Anda di halaman 1dari 5

Makalah Fiqh Muamalah

ijk

KONSEP AKAD HIWALAH DALAM FIQH MUAMALAH

Oleh:
Rhesa Yogaswara
207000377

Magister Bisnis dan Keuangan Islam


Universitas Paramadina
Jakarta
2008
I. PENGERTIAN
Kata Hawalah, huruf haa’ dibaca fathah atau kadang-kadang dibaca kasrah,
berasal dari kata tahwil yang berarti intiqal (pemindahan) atau dari kata ha’aul
(perubahan). Orang Arab biasa mengatakan haala ’anil ’ahdi, yaitu berlepas diri dari
tanggung jawab. Sedang menurut fuqaha, para pakar fiqih, hawalah adalah
pemindahan kewajiban melunasi hutang kepada orang lain.
Hiwalah merupakan pengalihan hutang dari orang yang berutang kepada orang
lain yang wajib menanggungnya. Dalam hal ini terjadi perpindahan tanggungan atau
hak dari satu orang kepada orang lain. Dalam istilah ulama, hiwalah adalah
pemindahan beban hutang dari muhil (orang yang berhutang) menjadi tanggungan
muhal 'alaih (orang yang berkewajiban membayar hutang).

II. DASAR HUKUM HIWALAH


Islam membenarkan hiwalah dan membolehkannya karena ia diperlukan.
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW
bersabda:

.‫ﻲ َﻓ ْﻠ َﻴ ﱠﺘ ِﺒ ْﻊ‬
‫ﻋﻠَﻰ َﻣِﻠ ﱟ‬
َ ‫ﺣ ُﺪ ُآ ْﻢ‬
َ ‫ َﻓ ِﺈذَا ُأ ْﺗ ِﺒ َﻊ َأ‬،ٌ‫ﻇ ْﻠﻢ‬
ُ ‫ﻲ‬
‫ﻞ ا ْﻟ َﻐ ِﻨ ﱢ‬
ُ‫ﻄ‬
ْ ‫َﻣ‬

“Menunda-nunda pembayaran hutang yang dilakukan oleh orang mampu adalah


suatu kezaliman. Maka, jika seseorang di antara kamu dialihkan hak penagihan
piutangnya (dihawalahkan) kepada pihak yang mampu, terimalah” (HR. Bukhari).

Pada hadis ini, Rasulullah SAW memerintahkan kepada orang yang


menghutangkan, jika orang yang berhutang meng-hiwalah-kan kepada orang yang
kaya dan berkemampuan, hendaklah ia menerima hiwalah tersebut dan hendaklah ia
mengikuti (menagih) kepada orang yang di-hiwalah-kan (muhal 'alaih), dengan
demikian haknya dapat terpenuhi (dibayar).

Dan Menurut hadist riwayat Tirmidzi dari ‘Amr bin ‘Auf:

‫ﺷ ْﺮﻃًﺎ‬
َ ‫ﻻ‬
‫ﻃ ِﻬ ْﻢ ِإ ﱠ‬
ِ ‫ﺷﺮُو‬
ُ ‫ﻋﻠَﻰ‬ َ ‫ن‬
َ ‫ﺴِﻠﻤُﻮ‬
ْ ‫ﺣﺮَاﻣًﺎ وَا ْﻟ ُﻤ‬
َ ‫ﻞ‬
‫ﺣﱠ‬َ ‫ﻻ َأ ْو َأ‬
ً‫ﻼ‬
َ‫ﺣ‬َ ‫ﺣ ﱠﺮ َم‬
َ ‫ﺻ ْﻠﺤًﺎ‬
ُ ‫ﻻ‬
‫ﻦ ِإ ﱠ‬
َ ‫ﺴِﻠﻤِﻴ‬
ْ ‫ﻦ ا ْﻟ ُﻤ‬
َ ‫ﺢ ﺟَﺎ ِﺋ ٌﺰ َﺏ ْﻴ‬
ُ ‫اَﻟﺼﱡ ْﻠ‬
‫ﺣﺮَاﻣًﺎ‬
َ ‫ﻞ‬
‫ﺣﱠ‬َ ‫ﻻ َأ ْو َأ‬
ً‫ﻼ‬َ‫ﺣ‬َ ‫ﺣ ﱠﺮ َم‬
َ

“Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin kecuali perdamaian yang


mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram; dan kaum muslimin
terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal
atau menghalalkan yang haram.”

Dan menurut Ijma para Ulama, akad hiwalah telah disepakati boleh untuk
dilakukan. Hal ini didasari kepada kaidah fiqh:

‫ﺤ ِﺮ ْی ِﻤﻬَﺎ‬
ْ ‫ﻋﻠَﻰ َﺗ‬
َ ‫ﻞ‬
ٌ ‫ن َی ُﺪلﱠ َدِﻟ ْﻴ‬
ْ ‫ﻻ َأ‬
‫ﺣ ُﺔ ِإ ﱠ‬
َ ‫ﻹﺏَﺎ‬
ِ ‫ت ْا‬
ِ ‫ﻼ‬
َ ‫ﻞ ﻓِﻲ ا ْﻟ ُﻤﻌَﺎ َﻣ‬
ُ‫ﺻ‬
ْ ‫ﻷ‬
َ ‫َا‬.

“Pada dasarnya, semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang
mengharamkannya.”

KONSEP AKAD HIWALAH DALAM FIQH MUAMALAH – Rhesa Yogaswara


2
‫اَﻟﻀﱠ َﺮ ُر ُﻳﺰَا ُل‬

“Bahaya (beban berat) harus dihilangkan.”

III. RUKUN DAN SYARAT-SYARAT DALAM HIWALAH


Dalam hal ini, rukun akad hiwalah adalah muhil, yakni orang yang berhutang
dan sekaligus berpiutang, muhal , yakni orang berpiutang kepada muhil. Dan muhal
‘alaih, yakni orang yang berhutang kepada muhil dan wajib membayar hutang kepada
muhal, muhal bih, yakni hutang muhil kepada muhal, dan sighat (ijab-qabul),
Untuk sahnya hiwalah disyaratkan hal-hal berikut: pertama, relanya pihak
muhil dan muhal tanpa muhal 'alaih berdasarkan dalil kepada hadis di atas. Rasulullah
SAW telah menyebutkan kedua belah pihak, karenanya muhil yang berhutang
berkewajiban membayar hutang dari arah mana saja yang sesuai dengan
keinginannya. Dan karena muhal mempunyai hak yang ada pada tanggungan muhil,
maka tidak mungkin terjadi perpindahan tanpa kerelaannya.
Kedua, samanya kedua hak, baik jenis maupun kadarnya, penyelesaian, tempo
waktu, serta mutu baik dan buruk. Maka tidak sah hiwalah apabila hutang berbentuk
emas dan di-hiwalah-kan agar ia mengambil perak sebagai penggantinya. Demikian
pula jika sekiranya hutang itu sekarang dan di-hiwalah-kan untuk dibayar kemudian
(ditangguhkan) atau sebaliknya. Dan tidak sah pula hiwalah yang mutu baik dan
buruknya berbeda atau salah satunya lebih banyak.
Ketiga, stabilnya hutang. Jika peng-hiwalah-an itu kepada pegawai yang
gajinya belum lagi dibayar, maka hiwalah tidak sah. Keempat, kedua hak tersebut
diketahui dengan jelas. Apabila hiwalah berjalan sah, dengan sendirinya tanggungan
muhil menjadi gugur. Andaikata muhal 'alaih mengalami kebangkrutan atau
meninggal dunia, muhal tidak boleh lagi kembali kepada muhil. Demikianlah menurut
pendapat jumhur (kebanyakan) ulama.
Berikut adalah proses dalam akad Hiwalah berdasarkan definisinya:

Gambar 1. Proses akad Hiwalah berdasarkan definisinya

IV. BERAKHIRNYA HIWALAH


Apabila kontrak hiwalah telah terjadi, maka tanggungan muhil menjadi gugur.
Jika muhal’alaih bangkrut (pailit) atau meninggal dunia, maka menurut pendapat
Jumhur Ulama, muhal tidak boleh lagi kembali menagih hutang itu kepada muhil.
Menurut Imam Maliki, jika muhil “menipu” muhal, di mana ia menghiwalahkan
kepada orang yang tidak memiliki apa-apa (fakir), maka muhal boleh kembali lagi
menagih hutang kepada muhil.

V. FATWA MUI HIWALAH


Seiring dengan berkembangnya institusi keuangan Islam di Indonesia, maka
suatu aturan hukum turut pula dikembangkan untuk melegalisasi serta melindungi

KONSEP AKAD HIWALAH DALAM FIQH MUAMALAH – Rhesa Yogaswara


3
akad-akad yang sesuai Syari’ah Islam diterapkan dalam Sistem Keuangan Islam di
Indonesia. Maka dari itu, Dewan Syari’ah Nasional – Majelis Ulama Indonesia telah
mengeluarkan fatwa No: 12/DSN-MUI/IV/2000 tentang Hawalah disebutkan bahwa
pernyataan ijab dan qabul harus dinyatakan oleh para pihak untuk menunjukkan
kehendak mereka dalam mengadakan kontrak (akad).

VI. APLIKASI HIWALAH DALAM INSTITUSI KEUANGAN


Dalam praktek perbankan syariah fasilitas hiwalah lazimnya untuk membantu
supplier mendapatkan modal tunai agar dapat melanjutkan produksinya. Bank
mendapat ganti biaya atas jasa pemindahan piutang. Untuk mengantisipasi resiko
kerugian yang akan timbul, bank perlu melakukan penelitian atas kemampuan pihak
yang berutang dan kebenaran transaksi antara yang memindahkan piutang dengan
yang berutang. Katakanlah seorang supplier bahan bangunan menjual barangnya
kepada pemilik proyek yang akan dibayar dua bulan kemudian. Karena kebutuhan
supplier akan likuiditas, maka ia meminta bank untuk mengambil alih piutangnya.
Bank akan menerima pembayaran dari pemilik proyek. [1]
Dengan melihat berbagai transaksi modern saat ini yang menggunakan akad
Hiwalah, ditemukan bahwa telah terjadi perubahan model dalam proses akad
Hiwalah. Dimana pada model klasik berdasarkan definisi, Muhil menjadi hilang
tanggung jawab hutangnya karena muhal ’alaih yang meneruskan hutang muhil
kepada Muhal karena Muhal ’alaih telah memiliki hutang kepada muhil sebelumnya.
Namun dalam model modern saat ini, Muhil masih bertanggungjawab
terhadap hutangnya. Hanya pihak piutangnya saja yang berpindah dari muhal ke
muhal ’alaih. Dengan membandingkan Gambar.2 dan Gambar.1, kita bisa melihat
perbedaanya.

Gambar 2. Proses akad Hiwalah yang terjadi saat ini

Saat ini, akad hiwalah juga dapat diaplikasikan di Lembaga Keuangan


Syari'ah, seperti anjak piutang maupun debt transfer. BMT BIF Gedongkuning
sebagai salah satu Lembaga Keuangan Syari'ah juga menggunakan akad hiwalah
sebagai salah satu produk pembiayaan. Akad hiwalah digunakan jika anggota
mengajukan pinjaman untuk keperluan membayar biaya Rumah Sakit, sekolah atau
membayar hutang anggota di pihak lain yang hampir jatuh tempo. Dalam pelaksanaan
akad hiwalah tersebut, BMT BIF Gedongkuning mengenakan fee.
Namun, dalam prakteknya di BMT BIF Gedongkuning hanya dilakukan oleh
dua pihak yaitu pihak BMT BIF dan pihak anggota, sehingga jika dilihat, praktek
tersebut hampir sama dengan akad al-Qard (hutang piutang).

_______________________________________________________________________________________________________
[1] http://www.pkes.org/file/publication/ (akses tanggal 6 Desember 2008)

KONSEP AKAD HIWALAH DALAM FIQH MUAMALAH – Rhesa Yogaswara


4
Setelah melakukan penelitian di BMT BIF Gedongkuning Yogyakarta tentang
praktek hiwalah, dapat diambil kesimpulan antara lain: dari segi subyek, akad hiwalah
di BMT BIF Gedongkuning adalah sah. Dimana anggota sebagai muhil, pihak lain
(Rumah Sakit, sekolah atau person) adalah muhal, BMT BIF Gedongkuning adalah
muhal 'alaih.
Dari segi sigah, tidak sah karena salah satu dari tiga pihak tidak mengetahui
adanya akad hiwalah. Kemudian, dari segi pengenaan fee di BMT BIF Gedongkuning
tidak diperbolehkan karena akad hiwalah termasuk akad tabarru', yakni jenis akad
yang berkaitan dengan transaksi non profit atau transaksi yang tidak bertujuan untuk
mendapatkan laba / keuntungan. [2]
Kemudian contoh yang lain adalah dalam praktek Credit Card, istilah yang
pas (sesuai) adalah hiwalah haqq, karena terjadi perpindahan menuntut tagihan
(piutang) dari nasabah kepada bank oleh merchant. Contoh ini pun sama dengan
contoh BMT, dimana dari segi sigah, transaksi ini tidak sah dikarenakan salah satu
dari tiga pihak tidak mengetahui adanya akad hiwalah.

VII. KESIMPULAN
Akad hiwalah telah dapat diterapkan dalam Institusi Keuangan Islam di
Indonesia. Fatwa untuk akad ini telah dikeluarkan oleh Dewan Syari’ah Nasional –
Majelis Ulama Indonesia NO: 12/DSN-MUI/IV/2000. Hal ini akan mendukung
perkembangan produk-produk keuangan Islam dengan akad Hiwalah, yang mana
akan mendukung pula perkembangan perbankan dan investasi Syariah di Indonesia.
Namun terdapat beberapa hal yang masih diperdebatkan dan perlu untuk dikaji
lebih mendalam, dimana transaksi-transaksi yang telah berjalan masih terdapat
ketidak-sah-an dalam berakad.
Dari segi sigah, tidak sah karena salah satu dari tiga pihak tidak mengetahui
adanya akad hiwalah. Kemudian, dari segi pengenaan fee, dalam akad hiwalah
bertentangan dengan dasar akad hiwalah yang sebenarnya termasuk akad tabarru',
yakni jenis akad yang berkaitan dengan transaksi non profit atau transaksi yang tidak
bertujuan untuk mendapatkan laba / keuntungan.

VIII. DAFTAR PUSTAKA


Dewan Syariah Nasional, Fatwa tentang Hawalah, No.12 /DSN-MUI/IV/2000,
Majelis Ulama Indonesia

Fatimah, Siti. Tinjauan Hukum Islam Terhadap Praktek Hiwalah di BMT Bina
Ihsanul Fikri (BIF) Gedongkuning Yogyakarta. Thesis UIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta. 2008.

http://alislamu.com/index (akses tanggal 6 Desember 2008)

http://www.pkes.org/file/publication/ (akses tanggal 6 Desember 2008)

http://www.republika.co.id/launcher/view/mid/19/news_id/8246 (akses tanggal 6


Desember 2008)
_______________________________________________________________________________________________________
[2] Fatimah, Siti. Tinjauan Hukum Islam Terhadap Praktek Hiwalah di BMT Bina Ihsanul Fikri (BIF) Gedongkuning
Yogyakarta. Thesis UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. 2008.

KONSEP AKAD HIWALAH DALAM FIQH MUAMALAH – Rhesa Yogaswara


5