mungkin ada pada nira. Ph yang ingin dicapai pada tangki saccharat adalah ph dengan kisaran 8,6-9,sekian. Nira harus dibasakan karena selanjutnya nira akan disulfitasi dan akan menurunkan nilai pH dari nira, seandainya nira tidak dibasakan maka saat disulfitasi pH nira akan asam dan saat dipanasi hingga 105oC pada juice heater 2 maka nira akan menjadi rusak. Angka pH dari tangki saccharat diatur lewat flow control pada bagian pabrikasi. Ph dari tangki saccharat diatur dengan mengatur bukaan kapur ke tangki saccharat. Kapur yang diguanakan adalah kapur tohor yang harus dibuat menjadi larutan susu kapur terlebih dahulu sebelum dimasukkan di tangki saccharat. Susu kapur yang sudah siap untuk di campur ke dalam tangki saccharat dipompakan ke atas, lalu pada pipa yang menagarah ke bawah (tangki saccharat) terdapat suatu alat pencampuran antara sus kapur dengan densitas 7oBe dengan sirop dari stasiun pemasakan berupa tabung (yang belum tahu gimana bentuknya dan cara kerjanya). Emberian kapur selain bertujuan untuk meningkatkan pH untuk mencegah reduksi gula namun bertujuan pula untuk bereaksi dengan fosfat (inti endapan) membentuk endapan Ca(PO4)2 yang akan mengikat partikel kototran halus menjadi kotoran yang besar sehingga dapat mengendap. Setelah nira dimasukkan ke tangki saccharat dan ciampurkan dengan larutan susu kapur dan sirop, maka pada waktu tertentu larutan nira saccharat akan dipompakan ke sulfur tower 1. Sulfur tower adalah menara yang menjadi tempat pencampuran nira saccharat dengan gas SO2 yang dihasilkan dari dapur belerang. Nira saccharat dipompakan ke bagian atas dari sulfur tower dan gas SO2 dimasukkan dari bagian bawah sulfur tower oleh blower. Sedemikian sehingga seluruh bagian nira saccharat dapat bereaksi dengan gas SO2. Pemberian gas SO2 selain bertujuan

untuk menetralkan pH yang sebelumnya (hingga pH 7) dinaikkan serta membantu pengendapan dengan mengikat kelebihan kapur. (............) nira tersulfitir selanjutnya akan dipompakan ke JHC 2 untuk dipanaskan kembali dengan suhu yang lebih tinggi ( 105oC). pemanasan ini bertujuan untuk menyempurnakan reaksi dari sulfitasi, serta mengkondisikan suhu sebelum di klarifikasi niranya di door clarifier yang akan memisahkan nira jernih dan kotor. Hal ini disebabkan pada temperatur kurang dari 80oC proses pengendapan kotoran akan susah dilakukan, membunuh mikrorganisme yang mungkin masih tersisa, serta membantu pengeluaran gas dari dalam nira. Nira tersulfitir yang sudah dipanaskan pada JHC 2 selanjutnya akan dipompakan ke bagian flash tank. Flash tank adalah tanki pelepasan gas dan udara yang masih terdapat dalam nira. Hal ini dimaksudkan karena keberadaan gas dan udara dalam nira akan membuat kotoran yang diendapkan pada door clarifier akan terangkat ke atas dan susah mengendap. Cara kerja dari flash tank dalam pengeluaran gas yang terjandung dalam nira adalah dengan cara memasukkan nira secara tangensial.nira yang sudah bebas dari gas dan udara terlarut selanjutnya akan ditambahkan dengan flokulan untuk menggumpalkan kotoran yang yang sudah diikat oleh kapur, sulfur dan fosfat. Selanjutnya nira sebelum masuk ke dalam door clarifier akan dilewatkan dulu pada snowbaling chamber. Pelewatan nira pada chamber ini bertujuan untuk memperlambat gerakan nira sebelum masuk ke dalma door clarifier (?), selain juga untuk memaksimalkan pencampuran antara flokulan dan nira (kayaknya gitu sih). Nira yang sudah keluar dari snow balling chamber selanjutnya akan dimasukkan ke dalam door clarifier yang bertujuan untuk memisahkan antara nira jernih dan nira kotor. Door clarifier memiliki sekat dengan kemiringan tertentu yang nantinya akan menjadi tempat kotoran yang ada pada nira untuk mengendap. Kotoran yang mengendap ini selanjutnya akan dikerik dengan menggunakan scrapper. Door clarifier memiliki enambagian yang dipisahkan oleh sekat2. Pada setiap ruangan ini memiliki keran kontrol yang bisa melihat kondisi nira dari setiap bagian. Setelah nira sudah dipisahkan dalam door clarifier maka akna terpisah menjadi dua bagian, yaitu nira jernih dan nira kotor yang berisi campuran nira dan kotoran yang sudah di-scrap dari door. Nira jernih ini kemudian akan dipompakan ke DSM Screen bagian pabrikasi untuk memisahkan nira jernih dengan ampas halus atau kotoran halus yang susah diendapkan dalam door. Nira yang sudah melewati DSM Screean selanjutnya akan ditempung pada tangki clear juice, sementara ampas halus yangtersaring dari DSM Screen akan dimasukkan ke dalam mixer untuk dicapur dengan knira kotor yang juga dipompakan kedalam mixer. Campuran nira kotor dan ampas halus ini selanjutnya akan ditapis lagi untuk mengambil nira yang masih terdapat dalam nira kotor maupun ampas. Cara penapisan ini dilakukan dengan menggunakan bantual alat RVF (Rotary Vacuum Filter). RVF adalah saringan berbentuk drum berputar mengikuti sumbu horizontal yang pada bagian dalamnya memiliki pompa vakum yang selanjutnya akan menghisap nira yang ditapis. Pada RFV terdapat tiga bagian, yaitu low pressure vaccuum atau vaccuum tekanan rendah yaitu bagian RFV dimana vakum yang diguankan adalah vakum tekanan rendah yang hanya berfungsi untuk menahan nira kotor dan ampas ke permukaan RFV. Bagian kedua adalah High Vakum. High vakum aadalah nagian RFV yang berfungsi untuk menyerap nira yang masih terdapat dalam campuran nira kotor dan ampas halus. Penyerapan nira ini dibantu dengan pemberian air dengan tiga buah keran pemberian. Nira yang sudah ditapis elanjutnya akan dipompakan ke dalam tangki saccharat (meskipun jaman dahulu akan dipompakan ke dalam bak penampungan nira mentah) sementara itu nira kotor dan ampas halus yang sudah diambil niranya akan masuk ke bagian no vacuum zone dimana tekanan vakum dihilangkan sehingga kotoran dan ampas halusnya bisa dikerik dengan menggunakan pisau yang membujur sepanjang RFV atau dengan menggunakan bantuan manusia. Campuran kotoran dan ampas halus inilah yang disebut dengan blotong, blotong ini selanjutnya akan ditanpung oleh penampung blotong (ada kok namanya, tapi lupa) yang akan dibawa ke kebun sebagai salah satu suplemen tanah sebelum silakukan pembajakan.hal ini dikarenakan blototng masih memiliki kandungan hara

yang cukup lengkap (kapur, pospat, belerang). Nira dari clear juice tank ini selanjutnya akan dipompakan ke dalam JHC 3 dimana nira akan dipanaskan kembali setelah mengalami kehilangan panas selama perjalanan dari door ke JHC 3. Fungsi dari pemanasan kembali dari JH 3 adalah sebagai persiapan sebelum masuk ke dalam badan penguapan, hal ini dikarenakan bila sebelum amsuk ke bagian penguapan nira sudah memiliki suhu panas yang tinggi, maka pada badan penguapan tinggal menguapkan saja lagi (tidak harus memanaskan dulu). dalam Selain itu pada bagian door clarifier ini terdapat input manual ke (entah saccharat atau) JHC 3. Kotoran yang dinamakan mud ini berwarna hitam c. Stasiun Penguapan Stasiun penguapan adalah stasiun bagian pabriaksi yang menggunakan prinsip penguapan air dari nira untuk mendapatkan nira kental dengan kekentalan hingga 60 brix. Pt pg subang baru memiliki 5 buah badan evaporator yang digunakan dengan satu badan sebagai cadangan (quadrupple effects). Pada badan evaporator 1 dan 2 tidak diuanakan kondisi vakum sementara vakum digunakan pada badan tiga dan empat. Hal ini dikarenakan penggunaan uap pada tiap-tiap badan evaporator berasal dari uap sisa badan evaporator sebelumnya, sehingga pada badan tiga dan empat panas uap yang digunakan tidak cukup panas, sehingga perlu dikondisikan kondisi vakum untuk menurunkan titik uap dari nira. Selain itu, dengan kondisi vakum maka nira kental yang disudah dikentalkan akan lenih mudah untuk meninggalkan badan evaporator dengan cara ditarik. Pada badan satu, upap yang digunakan adalah uap bekas dari stasiun gilingan, dan dari cane table.dan secara estafet uap bekas dari badan satu akan digunakan untuk evaporasi pada badan dua dan seterusnya. badan evaporator akan dibersihkan secara berkala 5 hari sekali untuk tiap badan dan badan akan saat badan yang satu sedang dibersihkan maka badan yang lain akan menggantikan perannya. Pembersihan pada badan satu dan dua dilakukan dengan menggunakan sikat besi yang dihubungkan pada sebuah tongkat yang bisa digerakkan ke atas dan ke bawah untuk membersihkan kerak yang tersisa dari nira yang sudah diuapkan. Sementara pada badan tiga dan empat pensekrappan harus dilakukan dengan menggunakan bantuan elmo (electric motor) yang dihubungkan dengan sikat logam (flexible shaft) pada ujungnya. Pada masing masing badan evaporator memiliki empat buah valve, yaitu valve kontrol, valve manual, valve output dan valve bypass. Valve control digunakan untuk mengatur ketinggina nira masuk ke badan evaporator secara manual dan tidak otomatis tanpa harus memytar kenop katup. Valve manual digunakan dengan memutar kenop pompa secara manual. Valve output digunakan untuk mengatur keluaran nira dari badan evaporator.Valve bypass digunakan untuk melewatkan uap ke badan penguapan selanjutnya jika pada badan yang bersangkutan terjadi pembersihan atau kerusakan yang membuat badan evaporator tidak bekerja. Pengaturan valve control didasarkan pada tekanan uap yang diterima dari stasun gilingan, jika uap yang masuk masih sedikit, maka nira yang dimasukkan tidak boleh terlalu banyak karena perbandingan nira yang lebih banyak dibandingkan dengan jumlah tarikan uap yang masuk akan emnyebabkan nira output akan memiliki nilai brix dibawah standar (proses evaporasi tidak berjalan dengan baik). Sehingga pada stasiun penguapan dilakukan pengaturan nira yang masuk ke dalam badan melalui panel kontrol, dengan skala penutupan 0-100 (0 = buka penuh, 100 = tutup penuh). Jika uap yang masuk sedikit, maka nira yang berada di badan 1 akan ditahan dan valve kontrol pada badan dua akan ditutup, begitu pula jika nira berada di badan tiga, maka valve kontrol badan empat akan ditutup. Dan nira pada badan yang ditutup akan didiamkan hingga tercapai tekanan uap yang sesuai. Pada panel kontrol terdapat tiga buah panel box, yaitu box valve kontrol untuk keempat badan evaporator, box panel pengatiran air suplesi dan penambahan air, serta bagian pengaturan uap yang akan dimasukan ke stasiun puteran. Pada box panel suplesi, diatur uap yang dapat disumbangkan ke bagian evaporator langsung dari boiler, sementara pada box panel ini juga diatur pemasukan air yang harus dilakukan mengingat uap yang masuk dari boiler adalah uap yang ekring harus dijadikan basah dengan

penambahan air. Jika uap niak maka air akan dibuka, begitu juga sebaliknya.Pada box panel ini juga terdapat panel cek suhu dan suhu maksimum dari badan penguapan. Panel cek suhu melihat berapa suhu untuk setiap tekanan uap bekas yang masuk ke dalam badan evaporator. Sebenarnya maksimum suhu yang dibollehkan yaitu sebesar 120oC namun disetting hingga angka 170oC karena bila suhu melebihi angka ini maka tekana uapnya akan menjadi terlalu tinggi dan uap akan dikeluarkan secara otomatis. Bila suhu maskimum disetting pada angka 120oC maka akan lebih sering terjadi pengeluaran uap bila dibandingkan dengan pemasangan suhu maksimum 170oC(?). pada bagian evaporator juga terdapat box panel pengatur uap yang masuk ke bagian puteran (maksimum 30-40kg/m3 suhu 215,4oC. 150-basah, pada puteran gak boleh ada air, sehingga harus kering. Bagian dalam dari badan evaporator hampir mirip dengan bagian dalam pan pemanas, yang berupa pipa-pipa yang dilewatkan nira didalamnya dan disekelilingnya dilewatkan upa panas namun pada bagian tengah dari badan evaporator terdapat celah untuk menampung nira yang sudah kental. Pada badan evaporaotor satu dan dua masuknya nira dimulai dari pemompaan nira dari bagian bawah badan dan dimasukkan ke dalam pipa pipa dan saat uap dimasukkan maka nira akan manjadi panas dan bergejolak sedemikian sehingga nira yang sudah kental akan bergerak menaiki pipa dan jatuh ke dalam celah penampung. Nira kental yang sudah masuk ke celah penampung selanjutnya akan dipompakan ke badanselanjutnya, sementara uap yang sudah digunakan akan dialirkan ke badan selanjutnya sebagai uap umpan (feed) dan pada bagian badan evaporator 4 hasil penguapan akan dikondensasi menjadi air jatuhan dan akan dipompakam kembali ke bagian boiler sebagai salah satu penyumbang utama air umpan boiler (?). Pada bagian luar boiler terdapat penal pemeriksa tekanan uap pada ruang penguapan, suhu dari badan evaporator, suhu dari dalam pipa dam tekanan uap bekas masuk. Beda suhu suhu pipa harus lebih tinggi 10OC dari suhu badan. Selain itupada bagian luar bada juga terdapat ammoniac valve yang berfungsi untuk mengeluarkan gas-gas yang tidak terembunkan (depan dan belakang) sementara gas yang terembunkan akan di kondensasi. Sementara pada bagian luar badan evaporator, terdapat jendela pemantau sebanyak tiga buah dimana seharusnya ketinggian nira tidak boleh melebihi jendela dua, karena jika melebihi jendela 2 sebagian nira akan masuk ke dalam boiler. Terkadang bilasedang tidak menggiling pada saat musim giling, maka harus ditambahkan air pada bahan evaporator untuk membantu boiler mendapatkan air umpan boiler. Pemeriksaan uji laboratorium dilakukan pada nira hasil keluaran dari badan evaporator keempat. Jika uap terlalu banyak, nira banyak melekat, jika terlalu sedikit, dan nira banyak, maka nira akan menjadi encer. Dan air kondensat harus ditarik vakum untuk menuju ke air kondensor. Setelah nira kental keluar dari badan keempat, maka nira kental akan dipompakan ke dalam sulfur tower untuk memucatkan warna kristal gula. Setelah itu baru dipompakan ke peti buffer. d. Stasiun pemasakan dan puteran Stasiun pemasakan adalah stasiun pabrikasi yang memiliki fokus untuk mengkristalkan gula dari nira kental yang masuk dari peti buffer. Pt pg subang baru menggunakan sistem masakan acd pada stasiun pemasakannya. Konsep utama dari stasiun puteran adalah bagaimana membentuk kristal dari nira mentah yang masuk dari stasiun penguapan. Konsep dari stasiun acd adalah gula yang dihasilkan dari masing2 staiun puteran akan dimasukkan sebagai feed pada badan pemasakan selanjutnya (dari gula d2 dari puteran d2 akan dimasukkan sebagai feed bagi masakan c, gula c dari puteran c akan dijadikan feed bagi masakan A) sementara setrop yang dihasilkan dari stasiun puteran akan dijadikan sebagai feed bagi pan masakan sebelumnya (setrop a akan dijadikan feed bagi pemasakan C dan setrop C akan dijadikan feed bagi masakan D), sementara klare (hasil pemisahan cairan dari dua kali sentrifugasi akan dijadikan feed bagi masakan itu sendiri (klare d2 hasil samping dari sentrifugasi gula d1 dari sentrifugasi d1 akan dijadikan feed bagi masakan D, klare SHS: hasil samping dari sentrifugasi gula A dari sentrifugasi A akan dijadikan feed bagi masakan

A)sementara nira kental dari stasiun evaporasi akan ditambahkan pada masakan A dan FCS atau BFK sebagai bibit pembentukan kristal akan dijadikan sebagai feed pada masakan D. selain bahan feed utama tersebut pada pan masak juga ditambahkan bahan bahan kimia seperti HMC dan HFT yang masing-masing berfungsi untuk mengurangi kelengketan dari kristal gula serta untuk menyerap warna dari gula yang dimasak. Namun penambahan bahan kimia ini hanya sebatas jika keadaannya diperlukan. Pan masakan D berjumlah 2 buah dengan kapasitas hingga 450m3 (mungkin, lupa) dengan penambahan FCS, sirop c dan klare D2 hingga mencapai 400 hl . Pada setiap pan masakan memiliki palung pendingin sebelum masuk ke bagian puteran, semua pan masak memiliki 1 buah palung pendingin kecuali pan masak d yang memiliki 6 palung pendingin. Hal ini disebabkan kentalnya nira yang keluar dari pan masak d sehingga memerlukan waktu yang lama untuk didinginkan. pada setiap palung pendingin memiliki pipa melingkar yang berisi air untuk mentransfer panas dari gula mentah yang didinginkan. Jadi, nira yang sudah keluar dari masakan D akan diterima pada bagian receiver dan akan dipompakan ke palung 6 dan akan diaduk secara perlahan pada setiap palung hingga hanya akan memiliki suhu hingga 40OC pada palung 1 dan akan direheat lagi di reheater (hingga 55OC) untuk memudahkan pergerakan menuju ke mixer untuk mengaduk lagi sebelum masuk ke bagian puteran D1. Jika gula yang diinginkan belum dicapai pada badan 1 masakan D maka 400 hl tadi akan dibagi ke badan 2 masakan D (200:200) dan pada masing2 badan akan ditambahkan setrop c dan klare d2 masing2 100 hl hingga mencapai volume 400 hl pada masing2 badan. Yang menjadikontroversi adalah penambahan sitrop a pada pan masakan D. (?) hasil dari puteran d1 berupa tetes dan gula d1. Tetes ini dapat dimanfaatkan untuk dijual untuk industri alkohol, vetsin, dll.

Not done yet!


2. Tugas khusus Tugas khusus = mengamati pelaksanaan inhouse keeping pada bagian instalasi hingga pabrikasi. Hasil : a. Kurang adanya koordinasi antara IPAL dan manajemen pabrik dengan tidak adanya tembusan pengeluaran limbah dari masing2 stasiun ke bagian IPAL, hal ini akan menyebabkan kesalah pahaman yang terjadi antara pebrikasi yang ingin membuang limbah yang (entah berpolutan dan tidak) dengan kegiatan IPAL yang hanya bisa mengelola air limbah dengan kapasitas yang terbatas. b. Pada stasiun gilingan : 1) Terjadi kebocoran air pada turbin di sekitar cane cutter. (termasuk kebocoran air pada setiap pompa/valve/katup yang meskipun bukan termasuk air berpolutan namun bila dibiarkan tergenang dan tidak dialirkan secara langsung ke dalam saluran untuk dibawa ke cooling tower maka akan menyebabkan kehilangan efisiensi yang cukup besar setiap musimnya.) 2) Yang aneh adalah adanya pembuatan beton pembatas pada pipa uap di di bawah kantor operator di unigrator yang hanya dibuat tanpa adanya pembuatan saluran pengeluaran. Pada saluran sebelah barat hanya dibuatkan dinding pada bagian pinggirnya saja sementara pada mulut dinding pembatas yang mengarah ke sebelah barat malah dibiarkan terbuka, sehingga air yang keluar dari pipa uap tersebut akan menggenang di tanah.

3) Pada pipa yang menghadap ke utara pada daerah yang sama, hanya dibuatkan dinding pembatas sehingga air akan menggenang disana, terlebih lagi dengan tumpukan ampas hasil jatuhan dari cane carrier yang masih mengandung nira sehingga air yang ada di sana akn digolongkan sebagai air berpolutan. 4) Pada pipa di sebelah timur, terdapat saluran yang menampung air yang keluar dari pipa, namun pada pipa yang berada pada posisi yang tinggi, air yang jatuh sering tidak masuk ke saluran dan hanya akan menghantam tanah dan menimbulkan tampias dan menimbulkan genangan air (lagi). Seharusnya dibuatkan pipa yang langsung mengarahkan air jatuhan tadi ke saluran. 5) Lampu di sekitar kantor operator juga tidak dimatikan, meskipun hanya menggunakan lampu tl, namun bila mau hitung2an efisiensi, berapa rupiah coba yang bisa dihemat jika lampu digunakan seperlunya saja. 6) Uap juga tidak dikondensasikan 7) Banyaknya ampas yang terbuang di sekitar cane carrier, sehingga bisa menimbulkan pulusi udara dan akan menurunkan efisiensi penggilingan, seharusnya dibuatkan ash trap untuk menangkap abu / ampas yang terbang terbang begituan. 8) Tersebarnya ampas juga terjadi di dalam pabrik, dimana hampir disetiap sudut stasiun gilingan terdapat ampas atau abu hasil ampas : dimulai dari lantai sekitar cane carrier, baian tubuh dari cane carrier, cane cutter, unigrator, bagian atas dari cane elevator (kebayang gak tuh), maginnya ae pada sekitar mesin gilingan, sampai ke parak girbux tuh nah iya masih ada jua, dan masih banyak tempat lainnya yang masih harus didetailkan

(detailkan).

Seharusnya pada intermediate carrier atau cane carrier

sekalian diberi penutup untuk meminimalisasi terjadinya keluarnya abu atau ampas ke lingkungan.

not done yet!!!


9) Diteukan tetesan oli dan air pada sebelah timur gilingan 2-3, sementara padagilingan satu tetesan air dan oli sudah masuk ke dalam saluran pembuangan 10) Terjadi penumpukan ash di dekat pintu keluar (di bawah bagasse carrier) 11) Air ditambahkan pada nira abri di bawah gilingan 4 untuk mendorong ampas yang menempel di dinding corong oenampung nira namun airnya masih banyak tampias, 12) Air ditambhakan pada masing2 gilingan supaya mesin gilingan tidak menjadi terlalu panas, 13) Saluran yang dibuat celah malah manjadi sumber penggenangan air karena celah yang dibuat justru menjadi jalan keluar bag tetesan air, oli atau nira. Perlu dilakukan revisi saluran paa stasiun gilingan terutama di sebelah timur yang mengalir di dekat cush2 elevator. 14) Hasil rembesan air dari mill 3 dan 4 jatuh ke dekat cush2 dan menggenang (tidak masuk ke dalam saluran) 15) Air dari dsm screen merembes ke bawah bak tampung bersekat 16) Pada pipa tampungan NPP, nira kurang berjalan akibat sudut kemiringan pipa yang rendah, sehingga tumpahan busa tetap terjadi terutama di belokan kedua pipa padahal dahulu dipakai air untuk menggerakkannya. 17) Pipa putih (diduga pospat) yang masuk ke sekat gil 3 pada cush2 airnya tumpah (jatuh di luar saluran). 18) Di sepanjang tangga stasiun pemurnian juga ditemukan ash/ampas 19) Ada kebocoran pada manometer pada badan evaporasi2

20) Dari manometer tekanan baru yang masuk ke gilingan dari boiler juga ditemukan air tumpahan 21) Ada tetesan air kotor yang keluar yang bercampur dengan oli pada RVF 22) Tumpahan oli pada pemutar mud di RVF 23) Gas SO2 dibiarkan keluar dari blower saat mesin tidak menggiling karena jika tidak dikeluarkan maka akan terjadi sesuatu pada dapur belerang 24) Hari baru 25) Air pembersihan kapur menggenang dimana-mana 26) Air limpoahan kapur melimpah 27) Terjadi pengendapan pada saluran di sekitar door dan sentri kapur (cairan berwarna putih (kapur) dan kuning (belerang) 28) Terjadi rembesan air pada pompa kapur dan uap bebas dari dapur belerang 29) Air kondensat uap di belakang door sudah ditampung tapi tidak memadai (penampungnya kecil, sehingga meluap sepanjang waktu, ada saluran di dekat situ tapi karena tidak dibuatkan saluran dari genangan ke saluran maka air menggenang atau terbentuk lumut. 30) Saluran selokan di bawah badan pemanas sudah ada dan baik (meskipun sepertinya kurang dalam terbukti dengan sering meluapnya cairan dalam selokan ke lantai) namun kenapa konstruksinya seperti huruf x (dimana disediakan saluran buntu tambahan untuk mencegah nira atau cairan dalam selokan meluap namun dengan adanya saluran buntu tersebut (pada salah satu lengan x) akan membuat atau cairan mengendap di situ. 31) Pada setipa pompa di pemurnian sdah dipasang dinding pembatas agar air tidak merembes keluar,namun pada pompa clear juice, air yang keluar tidak diberikan saluran, sehingga ada lumut pada air yang sempat menggenang , di sekitar bak nira mantah ada air kondensat yang yang tidak diberikan saluran pembuangan sehingga cairan bisa menggenang keluar. 32) Terdapat endapan entah oli atau nira pada bagian lantai magma mingler d2 33) Tumpahan oli atau air di bawah gear box puteran A 34) Tumpahan oli pada dan gula pada pipa dan lantai de sekitar puteran C 35) Ada penumpukan strop A dalam puteran A (kenapa gak langsung dibuang) 36) Ada bekas tetesan gula yang sudah mengeras pada sepanjang mixer a 37) Terdapat tumpahan gula pada pipa yang keluar dari ujung as dari palung pendingin D (setiap palung), meskipun sudah ditampung namu rentan kontaminasi karena sifat gula dari masakan D yang sangat kental sehingga sangat lambat untuk bergerak di dalam pipa maupun saat akan jatuh ke dalam pipa. 38) Terdaat sisa tumpahan nira pada pipa pengalir dari palung pendingin C ke mixer C 39) Dari pimpa receiver, terdapat sisa tumpahan gula dan oli yang dibiarkan menggenang 40) Terdapat ceceran oli dan abu bagasse di bagian belakang palung pendingin A-D 41) Terdapat tumpahan pada stroop A(B/C) Hari kamis 42) Uap bebas dari boiler masih terbuang sia-sia, airnya masih terbuang : peta pembuangan dari stasiun gilingan dibuat. 43) Kasus gilingan masih sama. 44) Dibawah conveyor (cane carrier)masih abnyak ditemukan ahsil sisa dari unigrator, meskipun ampas sudah ditampung dan dimasukkan lagi ke dalam cane carrier namun akan lebih efisien jika dibuat ash trap untuk meniadakan ampas yang terbuang, karena selain faktor efisiensi, faktor debu dan kekotoran dari lantai sekitar cane carrier di luar pabrikasi menjadi pertimbangan utama. 45) Ada tumpahan oli pada bagian bawah gear box cane carrier serta air padasekitar turbin dari canecarrier

harus

46) Diadakan pemberishan menyeluruh dari stasuin gilingan, debu dan ampas yang biasanya berserakan di sekitar mesin gilingan dibersihkan juga (karena menteri datang). 47) Selokan sebelah barat gilingan 1 dan 2 berfuungsi dengan baik.namun terjadi sedimentasi, tumpahan air bercampur oli karena tetesannya tidak langsung masuk ke dalam saluran, serta dari roda gigi terjadi tumpahan oli yang sangat banyak (lebih tepatnya kebocoran oli) pada selokan di sebelah barat gilingan tiga. Pada gilingan dua, selokannya sudah berfungsi dengan baik.maskipun masih ada tetesan tidak tepat sasaran masuk saluran. Sementara seperti biasa, abu bertebaran di sekitar gilingan empat dan menyebar hingga ke tangga stasiun pemurnian serta tampias air masih ada , sampah ampas masih diletakkan begitu saja di belakang gilingan empat (di bawah bagasse carrier) dan sedang dibuat bak penampung air ceceran di belakang dari sekitar gilingan empat. 48) Selokan sebelah timur unutk gilingan satu dan dua masih ada tetesan tidak tepat saluran. Ada tumpahan air berbusa di bawah cush2 (diduga nira). Debit air sukup tenang, sisanya sama dengan hari pertama. 49) Ada tumpahan nira di bawah pemanas D 50) Air hasil dari pembersihan dibiarkan manates di sekitar palung, padahal jika bisa dimasukkan dalam saluran akan lebih efisien atau seharusnya lantai pabrik dirancang lebih miring agar akr jatuhan bisa masuk ke dalam saluran. 51) Saluran pembuangan di depan tnagki dad mac macet begitu juga dengan saluran di sebelah selatan decolorizer sama halnya dengan Saluran di tangki sirkulasi dari door ke RVF.terjadi pengendapan kotoran pada lantai di sekitar tangki tersebut pula. 52) Terjadi pengendapan di sebelah timur laut tangki clear juice yang berbusa, sehingga diperkirakan tercampur dengana ir nira. 53) Ada jatuhan air pada pipa penampung (sirkualsi) dis ebelah timur laut clear juice atau barat daya nira mentah. 54) Terjadi genangan air pada bagian pompa clear juice (tidak ada saluran yang mengarah ke saluran utama. 55) Terjadi buangan SO2dari blower 56) Di sekitar sentri kapur terdapat pengendapan saluran (seperti hari pertama) 57) Di sbelah selatan sentri kapur ada air bekas uap yang dijatuhkan ke lantai begitu saja, celah ke saluran ada, tapi tidak memadai dan air jatuhannya tidak jatuh ke saluran dan airnya menggenang. 58) Terjadi endapan kapur dan belerang di saluran sebelah selatan sentri kapur 59) Saluran di dapur kapur juga mampet. 60) Ada tumpahan (entah oli + nira) di awah bak oenampung tetes dan magam mingler D2 karena kepenuhan dan valvenya masih menutup 61) Ada penampunhan gula d2 untuk ke magma mingler d2 (lihat di foto2 nanti) 62) Ada tumpahan gula sepanjang magma mingler, pada penampungan hanya menggunakan karung, sehingga gula yang keluar dari puteran sebelum masuk ke magma minglaer terlebih dahulu akan ditampung ke karung 2 yang disebar di sepanjang magma mingler dan mixer d-a. (mungkin lebih tepatnya ada tumpahan gula pasir di sekitar pompa di mingler a/b. karena gula pasir ini harus ditambah air panas lagi di dalam mingler agar bisa dipompakan ke bagian masakan atau puteran selanjutnya.ada air jatuhan di sekitar pipa di belakang mixer a Ada tumpahan air pada mixer a. 63) 64) c. 3.