Anda di halaman 1dari 10

KARAKTERISASI ANTENA DOUBLE BIQUAD FREKUENSI 2,3-2,4 GHZ DAN 3,3-3,4 GHZ : STUDI KASUS PERANCANGAN ANTENA DUALBAND

UNTUK APLIKASI WI-FI DAN WIMAX Alaind Fadrian 1,Nachwan Mufti A.2, Yuyu Wahyu3 1,2 Fakultas Elektro dan Komunikasi ITTelkom, Bandung 3 Pusat Penelitian Elektronika dan Telekomunikasi LIPI, Bandung 1 alaind.fdr@gmail.com, 2nma@ittelkom.ac.id,, 3yuyu@ppet.lipi.go.id Abstrak Antena Biquad adalah salah satu pengembangan dari antena square loop yang disusun menggunakan konsep antena susunan dengan menganggap ampiltudo dan fasa catuan arus sama. Antena ini populer digunakan karena pabrikasi yang mudah dan bahan untuk membuatnya yang relatif murah. Dalam perancangan antena ini untuk aplikasi tertentu dibutuhkan karakteristik dari antena untuk mempermudah perancangan antena. Tugas akhir ini mengembangkan riset tentang antena Double Biquad Dualband yang meliputi karakterisasi, perancangan dan realisasi, sehingga dapat menghasilkan antena Double Biquad yang dapat bekerja pada dua frekuensi dan mempunyai gain yang lebih besar. Karakterisasi meliputi pengaruh jari-jari antena terhadap gain dan pengaruh panjang sisi antena terhadap impedansi. Perancangan antena dualband menggunakan metode dual resonator sehingga dapat memenuhi studi kasus antena dualband untuk aplikasi Wi-Fi dan WiMAX. Prototype dibuat sesuai dengan pemodelan simulasi dan hasil yang didapatkan pada pengukuran frekuensi untuk VSWR < 1,5, yaitu pada range frekuensi (2133 2533) MHz dan (2875 - 3475) MHz. Kemudian untuk pola radiasi antena adalah bidireksional serta polarisasinya berbentuk elips. Gain maksimum yang mampu dicapai antena ini adalah 12,04 dBi. Kata kunci : Antena Double Biquad, Dualband Abstract Biquad antenna is a development of square loop using array concept by assuming amplitude and phase are uniform. This antenna is popular because of easy fabrication and cheap materials that is required. In designing this antenna, caharacteristics of antenna is needed. This final project developed a e research on Double Biquad Dualband antenna including characterization, design and realization. Characteristics of antenna are including the influence of its side length and its radius on gain and impedance . By using multi resonance method, the dual band antenna is obtained, so that this antenna can be used for Wi-Fi and WiMAX Application. Prototype are made according to the model of simulation and the result which is obtained from the frequency measurement at VSWR < 1,5, that is frequency range at (2133 2533) MHz and (2875-3475) MHz. The radiation pattern of the antenna is bidirectional and also its polarization is eliptical polarized . The Gain of this antenna are able reach untill 12,04 dBi. Keyword : Antena Double Biquad, Dualband 1. Pendahuluan Antena Biquad adalah salah satu pengembangan dari antena square loop yang disusun menggunakan konsep antena susunan dengan menganggap ampiltudo dan fasa catuan arus sama. Antena ini popular digunakan karena pabrikasi yang mudah dan bahan untuk membuatnya yang relatif murah. Berikut ini adalah perkembangan riset antena Biquad di ITTelkom : Judul Pengarang Spesifikasi antena Perancangan Yusuf Gain : 6,565 dan realisasi Abdullah dBi antena VSWR 1,3 biquad untuk Impedansi 50 aplikasi WiMAX pada frekuensi 2,3-2,4 GHz Perancangan dan realisasi antena biquad untuk aplikasi WiMAX pada frekuensi 3,3-3,4 GHz Perancangan dan realisasi Polarisasi linier Pola pancar omnidireksional Gain : 7,119 dBi VSWR 1,3 Impedansi 50 Polarisasi linier Pola pancar bidireksional Gain 5 dBi VSWR 1,5

Zaid Shidiq A

Elbert Yamaku

antena Impedansi biquad 10,15 dualband Polarisasi linier untuk Pola pancar aplikasi Wiomnidireksional Fi dan WiMAX pada frekuensi 2,3-2,4 GHz dan 3,3-3,4 GHz Perancangan, Ridla Gain 10 dBi simulasi dan Laetutia VSWR 1,3 realisasi Halim Impedansi 50 antena triple biquad untuk Polarisasi linier aplikasi WiMAX Pola pancar pada omnidireksional frekuensi 3,3-3,4 GHz Dari perkembangan riset diatas, belum ada yang membahas tentang karakteristik dari antena biquad. Tugas akhir ini mengembangkan riset tentang antena doble biquad dual band yang meliputi karakterisasi, perancangan dan realisasi, sehingga dapat menghasilkan antena Double Biquad yang dapat bekerja pada dua frekuensi dan mempunyai gain yang lebih besar. Konsep antena susunan digunakan dalam perancangan tugas akhir ini sehingga menghasilkan antena Double Biquad dengan gain yang lebih baik. Sedangkan untuk menghasilkan antena dualband akan digunakan metode dual resonator sehingga dapat digunakan untuk aplikasi WiMAX dan Wi-Fi. 2. Landasan Teori 2.1 Konsep Dasar Antena Dualband 2.1.1 Antena Quad

d2 = a2 (2-1) Dengan asumsi dimensi dari loop lebih kecil dari panjang gelombang, maka pola pancar di medan jauh dari circular loop dan square loop dianggap sama. Untuk mencari pola pancar medan jauh di bidang-yz, maka hanya dibutuhkan 2 komponen dari 4 komponen dipol pendek (2 dan 4). Untuk bidang elektrik pada antena Quad hanya komponen E , dan persamaaanya adalah : E = -E0 ej/2 + E0 e-j/2 (2-2)

Dimana E0 adalah bagian elektrik dari dipol tunggal dan = (2d / ) sin = dr sin Sehingga, E = -2j E0 sin Jika d << , maka : E = -j E0 dr sin Untuk dipol tunggal : E0 = Dengan mensubstitusikan persamaan E diperoleh : E = (2-5) E0 ke (2-4) (2-3)

persamaan

(2-6)

Panjang L pada dipol pendek sama dengan d, sehingga L=d dan dr = 2d / . Pada luas A dari loop adalah d2, sehingga persamaannya : E = (2-7) Komponen lain dari loop adalah H . Persamaaannya : H = = (2-8)

Double

Biquad

2.2.1 Antena Biquad Titik 0 sebagai referensi (diasumsikan fasa = 0) , maka fasa E1 akan tertinggal sebesar = Gambar 2.1 Antena circular loop dan square loop Pola bidang dari suatu small circular loop dengan jari-jari sepanjang a dapat dinyatakan dengan persamaan sederhana dengan menganggapnya sebagai square loop dengan luas yang sama. Berdasarkan gambar di atas, nilai d dapat dinyatakan sebagai berikut : dan fasa E2 mendahului sebesar = Sehingga medan gabungannya : Et = E0 ej/2 + E0 e-j/2 = E0(- ej/2 + e-j/2 ) = 2 E0 cos Et = 2 E0 cos (2-9) .

Dengan diketahui nilai E0 () = , sehingga diperoleh besar nilai Et () ntuk antena biquad adalah Et () = 2 cos 2.1.3 Antena Double Biquad (2-10)

Sehingga dari persamaan yang diperoleh dari antena Double Biquad untuk nilai Double Biquad dualband Et () sebagai berikut :

(2-13) Dari persamaan di atas, maka dapat ditentukan pola radiasi dari antena double biquad yang dirancang. Dengan memplotkan persamaan 2-15 dan 2-16 pada Microsoft Excel maka didapatkan pola pancar sebagai berikut :

Gambar 2.2 Antena Double Biquad Berdasarkan persamaan antena Biquad yang telah Berdasarkan persamaan antena Biquad yang telah diperoleh, maka persamaan antena Double Biquad dapat diturunkan dengan konsep susunan dua dari antena Double Biquad. Antena Double Biquad dapat dianggap sebagai antena Biquad yang dijajar dua. Dimana Biquad 1 tertinggal fasa sebesar , Biquad 2 mendahului sebesar . Sehingga diperoleh medan gabungan untuk antena Double Biquad, adalah : Et = 2 E0 cos (2-11) Dengan memasukan persamaan dari antena Biquad sebagai E0 pada persamaan diatas maka dapat diperoleh besar nilai E0 () pada antena Double Biquad. Et () = 4 cos2 (2-12) (a) (b) Gambar 2.7 (a) Pola radiasi bidang elevasi (b) Pola radiasi 3 dimensi 3. Karakterisasi dan Perancangan Antena Double Biquad Dualband 3.1 Karakterisasi antena Double Biquad Dualband Setiap antena punya karakteristik yang berbedabeda. Karakteristik yang dimaksud adalah respon suatu parameter antena terhadap perubahan dimensi dari antena itu sendiri. Dalam penentuan karakteristik antena double biquad dual band dilakukan pengamatan perubahan nilai suatu parameter dengan bantuan simulasi Ansoft HFSS. 3.1.1 Impedansi 3.1.1.1 Pengaruh Perubahan Panjang Sisi Terhadap Impedansi Berikut ini adalah nilai impedansi dari antena saat diameter antena = 0.7 mm dengan panjang sisi yang berbeda dari hasil simulasi : Tabel 3.1 Perubahan nilai impedansi saat jari-jari antena 0.7 mm. Gambar 2.3 Antena Double Biquad dualband

2.1.4 Antena Double Biquad Dualband Ada beberapa teknik yang digunakan untuk membuat antena merancang dualband diantaranya dengan menggabungkan dua antena yang mempunyai dimensi dan besaran berbeda atau dengan menambahkan beban reaktif pada bagian antena, selain itu dapat juga dengan menambahkan slot pada antena tersebut. Tetapi dari beberapa cara tersebut, teknik yang cocok untuk antena Double Biquad adalah dengan cara menggabungkan dua antena atau disebut juga dengan multi resonan.

Panjang sisi ()

Frekuensi = 2.35 GHz R() X() 35.24 68.54 63.43 84.65 86.96 -112.34 -68.15 -61.87 -238.68 -245.45

Frekuensi = 3.35 GHz R() X() 26.66 37.977 44.97 27.1 22.49 -57 -57.3 -54.49 -58.26 -58.06

0.25 0.2625 0.275 0.2875 0.3

3.1.1.2 Pengaruh Perubahan Jari-Jari Antena terhadap Impedansi Setelah mengamati panjang sisi yang ideal untuk antena ini, pada percobaan ini akan diamati perubahan nilai impedansi berdasarkan ketebalan antena. Berikut ini adalah nilai impedansi antena saat panjang sisi antena = 0.275 dengan jari-jari antena yang berbeda dari hasil simulasi : Tabel 3.2 Perubahan nilai impedansi antena saat panjang sisi antena 0.275 Jari-jari antena (r) 0.5 0.6 0.7 0.8 0.9 Frekuensi = 2.35 GHz R () X() 236.05 90.81 63.43 50.19 70.89 -127.63 -57.15 -61.87 -77.5 -71.85 Frekuensi = 3.35 GHz R() X() 60.61 57.7 44.97 42.55 39.93 -73.49 -59.96 -54.49 -65.7 -62.785

Berikut merupakan grafik yang menunjukkan perubahan nilai resistansi terhadap panjang sisi dari antena:
100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 0.25 0.2625 0.275 0.2875 0.3 R (2.35 GHz)

Resistansi ()

Jika data diatas ditampilkan dalam grafik maka akan terlihat seperti gambar berikut :
250

Resistansi ()

Panjang sisi ()

R (3.35 GHz)

200 150 100 50 0

Gambar 3.1 Grafik resistansi antena terhadap perubahan panjang sisi


0 -50 0.25 0.2625 0.275 0.2875 0.3

0.5

0.6

0.7

0.8

Jari-jari antena (mm)

0.9 R (2.35 GHz) R (3.35 GHz)

Reaktansi ()

-100 -150 -200 -250 -300 0 X (2.35 GHz) X (3.35 GHz) -20 0.5 0.6 0.7 0.8 0.9

Gambar 3.3 Grafik resistansi antena terhadap perubahan jari-jari antena

Reaktansi ()

Panjang sisi ()

-40

Gambar 3.2 Grafik reaktansi antena terhadap perubahan panjang sisi antena Dari grafik diatas terlihat bahwa nilai resistansi antena pada kedua frekuensi mendekati 50 saat panjang sisi antena = 0.275 . Pada saat ini juga , nilai reaktansi antena mencapai nilai minimum, sehingga dari panjang sisi antena yang paling mendekati ideal adalah 0.275 .

-60
-80 -100 -120 -140

Jari-jari antena (mm)

X (2.35 GHz) X (3.35 GHz)

Gambar 3.4 Grafik reaktansi antena terhadap perubahan jari-jari antena Dari grafik dan tabel diatas terlihat bahwa resistansi antena mendekati nilai 50 saat jari-jari antena 0.8 mm. Namun masih terdapat nilai reaktansi antena sebesar -65.7 pada frekuensi 3.35 GHz dan -77.5 pada frekuensi 2.35 GHz, sehingga dibutuhkan penyepadananan impedansi untuk menghilangkan komponen reaktif. 3.1.2 Gain Dalam menentukan karakeristik gain suatu antena double biquad dual band, akan diamati nilai impedansi dari antena berdasarkan perubahan panjang sisi dan jari-jari antena. 3.1.1.1 Pengaruh Perubahan Jari-Jari Antena Terhadap Gain. Berikut ini adalah perubahan nilai gain antena saat panjang sisi antena adalah 0.275 dengan jari-jari berbeda dari hasil simulasi : Tabel 3.3 Perubahan gain antena terhadap jari-jari antena Jari-jari Gain (dB) antena (mm) 0.5 0.6 0.7 Frekuensi 2350 MHz 14.56 16.08 10.05 11.15 19.39 Frekuensi 3350 MHz 12.89 11.75 10.62 11.89 12.51

Gambar 3.5 Grafik gain antena terhadap jari-jari antena Dari grafik dan table diatas terlihat bahwa gain dari antena double biquad dual band mencapai nilai tertinggi saat diameter jari-jari antena bernilai 0.5 mm. Namun disisi impedansi, nilai impedansi antena mencapai nilai yang paling tidak ideal. Sehingga kita dapat menyimpulkan bahwa dalam karakteristik antena ini terdapat trading antara nilai impedansi dan gain. Setelah mengetahui karakteristik dari antena double biquad dual band maka akan lebih mudah untuk menentukan dimensi antena sesuai dengan kebutuhan dan spesifikasi yang telah ditentukan sebelumnya dalam perancangan suatu antena double biquad dualband. 3.2 Perancangan Tugas Akhir 3.2.1 Target Spesifikasi Rancangan Spesifikasi dari antenna yang akan dirancang adalah sebagai berikut : Frekuensi : 2300-2400 MHz dan 3300-3400 MHz VSWR < 1,5 Gain 10dBi Impedansi 50 ohm Pola radiasi bidireksional Polarisasi Linier 3.2.2 Pemilihan Bahan Antena

0.8 0.9

Jika data diatas direpresentasikan dalam bentuk grafik maka akan terlihat sebagai berikut :
8 7 6 5 4 3 2 1 0 0.5 0.6 0.7 0.8

Pemilihan dapat didasarkan pada kualitas bahan, ketersediaan bahan dan nilai ekonomis dari bahan. Pada pembuatan antenna ini akan digunakan kawat tembaga (copper) karena mempunyai konduktivitas tinggi, ekonomis dan mudah ditemukan di pasaran. Bahan yang digunakan dalam pembuatan antenna double biquad adalah kawat tembaga yang mempunyai permitivitas relative bahan (r) = 1 3.3 Hasil Simulasi

Gain (dB)

Diameter (mm)

0.9 Gain (2.35 Ghz) Gain (3.35 GHz)

Gambar 3.7 Antena double biquad dual band pada simulasi Ansoft HFSS v10

Bentuk diatas adalah tampilan dari set up parameter setelah dilakukan optimasi terhadap dimensi antena agar diperoleh frekuensi resonan pada frekuensi 2,35 dan 3,35 GHz. 3.3.1 VSWR

3.3.3

Gain

Gambar 3.8 Pola radiasi 3 dimensi dari hasil simulasi pada frekuensi 3350 MHz

Gambar 3.5 Grafik VSWR dari hasil simulasi

Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa pada frekuensi 2,3-2,4 GHz dan 3,3-3,4 GHz nilai dari VSWR < 1,5 sehiingga sudah memenuhi spesifikasi awal antena yang dirancang. 3.3.2 Pola Radiasi

Gambar 3.9 Pola radiasi 3 dimensi dari hasil simulasi pada frekuensi 2350 MHz Gain maksimal dari hasil simulasi mencapai 11,89 dBi pada frekuensi 3350 MHz dan 11,15 dBi pada frekuensi 2350 MHz , sedangkan gain yang diinginkan minimal 10 dBi. Gain dari simulasi sudah memenuhi spesifikasi awal perancangan.

(a) (b) Gambar 3.6 (a) Pola radiasi bidang azimuth dari hasil simulasi pada frekuensi 3350 MHz (b) Pola radiasi bidang elevasi dari hasil simulasi pada frekuensi 3350 MHz

4. Pengukuran dan Analisis 4.1 Pengukuran VSWR , Bandwidth dan Impedansi Antena Pengukuran VSWR, bandwidth dan impedansi antena menggunakan network analyzer yang merepresentasikan perbandingan daya yang dikirim ke beban dengan daya yang terpantul dari beban.

(a) (b) Gambar 3.7 (a) Pola radiasi bidang azimuth dari hasil simulasi pada frekuensi 2350 MHz (b) Pola radiasi bidang elevasi dari hasil simulasi pada frekuensi 2350 MHz

Gambar 4.1 Konfigrasi pengukuran bandwidth dan impedansi antena

VSWR,

4.1.1 Hasil Pengukuran VSWR dan Bandwidth

Tabel 4.1 Hasil pengukuran impedansi antena Frekuensi (MHz) 2300 2350 2400 3300 3350 3400 4.1.3 Resistansi () 59.576 61.28 63.62 41.465 41.803 41.901 Reaktansi () 0.353 -0.115 -1.635 -3.673 -3.786 -5.604

Gambar 4.2 Grafik hasil pengukuran VSWR dan bandwidth Dari gambar diatas diperoleh informasi nilai VSWR pada frekuensi 2,3 GHz adalah 1.192, sedangkan nilai VSWR pada frekuensi 2,4 GHz adalah 1.273. Nilai VSWR pada frekuensi 3,3 GHz adalah 1.227 , sedangkan nilai VSWR pada frekuensi 3.3 GHz adalah 1.241. Dari grafik di atas juga dapat diperoleh bandwidth dari range frekuensi pertama adalah 400 MHz dan bandwidth dari range frekuensi kedua adalah 675MHz.

Analisa Hasil Pengukuran VSWR, Bandwidth dan Impedansi Dari gambar 4.3 grafik VSWR antena double biquad dualband terlihat hasil pengukuran seperti di bawah ini : 1. VSWR<1.5 terletak pada batasan frekuensi di bawah ini : Untuk aplikasi Wi-Fi Frekuensi bawah = 2133 MHz ,VSWR = 1.494 Frekuensi tengah = 2350 MHz ,VSWR = 1.224 Frekuensi atas = 2533 MHz ,VSWR = 1.496

Untuk aplikasi Wimax Frekuensi bawah = 2875 MHz Frekuensi tengah = 3350 MHz Frekuensi atas = 3475 MHz

,VSWR = 1.475 ,VSWR = 1.213 ,VSWR = 1.488

4.1.2 Hasil Pengukuran Impedansi 2. Bandwidth dengan batasan VSWR<1.5 adalah sebagai berikut : Untuk aplikasi Wi-Fi (4-1) (4-2) Untuk aplikasi Wimax

Gambar 4.3 Grafik hasil pengukuran impedansi antena Dari hasil pengukuran impedansi didapatkan data impedansi antena double biquad dual band seperti tabel berikut :

Dari data diatas terlihat bahwa hasil dari spesifikasi awal sudah terpenuhi oleh hasil pengukuran dan didapatkan bandwidth yang lebih lebar dari spesifikasi awal. Dari tabel hasil pengukuran impedansi bisa dibandingkan hasil simulasi dan realisasi . Jika dibandingkan dengan impedansi hasil simulasi dalam grafik maka hasilnya akan tampak sebagai berikut :

80 60

Sehingga syarat medan jauh:

Impedansi ()

40 20 0 2300 2350 2400 2683 3300 3350 3400 -20 -40

Frekuensi (MHz) Resistansi Realisasi Reaktansi Realisasi Resistansi Simulasi Reaktansi Simulasi

Polarisasi suatu antena pada arah tertentu adalah sebagai jejak arah medan elektrik dari gelombang yang dipancarkan oleh antena tersebut. Gain antena didefinisikan sebagai perbandingan antara intensitas radiasi maksimum suatu antena terhadap intensitas radiasi maksimum
Sinyal dari sistem lain

AUT
Sinyal Utama Pengirim

Sinyal Pantul

Gambar 4.4 Perbandingan impedansi hasil realisasi dan simulasi Nilai impedansi antena pada frekuensi 2300-2400 MHz dan 3300-3400 MHz sudah mendekati nilai 50 hanya saja masih ada nilai komponen reaktif hasil pengukuran yang jauh lebih kecil dari nilai komponen reaktif dari hasil simulasi . 4.2 Pengukuran Pola radiasi, Gain dan Polarisasi Pola radiasi antena diukur pada daerah medan jauh antena, karena pada daerah tersebut gelombang elektromagnetik yang terpancar bersifat transversal penuh dan antena tidak dipengaruhi oleh benda di sekelilingnya. Adapun besarnya medan jauh untuk pengukuran ini dihitung melalui persamaan: R 2L2 . D (Panjang dimensi terbesar antenna) = panjang antena = 20.5 cm Untuk frekuensi 3,35 GHz Sehingga syarat medan jauh:

Sinyal yang tidak diinginkan


Function Generator

Spectrum Analyzer

2L

antena referensi dengan daya input sama.

Gambar 4.6 Konfigurasi pengukuran polarisasi

4.2.1

Hasil Pengukuran Pola Radiasi

( a )

( b )

Untuk frekuensi 2,35 GHz

( c ) ( d ) Gambar 4.6 (a) Pola radiasi arah azimuth pada frekuensi 2350 MHz , (b) Pola radiasi arah azimuth

pada frekuensi 3350 MHz, (c) Pola radiasi arah elevasi pada frekuensi 2350 MHz dan (d) Pola radiasi arah elevasi pada frekuensi 3350 MHz 4.2.2 Hasil pengukuran Polarisasi

Frekuensi (MHz) 2350 3350

Gain Simulasi (dBi) 11,89 11,15

Gain Pengukuran (dBi) 12,04 11,09

Dari hasil pengukuran polarisasi, didapatkan data sebagai berikut: Untuk frekuensi 2350 MHz : Daya terima maksimum (sumbu mayor)= -29,07 dBm Daya terima minimum (sumbu minor) = -56,67 dBm Untuk frekuensi 3350 MHz : Daya terima maksimum (sumbu mayor)= -29,87dBm Daya terima minimum (sumbu minor)= -61,35 dBm Dengan analisa rasio kuat medan elektrik, maka dapat diketahui tipe polarisasinya. Untuk frekuensi 2350 MHz : Axial ratio (numerik) = (4-1) Untuk Frekuensi 2350 MHz :
Pwatt mayor x377 Pwatt min or x377 1,25 10-6 x377 2,51 x10
9

377

0,022 22.31 13,486dB 0,00973

Untuk Frekuensi 3350 MHz :


Pwatt mayor x377 Pwatt min or x377 1,03 10-6 x377 7,33 x10
10

377

0,019 35.85 15,544dB 0,00053

Sehingga dari perhitungan rasio kuat medan elektrik dapat diketahui bahwa AUT berpolarisasi elips. Hasil pengukuran ini kurang sesuai dengan spesifikasi awal yang diharapkan yaitu polarisasi linier. Perbedaan ini disebabkan oleh ruang pengukuran yang tidak sesuai dengan kondisi ideal. 4.2.3 Hasil Pengukuran Gain

Pengukuran gain antena dilakukan diluar ruangan. Pengukuran gain antena ini menggunakan metode substitusi dimana diperlukan antena referensi (dipole sleeve /2) dan antena under test. Dengan metode tersebut, persamaan untuk mendapatkan gain antena yang diuji adalah : (4-2) Dimana : Gain = Penguatan dari antena yang diuji Pref = Daya terima dari antena referensi PAUT = Daya terima dari antena yang di uji Berikut adalah gain hasil pengukuran dan hasil simulasi

5. Kesimpulan dan Saran 5.1 Kesimpulan Dari hasil karakterisasi, perancangan dan perealisasian antena double biquad dual band yang telah dibuat, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1. Metoda dual resonator dapat mebuat antena double biquad bekerja pada dua frekuensi atau dual band. 2. Antena double biquad dual band memiliki karakteristik sebagai berikut : a. Impedansi dari antena double biquad dual band paling mendekati ideal pada panjang sisi 0.275 dan jari-jari 0.8 mm. b. Gain dari antena double biquad dual band mencapai maksimum saat diameter 0.5 mm. c. Dalam perancangan antena double biquad dualband terjadi trading antara gain dan impedansi, semakin besar gain, maka impedansi semakin tidak ideal. 3. Bandwidth yang diperoleh pada SWR < 1,5 adalah sebesar 400 MHz pada rentang frekuensi 21332533 MHz dan 600 MHz pada rentang frekuensi 2875-3475 MHz, hal ini sesuai dengan spesifikasi awal yang membutuhkan bandwidth sebesar 100 MHz pada rentang frekuensi 2300-2400 MHz dan 3300-3400 MHz. 4. Impedansi yang diperoleh adalah 41,83j3,786 pada frekuensi 2350 MHz dan 61,08-j0.115 pada frekuensi 3350 MHz. 5. Gain maksimal yang diperoleh adalah 12,4 dBi. 6. Bandwidth yang diperoleh dalam pembuatan antena ini mencukupi frekuensi untuk aplikasi WiFi dan WiMAX. 7. Bentuk pola radiasi yang didapatkan menyerupai bidireksional, namun pada proses pengukuran terjadi beberapa penyimpangan terhadap hasil simulasi dan ini lebih banyak terjadi karena kondisi pengukuran yang kurang sempurna akibat masih adanya pantulan sinyal serta kemungkinan adanya sinyal asing yang dapat mempengaruhi hasil pengukuran. 8. Bentuk polarisasi yang didapatkan adalah elips. 5.2 Saran Dalam perancangan antena terdapat penyimpanan terhadap karakteristik dari antena yang diinginkan, sehingga untuk mendapatkan performansi yang lebih baik ada beberapa hal yang bisa dijadikan saran antara lain;

1. Untuk perkembangan riset selanjutnya gunakanlah metode multi resonan untuk menghasilkan antena double biquad berpita ultra lebar (broadband). 2. Untuk menghasilkan gain yang lebih besar dapat dibuat susunan antena quad dengan jumlah elemen susunan yang lebih banyak. 3. Dibutuhkan ketelitian yang baik dalam pabrikasi antena , agar hasil yang diperoleh tidak jauh berbeda dengan spesifikasi awal. 6. Daftar Pustaka [1] Kraus, John. D.,Antennas, McGraw-Hill Book, Singapore, 1988. [2] Balanis, Constantine A., Antena Theory: Analysis and Design, New York: Jhon Wiley & Son Inc, 1982 [3] Yamaku, Elbert, Perancangan Dan Realisasi Antena Biquad Dualband Untuk Aplikasi Wi-Fi dan WiMAX pada frekuensi 2,3-2,4 GHz dan 3,3-3,4 GHz, Tugas Akhir, ITTelkom, Bandung, 2010. [4] Purbo, Onno W., Beberapa Perbedaan Radio Amatir Baru vs. Lama [5] Halim, Ridla L. , Perancangan Dan Realisasi Antena Triple Biquad Untuk Aplikasi WiMAX pada frekuensi 3,3-3,4 GHz, Tugas Akhir, ITTelkom, Bandung, 2010.