Anda di halaman 1dari 1

20

SABTU, 14 APRIL 2012

JEJAK

HIJAU

Menangkap Panas

dari Tungku Gerabah


Kompor tradisional berbahan bakar nonminyak tak selamanya merugikan lingkungan asal didesain dengan tepat.
BAGUS SURYO
EMBOK dan atap dapur di sebagian besar rumah warga Kendal Sari Gang IV, Kota Malang, menghitam. Itu diwarnai jelaga akibat proses pembakaran kurang sempurna dari tungku tradisional yang masih mereka pakai untuk memasak seharihari. Hal tersebut bisa terjadi lantaran warga di sana masih menggunakan kayu untuk bahan Ramah lingkungan Karena termotivasi untuk bakar kompor tungku mereka. Namun, ada suasana berbeda di rumah kelu- membantu masyarakat perdeEFISIEN: Api yang dihasilkan arga Kamsun. Ibu tengah baya ini terlihat lebih saan yang masih menggunakan dari tungku gerabah UB lebih semringah saat di dapur ketimbang hari-hari biomass sebagai bahan bakar, terkonsentrasi dan panas. Selain Nurhuda meneliti tungku ramah sebelumnya. itu, tidak menimbulkan jelaga dan Tungku tradisional yang biasa digunakan lingkungan itu sejak tiga bulan terbukti ramah lingkungan. untuk memasak sebelumnya tidak lagi ia fung- terakhir. Selain ditujukan untuk konsersikan. Sekarang dan hari selanjutnya, ia merasa lebih nyaman dengan memanfaatkan tungku vasi lingkungan, tungku tersebut dapat menghindari pemborosan penggunaan gerabah berlabel Universitas Brawijaya (UB). Kamsun dengan cekatan cethik geni (menya- kayu untuk memasak. Biomass merupakan senyawa organik nonfosil lakan api) untuk memasak. yang dapat digunakan seKayu dimasukkan ke lubang bagai bahan bakar. Sumber gerabah. Tidak begitu lama, biomass yang berasal dari api sudah menyala lebih makhluk hidup, yakni kayu, bersih. Air yang dimasak pun tumbuh-tumbuhan, daunbisa cepat mendidih. daunan, rumput, limbah Penggunaan kayu lebih pertanian, limbah rumah irit, ujar Kamsun, menjetangga, sampah, dan lainlaskan kehebatan kompor Muhammad Nurhuda lainnya. tungkunya, Senin (9/4). Tungku gerabah itu diTungku yang terbuat dari Dosen Jurusan MIPA Universitas harapkan dapat membantu tanah liat tersebut merupa- Brawijaya rakyat miskin yang dipastikan hasil kerja dosen Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengeta- kan akan menderita ketika suatu saat ada kehuan Alam (MIPA) Universitas Brawijaya, Kota bijakan penaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Malang, Jawa Timur, Muhammad Nurhuda. Kelebihan tungku gerabah UB ialah praktis, Bentuknya unik, tapi memiliki fungsi seperti kompor yang canggih. Sepintas, itu sama se- murah, bahan bakarnya mudah didapatkan, perti tungku pada umumnya. Yang membeda- dan ramah lingkungan. Lain halnya dengan tungku tradisional yang digunakan warga desa kan ialah teknologinya. Tungku ini dibuat dengan menggunakan selama ini, cukup ribet, boros bahan bakar, dan teknologi termodinamika, yakni dirancang tidak ramah lingkungan. Selain itu, kualitas pembakaran sangat budengan prinsip pembakaran yang optimal, jelas Nurhuda. Untuk bisa menghasilkan pem- ruk sehingga menimbulkan polusi udara di bakaran optimal, aliran udara dalam tungku ruang dapur yang berbahaya bagi kesehatan. harus lancar. Dengan begitu, terjadi turbulensi Dengan tungku gerabah UB penggunaan kayu antara asap yang dihasilkan bahan bakar sebagai bahan bakar bisa dihemat sekitar 60%, terangnya. (kayu) dan udara. Sejauh ini respons masyarakat terhadap Aliran udara turbulen dapat dibangkitkan counter ow, yaitu udara masuk dari lubang tungku gerabah UB, tersebut cukup positif. di samping tungku dan bertabrakan di ruang Banyak ibu rumah tangga di desa tersebut mebakar, kemudian aliran apinya berputar. nyukainya karena penggunaan cukup mudah, Prinsipnya, api adalah asap yang terbakar, proses pembakaran nyaris tanpa asap. (M-1) ujarnya. Itu sebabnya bentuk tungku didesain khu- miweekend sus. Bagian bawahnya lebih besar dengan dua @mediaindonesia.com

tingkat, dilengkapi sejumlah lubang untuk gasikasi. Bagian atas menyerupai cerobong. Dengan desain seperti itu mampu menghasilkan pembakaran sempurna nyaris tanpa asap karena udara terserap melewati sela-sela lengkungan bagian bawah tungku, kemudian ditarik ke atas sehingga nyala api lebih tenang.

Dengan tungku gerabah UB, penggunaan kayu sebagai bahan bakar bisa dihemat sekitar 60%.

FOTO-FOTO: MI/BAGUS SURYO

MENURUNKAN POLUSI UDARA, CEGAH KEMATIAN DINI


APORAN Organisasi Internasional untuk Kerja Sama dan Pengembangan Ekonomi (OECD) yang dilansir Maret 2012 menyebutkan pada 2050 akan ada sekitar 3,6 juta orang/tahun yang mati lebih cepat akibat polusi udara. Angka itu melebihi kematian akibat masalah lingkungan lain seperti sanitasi yang buruk dan krisis air bersih. Hal itu terjadi seiring dengan meningkatnya permintaan konsumsi energi, khususnya di sektor transportasi. Di Indonesia, khususnya Jakarta, ancaman polusi udara sudah sepatutnya mendapat perhatian serius. Ketua

Fa kt a
H ij a u !
Polutan timbel berdampak pada terjadinya hipertensi, jantung koroner, dan menurunnya tingkat IQ pada anak-anak kecil.

Komite Penghapusan Bensin Bertimbel (KPBB) Ahmad Safrudin sejak 15 tahun lalu memperkirakan suatu saat masyarakat Jakarta mengalami kematian dini akibat polusi udara. Kualitas udara yang buruk itu juga membuat warga Jakarta rugi secara materi. Survei di lima rumah sakit besar di DKI Jakarta pada 2010 menyebutkan uang harus dikeluarkan warga Jakarta akibat sakit dan penyakit ISPA mencapai Rp7 triliun-Rp38 triliun. Ironisnya, Pemprov DKI Jakarta tampak masih belum serius menangani permasalahan buruknya udara. Hal itu bisa dilihat dari jumlah stasiun pemantauan kualitas udara yang hanya

tiga unit. Idealnya Pemprov DKI memiliki 15-26 stasiun pemantau kualitas udara. Tidak mengherankan jika kualitas udara Ibu Kota pun tidak diketahui. KPBB kini membuat sebuah pemodelan kualitas udara, termasuk kebiasaan moda transportasi di berbagai kawasan. Sejauh mana usaha KPBB ini berjalan dan bagaimana pemodelan kualitas udara ini bisa membantu menurunkan tingkat polusi udara? Simak penuturan langsung Ahmad Safrudin dalam siaran di Green Radio. Sampaikan pula pertanyaan Anda melalui SMS di 081381000892 atau telepon di 021-85909946/47 (Dip/M-1)