Anda di halaman 1dari 18

DEFINISI ALAT BANTU DENGAR (ABD) Alat Bantu Dengar adalah suatu perangkat elektronik yang berguna untuk

memperkeras (mengamplifikasi) suara yang masuk ke dalam telinga, sehingga si pemakai dapat mendengar lebih jelas suara yang ada di sekitarnya (Buku ijo)

MEKANISME KERJA Mekanisme kerja ABD berbeda-beda tergantung jenisnya, akan tetapi pada umumnya ABD bekerja dengan menggunakan 4 bagian pokok berikut: 1. Mikrofon : Bagian yang berperan menerima suara dari luar dan mengubah sinyal suara menjadi

energi listrik, kemudian meneruskannya ke amplifier 2. Amplifier: Berfungsi memperkeras suara dengan cara memperbesar

energi listrik yang selanjutnya mengirimkannya ke receiver 3. Receiver / Loudspeaker : Mengubah energi listrik yang telah diperbesar amplifier

menjadi energi bunyi kembali dan meneruskannya ke liang telinga 4. Batere : Sebagai sumber tenaga

Selain 4 komponen diatas, beberapa jenis ABD memiliki fungsi-fungsi tambahan dan Assisstive Listening Device (ALD) yang akan dibahas lebih lanjut di bawah

KLASIFIKASI Menurut sistim kerjanya Secara umum sistim kerja ABD dibedakan menjadi: a. Analog

Prinsip sistem analog adalah memperkeras suara yang masuk telinga melalui komponen mekanik dasar yang sederhana. Sirkuit ABD ini telah diatur dari pabrik sehingga kemampuan pengaturan yang lebih individual sangat terbatas atau kurang fleksibel. Sistim ini mudah mengalami distorsi, terjadi noise (bising) pada rangkaian komponen dan rentan terhadap bising di sekitarnya b. Digital Sistem analog merupakan ABD yang menggunakan chip komputer yang menganalisa suara yang masuk. Setelah suara diamplifikasi, teknologi digital akan memilih suara yang perlu diteruskan ke dalam telinga dan menyingkirkan suara yang tidak diharapkan (noise). ABD Sistim digital bisa menerima program komputer tertentu yang dapat memilih frekuensi syang spesifik sesuai dengan kebutuhan. ABD Sistim digital menjadi sangat fleksibel karena secara otomatis dapat beradaptasi dengan suara yang keras atau halus, sehingga tidak terjadi perkerasan yang berlebihan Menurut hantarannya Berdasarkan jenis hantaran suaranya, ABD dapat dibedakan menjadi 2 macam: a. ABD Jenis hantaran tulang Bone conduction aid digunakan pada gangguan pendengaran jenis hantaran (konduktif). Biasanya dimanfaatkan pada kasus atresia liang telinga. Selain itu, jenis ini juga digunakan pada kasus dimana sewaktu-waktu liang telinga terisi cairan yang berasal dari infeksi telinga tengah. ABD jenis hantaran tulang dibedakan menjadi: 1. ABD hantaran tulang konvensional Suara dari luar akan yang ditangkap akan mengaktifkan bone vibrator. Getaran tulang dihasilkan oleh bone vibrator yang ditempelkan pada tulang mastoid dengan bantuan ikat kepala khsus, kaca mata, atau plastik mirip bando. Kerugian ABD jenis ini adalah tidak praktis, penampulan kurang menarik (kosmetik), butuh amplifikasi besar dan timbul lecet pada kulit yang menempel dengan bone vibrator. Pilihan model ABD pada sistim ini adalah jenis saku atau BTE 2. ABD jenis BAHA (Bone Anchored Hearing AID) ABD yang mirip jenis saku dihubungkan melalui kabel dengan penggetar tulang (bone vibrator) yang dapat dipasang dan dilepas melalui sistim sekrup-baut dengan lempengan

logam dari bahan titanium yang telah ditanam ke dalam tulang mastoid melalui tindakan operasi. Hantaran tulang lebih efektif dibandingkan ABD jenis hantaran tulang.

b. ABD Jenis hantaran udara ABD jenis hantaran udara merupakan ABD yang lebih lazim ditemukan dan tersedia dalam berbagai bentuk. ABD jenis ini bekerja dengan prinsip mengurangi jarak dari sumber suara dengan cara meletakkan loudspeaker di telinga penderita. Menurut bentuknya Setiap bentuk ABD memiliki keuntungan dan kerugiannya masing-masing. Berikut adalah pembahasan beberapa jenis ABD yang ada saat ini:

a. ABD Jenis Saku (Pocket / Body Worn Type) ABD jenis ini dapat dianggap sebagai ABD jenis terbesar. Mikrofon dan amplifier berada dalam satu unit berbentuk kotak; sedangkan receiver terpisah dan berada di liang telinga. Antara kotak (mikrofon, amplifier, dan baterai) dengan receiver dihubungkan melalui kabel. Biasanya kotak ditempatkan pada saku baju atau kantung khusus yang digantungkan pada dada. Pada ABD jenis saku penempatan terpisah ini dimaksudkan agar pengguna dapat leluasa memperbesar output tanpa khawatir timbulnya bunyi feedback. Jadi ABD jenis saku ini diperlukan oleh penderita tuli berat atau sangat berat yang membutuhkan perkerasan bunyi atau output yang besar. Hal ini dianggap sebagai faktor yang menguntungkan untuk ABD jenis saku. Keuntungan lain adalah dapat menggunakan baterai silinder biasa (ukuran AAA) yang selain murah juga mudah didapat. Selain itu, tombol pengatur juga mudah disesuaikan. Faktor yang merugikan dari ABD jenis saku: Penampilan kosmetik kurang baik Kemampuan mikrofon melokalisir bunyi dari belakang terhalang oleh tubuh

Tidak praktis karena ukuran relatif besar Kabel dapat putus Dapat timbul bunyi gesekan antara ABD dengan kain saku

b. ABD jenis Belakang Telinga (BT) / Behind The Ear (BTE) ABD ini dipasang pada lekukan daun telinga bagian belakang, dengan mikrofon mengarah ke depan. Posisi ini cukup baik karena selain selalu mengikuti gerakan kepala juga menghadap lawan bicara. Suara yang telah diperkeras (output) disalurkan melalui pipa plastik (tubing) yang terhubung dengan ear mould di concha daun telinga, untuk selanjutnya diteruskan ke liang telinga. Kemampuan amplifikasinya cukup besar, juga tersedia jenis super power. Dalam hal mencegah bunyi feedback masih sedikit dibawah jenis saku. Sumber tenaga berupa batere yang bentuknya pipih dan tipis (disc). Penyetelan tombol pengatur juga relatif lebih mudah dibandingkan ABD jenis lain yang lebih kecil. c. Open-fit mini BTE ABD jenis ini merupakan abd yang paling baru dikembangkan. ABD jenis ini mengkombinasikan keelebihan akustik dari ABD berukuran besar dan kelebihan kosmetik dari ABD berukuran kecil. Open-fit mini BTE terdiri dari alat BTE yang kecil, tuba kurus tersembunyi yang berfungsi sebagai pengait daun telinga, dan receiver yang halus dan tidak sampai menutupi liang telinga. Hasilnya, efek oklusi yang dialami pasien berkurang, baterai dan amplifier yang lebih baik dibandingkan tipe yang lebih kecil, tampilan kosmetik yang lebih baik dibanding ABD tipe besar lainnya, dan pemakaian yang lebih singkat karena tidak memerlukan cetakan personal yang presisi sebagaimana ABD tipe BTE dan ITE butuhkan d. ABD Jenis Dalam Telinga (DT) / In The Ear (ITE) ABD jenis ITE ukurannya lebih kecil dibandingkan dengan BTE. Dipasang pada bagian concha daun telinga. Komponen ABD menyatu dengan ear mould. Karena ukurannya yang relatif kecil berarti jarak antara mikrofon dengan receiver juga lebih pendek, akibatnya kemampuan amplifikasinya terbatas sehingga hanya cocok untuk ketulian derajat sedang. e. ABD tipe kanalis / In The Canal (ITC) & Completely In Canal (CIC)

ABD jenis ini dibedakan menjadi dua macam: ITC dan CIC. ABD jenis ITC ukurannya lebih kecil lagi daripada jenis ITE. Pemasangan sampai setengah bagian luar liang telinga. Amplifikasi suara baik untuk frekuensi tinggi, karena dipasang cukup dalam pada liang telinga. Akan tetapi karena keterbatasan ukuran, hanya bermanfaat untuk tuli derajat sedang. Selain itu juga terdapat jenis CIC yang merupakan ABD terkecil dan dipasang pada sisi dalam liang telinga, jadi lebih dekat dengan gendang telinga. Permukaan luar dilengkapi dengan tangkai plastik untuk mempermudah memasang dan melepaskan ABD. Sebagaimana halnya dengan jenis ITC, pengaturan secara manual lebih sulit. Namun hal ini dapat diatasi pada model terbaru yang telah dilengkapi dengan remote control f. ABD jenis kacamata / Spectacle Aid ABD ditempatkan pada tangkai kaca mata bagian belakang. Umumnya jenis BTE, namun dapat juga jenis bone conduction, meskipun emanfaatan cara ini untuk ABD jenis hantaran tulang kurang efektif karena tekanan bone vibrator tidak stabil

PEMAKAIAN ALAT BANTU DENGAR Kandidat pemakai alat bantu dengar Setiap orang dengan kesulitan mendengar atau memahami pembicaraan harus

mempertimbangkan penggunaan alat amplifikasi pendengaran. Hal ini terutama sangat dianjurkan untuk anak-anak dengan gangguan pendengaran, dimana intervensi harus dianjurkan sedini mungkin. Gangguan pendengaran dapat secara umum dikelompokkan menjadi: 1. Mild Hearing Loss (20-40 dB) Penggunaan alat bantu dengar dapat membantu kemampuan komunikasi pasien. Beberapa pasien dapat mempertimbangkan pemakaian alat bantu dengar paruh waktu / pada kondisi-kondisi tertentu saja

2. Moderate Hearing Loss (45-65 dB) Penggunaan alat bantu dengar sudah menjadi kebutuhan bagi pasien dalam kategori ini. Pada umumnya alat bantu dengar memberikan hasil yang baik bila dipakai dengan strategi pemakaian yang sesuai 3. Severe Hearing Loss (70-85 dB) Alat bantu dengar harus digunakan bila pasien masih ingin berkomunikasi dengan suara sebagai media penerimaan primernya. Pada beberapa kasus pasien dengan tingkat gangguan pendengaran ini membutuhkan implantasi koklea 4. Profound Hearing Loss (>85 dB) Keberhasilan penggunaan alat bantu dengar pada pasien ini berbeda-beda tergantung umur dan berbagai faktor lainnya. Pada kasus yang baik, kemampuan komunikasi pasien dapat membaik, dan pada kasus terburuk pun, setidaknya alat bantu dengar masih dapat membantu sebagai warning device. Pasien dengan gangguan pendengaran jenis ini merupakan kandidat kuat untuk implantasi koklea Selain tipe dan derajat ketulian, ada beberapa faktor lainnya yang perlu diperhitungkan mengenai apakah seorang pasien membutuhkan alat bantu dengar, antara lain: 1) Umur dan kondisi kesehatan mental dan fisik pasien secara umum; 2) Motivasi pasien (Bukan keluarga atau pihak lain); 3) Kondisi keuangan pasien; 4) Pertimbangan kosmetis; 5) Kebutuhan pasien akan komunikasi, terutama dalam kehidupan dan pekerjaan (CURRENT ebook) Pemilihan alat bantu dengar Setelah ditentukan bahwa kandidat akan sangat tertolong dengan pemakaian alat bantu dengar, maka harus diseleksi spesifikasi alat tersebut. Untuk tujuan ini telah dikembangkan sejumlah metode dan rumusan. Umumnya tiap prosedur pemilihan membutuhkan informasi audiometrik berupa:

1) Ambang pendengaran / Threshold (T) 2) Tingkat Pendengaran paling nyaman / Most Comfortable Level (MCL) 3. Tingkat kekerasan yang mengganggu / Loudness Discomfort Level (LDL) (BOIES) Setelah itu, klinisi harus menentukan apakah pasien membutuhkan alat bantu pendengaran pada satu atau kedua telinga. Bilamana mungkin sangat dianjurkan menggunakan alat bantu pada kedua telinga (binaural). Keuntungan amplifikasi binaural antara lain(CURRENT ebook): 1. Minimalisasi / Eliminasi efek bayangan kepala (Head Shadow) Efek bayangan kepala adalah berkurangnya intensitas sinyal dari sisi kepala yang berlawanan dari lokasi pemakaian alat bantu dengar. Dengan pemakaian binaural, hal ini dapat membaik atau bahkan hilang seluruhnya 2. Peningkatan kemampuan lokalisasi Dengan perbedaan intensitas dan waktu masuknya sinyal ke alat bantu dengar binaural, penderita dapat dengan lebih mudah menentukan lokasi sumber suara (lokalisasi) 3. Efek peredam atau penekanan bising latar belakang (Binaural squelch) Binaural squelch adalah kemampuan otak untuk memisahkan suara dengan bising. Hal ini disebut juga sebagai central masking dan dapat bekerja dengan lebih baik dengan membandingkan suara dari dua telinga 4. Sumasi binaural (Binaural loudness summation)[ Durlach, N.i. & Colburn, H.S. Binaural phenomena.
In: E.C. Carterette & M.P. Friedman (Eds.), Handbook of Perception, Volume IV 1978;365-466]

Sumasi binaural adalah kemampuan otak untuk memproses suara dengan lebih baik melalui informasi yang repetitif, dalam hal ini melalui sinyal suara yang serupa dari kedua telinga Paham yang dianut sekarang adalah bilamana mungkin sangat dianjurkan menggunakan pendengaran binaural. Akan tetapi, untuk alasan pribadi ataupun audiologik, pada beberapa pasien tidak dapat dilakukan amplifikasi binaural. Dengan demikian perlu dilakukan pemilihan salah satu telinga yang paling diuntungkan dengan teknik amplifikasi. Secara

umum dapat dikatakan bahwa telinga yang terpilih adalah telinga dengan diskriminasi bicara yang lebih baik dan dengan rentang dinamik yang lebih luas. Rentang dinamik adalah perbedaan antara tingkat ambang pendengaran dengan ambang ketidaknyamanan pendengaran. Gangguan pendengaran unilateral Untuk pasien dengan gangguan pendengaran unilateral, diberlakukan penanganan yang berbeda. Bila ketulian unilateral tidak melampaui kehilangan sebesar 60-70 dB, atau bila diskriminasi bicara relatif baik dan jika bunyi yang diperbesar ditoleransi dengan baik, maka dapat dilakukan amplifikasi pada telinga yang terganggu. Akan tetapi bila telinga yang terganggu tidak memenuhi kriteria diatas, dapat digunakan alat bantu dengar CROS (Contralateral Routing Of Signals = Pengalihan sinyal kontralateral). Mikrofon diletakkan pada satu alat bantu sementara amplifier dan penerima ditempatkan pada alat bantu kedua. Penataan seperti ini dapat pula diterapkan pada kacamata. Maka sinyal akan dihantarkan dari telinga yang terganggu ke telinga dengan pendengaran normal. Suatu sirkuit frekuensi radio dapat digunakan untuk menghantarkan bunyi dari satu sisi ke sisi lainnya. Meskipun alat bantu dengar CROS hanya sedikit membantu dalam memperbaiki lokalisasi, namun alat ini kadang-kadang terbukti bermanfaat pada beberapa kondisi mendengar suara bising dan juga meminimalkan efek bayangan kepala. Berbagai variasi CROS yang disebut Bi-CROS atau Multi-CROS dapat digunakan bila terdapat gangguan pendengaran yang cukup bermakna pada telinga yang lebih baik, sedangkan telinga yang lebih buruk tidak sesuai untuk teknik amplifikasi. Tipe Bi-CROS memiliki mikrofo pada masing-masing alat bantu dan suatu pemasok bunyi amplifier pada telinga yang lebih baik [BOIES] Setelah itu, klinisi menentukan jenis alat bantu pendengaran yang sesuai dengan jenis gangguan pendengaran pasien dan mempertimbangkan keuntungan dan kerugian dari berbagai jenis alat bantu pendengaran, baik dari aspek medis maupun pribadi pasien. Berikut tabel ringkas keuntungan dan kerugian macam-macam ABD: Jenis alat bantu pendengaran Body Worn Type Keuntungan Harga murah Baterai tahan lama Kerugian Bentuk besar dan Ada kabel

mudah didapat Feedback tidak ada Amplifikasi lebih kuat Pengaturan manual mudah

Bunyi gesekan dengan kain Selit menangkap suara dari belakang Dapat rusak oleh sekret

telinga pasien Behind-the-ear type Amplifikasi kuat Feedback minimal Pengaturan manual relatif Membutuhkan ear mould Memberikan efek oklusi Dapat rusak oleh sekresi telinga pasien In-the-ear type Sulit terlihat Amplifikasi terbatas Membutuhkan ear mould In-the-canal type Sulit terlihat Amplifikasi cukup Rentan terhadap feedback baik Pengaturan manual sulit

karena terpasang dalam

Completely-in-canal

Tidak terlihat kecuali melihat Pengaturan manual sulit langsung ke liang telinga Rentan feedback pemakai Fitur tertentu tidak dapat digunakan

Spectacle aid

Secara kosmetik lebih dapat Letak receiver menjadi relatif diterima tidak stabil Harga mahal Ketersediaan masih terbatas karena merupakan teknologi baru

Open-fit mini BTE

Baterai relatif lebih tahan Amplifikasi kuat Feedback minimal Pengaturan mudah Sulit terlihat Tidak perlu ear mould Tidak oklusi Memungkinkan keluarnya menimbulkan efek

sekret telinga pasien

PELENGKAP ALAT BANTU PENDENGARAN Assistive Listening Device Seorang pengguna APD membutuhkan kemampuan pendengarannya dalam berbagai situasi, akan tetapi secara garis besar kebutuhan utama seorang pengguna APD adalah: 1. Kemampuan berkomunikasi dengan orang lain secara langsung 2. Kemampuan menggunakan media telekomunikasi 3. Kemampuan mendengarkan sinyal tertentu seperti alarm kebakaran, bunyi bel, dll

Sayangnya, tidak semua APD dapat mencakup ketiga kebutuhan tersebut, terutama kebutuhan nomor 2 dan 3. Karenanya, dibutuhkan Assistive Listening Device (ALD) ALD adalah perangkat elektronik untuk meningkatkan kenyamanan mendengar pada kondisi lingkungan pendengaran tertentu seperti menonton televisi, mendengarkan telepon, mendengar suara bel rumah, dan pada saat berada di ruang aula / auditorium. ALD dapat dipergunakan tersendiri atau dipasang pada ABD dengan maksud mengoptimalkan kerja ABD. Untuk ALD yang dihubungkan dengan ABD, dikenal beberapa jenis: 1. Sistim kabel Receiver ABD dihubungkan melalui kabel dengan mikrofon yang digunakan oleh lawan bicara. Cara ini dapat membantu pada pembicaraan jangka pendek. Juga dapat dihubungkan dengan pesawat televisi, radio, walkman, pemutar CD dan perangkat audio lainnya. Sistim ini memiliki keterbatasan karena ditentukan oleh panjangnya kabel 2. Sistim FM (Frequency Modulation) ABD dihubungkan dengan sumber suara tanpa mempergunakan kabel (wireless). Suara dari lawan bicara dipancarkan melalui sinyal/gelombang radio FM menuju ABD yang digunakan. Cara ini lebih fleksibel dibandingkan dengan sistem kabel 3. Sistim Infra merah Sinyal dari sumber bunyi dipancarkan melalui gelombang sinar infra merah, seperti halnya dengan remote control. Sistem infra merah ini memerlukan jalan sinyal bebas hambatan antara transmitter dengan receiver 4. Induction loops Perangkat ini menghasilkan suatu medan magnet yang akan meningkatkan kenyamanan mendengar. Medan magnet tersebut akan ditangkap oleh receiver yang ada pada suatu headphone atau ABD. Rangkaian yang luas dapat dipasang disekitar leher dan dihubungkan denagn telepon, pemutar CD, dan lain-lain

Sedangkan ALD yang tidak terhubung pada ABD antara lain: Internal telephone amplifier, external telephone amplifier, TV/radio/tape audio input, Telephone signal amplifier, Highintensity doorbell, Visual alert device, Tactile alert device, dan lain-lain.

Fitur Tambahan ABD Selain dengan menggunakan ALD, peneliti juga kerap berusaha memperbaiki performa ABD melalui penemuan demi penemuan teknologi baru yang dapat menyokong penggunaan ABD. Teknologi tersebut antara lain: 1. Compression Kebanyakan pengguna ABD adalah penderita tuli sensorineural, yang pada dasarnya memiliki sifat recruitment. ABD yang lebih modern memperkenalkan fitur comperssion (non-linear amplification), yaitu kemampuan ABD untuk mengeraskan suara dengan gain yang berbeda. Pada linear amplification, gain (Selisih suara asli dengan suara amplifikasi) akan tetap, akan tetapi dengan implementasi sistem compression, ketika suara asli mencapa titik tertentu (kneepoint) gain yang dihasilkan akan dikurangi agar tidak memberikan suara yang terlalu besar pada penderita dengan efek recruitment. Hasilnya, suara yang kurang keras akan dikeraskan tetapi suara yang sudah keras tidak akan dikeraskan terlalu banyak. Variasi lainnya adalah multi-band compression, yang pada intinya adalah compression dengan kneepoint yang berbeda-beda pada frekuensi tertentu 2. Directional & Dual Microphones Salah satu keluhan utama pengguna ABD adalah ketidakmampuan berkomunikasi dalam suasana yang ramai. Hal ini disebabkan karena suasana yang ramai seringkali ikut diamplifikasi bersama dengan suara lawan bicara, sehingga membingungkan pengguna. Hal ini dapat diatasi dengan menggunakan Directional atau Dual Microphones. Mikrofon jenis ini terdiri dari dua buah port atau mic, di depan dan dibelakang alat bantu dengar. Fitur tambahan ini dapat mengurangi masukan bising melalui perhitungan akurat dari selisih waktu masuknya bunyi yang diterima mic belakang dengan mic depan, dimana lawan bicara diasumsikan berada. Fitur ini juga mengurangi masukan suara dari arah selain depan pengguna sehingga dapat meminimalisir bising sekitar. Akan tetapi, fitur ini meningkatkan kemungkinan menangkap noise pada lingkungan pendengaran yang sunyi, sehingga

kebanyakan fitur ini dapat dimatikan dan dinyalakan pada kondisi pendengaran yang bising. Kekurangan dari fitur ini adalah memerlukan jarak minimal 3mm antara kedua mic, sehingga tidak memungkinkan untuk dipasang pada ABD yang berukuran kecil 3. Multiple Programs Berbagai jenis ABD menyajikan fitur multiple program, dimana setiap program menyimpan setting yang disesuaikan untuk digunakan pada kondisi tertentu. Misalnya, pada kondisi pesta dan kondisi sendiri di rumah, program yang digunakan berbeda dimana pada kondisi pesta lebih diutamakan gungsi noise-masking, sedangkan pada kondisi sunyi di rumah lebih diutamakan fungsi amplifikasi suara sehingga pengguna dapat lebih mudah menyadari peringatan tertentu. Fungsi lainnya adalah pada penderita dengan gangguan pendengaran yang berubah-ubah, misalnya pada penderita Menieres disease, dimana settingan yang lebih kuat dapat diaktifkan hanya pada saat serangan. Beberapa ABD modern bahkan dapat mengubah programnya secara otomatis dengan menyesuaikan diri pada kondisi suara yang didapat. 4. Telecoils Salah satu keluhan utama pengguna ABD adalah bahwa mereka tidak dapat mendengarkan telefon dengan baik ketika mereka mengenakan ABD mereka. Hal ini disebabkan adanya bunyi berdenging akibat feedback yang muncul karena dekatnya receiver telefon dengan mikrofon ABD. Untuk mengatasi masalah ini, banyak ABD menggunakan telecoils yang berfungsi sebagai inductance loop, dimana telecoils ini akan secara otomatis mengamplifikasi gelombang electromagnetic yang memang dihasilkan oleh benda-benda elektronik seperti telefon, dimana gelombang tersebut akan mengurangi / menghentikan kerja dari mikrofon ABD, sehingga pengguna dapat berkomunikasi seperti biasa.

Implan Koklea Implan koklea merupakan perangkat elektronik yang mempunyai kemampuan menggantikan fungsi koklea untuk meningkatkan kemampuan mendengar dan berkomunikasi pada pasien tuli saraf berat dan total bilateral. Implan koklea sudah mulai dimanfaatkan semenjak 25 tahun yang lalu dan berkembang pesat di negara maju. Implantasi koklea

pertama kali dikerjakan di Indonesia pada bulan Juli 2002. Selama 4 tahun terakhir telah dilakukan implantasi koklea pada 27 anak dan 1 orang dewasa. Indikasi dan Kontra Indikasi pemasangan implan koklea Indikasi pemasangan implan koklea adalah keadaan tuli saraf berat bilateral atau tuli total bilateral (anak maupun dewasa) yang tidak / sedikit mendapat manfaat dengan alat bantu dengar konvensional, usia 12 bulan sampai 17 tahun, tidak ada kontraindikasi medis dan calon pengguna mempunyai perkembangan kognitif yang baik. Sedangkan kontra indikasi pemasangan implan koklea antara lain tuli akibat kelainan pada jalur saraf pusat (tuli sentral), proses penulangan koklea, dan koklea tidak berkembang Cara kerja implan koklea Perangkat implan koklea terdiri dari: 1. Komponen luar: Mikrofon, Speech processor, kabel pengubung, dan transmitter 2. Komponen dalam: Receiver dan Multi-channel electrode Impuls suara ditangkap oleh mikrofon dan diteruskan menuju speech processor melalui kabel penghubung. Speech processor akan melakukan seleksi informasi suara yang sesuai dan mengubahnya menjadi kode suara yang akan disampaikan ke transmitter. Kode suara akan dipancarkan menembus kulit menuju receiver atau

stimulator. Pada bagian ini kode suara akan dibah menjadi sinyal listrik dan akan dikirim menuju elektroda-elektroda yang sesuai di dalam koklea sehingga menimbulkan stimulasi serabut-serabut saraf. Pada speech processor terdapat sirkuit listrik khusus yang berfungsi meredam bising lingkungan. Persiapan implantasi koklea Untuk mendapatkan hasil optimal dari implantasi koklea perlu dilakukan persiapan yang matang mencakup konsultasi dengan orang tua untuk memperoleh informasi tentang riwayat penyakit anak serta harapan orang tua terhadap implantasi koklea. Pemeriksaan fisik meliputi

pemeriksaan THT, radiologik CT Scan untuk melihat keadaan koklea, dan laboratorium darah. Tes pendengaran yang harus dilakukan antara lain Behavioral Observation Audiometry (BoA), timpanometri, OAE, BERA, dan ASSR (Auditory Steady State Response) bila diperlukan serta audiometri nada murni untuk anak yang lebih besar dan kooperatif. Tes kemampuan wicara dan berbahasa perlu dinilai sebelum menggunakan ABD. Sebelum operasi dianjurkan untuk menggunakan ABD selama 8-10 minggu bersamaan dengan terapi audio verbal untuk menilai manfaatnya. Tes psikologi dilakukan untuk menilai kemampuan anak untuk belajar setelah dilakukan implantasi koklea. Program rehabilitasi pasca bedah Switch on yaitu pengaktifan alat, dilakuakn 2-4 minggu pasca bedah. Pemeriksaan CR Scan pasca bedah untuk menilai keadaan elektroda yang telah terpasang di dalam koklea. Pada anak yang tidak kooperatif data awal dapat diperoleh dengan melakukan NRT (Neural Response Telemetry) terlebih dahulu kemudian menetapkan C (Comfortable) level yaitu suara keras yang dapat ditoleransi tanpa menimbulkan rasa sakit dan T (Threshold) level yaitu suara terkecil yang dapat dideteksi. Uang dimaksud dengan pemetaan (mapping) adalah proses untuk menetapkan dan mengatur sejumlah aliran listrik yang disampaikan ke koklea. Program yang dibuat disimpan pada speech processor dan jumlahnya tergantung pad ajenis implan yang digunakan dan berbeda untuk setiap orang. Selanjutnya anak mengikuti program terapi audio verbal secara teratur disertai pemetaan berkala. Keberhasilan implantasi koklea ditentukan dengan menilai kemampuan mendengar, pertambahan kosa kata dan pemahaman bahasa.

VERIFIKASI PEMASANGAN Peraturan dari FDA (Foods and Drugs Administration) mengharuskan masa uji coba selama 30 hari untuk alat bantu dengar yang baru, suatu masa untuk mengetahui apakah alat tersebut cocok dan efektif bagi pemakai. Prosedur verifikasi pemasangan ABD pada pasien tersebut antara lain: 1. Assessment of Word Recognition & Sound Quality

Tujuan utama dari ABD adalah untuk memperbaiki fungsi komunikasi penderita. Bagi beberapa penderita, hal ini berarti kemampuan untuk mengenali dan membedakan berbagai kata dalam berbicara. Bagi beberapa pendengar, hal ini berarti kejelasan dan kejernihan suara yang cukup. Karenanya, klinisi harus melakukan penilaian peningkatan kemampuan pengenalan kata penderita dan kualitas suara ABD baik dalam kondisi yang ramai dan dalam kondisi yang tenang 2. Probe Tube Measure Pengukuran dengan probe tube merupakan tindakan noninfasif yang secara cepat menilai kekuatan suara yang diterima pada jarak 5mm dari membran timpani. Karena penilaian dilakukan di dalam liang teling pasien, maka hasilnya juga akan dipengaruhi oleh kondisi liang telinga pasien. Yang akan dinilai melalui pemeriksaan ini adalah Dynamic Range dari penderita, yaitu rentang antara Threshold Level dan Loudness Discomfort Level dari penderita. Bila alat pemeriksaan ini tidak ada, dapat juga dilakukan pemeriksaan Functional Gain, yakni selisih dari Threshold penderita tanpa dan dengan ABD 3. Subjective Scaling Pada akhirnya pemasangan ABD mengutamakan kualitas dan kenyamanan pendengaran dari penggunanya. Hal ini seringkali digunakan sebagai faktor utama untuk menentukan apakah pemakaian ABD pada suatu individu dianggap sukses atau kurang berhasil. Karenanya, perlu dilakukan penilaian subyektif kepuasan pengguna, baik dengan metode menjawab pertanyaan yang sudah disediakan, atau menggambarkan sendiri kondisi dan apa yang dirasakan pengguna setelah pemakaian ABD.

KESIMPULAN Alat Bantu Dengar (ABD) adalah Alat suatu perangkat elektronik yang berguna untuk memperkeras (mengamplifikasi) suara yang masuk ke dalam telinga, sehingga si pemakai dapat mendengar lebih jelas suara yang ada di sekitarnya Pada umumnya, mekanisme kerja ABD berupa: masuknya suara melalui mikrofon, pengerasan suara oleh amplifier, dan penyampaian ulang suara oleh receiver / loudspeaker yang mana keseluruhan sistemnya diperdayai oleh suatu komponen baterai Terdapat berbagai macam jenis ABD: Menurut sistem kerjanya, Menurut jenis hantarannya, dan Menurut bentuknya yang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Untuk pemakaian alat bantu pendengaran, pertama-tama klinisi harus mengidentifikasi derajat ketulian penderita, mengenali jenis ketuliannya, menentukan TL, MCL, dan LDL, menentukan jumlah alat bantu dengar yang sebaiknya digunakan oleh pasien, baru kemudian bersama pasien mempertimbangkan bentuk ABD yang akan digunakan beserta kelebihan, kekurangan, dan faktor-faktor lain dari diri pasien. Seringkali ABD sendiri tidak cukup untuk mengembalikan kualitas hidup pasien secara sempurna. Karenanya dibutuhkan pelengkap dari ABD yang bisa berupa: ALD, baik ALD

yang dihubungkan ke ABD maupun tidak; Fitur-fitur tambahan; dan Implantasi koklea bila ABD tidak dapat memberikan hasil yang memuaskan Setelah Pemakaian ABD, perlu dilakukan penilaian ulang untuk menentukan keberhasilan pemakaian ABD dengan beberapa tes, seperti Assessment of Word Recognition & Sound Quality, Probe Tube Measure, dan Subjective Scaling