Anda di halaman 1dari 44

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah Kemajuan teknologi dibidang konstruksi bangunan gedung pada saat ini semakin bertambah dan berkembang. Begitupun pada perancah (scaffolding), dimana pada perancangan konstruksi perancah banyak digunakan sistem alternatif lain dengan tujuan utamanya untuk mempercepat waktu dan efisiensi biaya, dengan tetap memperhatikan segi mutunya dan segi keamanan konstruksinya. Perancah yang mudah digunakan dan ditemukan di pasaran sekarang ini adalah jenis perancah rangka (scaffolding frame). Maka pada perencanaan sistem konstruksi perancah rangka ini, ditulis dengan melalui sistem perbandingan metode perancangan. Karena meskipun pelaksanaan pemasangan perancah sudah berlangsung di proyek tersebut (asrama Brimob), namun telah terjadi pemborosan biaya. Salah satu alternatif yang dapat dilakukan untuk membuat konstruksi bangunan yang sejenis, haruslah menggunakan rencana konstruksi perancah yang secermat mungkin dengan memanfaatkan secara maksimal setiap komponen dari set perancah dan tentunya menggunakan mutu perancah yang bagus. Dengan menggunakan secara maksimal akan didapat efisiensi, baik dari segi waktu pemasangan dan pembongkaran, segi biaya dalam penyewaannya dan jumlah tenaga pekerjanya. Hal ini mengingat perencanaan pemanfaatan penggunaan perancah rangka ini memaksimalkan penggunaan setiap bagian perancah persetnya. Menggunakan ukuran perancah rangka yang sesuai dengan tinggi bangunan yang akan dibangun perlantainya, sebisa mungkin ukuran perancahnya mendekati tinggi bangunan perlantainya.

Karena tinggi bangunan di proyek adalah 3,60 m maka rencana penggunaan perancah rangka ini dapat digunakan main frame ukuran 190 cm x 121,9 cm, palang penguat (diagonal brace), joint pin, pipe support 270 cm, uhead/fork head jack 60 cm dan base jack 60 cm. Sehingga untuk selanjutnya rangkaian perancah tersebut disesuaikan dengan bekisting plat lantai dan balok. Rencana perancangan perancah rangka ini berbeda dengan perancangan yang telah dilakukan di proyek, yang menggunakan Horry Beam sx 22, Beam clamp type B dan type C, leader frame 50, main frame 170 cm x 121,9 cm, palang penguat, joint pin, uhead jack 60 cm dan base jack 60 cm. Melihat khususnya seefisien dan perkembangan dalam konstruksi bangunan, perancah yang mulai berkembang maka setiap seefektif mungkin. Sehingga setiap pekerjaan

perancangan perancah dituntut untuk menggunakan sistem yang konstruksi menghasilkan mutu yang baik, tidak mengalami kesulitan baik dalam perancangan ataupun pelaksanaannya. Maka melihat itu semua, penulis berkeinginan untuk membandingkan seberapa besar efisiensi dan efektifitas terhadap waktu dan biaya pada sistem perancangan perancah rangka pada proyek asrama brimob di Bogor dengan judul Penggunaan perancah rangka (scaffolding frame) pada asrama brimob di Bogor. 1.2. Maksud Dan Tujuan Maksud dan tujuan penulisan tugas akhir ini adalah untuk: 1.Mengetahui sistem perancangan perancah yang dilakukan pada proyek pembangunan asrama brimob di Bogor 2.Memahami masalah-masalah yang timbul dalam perencanaan perancah rangka pada pembangunan tersebut. 3. Memahami jenis-jenis perancah dan seberapa penting kegunaannya dalam suatu konstruksi bangunan.

4.Menggunakan teori-teori pengetahuan yang didapat, sebagai acuan untuk merancang dalam dunia konstruksi. 5. Meningkatkan keterampilan di dalam penyusunan suatu laporan dengan menggunakan metode penulisan ilmiah. 1.3. Permasalahan Pada saat ini ada beberapa alternatif penggunaan perancah, baik jenis bahan maupun ukuran yang dapat digunakan. Tapi dalam penggunaannya tidak lepas dari perhitungan biaya yang dibutuhkan maupun waktu pelaksanaannya, agar penggunaan perancah lebih ekonomis. Apabila menggunakan perancah harus yang jenisnya sesuai dengan kondisi lapangan yang akan digunakan, misalnya: jangan menggunakan perancah yang mudah berkarat di lingkungan yang dapat menyebabkan perancah berkarat. Demikian pula bila menggunakan kwalitas perancah yang sangat buruk, maka berpengaruh pada kekuatan daya dukung perancah tersebut dan tentunya berpengaruh pula pada mutu dan hasil pekerjaan. Jika terjadi sutau hasil yang buruk maka diperlukan biaya tambahan untuk perbaikan dan ini juga tidak ekonomis. Permasalahan yang utama adalah menentukan alternatif jenis, kwalitas dan ukuran perancah yang tepat untuk digunakan pada konstruksi dengan melihat dari segi biaya dan waktu pelaksanaannya. 1.4. Pembatasan Masalah Karena keterbatasan waktu dan ilmu yang dimiliki penulis, maka dalam penulisan ini akan dilakukan pembatasan masalah sebagai berikut: Pembahasan hanya dilakukan pada lingkup satu proyek konstruksi gedung yaitu Proyek Pembangunan Asrama Brimob di Bogor, dengan tinjauan pada perancangan perancah rangka (scaffolding

frame) di proyek tersebut. Sedangkan tinjauan dan analisa hanya dilakukan terhadap kekuatan daya dukung, biaya penyewaan, waktu pemasangan dan pembongkaran perancah rangka pada salah satu lantai saja. 1.5. Metode Penulisan 1. Pengumpulan Data Penulis akan mengamati, meneliti dan menanyakan/mencari informasi kepada pihak-pihak yang bersangkutan pada proyek untuk mendapatkan data-data yang diperlukan untuk penulisan. 2. Analisa Data dan Study Pustaka Penulis akan melakukan analisa terhadap data-data yang diperoleh sesuai dengan buku-buku yang berhubungan dengan judul yang penulis ambil. 3. Bimbingan Selama penulisan tugas akhir ini penulis akan meminta bimbingan dan berdiskusi dengan pembimbing, baik pembimbing akademis maupun pihak yang mengerti dan mengetahui tentang proyek tersebut. Bimbingan tersebut dapat berupa pengecekan hasil analisa dan sistem yang digunakan maupun segala hal yang sekiranya dapat menghambat penulisan tugas akhir ini. 1.6. Sistematika Penulisan Dalam Bab I penulisan Pendahuluan Menguraikan bagian dari tugas akhir yang meliputi latar belakang, maksud dan tujuan dibuatnya tugas akhir ini, permasalahan, batasan masalah, metode penulisan dan sistematika penulisan tugas akhir ini. tugas akhir ini, penulis membuat sistematika penulisan sebagai berikut:

Bab

II

Tinjauan Pustaka Merupakan uraian dari pengertian perancah (scaffolding) yang meliputi fungsi dari perancah, jenis perancah dan ukuran perancah yang digunakan pada proyek asrama brimob di Bogor.

Bab

III

Perencanaan kekuatan Perancah (scafolding) Pada bab ini dibahas mengenai rencana penggunaan perancah, yang meliputi jenis, ukuran, kekuatan dan sistem yang digunakan. Meneliti efektifitas yang didapat dari penggunaan rencana sistem perancah yang dilakukan di proyek dengan rencana yang penulis buat/rancang.

Bab

IV

Analisa Biaya dan Waktu Pengerjaan Konstruksi perancah Pada bab ini akan dilakukan tinjauan umum terhadap penggunaan perancah rangka dan hory beam yang telah digunakan di proyek tersebut, dengan menggunakan sistem perencanaan perancah rangka yang penulis rancang. Tinjauan terhadap waktu pemasangan dan pembongkaran, tenaga kerja serta tinjauan terhadap biaya yang dibutuhkan dalam menggunakan kedua sistem tersebut dan membandingkannya.

Bab

Kesimpulan dan Saran Bab ini merupakan bab terakhir yang berisikan kesimpulan dari isi tugas akhir dan saran-saran yang diperlukan untuk menunjang kegunaan dari tugas akhir ini.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Umum Sebelum memulai suatu pekerjaan, sangat diperlukan suatu perencanaan dari pekerjaan tersebut. Baik dari perencanaan metode pelaksanaannya maupun perencanaan dari jenis bahan perancah yang digunakan serta perencanaan biaya yang dibutuhkan. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan hasil seperti yang diinginkan dan memenuhi syarat yang telah ditentukan. Dalam kriteria perencanaan perancah ini akan dijelaskan mengenai fungsi perancah dan hal-hal yang mempengaruhi perencanaan sistem perancah secara menyeluruh, serta memberikan contoh mengenai sistem perancah yang biasa digunakan pada konstruksi gedung bertingkat pada saat ini. 2.2. Fungsi Perancah (scaffolding) Didalam dunia konstruksi akan dijumpai yang namanya perancah (scaffolding). Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi dimensi beton adalah faktor dari kekuatan dan ketepatan pemasangan perancah yang akan digunakan disamping jenis dan ukuran perancah itu sendiri. Perancah merupakan konstruksi yang bersifat praktis, karena dalam perencanaannya sangat mudah. Misalkan: Jika pada perencanaan penempatan perancah pada suatu lantai, maka pemasangan perancah pada lantai selanjutnya sama atau hanya mengikuti perencanaan pemasangan pada lantai yang pertama. Sistem perencanaan pemasangan perancah seperti ini hanya berlaku atau hanya dapat diterapkan pada suatu konstruksi bangunan yang memiliki luas tiap lantainya sama (Typical). Maka untuk setiap pemasangan perancah diperlukan suatu perencanaan

yang baik agar akan diperoleh suatu sistem perencanaan perancah yang aman, ekonomis dan efisien. Adapun fungsi dari perancah adalah: 1. Perancah dapat digunakan sebagai pijakan, tangga atau panggung lainnya. 2. Perancah dapat digunakan sebagai penyangga suatu konstruksi bekisting, sehingga konstruksi bekisting tersebut tidak goyang atau berubah. 3. Perancah dapat menahan dengan kuat, terhadap beban yang ditimbulkan oleh bekisting, spesi beton, pekerja, peralatan dan berbagai beban maupun getaran. Dalam hal ini pergeseran atau perpindahan posisi yang terjadi pada pemasangan perancah dapat diperkenankan asalkan tidak melampaui toleransi-toleransi tertentu. Disamping itu ada beberapa pertimbangan-pertimbangan yang sangat menunjang terlaksananya suatu konstruksi perancah agar berfungsi dengan baik, yaitu: Perancah dapat dipasang dengan cara yang sederhana, sehingga dalam pelaksanaannya mudah dan cepat dalam pemasangan dan pembongkarannya. Jika menggunakan perancah untuk suatu konstruksi yang cukup tinggi, agar terjadi keseimbangan diusahakan perancah keseluruhan memasang agar tidak pasangan komponen merusak perancah Dalam maka harus bangunan untuk merenovasi, mencat gedung/bangunan yang cukup tinggi atau perawatan gedung

perancah lebih melebar kebawah dan mengecil ke atas. pembongkaran bagian/komponen perancah dan beton yang berada di bawahnya, maka pembongkarannya dilakukan dengan hati-hati.

Jangan membiarkan komponen perancah terkena air kerusakan pada komponen perancah tersebut.

dalam

jangka waktu yang cukup lama, karena dapat menyebabkan Pastikan semua komponen dalam kondisi baik, jangan

menggunakan komponen perancah yang sudah rusak. Karena dapat mempengaruhi kekuatan pada komponen lainnya. Selain fungsi-fungsi tersebut, sebaiknya juga perlu mengetahui sasaran-sasaran yang ingin dicapai dalam perencanaan dan pelaksanaan pemasangan perancah. Sasaran umum dalam perencanaan dan pelaksanaan pemasangan perancah dapat dibagi menjadi 3 (tiga) bentuk, yaitu: 1. Kualitas yang baik Perancah dirancang dan dipasang secara cermat sedemikian rupa, sehingga posisinya cukup kuat/kokoh dan dapat menahan beban yang diterimanya. Dengan demikian bekisting pun tidak goyang dan menghasilkan cetakan beton (plat lantai dan balok) yang berkualitas dan bermutu. 2. Keamanan terjamin Konstruksi perancah dibangun secara kokoh sehingga mampu menopang/menyangga seluruh beban mati dan beban hidup yang diterimanya tanpa terjadinya deformasi atau keruntuhan yang dapat membahayakan para pekerja yang berada di atas konstruksi ataupun di bawahnya. 3. Ekonomis Perencanaan perancah dibuat secara efisien, hemat biaya, waktu, peralatan dan tenaga kerja. Sehingga menguntungkan baik kontraktor pelaksana dan juga bagi pemilik bangunan. 2.3. Perencanaan Sistem Perancah Suatu sistem scaffolding yang akan digunakan sebaiknya direncanakan terlebih dahulu, jenis apa yang akan digunakan

tergantung dari kondisi lingkungan dimana proyek itu akan dikerjakan. Misalkan: untuk lingkungan yang dapat menyebabkan karat, maka jangan menggunakan perancah yang dapat berkarat ( contoh: gunakan perancah bambu (bamboo scaffolding) karena bambu lebih tepat untuk lingkungan yang sangat berkarat) selain jenis dan kondisi dari perancah itu sendiri juga yang perlu diperhatikan adalah ukuran dari perancah yang akan digunakan tersebut. Sehingga tidak terjadi kekurangan atau kelebihan ukuran, yang dapat menghambat waktu kerja. Apabila telah ditentukan jenis dan ukurannya, selanjutnya merencanakan posisi atau titik dari tiap set perancah tersebut. Dipastikan kembali apakah konstruksi perancah tersebut secara keseluruhan sudah cukup kokoh dan stabil. Dalam perencanaan sistem perancah perlu memperhatikan beberapa hal agar terlaksana dengan baik. Hal-hal yang perlu diperhatikan yaitu: 1. Perencanaan 2. Pelaksanaan 3. Pembiayaan 2.3.1. Perencanaan Perencanaan perancah sebaiknya dilakukan oleh kontraktor, karena kontraktor secara langsung mengetahui keadaan di lapangan. Mengenai lokasi, tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan sistem pelaksanaannya. Syarat-syarat yang perlu diperhatikan di dalam perencanaan atau dalam menentukan sistem perancah yang akan digunakan agar memberikan hasil yang diinginkan adalah sebagai berikut: 1.Penggunaan jenis perancah yang tepat sesuai kondisi lingkungan dan ekonomis. 2.Kekuatan dan kekokohan konstruksi perancah sehingga didapat suatu konstruksi yang memenuhi syarat.

Kemungkinan pergeseran posisi yang melampaui batas toleransinya sedapat mungkin harus dihindarkan. 3. beban 4. Konstruksi perancah dapat memikul beban mati dan hidup selama pelaksanaan hingga beton yang

disanggahnya cukup umur. Konstruksi perancah mudah dipasang dan dibongkar agar mempermudah dalam pelaksanaannya dan mendapat hasil yang memuaskan. 5. 6. jenis, komponen dan ukuran perancah diusahakan Pemeriksaan tiap komponen perancah yang akan yang mudah ditemukan di tempat penyewaan. digunakan agar tidak ada komponen yang rusak atau kondisinya kurang baik. 7. 8. 9. Mutu beton yang ingin dicapai. Sarana peralatan yang akan digunakan. Kecepatan kerja yang ingin dicapai.

Selain itu di dalam perencanaan posisi/perhitungan suatu konstruksi perancah yang perlu diperhatikan adalah: 1. 2. gambar-gambar posisi perancah. Beban yang bekerja.

2.3.1.1. Gambar-gambar Posisi Perancah Sebelum pelaksanaan pekerjaan konstruksi perancah dimulai, kontraktor perlu membuat gambar rencana dan perhitungan konstruksi perancah. Apabila terjadi perubahan maka kontraktor tersebut dapat menyesuaikan gambargambar rencana perancah tersebut tanpa merubah tanggung jawabnya atas pembangunan. Semua bagian/komponen yang ada dalam perencanaan ditunjukan perancah. dalam Semua gambar-gambar itu mencakup rencana jenis, konstruksi macam-macam

10

komponen/material, bentuk dan dimensi, serta rincian yang berkaitan dengan gambar rencana perancah tersebut. 2.3.1.2. Beban Yang Bekerja Beban yang bekerja pada suatu konstruksi perancah terdiri dari: 1. Beban vertikal, beban yang bekerja pada perancah, Beban mati, yang termasuk beban ini adalah: a. b. c. a. b. 2. Berat sendiri beton Berat sendiri bekisting Berat sendiri perancah Pekerja Peralatan yaitu:

Beban hidup, yang termasuk beban ini adalah:

Beban horizontal

Perancah harus direncanakan dan dipasang sedemikian rupa agar bisa menahan tekanan lateral akibat beton yang masih dalam keadaan plastis. Pada beban horizontal berat jenis beton bertulang diambil sebesar 2400 kg/m3. Apabila berat sendiri perancah ataupun bekisting dianggap kecil dibandingkan dengan berat sendiri beton ditambah beban hidup, dimana beban hidup minimum sebesar 175 kg/m2, maka berat sendiri perancah ataupun bekisting dapat diabaikan. Misalnya untuk perancah atau bekisting dari bahan kayu yang memiliki berat sendiri 20 25 kg/m2 berat sendirinya dapat diabaikan. Tetapi untuk perancah atau bekisting dengan menggunakan material dari baja, berat sendiri perlu diperhitungkan.

11

2.3.2. Pelaksanaan Dalam pelaksanaan konstruksi perancah sebaiknya kontraktor mempersiapkan rencana kerja konstruksi perancah dalam bentuk gambar kerja konstruksi perancah yang akan digunakan. Sehingga apabila terjadi kesalahan atau ketidak beresan dalam pelaksanaan maka kontraktor dapat dengan cepat mengatasinya, namun hal ini sering diabaikan. Didalam pelaksanaan konstruksi perancah terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan agar pelaksanaan tersebut dapat berjalan dengan baik dan efisien, yaitu: 1. Pemasangan perancah. 2. Pengawasan kualitas. 3. Keamanan perancah. 2.3.2.1. Pemasangan Perancah a. Yang menggunakan perancah rangka dan hory beam Perancah rangka dipasang sesuai gambar rencana, lalu dipasang balok/kayu 8/15 tepat di u head dan dipakukan. Kemudian hory beam diletakan di atas kayu tersebut (tepatnya di bawah plywood). Hory beam sebagai pengganti balok-balok pemikul/beam. Hory beam terbuat dari metal, dimana tumpuan pembebanannya terletak pada bekisting balok (beam). Pada prinsipnya penggunaaan hory beam ini sudah mengetahui lahannya, seperti jarak antara balok yang satu ke balok yang lainnya. Hal ini disebabkan karena hory beam bertumpu pada bekisting balok. b. Yang menggunakan perancah rangka dan pipe support Terdapat beberapa jenis perancah, baik yang berbentuk prafabrikasi dan yang terurai berbentuk pipa dan klem. Untuk

12

jenis perancah rangka, juga dikenal pipe support: yaitu penyangga yang berbentuk seperti tiang (tiang penyangga). Dalam memasang perancah rangka dan pipe support harus memperhatikan faktor-faktor di bawah ini: 1. Tentukan titik penempatan struktur perancah rangka dan pipe support, pastikan penempatannya sesuai dengan gambar rencana. 2. Rancangan struktur perancah memudahkan pada saat pemasangan dan pembongkaran. 3. Kekokohan pemasangan tiap komponen perancah sehingga komponen tidak terlepas setelah terpasang dan mampu menerima beban. 4. Kekakuan assembly) (rigidity) setelah struktur perancah yakni (scaffolding dengan terpasang,

memperbanyak kuda-kuda pasangan (ribs) sehingga tidak bergoyang-goyang sewaktu digunakan. 5. Papan pijakan (safety plank) yang cukup liat, lebar dan tidak bercelah sehingga mencegah seseorang terpeleset jatuh. 6. Pagar keselamatan berupa tali yang cukup rapat, kuat dan melindungi. Letaknya di bagian perancah paling atas, sebagai pengaman pekerja yang berdiri di papan pijakan. 7. Beberapa titik ikat jika memungkinkan atau menggunakan jangkar (anchorages) yang menyatukan pasangan perancah dengan bangunan/peralatan yang terkait, untuk mencegah pasangan perancah tersebut tumbang sewaktu digunakan. 8. Keseimbangan keseluruhan pasangan perancah lebih melebar ke bawah dan mengecil ke atas.

13

9. Pasang pipe support hingga kokoh dan cukup kuat untuk menahan beban yang diterimanya dan menyangga bekisting dengan baik. 2.3.2.2. Pengawasan Kualitas 1. Periksa apakah struktur perancah yang telah dipasang sesuai dengan rancangan dan cukup aman. 2. Kencangkan semua komponen perancah, sehingga tidak terjadi perubahan bentuk pada bekisting dan beton yang akan dicor. 3. Komponen perancah yang akan digunakan lagi diuapayakan yang mempunyai kondisi masih bagus. 4. Tidak menggunakan komponen yang rusak, karena berpengaruh pada komponen lainnya. 2.3.2.3. Keamanan Perancah Keamanan struktur perancah sangatlah penting, karena diantara kecelakaan dan kegagalan yang sering terjadi selama pembetonan kebanyakan adalah kegagalan pada struktur perancahnya yang tidak mampu menahan dan menerima beban, yang terjadi pada saat pengecoran dan perawatan gedung. Banyaknya kegagalan ini dapat disebabkan karena kesalahan manusia, baik perencana dan pekerja atau adanya kegiatan yang telah dihilangkan/dikurangi terlalu banyak dari toleransi yang ditentukan dalam pelaksanaannya dibanding dengan kesalahan pada perencanaanya. Pengawasan dan perhatian terhadap pemasangan perancah ini akan mencegah adanya kegagalan tersebut. 2.3.3. Pembiayaan Biaya untuk konstruksi perancah merupakan bagian yang cukup penting mengingat dalam suatu konstruksi bangunan,

14

penggunaan perancah sebagai penyangganya cukup banyak. Karena biaya suatu konstruksi perancah dapat mencapai 15 % -30 % dari pekerjaan struktur beton. Biaya konstruksi perancah ini berbeda-beda untuk jenis bahan perancah dan lokasi pekerjaannya. Untuk menekan biaya ini diperlukan suatu rencana kerja yang effektive dan sistematis, sehingga mendapatkan suatu rencana konstruksi perancah yang maksimal dan efisien. Biaya dihitung berdasarkan atas biaya yang dibutuhkan untuk satuan pekerjaan baik untuk jenis bahan dan tenaga kerja. Untuk biaya jenis bahan perancah yang ada di pasaran/tempat penyewaan, hitungan penyewaannya adalah perset perancah dengan jangka waktu yang ditentukan (biasanya perbulan). Namun jika menggunakan jenis bahan perancah yang tidak ada di pasaran/tempat penyewaan maka harus membelinya, yang menyebabkan biaya yang di keluarkan lebih banyak. Untuk biaya tenaga kerja dinyatakan dalam jumlah jam kerja dan jumlah set perancah yang terpasang untuk menyelesaikan pekerjaan pemasangan seluruh konstruksi perancah. Pembiayaan pada perancah dibagi 3 (tiga) bagian: 1. Memperkirakan biaya pelaksanaan 2. Penghematan 3. Pembayaran 2.3.3.1. Memperkirakan Biaya Pelaksanaan Sebelum perencanaan suatu konstruksi perancah benarbenar dipilih dan dirancang sesuai dengan kebutuhan, maka dibuat suatu perkiraan biaya atas konstruksi perancah. Hal ini untuk menentukan secara kasar jumlah biaya penyewaan perset/pembelian jenis perancah yang dibutuhkan dan yang akan digunakan.

15

Biaya tenaga kerja rata-rata untuk pemasangan konstruksi perancah mungkin dapat disesuaikan. Kalau tidak, dilakukan analisa sederhana atas para pekerja dan operasinya mungkin dirubah dengan menganalisa jam kerja mereka yakni dihitung berdasarkan perset perancah yang dipasang. Biaya konstruksi perancah ini terdiri dari jenis bahan perancah, tenaga kerja dan peralatan. Untuk mendapat biaya perkiraan dari konstruksi perancah ini adalah dengan cara menambah/menjumlahkan biaya penyewaan, peralatan dan tenaga kerja yang dibutuhkan. Biaya total tersebut harus dibagi dengan set perancah yang dipasang. 2.3.3.2. Penghematan Sewaktu menyangga merencanakan pada suatu konstruksi konstruksi perancah bangunan, untuk perlu Supaya dalam

mempertimbangkan perancah, maka

masalah penekanan

penghematan. unit pengerjaan

memperoleh penghematan yang maksimum dalam konstruksi perencanaan dan pelaksanaan ini sangat diperlukan. Penghematan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu: 1. 2. 3. 4. 5. Biaya material/penyewaan perancah rangka Biaya tenaga kerja Waktu pemasangan dan pembongkaran perancah Biaya peralatan Pengamanan material

2.3.3.3. Pembayaran Sistem pembayaran perancah mungkin dapat dengan salah satu dari tiga sistem di bawah ini:

16

1.

Pembayaran ini mungkin termasuk harga borongan seluruh pekerjaan konstruksi perancah dan

untuk 2.

bekisting. Pembayaran ini mungkin termasuk harga perancah yang dibayar setiap set/komponen yang disewa atau digunakan. 3. Pembayaran dengan kedua sistem diatas, maka sebaiknya ditetapkan dengan jelas perincian

perancah/daerah mana yang memakai sistem tersebut, agar dapat ditetapkan sebagai perancah/daerah yang dibayar. Pada umumnya kontraktor menyimpan catatan harga atau biaya konstruksi perancah yang disatukan dengan biaya bekisting dan terpisah dari catatan biaya lainnya, khususnya dalam pekerjaan yang lebih besar. Hal ini sesuai pada tujuan dalam mempertahankan pengawasan terhadap biaya konstruksi perancah selama masa pelaksanaan. 2.4. Sistem Konstruksi Perancah Rangka (scaffolding frame) Pada saat sekarang ini sistem konstruksi perancah pada gedung telah berkembang dengan cukup cepat. Berbagai jenis dan ukuran perancah telah ada di pasaran dan mudah di temukan. Dari generasi pertama perancah yang menggunakan bambu (Bamboo scaffolding) hingga yang sekarang digunakan jenis perancah yang terbuat dari alumunium (aluma sistem). Hal ini dikarenakan alasanalasan efisiensi dan ekonomis, misalkan sistem konstruksi perancah dirancang agar dapat dengan mudah dalam pemasangan dan pembongkarannya. Selain itu juga dikarenakan alasan waktu pelaksanaan, misalnya dalam usaha untuk mempercepat waktu pelaksanaan pekerjaan struktur beton dan perawatan gedung (untuk panggung bangunan).

17

Untuk mempermudah dan meringankan pengerjaan yang menggunakan perancah rangka, dapat menggunakan roda perancah (swivel castor) yang disebut juga dengan perancah bergerak (mobile scaffold) dan ada juga yang menggunakan penopang atau disebut sebagai perancah bergerak dengan outrigger (kaki topang).

Gambar 2.1. Roda Perancah (swivel castor) Begitu banyak sistem konstruksi perancah yang ada pada saat ini maka di sini penulis hanya akan memberikan gambaran mengenai sistem konstruksi perancah rangka (scaffolding frame).

Gambar 2.2. Perancah Rangka (scaffolding frame)

BAB III PERENCANAAN KEKUATAN PERANCAH

Pada pelaksanaan proyek bangunan gedung bertingkat banyak diperlukan suatu perencanaan sistem konstruksi perancah yang akan digunakan. Dalam perencanaan sistem konstruksi perancah tersebut perlu dilakukan perencanaan mengenai kekuatan dari perancah. Sistem konstruksi perancah yang biasa digunakan untuk proyek gedung bertingkat pada saat ini banyak yang menggunakan konstruksi perancah rangka (scaffolding frame). Untuk jenis perancah ini biasanya

18

digunakan

untuk

konstruksi

sementara,

sebagai

penyangga

atau

tangga/panggung bangunan untuk perawatan gedung/bangunan. Dalam sistem konstruksi perancah rangka, juga sering digunakan pipe support (tiang penyangga). Tentunya berfungsi juga sebagai penyangga, memiliki ukuran yang beragam dari ukuran 150 cm hingga 270 cm, yang ketinggiannya tersebut dapat diatur sesuai kebutuhan. Dengan dibongkar. Syarat-syarat mutu beton Disarankan menggunakan mutu beton K-200 (kekuatan karakteristik minimum 200 kg/cm2) dan harus tercapai setelah beton berumur 28 hari. Juga harus memenuhi syarat PBI 1971 (NI-2). Apabila beton dipadatkan secara manual harus mencapai nilai slump 7,5 - 10 cm. Jika dipadatkan dengan alat penggetar antara 5 - 7,5 cm. cara mengungkitnya hingga batas ketinggian tertentu (disesuaikan dengan ukuran). Tiang penyangga ini mudah dipasang dan

3.1. Perencanaan Pembebanan Perancah 1. Umum Pembebanan perancah tergantung pada beberapa faktor di bawah ini: 1. 2. 3. 4. dll. Faktor keselamatan kerja/personel Faktor berat paduan perancah itu sendiri Faktor berat personil dan peralatan yang digunakan di Faktor pengaruh luar seperti angin, hujan, getaran,

atas paduan perancah

19

Adapun beban yang ditanggung perancah terdiri dari beban mati, beban hidup dan beban tambahan. 1.Beban mati adalah beban konstruksi paduan perancah dengan alat bantu/aksesorinya (G). 2. 3. beban hidup berupa berat personil yang bekerja di Beban tambahan yang ditimbulkan oleh faktor alam, penggunaannya, faktor keamanan (V=4), atas peralatan yang digunakan dan material (Q). lingkungan

misalnya: angin, getaran, hujan, gempa dan lain-lain. 2. Kapasitas Dukung Kemampuan dukung ini diberi satuan kg/bay. 1 bay adalah kemampuan dukung empat buah kaki vertikal. Yaitu: untuk perset perancah mampu menahan beban hingga 5000 kg. Sedang untuk pipe support mampu menahan beban hingga 2000 kg. 3. Beban Maksimum Yang Diizinkan Beban maksimum yang diizinkan untuk perancah rangka adalah 700 kg untuk ketinggian hingga 45 m dari permukaan grade atau 5000 kg untuk tiap setnya. Beban yang ditanggung Sistem pembebanan yang terjadi pada suatu konstruksi perancah terbagi 2 (dua) arah yaitu: 1. Sistem Sistem pembebanan vertikal pembebanan arah vertikal digunakan untuk

pembebanan konstruksi perancah plat lantai dan balok. Pembebanan arah ini terdiri dari: a. Beban bekerja sebesar 175 kg/m2 sudah termasuk beban manusia, alat-alat (vibrator), berat bekisting dan berat sendiri perancah.

20

b.

Beban mati yang tergantung dari tebal beton dengan

mengambil berat jenis beton sebesar 2500 kg/m3 untuk menghindari penumpukan beton pada saat pengecoran. 2. Sistem pembebanan arah horizontal Pembebanan arah pada sisi balok, pembebanan yang terjadi adalah berupa tekanan lateral beton. Berat jenis beton sebesar 2400 kg/m3, karena tidak memperhitungkan penumpukan beton pada saat pengecoran. 3.2. Material Dan Peralatan Perancah Material/komponen dan peralatan yang digunakan pada perancah diantaranya: 1. Perancah Rangka, komponennya: a. Main Frame 170-190

b. Leader Frame 50-90 c. Diagonal Brace d. Base Jack 60 e. U Head Jack 60 f. Joint Pin g. Lantai kerja 2. Pipe Support 150-270 3. Kayu 8/15 4. Kayu 6/12 5. Kayu 6/10 6. Hory Beam 140-380 Perancah rangka (frame scaffolding) terbuat dari pipa heavy duty carbon steel diameter 1 inci x 9 kaki panjang berupa pasangan-pasangan yang telah difabrikasi sebagai kerangka (frame). Yang disebut juga main frame, dengan memiliki dimensi lebar 121,9 cm dan tinggi 170 cm.

21

Gambar 3.1. Main Frame Perancah ini terdiri dari: tiang vertikal (upright scaffolding), palang penguat (diagonal brace), rangka sisi (ledge frame), sepatu perancah (jack base). Ujung-ujung pipa komponen vertikal dari masing-masing perancah rangka terdapat sepotong pipa yang menonjol (joint pin), hal ini dimaksudkan untuk menyambung dengan perancah rangka berikutnya. Masing-masing rangka dipadukan dengan palang penguat yang dibautkan pada rangka. Palang penguat ini membuat peduan rangka scaffold menjadi kekar dan kaku. Semua bagian dari perancah ini disusun berdasarkan tinggi dan lebar yang diperlukan. Satu set perancah dapat menahan beban + 5 ton atau 5000 kg, sedangkan pipe support mampu menahan beban hingga + 2 ton atau 2000 kg. Jika konstruksi perancah digunakan sebagai tangga atau untuk perawatan gedung beringkat tinggi. Agar konstruksi perancah kuat dan goyang, maka dipasang jangkar (anchorages). Jarak jangkar tidak boleh lebih dari 8 m secara mendatar dan 9 m secara vertikal. Pemasangan jangkar yang pertama tidak boleh melebihi 9 m dari permukaan grade. Untuk pijakan, di atas perancah dipasang lantai kerja yang masing-masing lebarnya 40 cm dan disusun berjajar berjarak maksimum 3 cm. Lantai kerja dapat terbuat dari pelat alumunium berangka atau dari papan kayu jati Belanda (eru) yang tebal (minimum 1 inci). Untuk lantai kerja dari papan kayu maka harus diikat dengan kerangka scaffold yang mendukungnya. Jika bahannya pelat alumunium atau papan berpigura, maka pada ujungujungnya dipasang pengait sehingga tidak pelu pengikatan.

22

Gambar 3.2. Lantai Kerja perancah

Gambar 3.3. Jangkar (anchorages)

Gambar 3.4. Perlengkapan/Komponen perancah Ukuran kayu yang digunakan untuk konstruksi perancah adalah 6/12, 6/10 dan 8/15 dengan memiliki panjang yang bervariasi, yaitu 400 cm sampai 600 cm. Mutu kayu dibagi menjadi dua jenis: 1. Kayu bermutu A 2. Kayu bermutu B Kayu memiliki kelas yang dibedakan berdasarkan tingkat kekuatannya. Dan untuk perancah biasanya digunakan kayu kelas II dan kelas III.

Tabel 3.1. Kelas Kayu Menurut Tingkat Kekakuan Dan Modulus Elastisitasnya. Kelas kayu Kelas I Kelas II Kelas III lt (kg/cm2) 150 100 75 tk = tr (kg/cm2) 130 85 60 tk (kg/cm2) 40 25 15 // (kg/cm2) 20 12 8 E (kg/cm2) 125.000 100.000 80.000

23

Kelas IV

50

45

10

60.000

Paku yang biasa digunakan untuk kontruksi perancah rangka adalah paku dengan panjang 5 cm sampai 10 cm. Paku ini digunakan untuk penguncian antara perancah rangka (tepatnya pada kayu dan uhead), kayu dengan kayu dan lainnya. Dalam pelaksanaannya paku diketok tegak lurus terhadap permukaan bidang kayu. Serta yang perlu diperhatikan adalah pada sambungan paling sedikit 4 buah paku. 3.3. Perhitungan Kekuatan Perancah Dalam perhitungan kekuatan perancah ini akan menghitung kekuatan perancah rangka yang menggunakan hory beam dan yang tidak menggunakan hory beam. 3.3.1. Perhitungan Kekuatan Konstruksi Perancah (Sistem 1) Diketahui: Tebal pelat lantai (t) = 12 cm Berat jenis beton = 2400 kg/m3 Daya dukung 1 set perancah (Pperancah) = 5.000 kg = 5 ton Daya dukung pipe support (Ppipe support) = 2.000 kg = 2 ton G = Beban mati Q = Beban kerja/beban hidup P = Beban total Daya dukung 1 set perancah (Pperancah) = 5.000 kg = 5 ton Daya dukung pipe support (Ppipe support) = 2.000 kg = 2 ton P < Pperancah atau P < Ppipe support Pipe support: P balok 25/50 = 250 kg/m2

Pembebanan:

24

= 0,25 x 0,50 x 2,75 x 2400 = 825 kg + 250 kg = 1075 kg P balok 20/40 = 0,20 x 0,40 x 2,75 x 2400 = 528 kg + 250 kg = 778 kg P plat lantai 153,1/351 = 1,531 x 3,51 x 0,12 x 2400 = 1547,66 kg + 250 kg = 1797,66 kg ......ok Perancah rangka: P balok 30/60 = 0,30 x 0,60 x 3,75 x 2400 = 1620 kg + 250 kg = 1870 kg P balok 20/40 = 0,20 x 0,40 x 3,75 x 2400 = 720 kg + 250 kg = 1000 kg P plat lantai 250/181,5 + P balok 12/70 =(2,50 x 1,815 x 0,12 x 2400)+(0,12 x 0,70 x 2,75 x 2400) = (1306,8) + (554,4) = 1861,2 kg + 250 kg = 2111,2 kg P plat lantai 250/131,5 + P balok 12/70 =(2,50 x 1,315 x 0,12 x 2400)+( 0,12 x 0,7 x 2,75 x 2400) = (946,8) + ( 554,4) = 1501,2 kg + 250 kg = 1751,2 kg c. Pembebanan pada komponen perancah Pembebanan pada komponen perancah rangka seperti pada gambar di bawah ini: Diketahui: L = 121,9 cm L1 = 60,95 cm Maka: W = 2400 kg .......ok Semua pembebanan memenuhi syarat, sehingga aman. .......ok .......ok .......ok ......ok ......ok

25

1.

Reaksi yang terjadi pada kaki vertikal supaya Reaksi: -Ra Rb + 2400 = 0 Ra + Rb = 2400 kg

seimbang

Reaksi pada titik A: -(2400 x L1) + Rb x L = 0 Rb = 2400 x 60,95 = 1200 kg 121,9 Ra = 2400 1200 = 1200 kg

2.

Distribusi gaya adalah sebagai berikut:

26

BAB IV ANALISA BIAYA DAN WAKTU PEKERJAAN KONSTRUKSI PERANCAH Pada perencanaan konstruksi perancah, pemilihan sistem

konstruksi perancah yang akan digunakan dapat memberi pengaruh terhadap biaya konstruksi perancah. Hal ini disebabkan oleh biaya material, peralatan dan tenaga kerja pada masing-masing sistem berbeda. Misalnya dengan menggunakan sistem penyangga yang menggunakan Hory beam seperti yang digunakan pada proyek (asrama brimob) selain menggunakan perancah rangka. Pasti berbeda dengan sistem penyangga yang tidak menggunakan Hory beam dan hanya menggunakan penyangga perancah rangka. Biaya konstruksi perancah juga dipengaruhi oleh penggunaan tenaga kerja. Miasalnya untuk mengerjakan sistem konstruksi perancah yang menggunakan hory beam lebih banyak memerlukan tenaga kerja dan peralatan selain itu juga membutuhkan waktu yang lama untuk pemasangan dan pembongkarannya dibanding dengan yang tidak menggunakan hory beam. Karena hory beam terbuat dari bahan metal sedang perancah rangka terbuat dari pipa heavy duty carboon steel. Sistem yang digunakan di proyek asrama brimob menggunakan sistem penyewaan perancahnya untuk 2 lantai sekaligus dan menggunakan hory beam (sistem 2), sedangkan yang penulis rancang adalah sistem 1 (sistem penyewaan hanya untuk 1 lantai dan tanpa menggunakan hory beam). Dimana sistem 1 ini digunakan hanya untuk konstruksi bangunan yang memiliki bentuk bangunan yang typikal. Sehingga untuk merencanakan konstruksi perancahnya, hanya cukup

27

merencanakan sistem konstruksi perancah untuk lantai 1 dan untuk lantai selajutnya tinggal mengikuti sistem konstruksi perancah seperti lantai 1. Pada bab ini akan menganalisa biaya konstruksi perancah dari kedua sistem tersebut di atas, yaitu sistem sistem 2 dan menggunakan hory beam dengan sistem 1 yang tidak menggunakan hory beam. Analisa biaya yang dilakukan adalah terhadap biaya material, peralatan dan biaya tenaga kerja. Dengan memperhatikan pemakaian material dan peralatan. Sehingga pada bab ini dapat dilihat perbandingan biaya konstruksi perancah yang menggunakan sistem 2 dan yang menggunakan sistem 1. 4.1. Analisa Biaya Konstruksi Perancah Di bawah ini akan diberikan harga untuk penyewaan peralatan dan harga bahan yang digunakan pada konstruksi perancah di asrama brimob Bogor. Tabel 4. 1. Harga Sewa Satuan Material/Peralatan Perancah Rangka Dan Hory Beam Nama Bahan Hory Beam Main Frame170-190 Leader Frame 50 Diagonal Brace Base Jack U Head Jack Pipe Support Joint Pin Kayu 8/15 Kayu 6/12 Kayu 6/10 Paku 10 Satuan Buah/bulan Buah/bulan Buah/bulan Psg/bulan Buah/bulan Buah/bulan Buah/bulan Buah/bulan Batang Batang Batang Kg Rp. 50.000,Rp. 30.000,Rp. 20.000,Rp. 6.000,Harga Beli Harga Sewa Rp. 15.000,Rp. 4.000,Rp. 3.500,Rp. 3.000,Rp. 3.000,Rp. 3.000,Rp. 4.000,Rp. 2.000,-

28

Dari tabel di atas didapat harga sewa 1 (satu) set perancah rangka (scafolding frame), yaitu: 2 (satu) buah Main Frame 190 2 (dua) buah Diagonal Brace 2 (dua) buah Base Jack 2 (dua) buah U Head Jack 2 (dua) buah Joint Pin Harga sewa 1 (satu) set perancah = Rp. 8.000,= Rp. 6.000,= Rp. 6.000,= Rp. 6.000,= Rp. 4.000,- + = Rp 30.000,-

4.2. Sistem Penyangga Dengan Hory Beam (sistem 2) 4.2.1.Material, Peralatan Dan Tenaga Kerja Untuk menghitung jumlah material yang dibutuhkan, Luas per lantai asrama brimob adalah 621,5 m2. Disini penulis menggunakan hitungan material per 121 m2. a. balok Jumlah hory beam Bentang hory beam yang digunakan adalah = 3,75 m. Untuk daerah S2 = 3 x 4 = 12 hory beam S3 = 6 x 8 = 48 hory beam S4 = 3 x 4 = 12 hory beam + = 72 hory beam Jadi untuk luas bangunan 621,5 m2, jumlah hory beam yang dibutuhkan: 621,5 / 121 = 5,14. Sehingga 72 hory beam x 5,14 = 371 hory beam/lantai. b. Jumlah set perancah rangka Untuk luas 121 m2. = 15 set Perancah Balok Melintang Balok 30/60 3,525 m (maksimum 3,8 m) dan jarak antara balok ke

29

Balok 20/40 Perancah Balok Memanjang Balok 12/70 Balok 25/50 Balok 20/40 Jumlah

= 4 set = 8 set = 8 set = 4 set + = 39 set

Jumlah perancah rangka/lantai, yang digunakan untuk

luas 621,5 m2 = 621,5 m2 : 121 m2 = 5,14 5,14 x 39 set = 201 set/lantai c. Jumlah Kayu 8/15 Penggunaan kayu 8/15 sebagai dudukan hory beam Perancah Balok Melintang 11 m1 x 2 = 22 m1 22 m1 x 3 = 66 m1 66 m1 : 4 m1/btg = 16,5 ~ 17 btg Balok 20/40 11 m1 x 2 = 22 m1 22 m1 x 2 = 44 m1 44 m1 : 4 m1/btg = 11 btg Perancah Balok Memanjang 11 m1 x 2 = 22 m1 22 m1 x 2 = 44 m1 44 m1 : 4 m1/btg = 11 btg Balok 25/50 11 m1 x 2 = 22 m1 22 m1 x 2 = 44 m1 44 m1 : 4 m1/btg = 11 btg Balok 20/40 11 m1 x 2 = 22 m1 22 m1 : 4 m1/btg = 5,5 ~ 6 btg Perancah rangka Balok 12/70 atau penyangga engkel yang diletakan pada U Head jack. Perancah rangka Balok 30/60

30

Jumlah balok 8/15 yang digunakan untuk luas 121 m2

= 56 btg. Maka perlantai = 621,5 m2 : 121 m2 = 5,14 5,14 x 56 btg = 288 btg/lantai

d.

Jumlah Kayu 6/12 Penggunaan kayu 6/12 sebagai dudukan hory beam atau engkel penyangga (bodem) yang diletakan di atas penyangga engkel. Perancah Balok Melintang 11 m1 : 0,5 = 22 m1 22 m1 x 1,5 m1 = 33 m1 33 m1 x 3 = 99 m1 99 m1 : 4 m1/btg = 24,75 ~ 25 btg Balok 20/40 11 m1 : 0,5 = 22 m1 22 m1 x 1,5 = 33 m1 33 m1 x 2 = 66 m1 66 m1 : 4 m1/btg = 16,5 ~ 17 btg Perancah Balok Memanjang 11 m1 : 0,5 = 22 m1 22 m1 x 2 = 44 m1 44 m1 : 4 m1/btg = 11 btg Balok 25/50 11 m1 x 0,5 = 22 m1 22 m1 x 2 = 44 m1 44 m1 : 4 m1/btg = 11 btg Balok 20/40 11 m1 : 0,5 = 22 m1 22 m1 : 4 m1/btg = 5,5 ~ 6 btg Perancah rangka Balok 12/70 Perancah rangka Balok 30/60

31

Jumlah balok 6/12 yang digunakan untuk luas 121 m2

= 70 btg. Maka perlantai = 621,5 m2 : 121 m2 = 5,14 5,14 x 70 btg = 360 btg/lantai e. Jumlah Paku 10 cm Diasumsikan 00,5 kg/m2. Untuk luas 121 m2 = 121 m2 x 0,05 kg/m2 = 7 kg. Maka perlantai = 621,5 m2 : 121 m2 = 5,14 5,14 x 7 kg = 36 kg e. Jumlah tenaga kerja Diasumsikan 2 (dua) pekerja (1 tukang dan 1 knek) dapat melakukan pekerjaan pemasangan perancah 8 set/hari dan hory beam 15 bh/hari. Perlantai terdapat 201 set perancah rangka dan 371 Jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan perlantai: 201 bh hory beam. set perancah rangka : 8 = 25,125 dan 371 hory beam : 15 = 24,73. Maka untuk memasang perancah rangka dan pipe support dibutuhkan = 25 pekerja/lantai. 4.2.2.Jumlah Biaya Material, Peralatan Dan Tenaga Kerja Tabel 4.2. Material yang digunakan untuk 121 m2 (sistem2)
Material No. Bagian MF 190 (bh) I 1. 2. II 1. 2. 3. III Balok Melintang: Balok 30/60 Balok 20/40 Balok Memanjang: Balok 12/70 Balok 25/50 Balok 20/40 Plat Lantai: 6 6 6 8 8 8 12 12 12 12 12 12 11 11 6 11 11 6 27 8 36 8 54 16 54 16 17 11 25 17 (psg) (bh) Diagonal Brace Hory Beam Base Jack 65 (bh) U Head Jack 65 (bh) 8/15 (btg) 6/12 (btg) 10 cm (kg) Balok Balok Paku

32

1. 2. 3.

Plat Lantai 250x131,5 Plat Lantai 250x352,5 Plat Lantai 250x181,5 Jumlah

53

68

12 48 12 72

106

106

56

70 7

Untuk mengetahui jumlah material perlantai, maka jumlah material 121 m2 dikalikan dengan 5,14. Tabel 4.3. Kebutuhan material perlantai 621,5 m2 (sistem 2)
Material MF 190 (bh) 273 Diagonal Brace (psg) 350 (bh) 371 Hory Beam Base Jack 65 (bh) 545 U Head Jack 65 (bh) 545 Balok 8/15 (btg) 288 Balok 6/12 (btg) 360 Paku 10 cm (kg) 36

a.

Biaya material dan peralatan 1 (satu) buah Main Frame = Rp.4.000,= Rp.1.092.000,1 (satu) pasang Diagonal = Rp.3.000,= Rp.1.050.000,1 (satu) buah Base Jack = Rp. 3.000,545 x Rp. 3.000, 545 x Rp. 3.000,= Rp.1.635.000,1 (satu) buah U Head Jack = Rp. 3.000,= Rp.1.635.000,1 (satu) buah Hory Beam = Rp. 15.000,-

Perancah rangka 170 273 x Rp. 4.000, Brace 350 x Rp. 3.000,

Hory Beam

33

371 x Rp. 15.000,Balok/Kayu 8/15 dan 6/12 280 x Rp. 50.000, 360 x Rp. 30.000,Paku 10 cm 36 x Rp. 6.000,-

= Rp.5.565.000,1 (satu) batang kayu 8/15 = Rp. 50.000,= Rp.14.400.000,1 (satu) batang kayu 6/12 = Rp. 30.000,= Rp.10.800.000,1 (satu) kg paku 10 cm = Rp. 6.000,= Rp. 216.000,- + Jumlah = Rp.36.393.000,-

b.

Biaya pekerja 15 tukang x Rp. 30.000,450.000, 10 knek x Rp. 20.000,= Rp. 200.000,- + Jumlah = Rp. 650.000,= Rp.

Jumlah pekerja = 25 pekerja

c.

Biaya total perlantai Rp.36.393.000,- + Rp. 650.000,- = Rp. 37.043.000,-

4.2.3.

Jumlah Waktu Pekerjaan Waktu yang digunakan dimulai pada pukul 08.00 sampai

16.00, pekerjaan ini meliputi dari pemasangan perancah rangka, hory beam dan bekisting. kerja Jumlah waktu yang dibutuhkan yaitu jumlah tenaga tenaga kerja yang dibutuhkan perlantai = 25

pekerja/lantai : 2 = 12,5 ~ 13 hari/lantai.

34

Setelah

semua

pekerjaan

bekisting

selesai,

baru

dilakukan pengecoran. Untuk pengecoran seluas 621,5 m2 dibutuhkan waktu + 6 jam. Yang pastinya untuk luas sekian dilakukan pengecoran secara berkala, yaitu luas lantai. Setelah beton mencapai 14 hari, dilakukan pembongkaran perancah dan bekisting. 4.3. Sistem Penyangga Frame Scafolding (sistem 1) Sistem 1 adalah rancangan yang telah dibuat oleh penulis, sistem ini diberi nama demikian karena sistem ini menggunakan sistem penyewaan/penggunaan perancah untuk 1 lantai, oleh penulis di rancang untuk konstruksi 2 lantai. Dengan sistem 1 lantai terpasang penuh semua konstruksi perancahnya, sedang untuk lantai 2 dipasang hanya lantai saja (Di atas coran beton yang pertama dikerjakan). Dengan maksud, jika pada kondisi beton pada lantai 1 yang telah di cor cukup kuat, maka perancah pada lantai 1 akan dibongkar sedikit demi sedikit dan diletakan pada lantai 2 yang baru terpasang lantai. 4.3.1.Material, Peralatan Dan Tenaga Kerja Untuk menghitung jumlah material yang dibutuhkan, Luas per lantai asrama brimob adalah 621,5 m2. Disini penulis menggunakan hitungan material per 121 m2. a. Jumlah set perancah rangka Untuk luas 121 m2. = 9 set = 6 set = 4 set Perancah Balok Melintang Balok 30/60 Balok 20/40 Perancah Plat Lantai Plar Lantai 250/131,5

35

Plat Lantai 250/181,5

= 4 set + = 23 set

Jumlah perancah rangka/lantai, yang digunakan untuk

luas 621,5 m2 = 621,5 m2 : 121 m2 = 5,14 5,14 x 23 set = 119 set/lantai b. Jumlah Pipe Support Pipe support yang digunakan untuk 121 m2 = 20 bh. Untuk perlantai = 621,5 m2/121 m2 = 5,14 5,14 x 20

bh = 102,8 ~ 103 bh/lantai. c. Jumlah Kayu 6/12 Penggunaan kayu 6/12 sebagai penyangga engkel Perancah Balok Melintang yang diletakan pada U Head jack. Perancah rangka Balok 30/60 Balok 6/12 11 m1 x 4 = 44 m1 44 m1 x 3 = 132 m1 132 m1 : 4 m1/btg = 33 btg Balok 20/40 Balok 6/12 11 m1 x 4 = 44 m1 44 m1 x 2 = 88 m1 88 m1 : 4 m1/btg = 22 btg 66 m1 : 4 m1/btg = 16,5 ~ 17 btg Perancah Balok Memanjang Pipe Support Balok 25/50 Balok 6/12 Balok 20/40 Balok 6/12 11 m1 : 4 m1/btg = 2,75 ~ 3 btg 11 m1 x 2 = 22 m1 22 m1 : 4 m1/btg = 5,5 ~ 6 btg

36

Perancah Plat Lantai

Perancah rangka Plat Lantai 250/131,5 Balok 6/12 8 x 2,5 m1 = 20 m1 20 m1 : 4 m1/btg = 5 btg Plat Lantai 250 x 181,5 Balok 6/12 Pipe Support Plat Lantai 250/352,5 Balok 6/12 11 m1 x 4 = 44 m1 44 m1 : 4 m1/btg = 11 btg Jumlah balok 6/12 yang digunakan untuk luas 121 m2 = 81 btg. Maka perlantai = 621,5 m2 : 121 m2 = 5,14 5,14 x 81 btg = 417 btg/lantai d. Jumlah Kayu 5/10 Penggunaan kayu 5/10 sebagai engkel penyangga Perancah Balok Melintang (bodem) yang diletakan di atas penyangga engkel. Perancah rangka Balok 30/60 Balok 5/10 11 m1 : 0,5 m1 = 22 m1 22 m1 x 1,5 m1 = 33 m1 33 m1 x 3 =99 m1 99 m1 : 4 m1/btg = 24,75 ~ 25 btg Balok 20/40 Balok 5/10 11 m1 : 0,5 m1 = 22 m1 22 m1 x 1,5 m1 = 33 m1 33 m1 x 2 = 66 m1 66 m1 : 4 m1/btg = 16,5 ~ 17 btg Perancah Balok Memanjang 8 x 3 m1 = 20 m1 24 m1 : 4 m1/btg = 6 btg

37

Perancah rangka Jumlah balok 5/10 yang digunakan untuk luas 121 m2 = 42 btg. Maka perlantai = 621,5 m2 : 121 m2 = 5,14 5,14 x 42 btg = 216 btg/lantai e. Jumlah Paku 10 cm Diasumsikan 00,5 kg/m2. Untuk luas 121 m2 = 121 m2 x 0,05 kg/m2 = 7 kg. Maka perlantai = 621,5 m2 : 121 m2 = 5,14 5,14 x 7 kg = 36 kg f. Jumlah tenaga kerja Diasumsikan 2 (dua) pekerja (1 tukang dan 1 knek) dapat melakukan pekerjaan pemasangan perancah 8 set/hari dan pipe support 7 bh/hari. Perlantai terdapat 119 set perancah rangka dan 103 Jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan perlantai: 119 bh pipe support. set perancah rangka : 8 = 14,875 dan 103 pipe support : 7 = 14,71. Maka untuk memasang perancah rangka dan pipe support dibutuhkan = 15 pekerja/lantai. 4.3.2. Kerja Tabel 4.4. Material yang digunakan untuk 121 m2 (sistem 1)
Material No. Bagian MF 190 (bh) I 1. 2. II 1. 2. Balok Melintang: Balok 30/60 Balok 20/40 Balok Memanjang: Balok 25/50 Balok 20/40 8 4 8 4 8 4 6 3 15 10 24 16 30 20 30 20 33 17 25 17 (psg) Diagonal Brace Pipe Support 225 (bh) Base Jack 65 (bh) U Head Jack 65 (bh) 6/12 (btg) 5/10 (btg) 10 cm (kg) Balok Balok Paku

Jumlah Biaya Material, Peralatan dan Tenaga

38

III 1. 2. 3.

Plat Lantai: Plat Lantai 250x131,5 Plat Lantai 250x352,5 Plat Lantai 250x181,5 Jumlah 8 8 41 8 8 56 8 20 16 16 16 120 16 16 16 120 5 11 6 81 42 7

Untuk mengetahui jumlah material perlantai, maka jumlah material 121 m2 dikalikan dengan 5,14. Tabel 4.5. Kebutuhan material perlantai 621,5 m2 (sistem 1)
Material MF 190 (bh) 211 Diagonal Brace (psg) 288 Pipe Support 225 (bh) 103 Base Jack 65 (bh) 617 U Head Jack 65 (bh) 617 Balok 6/12 (btg) 417 Balok 5/10 (btg) 216 Paku 10 cm (kg) 36

a.

Biaya material dan peralatan 1 (satu) buah Main Frame = Rp.4.000,= Rp. 844.000,1 (satu) pasang Diagonal = Rp.3.000,= Rp. 864.000,1 (satu) buah Base Jack = Rp. 3.000,617 x Rp. 3.000, 617 x Rp. 3.000, = Rp. 1.851.000,1 (satu) buah U Head Jack = Rp. 3.000,= Rp.1.851.000,1 (satu) buah Pipe support = Rp. 4.000,-

Perancah rangka dan pipe support 190 211 x Rp. 4.000, Brace 288 x Rp. 3.000,

39

103 x Rp. 4.000,Balok/Kayu 6/12 dan 5/10 417 x Rp. 30.000, 216 x Rp. 20.000,Paku 10 cm 36 x Rp. 6.000,b. Biaya pekerja 9 tukang x Rp. 30.000, 6 knek x Rp. 20.000,c. Biaya total perlantai

= Rp. 412.000,1 (satu) batang kayu 6/12 = Rp. 30.000,= Rp.12.510.000,1 (satu) batang kayu 5/10 = Rp. 20.000,= Rp. 4.320.000,1 (satu) kg paku 10 cm = Rp. 6.000,= Rp. 216.000,- + Jumlah = Rp.18.980.000,-

Jumlah pekerja = 15 pekerja = Rp. 270.000,= Rp. 120.000,- + Jumlah = Rp. 390.000, Rp.18.980.000,- + Rp. 390.000,- = Rp. 19.370.000,-

4.3.3.

Jumlah Waktu Pekerjaan Waktu yang digunakan dimulai pada pukul 08.00 sampai

16.00, pekerjaan ini meliputi dari pemasangan perancah rangka, pipe support dan bekisting. kerja Jumlah waktu yang dibutuhkan yaitu jumlah tenaga tenaga kerja yang dibutuhkan perlantai = 15

pekerja/lantai : 2 = 7,5 ~ 8 hari/lantai.

40

Setelah

semua

pekerjaan

bekisting

selesai,

baru

dilakukan pengecoran. Untuk pengecoran seluas 621,5 m2 dibutuhkan waktu + 6 jam. Yang pastinya untuk luas sekian dilakukan pengecoran secara berkala, yaitu luas lantai (dimulai dari sisi paling kiri atau kanan). Setelah beton mencapai 14 hari, dilakukan pembongkaran perancah dan bekisting, yang selanjutnya posisi perancah digantikan oleh pipe support agar tidak terjadi lendutan pada beton. Sebagian perancah yang dibongkar tersebut lalu dipasang di lantai 2 yang baru terpasang lantai. Hingga beton berumur 28 hari, perancah, pipe support dan bekisting dapat dibongkar seluruhnya. 4.4. Perbandingan Biaya dan Waktu Konstruksi Perancah Di bawah ini akan diberikan sebuah tabel biaya rata-rata perancah perlantai antara perancah sistem 2 dan perancah sistem 1. Dari tabel ini akan didapat sebuah perbandingan biaya.

Tabel 4.6. Perbandingan Biaya Sistem Konstruksi Perancah Uraian Material dan peralatan Tenaga Kerja Waktu Biaya rata-rata konstruksi perancah perlantai Sistem 2 Sistem 1 Rp.36.393.000,Rp. 650.000,13 hari Rp.18.980.000,Rp. 8 hari 390.000,-

41

BAB V PENUTUP

5.1. Kesimpulan

42

Setelah

mempelajari, membahas dan membandingkan

mengenai perancangan konstruksi perancah antara yang digunakan di proyek asrama brimob dengan yang direncanakan/dirancang oleh penulis, maka didapat suatu kesimpulan sebagai berikut: a. Konstruksi perancah yang digunakan di proyek asrama maupun pembongkarannya dibanding dengan brimob memakan waktu lama dalam pengerjaannya, baik dalam pemasangan b. konstruksi perancah yang penulis rencanakan. Biaya tenaga kerja, material dan komponen perancah yang digunakan di proyek tersebut lebih besar di banding dengan rencana konstruksi perancah rangka yang penulis rencanakan. c. Penggunaan horry beam pada proyek sangat menghabiskan waktu dan mungkin dapat merusak beton yang berada di bawahnya waktu pembongkarannya, karena horry beam sangat berat. d. Pembongkaran perancah rangka pada Beton plat lantai haruslah bertahap (Jika sebagian perancah rangka dibongkar, maka posisi perancah rangka tersebut digantikan oleh pipe support sebagai penyanggahnya), dari umur beton 7 hari hingga umur 28 hari. Jika umur beton sudah mencapai 28 hari, maka seluruh perancah rangka ataupun pipe support yang menyanggahnya sudah dapat di bongkar.

5.2. Saran-saran Saran yang mungkin penulis dapat berikan adalah: a. Setiap pekerjaan konstruksi perancah ataupun lainnya diharuskan membuat suatu rencana perancangan yang matang, sedetail

43

mungkin. Sehingga dapat menghasilkan suatu pekerjaan yang efektif dan efisien. b. Jika harus menggunakan horry beam dalam sistem bekistingnya, diupayakan dilakukan dalam secara pemasangan hati-hati. atau pembongkarannya merusak hasil Sehingga tidak

konstruksi yang telah jadi lainnya.

44