Anda di halaman 1dari 86

ANALISIS KELAYAKAN USAHA PEMBENIHAN IKAN PATIN (Pangasius spp) (Studi Kasus : Number One Fish Farm, Desa

Cihideung Ilir, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor)

SKRIPSI

ARMAYUNI H34066024

DEPARTEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
2011

RINGKASAN ARMAYUNI. Analisis Kelayakan Usaha Pembenihan Ikan Patin (Pangasius spp) Studi Kasus : Number One Fish Farm, Desa Cihideung Ilir, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor. Skripsi. Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor (Di bawah bimbingan EVA YOLYNDA AVINY). Sektor perikanan termasuk salah satu penyumbang devisa negara non migas yang cukup besar selain sektor kehutanan dan perkebunan. Sesuai dengan sasaran yang diharapkan dalam Rencana Strategis Pembangunan Kelautan dan Perikanan tahun 20052009, kontribusi sektor perikanan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada tahun 2009 diharapkan mencapai 5,10 persen. Ikan patin adalah salah satu jenis ikan air tawar yang memiliki prospek cukup baik untuk dibudidayakan. Bogor merupakan salah satu sentra produksi pembenihan ikan patin di daerah Jawa Barat, karena kondisi cuaca dan iklim yang menunjang selain itu pH air juga mendukung, pakan berupa cacing sutera banyak ditemukan, serta perkembangan teknologi penyuntikkan dan pengekstraan kelenjar hipofisa. Permasalahan yang dihadapi Number One Fish Farm yaitu ketidakmapuan untuk memenuhi permintaan benih patin yang terus meningkat. Number One Fish Farm berencana untuk meningkatkan kapasitas produksi sehingga dapat memenuhi permintaan benih ikan patin. Rencana ini membutuhkan biaya investasi yang cukup besar dan resiko kegagalan yang cukup tinggi sehingga perlu dilakukan kajian pada saat merencanakan dan mengembangkan usaha tersebut. Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah di atas maka tujuan dari penelitian ini adalah :1) Menganalisis kelayakan usaha pembenihan ikan patin di Number One Fish Farm dilihat dari aspek pasar, aspek teknis, aspek manajemen, aspek sosial, aspek lingkungan dan aspek finansial. 2) Menganalisis tingkat kepekaan (sensitivitas) kelayakan usaha pembenihan ikan patin di Number One Fish Farm. Analisis yang dilakukan dalam penelitian ini adalah analisis kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif dilakukan untuk memperoleh gambaran tentang aspek-aspek pembenihan ikan patin secara umum meliputi analisis aspek pasar, aspek teknis, aspek manajemen, dan aspek sosial dan lingkungan. Analisis kuantitatif meliputi analisis kelayakan finansial usaha pembenihan ikan patin, analisis kelayakan finansial ini menggunakan perhitungan kriteria-kriteria investasi yaitu, Net Present Value (NPV), Internal Rate Return (IRR), Net Benefit Cost Ratio (Net B/C), Payback Period (PBP) dan analisis sensitivitas. Data yang diperoleh diolah secara manual dengan menggunakan program komputer Ms. Excel. Penelitian ini dilakukan di Number Fish Farm, yang terletak di Kapling Uska Desa Cihideung Ilir, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa Number One Fish Farm merupakan penghasil benih ikan patin yang baru dirintis pada bulan Juli 2008. Hasil analisis aspek non finansial yang terdiri dari aspek pasar, aspek teknis, aspek manajemen, aspek sosial dan lingkungan usaha ini layak untuk dijalankan. Hal ini dikarenakan usaha pembenihan ikan patin memiliki peluang pasar yang tinggi; kondisi iklim lokasi sangat cocok untuk usaha pembenihan

serta sarana dan prasarana usaha sangat melimpah; organisasi serta pembagian tugas dan wewenang yang jelas, sehingga memberikan kemudahan dalam koordinasi diantara karyawan; dan usaha pembenihan ikan patin ini membawa dampak baik kepada sosial ekonomi dan lingkungan sekitar. Berdasarkan hasil analisis finansial dari usaha pembenihan ikan patin bahwa nilai NPV, IRR, Net B/C, dan Payback Period yang diperoleh telah memenuhi ukuran kelayakan berdasarkan kriteria investasi. Dengan demikian bahwa secara finansial, usaha pembenihan ikan patin layak untuk dijalankan. Hasil analisis sensitivitas usaha pembenihan ikan patin sangat sensitif terhadap perubahan harga jual benih namun tidak terlalu berpengaruh pada kenaikan harga cacing sutera dan artemia.

ANALISIS KELAYAKAN USAHA PEMBENIHAN IKAN PATIN (Pangasius spp) (Studi Kasus : Number One Fish Farm, Desa Cihideung Ilir, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor)

ARMAYUNI H34066024

Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Agribisnis

DEPARTEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2011

Judul Skripsi : Analisis Kelayakan Usaha Pembenihan Ikan Patin (Pangasius spp) Studi Kasus : Number One Fish Farm Desa Cihideung Ilir, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor Nama : Armayuni NIM : H34066024

Disetujui, Pembimbing

Eva Yolynda Aviny, SP. MM NIP. 19710402 200604 2 008

Diketahui, Ketua Departemen Agribisnis Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor

Dr. Ir. Nunung Kusnadi, MS NIP.195809081984031002

Tanggal Lulus: .....................

PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi saya yang berjudul Analisis Kelayakan Usaha Pembenihan Ikan Patin (Pangasius spp) Studi Kasus : Number One Fish Farm Desa Cihideung Ilir, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor adalah karya saya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam bentuk daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Bogor, Maret 2011

Armayuni H34066024

RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Aek Nagaga, Kota Medan pada tanggal 25 Januari 1985. Penulis merupakan anak kedua dari tiga bersaudara dari pasangan Bapak N. Purwanto dan Ibu Nurhayati. Penulis mengawali pendidikan dasar di SD Negeri 90 Sarik pada tahun 1991 dan pendidikan menengah pertama diselesaikan pada tahun 2000 di SLTPN 2 Pasaman. Pendidikan lanjutan menengah atas diselesaikan pada tahun 2003. Pada tahun yang sama, penulis berkesempatan melanjutkan pendidikannya di Institut Pertanian Bogor lewat jalur USMI sebagai mahasiswa Program Studi Diploma III Teknologi Industri Kayu, Departemen Teknologi Hasil Hutan, Fakultas Kehutanan dan memperoleh gelar Ahli Madya pada tahun 2006. Pada tahun yang sama, penulis melanjutkan pendidikan pada jenjang Strata Satu (S1) Program Sarjana Agribisnis Penyelenggaraan Khusus, Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor.

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Analisis Kelayakan Usaha Pembenihan Ikan Patin (Pangasius spp) Studi Kasus : Number One Fish Farm Desa Cihideung Ilir, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor. Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Program Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. Skripsi ini disusun berdasarkan hasil penelitian di Number One Fish Farm yang merupakan salah satu usaha yang bergerak dibidang pembenihan ikan patin di Kabupaten Bogor. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kelayakan usaha pembenihan ikan patin dari aspek non finansial dan aspek finansial, serta menganalisis tingkat kepekaan (sensitivitas) usaha pembenihan ikan patin di Number One Fish Farm. Upaya memberikan yang terbaik telah dilakukan secara optimal dalam penyusunan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi berbagai pihak yang terkait dan bagi pembaca pada umumnya.

Bogor, Maret 2011

Armayuni

UCAPAN TERIMA KASIH


Penulisan skripsi yang berjudul Analisis Kelayakan Usaha Pembenihan Ikan Patin (Pangasius spp) Studi Kasus : Number One Fish Farm, Desa Cihideung Ilir, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor ini tidak terlepas dari bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Sehingga skripsi ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya sebagai salah satu syarat kelulusan. Pada kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada: 1. Orang tua tercinta serta seluruh keluargaku atas doa dan dukungannya selama penulis menyelesaikan kuliah di IPB, semoga ini bisa menjadi persembahan yang terbaik. 2. Eva Yolynda Aviny, SP. MM selaku dosen pembimbing terima kasih atas bimbingan, motivasi dan arahannya selama penulis menyusun skripsi ini. 3. Tintin Sarianti, SP, MM dan Ir Narni Farmayanti Msc selaku dosen penguji pada ujian sidang penulis yang telah meluangkan waktunya serta memberikan kritik dan saran demi perbaikan skripsi ini. 4. Dr. Ir. Rita Nurmalina, MS sebagai dosen evaluator yang telah memberikan masukan, dan saran sebagai bekal turun lapang, serta kesediaan waktu untuk berdiskusi. 5. Lidwina Dirgantara atas kesediaannya menjadi pembahas dalam seminar hasil skripsi yang telah memberikan masukan dan koreksi untuk perbaikan skripsi ini. 6. Bapak Ardi, atas izin dan kesempatan yang diberikan untuk melakukan penelitian di Number One Fish Farm serta telah memberikan informasi selama penelitian . 7. Ery Sulistyo Jati, terimakasih telah memberikan waktu dan perhatiannya untuk memotivasi sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. 8. Teman-teman satu bimbingan (Wina, Nadia dan Monang), teman-teman ekstensi Agribisnis terimakasih atas semangat dan sharing selama penelitian hingga penyempurnaan penyusunan skripsi ini. 9. Sahabat-sahabatku (Nuning, Retno, Tedi, Ami, Dora, Yeyet, Eno, Widi dan m Sigi) terimakasih untuk persahabatan dan canda tawanya.

10. serta seluruh pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu yang telah membantu terselesaikannya skripsi ini. Semoga Allah SWT mencatat dan membalas semua amal baik ini dengan balasan yang lebih baik.

Bogor, Maret 2011

Penulis

DAFTAR ISI
Halaman

DAFTAR TABEL ............................................................................... DAFTAR GAMBAR ........................................................................... DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................... I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ....................................................................... 1.2. Perumusan Masalah ............................................................... 1.3. Tujuan Penelitian ................................................................... 1.4. Manfaat Penelitian ................................................................. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Karakteristik Ikan Patin ........................................................... 2.2. Teknik Pembenihan Ikan Patin Secara Intensif ........................ 2.3. Penelitian Terdahulu ................................................................

iii iv v 1 7 8 8 9 9 11 14 14 15 15 16 17 22 22 25 25 25 28 29 30 30 30 31 33 36

II

III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis .................................................. 3.1.1. Teori Biaya dan Manfaat ............................................. 3.1.2. Aliran kas (Casflow) ................................................... 3.1.3. Analisis Laba Rugi....................................................... 3.1.4. Umur Usaha ................................................................. 3.1.5. Aspek-aspek Analisis Kelayakan Usaha ....................... 3.1.6. Analisis Sensitivitas ..................................................... 3.2. Kerangka Pemikiran Operasional ............................................ IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian .................................................. 4.2. Jenis dan Sumber Data ............................................................ 4.3. Metode Pengolahan dan Analisis Data ................................... 4.4. Analisis Sensitivitas ............................................................... 4.5. Asumsi Dasar ......................................................................... V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1. Sejarah Perusahaan ................................................................. 5.2. Lokasi ..................................................................................... 5.3. Fasilitas Pembenihan ............................................................... 5.3.1. Fasilitas Utama .............................................................. 5.3.2. Fasilitas Pendukung .......................................................

VI ANALISIS NON FINASIAL 6.1. Aspek Pasar ...........................................................................

6.1.1. Permintaan dan Penawaran ........................................... 6.1.2. Strategi Pemasaran ....................................................... 6.2. Aspek Teknis .......................................................................... 6.2.1. Lokasi Usaha ................................................................ 6.2.2. Proses Produksi ............................................................. 6.3. Aspek Manajemen .................................................................. 6.4. Aspek Sosial ........................................................................... 6.5. Aspek Lingkungan .................................................................. VII ANALISIS ASPEK FINANSIAL 7.1. Inflow (Arus Manfaat) .............................................................. 7.2. Outflow (Arus Pengeluaran) .................................................... 7.3. Analisis Laba Rugi Usaha Pembenihan Ikan Patin ................... 7.4. Analisis Kelayakan Finansial Usaha Pembenihan Ikan Patin .... 7.5. Analisis Sensitivitas ................................................................. VIII KESIMPULAN DAN SARAN 8.1. Kesimpulan ............................................................................. 8.2. Saran ....................................................................................... DAFTAR PUSTAKA .........................................................................

36 37 38 38 39 46 47 47 48 49 56 57 58 60 60 61

DAFTAR TABEL
Nomor Halaman

1.

Perkembangan Budidaya Air Tawar Menurut Jenisnya Tahun 2005-2009 ................................................................................ Perkembangan Budidaya Air Tawar Menurut Komoditas Utama Tahun 2005-2009 .......................................................... Produksi Provinsi Jawa Barat Per Komoditas Utama Tahun 2009 (Ton) ................................................................................ Perkembangan Produksi Ikan Kabupaten Bogor Tahun 20062009 ......................................................................................... Produksi Benih Per Jenis Ikan Per Kecamatan Tahun 2009 ...... Nilai Sisa Investasi Usaha Pembenihan Ikan Patin .................... Biaya Investasi dan Penyusutan Usaha Pembenihan Ikan Patin . Biaya Reinvestasi Usaha Pembenihan Ikan Patin ...................... Rincian Biaya Tetap Usaha Pembenihan Ikan Patin .................. Rincian Biaya Variabel Usaha Pembenihan Ikan Patin .............. Kelayakan Finansial Usaha Pembenihan Ikan Patin .................. Analisis Sensitivitas Penurunan Harga Benih Sebesar 10 Persen ....................................................................................... Analisis Sensitivitas Kenaikan Harga Artemia dan Cacing Sutera Sebesar 10 Persen ..........................................................

2.

3.

4.

5 6 49 50 51 52 56 57

5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12.

59

13.

59

DAFTAR GAMBAR
Nomor Halaman

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13.

Kerangkan Pemikiran Operasional ........................................... Kolam Pemeliharaan Induk ...................................................... Susunan Akuarium di Number One Fish Farm ......................... Tempat Pemeliharaan Benih ..................................................... Kelamin Induk Betina ............................................................... Kelamin Induk Jantan ............................................................... Penyuntikkan ........................................................................... Induk Betina Saat Stripping ...................................................... Induk Jantan Saat Stripping ..................................................... Pencampuran Telur dan Sperma ................................................ Panen Larva ............................................................................. Benih Ikan Patin Yang Siap Kirim ............................................ Struktur Organisasi di Number One Fish Farm .........................

24 31 32 32 41 41 42 42 42 43 43 45 46

DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Halaman

1. 2. 3. 4. 5.

Kusioner .................................................................................. Diagram Alir Pembenihan Ikan Patin ....................................... Laporan Laba Rugi Usaha Pembenihan Ikan Patin .................... Analisis Kelayakan Usaha Pembenihan Ikan Patin .................... Analisis Sensitivitas Penurunan Harga Jual Benih Sebesar 10 Persen ...................................................................................... Analisis Sensitivitas Kenaikan Harga Artemia dan Cacing Sutera Sebesar 10 Persen ..........................................................

63 66 67 68

69

6.

70

I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Sektor perikanan termasuk salah satu penyumbang devisa negara non migas yang cukup besar selain sektor kehutanan dan perkebunan. Sesuai dengan sasaran yang diharapkan dalam Rencana Strategis Pembangunan Kelautan dan Perikanan tahun 20052009, kontribusi sektor perikanan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada tahun 2009 diharapkan mencapai 5,10 persen. Sasaran lain yang ingin dicapai adalah total produksi perikanan sebanyak 9,7 juta ton, nilai ekspor perikanan US$5 miliar, konsumsi ikan penduduk 32,29 kg/kapita/tahun, dan penyediaan kesempatan kerja kumulatif sebanyak 10,24 juta orang1. Pemenuhan kebutuhan ikan di masa akan datang salah satunya adalah melalui budidaya. Budidaya air tawar adalah salah satu subsektor perikanan budidaya dan memiliki karakteristik yang cukup beragam dibandingkan dengan subsektor perikanan budidaya laut dan budidaya air payau. Budidaya air tawar terdiri dari empat jenis yaitu budidaya kolam, budidaya karamba, budidaya jaring apung dan budidaya sawah. Perkembangan budidaya air tawar menurut jenisnya dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Perkembangan Budidaya Air Tawar Menurut Jenisnya 2005 - 2009
Budidaya 2005 Jaring Apung Keramba Kolam Sawah Total 109,421 67,889 331,966 120,353 629,629 2006 143,251 56,200 381,945 105,671 687,067 Tahun 2007 190,894 63,929 410,373 85,009 750,205 2008 263,169 75,769 479,167 111,584 929,688 2009 238,606 101,771 554,067 86,913 981,358 23,18 12,34 13,72 5,65 11,95 Kenaikan per tahun

Sumber : Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Tahun 2009 Perkembangan subsektor budidaya air payau selama tiga tahun terakhir ini cukup menggembirakan, yaitu adanya kenaikan 11,95 persen per tahun. Jika

dilihat pada tabel di atas maka semua jenis budidaya mengalami kenaikan positif kecuali untuk budidaya sawah yang mengalami gejolak kenaikan yang fluktuatif. Budidaya kolam pada tahun 2009, volume produksi mencapai 554.067 ton atau naik sebesar 15,63 persen dari tahun 2008 yang volume produksi mencapai 479.167 ton. Sementara kenaikan per tahunnya selama lima tahun terakhir ini sebesar 13,72 persen. Budidaya keramba juga mengalami tren yang positif setelah turun pada tahun 2006, produksi karamba terus mengalami peningkatan hingga pada tahun 2009 mencapai 100 ribu ton atau tepatnya 101.771 ton atau terjadi kenaikan rata-rata per tahun sebesar 12,34 persen. Budidaya jaring apung juga mengalami tren positif dan pada tahun 2008 terjadi lonjakan volume produksi yang sangat fantastis. Walaupun di tahun ini terjadi penurunan volume produksi namun itu tidaklah membuat Ditjen perikanan budidaya pesimis terhadap laju pertumbuhan budidaya jaring apung, karena potensi pengembangan budidaya jaring apung masih sangat terbuka. Satu lagi adalah budidaya sawah. Budidaya sawah memang trennya turun-naik. Hal ini disebabkan karena budidaya sawah hanya dijadikan kegiatan sambilan untuk menambah penghasilan bagi para petani sawah karena budidaya ikan di sawah memanfaatkan areal persawahan yang digabung dengan tumbuhan padi. Perkembangan budidaya air tawar terhadap lima komoditas utama yaitu gurame, ikan mas, lele, nila dan patin menunjukkan tren positif selama lima tahun terakhir. Ikan gurami yang merupakan ikan konsumsi air tawar yang harga jualnya cukup tinggi, dengan kenaikan rata-rata per tahun sebesar 16,52 persen. Produksi ikan patin meningkat cukup tinggi selama tiga tahun terakhir. Hal ini disebabkan karena pasar ikan patin baik di dalam dan luar negeri sudah terbuka serta teknik budidaya yang tidak rumit sehingga banyak bermunculan para pembudidaya patin diberbagai daerah. Kenaikan rata-rata ikan patin selama lima tahun terakhir sebesar 49,62 persen. Lonjakan produksi ikan patin tertinggi terjadi antara tahun 2007 ke 2008, yaitu dari 36.755 ton menjadi 102.021 ton (Tabel 2).

Tabel 2. Perkembangan Budidaya Air Tawar menurut Komoditas Utama 2005 - 2009
Komoditi Gurame Ikan Mas Lele Nila Patin 2005 25,442 216,924 69,386 151,363 32,575 2006 28,711 247,633 77,332 179,934 31,489 Tahun 2007 35,708 264,349 91,735 206,905 36,755 2008 36,636 242,322 114,371 291,037 102,021 Kenaikan Per Tahun 2009 46,254 16,52 249,279 3,86 144,755 20,33 323,389 21,41 109,685 49,62

Sumber : Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Tahun 2009 Jawa Barat dikenal sebagai penghasil produksi ikan air tawar terbesar di Indonesia, sehingga provinsi ini dikatakan sebagai jantungnya produksi perikanan budidaya. Total produksi perikanan budidaya air tawar di Provinsi Jawa Barat mencapai 325.899 ton pada tahun 2009 atau sekitar 74 persen total produksi perikanan budidaya Jawa Barat yang sebesar 442.012 ton berasal dari perikanan budidaya air tawarnya. Jawa Barat yang memiliki Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar di Sukabumi memang dikenal sebagai sentra perikanan budidaya air tawar Indonesia. Persebaran komoditas perikanan budidaya air tawar di Provinsi Jawa Barat dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Produksi Provinsi Jawa Barat Per Komoditas Utama Tahun 2009 (Ton)
Kabupaten/Kota Kab Ciamis Kab Tasikmalaya Kab Garut Kab Cianjur Kab Sukabumi Kab Bekasi Kab Karawang Kab Subang Kab Indramayu Kab Cirebon Kota Cirebon Kab Bogor Kab Purwakarta Kab Bandung Kota Bandung Kab Sumedang Kab Majalengka Kab Kuningan Kota Bekasi Kota Depok Kota Tasikmalaya Nila 4.549 4.460 3.021 20.600 987 219 815 3.428 237 245 14 1.828 23.831 1.985 485 1.669 2.288 2.271 142 166 1.771 Mas 1.201 9.215 4.543 34.362 534 99 1.486 8.285 197 199 8 3.857 39.745 3.530 1.260 2.317 919 1.538 510 324 1.540 Lele 1.063 583 60 248 374 193 783 293 17.093 448 34 18.313 250 1.066 891 23 778 380 378 482 566 Patin 1.319 1 103 40 45 7 581 6.617 96 Gurame 2.524 509 109 2.884 39 19 6 1.560 283 2 1.946 1 115 589 422 334 691

Kota Bogor Kota Banjar Kota Cimahi Kota Sukabumi Kab Bandung Barat Total

559 488 7 442 10.635 87.065

470 374 5 367 12.412 129.298

480 113 41 417 394 48.041

485 1 6 3.611 12.912

390 397 1 10 189 13.021

Sumber : Direktorat Jenderal Perikanan BudidayaTahun 2009 Jawa Barat dikenal sebagai penghasil utama ikan nila terbesar di Indonesia. Ikan nila di Provinsi Jawa Barat banyak ditemui di Kabupaten Cianjur, Kabupaten Purwakarta dan Kabupaten Bandung Barat. Ketiga Kabupaten ini memang dikenal sebagai sentra budidaya ikan nila. Sekitar 60 persen produksi ikan nila Jawa Barat berasal dari ketiga kabupaten tersebut. Selain ikan nila Provinsi Jawa Barat juga memiliki ikan mas yang produksinya pada tahun 2009 mencapai 129.298 ton. Produksi ini termasuk terbesar di Indonesia. Seperti halnya ikan nila sentra produksi budidaya ikan mas juga terdapat pada Kabupaten Cianjur, Kabupaten Purwakarta dan Kabupaten Bandung Barat. Ikan lele juga berkembang dengan baik di Jawa Barat. Sentra produksi ikan lele ada di Kabupaten Bogor dan Kabupaten Indramayu. Kabupaten Bogor pada tahun 2009 telah berhasil memproduksi ikan lele melalui usaha budidayanya sebesar 18.313 ton dan Kabupaten Cianjur sebesar 17.093 ton. Patin dan gurame, dua komoditas utama perikanan budidaya juga berkembang di provinsi ini walaupun tidak sepesat perkembangan pada budidaya ikan mas, ikan nila dan ikan lele. Sentra produksi ikan patin di Jawa Barat ada di Kabupaten Purwakarta dan Kabupaten Bandung Barat. Sedangkan sentra untuk komoditas gurame, sentranya ada di Kabupaten Ciamis, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Bogor. Dengan produksi ikan nila, ikan mas dan ikan lelenya yang cukup besar, memang tidak dipungkiri jika Provinsi Jawa Barat dikatakan sebagai jantung perikanan budidaya air tawar Indonesia. Kabupaten Bogor merupakan salah satu daerah yang memiliki prospek yang cukup potensial untuk mengembangkan produksi perikanan, karena Bogor memiliki curah hujan yang cukup tinggi sehingga cepat memicu ikan untuk berkembang biak. Berdasarkan data dari Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bogor, perkembangan produksi ikan mengalami peningkatan setiap tahunnya (Tabel 4).

Tabel 4. Perkembangan Produksi Ikan Kabupaten Bogor Tahun 2006-2009


Jenis Produksi Ikan Konsumsi (Ton) Ikan Hias (Ribu Ekor) Pembenihan (Ribu Ekor) 2006 23,141.00 75,382.67 708,594.00 r (%) 2.43 3.85 1.14 2007 23,703.00 78,288.00 716,660.00 r (%) 5.84 7.96 3.90 2008 25,087.29 84,517.00 744,600.00 r (%) 14.57 23.77 13.77 2009 28,742.72 104,603.55 847,112.06

Sumber: Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bogor 2009 Perkembangan produksi ikan konsumsi di Kabupaten Bogor meningkat empat tahun terakhir yaitu 28,741.72 ton. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Bogor menggemari ikan. Kabupaten Bogor memproduksi ikan hias. Produksi ikan hias terus meningkat, tahun 2009 mencapai 104,603.55 ribu ekor. Selain ikan hias, Kabupaten Bogor juga memproduksi benih. Dari empat tahun terakhir produksi pembenihan ikan terus meningkat menjadi 847,112.06 ribu ekor pada tahun 2009. Dari produksi yang terus meningkat, sehingga usaha pembenihan ikan patin di Kabupaten Bogor sangat potensial untuk dikembangkan. Bogor merupakan salah satu sentra produksi pembenihan ikan patin di daerah Jawa Barat, karena kondisi cuaca dan iklim yang menunjang selain itu pH air juga mendukung, pakan berupa cacing sutera banyak ditemukan, serta perkembangan teknologi penyuntikkan dan pengekstraan kelenjar hipofisa. Berbeda dengan wilayah Kalimantan dan Sumatera yang memang difokuskan pada usaha pembesaran, sehingga tak jarang benih ikan patin yang dibesarkan berasal dari Jawa Barat. Pola konsumsi masyarakat Jawa Barat yang kurang menggemari ikan patin dibandingkan dengan masyarakat Sumatera dan Kalimantan menyebabkan pembudidaya ikan di Bogor lebih memilih kegiatan pembenihan daripada pembesaran. Produksi benih per jenis ikan per kecamatan di kabupaten Bogor pada tahun 2009 dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Produksi Benih Per Jenis Ikan Per Kecamatan Tahun 2009
Kecamatan Jumlah RTP (orang) Produksi (RE) Mas Nila Lele Patin

Nanggung Leuwiliang Leuwisadeng Pamijahan Cibungbulang Ciampea Tenjolaya Dramaga Ciomas Tamansari Cijeruk Cigombong Caringin Ciawi Cisarua Megamendung Sukaraja Bbkn Madang Sukamakmur Cariu Tanjungsari Jonggol Cileungsi Klapanunggal Gunung Putri Citeureup Cibinong Bojong Gede Tajurhalang Kemang Rancabungur Parung Ciseeng Gg Sindur Rumpin Cigudeg Sukajaya Jasinga Tenjo Pr Panjang Jumlah

33 34 21 132 106 54 69 64 21 26 25 14 21 18 5 10 0 0 0 0 0 5 6 2 2 0 25 30 32 50 30 4 120 70 0 64 5 10 2 11 1,105

5,936.00 7,935.00 3,485.30 13,676.00 608,816.35 34,322.00 62,582.00 20,272.65 16,980.00 4,359.00 1,842.00 2,057.00 2,951.00 2,990.00 1,662.00 3,304.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 21.20 10.00 49.00 38.00 0.00 1,455.69 812.55 1,781.67 117.08 6,558.72 11,598.00 22,013.85 7,390.00 0.00 423.00 1,290.00 112.00 72.00 199.00 847,112.06

2,014.00 2,862.00 813.00 3,745.00 631.00 8,872.00 22,303.00 4,903.50 3,707.75 1,335.00 505.00 600.00 751.00 671.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 20.00 10.00 20.00 6.00 0.00 272.80 173.29 422.16 0.00 1,398.69 0.00 0.00 0.00 0.00 313.00 111.00 62.00 72.00 69.00 56,663.19

1,518.00 1,217.00 571.00 2,713.00 454.00 4,971.00 6,051.00 3,957.00 3,427.00 910.00 1,337.00 1,457.00 2,200.00 994.00 674.00 1,328.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 1.20 0.00 21.00 10.00 0.00 227.52 120.87 294.90 15.49 165.82 140.00 224.60 0.00 0.00 85.00 497.00 40.00 0.00 78.00 35,700.40

927.00 885.00 1,442.00 3,220.00 1,463.00 6,748.00 5,245.00 23.65 1,877.50 241.60 0.00 0.00 0.00 965.00 988.00 1,976.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 8.00 8.00 0.00 597.18 265.02 454.65 26.00 2,948.60 10,600.00 15,049.07 6,000.00 0.00 0.00 0.00 10.00 0.00 52.00 62,020.27

0.00 7.00 82.00 704.00 886.00 8,852.00 6,958.00 105.00 3,325.00 242.40 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 69.69 128.87 299.68 30.19 1,020.66 360.00 3,288.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 26,358.49

Sumber : Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bogor 2009 Kecamatan Ciampea merupakan penghasil benih patin terbesar di Kabupaten Bogor dengan jumlah 54 orang atau Rumah Tangga Produksi (RTP) dengan produksi benih patin sebanyak 8,852 per tahun. Salah satu perusahaan penghasil benih patin yang ada di Ciampea adalah Number One Fish Farm, yang baru dirintis pada bulan Juli 2008. Saat ini, dengan jumlah kapasitas 60 akuarium

perusahaan mampu menghasilkan 300.000 ekor benih setiap musim produksi, dan perusahaan belum mampu memenuhi permintaan benih terhadap perusahaan yang mencapai 400.000 ekor benih. Sehingga perusahaan berencana untuk menambah jumlah kapasitas produksi. 1.2. Perumusan Masalah Peningkatan konsumsi ikan patin akan meningkatkan permintaan benih patin. Lonjakan produksi ikan patin tertinggi terjadi antara tahun 2007 ke 2008, yaitu dari 36.755 ton menjadi 102.021 ton menyebabkan permintaan benih patin sebagai input untuk kegiatan pembesaran terus meningkat. Sehingga usaha pembenihan ikan patin sangat potensial dan diperkirakan akan terus berkembang. Harga jual yang cukup tinggi menjadikan daya tarik pelaku usaha untuk memasuki usaha pembenihan ikan patin dengan harapan memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya. Number One Fish Farm merupakan usaha yang menghasilkan benih patin. Meningkatnya permintaan benih patin sebagai input untuk kegiatan pembesaran yang belum terpenuhi menciptakan peluang bagi perusahaan untuk memenuhi permintaan tersebut. Melihat peluang tersebut Number One Fish Farm berencana melakukan penambahan kapasitas produksi yang akan dimulai pada bulan Juli tahun 2011. Penambahan kapasitas produksi dilakukan dengan menambah jumlah akuarium, yang pada awalnya berjumlah 60 akan ditambah menjadi 70 akuarium. Penambahan kapasitas produksi memerlukan modal investasi yang cukup besar dan resiko kegagalan yang cukup tinggi. Sehingga perlu pertimbangan dalam menambah kapasitas produksi. Resiko kegagalan usaha tersebut antara lain benih patin termasuk makhluk hidup yang sangat peka terhadap lingkungan atau kondisi air yang kurang baik. Pengaruh kualitas air terhadap pertumbuhan benih, tingkat mortalitas yang tinggi, sehingga berpengaruh terhadap hasil panen dan penerimaan perusahaan. Selain itu, perusahaan juga perlu mengetahui apakah dengan penambahan kapasitas produksi usaha masih layak atau tidak, baik dari aspek pasar, aspek teknis, aspek manajemen, aspek sosial, aspek lingkungan, dan aspek finansial. Perubahan-perubahan yang terjadi terhadap harga input dan output produksi perlu diperhatikan terhadap manfaat dan keuntungan yang akan

diperoleh. Perubahan-perubahan yang terjadi seperti penurunan harga input, serta peningkatan biaya variabel yaitu kenaikan cacing sutera dan artemia mencapai 10 persen akan menunjukkan apakah usaha pembenihan ikan patin sensitif terhadap perubahan-perubahan tersebut. Untuk pengembangan dan pengusahaan pembenihan ikan patin,

membutuhkan waktu yaitu lima tahun, hal ini disesuaikan dengan umur ekonomis indukan ikan patin jantan. Oleh karena itu, penting untuk mempelajari bagaimana kelayakan pengusahaan pembenihan ikan patin tersebut. Berdasarkan uraian di atas, maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah : 1. Bagaimana kelayakan usaha pembenihan ikan patin di Number One Fish Farm, apakah sudah layak dari aspek non finansial dan aspek finansial? 2. Bagaimana tingkat kepekaan (sensitivitas) kelayakan usaha pembenihan ikan patin Number One Fish Farm jika terjadi penurunan harga benih patin dan peningkatan biaya artemia dan cacing sutera? 1.3. Tujuan Penelitian Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah yang telah diuraikan, maka penelitian ini bertujuan untuk : 1. Menganalisis kelayakan usaha pembenihan ikan patin di Number One Fish Farm dilihat dari aspek pasar, aspek teknis, aspek manajemen, aspek sosial, aspek lingkungan dan aspek finansial. 2. Menganalisis tingkat kepekaan (sensitivitas) kelayakan usaha pembenihan ikan patin di Number One Fish Farm. 1.4. Manfaat Penelitian Manfaat dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan yang bermanfaat bagi pemilik usaha pembenihan ikan patin mengenai kelayakan usaha demi keberlangsungan usahanya. Bagi penulis, untuk penerapan ilmu yang diperoleh selama masa perkuliahan dan sebagai sarana informasi dunia usaha di sub-sektor perikanan secara nyata. Bagi pembaca, diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai referensi atau rujukan sebagai informasi pengusahaan pembenihan ikan patin, serta sebagai pertimbangan ketika terjun ke dunia usaha atau pemilihan bisnis dalam pengambilan keputusan.

II TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Karakteristik Ikan Patin Hardjatmulia (1975) mengemukakan bahwa ikan patin berasal dari negara Thailand dan masuk ke wilayah Bogor pada tahun 1975. Ikan patin merupakan jenis ikan air tawar yang termasuk ke dalam golongan catfish, yaitu ikan yang memiliki kumis dan antena. Ikan patin memiliki sifat nocturnal (aktif pada malam hari) dan hidup di sungai-sungai. Di Indonesia terdapat beberapa jenis ikan patin yang populer dan banyak dipelihara di kolam budidaya, yaitu patin jambal, patin pasopati, dan patin siam. Ikan patin siam biasa juga disebut patin Bangkok atau lele Bangkok. Sebutan ini muncul tidak hanya ukurannya yang besar, tetapi juga berasal dari Bangkok. Ikan patin dapat hidup baik pada derajat keasaman (pH) 59, kandungan oksigen antara 3-6 ppm, kandungan CO2 9-20 ppm, alkalinitas 80250 dan suhu antara 28-30C (Khairuman dan Sudena D 2002) Dalam soal rasa, daging ikan patin memiliki rasa yang khas. Dari semua jenis ikan keluarga lele-lelean, rasa daging ikan patin termasuk enak. Analisis kandungan gizi, nilai protein daging cukup tinggi yaitu mengandung 68,6 persen protein, kandungan lemak sekitar 5,85 persen (Khairuman dan Sudena D 2002). 2.2. Teknik Pembenihan Ikan Patin Secara Intensif Teknik pembenihan ikan patin secara intensif dapat dibagi menjadi empat tahap utama (Khairuman dan Sudena D 2002). Tahap pertama adalah penyiapan induk, dimana induk yang akan dipijahkan dapat diperoleh dari alam atau hasil dari pembesaran sendiri. Induk diberikan pakan berupa pasta atau pelet sebanyak lima persen per hari dari bobot tubuhnya, yang terdiri dari 35 persen tepung ikan, 30 persen dedak halus, 25 persen menir beras, 10 persen tepung kedelai serta 0,5 persen vitamin dan mineral. Untuk mempercepat kematangan gonad, induk patin dapat diberi ikan rucah dua kali seminggu. Sebanyak 10 persen dari bobot tubuhnya. Tahap kedua adalah seleksi induk yang sudah matang gonad. Induk patin yang sudah matang gonad memiliki ciri-ciri sebagai berikut, umurnya minimal tiga tahun untuk induk jantan dan dua tahun untuk induk betina. Bobot tubuhnya 1,5 kg/ekor untuk induk jantan dan 2 kg/ekor untuk induk betina. Untuk induk

betina perutnya membesar kearah anus dan terasa empuk jika diraba. Kemudian kloakanya akan membengkak dan berwarna merah tua. Untuk memastikan telur sudah matang atau belum, petani sering memeriksa tingkat kematangan telur mengunakan selang kecil (kateter). Selang tersebut kemudian dimasukkan ke dalam kloaka sedalam 3 cm lalu disedot untuk mendapatkan beberapa butir telur. Telur-telur tadi kemudian akan diperiksa tingkat kematangannya, biasanya telur yang sudah matang akan berwarna kuning bening dengan inti yang berada di tepi sel. Sedangkan induk jantan yang sudah matang gonad akan mengeluarkan sperma berwarna putih jika perutnya dipijit kearah anus. Selain itu, alat kelaminnya akan membengkak dan berwarna kemerahan seperti induk betina. Tahap ketiga adalah pemijahan. Pemijahan dilakukan menggunakan teknik kawin suntik (induced breeding) karena patin termasuk salah satu ikan yang sulit memijah secara alami. Tingkat keberhasilan teknik ini tergantung kepada tingkat kematangan gonad induk, kualitas air, pakan dan kecermatan dalam penanganan pelaksanaan penyuntikkan. Induced breeding dilakukan dengan menggunakan hormon buatan atau kelenjar hipofisa ikan lain untuk merangsang pemijahan induknya. Penyuntikkan hormon dilakukan dibagian punggung ikan sedalam 2 cm dengan sudut kemiringan jarum suntik 45 derajat. Induk-induk patin yang sudah disuntik kemudian dimasukkan ke dalam bak atau jaring dengan air yang mengalir untuk menunggu waktu ovulasi. Tahap keempat adalah stripping dan pembuahan. Induk yang sudah disuntik dan akan ovulasi kemudian diangkat ke darat dengan mata tertutup kain basah. Hal ini dilakukan agar induk ikan patin tidak berontak saat dipegang. Induk-induk tersebut kemudian diambil telur dan spermanya dengan cara memijit bagian perutnya (stripping) ke arah anus. Telur dan sperma yang keluar akan ditampung ke dalam satu wadah, setelah itu diaduk beberapa menit agar terjadi proses pembuahan. Telur-telur kemudian akan ditetaskan ke dalam corong penetasan dengan aerasi yang tidak terlalu kuat sehingga telur-telur tidak berbenturan dengan keras. Telur akan menetas setelah 28 jam pembuahan. Setelah menetas, larva kemudian dipindahkan ke penampungan sementara berupa kain trilin yang dipasang di dalam bak penampungan larva. Setelah itu benih dapat dipelihara di akuarium atau bak fibre glass.

2.3. Penelitian Terdahulu Dalam tinjauan pustaka ini akan dikemukakan beberapa hasil penelitian mengenai analisis kelayakan. Berdasarkan hasil kriteria investasi yang digunakan oleh peneliti terdahulu yaitu NPV, IRR, Net B/C dan Payback Period. Net Present Value (NPV) dikatakan layak jika lebih besar dari nol. Agustika (2009), melakukan penelitian mengenai Analisis Kelayakan Perluasan Usaha Pemasok Ikan Hias Air Tawar Budi Fish Farm Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor. NPV yang diperoleh sebesar Rp 483.160.979,00. Penelitian yang dilakukan oleh Perdana (2008) mengenai Analisis Kelayakan Usaha Pembesaran Ikan Mas dan Nila pada Keramba Jaring Apung (KJA) Sistem Jaring Kolor Waduk Cikoncong Kecamatan Wanasalam, Kabupaten Lebak, Banten diperoleh NPV pembesaran ikan mas dan nila pada KJA sebesar Rp 15.578.956,00. Bukit (2007), melakukan penelitian mengenai Analisia Kelayakan Usaha Ikan Patin di Kabupaten Bogor nilai NPV yang dihasilkan dari usaha pembenihan ikan patin sebesar Rp 108.796.492,2. Analisis Kelayakan Finansial Usaha Ikan Mas dengan cara pemberokan di Desa Selajambe, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi diteliti oleh Anggraini (2008) di peroleh NPV sebesar Rp 1.588.601,00. Pada penelitian Surahmat (2009), Analisis Kelayakan Usaha Pembenihan Larva Ikan Bawal Air Tawar Bens Fish Farm Cibungbulang, Kabupaten Bogor dihasilkan NPV Rp 587.596.184,05. Kriteria kelayakan lain adalah Net B/C, dan dikatakan layak jika nilai Net B/C lebih besar dari satu. Nilai Net B/C yang diperoleh dari penelitian Agustika (2009) sebesar 2,70. Pada penelitian Perdana (2008) perhitungan Net B/C yang dihasilkan yaitu 1,204. Penelitian Bukit (2007) diperoleh Net B/C sebesar 1,725. Net B/C yang dihasilkan Anggraini (2008) sebesar 4,45. Selain itu, penelitian Surahmat (2009) nilai Net B/C yang didapat sebesar 4,45. Nilai IRR dikatakan layak jika IRR lebih besar dari Discount Rate (DR). Pada penelitian Agustika (2009) diperoleh IRR sebesar 66 persen. Penelitian Perdana (2008) memperoleh IRR 37,14 persen. Nilai IRR dari penelitian Bukit (2007) yaitu 22,75 persen. Penelitian Anggraini (2008) menghasilkan IRR 59 persen lebih besar dari tingkat suku bunga yaitu 5,5 persen. Selain itu, pada penelitian Surahmat (2009) didapat IRR sebesar 21 persen.

Kriteria kelayakan yang terakhir yaitu Payback Period (PP), dikatakan layak jika tingkat pengembalian usaha tidak melebihi dari umur ekonomis. Pada penelitian Agustika (2009) PP yang diperoleh selama dua tahun. Nilai PP yang dihasilkan oleh Perdana (2008) satu tahun tujuh bulan. Penelitian Bukit (2007) diperoleh PP selama tiga tahun sembilan bulan. Nilai PP yang dihasilkan dari penelitian Anggraini (2008) yaitu selama dua tahun sepuluh bulan. Selain itu, penelitian Surahmat (2009) diperoleh PP melebihi dari sepuluh tahun yang lebih besar dari umur proyek. Agustika (2009) melakukan analisis sensitivitas untuk melihat sejauh mana kepekaan usaha pemasok ikan hias jika terjadi perubahan-perubahan dalam arus manfaat dan biaya. Dalam perubahan analisis sensitivitas ini dibuat dua skenario yang terjadi dalam operasional perusahaan. Skenario tersebut adalah terjadi kenaikan harga bahan bakar minyak sebesar 10 persen dan terjadi peningkatan harga cacing untuk pakan ikan hias dari Rp 5.000,00 per takar menjadi Rp 6.000,00 per takar. NPV yang dihasilkan positif yaitu sebesar Rp 453.361.955,00 dengan Net B/C sebesar 2,35 berarti masih lebih besar dari satu dan IRR sebesar 61 persen, maka pada skenario II usaha pemasok ikan hias yang dijalankan oleh Budi Fish Farm masih layak dijalankan. Bukit (2007) juga melakukan analisis sensitivitas yang dilakukan untuk ketiga skenario adalah penurunan harga jual output produksi, dan kenaikan harga input dominan dalam hal ini harga pakan ikan patin. Pada skenario I kegiatan pembenihan masih layak dilaksanakan sampai penurunan harga 8,8 persen, penurunan volume produksi sampai 8,8 persen dan kenaikan artemia 22 persen dan cacing sutera 25,3 persen. Dari perbandingan ketiga skenario yang dilakukan maka skenario I kurang peka terhadap perubahan ketiga variabel switching value bila dibandingkan dengan skenario II dan III. Penelitian Perdana (2008) melakukan analisis switching value untuk melihat pengaruh-pengaruh yang akan terjadi akibat keadaan yang berubah-ubah. Analisis switching value dilakukan di KJA meliputi empat pola yaitu kenaikan harga benih ikan mas dan nila, kenaikan harga pakan, penurunan harga jual ikan mas dan nila, dan penurunan hasil produksi. Analisis switching value Usaha pembesaran ikan mas dan nila pada KJA sistem jaring kolor lebih sensitif

terhadap perubahan harga jual ikan dan hasil produksi dibandingkan dengan perubahan biaya pakan dan benih ikan. Penurunan harga jual ikan mas dan nila maksimum sebesar 1,77 persen masih memberikan kelayakan usaha karena menghasilkan NPV sama dengan nol, Nilai Net B/C sama dengan satu dan nilai IRR sama dengan tingkat suku bunga 13 pesen. Penurunan hasil produksi maksimum sebesar 1,77 persen masih dikatakan layak (dengan asumsi variabel lain tetap konstan), penurunan produksi sebesar 1,77 persen menghasilkan nilai NPV sama dengan nol, nilai Net B/C sama dengan satu dan nilai IRR sama dengan tingkat suku bunga 13 persen. Analisis switching value yang dilakukan oleh Surahmat (2009) dengan menghitung perubahan maksimum yang boleh terjadi akibat adanya perubahan parameter. Parameter yang digunakan yaitu penurunan harga jual larva, penurunan jumlah produksi larva, dan kenaikan harga input. Skenario I dengan modal sendiri, penurunan harga jual larva yang masih dapat ditolerir sebesar 7,04 persen yaitu dari harga Rp 8 per ekor menjadi Rp 7,43 per ekor. Pengusahaan pembenihan larva ikan bawal masih layak diusahakan apabila penurunan jumlah produksi tidak melebihi 42,1 persen, yaitu dari 29.030.400 ekor menjadi 16.810.661 ekor. Sedangkan untuk peningkatan harga input agar usaha tersebut masih layak diusahakan sampai 95,89 persen. Skenario II dengan modal pinjaman, tidak dilakukan switching value karena dengan modal pinjaman usaha tidak layak untuk dilaksanakan berdasarkan waktu pengembalian modal investasi yang lebih besar dari umur proyek.

III KERANGKA PEMIKIRAN


3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis Studi kelayakan bisnis merupakan dasar untuk menilai apakah kegiatan investasi atau suatu bisnis layak untuk dijalankan. Banyak peluang dan kesempatan yang ada dalam kegiatan bisnis menuntut adanya penilaian sejauh mana kegiatan dan kesempatan tersebut dapat memberikan manfaat (benefit) bila bisnis dilaksanakan. Penilaian dalam studi kelayakan bisnis dilakukan secara menyeluruh dari berbagai aspek yaitu dari aspek non finansial dan finansial. 3.1.1. Teori Biaya dan Manfaat Tujuan analisis dalam suatu usaha harus disertai dengan definisi mengenai biaya dan manfaat. Biaya adalah sesuatu yang membantu tujuan (Gittinger, 1986). Biaya yang umumnya dimasukkan dalam analisis usaha adalah biaya-biaya yang langsung berpengaruh terhadap suatu investasi, antara lain seperti biaya investasi dan biaya operasional. Biaya yang diperlukan untuk usaha terdiri dari biaya modal, biaya operasional dan biaya lainnya yang terlibat dalam pendanaan suatu usaha. Biaya modal merupakan dana untuk investasi yang penggunaannya bersifat jangka panjang, contohnya tanah, bangunan dan perlengkapan, pabrik dan mesinmesinnya, biaya pendahuluan sebelum operasi, biaya-biaya lainnya seperti penelitian. Biaya operasional disebut biaya modal kerja karena biaya ini dikeluarkan untuk menutupi kebutuhan dana yang dibutuhkan dan didasarkan pada situasi produksi, biasanya dibutuhkan sesuai dengan tahap operasi contohnya biaya bahan mentah, tenaga kerja, biaya perlengkapan serta biaya penunjang. Biaya operasional terdiri dari biaya tetap (fixed cost) dan biaya variabel (variabel cost). Biaya tetap adalah banyaknya biaya yang dikeluarkan dalam kegiatan produksi yang jumlah totalnya tidak berubah atau tetap pada volume kegiatan tertentu, meliputi sewa, penyusutan, pajak dan sebagainya. Sedangkan biaya variabel adalah biaya yang dikeluarkan cenderung berubah sesuai dengan bertambahnya volume produksi, meliputi biaya-biaya bahan baku, tenaga kerja langsung dan sebagainya.

Kadariah (2001) mengemukakan bahwa manfaat atau benefit dari usaha terbagi menjadi Direct benefits, Indirect benefits dan Intangible benefits. Direct benefits berupa kenaikan dalam output fisik atau kenaikan nilai output yang disebabkan oleh adanya perbaikan kualitas, perubahan lokasi, perubahan dalam waktu penjualan, penurunan kerugian dan penurunan biaya. Indirect benefits adalah benefit yang timbul atau dirasakan di luar usaha karena adanya realisasi suatu usaha. Sedangkan intangible benefits yaitu benefit yang sulit dinilai dengan uang, diantaranya adalah seperti perbaikan hidup, perbaikan pemandangan karena adanya suatu taman, perbaikan distribusi pendapatan, integrasi nasional dan pertahanan nasional. 3.1.2. Aliran Kas (cashflow) Husnan dan Muhammad (2005) mendefenisikan cashflow sebagai arus kas yang ada diperusahaan, baik arus kas masuk (inflow) maupun arus kas keluar (outflow). Aliran kas penting digunakan dalam akuntansi karena laba dalam pengertian akuntansi tidak sama dengan kas masuk bersih, dan yang relevan bagi para investor adalah kas bukan laba. Aliran kas yang berhubungan dengan usaha dapat dikelompokkan dalam tiga bagian yaitu aliran kas permulaan (initial cashflow), aliran kas operasional (operational cashflow), dan aliran kas terminal (terminal cashflow). Pengeluaranpengeluaran untuk investasi pada awal periode merupakan initial cashflow. Aliran kas yang timbul selama operasi usaha disebut operational cashflow. Aliran kas yang diperoleh pada saat usaha telah berakhir disebut terminal cashflow. Pada umumnya initial cashflow bernilai negatif sedangkan operasional dan terminal cashflow bernilai positif. Aliran-aliran kas harus dinyatakan dengan dasar setelah pajak. Dengan kata lain, cashflow terdiri dari biaya dan manfaat. Biaya adalah arus kas yang benar-benar dikeluarkan perusahaan, sedangkan manfaat adalah arus kas yang masuk kedalam kas perusahaan. 3.1.3. Analisis Laba Rugi Nurmalina et al. (2009) mendeskripsikan laporan laba rugi sebagai ringkasan dari empat jenis kegiatan, yaitu: 1) pendapatan dari penjualan produk atau jasa, 2) beban produksi atau biaya untuk mendapatkan barang atau jasa yang

dijual, 3) beban yang timbul dalam memasarkan dan mendistribusikan produk atau jasa pada konsumen, serta yang berkaitan dengan beban administrasi operasional, dan 4) beban keuangan dalam menjalankan bisnis (contoh: bunga yang dibayarkan pada kreditur, pembayaran deviden pada pemegang saham preferen). Analisis laba rugi digunakan perusahaan untuk mengetahui

perkembangan usaha dalam periode tertentu dan akan mempermudah penentuan besarnya aliran kas tahunan yang diperoleh suatu perusahaan. Komponen variabel yang termasuk dalam laba rugi terdiri dari pendapatan pokok dan sampingan perusahaan, biaya operasional perusahaan dimana di dalamnya termasuk biaya penyusutan dari barang investasi yang ditanamkan, beban bunga (jika perusahaan melakukan pinjaman). Hasil dari perhitungan pengurangan komponen inflow dengan outflow tersebut, mengeluarkan hasil berupa laba kotor perusahaan yang dikenal dengan istilah Earning Before Tax (EBT). Dari EBT tersebut, perusahaan dapat memperhitungkan besarnya pajak (tax) yang harus dibayarkan berdasarkan undang-undang yang berlaku. Setelah perhitungan pajak dan bunga (jika ada) maka akan diketahui besarnya laba bersih perusahaan selama umur usaha. 3.1.4. Umur Usaha Untuk menentukan panjangnya umur suatu usaha, terdapat beberapa pedoman yang dapat digunakan antara lain (Kadariah et al. 2001): a) Sebagai ukuran umum dapat diambil suatu periode (jangka waktu) yang kirakira sama dengan umur ekonomis suatu aset. Maksud dari umur ekonomis suatu aset adalah jumlah tahun selama pemakaian aset tersebut dan meminimumkan biaya tambahannya. Aset yang dijadikan sebagai patokan penentuan umur usaha adalah aset yang memiliki nilai investasi terbesar atau yang memiliki umur ekonomis terlama. b) Umur ekonomis yang memiliki modal sangat besar, umur usaha yang digunakan adalah umur teknis. Dalam hal ini, untuk usaha tertentu umur ekonomis dari unsur-unsur pokok investasi adalah lama, tetapi umur ekonomisnya dapat jauh lebih pendek karena ketinggalan jaman akibat penemuan teknologi yang efisien. Dengan kata lain, penentuan umur usaha diperlukan untuk mengetahui sampai sejauh mana batasan waktu pengembalian atas modal (investasi) yang

telah dikeluarkan pada awal usaha. Selain itu, umur usaha berguna untuk mengetahui kapan perusahaan tersebut harus melakukan reinvestasi terhadap aset yang terbesar dari usaha sehingga dapat menjadi suatu peringatan bagi perusahaan sebelum aset terbesar harus direinvestasi. 3.1.5. Aspek-Aspek Analisis Kelayakan Usaha Terdapat beberapa aspek yang harus dipertimbangkan dalam

merencanakan dan menganalisa usaha yang efektif. Aspek-aspek tersebut secara bersama-sama menentukan bagaimana keuntungan yang diperoleh dari suatu penanaman investasi tertentu yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya, dan suatu putusan mengenai suatu aspek akan mempengaruhi putusan-putusan terhadap aspek-aspek lainnya. Seluruh aspek harus dipertimbangkan pada setiap tahap (stage) dalam perencanaan usaha (Nurmalina et al. 2009). Aspek-aspek tersebut adalah aspek pasar, aspek teknis, aspek manajemen, aspek sosial, aspek lingkungan dan aspek finansial. A. Aspek Pasar Menurut Nurmalina et al. 2009 mengemukakan bahwa aspek pasar dan pemasaran mencoba mempelajari tentang : 1. Permintaan, baik secara total ataupun diperinci menurut daerah, jenis konsumen, perusahaan besar pemakai dan perlu diperkirakan tentang proyeksi permintaan tersebut. 2. Penawaran, baik yang berasal dari dalam negeri, maupun juga berasal dari impor. Bagaimana perkembangannya dimasa lalu dan bagaimana

perkembangan dimasa yang akan datang. 3. Harga, dilakukan perbandingan dengan barang-barang impor, produksi dalam negeri lainnya. 4. Program pemasaran, mencakup strategi pemasaran yang akan dipergunakan bauran pemasaran (marketing mix). Identifikasi siklus kehidupan produk (product life cycle), pada tahap apa produk yang akan dibuat. 5. Perkiraan penjualan yang bisa dicapai perusahaan, market share yang bisa dikuasai perusahaan.

B. Aspek Teknis Husnan dan Muhammad (2005) menyatakan bahwa aspek teknis merupakan analisis yang berhubungan dengan input usaha (penyediaan) dan output (produksi) berupa barang dan jasa. Aspek teknis memiliki pengaruh yang besar terhadap kelancaran jalannya usaha. Evaluasi ini mempelajari kebutuhankebutuhan teknis usaha, seperti karakteristik produk yang diusahakan, lokasi dimana usaha baik akan maupun sedang didirikan dan sarana pendukungnya serta layout bangunan yang dipilih, peralatan dan teknologi yang diterapkan, dan penentuan luas produksi. Dapat disimpulkan bahwa aspek teknis merupakan kelanjutan dari aspek pasar. Setelah diketahui pasar mampu menyerap penawaran produk perusahaan dengan baik maka fokus perhatian terhadap aspek teknis perlu dilakukan. Pada aspek teknis ada beberapa hal yang perlu diteliti terlebih dahulu sebelum usaha dilakukan, seperti penentuan lokasi usaha dengan variabel utama dan pelengkap, luas produksi, proses produksi dengan perhitungan resiko produksi, serta layout. Penentuan lokasi usaha diperlukan agar usaha yang telah dipilih untuk dijalankan dapat berjalan lancar dilokasi tersebut seperti dilihat dari sisi kemudahan transportasi, ketersediaan bahan baku, pasokan tenaga kerja, pasokan listrik dan air, serta ada tidaknya pasar yang dituju. Selain itu, dukungan dari kondisi agroekosistem, pemerintah serta masyarakat sekitar juga perlu diperhitungkan karena secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap kelancaran usaha. C. Aspek Manajemen Aspek manajemen memfokuskan pada kondisi internal perusahaan. Aspek-aspek manajemen yang dilihat pada studi kelayakan terdiri dari manajemen pada masa pembangunan yaitu pelaksanaan usaha. Jadwal penyelesaian usaha dan pelaksanaan studi masing-masing aspek dan manajemen pada saat operasi yaitu bentuk organisasi, deskripsi jabatan, dan jumlah tenaga kerja yang digunakan. Umar (2005) menambahkan bahwa struktur manajemen antar perusahaan ada kemungkinan terdapat perbedaan. Hal ini, disesuaikan dengan skala usaha, strategi perusahaan serta keadaan karyawan perusahaan yang bersangkutan. Jika perusahaan masih dalam skala mikro maka tidak diperlukan direktur utama dan

para manajer sehingga pemegang kendali perusahaan melainkan hanya pemilik perusahaan dan beberapa karyawan (jika dianggap perlu). D. Aspek Sosial Nurmalina et al (2009) menyatakan bahwa terdapat beberapa

pertimbangan sosial yang harus dipikirkan secara cermat agar dapat menentukan apakah suatu usaha yang diusulkan tanggap terhadap keadaan sosial seperti penciptaan kesempatan kerja yang merupakan masalah terdekat dari suatu wilayah. Gittinger (1986) menambahkan bahwa menganalisis aspek sosial perlu mempertimbangkan pola dan kebiasaan sosial dari pihak yang akan dilayani usaha serta implikasi sosial yang lebih luas dari adanya investasi usaha. Hal-hal yang perlu dikaji pada aspek sosial adalah manfaat usaha bagi peningkatan pendapatan dan penyerapan tenaga kerja, adanya penerangan listrik, serta kemudahan akses lalu lintas. Dengan demikian, pertumbuhan dan perkembangan perusahaan tidak dapat dilepaskan dari lingkungan sekitarnya. Lingkungan dapat berpengaruh positif maupun negatif pada suatu usaha, sehingga aspek ini juga perlu dianalisis. Dengan kata lain, suatu usaha yang dijalankan perusahaan perlu mendapatkan perijinan dari masyarakat. Hal ini dilakukan untuk menghindari adanya bentrokan antara perusahaan dengan warga setempat karena secara tidak langsung masyarakat yang mendukung akan berpengaruh positif terhadap kenyamanan, ketenangan, dan kelancaran usaha tersebut. E. Aspek Lingkungan Aspek ini mempelajari bagaimana pengaruh usaha tersebut terhadap lingkungan, apakah dengan adanya usaha menciptakan lingkungan semakin baik atau semakin rusak. Pertimbangan tentang sistem alami dan kualitas lingkungan dalam analisis suatu usaha justru akan menunjang kelangsungan suatu usaha itu sendiri, sebab tidak ada usaha yang akan bertahan lama apabila tidak bersahabat dengan lingkungan (Nurmalina et al. 2009). Dengan kata lain, pada aspek lingkungan suatu bisnis akan berjalan lama jika usaha yang dijalankan tersebut tidak memberikan dampak buruk terhadap

lingkungan sekitar seperti polusi udara, suara, air dan sebagainya. Jika hal tersebut mungkin terjadi dan tidak dapat dihindari maka tindakan seperti apa yang perlu dilakukan perusahaan untuk mengatasi hal tersebut. F. Analisis Finansial Aspek finansial berkenaan dengan pengaruh-pengaruh finansial bisnis terhadap petani sebagai pelaku dalam bisnis tersebut. Menurut Husnan dan Suwarsono (2005) menyebutkan bahwa analisis terhadap aspek finansial dilakukan untuk melihat apakah proyek tersebut mampu memenuhi kewajiban finansial ke dalam dan keluar perusahaan serta dapat mendatangkan keuntungan yang layak bagi perusahaan atau pemiliknya. Aspek finansial ditentukan berapa jumlah dana modal tetap dan modal awal kerja yang dibutuhkan, struktur permodalan, sumber pinjaman yang diharapkan dan persyaratan, serta kemampuan proyek memenuhi kewajiban finansial. Menurut Husnan dan Suwarsono (2005), pada umumnya ada lima metode yang biasa dipertimbangkan untuk dipakai dalam penilaian investasi. Metode tersebut diantaranya metode Average Rate Return, Payback Periode, Present Value, Internal Rate Return, serta Profitability Indeks. Selain itu, Gittinger (1986) menyebutkan bahwa dana yang diinvestasikan itu layak atau tidak akan diukur melalui kriteria investasi Net Present Value, Gross Benefit Cost Ratio dan Internal Rate Return. a. Net Present Value (NPV) Net Present Value merupakan nilai selisih antara nilai sekarang investasi dengan nilai sekarang penerimaan-penerimaan kas bersih di masa yang akan datang (Husnan dan Suwarsono 2005). Menurut Gittinger (1986), Net Present Value adalah nilai sekarang dari arus pendapatan yang ditimbulkan oleh penanaman investasi. Untuk menghitung NPV, perlu ditentukan tingkat bunga yang relevan. Terdapat tiga penilaian investasi dalam metode NPV, yaitu jika NPV lebih besar dari nol berarti layak untuk dilakukan. Sebaliknya, jika nilai NPV kurang dari nol, maka usaha tersebut tidak layak untuk dilaksanakan, hal ini dikarenakan manfaat yang diperoleh tidak cukup untuk menutup biaya yang

dikeluarkan. Jika NPV sama dengan nol, berarti proyek sulit dilaksanakan karena manfaat yang diperoleh hanya cukup untuk menutupi biaya yang dikeluarkan. b. Net Benefit and Cost Ratio (Rasio Manfaat dan Biaya) Rasio manfaat dan biaya diperoleh bila nilai sekarang arus manfaat dibagi dengan nilai sekarang arus biaya (Gittinger 1986). Net B/C didefinisikan sebagai angka perbandingan antara jumlah NPV positif sebagai pembilang dan jumlah NPV negatif sebagai penyebut. Nilai Net B/C menunjukkan besarnya tingkat tambahan manfaat pada setiap tambahan biaya sebesar satu rupiah (Husnan dan Suwarsono, 2005). Untuk menggunakan metode Net B/C perlu menentukan tingkat bunga yang dipergunakan. Nilai Net B/C mengandung dua arti penting, yaitu : 1. Net B/C 1, maka proyek layak atau menguntungkan. 2. Net B/C 1, maka proyek tidak layak atau tidak menguntungkan. c. Internal Rate of Return (IRR) Perhitungan Internal Rate Return (Tingkat pengembalian internal) adalah tingkat bunga maksimal yang dapat dibayar oleh proyek untuk sumber daya yang digunakan karena proyek membutuhkan dana lagi untuk biaya-biaya operasi dan investasi dan proyek baru sampai pada tingkat pulang modal (Gittinger 1986). Perhitungan IRR digunakan untuk mengetahui persentase keuntungan dari suatu proyek tiap tahunnya dan menunjukan kemampuan proyek dalam mengembalikan pinjaman. Jika dengan tingkat diskonto tertentu, nilai NPV menjadi sebesar nol, maka proyek yang bersangkutan berada dalam posisi pulang modal yang berarti proyek dapat mengembalikan modal dan biaya operasional yang dikeluarkan serta dapat melunasi bunga penggunaan uang. Suatu investasi dikatakan layak apabila nilai IRR lebih besar dari tingkat suku bunga yang berlaku, apabila IRR lebih kecil dari tingkat suku bunga berarti investasi tidak layak untuk dilaksanakan karena tidak menguntungkan. d. Payback Period (PP) Gittinger (1986) mengemukakan payback period adalah jangka waktu kembalinya keseluruhan jumlah investasi modal yang ditanamkan, dan dihitung

mulai dari permulaan proyek sampai dengan arus nilai netto produksi tambahan, sehingga mencapai jumlah keseluruhan investasi modal yang ditanamkan. 3.1.6. Analisis Sensitivitas Kadariah et al (2001) mengemukakan bahwa analisis sensitivitas bertujuan untuk melihat apa yang akan terjadi terhadap hasil analisis usaha jika terjadi suatu kesalahan atau perubahan dalam dasar-dasar perhitungan benefit. Dalam analisis sensitivitas setiap kemungkinan harus dicoba, yang berarti setiap kali harus dilakukan analisis kembali. Hal ini perlu dilakukan karena analisis usaha biasanya didasarkan pada usaha yang biasanya mengandung banyak ketidakpastian dari perubahan yang akan terjadi dimasa depan. Analisis sensitivitas merupakan salah satu perlakuan terhadap ketidak pastian (Gittinger, 1986). Analisis sensitivitas dilakukan dengan cara mengubah besarnya variabel-variabel yang penting, masing-masing dapat terpisah atau beberapa dalam kombinasi dengan suatu persentase tertentu yang sudah diketahui atau diprediksi. Kemudian dinilai seberapa besar sensitivitas perubahan variabelvariabel tersebut berdampak pada hasil kelayakan (NPV, IRR, Net, B/C). 3.2. Kerangka Pemikiran Operasional Usaha pembenihan ikan patin yang dilakukan Number One Fish Farm ini merupakan respon dari adanya permintaan benih patin yang tinggi dengan dukungan potensi sumberdaya alam yang mendukung baik dari segi bahan baku maupun keadaan geografis wilayah. Selain itu, benih ikan patin memiliki harga jual yang cukup tinggi yaitu sebesar Rp 100 per ekor. Harga benih patin yang tinggi menjadikan insentif bagi perusahaan untuk mengembangkan usaha pembenihan ikan patin. Adanya peluang bisnis tersebut, menyebabkan banyak orang yang tertarik berinvestasi langsung pada komoditi perikanan ini, khususnya pembenihan ikan patin. Number One Fish Farm merupakan salah satu perusahaan yang bergerak dibidang pembenihan ikan patin, yang berlokasi di Desa Cihideung Ilir, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor. Usaha ini telah berjalan selama tiga tahun. Meningkatnya permintaan benih patin sebagai input untuk kegiatan pembesaran yang belum terpenuhi menciptakan peluang bagi perusahaan untuk

memenuhi permintaan tersebut. Melihat peluang tersebut Number One Fish Farm berencana melakukan penambahan kapasitas produksi yang akan dimulai pada bulan Juli tahun 2011. Penambahan kapasitas produksi dilakukan dengan menambah jumlah akuarium, yang pada awalnya berjumlah 60 akan ditambah menjadi 70 akuarium. Penambahan kapasitas produksi memerlukan modal investasi yang cukup besar dan resiko kegagalan yang cukup tinggi. Sehingga perlu pertimbangan dalam menambah kapasitas produksi. Resiko kegagalan usaha tersebut antara lain benih patin termasuk makhluk hidup yang sangat peka terhadap lingkungan atau kondisi air yang kurang baik. Pengaruh kualitas air terhadap pertumbuhan benih, tingkat mortalitas yang tinggi, sehingga berpengaruh terhadap hasil panen dan penerimaan perusahaan. Penelitian ini mempunyai tujuan menganalisis kelayakan penambahan kapasitas produksi usaha pembenihan ikan patin secara non-finansial dan finansial untuk melihat sejauh mana usaha ini layak atau tidak untuk diusahakan, yang dilanjutkan dengan pembahasan mengenai tingkat kepekaan (sensitivitas) untuk melihat sejauh mana usaha ini layak atau tidak untuk diusahakan apabila terjadi perubahan pada komponen manfaat dan biaya. Gambar 1 berikut ini akan memperjelas kerangka pemikiran yang dilaksanakan.

Pembenihan ikan patin Number One Fish

Seberapa besar tingkat kelayakan usaha pembenihan ikan patin jika kapasitas produksi ditambah

Analisis Non Finansial Aspek pasar Aspek teknis Aspek sosial Aspek Lingkungan Aspek manajemen

Analisis Kelayakan Finansial NPV IRR Net B/C Payback Period Analisis Sensitivitas

Layak/Tidak

Rekomendasi

Gambar 1. Kerangka Pemikiran Operasional

IV METODE PENELITIAN
4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Number One Fish Farm, Kapling Uska, Desa Cihideung Ilir, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor. Pemilihan lokasi usaha pembenihan ikan patin dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa Number One Fish Farm merupakan penghasil benih ikan patin yang baru dirintis pada bulan Juli 2008. Waktu penelitian berlangsung selama dua bulan yang dimulai dari bulan Februari sampai Maret 2010. 4.2. Jenis dan Sumber Data Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder, baik yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif. Data primer diperoleh langsung melalui peninjauan langsung terhadap kondisi perusahaan dan wawancara dengan pimpinan dan karyawan perusahaan pembenihan. Kegiatan wawancara dilakukan untuk mengetahui kondisi dan kegiatan yang dilakukan perusahaan baik dari segi non finansial maupun segi finansial. Data sekunder diperoleh dari Number One Fish Farm, berbagai instansi yang terkait, seperti Dinas Perikanan dan Peternakan, Badan Pusat Statistik (BPS), Perpustakaan LSI Institut Pertanian Bogor (IPB), penelusuruan melalui internet, buku, skripsi, dan literatur-literatur yang berkaitan dengan penelitian. 4.3. Metode Pengolahan dan Analisis Data Data dan informasi yang dikumpulkan diolah dengan menggunakan Microsoft excel 2007. Analisis data dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif digunakan untuk mengetahui keragaan usaha Number One Fish Farm di lokasi penelitian pada saat ini. Analisis kelayakan usaha dibagi menjadi analisis kelayakan non finansial dan kelayakan finansial. Kelayakan non finansial mengkaji berbagai aspek diantaranya aspek pasar, aspek teknis, aspek manajemen, aspek sosial, dan aspek lingkungan. Analisis kuantitatif digunakan untuk mengkaji kelayakan usaha Number One Fish Farm secara finansial. Metode yang digunakan dalam analisis kuantitatif adalah analisis kelayakan fianansial dan analisis sensitivitas.

4.3.1. Analisis Kualitatif Analisis kualitatif digunakan untuk mengetahui gambaran dari aspekaspek sebagai berikut: 1) Aspek Teknik Aspek ini dilakukan dengan menganalisis usaha harus terus menerus memastikan bahwa pekerjaan secara teknis berjalan dengan lancar dan perkiraan-perkiraan secara teknis cocok dengan kondisi sebenarnya. 2) Aspek Manajemen Analisis ini dilakukan untuk melihat apakah fungsi manajemen dapat diterapkan dalam kegiatan operasional usaha pembenihan ikan patin. Jika fungsi manajemen dapat diterapkan, maka usaha pembenihan ikan patin dinilai layak dari aspek manajemen operasional. 3) Aspek Sosial Ekonomi dan Lingkungan Suatu usaha harus tanggap (responsive) terhadap keadaan sosial masyarakat, seperti penciptaan lapangan kerja, distribusi pendapatan, dan lain sebagainya. Selain itu, apakah usaha dapat diterima oleh masyarakat sekitarnya. 4) Aspek Pasar Analisis ini dilakukan untuk mengetahui jumlah permintaan dan penawaran pasar terhadap benih patin. 4.3.2. Analisis Kuantitatif (Analisis Finansial) Pada penelitian ini dilakukan analisis kelayakan pembenihan ikan patin terhadap aspek finansial. Analisis kuantitatif dilakukan dengan perhitungan nilai uang untuk mengkaji kelayakan investasi atau aspek finansial dari perusahaan. Dalam aspek finansial terdapat beberapa metode, adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah NPV, Net B/C, IRR, payback period dan analisis sensitivitas. a) Net Present Value (NPV) Net Present Value (NPV) adalah keuntungan yang akan diperoleh selama umur investasi. Metode ini dihitung dengan cara mengurangi nilai penerimaan arus tunai pada waktu sekarang dengan biaya arus tunai pada waktu sekarang selama waktu tertentu. Kriteria kelayakan investasi berdasarkan nilai NPV yaitu

bila NPV > 0, maka usaha tersebut menguntungkan dan layak didirikan. Rumus NPV adalah sebagai berikut:

Keterangan : Bt Ct i t n

= Penerimaan yang diperoleh pada tahun ke-t = Biaya yang dikeluarkan pada tahun ke-t = Tingkat suku bunga (discount rate) = Tahun = Jumlah Tahun

b) Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) adalah tingkat besarnya manfaat tambahan pada setiap tambahan biaya sebesar satu satuan berupa perbandingan antara jumlah NPV yang positif (sebagai pembilang) dengan NPV yang negatif (sebagai penyebut). Kriteria kelayakan investasi berdasarkan nilai Net B/C yaitu semakin besar Net B/C, maka usaha tersebut semakin menguntungkan dan layak dijalankan.
n t 1 n t 1

Net B/C

Bt (1 Ct (1

Ct i) t Bt i)

Untuk Bt-Ct > 0 Untuk Bt-Ct < 0

Keterangan : Bt = Penerimaan yang diperoleh pada tahun ke-t Ct = Biaya yang dikeluarkan pada tahun ke-t i = Tingkat suku bunga (discount rate) t = Tahun n = Jumlah Tahun c) Internal Rate Return (IRR) Internal Rate of Return (IRR) adalah kemampuan suatu usaha untuk menghasilkan pengembalian atau dianggap sebagai tingkat keuntungan atas investasi bersih yang dapat dicapainya. Jika diperoleh nilai IRR lebih besar dari dari tingkat diskonto yang berlaku (discount rate), maka usaha dinyatakan layak untuk dilaksanakan. Sebaliknya jika nilai IRR lebih kecil dari tingkat suku bunga yang berlaku maka usaha tersebut tidak layak untuk dilaksanakan. Rumus yang digunakan dalam menghitung IRR adalah sebagai berikut :

IRR
Keterangan: i1 i2 NPV1 NPV2 = = = =

it

NPV1 (i2 NPV1 NPV2

i1 )

discount rate yang menghasilkan NPV positif discount rate yang menghasilkan NPV negatif NPV positif NPV negatif

d) Payback Period Payback period (masa pembayaran kembali) didefinisikan sebagai jangka waktu kembalinya keseluruhan investasi yang ditanamkan, melalui keuntungan yang diperoleh suatu usaha. Kriteria investasi, semakin cepat tingkat pengembalian investasi, maka investasi tersebut dinilai semakin baik untuk dilaksanakan. Payback period = Keterangan:

I Ab

PP = Payback Period I = Jumlah Modal Investasi Ab = manfaat bersih yang dapat diperoleh setiap tahunnya

4.4. Analisis Sensitivitas Analisis sensitivitas digunakan untuk melihat dampak dari suatu keadaan yang berubah-ubah terhadap hasil dari suatu analisis kelayakan. Tujuan analisis ini adalah untuk menilai apa yang akan terjadi dengan hasil analisis kelayakan suatu kegiatan investasi atau bisnis apabila terjadi perubahan di dalam perhitungan biaya atau manfaat. Apakah kelayakan suatu kegiatan investasi atau bisnis sensitif tidak terhadap perubahan yang terjadi. Analisis sensitivitas ini perlu dilakukan karena dalam analisis kelayakan suatu usaha ataupun bisnis perhitungan umumnya didasarkan pada proyeksiproyeksi yang mengandung ketidakpastian tentang apa yang akan terjadi di waktu yang akan datang (Kadariah, 2001). Serta merupakan analisis pasca kriteria investasi yang digunakan untuk melihat apa yang akan terjadi dengan kondisi ekonomi dan hasil analisa bisnis jika terjadi perubahan atau ketidaktepatan dalam perhitungan biaya atau manfaat.

4.8. Asumsi Dasar Analisis kelayakan usaha pembenihan ikan patin menggunakan beberapa asumsi yaitu : 1. 2. 3. Produk yang dihasilkan hanya satu jenis yaitu benih ikan patin. Luas lahan yang dimiliki Number One Fish Farm 500 m. Umur proyek dari analisis kelayakan finansial usaha pembenihan ikan patin adalah lima tahun berdasarkan umur indukan jantan. 4. Harga yang digunakan dalam penelitian adalah harga konstan, baik harga input maupun harga output dari kegiatan pembenihan ikan patin. 5. Kegiatan pembenihan ikan patin dilakukan enam kali dalam satu tahun. Jumlah indukan patin yang digunakan 30 ekor betina dan 20 ekor jantan. Berat masing-masing indukan sekitar 1,5 kg dan dapat menghasilkan telur sebanyak 70000 per ekor induk betina. 6. Harga jual benih ikan patin per ekor sebesar Rp 100,00 nilai ini berdasarkan harga yang berlaku pada saat penelitian. 7. Daya tetas telur ikan patin sebesar 80 persen, tingkat mortalitas benih yang baru menetas sekitar 10 persen. 8. Perhitungan nilai sisa didapatkan dari nilai barang yang masih memiliki umur ekonomis sedangkan umur proyek telah berakhir. Untuk harga tanah diasumsikan sama dengan harga beli dengan harga jual pada akhir umur proyek. Reinvestasi dilakukan ketika umur ekonomis telah habis. 9. Biaya yang digunakan dalam usaha pembenihan ikan patin terdiri dari biaya investasi dan biaya operasional. Biaya investasi dikeluarkan pada tahun ke-0. Biaya operasional terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel. . 10. Tingkat diskonto yang digunakan merupakan tingkat suku bunga deposito Bank Mandiri pada tahun 2011 yaitu sebesar 6 persen karena pemilik menabungkan uangnya di Bank tersebut. 11. Bagi WP badan, tarif PPh yang semula terdiri dari 3 lapisan (10%, 15% dan 30%) menjadi tarif tunggal 28% di tahun 2009 dan 25% tahun 2010.

V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN


5.1. Sejarah Perusahaan Number One fish Farm adalah perusahaan yang bergerak dibidang perikanan budidaya air tawar khususnya pembenihan ikan patin. Usaha yang telah berjalan tiga tahun merupakan usaha yang dirintis oleh Bapak Arman sebagai pemilik modal dan Bapak Ardi sebagai penanggung jawab produksi di Number One Fish Farm. Usaha ini dimulai pada bulan Juli 2008. Kegiatan usaha pembenihan ikan patin memiliki prospek yang baik. Hal ini dapat dilihat dari pembeli yang dalam jangka waktu tiga tahun Number One Fish Farm sudah memiliki pembeli yang kebanyakan berada di luar Pulau Jawa yaitu Kalimantan dan Sumatera, untuk Jawa Barat sendiri dipasarkan ke Waduk Jatiluhur, Cirata, dan Saguling. Sedangkan untuk Jawa Timur dipasarkan di Tulung Agung. 5.2. Lokasi Number One Fish Farm terletak di Kapling Uska, Desa Cihideung Ilir, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor. Sebelah Utara Desa Cihideung Ilir berbatasan dengan Desa Cibanteng, Sebelah Selatan berbatas dengan Desa Cihideung Udik, Sebelah Barat berbatas dengan Desa Cihideung Udik, dan Sebelah Timur berbatas dengan dengan Kecamatan Dramaga. Jarak dari pusat pemerintahan desa ke pemerintahan kecamatan adalah 15 menit. 5.3. Fasilitas Pembenihan Number One Fish Farm memiliki luas lahan 500 m. Fasiltas produksi perusahaan terdiri dari fasilitas utama dan fasilitas pendukung. Fasilitas utama terdiri dari kolam pemeliharaan induk, bak penampungan air, kolam pendederan, wadah pemeliharaan larva, akuarium, blower, pompa air, dan instalasi listrik, sedangkan fasilitas pendukung terdiri mess karyawan, genset, peralatan penguras air akuarium dan bak pemijahan, peralatan untuk menyipon akuarium larva, kompor gas, jaring dan happa, serokan, bahan dan peralatan untuk proses penyuntikkan induk, dan timbangan.

5.3.1. Fasilitas Utama Fasilitas utama merupakan fasilitas yang penting dalam kegiatan produksi. Fasilitas utama yang digunakan dalam melakukan produksi di Number One Fish Farm adalah sebagai berikut: a. Kolam Pemeliharaan Induk Induk ikan patin dipelihara di kolam berbentuk persegi panjang berukuran 4 m x 2 m yang terbuat dari tiang-tiang bambu dengan lantai dan dinding dilapisi terpal. Kolam pemeliharaan induk betina dan jantan disatukan. Air untuk pemeliharaan induk berasal dari air sumur yang dibuat sendiri oleh perusahaan.

Gambar 2. Kolam Pemeliharaan Induk b. Bak Penampungan Air Bak penampung air berfungsi untuk menampung dan mengendapkan air yang berasal dari sumur atau kolam. Bak penampung air berbentuk persegi panjang yang berukuran 3 m x 2 m, yang terletak di dalam ruangan pembenihan supaya suhu air tidak menurun dan menghindari masuknya kontaminan atau debu dari luar. Untuk mensuplai oksigen ke dalam air sebelum digunakan maka dipasang selang aerasi selama 24 jam, dan untuk menyalurkan air ke ruang pembenihan maka dipasang pompa hisap. c. Wadah Pemeliharaan Larva Wadah pemeliharaan larva di Number One Fish Farm menggunakan akuarium berbentuk persegi panjang yang berukuran 1 m x 35 cm dan diisi air setinggi 30 cm. Satu akuarium dapat memuat 5000 ekor larva. Ruang pemeliharaan larva dibuat di ruangan permanen yang berbentuk rumah dan diberi kompor gas sebanyak satu buah yang bertujuan agar suhu ruangan tetap stabil.

Gambar 3. Susunan Akuarium di Number One Fish Farm d. Kolam Pendederan Kolam yang digunakan untuk pendederan ikan patin biasanya dapat berupa kolam irigasi teknis yang airnya dapat mengalir sesuai dengan kebutuhan atau kolam yang airnya diam yang berasal dari air hujan atau sumber air lainnya. Number One Fish Farm dalam pemeliharaan benih dilakukan di kolam atau wadah khusus yang terbuat dari tiang-tiang bambu yang lantai dan dindingnya dilapisi dengan terpal dan airnya didapat dari air sumur yang telah diendapkan dahulu di bak penampungan. Kolam yang dimiliki perusahaan sebanyak 12 buah. Untuk kolam ukuran 4 x 6 sebanyak empat buah, sedangkan kolam ukuran 4 x 3 m sebanyak delapan buah. Kolam ukuran 4 x 6 m dapat menampung 100.000 ekor benih ikan patin, sedangkan kolam ukuran 3 x 4 m dapat menampung 50.000 benih ikan patin.

Gambar 4. Tempat Pemeliharaan Benih

e. Pompa Air Pompa air merupakan peralatan yang digunakan untuk menjaga persediaan air baik untuk produksi maupun kegiatan di Number One Fish Farm seperti pengisian bak penampung air, akuarium, bak pemijahan, bak kamar mandi dan sebagai sumber air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari karyawan. Mesin pompa air yang dimiliki Number One Fish Farm berjumlah dua yaitu unit pompa celup yang berfungsi untuk menarik air dalam proses produksi dan satu unit pompa air yang berfungsi untuk penarik air bersih dalam rangka pendukung produksi. f. Instalasi Listrik Instalasi listrik yang digunakan berasal dari PLN dengan daya arus 1.300 watt. Instalasi ini dipasang untuk penerangan lingkungan kolam, serta untuk menghidupkan peralatan dan fasilitas produksi seperti mesin pompa air, dan blower untuk aerasi. g. Peralatan Aerator Peralatan aerator digunakan dalam proses produksi yaitu dalam sistem aerasi baik untuk fiber pemijahan, akuarium penetasan telur maupun akuarium pemeliharaan larva dan satu kolam induk. Peralatan utama dalam sistem aerasi adalah penggunaan blower. Jumlah blower yang digunakan di Number One Fish Farm adalah satu unit yang ukuran dua PK digunakan untuk sumber aerasi bak fiber pemijahan, bak penampungan air, satu kolam induk, akuarium penetasan telur, dan akuarium perawatan larva. 5.3.2. Fasilitas Pendukung Fasilitas pendukung dalam melakukan kegiatan produksi di Number One Fish Farm adalah sebagai berikut: a. Mess Karyawan Mess karyawan adalah salah satu fasilitas yang diberikan pemilik perusahaan berupa kamar untuk penunjang kenyamanan karyawan dalam bekerja dan beristirahat. Kamar yang diberikan berjumlah satu kamar dengan ukuran 3 m x 3 m. Mess karyawan satu bangunan dengan akuarium hanya beda ruangan, hal

ini dimaksudkan untuk mempermudah karyawan memantau dan merawat telur atau larva ikan patin yang baru menetas. b. Genset Mesin genset merupakan fasilitas yang digunakan untuk pengganti arus listrik jika terjadi pemadaman arus PLN, karena listrik merupakan hal yang terpenting dalam produksi pembenihan ikan patin. c. Kompor Gas Kompor merupakan peralatan yang digunakan sebagai peningkat atau menaikkan suhu dalam ruang akuarium pemeliharaan larva. Dalam satu ruangan hanya terdapat satu kompor gas yang dinyalakan terus menerus pemindahan larva ke akuarium sampai larva siap dipanen. d. Bahan dan Peralatan untuk proses Penyuntikkan Merupakan bahan dan peralatan yang digunakan dalam kegiatan penyuntik induk meliputi obat suntik bermerek ovaprim, jarum suntik, kain untuk memegang kepala induk. e. Serokan Serokan merupakan peralatan yang terbuat dari kain kasa atau kantong plastik jaring yang dibingkai batang besi kecil yang digunakan sebagai alat untuk menyerok larva dari akuarium penetasan dan pemeliharaan atau mengangkat telur dari bak pemijahan. Serokan yang digunakan terbagi dua yaitu serokan larva yang terbuat dari kain kasa digunakan untuk menjaring larva pada waktu pemindahan dari akuarium penetasan maupun pengangkutan dari akuarium pemeliharaan pada waktu panen, sedangkan serokan telur terbuat dari bahan jaring yang digunakan untuk mengangkat telur yang sudah dibuahi dari bak pemijahan induk. f. Peralatan Penguras Air Akuarium dan Bak Pemijahan Merupakan fasilitas yang digunakan untuk menguras, membersihkan dan pengisian air akuarium maupun bak pemijahan, yang meliputi selang berukuran besar untuk mengalirkan atau menyedot air, corong penyaring untuk menyaring air baru atau untuk mengurangi volume air serta gabus sebagai alat untuk dari proses

membersihkan sisa air di dasar akuarium dan untuk membersihkan dinding akuarium waktu proses pengeringan akuarium. g. Peralatan Membersihkan Akuarium Larva Merupakan peralatan yang digunakan dalam proses pembersihan kotoran di dasar akuarium pemeliharaan larva. Peralatan yang digunakan dalam proses pembersihan ini adalah selang kecil yang dilengkapi bilah bambu untuk menyedot kotoran yang berada di dasar akuarium, baskom sedang dan kecil untuk menampung air yang disedot agar larva yang terbawa bersama air kotoran tidak terbuang, dan serokan larva untuk menyaring larva yang ada dalam baskom saat kotoran akan dibuang

VI ANALISIS ASPEK-ASPEK NON FINANSIAL


Analisis terhadap aspek non finansial penting untuk dilakukan karena dapat memberikan gambaran terhadap usaha yang akan maupun sedang dijalankan. Pada penelitian ini, aspek non finansial yang akan dikaji meliputi aspek pasar, aspek teknis, aspek manajemen, dan aspek sosial dan lingkungan. 6.1. Aspek Pasar Aspek pasar merupakan hal yang sangat penting dalam pertimbangan investor, karena tujuan utama usaha adalah untuk menjual produk. Pasar merupakan tempat bertemunya beberapa lembaga pemasaran yang memiliki keterkaitan dengan berbagai pihak, baik perorangan maupun kelembagaan. Oleh karena itu, pada penelitian ini peneliti menganalisis permintaan dan penawaran benih ikan patin, produk, dan harga. 6.1.1. Permintaan dan Penawaran Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Number One Fish Farm permintaan hanya untuk benih patin yang berukuran 2 cm. Berdasarkan wawancara dengan penanggung jawab produksi Number One Fish Farm, permintaan tersebut belum mampu terpenuhi oleh perusahaan. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan modal dan jumlah akuarium yang dimiliki perusahaan. Number One Fish Farm berencana menambah akuarium menjadi 70, yang kondisi awal perusahaan hanya memiliki akuarium sebanyak 60. Satu akuarium dapat menghasilkan 5000 ekor benih. Sehingga dalam satu periode, perusahaan mampu menghasilkan 300.000 benih. Dengan penambahan akuarium maka perusahaan mampu menambah 50.000 ekor benih patin, sehingga total benih yang diperoleh dalam satu periode menjadi 350.000. Dalam satu periode ada dua bulan, jadi dalam satu tahun ada enam periode produksi benih patin. Permintaan benih patin terhadap perusahaan sebanyak 400.000 benih, sedangkan perusahaan saat ini hanya mampu memenuhi permintaan sebanyak 300.000 benih patin. Selisih antara permintaan dan penawaran yang terjadi saat ini yaitu sebesar 100.000 benih ikan per periode. Dengan penambahan akuarium perusahaan dapat memenuhi setengah dari selisih penawaran dan permintaan

benih patin tersebut. Kekurangan yang masih belum terpenuhi menjadi salah satu peluang besar bagi Number One Fish Farm yang nantinya akan dimanfaatkan. Target pasar Number One Fish Farm sendiri hanya untuk memenuhi permintaan nasional saja. Benih patin dipasarkan di luar pulau Jawa yaitu ke Palembang, Lampung, Medan, dan Kalimantan. Sedangkan daerah Jawa barat dipasarkan ke waduk Jati Luhur dan waduk Saguling, sedangkan Jawa Timur tepatnya di Tulung Agung. Sejauh ini Number One Fish Farm menjual hasil produknya kepada konsumen yang mengambil langsung ke perusahaan. Strategi pemasaran yang dilakukan oleh Number One Fish Farm dalam penetapan harga sama untuk semua pelanggan. Sistem pembayaran dilakukan di Number One Fish Farm saat pembeli mengambil benih ikan patin. Resiko pengiriman benih jika terjadi kematian benih patin maka perusahaan tidak bertanggung jawab, karena telah ada kesepakatan diawal oleh pembeli. 6.1.2. Strategi Pemasaran Number One Fish Farm tidak melakukan promosi baik di media cetak maupun media elektronik dalam memasarkan produknya, tetapi dilakukan melalui penjualan langsung ke konsumen yang selanjutnya menjadi pelanggan tetap perusahaan. Strategi yang dilakukan oleh Number One Fish Farm adalah dengan personal selling yang dilakukan hanya melalui para petani sejenis. Produk yang dihasilkan oleh Number One Fish Farm hanya benih ikan patin yang berukuran 2 cm. Setelah benih telah mencapai ukuran 2 cm, benih langsung dijual kepada pelanggan. Perusahaan akan mengetahui pendapatan yang diterima dengan melakukan penetapan harga jual. Number One Fish Farm menetapkan harga jual benih ikan patin yang berukuran 2 cm sebesar Rp 100,00 per ekor. Berdasarkan hasil dari analisis aspek pasar yang terdiri dari permintaan dan penawaran, produk, dan harga bahwa usaha pembenihan ikan patin yang dilakukan Number One Fish Farm layak untuk dijalankan. Hal ini dikarenakan permintaan benih ikan patin yang tinggi menyebabkan berapapun jumlah benih yang dihasilkan maka benih akan habis terjual.

6.2. Aspek Teknis Analisis secara teknis berhubungan dengan penyediaan input usaha dan output produksi berupa barang dan jasa. Hasil penelitian di lapangan dan beberapa literatur menyebutkan bahwa hal yang perlu diperhatikan dalam penyediaan input utama yaitu dari segi lahan, indukan, bahan baku, proses produksi dan sumberdaya manusia. 6.2.1 Lokasi Usaha Pemilihan lokasi merupakan faktor penting dan sangat menentukan keberhasilan dalam pengusahaan benih ikan patin. Lokasi usaha terletak di Kapling Uska, Desa Cihideung Ilir, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor. Beberapa pertimbangan dalam pemilihan lokasi produksi adalah sebagai berikut: 1) Ketersediaan Bahan Baku Number One Fish Farm dalam melakukan usahanya mendapatkan pengadaan sarana produksinya diperoleh dari Jawa Barat. Bahan baku utama yang digunakan oleh Number One Fish Farm berupa ikan induk jantan dan betina. Untuk harga indukan ikan patin jantan sebesar Rp 15.000 /kg, sedangkan untuk indukan betina Rp 25.000/kg. Pengadaan sarana produksi yang berasal dari Bogor adalah sarana yang hanya bersifat pendukung diantaranya pengadaan pakan ikan (pelet dan artemia), selang air, kompor gas, alat pemeliharaan larva, alat suntik, pompa air, genset,obat-abatan dan blower. 2) Tenaga Listrik, Air dan Kondisi Alam Tenaga listrik yang digunakan untuk kegiatan produksi benih ikan patin sudah menjangkau lokasi usaha. Sehingga untuk penggunaan listrik tidak ada masalah. Tenaga listrik untuk usaha ini berasal dari PLN dan jika terjadi gangguan listrik maka antisipasi dengan menggunakan genset. Sementara untuk ketersediaan air dalam kegiatan budidaya ikan patin sangat melimpah di sekitar lokasi usaha. Pada kegiatan pembenihan ikan patin, air yang digunakan adalah ait tanah. Hal ini sangat membantu. Kualitas air yang memenuhi persyaratan untuk usaha pembenihan ikan patin yaitu dengan pH 6,57,5. Kegiatan pembenihan tidak dapat dilakukan dengan pH di bawah 6,5 karena telur tidak dapat menetas sempurna dan banyak parasit maupun mikroba air yang

mengganggu perkembangan benih ikan patin. Kondisi iklim di daerah Cihideung Ilir Kecamatan Ciampea cukup mendukung untuk dilakukan pengusahaan benih ikan patin. Suhu untuk kegiatan budidaya ikan patin berkisar 29-31C. 3) Suplai Tenaga Kerja Number One Fish Farm dikelola oleh satu penanggung jawab produksi dan satu karyawan tetap bagian produksi. Tenaga kerja di Number One Fish Farm tidak mengalami kesulitan dalam menjalankan tugasnya. Karyawan yang bekerja di Number One Fish Farm berasal dari penduduk sekitar didirikannya usaha pembenihan ikan patin. 4) Fasilitas Transportasi Lokasi usaha Number One Fish Farm terletak diperkampungan namun telah memiliki fasilitas jalan aspal. Untuk alat transpotasi tersedia ojek dan angkutan umum (angkot). Lokasi Number One Fish Farm sekitar sekitar 600 meter dari jalan Desa Ciampea yang dilewati jalur angkutan umum. 6.2.2. Proses Produksi Proses produksi yang dilakukan oleh Number One Fish Farm hanya terfokus pada kegiatan pembenihannya saja. Setelah benih patin berukuran 2 cm kemudian benih dijual. 6.2.2.1. Kegiatan Pembenian Ikan Patin Pada pengusahaan pembenihan ikan patin, kegiatan yang dilakukan adalah penebaran induk, pemeliharaan dan pemijahan induk untuk menghasilkan benih yang berukuran 2 cm. Tahapan kegiatan pembenihan yang dilakukan adalah sebagai berikut: 1. Pemiliharaan Calon Induk Pengelolaan induk memegang peranan yang sangat penting dalam kegiatan pembenihan. Induk yang baik adalah modal dasar untuk mencapai keberhasilan dalam memproduksi benih. Induk patin yang baik untuk dipijahkan adalah induk yang telah berumur antara 2,5 5 tahun dengan berat antara 3 6 Kg. Induk ukuran ini mudah ditangani, memerlukan sedikit hormon dan tingkat ovulasinya lebih tinggi dibanding dengan induk yang lebih tua dan berukuran lebih besar.

Kualitas air ideal untuk induk patin yaitu pada suhu antara 25 30 C, pH 6,0 8,5 dan kandungan oksigen terlarut minimal 4 mg/L. 2. Pengelolaan Pakan Induk Waktu pemberian pakan tidak hanya untuk memberi pakan tetapi juga waktu untuk mengamati dan mengevaluasi kondisi ikan dan air. Pakan yang diberikan jangan terlalu banyak atau sampai tersisa karena akan menyebabkan turunnya kualitas air. Pakan yang umum diberikan pada induk patin adalah pelet komersial dengan kadar protein 30 35 %. Jumlah pemberian pakan maksimum adalah 2 - 3 % dari berat tubuh dan diberikan 2 - 3 kali perhari pada pagi, sore dan atau malam hari. 3. Persiapan Induk Sebelum kegiatan pemijahan dilakukan, hal pertama yang dipersiapkan adalah jumlah induk yang akan disuntik. Setelah diketahui jumlah induk yang akan direncanakan untuk disuntik maka dua hari sebelum induk diseleksi induk dipuasakan terlebih dahulu. Jika induk tidak di puasakan dan dipaksakan diseleksi maka akan dapat menyebabkan induk luka dan stres, yang akhirnya akan menyebabkan gagalnya ovulasi telur. 4. Seleksi Induk Seleksi induk merupakan langkah awal dalam usaha pembenihan, langkah ini sangat menentukan keberhasilan pembenihan secara keseluruhan sehingga harus dilakukan secara teliti dan akurat berdasarkan kriteria yang sudah ditentukan. Pada umumnya, induk betina yang telah matang gonad memiliki ciriciri yang mudah dibedakan dengan induk jantan. Postur tubuh induk betina cenderung melebar dan pendek, perut lembek, halus dan membesar kearah anus. Urogenital membengkak dan membuka serta berwarna merah tua.

Gambar 5. Kelamin Induk Betina

Gambar 6. Kelamin Induk Jantan

Sedangkan postur tubuh induk jantan relatif lebih langsing dan panjang, apabila bagian perut dekat lubang kelamin diurut akan mengeluarkan cairan putih kental (cairan sperma). 5. Penyuntikan Hormon Pemijahan dilakukan secara buatan melalui pemberian rangsangan hormon untuk proses pematangan akhir gonad, pengurutan untuk proses pengeluaran telur dan pembuahan dengan mencampur sperma dan telur. Bahan yang digunakan merangsang ovulasi pada ikan patin yang sudah dikenal seperti ovaprim. Standar dosis ovaprim yang diberikan untuk induk betina adalah 0,5 ml/kg sedangkan untuk induk jantan adalah 0,2 ml/kg. Penyuntikan dilakukan sebanyak dua kali pada bagian intramuscular di punggung atas kanan/kiri sudut penyuntikan 45, dengan interval waktu penyuntikan pertama dan kedua sekitar 6-12 jam. Penyuntikan pertama sebanyak 1/3 bagian dari dosis total dan sisanya 2/3 bagian lagi diberikan pada penyuntikan kedua. Setelah penyuntikan kedua, 6-8 jam kemudian dilakukan pengecekan ovulasi induk, pengecekan ini akan menentukan saat pengeluaran telur untuk proses pembuahan. Bila pengeluaran telur dilakukan sebelum ovulasi (terlalu cepat waktu), maka pengeluaran telur tidak akan lancar dan biasanya persentase keberhasilan pembuahan akan rendah. Sedangkan bila terlalu lambat, pembuahan biasanya juga gagal karena air sudah masuk ke dalam kantung telur yang menyebabkan lubang mikrofil pada telur sudah tertutup. Pengecekan ovulasi dilakukan dengan cara melakukan pengurutan pada bagian dekat urogenital secara perlahan dan hati-hati.

Gambar 7. Penyuntikan 6. Stripping Jika induk siap ovulasi, tahapan selanjutnya adalah stripping, proses stripping sampai memasukan telur kedalam corong penetasan harus dilakukan dengan cepat dan lembut. Setelah enam jam penyuntikan kedua dilakukan pengecekan terhadap induk betina apakah sudah ovulasi atau belum. Langkah pertama yang dilakukan adalah pembiusan terhadap induk. Hal ini dimaksudkan agar memudahkan dalam proses pengecekan dan mengurangi tingkat stres pada ikan. Pembiusan dilakukan dengan menggunakan benzocaine dengan dosis 100 ppm. Setelah induk terbius langkah selanjutnya adalah pengecekan ovulasi, ovulasi dilakukan dengan cara mengurut perut induk ikan dari arah perut ke lubang genital, langkah ini dilakukan dengan hati-hati, waktu stripping yang tepat adalah pada saat telur keluar ketika dilakukan pemijatan yang lembut pada bagian perut dan jangan melakukan pijatan yang keras atau dipaksakan.

Gambar 8. Induk Betina Saat Stripping

Gambar 9. Induk Jantan Saat Stripping

7. Inseminasi Buatan Pembuahan buatan dilakukan dengan cara mencampur telur dan sperma dengan larutan sodium 0,9 % dan diaduk secara perlahan menggunakan bulu ayam. Tujuan pencampuran larutan sodium ini adalah untuk mengencerkan sperma agar telur dapat tercampur secara lebih merata. Setelah diaduk secara merata dan telur terbungkus oleh sperma, langkah selanjutnya adalah

pencampuran larutan tanah merah yang berguna untuk menghilangkan daya rekat telur kemudian diaduk sempurna hingga telur tidak menempel satu sama lain. Untuk menghilangkan larutan tanah merah pada telur dilakukan beberapa kali pembilasan menggunakan air bersih hingga telur bersih sempurna. Telur yang telah bersih kemudian siap untuk dimasukan dalam corong penetasan.

Gambar 10. Pencampuran Telur dan Sperma 8. Pemanenan Larva Larva mulai menetas setelah kurang lebih 20 jam setelah inseminasi. Larva menetas tidak bersamaan tetapi secara bertahap, pemanenan larva dilakukan 24 28 jam setelah inseminasi. Larva yang menetas didalam corong penetasan akan bergerak mengikuti aliran air kedalam bak penampungan dimana dalam bak telah dipersiapkan dipasang hapa halus untuk menampung larva kemudian larva dipanen dengan cara diambil dengan seser halus secara hati-hati dan perlahan.

Gambar 11. Panen Larva 9. Perawatan Larva Pemeliharaan larva dan benih ikan patin sebaiknya dilakukan dalam ruangan tertutup agar dapat dijaga suhu airnya serta menghindari kontaminan yang dapat masuk kedalam media pemeliharaan larva. Wadah pemeliharaan larva

dapat terdiri dari berbagai macam jenis mulai dari akuarium, bak fiber, bak semen maupun bak kayu, hal terpenting yang harus diperhatikan adalah kebersihan dan ukuran wadah. Padat tebar larva adalah sekitar 60-80 ekor/liter. Yang perlu diperhatikan adalah ketinggian air media pemeliharaan larva sebaiknya tidak terlalu dalam atau tinggi, idealnya adalah 20-40 cm bila terlalu tinggi akan menyulitkan larva dalam mengambil oksigen dari udara, karena ikan patin sesekali akan mengambil oksigen dari udara meskipun kandungan oksigen terlarut dalam air cukup karena diberikan aerasi. Larva dipelihara selama empat hari, dimana larva ikan akan mencapai ukuran 2 cm inchi setelah berumur 19 hari, larva ikan diberikan pakan artemia dari umur 30 jam hingga empat hari. Frekwensi pemberian pakan berupa artemia sebanyak lima kali dengan interval waktu empat jam sekali. Pada hari kedua dan ketiga sebaiknya frekwensi pemberian pakan ditingkatkan menjadi enam kali dengan interval waktu empat jam sekali, hal ini dikarenakan pada umur tersebut tingkat kanibalisme larva tinggi, sedangkan pada hari ke empat frekwensi pemberian pakan kembali diturunkan menjadi lima kali dengan interval waktu empat jam sekali. Setelah berumur lebih dari lima hari larva diberikan pakan pengganti berupa cacing sutera (tubifek), cacing sutera yang diberikan harus dicincang terlebih dahulu hal ini karena ukuran mulut larva yang masih terlalu kecil. Suhu optimal untuk pemeliharaan larva ikan patin adalah antara 29-30C, selama pemeliharaan larva dilakukan pembersihan sisa pakan dan feces secara rutin, penambahan dan pergantian air dapat dilakukan setelah empat hari pemeliharaan dan dilakukan secara rutin minimal setiap dua hari sekali atau sesuai dengan kebutuhan. 10. Panen Panen dilakukan setelah benih berukura 2 cm atau setelah berumur 21 hari. Kegiatan panen dilakukan dengan menggunakan alat berupa serokan. Ikan disortir dan dihitung dengan menggunakan centong. Kemudian benih ikan patin tersebut dikemas ke dalam kantong plastik. Benih yang akan dipacking harus dipuasakan terlebih dahulu, bila benih tidak dipuasakan kemungkinan besar benih akan mengalami stres dan memuntahkan makanan yang telah dimakannya, sehingga

kotoran dapat menurunkan kualitas air. Benih harus dipuasakan sekitar 24 jam sebelum dipacking, benih ikan juga harus dalam keadaan baik dan sehat agar tetap hidup sampai ke tempat tujuan. Dalam kantong plastik ukuran 40 cm x 50 cm biasanya bisa menampung 1.000 ekor benih ikan patin. Kantong tersebut diberi oksigen sekitar 25 persen dari isi kantong. Untuk menjaga benih ikan patin tidak berkumpul pada salah satu ujung kantong plastik, maka plastik-plastik tersebut diikat dengan cara khusus. Kedua ujung plastik tersebut diikat kemudian plastik tersebut dibalikkan dan dilapisi kembali dengan plastik yang lain, sehingga satu kantong plastik wadah benih ikan patin terdiri dari dua plastik. Untuk pengiriman diluar pulau Jawa biasanya menggunakan jasa pengiriman kargo yang sebelumnya harus dikemas dengan menggunakan Styrofoam pada tingkat pemeliharaan.

Gambar 12. Benih Ikan Patin Yang siap Kirim Dari beberapa tahapan kegiatan usaha pembenihan ikan patin, yang paling banyak menyerap waktu adalah proses perawatan larva. Dimana pada fase tersebut terdapat banyak serangan hama dan penyakit yang disebabkan oleh mikroba. Hal ini membutuhkan ketelatenan para pekerja dalam pemberian obatobatan dan pergantian air. Tingkat mortalitas pada tingkat pemeliharaan larva yaitu sekitar 20 persen dari total larva yang dipelihara. Hasil analisis aspek teknis usaha pembenihan ikan patin Number One Fish Farm adalah layak untuk dijalankan. Dalam hal ini tidak ada masalah yang dapat menghambat jalannya kegiatan usaha pembenihan ikan patin tersebut mulai dari ketersediaan bahan baku, tenaga kerja, transportasi, ketersediaan listrik, air maupun kondisi alam.

6.3. Aspek Manajemen Aspek manajemen pada dasarnya menilai para pengelola usaha dan struktur organisasi yang ada. Aspek ini meneliti sistem manajerial suatu usaha. Struktur organisasi digolongkan menjadi empat macam yaitu sistem lini, fungsional, divisional, dan matriks. Sistem lini biasanya terdapat pada perusahaan kecil dengan skala industri rumah tangga. Demikian pula dengan struktur organisasi di Number One Fish Farm termasuk dalam organisasi lini dan masih tergolong sederhana. Number One Fish Farm dibangun oleh Bapak Arman dan sekaligus sebagai pemilik modal. Tetapi penanggungjawab produksi dipegang oleh Bapak Ardi yang dibantu oleh satu orang karyawan yang bertanggungjawab dalam pemeliharaan. Dimulai dari mengganti air, memberi pakan dan memelihara benih hingga siap dipanen. Karyawan diberi tempat tinggal yang dekat dengan usaha pembenihan sehingga memudahkan untuk menjaga benih agar tetap baik. Karyawan bekerja selama 24 jam, dan baru dapat upah setelah panen. Upah yang diperoleh karyawan adalah hasil panen dikali Rp 10. Sedangakan pendapatan yang diterima oleh Bapak Arman dan Bapak Ardi diperoleh dari laba bersih yang diterima perusahaan kemudian dibagi dua. Secara struktural keorganisasian di Number One Fish Farm dapat dilihat pada gambar 13.

Kepala Perusahaan

Manajer Produksi

Karyawan

Gambar 13. Struktur Organisasi Number One Fish Farm Number One Fish Farm cukup layak untuk dijalankan dilihat dari aspek manajemen. Usaha ini masih tergolong usaha rumah tangga yang belum memiliki struktur organisasi formal, namun untuk pembagiaan tugas di Number One Fish

Farm sudah jelas antara pemilik, penanggung jawab produksi serta karyawan bagian pemeliharaan, baik wewenang dan tanggung jawabnya. 6.4. Aspek Sosial Usaha pembenihan ikan patin di Number One Fish Farm yang berlokasi di Desa Cihideung Ilir memiliki peran penting terhadap kehidupan sosial masyarakat sekitar. Kegiatan pembenihan memberikan kesempatan kerja bagi penduduk sekitar lokasi pembenihan, sehingga dapat mengurangi tingkat pengangguran dan meningkatkan taraf pendapatan masyarakat di sekitar lokasi. Penyerapan tenaga kerja tidak terlalu mempermasalahkah tingkat pendidikan akan tetapi kemauan dari pekerja untuk belajar dan jujur terhadap perusahaan. Dilihat dari aspek sosial, pengusahaan ikan patin di Number One Fish Farm layak untuk dijalankan karena kegiatan usaha ini juga dapat membuka kesempatan kerja bagi masyarakat sekitar. 6.5. Aspek Lingkungan Usaha ini tidak memberikan dampak buruk bagi masyarakat sekitar. Hal ini karena buangan atau limbah dari kegiatan usaha hanya berupa air bekas pemijahan atau pemeliharaan benih yang dibuang kedalam selokan sehingga air tersebut tidak mencemari lingkungan dan tidak merugikan masyarakat sekitar. Dilihat dari aspek Lingkungan usaha pembenihan ikan patin Number One Fish Farm layak untuk dijalankan karena tidak menimbulkan limbah yang dapat mengganggu lingkungan sekitar.

VII ANALISIS ASPEK FINANSIAL


Usaha pembenihan ikan patin yang dilakukan Number One Fish Farm merupakan suatu kegiatan yang menggunakan modal sendiri dalam menjalankan usahanya. Suatu usaha yang baru dilakukan perlu dikaji perhitungan keuangannya secara terperinci tentang kelayakan usaha, sehingga diperlukan perhitungan yang tepat dalam penggunaan sumberdaya yang ada. Analisis kelayakan ini berkaitan dengan keputusan investasi agar mendapatkan keuntungan yang maksimal dan menghindari adanya pemborosan sumberdaya. Kriteria yang digunakan dalam perhitungan meliputi NPV, Net B/C, IRR, Payback period serta analisis sensitivitas. Berdasarkan informasi yang didapat dari pihak penanggung jawab produksi bahwa umur usaha pembenihan ikan patin yaitu selama lima tahun, hal ini berdasarkan atas umur ekonomis induk jantan. 7.1. Inflow (Arus Manfaat) Dalam sebuah cashflow, inflow merupakan segala sesuatu yang dapat meningkatkan pendapatan sebuah usaha. Manfaat atau inflow dari usaha pembenihan ikan patin yaitu penjualan benih ikan patin dan nilai sisa. a. Penerimaan Penjualan Nilai pendapatan diperoleh dari penjualan benih ikan patin yang dikalikan dengan harga jualnya. Harga jual benih ikan patin ukuran 2 cm adalah harga yang berlaku pada saat penelitian yaitu sebesar Rp 100,00 per ekor. Produksi benih ikan patin dilakukan enam kali dalam satu tahun. Dalam satu akuarium mampu menghasilkan 5.000 ekor benih, dengan jumlah akuarium 70 maka dapat menghasilkan 350.000 ekor benih patin setiap panen. Jumlah ini didapat dari melalui penyuntikkan induk betina sebanyak enam ekor dan induk jantan enam ekor per periode/musim dengan daya tetas telur 80 persen dan mortalitas larva sebesar 10 persen. Jumlah produksi total yang diperoleh selama satu tahun sebanyak 2.100.000 benih per tahun. Penerimaan selama satu musim produksi adalah perkalian jumlah benih yang dihasilkan dikalikan harga benih per ekor yaitu Rp 35.000.000,00. Jadi pendapatan total benih selama satu tahun adalah Rp 210.000.000,00 per tahun.

Bila produksi meningkat atau dengan kata lain tingkat mortalitas dapat diperkecil dan daya tetas telur dapat ditingkatkan maka dapat diperoleh tambahan pendapatan dari penjualan benih ikan patin. b. Nilai Sisa (Salvage Value) Nilai sisa adalah nilai barang atau peralatan yang tidak habis selama usaha berjalan. Nilai sisa dihitung diakhir usaha, dan dimasukan ke dalam komponen inflow. Nilai sisa yang terdapat dalam usaha pembenihan ikan patin dapat menjadi tambahan manfaat bagi usaha tersebut. Arus penerimaan yang berasal dari nilai sisa dihitung berdasarkan nilai dari investasi peralatan yang masih tersisa pada akhir umur usaha. Peralatan yang masih memiliki nilai sisa pada akhir umur usaha (pada tahun kelima) adalah lahan, genset, dan akuarium (Tabel 6). Tabel 6. Nilai Sisa Investasi Usaha Pembenihan Ikan Patin
Uraian Lahan Akuarium Blower Total Umur Ekonomis (Tahun) 10 5 5 Nilai Sisa (Rp) 35.000.000 3.500.000 400.000 38.900.000

Nilai sisa yang didapatkan pada akhir usaha pembenihan ikan patin sebesar Rp 38.900.000,00 nilai tersebut berasal dari nilai peralatan yang dikurangi dengan akumulasi penyusutannya. Nilai sisa terbesar berasal dari lahan sebesar Rp 35.000.000,00 diasumsikan nilai sisa sama dengan nilai belinya. 7.2. Outflow (Arus Pengeluaran) Outflow adalah aliran kas yang dikeluarkan oleh usaha. Outflow pembenihan ikan patin dikelompokkan menjadi dua macam bentuk biaya yaitu biaya investasi dan biaya operasional. a. Biaya Investasi Biaya investasi merupakan biaya awal yang dikeluarkan saat menjalankan usaha yaitu pada tahun nol usaha, dimana jumlahnya relatif besar dan tidak habis dalam satu kali periode produksi. Biaya investasi ditanamkan atau dikeluarkan pada suatu usaha dengan tujuan memperoleh keuntungan dalam periode yang akan datang, yakni selama umur usaha, atau selama usaha tersebut dijalankan.

Rincian biaya investasi dan penyusutan yang dikeluarkan oleh usaha pembenihan ikan patin, dapat dilihat pada Tabel 7. Tabel 7. Biaya Investasi dan Penyusutan Usaha Pembenihan Ikan Patin
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Uraian Tanah Bangunan Akuarium Akuarium Kolam 3x4 Kolam 4x6 Sumur dan Instalasi Blower 180 watt Genset 1000 watt Selang Aerasi Bak Penampung Air Kompor Gas Induk Jantan Induk Betina Tabung Oksigen Tong Pengangkutan Tong Tempat Artemia Baskom Tempat Cacing Serokan kecil Serokan Besar Ember Besar Ember Kecil Pisau Corong Matras Tabung Gas Batu Aerasi Paralon Aerasi 1/2 inci Timbangan Gantung Instalasi selang Rak Akuarium Total Investasi Nilai Beli (Rp) 35.000.000 50.000.000 7.000.000 4.000.000 4.000.000 2.500.000 800.000 1.000.000 120.000 750.000 100.000 300.000 750.000 800.000 160.000 280.000 160.000 16.000 51.000 30.000 21.000 30.000 18.000 25.000 510.000 320.000 216.000 50.000 400.000 7.000.000 116.407.000 Umur Pakai (tahun) 10 5 5 5 10 5 10 5 5 5 5 2 5 5 5 2 2 2 2 2 2 2 2 5 5 5 5 5 5 Penyusutan (Rp) 5.000.000 1.400.000 800.000 800.000 250.000 160.000 100.000 24.000 250.000 20.000 60.000 375.000 160.000 32.000 56.000 80.000 8.000 25.500 15.000 10.500 15.000 9.000 12.500 102.000 64.000 43.200 10.000 80.000 1.400.000 11.361.700

Unit usaha pembenihan ikan patin terhitung dalam analisis finansial mulai dari tahun ke nol. Besarnya biaya investasi yang dikeluarkan pada tahun ke nol sebesar Rp 116.407.000,00. Sedangkan nilai penyusutan yang didapat pada usaha pembenihan ikan patin sebesar Rp 11.361.700,00. Penghitungan penyusutan dari peralatan tersebut menggunakan metode garis lurus. Penyusutan terbesar per tahun adalah bangunan, hal ini karena nilai investasi bangunan paling besar setelah lahan, sedangkan lahan tidak memiliki nilai penyusutan. Peralatan investasi lainnya memiliki umur ekonomis yang kurang dari umur proyek, sehingga memerlukan investasi ulang atau reinvestasi.

b. Biaya Reinvestasi Biaya reinvestasi dikeluarkan untuk mengganti peralatan investasi yang telah habis masa ekonomisnya sebelum unit usaha berakhir. Biaya reinvestasi yang dikeluarkan berbeda-beda tiap tahunnya tergantung dari banyaknya peralatan yang perlu diperbaharui. Peralatan investasi seperti pisau, ember, serokan, matras, corong, ember merupakan jenis peralatan yang tidak tahan lama dan harus diperbaharui. Oleh karena itu, pada tahun kedua dari umur usaha sudah mulai dikeluarkan biaya reinvestasi untuk mengganti peralatan tersebut. Rincian biaya reinvestasi dapat dilihat pada Tabel 8. Tabel 8. Biaya Reinvestasi Usaha Pembenihan Ikan Patin
Tahun 1 2 3 4 5 Nilai Reinvestasi (Rp) 1.101.000 1.101.000 26.806.000

Biaya reinvestasi mulai dikeluarkan pada tahun kedua usaha yaitu sebesar Rp 1.101.000,00. Biaya reinvestasi terbesar dikeluarkan pada tahun kelima, yaitu sebesar Rp 26.806.000,00. Besarnya biaya reinvestasi pada tahun-tahun tersebut karena adanya biaya reinvestasi untuk rak akuarium, timbangan gantung, kompor gas, instalasi selang, blower, akuarium, kolam yang dimiliki Number One Fish Farm. Sedangkan pada tahun kesatu dan ketiga tidak mengeluarkan biaya reinvestasi karena tidak ada peralatan yang dilakukan pembelian kembali pada tahun tersebut. c. Biaya Operasional Selain biaya investasi dan reinvestasi, biaya lain yang dikeluarkan dalam kegiatan usaha pembenihan ikan patin adalah biaya operasional. Biaya operasional adalah biaya yang dikeluarkan selama usaha berjalan. Biaya operasional meliputi biaya tetap dan biaya variabel. 1. Biaya Tetap Biaya tetap merupakan biaya yang besarnya tidak tergantung pada jumlah produksi yang dihasilkan. Biaya tetap yang dikeluarkan Number One Fish Farm meliputi upah satu orang karyawan, makan karyawan, biaya transportasi, biaya

perawatan, dan biaya pajak bumi dan bangunan. Rincian biaya tetap dapat dilihat pada Tabel 9. Tabel 9. Rincian Biaya Tetap Usaha Pembenihan Ikan Patin
Jenis Biaya Tetap Upah 1 Orang Karyawan Makan 1 Orang Karyawan @ Rp300.000 Biaya Transportasi Biaya Perawatan Pajak PBB Total Biaya Tetap Harga Satuan (Rp/Bulan) 3.000.000 300.000 50.000 300.000 Jumlah (Rp/Tahun) 18.000.000 3.600.000 600.000 3.600.000 100.000 25.900.000

Jumlah biaya tetap yang dikeluarkan dalam satu tahun kegiatan pembenihan ikan patin sebesar Rp 25.900.000,00. Upah untuk karyawan sebesar sepuluh persen dari penjualan benih ikan patin. Pemberian upah tergantung produksi yang dihasilkan, jika produksi tinggi upah yang diperoleh juga lebih tinggi, sedangkan bila produksi menurun maka akan sebaliknya. Upah yang diperoleh satu orang karyawan sebesar Rp 3.000.000,00 setiap penjualan benih patin. Satu tahun upah untuk satu orang karyawan sebesar Rp 18.000.000,00. Biaya perawatan dikeluarkan sebesar Rp 3.600.000,00 dalam satu tahun dan digunakan untuk merawat barang-barang investasi yang membutuhkan perawatan. Biaya transportasi dikeluarkan untuk biaya pembelian pakan, biaya ini dikeluarkan tiap tahunnya Rp 600.000,00 sedangkan untuk pajak sebesar Rp 100.000,00 dalam setahun. 2. Biaya Variabel Biaya variabel merupakan biaya yang harus dikeluarkan seiring dengan bertambah atau berkurangnya produksi. Biaya variabel akan mengalami perubahan jika volume produksi berubah. Beberapa biaya variabel yang sangat berpengaruh adalah hormon ovaprim dan ketersediaan pakan. Besarnya biaya variabel yang dikeluarkan setiap tahun untuk pembenihan ikan patin di Number One Fish Farm yaitu Rp 80.910.500,00. Biaya-biaya variabel tersebut terdiri dari : A. Pelet Pakan yang diberikan kepada induk ikan patin berupa pelet yang dibeli di toko-toko penjualan kebutuhan perikanan di Desa Cihideung Ilir. Kebutuhan

pakan per hari sebesar lima persen dari berat badan induk. Jumlah induk ikan patin yang dimiliki Number One Fish Farm ada 50 ekor dengan berat masingmasing 2 Kg. Jumlah pakan yang dibutuhkan dalam satu hari sebanyak 5 Kg. Harga pakan pelet per kilogram Rp 5.000,00. Jadi jumlah pakan yang dibutuhkan dalam satu siklus dengan asumsi 30 hari adalah sebesar Rp 750.000,00 jadi kebutuhan pakan dalam satu tahun dengan asumsi satu tahun 360 hari adalah 5 Kg x Rp 5.000 x 360, sebesar Rp 9.000.000,00. B. Biaya Ovaprim Ovaprim adalah kelenjer hipofisa ikan yang telah diolah, diawetkan dan dikemas dalam kemasan botol. Satu kemasan botol terdapat 10 ml ovaprim dan dapat disuntikkan pada empat induk ikan patin. Jadi bila dalam satu siklus disuntik induk ikan patin sebanyak 12 ekor maka dibutuhkan tiga botol ovaprim atau 30 ml ovaprim. Harga satu botol ovaprim adalah sebesar Rp 250.000,00. Biaya ovaprim yang dikeluarkan dalam satu siklus adalah sebesar Rp 750.000,00. Biaya yang dikeluarkan untuk membeli ovaprim dalam satu tahun jika diasumsikan dalam satu tahun terjadi enam kali siklus usaha adalah sebesar Rp 4.500.000,00. C. Biaya Artemia Artemia adalah makan larva ikan patin yang diberikan pada hari kedua setelah telur ikan patin menetas menjadi larva. Artemia sendiri adalah telur-telur dari kutu air yang dibiakkan di media pembiakkan artemia. Artemia yang dibekukan sebelum dijadikan pakan benih ikan patin harus dikultur terlebih dahulu. Proses pengkulturan artemia dilakukan selama 20 sampai 26 jam di dalam wadah air. 25 liter air dicampur dengan 100 gram artemia dan diberi 300 gram garam. Selama proses berlangsung wadah air yang berisi artemia diairi aerator guna menjaga ketersediaan oksigen. Artemia yang siap diberikan pada benih ikan patin adalah artemia yang sudah terpisah dari cangkangnya sehingga mirip dengan kutu air yang berukuran sangat kecil. Artemia dijual dalam kemasan kaleng, dimana satu kaleng artemia berisi satu kilogram. Artemia diberikan sekitar empat jam sekali selama empat hari. Satu kilogram artemia dapat diberikan pada 100.000 ekor larva patin dalam satu hari.

Jadi untuk larva patin sebanyak 350.000 ekor dibutuhkan sebanyak 3,5 kilogram dalam satu hari. Artemia yang dibutuhkan selama satu siklus pembenihan ikan patin adalah 14 kilogram artemia. Harga satu kilogram artemia sebesar Rp 350.000,00 maka biaya pembelian dalam satu siklus adalah Rp 4.900.000,00. Sedangkan biaya artemia dalam satu tahun adalah 14 kg x 6 x Rp 350.000, sebesar 29.400.000,00. D. Cacing Sutera Cacing sutera adalah makanan yang diberikan pada larva patin setelah berumur lima hari sampai benih berukuran 2 cm atau selama 19 hari. Cacing sutera diberikan dengan dosis pemakaian satu kilogram per hari untuk 10.000 ekor benih patin. Jadi cacing sutera yang dibutuhkan apabila benih sebanyak 350.000 ekor adalah 35 kg per hari. Atau sebanyak 665 kg dalam satu siklus pembenihan ikan patin. Harga satu kilogram cacing sutera adalah Rp 7.000,00 jadi biaya pembelian untuk satu siklus cacing sutera adalah sebesar Rp 4.655.000,00 dan sebesar Rp 27.930.000,00 untuk satu tahun. Sebelum diberikan pada benih patin, cacing sutera dipotong-potong sampai ukuran sangat kecil dengan menggunakan pisau dapur. Hal ini dilakukan agar ukuran mulut benih ikan bisa memakan cacing sutera yang diberikan. E. Biaya Alat Suntik dan Obat-obatan Kegiatan pembenihan ikan patin dalam satu siklusnya memerlukan 6 buah alat suntik untuk 12 ekor induk yang dipakai untuk dua kali proses penyuntikkan induk. Jumlah kebutuhan alat suntik tergantung dari seberapa banyak indukkan yang akan disuntik. Alat suntik yang dipakai untuk dua kali proses penyuntikkan atau selama satu siklus produksi. Harga alat suntik adalah Rp 2000 per unit, sehingga biaya yang dibutuhkan untuk membeli alat suntik adalah Rp 12.000,00 atau sebanyak Rp 72.000,00 untuk satu tahun kegiatan. Obat-obatan yang diberikan untuk mengantisipasi hama dan mikroba pengganggu. Obat-obatan diberikan pada saat penggantian air sekali sehari. Obat yang digunakan adalah Elbay. Setahun membutuhkan 130 elbay dan biaya yang dikeluarkan sebesar Rp 1.300.000,00 untuk satu tahun kegiatan.

F. Biaya Gas, Listrik dan Bensin Gas digunakan untuk mempertahankan suhu ruangan dan suhu air dalam akuarium. Kebutuhan gas sebanyak tujuh buah yang ukuran tiga kilogram. Bila harga satu tabung gas yang berukuran tiga kilogram Rp 15.000,00 maka biaya pembelian gas untuk enam siklus produksi 7 x Rp 15.000 x 6 sebesar Rp 630.000,00. Sumber tenaga listrik yang digunakan dalam kegiatan ini berasal dari PLN dengan daya 1300 watt, sumber energi tersebut dimanfaatkan untuk penerangan, mesin air dan blower. Biaya listrik per bulannya Rp 350.000,00 jadi kebutuhan listrik siklus produksi sebesar Rp 4.200.000,00 per tahun. Bensin digunakan sebagai bahan bakar genset untuk mengganti arus listrik jika padam atau terjadi gangguan. Dalam setahun diperlukan biaya untuk bensin sebesar Rp 600.000,00. G. Biaya Kantong Plastik, Oksigen, dan Serokan Benih ikan dikemas ke dalam kantong plastik sesaat setelah dipanen. Kantong plastik dan oksigen dibutuhkan pada saat panen dan pengiriman benih ikan kepada pembeli, kapasitas satu kantong plastik sebanyak 1000 benih ikan patin. Kebutuhan kantong plastik untuk satu siklus benih sekitar 350.000 adalah 350 kantong plastik, bila dalam satu kilogram plastik terdapat 38 buah kantong plastik maka kebutuhan kantong plastik adalah 10 kg. Harga satu kilogram kantong plastik sebesar Rp 20.000,00 maka biaya pembelian kantong plastik dalam enam siklus produksi pembenihan adalah 10 x Rp 20.000 x 6 sebesar 1.200.000,00. Benih ikan patin yang sudah dimasukkan ke dalam kantong plastik diberi oksigen. Harga isi ulang oksigen sebesar Rp 90.000, dan biaya oksigen untuk satu kantong plastik sebesar Rp 360. Biaya oksigen untuk satu siklus pembenihan adalah 350 x Rp 360 sebesar Rp 126.000,00 maka untuk enam siklus biaya yang dikeluarkan sebesar Rp 756.000,00. Penangkapan benih ikan dan pembersihan dari akuarium dari telur-telur yang tidak menetas menggunakan serokan. Kebutuhan serokan lima buah per tahun dan harganya Rp 8.000,00 per buah. Jadi biaya pembelian serokan sebesar Rp 40.000,00.

H. Garam Garam digunakan untuk mengkultur artemia dan mengurangi sifat kanibalisme ikan pada saat pemeliharaan larva di akuarium. Garam yang digunakan untuk proses pengkulturan artemia dalam satu siklus produksi adalah 30 kg. Sedangkan untuk akuarium dibutuhkan 0,125 kg garam per akuarium dalam satu hari sehingga membutuhkan garam sebanyak 8,75 kg per hari atau 183,75 kg per siklus (21 hari). Total garam yang dibutuhkan dalam satu siklus produksi adalah 157,5 kg + 30 kg menjadi 213,75 kg. Biaya total yang dikeluarkan untuk membeli garam adalah Rp 213.750,00 per siklus dengan harga Rp 1.000,00 per kilogram, sedangkan kebutuhan setahun yaitu Rp 1.282.500,00. Ringkasan rincian biaya variabel kegiatan usaha pembenihan ikan patin dapat dilihat pada Tabel 10. Tabel 10. Rincian Biaya Variabel Usaha Pembenihan Ikan Patin
Jenis Biaya Variabel Pelet Ovaprim Artemia Cacing Sutera Alat Suntik Obat-obatan (Elbay) Gas Biaya Listrik Kantong Plastik Oksigen Serokan Garam Bensin Jumlah Biaya (Rp) 9.000.000 4.500.000 29.400.000 27.930.000 72.000 1.300.000 630.000 4.200.000 1.200.000 756.000 40.000 1.282.500 600.000 80.910.500

7.3. Analisis Laba Rugi Usaha Pembenihan Ikan Patin Analisis rugi laba digunakan untuk mengetahui perkembangan usaha dalam kurun waktu tertentu, komponen rugi laba terdiri dari penerimaan, biaya operasional, penyusutan, dan biaya lain di luar usaha dan pajak penghasilan. Perhitungan laba rugi usaha dimulai dengan mengurangi jumlah seluruh penerimaan dengan total biaya tetap dan biaya variabel setiap tahunnya. Pada perhitungan tersebut didapatkan nilai penerimaan sebelum bunga dan pajak (EBIT) atau laba kotor yang kemudian dikurangi dengan biaya bunga sehingga

didapatkan penerimaan sebelum pajak atau laba bersih sebelum pajak (EBT). Dengan demikian didapatkan nilai penerimaan setelah pajak atau laba rugi usaha. Perhitungan kelayakan ini menggunakan manfaat bersih (net benefit) yang diperoleh dari selisih antara biaya dan manfaat setiap tahunnya dengan dikurangi pajak berdasarkan tarif pajak yang ditentukan dalam peraturan pemerintah dan dibuat dalam bentuk laba rugi. Tarif pajak yang digunakan berdasarkan Undangundang Republik Indonesia tentang Pajak Pengahasilan Tahun 2010 yaitu sebesar 25 persen. Hasil perhitungan laba rugi usaha pembenihan ikan patin diperoleh laba bersih sebesar Rp 68.870.850,00 (Lampiran 3). 7.4. Analisis Kelayakan Finansial Usaha Pembenihan Ikan Patin Analisis kelayakan finansial dihitung berdasarkan nilai manfaat bersih (net benefit) yang didiskontokan dengan tingkat discount factor sebesar enam persen (Lampiran 4). Tingkat discout factor yang digunakan merupakan tingkat suku bunga deposito Bank Mandiri. Hal ini dilakukan karena suluruh modal yang digunakan berasal dari modal sendiri sehingga sebagai nilai social opportunity cost of capital dari modal yang dimiliki tersebut digunakan tingkat suku bunga deposito sebagai tingkat diskon faktornya. Penggunaan tingkat discout factor Bank Mandiri, karena pemilik menabung uangnya pada bank tersebut. Oleh karena itu penetapan tingkat discount factor diacu berdasarkan suku bunga deposito pada Bank Mandiri. Nilai net benefit yang diperoleh tersebut dijadikan dasar perhitungan kelayakan finansial berdasarkan kriteria investasi yaitu: Net Present Value (NPV), Net Benefit /Cost (Net B/C), Internal Rate Return (IRR), dan Payback Period (PP). Hasil analisis kelayakan finansial berdasarkan kriteria investasi dapat dilihat pada Tabel 11. Tabel 11. Kelayakan Finansial Usaha Pembenihan Ikan Patin
No 1 2 3 4 Kriteria Investasi NPV (Rp) Net B/C IRR (%) Payback Period Nilai 228.714.837 2,946 63 1

Berdasarkan hasil perhitungan kriteria investasi diatas, usaha pembenihan ikan patin Number One Fish Farm menghasilkan nilai NPV lebih besar dari nol

yaitu sebesar Rp 228.714.837,00. Nilai tersebut menunjukkan bahwa usaha ini layak untuk dijalankan secara finansial. Nilai Net B/C yang diperoleh dari analisis ini adalah 2,946. Hal ini berarti penggunaan investasi memenuhi ukuran kelayakan berdasarkan kriteria investasi dimana nilai Net B/C nya lebih dari 1. Nilai Net B/C sebesar 2,946 menunjukkan bahwa setiap biaya sebesar Rp 1 akan menghasilkan Rp 2,946. Ukuran kriteria investasi lainnya yaitu IRR. IRR yang diperoleh dari usaha pembenihan ikan patin adalah 63 persen. Nilai tersebut menunjukkan bahwa penggunaan investasi pada usaha ini lebih baik dapat memberikan keuntungan internal sebesar 63 persen per tahun. Nilai tersebut lebih besar daripada tingkat discount factor yang digunakan yaitu enam persen sehingga dapat dikatakan bahwa usaha ini layak secara finansial untuk dijalankan. Berdasarkan jangka waktu pengembalian investasinya, digunakan analisis Payback Period dan dari hasil analisis yang dilakukan, usaha pembenihan ikan patin akan mencapai titik pengembalian investasi pada saat kegiatan telah berjalan selama satu tahun. Jangka waktu tersebut kurang dari umur usaha sehingga dapat dikatakan bahwa usaha pembenihan ikan patin Number One Fish Farm layak untuk dijalankan. Berdasarkan analisis finansial di atas, nilai NPV, IRR, Net B/C, dan Payback Period yang diperoleh telah memenuhi ukuran kelayakan berdasarkan kriteria investasi. Dengan demikian bahwa secara finansial, layak untuk dijalankan. 7.5. Analisis Sensitivitas Analisis sensitivitas digunakan untuk melihat dampak dari suatu keadaan berubah-ubah terhadap hasil suatu analisis kelayakan. Tujuan analisis ini adalah untuk menilai apa yang akan terjadi dengan hasil analisis kelayakan suatu kegiatan investasi atau bisnis apabila terjadi perubahan di dalam perhitungan biaya atau manfaat. Apakah kelayakan suatu kegiatan investasi atau bisnis sensitif tidak terhadap perubahan yang terjadi. Dari wawancara dengan penanggung jawab di Number One Fish Farm diperoleh penurunan harga jual benih sebesar 10 persen per tahunnya mulai tahun 2009-2010. Selain perubahan penurunan harga jual benih, perubahan lain terjadi pada kenaikan harga artemia dan cacing sutera sebear 10 persen. Berdasarkan Tabel 12 diperoleh nilai NPV, IRR, Net B/C dan

Payback Period pada usaha pembenihan ikan patin yang diukur sensitivitasnya karena penurunan harga jual benih patin sebesar 10 persen pertahun (Lampiran 5). Tabel 12. Analisis Sensitivitas Penurunan Harga Benih Sebesar 10 Persen
No 1 2 3 4 Kriteria Investasi NPV (Rp) IRR (%) Net B/C Payback Period Nilai 140.262.837 43 2,204 2

Berdasarkan perhitungan sensitivitas diperoleh NPV, IRR, Net B/C, dan PP yakni masing-masingnya Rp 140.262.837, 43 persen, 2,204, dan dua tahun. Nilai perhitungan tersebut mengindikasikan bahwa penurunan harga jual benih sebesar 10 persen memberikan perubahan yang sangat besar pada usaha pembenihan ikan patin. Pada Tabel 13 mengukur sensitivitas karena kenaikan harga artemia dan cacing sutera sebesar 10 persen (Lampiran 6). Tabel 13. Analisis Sensitivitas Kenaikan Harga Artemia dan Cacing Sutera Sebesar 10 Persen
No 1 2 3 4 Kriteria Investasi NPV (Rp) IRR (%) Net B/C Payback Period Nilai 204.567.441 58 2,757 2

Pada kondisi kenaikan harga artemia dan cacing sutera sebesar 10 persen diperoleh nilai NPV Rp 204.567.441, IRR 58 persen dan Net B/C 2,757. Berdasarkan nilai yang diperhitungkan pada kondisi kenaikan harga artemia dan cacing sutera sebesar 10 persen menunjukkan bahwa tidak terjadi perubahan yang signifikan pada usaha pembenihan ikan patin tersebut. Secara umum dapat disimpulkan bahwa usaha pembenihan ikan patin sangat sensitif terhadap perubahan harga jual benih sebesar 10 persen, sedangkan pada kenaikan harga artemia dan cacing sutera sebesar 10 persen usaha pembenihan ikan patin ini tidak terpengaruh secara signifikan.

VIII KESIMPULAN DAN SARAN


8.1 Kesimpulan Kesimpulan yang didapat dari penelitian mengenai Analisis Kelayakan Usaha Pembenihan Ikan Patin (Pangasius spp) Studi Kasus : Number One Fish Farm, Desa Cihideung Ilir, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, sebagai berikut. 1. Berdasarkan aspek non finansial yang terdiri dari aspek pasar, aspek teknis, aspek manajemen, aspek sosial dan lingkungan usaha ini layak untuk dijalankan. Hal ini karena benih ikan patin memiliki peluang pasar yang tinggi; kondisi iklim lokasi sangat cocok untuk usaha pembenihan serta sarana dan prasarana usaha juga mendukung; organisasi serta pembagian tugas dan wewenang yang jelas sehingga memberikan kemudahan dalam koordinasi diantara karyawan; dan usaha pembenihan ikan patin ini membawa dampak baik kepada sosial ekonomi dan lingkungan sekitar. 2. Berdasarkan hasil analisis finansial dari usaha pembenihan ikan patin bahwa nilai NPV, IRR, Net B/C, dan Payback Period yang diperoleh telah memenuhi ukuran kelayakan berdasarkan kriteria investasi. Dengan demikian secara finansial, usaha pembenihan ikan patin layak untuk dijalankan. 3. Hasil analisis sensitivitas menunjukkan bahwa usaha pembenihan ikan patin sangat sensitif terhadap perubahan harga jual benih namun tidak terlalu berpengaruh pada kenaikan harga cacing sutera dan artemia. 8.2 Saran Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan saran yang dapat diberikan pada usaha pembenihan ikan patin di Number One Fish Farm yaitu, sebaiknya perusahaan tetap melakukan peningkatan kapasitas produksi dengan menambah jumlah akuarium sehingga dapat memenuhi permintaan yang selama ini belum mampu dipenuhi oleh perusahaan. Selain dapat memenuhi permintaan terhadap perusahaan maka secara tidak langsung akan menambah pendapatan perusahaan.

DAFTAR PUSTAKA
Agustika. 2009. Analisis Kelayakan Perluasan UsahaPemasok Ikan Hias Air Tawar Budi Fish Farm Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, [Skripsi]. Bogor: Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Anggraini, S. 2008. Analisis Kelayakan Finansial Usaha Ikan Mas (Cyprinus Carpio) dengan Cara Pemberokan (Kasus Desa Selajambe, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi, Profinsi Jawa Barat). [Skripsi]. Bogor: Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Bukit, A. 2007. Analisis Kelayakan Usaha Ikan Patin di Kabupaten Bogor (kasus Pembenihan di kecamatan Ciampea dan Pembesaran di Kecamatan Kemang), [Skripsi]. Bogor: Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bogor. 2007. Data Produksi Hasil Perikanan Kabupaten Bogor. Gittenger, J. P. 1986. Analisa Proyek-proyek Pertanian. Edisi Kedua. Universitas Indonesia. Jakarta. Hardjatmulia, A. 1975. Budidaya Ikan Indonesia. UPM. Bogor. Husnan S dan Muhammad S. 2005. Studi Kelayakan Proyek. Ed ke-4. Yogyakarta: Unit Penerbit dan Pencetak AMP YKPN. Kadariah, et. al. 2001. Pengantar Evaluasi Proyek. Edisi Revisi. Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Jakarta. Khairuman dan Susenda, D. 2002. Budi Daya Ikan Patin Secara Intensif. Jakarta : Agromedia Pustaka Nurmalina R, Sarianti T, dan Karyadi A. 2009. Studi Kelayakan Bisnis. Bogor: Buit Design & Printing. Perdana, H. 2008. Analisis Kelayakan Finansial Usaha Pembesaran Ikan Mas dan Ikan Nila pada Keramba Jaring Apung Sistem Jaring Kolor di KJA Waduk Cikoncong, Kecamatan Wanasalam, Kabupaten Lebak, Banten (skripsi). Program Studi Manajemen Agribisnis, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Surahmat. 2009. Analisis Kelayakan Usaha Pembenihan Larva Ikan Bawal Air Tawar Bens Fish Farm Cibungbulang, Kabupaten Bogor [skripsi]. Bogor: Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. Umar, H. 2005. Studi Kelayakan Bisnis Edisi 3. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.

LAMPIRAN

Lampiran 1. Kuesioner
A. Gambaran Umum Perusahaan No 1 2 3 Uraian Sejarah Perusahaan Lokasi Perusahaan Kegiatan Bisnis Number One Fish Farm Keterangan

B. Aspek Kelayakan Usaha No 1 KRITERIA ASPEK KELAYAKAN Aspek Pasar : Pasar Potensial Target Pasar Permintaan dan Penawaran Komoditas : - Jenis - Ukuran Harga Saluran Distribusi/ Pemasaran Strategi Perusahaan/Promosi Pesaing/Persaingan Perusahaan Rencana/proyek Penjualan 2 Aspek Teknis : Lokasi Proyek Fasilitas Transportasi Ketersediaan Bahan Mentah (ada biaya pengangkutan/tidak) Luas Lahan Number One Fish Farm Tenaga Listrik Tenaga Air Supply Tenaga Kerja Skala Produksi (Jumlah/Bulan) URAIAN

Kapasitas Akuarium Kapasitas Bak Semen Luas Bak Semen Jumlah Akuarium Mesin/alat yang (peralatan&perlengkapan) Proses Produksi (awal-panen) digunakan

Layout Lahan Lokasi Proyek, Lahan Bak Semen & Fasilitas-fasilitas lainnya Aspek Manajemen Manajemen Pembangunan Proyek : Kapan Proyek Dimulai Perkiraan Waktu Proyek Selesai Pengawasan Manajemen Dalam Operasi : Bentuk Badan Usaha (SIUP) Jenis-jenis Pekerjaan (Job Description) Syarat-syarat yang diperlukan menjalankan pekerjaan tersebut Struktur Organisasi Penyediaan Tenaga kerja Sistem Pembagian Kerja Sistem Kompensasi untuk

Aspek Sosial Dampak Usaha Pada Number One Fish Farm Dampak Usaha Terhadap Masyarakat Dampak Usaha Terhadap Lingkungan

Aspek Finansial Sumber Modal Harga Tanah per M2/sewa Tanah Pinjaman

Produksi Total Biaya Peralatan Biaya Perlengkapan Biaya Tenaga Kerja

C. Biaya Investasi Pembenihan Ikan Patin pada Number One Fish Farm No Uraian Umur Ekonomi Jumlah Harga/Unit (Rp) Total (Rp)

1 2 3 4 5 6 7

Biaya Pembuatan Bak Semen dan Akuraium Biaya Pembuatan Kantor Biaya Pembuatan Gudang Pakan Biaya Pembelian Peralatan (Serok, Selang, Oksigen, Busa Spon) Biaya Pembelian Kendaraan Biaya Instalasi Air Biaya Instalasi Listrik/kapasitas listrik Total Biaya

D.Biaya Tetap Usaha Pembenihan Ikan Patin pada Number One Fish Farm N o 1 2 3 4 5 6 7 Uraian Jumlah Satuan Harga/Satuan (Rp) Total (Rp)

Gaji Karyawan Telephone Listrik Air ATK (Alat Tulis Kantor) PBB (Pajak Bumi & Bangunan) Asuransi Total Biaya

E. Biaya Variabel Usaha Pembenihan Ikan Patin pada Number One Fish Farm No Uraian Jumlah Satuan Harga/Satuan (Rp) Total (Rp)

1 2 3 4 5 6 7

Induk Ikan Patin Benih Ikan Patin Pakan Ikan Obat-obatan Oksigen Plastik Karet Gelang Total Biaya

F. Nilai Penyusutan Barang pada Number One Fish Farm No Uraian Nilai Beli (Rp) Nilai Sisa (Rp) Umur Ekonomis Total Penyusutan (Rp)

2 3 4 5 6

Bangunan Akuarium Rak Akuarium Timbangan Gantung Instalasi Listrik Total Biaya

Lampiran 2. Diagram Alir Pembenihan Ikan Patin

Pemeliharaan Induk Seleksi Induk

Penyuntikkan Hormon

Stripping Induk

Inseminasi

Penetasan Telur

Pemanenan

Perawatan Larva

Penjualan Benih

Lampiran 3. Laporan Rugi Laba Usaha Pembenihan Ikan Patin


Uraian 1 1. Pendapatan 2. Biaya Operasional a. Biaya Tetap Upah 1 Orang karyawan Makan 1 orang Karyawan Rp @300.000 Biaya Transportasi Biaya Perawatan Pajak PBB Penyusutan Jumlah Biaya Tetap b. Biaya Variabel Pelet Ovaprim Artemia Cacing Sutera Alat Suntik Obat-obatan Biaya Gas Biaya Listrik Kantong Plastik Oksigen Serokan Garam Bensin Total Biaya Variabel Total Biaya Tetap dan Variabel laba Sebelum Pajak Pajak 25% Laba Bersih 9.000.000 4.500.000 29.400.000 27.930.000 72.000 1.300.000 630.000 4.200.000 1.200.000 756.000 40.000 1.282.500 600.000 80.910.500 118.172.200 91.827.800 22.956.950 68.870.850 9.000.000 4.500.000 29.400.000 27.930.000 72.000 1.300.000 630.000 4.200.000 1.200.000 756.000 40.000 1.282.500 600.000 80.910.500 118.172.200 91.827.800 22.956.950 68.870.850 9.000.000 4.500.000 29.400.000 27.930.000 72.000 1.300.000 630.000 4.200.000 1.200.000 756.000 40.000 1.282.500 600.000 80.910.500 118.172.200 91.827.800 22.956.950 68.870.850 9.000.000 4.500.000 29.400.000 27.930.000 72.000 1.300.000 630.000 4.200.000 1.200.000 756.000 40.000 1.282.500 600.000 80.910.500 118.172.200 91.827.800 22.956.950 68.870.850 9.000.000 4.500.000 29.400.000 27.930.000 72.000 1.300.000 630.000 4.200.000 1.200.000 756.000 40.000 1.282.500 600.000 80.910.500 118.172.200 91.827.800 22.956.950 68.870.850 18.000.000 3.600.000 600.000 3.600.000 100.000 11.361.700 37.261.700 18.000.000 3.600.000 600.000 3.600.000 100.000 11.361.700 37.261.700 18.000.000 3.600.000 600.000 3.600.000 100.000 11.361.700 37.261.700 18.000.000 3.600.000 600.000 3.600.000 100.000 11.361.700 37.261.700 18.000.000 3.600.000 600.000 3.600.000 100.000 11.361.700 37.261.700 210.000.000 2 210.000.000 Tahun 3 210.000.000 4 210.000.000 5 210.000.000

Lampiran 4. Analisis Kelayakan Usaha Pembenihan Ikan Patin


Tahun Uraian INFLOW Penjualan Benih Nilai Sisa Total Inflow Outflow Investasi Biaya Tetap Upah 1 Orang Karyawan Makan 1 orang Karyawan Rp @300.000 Biaya Transportasi Biaya Perawatan Pajak PBB Total Biaya Tetap Biaya Variabel Pelet Ovaprim Artemia Cacing Sutera Alat Suntik Obat-obatan Biaya Gas Biaya Listrik Kantong Plastik Oksigen Serokan Garam Bensin Pajak Penghasilan Usaha Total Biaya Variabel Total Outflow Net Benefit DF(6%) PRESENT VALUE NPV IRR PV Positif PV Negatif NET B/C PAYBACK PERIOD Nilai Manfaat Bersih 116.407.000 -116.407.000 1 116.407.000 228.714.837 63% 345.121.837 -116.407.000 2,964785937 1 82.210.950 9.000.000 4.500.000 29.400.000 27.930.000 72.000 1.300.000 630.000 4.200.000 1.200.000 756.000 40.000 1.282.500 600.000 22.956.950 103.867.450 129.767.450 80.232.550 0,943 75659294,7 9.000.000 4.500.000 29.400.000 27.930.000 72.000 1.300.000 630.000 4.200.000 1.200.000 756.000 40.000 1.282.500 600.000 22.956.950 103.867.450 130.868.450 79.131.550 0,89 70427079,5 9.000.000 4.500.000 29.400.000 27.930.000 72.000 1.300.000 630.000 4.200.000 1.200.000 756.000 40.000 1.282.500 600.000 22.956.950 103.867.450 129.767.450 80.232.550 0,84 67395342 9.000.000 4.500.000 29.400.000 27.930.000 72.000 1.300.000 630.000 4.200.000 1.200.000 756.000 40.000 1.282.500 600.000 22.956.950 103.867.450 130.868.450 79.131.550 0,792 62672187,6 9.000.000 4.500.000 29.400.000 27.930.000 72.000 1.300.000 630.000 4.200.000 1.200.000 756.000 40.000 1.282.500 600.000 22.956.950 103.867.450 156.573.450 92.326.550 0,747 68967932,9 116.407.000 18.000.000 3.600.000 600.000 3.600.000 100.000 25.900.000 1.101.000 18.000.000 3.600.000 600.000 3.600.000 100.000 25.900.000 18.000.000 3.600.000 600.000 3.600.000 100.000 25.900.000 1.101.000 18.000.000 3.600.000 600.000 3.600.000 100.000 25.900.000 26.806.000 18.000.000 3.600.000 600.000 3.600.000 100.000 25.900.000 210.000.000 210.000.000 210.000.000 210.000.000 210.000.000 210.000.000 210.000.000 210.000.000 210.000.000 38.900.000 248.900.000 0 1 2 3 4 5

Lampiran 5. Analisis Sensitivitas Penurunan Harga Jual Benih Sebesar 10 Persen


Tahun Uraian INFLOW Penjualan Benih Nilai Sisa Total Inflow Outflow Investasi Biaya Tetap Upah 1 Orang Karyawan Makan 1 orang Karyawan Rp @300.000 Biaya Transportasi Biaya Perawatan Pajak PBB Total Biaya Tetap Biaya Variabel Pelet Ovaprim Artemia Cacing Sutera Alat Suntik Obat-obatan Biaya Gas Biaya Listrik Kantong Plastik Oksigen Serokan Garam Bensin Pajak Penghasilan Usaha Total Biaya Variabel Total Outflow Net Benefit DF(6%) PRESENT VALUE NPV IRR PV Positif PV Negatif NET B/C PAYBACK PERIOD (PP) Nilai Manfaat Bersih 116.407.000 -116.407.000 1 116.407.000 140.262.837 43% 256.669.837 -116.407.000 2,20493473 2 61.210.950 9.000.000 4.500.000 29.400.000 27.930.000 72.000 1.300.000 630.000 4.200.000 1.200.000 756.000 40.000 1.282.500 600.000 22.956.950 103.867.450 129.767.450 59.232.550 0,943 55.856.295 9.000.000 4.500.000 29.400.000 27.930.000 72.000 1.300.000 630.000 4.200.000 1.200.000 756.000 40.000 1.282.500 600.000 22.956.950 103.867.450 130.868.450 58.131.550 0,89 51.737.080 9.000.000 4.500.000 29.400.000 27.930.000 72.000 1.300.000 630.000 4.200.000 1.200.000 756.000 40.000 1.282.500 600.000 22.956.950 103.867.450 129.767.450 59.232.550 0,84 49.755.342 9.000.000 4.500.000 29.400.000 27.930.000 72.000 1.300.000 630.000 4.200.000 1.200.000 756.000 40.000 1.282.500 600.000 22.956.950 103.867.450 130.868.450 58.131.550 0,792 46040187,6 9.000.000 4.500.000 29.400.000 27.930.000 72.000 1.300.000 630.000 4.200.000 1.200.000 756.000 40.000 1.282.500 600.000 22.956.950 103.867.450 156.573.450 71.326.550 0,747 53280932,9 18.000.000 3.600.000 600.000 3.600.000 100.000 25.900.000 18.000.000 3.600.000 600.000 3.600.000 100.000 25.900.000 18.000.000 3.600.000 600.000 3.600.000 100.000 25.900.000 18.000.000 3.600.000 600.000 3.600.000 100.000 25.900.000 18.000.000 3.600.000 600.000 3.600.000 100.000 25.900.000 116.407.000 1.101.000 1.101.000 26.806.000 189.000.000 189.000.000 189.000.000 189.000.000 189.000.000 189.000.000 189.000.000 189.000.000 189.000.000 38.900.000 227.900.000 0 1 2 3 4 5

Lampiran 6. Analisis Sensitivitas Kenaikan Artemia dan Cacing Sutera Sebesar 10 Persen
Tahun Uraian INFLOW Penjualan Benih Nilai Sisa Total Inflow Outflow Investasi Biaya Tetap Upah 1 Orang Karyawan Makan 1 orang Karyawan Rp @300.000 Biaya Transportasi Biaya Perawatan Pajak PBB Total Biaya Tetap Biaya Variabel Pelet Ovaprim Artemia Cacing Sutera Alat Suntik Obat-obatan Biaya Gas Biaya Listrik Kantong Plastik Oksigen Serokan Garam Bensin Pajak Penghasilan Usaha Total Biaya Variabel Total Outflow Net Benefit DF(6%) PRESENT VALUE NPV IRR PV Positif PV Negatif NET B/C PAYBACK PERIOD (PP) Nilai Manfaat Bersih 116.407.000 -116.407.000 1 116.407.000 204.567.441 58% 320.974.441 -116.407.000 2,75734656 2 76.477.950 9.000.000 4.500.000 32.340.000 30.723.000 72.000 1.300.000 630.000 4.200.000 1.200.000 756.000 40.000 1.282.500 600.000 22.956.950 109.600.450 135.500.450 74.499.550 0,943 70253075,65 9.000.000 4.500.000 32.340.000 30.723.000 72.000 1.300.000 630.000 4.200.000 1.200.000 756.000 40.000 1.282.500 600.000 22.956.950 109.600.450 136.601.450 73.398.550 0,89 65324709,5 9.000.000 4.500.000 32.340.000 30.723.000 72.000 1.300.000 630.000 4.200.000 1.200.000 756.000 40.000 1.282.500 600.000 22.956.950 109.600.450 135.500.450 74.499.550 0,84 62579622 9.000.000 4.500.000 32.340.000 30.723.000 72.000 1.300.000 630.000 4.200.000 1.200.000 756.000 40.000 1.282.500 600.000 22.956.950 109.600.450 136.601.450 73.398.550 0,792 58131651,6 9.000.000 4.500.000 32.340.000 30.723.000 72.000 1.300.000 630.000 4.200.000 1.200.000 756.000 40.000 1.282.500 600.000 22.956.950 109.600.450 162.306.450 86.593.550 0,747 64685381,85 18.000.000 3.600.000 600.000 3.600.000 100.000 25.900.000 18.000.000 3.600.000 600.000 3.600.000 100.000 25.900.000 18.000.000 3.600.000 600.000 3.600.000 100.000 25.900.000 18.000.000 3.600.000 600.000 3.600.000 100.000 25.900.000 18.000.000 3.600.000 600.000 3.600.000 100.000 25.900.000 116.407.000 1.101.000 1.101.000 26.806.000 210.000.000 210.000.000 210.000.000 210.000.000 210.000.000 210.000.000 210.000.000 210.000.000 210.000.000 38.900.000 248.900.000 0 1 2 3 4 5