Anda di halaman 1dari 114

EVALUASI RANTAI PASOKAN OBAT DI RUMAH SAKIT ISLAM

JAKARTA CEMPAKA PUTIH





Oleh
PUSPITA ROSA
H 24066004









PROGRAM SARJANA MANAJEMENPENYELENGGARAAN KHUSUS
DEPARTEMEN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2009

EVALUASI RANTAI PASOKAN OBAT DI RUMAH SAKIT ISLAM
JAKARTA CEMPAKA PUTIH


SKRIPSI
Sebagai salah satu syarat memperoleh gelar
SARJANA EKONOMI
pada Program Sarjana Manajemen Penyelenggaraan khusus
Departemen Manajemen
Fakultas Ekonomi dan Manajemen
Institut Pertanian Bogor

Oleh
PUSPITA ROSA
H 24066004




PROGRAM SARJANA MANAJEMEN PENYELENGGARAAN KHUSUS
DEPARTEMEN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2009

INSTITUT PERTANIAN BOGOR
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
DEPARTEMEN MANAJEMEN
PROGRAM SARJANA MANAJEMEN PENYELENGGARAAN KHUSUS

EVALUASI RANTAI PASOKAN OBAT DI RUMAH SAKIT
ISLAM JAKARTA CEMPAKA PUTIH
SKRIPSI
Sebagai salah satu syarat memperoleh gelar
SARJANA EKONOMI
Pada Program Sarjana Manajemen Penyelenggaraan Khusus
Departemen Manajemen
Fakultas Ekonomi dan Manajemen
Institut Pertanian Bogor
Oleh
PUSPITA ROSA
H 24066004
Menyetujui, Mei 2009


Prof.Dr.Ir.H. Musa Hubeis, MS,Dipl.Ing,DEA
Dosen Pembimbing
Mengetahui,

Dr.Ir. Jono M Munandar, M.Sc
Ketua Departemen

Tanggal Lulus :



ABSTRAK
Puspita Rosa, H 24066004. Evaluasi Rantai Pasokan Obat di Rumah Sakit Islam
Jakarta Cempaka Putih. Di bawah bimbingan H. Musa Hubeis.

Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih (RSIJCP) adalah salah satu
contoh perusahaan jasa di bidang kesehatan yang memperhatikan mutu pelayanan
dengan menerapkan sistem Manajemen Rantai Pasokan (MRP). Penelitian ini
bertujuan (1) Mempelajari, menganalisis dan memberikan gambaran penerapan
MRP di RSIJCP, (2) Mengetahui tanggapan anggota rantai pasokan (pemasok,
perusahaan dan layanan farmasi (3) Menganalisis hubungan efektivitas terhadap
MRP di RSIJCP.
Penelitian ini dilakukan di RSIJCP yang berlokasi di Cempaka Putih
Tengah No.1 Jakarta Pusat. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data
primer dan sekunder. Data primer diperoleh dari hasil wawancara dan penyebaran
kuesioner. Data sekunder diperoleh dari dokumen RS, lembaga terkait, buku,
internet, jurnal dan penelitian terdahulu. Pengolahan data dengan menggunakan
analisis deskriptif dan analisis regresi berganda metode (backward ellimination).
Ada enam peubah yang mempengaruhi efektivitas, yaitu pemenuhan
kebutuhan (X
1
), logistik (X
2
), produksi (X
3
), pendapatan dan laba (X
4
), biaya-
biaya (X
5
) dan kerjasama (X
6
). Pada RSIJCP, setelah dilakukan analisis dengan
analisis berganda hanya peubah logistik (X
2
), produksi (X
3
) dan kerjasama (X
6
)
memiliki hubungan efektifitas dari hasil uji F atau uji simultan diperoleh nilai
siginifikan (p-value) < 0,05 yang diukur dari uji ANOVA (Analysis Of Variance).
Uji t atau uji parsial diperoleh nilai p value < 0,05 yang diukur dengan
(coefficients), sedangkan uji koefisien determinasi yang dilihat dari nilai (adjusted
R square) 70,8 persen, yang diartikan bahwa peubah logistik dan produksi dapat
menjelaskan efektivitas 70,8 persen.
Penerapan indikator-indikator yang ada pada peubah logistik, produksi
dan kerjasama diperlukan pada sistem MRP di RSIJCP (level operasional) dan
secara menyeluruh. Penerapan MBO (Management by Objective) dan PDCA
(plan-do-check-action) digunakan untuk mengevaluasi setiap kegiatan, baik
dikendalikan secara langsung ataupun cukup hanya dengan memonitor. Selain itu,
penerapan strategi biaya diupayakan untuk efiensi biaya produksi yang dapat
diselaraskan dengan strategi banyak pemasok. Salah satu aktivitas yang
mendorong strategi tersebut adalah dengan memperbaiki posisi tawar dengan
pemasok. Hal tersebut akan dapat mendukung untuk menjalin kerjasama jangka
panjang. Penggunaan fasilitas teknologi juga dapat mendorong berjalannya
strategi biaya dan banyak pemasok.





DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Penulis adalah putri sulung dari empat bersaudara pasangan H. Rojali dan
Sulastri. Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 2 Desember 1984.
Pada tahun 2003-2006 penulis tercatat sebagai mahasiswa Institut
Pertanian Bogor di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Departemen Sosial
Ekonomi perikanan lewat jalur USMI (Undangan Seleksi Mahasiswa IPB). Masa
studi dilanjutkan pada jenjang yang lebih tinggi di Program Sarjana
Penyelenggaraan Khusus Manajemen, Departemen Manajemen, Fakultas
Ekonomi Manjemen, Institut Pertanian Bogor pada November 2006.
Selama menjadi mahasiswa di Program Sarjana Manajemen
Penyelenggaraan Khusus, penulis aktif di organisasi Keluarga Muslim Ekstensi
(KAMUS) di bidang Keputrian dan Kominfo. Penulis juga terlibat pada beberapa
kegiatan baik sebagai panitia ataupun peserta. Selain itu, penulis juga aktif sebagai
bendahara di Mutiagro Distris dan pengajar untuk mata ajaran bahasa inggris. Di
akhir masa studi di Program Sarjana Penyelenggaraan Khusus Manajemen,
penulis menulis skripsi berjudul Evaluasi Rantai Pasokan Obat di Rumah Sakit
Islam Jakarta Cempaka Putih.














KATA PENGANTAR
Maha Besar Allah SWT yang telah menciptakan manusia dengan sebaik-
baik penciptaan, dilengkapi dengan akal sempurna yang dapat membedakan mana
yang baik dan buruk. Shalawat dan salam tersampaikan kepada Nabi Muhammad
SAW yang telah menuntun manusia dari kebodohan kepada cahaya.
Pelayanan yang tepat waktu dan tepat mutu menjadi sebuah kewajiban
yang harus dijalankan pada setiap perusahaan. Salah satunya dengan penerapan
Manajemen Rantai Pasokan (MRP) yang efektif yang selalu dievaluasi secara
berkelanjutan. Untuk itu, pada kesempatan ini disampaikan Skripsi berjudul
Evaluasi Rantai Pasokan Obat di Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih yang
merupakan sebagai salah satu syarat untuk kelulusan dan meraih gelar Sarjana
Ekonomi pada Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Pada kesempatan kali penulis
berterimakasih kepada :
1. Prof.Dr.Ir.H.Musa Hubeis,MS,Dipl.Ing,DEA selaku dosen pembimbing yang
telah banyak memberikan bimbingan, saran dan motivasi kepada penulis
2. Nurhadi Wijaya, S.TP, MM. dan Heti Mulyati, S.TP, MT. selaku dosen
penguji yang telah memberikan kritik dan saran yang membangun.
3. Staf Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih yang berkenan memberikan
kesempatan untuk dijadikan sebagai objek penelitian.
4. Orang tua yang selalu mendukung dalam penyelesaian skripsi.
5. Rekan-rekan yang menjadi penyemangat dalam penyelesaian skripsi.
6. Seluruh pihak yang membantu penyelesaian skripsi.
Penulis berharap semoga penelitian yang akan dilakukan dapat bermanfaat
bagi semua pihak yang berkepentingan, khususnya bagi diri pribadi. Saran yang
membangun sangat diharapkan untuk penyempurnaan karya ini.
Bogor, Mei 2009
Penulis



DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK ................................................................................................ ii
RIWAYAT HIDUP .................................................................................. iii
KATA PENGANTAR .............................................................................. iv
DAFTAR TABEL ................................................................................... vii
DAFTAR GAMBAR ............................................................................... viii
DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................ ix
I. PENDAHULUAN ............................................................................... 1
1.1. Latar Belakang .............................................................................. 1
1.2. Rumusan Masalah ......................................................................... 4
1.3. Tujuan Penelitian .......................................................................... 5

II. TINJAUAN PUSTAKA ..................................................................... 6
2.1. Manajemen Rantai Pasokan .......................................................... 6
2.1.1. Definisi Manajemen Rantai Pasokan ................................... 6
2.1.2. Prinsip Dasar Manajemen Rantai Pasokan .......................... 7
2.1.3. Unsur dan Ruang Lingkup Manajemen Rantai Pasokan...... 7
2.1.4. Identifikasi Anggota Rantai Pasokan ................................... 8
2.1.5. Jenis-Jenis Jaringan Proses Bisnis ....................................... 9
2.1.6. Pengelolaan Rantai Pasokan ............................................... 10
2.1.7. Pentingnya Rantai Pasokan di Perusahaan .......................... 13
2.1.8. Ciri-ciri Manajemen Rantai Pasokan .................................. 14
2.1.9. Kriteria Sukses Manajemen Rantai Pasokan ...................... 15
2.2. Rumah Sakit ................................................................................. 17
2.3. Alat Kesehatan dan Obat-obatan .................................................. 17
2.4. Kontrol dan Evaluasi .................................................................... 20
2.5. Penelitian Terdahulu yang Relevan ............................................. 21

III. METODE PENELITIAN ................................................................ 22
3.1. Kerangka Pemikiran Penelitian .................................................... 22
3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian ....................................................... 25
3.3. Pengumpulan Data ....................................................................... 25
3.4. Pengolahan dan Analisis Data ...................................................... 30
3.4.1. Method of Succesive Interval .............................................. 32
3.4.2. Uji Normalitas Data ............................................................ 33
3.4.3. Uji Validitas dan Reliabilitas .............................................. 33
3.4.4. Analisis Konklusif-Deskriptif ............................................. 35
3.4.5. Analisis Regresi ................................................................... 36

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ........................................................ 44
4.1. Gambaran Umum Perusahaan ..................................................... 44
4.1.1. Visi dan Misi ..................................................................... 45


4.1.2. Struktur Organisasi .......................................................... 45
4.2. Karakteriristik Responden ......................................................... 47
4.3. Rantai Pasokan ........................................................................... 49
4.3.1. Aliran Rantai Pasokan .................................................... 49
4.3.2. Anggota Rantai Pasokan ................................................. 55
4.4. Jaringan Proses Rantai Bisnis .................................................... 61
4.5. Hasil Uji Validitas, Reliabilitas dan Normalitas Data ............... 62
4.6. Tanggapan Responden terhadap Kuesioner ............................... 64
4.7. Hubungan antara Efektivitas dan Manajemen
Rantai Pasokan ........................................................................... 68
4.7.1. Faktor Pendorong Efektivitas Rantai Pasokan ................ 68
4.7.2. Hasil Analisis Regresi Berganda Antara
Efektivitas dan MRP........................................................ 72

V. KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................ 77
5.1 Kesimpulan .................................................................................. 77
5.2 Saran ............................................................................................. 77

DAFTAR PUSTAKA .............................................................................. 78
DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................... 80















DAFTAR TABEL
No Halaman
1. Data perkembangan jumlah rumah sakit selama 5 tahun ................... 1
2. Daftar hasil penelitian terdahulu ........................................................ 21
3. Kebutuhan, jenis, metode dan sumber data ........................................ 27
4. Indikator dari setiap peubah dalam kuesioner .................................... 29
5. Tanggapan responden terhadap pertanyaan kuesioner ....................... 36
6. Tabulasi silang responden .................................................................. 47
7. Uji reliabilitas pada setiap peubah pertanyaan ................................... 63
8. Hasil tanggapan responden terhadap efektivitas ................................ 64
9. Hasil tanggapan responden terhadap pemenuhan kebutuhan............. 65
10. Hasil tanggapan responden terhadap logistik ..................................... 65
11. Hasil tanggapan responden terhadap produksi ................................... 66
12. Hasil tanggapan responden terhadap penerimaan dan laba ................ 66
13. Hasil tanggapan responden terhadap biaya-biaya .............................. 66
14. Hasil tanggapan responden terhadap kerjasama ................................ 67











DAFTAR GAMBAR
No Halaman
1. Rantai pasokan ....................................................................................... 9
2. Evaluasi MRP berbasis kecerdasan buatan .................................... 23
3. Kerangka pemikiran penelitian ...................................................... 24
4. Penilaian berdasarkan interval ....................................................... 36
5. Rantai pasokan perbekalan kesehatan RSIJCP .............................. 49
6. Proses pengadaan dan pemesanan perbekalan kesehatan ............ 54
7. Proses penerimaan perbekalan kesehatan dari pemasok
ke petugas Gudang ......................................................................... 55
8. Proses distribusi perbekalan kesehatan dari logistik
ke layanan Farmasi ......................................................................... 55
9. Jenis-jenis jaringan proses bisnis ................................................... 62
10.Penilaian responden terhadap efektivitas di RSIJCP ..................... 68


















DAFTAR LAMPIRAN
No Halaman
1. Kuesioner penelitian .......................................................................... 81
2. Struktur organisasi RSIJCP ................................................................ 88
3. Denah gudang perbekalan kesehatan ................................................. 91
4. Daftar perusahaan pemasok ............................................................... 92
5. Succesive interval method .................................................................. 93
6. Hasil uji validitas per butir pertanyaan .............................................. 96
7. Hasil uji normalitas data .................................................................... 97
8. Hasil analisis regresi backward ellimination .................................... 100
9. Uji klasik regresi berganda................................................................ 102



















I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Berdasarkan catatan Departemen Kesehatan Republik Indonesia tahun 2007
jumlah Rumah Sakit (RS) di Indonesia semakin bertambah, baik unit Rumah Sakit
Swasta (RSS) maupun Rumah Sakit Umum (RSU). Pertumbuhan RS sendiri
mengalami perkembangan yang sangat pesat, tetapi perkembangan tersebut tidak
diikuti dengan penyebaran yang lebih merata. Sebagian besar RS itu berada di
Pulau Jawa dan hanya kota-kota besar (Candraningrum, 2003).
Perkembangan jumlah RS selama 5 tahun (2000-2004), bertambah 17,3
persen dari 1145 menjadi 1.246 (tidak termasuk Rumah Bersalin). Bertambahnya
jumlah RS yang paling nyata adalah RSS, dari 550 menjadi 621 RS. Tidak hanya
RSS yang bertambahnya jumlahnya, namun RS dari berbagai kepemilikan juga
bertambah kuantitasnya, seperti dimuat pada Tabel 1 (www.depkes.go.id, 2007).
RS yang telah dinyatakan terakreditasi baik yang dikelola pemerintah
maupun swasta hingga Desember 2000 sebanyak 312 (27,2%) dari 1.145 RS yang
ada. RSS yang terbanyak lulus akreditasi adalah wilayah DKI Jakarta, Yogyakarta,
dan Bali (Candraningrum, 2003).
Tabel 1. Data perkembangan jumlah RS dari tahun 2003-2006
Kepemilikan 2003 2004 2005 2006
1. Depkes 14 13
13 13
2. Propinsi/Kab/Kota 339 348
365 377
3. TNI / POLRI 110 110
110 110
4. DEP LAIN / BUMN 71 71
71 71
5. Swasta 432 434
436 441
Jumlah 966 976
995 1.012
A. RSU

1. RSK Vertikal 17 18
18 18
2. RSK Prop/Kab/Kota 57 56
56 56
3. RSK Swasta 185 187
190 197
Jumlah 268 270
273 280
B. RSK

1. RS Vertikal/ 31 31
31 31
2. RS Prop/Kab/Kota/ 396 404
421 433




Lanjutan Tabel 1.
Kepemilikan 2003 2004 2005 2006
3. RS TNI / POLRI / 112 112
112 112
4. RS Dep Lain /BUMN/ 78 78
78 78
5. RS Swasta/Private 617 621
626 638
Total (RSU+RSK) 1.234 1.246
1.268 1.392
Sumber : www.depkes.go.id, 2007
Berkembangnya industri kesehatan di Indonesia telah mendorong masing-
masing RS baik, swasta maupun pemerintah untuk meningkatkan pelayanannya
agar dapat menghadapi persaingan. Kenyataannya, RS sebagai institusi penyedia
jasa layanan kesehatan, juga merupakan sebuah lembaga yang tidak lepas dari
pengaruh atau tekanan lingkungan. Baik buruknya kinerja RS akan cepat
mempengaruhi kepercayaan masyarakat pada umumnya. RS harus memiliki
keunggulan kompetitif dalam rangka menghasilkan pelayanan bermutu. Mutu RS
yang baik tidak terlepas dari sumber daya yang baik.
Heizer dan Render (2004) mendefinisikan mutu sebagai keseluruhan ciri
atau karakteristik produk atau jasa dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan dan
harapan pelanggan. Crosby dalam Jacobalis (1991) mendefinisikan mutu sebagai
kesesuaian dengan keperluan yang meliputi (availability), (delivery), (reliability),
(maintainability) dan (cost effectivenes). Mutu adalah suatu kondisi dinamis yang
berkaitan dengan produk, pelayanan, orang, proses dan lingkungan yang
memenuhi atau melebihi apa yang diharapkan. Peningkatan mutu pelayanan RS
dapat dipacu dari internal ataupun eksternal.
Banyak perusahaan yang mengalami kerugian yang cukup besar, karena
tidak terintegrasinya masalah pengadaan logistik. Gejalanya adalah terjadinya
kelebihan atau kekurangan persediaan, kerusakan, kesalahan pengiriman,
kehilangan dan sebagainya. Sejauh ini, RS melakukan pengadaan logistik berupa
alat kesehatan dan obat-obatan melalui teknik (Delivery Order/DO). Dalam
artian, pemasok hanya mengantarkan barang produksinya sesuai dengan
pemesanan. Pada teknik D/O perusahaan tidak memiliki keterkaitan yang erat
antara pemasok dan konsumen. Kejadian seperti itu dapat dihindari dengan
mengintegrasikan semua kegiatan logistik mulai dari ujung pemasok paling awal
sampai ke konsumen paling akhir. Konsep integrasi logistik ini disebut dengan


(supply chain/rantai pasokan) yang juga merupakan salah satu upaya peningkatan
mutu pelayanan RS secara internal.
Rantai pasokan adalah pengintegrasian aktivitas pengadaan bahan dan
pelayanan, pengubahan menjadi barang setengah jadi dan produk akhir, serta
pengiriman ke pelanggan. Seluruh aktivitas ini mencakup aktivitas pembelian
dan (outsourcing), ditambah fungsi lain yang penting bagi hubungan antara
pemasok dan distributor (Heizer dan Render, 2004). Manajemen rantai pasokan
(MRP) mencakup seluruh kegiatan arus dan transformasi barang mulai dari
bahan mentah, sampai penyaluran ke tangan konsumen, termasuk aliran
informasinya. Bahan baku dan aliran informasi adalah rangkaian dari rantai
pasokan.
Kegiatan MRP dalam pelaksanaannya melibatkan secara langsung ataupun
tidak langsung semua perusahaan dan organisasi yang berhubungan dengan
perusahaan inti. Tujuan akhir dari MRP adalah memaksimalkan keseluruhan
nilai. Keseluruhan nilai yang dimaksud adalah keseluruhan diantara nilai dari
produk akhir terhadap pelanggan dan upaya rantai pasokan sebuah perusahaan di
dalam memenuhi permintaan pelanggan. Penerapan MRP memiliki beberapa
alasan yang sangat mendasar, diantaranya (Said, 2006) :
1. Situasi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan yang sangat luas
2. Perubahan paradigma persaingan
3. Semakin canggihnya dukungan teknologi informasi
Keberhasilan MRP sangat dipengaruhi oleh sistem yang dianut oleh
sebuah perusahaan. Sistem yang telah dibangun harus dievaluasi dengan cara
pengauditan secara menyeluruh, baik dari sisi perusahaan, pemasok hingga
konsumen. Kelebihan dari penerapan MRP, diantaranya perusahaan dapat
dengan cepat mengetahui keefektifan dari sebuah rantai pasokan (distribusi) juga
dapat merespon cepat kebutuhan dan keinginan dari konsumen akan suatu
barang. Namun, di sisi lain terdapat kelemahan dari penerapan MRP, diantaranya
sistem distribusi yang ada kurang mendukung, kuota dan tarif yang
mengahalangi perusahaan asing untuk melakukan bisnis di daerah, risiko politik
dan mata uang di sebuah negara yang tidak stabil.


Menurut Heizer dan Render (2004) terdapat tiga permasalahan yang
dimiliki MRP, yaitu optimasi lokal, insentif dan lot besar. Rinciannya sebagai
berikut :
a. Optimasi lokal
Anggota rantai pasokan harus memusatkan perhatian untuk memaksimalkan
keuntungan lokal atau meminimalkan biaya langsung berdasarkan
pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki. Respon yang diberikan yang
terlalu berlebihan dapat mendatangkan kerugian bagi para anggota pasokan.
b. Insentif
Insentif yang dimaksud berupa insentif penjualan dan potongan, karena
kuantitas, kuota dan promosi. Insentif memasukkan barang dagangan ke
rantai pasokan untuk penjualan yang belum terjadi dapat menimbulkan
fluktuasi yang mahal bagi semua anggota rantai.
c. Lot besar
Pemesanan dalam jumlah besar yang dilakukan oleh perusahaan dapat
menimbulkan kerugian jika tidak disertai dengan pengetahuan secara jelas
tentang kapasitas gudang dan kapasitas produksi.
Inti dari persaingan perusahaan-perusahaan sekarang ini terletak pada
bagaimana sebuah perusahaan mampu menciptakan produk atau jasa yang lebih
murah, lebih baik, dan lebih cepat dibandingkan dengan pesaing bisnisnya. Hal
tersebut memaksa perusahaan untuk meningkatkan kinerjanya bisnisnya. Untuk
dapat meningkatkan kinerjanya, sebuah perusahaan harus mampu menjalin
kerjasama dengan para mitra bisnisnya, dalam hal ini pihak-pihak yang
memberikan pasokan kebutuhan perusahaan dalam berbagai bentuk.
Pengintegrasian ini akan meningkatkan efisiensi dan efektivitas. Selain itu, lebih
jauh lagi menciptakan keunggulan kompetitif tertentu bagi perusahaan terkait.
Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih (RSIJCP) adalah satu contoh
perusahaan yang bergerak di bidang jasa kesehatan yang sangat memperhatikan
mutu pelayanannya. Oleh karena itu, pada RS ini diterapkan MRP. Namun
sejauhmana keefektifan dan pengaruhnya perlu ditinjau lebih jauh lagi, guna
mengevaluasi kinerja yang mengarah pada perkembangan berkelanjutan
(continous improvement).


1.2. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka permasalahan yang diteliti
adalah :
1. Bagaimana mempelajari, menganalisis dan memberikan gambaran tentang
penerapan MRP di RSIJCP ?
2. Bagaimana tanggapan anggota rantai pasokan dan hubungan keefektifan
terhadap MRP di RSIJCP?
1.3. Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian yang
akan dicapai adalah :
1. Mempelajari, menganalisis dan memberikan gambaran penerapan MRP di
RSIJCP
2. Mengetahui tanggapan anggota rantai pasokan (pemasok, perusahaan dan
layanan farmasi)
3. Menganalisis hubungan efektivitas terhadap MRP di RSIJCP.


















II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Manajemen Rantai Pasokan
2.1.1. Definisi Manajemen Rantai Pasokan
Manajemen Rantai Pasokan (MRP) atau SCM (Supply Chain
Management) menurut Heizer dan Render (2004) adalah
pengintegrasian aktivitas pengadaan bahan dan pelayanan,
pengubahan menjadi barang setengah jadi dan produk akhir, serta
pengiriman ke pelanggan. Seluruh aktivitas ini mencakup aktivitas
pembelian dan (outsourcing), ditambah fungsi lain yang penting bagi
hubungan antara pemasok dan distributor. Russel and Taylor (2003)
menambahkan bahwa MRP mengatur aliran informasi yang
diteruskan ke rantai pasokan di dalam pemesanan untuk mencapai
tingkat sinkronisasi dalam memenuhi kebutuhan konsumen dengan
menurunkan biaya.
Menurut Said (2006), MRP adalah pengelolaan informasi,
barang dan jasa mulai dari pemasok paling awal sampai ke
konsumen paling akhir dengan menggunakan pendekatan sistem
terintegrasi dengan tujuan yang sama. Dapat diartikan pula rantai
pasokan adalah alur perjalanan barang, informasi dan keuangan.
Pada umumnya berawal dari pembelian bahan dasar ataupun
setengah jadi, yang kemudian diberangkatkan menuju pabrik untuk
diolah menjadi barang jadi. Setelah itu, barang-barang jadi tersebut
akan diteruskan ke gudang atau pusat distribusi untuk diantarkan ke
(retailer), distributor ataupun langsung ke rumah/kantor pelanggan.
Akhirnya, layanan purna jual seperti perawatan dan perbaikan atau
pengembalian dan pendaurulangan dari produk-produk tersebut
diakhir masa gunanya. Perencanaan rantai pasokan yang baik akan
mengoptimalisasikan alur.





2.1.2. Prinsip Dasar Manajemen Rantai Pasokan
Lima prinsip dasar dalam MRP adalah :
a. Prinsip integrasi
Semua unsur yang terlibat dalam rangkaian MRP berada dalam
satu kesatuan yang kompak dan menyadari adanya saling
ketergantungan
b. Prinsip Jejaring
Semua unsur berada dalam hubungan kerja yang selaras.
c. Prinsip ujung ke ujung
Proses operasinya mencakup elemen pemasok yang paling hulu
sampai ke konsumen yang paling hilir.
d. Prinsip saling tergantung
Setiap unsur dalam MRP menyadari bahwa untuk mencapai
manfaat bersaing diperlukan kerjasama yang saling
menguntungkan.
e. Prinsip Komunikasi
Keakuratan data menjadi darah dalam jaringan untuk menjadi kete
patan informasi dan material.
2.1.3. Unsur dan Ruang Lingkup MRP
Tunggal (2008) menyebutkan unsur-unsur dalam MRP adalah :
1. Struktur jaringan rantai pasokan
Jaringan kerja anggota dan hubungan dengan rantai pasokan lainnya.
2. Proses bisnis rantai pasokan
Aktivitas-aktivitas yang menghasilkan nilai keluaran tertentu bagi
pelanggan.
3. Komponen MRP
Peubah-peubah pembelian dimana proses bisnis disatukan dan disusun
sepanjang rantai pasokan.






Siagian (2005) menyatakan ruang lingkup MRP meliputi :
1. Rantai pasokan mencakup seluruh kegiatan arus dan transformasi barang,
mulai dari bahan mentah, sampai penyaluran ke tangan konsumen,
termasuk aliran informasinya. Bahan baku dan aliran informasi adalah
rangkaian dari rantai pasokan.
2. Rantai pasokan sebagai suatu sistem tempat organisasi menyalurkan
barang produksi.
2.1.4. Identifikasi Anggota Rantai Pasokan
Menurut Tunggal (2008), anggota rantai pasokan meliputi semua
perusahaan dan organisasi yang berhubungan dengan perusahaan inti, baik
secara langsung maupun tidak langsung melalui pemasok atau pelanggannya
dari (point of origin) hingga (point of consumption) terdiri atas :
a. Anggota primer adalah semua perusahaan/unit bisnis strategik yang
benar-benar menjalankan aktivitas operasional dan manajerial dalam
proses bisnis yang dirancang untuk menghasilkan keluaran tertentu bagi
pelanggan atau konsumen.
b. Anggota sekunder adalah perusahaan-perusahaan yang menyediakan
sumber daya, pengetahuan, utilitas atau aset-aset bagi anggota primer di
rantai pasokan.
Siagian (2005) menyatakan bahwa MRP berkaitan langsung dengan
siklus bahan baku dari pemasok ke produksi, gudang dan distribusi
kemudian sampai ke konsumen. Perusahaan meningkatkan kemampuan
bersaing melalui penyesuaian produk, mutu yang tinggi, pengurangan biaya
dan kecepatan meraih pasar dengan penekanan pada rantai pasokan. Rantai
pasokan mencakup keseluruhan interaksi antara pemasok, perusahaan
manufaktur, distributor dan konsumen. Interaksi ini juga berkaitan dengan
transportasi, informasi, penjadwalan, transfer kredit maupun tunai, serta
transfer bahan baku antara pihak-pihak yang terlibat. Rantai pasokan
menurut Siagian (2005) dimuat pada Gambar 1.










Gambar 1. Rantai pasokan (Siagian, 2005)
2.1.5. Jenis-jenis Jaringan Proses Bisnis
Menyatukan dan mengatur semua proses bisnis melalui rantai pasokan
tidak akan seefektif dengan hasil yang ingin dicapai. Harus ada pemisahan
jaringan mana yang benar-benar penting dan perlu diperhatikan. Menurut
Tunggal (2008), ada 4 jenis jaringan proses bisnis, yaitu :
1. Managed process links
Jaringan dimana perusahaan (focal) merasa penting untuk bersatu dan
kolaborasi dengan anggota lain dari rantai pasokan. Perusahaan (focal)
akan aktif bersatu dan mengatur proses dengan konsumen dan pemasok.
2. Monitored process links
Perusahaan (focal) tidak aktif terlibat, tetapi hanya meninjau dan
mengaudit secara berkala bagaimana setiap proses disatukan atau diatur.
3. Not managed process links
Perusahaan (focal) tidak terlibat secara aktif dan tidak juga meninjau
secara kontinu seperti pada jaringan sebelumnya. Perusahaan
mempercayakan anggota lain yang mengaturnya.
4. Non member process links
Proses antara anggota-anggota perusahaan (focal) dengan selain anggota
dari rantai pasokan. Non anggota tidak termasuk dalam struktur jaringan
rantai pasokan (focal), tetapi perusahaan non anggota tersebut dapat dan
sering memberi pengaruh pada perusahaan (focal) dan anggota-anggota
lainnya.



- Informasi penjadwalan
- Arus kas
- Arus pesanan
Pemasok Persediaan Perusahaan Distribusi Konsumen
- Arus kredit
- Arus bahan baku


2.1.6. Pengelolaan Rantai Pasokan
Mengelola MRP secara produktif dan efisien adalah sesuatu yang
sangat penting bagi sebuah perusahaan, karena secara tidak langsung akan
mempengaruhi keuntungan potensial yang akan diperoleh perusahaan.
Secara teori, menurut Said (2006) disebutkan tahapan untuk mencapai rantai
pasokan yang produktif dan efisien adalah :
1. Tetapkan MRP sebagai aspek strategik perusahaan
Menerapkan MRP tidak hanya pada level operasional, tetapi secara
menyeluruh.
2. Rancang proses MRP dari ujung ke ujung
Organisasi merancang pola aliran informasi dan barang mulai dari
pemasok paling awal sampai konsumen paling akhir. Bentuk intervensi
yang perlu dilakukan dapat berbeda-beda, yaitu ada yang perlu
dikendalikan langsung, ada yang hanya perlu dimonitor, ada yang hanya
perlu diketahui saja. Dengan memiliki rancangan ini, perusahaan dapat
memetakan dengan baik proses mana yang dapat menyebabkan biaya
tinggi atau proses mana yang dapat menyebabkan waktu paling lama.
3. Rancang struktur organisasi MRP
Perusahaan harus memperjelas eksistensi dalam sebuah organisasi, bukan
hanya sebagai perangkat kerja di luar sistem.
4. Kembangkan model kolaborasi yang tepat
Perusahaan harus membangun kerjasama dengan perusahaan lain, karena
hampir tidak mungkin ada perusahaan yang mampu melakukan semua
kegiatannya sendiri dengan membangun kerjasama.
5. Gunakan alat ukur kinerja yang tepat
Alat ukur yang baik untuk MRP adalah yang memiliki penghubung
dengan strategi organisasi, seimbang dan komprehensif, penetapan target
sebanding dengan situasi internal maupun eksternal, serta targetnya
agresif, tetapi dapat dicapai, dapat dimonitor dengan mudah, dapat
digunakan untuk peningkatan produktivitas berkelanjutan dan dapat
dilaksanakan melalui rencana implementasi formal. Alat ukur digunakan
untuk mengetahui kondisi SCM perusahaan membaik atau memburuk,


sehingga dengan mengetahui posisi perusahaan diharapkan dapat segera
dilakukan perbaikan.
Menurut Haming dan Nurnajamuddin (2007), area kompetitif dan
strategik berikut dapat dipakai sebagai penyumbang manfaat yang sempurna
untuk penerapan sistem MRP yang efektif. Faktor kompetitif dan strategik
dimaksud adalah :
1. Pemenuhan kebutuhan
Aktivitas yang berhubungan dengan kepastian kecukupan kuantitas dari
komponen yang diperlukan dalam menjalankan produksi atau produk
yang akan dijual, dan tiba pada waktu yang tepat sesuai jadwal. Hal itu
dimungkinkan melalui adanya komunikasi efektif, yang memastikan
bahwa pesanan ditetapkan pada sejumlah jadwal yang sesuai dan siap
untuk dipenuhi. Sistem MRP memungkinkan suatu perusahaan secara
tetap melihat apa yang ada di gudang persediaan dan meyakinkan bahwa
jumlah yang dipesan sesuai dengan kebutuhan dimaksud dalam pesanan
dan jadwal untuk menggantikan sediaan yang sudah dipakai.
2. Logistik
Aktivitas yang berhubungan dengan pengadaan sediaan bahan atau
komponen yang diperlukan. Aktivitas tersebut juga perlu dijaga agar
biaya angkutan material serendah mungkin, konsisten dengan waktu
penyerahan yang dijanjikan, serta dilakukan secara tepat waktu dan
aman. Dalam hal ini, sistem MRP memungkinkan suatu perusahaan
untuk mempunyai kontak tetap dengan tim distribusinya, dapat terdiri
atas truk, kereta api, atau jenis transportasi lain. Sistem dapat
mengizinkan perusahaan untuk menjajaki material yang diperlukan
secara terus-menerus.
3. Produksi
Aktivitas tersebut berhubungan dengan kegiatan mengolah bahan
menjadi keluaran yang direncanakan. Aktivitas itu harus mampu
menjamin bahwa lini produksi atau lini perakitan berfungsi dengan baik.
Fasilitas dapat berfungsi memuaskan jika didukung oleh ketersediaan
komponen yang bermutu tinggi dan tersedia ketika diperlukan. Produksi
dapat berlangsung secara teratur, jika ditunjang oleh manajemen logistik


dan pemenuhan atas order bahan atau komponen yang memuaskan, yaitu
sesuai volume kebutuhan dan penyerahannya tepat sesuai jadwal.
4. Pendapatan dan laba
Aktivitas tersebut berhubungan dengan aktivitas pemasaran dan
penjualan, yaitu memberikan layanan penyampaian produk atau jasa
kepada pelanggan yang membutuhkan secara tepat jumlah, tepat waktu,
dan tepat mutu. Kegiatan itu harus mampu memberikan jaminan bahwa
tidak ada penjualan yang akan hilang, karena persediaan tidak ada atau
kosong. Mengelola rantai pasokan dengan baik akan meningkatkan
fleksibilitas perusahaan dalam bereaksi terhadap perubahan tidak terduga
yang terjadi atas permintaan dan penawaran. Sehubungan dengan hal
tersebut, suatu perusahaan mempunyai kemampuan menghasilkan
barang apada harga yang lebih rendah dan mendistribusikannya ke
konsumen dalam waktu yang lebih cepat dibandingkan jika tidak
menerapkan MRP, sehingga MRP berperan untuk meningkatkan laba
total perusahaan.
5. Biaya-biaya
Kemampuan berproduksi secara efektif dan efisien, pada gilirannya akan
memampukan perusahaan memiliki keunggulan atas aspek biaya. Faktor
biaya produksi atau penyiapan produk merupakan salah satu dari empat
faktor keunggulan kompetitif perusahaan. MRP mampu mengurangi
biaya melalui peningkatan rasio perputaran sediaan di gudang,
mengendalikan mutu proses dan mengurangi biaya kegagalan internal
dan eksternal, serta bekerjasama dengan pemasok, agar dapat
menghasilkan keluaran melalui pemanfaataan alat-alat pabrikasi secara
efisien.
6. Kerjasama
Antara mitra rantai pasokan memastikan bahwa semua pihak akan
memperoleh manfaat timbal balik. Perencanaan kolaboratif dan
peramalan merupakan suatu komitmen jangka panjang. Hubungan
tersebut memungkinkan perusahaan mempunyai akses terhadap
informasi yang dapat dipercaya, menghasilkan tingkat persediaan yang
lebih rendah, memotong (lead time), meningkatkan mutu produk,


meningkatkan mutu ramalan dan akhirnya meningkatkan layanan kepada
pelanggan, serta perolehan laba yang memuaskan. Para pemasok juga
menerima manfaat dari hubungan kerjasama melalui peningkatan
pembeli, peningkatan mutu dan penurunan biaya. Semua itu akan
menghasilkan penghematan. Konsumen juga dapat menerima manfaat
melalui tersedianya produk dengan mutu lebih tinggi atas biaya atau
harga yang lebih murah.
2.1.7. Pentingnya Rantai Pasokan dalam Perusahaan
Posisi rantai pasokan sangat penting dalam sebuah perusahaan,
baik terkait dengan kebijakan maupun strategi. Sebuah rantai pasokan
akan dipengaruhi oleh beberapa faktor penting di bawah ini :
1. Pasar
Pasar memerlukan produk dengan mutu bagus dan harga murah.
Sebelumnya telah dikembangkan konsep (Consumer Relationship
Management), namun saat ini telah berkembang menjadi (Consumer
Intimacy Management). Konsep (Consumer Intimacy Management)
merupakan bukti kepedulian perusahaan kepada konsumen.
2. Persaingan
Suatu perusahaan berkompetisi dengan perusahaan lain di berbagai
lini mulai dari produksi, proses, pelayanan dan inovasi. Pada
awalnya, perusahaan hanya fokus pada produksi, namun saat ini
telah bergeser kepada distribusi. Perusahaan berkompetisi untuk
memenuhi kebutuhan konsumen lebih awal dengan menawarkan
produknya dengan berbagai layanan yang disediakan.
3. Teknologi
Perusahaan harus memanfaatkan aset yang dimiliki seperti (data
server) untuk menuju (mobile computing). Pemanfaatan aset
digunakan untuk memberikan (value added) kepada (customer-asset
inovation).





4. Ekonomi
Implementasi SCM dikenal sebagai usaha (improvement) yang banyak
mengeluarkan biaya, karena banyak sekali infrastruktur yang
dibutuhkan.
5. Kebijakan pemerintah
Faktor ini mencakup masalah (environment), (legal compliance),
standar industri, dan lain-lain.
Menurut Haming dan Nurnajamuddin (2007), produk yang diproses atau
disediakan memerlukan kerjasama berbagai pihak pelaksana kegiatan
langsung, yaitu :
1. Pemasok yang mendukung tersedianya logistik.
2. Fungsi operasi atau departemen pabrikasi yang akan melakukan
pengolahan atas masukan menjadi keluaran.
3. Fungsi distribusi dan pergudangan menyimpan dan mengatur distribusi
produk ke konsumen.
4. Fungsi pemasaran dan penjualan memasarkan atau menjual produk yang
dihasilkan atau disediakan sejak dari gudang perusahaan sampai ke tangan
konsumen.
5. Fungsi layanan pelanggan atau (customer relationship management),
merupakan fungsi yang mengharuskan untuk menjaga hubungan dengan
para pelanggan, antara lain selalu mengingatkan kepada pelanggan akan
produk yang disediakan atau diproduksi oleh perusahaan. Pemeliharaan
hubungan dapat dibangun melalui hubungan korespondensi, pameran dan
kegiatan hubungan masyarakat.
2.1.8. Ciri-ciri MRP
Aset strategik yang dimiliki perusahaan sangat menentukan daya saing.
Menurut Said (2006), MRP bercirikan tiga hal berikut :
1. Agility
SCM bukan saja hemat, tetapi juga lincah dalam merespon setiap perubahan
terutama jangka pendek. Agility dapat dicapai apabila perusahaan dapat
mengelola informasi secara lebih terbuka, baik dengan konsumen maupun
pemasok. Agility dapat dicapai dengan menjalin hubungan baik dengan


pemasok dan merancang produk standar, tetapi dapat dimodifikasi pada
ujung penjualan.
2. Adaptability
Perusahaan harus tahu apa yang terjadi di pasar, yaitu apakah akan muncul
bahan baku baru, model transportasi baru, distributor baru, metode kerja
baru ataupun pasar baru.
3. Alignment
Alignment adalah tahap penyelarasan antara pabrik, pemasok dan
distributor. Hal ini dapat terjadi bila pertukaran informasi dan pengetahuan
telah berlangsung dengan lancar dari pemasok sampai ke konsumen
sedemikian rupa, sehingga perubahan permintaan dan pasokan dapat
diketahui secara cepat.
2.1.9. Kriteria Sukses MRP
Perusahaan harus memutuskan suatu strategi rantai pasokan dalam
rangka memperoleh barang dan jasa dari pihak lain.
1. Sesuai dengan strategi bisnis
Empat (4) strategi utama MRP menurut Said (2006), adalah :
a. Biaya
Strategi biaya adalah strategi yang mengutamakan efisiensi.
Perusahaan harus mengupayakan agar biaya produksi, termasuk biaya
distribusi menjadi seefisien mungkin. Strategi ini biasanya banyak
digunakan di industri (retail) atau (consumer goods).
b. Inovasi
Perusahaan menawarkan keunikan dari produk, akibatnya daur hidup
produk, maupun teknologi menjadi semakin singkat dan ketepatan dan
kecepatan masuk pasar sangat menentukan. Para perusahaan yang
menjadi (innovator) akan selalu diikuti oleh perusahaan yang menjadi
(fast follower), oleh karena itu, peran SCM sangat penting dalam
strategi inovasi untuk mempersiapkan pemasaran produknya.





c. Pelayanan
Strategi yang mengutamakan pelayanan biasanya pada industri jasa
yang berhubungan langsung dengan konsumen. Contohnya RS dan
hotel.
d. Mutu
Adanya jaminan produk dapat sampai dan dapat dikonsumsi secara
aman. Biasanya strategi ini banyak digunakan pada industri
makanan dan minuman. Saat ini telah tersedia teknologi
(traceable), yang dapat memantau dan melaporkan posisi dan
kondisi barang selama dalam proses pengiriman.
2. Sesuai dengan kebutuhan konsumen
Mendengarkan apa yang dibutuhkan konsumen beserta prioritasnya
sangat diperlukan untuk suksesnya sebuah SCM. Dalam perusahaan
perlu dikenali lebih lanjut kebutuhan konsumen untuk masing-masing
segmen dan produk tertentu.
3. Sesuai dengan power position
SCM adalah permainan posisi daya tawar dan kekuatan sebuah
perusahaan. Hal yang paling penting yang harus dilakukan perusahaan
adalah mengetahui posisi tawar perusahaan. Dalam hal ini, perusahaan
membutuhkan kerjasama dengan perusahaan lain untuk memperkuat
posisi tawar menawar di pasar.
4. Adaptif
Situasi bisnis yang dinamis akan selalu berubah, begitu juga SCM perlu
terus beradaptasi, karena perubahan ada yang berlangsung secara tiba-
tiba dan juga berlangsung secara perlahan. Perubahan teknologi,
lingkungan bisnis, basis kompetisi dan terjadinya akuisisi dapat
mempengaruhi rancangan SCM secara mendasar.






Menurut Heizer dan Render (2004), yang termasuk ke dalam strategi
Rantai Pasokan ada lima bagian, yaitu :
a. Banyak pemasok
Strategi ini menandingkan satu pemasok dengan pemasok lain dan
membebani pemasok untuk memenuhi permintaan pembeli. Para pemasok
bersaing satu sama lain secara agresif.
b. Sedikit pemasok
Strategi ini digunakan untuk mengembangkan hubungan kemitraan jangka
panjang dengan sedikit pemasok untuk menjaga komitmen antar anggota
rantai pasokan.
c. Integrasi vertikal
Strategi ini mengembangkan kemampuan untuk menghasilkan barang atau
jasa yang sebelumnya dibeli atau membeli perusahaan pemasok atau
distributor.
d. Jaringan Keiretsu
Strategi yang berasal dari istilah bahasa Jepang untuk menggambarkan
para pemasok yang menjadi bagian dari koalisi perusahaan. Anggota
(keiretsu) dipastikan memiliki hubungan jangka panjang dan karenanya
diharapkan dapat berperan sebagai mitra yang memberikan keahlian teknis
dan kestabilan mutu produksi untuk perusahaan.
e. Perusahaan virtual
Strategi ini menggambarkan bahwa perusahaan mengandalkan beragam
hubungan pemasok untuk menyediakan jasa atas permintaan yang
diinginkan. Strategi ini dikenal sebagai jaringan berongga.
2.2. Rumah Sakit
Rumah Sakit (RS) adalah sebuah institusi perawatan kesehatan
profesional yang pelayanannya disediakan oleh dokter, perawat dan tenaga
ahli kesehatan lainnya. RS terbagi dalam beberapa kategori, ada RS yang
dijalankan suatu organisasi, RS terspesialisasi, RS khusus
penelitian/pendidikan ataupun rumah sakit yang dimiliki oleh sebuah
lembaga/perusahaan (www.wikipedia.com. 2008).


RS adalah perusahaan jasa bersifat humanis yang menyediakan
pelayanan kesahatan bagi masyarakat. Pelayanan farmasi merupakan
pelayanan penunjang dan sekaligus merupakan pusat pendapatan utama.
Hal tersebut mengingat bahwa lebih dari 90 persen pelayanan kesehatan di
RS menggunakan perbekalan farmasi (obat-obatan, bahan kimia, bahan
radiologi, bahan alat kesehatan habis, alat kedokteran, dan gas medik) dan
50 persen dari seluruh pemasukan RS berasal dari pengelolaan perbekalan
farmasi (Suciati, 2006).
2.3. Alat Kesehatan dan Obat-obatan
2.3.1. Definisi
Alat kesehatan adalah alat-alat yang digunakan untuk membantu
dalam proses pemberian jasa kesehatan bagi para pasien. Sedangkan
obat dapat didefinisikan sebagai bahan yang menyebabkan
perubahan dalam fungsi biologis melalui proses kimia. Secara istilah
yang lengkap, obat adalah bahan atau campuran bahan yang
digunakan (1) pengobatan, peredaan, pencegahan atau diagnosa
suatu penyakit, kelainan fisik atau gejala-gejalanya pada manusia
atau hewan; atau (2) dalam pemulihan, perbaikan atau pengubahan
fungsi organik pada manusia atau hewan (www.phapros.com, 2006).
2.3.2. Klasifikasi Obat
Berdasarkan undang-undang obat digolongkan dalam:
1. Obat Bebas
Obat bebas adalah obat yang boleh digunakan tanpa resep dokter
disebut obat OTC (Over The Counter) yang terdiri atas obat
bebas dan obat bebas terbatas.
a. Obat bebas
Obat bebas, yaitu obat yang dapat dibeli bebas di apotek, bahkan
warung, tanpa resep dokter, ditandai dengan lingkaran hijau
bergaris tepi hitam. Obat bebas ini digunakan untuk mengobati
gejala penyakit yang ringan, misalnya vitamin/multi vitamin.




b. Obat bebas terbatas
Obat bebas terbatas adalah obat-obatan yang dalam jumlah
tertentu masih dapat dibeli di apotek, tanpa resep dokter,
memakai tanda lingkaran biru bergaris tepi hitam. Contohnya,
obat anti mabuk dan obat anti flu.
2. Obat Keras
Obat keras adalah obat berkhasiat keras yang untuk
memperolehnya harus dengan resep dokter, memakai tanda
lingkaran merah bergaris tepi hitam dengan tulisan huruf K di
dalamnya. Obat-obatan yang termasuk dalam golongan ini adalah
antibiotik (tetrasiklin, penisilin, dan sebagainya), serta obat-
obatan yang mengandung hormon (obat kencing manis, obat
penenang, dan lain-lain). Obat-obat ini berkhasiat keras dan bila
dipakai sembarangan dapat berbahaya bahkan meracuni tubuh,
memperparah penyakit atau menyebabkan mematikan.
3. Obat Psikotropika dan Narkotika
Obat-obat jenis ini sama dengan narkoba yang dapat
menimbulkan ketagihan dengan segala konsekuensi. Obat-obat
ini mulai dari pembuatannya sampai pemakaiannya diawasi
dengan ketat oleh pemerintah dan hanya boleh diserahkan oleh
apotek atas resep dokter.
a. Psikotropika
Berdasarkan (Convention On Psychotropic Subtances),
psikotropika adalah semua bahan alam maupun sintesis yang
dapat menyebabkan ketergantungan, menurunkan aktivitas
otak, merangsang susunan saraf pusat, menimbulkan kelainan
kelakuan disertai timbulnya halusinasi, ilusi, gangguan cara
berpikir dan perubahan alam perasaan (LEPIN, 1999).
b. Narkotika
Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman
atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semi sintetis yang


dapat menimbulkan pengaruh tertentu bagi yang
menggunakan dengan memasukkannya ke dalam tubuh
manusia. Pengaruh tersebut berupa pembiusan, hilangnya
rasa sakit, rangsangan semangat dan halusinasi yang
menyebabkan efek ketergantungan bagi pemakainya.
Macam-macam narkotika :
a. Opiod /Opiat
Bahan-bahan (opiod) yang sering disalahgunakan adalah
(Morfin), Heroin (putaw), (Codein), (Demerol pethidina)
dan (Methadone).
b. Kokain
c. Cannabis/ganja
2.4. Kontrol dan Evaluasi
Kontrol adalah kegiatan yang bertujuan untuk mengawasi serangkaian
kegiatan-kegiatan yang saling terintegrasi. Kontrol dilakukan untuk
menjaga kestabilan pada sebuah rangkaian kegiatan. Pelaksanaan kegiatan
kontrol dilakukan oleh seseorang yang posisi jabatannya memiliki
kewenangan untuk melakukan tindakan koreksi seperti QC (Quality
Control) yang diberikan tanggungjawab khusus oleh sebuah perusahaan
dalam mengamati proses produksi, manajer perusahaan juga dapat
melakukan kontrol terhadap bawahannya untuk menilai prestasi dan kinerja
pada perusahaan.
Evaluasi adalah sebuah tindakan korektif dari seluruh rangkaian
kegiatan keseluruhan. Evaluasi pada umumnya dilakukan setelah seluruh
rangkaian kegiatan pada sebuah sistem telah selesai dilaksanakan. Evaluasi
bertujuan untuk mengetahui tindakan kekeliruan yang terjadi pada sebuah
rangkaian kegiatan untuk tidak diulangi kembali pada pelaksanaan
rangkaian kegiatan selanjutnya. Evaluasi dipimpin oleh seseorang yang
memiliki kemampuan menganalisa dan memeriksa dengan cermat pada
sebuah rangkaian kegiatan, seperti manajer operasional dan direktur utama
(Said, 2006).



2.5. Hasil Penelitian Terdahulu yang Relevan
Pada proses penyusunan skripsi ini dibutuhkan berbagai referensi, salah
satunya penelitian terdahulu. Penelitian terdahulu yang menjadi referensi
adalah yang memiliki persamaan dalam pembahasan tema. Penelitian
terdahulu yang telah dilakukan dan berkaitan dengan evaluasi rantai pasokan,
disajikan pada Tabel 2.
Empat penelitian terdahulu membahas tema yang sama, yaitu tentang
rantai pasokan. Namun pembahasan masing-masing berbeda satu sama lain.
Pembahasan yang telah diulas, antara lain mengenai produktivitas MRP,
pengaruh MRP terhadap kinerja dan efisiensi MRP. Walaupun pada
penelitian ini memiliki kesamaan pada tema bahasan, namun juga memiliki
pembeda diantara penelitian sebelumnya. Penelitian ini menitikberatkan pada
evaluasi MRP melalui pendekatan efektivitas MRP menggunakan analisis
deskriptif dan kuantitatif, dengan metode analisis regresi linear berganda.
Hasil akhir penelitian ini adalah rekomendasi dan solusi berupa kebijakan dan
strategi penerapan MRP untuk mencapai pengembangan berkelanjutan
(continuous improvement) kepada logistik RSIJCP.
Tabel 2. Daftar hasil penelitian terdahulu
No Nama dan Judul Hasil Penelitian
1
Ana Oktiya (2006), FEM-IPB
Analisis Rantai Pasokan
Terhadap Produktivitas Di
UKM Keramik Klampok
Banjarnegara
Sistem manajemen rantai pasokan berpengaruh
nyata terhadap produktivitas UKM Keramik
Klampok Banjarnegara. Data diolah dengan
regresi (stepwise) dan regresi logistik. Hasilnya
diperoleh bahwa hanya kerjasama yang
berpengaruh nyata terhadap produktivitas.
2
Irmawati (2007), FEM-IPB
Pengaruh Manajemen Rantai
Pasokan Terhadap Kinerja Di
PTPN VIII Gunung Mas Bogor
Penelitian ini menggunakan SEM (Structural
Equation Modeling) untuk mengukur kinerja
perusahaan yang didekati dengan strategi
manajemen rantai pasokan dari anggota primer
3
Novianti P (2007), FATETA-
IPB
Analisis Efisiensi Rantai
Pasokan Komoditas Bawang
Merah (Studi Kasus Di Bogor)
Penelitian ini menganalisis pengelolaan dan
efisiensi rantai pasokan komoditas bawang
merah. Penelitian ini menggunakan model
(transshipment) untuk mengetahui dan
mengukur keoptimalan rantai pasokan bawang.
4
Hani (2007), FATETA-IPB
Analisis Rantai Pasokan Buah
Kelapa (Studi Kasus Rantai
Pasokan Buah Kelapa)
Analisis pengelolaan rantai pasokan buah
kelapa terbatas dengan analisis deskriptif untuk
konfigurasi jaringan logistik, pengendalian
inventori dan integrasi rantai pasokan.
Penelitian ini menggunakan model transportasi,
sehingga dianggap dapat mengurangi biaya
transportasi.



III. METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Kerangka Pemikiran Penelitian
Bahan baku utama bagi RS adalah seluruh komponen farmasi, yaitu
obat-obatan. Obat-obatan merupakan komponen farmasi yang mendapat
perhatian ekstra RS baik dari mutu maupun kuantitas persediaannya. Sebaik
apapun kinerja RS, jika tidak disertai dengan mutu yang diberikan (termasuk
di dalamnya mutu obat), maka tidak mendapat kepercayaan dari konsumen.
Ketepatan jumlah obat-obatan yang harus tersedia di RS mendorong
manajemen RS untuk mengendalikan jumlah yang ada. Kelebihan persediaan
obat mengakibatkan biaya penyimpanan yang tinggi dan mengakibatkan
(opportunity cost) atas modal yang seharusnya dapat dialokasikan untuk
investasi pada sektor lain yang lebih menguntungkan, serta bermanfaat.
Sebaliknya, jika jumlah persediaan obat tidak mencukupi kebutuhan, akan
menyebabkan terganggunya kontinuitas proses produksi dan operasi RS.
Kondisi demikian memaksa RS mengeluarkan biaya pengadaan obat tidak
terencana yang harus disegerakan atau cito. Pengadaan obat cito lebih mahal,
serta dapat mengakibatkan kurang baiknya mutu pelayanan RS. Hal yang
demikian tidak menutup kemungkinan kecewanya konsumen yang berakibat
tidak terjadinya kunjungan ulang, dengan kata lain RS kehilangan konsumen
potensialnya.
Supply Chain Management adalah satu-satunya solusi terintegrasi
lengkap untuk menghasilkan nilai pada area bisnis yang penting dalam
pengembangan produk, rencana pembelian, manufakturing dan pemenuhan
pemesanan/order dengan menawarkan kedua solusi yang berbasis (enterprise)
dan kolaborasi (business-to-business/B-B). Perusahaan dapat membuat
kemampuan (intelligence) buatan yang memungkinkan perusahaan
mengawasi dan terus meningkatkan performa rantai pasokan.
Menciptakan sebuah rantai pasokan yang menumbuhkan kolaborasi
dan memberikan visibilitas kebutuhan dan pasokan kepada mitra dagang



merupakan hal yang penting untuk mengurangi biaya keseluruhan dari rantai
pasokan, pelaksanaan inventori dan waktu pemenuhan permintaan/order.
Agar perusahaan dapat melompat dari perusahaan terintegrasi ke rantai
jaringan penuh, perusahaan harus mengadopsi solusi yang kolaboratif
meliputi strategi pengelolaan hubungan pasokan dan menawarkan visibilitas
(real-time) di seluruh tingkatan rantai pasokan.
Sebuah pendekatan implementasi yang cepat dan fleksibel memenuhi
kebutuhan dari berbagai perusahaan dan keseluruhan rantai pasokan,
menghasilkan dampak dan pengembalian modal (return on investment atau
ROI) terbesar nilai yang diperoleh dari keseluruhan rantai pasokan menjadi
lebih baik. SCM akan menghilangkan kendala untuk berkomunikasi di antara
perusahaan, menemukan kesempatan untuk penghematan dengan
menggunakan (business intelligence) pada setiap keputusan di setiap langkah
dalam sebuah proses dan menyelesaikan pekerjaan lebih baik dan lebih cepat
dengan menggunakan sumber lebih sedikit.
Cara yang dapat ditempuh untuk melakukan evaluasi berbasis
kecerdasan (intelligence) adalah mengupayakan beberapa tahapan berikut :
1. Mengintegrasikan rencana dan pelaksanaannya
2. Kolaborasi dengan seluruh mitra dagang
3. Merampingkan pengiriman global
4. Mendorong peningkatan yang terus menerus
Ilustrasi dimaksud disajikan dalam Gambar 2 dan terkait dengan kerangka
pemikiran penelitian pada Gambar 3.






Gambar 2. Evaluasi MRP berbasis kecerdasan buatan (Said, 2006)
Keterangan :
A : Integrasi pelaksanaan rantai pasokan
B : Kolaborasi seluruh mitra dagang
B1 : Pemasok, B2 : MRP, B3 : Konsumen
C : Menyederhanakan distribusi
D : Peningkatan rantai pasokan terus menerus


81 82 83





Kecerdasan (intelligence) buatan
A
C u











































Gambar 3. Kerangka pemikiran penelitian
Nilai Strategik
Strategi manajemen
pemasok
Strategi hubungan dengan
pemasok dan (user atau
farmasi)
Struktur rantai pasokan RSIJCP
Identifikasi rantai pasokan
RSIJCP
Sistem Manajemen RSIJCP
Keadaan umum RSIJCP
(Visi Misi)
Peran obat di RSIJCP
1. Penentu mutu kinerja RS
2. Penentu baik atau tidaknya
manajemen, khususnya manajemen
logistik RS
Pengolahan dan Analisis Data
Analisis rantai pasokan : Analisis deskriptif
Tanggapan responden : Frekuensi rataan
Hubungan Efektivitas MRP: Regresi berganda
Rekomendasi dan solusi berupa kebijakan dan
strategi penerapan MRP untuk mencapai
pengembangan berkelanjutan
(continuous improvement)
Strategi Rantai pasokan RSIJCP
1. (Succesive interval
Method)
2. Uji reliabilitas
3. Uji Validitas
4. Uji Normalitas


3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan di RSIJCP yang bertempat di Jln Cempaka
Putih Tengah Jakarta Pusat. Penelitian dibatasi hanya pada divisi penunjang
klinik bagian logistik perbekalan kesehatan (obat) dan divisi pelayanan klinik
bagian layanan farmasi. Penelitian dilakukan selama 6 (enam) bulan, yaitu
Juni - Nopember dimulai dengan tahap pengumpulan data melalui observasi,
wawancara dengan bantuan kuesioner.
3.3. Pengumpulan Data
Penelitian ini merupakan penelitian (cross section, yaitu sekumpulan
data dari fenomena tertentu yang didapat dalam beberapa interval waktu
tertentu. Penelitian ini termasuk ke dalam riset konklusif-deskriptif. Tujuan
riset deskriptif adalah menggambarkan karakteristik sebuah populasi atau
suatu fenomena. Menurut Wibisono (1999) riset deskriptif adalah riset yang
dilakukan untuk menjawab pertanyaan tentang : siapa (who), apa (what),
kapan (when), dimana (where) dan bagaimana (how). Riset deskriptif juga
bertujuan untuk menolong dalam pengambilan keputusan dalam menentukan,
mengevaluasi dan memilih alternatif terbaik dalam pemecahan sebuah
masalah (Rangkuti, 2003).
Pada riset ini digunakan metode pengumpulan data, yaitu :
1. Observasi
Observasi adalah suatu proses pencatatan yang sistematis terhadap pola
perilaku orang, obyek dan kejadian-kejadian tanpa adanya pertanyaan dan
komunikasi (Wibisono, 1999). Observasi bertujuan agar peneliti
memahami kondisi yang sebenarnya terjadi pada obyek.
2. Wawancara
Wawancara dilakukan kepada para obyek penelitian yang relevan
mendukung data yang diperlukan. Kuesioner (Lampiran 1) diberikan
kepada perusahaan dan instansi-instansi terkait yang menjadi mitra RSIJ
dalam pengadaan dan pendistribusian obat.




3. Kuesioner
Kuesioner berisi pertanyaan yang ditujukan kepada anggota rantai pasokan
(divisi logistik obat, divisi layanan farmasi, serta pemasok obat) yang
bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi hubungan antara MRP
dengan efektivitas MRP di RSIJCP. Kuesioner yang digunakan ada 2
(dua) jenis, pertama kuesioner dengan jenis pertanyaan terbuka (Lampiran
1). Kuesioner tersebut digunakan sebagai panduan wawancara dengan
manajer dan kepala seksi logistik untuk mendapatkan data yang
dibutuhkan. Pertanyaan yang diajukan seputar rantai pasokan di divisi
logistik khususnya mengenai logistik obat.
Kuesioner kedua dengan pertanyaan tertutup (Lampiran 1) bertujuan untuk
mendapatkan opini dari responden yang terdiri atas pertanyaan-pertanyaan
yang berhubungan dengan rantai pasokan, seperti pemasok, konsumen,
strategi MRP dan kinerja logistik. Kuesioner kedua diajukan kepada
anggota rantai pasokan (divisi logistik obat, pemasok/rekanan obat dan
divisi layanan farmasi) sebanyak 34 responden. Peubah yang terdapat pada
kuesioner adalah : efektivitas (Y), pemenuhan kebutuhan (X
1
), logistik
(X
2
), produksi (X
3
), penerimaan dan laba (X
4
), biaya-biaya (X
5
) dan
kerjasama (X
6
).
Skala pengukuran yang digunakan untuk menilai jawaban responden
adalah skala 4 tingkat, dengan keterangan pemberian bobot berikut :
Bobot 4 = sangat setuju
Bobot 3 = setuju
Bobot 2 = tidak setuju
Bobot 1 = sangat tidak setuju
Data yang digunakan pada penelitian ini adalah data primer dan
sekunder, baik yang bersifat kualitatif dan kuantitatif (Tabel 3). Data
primer adalah data yang langsung diperoleh dari sumber asalnya, yaitu
divisi logistik perbekalan kesehatan, rekanan/pemasok obat serta unit
layanan farmasi. Data primer diperoleh dengan pengamatan langsung pada
tiap proses pengadaan obat serta wawancara dengan berbagai pihak yang
berkepentingan dalam perolehan data yang dibantu dengan kuesioner.


Data sekunder adalah data yang telah tersusun dalam bentuk
dokumen-dokumen tertulis. Data sekunder diperoleh dari dokumen-
dokumen dan laporan-laporan divisi logistik, terutama bagian perbekalan
kesehatan obat. Selain itu, data sekunder diperoleh dari berbagai literatur
yang mendukung, seperti buku, internet, majalah, jurnal maupun hasil
penelitian terdahulu.
Tabel 3. Kebutuhan, jenis, metode dan sumber data
Kebutuhan Data Jenis
Data
Metode Sumber Data
Identifikasi perkembangan RS di
Indonesia
Sekunder Studi literatur Internet
Data Umum RS (company Profile)
1. Sejarah dan perkembangan RSIJ
2. Visi Misi dan stuktur organisasi
RSIJCP
Primer

Wawancara Pengembangan dan
organisasi (Pamor)
dan direksi RSIJCP
Data Khusus RS
1. Data pembelian obat
2. Data distribusi obat
3. Data pemasok obat
Sekunder Wawancara

Dokumen Divisi
logistik
Identifikasi rantai pasokan obat di
RSIJCP
Primer 1. Wawancara
2. Kuesioner
3. Observasi
Pemasok obat ,
karyawan divisi
logistik dan layanan
farmasi
Faktor-faktor yang berhubungan
Efektivitas MRP
Primer Kuesioner Pemasok obat ,
karyawan divisi
logistik dan layanan
farmasi yang
dijadikan sebagai
responden
Setelah rantai pasokan teridentifikasi, penelitian dilanjutkan dengan
mengkaji hubungan MRP terhadap efektivitas (Tabel 4). Rinciannya sebagai
berikut :
1. Efektivitas (Y)
Beberapa peubah yang diidentifikasi dan menjadi indikator dalam
pengukuran efektivitas pada penelitian ini, antara lain keefisienan sistem


yang terbentuk, keselarasan integrasi antar anggota rantai pasokan,
penggunaan teknologi dan komunikasi.
2. Manajemen Rantai Pasokan
Beberapa peubah yang terkait dengan efektivitas manajemen rantai
pasokan, antara lain :
a. Pemenuhan kebutuhan (X
1
)
Hal-hal yang menjadi indikator berkaitan dengan antara lain cara
pemenuhan kebutuhan obat bagi (stakeholder) RS yang tepat jumlah,
tepat waktu, bagaimana strategi pemenuhan obat yang berpedoman
pada data permintaan obat yang dimiliki logistik.
b. Logistik (X
2
)
Hal-hal yang menjadi lingkup indikator berkaitan dengan hal-hal yang
menyangkut kegiatan logistik, diantaranya transportasi yang sangat
penting pada saat pengiriman obat, ketepatan pengiriman baik waktu
dan jumlah yang mempengaruhi pemenuhan kebutuhan (user) untuk
memenuhi kebutuhan (stakeholder) RS. Selain itu indikator lain
adalah yang berkaitan dengan pengaturan jadwal yang tepat,
perencanaan distribusi oleh logistik dan frekuensi komunikasi dengan
pemasok.
c. Produksi (X
3
)
Hal-hal yang menjadi indikator mengenai produksi adalah yang
berkaitang dengan kegiatan produksi, antara lain integrasi MRP,
kelancaran sistem informasi yang berpengaruh pada MRP,
ketersediaan obat, kinerja logistik yang berpengaruh pada daya saing
RS dan kepercayaan anggota MRP.
d. Pendapatan dan laba (X
4
)
Hal-hal yang menjadi ukuran berkenaan dengan pendapatan dan laba,
antara lain perencanaan distribusi, MRP mempengaruhi mutu obat,
dan keloyalan konsumen, mutu mempengaruhi kepuasan konsumen,
logistik fleksibel terhadap perubahan permintaan.




e. Biaya-biaya (X
5
)
Hal-hal yang menjadi indikator yang berkenaan dengan peubah biaya,
antara lain harga obat bersaing, mutu obat baik, distributor yang
merespon cepat perubahan permintaan, logistik yang memiliki sistem
informasi pengaduan dan pengaduan konsumen selesai dengan baik.
f. Kerjasama (X
6
)
Hal-hal yang menjadi indikator mengenai kerjasama, antara lain
bagaimana divisi logistik menjalin kerja sama dengan pihak dalam
maupun luar RSIJCP yang memiliki keterkaitan. Kerjasama yang
dijalin, diantaranya dengan pemasok, RS lain, antar sesama anggota
rantai pasokan, dan kerjasama pada aktivitas manajemen rantai
pasokan.
Tabel 4. Indikator dari setiap peubah dalam kuesioner
No Peubah Indikator No
kuesioner
1
Efektivitas
1. Sistem informasi dan komunikasi sebagai
solusi pengefisienan waktu di rantai pasokan
2. MRP mempengaruhi kebutuhan konsumen
3. Metode integrasi MRP
4. Kepercayaan pada aktivitas MRP
mempengaruhi kinerja logistik
5. Kelancaran sistem informasi berpengaruh pada
kinerja MRP
1 dan 2

3
4
5

6
2
Pemenuhan
Kebutuhan
1. Logistik sebagai pemenuh kebutuhan
konsumen RS
2. Pemenuhan obat tepat waktu
3. Pemenuhan obat tepat jumlah
4. Strategi pemenuhan obat
5. Data permintaan dan pemenuhan kebutuhan
obat
7

8 dan 9
10 dan 11
12
13

3 Logistik
1. Tranportasi penting pada pengiriman obat
2. Ketepatan pengiriman mempengaruhi
pemenuhan kebutuhan konsumen RS
3. Pengaturan jadwal yang tepat oleh logistik
4. Perencanaan distribusi oleh logistik
5. Frekuensi komunikasi dengan pemasok
14
15 dan 16

17
18
19 dan 20
4 Produksi
1. Integrasi MRP
2. Kelancaran sistem informasi berpengaruh pada
MRP
3. Ketersediaan obat
4. Kinerja logistik mempengaruhi daya saing
5. Kepercayaan anggota MRP
21 dan 22
23

24
25
26




No Peubah Indikator No
kuesioner
5
Pendapatan
dan laba
1. Perencanaan distribusi
2. MRP mempengaruhi mutu obat dan keloyalan
konsumen
3. Mutu mempengaruhi kepuasan konsumen
4. Logistik fleksibel terhadap perubahan
permintaan
27
28 dan 29

30,31 dan
32
33 dan 34
6 Biaya-biaya
1. Harga obat bersaing
2. Mutu obat baik
3. Distributor merespon cepat perubahan
permintaan
4. Logistik memiliki sistem informasi pengaduan
5. Pengaduan konsumen selesai dengan baik
35
36
37
38
39,40 dan 41
7
Kerjasama
1. Kerjasama dengan pemasok
2. Kerjasama dengan RS lain
3. Kerjasama anggota rantai pasokan
4. Kerjasama manajemen rantai pasokan
42,43 dan 44
45
46
47

3.4. Metode Pengambilan Contoh
Populasi menunjukkan semua jenis kumpulan yang dapat terdiri dari
orang, kejadian, atau benda yang diteliti dan memiliki kesamaan satu atau
beberapa hal yang membentuk masalah pokok dalam suatu riset khusus
(Wibisono, 1999). Ariyanto (2007) mengatakan bahwa populasi adalah
semua anggota obyek yang diteliti. Contoh adalah bagian atau sejumlah
cuplikan tertentu yang diambil dari suatu populasi dan diteliti secara rinci.
Informasi yang diperoleh kemudian diterapkan pada keseluruhan populasi.
Indikator adalah ciri yang menjelaskan contoh. Besarnya contoh tergantung 3
(tiga) hal: keragaman (variasi) dari populasi, batas kesalahan contoh yang
dikehendaki (penarikan contoh galat) dan interval kepercayaan (confidence
interval). Elemen adalah satuan obyek dari populasi yang diamati (diukur),
unit contoh adalah unit yang menjadi dasar dalam penarikan contoh. Contoh
adalah bagian dari populasi/representasi dari populasi (Ariyanto, 2007).
Menurut Wibisono (1999), teknik penarikan contoh terbagi dua
kelompok besar, yaitu (sampling probability) atau penarikan contoh dengan
peluang dan (nonprobability sampling) atau penarikan contoh tanpa peluang.
Jenis penarikan contoh probabilitas adalah penarikan contoh acak sederhana
Lanjutan Tabel 4.


dan probabilitas kompleks (sistematis, acak bertingkat, kluster, wilayah dan
ganda). Sedangkan jenis kelompok penarikan contoh bukan peluang adalah
penarikan contoh sewaktu-waktu, penarikan contoh pendapat pakar/pendapat
pelaku (judgment sampling) dan penarikan contoh kuota.
Responden terdiri atas 3 (tiga) bagian yang terpisah, yaitu divisi
logistik perbekalan kesehatan (obat), pemasok/rekanan obat dan divisi
layanan farmasi. Penelitian ini menggunakan (nonprobability sampling, yaitu
penarikan contoh dengan mempertimbangkan pendapat pelaku (judgment
sampling) termasuk pelaku. (Judgment sampling) memiliki keunggulan, yaitu
contoh yang digunakan dijamin sesuai dengan tujuan spesifik, disamping itu
memiliki kelemahan, yaitu hasil penelitian ini dapat bias karena keyakinan
pakar dapat membuat contoh tidak representatif/tidak dapat digunakan untuk
proyeksi data. Penentuan jumlah contoh pada penelitian ini mengacu pada
statistik, yaitu dengan contoh minimal 30 orang.
Total keseluruhan populasi 116 orang, terdiri atas 9 orang divisi
logistik bagian perbekalan kesehatan, 47 perusahaan pemasok obat dan 60
orang divisi layanan farmasi yang terdiri atas 2 unit terpisah, dengan 3 unit
layanan, yaitu unit rawat inap, rawat jalan dan umum. Namun dari jumlah
populasi yang berjumlah 116 orang, hanya digunakan 34 orang sebagai
contoh terdiri atas 9 orang (100%) di divisi logistik obat, 15 pemasok obat
(32%), serta 10 orang (16,7%) di divisi layanan farmasi. Jumlah contoh
diambil berdasarkan pendapat dari pelaku yang menjadi obyek penelitian
yang dianggap pakar, seperti manajer logistik, kepala seksi logistik dan
manajer layanan farmasi. Seluruh staf divisi logistik bagian perbekalan
kesehatan dan manajer yang berjumlah 9 orang menjadi responden penelitian
ini. Pemasok yang dijadikan sebagai responden hanya 15 perusahaan
pemasok diambil berdasarkan jumlah pembelian terbesar RSIJCP kepada
pemasok obat (Lampiran 2) selama penelitian berlangsung. Jumlah responden
yang diambil di layanan farmasi berdasarkan perwakilan dari 3 layanan yang
ada (rawat inap, rawat jalan dan umum) masing-masing 3 orang dan
digenapkan oleh manajer 1 orang.


Pengolahan data dilakukan secara deskriptif bertujuan untuk
mengidentifikasi penerapan MRP pada RSIJCP. Selain itu, data diolah ke
analisis regresi khusus data pemasok. Namun sebelum kedua analisis tersebut
dilakukan, terlebih dahulu dilakukan (method of succesive interval), uji
normalitas data, uji validitas dan reliabilitas, serta analisis regresi berganda
khusus pada populasi pemasok dengan metode (backward ellimination).
3.4.1. Method of Succesive Interval
Data yang telah diperoleh terlebih dahulu ditransformasi dari data
ordinal menjadi data interval melalui (succesive interval method).
Transformasi ini bertujuan untuk mengubah skala pengukuran ke dalam skala
pengukuran yang tingkatannya lebih tinggi, yaitu dari data berskala ordinal
menjadi interval, sehingga data yang diperoleh memenuhi asumsi yang
dituntut dalam perhitungan korelasi (product moment) dan analisis regresi.
Langkah-langkah dalam melakukan transformasi adalah :
a. Berdasarkan hasil jawaban responden untuk setiap pertanyaan dihitung
frekuensi setiap pilihan jawaban.
b. Membagi setiap bilangan berdasarkan frekuensi yang diperoleh untuk
setiap jawaban dengan banyaknya responden keseluruhan, yang
menghasilkan proporsi.
c. Berdasarkan proporsi tersebut untuk setiap pertanyaan dihitung proporsi
kumulatif untuk setiap jawaban.
d. Setiap pertanyaan, tentukan nilai batas Z untuk setiap pilihan jawaban.
e. Menghitung (scale value) atau nilai interval rata-rata untuk setiap pilihan
jawaban melalui persamaan berikut :
....(1)
f. Menghitung (score) atau nilai hasil transformasi untuk setiap pilihan
jawaban dengan persamaan : (Score = scale value = scale value
Min-1
) atau
K = 1+SV min
g. Mengganti setiap skor dengan nilai K yang sesuai untuk masing-masing
skor dalam satu item, sehingga diperoleh data baru.
Selain dengan cara manual, perhitungan (method of successive
interval) dapat menggunakan (software microsoft Excel). Pada penelitian ini,


digunakan (microsoft Excel) sebagai alat bantu perhitungan. Hasil perhitungan
terdapat pada Lampiran 3.
3.4.2. Uji Normalitas Data
Uji normalitas data bertujuan untuk melihat apakah data yang tersedia
tersebebar normal atau tidak. Analisis normalitas data menggunakan
(software) SPSS 13. Uji normalitas data dilakukan pada setiap peubah
dengan tahapan berikut :
a. Masukkan data pada (uji non parametric test)
b. Menguji data dengan uji k-satu contoh
c. Menampilkan grafik untuk melihat grafik distribusi data.
3.4.3. Uji Validitas dan Reliabilitas
Kuesioner dibuat untuk mengetahui tanggapan respoden mengenai
rantai pasokan. Sebelum kuesioner disebar kepada responden, terlebih
dahulu dilakukan tahap pengujian kuesioner dengan melakukan uji validitas
dan reliabitas. Validitas menunjukkan sejauhmana suatu alat pengukur
(instrumen) itu mengukur apa yang ingin diukur. Uji validitas digunakan
untuk menghitung nilai korelasi (r) antara data pada masing-masing
pertanyaan dengan skor total. Perhitungan validitas menggunakan (software)
SPSS 13. Langkah-langkah mencari validitas, menurut Riduwan (2007)
adalah :
1. Menghitung harga korelasi setiap butir dengan rumus (Pearson Product
Moment) atau PPM :
.......(2)

Dimana: r
hitung
= Koefisien korelasi
_ Xi = Jumlah skor item
n = Jumlah responden
Y = skor total
2. Menghitung harga t
hitung
dengan rumus :

.....................(3)

Dimana: t = Nilai t
hitung

r = Koefisien korelasi hasil r
hitung
n = Jumlah responden
( ) ( )( )
( ) { } ( ) { }
2 2 2 2
. . .
.
Y Y n X X n
Y X XY n
r
hitung


=

2
1
2
r
n r
t
hitung

=



3. Mencari t
tabel
pada u = 0,05 dan dk = n 2
4. Membuat keputusan dengan membandingkan t
hitung
dengan t
tabel
. Kaidah
keputusannya adalah :
a. t
hitung
> t
tabel
berarti valid
b. t
hitung
<

t
tabel
berarti tidak valid.
Setelah kuesioner dinyatakan valid (sahih), dilakukan tahap pengujian
selanjutnya, yaitu uji reliabilitas. Reliabilitas adalah suatu nilai yang
menunjukkan konsistensi suatu nilai yang menunjukkan konsisten suatu alat
pengukuran di dalam mengukur gejala yang sama. Untuk menganalisis
reliabilitas, digunakan metode (Alpha Cronbach).
Langkah-langkah mencari nilai reliabilitas dengan metode (alpha
cronbach), menurut Riduwan (2007) adalah :
1. Menghitung ragam skor tiap-tiap item dengan rumus :


..(4)

Dimana : S
i
= Ragam skor tiap-tiap item
Xi
2
= Jumlah kuadrat item Xi
(Xi)
2
= Jumlah item Xi dikuadratkan
N = Jumlah responden
2. Menjumlahkan ragam semua item dengan rumus :
..(5)
Dimana: S = Jumlah ragam semua item
S
1
, S
2
, S
3
, = Ragam item ke-1,2,3n
3. Menghitung ragam total dengan rumus :

.(6)
Dimana: S
t
= Ragam total
_X
t
2
= Jumlah kuadrat X total
(X
t
)
2
= Jumlah X total dikuadratkan
N = Jumlah responden
4. Memasukan nilai (alpha) dengan rumus :


Dimana: r
11
= Nilai reliabilitas
Si = Jumlah ragam skor tiap-tiap item
( )
N
N
X
X
S
i
i
i
2
2


=
Si = S
1
+ S
2
+ S
3
+ ...S
n
( )
N
N
X
X
S
t
t
t
2
2


=

=
t
S
Si
k
k
r 1 .
1
11

.(7)


S
t
= Ragam total
K = Jumlah item
Perhitungan reliabilitas menggunakan (software) SPSS versi 13.
3.4.4. Analisis konklusif-deskriptif
Riset konklusif adalah riset yang didesain untuk menolong pengambil
keputusan dalam menentukan, mengevaluasi dan memilih alternatif terbaik
dalam memecahkan suatu masalah. Karakteristik riset konklusif adalah
informasi yang dipergunakan harus jelas diidentifikasi, proses penelitiannya
formal dan terstruktur, contoh yang dipergunakan harus mewakili dan analisis
data bersifat kuantitatif. Riset konklusif dapat dibedakan menjadi dua tipe,
yaitu riset deskriptif dan kausal (Nazir, 2005).
Riset deskriptif adalah riset yang bertujuan untuk mendeskripsikan
sesuatu, melukiskan fakta, populasi atau bidang tertentu secara faktual dan
sistematis mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat populasi tertentu. Deskriptif
ditandai dengan hipotesis spesifik, dan desain terstruktur. Dalam arti lain
riset deskriptif adalah prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan
menggambarkan subyek atau obyek penelitian (orang, lembaga, masyarakat,
dan lain-lain) pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau
sebagaimana adanya. Pada riset deskriptif tidak perlu mencari atau
menerangkan hubungan antarpeubah, menguji hipotesa dan membuat
ramalan. Metode penelitian menggunakan data sekunder, data primer (survei),
panel atau observasi (Simamora, 2004). Berbagai tipe statistika dapat
digunakan untuk memvisualisasikan penelitian deskriptif, diantaranya
sebaran-sebaran frekuensi, pemusatan, variabilitas dan hubungan, gambaran
grafikal dari data (Sukandarrumidi, 2002).
Langkah-langkah pokok penelitian deskriptif adalah :
a. Mendefinisikan dengan jelas dan spesifik tujuan yang akan dicapai. Fakta-
fakta dan sifat-sifat apakah yang harus ditemukan.
b. Merancang cara pendekatan meliputi data apakah yang dikumpulkan,
menentukan jumlah contoh, teknik observasi, dan metode pengumpulan
data.
c. Mengumpulkan data yang diperlukan.
d. Menganalisis data yang diperoleh.


e. Menggambarkan kejadian faktual dengan statistika yang tersedia.
Tabel 5. Tanggapan responden terhadap pertanyaan kuesioner
Skor
Alternatif
Jawaban
Pertanyaan
Akumulasi
Persen
(%)
4 Sangat Setuju
3 Setuju
2 Tidak Setuju
1 Sangat Tidak
Setuju

S
FS
Jumlah
Sumber : Punuju, 2007

Buruk Kurang baik Sedang Baik Sangat baik


Gambar 4. Penilaian berdasarkan interval (Punuju, 2007)
3.4.5. Analisis Regresi
Setelah dilakukan pengubahan data dari skala ordinal ke skala interval
dengan (successive interval method), selanjutnya dilakukan dengan
mengetahui bagaimana peubah terikat (y) dapat diprediksi melalui peubah
bebas (x). Guna mengetahui hal tersebut, maka digunakan analisis regresi
sebagaimana dijelaskan oleh Sugiono (2007) bahwa analisis regresi dapat
digunakan untuk memutuskan apakah naik dan turunnya peubah terikat
(dependen) dapat dilakukan dengan menaikkan atau menurunkan keadaan
peubah bebas (independen) dan sebaliknya. Regresi linear adalah metode
statistika yang digunakan untuk membentuk model hubungan antara peubah
terikat (dependen Y) dengan satu atau lebih peubah bebas (independen X).
Apabila banyaknya peubah bebas hanya ada satu, disebut sebagai regresi
linear sederhana, sedangkan apabila terdapat lebih dari satu peubah bebas,
disebut sebagai regresi linear berganda.
....
.
...
....
.

.... ....
..


Analisis regresi setidak-tidaknya memiliki 3 kegunaan (Kurniawan,
2008), yaitu :
1. Deskripsi dari fenomena data atau kasus yang sedang diteliti
Regresi mampu mendeskripsikan fenomena data melalui terbentuknya
suatu model hubungan yang bersifatnya numerik.
2. Kontrol
Regresi juga dapat digunakan untuk melakukan pengendalian (kontrol)
terhadap suatu kasus atau hal-hal yang sedang diamati melalui
penggunaan model regresi yang diperoleh.
3. Prediksi
Model regresi dapat dimanfaatkan untuk melakukan prediksi untuk
peubah terikat. Prediksi di dalam konsep regresi hanya boleh dilakukan
di dalam rentang data dari peubah-peubah bebas yang digunakan untuk
membentuk model regresi tersebut. Misal, suatu model regresi diperoleh
dengan mempergunakan data peubah bebas yang memiliki rentang antara
5 - 25, maka prediksi hanya boleh dilakukan bila suatu nilai yang
digunakan sebagai input untuk peubah X berada di dalam rentang
tersebut. Konsep ini disebut sebagai interpolasi.
Data untuk peubah independen X pada regresi linear merupakan data
pengamatan yang tidak ditetapkan sebelumnya oleh peneliti (observational
data) maupun data yang telah ditetapkan (dikontrol) oleh peneliti
sebelumnya. Perbedaannya bahwa menggunakan (fixed data), informasi
yang diperoleh lebih kuat dalam menjelaskan hubungan pengaruh antara
peubah X terhadap Y. Pada (observational data), peubah X yang diamati
disesuaikan keadaan di lapangan. Biasanya, (fixed data) diperoleh dari
percobaan laboratorium dan (observational data) yang diperoleh dengan
menggunakan kuesioner.
Persamaan regresi linear sederhana adalah :
Y = a + bX....(8)
Dimana : Y = Subyek dalam peubah dependen yang diprediksi
a = Intersep atau harga sebesar Y bila X = 0 (harga konstan)


b = angka arah atau koefisien regresi yang menunjukkan angka
peningkatan bila b (+) ataupun penurunan bila b (-) peubah
dependen yang didasarkan pada peubah independen.
X = Slope atau subyek pada peubah independen yang mempunyai
nilai tertentu.
1. Regresi Linear Berganda Multiple Regression
Persamaan ini digunakan untuk mengukur hubungan pelbagai
peubah kuantitatif, di mana satu peubah terikat (dependent) dan
selebihnya lagi adalah peubah-peubah bebas (independent). Formula
yang digunakan adalah :
Y =
0
+
1
X
1
+
2
X
2
+
3
X
3
..+
p-1
X
p-1
+
p
X
p
+(9)
Langkah-langkah dalam analisis regresi adalah :
1. Membentuk plot antara peubah terikat dengan masing-masing peubah
bebas. Pembentukan plot adalah sebagai pendeteksian awal, apakah
regresi linear cocok bila diterapkan atau tidak.
2. Menduga model regresi
3. Menguji asumsi klasik regresi
Terdapat tiga metode umum yang merupakan pendekatan
sekuensial untuk menentukan peubah bebas, yaitu metode pemilihan
(backward, forward dan stepwise). Pada penelitian ini digunakan metode
pemilihan (backward), dimana langkah pertama pada metode ini adalah
memasukkan semua peubah bebas yang ada ke dalam persamaan regresi.
Setelah itu, dinilai apakah suatu peubah independen layak tetap berada
dalam persamaan regresi. Peubah independen yang keluar dari persamaan
tidak dapat masuk ke dalam persamaan regresi tersebut atau (irreversible)
(Wibisono, 1999)
Tahaptahap yang dilakukan adalah :
1. Menampilkan persamaan regresi yang mencakup seluruh peubah
independen yang ada.
2. Menghitung nilai r
2
yang disebabkan penghilangan setiap peubah atau
nilai uji F bagi tiap peubah independen yang diperlukan sebagai
peubah terakhir yang masuk persamaan regresi.


3. Membandingkan nilai uji F parsial yang terendah, yaitu diberi langkah
F
L
, dengan suatu nilai kritis yang telah ditentukan, diberi dengan
lambang F
C
.
a. Jika F
L
< F
C
maka peubah yang berhubungan dengan nilai F
L

dikeluarkan, lalu kita hitung kembali persamaan regresi
berdasarkan susunan peubah independen yang baru dan kembali ke
tahap 2.
b. Jika F
L
> F
C
, maka persamaan regresi tersebut valid untuk diambil.
2. Pengujian Koefisien Regresi
a. Uji Simultan Model Regresi (Uji F)
Uji simultan (keseluruhan atau bersama-sama) pada konsep regresi
linear adalah pengujian mengenai apakah model regresi yang
didapatkan benar-benar dapat diterima. Uji simultan bertujuan untuk
menguji apakah antara peubah-peubah bebas X dan terikat Y, atau
setidaktidaknya antara salah satu peubah X dengan peubah terikat Y,
benar-benar terdapat hubungan linear (linear relation). Hipotesis yang
berlaku untuk pengujian ini adalah :
H
0
: 1=2 ...=k=0
H
1
: Tidak semua i=0
i = 1, 2, ..., k
k = banyaknya peubah bebas X
i = parameter (koefisien) ke-i model regresi linear
Penjabaran secara hitungan untuk uji simultan ini dapat ditemui pada
tabel ANOVA (Analysis Of Variance). Di dalam tabel ANOVA akan
ditemui nilai statistik-F (F
hitung
), yaitu : jika F
hitung
_
Ftabel
(db
1
, db
2
)
maka terima H
0
dan jika F
hitung
> F
tabel
(db
1
, db
2
), maka tolak H
0
. db
1

dan db
2
adalah parameter-parameter F
tabel
, dimana :
db1 = derajat bebas 1
= p -1
db2 = derajat bebas 2
= n - p
p = banyaknya parameter (koefisien) model regresi linear


= banyaknya peubah bebas + 1
n = banyaknya pengamatan
Apabila H
0
ditolak, maka model regresi yang diperoleh dapat
digunakan.
b. Uji Parsial (Uji t)
Uji parsial digunakan untuk menguji apakah sebuah peubah bebas X
benar-benar memberikan kontribusi terhadap peubah terikat Y. Dalam
pengujian ini ingin diketahui apakah jika secara terpisah, suatu peubah
X masih memberikan kontribusi secara nyata terhadap peubah terikat
Y. Baik intersep dan kooefisien regresi keduanya memiliki (p value)
lebih kecil dari 0,05.
Hipotesis untuk uji ini adalah: H
0
: j = 0 dan H
1
: j = 0 dimana:
j = 0, 1, ..., k
k = banyaknya peubah bebas X
Uji parsial ini menggunakan uji-t, yaitu:
jika t
hitung
_ t
tabel
(n-p), maka terima H
0

jika t
hitung
> t
tabel
(n-p), maka tolak H
0

dimana :
(n-p) = parameter t
tabel

n = banyaknya pengamatan
p = banyaknya parameter (koefisien) model regresi linear
Apabila H
0
ditolak, maka peubah bebas X tersebut memiliki
kontribusi nyata terhadap peubah terikat Y. Pengujian signifikansi
koefisien selain dapat menggunakan tabel, juga dapat dihitung dengan
uji t berikut :
. ............(10)

c. Koefisien Determinasi (R
2
)
Koefisien determinasi adalah besarnya keragaman (informasi) di
dalam peubah Y yang dapat diberikan oleh model regresi yang
didapatkan. Nilai R
2
berkisar 0-1. Apabila nilai R
2
dikalikan 100%,
maka hal ini menunjukkan persentase keragaman (informasi) di


peubah Y yang dapat diberikan oleh model regresi yang didapatkan.
Semakin besar nilai R
2
, semakin baik model regresi yang diperoleh.
3. Uji Asumsi Klasik Regresi linear
1. Error atau Galat menyebar normal dengan rataan nol dan suatu ragam
(variance) tertentu. Penulisan matematis dari asumsi kedua ini adalah:
~ N (0, o2).(11)
Dimana : = galat
~ = menyebar mengikuti distribusi
N (0, o2) = sebaran normal dengan rata-rata nol dan ragam o2
Statistik uji yang paling sering digunakan untuk menguji asumsi
kenormalan galat dengan menggunakan Kolmogorov-Smirnov
(normality test). Uji Kolmogorov-Smirnov bekerja dengan cara
membandingkan 2 (dua) buah distribusi/sebaran data, yaitu distribusi
yang dihipotesiskan dan distribusi yang teramati. Distribusi yang
dihipotesiskan dalam kasus ini adalah distribusi normal. Sedangkan
distribusi yang teramati adalah distribusi yang dimiliki oleh data yang
sedang kita uji. Apabila distribusi yang teramati mirip dengan
distribusi yang dihipotesiskan (distribusi normal), maka dapat
disimpulkan bahwa data yang kita amati memiliki distribusi/sebaran
normal. Hipotesis dalam uji normalitas adalah :
H
0
: Data menyebar normal, H
1
: Data tidak menyebar normal.
Uji ini ditentukan dengan nilai (p value). Jika (p value) lebih besar
dari 0,05 maka H
0
dapat diterima dan dapat dikatakan bahwa asumsi
kenormalan galat tidak dilanggar.
2. Ragam dari galat bersifat homogen (homoskedastik). Maksud dari
ragam bersifat homogen adalah bahwa galat memiliki nilai ragam
yang sama antara galat ke-i dan galat ke-j. Secara matematik ditulis
o
2
i
o
2
j
o
2

dimana i, j = 1, ...., n; dan n = banyaknya pengamatan.


Galat sebenarnya berupa data. Hanya saja, sangat sulit atau bahkan
tidak mungkin untuk mengetahui nilainya secara pasti. Maka,
diperlukan suatu penduga dari data galat. Data penduga yang paling
tepat adalah data residual. Setiap nilai dari data residual diharapkan
memiliki nilai ragam yang mirip. Apabila galat memiliki ragam yang


homogen, maka seharusnya serupa residualnya. Dengan demikian,
apabila ditemukan bahwa residual memiliki ragam yang homogen,
maka dapat dikatakan bahwa galat memiliki ragam homogen. Statistik
uji yang sering digunakan adalah (Breusch-Pagan test). Hipotesis yang
berlaku dalam uji homoskedatisitas ragam galat adalah : H
0
: o
2
i
=
o
2
j
= .o
2
n


= o
2

dan H
1
: Setidak-tidaknya ada satu pasang ragam
galat yang tidak sama. Statistik uji (Breusch-Pagan test)
menghasilkan (p value)lebih besar dari 0,05 yang mengindikasikan
penerimaan H
0
. Jika hal tersebut terjadi, maka
0
disimpulkan bahwa
tidak terjadi homoskedastisitas pada ragam galat.
3. Residu tidak mengalami autokorelasi
Adanya autokorelasi pada galat mengindikasikan bahwa ada satu atau
beberapa faktor (peubah) penting yang mempengaruhi peubah terikat
Y yang tidak dimasukkan ke dalam model regresi. Statistik uji yang
sering dipakai adalah (Durbin-Watson statistics) atau (DW-statistics).
Hipotesis untuk uji asumsi autokorelasi yang sering dipakai adalah:
H0 : p=0 dan H1 :p=0
Pada beberapa paket (software) statistika, (output) untuk uji asumsi
autokorelasi pada galat dengan Durbin-Watson (statistics) tidak
menyertakan (p-value) sebagai alat pengambilan keputusan, sehingga
pengguna masih harus menggunakan tabel Durbin-Watson (bounds).
Di bawah ini adalah kriteria uji bagi (DW-statistics) untuk kasus uji 2-
arah :
- jika DW < dL , maka tolak H
0
, atau
- jika DW > 4 dL , maka tolak H
0
, atau
- jika dU < DW < 4 dU , maka terima H
0
, namun jika
- jika dL _ DW _ dU atau 4dU _ DW _ 4dL , maka tidak dapat
disimpulkan apakah terjadi autokorelasi atau tidak. Jika demikian,
sebaiknya menggunakan statistik uji yang lain, misal uji
autokorelasi.
Keterangan :
DW = nilai statistik uji Durbin-Watson hasil perhitungan


dL = batas bawah tabel Durbin-Watson (bounds) pada suatu n dan k
tertentu
dU = batas atas tabel Durbin-Watson (bounds) pada suatu n dan k
tertentu
n = banyaknya pengamatan
k = banyaknya peubah bebas dalam model regresi
d. Tidak terjadi multikolinearitas antar peubah bebas X.
Asumsi ini hanya tepat untuk kasus regresi linear berganda. Adanya
multikolinearitas menunjukkan terjadinya korelasi linear yang erat
antar peubah bebas. Dalam hal ini digunakan statistik uji yang tepat
dengan (Variance Inflation Factor atau VIF). Nilai VIF lebih besar
dari 10 mengindikasikan adanya multikolinearitas serius.






















IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Gambaran Umum Perusahaan
Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih (RSIJCP) termasuk ke
dalam kategori rumah sakit swasta yang dimiliki oleh sebuah
lembaga/perusahaan. Gagasan didirikannya Rumah Sakit Islam Jakarta
bermula dari dirasakannya kebutuhan akan pelayanan Rumah Sakit yang
bernafaskan Islam. Dr.H.Kusnadi yang juga sebagai salah seorang tokoh
Muhammadiyah tergugah dan mulai memikirkan perlu adanya rumah sakit
dengan pelayanan islami. Tujuan didirikannya RSIJ adalah untuk
mewujudkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya bagi semua lapisan
masyarakat melalui pendekatan pemeliharaan kesehatan (promotif),
pencegahan penyakit (preventif), penyembuhan penyakit (kuratif) dan
pemulihan kesehatan (rehabilitatif) yang dilaksanakan secara menyeluruh
sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan, serta tuntutan ajaran islam
dengan tidak memandang agama, golongan dan kedudukan.
Setelah melalui berbagai pertimbangan, maka dikukuhkan panitia oleh
yayasan Rumah Sakit Islam Jakarta (RSIJ) pada tanggal 18 April 1967.
Berdasarkan akte no.36 tahun 1967, maka resmi berdiri RSIJCP pada tanggal
23 Juni 1971. Seiring berjalannya waktu, RSIJCP banyak mendapatkan
dukungan dari pemerintahan, baik dalam negeri maupun luar negeri. Tahun
1972-1981 RSIJCP berhasil menambah fasilitas RS dan Sekolah Perawatan
Kesehatan (SPK) pada tahun 1982.
Perkembangan RSIJCP terus meningkat dari tahun ke tahun, hal ini
menunjukkan wujud fungsi sosial Rumah Sakit Islam Jakarta sebagai amal
usaha yang selalu memperlihatkan orang-orang kecil yang tidak mampu.
Hingga pada 23 juni 2001 RSIJCP, mampu menyediakan 466 tempat tidur
didukung 1.444 orang tenaga medis, perawat dan non medis, serta berbagai
peralatan canggih. Kini RSIJCP memiliki kapasitas 403 tempat tidur,
ditunjang dengan 1.409 tenaga medis, perawat dan non medis, penambahan


fasilitas rawat jalan spesialis dan sub spesialis dengan fasilitas yang nyaman
di "Klinik Raudhah".
4.1.1. Visi dan Misi
Yayasan RSIJ memiliki visi Berlandaskan semangat (Fastabiqul
khairot), RSIJ menjadi pusat rujukan yang memiliki unggulan bertaraf
internasional untuk mengamalkan perintah ALLAH (Ta`awanualal birri
wattaqwa) dalam bidang kesehatan. Visi tersebut didukung dengan misi :
1. Pelayanan kesehatan yang Islami, profesional dan bermutu dengan tetap
peduli pada kaum (dhuafa).
Pelayanan yang islami adalah :
a. Robbaniyah : Bekerja suatu ibadah, ihsan dalam pelayanan
b. Insaniyah : Pelayanan yang diberikan merupakan kerahmatan bagi
(stakeholder)
c. Obyektif : Pelayanan yang transparan dan dinamis, profesional dan
bermutu sesuai dengan standar profesi dan standar
pelayanan tanpa cacat
2. Mampu memimpin pengembangan Rumah Sakit Islam lainnya artinya
mampu memimpin sesuai dengan rujukan dalam bentuk pelatihan, studi
banding, magang, konseling dan (benchmarking).
Falsafah dan Motto RSIJ : RSIJ adalah perwujudan dari iman sebagai amal
shaleh kepada ALLAH SWT dan menjadikannya sebagai sarana ibadah.
Motto : Bekerja sebagai ibadah dan ihsan dalam pelayanan.
4.1.2. Struktur Organisasi
RSIJCP menganut stuktur organisasi garis dan staf, dimana pimpinan
RS (Direktur utama) dibantu oleh penasehat untuk mengambil keputusan.
Jenis struktur garis dan staf sangat tepat diterapkan, karena RSIJCP
merupakan organisasi yang berkembang besar, sehingga sangat
memungkinkan seorang pemimpin kesulitan dalam proses pengambilan
keputusan. Direktur utama dibantu oleh komite etik dan komite klinik,
sebagai penasehat. Direktur utama membawahi 5 unit kerja, diantaranya
pengendalian internal, komunikasi korporat, manajemen risiko, sistem
informasi rumah sakit dan pengembangan organisasi. Direktur utama dibantu


oleh 4 (empat) orang Direktur, yaitu Direktur Pelayanan Klinik, Direktur
Penunjang Klinik, Direktur Keuangan, Direktur SDM (Sumber daya
Manusia) dan Binroh (Binaan Rohani).
Direktur pelayanan klinik dibantu bidang keperawatan serta bidang
medis dan profesi kesehatan mengawasi Manajer (Raudhah), Manajer
Rawat Jalan, Manajer Rawat Inap, Manajer Pelayanan Khusus, Manajer
Laboratorium, Manajer Radio Diagnostik dan Farmasi. Direktur Penunjang
Klinik dibantu oleh Manajer Gizi, Manajer Rekam Medik, Manajer
Pemeliharaan dan Kesehatan Lingkungan, Manajer Logistik, Manajer
Pelayanan Umum dan Perkantoran, serta Manajer Pemasaran. Direktur
Keuangan dibantu oleh Manajer Keuangan dan Manajer Akuntansi.
Sedangkan Direktur SDM dan Binroh dibantu oleh Manajer SDM dan
Binroh. Secara terperinci terdapat pada struktur organisasi RSIJCP di
Lampiran 4.
Divisi logistik yang berada di bawah pimpinan Direktur Penunjang
Klinik yang memiliki fungsi utama mengelola dan mengembangkan fungsi
logistik, mengatur logistik umum dan investasi, serta logistik perbekalan
kesehatan. Divisi logistik merupakan divisi baru, terbentuk pada tahun 2007.
Pendirian divisi logistik dirasakan sangat perlu, karena sebelumnya peran
logistik dipegang oleh divisi farmasi secara langsung. Divisi logistik
memiliki Visi: Menjadikan logistik sebagai unit pelayanan penunjang
umum di RSIJ yang amanah, tepat dan cepat dengan orientasi masa depan
guna tercapainya kebutuhan dan kepuasan (stakeholder). Visi logistik
didukung oleh misi-misi berikut :
a. Mengembangkan SDM logistik sesuai kompetensi
b. Memberikan pelayanan yang islami, profesional dan bermutu
c. Menciptakan hubungan kemitraan
d. Mengutamakan prinsip kepercayaan dan kejujuran
e. Mengembangkan unsur dan prosedur sesuai ilmu pengetahuan dan
teknologi.
Sasaran Mutu Divisi Logistik adalah : Jumlah persediaan barang rutin
sesuai persediaan minimal rata-rata 80%, waktu kedatangan barang rutin < 7


hari kerja dengan target 70 persen, jumlah permintaan yang tidak terlayani
di gudang logistik perbekalan kesehatan maksimal 10 persen dan lama
penginputan berita acara penerimaan barang tidak lebih dari 2,5 jam sejak
barang diterima.
4.2. Karakteristik Responden
Pada bagian ini akan diberikan gambaran umum tentang responden.
Responden dalam penelitian ini terdiri atas 3 populasi, yaitu divisi logistik,
pemasok obat dan divisi layanan farmasi. Total keseluruhan responden
adalah 34, dengan pembagian 9 orang divisi logistik, 15 pemasok obat, serta
10 orang divisi layanan farmasi. Jumlah ini diambil berdasarkan jumlah
aktual ketika dilakukan penelitian.
Penelitian ini karakteristik responden dianalisa secara deskriptif,
meliputi divisi/bagian, usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan dan masa
kerja. Secara terperinci terdapat pada Tabel 6.
Tabel 6. Tabulasi silang responden
Karakteristik Pemasok Logistik Farmasi Jumlah
(orang)
Jenis Kelamin
L 15 3 2 20
P 0 6 8 14
Jumlah 34
Usia (tahun)
20-30 6 2 2 10
31-40 5 1 6 12
41-50 3 4 2 9
>50 1 2 0 3
Jumlah 34
Pendidikan SMA 12 6 6 24
D3 3 0 0 3
D4 0 1 0 1
S1 0 2 4 6
Jumlah 34
Masa Kerja
(tahun)
<1 1 0 0 1
1-5 3 2 1 6
6-10 5 0 2 7
11-15 5 1 6 12
>15 1 6 1 8
Jumlah 34



1. Divisi/Bagian Responden
Responden yang menjadi obyek penelitian ini terdiri 3 populasi, yaitu
divisi logistik perbekalan kesehatan (9 orang), pemasok obat (15 orang)
dan divisi layanan farmasi (10 orang). Pada masing-masing populasi
terdiri atas bagian yang beragam. Pada divisi logistik terbagi atas
manajer, kepala seksi logistik perbekalan kesehatan, koordinator gudang
perbekalan kesehatan, penanggung jawab pengadaan, dan pelaksana.
Pemasok obat hanya diwakili oleh salesman yang datang ke RSIJCP.
Sedangkan divisi farmasi terdiri atas manajer, koordinator dan pelaksana.
2. Usia responden
Usia responden dikelompokkan menjadi 4 (empat) bagian. Responden
dengan usia 20 30 tahun (10 orang), usia 31 40 tahun (12 orang), usia
41 50 tahun (9 orang) dan usia di atas 50 tahun (3 orang). Responden
terbanyak pada penelitian ini adalah usia 31 40 tahun.
3. Jenis Kelamin Responden
Responden dalam penelitian ini berjumlah 34 orang. Responden dengan
jenis kelamin laki-laki (20 orang), sedangkan responden wanita (14
orang). Jadi, responden dalam penelitian ini didominasi oleh laki-laki.
4. Tingkat Pendidikan Responden
Responden dengan pendidikan SMA/sederajat (24 orang), pendidikan D3
(3 orang), pendidikan S1 (6 orang), D4 (1 orang) dan tidak ada yang
memiliki latar belakang pendidikan S2 dan S3. Responden panelitian
sebagian besar memiliki latar belakang pendidikan SMA/sederajat.
5. Masa Kerja Responden
Responden dengan masa kerja kurang dari 1 tahun (1 orang), masa kerja
15 tahun (6 orang), masa kerja 5-10 tahun (7 orang), masa kerja 10-15
tahun (11 orang) dan masa kerja lebih dari 15 tahun (8 orang).
4.3. Rantai Pasokan
Rantai pasokan menekankan pada pola terpadu menyangkut proses
aliran produk dari pemasok hingga pada konsumen akhir. Dalam konsep
MRP ingin diperlihatkan bahwa rangkaian aktivitas antara pemasok hingga
konsumen akhir adalah dalam satu kesatuan tanpa sekat yang besar.


Mekanisme informasi antara berbagai komponen tersebut berlangsung
secara transparan.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa MRP adalah suatu konsep
yang menyangkut pola pendistribusian produk. Pola ini menyangkut
aktivitas pendistribusian, jadwal produksi, dan logistik. Berikut ini adalah
rantai pasokan yang teridentifikasi di RSIJCP.
4.3.1. Aliran Rantai Pasokan
Model rantai pasokan yang terjadi di RSIJCP disajikan pada
Gambar 5.






Gambar 5. Rantai pasokan obat di RSIJCP
Proses rantai pasokan yang terdapat di RSIJCP, terdiri atas
unsur pemasok, logistik, dan layanan farmasi. Proses rantai pasokan
dimulai petugas gudang menentukan jumlah pesanan obat. Kemudian
proses dilanjutkan dengan pemesanan ke pemasok, pengiriman obat
oleh pemasok ke logistik perbekalan kesehatan, hingga proses
distribusi ke unit farmasi. Berikut rincian setiap anggota rantai
pasokan beserta perannya :
1. Pemasok obat kepada divisi logistik
Rantai pertama berawal pemasok mengirim obat ke gudang
perbekalan kesehatan logistik. Namun, sebelumnya terdapat 2 (dua)
kegiatan penting yang dilakukan divisi logistik, yaitu penentuan
jumlah pesanan dan proses pemesanan obat kepada pemasok obat.
Kegiatan pertama, yaitu penentuan jumlah pesanan obat yang
akan dijadikan sumber persediaan di gudang perbekalan kesehatan.
Penetuan jumlah pesanan dilakukan oleh petugas gudang yang akan

Unit
Umum
Unit
Rawat
Inap
Unit
Rawat
Jalan
Pasien
Seksi
Pelayanan
Seksi
Sterilisasi
Pemasok
Obat
Divisi
Logistik
Perbekalan
Kesehatan
Divisi
Layanan
Farmasi


dilaporkan ke penanggung jawab logistik obat. Penentuan jenis
obat yang akan digunakan di instalasi farmasi RSIJCP disesuaikan
dengan standarisasi obat yang telah ditetapkan oleh Komite
Farmasi dan Terapi (KFT). KFT merupakan penghubung antara
(medical staff) dan pelayanan farmasi dalam hal penggunaan obat
untuk mencapai keamanan dan optimalisasi pelayanan. Pada
umumnya standarisasi ini dievaluasi setiap tahun untuk memantau
kelancaran pemakaian obat.
Standarisasi obat ini sangat membantu dalam penyediaan
kebutuhan obat. Sebelum perencanaan pengadaan obat dibuat, obat-
obat yang akan diadakan oleh RS dikonsultasikan terlebih dahulu
antara pihak manajemen, apoteker, dan dokter melalui KFT. Salah
satu tugas KFT adalah membuat formularium obat RS agar dapat
memaksimalkan penggunaan obat secara rasional. Formularium
atau standarisasi obat, yaitu daftar obat baku yang dipakai oleh RS
dan dipilih secara rasional, serta dilengkapi penjelasan, sehingga
memuat informasi obat yang lengkap untuk pelayanan farmasi RS.
Formularium di RS dievaluasi selama 2 (dua) tahun sekali. Namun,
hingga saat ini formularium yang terbentuk belum optimal
penerapannya. Berdasarkan standarisasi obat ini, dokter membuat
resep yang menjadi dasar pengajuan pengadaan obat. Pengadaan
obat dilimpahkan ke petugas gudang, karena petugas gudang
mengetahui secara aktual persediaan obat yang tersedia. Petugas
gudang melihat persediaan obat secara (online) melalui sistem
informasi yang dimiliki RSIJCP. Penentuan jumlah obat yang
dipesan berdasarkan standarisasi maksimum minimum yang telah
ditetapkan.
Obat dikelompokkan menjadi 2 (dua) bagian, yaitu (fast
moving) dan (slow moving). Obat (fast moving) adalah jenis obat
yang dibutuhkan banyak pasien, misalnya pada wabah tertentu.
Evaluasi obat dengan kategori (fast moving) dilakukan maksimal 1
(satu) pekan sekali. Berbeda dengan obat yang tergolong (fast


moving), obat dengan kategori (slow moving) dievaluasi maksimal
1 (satu) tahun sekali. Obat yang tergolong (slow moving)adalah
jenis obat yang permintaannya cenderung stabil.
Setelah petugas gudang menentukan jumlah obat yang akan
dipesan, pengajuan pengadaan disampaikan ke penanggungjawab
pengadaan. Pengajuan tidak akan terpenuhi jika tidak ada
persetujuan dari kepala seksi logistik perbekalan kesehatan dan
manajer logistik. Setelah form persetujuan divalidasi permintaan
dapat diproses ke penanggung jawab pengadaan logistik
perbekalan kesehatan. Proses pengadaan obat dari (user) ke logistik
terdapat pada Gambar 11. Pada kenyataannya ada dokter yang
membuat resep obat diluar dari formularium RS. Penyebab dokter
membuat resep diluar standarisasi yang ditetapkan, adalah:
a. Kelengkapan obat yang masuk dalam standarisasi belum
tersedia
b. Obat yang diperlukan belum masuk dalam standarisasi obat
c. Faktor pendekatan dari bagian pemasaran perusahaan obat
Hal tersebut yang secara umum mengakibatkan terjadinya
pengadaan obat yang cito. Hal ini tentu saja sangat merugikan RS
baik dari segi pelayanan maupun keuangan. Bila peresepan diluar
standarisasi tersebut berulang untuk obat yang sama, instalasi
farmasi akan membuat pengajuan ke KFT untuk dimasukkan ke
dalam standarisasi dan disediakan oleh logistik. Selama proses
pengajuan dan disetujui oleh KFT, obat tersebut disediakan terlebih
dahulu untuk menghindari pembelian obat ke apotek luar. Form
pengajuan obat baru tersebut minimal disetujui oleh dua dokter
untuk dapat diajukan ke KFT.
Kegiatan kedua adalah pemesanan obat oleh penanggung
jawab logistik obat kepada perusahaan pemasok yang telah menjadi
mitra kerja RSIJCP. Proses pemesanan dapat dilakukan melalui 2
(dua) cara, yaitu memesan langsung melalui (salesman) perusahaan
terkait atau melalui telepon. Pemesanan dilakukan 2 (dua) hari


dalam sepekan (Senin dan Kamis) melalui distributor yang datang
ke RSIJCP. Namun jika ada obat yang bersifat (life saving), maka
akan dilakukan pemesanan khusus (cito) dan pemesanan dapat
dilakukan selain 2 (dua) hari tersebut melalui telepon. Pengiriman
barang selambat-lambatnya 4 (empat) jam setelah pemesanan. Jika
obat tidak tersedia di distributor utama, maka pemesanan dilakukan
kepada sub distributor. Namun jika obat yang dipesan tidak tersedia
dikedua pemasok, sedangkan obat tersebut sangat dibutuhkan,
maka upaya yang dilakukan adalah logistik RSIJCP meminta
bantuan kepada logistik di RSI cabang. Proses pemesanan obat
dapat terlihat pada Gambar 6.
Obat yang telah dipesan langsung diantar ke gudang obat
(Lampiran 5) melalui penanggung jawab gudang. Agar
penerimaan obat berjalan dengan tertib, logistik mengatur jadwal
penerimaan barang. Pemesanan barang pukul 08.00 paling lambat
diterima pukul 12.00 WIB, barang yang dipesan pukul 10.00 WIB
paling lambat diterima pukul 14.00 WIB, dan barang yang dipesan
pada pukul 12.00 WIB selambat-lambatnya diterima pukul 16.00
WIB. Diluar jadwal yang telah ditentukan, penanggungjawab
gudang obat tidak menerima barang apapun.
Penerimaan obat dilakukan setiap hari melalui petugas di
gudang obat. Guna menjaga ketertiban, maka dilakukan pencatatan
obat secara manual dan komputerisasi. Hal tersebut dilakukan agar
divisi farmasi dapat mengetahui secara (online) melalui sistem
informasi RS persediaan obat yang tersedia di gudang, juga
bermanfaat bagi bagian akuntansi untuk merekap pengeluaran
RSIJCP secara (update). Divisi logistik memiliki sasaran mutu
yang bertujuan mengatur dan membatasi waktu penerimaan obat
dari pemasok ke petugas gudang. Sasaran mutu tersebut
menyebutkan bahwa lama masukan berita acara penerimaan
barang tidak lebih dari 3 (tiga) jam sejak barang diterima. Hal


tersebut dilakukan agar obat yang membutuhkan penangan cepat,
seperti vaksin dapat ditangani dengan cepat agar tidak rusak.
Pencatatan secara komputerisasi juga berguna untuk
memeriksa kadaluarsa obat yang dilakukan secara kontinu setiap 6
bulan sekali. Jika ditemukan obat yang mendekati kadaluarsa, obat
tersebut dapat dikembalikan ke pemasok dengan ketentuan 3 bulan
sebelum tanggal kadaluarsa. Logistik RSIJCP berhak menentukan
secara bebas perusahaan pemasok mana yang dipilih sebagai mitra
kerja, tidak ada 1 perusahaan pun yang bekerjasama dengan
RSIJCP dengan sistem kontrak. Dalam hal ini perusahaan pemasok
obat yang bertindak aktif melakukan promosi kepada pihak
RSIJCP. Promosi yang dilakukan dalam berbagai bentuk,
pembelian dilakukan secara konsinyasi, pemberian diskon untuk
pembelian dalam jumlah tertentu dan beberapa layanan purna jual,
seperti retur. Sistem pembayaran yang biasa dilakukan adalah
pembayaran tunai. Proses penerimaan obat dari pemasok ke
petugas gudang perbekalan kesehatan terdapat pada Gambar 7.
2. Divisi logistik, kepada divisi layanan farmasi
Rantai selanjutnya dimulai setelah obat diterima di gudang
perbekalan kesehatan. Pendistribusian obat diatur oleh divisi
logistik secara langsung. Guna menjaga ketertiban dalam proses
pendistribusian, divisi logistik memberikan jadwal pengajuan
permintaan obat. Jadwal permintaan dari unit farmasi masuk ke
logistik dibuka setiap hari yang dibagi dalam 2 (dua) waktu, yaitu
pukul 11.00 WIB dan 19.00 WIB. Selain itu hanya dilayani untuk
permintaan cito yang bersifat (life saving). Proses distribusi obat
dari logistik ke unit farmasi terdapat pada Gambar 8. Namun pada
kenyataannya, permintaan dari divisi farmasi sering kali masuk di
luar jam yang telah ditentukan.




























Ya
Tidak
Gambar 6. Proses pengadaan dan pemesanan perbekalan kesehatan
(obat)

Tidak
Ya
Mulai
Tersedia
Selesai
Mencari distributor Lain
untuk pemesanan obat oleh
penanggungjawab pengadaan
Menentukan jumlah pesanan oleh
Petugas gudang
Menentukan seleksi distributor oleh
penanggungjawab pengadaan

Mencetak surat pesanan oleh
Penanggungjawab pengadaan
Mengevaluasi dan validasi oleh
Ketua seksi logistik perbekalan
kesehatan
Menandatangan surat pemesanan
oleh manajer logistik

Memesan ke salesman/telepon oleh
Penanggungjawab Pengadaan

Mengkonfirmasi ketersediaan
barang oleh penanggungjawab
Pengadaan


























4.3.2. Anggota Rantai Pasokan
Anggota rantai pasokan meliputi semua perusahaan dan organisasi yang
berhubungan dengan perusahaan utama (focal), baik secara langsung maupun
tidak langsung melalui pemasok (point of origin hingga point of consumption).
Berdasarkan jenisnya, anggota rantai pasokan terbagi atas 2 (dua) kelompok
besar, yaitu anggota primer (primary members) dan anggota sekunder (secondary
members).

Menarik permintaan dari
penanggungjawab pengadaan dan
mengisi sesuai dengan standar
minimal dan persediaan yang tersedia
Menyetujuii dan memeriksa
permintaan
Menyiapkan barang, menulis pada
kartu persediaan dan sisa gudang
serta membuat standar kebutuhan
pada form
Menginformasikan ke bagian
pelayanan farmasi jika telah selesai
disiapkan
Melakukan serah terima barang dengan
cara disebutkan satu persatu antara
petugas gudang dengan petugas
pelayanan farmasi
Menandatangani form pengeluaran
barang per unit
Gambar 8 . Proses distribusi perbekalan kesehatan
dari logistik ke layanan Farmasi
Ya
Gambar 7 . Proses penerimaan perbekalan
kesehatan

Selesai
Ya
Tidak
Mulai
Sesuai
?
Menyerahkan faktur/tanda terima
dan barang oleh kurir distribusi
Mencocokkan data faktur dengan
data pesanan dan barang oleh
pelaksana gudang
Menerima
Berita Acara
Penerimaan
Barang (BAPB)
oleh Akuntansi
Memberi nomor urut
barang, validasi faktur,
menginput data
transaksi dan mencetak
BAP barang oleh
pelaksana gudang
Menyimpan,mendistribusikan
obat ke user/unit pelayanan oleh
pelaksana gudang


Anggota primer (Primary members) adalah semua perusahaan/unit bisnis
strategik yang benar-benar menjalankan aktivitas operasional manajerial dalam
proses bisnis yang dirancang untuk menghasilkan (output) tertentu bagi pelanggan
atau pasar. Pada MRP di RSIJCP yang termasuk ke dalam anggota rantai pasokan
primer adalah divisi logistik sub unit perbekalan kesehatan obat, perusahaan
pemasok/rekanan obat dan divisi layanan farmasi.
Anggota sekunder (secondary members) adalah perusahaan/unit bisnis
strategik yang tidak terlibat langsung dalam proses operasional rantai pasokan.
Perusahaan/unit bisnis hanya menyediakan sumber daya pengetahuan, utilitas atau
aset-aset bagi anggota rantai pasokan primer.
1. Anggota Primer
a. Divisi Logistik
Divisi logistik dipimpin oleh seorang manajer dengan 2 (dua) orang
kepala seksi yang membawahi sub unit kerja, yaitu seksi logistik umum dan
investasi, serta seksi logistik perbekalan kesehatan. Sub unit logistik umum
dan investasi berfungsi untuk mengelola kegiatan pengadaan, persediaan,
penyimpanan dan distribusi (kebutuhan rutin rumah tangga, alat tulis kantor,
suku cadang, material bangunan, listrik, investasi alat medis dan investasi
alat rumah tangga). Sub unit logistik perbekalan kesehatan berfungsi untuk
mengelola kegiatan pengadaan, persediaan/penyimpanan dan distribusi
beberapa logistik (sediaan farmasi, alkes, barang reagensia, gas medis,
bahan kimia, bahan radiologi dan nutrisi).
Penelitian dilakukan pada divisi logistik, sub unit perbekalan
kesehatan khusus sediaan farmasi (obat). Sub unit ini bertugas menjaga
rantai pasokan yang telah terbentuk agar dapat terintegrasi dengan baik.
Kegiatan yang dilaksanakan berupa pemesanan obat melalui distributor
utama produsen obat, penjagaan persediaan obat di gudang dan sekaligus
bertanggungjawab untuk mendistribusikan obat kepada layanan farmasi.
Tenaga kerja yang bertugas di seksi logistik perbekalan kesehatan obat
sejumlah 8 (delapan) orang. Selanjutnya dapat dirinci atas kepala seksi
logistik, koordinator gudang dan penanggung jawab pengadaan dan
pelaksana.


1) Manajer Logistik
Fungsi utama manajer logistik adalah mengkoordinir,
mengendalikan dan mengembangkan fungsi pelayanan logistik yang
meliputi fungsi pengadaan barang rutin dan inventaris serta perbekalan
kesehatan untuk memenuhi kebutuhan RSIJ dengan mengacu pada
pedoman barang/jasa BPH RSIJ serta rencana strategik dan program
direktorat penunjang klinik. Manajer logistik bertanggungjawab atas
tersedianya masukan untuk penyusunan dan evaluasi rencana strategik
direktorat penunjang klinik, terlaksananya rencana startegik (renstra)
direktorat penunjang klinik yang terkait dengan logistik, tersedia dan
terjaminnya pelaksanaan program kerja tahunan dan tercapainya
sasaran logistik, terjaminnya koordinasi dan pengendalian dalam
pelaksanaan fungsi logistik sesuai pedoman pengadaan barang/jasa
badan pengurus yayasan RSIJ, dan terlaksananya pembinaan dan
pengembangan SDM di bagian logistik.
2) Kepala Seksi Logistik Perbekalan Kesehatan
Fungsi utama kepala seksi logistik adalah mengkoordinir,
mengawasi pelaksanaan fungsi perbekalan kesehatan untuk memenuhi
kebutuhan persediaan perbekalan kesehatan yang mengacu pada
pedoman pengadaan barang/jasa BPH RSIJ dan sasaran bidang logistik
di seksi logistik perbekalan kesehatan. Kepala seksi logistik perbekalan
kesehatan bertanggung jawab atas tersedianya masukan untuk
menyusun program kerja tahunan bagian logistik dan tercapainya
sasaran bagian logistik dalam fungsi logistik perbekalan kesehatan,
terjaminnya koordinasi dan pengawasan dalam pelaksanaan fungsi
logistik perbekalan kesehatan sesuai standar pelayanan kesehatan RS,
dan terjaminnya pembinaan dan pengembangan bawahan.
3) Koordinator gudang logistik dan perbekalan kesehatan
Fungsi utama koordinator gudang logistik dan perbekalan
kesehatan adalah terselenggaranya pengelolaan gudang penyimpanan
dan distribusi yang meliputi perencanaan, penerimaan, penginputan
data ke dalam program SMART (Sistem Manajemen Administrasi


Rumah Sakit Terpadu), penyimpanan, distribusi dan administrasi
dokumen perbekalan kesehatan. Koordinator gudang bertanggungjawab
atas pelaksanaan administrasi gudang, penyimpanan dan
pendistribusian barang, kondisi barang baik secara mutu maupun
kuantitas, kerapihan dan kebersihan ruangan gudang.
4) Pelaksana Gudang perbekalan kesehatan
Fungsi utama pelaksana gudang adalah melaksanakan tugas
penerimaan, penyimpanan dan pendistribusian. Pelaksana gudang
bertanggungjawab dan menjamin terlaksananya penerimaan,
penyimpanan dan pendistribusian dengan baik ke seluruh unit-unit kerja
terkait.
5) Penanggung jawab pengadaan perbekalan kesehatan.
Fungsi utama penanggungjawab pengadaan perbekalan kesehatan
adalah terselenggara dan terpenuhinya pengadaan barang perbekalan
kesehatan secara efektif dan efisien sesuai dengan kebutuhan.
Penanggungjawab pengadaan perbekalan kesehatan, termasuk obat-
obatan bertanggungjawab atas tersedianya perbekalan kesehatan, harga
dan mutu obat.
Divisi logistik mengalami berbagai macam kendala dalam
menjalankan kewajibannya sebagai penyedia dan pengatur logistik bagi
RS. Hal ini mungkin terjadi, karena divisi logistik merupakan divisi
yang baru terbentuk pada tahun 2007 di RSIJCP. Kendala yang
dihadapi dapat berupa fasilitas yang belum mendukung proses produksi,
misalnya gudang obat yang berada di lantai 2 (dua) menyulitkan dalam
proses pendistribusian. Denah gudang perbekalan kesehatan di RSIJCP
terdapat pada Lampiran 5. Selain itu, kendala operasional lain yang
dihadapi divisi logistik dalam menjalankan tugas adalah kurangnya
kerjasama antara pemasok obat dengan logistik RSIJCP, misalnya
dalam hal penerimaan barang pesanan di gudang obat. Belum
optimalnya penerapan formularium yang juga menjadi kendala bagi
logistik dalam menjalankan tugasnya, sehingga banyak obat yang tidak
digunakan lagi, karena perubahan tersebut.


b. Pemasok/rekanan obat
Perusahaan pemasok terbagi ke dalam 2 (dua) kategori, distributor
utama dan sub distributor. Distributor utama adalah perusahaan pemasok
yang ditunjuk langsung oleh produsen obat. Sedangkan sub distributor
adalah perusahaan pemasok cadangan dan bukan perusahaan resmi yang
ditunjuk oleh produsen obat. Perusahaan pemasok yang dijadikan sebagai
mitra kerja RSIJCP adalah perusahaan distributor resmi dan tergolong
distributor utama. Hal tersebut dikarenakan RSIJCP menghindari produk
ilegal ataupun palsu. Seluruh perusahaan pemasok yang ditunjuk berada di
wilayah Jakarta. Hal tersebut untuk mengefisienkan transportasi dan
kecepatan dalam pengiriman obat jika dibutuhkan dengan segera (cito).
Sebanyak 47 perusahaan pemasok obat yang masuk dalam daftar
divisi logistik obat yang bekerjasama dengan RSIJCP. Namun tidak semua
distributor dapat menjadi mitra RSIJCP secara rutin setiap bulannya. Jika
dirata-ratakan dari pembelian per bulannya, hanya sekitar 15 perusahaan
yang menjadi mitra RSIJCP setiap bulannya. Hal tersebut dapat terjadi
karena banyak faktor, umumnya karena faktor promosi yang ditawarkan dan
kelengkapan obat yang tersedia. Perusahaan dengan produk yang sama
memberikan penawaran berbeda-beda, misalnya tawaran pembayaran
tempo, konsinyasi, pemberian diskon untuk pembelian partai besar dan
promo lainnya.
Faktor lain yang menyebabkan RSIJCP memilih sebuah perusahaan
pemasok, karena perbandingan harga, pelayanan yang diberikan dan mutu
produk. RSIJCP akan menerima perusahaan pemasok yang menawarkan
penawaran terbaik. Daftar perusahaan Pemasok Obat yang menjadi mitra
kerja RSIJCP terdapat pada Lampiran . Seluruhnya terdiri atas distributor
utama dan sub distributor cadangan. Sub distributor digunakan, jika pada
suatu kejadian tidak terdapat obat yang dipesan pada distributor utama.
Saat ini, pemasok yang menjadi mitra kerja RSIJCP telah melalui
tahap seleksi oleh bagian logistik perbekalan kesehatan obat. Namun diluar
kendali yang baik, banyaknya toleransi menjadi salah satu hambatan yang
mengancam aktivitas rantai pasokan. Salah satu kendala yang dihadapi oleh


RSICP dalam menjalin kerjasama dengan para pemasok obat adalah
kurangnya kerjasama pemasok dalam menaati peraturan yang dibuat,
misalnya pada saat pengiriman obat ke gudang. Guna mengatasi hal ini,
pihak logistik mengeluarkan surat teguran kepada para pemasok yang
melakukan pelanggaran. Tidak adanya kontrol yang baik, maka kejadian
yang sama dapat terulang lagi.
c. Divisi Layanan Farmasi
Pelayanan farmasi merupakan pelayanan penunjang sekaligus sumber
pemasukan utama (revenue center) bagi RS. Hal tersebut mengingat bahwa
lebih dari 90 persen pelayanan kesehatan di RS menggunakan perbekalan
farmasi (obat-obatan, bahan kimia, bahan radiologi, bahan alat kesehatan,
alat kedokteran dan gas medik). Jika masalah perbekalan farmasi tidak
dikelola secara cermat dan penuh tanggungjawab, maka dapat diprediksi
bahwa pendapatan RS akan mengalami penurunan. Aspek terpenting dari
pelayanan farmasi adalah mengoptimalkan penggunaan obat, keamanan dan
keefektifan penggunaan obat. Mengingat besarnya kontribusi instalasi
farmasi dalam kelancaran pelayanan dan juga merupakan instalasi yang
memberikan sumber pemasukan terbesar di RS, maka perbekalan barang
farmasi memerlukan suatu pengelolaan secara cermat dan penuh tanggung
jawab.
Pada RSJCP divisi layanan farmasi adalah (user) dari divisi logistik,
karena seluruh pendistribusian obat diatur melalui divisi ini. Layanan
farmasi berada di bawah tanggung jawab Direktur Pelayanan Klinik,
dipimpin oleh manajer dengan 2 (dua) sub unit kerja besar, yaitu seksi
pelayanan (unit rawat inap, rawat jalan dan umum) dan seksi sterilisasi.
Layanan farmasi memiliki tenaga kerja sebanyak 60 orang pegawai, yang
terdiri atas kepala seksi pelayanan farmasi, koordinator pelayanan dan
pelaksana farmasi per unit kerja.
2. Anggota Sekunder
Perusahaan-perusahaan yang tergolong anggota rantai pasokan
sekunder dalam struktur MRP RSIJCP adalah agen-agen ekspedisi yang
menyewakan jasa transportasi, bank-bank yang memberi pinjaman kepada


distributor, perusahaan multimedia yang membantu promosi produk,
perusahaan jasa telekomunikasi yang membantu memperlancar kerjasama
dan perusahaan lain yang turut membantu terlaksananya proses rantai
pasokan obat.
4.4. Jaringan Proses Rantai Bisnis
Jaringan proses bisnis yang teridentifikasi di RSIJCP adalah sebagai :
1. Managed process links
Perusahaan/lembaga/divisi yang dianggap penting oleh RSIJCP untuk
menjalin kerjasama adalah pemasok obat serta (user atau divisi layanan
farmasi dan dokter). Dimana RSIJCP selaku perusahaan (focal) atau utama
secara aktif mengatur proses agar produk sampai ke tangan konsumen.
Perusahaan/lembaga/organisasi yang bekerjasama dengan RSIJCP (focal)
pada jaringan ini adalah bagian dari anggota rantai pasokan dan pada
Gambar 9 diilustrasikan dengan garis lurus tebal.
2. Monitored process links
Perusahaan (focal) (RSIJCP) tidak aktif terlibat dalam kelompok ini.
Hubungan dengan kelompok ini tergolong penting, karena berkaitan
dengan rantai pasokan. RSIJCP hanya meninjau dan mengevaluasi secara
berkala bagaimana setiap proses disatukan dan sejauhmana keterkaitan dan
kerjasama dalam proses rantai pasokan. Kelompok yang tergolong dalam
jaringan ini adalah pasien serta produsen obat sebagai penyuplai obat ke
pemasok yang menjadi mitra kerja RSIJCP. Kedua kelompok tersebut
penting diketahui, karena dari kelompok tersebut dapat diketahui
kredibilitas dan mutu produk serta kinerja kelompok pada jaringan
pertama (Managed process links). Pada Gambar 9 diilustrasikan dengan
garis tebal putus-putus.
3. Not managed process links
Pada jaringan ini, RSIJCP selaku perusahaan (focal) tidak terlibat secara
aktif dan tidak juga meninjau secara berkala seperti pada jaringan
sebelumnya. Perusahaan (focal) (RSIJCP) mempercayakan anggota lain
yang mengaturnya. Kelompok perusahaan/lembaga yang tergolong


kelompok ini adalah perusahaan pemasok bahan baku untuk produsen
obat. Pada Gambar 9 diilustrasikan dengan garis tipis.
4. Nonmember process links
Jaringan non member process adalah proses yang dilalui oleh perusahaan
(focal) dalam hal ini RSIJCP, dengan selain anggota rantai pasokan. Non
anggota tidak termasuk dalam struktur jaringan rantai pasokan (focal),
tetapi perusahaan non anggota tersebut dapat dan sering memberi
pengaruh pada perusahaan (focal) dan anggota-anggota lainnya.
Perusahaan yang tergolong kelompok jaringan adalah perusahaan jasa
transportasi, komunikasi, periklanan, dan lain-lain. Pada Gambar 9
diilustrasikan dengan garis tipis putus-putus.










Gambar 9 . Jenis-jenis jaringan proses bisnis (Tunggal, 2008)
Keterangan :
: Managed process links Focal company
: Monitor process links Members/Nonmembers
: Not managed process links of focal company
: Nonmember of process links
4.5. Hasil Uji Validitas, Reliabilitas dan Normalitas Data
Uji validitas dan reliabilitas merupakan salah satu tahap yang dilakukan
dalam rangka pengujian kuesioner. Kuesioner diuji kepada 30 responden yang
terdiri atas divisi logistik 5 orang, pemasok obat 20 orang, dan 5 orang dari
divisi layanan farmasi. Pengujian kuesioner terdiri atas uji validitas dan uji
1
2
n
1
n
1
2
n
1
2
n
1
n
1
n
1
2
n
1
n
1
2
3
n
1
n
1
2
3
n
T
i
e
r

3

t
o

n

s
u
p
p
l
i
e
r
s

I
n
i
t
i
a
l

s
u
p
p
l
i
e
r
s

T
i
e
r

3

t
o

n

c
u
s
t
o
m
e
r
s

C
o
s
t
u
m
e
r
s
/
e
n
d

c
o
s
t
u
m
e
r
s

Pemasok Pemasok
Pemasok
Konsumen Konsumen Konsumen




reliabilitas. Hasil uji validitas menunjukkan sejauhmana alat data yang
ditampung dalam kuesioner dapat mengukur apa yang ingin diukur diukur.
Sedangkan hasil uji reliabilitas menunjukkan konsistensi suatu pengukur di
dalam mengukur gejala yang sama.
Uji validitas dan reliabilitas dilakukan dengan menggunakan korelasi
(product moment). Hasil dari uji validitas menunjukkan bahwa setiap
pertanyaan adalah valid, karena memiliki angka r
hitung
melebihi r
tabel
, yaitu
0,361 dengan taraf nyata 5 persen. Perhitungan validitas dilampirkan pada
Lampiran 6. Uji reliabilitas menggunakan rumus (alpha cronbach) dengan
mengacu pada nilai (alpha) standar 0,6. Nilai (alpha cronbach) yang
diperoleh pada setiap peubah terdapat pada Tabel 7, yaitu lebih besar dari nilai
(alpha) standar, sehingga kuesioner andal untuk digunakan dalam penelitian.
Tabel 7. Uji reliabilitas pada setiap peubah pertanyaan
Peubah Butir
Pertanyaan
Alpha
Cronbach
Keterangan
Y (Efektivitas) 6 0,770 Reliabel
X1 (Pemenuhan Kebutuhan) 7 0,864 Reliabel
X2 (Logistik) 7 0,732 Reliabel
X3 (Produksi) 6 0,741 Reliabel
X4 (Pendapatan dan Laba) 8 0,859 Reliabel
X5 (Biaya-biaya) 7 0,813 Reliabel
X6 (Kerjasama) 6 0,676 Reliabel
Uji normalitas data bertujuan untuk melihat apakah data yang
digunakan telah terdistribusi secara normal atau tidak. Pengujian normalitas
data dilakukan pada masing-masing peubah untuk menambah keakuratan hasil
yang diperoleh. Perhitungan normalitas data menggunakan (software) SPSS
13. Dari tujuh peubah yang digunakan dalam penelitian ini, seluruhnya
memiliki data yang menyebar dengan normal. Hasil uji normalitas data
terdapat pada Lampiran 7.




4.6. Tanggapan Responden Terhadap Kuesioner
Tanggapan responden dapat diketahui dari pertanyaan-pertanyaan yang
diajukan dalam kuesioner kepada 34 responden. Pembahasan dilakukan
dengan menggunakan analisis deskriptif dengan melihat kecenderungan dari
frekuensi setiap jawaban pertanyaan. Tanggapan responden dilihat dari aspek
efektivitas, pemenuhan kebutuhan, logistik, produksi, penerimaan dan laba,
biaya-biaya, dan kerjasama.
4.6.1. Tanggapan Responden Mengenai Efektivitas
Tanggapan tentang peubah efektivitas digambarkan oleh 6
pertanyaan (Tabel 8). Dari hasil tanggapan sebagian besar responden
(61%) terhadap efektivitas menjawab setuju. Perolehan tersebut
menunjukkan bahwa responden menganggap efektivitas MRP di
RSIJCP baik. Penerapan prinsip efektivitas ini sangat perlu karena
merupakan kunci dari keberhasilan MRP dalam proses mencapai tujuan.
Tabel 8. Hasil tanggapan responden terhadap efektivitas






Sumber : Data primer diolah, 2009
4.6.2. Tanggapan Responden Mengenai Pemenuhan Kebutuhan
Tabel 9 menunjukkan bahwa sebagian besar responden (58%)
menjawab setuju terhadap pemenuhan kebutuhan. Hal ini menunjukkan
bahwa divisi logistik telah melakukan fungsi dan tugasnya dengan baik
dan mandiri sebagai penyedia logistik perbekalan kesehatan sekaligus
sebagai pengatur distribusi ke layanan farmasi dengan baik.





Skor
Pertanyaan Efektivitas Akumulasi %
1 2 3 4 5 6
4 7 12 13 11 10 12 65 32
3 21 18 20 22 22 23 123 61
2 5 4 1 3 2 0 15 7
1 1 0 0 0 0 0 0 0
S 34 34 34 34 34 34 203 100


Tabel 9. Hasil tanggapan responden terhadap pemenuhan kebutuhan
Skor
Pemenuhan Kebutuhan Akumulasi %
1 2 3 4 5 6 7
4 8 12 9 13 15 8 9 74 31
3 26 22 16 19 17 15 24 139 58
2 0 0 9 2 1 11 1 24 10,6
1 0 0 0 0 1 0 0 1 0,4
S 34 34 34 34 34 34 34 238 100
Sumber : Data primer diolah, 2009
4.6.3. Tanggapan Responden Mengenai Logistik
Hasil tanggapan sebagian besar responden (55,6%) terhadap
peubah logistik adalah setuju. Divisi logistik telah mampu mengatur
jadwal ketepatan proses rantai pasokan, distribusi obat serta hal-hal
yang berkaitan dengan logistik. Pada indikator logistik ini, tidak ada
responden yang menyatakan sangat tidak setuju pada pertanyaan-
pertanyaan yang diajukan (Tabel 10). Hal ini menunjukkan bahwa
indikator ini berjalan dengan baik.
Tabel 10. Hasil tanggapan responden terhadap logistik




Sumber : Data primer diolah, 2009
4.6.4. Tanggapan Responden Mengenai Produksi
Pada Tabel 11 dapat ditarik kesimpulan bahwa sebagian besar
responden (58%) menyatakan setuju. Hasil tersebut menjelaskan bahwa
responden menganggap proses produksi yang berjalan pada MRP di
RSIJCP berjalan baik. Hasil skor tersebut sama dengan peubah
pemenuhan kebutuhan, namun pada peubah produksi lebih unggul,
karena hanya 6,5 persen yang menyatakan tidak setuju terhadap
pernyataan yang diajukan.




Skor
Logistik Akumulasi %
1 2 3 4 5 6 7
4 17 14 17 7 7 15 8 85 36
3 16 18 16 25 15 18 25 133 55,6
2 1 2 1 2 12 1 1 20 8,4
S 34 34 34 34 34 34 34 238 100


Tabel 11. Hasil tanggapan responden terhadap produksi




Sumber : Data primer diolah, 2009
4.6.5. Tanggapan Responden Mengenai Pendapatan dan Laba
Peubah penerimaan dan laba (Tabel 12) merupakan peubah yang
memiliki indikator paling banyak (56%) dalam jawaban setuju. Hal ini
mengindikasikan bahwa indikator penerimaan dan laba penting untuk
diperhatikan dalam rangka menuju efektivitas MRP.
Tabel 12. Hasil tanggapan responden terhadap penerimaan dan laba
Skor
Penerimaan dan Laba Akumulasi %
1 2 3 4 5 6 7 8
4 10 11 9 20 11 10 5 10 86 32
3 19 20 18 14 19 17 23 23 153 56
2 5 3 7 0 4 6 6 1 32 11,7
1 0 0 1 0 0 1 0 0 1 0,3
S 34 34 34 34 34 34 34 34 272 100
Sumber : Data primer diolah, 2009
4.6.6. Tanggapan Responden Mengenai Biaya-Biaya
Sebagian besar responden (44,5%) menyatakan setuju terhadap
peubah biaya (Tabel 13). Selisih jumlah responden yang menjawab
sangat setuju dan setuju sangat sedikit, namun dapat disimpulkan bahwa
peubah ini sangat baik menurut responden.
Tabel 13. Hasil tanggapan responden terhadap biaya-biaya
Skor
Biaya-Biaya Akumulasi %
1 2 3 4 5 6 7
4 11 20 13 9 22 13 12 100 42,1
3 17 13 15 16 12 18 15 106 44,5
2 6 1 5 8 0 3 7 30 12,6
1 0 0 1 1 0 0 0 2 0,8
S 34 34 34 34 34 34 34 329 100
Sumber : Data primer diolah, 2009



Skor
Produksi Akumulasi %
1 2 3 4 5 6
4 5 13 16 14 7 16 71 35
3 19 21 18 19 24 18 119 58
2 10 0 0 1 2 0 13 6,5
1 0 0 0 0 1 0 1 0,5
S 34 34 34 34 34 34 204 100


4.6.7. Tanggapan Responden Mengenai Kerjasama
Kerjasama merupakan peubah terakhir dalam penentuan
efektifnya sebuah MRP (Tabel 14). Sebagian besar responden (48,5%)
terhadap kerjasama setuju, karena dianggap penting oleh responden.
Tabel 14. Hasil tanggapan responden terhadap kerjasama






Sumber : Data primer diolah, 2009

Secara keseluruhan, dari data yang diperoleh, dapat diketahui mutu
efektivitas MRP di RSICP. Pengkategorian tersebut dilakukan berdasarkan
interval batasan dengan tahapan berikut :
1. Nilai indeks minimum = skor minimal x jumlah pertanyaan x banyak responden
= 1 x 47 x 34
= 1.598
2. Nilai indeks maksimum = skor maksimal x jumlah pertanyaan x banyak
responden
= 4 x 47 x 34
= 6.392
3. Interval = nilai indeks maksimum nilai indeks minimum
= 6.392 1.598
= 4.794
4. Jarak interval = interval : jenjang
= 4.794 : 4
= 1.199




Skor
Kerjasama
Akumulasi %
1 2 3 4 5 6
4 15 13 18 14 20 7 87 43
3 19 20 14 17 13 16 99 48,5
2 0 1 2 3 1 10 17 8
1 0 0 0 0 0 1 1 0,5
S 34 34 34 34 34 34 204 100


Dari perhitungan akumulasi data kuesioner, diperoleh nilai 5.195. Hal ini
menunjukkan bahwa efektivitas MRP di RSIJCP telah berjalan dengan baik.

Buruk Kurang baik Sedang Baik Sangat baik

Gambar 15. Penilaian responden terhadap efektivitas di RSIJCP
4.7. Hubungan Antara Efektivitas dan Manajemen Rantai Pasokan
4.7.1. Faktor Pendorong Efektivitas Rantai Pasokan
Faktor-faktor yang mendorong efektifnya sebuah rantai pasokan,
antara lain kemampuan pemenuhan kebutuhan, kinerja logistik,
produksi, pendapatan dan laba, biaya-biaya dan kerjasama.
a. Pemenuhan Kebutuhan
Pemenuhan kebutuhan menjadi salah faktor penentu
efektifnya sebuah rantai pasokan. Pemenuhan kebutuhan yang
dimaksud adalah bagaimana proses anggota rantai pasokan
menyediakan barang sampai ke tangan konsumen. Kegiatan-kegiatan
yang meliputi kegiatan pemenuhan kebutuhan, antara lain pemesanan
obat melalui pemasok, penjagaan persediaan barang sediaan di
gudang, dan pendistribusian ke unit farmasi sebagai anggota rantai
pasokan yang bertugas mendistribusikan kepada (stakeholder) RS.
Tidak semua tahapan dari proses pemenuhan kebutuhan
berjalan dengan lancar, ada kalanya ditemui kendala-kendala oleh
para anggota rantai pasokan. Khususnya pada divisi logistik, karena
divisi ini yang mengatur mulai dari penyediaan, penjagaan sediaan
barang hingga pendistribusian di tahap pertama.
Banyaknya obat yang tidak tersedia dalam gudang dan bersifat
mendadak, mengharuskan logistik menyediakan obat tersebut dengan
cito. Pembelian obat yang bersifat cito sangat mengganggu
kelancaran pelayanan maupun keuangan RS. Formularium yang
belum optimal penerapannya juga terkadang menyulitkan logistik
1.598
5.195
3.996 5.195 6.392 2.797


untuk mengikuti standar obat yang harus disediakan. Pergantian
penggunaan obat yang cepat oleh dokter menyebabkan banyaknya
persediaan obat yang tidak bergerak di gudang obat, dalam artian
tidak didistribusikan kembali kepada layanan farmasi.
b. Logistik
Kinerja logistik menjadi faktor penting dalam menunjang
kelancaran rantai pasokan. Dalam kegiatan operasional sangat
dibutuhkan kinerja bermutu dengan keterampilan, keahlian dan
disiplin kerja yang tinggi. Apabila tenaga kerja bermutu, maka akan
meningkatkan produktivitas yang berimplikasi pada meningkatnya
efektivitas kerja.
Hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan-kegiatan logistik,
diantaranya ketepatan pemesanan dan pengiriman obat secara tepat
waktu, jumlah dan mutu. Ketepatan pemesanan dan pengiriman akan
mempengaruhi pemenuhan kebutuhan (stakeholder) RS. Selain itu
kegiatan lain yang berkaitan dengan kinerja logistik adalah
pengaturan jadwal yang tepat, perencanaan distribusi ke layanan
farmasi, dan menjalin hubungan baik dengan pemasok.
Salah satu kendala yang dihadapi divisi logistik adalah sulitnya
menambah tenaga kerja, karena terkait pada kebijakan divisi SDM.
Saat ini divisi logistik memiliki 8 (delapan) orang tenaga kerja yang
mengatur dan mengawasi pendistribusian obat di RSIJCP, dibantu
kepala seksi perbekalan kesehatan dan manajer logistik sebagai
evaluator kinerja secara kontinu.
Lambatnya proses (turn over) tenaga kerja yang dilakukan,
lebih menyulitkan proses regenerisasi bagi divisi logistik. Pada suatu
kejadian khusus, dengan tenaga kerja yang dimiliki divisi logistik
harus dapat melaksanakan tugas dan kewajibannya secara bersamaan.
Hal yang paling memungkinkan adalah dengan mempekerjakan
tenaga kerja dengan menambah jam kerja (lembur). Penambahan
jumlah tenaga kerja sangat diperlukan pada divisi logistik guna
meningkatkan efektivitas kinerja di divisi logistik.


c. Produksi
Produksi pada rantai pasokan di RSIJCP merupakan inti dari
kegiatan logistik. Kegiatan produksi yang dimaksud bukan mengolah
bahan mentah menjadi bahan setengah jadi ataupun bahan jadi.
Namun kegiatan produksi di divisi logistik bagian perbekalan
kesehatan merupakan hal yang tidak terpisahkan dari pemenuhan
kebutuhan. Hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan produksi, antara
lain integrasi MRP, kelancaran sistem informasi yang berpengaruh
pada MRP, ketersediaan obat, kinerja logistik yang berpengaruh pada
daya saing RS, dan kepercayaan anggota MRP.
Kelancaran produksi yang baik, harus didukung oleh berbagai
kegiatan-kegiatan pendukung. Terintegrasinya MRP akan mendukung
kegiatan produksi dengan baik. Untuk itu diperlukan komunikasi,
kepercayaan, dan keselarasan diantara anggota rantai pasokan. Salah
satu cara yang dapat dilakukan dengan mengadakan pelatihan bagi
karyawan, pendisiplinan budaya kerja, pemberian tanggungjawab dan
wewenang untuk menambah keahlian kinerja.
Kelancaran sistem informasi akan menjadikan MRP
terintegrasi dengan baik dan berakibat pada tepatnya ketersediaan
obat dan kuatnya kepercayaan antar anggota rantai pasokan, sehingga
pada akhirnya akan dengan mudah bersaing dengan RS lain dalam
mendapatkan penerimaan juga kepercayaan dari para (stakeholder).
d. Pendapatan dan laba
Penerimaan dan laba menjadi penting dalam MRP, karena
secara langsung mempengaruhi pendapatan bagi RSIJCP. Hal-hal
yang menjadi ukuran berkenaan dengan pendapatan dan laba, antara
lain perencanaan distribusi yang tepat, mutu obat yang baik, keloyalan
dan kepuasan konsumen, juga fleksibelnya logistik terhadap
perubahan permintaan.
Distribusi tepat yang dimaksud adalah distribusi yang tepat
waktu, tepat mutu dan tepat jumlah. Tidak terdistribusinya obat
dengan baik akan merusak sistem MRP yang telah terbentuk, serta


pada akhirnya akan berakibat tidak puasnya para (stakeholder) RS.
Mutu pelayanan yang diberikan oleh RSIJCP akan mendorong
keloyalan dan kepuasan (stakeholder). Salah satu upaya yang dapat
dilakukan oleh divisi logistik guna memberikan pelayanan yang baik
adalah memberikan obat dengan mutu yang baik, juga menerima
perubahan permintaan dan pengaduan dari konsumen.
e. Biaya-biaya
Biaya-biaya yang keluar pada proses MRP menjadi faktor
yang juga mempengaruhi efektivitas MRP menurut Haming dan
Nurnajamuddin (2007). Biaya-biaya yang dikeluarkan akan menjadi
tolak ukur efisien atau tidaknya sebuah proses dijalankan. Hal-hal
yang berkenaan dengan peubah biaya, antara lain harga obat bersaing,
mutu obat baik, distributor yang merespon cepat perubahan
permintaan, logistik yang memiliki sistem informasi pengaduan dan
pengaduan konsumen selesai dengan baik.
Harga murah dan mutu yang baik obat yang didapatkan
logistik dari pemasok secara otomatis menekan biaya yang
dikeluarkan. Logistik tidak perlu lagi untuk mengganti obat yang
tersedia hanya karena memiliki mutu buruk. Selain itu, respon yang
cepat dari pemasok terhadap perubahan permintaan juga teratasinya
pengaduan masalah dianggap menjadi hal-hal yang dapat menekan
biaya.
f. Kerjasama
Kerjasama juga menjadi faktor pendukung bagi efektifnya
sebuah rantai pasokan. Kerjasama dapat dilakukan dengan 2 (dua)
cara, yaitu kerjasama vertikal dan horizontal. Kerjasama vertikal
terkait dengan kerjasama antar perusahaan atau lembaga pendidikan
dan informasi, sedangkan kerjasama horizontal adalah kerjasama
dengan pemasok. Contoh kerjasama vertikal yang telah dilakukan
divisi logitik adalah kerjasama dengan RS lain. Sedangkan yang
contoh kerjasama horizontal, yaitu kerjasama dengan pemasok,
anggota rantai pasokan dan manajemen rantai pasokan.


Kerjasama yang dilakukan divisi logistik mencakup 2 (dua)
bagian kerjasama, yaitu vertikal dan horizontal. Kerjasama vertikal
dilakukan dengan RSI cabang, yaitu RSI Pondok Kopi dan RSI
Cilincing. Kerjasama yang terjalin sangat menguntungkan bagi kedua
belah pihak. Selain menjadi bahan pembanding pada kasus tertentu,
juga sebagai mitra yang saling tolong menolong, misalnya dalam hal
pemenuhan obat yang cito namun tidak terdapat di pemasok Pada
lingkup yang lebih luas RSIJCP telah melakukan kerjasama vertikal,
yaitu dengan cara menerima mahasiswa yang akan melakukan
penelitian pada bagian-bagian yang ada dan diperkenankan di RSICP.
Kerjasama tersebut akan menghasilkan input bagi bagian yang
menjadi objek penelitian.
Kerjasama horizontal dilakukan divisi logistik dengan cara
menjalin kerjasama dengan pemasok dan anggota rantai pasokan
lainnya. Kerjasama tersebut akan menghasilkan kesepakatan dan
kesepahaman yang berguna untuk menjaga keprofesionalan kinerja
masing-masing bagian.
4.7.2. Hasil Analisis Regresi Berganda antara Efektivitas dan MRP
Pengujian dengan analisis regresi dimaksudkan untuk mengetahui
hubungan efektivitas dengan MRP yang diwakili oleh peubah pemenuhan
kebutuhan, logistik, produksi, penerimaan dan laba, biaya-biaya dan
kerjasama. Pengolahan data menggunakan regresi (backward elimination)
menunjukkan bahwa peubah yang memiliki hubungan nyata dengan
efektivitas adalah logistik (X
2
), produksi (X
3
) dan kerjasama (X
6
). Hasil uji
F atau uji simultan diperoleh nilai siginifikan (p-value) < 0,05 yang diukur
dari uji ANOVA (Analysis Of Variance). Uji t atau uji parsial diperoleh
nilai p value < 0,05 yang diukur dengan (coefficients). Sedangkan uji
koefisien determinasi yang dilihat dari nilai (adjusted R square) diperoleh
sebesar 70,8 persen. Artinya peubah logistik dan produksi dapat
menjelaskan efektivitas 70,8 persen. Model yang terbentuk adalah :
Y = 3,537 + (0,523 X2) + (0,681 X3)+(0,474X6)


Pengolahan dengan analisis regresi (backward elimination) melalui uji
klasik regresi berganda (Lampiran 8 dan 9), sebagai berikut ;
a. Data berdistribusi normal
b. Galat menyebar normal yang diukur dengan uji Kolmogorov-Smirnov,
dimana (P-value) diperoleh 0,686 atau > 0,05
c. Ragam dari galat bersifat homogen (homoskedasititas)
d. Model terbebas dari asumsi autokorelasi, yang diindikasikan dari nilai
(durbin watson atau dw) sebesar 1,784
e. Model terbebas dari asumsi multikolinieritas, diindikasikan dengan nilai
VIF (Variance Inflation Factor) < 10.
Hasil pengolahan data dengan menggunakan regresi (backward
ellimination) diketahui bahwa hanya peubah logistik (X
2
), produksi (X
3
) dan
kerjasama (X
6
) yang memilki hubungan dengan efektivitas MRP di RSIJCP.
Hal tersebut dikarenakan ketiga peubah tersebut merupakan titik kritis dan
merupakan faktor sukses efektifnya sebuah rantai pasokan.
Setiap butir pertanyaan yang terdapat pada ketiga peubah tersebut,
seluruhnya mengacu pada kegiatan operasional yang penting dalam
rangkaian aktivitas MRP. Pada peubah logistik (X
2
) hal-hal yang
diperhatikan adalah seluruh kegiatan dalam rangka pemenuhan obat di
gudang logistik, seperti ketepatan pengiriman barang, kelancaran informasi
dan perencanaan persediaan dan distribusi barang.
Pada peubah produksi (X
3
) hal-hal yang diperhatikan adalah seputar
kegiatan memproduksi, dalam hal ini kaitannya dengan kinerja MRP untuk
mendistribusikan obat ke divisi layanan farmasi, kelancaran informasi dari
pemasok juga terkait dengan jumlah persediaan obat yang akan
mempengaruhi permintaan dari divisi layanan farmasi. Kinerja MRP
tercermin dari kegiatan produksi dan distribusi yang baik dipengaruhi oleh
kinerja logistik, kelancaran informasi yang akhirnya akan menentukan
kepercayaan angota rantai pasokan dan posisi daya saing RS.




Implementasi peubah kerjasama (X
6
) pada divisi logistik dapat
difokuskan pada kerjasama dengan pemasok dan anggota rantai pasokan.
Kerjasama yang dibangun akan berpengaruh pada kepercayaan yang akan
menentukan mutu dari kinerja logistik.
Penerapan indikator-indikator yang ada pada peubah logistik,
produksi dan kerjasama diperlukan pada sistem MRP di RSIJCP yang
mencakup proses kegiatan-kegiatan penting yang harus dilakukan. Tidak
hanya di level operasional, namun secara menyeluruh. Pada ilmu
manajemen, dikenal dengan MBO (Management by Objective). MBO
dalam pelaksanaannya menitikberatkan pada spesifikasi sasaran dan
penetapan mutu dan kuantitas output yang harus dicapai. Langkah-langkah
yang diperhatikan dalam pelaksanaan sistem ini adalah :
a. Mutu dan jumlah yang akan dicapai
b. Metode yang dipakai
c. Waktu pelaksanaan dan berakhirnya suatu pekerjaan
d. Fasilitas dana, sarana dan wewenang
e. Personil pelaksanaan dan pemberian tugas
f. Penilaian dari apa yang telah dicapai
Mengevaluasi setiap kegiatan-kegiatan tersebut, baik dikendalikan
secara langsung ataupun cukup hanya dengan memonitor. Setiap proses
yang dijalankan harus diikuti dengan konsep PDCA (plan-do-check-action).
Menjalankan MRP dengan strategi akan menambah efektif setiap proses
kegiatan yang dilakukan. Mengacu pada teori yang diungkapkan Said
(2006), serta Heizer dan Render (2004) tentang strategi utama MRP,
RSIJCP dalam hal ini dijalankan oleh divisi logistik dapat
mengimplementasikan sesuai kebutuhan dan kondisi MRP yang berjalan.
Strategi biaya mengupayakan pada efiensi biaya produksi dan dapat
diselaraskan dengan strategi banyak pemasok. Salah satu aktivitas yang
mendorong strategi tersebut adalah dengan memperbaiki posisi tawar
dengan pemasok. Hal tersebut akan dapat mendukung untuk menjalin
kerjasama jangka panjang. Selain itu, menjalin hubungan baik dengan
pemasok juga akan lebih memudahkan dalam proses evaluasi.


Dibandingkan dengan menjalankan strategi sedikit pemasok, maka biaya
mengganti mitra akan lebih besar, sehingga pemasok dan pembeli
menghadapi risiko. Kinerja pemasok yang buruk merupakan salah satu
risiko yang dihadapi pembeli, sehingga pembeli harus memperhatikan
rahasia-rahasia dagang pemasok yang menjadi mitra bisnis.
Menggunakan fasilitas teknologi dapat mendorong berjalannya
strategi biaya dan banyak pemasok. Mengoptimalkan penggunaan sistem
informasi yang dimiliki RSIJCP (SMART) juga dapat mendukung proses
penjadwalan dan pengelolaan pengiriman obat. Fungsi SMART yang ada
diperluas lagi, tidak hanya sebatas alat evaluasi jumlah persediaan obat, juga
sebagai media pemesanan ke pemasok, penjadwalan pengiriman juga
pendistribusian obat agar lebih efisien. Peubah produksi yang merupakan
peubah berpengaruh dengan efektivitas MRP, mengindikasikan bahwa
sebuah MRP efektif harus didukung dengan kinerja logistik yang baik.
Untuk itu, sumber daya manusia (SDM) pada divisi logistik perlu
diperhatikan, baik berkaitan dengan mutu dan kuantitasnya. Menambah
jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan divisi logistik merupakan tindakan
tepat untuk mengatasi keterbatasan yang ada saat ini.
Aktivitas pengimplementasian strategi tidak hanya dijalankan pada
divisi logistik, namun pada divisi layanan farmasi yang juga merupakan
anggota rantai pasokan. Hal yang penting diperhatikan dan sangat penting
untuk direalisasikan adalah pembentukan formularium yang digunakan
sebagai pedoman standar pemesanan dan penjagaan sediaan farmasi. Selain
itu pentingnya jadwal pengiriman dan pendistribusian obat yang juga harus
dilaksanakan, karena mempengaruhi (real time).
Sebelum pengimplementasian strategi, ada tiga hal yang harus
diperhatikan, agar strategi dapat berhasil (Dwiningsih, 2006), yaitu :
1. Mutual agreement on goal, yang berarti suatu integrasi rantai pasokan
mensyaratkan lebih dari kesepakatan dalam kontrak hubungan, tetapi
partner harus diapresiasikan tidak hanya dalam uang, tetapi pada rantai
pasokan sampai dengan konsumen akhir. Hal ini dapat terwujud apabila
adanya pengertian tentang misi, strategi dan tujuan dari organisasi yang


berpartisipasi. Integrasi rantai pasokan adalah sesuatu yang menambah
nilai tambah ekonomi dan memaksimalkan total mutu produk.
2. Trust, yang merupakan hal kritis bagi efektivitas dan efisiensi rantai
pasokan. Anggota dari rantai pasokan harus masuk ke dalam hubungan
yang membagi informasi dalam rangka membangun kepercayaan.
Hubungan diantara anggota rantai pasokan akan lebih baik, jika risiko
dan penghematan biaya merupakan tanggungjawab bersama.
3. Compatible organizational cultures akan menjadikan imbangan yang
positif diantara hubungan anggota rantai pasokan. Jika hal tersebut
terjadi, maka akan menjadi keunggulan riil dalam pembuatan rantai
pasokan yang efektif dan efisien.























V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
1. MRP di RSIJCP terdiri dari pemasok obat, divisi logistik dan divisi
layanan farmasi.
2. Tanggapan responden terhadap efektivitas MRP di RSIJCP memperoleh
skor 5.195, sehingga masuk dalam kategori baik, walaupun ada beberapa
hal yang belum ideal (gudang persediaan obat yang berada di lantai 2,
sumber daya manusia yang kurang dan pengoptimalan fasilitas yang
dimiliki beserta penerapan formularium yang belum optimal).
3. Hasil uji dengan menggunakan regresi (backward ellimination)
menunjukkan peubah logistik, produksi dan kerjasama yang memiliki
pengaruh positif dan nyata dengan efektivitas MRP di RSIJCP.
5.2. Saran
1. Bagi pemasok obat, hendaknya tetap menepati setiap jadwal pengiriman
barang yang telah disepakati, yaitu maksimum 4 (empat) jam setelah
pemesanan dilakukan.
2. Bagi divisi logistik
a. Menerapkan MBO pada tiap lini struktur organisasi
b. Menerapkan PDCA di setiap aktivitas MRP
c. Menambah jumlah tenaga kerja untuk mengefisienkan pekerjaan
d. Memaksimalkan sistem informasi yang dimiliki RS (SMART) sebagai
media evaluasi, tidak hanya sebatas pada proses masukan dan
pengambilan data persediaan.
3. Bagi divisi layanan farmasi
a. Mengoptimalkan penerapan formularium untuk membakukan standar
pengadaan obat
b. Mengevaluasi setiap proses pendistribusian obat, agar mengurangi
pembelian cito.






DAFTAR PUSTAKA

Ariyanto. 2007. Teknik Penarikan Contoh. PT LKIS Pelangi Aksara,
Yogyakarta.Candraningrum. 2003. http://www.tempointarktif.com.
Crosby, P.B. 1989. Let`s Talk Quality. Graw Hill Book, Singapore.
Dwiningsih, N. 2006. Manajemen Rantai Pasokan (Supply Chain Management)
dan E-Commerce. Jurnal. STEKPI, Jakarta
Haming, M. dan M. Nurnajamuddin. 2007. Manajemen Produksi Modern. Bumi
Aksara, Jakarta.
Heizer, J. dan B. Render. 2004. Operation Management (Terjemahan). Salemba
Empat, Jakarta.
Hani. 2007. Analisis Rantai Pasokan Buah Kelapa (studi kasus Rantai Pasokan
Buah Kelapa). Skripsi pada Departemen Teknologi Industri Pertanian,
Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Irmawati. 2007. Pengaruh Manajemen Rantai Pasokan Terhadap Kinerja di PTPN
VIII Gunung Mas Bogor. Skripsi pada Departemen Manajemen. Fakultas
Ekonomi Manajemen. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Jacobalis, S. 1991. Peran Manajemen Dalam Peningkatan Mutu Pelayanan Rumah
Sakit. Jurnal Kedokteran, No 71.
Kurniawan, D. 2008. Regregi Linear. Jurnal, Forum Statistika.
http://ineddeni.wordpress.com.
LEPIN (Lembaga Pengembangan Informasi Indonesia). 1999. Aids Dikenal Untuk
Dihindari.
Nazir, M. 2005. Metode Penelitian. Ghalia Indonesia, Jakarta.
Oktiya A. 2006. Analisis Rantai pasokan Terhadap Produktivitas di UKM
Keramik Klampok Banjarnegara. Skripsi pada Departemen Manajemen.
Fakultas Ekonomi Manajemen. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Prihatiningsih, N. 2007. Analisis Efisiensi Rantai Pasokan Komoditas Bawang
Merah (Studi Kasus di Bogor). Skripsi pada Departemen Teknologi
Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor,
Bogor.
Punuju, R. 2007. Komunikasi Bisnis. Ghalia Indonesia, Jakarta.
Rangkuti, F. 2003. Riset Pemasaran. Gramedia, Jakarta.
Riduwan. 2007. Belajar Mudah Penelitian untuk Guru, Karyawan dan Peneliti
Pemula. Alfabeta, Bandung.
Russel, R.S and B. W. Taylor. 2003. Operation Management. Prentice Hall, New
Jersey.



Said, A, dkk. 2006. Produktivitas dan Efisiensi dengan Supply Chain
Management. PPM, Jakarta.
Siagian. 2005. Aplikasi Supply Chain Management dalam Dunia Usaha.
Grasindo, Jakarta.
Simamora, B. 2004. Riset Pemasaran. Gramedia, Jakarta.
Suciati, S. 2006. Analisis Perencanaan Obat Berdasarkan ABC Indeks Kritis Di
Instalasi Farmasi. Artikel Penelitian pada Fakultas Kesehatan
Masyarakat. Universitas Indonesia, Depok.
Sukandarrumidi. 2002. Metodologi Penelitian. Gajah Mada University Press,
Yogyakarta.
Sugiono. 2007. Metodologi Penelitian Bisnis. CV Alfabeta, Bandung.
Tunggal, A. W. 2008. Dasar-dasar Manajemen Logistik dan Supply Chain
Management. Harvarindo, Jakarta.
Umar, H. 2003. Riset Pemasaran dan Perilaku Konsumen. Gramedia, Jakarta.
Wibisono, D. 1999. Riset Bisnis. BPFE, Yogyakarta.
www.depkes.go.id. 2007. Perkembangan Jumlah Rumah Sakit.
www. phapros.com. 2006. Mengenal Penggolongan Obat.
www. wikipedia.com. 2008. Rumah Sakit.



















LAMPIRAN



Lampiran 1. Kuesioner identifikasi rantai pasokan
A. Pasokan Obat-obatan
1. Bagaimana saudara mengetahui informasi tentang obat-obatan yang
diperjualbelikan ?
a. Mencari informasi sendiri
b. Melalui media massa
c. Lainnya, sebutkan.................................................................................
2. Berapa kali dalam satu bulan pemasok obat-obatan menyediakan ke
gudang RS ?..........................................................................................kali
3. Berapa jumlah pengiriman obat-obatan dalam satu kali pengiriman ?.......
4. Bagaimana sistem pemesanan obat-obatan RS ke pemasok ?....................
5. Bagaimana sistem pengangkutan obat-obatan dari pemasok ke RS ?.......
6. Permasalahan apa yang seringkali dihadapi dalam penyediaan obat-
obatan?........................................................................................................
7. Apa upaya yang dilakukan dalam menanggulangi masalah tersebut ?......
8. Apakah jumlah persediaan sesuai dengan kebutuhan untuk memenuhi
pasien ?
a. ya
b. Tidak, jika tidak bagaimana cara memperolehnya ?
9. Apa bentuk persediaan yang selama ini dilakukan RS ?
a. stok produk (persediaan dalam jumlah besar)
b. Just in Time (persediaan sesuai kebutuhan konsumen/pasien)
c. Lainnya.................................................................................................
10. Bagaimana proses penerimaan obat-obatan dari pemasok ?
a. Obat diterima di RS
b. Obat diambil dari pemasok
c. Lainnya, sebutkan.................................................
11. Berapa lama daya simpan dan obat-obatan ? ..............hari/minggu/bulan..
12. Faktor-faktor yang mempengaruhi lamanya penyimpanan persediaan
obat-obatan ? (jawaban boleh lebih dari satu)
a. Gudang
b. Pemasok
c. Suhu udara
d. Lainnya, sebutkan.................................................................................
13. Bagaimana mekanisme penyaluran persediaan obat-obatan kepada unit
lain ?............................................................................................................
14. Persoalan-persoalan yang dihadapi dalam manajemen persediaan obat-
obatan?
a. Kebutuhan pasien sulit diprediksi/sangat variatif
b. Perputaran waktu/penjadwalan yang tidak stabil
c. Hubungan dengan pemasok kurang baik
d. Mutu produk
e. Lainnya, sebutkan.................................................................................
15. Apa usaha yang telah dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut ? ....



Lanjutan Lampiran 1.



B. Layanan
1. Faktor-faktor apa sajakah yang mempengaruhi lambatnya pemberian
pelayanan obat- obatan kepada pasien ?
a. Keterlambatan obat-obatan
b. Penggunaan alat bantu pada proses pelayanan
c. Keterlambatan dokter, perawat dan apoteker
d. Lainnya, sebutkan.................................................................................
2. Apa upaya yang telah dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut ?.......
3. Dari segi mutu produk, apakah produk yang digunakan sudah memenuhi
keinginan dan kebutuhan pasien ?
a. Ya
b. Tidak, dari sisi usaha untuk mengatasinya.........................................
4. Adakah proses pengawasan mutu terhadap obat-obatan yang masuk RS ?
5. Bagaimana proses tersebut terjadi ?
a. Mengontrol secara langsung
b. Ada bagian pengawas mutu yang mengontrol
c. Lainnya, sebutkan.................................................................................
6. Apakah hingga saat ini telah dilakukan pengembangan produk yang
digunakan RS ?
a. Belum. Jelaskan ?..................................................................................
b. Sudah. Dalam segi apa perkembangan tersebut ?
7. RS manakah yang hingga saat ini menjadi saingan ditinjau dari berbagai
sudut pandang ?

C. Distributor
1. Bagaimana bentuk distribusi persediaan (obat-obatan) yang selama ini
dilakukan ?
a. Menggunakan distributor dari RS
b. Pasien langsung mengambil / membeli di RS
c. Menggunakan jasa lain (distributor independen)
d. Lainnya, sebutkan.................................................................................
2. Jika menggunakan ditributor/pemasok independen, jenis distributor yang
digunakan ?
a. Produsen obat
b. Distributor besar (grosir)
c. Agen
d. Lainnya, sebutkan.................................................................................
3. Jika menggunakan distributor independen untuk menyalurkan produk,
bentuk kerjasama apa yang dilakukan antara pemasok dan RS ?
a. Sistem kontrak (sudah ada perjanjian)
b. Dipesan tanpa ada perjanjian secara langsung





Lanjutan Lampiran 1.



4. Jenis obat .yang paling banyak/sering dipesan ?
No Jenis obat yang dipesan Jumlah per pesanan
(unit)




5. Permasalahan yang dihadapi dalam kegiatan distribusi :
a. Keterlambatan dalam pendistribusian
b. Ketidaktepatan jadwal pendistribusian
c. Kerusakan produk yang didistribusikan
d. Lainnya, sebutkan.................................................................................

D. Konsumen
1. Jenis obat-obatan yang paling banyak dibutuhkan pasien ?
No Jenis alat kesehatan



2. Permasalahan yang sering dihadapi dari pasien ?
a. Kebutuhan pasien tidak dapat terpenuhi
b. Mutu produk (alat kesehatan dan obat) tidak sesuai dengan keinginan
pasien
c. Pelayanan yang kurang memuaskan
d. lainnya, Sebutkan..................................................................................
3. Bagaimana menanggulangi masalah tersebut ?
E. Komentar Umum




















Lanjutan Lampiran 1.


BapakIbu/Sdr yang terhormat
Saat ini saya sedang melakukan penelitian yang berjudul Evaluasi Rantai
Pasokan Obat Di RS Islam Jakarta. Penelitian ini dilakukan untuk memenuhi syarat
kelulusan dan memperoleh gelar Sarjana Ekonomi di Mahasiswa Program Manajemen
Penyelenggaraan Khusus, Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi Manajemen,
Institut Pertanian Bogor.
Saya sangat mengharapkan kerjasama dari BapakIbu/Sdr untuk meluangkan
waktu mengisi sejumlah pertanyaan dalam kuesioner yang telah saya buat untuk
melengkapi data yang dibutuhkan dalam penelitian ini. Kuesioner ini merupakan
kuesioner tahap pertama yang dibuat untuk mengidentifikasi sistem rantai pasokan yang
telah dijalankan RS Islam Jakarta. Manajemen rantai pasokan adalah pengelolaan
kegiatan-kegiatan dalam memperoleh bahan baku untuk menjadi barang yang dapat di
distribusikan kepada konsumen. Untuk itu sangat diharapkan BapakIbu/Sdr dapat
memberikan informasi yang akurat dan jujur, sehingga informasi yang disajikan dapat
dipertanggungjawabkan. Saya menjamin kerahasiaan identitas bapak/ibi/sdr dan jawaban
yang diberikan.
Atas perhatian dan kerjasama yang baik dari BapakIbu/Sdr, saya ucapkan
terimakasih.

Bogor, Pebruari 2009

Puspita Rosa / H 24066004
(Mahasiswa Program Sarjana Ekonomi Penyelenggaraan Khusus, Departemen
Manajemen, Fakultas Ekonomi Manajemen, Institut Pertanian Bogor)


















Kuesioner ini terdiri atas empat bagian A,B,C,D Berikan tanda (x) pada pilihan jawaban
yang menurut Bapak/Ibu/Sdr/i paling benar. Jawaban disesuaikan dengan kondisi
perusahaan saat ini. Penilaian hubungan didasarkan atas pertanyaan di dalam tabel,
apakah Bapak/Ibu/Sdr/i merasa :
SS : Sangat Setuju TS :Tidak Setuju
S :Setuju STS : Sangat Tidak Setuju

Efektivitas
IDENTITAS RESPONDEN
Nama :
Jabatan :
Divisi/Bagian :
Usia : 20-30 tahun 31-40 tahun 41-50 tahun
> 50 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki Perempuan
Tingkat Pendidikan : SMA S0/D3 S1
S2 S3 Lainnya..
Masa Kerja : < 1 tahun 1-5 tahun 5-10 tahun

10-15 tahun Lainnya,.








Lanjutan Lampiran 1


No Pertanyaan SS S TS STS
1
Sistem informasi dan komunikasi yang tepat akan
mengurangi waktu yang dibutuhkan disepanjang rantai
pasokan
2
Sistem komunikasi dan informasi dalam manajemen
rantai pasokan logistik perlu ditingkatkan dan diperbaiki.
3
Sistem manajemen rantai pasokan logistik berpengaruh
terhadap kebutuhan dan kepuasan konsumen.
4
Diperlukan metode baru yang lebih tepat untuk
mengintegrasikan aktivitas manajemen rantai pasokan

5
Kepercayaan tinggi antar setiap aktivitas manajemen
rantai pasokan akan meningkatkan efektivitas kinerja
logistik.
6
Sistem komunikasi dan informasi yang baik berpengaruh
terhadap kinerja manajemen rantai pasokan.
Fulfillment (Pemenuhan Kebutuhan)

Logistiks (Logistik)
No Pertanyaan SS S TS STS
7
Rumah Sakit menjadikan divisi logistik sebagai bagian
tersendiri dalam pemenuhan kebutuhan konsumen RS
8
Pemenuhan kebutuhan obat dan alkes konsumen tepat
waktu dipengaruhi oleh keterkaitan antar anggota rantai
pasokan (distributor/rekanan, logistik dan user/farmasi).

9
Logistik selalu memperhatikan dan dapat memenuhi
kebutuhan konsumen RS dengan tepat waktu
10
Logistik memperoleh obat dan alkes dalam jumlah yang
cukup dari distributor /rekanan
11
Jumlah obat dan alkes mempengaruhi kemampuan
logistik memenuhi kebutuhan konsumen RS secara tepat
waktu.
12
Logistik memiliki strategi yang sudah tepat dalam
memenuhi kebutuhan konsumen RS
13
Logistik mempunyai data tertulis tentang permintaan
dan pemenuhan kebutuhan obat dan alkes konsumen RS
No Pertanyaan SS S TS STS
14
Alat transportasi berperan penting terhadap ketepatan
pengiriman obat dan alkes ke bagian logistik RS
15
Keterkaitan antar aktivitas rantai pasokan perlu
ditingkatkan untuk menjamin ketepatan pengiriman obat
dan alkes dari disributor/rekanan ke logistik
16
Ketepatan pengiriman obat dan alkes dari
distributor/rekanan ke logistik mempengaruhi ketepatan
dalam pemenuhan kebutuhan konsumen dan persediaan
di gudang obat dan alkes logistik
17
Logistik telah memiliki jadwal rantai pasokan yang tetap
pada setiap distributor/rekanan obat dan alkes
18
Perencanaan distribusi obat dan alkes dalam rumah sakit
hanya dilakukan oleh bagian logistik

No Pertanyaan SS S TS STS


Production (Produksi)
Revenue and profit (pendapatan dan laba)
No Pertanyaan SS S TS STS
27
Perencanaan distribusi dengan melibatkan semua
aktivitas manajemen rantai pasokan berpengaruh
terhadap pangsa pasar dan tingkat keuntungan rumah
sakit.
28
Sistem manajemen rantai pasokan logistik berpengaruh
terhadap mutu obat dan alkes.
29
Sistem manajemen rantai pasokan logistik berpengaruh
terhadap loyalnya konsumen RS dan berpengaruh nyata
terhadap keuntungan yang akan diperoleh
30
Mutu obat dan alkes mempengaruhi kepuasan
konsumen RS.
31
Waktu yang dibutuhkan logistik dalam menjalankan
rantai pasokan mempengaruhi mutu obat/alkes dan
kepuasan konsumen RS.
32
Mutu produk, pelayanan, kenyamanan dan pemenuhan
permintaan tepat waktu adalah faktor kunci kepuasan
konsumen yang telah diterapkan dan dipenuhi logistik.
33
Logistik fleksibel terhadap perubahan permintaan dari
konsumen RS.
34
Fleksibilitas terhadap perubahan permintaan konsumen
mempengaruhi kepuasan konsumen RS.





19
Frekuensi komunikasi pada aktivitas manajemen rantai
pasokan logistik berpengaruh terhadap kinerja
manajemen rantai pasokan rumah sakit.
20
Perlu ditingkatkan frekuensi komunikasi antar setiap
aktivitas manajemen rantai pasokan.
No Pertanyaan SS S TS STS
21
Selama ini manajemen rantai pasokan logistik sudah
terintegrasi dengan baik.
22
Kegiatan yang terkait/terintegrasi antara setiap aktivitas
rantai pasokan akan meningkatkan kinerja logistik obat
dan alkes.
23
Kelancaran informasi dengan pemasok akan berpengaruh
positif pada peningkatan kinerja logistik rumah sakit
24
Ketersediaan obat dan alkes dengan tepat dipengaruhi
oleh manajemen rantai pasokan logistik.
25
Kinerja logistik yang baik berpengaruh terhadap daya
saing rumah sakit.
26
Tingkat kepercayaan antar setiap anggota manajemen
rantai pasokan perlu ditingkatkan
Lanjutan Lampiran 1



Cost (Biaya-biaya)
No Pertanyaan SS S TS STS
35
Harga obat dan alkes yang diberikan distributor/rekanan
bersaing dengan distributor/rekanan obat dan alkes
lainnya
36
Logistik memperoleh obat dan alkes dengan mutu baik
dari distributor/rekanan
37
Distributor/rekanan merespon cepat dan fleksibel
terhadap permintaan darurat logistik.

38
Logistik telah memiliki sistem informasi yang tepat
terhadap permintaan darurat dan perubahan permintaan
dari konsumen RS.
39
Pengaduan konsumen yang terselesaikan dengan baik
mempengaruhi kepuasan konsumen
40
Perlu dibuat sistem informasi dan komunikasi yang tepat
untuk mengatasi pengaduan konsumen.
41
Logistik harus memiliki manajemen tersendiri untuk
mengatasi pengaduan dari konsumen RS

Cooperation (Kerjasama)
No Pertanyaan SS S TS STS
42
Menggunakan banyak pemasok dapat memperlancar
kegiatan logistik dan menurunkan biaya operasional
rumah sakit.
43 Kerjasama dengan pemasok dengan sistem kontrak
bermanfaat untuk efisiensi biaya.
44 Kunci utama meningkatkan kinerja logistik adalah
menjaga hubungan baik dengan pemasok.
45
Kerjasama dengan logistik rumah sakit lain akan
meningkatkan efisiensi juga menjadi salah satu solusi
permasalahan
46 Kerjasama antar anggota rantai pasokan menentukan
kualitas logistik
47 Konsumen RS yang loyal menunjukkan kerjasama di
tingkat manajemen rantai pasokan yang tinggi











Lanjutan Lampiran 1



Lampiran 2. Daftar perusahaan pemasok obat

a. Daftar Perusahaan Pemasok Obat
No NAMA PEMASOK No NAMA PEMASOK
1 BINA SAN PRIMA 25 MENSA BINA SUKSES
2 BUDI LESTARI 26 MITRAGUNA SEHAT LESTARI
3 BUMI INDAH CV 27 MUFIDACH
4 DEWA 28 MULTI HUSADA FARMA PT.
5 DIPA PHARMALAB 29 PAMULANG PT.
6 DISTRIVERSA BUANA MAS 30 PANCA NIAGA PT.
7 DWI SATRIA PHARMASINDO 31 PARIT PADANG PT.
8 EVA SURYA PRATAMA PT. 32 PENTA VALENT PT.
9 FONDACO MITRATAMA 33 SAGI CAPRI PT.
10 GADING LAKSANA UTAMA 34 SAPTA SARI TAMA
11 GRAHA ISMAYA 35 SAWAH BESAR FARMA PT.
12 GREAT MATARAM PT. 36 SENTRACO
13 GUNA ABADI WISESA PT. 37 SETIOHARTO
14 INDONESIAN DRUG HOUSE 38 SIDO UNGGUL
15 JAWA BERSAUDARA 39 SINGA AQUA
16 KALLISTA PRIMA PT. 40 STIMEC INTERNASIONAL PT.
17 KEBAYORAN PHARMA PT. 41 SUKU DINAS KESEHATAN
18 KIJANG MAS CITRA SEJATI 42 SUMBER MUTIARA PT.
19 KIMIA FARMA BANDENGAN 43 SUMBER SEHAT
20 KIMIA FARMA KEBAYORAN 44 TEMPO PT.
21 KIMIA FARMA OB 45 TIARA KENCANA
22 KIMIA FARMA PT. 56 UNIRA ELCARONA
23 LENKO SURYA PERKASA 47 UNITED DICO CITAS PT.
24 M ZEN


b. Daftar Responden Perusahaan Pemasok Obat
NAMA PEMASOK
FREKUENSI PEMBELIAN SELAMA 6
BULAN
BINA SAN PRIMA
233
TEMPO PT.
165
PARIT PADANG
153
KEBAYORAN PHARMA PT.
126
MENSA BINASUKSES PT.
99
UNITED DICO CITAS PT.
97
KIMIA FARMA (CAB.MATRAMAN)
75
EVA SURYA PRATAMA PT.
50
DISTRIVERSA BUANA MAS
46
SAWAH BESAR PHARMA PT.
37
PENTA VALENT
30
ETHICAL
25












Pertanyaan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
3,340 4,762 3,751 4,907 4,713 4,633 3,000 3,000 3,251 3,593 2,801 3,225 5,475 5,179 3,227
3,340 3,366 3,751 3,463 3,340 3,000 3,000 3,000 2,000 3,593 2,801 2,000 3,904 3,655 4,557
2,148 4,762 3,751 3,463 3,340 3,000 3,000 3,000 3,251 3,593 2,801 4,474 5,475 5,179 4,557
2,148 4,762 3,751 3,463 3,340 4,633 4,644 3,000 3,251 3,593 2,801 4,474 5,475 5,179 4,557
3,340 3,366 5,283 2,000 3,340 3,000 3,000 3,000 3,251 3,593 2,801 3,225 3,904 3,655 3,227
3,340 3,366 3,751 3,463 3,340 3,000 3,000 3,000 3,251 3,593 2,801 2,000 3,904 3,655 3,227
3,340 4,762 3,751 3,463 3,340 3,000 3,000 3,000 3,251 3,593 2,801 3,225 3,904 5,179 3,227
3,340 3,366 5,283 4,907 3,340 4,633 4,644 4,623 4,543 5,088 4,283 3,225 5,475 5,179 3,227
2,148 3,366 3,751 3,463 2,000 3,000 3,000 3,000 3,251 3,593 2,801 3,225 3,904 3,655 2,000
2,148 3,366 3,751 3,463 2,000 3,000 3,000 3,000 3,251 3,593 2,801 3,225 3,904 3,655 2,000
4,657 4,762 3,751 3,463 3,340 4,633 3,000 3,000 2,000 3,593 4,283 2,000 3,904 5,179 4,557
3,340 3,366 3,751 2,000 3,340 3,000 3,000 3,000 2,000 5,088 2,801 2,000 3,904 5,179 3,227
3,340 3,366 3,751 3,463 3,340 3,000 3,000 3,000 2,000 3,593 1,538 2,000 3,904 3,655 3,227
4,657 3,366 5,283 4,907 3,340 4,633 3,000 4,623 2,000 5,088 4,283 2,000 3,904 3,655 3,227
3,340 3,366 3,751 3,463 3,340 3,000 3,000 3,000 2,000 3,593 2,801 2,000 2,000 3,655 3,227
3,340 2,000 2,000 4,907 3,340 3,000 3,000 3,000 3,251 2,000 2,801 2,000 3,904 2,000 4,557
3,340 3,366 3,751 3,463 4,713 3,000 3,000 3,000 2,000 5,088 4,283 2,000 3,904 5,179 3,227
4,657 4,762 5,283 4,907 4,713 4,633 3,000 3,000 2,000 3,593 1,000 2,000 3,904 5,179 4,557
3,340 3,366 3,751 3,463 3,340 3,000 3,000 3,000 2,000 3,593 4,283 2,000 3,904 3,655 3,227
3,340 2,000 3,751 3,463 3,340 3,000 3,000 3,000 3,251 3,593 2,801 3,225 3,904 3,655 3,227
3,340 4,762 5,283 3,463 4,713 4,633 3,000 4,623 4,543 5,088 4,283 4,474 5,475 5,179 4,557
4,657 3,366 5,283 4,907 4,713 3,000 4,644 4,623 4,543 5,088 4,283 3,225 5,475 5,179 4,557
4,657 3,366 5,283 2,000 4,713 3,000 3,000 4,623 4,543 5,088 4,283 4,474 3,904 5,179 4,557
3,340 3,366 5,283 3,463 3,340 3,000 4,644 3,000 3,251 3,593 2,801 3,225 3,904 3,655 3,227
3,340 3,366 3,751 4,907 4,713 4,633 3,000 4,623 3,251 5,088 4,283 4,474 3,904 3,655 3,227
2,148 4,762 5,283 3,463 3,340 4,633 4,644 3,000 3,251 3,593 2,801 3,225 3,904 3,655 3,227
3,340 2,000 3,751 3,463 3,340 3,000 3,000 4,623 3,251 3,593 4,283 3,225 3,904 5,179 3,227
4,657 4,762 5,283 4,907 4,713 4,633 4,644 4,623 4,543 5,088 4,283 4,474 5,475 5,179 4,557
1,000 4,762 5,283 4,907 4,713 4,633 4,644 4,623 4,543 5,088 4,283 4,474 5,475 5,179 4,557
4,657 3,366 3,751 3,463 3,340 3,000 3,000 3,000 3,251 3,593 2,801 3,225 3,904 3,655 4,557
3,340 4,762 5,283 4,907 4,713 3,000 4,644 4,623 4,543 5,088 4,283 4,474 5,475 5,179 4,557
3,340 3,366 5,283 3,463 3,340 3,000 3,000 3,000 4,543 2,000 4,283 3,225 3,904 3,655 3,227
3,340 4,762 3,751 3,463 3,340 3,000 3,000 4,623 3,251 5,088 4,283 3,225 3,904 5,179 4,557
3,340 2,000 3,751 4,907 3,340 4,633 3,000 4,623 4,543 5,088 2,801 3,225 3,904 3,655 3,227
Lampiran 3. Succesive interval method







Pertanyaan
16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31
3,543 3,296 3,563 3,994 3,425 4,609 3,000 3,813 3,220 3,000 3,250 3,434 3,253 4,603 3,173 3,107
3,543 2,000 5,050 3,994 2,000 3,000 4,596 3,813 3,220 3,000 3,250 2,000 3,253 3,000 3,173 1,980
3,543 3,296 5,050 5,608 4,853 3,000 3,000 3,813 3,220 4,600 4,528 4,866 2,000 4,603 3,173 3,107
3,543 3,296 5,050 5,608 3,425 3,000 3,000 3,813 3,220 4,600 4,528 4,866 2,000 4,603 3,173 3,107
3,543 3,296 5,050 3,994 3,425 3,000 3,000 3,813 3,220 4,600 3,250 3,434 3,253 3,000 3,173 3,107
3,543 2,000 5,050 3,994 2,000 3,000 3,000 3,813 3,220 4,600 3,250 3,434 3,253 3,000 3,173 3,107
3,543 3,296 3,563 3,994 2,000 3,000 3,000 5,356 3,220 3,000 3,250 2,000 3,253 3,000 3,173 3,107
3,543 4,575 5,050 5,608 3,425 4,609 4,596 5,356 3,220 4,600 2,000 4,866 3,253 4,603 4,446 3,107
2,000 3,296 3,563 3,994 3,425 3,000 3,000 3,813 1,980 3,000 2,000 3,434 2,000 3,000 2,000 3,107
2,000 3,296 3,563 3,994 3,425 3,000 3,000 3,813 1,980 3,000 2,000 3,434 2,000 3,000 2,000 3,107
3,543 2,000 5,050 3,994 2,000 3,000 4,596 5,356 3,220 4,600 3,250 3,434 2,000 4,603 3,173 1,980
3,543 2,000 3,563 3,994 2,000 3,000 4,596 2,000 3,220 3,000 3,250 3,434 3,253 4,603 3,173 1,980
3,543 3,296 3,563 3,994 3,425 3,000 3,000 3,813 3,220 3,000 3,250 3,434 3,253 3,000 3,173 3,107
3,543 2,000 3,563 5,608 2,000 4,609 4,596 5,356 3,220 3,000 4,528 3,434 4,520 4,603 4,446 1,980
3,543 2,000 5,050 3,994 2,000 3,000 3,000 3,813 3,220 3,000 3,250 3,434 3,253 4,603 3,173 1,980
3,543 3,296 3,563 3,994 3,425 4,609 3,000 3,813 3,220 3,000 4,528 3,434 3,253 4,603 2,000 3,107
3,543 3,296 5,050 3,994 2,000 3,000 3,000 3,813 3,220 4,600 2,000 3,434 3,253 3,000 4,446 1,000
3,543 4,575 3,563 5,608 2,000 4,609 4,596 5,356 4,608 4,600 2,000 4,866 4,520 3,000 4,446 1,980
3,543 2,000 3,563 3,994 2,000 3,000 3,000 3,813 3,220 3,000 3,250 3,434 3,253 3,000 3,173 3,107
3,543 2,000 3,563 3,994 3,425 3,000 4,596 3,813 3,220 3,000 3,250 3,434 3,253 3,000 3,173 3,107
5,060 4,575 3,563 5,608 4,853 3,000 4,596 5,356 4,608 4,600 4,528 4,866 4,520 4,603 4,446 4,434
5,060 4,575 3,563 3,994 4,853 4,609 4,596 5,356 3,220 3,000 4,528 4,866 3,253 4,603 3,173 4,434
5,060 3,296 5,050 3,994 3,425 4,609 4,596 5,356 4,608 4,600 3,250 4,866 4,520 4,603 3,173 4,434
3,543 2,000 3,563 3,994 3,425 3,000 4,596 5,356 3,220 3,000 3,250 3,434 3,253 3,000 4,446 3,107
3,543 4,575 5,050 3,994 3,425 4,609 3,000 5,356 3,220 4,600 4,528 4,866 4,520 4,603 4,446 4,434
3,543 2,000 2,000 5,608 3,425 3,000 3,000 3,813 3,220 4,600 3,250 3,434 3,253 3,000 2,000 3,107
3,543 3,296 3,563 3,994 3,425 3,000 3,000 3,813 3,220 3,000 3,250 3,434 3,253 4,603 3,173 4,434
5,060 4,575 5,050 5,608 4,853 4,609 4,596 5,356 4,608 4,600 4,528 4,866 4,520 4,603 4,446 4,434
5,060 4,575 5,050 3,994 4,853 4,609 4,596 5,356 1,000 4,600 4,528 3,434 4,520 4,603 3,173 4,434
3,543 3,296 3,563 3,994 3,425 3,000 3,000 3,813 3,220 3,000 4,528 3,434 4,520 3,000 3,173 4,434
5,060 3,296 5,050 3,994 3,425 4,609 4,596 5,356 4,608 4,600 3,250 4,866 4,520 4,603 4,446 4,434
3,543 2,000 5,050 3,994 3,425 3,000 4,596 3,813 4,608 4,600 3,250 4,866 2,000 4,603 4,446 3,107
5,060 2,000 3,563 2,000 3,425 4,609 3,000 3,813 3,220 3,000 3,250 2,000 2,000 4,603 3,173 3,107
3,543 3,296 3,563 3,994 3,425 4,609 4,596 5,356 4,608 3,000 3,250 3,434 3,253 4,603 4,446 4,434





Lanjutan Lampiran 3.







Pertanyaan
32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 44 45 46 47
3,527 3,994 3,256 3,409 3,045 3,427 4,672 4,827 4,516 2,843 3,495 3,342 4,319 5,048 2,370
3,527 3,994 2,000 3,409 1,914 2,287 3,000 2,000 2,000 2,843 3,495 3,342 2,915 3,520 3,511
3,527 5,608 4,565 4,954 4,395 3,427 3,000 4,827 4,516 4,395 4,955 4,812 4,319 3,520 2,370
3,527 5,608 4,565 4,954 4,395 3,427 3,000 4,827 4,516 2,843 4,955 4,812 4,319 3,520 2,370
3,527 3,994 2,000 2,000 1,914 2,287 3,000 3,405 2,000 2,843 4,955 3,342 2,915 5,048 3,511
3,527 3,994 3,256 3,409 1,914 2,287 3,000 3,405 3,210 2,843 3,495 3,342 2,915 5,048 3,511
3,527 3,994 3,256 3,409 3,045 3,427 3,000 3,405 3,210 4,395 3,495 3,342 1,757 3,520 3,511
3,527 5,608 4,565 4,954 4,395 4,657 4,672 3,405 3,210 4,395 4,955 3,342 2,915 5,048 4,708
3,527 3,994 3,256 4,954 3,045 2,287 4,672 3,405 3,210 2,843 3,495 3,342 2,915 3,520 2,370
3,527 5,608 3,256 4,954 3,045 2,287 4,672 3,405 3,210 2,843 3,495 3,342 2,915 3,520 2,370
2,000 3,994 3,256 3,409 1,914 2,287 4,672 2,000 2,000 4,395 4,955 3,342 2,915 5,048 2,370
3,527 3,994 3,256 4,954 4,395 3,427 3,000 3,405 3,210 4,395 3,495 2,000 1,757 5,048 3,511
2,000 3,994 2,000 3,409 1,914 2,287 3,000 3,405 3,210 2,843 3,495 3,342 2,915 3,520 2,370
3,527 5,608 3,256 4,954 3,045 3,427 4,672 3,405 3,210 2,843 3,495 3,342 1,757 5,048 3,511
2,000 3,994 3,256 3,409 3,045 2,287 3,000 4,827 2,000 2,843 4,955 3,342 2,915 3,520 3,511
3,527 3,994 4,565 3,409 3,045 4,657 3,000 3,405 3,210 2,843 3,495 4,812 4,319 3,520 2,370
3,527 3,994 3,256 3,409 3,045 3,427 4,672 4,827 4,516 4,395 4,955 4,812 4,319 5,048 3,511
2,000 5,608 3,256 3,409 1,000 1,000 4,672 4,827 4,516 4,395 3,495 4,812 2,915 5,048 4,708
2,000 3,994 3,256 4,954 3,045 3,427 4,672 3,405 3,210 2,843 3,495 2,000 2,915 3,520 3,511
3,527 5,608 3,256 3,409 3,045 3,427 3,000 3,405 3,210 2,843 3,495 3,342 2,915 5,048 3,511
5,046 5,608 4,565 4,954 4,395 4,657 4,672 4,827 4,516 4,395 3,495 4,812 4,319 5,048 4,708
3,527 3,994 4,565 4,954 4,395 4,657 4,672 4,827 4,516 4,395 3,495 4,812 2,915 5,048 4,708
5,046 3,994 4,565 4,954 4,395 4,657 4,672 4,827 4,516 4,395 4,955 4,812 4,319 5,048 3,511
3,527 3,994 3,256 4,954 4,395 4,657 4,672 3,405 3,210 2,843 3,495 4,812 4,319 5,048 2,370
3,527 3,994 2,000 4,954 4,395 3,427 4,672 3,405 3,210 2,843 4,955 4,812 2,915 5,048 3,511
3,527 5,608 3,256 3,409 4,395 3,427 4,672 3,405 3,210 2,843 2,000 4,812 4,319 2,000 3,511
3,527 3,994 3,256 4,954 4,395 3,427 4,672 2,000 2,000 4,395 3,495 3,342 2,915 5,048 3,511
5,046 5,608 4,565 4,954 3,045 4,657 4,672 4,827 4,516 4,395 4,955 4,812 2,915 5,048 4,708
5,046 3,994 2,000 4,954 4,395 3,427 4,672 4,827 4,516 4,395 4,955 4,812 4,319 5,048 1,000
2,000 3,994 3,256 3,409 3,045 4,657 3,000 4,827 4,516 2,843 3,495 4,812 4,319 3,520 3,511
5,046 3,994 4,565 4,954 3,045 4,657 4,672 3,405 3,210 4,395 4,955 4,812 4,319 3,520 4,708
3,527 3,994 2,000 4,954 3,045 3,427 4,672 4,827 4,516 2,843 4,955 4,812 2,915 5,048 4,708
3,527 2,000 4,565 4,954 3,045 3,427 4,672 3,405 2,000 4,395 3,495 4,812 4,319 3,520 2,370
3,527 3,994 4,565 4,954 4,395 3,427 4,672 3,405 2,000 2,843 3,495 4,812 4,319 5,048 3,511




Lanjutan Lampiran 3.




























Lampiran 4. Struktur organisasi RSIJCP



Lanjutan Lampiran 4.














Fungsi Utama :
Menjamin pengelolaan dan
pengembangan fungsi-fungsi
penunjang langsung pelayanan klinik
sesuai sasaran rumah sakit
Fungsi Utama :
Mengelola dan
mengembangkan fungsi ,
Pelayanan Pelanggan dan
Pengembangan Pasar di
rumah sakit
Fungsi Utama :
Mengelola dan
mengembangkan fungsi
Pelayanan Umum dan
Perkantoran di rumah
sakit,
Fungsi Utama :
Mengelola dan
mengembangkan fungsi
logistik di rumah sakit,
meliputi :
- Logistik Umum dan
Investasi
- Logistik Perbekalan
Kesehatan
Fungsi Utama :
Mengelola dan
mengembangkan fungsi
penunjang Pemeliharaan
dan Kesling di rumah sakit,
meliputi :
- Pemeliharaan peralatan
mekanik dan elektrik
- Pemeliharaan kesehatan
lingkungan
Fungsi Utama :
Mengelola dan
mengembangkan fungsi
penunjang Rekam Medik di
rumah sakit, meliputi :
- Administrasi pendaftaran
dan penyimpanan data
pasien
- Pengolahan data dan
penyusunan laporan
Fungsi Utama :
Mengelola dan
mengembangkan fungsi
penunjang Gizi di rumah sakit,
meliputi :
- Konsultasi Gizi
- Penyediaan makanan bagi
pasien
Direktorat Penunjang Klinik
(Direktur)
Bagian Gizi
(Manajer)
Bagian Rekam
medik
(Manajer)
Bagian Pemeliharaan dan
Kesling
(Manajer)
Bagian Logistik
(Manajer)
Bagian Pelayanan
Umum dan Perkantoran
(Manajer)
Bagian Pemasaran
(Manajer)
9
3



Lanjutan Lampiran 4.















Bagian Logistik
(Manajer)
Seksi Logistik Umum dan
Investasi
(Ka.Seksi)
Seksi Logistik Perbekalan
Kesehatan
(Ka.Seksi)
Fungsi Utama :
Mengelola kegiatan pengadaan,
persediaan/penyimpanan dan distribusi, seperti :
- Rutin Rumah Tangga
- Alat Tulis Kantor
- Suku Cadang
- Material bangunan, listrik
- Investasi Alat Medis
- Investasi Alat Rumah Tangga
Fungsi Utama :
Mengelola kegiatan pengadaan,
persediaan/penyimpanan dan distribusi, seperti :
- Sediaan Farmasi
- Alat Kesehatan
- Barang reagensia
- Gas Medis
- Bahan Kimia
- Bahan Radiologi
- Nutrisi
9
4



Lampiran 5. Denah gudang perbekalan kesehatan





















Keterangan
A = Meja Serah Terima 1 = Manajer Farmasi
B = Meja Koordinator 2 = Pelaksana Administrasi
C = Meja Serah Terima 3 = Koordinator Pengadaan
D = Susu 4 = Kasie Logistik dan Farmasi
E = Kulkas 5 = Lemari Arsip
F = Alkes 6 = Komputer
G = Obat Suntik 7 = Filling Cabinet
H = Salep Supp 8 = Pengetikan Manual
I = Narkotika 9 = Obat Jadi
J = Salep/Supp 10 = Bahan Baku
K = Tetes 11 = Gudang Arsip/ATK
L = Bahan Baku Tablet 12 = Tempat alat pemanas dan botol kosong basah
M = Bahan Baku Berbahaya 13 = Tempat cuci
N = Infus 14 = Meja Kerja
O = Infus 15 = Botol kosong bersih
P = Cefalosporin
Q = Antiseptic
S = Alkes
T = Buster
U = Sirup










Pertanyaan r
hitung
r
tabel
Valid/Tidak Valid
1 0,477 0.361 Valid
2 0,472 0.361 Valid
3 0,415 0.361 Valid
4 0,375 0.361 Valid
5 0,495 0.361 Valid
6 0,624 0.361 Valid
7 0,355 0.361 Valid
8 0,749 0.361 Valid
9 0,755 0.361 Valid
10 0,596 0.361 Valid
11 0,551 0.361 Valid
12 0,641 0.361 Valid
13 0,499 0.361 Valid
14 0,358 0.361 Valid
15 0,520 0.361 Valid
16 0,337 0.361 Valid
17 0,627 0.361 Valid
18 0,478 0.361 Valid
19 0,308 0.361 Valid
20 0,516 0.361 Valid
21 0,363 0.361 Valid
22 0,493 0.361 Valid
23 0,467 0.361 Valid
24 0,666 0.361 Valid
25 0,561 0.361 Valid
26 0,392 0.361 Valid
27 0,503 0.361 Valid
28 0,605 0.361 Valid
29 0,564 0.361 Valid
30 0,551 0.361 Valid
31 0,407 0.361 Valid
32 0,557 0.361 Valid
33 0,480 0.361 Valid
34 0,349 0.361 Valid
35 0,457 0.361 Valid
36 0,657 0.361 Valid
37 0,712 0.361 Valid
38 0,643 0.361 Valid
39 0,374 0.361 Valid
40 0,751 0.361 Valid
41 0,781 0.361 Valid
42 0,604 0.361 Valid
43 0,352 0.361 Valid
44 0,305 0.361 Valid
45 0,387 0.361 Valid
46 0,418 0.361 Valid
47 0,392 0.361 Valid
Lampiran 6. Hasil uji validitas per butir pertanyaan
r
hitung
> r
tabel
= valid






One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Efe0001 Efe0002 Efe0003 Efe0004 Efe0005 Efe0006
N
34 34 34 34 34 34
Normal
Parameters(a,b)
Mean
3,3670 3,6980 4,2853 3,8011 3,6650 3,5764
Std. Deviation
,86509 ,90624 ,85053 ,87855 ,75581 ,79212
Most Extreme
Differences
Absolute
,311 ,290 ,353 ,326 ,372 ,414
Positive
,307 ,290 ,353 ,326 ,372 ,414
Negative
-,311 -,239 -,262 -,262 -,275 -,262
Kolmogorov-Smirnov Z
1,814 1,691 2,057 1,903 2,171 2,412




Pem001 Pem002 Pem003 Pem004 Pem005 Pem006 Pem007
N
34 34 34 34 34 34 34
Normal Parameters(a,b)
Mean
3,3868 3,5728 3,2619 4,0709 3,3647 3,1226 4,2639
Std. Deviation
,70784 ,78727 ,93912 ,89383 ,90419 ,93144 ,80594
Most Extreme
Differences
Absolute
,472 ,414 ,240 ,321 ,292 ,221 ,408
Positive
,472 ,414 ,240 ,321 ,292 ,221 ,408
Negative
-,292 -,262 -,231 -,255 -,286 -,220 -,298
Kolmogorov-Smirnov Z
2,754 2,412 1,399 1,873 1,705 1,288 2,377






Log001 Log002 Log003 Log004 Log005 Log006 Log007
Lampiran 7. Hasil uji normalitas data
Lanjutan Lampiran 7.


One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

































N
34 34 34 34 34 34 34
Normal Parameters(a,b)
Mean
4,3683 3,7025 4,4329 3,7646 3,1019 4,1731 4,3151
Std. Deviation
,86904 ,78023 ,87677 ,76280 ,95862 ,83406 ,80359
Most Extreme Differences Absolute
,325 ,317 ,324 ,408 ,228 ,327 ,420
Positive
,294 ,317 ,292 ,408 ,228 ,327 ,420
Negative
-,325 -,275 -,324 -,327 -,227 -,295 -,315
Kolmogorov-Smirnov Z
1,892 1,849 1,888 2,381 1,328 1,904 2,449


Prod001 Prod002 Prod003 Prod004 Prod005 Prod006
N
34 34 34 34 34 34
Normal Parameters(a,b)
Mean
3,2159 3,6152 3,7511 4,3950 3,3675 3,7529
Std. Deviation
,93768 ,79367 ,80860 ,87215 ,79295 ,81062
Most Extreme Differences Absolute
,294 ,399 ,353 ,336 ,368 ,353
Positive
,265 ,399 ,353 ,336 ,368 ,353
Negative
-,294 -,277 -,323 -,277 -,338 -,323
Kolmogorov-Smirnov Z
1,715 2,324 2,058 1,959 2,145 2,058









































a Test distribution is Normal.
b Calculated from data. Catatan : Data memenuhi kenormalan, jika Kormogorov-Smirnov Z > c 0,05





Penda001 Penda002 Penda003 Penda004 Penda005 Penda006 Penda007 Penda008
N
34 34 34 34 34 34 34 34
Normal Parameters(a,b)
Mean
3,4421 3,7708 3,3304 3,9429 3,4469 3,2364 3,4809 4,4101
Std. Deviation
,83287 ,86812 ,87445 ,80079 ,79353 ,93905 ,87827 ,85529
Most Extreme Differences Absolute
,297 ,327 ,271 ,383 ,311 ,261 ,344 ,393
Positive
,297 ,327 ,271 ,292 ,311 ,261 ,332 ,393
Negative
-,262 -,261 -,259 -,383 -,247 -,239 -,344 -,284
Kolmogorov-Smirnov Z
1,732 1,909 1,578 2,235 1,816 1,520 2,008 2,289
Bia001 Bia002 Bia003 Bia004 Bia005 Bia006 Bia007
N
34 34 34 34 34 34 34
Normal Parameters(a,b)
Mean
3,4579 4,2764 3,3347 3,4130 4,0819 3,8247 3,4218
Std. Deviation
,90333 ,85539 ,97572 ,95182 ,81104 ,89136 ,94052
Most Extreme Differences Absolute
,265 ,374 ,244 ,241 ,414 ,299 ,236
Positive
,265 ,256 ,234 ,229 ,262 ,299 ,236
Negative
-,235 -,374 -,244 -,241 -,414 -,252 -,231
Kolmogorov-Smirnov Z
1,545 2,181 1,421 1,406 2,412 1,742 1,377
Ker001 Ker002 Ker003 Ker004 Ker005 Ker006
N
34 34 34 34 34 34
Normal Parameters(a,b)
Mean
3,5277 4,0093 4,0413 3,3909 4,3741 3,3480
Std. Deviation
,78220 ,79685 ,88543 ,85135 ,85639 ,92851
Most Extreme Differences Absolute
,368 ,358 ,337 ,300 ,373 ,246
Positive
,368 ,358 ,256 ,300 ,252 ,224
Negative
-,307 -,265 -,337 -,274 -,373 -,246
Kolmogorov-Smirnov Z
2,147 2,089 1,967 1,750 2,172 1,435
Lanjutan Lampiran 7.


Lampiran 8. Hasil analisis regresi berganda dengan metode Backward Ellimination
Coefficient
Mode
Unstandardized
Coefficients
Starndardized
Coefficients
t Sig. Collinearity Statistics
B Std.Error Beta Tolerance VIF
1 (Constant)
Pemenuhan
Logistik
Produksi
Pendapatan
Biaya
Kerjasama
3,488
-,139
,593
,837
-,058
,002
-,484
2,637
,130
,153
,211
,148
,114
,214

-,198
,662
,854
-,077
,033
-,434
1,323
-1,062
3,862
3,598
-,393
,017
-2,267
,197
,298
,001
,000
,698
,987
,032

,259
,307
,194
,234
,375
,246

3,862
3,353
5,156
4,279
2,670
4,066
2 (Constant)
Pemenuhan
Logistik
Produksi
Pendapatan
Kerjasama
3,495
-,138
,593
,836
-,057
-,484
2,564
,113
,151
,202
,139
,205

-,197
,662
,853
-,076
-,434
1,363
-1,215
3,935
4,139
-,412
-2,364
,184
,234
,000
,000
,684
,025

,332
,308
,205
,254
,259

3,013
3,247
4,881
3,938
3,866
3 (Constant)
Pemenuhan
Logistik
Produksi
Kerjasama
3,257
-,157
,583
,798
-,476
2,462
,101
,147
,177
,201

-,225
,651
,814
-,427
1,323
-1,554
3,977
4,507
-2,370
,196
,131
,000
,000
025

,404
,316
,259
,261

2,477
3,165
3,860
3,832
4 (Constant)
Logistik
Produksi
Kerjasama
3,537
,523
,681
-,474
2,513
,145
,164
,205

,584
,694
-,425
1,407
3,615
4,153
-2,308
,170
,001
,000
028

,339
,317
,261

2,948
3,158
3,832










ANOVA
e
234,797 6 39,133 13,965 ,000
a
75,658 27 2,802
310,455 33
234,796 5 46,959 17,379 ,000
b
75,659 28 2,702
310,455 33
234,338 4 58,585 22,320 ,000
c
76,117 29 2,625
310,455 33
227,997 3 75,999 27,650 ,000
d
82,458 30 2,749
310,455 33
Regression
Residual
Total
Regression
Residual
Total
Regression
Residual
Total
Regression
Residual
Total
Model
1
2
3
4
Sum of
Squares df Mean Square F Sig.
Predictors: (Constant), Kerjasama, Biaya, Pendapatan, Logistik, Pemenuhan,
Produksi
a.
Predictors: (Constant), Kerjasama, Pendapatan, Logistik, Pemenuhan, Produksi
b.
Predictors: (Constant), Kerjasama, Logistik, Pemenuhan, Produksi
c.
Predictors: (Constant), Kerjasama, Logistik, Produksi
d.
Dependent Variable: Efetivitas
e.
1
0
0



Lanjutan Lampiran 8.
Model Summary
Mode R R Square Adjusted R Square Std. Error of the
Estimate
1
2
3
4
,870
a
,870
b
,869
c
,857
d
,756
,756
,756
,734
,702
,713
,721
,708
1,67396
1,64380
1,62010
1,65789
a. Predictors : (Constant). Kerjasama, Biaya, Pendapatan, Logistik, Pemenuhan, Produksi
b. Predictors : (Constant). Kerjasama, Pendapatan, Logistik, Pemenuhan, Produksi
c. Predictors : (Constant). Kerjasama, Logistik, Pemenuhan, Produksi
d. Predictors : (Constant). Kerjasama, Logistik, Produksi
Excluded Variables
d
Mode Beta In t Sig.
Collinearity Statistics
Tolerance VIF
2 Biaya ,003
a
,017 ,987 ,375 2,670
3 Biaya
Pendapatan
-,015
b
-,076
b
-,099
-,412
,921
,684
,407
,254
2,457
3,938
4 Biaya
Pendapatan
Pemenuhan
-,115
c
-,171
c
-,225
c
-,945
-1,011
-1,554
,353
,320
,131
,602
,309
,404
1,660
3,238
2,477
a. Predictors In the Model : (Constant). Kerjasama, Pendapatan, Logistik, Pemenuhan, Produksi
b. Predictors In the Model : (Constant). Kerjasama, Logistik, Pemenuhan, Produksi
c. Predictors In the Model : (Constant). Kerjasama, Logistik, Produksi
d. Dependent Variable : Efektivitas





1
0
1



Lampiran 9. Uji klasik regresi berganda








Model Summary
Mode R R Square Adjusted R Square Std. Error of the
Estimate
Durbin-Watson
1
2
3
4
,870
a
,870
b
,869
c
,857
d
,756
,756
,756
,734
,702
,713
,721
,708
1,67396
1,64380
1,62010
1,65789 1,784

a. Predictors : (Constant). Kerjasama, Biaya, Pendapatan, Logistik, Pemenuhan, Produksi
b. Predictors : (Constant). Kerjasama, Pendapatan, Logistik, Pemenuhan, Produksi
c. Predictors : (Constant). Kerjasama, Logistik, Pemenuhan, Produksi
d. Predictors : (Constant). Kerjasama, Logistik, Produksi
e. Dependent Variable : Efektivitas

1
0
2

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
34
,0000000
1,58073701
,123
,123
-,080
,715
,686
N
Mean
Std. Deviation
Normal Parameters
a,b
Absolute
Positive
Negative
Most Extreme
Differences
Kolmogorov-Smirnov Z
Asymp. Sig. (2-tailed)
Unstandardiz
ed Residual
Test distribution is Normal.
a.
Calculated from data.
b.


Lanjutan Lampiran 9.
30.00 27.50 25.00 22.50 20.00 17.50
Efetivitas
3
2
1
0
-1
-2
R
e
g
r
e
s
s
i
o
n

S
t
a
n
d
a
r
d
i
z
e
d

R
e
s
i
d
u
a
l
Dependent Variable: Efetivitas
Scatterplot

Coefficients
a
Mode
Unstandardized
Coefficients
Starndardized
Coefficients
t Sig.
Collinearity
Statistics
B Std.Error Beta Tolerance VIF
5 (Constant)
Pemenuhan
Logistik
Produksi
Pendapatan
Biaya
Kerjasama
3,488
-,139
,593
,837
-,058
,002
-,484
2,637
,130
,153
,211
,148
,114
,214

-,198
,662
,854
-,077
,033
-,434
1,323
-1,062
3,862
3,598
-,393
,017
-2,267
,197
,298
,001
,000
,698
,987
,032

,259
,307
,194
,234
,375
,246

3,862
3,353
5,156
4,279
2,670
4,066
6 (Constant)
Pemenuhan
Logistik
Produksi
Pendapatan
Kerjasama
3,495
-,138
,593
,836
-,057
-,484
2,564
,113
,151
,202
,139
,205

-,197
,662
,853
-,076
-,434
1,363
-1,215
3,935
4,139
-,412
-2,364
,184
,234
,000
,000
,684
,025

,332
,308
,205
,254
,259

3,013
3,247
4,881
3,938
3,866
7 (Constant)
Pemenuhan
Logistik
Produksi
Kerjasama
3,257
-,157
,583
,798
-,476
2,462
,101
,147
,177
,201

-,225
,651
,814
-,427
1,323
-1,554
3,977
4,507
-2,370
,196
,131
,000
,000
025

,404
,316
,259
,261

2,477
3,165
3,860
3,832
8 (Constant)
Logistik
Produksi
Kerjasama
3,537
,523
,681
-,474
2,513
,145
,164
,205

,584
,694
-,425
1,407
3,615
4,153
-2,308
,170
,001
,000
028

,339
,317
,261

2,948
3,158
3,832
103