Anda di halaman 1dari 24

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Entomologi adalah cabang ilmu biologi yang mempelajari tentang vektor , kelainan dan penyakit yang disebabkan oleh artopoda. Entomon artinya serangga dan logos artinya ilmu. Artopoda mempunyai 4 tanda morfologi yang jelas, yaitu badan beruas-ruas, umbai-umbai beruas-ruas, mempunyai eksoskalet dan bentuk badan simetris bilateral. Sebelah luar badan serangga dilapisi oleh kitin yang pada bagian tertentu mengeras dan membentuk eksoskelet yang berfungsi sebagai penguat tubuh, pelindung alat dalam, tampak melekat otot, pengatur penguapan air dan penerus rangsang yang berasal dari luar badan. Umbai-umbai tumbuh menurut fungsinya : pada kepala tumbuh menjadi antenna dan mandibula, pada toraks menjadi kaki dan sayap, pada abdomen menjadi kaki pengayuh. Seperti pada hewan vertebrata, artopoda juga mempunyai system pencernaan, pernapasan ( dengan trakea ), saraf ( otak dan ganglion ), peredaran darah ( terbuka ) dan system reproduksi.Selama pertumbuhannya serangga mengalami perubahan bentuk yang disebut metamorphosis. Metamorphosis sempurna mempunyai stadium telur larva pupa dewasa. Antara tingkat muda dan dewasa ada perbedaan morfologi yang jelas, disertai perbedaan biologi (tempat hidup dan makanan). Pada metamorphosis tidak sempurna dijumpai telur ( larva ) nimfa dewasa. Morfologi serta biologi bentuk muda dan dewasa hamper sama. Peran artopoda dalam ilmu kedokteraan, dibagi dalam beberapa golongan, yaitu yana menularkan penyakit ( vektor dan hospes perantara ), yang menyebabkan penyakit ( parasit ), yang menimbulkan kelainan karena toksin yang dikeluarkan, yang menyebabkan alergi pada orang yang rentan dan yang menimbulkan entomofobia. Serangga dapat menularkan penyakit melalui beberapa cara. Penularannya secara mekanik berlangsung dari penderita ke orang lain dengan perantaraan bagian luar tubuh serangga. Misalnya, telur cacing, kista protozoa dan bakteri usus dapat dipindahkan dari tinja ke makanan melalui kaki atau badan lalat rumah. Penularan secara biologic dilakukan setelah parasit/ agen yang diisap serangga vektor mengalami proses biologic

dalam tubuh vektor. Bila di dalam tubuh vektor, parasit ( virus, bakteri, spirokaeta ) hanya membelah diri menjadi banyak, penularan ini, disebut penularan propagatif.

BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Filariasis
Filariasis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh cacing Filaria. Penyakit ini bersifat menahun (kronis) dan bila tidak mendapatkan pengobatan dapat menimbulkan cacat menetap berupa pembesaran kaki, lengan dan alat kelamin baik perempuan maupun laki-laki. Parasit ini termasuk kedalam superfamili Filaroidea, family onchorcercidae. Menurut lokasi kelainan yang ditimbulkan, terdapat dua golongan filariasis, yaitu yang menimbulkan kelainan pada saluran limfe (filariasis limfatik) dan jaringan subkutis (filariasis non limfatik).

1. Filariasis Limfatik
Filariasis limfatik adalah filariasis di mana cacing dewasa penyebab penyakit itu berkembang biak di sistem limfatik. Penyebab utama filariasis limfatik adalah Wuchereria bancrofti, Brugia malayi dan Brugia timori. Filariasis limfatik ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles spp.,Culex spp., Aedes spp. dan Mansonia spp. Wuchereria bancrofti Filariasis bancrofti atau Wuchereriasis adalah penyakit yang disebabkan oleh Wuchereria bancrofti. Vektor utama filariasis di daerah perkotaan adalah Culex quinguefasciatus, sedangkan di pedesaan filariasis bancrofti dapat ditularkan melalui Anopheles aconitus, Anophles bancrofti dan Anopheles farauti. Morfologi cacing ini berbentuk slindris, halus seperit benang dan berwarna putih susu. Cacing makrofilaria, baik jantan dan betina hidup pada saluran kelenjer limfe. Cacing betina ukurannya 65-100 mmx0,25 mm, sedangkan cacing jantan berukuran 40mmx0,1 mm.Mikrofilaria hidup pada aliran darah tepi pada waktutertetu saja. Pada manusia, cacing dewasa berada dalam saluran dan kelenjar lymphe. Cacing betina akan melahirkan mikrofilaria (ovo vivipar) sesuai dengan sifat periodisitasnya. Umumnya mikrofilaria W.bancrofti periodisitasnya nokturna/malam hari. Pada siang hari mikrofilaria terdapat pada kapiler organ dalam seperti paru-paru, jantung dan ginjal.
3

Didalam tubuh manusia mikrofilaria dapat bertahan hidup lama tanpa mengalami perubahan bentuk. Bila kebetulan ada nyamuk yang sesuai menggigit penderita tersebut, maka mikrofilaria akan ikut terhisap bersama darah penderita dan masuk ke tubuh nyamuk. Mikrofilaria yang terhisap masuk pada saat terjadinya gigitan, sesampai di lambung nyamuk akan melepaskan sheathmya. Dalam waktu 1-2 jam kemudian ia menembus dinding usus nyamuk menuju ke otot-otot thorax untuk mengadakan metamorfosis. Dalam waktu kurang lebih 2 hari mikrofilaria akan tumbuh menjadi larva stadium I (l24250 mikron X 10-17 mikron) dan 3-7 hari kemudian menjadi larva stadium II yang panjangnya (225-330 mikron dan lebar 15-30 mikron) dan pada hari ke 10-11 pertumbuhan larva dapat dikatakan telah lengkap menjadi larva stadium III dengan ukuran panjang 1500-2000 mikron dan lebarnya 18-23 mikron), yaitu stadium yang infektif untuk manusia. Larva tersebut bermigrasi ke kelenjar ludah (proboscis) dan siap untuk ditularkan bila nyamuk tersebut menggigit manusia lagi. Ada pun gejala yang timbul akibat dari penyakit ini yaitu : demam berulang kali setiap satu hingga 2 bulan (selama 3-5 hari), tampak gejala pembengkakan kelenjer di paha dan ketiak. Bila diraba kelenjer ini akan terasa panas, pembengkakan pada daerah seperti tungkai kaki, lengan, payudara, skrotum. DEC merupakan satu-satunya obat penyakit kaki gajah yang efektif, aman dan relatif murah. Aturan dosis yang dianjurkan untuk 6 mg/kg berat badan/hari selama 12 hari diminum sesudah makan, dalam sehari 3 kali. Pada pengobatan massal, digunakan pemberian DEC dosis rendah dengan jangka waktu pemberian yang lebih lama, misalnya dalam bentuk gram DEC 0,2 % 0,4 % selama 9-12 bulan. Untuk orang dewasa digunakan 100 mg/minggu selama 40 hari. Ini memiliki efek samping yang meliputi: pusing, demam, sakit kepala, mual dan otot dan nyeri sendi. Brugia malayi dan Brugia timori Penyakit yang disebabkan Brugia malayi disebut filariasis malayi. Sedangkan Penyakit yang disebabkan Brugia timori disebut filariasis timori. Vektor dari penyakit ini adalah Anopheles barbirostris, nyamuk Mansonia. Parasit ini berbentuk halus sepeti benang dan berwarna putih susu. Cacing dewasa jantan dan betina hidup di saluran dan
4

pembuluh limfe. Pada Brugia malayi, ukuran cacing betina 55 mmx0,16 mm, dan cacing jantan 22-23 mmx0,09 mm. Sedangkan Brugia timori, cacing betina berukuran 21-39 mmx0,08 mm dan jantan 12-23 mm x 0,08 mm.

Vektor Filariasis Limfatik


Beberapa jenis nyamuk yang dapat bertindak sebagai vektor filariasis limpatik yaitu : a) Nyamuk anopheles. Phylum : Arthropoda Classis : Hexapoda / Insecta Sub Classis : Pterigota Ordo : Diptera Familia : Culicidae Sub Famili : Anophellinae Genus : Anopheles Beberapa spesies Anopheles yang penting sebagai vektor malaria di Indonesia antara lain Anopheles sundauicus, Anopheles aconitus, Anopheles barbirotris, Anopheles koch, Anopheles maculates, Anopheles subpictus, Balabacensis (Anonymous, 2011).

b) Nyamuk aedes aegepty Klasifikasi nyamuk Aedes aegypti adalah sebagai berikut; Divisi : Arthropoda Classis : Insecta Ordo : Diptera Sub-Ordo : Nematocera Superfamili : Culicoidea Famili : Culicidae Sub-Famili : Culicinae Genus : Aedes Species : Aedes Aegypti

c) Nyamuk culex Klasifikasi nyamuk culex adalah sebagai berikut: Kingdom : Animalia Phylum : Arthropoda Class : Insecta Ordo : Diptera Family : Culicidae Genus : Culex Morfologi Nyamuk memiliki ciri-ciri umum, yaitu ukuran tubuh yang relatif kecil (4 mm - 13 mm) dan rapuh. Kepalanya mempunyai probosis halus dan memiliki panjang yang melebihi panjang kepala dan merupakan serangga yang memiliki sepasang sayap sehingga tergolong pada ordo Diptera dan family Culicidae. Nyamuk dewasa berbeda dari ordo Diptera lainnya karena nyamuk memiliki probosis yang panjang dan sisik pada bagian tepi dan vena sayapnya. Tubuh nyamuk terdiri atas tiga bagian yaitu kepala, dada dan perut. Nyamuk memiliki sepasang antena berbentuk filiform berbentuk panjang dan langsing serta terdiri atas 15 segmen. Antena dapat digunakan sebagai kunci untuk membedakan kelamin pada nyamuk dewasa. Antena nyamuk jantan lebih lebat daripada nyamuk betina (Lestari, 2010).

Palpus dapat digunakan sebagai kunci identifikasi karena ukuran dan bentuk palpus masing-masing spesies berbeda. Sepasang palpus terletak diantara antena dan probosis. Palpus merupakan organ sensorik yang digunakan untuk mendeteksi karbondioksida dan mendeteksi tingkat kelembaban. Probosis merupakan bentuk mulut modifikasi untuk menusuk. Nyamuk
6

betina mempunyai probosis yang lebih panjang dan tajam, tubuh membungkuk serta memiliki bagian tepi sayap yang bersisik. Dada terdiri atas protoraks, mesotoraks dan metatoraks. Mesotoraks merupakan bagian dada yang terbesar dan pada bagian atas disebut scutum yang digunakan untuk menyesuaikan saat terbang. Sepasang sayap terletak pada mesotoraks. Nyamuk memiliki sayap yang panjang, transparan dan terdiri atas percabangan-percabangan (vena) dan dilengkapi dengan sisik. Kaki terdapat pada setiap segmen dan dilengkapi dengan sisik. Perut nyamuk tediri atas sepuluh segmen, biasanya yang terlihat segmen pertama hingga segmen ke delapan, segmen-segmen terakhir biasanya termodifikasi menjadi alat reproduksi. Beberapa jenis nyamuk, seperti Culex dan Mansonia memiliki ujung perut yang tumpul (Lestari, 2010). Pada nyamuk betina probosis dipakai sebagai alat untuk menghisap darah, sedangkan pada nyamuk jantan untuk menghisap bahan-bahan cair seperti cairan tumbuh-tumbuhan, buahbuahan dan juga keringat. Di kiri kanan probosis terdapat palpus yang terdiri dari 5 ruas dan sepasang antenna yang terdiri dari 15 ruas. Antena pada nyamuk jantan berambut lebat (plumose) dan pada nyamuk betina jarang (pilose). Sebagian besar torax yang tampak (mesonotum), diliputi bulu halus. Bulu ini berwarna putih/kuning dan membentuk gambaran yang khas untuk masingmasing spesies. Posterior dari mesonotum terdapat skutelum yang pada anophelini bentuknya melengkung (rounded) dan pada culicini membentuk 3 lengkung (trilobus). Sayap nyamuk panjang dan langsing, mempunyai vena yang permukannya ditumbuhi sisik-sisik sayap (wing scales) yang letaknya mengikuti vena. Pada pinggir sayap terdapat sederetan rambut yang disebut fringe. Abdomen berbentuk silinder yang terdiri atas 10 ruas. 2 ruas yang terakhir berubah menjadi alat kelamin. Nyamuk mempunyai 3 pasang kaki (hexapoda) yang melekat pada toraks dan tiap kaki terdiri dari 1 ruas femur, 1 ruas tibia dan 5 ruas tarsus.(Gandahusada dkk, 2000).

Gambar perbedaan morfologi nyamuk (Michigan Mosquito Control Association, 2002)

Dibawah ini adalah ciri-ciri dari beberapa nyamuk yaitu : 1. Nyamuk Aedes aegypti (L.) Telur Aedes Aegypti diletakkan pada bagian yang berdekatan dengan permukaan air atau menempel pada permukaan benda yang terapung. Jentik nyamuk Aedes Aegypti memiliki rambut abdomen dan pada stadium ini jentik membentuk sudut dan terdapat alat untuk menghisap oksigen.

Gambar larva Aedes aegepty Larva Aedes aegepty membentuk sudut dan terdapat alat untuk menghisap oksigen. Probosis Aedes lebih panjang daripada nyamuk lainnya. Pupa merupakan stadium terakhir dari nyamuk yang berada di dalam air. Pada stadium ini tidak memerlukan makanan dan terjadi pembentukan sayap sehingga dapat terbang. Stadium kepompong memakan waktu lebih kurang satu sampai dua hari. Pada fase ini nyamuk membutuhkan waktu 2-5 hari untuk menjadi nyamuk, dan selama fase ini pupa tidak akan makan apapun dan akan keluar dari larva menjadi nyamuk yang dapat terbang dan keluar dari air. Stadium pupa pada nyamuk Aedes berada dibawah permukaan air dengan melingkarkan badannya. Ekor pupa agak lurus dengan kepala melingkar dan menempel dibadannya namun tidak bertemu dengan ekor.

Gambar pupa Aedes aegepty Nyamuk dewasa segera setelah muncul dari pupa nyamuk jantan dan betina akan akan kawin dan nyamuk betina yang sudah dibuahi akan menghisap darah dalam waktu 24-36 jam. Darah merupakan sumber protein yang esensial untuk mematangkan telur. Perkembangan dari telur hingga dewasa memerlukan waktu sekitar 10 sampai 12 hari (Anonymous, 2011).

Gambar nyamuk Aedes aegepty dewasa Nyamuk A. aegypti memiliki ciri khas, yaitu memiliki kaki belang dan adanya dua garis lengkung yang berwarna putih keperakan di kedua sisi lateral dan dua buah garis putih sejajar di garis median dari punggungnya yang berwarna dasar hitam. Nyamuk ini hidup di dalam dan di sekitar rumah (Lestari, 2010). Berwarna hitam dengan loreng putih (belang-belang berwarna putih) di sekujur tubuh nyamuk. Bisa terbang hingga radius 100 meter dari tempat menetas. Nyamuk betina membutuhkan darah setiap dua hari sekali. Nyamuk betina
9

menghisap darah pada pagi hari dan sore hari. Senang hinggap di tempat gelap dan benda tergantung di dalam rumah. Hidup di lingkungan rumah, bangunan dan gedung. Nyamuk bisa hidup sampai 2-3 bulan dengan rata-rata 2 minggu (Anonymous, 2009).

2. Nyamuk Culex quinquefasciatus (Say) Seekor nyamuk betina mampu meletakan 100-400 butir telur. Setiap spesies nyamuk mempunyai kebiasaan yang berbeda-beda. Nyamuk Culex sp meletakan telurnya diatas permukaan air secara bergelombolan dan bersatu membentuk rakit sehingga mampu untuk mengapung. Setelah kontak dengan air, telur akan menetas dalam waktu 2-3 hari. Pertumbuhan dan perkembangan larva dipengaruhi oleh faktor temperature, tempat perindukan dan ada tidaknya hewan predator. Pada kondisi optimum waktu yang dibutuhkan mulai dari penetasan sampai dewasa kurang lebih 5 hari. Pupa merupakan stadium terakhir dari nyamuk yang berada di dalam air, pada stadium ini tidak memerlukan makanan dan terjadi pembentukan sayap hingga dapat terbang, stadium kepompong memakan waktu lebih kurang satu sampai dua hari. Pada fase ini nyamuk membutuhkan 2-5 hari untuk menjadi nyamuk, dan selama fase ini pupa tidak akan makan apapun dan akan keluar dari larva menjadi nyamuk yang dapat terbang dan keluar dari air. Telur Culex diletakkan di atas permukaan air dan saling berlekatan sehingga membentuk rakit (raft). Pada stadium jentik membentuk sudut dan terdapat alat untuk menghisap oksigen seperti nyamuk Aedes aegepty, akan tetapi pada Culex alat penghisap lebih panjang dan tidak begitu menempel di permukaan. Pupa Culex berada dibawah permukaan air dan menggantung dengan melingkarkan tubuhnya sehingga kepala hampir bertemu dengan ekor pupa. Nyamuk C. quinquefasciatus memiliki tubuh berwarna kecokelatan, probosis berwarna gelap tetapi kebanyakan dilengkapi dengan sisik berwarna lebih pucat pada bagian bawah, scutum berwarna kecoklatan dan terdapat warna emas dan keperakan di sekitar sisiknya. Sayap berwarna gelap, kaki belakang memiliki femur yang berwarna lebih pucat, seluruh kaki berwarna gelap kecuali pada bagian persendian. Nyamuk C. quinquefasciatus bisa hidup baik di dalam maupun luar ruangan (Lestari, 2010).

10

Gambar nyamuk Culex dewasa 3. Nyamuk Anopheles Nyamuk Anopheles meletakkan telurnya dipermukaan air satu per satu atau bergerombolan tetapi saling lepas dan mempunyai alat pengapung. Nyamuk Anopheles memiliki ciri-ciri yaitu Menggigit di waktu malam hari di dalam dan di luar rumah. Sesudah menghisap darah, nyamuk beristirahat pada dinding dalam meja rumah yang gelap, lembap, di bawah meja, di tempat tidur, atau di bawah dan di belakang lemari (dinkes jabar, 2011). Jentik nyamuk Anopheles tidak memiliki sifon (tabung pernafasan), rambut abdomen tidak banyak, jentik berada sejajar dengan permukaan air. Pupa anopheles memiliki breathing trumpet yang berfungsi sebagai alat pernafasan, pupa ini berada dibawah permukaan air dengan tubuh menggulung kepala dan ekor hampir bertemu. Anopheles dewasa memiliki probosis dan palpi yang sama panjang, pada palpi bergelang pucat atau tidak sama sekali. Scutellum bebentuk satu lengkungan ( lingkaran). Urat sayap bernoda pucat dan gelap, jumbai biasanya terdapat noda pucat atau gelap sama sekali. Anopheles memiliki kaki yang panjang dan langsing, pada kaki belakang sering terdapat bintik-bintik atau bernoda coklat (Anonymous, 2009).

11

Gambar Anopheles dewasa

C.

Siklus hidup nyamuk Saat ini ada lebih dari 3.000 spesies nyamuk di dunia yang dikelompokkan dalam 39

genus dan 135 spesies. Proses biologi dalam kelompok ini cukup bervariasi, dan diperlukan sistem subdivisi umum untuk membagi masing-masing nyamuk menjadi pengelompokan yang logis. Crans (2004) menjelaskan bahwa Bates adalah ahli biologi nyamuk pertama yang mengkategorikan siklus hidup nyamuk atas dasar strategi siklus hidup bersama. Menurut Bates dalam sistem tersebut ada empat siklus hidup nyamuk beriklim sedang dan empat jenis siklus hidup nyamuk tropis, siklus tersebut dirancang untuk memisahkan spesies yang berkembang secara terus menerus dari mekanisme yang digunakan. Nyamuk sejak telur hingga menjadi nyamuk dewasa, sama dengan serangga yang mengalami tingkatan (stadia) yang berbeda-beda. Dalam siklus hidup nyarnuk terdapat 4 stadia dengan 3 stadium berkembang di dalam air dari satu stadium hidup dialam bebas (Nurmaini, 2003). Semua nyamuk harus memiliki air yang untuk melengkapi siklus hidup mereka. Air ini dapat berkisar dalam kualitas dari air salju mencair untuk pembuangan limbah dan dapat dalam wadah air secara umum. Jenis air di mana larva nyamuk ditemukan dapat digunakan untuk mengidentifikasi spesies nyamuk. Selain itu, air dapat digunakan oleh nyamuk dewasa untuk menunjukkan preferensi yang sangat berbeda di mana ia dapat bertelur. Mereka bertelur di tempat-tempat seperti seperti lubang pohon yang menahan air secara berkala, kolam air pasang di
12

rawa garam, kolam pembuangan limbah, irigasi yang ditumbuhi banyak rumput, kolam air hujan, dll. Setiap spesies memiliki persyaratan lingkungan yang unik dalam pemeliharaan siklus hidupnya (McCafferty, 2010). Nyamuk mengalami metamorfosis sempurna: Telur larva pupa dewasa. Stadium telur, larva, dan pupa hidup di dalam air sedangkan stadium dewasa hidup beterbangan. Empat stadium nyamuk tersebut, sebagai berikut:

Gambar siklus hidup nyamuk ((McCafferty, 2010). 1. Telur nyamuk. Telur yang baru diletakkan baerwarna putih, tetapi sesudah 1-2 jam berubah menjadi hitam. Pada genus Anopheles telur diletakkan satu per satu terpisah di permukaan air. Pada Aedes telur-telur ini juga diletakkan satu per satu terpisah tetapi telur ditemukan ditepi permukaan air pada lubang pohon dan containers, dapat juga pada lubang tanah yang kering yang kemudian digenangi air. Pada nyamuk Culex dan Mansonia telur diletakkan saling berlekatan sahingga membentuk rakit (raft). Telur Culex diletakkan di atas permukaan air, sadangkan telur Mansonia diletakkan di balik permukaan daun tumbuh-tumbuhan air (Gandahusada dkk, 2000). 2. Larva Telur nyamuk akan menetas menjadi larva setelah 2-4 hari, larva selalu hidup di air. Larva ini disebut juga dengan jentik nyamuk. Tempat perindukan (breeding place) untuk masingmasing spesies berlainan, misalnya rawa, kolam, sungai, sawah, kecomberan, dan tempat-tempat yang dapat digenangi air seperti got, saluran air, bekas jejak kaki binatang, lubang-lubang pohon, dan kaleng-kaleng. Larva terdiri atas 4 substadium (instar) dan mengambil makanan dari tempat

13

peridukannya. Pertumbuhan larva stadium I sampai dengan stadium IV berlangsung 6-8 hari pada Culex dan Aedes, sedangkan pada Mansonia pertumbuhan memerlukan waktu kira-kira 3 minggu (Gandahusada dkk, 2000). 3. Pupa Selama tahap pupa nyamuk berhenti makan dan perubahan terjadi yang mengarah ke tahap dewasa. Nyamuk dewasa muncul dari kepompong, meninggalkan water air dan dapat hidup di udara (Public Health Pest Management Section, 2011). Walaupun pupa ini tidak makan, akan tetapi masih memerlukan oksigen yang diambilnya melalui tabung pernafasan (breathing trumpet). Pupa dapat tumbuh menjadi dewas memerlukan waktu 1-3 hari sampai beberapa minggu. Pupa jantan menetas terlebih dahulu daripada pupa betina (Gandahusada dkk, 2000). 4. Nyamuk dewasa Nyamuk jantan dan betina dewasa memiliki perbandingan 1:1, nyamuk jantan keluar terlebih dahulu dari kepompong, baru disusul nyamuk betina, dan nyamuk jantan tersebut akan tetap tinggal di dekat sarang, sampai nyamuk betina keluar dari kepompong, setelah jenis betina keluar, maka nyamuk jantan akan langsung mengawini betina sebelum mencari darah. Selama hidupnya nyamuk betina hanya sekali kawin (Nurmaini, 2003). Nyamuk betina menghisap darah untuk pembentukan telur, tetapi ada beberapa spesies yang tidak memerlukan darah untuk pembentukan telurnya (autogen), misalnya Toxorhynchintes amboinensis (Gandahusada dkk, 2000).

Vektor Filariasis Non Limfatik


Vektor filariasis non limfatik ialah lalat yang termasuk dalam ordo Diptera dari kelas Insecta, yaitu genus Simulium dan Chrysops. Simulium mempunyai badan berukuran 2-3 mm, yang menghisap darah biasanya lalat betina yang aktif pada pagi hari dan sore hari. Simulium damnosum berperan sebagai vektor biologik onkosersiasis yang disebabkan oleh Onchocerca volvulus di Afrika, parasit ini menyebabkan kebutaan dan menjadi masalah kesehatan masyarakat di Afrika. Chrysops badannya sebesar lalat rumah, lalat jantan umumnya mengisap sari tumbuhtumbuhan sebagai makanan, sedangkan lalat betina mempunyai tipe mulut piercing-sucking dan menghisap darah. Lalat ini aktif menyerang manusia pada pagi dan sore hari. Cacing filarial Loa Loa yang menyebabkan Loaiasis di Afrika ditularkan oleh Chrysops silacea dan C. dimidiate.
14

Selain kedua spesies tersebut juga dilaporkan bahwa microfilaria Loaloa dapat berkembang normal dalam Chrysops centurionis, C.longicornis dan C.distinctipennis. Vektor filariasis Alimfatik adalah lalat yang termasuk dalam ordo Diptera dari kelas Insekta,yaitu genus Simulium dan Chrysops. Dari genus Simulium terdapat lalat yang bernama Simulium damnosum,lalat ini menyebabkan Onchocerca volvulus di Afrika. Sedangkan lalat dari jenis Chrysops,seperti Chrysops centurionis,Chrysops longicornis dan Chrysops distinctipennis dapat menyebarkan mikrofilaria Loa loa. 1. Simulium Ordo 1. Diptera Famili Simuliidae Psychodidae Sub fam: Phlebotomus Genus Simulium Spesies S.damnosum Phlebotomus sp P. papatasi P. sergenti Lutzomia verucorum Ceratopogonidae Culicidae Culicoides Culex C. variipens C. tarsalis C. pipiens C.tritaenorinchus Aedes A. aegypti Virus blu tongue Penyk. Tidur filariasis Jap.encephal. Yelow fever Dengue Sub fam: Anophelinae Anopheles A.quadrimaculatus dsb Malaria Vektor/parasit Onchocerca Leishmania Bartonella Penyakit virus

Phlebotominae

15

Ciri-ciri

: mempunyai badan berukuran 2-3 mm, yang menghisap darah biasanya hanya lalat betina yang aktif pada pagi hari dan sore hari.

Beberapa spesies: Simulium damnosum vektor biologik onkosersiasis parasit: Onchocerca volvulus (di Afrika) menyebabkan kebutaan. Vektor Onchocerca volvulus di Amerika Simulium metallicum Simulium ochraceum Simulium callidum Genus simulium Beberpa spesies insekta dalam genus simulium adalah vektor penyakit. Nyamuk ini sering disebut black flies, walaupun beberapa spesies berwarna abu-abu.

16

Daur hidup Larva berkembang baik hanya pada air yang mengalir dan cukup akan kebutuhan oksigen. Nyamuk betina bertelur sekitar 200-800 butir diletakkan diatas permukaan air dan dengan cepat tenggelam. Begitu menetas, larva berputar-putar pada suatu benda dibawah permukaan air dan menempel pada benda tersebut dengan menggunakan penghisap pada bagian posterior perutnya. Larva memakan protozoa air, algae dan organisme kecil yang terbawa air. Larva dapat berputar-putar dan berpindah tempat melekat pada batu karang atau kayu dipinggir arus air. Sebelum menjadi pupa larva berputar dan membentuk pupa disekitar tubuhnya. Setelah moulting, pupa terlihat diam dan bernafas melalui insang. Dalam waktu beberapa hari sampai 34 minggu, insekta muda merangkak keluar dan menjadi dewasa. Beberapa spesies seperti Simulium damnosum dapat menjadi vektor Onchocerca volvulus.

17

2. Chrysops Sub ordo: Brachyera Muscidae Musca M. domestica bacteri spora jamur telur cacing cysta protozoa Glossina G. palpalis G. fuscipes G. tachinoides Trypanosomiasis Tabanidae Chrysops Chrysops sp Loa loa

Ciri-ciri

: badannya sebesar lalat rumah lalat jantan umumnya sari tumbuh-tumbuhan sebagai makanan lalat betina mempunyai tipe mulut piercing-sucking dan menghisap darah. aktif menyerang manusia pada pagi dan sore hari.

Beberapa spesies: Menyebabkan loasiasis di Afrika Chrysops silacea Chrysops centurionis Chrysops dimidiata

18

Sub ordo: Brachyera Genus Chrysops Biasanya ukuran tubuhnya kecil daengan bercak coklat pada sayapnya, suara terbangnya cukup halus dan hampir tidak terdengar sehingga ia dapat menggigit manusia tanpa diketahui. Dilihat kepentingannya dalam bidang medis ada 2 yaitu: 1) Sangat mengganggu karena gigitannya dan menghisap darah. 2) Menularkan penyakit secara mekanik dan biologik Karena ukuran mulutnya yang relatif besar, gigitan lalat ini akan terasa sangat sakit. Untungnya kebanyakan orang tidak menunjukkan reaksi alergik, walaupun gigitan tersebut sangat membekas. Gangguan dari lalat ini cukup mengakibatkan pengaruh serius terutama di daerah rekreasi dan pekerja pemotong kayu di hutan sehingga dapat menurunkan produktifitas kerja mereka. Cacing mata Loa loa, ditularkan oleh vektor lalat chrysops ini. Dimana ada dua strain filaria yaitu pada monyet dan pada manusia. Pada manusia ditularkan oleh Chrysops silacus dan C. dimidiatus. Daur Hidup

19

B. Gejala-gejala yang Ditimbulkan


Berdasarka penelitian yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia, gejala penyakit kaki gajah (filariasis) yang biasanya muncul adalah demam berulang-ulang selama 3-5 hari. Terjadi pembengkakan kelenjar getah bening tanpa luka di daerah lipatan paha, ketiak, dan tampak kemerahan. Kelenjar getah bening dapat pecah dan mengeluarkan nanah serta darah. Sasaran penyakit ini juga dapat terjadi pada pembebasaran tungkai, lengan, buah dada, kantong buah zakar. Gejala penyakit ini cukup sulit untuk dideteksi karena perjalanan penyakit yang tidak jelas dari satu stadium ke stadium berikutnya. Tetapi, Liliana Kurniawan,seorang peneliti penyakit menular dari Departemen Kesehatan RI, menjelaskan gejala penyakit kaki gajah dapat dibagi menjadi empat fase apabila diurut dari masa inkubasi. Masa inkubasi tersebut yaitu: Masa prepaten Masa prepaten, masa antara masuknya larva infektif sampai terjadinya mikrofilaremia berkisar antara 3-7 bulan. Pada masa ini gejala-gejala klinis yang ditimbulkan belum terdeteksi. Masa inkubasi Masa inkubasi, masa antara masuknya larva infektif sampai terjadinya gejala klinis berkisar antara 8-16 bulan. Gejala klinik akut Gejala klinik akut merupakan limfadenitis dan limfangitis (peradangan kelenjar getah bening) disertai panas dan malaise. Kelanjar yang terkena biasanya unilateral.

20

Filariasis brancofti Pembuluh limfe alat kelamin laki-laki sering terkena disusul funikulitis, epididimitis, dan orchitis. Umumnya sembuh dalam 3-15 hari dan serangan terjadi beberapa kali dalam setahun. Filariasis brugia Pembuluh limfe menjadi keras dan nyeri dan sering terjadi limfedema pada pergelangan kaki dan kaki. Serangan dapat terjadi 1-2 kali per tahun sampai beberapa kali per bulan. Kelenjar limfe yang terkena dapat menjadi abses, memecah, membentuk ulkus dan meninggalkan parut yang khas, setelah 3 minggu-3 bulan. Gejala menahun Gejala menahun terjadi 10-15 tahun setelah serangan akut pertama. Gejala yang ditimbulkan biasanya elephantiasis (penebalan kulit dan jaringan-jaringan di bawahnya). Elephantiasis biasanya menyerang bagian bawah tubuh, namun hal ini juga tergantung pada species filaria. W. bancrofti dapat menyerang kaki, tangan, vulva, dada, sedangkan Brugia timori jarang menyerang bagian kelamin. Infeksi oleh Onchocerca volvulus dan migrasi microfilariae lewat kornea adalah salah satu penyebab kebutaan (Onchocerciasis). Gejala menahun ini dapat menyebabkan terjadinya cacat yang mengganggu aktivitas penderita serta membebani keluarganya. Menurut Rita Marleta, seorang peneliti penyakit menular dari Badan Litbang Kesehatan, seseorang dinyatakan menderita kaki gajah jika dalam darah ditemukan mikrofilaria. Mengingat gejala yang ditimbulkan cukup sulit dideteksi dan mikrofilaria kaki gajah terdapat dalam darah, maka deteksi penyakit ini harus dilakukan di laboratorium melalui pemeriksaan darah. Pemeriksaan darah dilakukan pada malam hari sebab sifat filariasis pergerakan dalam tubuh hanya pada malam hari. Berdasarkan dari teori-teori beberapa pakar, gejala yang ditimbulkan oleh filariasis bertahap dan menahun. Gejala yang ditimbulkan disesuaikan dengan masa inkubasi mikrofilaria.
21

Untuk mengetahui seseorang menderita penyakit filiriasis atau tidak, dapat dilakukan pemeriksaan darah. Jika pemeriksaan darah menunjukkan terdapat mikrofilaria di dalam darah maka penderita dapat dipastikan menderita penyakit kaki gajah. C.

Penanganan dan Pengobatan Penyakit Kaki Gajah


Tujuan utama dalam penanganan dini terhadap penderita penyakit kaki gajah adalah membasmi parasit atau larva yang berkembang dalam tubuh penderita, sehingga tingkat penularan dapat ditekan dan dikurangi. Dietilkarbamasin {diethylcarbamazine (DEC)} adalah satu-satunya obat filariasis yang ampuh baik untuk filariasis bancrofti maupun malayi, bersifat makrofilarisidal dan mikrofilarisidal. Obat ini tergolong murah, aman dan tidak ada resistensi obat. Penderita yang mendapatkan terapi obat ini mungkin akan memberikan reaksi samping sistemik dan lokal yang bersifat sementara dan mudah diatasi dengan obat simtomatik. Dietilkarbamasin tidak dapat dipakai untuk khemoprofilaksis. Pengobatan diberikan oral sesudah makan malam, diserap cepat, mencapai konsentrasi puncak dalam darah dalam 3 jam, dan diekskresi melalui air kemih. Dietilkarbamasin tidak diberikanpada anak berumur kurang dari 2 tahun, ibu hamil/menyusui, dan penderita sakit berat atau dalam keadaan lemah. Namun pada kasus penyakit kaki gajah yang cukup parah (sudah membesar) karena tidak terdeteksi dini, selain pemberian obat-obatan tentunya memerlukan langkah lanjutan seperti tindakan operasi.

D. Pencegahan Penyakit Kaki Gajah


Bagi penderita penyakit gajah diharapkan kesadarannya untuk memeriksakan kedokter dan mendapatkan penanganan obat-obtan sehingga tidak menyebarkan penularan kepada masyarakat lainnya. Untuk itulah perlu adanya pendidikan dan pengenalan penyakit kepada penderita dan warga sekitarnya. Pemberantasan nyamuk diwilayah masing-masing sangatlah penting untuk memutus mata rantai penularan penyakit ini. Menjaga kebersihan lingkungan merupakan hal terpenting untuk mencegah terjadinya perkembangan nyamuk diwilayah tersebut.

22

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan
1. Filariasis limfatik adalah filariasis di mana cacing dewasa penyebab penyakit itu berkembang biak di sistem limfatik. Penyebab utama filariasis limfatik adalah Wuchereria bancrofti, Brugia malayi dan Brugia timori. Filariasis limfatik ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles spp.,Culex spp., Aedes spp. dan Mansonia spp. 2. Vektor filariasis Alimfatik adalah lalat yang termasuk dalam ordo Diptera dari kelas Insekta,yaitu genus Simulium dan Chrysops. Dari genus Simulium terdapat lalat yang bernama Simulium damnosum,lalat ini menyebabkan Onchocerca volvulus di Afrika. Sedangkan lalat dari jenis Chrysops,seperti Chrysops centurionis,Chrysops longicornis dan Chrysops distinctipennis dapat menyebarkan mikrofilaria Loa loa.

3.2 Saran
Bagi penderita penyakit gajah diharapkan kesadarannya untuk memeriksakan kedokter dan mendapatkan penanganan obat-obtan sehingga tidak menyebarkan penularan kepada masyarakat lainnya. Untuk itulah perlu adanya pendidikan dan pengenalan penyakit kepada penderita dan warga sekitarnya. Pemberantasan nyamuk diwilayah masing-masing sangatlah penting untuk memutus mata rantai penularan penyakit ini. Menjaga kebersihan lingkungan merupakan hal terpenting untuk mencegah terjadinya perkembangan nyamuk diwilayah tersebut.

23

DAFTAR PUSTAKA
Gandahusada ,Prof.dr. Sriasi , D Ilahude DAP&E,Drs.H. Herry , dan Pribadi,Prof.dr. Wita.Parasitologi Kedokteran.Edisi Ketiga,1998.Gaya Baru:Jakarta. http://kesmas-unsoed.blogspot.com/2011/04/makalah-nyamuk-aedes-dan.html http://kesmas-unsoed.blogspot.com/2011/03/makalah-anopheles-dan-pengendaliannya.html http://kesehatankeluarga.wordpress.com/2008/09/23/culex-quinquefasciatus-penyebar-penyakitkaki-gajah/ http://kesehatankeluarga.wordpress.com/2008/09/23/culex-quinquefasciatus-penyebar-penyakitkaki-gajah/

24