Anda di halaman 1dari 3

Aldy Muhammad Zulfikar E 131 09 005 Ilmu Hubungan Internasional Tugas Final Studi Kawasan Asia Selatan

Kebijakan China yang di arahkan ke Asia Selatan Political Factors Hubungan yang terjalin antara China dan negara-negara yang berada di sub-continent mungkin mulai dapat kita lihat bersama dalam zaman kuno, yang mana Budha yang berasal dari India namun justru lebih berpengaruh besar kemudian di China. Hingga memasuki zaman kolonialisme, telah terjadi beberapa kontak hubungan kembali antara pemimpin China dan India dalam upaya menentang dominasi eropa di wilayah mereka, walaupun kontak hubungan ini akhirnya bukanlah yang menjadi faktor utama dalam upaya India mencapai kemerdekaannya, ataupun sebaliknya ketika China berhasil mengatasi permasalahan Chinese civil war tanpa bantuan India. Setelah Chinese Communist memenangkan perang saudara, mereka tetap masih takut akan ada perlawanan kembali yang datang dari selatan merupakan sisa-sisa pejuang nasionalis yang berjuang di utara Burma selama 20tahun. Hubungan politik India-China menjadi penting, ketika Nehru dan Zhoun Enlai bekerjasama dalam membangun kekuatan gerkan non-blok. Namun, kerjasama antara 2bersaudara anti-kolonial ini diungkap dalam 5prinsip hanya berumur pendek. Bahkan Nehru dan Zhou Enlai mulai terlihat menegaskan kontrol atas tibet (1951). Menjadi salah satu alasan hubungan antara dua negara ini menjadi sangat renggang. China dan India seterusnya mulai terlibat konflik perbatasan di wilayah Tibet. China dan India sebenarnya ketika dibandingkan akan memperlihatkan sedikit kesamaan antara keduanya. Mereka adalah 2 negara yang sama-sama menempati banua Asia dan memiliki wilayah yang cukup luas hingga jumlah kepadatan penduduk yang cukup tinggi. Namun, wilayah perbatasanlah yang kemudian yang menjadi sumber sejarah konflik antara kedua negara ini. Penindasan China 1959 telah berhasil mendesak pemimpin politik dan spiritual Tibet, melarikan diri ke India utara. Selain itu, 1962 China dengan mudahnya menguasai beberapa wilayah India di Ladakh Region, dikarenakan serangan China yang secara mendadak ke wilayah tersebut tanpa ada persiapan matang dari India itu sendiri. Sebenarnya China telah cukup banyak memberikan gangguan ke wilayah di Asia Selatan utamanya di India. Hal paling mencolok masih di 1962 adalah perang India-China sebagai gambaran nyata adu kekuatan antara 2 kekuatan besar Asia.

China dengan prinsipnya musuh dari musuh saya adalah teman saya, selanjutnya mulai menjalin hubungan dengan Pakistan, karena mengetahui bahwa India-Pakistan juga sedang mengalami konflik tersendiri. China dan Pakistan awalnya menyelesaikan masalah sengketa perbatasan mereka sendiri, selanjutnya kontak militer terus berlanjut hingga memasuki perjanjian militer 1965 untuk menyepakati bahwa China selanjutnya menjadi penyalur utama bagi persenjataan Pakistan hingga ditanda tanganinya perjanjian produksi pertahanan 1974. Saat itu pula hubungan antara India-China semakin buruk. Pada 1976 akhirnya China-India kembali menjalin hubungan diplomatik walaupun tetap dalam keadaan yang sensitif. Setelah 10 tahun berlalu, Perdana Mentri India Rajiv Gandhi mencoba memperbaiki lebih lanjut hubungannya dengan China di 1988 dengan menginisiasi sebuah program membangun tindakan kepercayaan satu sama lain. Terus berupaya menegosiasikan dalam penyelesaian masalah perbatasan yang luar biasa terus hadir sejak 1989 hingga saat ini. Sementara beberpa wilayah perbatasan yang akhirnya disepakati, meski negosiasi masih terus dilanjutkan hingga 2004. China menjalin hubungan baik dengan Nepal karena negara ini memberikan keuntungan tersendiri terhadap China. Nepal memberikan wilayah hinterland dan menjadi basis penyokong utama yang dimanfaatkan China untuk mengamankan Tibet. China selalu memberikan bantuan kepada Nepal dalam bidang ekonomi seperti pembangunan pabrik dan jalan-jalan disana, serta proyek pembangkit listrik tenaga air. Hingga 1989, China menghentikan bantuannya ke Nepal melawan India. Disisi lainnya juga, China justru mendukung Bangladesh dalam hal untuk melawan India dalam perebutan wilayah Sungai Gangga. Banyak dinamika yang terlihat dalam hubungan politik yang terjadi antara China dan kawasan Asia Selatan tersebut. Economic Factors Kepentingan China di Asia Selatan sangatlah eksklusif dalam geopolitik hingga 1990an. China memberikan banyak bantuan terhadap negara-negara di kawasan tersbut utamanya Nepal dan Sri Lanka. Pada 1952, Chian menyepakati perjanjian dengan menukar karet Sri Lankda dengan beras dari China. Selain itu, China adalah penyokong utama bagi persenjataan di akistan. Tapi, aktifitas Pakistan ini bertujuan untuk melawan India, sehingga tidak berdampak signifikan bagi ekonomi China itu sendiri. Hingga reformasi institusi ekonomi di bawah Deng Xiaoping, kebijakan ekonomi China hampir menjadi autrki dan disaat lain Asia Selatan tumbuh menjadi salah satu sumber pokok bagi kebutuhan China akan bahan baku dan beberapa teknolginya.

Pada 1990, perekonomian China yang mulai memasuki perdagangan internasional, mulai melihat bahwa kawasan Asia Selatan sebagai salah satu prospek pasar yang menjanjikan bagi negaranya. China mulai menjalin beberpa kerjasama ekonomi yang cukup penting dengan negara-negara yang ada di kawasan Asia Selatan itu. China menjadi kawan penting bagi Nepal (baik sebagai pemasok ataupun sebagai pembeli) termasuk menjadi pemasok penting bagi negara India dan Bangladesh. Untuk Pakistan dan Sri Lanka tidak menjadi kawan utama dalam perdagangan China di Asia Selatan walaupun beberapa tahun terakhir China terus memberikan bantuannya kepada 2 negara tersebut. China hanya menjadi senjata kecil bagi Pakistan dan Sri Lanka. Perdagangan China ke Asia Selatan lebih penting dibanding harus berdagang ke China. China dapat dikatakan lebih sukses dibanding India dalam menarik investasi luar negeri. Pada 2002, China menarik $52.7 miliar, dibanding India yang hanya $5.5 miliar. Dua negara ini terus bersaing dalam menarik perhatian investasi luar negeri. China dan India tak luput dari pengaruh neoklasik dan ekonomi politik. Perekonomian Cina berkembang dengan pesat sejak pemerintahan Deng Xiaoping mulai membuka belenggu perekonomian negara pada tahun 1979. Karpet merah digelar bagi investor asing yang membawa masuk modal ke China dalam bentuk Foreign Direct Investment (FDI). Tak heran, hingga akhir 1990-an Cina tercatat sebagai negara tujuan FDI terbesar di Asia. Setiap dorongan pertumbuhan ekonomi ditandai dengan gelombang baru china fever oleh perusahaan asing. Peningkatan ini didukung dengan munculnya manifestasi baru dari kapitalisme Cina, seperti perusahaanperusahaan pribadi, kemakmuran konsumen, pabrik-pabrik ekspor, bursa saham, dan kantor partai komunis dalam suatu bisnis. India di pihak lain, selama kurang lebih 15 tahun yang lalu berada dalam pengawasan negara maju seperti Amerika dan Inggris. Reformasi ekonomi yang diawali tahun 1991 menghasilkan kemajuan dramatis yang membayangi keberhasilan India. Keberhasilan India tidak hanya dapat dilihat dari indikator GDP dan daya saing, namun juga tercermin dari harapan hidup warganya yang semakin panjang. Berbeda dengan China yang mengundang FDI, pada awalnya, keberhasilan India lebih banyak disokong oleh investasi domestik. Sampai akhir 90-an, meski industrialisasi di India cukup sukses, seperti software, desain semi konduktor, dan back-office call centers, namun sangat sedikit yang terlihat di pasar global. China terus melirik India di kawasan Asia selatan sebagai salah satu kawan atau pesaing yang cukup tangguh di kawasan Asia dalam pengembangan perekonomian baru di masa sekarang hingga masa depan.