Anda di halaman 1dari 45

LAPORAN PENDAHULUAN BENIGNA PROSTAT HIPERPLASI ( BPH )

I.

PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG BPH merupakan penyakit degeneratif yang lebih sering terjadi pada orang dengan usia lebih lanjut. Pada usia yang lanjut masalah yang mungkin muncul pada kasus BPH akan lebih komplek karena psikologis yang menurun, ketahanan tubuh yang menurun. Setiap pasien yang masuk rumah sakit pastilah mempunyai masalah, dan mereka berharap besar bahwa masalahnya akan segera terselesaikan. Akan lebih baik apabila kita tidak hanya berprioritas menyelesaikan masalaahnya saja tetapi juga menyiapkan pasien agar mampu mengatasai masalah setelah sepulang dari rumah sakit. Agar hal tersebut bisa dicapai maka pasien BPH memerlukan perawatan yang komprehensif dan profesional. Agar pasien merasa terlindungi dan terjaga dari masalah yang muncul akibat penyakitnya. B. TUJUAN Tujuan dalam penulisan ini adalah : 1. 2. 3. Mengetahui dan memehami tentang penyakit BPH dan Mengetahui dan memahami masalah keperawatan yang muncul Menerapkan asuhan keperawatan kepada pasien dnegan BPH. penatalaksanaannya. pada kasus BPH

II.

TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian BPH (Benigna Prostat Hyperplasi) adalah pembesaran progresif dari kelenjar prostat yang dapat menyebabkan obstruksi dan ristriksi pada jalan urine (urethra). B. Etiologi Mulai ditemukan pada umur kira-kira 45 tahun dan frekuensi makin bertambah sesuai dengan bertambahnya umur, sehingga diatas umur 80 tahun kira-kira 80 % menderita kelainan ini. Sebagai etiologi sekarang dianggap ketidakseimbangan endokrin. kelenjar adrenal) mempengaruhi bagian tengah prostat. C. Faktor Predisposisi/Faktor Pencetus Karena etiologi yang belum jelas maka melahirkan beberapa hipotesa yang diduga timbulnya Benigne Prostat Hyperplasia antara lain : 1. Hipotesis Dihidrotestosteron (DHT) Peningkatan 5 alfa reduktase dan reseptor androgen akan menyebabkan epitel dan stroma dari kelenjar prostatmengalami hiperplasia. 2. Ketidak seimbangan estrogen testoteron Dengan meningkatnya usia pada pria terjadi peningkatan hormon Estrogen dan penurunan testosteron sedangkan estradiol tetap. yang dapat menyebabkan terjadinya hyperplasia stroma. 3. Interaksi stroma - epitel Peningkatan epidermal gorwth faktor atau fibroblas gorwth faktor dan penurunan transforming gorwth faktor beta menyebabkan hiperplasia stroma dan epitel. 4. Penurunan sel yang mati Estrogen yang meningkat menyebabkan peningkatan lama hidup stroma dan epitel dari kelenjar prostat. 5. Teori stem cell Sel stem yang meningkat mengakibatkan proliferasi sel transit. Testosteron dianggap mempengaruhi bagian tepi prostat, sedangkan estrogen (dibuat oleh

D. Patofisiologi BPH terjadi pada umur yang semakin tua (> 45 tahun ) dimana fungsi testis sudah menurun. Akibat penurunan fungsi testis ini menyebabkan ketidakseimbangan hormon testosteron dan dehidrotesteosteron sehingga memacu pertumbuhan/pembesaran prostat. Makrokospik dapat mencapai 60 - 100 gram dan kadang-kadang lebih besar lagi hingga 200 gram atau lebih. Tonjolan biasanya terdapat pada lobus lateralis dan lobus medius, tetapi tidak mengenai bagian posterior dari pada lobus medialis, yaitu bagian yang dikenal sebagai lobus posterior, yang sering merupakan tempat berkembangnya karsinoma (Moore). Tonjolan ini dapat menekan urethra dari lateral sehingga lumen urethra menyerupai celah, atau menekan dari bagian tengah. Kadang-kadang penonjolan itu merupakan suatu polip yang sewaktu-waktu dapat menutup lumen urethra. Pada penampang, tonjolan itu jelas dapat dibedakan dengan jaringan prostat yang masih baik. Warnanya bermacam-macam tergantung kepada unsur yang bertambah. Apabila yang bertambah terutama unsur kelenjar, maka warnanya kung kemerahan, berkonsistensi lunak dan terbatas tegas dengan jaringan prostat yang terdesak, yang berwarna putih keabu-abuan dan padat. Apabila tonjolan itu ditekan maka akan keluar caiaran seperti susu. Apabila unsur fibromuskuler yang bertambah, maka tonjolan berwarna abu-abu padat dan tidak mengeluarkan cairan seperti halnya jaringan prostat yang terdesak sehingga batasnya tidak jelas. Gambaran mikroskopik juga bermacam-macam tergantung pada unsur yang berproliferasi. Biasanya yang lebih banyak berproliferasi ialah unsur kelenjar sehingga terjadi penambahan kelenjar dan terbentuk kista-kista yang dilapisi oleh epitel torak atau koboid selapis yang pada beberapa tempat membentuk papil-papil ke dalam lumen. Membran basalis masih utuh. Kadang-kadang terjadi penambahan kelenjar yang kecil-kecil sehingga menyerupai adenokarsinoma. Dalam kelenjar sering terdapat sekret granuler, epitel yang terlepas dan corpora anylacea. Apabila unsur fibromuskuler yang bertambah, maka terjadi gambaran yang terjadi atas jaringan ikat atau jaringan otot dengan kelenjar-kelenjar yang letaknya saling berjauhan. Gambaran ini juga dinamai hiperplasi fibrimatosa atau hiperplasi leiomymatosa. Pada jaringan ikat atau jaringan otot biasanya terdapat serbukan limfosit. Selain gambaran di atas sering terdapat perubahan lain berupa : 1. 2. Metaplasia skwamosa epitel kelenjar dekat uretra. Daerah infark yang biasanya kecil-kecil dan kadang-kadang terlihat di

bawah mikroskop.

Tanda dan gejala dari BPH adalah dihasilkan oleh adanya obstruksi jalan keluar urin dari kandung kemih. Ada tiga cara pengkuran besarnya hipertropi prostat : Rectal Grading, yaitu dengan rectal toucher diperkirakan berapa cm prostat yang menonjol ke dalam lumen rektum yang dilakukan sebaiknya pada saat buli-buli kosong. Gradasi ini adalah : 0 - 1 cm 1 - 2 cm 2 - 3 cm 3 - 4 cm > 4 cm dari normal. Clinical Grading, dalam hal ini urine menjadi patokan. Pada pagi hari : grade 0 : grade 1 : grade 2 : grade 3 : grade 4

Pada grade 3 - 4 batas prostat tidak teraba. Prostat fibrotik, teraba lebih kecil

setelah bangun pasien disuruh kencing sampai selesai, kemudian di masukan kateter ke dalam buli-buli untuk mengukur sisa urine. Sisa urine 0 cc Sisa urine 0-50 cc Sisa urine > 150 cc Tidak bisa kencing : normal : grade 1 : grade 3 : grade 4

Sisa urine 50-150 cc : grade 2

Intra Uretral Grading, dengan alat perondoskope dengan diukur /

dilihat bebrapa jauh penonjolan lobus lateral ke dalam lumen uretra. Grade I : Clinical grading sejak berbulan-bulan, bertahun-tahun, mengeluh kalau kencing tidak lancar, pancaran lemah, nokturia. Grade II : Bila miksi terasa panas, sakit, disuria. Grade III : Gejala makin berat

Grade IV : Buli-buli penuh, disuria, overflow inkontinence. Bila overflow inkontinence dibiarkan dengan adanya infeksi dapat terjadi urosepsis berat. Pasien menggigil, panas 40-41 celsius, kesadaran menurun. E. Tanda dan gejala Walaupun hyperplasi prostat selalu terjadi pada orangtua, tetapi tidak selalu disertai gejala-gejala klinik. Gejala klinik terjadi terjadi oleh karena 2 hal, yaitu : 1. 2. Penyempitan uretra yang menyebabkan kesulitan berkemih. Retensi air kemih dalam kandung kemih yang menyebabkan dilatasi

kandung kemih, hipertrofi kandung kemih dan cystitis. Gejala klinik dapat berupa : Frekuensi berkemih bertambah Berkemih pada malam hari. Kesulitan dalam hal memulai dan menghentikan berkemih. Air kemih masih tetap menetes setelah selesai berkemih. Rasa nyeri pada waktu berkemih.

Kadang-kadang tanpa sebab yang diketahui, penderita sama sekali tidak dapat berkemih sehingga harus dikeluarkan dengan kateter. Selain gejala-gejala di atas oleh karena air kemih selalu terasa dalam kandung kemih, maka mudah sekali terjadi cystitis dan selanjutnya kerusakan ginjal yaitu hydroneprosis, pyelonefritis. Gejala klinis yang ditimbulkan oleh Benigne Prostat Hyperplasia disebut sebagai Syndroma Prostatisme. Syndroma Prostatisme dibagi menjadi dua yaitu : 1. Gejala Obstruktif yaitu : a. Hesitansi yaitu memulai kencing yang lama dan seringkali disertai dengan mengejan yang disebabkan oleh karena otot destrussor buli-buli memerlukan waktu beberapa lama meningkatkan tekanan intravesikal guna mengatasi adanya tekanan dalam uretra prostatika. b. Intermitency yaitu terputus-putusnya aliran kencing yang karena ketidakmampuan otot destrussor dalam disebabkan c. d.

pempertahankan tekanan intra vesika sampai berakhirnya miksi. Terminal dribling yaitu menetesnya urine pada akhir kencing. Pancaran lemah : kelemahan kekuatan dan kaliber pancaran

destrussor memerlukan waktu untuk dapat melampaui tekanan di

uretra. e. Rasa tidak puas setelah berakhirnya buang air kecil dan terasa belum puas. 2. Gejala Iritasi yaitu : a. b. c. Urgency yaitu perasaan ingin buang air kecil yang sulit ditahan. Frekuensi yaitu penderita miksi lebih sering dari biasanya dapat Disuria yaitu nyeri pada waktu kencing.

terjadi pada malam hari (Nocturia) dan pada siang hari.

F. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan Radiologi Pada Pemeriksaan Radiologi ditujukan untuk a. Menentukan volume Benigne Prostat Hyperplasia b. Menentukan derajat disfungsi buli-buli dan volume residual urine c. Mencari ada tidaknya kelainan baik yang berhubungan dengan Benigne Prostat Hyperplasia atau tidak Beberapa Pemeriksaan Radiologi a. Intra Vena Pyelografi ( IVP ) : Gambaran trabekulasi buli, residual urine post miksi, dipertikel buli. Indikasi : disertai hematuria, gejala iritatif menonjol disertai urolithiasis : Impresi prostat, hockey stick ureter Tanda BPH

b. BOF : Untuk mengetahui adanya kelainan pada renal c. Retrografi dan Voiding Cystouretrografi : untuk melihat ada tidaknya refluk vesiko ureter/striktur uretra. d. USG : Untuk menentukan volume urine, volume residual urine dan menilai pembesaran prostat jinak/ganas Pemeriksaan Endoskopi. Pemeriksaan Uroflowmetri Berperan penting dalam diagnosa dan evaluasi klien dengan obstruksi leher buli-buli Q max : > 15 ml/detik non obstruksi 10 - 15 ml/detik border line < 10 ml/detik obstruktif

Pemeriksaan Laborat

Urinalisis (test glukosa, bekuan darah, UL, DL, RFT, LFT, Elektrolit, Na,/K, Protein/Albumin, pH dan Urine Kultur) Jika infeksi:pH urine alkalin, spesimen terhadap Sel Darah Putih, Sel Darah Merah atau PUS. RFT evaluasi fungsi renal Serum Acid Phosphatase Prostat Malignancy G. Penatalaksanaan A. Non Pembedahan 1. 2. Memperkecil gejala obstruksi hal-hal yang menyebabkan Menghindari minum banyak dalam waktu singkat, menghindari pelepasan cairan prostat. alkohol dan diuretic mencegah oven distensi kandung kemih akibat tonus otot detrussor menurun. 3. 4. Menghindari obat-obat penyebab retensi urine seperti Observasi Watchfull Waiting : anticholinergic, anti histamin, decongestan. Yaitu pengawasan berkala/follow up tiap 3 6 bulan kemudian setiap tahun tergantung keadaan klien Indikasi : BPH dengan IPPS Ringan Baseline data normal Flowmetri non obstruksi 5. Terapi medikamentosa pada Benigne Prostat Hyperplasia Terapi ini diindikasikan pada Benigne Prostat Hyperplasia dengan keluhan ringan, sedang dan berat tanpa disertai penyulit serta indikasi pembedahan, tetapi masih terdapat kontra indikasi atau belum well motivated. Obat yang digunakan berasal dari Fitoterapi, Golongan Supressor Androgen dan Golongan Alfa Bloker. a. Fito Terapi a) b) c) Hypoxis rosperi (rumput) Serenoa repens (palem) Curcubita pepo (waluh )

b. Pemberian obat Golongan Supressor Androgen/anti androgen : a) b) c) Inhibitor 5 alfa reduktase Anti androgen Analog LHRH

c. Pemberian obat Golongan Alfa Bloker/obat penurun tekanan diuretra-prostatika : Prazosin, Alfulosin, Doxazonsin, Terazosin 6. Bila terjadi retensi urine a. Kateterisasi Intermiten Indwelling b. Dilakukan pungsi blass c. Dilakukan cystostomy 7. B. Pembedahan 1. 2. Trans Uretral Reseksi Prostat : 90 - 95 % Open Prostatectomy : 5 - 10 % Prostetron (Trans Uretral Microwave Thermoterapy/TUMT)

BPH yang besar (50 - 100 gram) Tidak habis direseksi dalam 1 jam. Disertai Batu Buli Buli Besar (>2,5cm), multiple. Fasilitas TUR tak ada. Mortalitas Pembedahan BPH 0 - 1 % KAUSA : Infark Miokatd Septikemia dengan Syok Perdarahan Massive Kepuasan Klien : 66 95 % Indikasi Pembedahan BPH Retensi urine akut Retensi urine kronis Residual urine lebih dari 100 ml BPH dengan penyulit Hydroneprosis Terbentuknya Batu Buli Infeksi Saluran Kencing Berulang Hematuri berat/berulang Hernia/hemoroid Menurunnya Kualitas Hidup Retensio Urine Gangguan Fungsi Ginjal Terapi medikamentosa tak berhasil Sindroma prostatisme yang progresif Flow metri yang menunjukkan pola obstruktif Flow. Max kurang dari 10 ml

Kurve berbentuk datar Waktu miksi memanjang Kontra Indikasi IMA CVA akut Tujuan : Mengurangi gejala yang disertai dengan obstruksi leher buli-buli Memperbaiki kualitas hidup

Trans Uretral Reseksi Prostat 90 - 95 % Dilakukan bila pembesaran pada lobus medial. Keuntungan : Lebih aman pada klien yang mengalami resiko tinggi pembedahan Tak perlu insisi pembedahan Hospitalisasi dan penyebuhan pendek Kerugian : Jaringan prostat dapat tumbuh kembali Kemungkinan trauma urethra strictura urethra. Retropubic Atau Extravesical Prostatectomy Prostat terlalu besar tetapi tak ada masalah kandung kemih Perianal Prostatectomy Pembesaran prostat disertai batu buli-buli Mengobati abces prostat yang tak respon terhadap terapi conservatif Memperbaiki komplikasi : laserasi kapsul prostat Suprapubic Atau Tranvesical Prostatectomy

H. Pathway Faktor usia Faktor hormonal

BPH

berkemih urin berkemih menetes

Kesulitan Retensi Sakit saat Urin

Penatalaksanaan operasi : TURP & Open Prostatektomi Kurangnya informasi, belum adanya pengalaman Adanya luka operasi, terpasang katetr

Masalah keperawatan : Retensi urin

Masalah keperawatan : Kurangnya pengetahuan

Masalah keperawatan : Cemas

Masalah keperawatan ; Nyeri akut

Masalah keperawatan : Risiko infeksi

PK : Perdarahan

I. Pengkajian 1. 2. Sirkulasi : Peningkatan tekanan darah (efek lebih lanjut pada ginjal ) Eliminasi : Penurunan kekuatan / kateter berkemih. Ketidakmampuan pengosongan kandung kemih. Nokturia, disuria, hematuria. Duduk dalam mengosongkan kandung kemih. Kekambuhan UTI, riwayat batu (urinary stasis). Konstipasi (penonjolan prostat ke rektum) Masa abdomen bagian bawah, hernia inguinal, hemoroid (akibat peningkatan tekanan abdomen pada saat pengosongan kandung kemih) 3. Makanan / cairan: Anoreksia, nausea, vomiting. Kehilangan BB mendadak. 4. Nyeri / nyaman : Suprapubis, panggul, nyeri belakang, nyeri pinggang belakang, intens (pada prostatitis akut). 5. 6. Rasa nyaman : demam Seksualitas : Perhatikan pada efek dari kondisinya/tetapi kemampuan seksual. Takut beser kencing selama kegiatan intim. Penurunan kontraksi ejakulasi. Pembesaran prostat. 7. Pengetahuan / pendidikan : Riwayat adanya kanker dalam keluarga, hipertensi, penyakit gula. Penggunaan obat antihipertensi atau antidepresan, antibiotika / antibakterial untuk saluran kencing, obat alergi. PRE OPERATIF CARE Mengkaji kecemasan klien, mengoreksi miskonsepsi tentang pembedahan dan memberikan informasi yang akurat pada klien Type pembedahan Jenis anesthesi TUR P, general / spina anesthesi

Cateter : folly cateter, Continuous Bladder Irigation (CBI).

Persiapan orerasi lainnya yaitu : Pemeriksaan lab. Lengkap : DL, UL, RFT, LFT, pH, Gula darah, Pemeriksaan EKG Pemeriksaan Radiologi : BOF, IVP, USG, APG. Pemeriksaan Uroflowmetri Bagi penderita yang tidak memakai Pemasangan infus dan puasa Pencukuran rambut pubis dan lavemen. Pemberian Anti Biotik Surat Persetujuan Operasi (Informed Concern). Elektrolit

kateter.

POST OPERATIF CARE Post operatif care pada dasarnya sama seperti pasien lainnya yaitu monitoring terhadap respirasi, sirkulasi dan kesadaran pasien : 1. Airway: Bebaskan jalan fafas Posisi kepala ekstensi Breathing : Memberikan O2 sesuai dengan kebutuhan Observasi pernafasan Cirkulasi : mengukur tensi, nadi, suhu tubuh, pernafasan, kesadaran dan produksi urine pada fase awal (6jam) paska operasi harus dimonitor setiap jam dan harus dicatat. Bila pada fase awal stabil, monitor/interval bisa 3 jam sekali Bila tensi turun, nadi meningkat (kecil), produksi urine merah pekat harus waspada terjadinya perdarahan segera cek Hb dan lapor dokter. Tensi meningkat dan nadi menurun (bradikardi), kadar natrium menurun, gelisah atau delir harus waspada terjadinya syndroma TUR segera lapor dokter. Bila produksi urine tidak keluar (menurun) dicari penyebabnya apakah kateter buntu oleh bekuan darah terjadi retensi urine dalam buli-buli lapor dokter, spoling dengan PZ tetesan tergantung dari warna urine yang keluar dari Urobag. Bila urine sudah jernih tetesan spoling hanya maintennens/dilepas dan bila produksi urine masih merah spoling diteruskan sampai urine jernih.

Bila perlu Analisa Gas Darah Apakah terjadi kepucatan, kebiruan. Cek lab : Hb, RFT, Na/K dan kultur urine.

2.

Pemberian Anti Biotika Antibiotika profilaksis, diberikan bila hasil kultur urine sebelum operasi steril. Antibiotik hanya diberikan 1 X pre operasi + 3 4 jam sebelum operasi. Antibiotik terapeutik, diberikanpada pasien memakai dower kateter dari hasil kultur urine positif. Lama pemberian + 2 minggu, mula-mula diberikan parenteral diteruskan peroral. Setiap melepas kateter harus diberikan antibiotik profilaksis untuk mencegah septicemia.

3.

Perawatan Kateter

Kateter uretra yang dipasang pada pasca operasi prostat yaitu folley kateter 3 lubang (treeway catheter) ukuran 24 Fr. Ketiga lubang tersebut gunanya : 1. 2. 3. untuk mengisibalon, antara 30 40 ml cairan untuk melakukan irigasi/spoling untuk keluarnya cairan (urine dan cairan spoling).

Setelah 6 jam pertama sampai 24 jam kateter tadi biasanya ditraksi dengan merekatkan ke salah satu paha pasien dengan tarikan berat beban antara 2 5 kg. Paha ini tidak boleh fleksi selama traksi masih diperlukan. Paling lambat pagi harinya traksi harus dilepas dan fiksasi kateter dipindahkan ke paha bagian proximal/ke arah inguinal agar tidak terjadi penekanan pada uretra bagian penosskrotal. Guna dari traksi adalah untuk mencegah perdarahan dari prostat yang diambil mengalir di dalam buli-buli, membeku dan menyumbat pada kateter. Bila terlambat melepas kateter traksi, dikemudian hari terjadi stenosis leher bulibuli karena mengalami ischemia. Tujuan pemberian spoling/irigasi : 1. 2. 3. Agar jalannya cairan dalam kateter tetap lancar. Mencegah pembuntuan karena bekuan darah menyumbat kateter Cairan yang digunakan spoling H2O / PZ

Kecepatan irigasi tergantung dari warna urine, bila urine merah spoling dipercepat dan warna urine harus sering dilihat. Mobilisasi duduk dan berjalan urine tetap jernih, maka spoling dapat dihentikan dan pipa spoling dilepas. Kateter dilepas pada hari kelima. Setelah kateter dilepas maka harus diperhatikan miksi penderita. Bisa atau tudak, bila bisa berapa jumlahnya harus diukur dan dicatat atau dilakukan uroflowmetri. Sebab-sebab terjadinya retensio urine lagi setelah kateter dilepas : 1. 2. Terbentuknya bekuan darah Pengerokan prostat kurang bersih (pada TUR) sehingga masih

terdapat obstruksi. J. Diagnosa Keperawatan 1. a. b. c. 2. d. e. f. Pre operasi Retensi urin Nyeri kronis Cemas Post operasi Nyeri akut Kurang pengetahuan Risiko infeksi

K. Rencana Keperawatan
No 1. Diagnosa keperawatan Kerusakan eliminasi urine urin Definisi : Pengosongan kandung kemih yang tidak sempurna Batasan karakteristik : - Distensi kandung kemih - Sedikit, sering kencing atau tidak adanya urin yang keluar - Urin jatuh menetes - Disuria - Inkontinentia overflow - Urin residual - Sensasi penuh dari kandung kemih Faktor yang berhubungan : - Infeksi traktus urinarus - Obstruksi anatomik - Penyebab multiple - Kerusakan sensori motorik Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi

NOC :
Urinary continence Urinary elimination

NIC : Urinary Chateterization


- Jelaskan prosedur dasn rasional dari intervensi - Sediakan peralartan kateterisasi - Pertahankan teknik aseptik yang ketat - Masukan secara langsung atau retensi kateter ke dalam bladder - Hubungkan kateter pada kantung drainase - Amankan kateter pada kulit - Pertaahankan sistem drainase tertutup - Monitor intake dan input.

Kriteria Hasil :

Pengeluaran urin dapat diprediksi Dapat secara sempurna dan teratur mengeluarkan urin dari kandung kemih; mengukur volume residual urin < 150 200 ml atau 25 % dari total kapasitas kandung kemih Mengoreksi atau menurunkan gejala obstruksi Klien bebas dari kerusakan saluran kemih Urinary Retentiuon care bagian atas. - Monitor eliminasi urin - Monitor tanda dan gejala retensi urin - Ajarkan kepada klien tanda dan gejala retensi urin - Catat waktu setiap eliminasi urin - Anjurkan klien/keluarga untuk menmcatat outpout urin - Ambil spesimen urin - Ajarkan klien meminum 8 gelasa cairan sehari - Bantu klien dalam BAK rutin

Fluid management
Timbang popok/pembalut jika diperlukan Pertahankan catatan intake dan output yang akurat Monitor status hidrasi ( kelembaban membran mukosa, nadi adekuat, tekanan darah ortostatik ), jika diperlukan Monitor vital sign Monitor masukan makanan / cairan dan hitung intake

kalori harian Lakukan terapi IV Monitor status nutrisi Berikan cairan Berikan cairan IV pada suhu ruangan Dorong masukan oral Berikan penggantian nesogatrik sesuai output Dorong keluarga untuk membantu pasien makan Tawarkan snack ( jus buah, buah segar ) Kolaborasi dokter jika tanda cairan berlebih muncul meburuk Atur kemungkinan tranfusi Persiapan untuk tranfusi

2.

Nyeri Kronis Definisi : Sensori yang tidak menyenangkan dan pengalaman emosional yang muncul secara aktual atau potensial kerusakan jaringan atau menggambarkan adanya kerusakan (Asosiasi Studi Nyeri Internasional): serangan mendadak atau pelan intensitasnya dari ringan sampai berat yang dapat diantisipasi dengan akhir yang dapat diprediksi dan dengan durasi lebih dari 6 bulan. Batasan karakteristik : - Laporan secara verbal atau non verbal - Fakta dari observasi - Posisi antalgic untuk menghindari nyeri - Gerakan melindungi - Tingkah laku berhati-hati - Muka topeng - Gangguan tidur (mata sayu, tampak capek, sulit atau gerakan kacau, menyeringai)

NOC : NIC : PAIN MANAGEMENT Pain Level, Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif Pain control, termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas Comfort level dan faktor presipitasi Kriteria Hasil : Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mampu menggunakan tehnik nonfarmakologi mengetahui pengalaman nyeri pasien untuk mengurangi nyeri, mencari bantuan) Kaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau menggunakan manajemen nyeri Evaluasi bersama pasien dan tim kesehatan lain Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, tentang ketidakefektifan kontrol nyeri masa lampau frekuensi dan tanda nyeri) Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang menemukan dukungan Tanda vital dalam rentang normal Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri
seperti suhu ruangan, pencahayaan dan kebisingan Kurangi faktor presipitasi nyeri Pilih dan lakukan penanganan nyeri (farmakologi, non farmakologi dan inter personal)

- Terfokus pada diri sendiri - Fokus menyempit (penurunan persepsi waktu, kerusakan proses berpikir, penurunan interaksi dengan orang dan lingkungan) - Tingkah laku distraksi, contoh : jalan-jalan, menemui orang lain dan/atau aktivitas, aktivitas berulang-ulang) - Respon autonom (seperti diaphoresis, perubahan tekanan darah, perubahan nafas, nadi dan dilatasi pupil) - Perubahan autonomic dalam tonus otot (mungkin dalam rentang dari lemah ke kaku) - Tingkah laku ekspresif (contoh : gelisah, merintih, menangis, waspada, iritabel, nafas panjang/berkeluh kesah) - Perubahan dalam nafsu makan dan minum Faktor yang berhubungan : Agen injuri (biologi, kimia, fisik, psikologis)

Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi Ajarkan tentang teknik non farmakologi Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri Evaluasi keefektifan kontrol nyeri Tingkatkan istirahat Kolaborasikan dengan dokter jika ada keluhan dan tindakan nyeri tidak berhasil Monitor penerimaan pasien tentang manajemen nyeri

Analgesic Administration
Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas, dan derajat nyeri sebelum pemberian obat Cek instruksi dokter tentang jenis obat, dosis, dan frekuensi Cek riwayat alergi Pilih analgesik yang diperlukan atau kombinasi dari analgesik ketika pemberian lebih dari satu Tentukan pilihan analgesik tergantung tipe dan beratnya nyeri Tentukan analgesik pilihan, rute pemberian, dan dosis optimal Pilih rute pemberian secara IV, IM untuk pengobatan nyeri secara teratur Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgesik pertama kali Berikan analgesik tepat waktu terutama saat nyeri hebat Evaluasi efektivitas analgesik, tanda dan gejala (efek samping) NOC : Pain Level, I. Pain Management Lakukan pengkajian

3.

Nyeri akut b/d cidera fisik akibat pembedahan

nyeri

secara

komprehensif

Definisi : Sensori yang tidak menyenangkan dan pengalaman emosional yang muncul secara aktual atau potensial kerusakan jaringan atau menggambarkan adanya kerusakan (Asosiasi Studi Nyeri Internasional): serangan mendadak atau pelan intensitasnya dari ringan sampai berat yang dapat diantisipasi dengan akhir yang dapat diprediksi dan dengan durasi kurang dari 6 bulan. Batasan karakteristik : - Laporan secara verbal atau non verbal - Fakta dari observasi - Posisi antalgic untuk menghindari nyeri - Gerakan melindungi - Tingkah laku berhati-hati - Muka topeng - Gangguan tidur (mata sayu, tampak capek, sulit atau gerakan kacau, menyeringai) - Terfokus pada diri sendiri - Fokus menyempit (penurunan persepsi waktu, kerusakan proses berpikir, penurunan interaksi dengan orang dan lingkungan) - Tingkah laku distraksi, contoh : jalan-jalan, menemui orang lain dan/atau aktivitas, aktivitas berulang-ulang) - Respon autonom (seperti diaphoresis, perubahan tekanan darah, perubahan nafas, nadi dan dilatasi pupil) - Perubahan autonomic dalam tonus otot (mungkin dalam rentang dari lemah ke kaku) - Tingkah laku ekspresif (contoh : gelisah, merintih, menangis, waspada, iritabel, nafas panjang/berkeluh kesah) - Perubahan dalam nafsu makan dan minum

Pain control, Comfort level Kriteria Hasil : Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan tehnik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, mencari bantuan) Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri) Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang Tanda vital dalam rentang normal

termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien Kaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau Evaluasi bersama pasien dan tim kesehatan lain tentang ketidakefektifan kontrol nyeri masa lampau Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan dukungan Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan dan kebisingan Kurangi faktor presipitasi nyeri Pilih dan lakukan penanganan nyeri (farmakologi, non farmakologi dan inter personal) Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi Ajarkan tentang teknik non farmakologi Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri Evaluasi keefektifan kontrol nyeri Tingkatkan istirahat Kolaborasikan dengan dokter jika ada keluhan dan tindakan nyeri tidak berhasil Monitor penerimaan pasien tentang manajemen nyeri Analgesic Administration Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas, dan derajat nyeri sebelum pemberian obat Cek instruksi dokter tentang jenis obat, dosis, dan frekuensi Cek riwayat alergi Pilih analgesik yang diperlukan atau kombinasi dari analgesik ketika pemberian lebih dari satu Tentukan pilihan analgesik tergantung tipe dan

Faktor yang berhubungan : Agen injuri (biologi, kimia, fisik, psikologis)

beratnya nyeri Tentukan analgesik pilihan, rute pemberian, dan dosis optimal Pilih rute pemberian secara IV, IM untuk pengobatan nyeri secara teratur Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgesik pertama kali Berikan analgesik tepat waktu terutama saat nyeri hebat Evaluasi efektivitas analgesik, tanda dan gejala (efek samping) NOC : Kowlwdge : disease process Kowledge : health Behavior Kriteria Hasil : Pasien dan keluarga menyatakan pemahaman tentang penyakit, kondisi, prognosis dan program pengobatan Pasien dan keluarga mampu melaksanakan prosedur yang dijelaskan secara benar Pasien dan keluarga mampu menjelaskan kembali apa yang dijelaskan perawat/tim kesehatan lainnya NIC : Teaching : disease Process Berikan penilaian tentang tingkat pengetahuan pasien tentang proses penyakit yang spesifik Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan bagaimana hal ini berhubungan dengan anatomi dan fisiologi, dengan cara yang tepat. Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada penyakit, dengan cara yang tepat Gambarkan proses penyakit, dengan cara yang tepat identifikasi kemungkinan penyebab, dengna cara yang tepat Sediakan informasi pada pasien tentang kondisi, dengan cara yang tepat Hindari harapan yang kosong Sediakan bagi keluarga informasi tentang kemajuan pasien dengan cara yang tepat Diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin diperlukan untuk mencegah komplikasi di masa yang akan datang dan atau proses pengontrolan penyakit Diskusikan pilihan terapi atau penanganan Dukung pasien untuk mengeksplorasi atau

4.

Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis,kebutuhan pengobatan b/d keterbatasan kognitif. Definisi : Tidak adanya atau kurangnya informasi kognitif sehubungan dengan topic spesifik. Batasan karakteristik : memverbalisasikan adanya masalah, ketidakakuratan mengikuti instruksi, perilaku tidak sesuai. Faktor yang berhubungan : keterbatasan kognitif, interpretasi terhadap informasi yang salah, kurangnya keinginan untuk mencari informasi, tidak mengetahui sumber-sumber informasi.

mendapatkan second opinion dengan cara yang tepat atau diindikasikan Eksplorasi kemungkinan sumber atau dukungan, dengan cara yang tepat Instruksikan pasien mengenai tanda dan gejala untuk melaporkan pada pemberi perawatan kesehatan, dengan cara yang tepat.

5.

Resiko Infeksi b/d tindakan invasive Resiko Infeksi b/d tindakan invasive Definisi : Peningkatan resiko masuknya organisme patogen Faktor-faktor resiko : - Prosedur Infasif - Ketidakcukupan pengetahuan untuk menghindari paparan patogen - Trauma - Kerusakan jaringan dan peningkatan paparan lingkungan - Ruptur membran amnion - Agen farmasi (imunosupresan) - Malnutrisi - Peningkatan paparan lingkungan patogen - Imonusupresi - Ketidakadekuatan imum buatan - Tidak adekuat pertahanan sekunder (penurunan Hb, Leukopenia, penekanan respon inflamasi) - Tidak adekuat pertahanan tubuh primer (kulit tidak utuh, trauma jaringan, penurunan kerja silia,

NOC :

NIC : Infection Control (Kontrol infeksi) Immune Status Bersihkan lingkungan setelah dipakai pasien lain Knowledge : Infection control Pertahankan teknik isolasi Risk control Kriteria Hasil : Batasi pengunjung bila perlu Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi Instruksikan pada pengunjung untuk mencuci tangan saat berkunjung dan setelah berkunjung meninggalkan Mendeskripsikan proses penularan pasien penyakit, factor yang mempengaruhi penularan serta penatalaksanaannya, Gunakan sabun antimikrobia untuk cuci tangan Menunjukkan kemampuan untuk Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah tindakan mencegah timbulnya infeksi kperawtan Jumlah leukosit dalam batas normal Gunakan baju, sarung tangan sebagai alat pelindung Menunjukkan perilaku hidup sehat Pertahankan lingkungan aseptik selama pemasangan alat Ganti letak IV perifer dan line central dan dressing sesuai dengan petunjuk umum Gunakan kateter intermiten untuk menurunkan infeksi kandung kencing Tingktkan intake nutrisi Berikan terapi antibiotik bila perlu Infection Protection (proteksi terhadap infeksi)

cairan tubuh statis, perubahan sekresi pH, perubahan peristaltik) - Penyakit kronik

Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal Monitor hitung granulosit, WBC Monitor kerentanan terhadap infeksi Batasi pengunjung Saring pengunjung terhadap penyakit menular Partahankan teknik aspesis pada pasien yang beresiko Pertahankan teknik isolasi k/p Berikan perawatan kuliat pada area epidema Inspeksi kulit dan membran mukosa terhadap kemerahan, panas, drainase Ispeksi kondisi luka / insisi bedah Dorong masukkan nutrisi yang cukup Dorong masukan cairan Dorong istirahat Instruksikan pasien untuk minum antibiotik sesuai resep Ajarkan pasien dan keluarga tanda dan gejala infeksi Ajarkan cara menghindari infeksi Laporkan kecurigaan infeksi Laporkan kultur positif

6.

Cemas b/d perubahan status kesehatan (rencana tindakan operasi ) Definisi : Perasaan gelisah yang tak jelas dari ketidaknyamanan atau ketakutan yang disertai respon autonom (sumner tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu); perasaan keprihatinan disebabkan dari antisipasi terhadap bahaya. Sinyal ini merupakan peringatan adanya ancaman yang akan datang dan memungkinkan individu untuk mengambil langkah untuk menyetujui terhadap tindakan

NOC : Anxiety control Coping Impulse control Kriteria Hasil : Klien mampu mengidentifikasi dan mengungkapkan gejala cemas Mengidentifikasi, mengungkapkan dan menunjukkan tehnik untuk mengontol cemas Vital sign dalam batas normal

NIC : Anxiety Reduction (penurunan kecemasan) Gunakan pendekatan yang menenangkan Nyatakan dengan jelas harapan terhadap pelaku pasien Jelaskan semua prosedur dan apa yang dirasakan selama prosedur Pahami prespektif pasien terhdap situasi stres Temani pasien untuk memberikan keamanan dan mengurangi takut Berikan informasi faktual mengenai diagnosis,

Ditandai dengan Gelisah Insomnia Resah Ketakutan Sedih Fokus pada diri Kekhawatiran Cemas

Postur tubuh, ekspresi wajah, bahasa tubuh dan tingkat aktivitas menunjukkan berkurangnya kecemasan

tindakan prognosis Dorong keluarga untuk menemani anak Lakukan back / neck rub Dengarkan dengan penuh perhatian Identifikasi tingkat kecemasan Bantu pasien mengenal situasi yang menimbulkan kecemasan Dorong pasien untuk mengungkapkan perasaan, ketakutan, persepsi Instruksikan pasien menggunakan teknik relaksasi Barikan obat untuk mengurangi kecemasan

III.

TINJAUAN KASUS PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FORMAT ASUHAN KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH

Nama Mahasiswa NIM Tempat Praktek Tanggal A. PENGKAJIAN Tanggal Waktu I.

: Clara Agustina, Muji Ageng S, dan Sobihin : N1B 005018, N1B 005030, dan N1B 005016 : Ruang Edelwais RSU Banyumas : 16 21 April 2007 : 16 April 2007 : Pukul 13.00 wib

Identitas Klien Nama : Tn. Kmj Umur : 67 Tahun Jenis Kelamin : Laki - laki Pendidikan : SD Pekerjaan : Tani Status Perkawinan : Kawin Agama : Islam Suku : Jawa Alamat : Gerduren 2/4 Purwojati, Banyumas Rekam Medis : 387219 Tanggal MRS : 13 April 2007 Diagnosa Medis : BPH Pre Operasi dan Post Operasi Sumber Informasi : Pasien dan keluarga Riwayat Kesehatan A. Keluhan utama saat masuk rumah sakit : Tanggal 16 April 2007 : BAK tidak lancar, sakit saat BAK, sedikit sedikit. B. Riwayat Penyakit Sekarang : Sejak 2 minggu yang lalu pasien menyatakan BAK tidak lancar, sakit dan mengejan, kemudian ke dokter umum dirujuk ke dokter bedah dan dianjurkan operasi, kemudian masuk Rumah Sakit Umum Banyumas. C. Riwayat Penyakit Dahulu : Pasien menyatakan bahwa BAK tidak lancar seperti saat ini sejak 6 bulan yang lalu dan sangat mengganggu. Pasien menyatakan sering kumatkumatan, saat kambuh dibawa ke dokter sembuh kemudian sakit lagi. D. Riwayat Penyakit Keluarga : Pasien menyatakan tidak ada keluarga yang sakit seperti ini sebelumnya.

II.

III.

Pengkajian saat ini (mulai hari pertama saudara merawat klien) A. Persepsi dan Pemeliharaan Kesehatan Pengetahuan tentang penyakit/perawatan Pasein menyatakan sakit pada saat BAK sejak 6 bulan yang lalu dan sangat mengganggu. Pasien selalu berobat ke dokter saat sakit. Dan sakit ini sering kambuhan.

B. Pola Nutrisi dan Metabolik Program diit RS : Diit nasi biasa lauk pauk 3 kali sehari, tidak ada pantangan selama ini, minum air putih. Intake makanan : Pre operasi ( 16 April 2007 ): makan 3 kali sehari, porsi habis, minum air putih 5 gelas sehari. C. Pola Eliminasi Sebelum operasi : 1. Buang air besar : 1 kali/hari, lembek, tidak sembelit. 2. Buang air kecil : tidak lancar, nyeri saat BAK, tambah nyeri saat awal-awal BAK, tidak merasa puas setelah BAK, sejak pagi tadi sudah BAK 6 kali, jumlah sedikit. Setelah operasi : 1. BAB : Belum BAB sejak post operasi 2. BAK : terpasang kateter, dengan irigasi, cairan irigasi guyur, tetesan lancar, warna kuning bercampur darah, tidak ada stonsel D. Pola Aktifitas dan Latihan (pre operasi)
0 1 2 3 4 Kemampuan perawatan diri Makan/minum Mandi Toileting Berpakaian Mobilitas di tempat tidur Berpindah Ambulasi/ROM

0 : Mandiri 1 : Bantuan alat minimal 2 : Bantuan manusia minimal 3 : Bantuan alat dan manusia 4 : Bantuan total Oksigenasi tidak ada. Aktifitas baik, pasien mampu berjalan sendiri, aktifitas tidak ada masalah E. Pola Persepsi diri (pandangan klien tentang sakitnya, kecemasan, konsep diri).Pasien sudah menyadari sakitnya dan menyatakan pasrah dengan keadaannya, siap menghadapi operasi. Pandangan mata pasin yakin, mantap. Pasien bertanya tentang rencana operasinya, kapan operasinya, persiapannya apa saja. wajah pasien bertanya-tanya, gelisah. F. Pola Istirahat dan Tidur (lama tidur, gangguan tidur, perasaan saat bangun tidur) Pasien menyatakan tidur cukup, tidur malam 6 7 jam, selama di rumah sakit tiduran. G. Pola Perseptual (penglihatan, pendengaran, pengecap, sensasi) Pendengaran baiok, penglihatan baik, tidak menggunakan kaca mata, H. Pola Peran dan Hubungan (komunikasi, hubungan dengan orang lain, kemampuan keuangan) :

Pasien senang dan bahagia sebagai kakek melihat cucunya sudah besarbesar, hubungan dengan keluarga baik, pasien ditunggui oleh anak-anaknya dan cucunya, serta istrinya. I. Pola Reproduksi dan Sexualitas (fertilitas, libido, menstruasi, kontrasepsi, dll) Pasien mempunyai seorang istri, 6 orang anak dan 7 orang cucu. J. Pola Pertahanan diri/Koping-stres (perubahan terbesar dalam hidup pada akhir-akhir ini) : Pasien hanya pasrah kepada Tuhan dengan kondisinya. K. Pola Keyakinan dan Nilai (pandangan klien tentang agama, kegiatan keagamaan, dll) Pasien beragama Islam dan taat beribadah, pasien menyatakan tidak ada kendala dalam beribadah selama sakit. IV. Pemeriksaan Fisik (chepalocaudal) Keluhan yang dirasakan saat ini : Bak tidak lancar dan sakit, Keadaan Umum : Baik Kesadaran : Compos mentis Tanda Vital : T : 130/80 mmHG N : 82 X/Mnt R : 18 X/mnt S : 37 C 1. Kepala : mesocepal Rambut : bersih, pendek, beruban Mata : tidak memakai kaca mata, sklera tak ikterik, konjungtiva tak anemis. Mulut : bersih, mukosa bibir kemerahan Hidung : bersih, tidak beringus Telinga : bersih, tidak ada kotoran. 2. Leher : tidak ada pembesaran tiroid. 3. Thorak : dada simetris, tidak ada jejas. Paru : suara paru vesikuler, ronchi ( - ) Jantung : suara jantung reguler, mur-mur ( - ). 4. Abdomen : 16 April 2007 : turgor baik, bunyi usus (+) 5. Inguinal : tak terkaji 6. Ekstremitas (termasuk keadaan kulit, kekuatan): Kekuatan ekstremitas kuat, skala kekuatan 5, pergerakan ROM baik, penuh. V. Pemeriksaan Penunjang Radiologi : Cystografi : Dinding vesica urinaria sebagian tampak ireguler, tampak indentasi bulat batas tegas, Batu (-), Kesan : Cystitis dengan prostat hipertropi. Thorak : Pulmo normal, Cor normal. EKG : Normal Sinus Rate, dengan HR : 67 X / menit.

Laboratorium NO 1. Tanggal 13/4/07 Pemeriksaan Hemoglobin Golongan darah Leukosit Trombosit GDS Prot. Total Albumin Globulin CT/BT Ureum Creatinin Natrium Kalium Clorida Hasil 13,4 O 8.700 210.000 155 7,6 3,5 4,1 5 / 2 18 0,8 140 3,7 106

VI. NO

Program Therapi Tanggal 16/4/07 Therapi - Siapkan informed consent - Puasakan 8 jam pre op - Siapkan darah 2 kalf Dosis

VII. Lain Lain

B. ANALISA DATA No 1. Tanggal 16/4/07 Data Masalah DS : pasien menyatakan BAk tidak lancar, nyeri saat BAK, lebih nyeri Retensi urin saat awal BAK, Bak sedikit sedikit, menetes pada akhir BAK, tidak merasa puas setiap kali BAK, sejak pagi sampai sekarang sedah 6 kali BAK, dialami sejak 6 bulan yang lalu, kumatkumatan. DO : Kandung kemih tidak teraba penuh/tegang, cistogravi : Cystografi : Dinding vesica urinaria sebagian tampak ireguler, tampak indentasi bulat batas tegas, Batu (-), Kesan : Cystitis dengan prostat hipertropi. DS : Pasien bertanya tentang rencana operasinya, persiapannya apa saja. DO : wajah pasien bertanya-tanya, gelisah. operasinya, Etiologi Tekanan uretral pembesaran prostat karena

2.

16/4/07

kapan Kurang pengetahuan, tentang Kurangnya paparan informasi penyakit, proses penyakit, prosedur tindakan operasi dan perawatannya

C. DIAGNOSA KEPERAWATAN Pre Operasi 1. Retensi urin berhubungan dengan Tekanan uretral karena pembesaran prostat 2. Kurang pengetahuan, tentang penyakit, proses penyakit, prosedur tindakan operasi dan perawatannya berhubungan dengan kurangnya paparan informasi Post Operasi 3. Nyeri akut berhubungan dengan Prosedur agen injuri agen pembedahan ( operasi ). 4. Kerusakan mobilitas berhubungan dengan Terapi pembatasan gerak, perawatan post anestesi lokal. 5. PK : Perdarahan

D. NURSING CARE PLAN No


1.

No diagnosa
1.

Tujuan dan criteria Hasil


Setelah dilakukan tindakan keperawatan 2 X 24 jam klien mennunjukan : - Kontrol eliminasi urin - Urinari elimination Dengan kriteria : - Mampu memprediksi pengeluaran urin - Mengeluarkan urin secara sempurna dan teratur

Intervensi
1. 2. 3. 4. 5. 6. Urinari retention care Monitor pola eliminasi urin, frekuensi, warna urin dan hambatan dalam eliminasi. monitor tanda dan gejala Ajarkan kepada pasien tentang tanda dan gejala retensi urin Ajarkan klien unutk minum 8 gelas / hari Bantu pasien BAK secara rutin Ajarkan teknik nafas dalam apabila nyeri saat BAK.

2.

2.

Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1 X 24 jam Pasien menunjukan : - Pengetahuan : proses penyakit - Pengetahuan : perawatan, program operasi dan prosedur operasi Dengan kriteria : - Pasein dan keluarga menyatakan pemahaman tentang penyakit - Pasien dan keluarga menyatakan pemahaman tentang perawatan dan pengobatan penyakit

Pembelajaran : proses penyakit, prosedur tindakan operasi, program perawatan dan pengobatan 1. Jelaskan tentang penyakit dan proses penyakit ysang diderita pasien kepada pasien dan keluarga 2. Jelaskan tentang program pengobatan, prosedur operasai yang akan dilaksanakan kepada pasien dan keluarga 3. Persiapkan fisik dan mental pasien untuk tindakan operasi 4. Evaluasi persiapan operasi sebelum masuk kamar operasi

E. IMPLEMENTASI TGL/JAM
16/4/07 13.30 14.00 14.00 14.00 17.00

NO DP
1.

Implementasi
1. Mengkaji pola eliminasi BAK pasien 2. Mengukur vital sign : temperatur, tekanan darah, nadi, dan respirasi 3. Menganjurkan untuk minum hangat dan minum banyak (2 liter / hari atau 8 gelas/hari) 4. Menganjurkan unutk BAK sebelum meras penuh pada kandung kemih dengan cara di bawa ke kamar mandi dan ujung-ujung kaki disiram dengan air dingin 5. Memonitor pola BAK, jumlah dan frekuensinya

Evaluasi
Pukul 17.30 S : Pasein menyatakan BAK 5 X hari ini sejak tadi pagi samapai sore ini, sedikit-sedikit dan nyeri saat mengejan. O : Pasien BAK darah (-), jumlah 200 ml setiap kali BAK, pasien minum 4-5 gelas sampai sore ini, suhu 36,2 C, nadi : 80 x/mnt, nadi kuat dan regelur, T : 130/80 mmHg, R : 18 x/mnt, dalam dan teratur. A : Masalah retensi urine belum teratasi P : Lanjutkan rencana perawatan selanjutnya

Paraf

17/4/07 13.30 13.30 13.45 13.45 17.00 17.30

1. 1. Mengkaji keluhan pasien, keadaan umum pasien. 2. Memonitor vital sign 3. Menghitung output urin pasien 4. mengkaji pola BAK pasien 5. Memberikan terapi oral Ciprofloxasin 500 mg dan asam mefenamat 1 tablet 6. Mengevaluasi keadaan pasien 1. 1. Menjemput pasien dari kamar operasi 2. Memindah pasien dari brankart ke tempat tidur dengan hatihati 3. Mengatur posisi pasein yang nyaman, telentang tanpa bantal

Pukul 17.45 S : Pasien menyatakan hari ini BAK 6 kali, sedikit sedikit, nyeri saat BAK masih, mengejan. O : Urin jumlah 1200 ml/hari, pasien minum 6-7 gelas, suhu 35,8 C, nadi 68 x/mnt, T : 120/70 mmHg, R : 16 x/mnt. Obat oral diminum. Program terapi : Pro open prostatektomi besok. A : Masalah retensi urin belum teratasi P : Lanjutkan : - Persiapkan perawatan post operatif Pukul 13.45 S : Pasien menyatakan nyeri pada perut bawah, pada luka operasi, bertambah nyeri saat bergerak dan batuk, skala nyeri 8. Pasien mngeluh lemes, lemah, pasien tiduran di tempat tidur miring ke kanan.

18/4/07 13.30

13.45

4. Mengaturv tetesan infus, letak kateter dan irigasi kateter, serta drain luka. 5. Mengkaji keadaan umum pasien

O : Nyeri tekan sekitar luka operasi, gerakan menghindari pemeriksaan daerah nyeri, pergerakan hati-hati saat terhadap nyeri saat tiduran Pasien terlihat lemah, tiduran di tempat tidur, program bedrest 24 jam post op. Terpasang kateter dengan irigasi, cairan irigasi lancar, warna kekuningan bercampur darah, stolsel (-), terdapat luka operasi di bawah pusar diatas simpisis pubis, terbalut sepanjang 20 cm, balutan bersih terdapat drain luka, cairan 50 ml, kemerahan, stolsel (-). Terdapat luka operasi prostatektomi A : Masalah retensi urin teratasi Masalah keperawatan baru :

3.

Nyeri akut berhubungan agen injuri (prosedur pembedahan proatatektomi) 4. Defisit self care behubungan dengan kelemaham umum pasien 5. PK : Peradarahan P: 1. Diagnosa perawatan 3 : NOC : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 X 24 jam pasien menunjukan : - Kontrol nyeri - Keadaan nyaman Dengan kriteria : - Pasien mampu mengontrol nyeri (mengetahui penyebab, mampu menggunakan teknik nonfarmakologi unutk mengurangi nyeri)

NIC : 1. 2. 3. 4.

Pasien menyatakan berkurang

rasa

nyaman

setelah

nyeri

Manajemen nyeri Kaji keluhan nyeri, skala, dan karakteristik nyeri Monitor vital sign setiap 8 jam jelaskan tentang nyeri, penyebab, dan proses nyeri. Ajarkan teknik mengurangi nyeri dengan nafas dalam dan batuk efektif.

Manajemen analgetik 1. Kolaborasikan dengan dokter tentang pemberian analgetik 2. Berikan injeksi remopain 3 X 1 ampul ( 14, 22, 05 ) 3. Berikan analgetik tepat waktu secara intravena 4. Jelaskan tentang prosediur pemberian terapi analgetik 2. Masalah keperawatan 4 : NOC : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1 X 24 jam Pasien menunjukan : - Toleransi aktifitas - Self care : ADL Dengan kriteria : - Pasien mampu beraktifitas secara mandiri dengan bantuan minimal - Pasien mampu dudk dan pergerakan nyaman NIC : Terapi aktifitas 1. Pindahkan pasien dengan hati-hati dari brankart ke tempat tidur 2. Atur posisi yang nyaman, telentang dengan satu bantal 3. Jelaskan tentang perawatan bedrest total untuk 24 jam peratama.

4. Jaga kebersihan alat linen dan hindari lipatan linen di bawah badan pasien. Bantuan perawatan diri (self care assintance) 1. Libatkan keluarga dalam perawatan diri pasien 2. Bantu pasien berpakaian, makan, minum, dan personal hygiene 3. Anjurkan keluarga untuk membantu pasien. 3. Masalag keperawtan 4 : PK : Perdarahan NOC : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 5 X 24 jam pasien menunjukan : - Kontrol perdarahan Dengan kriteria : - Pasien terbebas dari tanda dan gejala perdarahan. NIC : Kontrol perdarahan 1. Kaji keadaan ;luka operasi setiap pergantian shif dan bila perlu 2. jaga posisi kateter dan drain luka tetap aman dan bersih 3. Monitor vital sign setiap pergantian shif 4. Jelaskan tentang tanda dan gejala perdarahan 5. Kolaborasikan untuk pemberian diit tinggi kalori tinggi protein setelah pasien sadar penuh. 6. Monitor laboratorium darah rutin ( hemoglobin) post operasi. 7. monitor tanda dan gejala perdarahan 8. Monitor balutan luka, kateter, dan drain lluka operasi 9. Berikan terapi : - Injeksi Cefotaxim 2 X 1 gram ( 16. 04 ) - Injeksi Kalnek 3 X 1 amp ( 16. 00. 08 ) - Jaga kebersihan kateter

16/4/07 13.30

2. 1. Menjelaskan tentang rencana prosedur operasi 2. Menjelaskan tentang persiapan operasi - Puasa mulai jam 21.00 nanti malam, boleh minum air putih sampai 4 jam sebelum operasi - Menganjurkan persiapan transfusi - Melaksanakan kolaborasi dengan dokter anestesi 3. Melakukan tindakan skeren 4. Menjelaskan tentang tujuan operasi dan minta inform consent dari pasien dan keluarga 5. Memberikan baju operrasi unutk dipakai besok 6. Melaksanakan lavement letak rendah. 7. menjelasakan ggambaran proses operasi dan perawatan setelah operasi 8. menjelaskan kepada keluarga untuk mencari darah ke PMI atau usaha keluarganya untuk donor untuk persiapan operasi dan menjelaskan pentingnya transfusi darah 9. Menyediakan blanko transfusi darah dan mengambil darah sampel pasien. 2 1. Menjelaskan kepada pasein dan keluarga pasien tentang mengapa operasi ditunda tidak hari ini, tetapi besok 2. Mengkaji ulang persiapan operasi untuk besok, inform consent dll. 3. Memberikan terapi oral : asam mefenamat 1 tablet, Ciprofloksasin 1 tablet. 4. Melaksanakan kolaborasi dengan dokter penyakit dalam untuk persiapan operasi dan analisa EKG 5. Memonitor vital sign. S : Pasien dan keluarga menyatakan paham dan mengerti tentang penyakitnya dan program operasi yang akan dilakukan besok. Pasien dan keluarga menyatakan paham dengan rencana operasi, persiapan sebelum operasi dan rencana perawatannya. Pasien menyatakan siap untuk tindakan operasi. O : - Keluarga sedang usaha darah transfusi - Skeren sudah terlaksana, rambut bersih. - Baju operasi sudah di pasien - Lavemen sudah dilaksanakan, BAB sedikit, lunak. - Inform consent sudah ditrandatangani - dokter anaestesi dan ahli penyakit dalam sudah visite dan ACC untuk operasi bila darah siap. A : Masalah kurang pengetahuan teratasi sebagian P : Lanjutkan sampai dengan operasi terlaksanan.

14.30 15.00 15.00 15.30

17/4/07 13.25 15.30 17.00 17.15 17.30

S : Pasien dan keluarga menyatakan mengerti dam memahami mengapa operasi ditunda hari ini. O : - persiapan operasi siap - darah sudah dapat II kalp - obat oral masuk - T : 130/70, N : 72 x /mnt, R : 20 x mnt, S : 35, 8 A : Masalah kurang pengetahuan teratasi P : Lanjutkan bila diperlukan.

Paraf

18/4/07 13.30 13.45 14.15 15.45

3. 1. Mengkaji keluhan pasien tentang nyeri, skala nyeri, dan karakteristik nyeri. 2. Memonitor vital vital sign 3. Memberikan injeksi remopain 1 amp 4. menjelaskan tentang program pemberian diit post operasi, dan memberikan diit cair bertahap dan hati-hati untuk mengurangi nyeri. 3. 1. Melakuakan evaluasi kepada pasien tentang keluhan nyeri 2. Melatih klien duduk dengan hati-hati agar tidak menambah nyeri 3. Memberikan terapi injeksi remopain 1 amp intravena 4. menganjurkan untuk mengurangi rangsangan batuk. 3 1. Mengkaji keluhan nyeri 2. Memberikan injeksi Remopain 1 ampul intravena 3. Mengukur vital sign 4. Membnatu pasien duduk dengan hati-hati 5. Melakukan evaluasi tentang nyeri 4. 1. Menjemput pasien dari kamar operasi 2. Memindah pasien dari brankart ke tempat tidur dengan hati-hati 3. Mengatur posisi pasein yang nyaman, telentang tanpa bantal 4. Mengaturv tetesan infus, letak kateter dan irigasi kateter, serta drain luka. 5. Menjelaskan kepada pasien dan keluarga tentang perawatan post operasi, yaitu bedrest total unutk 24 S : Pasien mengeluh nyeri pada luka operasi, bertambah untuk gerak dan apabila batuk, skala nyeri 8. O : Suhu 36,2 C, N : 90 X/mnt, T : 140/90 mmHG, R : 20 x/mnt, Injeksi remopain 1 amp masuk intravena, Pasein makan diit cair habis separo. A : Masalah nyeri akut belum teratasi P : Lanjutkan S : Pasien menyatakan nyeri berkurang, hanya terasa nyeri terbatuk, skala nyeri 5 O : pasien sudah bisa duduk tanpa sandaran, injeksi re,opain 1 amp masuk intravena, batuk jarang A : Masalah nyeri teratasi sebagian P : Lanjutkan

19/4/07 13.30 14.00 16.00

20/4/07 13.30 16.00 17.00 17.15 17.30 18/4/07 13.00

14.15

S : Pasien enyatakan keluhan nyeri berkurang, skala nyeri 3. O : Pasien duduk tanpa bantuan, gerakan bebas. Injkesi Remopain 1 ampul masuk intra vena. Ekspresi wajah ceria, bercanda dengan pasien sekitar. A : Masalah nyeri teratasi sebagian P : lanjutkan. Delegasikan kepada perawat ruangan S : Pasien menyetakan sakit saat dipindah dan bergerak. Pasien mengerti penjelasan perawat untuk bedrest total selama 24 jam. O : Klien tiduran telentang di tempat tidur - Infus RL 20 Tetes/ menit lancar - Irigasi kateter lancar dengan guyur NaCL 0,9 %. - Alat linen bersih dan rapih - Klien tidur lelap A : Masalah kerusakan mobilitas teratasi sebagian P : Lanjutkan

15.45

jam pertama setelah operasi, belum boleh duduk atau miring. 6. Menjaga kebersihan dan kepatenan alat linen 7. Menjelaskan tentang perawatan post operasi : mobilisasi bertahap, makanan bertahap apabila sudah sadar penuh boleh makan dan minum. 4. 1. Melatih pasien untuk duduk dan bersandar pada bantal 2. Menganjurkan pasien unutk latihan duduk dan makan minum sendiri. 3. Menjelaskan kepada keluarga untuk membantu pasien dalam kebutuhan sehari-hari, makan, mandi, minum, berpakaian. 4. Mengkaji keadaan umum pasien 5. 1. Mengkaji luka operasi dan mengatur posisi kateter dan drain luka operasi yang aman. 2. Mengatur tetesan infus RL 20 tetes/mnt dan tetesan irigasi dengan guyr NaCL 0,9 %. 3. Memberikan Terapi dokter : Injeksi Cefotaxim 1 gram skin test negatif Memberikan injeksi Kalnek 1 ampul,. Masuk intravena selang infus. 4. Menganjurkan keluarga untuk membantu menjaga kebersihan personal dan tempat tidur 5. Mengambil darah untuk pemeriksaan hemoglobin sebanyak 1 cc dan mengantar ke laboratorium 6. Memonitor tanda-tanda perdarahan pada drain dan kateter 7. Memonitor tanda vital 8. Menganjurkan minum banyak 5 1. Memonitor keadaan balutan luka, drain dan kateter. S : Pasien menyatakan sudah bisa duduk, O : Pasien terlihat sedang duduk, ditunngguin oleh keluarga, wajah ceria. A : masalah defisit perawatan diri teratasi P : Pertahankan

19/4/07 13.45 14.30 17.30 18/4/07 13.30

16.00 16.10 16.30 17.00 19/4/07 13.30

S:O : Balutan luka bersih dengan hipavik, tak ada rembesan, drain luka tidak produktif, irigasi lancar, drain kemerahan, stonsel (-). Injeksi Cefotaxim masuk intravena selang infus. Infus RL 20 tetes/mnt. Hasil hemoglobin 11,0 dan leukosit 9.200. S : 36,2. N : 88 x/mnt. R : 18x/mnt T : 130/90 mmHg. Terapi dokter post operasi : - Monitor keadaan umum - Infus RL : D5 % 2 : 2 20 tts/mnt - Injeksi Cefotaxim 2 X 1 gram - Injeksi Remopain 3 X 1 ampul - Irigasi guyur - Traksi kateter 24 jam A : PK : perdarahan teratasi sebagian P : Lanjutkan S : Pasien merasa nyaman dan tidak ada keluhan panas. O : Luka operasi balutan dengan hipavik bersih, tidak ada

2. 14.00 15.45 16.00

3.
4. 5. 6. 7. 8.

20/4/07

Mengkaji etesan infus dan irigasi kateter. Melepas traksi kateter Mengukur vital sign Memonitor tanda-tanda perdarahan pada drain dan kateter Memberikan terapi dokter Injeksi Cefotaxim 1 gram intravena selang infus Memberikan injeksi Kalnek 1 ampul Menganjurkan minum banyak Mengganti alat linen yang kotot 1. Mengkaji keadaan luka operasi, drain luka dan irigasi kateter. 2. Mengganti infus D5 % 20 tetes /menit 3. Mengganti cairan infus irigasi dengan 40 tetes/menit 4. Memberikan diit nasi lunak tinggi kalori tinggi protein 5. Memonitor tanda vital 6. Memonitor tanda-tanda perdarahan pada drain dan kateter 7. Memberikan injeksi Kalnek 1 ampul Memberikan terapi dokter injeksi Cefotaxim 1 gram intravena selang infus 8. Menganjurkan minum banyak

rembesan, Linen bersih. Cateter dan irigasi lancar, warna kuning kemerahan, perdarahan tidak ada. Injeksi Cefotaxim masuk intravena selang infus. S : 36,2 N : 86x/mnt T : 130/70 mmHg R : 18 X/mnt. A : Maslaah PK : Peradarahan teratasi sebagian P : lanjutkan

S:O : Luka operasi balutan bersih, tidak ada rembesan, Infus D5 % 20 ttts/mnt lancar, tidak ada plebitis. Irigasi lancar, jernih, tidak ada perdarahan. Injeksi masuk intravena, diit lunak TKTP habis. A : Masalah PK : Peradarahan teratasi sebgain P : Lanjutkan dan delegasikan kepada perawat ruangan.

F. EVALUASI

TGL/JAM
18/4/07 17.30

NO DP
1.

Evaluasi
S:O : Pasien terpasang kateter, irigasi lancar, jernih kekuningan, kandung kemih tidak tegang, A : Masalah retensi urin teratasi P : pertahankan S : Pasien dan keluarga mengerti dan paham tentang penyakit serta perawatan dan tindakan operasi yang dilakuan. O : Persiapan operasi siap, pasien selesai operasi tanpa masalah, pasien tidur di tempat tidur setelah operasi. A : Masalah kurang pengetahuan teratasi P : Pertahankan S : Pasien mengaku keluhan nyeri berkurang, sakala nyeri : 3, merasa nyaman , semalam tidur bisa lelap O : Pasien duduk tanpa bantuan, pergerakan bebas, ekspresi wajah ceria, berbincang-bincang dengan keluarga. Injeksi remopain masuk intravena. A : Masalah nyeri teratasi sebagian P : lanjutkan dan delegasikan kepada perawat ruangan S : Pasien menyatakan bisa tidur, dan sudah bisa duduk tanpa bantuan, pasien mengerti tentang program pengobatan bedrest 24 jam. O : Pasien duduk tanpa bantuan, pergerakan bebas. A : masalah Kerusakan mobilitas treratasi P : Pertahankan jika diperlukan S:O : Luka operasi balutan bersih, tidak ada rembesan, Infus D5 % 20 ttts/mnt lancar, tidak ada plebitis. Irigasi lancar, jernih, tidak ada perdarahan. Injeksi masuk intravena, diit lunak TKTP habis. tidak ada tanda-tanda perdarahan A : Maslaah PK : Peradarahan teratasi sebagian P : Lanjutkan dan delegasikan kepada perawat ruangan.

Paraf

18/4/07 17.30

2.

20/4/07 17.30

3.

19/4/07 17.30

4.

20/4/07 17.30

5.

IV.

PEMBAHASAN Dalam konsep teori pada pasien dengan BPH kemungkinan masalah keperawatan yang muncul adalah : 1. Pre operasi a. b. c. d. e. f. Retensi urin Nyeri kronis Cemas Nyeri akut Kurang pengetahuan Risiko infeksi

2. Post operasi

Sedangkan pada kasus pasien dengan BPH yang diambil pada Tn. K masalah keperawatan yang muncul adalah : 1. pembesaran prostat 2. 3. 4. 5. operasi). 6. PK : Perdarahan Terdapat perbedaan dalam masalah keperawatan yang muncul pada kasus dengan konsep teori yang ada yaitu : 1. Nyeri kronis. Nyeri kronis dalam teori muncul karena bahwa pada pasien dengan BPH akan menimbulkan gejala retensi urin yang disertai dengan nyeri saat berkemih, dan disebutkan bahwa BPH merupakan salah satu penyakit yang disebabkan oleh faktor usia, yaitu bertambahnya usia semakin risiko terkena BPH dan perkembangan penyakit sejalan dengan perkembangan usia, sehingga perjalanan waktu berjalan lama dan biasanya bertahap dari gejala ringan sampai berat dalam waktu yang lama. sehingga keluhan nyeri akan diorasakan lama dan kambuh-kambuhan. Namun dalam kasus Tn. K bukan menjadi masalah karena pada saat ditanyakan kepada pasien saat di rumah sakit sebelum operasi sedang tidak merasakan nyeri dan tidak merasa ada Kurang pengetahuan, tentang penyakit, proses penyakit, prosedur Nyeri akut berhubungan dengan Prosedur agen injuri agen Kerusakan mobilitas berhubungan dengan Terapi pembatasan Risiko infeksi dengan faktor risiko Prosedur invasif (tindakan tindakan operasi dan perawatannya berhubungan dengan kurangnya paparan informasi pembedahan ( operasi ). gerak, perawatan post anestesi lokal. Retensi urin berhubungan dengan Tekanan uretral karena

masalah nyeri. Sehingga masalah nyeri kronis tidak dirasakan dan tidak muncul pada kasus Tn. K. 2. Cemas Masalah keperawatan cemas pada kasus BPH muncul karena adanya rencana operasai, dimana hal ini dipengaruhi oleh pengalaman tindakan bedah sebelumnya, paparan informasi yang didapat. Kecemasan ini terkait dengan ketakutan kematian, ketakutan kegagalan operasi. Pada kasus Tn. K masalah keperawatan cemas tidak muncul karena pada saat pasien ditanya pasien sudah merasa jenuh dengan keluhan sulit kencingnya dan pasien sudah merasa siap untuk operasi karena sudah diberitahukan akan operasai oleh dokter, serta pasien pasrah kepada Tuhan Yang Maha Esa. 3. Defisist self care Masalah keperawatan defisit self care dalam konsep belum disebutkan, karena keterbatasan penulis dalam nara sumber. Bisa juga karena dalam kasus BPH tidak terlihat prioritasnya terkait dengan defisit self care. Pada kasus Tn K muncul masalah keperawatan defisit self care karena anestesi pada tindakan operasi Tn. K menggunakan lumbal anestesi yang mengharuskan pasien imobilisai selama 24 jam. Hal ini untuk menjaga komplikasi terkait dengan tekanan cairan lumbal ataupun adanya kerusakan pada luka bekas tusukan jaruim anestesi yang bisa menyebabkan bocornya cairan lumbal yang akan sangat membahayakan pasien. Untuk itu masalah defisit self care perrlu diangkat agar masalah imobilisasi ini pasien dapat terpenuhi perawatan diri pasien oleh keluarga. 4. PK : Perdarahan Dalam konsep teori tidak dimunculkan adanya masalah PK : Perdarahan karena bahwa ada bermacam-macam teknik operasi yang masih memungkinkan minimalnya risiko perdarahan yaitu dengan Trans Uretral Reseksi Prostat yang tidak perlu tindakan insisi dan berdasarkan konsep hal ini lebih banyak dilakukan, dengan tidak perlunya tindakan insisi maka masalah PK : Perdarahan sangat mungkin tidak muncul. Pada kasus Tn. K masalah PK : Perdarahan muncul karena tindakan prostatektomi yang dilakukan adalah dengan metode apembedahan dengan insisi dan pengangkatan prostat dan pembedahan vesica urinaria yang akan sangat memungkinkan terjadinya perdarahan karena adanya insisi jaringan.

V.

PENUTUP A. Kesimpulan 1. 2. 3. BPH merupakan masalah kesehatan yang lebih sering terjadi pada Teknik pembedahan BPH bermacam-macan dan pilihan terapi Setiap pasien akan mengalami masalah keperawatan yang usia lanjut, dan berlangsung lama seiring dengan pertambahan usia. disesuaikan dengan keadaan pasien. berbeda meskipun dengan penyakit dan program pengobatan yang sama, hal ini dipengaruhi salah satunya oleh, pengalaman individu dalam hal tersebut, kematangan kedewasaan pasien, paparan informasi yang benar, koping dan ketahanan poasien terhadap suatu masalah. 4. 5. Apapun masalah yang muncul pada pasien maka wajib bagi kita Asuhan keperawatan meliputi pengkajian, perencanaan, analisa untuk membantu dan menyelesaikan maslaah tersebut. data, diagnosa keperawatan, tindakan keperawatan dan evaluasi merupakan langkah dalam asuhan keperawatan 6. Pasien perlu mendapatkan asuhan keperawatan yang komprehensif dan profesional karena masalah keperawatan yang dialami oleh pasien juga sangatlah komplek dan berbeda-beda untuk setiap individu. B. Saran 1. 2. lain. 3. Perawat harus berusaha mengkaji segala aspek dan masalah yang ada pada pasien. Perawat senantiasa meningkatkan keilmuan dan ketrampilan Perlu adanya kerjasama yang baik dengan tenaga akesehatan yang dalam pemberian asuhan keperawatan.

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Linda Jual. (1995). Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan (terjemahan). PT EGC. Jakarta. Doenges, et al. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan (terjemahan). PT EGC. Jakarta. Engram, Barbara. (1998). Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Volume I (terjemahan). PT EGC. Jakarta. Hardjowidjoto S. (1999).Benigna Prostat Hiperplasia. Airlangga University Press. Surabaya Long, Barbara C. (1996). Perawatan Medikal Bedah. Volume I. (terjemahan).Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran. Bandung. Soeparman. (1990). Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. FKUI. Jakarta. Guyton, Arthur C, Fisiologi manusia dan mekanisme penyakit, EGC Penerbit buku kedokteran, Jakarta, 1987. Johnson., Mass. 1997. Nursing Outcomes Classification, Availabel on: www.Minurse.com, 14 Mei 2004 McCloskey, Joanne C,. Bulecheck, Gloria M. 1996. Nursing Intervention Classsification (NIC). Mosby, St. Louise. NANDA, 2002. Nursing Diagnosis : Definition and Classification (2001-2002), Philadelphia.