Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN KASUS

Skizofrenia Paranoid

Pembimbing: Dr. Rahmatsjah Said, Sp.KJ

Disusun Oleh: Wildan Saputra ( 030.04.229) Novianti Anggi ( 030.05.158) Aditya Prabawa ( 030.06.012 ) Deasyka Yastani ( 030.06.057)

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Jiwa Rumah Sakit dr.H. Marzoeki Mahdi Bogor Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti Periode 9 April 2012 s/d 12 Mei 2012 Jakarta
1

I. IDENTITAS PASIEN Nama No.Rekam Medik Jenis kelamin Tempat, tanggal lahir Usia Agama Pendidikan Pekerjaan Status pernikahan Diantar oleh Tanggal Masuk RSMM : Tn. A : 057583 : Laki-laki : Jakarta, 22 November 1982 : 30 tahun : Islam : SMP : Tidak Bekerja : Belum Menikah Bojong Gede : Ayah dan tetangga : IGD tanggal 24 April 2012 jam 20.00 WIB R. Kresna tanggal 24 April 2012

Alamat : Bojong Depok Baru RT 1 RW 6 No16 Desa

II. RIWAYAT PSIKIATRI Alloanamnesis di IGD Psikiatri, RS. Marzoeki Mahdi pada tanggal 24 April 2012 pada pukul 20.15 WIB dengan ayah dan tetangga pasien. Autoanamnesis di Ruang Kresna, RS. Marzoeki Mahdi pada tanggal 25 April 2012 pada pukul 08.50 WIB. A. Keluhan Utama Pasien marah-marah dan mengancam akan membunuh ibunya 1 jam SMRS. Keluhan Tambahan Menyerang ibu pasien, bicara dan tertawa sendiri, keluyuran, sulit tidur sejak dua hari, mudah tersinggung, dan merusak alat-alat rumah tangga.

B. Riwayat gangguan sekarang

1 minggu SMRS, pasien sering marah-marah, mudah tersinggung dan merusak alat-alat rumah tangga seperti piring dan gelas. Pasien juga mengancam dan membentak ibunya. Menurut ayahnya, pasien sering keluyuran di lingkungan sekitar rumah dan mengganggu para tetangga. 5 hari SMRS pasien mengaku mendengar bisikan bisikan yang berkomentar tentang perilaku dirinya. Bisikan sering terdengar terutama pada malam hari ketika pasien sendiri, bisikan seperti suara pria dan wanita, dan jumlahnya banyak, isinya hanya membicarakan tentang diri pasien. Setiap mendengar bisikan tersebut pasien menjadi marah dan kesal, pasien berusaha tidak menanggapi bisikan tersebut dengan mengatakan pergi kau, palsu kau. Sambil menutup kedua telinga dengan kedua tangannya. Tidak ada bisikan yang bersifat memerintah dan menyuruh pasien. Selain itu pasien mengaku sering mencium bau bau yang tidak enak, tapi pasien tidak dapat mendeskripsikan bau tersebut. Pasien tidak pernah melihat benda benda dan penampakan yang aneh. Tidak pernah merasa dirinya ataupun lingkungannya berubah. 2 hari SMRS pasien tidak mau makan hanya ingin merokok dan meminum kopi. Pasien memaksa ibunya untuk membuat kopi dan membeli rokok namun ibu pasien menolak, sehingga pasien mengamuk dan memukul ibunya. Pasien mengatakan bahwa dirinya adalah bos besar yang dikelilingi banyak wanita cantik. Pasien merasa diikuti oleh orang orang kemanapun dia pergi, dan pasien merasa isi pikirannya disiarkan di radio dan dapat didengar oleh orang lain. Satu jam SMRS pasien marah marah, menyerang ibunya dan mengancam ingin membunuh ibunya. Sehingga pasien oleh ayah dan tetangganya dibawa ke IGD RSMM untuk mendapatkan penanganan yang lebih lanjut. Menurut keluarga, pasien tidak pernah memiliki riwayat terbentur di daerah kepala, tidak dalam keadaan mabuk, tidak ada riwayat kejang, demam tinggi ataupun penyakit lainnya. Pasien memiliki kebiasaan merokok sejak kelas 6 SD dan merokok sampai sekarang rata-rata satu sampai dua bungkus perhari. Ayah pasien mengatakan bahwa ibu pasien selingkuh dengan pria lain sehingga rumah tangga keluarga berantakan. Pasien pernah mendapatkan perawatan 4 kali di RSMM sejak

tahun 2010 kemudian pasien rawat jalan ke poliklinik. Pasien telah mengalami putus obat selama 2 minggu. C. Riwayat Ganguan Sebelumnya 1. Riwayat Gangguan Psikiatri Pasien pertama kali mengalami gangguan kejiwaan pada pertengahan tahun 2010 dan dibawa ke RSMM dan dirawat di bangsal Kresna, Gatot kaca dan Antareja karena pasien mengamuk dirumah, merusak alat-alat rumah tangga, memukul tetangga dan bicara sendiri. Selain itu pasien mengaku mendengar bisikan-bisikan yang membicarakan dirinya. Pada awal bulan Februari Mei 2011 pasien kembali dirawat di bangsal Gatotkaca karena putus obat. Lalu November Januari 2012 pasien dirawat di bangsal Yudistira. Kemudian pasien kembali dirawat pada bulan Februari Maret 2012 di bangsal Bratasena. 2. Riwayat Gangguan Medis Lainnya Pasien tidak pernah mengalami cedera kepala, kejang, demam tinggi diabetes melitus, asma, penyakit jantung dan penyakit paru. Tidak pernah mendapatkan tindakan operasi tertentu. Pasien tidak pernah dirawat selain karena gangguan jiwanya. 3. Riwayat Penggunaan Zat Psikoaktif Pasien menyatakan sering mengkonsumsi alkohol sejak kelas 2 SLTP dan shabu shabu 2 tahun yang lalu bersama teman-temannya selama 6 bulan.

D. Riwayat Kehidupan Pribadi 1. Prenatal dan perinatal Pasien merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Selama kehamilan ibu pasien tidak pernah menderita sakit yang menyebabkannya dirawat maupun operasi. Pasien lahir normal, cukup bulan, ditolong oleh bidan di dekat rumah. Sejak lahir pasien diberikan ASI sampai dengan usia 8 bulan.

2. Masa kanak awal (0-3 tahun)


4

Riwayat tumbuh kembang pasien saat masa kanak awal dalam keadaan normal sesuai dengan tumbuh kembang anak seusianya. 3. Masa kanak pertengahan (3-11 tahun) Pasien menjalani pendidikan sekolah dasar sampai selesai dengan baik. Ia tidak pernah tinggal kelas. Prestasinya di sekolah kurang baik. Pergaulannya baik dan memiliki cukup banyak teman. 4. Masa Kanak Akhir dan Remaja Menurut keluarga, pasien dikenal sebagai pribadi yang ceria, mudah bergaul, memiliki banyak teman. Hubungan dengan ibu tidak baik, keluarga berantakan. Menyelesaikan masa pendidikan SMA dengan prestasi rata-rata. 5. Masa-masa Dewasa Riwayat Pendidikan Pasien menjalani pendidikan sampai kelas 3 SMP. Pasien tidak melanjutkan sekolahnya karena mulai malas untuk berangkat ke sekolah. Riwayat Pekerjaan Pasien tidak bekerja setelah putus sekolah. Riwayat Pernikahan/Berpacaran/Berpasangan/Psikoseksual Pasien sudah mulai pacaran sejak kelas 2 SMP. Pasien tidak memiliki masalah dalam berpacaran. Riwayat Agama Pasien merupakan pemeluk agama Islam. Pasien tidak patuh dalam melaksanakan ibadah. Tidak ada pendidikan agama khusus yang pernah dikecap oleh pasien.

Aktivitas Sosial
5

Pasien jarang bergaul dengan tetangga, dan tidak pernah ikut menghadiri kegiatan-kegiatan di lingkungan tempat tinggalnya. Riwayat Pelanggaran Hukum Pasien pernah digerebek oleh polisi saat sedang menggunakan shabu shabu oleh teman temannya namun pasien berhasil melarikan diri. E. Situasi kehidupan sekarang Pasien adalah anak ke-1 dari 3 bersaudara. Pasien tinggal dirumah orang tuanya bersama adik-adiknya. Pasien tidak diperhatikan oleh keluarganya. Pasien tidak diingatkan untuk meminum obat dan kontrol ke dokter. F. Riwayat Keluarga Di dalam keluarga tidak ada yang mengalami riwayat gangguan jiwa selain pasien.

Gambar 1.2 Genogram Keluarga G. Persepsi Pasien tentang Diri dan Kehidupan

Pasien merasa bahwa dirinya tidak sakit (pasien suka marah-marah). Ia mengatakan bahwa dirinya sering marah-marah sehingga dibawa ke UGD. H. Impian, Fantasi, dan Nilai-Nilai Menurut keluarga, pasien akhir-akhir ini selalu mengatakan ingin punya uang banyak dan keluarga yang harmonis. III. PEMERIKSAAN STATUS MENTAL Dilakukan pada tanggal 25 April 2012 di ruang PHCU Kresna RSMM pada pukul 09.00 WIB. A. Deskripsi Umum 1. Kesadaran : compos mentis
2. Penampilan Umum

Pasien seorang laki-laki berumur 30 tahun, tampak sesuai dengan usianya, badan tampak kurus, rambut pendek dan berwana hitam, kulit sawo matang menggunakan baju kaos warna putih, celana pendek warna hitam dan menggunakan sandal.

Kebersihan dan kerapihan diri kurang. Sebelum wawancara pasien berjalan dan mengobrol dengan temannya sesama pasien. Selama wawancara pasien tenang, kontak mata baik dan selalu meminta pulang. Setelah wawancara, pasien berkumpul lagi dengan temannya. Pasien menjawab semua pertanyaan dengan spontan, lancar, ide

3. Perilaku dan aktivitas psikomotor

4. Pembicaraan cerita cukup banyak, intonasi cukup baik ,volume suara terdengar cukup keras dan artikulasi baik. 5. Sikap terhadap pemeriksa Pasien menunjukkan sikap yang kooperatif. B. Alam Perasaan
7

Afek Mood Keserasian Empati

: Menyempit : Euthym : Tidak serasi antara emosi dan isi pembicaraan. : Tidak dapat dirabarasakan

C. Gangguan Persepsi :

Halusinasi auditorik 3rd order Pasien mengaku pernah mendengar bisikan-bisikan kepada dirinya, terakhir terdengar satu hari yang lalu. Bisikan sering terdengar pada malam hari ketika pasien sendiri, bisikan seperti suara pria dan wanita, jumlahnya banyak, isinya hanya membicarakan tentang diri dan perilaku pasien.

Halusinasi olfaktorik Pasien mengaku sering mencium bau yang tidak enak, tapi tidak dapat mendeskripsikan bau tersebut.

Ilusi, depersonalisasi, derealisasi tidak ada.

D. Pikiran 1. Arus pikir Produktivitas Kontinuitas Pikiran Hendaya Berbahasa : Cukup, pasien bicara dan menjawab pertanyaan yang ditanya dan bercerita. : Baik : Tidak ada Pasien tidak menggunakan bahasa yang tidak dimengerti / kata-kata baru yang hanya pasien mengerti (neologisme), pasien mengunakan bahasa secara lazim sesuai dengan tata bahasa.

2. Isi pikir

Preokupasi Waham

: Tidak ada :

Kebesaran, pasien mengatakan bahwa dirinya bos besar yang dikelilingi oleh banyak wanita cantik Kejar, pasien merasa diikuti oleh orang-orang kemanapun dia pergi. Siar pikir, pasien mengatakan bahwa isi pikirannya di siarkan di radio dan dapat di dengar oleh orang lain.

E. Kesadaran dan Kognitif

1. Taraf kesadaran 2. Orientasi

: Compos mentis

Waktu : Baik, pasien mengetahui hari, bulan, dan tahun pemeriksaan. Tempat : Baik, pasien mengetahui tempat pemeriksaan di RSMM. Orang : Baik, pasien mengenali pemeriksa dan perawat ruangan.
3. Daya Ingat

Segera Jangka pendek Jangka menengah Jangka panjang

: Baik, pasien dapat mengingat 3 kata yang disebutkan pemeriksa ( meja, kursi dan sepatu ) : Baik, pasien dapat menceritakan kegiatan pada hari pemeriksaan secara kronologis : Baik, pasien dapat menceritakan gejala-gejala yang dirasakan beberapa minggu terakhir. : Baik, pasien masih ingat tempat pasien bersekolah dahulu : Baik,pasien mampu menjawab soal

4. Konsentrasi dan perhatian

pengurangan secara berurutan (100-7=93 dan seterusnya).


5. Kemampuan membaca dan menulis : Baik, pasien dapat menuliskan

namanya serta membaca kembali tulisannya.


6. Pikiran abstrak : Baik, pasien dapat menyebutkan persamaan dan perbedaan

antara bola dan jeruk


9

7. Kemampuan visuospasial

: Baik, pasien dapat menirukan gambar dua

buah lingkaran yang saling tumpang tindih. 8. Intelegensi dan Kemampuan informasi :

Pendidikan : sesuai tingkat SMP Pengetahuan : Baik ( mengetahui nama-nama Presiden Indonesia saat ini dan sebelumnya) Kecerdasan : Rata-rata ( Tidak mendapat ranking di kelas, tapi tidak pernah tinggal kelas) : Baik, pasien dapat melakukan aktivitas

9. Kemampuan menolong diri

sehari-hari sendiri. F. Pengendalian Impuls Baik, selama wawancara pasien duduk dengan tenang dan tidak gelisah. G. Daya Nilai dan Tilikan 1. Daya nilai sosial : Baik, menurut pasien, marah dan mencederai keluarga adalah perbuatan yang salah. 2. Uji daya nilai : Baik, saat menemukan dompet yang terjatuh, pasien akan mengembalikannya kepada pemiliknya 3. Penilaian realita : Terdapat gangguan penilaian realita yang ditandai dengan adanya halusinasi auditorik, olfaktori dan waham. 4. Tilikan : Derajat 1, pasien menyangkal bahwa dirinya sakit.
H. Taraf dapat dipercaya

Pasien dapat dipercaya.

10

IV. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK LEBIH LANJUT


A. Status Internus (Pemeriksaan tanggal 25 April 2012)

Keadaan umum Kesadaran Tekanan darah Frekuensi napas Frekuensi nadi Suhu Status gizi Kulit Kepala Rambut Mata Leher Jantung Paru Abdomen Ekstremitas B. Status Neurologis
1. 2. 3.

: Baik : Compos mentis : 120/80 mmHg : 20x/menit : 84 x/menit, teratur, kuat : Afebris : Kesan gizi kurang TB 160 cm BB 47 kg IMT = 18, 2 kg/m2 : Sawo matang, kesan normal : Tidak ada deformitas : Pendek, hitam : Konjungtiva tidak pucat, sklera tidak ikterik : Pembesaran KGB (-) : Bunyi jantung I-II normal, murmur (-), gallop (-) : Simetris, vesikuler, rh-/-, wh-/: Datar, lemas, bising usus (+) normal : Akral hangat, edema (-)

GCS Kaku kuduk Pupil

: 15 (E4,V5,M6) : (-) : Bulat, isokhor, reflex cahaya

langsung-tak langsung +/+ 4.


5.

Kesan parase nervus kranialis : (-) Motorik : Kekuatan dan tonus

baik, rigiditas (-), spasme (-), hipotoni (-), eutrofi, gangguan keseimbangan dan koordinasi (-)
6.

Sensorik Reflex fisiologis Gejala ekstrapiramidal

: : Normal : (-)

Gangguan

sensibilitas (-)
7. 8.

11

9. 10.
11.

Gaya berjalan dan postur tubuh: Normal Stabilitas postur tubuh Tremor di kedua tangan : Normal : (-)

V. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA

Pasien, laki-laki, 30 tahun, datang dibawa oleh keluarga karena marahmarah dan mengancam akan membunuh ibunya. Saat diwawancarai, 1 minggu yang lalu, pasien marah-marah, merusak alat rumah tangga dan sangat membenci ibunya sehingga membentak dan mencederai ibunya. Sejak 5 hari yang lalu, pasien mulai mendengar suara-suara yang membicarakan dirinya dan sering mencium bau tidak enak. Dua hari yang lalu, pasien merasa bahwa ada orang-orang yang mengikutinya kemanapun dia pergi. Selain itu merasa sebagai bos besar yang dikelilingi wanita cantik. Menurut keluarga pasien, gejala mulai timbul sejak dua tahun yang lalu, ketika ibu pasien diketahui selingkuh dengan pria lain dan rumah tangga berantakan. Pasien pernah di rawat sebanyak empat kali di RSMM sejak pertengahan tahun 2010 dan kontrol ke poliklinik. Terakhir pasien dirawat kembali di Bratasena pada bulan Februari 2012-Maret 2012 karena mengamuk dan mendengar bisikan. Keluarga pasien mengaku bahwa pasien tidak rutin minum obat dan sudah putus sejak 3 minggu yang lalu. Pasien memiliki riwayat merokok, minum alkohol dan penggunaan shabu-shabu dua tahun yang lalu. Tidak ada riwayat penyakit medis umum. Pasien adalah anak ke- 1 dari 3 bersaudara. Pasien tinggal dirumah orang tuanya bersama dua adiknya. Pasien tidak diperhatikan oleh keluarganya. Pasien tidak dipantau untuk meminum obat dan kontrol ke dokter. Pada pemeriksaan status mental didapatkan penampilan pasien tampak sesuai usia, badan tampak kurus, rambut pendek dan berwarna hitam, kulit sawo matang, perawatan diri kurang baik. Perilaku dan aktivitas motorik pasien sebelum wawancara tampak tenang. Selama wawancara pasien tenang dan selalu meminta pulang. Pasien berbicara spontan, ide cerita cukup, intonasi cukup baik, volume suara cukup keras. Pasien bersikap kooperatif. Mood Euthym dengan afek

12

menyempit, tidak serasi antara emosi dan pembicaraan. Gangguan persepsi berupa halusinasi auditorik, olfaktori ,waham kebesaran, kejar, dan siar pikir.
VI. FORMULASI DIAGNOSIS

Pada pasien terdapat pola perilaku atau psikologis yang secara bermakna dan khas berkaitan dengan suatu gejala yang menimbulkan hendaya (disfungsi) dalam berbagai fungsi psikososial dan pekerjaan. Dengan demikian dapat disimpulkan pasien mengalami gangguan jiwa. 1. Diagnosis Aksis I Berdasarkan anamnesis, pasien tidak memiliki riwayat cedera kepala, riwayat tindakan operatif, dan riwayat kondisi medik lain yang dapat secara langsung ataupun tidak langsung mempengaruhi fungsi otak. Berdasarkan pemeriksaan fisik juga tidak ditemukan kondisi medis umum yang dapat mempengaruhi fungsi otak. Pasien tidak mengalami gangguan yang bermakna yang menimbulkan gangguan jiwa. Oleh karena itu, gangguan mental organik (F00-09) dapat disingkirkan. Berdasarkan anamnesis, pasien pernah mengkonsumsi alkohol dan menggunakan obat-obatan terlarang, terakhir digunakan 3 tahun yang lalu. Oleh karena itu, gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan zat psikoaktif ( F10-19) dapat disingkirkan. Semenjak dua tahun yang lalu pasien mengalami gangguan persepsi berupa halusinasi auditorik, dan olfaktori serta waham kebesaran, waham kejar, dan siar pikir. Kemudian diberikan pengobatan, gejala tersebut menghilang. Namun karena pasien tidak kontrol, maka gejala psikotik sering kambuh. Timbul gejala berupa bicara sendiri, marah-marah, mudah tersinggung, dan keluyuran. Kemudian gejala-gejala psikotik menjadi lebih nyata seiring perjalanan penyakit dan mengganggu fungsi sosial. Berdasarkan penemuan tersebut maka pasien memenuhi kriteria untuk skizofrenia paranoid (F.20.0 Skizofrenia Paranoid) menurut DSM IV dan PPDGJ III Menurut DSM IV, kriteria diagnosis skizofrenia adalah :
13

A. Gejala karakteristik : dua (atau lebih) berikut, masing-masing ditemukan untuk bagian waktu yang bermakna selama periode 1 bulan (atau kurang jika diobati dengan berhasil) waham, halusinasi, bicara terdisorganisasi, perilaku terdisorganisasi atau katatonik yang jelas, gejala negative B. Sosial / Pekerjaan : untuk bagian waktu yang bermakna sejak onset gangguan , satu atau lebih fungsi utama seperti pekerjaan, disfungsi hubungan interpersonal, atau perawatan diri, adalah jelas dibawah tingkat yang dicapai sebelum onset. C. Durasi : tanda gangguan terus menerus menetap selama sekurangnya 6 bulan, termaksud sekurangnya satu bulan gejala. D. Penyingkiran gangguan skizoafektif dan gangguan mood. E. Penyingkiran zat/ kondisi medis umum : gangguan tidak disebabkan oleh efek fisiologis langsung dari suatu zat F. Hubungan dengan gangguan perkembangan pervasif jika terdapat riwayat adanya gangguan autistik atau gangguan perkembangan pervasif lainnya. Untuk tipe paranoid, harus terdapat preokupasi dengan sekurangnya satu waham atau halusinasi yang berulang. Selain itu gejala perilaku kacau, bicara kacau, afek datar ( tipe disorganisasi ) dan perilaku katatonik ( tipe katatonik) tidak menonjol. Pasien ini memenuhi kriteria diagnosis skizofrenia menurut DSM IV TR karena terdapat gejala berupa waham dan halusinasi yang menonjol sejak dua tahun ( > 6 bulan ) dan menimbulkan suatu hendaya sosial dan pekerjaan. Menurut PPDGJ III, kriteria diagnosis skizofrenia paranoid : Memenuhi kriteria diagnostik skizofrenia secara umum ( a-h ) Sebagai tambahan : Halusinasi dan atau waham harus menonjol : (a) Suara-suara halusinasi yang mengancam pasien atau memberiperintah, atau halusinasi auditorik tanpa bentuk verbal berupa bunyi pluit, mendengung, atau bunyi tawa.

14

(b) Halusinasi pembauan atau pengecapan rasa, atau bersifat seksual, atau lain-lain perasaan tubuh halusinasi visual mungkin ada tetapi jarang menonjol. (c) Waham dapat berupa hampir setiap jenis, tetapi waham dikendalikan (delusion of control), dipengaruhi (delusion of influence), atau Passivity (delusion of passivity), dan keyakinan dikejar-kejar yang beraneka ragam adalah yang paling khas. - Gangguan afektif, dorongan kehendak dan pembicaraan, serta gejala katatonik secara relatif tidak nyata / menonjol. Pasien ini juga memenuhi kriteria diagnosis skizofrenia paranoid menurut PPDGJ III karena telah memenuhi kriteria umum diagnostik skizofrenia ( siar pikir, halusinasi dan waham ) yang timbul sejak 2 tahun ( > 1 bulan ) dan menimbulkan suatu hendaya sosial dan pekerjaan. Pasien memenuhi kriteria diagnostik tambahan berupa halusinasi auditorik dan olfaktori serta waham kejar dan waham kebesaran. 2. Diagnosis Aksis II Berdasarkan anamnesis yang dilakukan, tidak didapatkan gangguan kepribadian yang khas. Ciri kepribadian pasien ceria, mudah bergaul, dan memiliki banyak teman. 3. Diagnosis aksis III Tidak ada diagnosis. 4. Diagnosis aksis IV Pasien pernah mengalami masalah dalam keluarga yaitu ibu pasien selingkuh dengan pria lain sehingga keluarga menjadi tidak harmonis. 5. Diagnosis Aksis V Berdasarkan skala Global Assesment of Functioning (GAF) . Skala GAF pada saat pemeriksaan (current) didapatkan nilai 70 (gejala ringan dan menetap, disabilitas ringan dalam fungsi, secara umum masih baik) Highest Level Past Year (HLPY) 75 (gejala sementara dapat diatasi, disabilitas ringan dalam sosial, pekerjaan , dan sekolah).
15

VII. EVALUASI MULTIAKSIAL Aksis I Aksis II Aksis III Aksis V : (F.20.0) Skizofrenia Paranoid : (Z 03.2) Tidak ada diagnosis aksis II, ciri kepribadian : Tidak ada diagnosis : GAF current = 70, HLPY = 75

pasien ceria, mudah bergaul, dan memiliki banyak teman Aksis IV : Masalah keluarga

VIII. DAFTAR MASALAH


a. b.

Organobiologis : Tidak ditemukan kelainan. Psikologi : Waham kebesaran, kejar, dan siar pikir. Halusinasi auditorik, olfaktori

c. Lingkungan dan sosial ekonomi : hendaya dalam fungsi sosial dan

pekerjaan. IX. RENCANA TERAPI 1.Psikofarmaka Haloperidol CPZ THP Risperidone 2. Psikoterapi : : 3 x 5 mg p.o. : 3 x 100 mg p.o. : 3 x 2 mg p.o. : 1 x 2 mg p.o.

Psikoterapi suportif dilakukan bersamaan dengan pemberian Pasien diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk

psikofarmaka mengungkapkan isi hatinya atau permasalahan yang sedang dihadapinya, sehingga pasien lebih merasa tenang.
16

Memotivasi pasien untuk rajin minum obat secara teratur dan jangan bosan untuk minum obat karena obat yang diberikan merupakan pengontrol agar menghindari timbulnya gejala dan bisa mengurangi gejala yang dirasakan pasien.

Memberikan dukungan kepada pasien bahwa ia dapat kembali melakukan aktivitas seperti sebelum sakit kalau gejala yang dirasakan pasien bisa terkontrol.

Sosioterapi

Mengajak anggota keluarga untuk mengerti keadaan pasien dan ikut berpartisipasi dalam penatalaksanaan pasien. Memberikan perhatian dari seluruh pihak keluarga kepada pasien. Memberikan informasi dan edukasi tentang penyakit yang diderita pasien, gejala-gejala, dampak-dampak faktor-faktor penyebab, cara pengobatan, prognosis dan kekambuhan kepada keluarga.

Menjelaskan bahwa pengobatan akan berlangsung lama, adanya efek samping obat dan pengaturan dosis obat hanya boleh diatur oleh dokter kepada keluarga.

Menganjurkan pasien untuk lebih mendalami agama sesuai dengan kepercayaannya. Mengikutsertakan paseien dalam kegiatan RSMM agar dapat berinteraksi dengan baik dengan orang lain. Mengajarkan keterampilan yang sesuai dengan kemampuan dan pendidikannya Memberikan informasi pentingnya aktivitas daily living dalam kehidupannya sehari-hari karena bisa mengalihkan perhatian pasien kepada hal hal yang positif.

Meyakinkan pasien agar mau melaksanakan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi pasien.

17

X. PROGNOSIS Quo ad vitam Quo ad functionam Quo ad sanationam : ad Bonam : Dubia ad Bonam : Dubia ad Bonam

Faktor yang mendukung prognosis membaik :


1. Tidak ada faktor herediter.

2. Stresor penyebab gangguan jelas 3. Kondisi pasien masih baik dan kemampuan merawat diri sendiri masih baik. Faktor yang memperburuk prognosis : 1. Dukungan keluarga kurang baik
2. Pemantauan minum obat kurang sehingga sering putus obat

3. Pasien tidak pernah bekerja sebelumnya.

18

LAMPIRAN SKEMA PERJALANAN PENYAKIT

19

20