Anda di halaman 1dari 9

GadgetPlus

Jendela Masa Depan Masih Ada Esok Yang Lebih Cerah Calon Pendamping Obama (Calon AS#2) Sleepwalking, Tidur Berjalan, Berbahayakah?

Faktor Rh, Pengaruhnya Terhadap Kehamilan


Oleh gadgetplus

Faktor Rh menggambarkan adanya partikel protein (antigen D) di dalam sel darah seseorang. Bagi yang ber-Rh negatif berarti ia kekurangan faktor protein dalam sel darah merahnya. Sedangkan yang ber-Rh positif memiliki protein yang cukup. Pada jaman dahulu dalam transfusi darah, asal golonganya sama, tidak dianggap ada masalah lagi. Padahal, bila terjadi ketidak cocokan rhesus, bisa terjadi pembekuan darah yang berakibat fatal, yaitu kematian penerima darah.

Orang-orang dengan rhesus negatif mempunyai sejumlah kesulitan karena diseluruh dunia ini, orang dengan rhesus negatif relatif jumlahnya lebih sedikit. Pada orang kulit putih, rhesus negatif hanya sekitar 15%, pada orang kulit hitam sekitar 8%, dan pada orang asia bahkan hampir seluruhnya merupakan orang dengan rhesus positif.

Di Indonesia, kasus kehamilan dengan rhesus negatif ternyata cukup banyak dijumpai. Umumnya dijumpai pada orang-orang asing atau orang yang mempunyai garis keturunan asing seperti Eropa dan Arab, walaupun tidak langsung. Ada juga orang yang tidak mempunyai riwayat keturunan asing, namun jumlahnya lebih sedikit. Bila seorang wanita dengan rhesus negatif mengandung bayi dari pasangan yang mempunyai rhesus positif, maka ada kemungkinan sang bayi mewarisi rhesus sang ayah yang positif. Dengan demikian akan terjadi kehamilan rhesus negatif dengan bayi rhesus positif. Hal ini disebut kehamilan dengan ketidak cocokan rhesus (rhesus inkontabilita). Kehadiran janin sendiri di tubuh ibu merupakan benda asing, apalagi jika Rh janin tak sama dengan Rh ibu. Secara alamiah tubuh bereaksi dengan merangsang sel darah merah (eristrosit) membentuk daya tahan atau antibodi berupa zat anti Rh untuk melindungi tubuh ibu sekaligus melawan benda asing tersebut. Inilah yang menimbulkan ancaman pada janin yang dikandung. Efek ketidakcocokan bisa mengakibatkan kerusakan besar-besaran pada sel darah merah bayi yang disebut erytroblastosis foetalis dan hemolisis. Hemolisis ini pada jaman dahulu merupakan penyebab umum kematian janin dalam rahim, disamping hydrop fetalis, yaitu bayi yang baru lahir dengan keadaan hati yang bengkak, anemia dan paru-paru penuh cairan yang dapat mengakibatkan kematian. Selain itu kerusakan sel darah merah bisa juga memicu kernikterus (kerusakan otak) dan jaundice (bayi kuning/hiperbilirubinimia), gagal jantung dan anemia dalam kandungan maupun setelah lahir. Dikarenakan jarangnya kasus kehamilan dengan rhesus negatif, maka sangat sedikit pula rumah sakit yang dapat menanganinya. Untuk itu walaupun tidak ada masalah serius dokter biasanya akan tetap menangani kehamilan dengan rhesus negative secara khusus. Langkah pertama yang dilakukan dokter adalah dengan memeriksa darah ibu untuk memastikan jenis rhesus dan untuk melihat apakah telah tercipta antibodi. Bila belum tercipta antibodi, maka pada usia kehamilan 28 minggu dan dalam 72 jam setelah persalinan akan diberikan injeksi anti-D (Rho) immunoglobulin, atau biasa juga disebut RhoGam. Proses terbentuknya zat anti dalam tubuh ibu sendiri sangat cepat sehingga akan lebih baik lagi jika setelah 48 jam melahirkan langsung diberi suntikan RhoGAM agar manfaatnya lebih terasa. Sayangnya, perlindungan RhoGAM hanya berlangsung 12 minggu. Setelah lewat batas waktu, suntikan harus diulang setiap kehamilan berikutnya. Bila dalam diri ibu telah tercipta antibodi, maka maka akan dilakukan penanganan khusus terhadap janin yang dikandung, yaitu dengan monitoring secara reguler dengan scanner ultrasonografi. Dokter akan memantau masalah pada pernafasan dan peredaran darah, cairan paru-paru, atau pembesaran hati, yang merupakan gejala-gejala penderitaan bayi akibat rendahnya sel darah merah. Bila memang ada zat anti-Rh dalam tubuh ibu hamil, sebaiknya dilakukan pemeriksaan jenis darah janin melalui pengambilan cairan ketuban (amniosentesis). Dapat juga melalui pengambilan cairan dari tulang belakang Chorionic Villi Sampling (CVS), dan pengambilan contoh darah dari tali pusat janin (kordosentesis). Pada kasus tertentu, kadang diputuskan untuk melakukan persalinan lebih dini, sejauh usia janin sudah cukup kuat untuk dibesarkan diluar

rahim. Tindakan ini akan segera diikuti dengan penggantian darah janin dari donor yang tepat. Induksi persalinan juga akan dilakukan pada ibu yang belum mempunyai antibodi bila kehamilannya telah lewat dari waktu persalinan yang diperkirakan sebelumnya, untuk mencegah kebocoran yang tak terduga. Pada kasus janin belum cukup kuat untuk dibesarkan diluar, maka perlu dilakukan transfusi darah terhadap janin yang masih dalam kandungan. Biasanya bila usia kandungan belum mencapai 30 minggu. Proses transfusi ini akan diawasi secara ketat dengan scanner ultrasonografi dan bisa diulang beberapa kali hingga janin mencapai ukuran dan usia yang cukup kuat untuk diinduksi. Setelah bayi lahir, ia akan mendapat beberapa pemerikasaan darah secara teratur untuk memantau kadar bilirubin dalam darahnya. Bila diperlukan akan dilakukan phototerapi. Bila kadar bilirubin benar-benar berbahaya akan dilakukan penggantian darah dengan transfusi. Kadar cairan dalam paru-paru dan jantungnya juga akan diawasi dengan ketat, demikian juga dengan kemungkinan anemia. Perbedaan Rh ibu dan janin tak terlalu berbahaya pada kehamilan pertama. Sebab, kemungkinan terbentuknya zat anti-Rh pada kehamilan pertama sangat kecil. Kalaupun sampai terbentuk, jumlahnya tidak banyak. Sehingga, bayi pertama dapat lahir sehat. Pembentukan zat anti Rh baru benar-benar dimulai pada saat proses persalinan (atau keguguran) pada kehamilan pertama. Saat plasenta lepas, pembuluh-pembuluh darah yang menghubungkan dinding rahim dengan plasenta juga putus. Akibatnya, sel-sel darah merah bayi dapat masuk ke dalam peredaran darah ibu dalam jumlah yang lebih besar. Peristiwa ini disebut transfusi feto-maternal. Selanjutnya, 48-72 jam setelah persalinan atau keguguran, tubuh ibu dirangsang lagi untuk memproduksi zat anti-Rh lebih banyak lagi. Demikian seterusnya. Saat ibu mengandung lagi bayi kedua dan selanjutnya, barulah zat anti-Rh di tubuh ibu akan menembus plasenta dan menyerang sel darah merah janin. Sementara itu bagi ibu perbedaan rhesus ibu dan janin sama sekali tidak mengganggu dan mempengaruhi kesehatan ibu. Kaitkata: darah, kehamilan, pregnancy, rhesus
Tulisan ini dikirim pada pada 5 Juni 2008 2:52 pm dan di isikan dibawah Uncategorized. Anda dapat meneruskan melihat respon dari tulisan ini melalui RSS 2.0 feed. r Anda dapat merespon, or trackback dari website anda.
Suka Be the first to like this post.

7 Tanggapan ke Faktor Rh, Pengaruhnya Terhadap Kehamilan


1.

suriawan Berkata:
25 Juli 2008 pukul 9:02 am | Balas

terima kasih untuk informasinya. istri saya orang asing dengan rh negatif dan saya rh positif. saya ingin menanyakan dokter dan rumah sakit di jakarta yang dapat menangani kandungan dan persalinan pada ibu yang rh negatif. terima kasih. Suriawan Surna

2.

gadgetplus Berkata:
28 Juli 2008 pukul 10:53 am | Balas

Saya kira bpk Suriawan dapat menghubungi dokter kandungan anda, konsultasikan permasalahan tersebut. Masalah rhesus ini sudah banyak dipelajari oleh ahli2 kandungan di Indonesia, terutama yang berpraktek di Jakarta anda akan mudah menemukan dokter dengan kemampuan solusi itu. Thanks
3.

ani Berkata:
31 Agustus 2008 pukul 7:34 pm | Balas

Bagaimana bila jenis pasangan tsb sebaliknya, maksudnya: sang istri ber-Rh-positif dan sang suami ber-Rh-negatif? Apakah ini juga bisa membahayakan proses kehamilan atau janin yang dikandung? Dan apakah jenis rhesus pasangan tsb bisa mempengaruhi jenis kelamin anak mereka nantinya. Dalam kasus ini, sang istri bergolongan darah O (positif) sedangkan sang suami O (negatif). Terima kasih
4.

Jambul Berkata:
12 Oktober 2008 pukul 1:48 pm | Balas

saya juga ingin bertanya tentang pasangan yang punya golongan darah sama. Saya dan pasangan saya punya golongan darah yang sama (B) tapi kita sama-sama belum tahu apa rhesus masing-masing. Apabila saya dan pasangan saya memiliki rhesus yang sama bagaimana dampaknya saat hamil?(misalnya sama-sama positif atau sama-sama negatif), kemudian bagaimana jika kita memiliki rhesus yang berbeda (entah laki-laki yang positif dan wanitanya yang negatif atau kebalikannya)? atas penjelasannya kami ucapkan banyak terima kasih
5.

Aan Berkata:
14 Januari 2009 pukul 9:00 am | Balas

Kakak saya memiliki Rh(-)negatif, alhamdulillah tgl.8jan09 melahirkan bayi perempuan Rh(+)positif secara caesar krn ketuban telah pecah>6jam tanpa pembukaan. Ternyata perbedaan Rh antara ibu dan anak tidak menimbulkan masalah, berarti permasalah perbedaan Rh antara ibu dan bayi bersifat kasuistis! Perlu diketahui kakak saya sudah pernah keguguran 2 kali pada umur kandungan 2 bulan, semestinya sudah terbentuk antibodi perbedaan Rh pd kakak saya, tapi kenyataanya Tidak! dan Tidak ada penanganan khusus semasa hamil maupun pasca melahirkan terhadap kakak saya maupun bayinya. Ingat! Antibodi terbentuk secara Alamiah artinya 100% berdasarkan Kehendak ALLAH SWT! Baca Al-Quran Surah Al-Baqaroh, surah ke 2 ayat 117. Ali-Imron, surah ke 3 ayat ke 47, dan masih banyak lagi. Semoga bisa meningkatkan semangat ibu hamil maupun yg mau hamil baik yg berRh beda maupun sama. Hanya orang KAFIR yang berputus asa atas Nikmat ALLAH!

6.

Lorion Berkata:
10 April 2009 pukul 8:44 pm | Balas

Terima kasih infonya. Tapi masih penasaran nih.. Kalo Suaminya yg rhesus negatif dan istrinya yg rhesus positif, apa anaknya bakal kena sesuatu spt yg trjadi pd kasus di atas? Trims
7.

november Berkata:
30 Juni 2009 pukul 3:15 pm | Balas

sampai usia kehamilan berapa minggu, perbedaan rhesus bisa mengancam janin?

Tinggalkan Balasan
Your email address will not be published. Required fields are marked * Nama * Email * Situs web Komentar You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title="">
<acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Beritahu saya mengenai komentar-komentar selanjutnya melalui surel. Beritahu saya tulisan-tulisan baru melalui surel.

Tema: Kubrick. Blog pada WordPress.com. Masukan (RSS) dan Komentar (RSS).

Golongan darah adalah ciri khusus darah dari suatu individu karena adanya perbedaan jenis karbohidrat dan protein pada permukaan membran sel darah merah. Dua jenis penggolongan darah yang paling penting adalah penggolongan ABO dan Rhesus (faktor Rh). Di dunia ini sebenarnya dikenal sekitar 46 jenis antigen selain antigen ABO dan Rh, hanya saja lebih jarang

dijumpai. Transfusi darah dari golongan yang tidak kompatibel dapat menyebabkan reaksi transfusi imunologis yang berakibat anemia hemolisis, gagal ginjal, syok, dan kematian. Golongan darah manusia ditentukan berdasarkan jenis antigen dan antibodi yang terkandung dalam darahnya, sebagai berikut:

Individu dengan golongan darah A memiliki sel darah merah dengan antigen A di permukaan membran selnya dan menghasilkan antibodi terhadap antigen B dalam serum darahnya. Sehingga, orang dengan golongan darah A-negatif hanya dapat menerima darah dari orang dengan golongan darah A-negatif atau O-negatif. Individu dengan golongan darah B memiliki antigen B pada permukaan sel darah merahnya dan menghasilkan antibodi terhadap antigen A dalam serum darahnya. Sehingga, orang dengan golongan darah B-negatif hanya dapat menerima darah dari orang dengan dolongan darah B-negatif atau O-negatif Individu dengan golongan darah AB memiliki sel darah merah dengan antigen A dan B serta tidak menghasilkan antibodi terhadap antigen A maupun B. Sehingga, orang dengan golongan darah AB-positif dapat menerima darah dari orang dengan golongan darah ABO apapun dan disebut resipien universal. Namun, orang dengan golongan darah AB-positif tidak dapat mendonorkan darah kecuali pada sesama AB-positif. Individu dengan golongan darah O memiliki sel darah tanpa antigen, tapi memproduksi antibodi terhadap antigen A dan B. Sehingga, orang dengan golongan darah O-negatif dapat mendonorkan darahnya kepada orang dengan golongan darah ABO apapun dan disebut donor universal. Namun, orang dengan golongan darah O-negatif hanya dapat menerima darah dari sesama O-negatif.

Secara umum, golongan darah O adalah yang paling umum dijumpai di dunia, meskipun di beberapa negara seperti Swedia dan Norwegia, golongan darah A lebih dominan. Antigen A lebih umum dijumpai dibanding antigen B. Karena golongan darah AB memerlukan keberadaan dua antigen, A dan B, golongan darah ini adalah jenis yang paling jarang dijumpai di dunia. Ilmuwan Austria, Karl Landsteiner, memperoleh penghargaan Nobel dalam bidang Fisiologi dan Kedokteran pada tahun 1930 untuk jasanya menemukan cara penggolongan darah ABO.

Daftar isi
[sembunyikan]

1 Frekuensi 2 Pewarisan 3 Rhesus 4 Golongan darah lainnya 5 Kecocokan golongan darah

6 Lihat pula 7 Pranala luar

[sunting] Frekuensi
Penyebaran golongan darah A, B, O dan AB bervariasi di dunia tergantung populasi atau ras. Salah satu pembelajaran menunjukkan distribusi golongan darah terhadap populasi yang berbeda-beda. Populasi Suku pribumi Amerika Selatan Orang Vietnam Suku Aborigin di Australia Orang Jerman Suku Bengalis Suku Saami O 100% A B AB

45.0% 21.4% 29.1% 4.5% 44.4% 55.6% 4.2%

42.8% 41.9% 11.0%

22.0% 24.0% 38.2% 15.7% 18.2% 54.6% 4.8% 12.4%

[sunting] Pewarisan
Tabel pewarisan golongan darah kepada anak Ibu/Ayah O A B O O O, A A O, B B AB A, B

O, A O, A

O, A, B, AB A, B, AB A, B, AB

O, B O, A, B, AB O, B

AB

A, B A, B, AB

A, B, AB

A, B, AB

[sunting] Rhesus
Jenis penggolongan darah lain yang cukup dikenal adalah dengan memanfaatkan faktor Rhesus atau faktor Rh. Nama ini diperoleh dari monyet jenis Rhesus yang diketahui memiliki faktor ini pada tahun 1940 oleh Karl Landsteiner. Seseorang yang tidak memiliki faktor Rh di permukaan sel darah merahnya memiliki golongan darah Rh-. Mereka yang memiliki faktor Rh pada permukaan sel darah merahnya disebut memiliki golongan darah Rh+. Jenis penggolongan ini seringkali digabungkan dengan penggolongan ABO. Golongan darah O+ adalah yang paling umum dijumpai, meskipun pada daerah tertentu golongan A lebih dominan, dan ada pula beberapa daerah dengan 80% populasi dengan golongan darah B. Kecocokan faktor Rhesus amat penting karena ketidakcocokan golongan. Misalnya donor dengan Rh+ sedangkan resipiennya Rh-) dapat menyebabkan produksi antibodi terhadap antigen Rh(D) yang mengakibatkan hemolisis. Hal ini terutama terjadi pada perempuan yang pada atau di bawah usia melahirkan karena faktor Rh dapat mempengaruhi janin pada saat kehamilan.

[sunting] Golongan darah lainnya


Diego positif yang ditemukan hanya pada orang Asia Selatan dan pribumi Amerika. Dari sistem MNS didapat golongan darah M, N dan MN. Berguna untuk tes kesuburan. Duffy negatif yang ditemukan di populasi Afrika. Sistem Lutherans yang mendeskripsikan satu set 21 antigen. Dan sistem lainnya meliputi Colton, Kell, Kidd, Lewis, Landsteiner-Wiener, P, Yt atau Cartwright, XG, Scianna, Dombrock, Chido/ Rodgers, Kx, Gerbich, Cromer, Knops, Indian, Ok, Raph dan JMH.

[sunting] Kecocokan golongan darah


Tabel kecocokan RBC Gol. darah resipien AB+ ABDonor harus Golongan darah manapun OABAB-

A+ AB+ BO+ O-

OOOOOO-

O+ AO+ BO+

A-

A+

B-

B+

Tabel kecocokan plasma Resipien AB A B O Donor harus AB manapun A atau AB manapun B atau AB manapun O, A, B atau AB manapun