Anda di halaman 1dari 5

handout workshop tie dye

Ikat celup atau tie dye adalah salah satu metode pemberian motif pada kain yang termasuk ke dalam teknik resist dyeing atau celup rintang, dengan cara mengikat bagian-bagian permukaan kain tersebut (umumnya) menggunakan tali berdasarkan pola tertentu, lalu dicelupkan ke dalam larutan pewarna. Bagian kain yang diikat tak dapat menyerap zat warna, oleh karena itu ketika tali pengikat dibuka, terlihatlah corak-corak yang bentuknya seringkali tidak beraturan pada kain yang sebelumnya polos. Namun, walaupun teknik ini bernama ikat celup, pada prakteknya proses perintangan pada kain tidak hanya menggunakan ikatan saja, tetapi bisa juga dengan menjahit jelujur, melipat-lipat kain, ataupun meremas kain yang kemudian diikat dengan tali hanya untuk menjaga agar bentuknya tidak berubah. Tie dye sudah dipraktekkan kira-kira sejak tahun 3.000 SM di wilayah Timur Jauh, akan tetapi baru sepenuhnya berkembang pada masa dinasti Tang (618-906 M) di Cina dan di Jepang pada periode Nara (552-794 M). Ketersediaan sutera dan rami yang sangat cocok dgunakan untuk teknik tersebut, membuat kedua negara di atas memiliki seni dan teknik ikat celup yang luar biasa. Beberapa suku kuno di bagian barat Cina, Asia Tenggara, serta Amerika Tengah juga melakukan metode yang sama pada serat (benang) sebelum menenunnya menjadi kain. Ketika telah ditenun, barulah motif ikat yang kontras dengan warna zat celup itu muncul. Maka dari itu, karena proses pengikatan dan pencelupan dilakukan sebelum benang ditenun, maka metode ini disebut dengan ikat atau tenun ikat.

pengantar

tie dye di berbagai negara

jumputan/pelangi & sasirangan

Kedua teknik ini terdapat di Indonesia, tepatnya pada daerah Sumatera Selatan dan Kelimantan Selatan. Kain jumputan umumnya menggunakan bahan sutera, dan memiliki motif antara lain bintik tujuh, kembang janur, bintik lima, bintik sembilan, cuncung (terong), bintang lima, dan bintik-bintik. Kain sasirangan berasal dari kata 'sa' yang artinya satu dan 'sirang' yang artinya jelujur. Dulu, oleh masyarakat setempat kain ini dipercaya dapat menyembuhkan penyakit, sehingga kain baru dibuat ketika ada yang meminta atau memesannya, sehingga kain sasirangan disebut juga sebagai kain pamintaan. Motif kain ini ada sekitar 30 macam, beberapa diantaranya adalah kembang kacang, ombak sinapur karang, bintang bahambur, turun dayang, daun jaruju, naga balimbur, iris pudak, tampuk manggis, dan kulat kurikit.

kain jumputan/pelangi

kain jumputan motif titik tujuh

sasirangan motif naga balimbur & iris pudak

sasirangan motif tampuk manggis & kulat kurikit

Teknik ini merupakan teknik celup ikat yang terdapat di Jepang. Teknik shibori memungkinkan kita untuk membuat bentuk motif, efek, dan tekstur yang sangat variatif. Beberapa teknik dasarnya adalah miura shibori, sujii shibori, kumo shibori, arashi shibori, kanoko shibori, dan nui shibori.

shibori

kanoko shibori

nui shibori

suji shibori

Bandhani adalah teknik tie dye di India, yang berasal dari kata 'bandhan' yang artinya mengikat. Bandhani awalnya dikerjakan secara eksklusif oleh komunitas muslim Khatri dari wilayah Kutch. Keterampilan ini diajarkan turun-temurun hingga dapat bertahan sampai sekarang. Produk bandhani memiliki bermacam-macam desain yang dikenal dengan nama-nama seperti gharchola, chandrokani, laheriya/leheriya, chokidal, shikari, dan sebagainya.

bandhani

gharchola

laheriya/leheriya

Adire adalah kain yang dibuat dengan teknik resist dyeing yang dibuat dan dipakai oleh masyarakat Yoruba, di bagian barat daya Nigeria. Kain adire ini identik dari warna birunya yang diperoleh dari pewarna alam indigo. Ada 3 teknik dasar adire, tapi yang menggunakan konsep ikat celup hanya 2, yaitu adire oniko dan adire alabere.

adire

adire oniko, sahada pattern

adire alabere

alat dan bahan


1. Pensil untuk membuat desain di atas kain 2. Jarum untuk menjelujur dan gunting 3. Alat pendukung untuk membuat motif: > Balok kayu > Kelereng > Batu > Stik kayu/dahan berdiameter sedang > Pipa PVC > dll. 4. Tali Rafia dan benang 5. Kompor dan Panci 6. Sendok kayu, penjepit, atau alat lain untuk mengangkat kain dari rebusan pewarna 7. Sarung tangan karet bila perlu, agar tangan tidak terkena pewarna 8. Baskom berisi air dingin, untuk fiksasi sekaligus menghilangkan sisa pewarna yang tidak terserap oleh kain

alat

1. Pewarna, bisa berupa pewarna sintetis atau alami 2. Kain atau pakaian yang ingin diberi motif, sebaiknya yang berbahan serat alam seperti: > Katun > Sutra > Linen > Rami > dll 3. Garam atau cuka sebagai penguat warna

bahan

beberapa teknik dasar