Anda di halaman 1dari 6

BAB II LANDASAN TEORI

2.1

Critical Path Method (CPM) CPM (Critical Path Method), yaitu teknik menejemen proyek yang

menggunakan hanya satu faktor waktu per kegiatan (Prasetya, 2009). CPM dikembangkan tahun 1957 oleh J.E. Kelly dari Remington Rand dan M.R. Walker dari Dupont untuk membantu pembangunan dan pemeliharaan pabrik kimia di Dupont. Kedua teknik tersebut digunakan untuk membantu para manager membuat penjadwalan, memonitor dan mengendalikan proyek besar dan kompleks. CPM adalah model manajemen proyek yang mengutamakan biaya sebagai obyek yang dianalisis (Siswanto, 1990). Persoalan pokok yang menjadi perhatian model ini adalah berapa besar biaya untuk menyelesaikan sebuah proyek bila waktu penyelesaiannya normal dan bila waktu penyelesaian suatu proyek harus dipercepat maka berapa besar biayanya dan kegiatan mana yang harus dipercepat agar biaya percepatan total minimum (Siswanto, 1990). Meskipun PERT dan CPM berbeda pada beberapa hal dalam terminologi dan pada konstruksi jaringan, tujuan mereka sama. Perbeda utamanya adalah PERT menggunakan tiga perkiraan waktu untuk tiap kegiatan. Perkiraan waktu ini berguna untuk nilai yang diharapkan, dan penyimpangan standar untuk kegiatan tersebut. CPM mengasumsikan bahwa kegiatan diketahui pasti hingga hanya diperlukan satu faktor waktu untuk tiap kegiatan. Jalur kritis adalah jalur waktu terpanjang melalui satu jaringan. Enam langkah dasar yang dilakukan oleh CPM dan PERT yaitu (Prasetya, 2009): 1. Mendefinisikan proyek dan menyiapkan struktur pecahan kerja. 2. Membangun hubungan antar kegiatan. Memutuskan kegiatan mana yang harus lebih dahulu, dan mana yang harus mengikuti yang lain.

3. Menggambarkan jaringan yang menghubungkan keseluruhan kegiatan. 4. Menetapkan perkiraan waktu dan biaya untuk tiap kegiatan. 5. Menghitung jalur waktu terpanjang melalui jaringan, yang disebut dengan jalur kritis. 6. Menggunakan jaringan untuk membantu perencanaan, penjadwalan dan pengendaliaan proyek. 2.2 Metode Jalur Kritis (CPM) Metode CPM dikenal adanya jalur kritis, yaitu jalur yang memiliki rangkaian komponen-komponen kegiatan dengan total jumlah terlama dan menunjukkan kurun waktu penyelesaian proyek yang tercepat. Jadi, jalur kritis terdiri dari rangkaian kegiatan kritis, dimulai dari kegiatan pertama sampai kegiatan terakhir proyek. Makna jalur kritis penting pada pelaksana proyek, karena pada jalur ini terletak kegiatankegiatan yang pelaksanaannya terlambat akan mengakibatkan keterlambatan proyek secara keseluruhan. Kadang-kadang dijumpai lebih dari satu jalur kritis dalam jaringan kerja (Soeharto, 2002). Proses identifikasi jalur kritis dikenal beberapa termologi dan rumus-rumus perhitungan. Adapun termologi jalur kritis adalah sebagai berikut (Prasetya, 2009): 1. 2. 3. 4. 5. ES adalah waktu tercepat untuk bisa memulai suatu kegiatan dengan waktu normal , tanpa mengganggu kegiatan yang lain. EF adalah waktu paling cepat menyelesaikan suatu kegiatan dengan menggunakan waktu normal, tanpa mengganggu pekerjaan yang lain. LS adalah waktu yang paling lambat untuk memulai suatu kegiatan dengan waktu normal, tanpa mengganggu kegiatan yang lain. LF adalah waktu paling lambat menyelesaikan suatu kegiatan dengan waktu normal, tanpa mengganggu kelancaran kegiatan yang lain. TL adalah waktu paling akhir peristiwa boleh terjadi, yang berarti waktu paling lambat yang masih diperbolehkan bagi suatu peristiwa terjadi.

6.

D adalah kurun waktu suatu kegiatan. Umumnya dengan satuan waktu, hari, minggu, bulan, dan lain-lain.

2.3

Program Evaluation and Review Technique (PERT) PERT (Program Evaluation and Review Technique), yaitu teknik manajemen

proyek yang menggunakan tiga perkiraan waktu untuk tiap kegiatan. PERT dikembangkan tahun 1958 oleh Booz, Allen dan Hamilton untuk Angkatan Laut Amerika Serikat (Prasetya, 2009). PERT sering digunakan pada proyek-proyek yang sangat tidak pasti waktu setiap aktivitasnya. Usaha-usaha riset dan pengembangan serta proyek-proyek yang melibatkan perubahan teknologi yang cepat akan sangat cocok membutuhkan pendekatan PERT. PERT merupakan suatu teknik untuk mengasumsikan ketidakpastian lama waktu aktifitas yang digambarkan dengan probabilitas tertentu dan memerlukan tiga taksiran untuk satu lama aktifitas, yaitu waktu yang paling mungkin, waktu pesimis dan waktu optimis (Nasrullah, 1996). PERT menggunakan taksiran-taksiran waktu guna menentukan waktu penyelesaian suatu kegiatan agar lebih realistik. Tiga macam taksiran waktu yang digunakan oleh PERT adalah (Siswanto, 1990). a. Waktu optimistik (optimistic time), dengan notasi (a) adalah waktu terpendek kejadian yang mungkin terjadi. Waktu yang dibutuhkan oleh sebuah kegiatan jika semua hal berlangsung sesuai rencana. Dalam memperkirakan nilai ini, biasanya terdapat peluang kecil dengan kemungkinan 1/100 bila segala sesuatu berjalan dengan baik. Secara statistik a adalah taksiran batas bawah distribusi probabilitas. b. Waktu pesimistik (pessimistic time), dengan notasi (b) adalah waktu terpanjang kejadian yang dibutuhkan. Waktu yang dibutuhkan sebuah kegiatan dengan asumsi kondisi yang ada sangat tidak diharapkan. Dalam memperkirakan nilai ini, biasanya terdapat peluang yang juga kecil dengan kemungkinan 1/100 bila segala sesuatu berjalan dengan tidak semestinya. Secara statistik b adalah taksiran batas atas distribusi probabilitas.

c. Waktu realististik (most likely time), dengan notasi (m) adalah waktu yang paling tepat untuk penyelesaian aktivitas dalam jaringan PERT, merupakan waktu yang paling sering terjadi jika suatu aktivitas diulang beberapa kali. Secara statistik m adalah taksiran terhadap modus atau titik tertinggi dari distribusi probabilitas waktu penyelesaian kegiatan. 2.4 Analisis Network Analisis network merupakan suatu metode analitik yang dirancang untuk membantu untuk membuat jadwal pengawasan kompleks yang saling berhubungan dan saling bergantung satu sama lain. Analisis network dilakukan agar perencanaan dan pengawasan semua kegiatan itu dapat dilakukan secara sistematis, sehingga dapat diperoleh efisiensi kerja (Prasetya, 2009). Dalam kehidupan sehari-hari biasanya kegiatan CPM dan PERT terutama pada analisis network sangat membantu dalam: 1. Perencanaan suatu proyek yang kompleks. 2. Scheduling pekerjaan- pekerjaan sedemikian rupa dalam urutan yang praktis dan efesien. 3. Mengadakan pembagian kerja dari tenaga kerja dan bahan yang tersedia. 4. Menentukan trade-off (kemungkinan pertukaran) antara waktu dan biaya. 5. Menentukan probabilitas penyelesaian suatu proyek tertentu. Dalam suatu pembuatan proyek yang besar biasanya para kontraktor-kontraktor pada umumnya memanfaatkan analisis network yang biasanya digunakan untuk merencanakan suatu proyek. Adapun manfaat analisis network, yaitu: 1. Perkembangan rumah, jalan atau jembatan. 2. Kegiatan penelitian. 3. Perbaikan, pembongkaran dan pemasangan mesin pabrik. 4. Pembuatan kapal pesawat. 5. Kegiatan periklanan, dan lain-lain.

Metode yang digunakan dalam analisis network, yaitu CPM dan PERT. Langkah pertama dalam jaringan PERT atau CPM adalah membagi keseluruh proyek menjadi kegiatan-kegiatan yang berarti menurut struktur pecahan kerja ada dua pendekatan untuk menggambarkan jaringan proyek, yaitu (Prasetya, 2009): 1. Kegiatan pada titik (activity-onnode) Pada activity-onnode (AON), titik menunjukan kegiatan. 2. Kegiatan pada panah (activity-on-arrow) Pada activity-on-arrow (AOA), panah menunjukkan kegiatan. AOA kadang-kadang memerlukan tambahan kegiatan dummy untuk memperjelas hubungan. Kegiatan dummy tidak membutuhkan waktu dan sumber daya, tetapi diperlukan bila sebuah jaringan mempunyai dua kegiatan dengan kejadian mulai dan akhir yang sama atau bila dua atau lebih mengikuti beberapa, tetapi tidak semua kegiatan pendahulu. Kegunaan dari kegiatan semu yaitu : a. Untuk menunjukan urutan pekerjaan yang lebih tepat bila suatu kegiatan tidak secara langsung tergantung pada suatu kegiatan lain. b. Untuk menghindari network dimulai dan akhir oleh lebih dari satu peristiwa. dan menghindari dua kejadian dihubungkan oleh dari satu kegiatan. Ada beberapa komponen-komponen yang ada dalam pembuatan PERT. Komponen-komponen dalam pembuatan PERT tersebut, yaitu (Prasetya, 2009): 1. Kegiatan (activity) Suatu pekerjaan atau tugas, dimana penyelesaiannya memerlukan periode waktu, biaya, serta fasilitas tertentu. Kegiatan ini diberi simbol tanda panah. 2. Peristiwa (event) Menandai permulaan dan akhir suatu kegiatan. Peristiwa diberi simbol lingkaran (nodes) dan nomor, dimana nomor dimulai dari nomor kecil bagi peristiwa yang mendahuluinya.

3. Waktu kegiatan (activity time) Kegiatan yang akan dilaksanakan dan berapa lama waktu penyelesaiannya. Ada tiga estimasi waktu yang digunakan dalam penyelesaian suatu kegiatan, yaitu: a. Waktu optimis (a) merupakan waktu kegiatan yang dilaksanakan berjalan baik tanpa hambatan. b. Waktu realistik (m) merupakan waktu kegiatan yang dilaksanakan dalam kondisi normal dengan hambatan tertentu yang dapat diterima. c. Waktu pesimis (b) merupakan waktu kegiatan yang dilaksanakan terjadi hambatan lebih dari semestinya. Ketiga estimasi waktu tersebut digunakan untuk mendapatkan waktu kegiatan yang diharapkan (expected time). Rumus waktu kegiatan yang diharapkan, yaitu (Prasetya, 2009): TE =
Keterangan: a : Waktu optimis b : Waktu pesimis m : Waktu realistik TE : Waktu yang diharapkan

a + 4(m) + b 6

Selain itu, ketiga estimasi waktu tersebut juga dapat digunakan untuk mendapatkan nilai varians dan standar deviasi. Rumus varians dan standar deviasi adalah sebagai berikut (Nasrullah, 1996). Standar deviasi = dan
tp - to Varians = 6

tp - to 6 2

Keterangan: to : Waktu optimis tp : Waktu pesimis

Anda mungkin juga menyukai