Anda di halaman 1dari 2

Permata yang Hilang

Judul Penulis Penerbit Tebal

: Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck :Hamka :PT Bulan Bintang, Jakarta, Cetakan 26,Juli 2002 : 224 halaman

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck novel bersastra tinggi ini diciptakan oleh H.Abdul Malik Karim Amrullah atau biasa disebut Hamka, yaitu seorang pengarang ternama yang bahkan telah dinobatkan sebagai pahlawan nasional berkat karya-karyanya. Novel ini menceritakan kehidupan percintaan dari Zainudin, seorang pemuda yang baik budinya namun sengsara sejak dilahirkan dengan seorang gadis jelita dari Kampung Batipuh yang dibelenggu oleh adat kental dan kolot. Cinta keduanya ditentang keluarga Hayati karena Zainudin merupakan anak dari orang Batipuh yang dianggap berkhianat karena menikah dengan anak suku lain. Sehingga Zainudin dianggap tak beradap dan tak pantas untuk seorang gadis kebanggaan Batipuh seperti Hayati. Besarnya rasa cinta Hayati dan Zainuddin membuat paman Hayati memutuskan untuk mengusir Zainuddin dari kampung itu. Hayati benar-benar tak rela kehilangan Zainuddin, hingga ia bersumpah kepada Zainuddin sebelum Zainuddin pergi, Kalau demikian, hari inilah saya terangkan di hadapanmu, di hadapan cahaya matahari yang baru naik, di hadapan roh ibu bapa yang sudah sama-sama berkalang tanah, saya katakan: Bahwa jiwaku telah diisi sepenuh-penuhnya oleh cinta kepadamu. Cintaku kepadamu telah memenuhi hatiku, telah terjadi sebagai nyawa dan badan adanya. Dan selalu saya berkata, biar Tuhan mendengarkan, bahwa engkaulah yang akan menjadi suamiku kelak, jika tidak sampai di dunia, biarlah di

akhirat. Dan saya tiadakan khianat kepada janjiku, tidak akan berdusta di hadapat Tuhan, dan di hadapan arwah nenek moyangku. Seperti novel seangkatannya, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk berisi tentang
kritikan dari keburukan adat lama dalam soal perkawinan. Penggarapan konflik yang detail dalam

novel ini Membuat pembaca serasa mengalami langsung atmosfer kukuhnya adat yang ada di Batipuh yang menggambarkan tidak rasionalnya suatu kaum dalam menilai seorang manusia. Penderitaan yang dialami Hayati sang tokoh wanita dimulai setelah ia mendapat iming-iming dari Khodijah sahabatnya bahwa dengan menikahi pria yang kaya akan memberi kehidupan yang nyaman. Sehingga Hayatipun akhirnya menghianati janjinya kepada Zainudin. Akibatnya, Hayati dan Zainudin sama-sama menderita. Hayati hidup sengsara dalam cinta semu bersama suaminya, sedangkan Zainudin sakit berkepanjangan selama dua bulan dalam bayang-bayang penghianatan. Kejadian ini membersitkan pesan bahwa nyatanya kebahagiaan cinta itu bukanlah dari kekayaan dan kedudukan dari pasangan, namun kebahagiaan cinta ialah cinta itu sendiri. Novel era 30-an ini memiliki cover yang kurang menarik, namun di balik itu novel ini dikemas dengan tata bahasa yang tinggi, sehingga tetap menarik dan menggambarkan perkembangan yang pesat dari seni sastra pada generasi 30-an. Bahasanya memang tinggi, namun tetap mudah dimengerti oleh pembaca hingga saat ini. Ending dari cerita ini cukup tragis dengan meninggalnya Hayati sebelum cintanya dengan Zainudin yang sempat ia khianati dapat tersambung kembali dan disusul dengan meninggalnya Zainudin setahun kemudian, walaupun novel ini tidak berakhir bahagia namun isi cerita novel ini dapat memberi kepuasan batin tersendiri bagi pembacanya dan patut menjadi koleksi bacaan bagi penggemar sastra.

Resensi oleh: Isma Alfia Novita