Anda di halaman 1dari 20

AKHLAK

A. Pengertian Akhlak Kata akhlak diartikan sebagai suatu tingkah laku, tetapi tingkah laku tersebut harus dilakukan secara berulang-ulang tidak cukup hanya sekali melakukan perbuatan baik, atau hanya sewaktu-waktu saja. Seseorang dapat dikatakan berakhlak jika timbul dengan sendirinya didorong oleh motivasi dari dalam diri dan dilakukan tanpa banyak pertimbangan pemikiran apalagi pertimbangan yang sering diulang-ulang, sehingga terkesan sebagai keterpaksaan untuk berbuat. Apabila perbuatan tersebut dilakukan dengan terpaksa bukanlah pencerminan dari akhlak. Dalam Encyclopedia Brittanica[, akhlak disebut sebagai ilmu akhlak yang mempunyai arti sebagai studi yang sistematik tentang tabiat dari pengertian nilai baik, buruk, seharusnya benar, salah dan sebaginya tentang prinsip umum dan dapat diterapkan terhadap sesuatu, selanjutnya dapat disebut juga sebagai filsafat moral. B. Pembagian Akhlak 1. Akhlak Baik (Al-Hamidah) a. Jujur (Ash-Shidqu) b. Berprilaku baik (Husnul Khuluqi) c. Malu (Al-Haya') d. Rendah hati (At-Tawadlu') e. Murah hati (Al-Hilmu) f. Sabar (Ash-Shobr) Dari 'Amr bin Syu'aib, dari ayahnya, dari kakeknya, semoga Allah merelakannya, berkata, "Rasulullah SAW. bersabda", "Ketika Allah mengumpulkan segenap makhluk pada hari kiamat kelak, menyerulah Penyeru", "Di manakah itu, orang-orang yang utama (ahlul fadhl) ?". Maka berdirilah sekelompok manusia, jumlah mereka sedikit, dengan cepatnya mereka bergegas menuju syurga, para malaikat berpapasan dengan mereka, lalu menyapa mereka. "Kami lihat kalian begitu cepat menuju syurga, sipakah kalian ?". Orang-orang ini menjawab, "Kamilah itu orang-orang yang utama (ahlul fadhl)". "Apa

keutamaan kalian ?", tanya para malaikat. Orang-orang ini memperjelas, "Kami, jika didzalimi, kami bersabar. Jika diperlakukan buruk, kami memaafkan. Jika orang lain khilaf pada kami, kamipun tetap bermurah hati". Akhirnya dikatakan pada mereka, "Masuklah ke dalam syurga, karena demikian itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal". Setelah itu menyerulah lagi penyeru, :"Di manakan itu, orang-orang yang bersabar (ahlush shabr) ?". Maka berdirilah sekelompok manusia, jumlah mereka sedikit, dengan cepatnya mereka bergegas menuju syurga, para malaikat berpapasan dengan mereka, lalu menyapa mereka. "Kami lihat kalian begitu cepat menuju syurga, sipakah kalian ?". Orang-orang ini menjawab, "Kamilah itu orang-orang yang sabar (ahlush shabr). "Kesabaran apa yang kalian maksud ?", tanya para malaikat. Orang-orang ini memperjelas, "Kami sabar bertaat pada Allah, kamipun sabar tak bermaksiat padaNya. Akhirnya Dikatakan pada mereka, "Masuklah ke dalam syurga, karena demikian itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal". (Hilyatul Auliyaa'/ Juz III/ Hal. 140 2. Akhlak Buruk (Adz-Dzamimah) Akhlak buruk (adz-Dzamimah) jenis atau bagian-bagiannya merupakan lawan (antonym) dari akhlak baik (al-Hamidah) sebagaimana telah dijelaskan di atas. C. Ruang Lingkup Akhlak 1. Akhlak pribadi Yang paling dekat dengan seseorang itu adalah dirinya sendiri, maka hendaknya seseorang itu menginsyafi dan menyadari dirinya sendiri, karena hanya dengan insyaf dan sadar kepada diri sendirilah, pangkal kesempurnaan akhlak yang utama, budi yang tinggi. Manusia terdiri dari jasmani dan rohani, disamping itu manusia telah mempunyai fitrah sendiri, dengan semuanya itu manusia mempunyai kelebihan dan dimanapun saja manusia mempunyai perbuatan. 2. Akhlak berkeluarga Akhlak ini meliputi kewajiban orang tua, anak, dan karib kerabat. Kewajiban orang tua terhadap anak, dalam islam mengarahkan para orang tua dan pendidik untuk

memperhatikan anak-anak secara sempurna, dengan ajaran ajaran yang bijak, setiap agama telah memerintahkan kepada setiap oarang yang mempunyai tanggung jawab untuk mengarahkan dan mendidik, terutama bapak-bapak dan ibu-ibu untuk memiliki akhlak yang luhur, sikap lemah lembut dan perlakuan kasih sayang. Sehingga anak akan tumbuh secara sabar, terdidik untuk berani berdiri sendiri, kemudian merasa bahwa mereka mempunyai harga diri, kehormatan dan kemuliaan. Seorang anak haruslah mencintai kedua orang tuanya karena mereka lebih berhak dari segala manusia lainya untuk engkau cintai, taati dan hormati. Karena keduanya memelihara,mengasuh, dan mendidik, menyekolahkan engkau, mencintai dengan ikhlas agar engkau menjadi seseorang yang baik, berguna dalam masyarakat, berbahagia dunia dan akhirat. Dan coba ketahuilah bahwa saudaramu laki-laki dan permpuan adalah putera ayah dan ibumu yang juga cinta kepada engkau, menolong ayah dan ibumu dalam mendidikmu, mereka gembira bilamana engkau gembira dan membelamu bilamana perlu. Pamanmu, bibimu dan anak-anaknya mereka sayang kepadamu dan ingin agar engkau selamat dan berbahagia, karena mereka mencintai ayah dan ibumu dan menolong keduanya disetiap keperluan. 3. Akhlak bermasyarakat Tetanggamu ikut bersyukur jika orang tuamu bergembira dan ikut susah jika orang tuamu susah, mereka menolong, dan bersam-sama mencari kemanfaatan dan menolak kemudhorotan, orang tuamu cinta dan hormat pada mereka maka wajib atasmu mengikuti ayah dan ibumu, yaitu cinta dan hormat pada tetangga. Pendidikan kesusilaan/akhlak tidak dapat terlepas dari pendidikan sosial kemasyarakatan, kesusilaan/moral timbul di dalam masyarakat. Kesusilaan/moral selalu tumbuh dan berkembang sesuai dengan kemajuan dan perkembangan masyarakat. Sejak dahulu manusia tidak dapat hidup sendirisendiri dan terpisah satu sama lain, tetapi berkelompok-kelompok, bantu-membantu, saling membutuhkan dan saling mepengaruhi, ini merupakan apa yang disebut masyarakat. Kehidupan dan perkembangan masyarakat dapat lancar dan tertib jika tiap-tiap individu sebagai anggota masyarakat bertindak menuruti aturan-aturan yang sesuai dengan norma- norma kesusilaan yang berlaku.

4. Akhlak bernegara Mereka yang sebangsa denganmu adalah warga masyarakat yang berbahasa yang sama denganmu, tidak segan berkorban untuk kemuliaan tanah airmu, engkau hidup bersama mereka dengan nasib dan penanggungan yang sama. Dan ketahuilah bahwa engkau adalah salah seorang dari mereka dan engkau timbul tenggelam bersama mereka. 5. Akhlak beragama Akhlak ini merupakan akhlak atau kewajiban manusia terhadap tuhannya, karena itulah ruang lingkup akhlak sangat luas mencakup seluruh aspek kehidupan, baik secara vertikal dengan Tuhan, maupun secara horizontal dengan sesama makhluk Tuhan.[1]

TASAWUF
Definisi tasawuf satu dengan yang lainnya berbeda-beda tergantung dari sisi mana si pakar tadi meninjaunya. Ada yang melihat dari sisi sejarah kemunculannya, ada yang melihat dari sisi fenomenan sosial di abad klasik dan pertengahan, juga ada yang melihatnya dari sisi substansi ajarannya dan ada juga yang melihat dari sisi tujuannya. Teori pertama menyatakan bahwa secara etimologis tasawuf diambil dari kata Suffah yaitu sebuah tempat di mesjid Rasulullah Saw. (Mesjid Nabawi) yang dihuni oleh sekelompok sahabat yang hidup zuhud yang konsentrasi beribadah kepada Allah sambl menimba ilmu dari Rasulullah. Teori kedua, menyatakan bahwa tasawuf diambil dari kata sifat dengan alasan bahwa para sufi suka membahas sifat-sifat Allah sekaligus mengaplikasikan sifat-sifat Allah tersebut dalam perilaku mereka sehari-hari. Teori ketiga berpendapat bahwa kata tasawuf daiambil dari akar kata sufah artinya selembar bulu, sebab para sufi dihadapan Tuhannya merasa begaikan selembar bulu yang terpisah dari kesatuannya yang tidak mempunyai nilai apa-apa. Teori keempat menyatakan bahwa tasawuf diambil dari kata shofia yang artinya al-hikmah (bijaksana) sebab para sufi selalu mencari hikmah ilahiyah dalam kehidupannya. Teori kelima, sebagaimana dikemukakan oleh al-Busti seorang fakar tasawuf, menyatakan bahwa taswuf berasal dari kata as-safa yang artinya suci, bersih dan murni, sebab para sufi membersihkan jiwanya hingga berada dalam kondisi suci dan bersih. Ada juga teori yang menyatakan bahwa tasawuf berasal dari akar kata suf yang artinya bulu domba (wool), dengan argumentasi wool kasar yang terbuat dari bulu binatang sebagai tanda kesederhanaan hidup mereka. Diantara berbagai pendapat tenang asal usul taswuf menrut Ahmad as-Sirbasi, pendapat al-Bustilah yang paling kuat dan rajih, sebab kenyataannya tasawuf itu adalah upaya pensucian hati supaya dekat dengan Allah. Dilihat dari tujuannya, seperti telah disinggung di atas, tasawuf adalaha proses pendekatan diri kepada Allah dengan cara mensucikan hati (tashfiat al-Qalbi).

A.

Asal-Usul Tasawuf Ada beberapa defenisi yang dikemukakan oleh para ahlinya antara lain: 1. Asy-Syekh Muhammad Amin Al-Kurdy mengatakan bahwa: Tasawuf adalah suatu ilmu yang dengannya dapat diketahui hal ihwal kebaikan dan keburukan jiwa, cara membersihkannya dari (sifat-sifat) yang buruk dan mengisinya dengan sifat-sifat yang terpuji, cara melakukan suluk, melangkah menuju (keridhaan) Allah dan meninggalkan (larangan-Nya) menuju kepada (perintah-Nya). 2. Sedangkan Imam Al-Ghazali mengemukakan pendapat Abu Bakar al-Kataany yang mengatakan bahwa Tasawuf adalah budi pekerti, jadi barangsiapa yang memberikan bekal budi pekerti atasmu, berarti ia memberikan bekal atas dirimu dalam tasawuf. Maka hamba yang jiwanya menerima (perintah) untuk beramal karena sesungguhnya mereka melakukan suluk dengan nur (petunjuk) Islam. Dan Ahli Zuhud yang jiwanya menerima (perintah untuk melakukan beberapa akhlaq (terpuji) karena mereka telah melakukan suluk dengan nur (petunjuk) imannya.

B.

Essensi Tasawuf Tasawuf adalah nama lain dari Mistisme dalam Islam di kalangan

orintalis Barat dikenal dengan sebutan Sufisme kata Sufisme merupakan istilah khusus mistisme Islam. Sehingga kata Sufisme tidak ada pada mistisme agama-agama lain. Adapun tujuannya adalah untuk memperoleh suatu hubungan khusus langsung dari Tuhan. Sedangkan ada juga tujuan lain seperti bisa berhubungan langsung dengan Tuhan. Dengan maksud bahwa ibadah yang diselenggarakan dengan cara formal belum dianggap memuaskan karena belum memenuhi kebutuhan spiritual kaun sufi. Ibnu al-Qayyim dalam Madarijus Salikin menyebutkan para pembahas ilmu ini telah sependapat bahwa tasawuf adalah moral.

Berbagai pendapat tentang munculnya dan berkembangnya tasawuf adalah sebagai berikut:: a) Pada abad pertama dan kedua hijriah (1) Perkembangan Tasawuf pada Masa Sahabat Para sahabat juga mencontohi kehidupan Rasulullah yang serba sederhana, dimana hidupnya hanya semata-mata diabadikan kepada Tuhannya. Diantara sahabat yang dimaksud adalah: Abu Bakar as-Sidiq (13 H), Umar bin Khattab (23 H) dan Usman bin Affan (35 H). (2) Perkembangan Tasawuf Pada masa Tabiin Adapun tokoh-tokohnya antara lain: Al-Hasan Al-Basry (22 H-110 H), dan Rabiah Al-Adawiyah (185 H). b) Pada Abad ketiga dan Keempat Hijriah (1) Perkembangan Tasawuf pada abad Ketiga Hijriah Adapun tasawuf yang berkembang pada masa itu adalah: Tasawuf yang berintikan yang ilmu jiwa, yaitu tasawuf yang berisi suatu metode lengkap tentang pengobatan jiwa, yang mengonsentrasikan kejiwaan

manusia kepada khaliknya, sehingga ketengangan kejiwaan akibat pengaruh keduniaan, dapat teratasi dengan baik. Tasawuf yang berintikan ilmu akhlak dan Tasawuf yang berintikan metafisika. Sedangkan tokoh-tokoh sufi yang terkenal abad ini antara lain : Abu Sulaiman AdDarany (215 H.), Ahmad bin Al-Hawary ad-Damasqiy (230 H.), Abud Faidh Dzun Nun bin Ibrahim al-Mishry(245 H.), Abu Yazid Al-Bushthany (261 H/874 M.) 2) Perkembangan Tasawuf pada abad keempat Hijriyah Tasawuf pada abad keempat Hijriyah ini dipelopori oleh beberapa tokoh antara lain seperti: (a) Musa al-Anshary, mengajarkan Ilmu Tasawuf di khurasan (persia atau Iran), dan Wafat tahun 320 H, Abu Hamid bin Muhammad Ar-Rubazy, mengajarkannya di salah satu kota di Mesir (322 H), Abu Zaid al-Adamy, mengajarkannya di Semenanjung Arabiyah (314 H.) dan Abu Ali Muhammad

bin Abdil Wahhab as-Saqafy, mengajarkan di Naisabur dan Kota Syaraz, hingga ia wafat tahun 328 H. (b) Pada Abad ke Lima Hijriyah Ada beberapa imam yang berhak mengatur dunia ini, yang disebutnya sebagai imam Mahdi, yang akan menjelmake dunia dengan membawa keadilan dan memurnikan agama Islam. Imam tersebut adalah: Ali bin Abi Thalib, Hasan bin Ali, Husein bin Ali, dan Ali bin Husein. (c) Pada abad keenam, ketujuh dan kedelapan Hijriyah Beberapa ulama tasawuf yang sangat berpengaruh dalam perkembangan Tasawuf abad ini, adalah: Syahabuddin abul futu as-Suhrawardy (587 H/1191 M), Al-Ghazanawy (545 H./1151 M.). Ada beberapa ulama Tasawuf yang berpengaruh pada abad ini, antara lain: Umar Ibnul Farid lahir di Homat (Siria) tahun 576 H/1181M dan wafat di Mesir (632 H./1233 M.) dan Ibnu Sabiin lahir di Mercil (Spanyol) tahun 613 H./1215 M. dan wafat di Makkah tahun 667 H./1215 M. Ajaran tasawuf yang dominan pada abad Ibnu Taimiyah yang berfungsi seperti Imam Al-Ghazaly, Upaya maksimal yang dilakukan oleh Ibnu Taimiyah ketika itu, tidak henti-hentinya hingga ia wafat pada tahun 727 H./1329 M. C. Obyek Ilmu Tasawuf Obyek ilmu taswuf adalah perbuatan hati dan panca indera ditinjau dari segi cara pensuciannya. D. Buah Ilmu Tasawuf Buah taswuf adalah terdidiknya hati mengetahui (marifah) terhadap ilmu gaib secara ruhani, selamat di dunia dan bahagia di akhirat, dengan mandapat keridoan Allah.

E.

Keutamaan Ilmu Tasawuf Ilmu tasawuf adalah ilmu yang paling mulia karena berkaitan dengan marifah

kepada Allah Taala dan mahabbah kepada-Nya. F. Hubungan ilmu taswuf dengan ilmu yang lainnya Nisbah ilmu taswuf terhadap ilmu yang lain baagikan nisbah ruh bagi jasad. Ilmu tasawuf adalah ruh, sementara ilmu yang lain adalah jasad. Jasad tidaklah dapat hidup tanpa ruh. G. Pencipta Ilmu Tasawuf Pencipta ilmu tasawuf adalah Allah Tabaraka wa Taala. Allah menciptakan ilmu ini kepada Rasulullah dan para Nabi yang sebelumnya. H. Nama Ilmu Taswuf Ilmu tasawuf mempunyai beberapa nama, antara lain sebagai berikut: a. Ilmu Batin b. Ilmu al-Qalbi c. Ilmu Laduni d. Ilmu Mukasyafah e. Almu Asrar f. Ilmu Maknun g. Ilmu Hakikat

I.

Pilar Ilmu Tasawuf Pilar ilmu tasawuf ada lima perkara 1. Taqwallah (bertakwa kepada Allah) baik sewaktu sirr maupun alabiyah (terbuka). 2. Mengikuti Sunnah baik qauli maupun fili serta mengaktualisasikannya dalam penjagaan diri dan akhlak yang baik. 3. Berpaling dari makhluk yang diwujudkan dalam sikap sabar dan tawakkal. 4. Rida terhadap ketentuan Allah yang diwujudkan dengan sikap qonaah dan menerima (tafwid). 5. Kembali kepada Allah baik sikala senang maupun di waktu susah.

J.

Sumber Ilmu Tasawuf Ilmu tasawuf diambil dari Al-Quran dan Sunnah Rasulullah Saw. Juga dari atsar

assabitah (jejak yang sudah tetap) dari umat-umat pilihan di masa silam. K. Hukum Mempelajari Ilmu Tasawuf Hukum mempelajarai ilmu tasawuf adalah wajib ain atrinya kewajiban yang mengikat kepada setiap individu muslim. Oleh karena itu sebagian ulama ahli marifah berkata : Barang siapa yang tidak memiliki ilmu ini sedikitpun (ilmu batin), aku hawatir ia berakhir dengan suul khatimah. Paling tidak seorang mukmin harus membenarkan akan ilmu ini dan menyerahkan kepada ahlinya. L. Masalah-masalah yang dibahas dalam ilmu Tasawuf Masalah inti yang dibahas dalam ilmu tasawuf adalah sifat-sifat jiwa manusia, cara-cara pensucian jiwa, dan penjelasan istilah-istilah yang khas dalam disiplin ilmu ini misalnya; maqamat, taubat, zuhud, wara, al-mahabbah, fana baqa dan yang lainnya. Setelah mengetahui makna tasawuf dan permasalahannya, di bawah ini akan dijelaskan bagian-bagian dari ilmu tasawuf.

10

I MAHABBAH

A. Pengertian Mahabbah Mahabbah artinyacinta. Hal ini mengandung maksud cinta kepada Tuhan. Lebih luas lagim, bahwa Mahabbah memuat pengertian yaitu: 1. Memeluk dan mematuhi perintah Tuhan dan membenci sikap yang melawan pada Tuhan 2. Berserah diri kepada Tuhan 3. Mengosongkan perasaan dikasihi Tentang Mahabbah dapat dapat dijumpai di dalam al-Quran antara lain: a. Surat Ali Imran ayat 31: Artinya :Katakanlah: jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosanmu Allah Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang (Q.S Ali Imran: 31). b. Hadits Yang artinya hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan perbuatan-perbuatan hingga aku cinta padanya. Orang yang kucintai menjadi telinga, mata dan tangan-Ku. Aliran tasawuf mahabbah kedudukannya sejajar dengan aliran-aliran tasawuf lainnya seperti marifat (pengetahuan). Al-Fana dan al-Baqa (kehancuran dan ketetapan), dan alijtihad (persatuan). Ijtihad dapat berbentuk Al-Qulul (pengambilan Wujud (kesatuan wujud). Penjelasan tentang aliran-aliran tersebut bab-bab berikutnya. tempat) ataupun Alakan diuraiakan pada di hati dari segala-galannya kecuali dari zat yang

11

B. Tokoh Sufi Mahabbah dan Ajarannya Aliran sufi mahabbah dipelopori dan dikembangkan oleh seorang sufi wanita bernama Rabiah al-Adawiah, ia lahir di Basrah pada tahun 714 M. Di antara doadoa yang tercatat berasal dari Rabiah ada doa yang dipanjatkannya pada waktu larut malam, di atas atap rumahnya Tuhanku, binatang-binatang bersinar gemerlapan, manusia sudah tidur nyenyak, dan raja-raja telah menutup pintunya, tiap orang yang bercinta sedang asyik masuk dengan kesayanganya, dan disinilah aku sendiri bersama Engkau

II MARIFAT
A. Pengertian Istilah marifah berasal dari kata Al-Marifah, yang berarti mengetahui atau mengenal sesuatu. Kemudian istilah ini dirumuskan defenisinya oleh beberapa Ulama Tasawuf, antara lain: 1. Dr. Mustafa Zahri mengemukakan salah satu pendapat Ulama Tasawuf yang mengatakan: Marifah adalah ketetapan hati (dalam mempercayai hadirnya) wujud yang wajib adanya (Allah) yang menggambarkan segala kesempurnaan 2. Asy-Syekh Ihsan Muhammad Dahlan Al-Kadiri mengemukakan abud Thayyib aSamiry sebagai berikut: Marifat adalah hadirnya kebenaran Allah (Pada sufi).... dalam yang meningkat marifanya, maka meningkat pula ketenangan (hatinya). Ada beberapa tanda yang dimiliki oleh Sufi bila sudah sampai kepada tingkatan Marifat, antara lain: 1. Selalu memancar cahaya marifah padanya dalam segala sikap dan perilakunnya, karena itu, sikap wara selalu ada pada dirinya

12

2. Tidak menjadikan keputusan pada sesuatu yang berdasarkan fakta yang bersifat nyata, karena hal-hal yang nyata menurut ajaran tasawuf, belum tentu benar 3. Tidak menginginkan nikmat Allah yang buat dirinya, karena hal itu bias membawannya kepada perbuatan yang haram. B. Faham Marifah Ada segolongan orang sufi mempunyai ulasan bagaimana hakikat

marifah. Mereka mengemukakan paham-pahamnya antara lain: 1. Kalau mata yang ada did alam hati sanubari manusia terbuka, maka mata kepala tertutup, dan waktu inilah yang dilihat hanya Allah 2. Marifah adalah cermin. Apabila seorang yang arif melihat ke arah cermin maka apa yang dilihatnya hanya Allah 3. Orang kafir baik di waktu tidur dan bangun yang dilihat hanyalah Allah SWT 4. Seandainnya marifah itu materi, maka semua orang yang melihat akan mati karena tidak tahan merlihat kecantikan serta keindahannya. Dan semua cahaya akan menjadi gelah di samping cahaya keindahan yang gilanggemilang. C. Jalan Marifah Sifat dari marifah Tuhan bagi seorang sufi adalah kontinyu (terus menerus). Namun untuk memperoleh marifah yang penuh tentang Tuhan mustahil, sebab manusia besifat terbatas sedangkan Tuhan bersifat tidak terbatas. D. Tokoh Marifah Al-Gazali mengakhiri masa pertualangannya, karena telah mendapat pengangan yang sekuat-kuatnya untuk kembali berjuang dan Mekkah dan Madinah bekerja di tengah masyarakat, pengangan itu adalah Paham Sufi yang diperolehnya berkat ilham Tuhan di tanah suci

13

III FANA DAN BAQA

A. Pengertian Fana artinya hilang, hancur, atau dalam bahasa Inggris dissapear, perish, annihalate. Sehingga dapat dipahami bahwa fana merupakan proses menghancurkan diri bagi seorang sufi agar dapat bersatu dengan Tuhan. B. Faham antara Fana Seiring Baqa Ada beberapa faham kesufian yang membuktikan adanya keseiringan fana dan baqa yaitu: Jika kejahilan (iqnorance) dari seseorang hilang yang akan tinggal ialah pengetahuan. C. Tokoh Sufi Adapun tokoh sufi antara lain : Abu Yazid dan Ibnu Qayyim. Abu Yazid adalah salah satu tokoh sufi yang telah melewati Marifat dia mencapai fana dan baqa yang kemudian ijtihad bersatu dengan Tuhan. Ibnu Qayyim memberikan penjelasan tentang istilah fana dan baqa sebagai berikut: Fana selain Allah. Di sinilah bertemu antara nafi dan Itsbat. Nafi adalah fana dan itsbat adalah baqa. Sebenarnya ia fana dengan dengan ibadah kepada membuang cinta selain dari pada-Nya, takut kepada Allah, menyingkari takut selain dari pada-Nya. Taat kepada Allah dan menyingkiri taat selain dari Pada Nya. dalam pengertian tauhid berbarengan dengan baqa, yaitu penetapan terhadap Tuhan yang haqdalam hatimu dan menghilangkan Tuhan

14

IV ITTIHAD DAN HULUL


A. Pengertian Ittihad adalah bahwa tingkatakan tasawuf seorang sufi telah merasa dirinya bersatu dengan Tuhan. Ittihad merupakan suatu tingkatan dimana yang mencintakan dan yang dicintai telah menjadi satu. A.R Al-Badawi berpendapat bahwa di dalam ittihad yang dilihat hanya satu wujud. Walaupun sebenarnya ada dua wujud yang berpisah satu dari yang lain. Hal ini terjadi pertukaran peranan antara yang mencintai dan yan dicintai (sufi dan Tuhan). Dalam ittihad identitas telah hilang, indentias telah menjadi satu, hal ini bisa jadi karena sufi telah memasuki fana yang tidak mempunyai kesadaran lagi dan berbicara dengan nama Tuhan. Masalah ittihad, hulul dan Tauhid di kalangan sufi tidak banyak dibicarakan. Mungkin ini disebabkan dari pembunuhan tokoh sufi yaitu al-Hallaj karena dituduh mempunyai paham hulul sehingga banyak tokoh sufi takut mempersoalkan tersebut, agar tidak mempunyai nasib yang sama. B. Tokoh Sufi Ittihad al-Hulul dan Ajarannya Sebagai penyebar dan pembawa ajaran ittihad dalam tasawuf adalah Abu Yazid al-Bustamil, ia lahir di Bistam di Persia pada tahun 874 M dan meninggalkan dalam usia 73 M.

15

V WAHDATUL AL-WUJUD DAN INSAN KAMIL


A. Pengertian Kata wahadatul al-Wujud berarti kesatuan wujud. Dalam kata bahasa Inggris UNITY OF EXISTENCE. Paham ini merubah sifat nasuf yang ada dalam Hulum menjadi Khalaq. Aspek penting dari dua hal tersebut ialah aspek hak yang merupakan batin jauhar (substance) dan hakikat tiap-tiap yang berwujud. Dan aspek khalaq hanya merupakan ard. Sesuatu yang mendatang. Karena itulah alam dipandang sebagai cermin bagi Tuhan. Semua benda-benda yang ada dalam alam bagaikan gambar pada cermin yang sensianya telah terdapat pada sifat-sifat Tuhan. Sebagai pokok persoalan Wahdatul Wujud adalah yang sebenarnya berhak mempunyai wujud hanyalah satu, yaitu Tuhan. Dan wujud selain dari Tuhan adalah wujud bayangan. Pemikiran filsafat demikian berkembang dan membias pada konsep insan kamil atau manusia sempurna. B. Tokoh Sufi Wahdatul al- Wujud Insan Kamil dan Ajarannya Faham wahdatul Al-Wujud diajarkan oleh Muhy al-Qin Ibnu Arabi, dia lahir di kota Murcia Spanyol pada tahun 1165 M. Ringkasannya dalam tasawuf ibnu Al-Arabi yang bersatu dengan Tuhan bukan hanya manusia tetapi semua mahluk. Semuanya mempunyai wujud satu dengan Tuhan.

16

VI TARIKAT

A. Pengertian Istilah Tariqat berasal dari kata At-Tariq (jalan) menuju kepada hakikat, atau dengan kata lain pengalaman syariat. Sehingga Asy-Syekh Muhammad alKurdiy mengemukakan defenisi, yang berturut-turut disebut: 1. Tarekat adalah pengamalan syariat. Melaksanakan beban ibadah (dengan tekun) dan menjauhkan diri dari sikap mempermudah (ibadah), yang sebenarnya memang tidak boleh dipermudah. 2. Tarikat yang diartikan sebagai pendidikan kerohanian yang sering dilakukan oleh orang-orang yang menempuh kehidupan Tasawuf, untuk mencapai suatu tingkatan kerohanian yang disebut. B. Istilah Tariqat Ada beberapa istilah tarikat, antara lain: Syariat, hakikat, suluk, zawiyat, illa zikr nafi isbat, uslah, khalwat, kasyaf, silsilah C. Tokoh-tokoh Tarikat di Dunia Islam Maupun Indonesia Ada beberapa istilah yagn sering dijumpai dalam Tarikat yang bersifat perkumpulan, misalnya: Istilah Syekh atau Mursyid, maksudnya guru tarikat Khalifah maksudnya wakil Syekh atau Mursyid. Baiat, maksudnya perjanjian atau sumpah setia murid kepada gurunya. Di samping tokoh tersebut ada lagi tokoh lain antara lain: Ustaz S.A. Al-Hamdani dan Prof. Dr. Hamka.

17

DAFTAR PUSTAKA
Attin, Ahmad, Etika Ilmu Akhlak Hamka, Tasawuf Modern Hasbi Ash Shiddieqy, M., Al-Islam Jaya, Yahya, Peranan Taubat dan Maaf Dalam Kesehatan Mental Mukhtar, Desain Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Mustaqim, Abdul, Akhlak Tasawuf Jalan Menuju Revolusi Spritual Mustofa, A. Drs. Akhlak Tasawuf Nata , Abudin, Akhlak Tasawuf Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam Yulaelawati, Ella, Kurikulum dan Pembelajaran: Filosofi, teori, dan Aplikasi A.K. Muda, Ahmad, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Mubarak, Zakky, Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian Terintegrasi, Buku Ajar II, Bertens, K. Etika. C. Solomon, Robert, A Text with Reading Van Peursen, C.A., Susunan Ilmu Pengetahuan F. Andrain, Charles, Kehidupan Politik dan perubahan Sosial, (Terjemahan Luqman Hakim), Bakker, Anton, Metode-Metode Filsafat Copi, Irving, Introduction to Logic.

18

DAFTAR ISI

AKHLAK
A. Pengertian Akhlak ... B. Pembagian Akhlak .. C. Ruang Lingkup Akhlak ... 1 1 2

TASAWUF
A. B. C. D.
E. F. G. H. I. J. K. L.

Asal-Usul Tasawuf ... Essensi Tasawuf .. Obyek Ilmu Tasawuf Buah Ilmu Tasawuf . Keutamaan Ilmu Tasawuf ...
Hubungan ilmu taswuf dengan ilmu yang lainnya Pencipta Ilmu Tasawuf Nama Ilmu Taswuf .. Pilar Ilmu Tasawuf ... Sumber Ilmu Tasawuf ........................................................................................................................ Hukum Mempelajari Ilmu Tasawuf .................................................................................................... Masalah-masalah yang dibahas dalam ilmu Tasawuf

6 6 8 8 9
9

9 9 9
9 9 9

I.

MAHABBAH A. Pengertian Mahabbah B. Tokoh Sufi Mahabbah dan Ajarannya

11 11

II.

MARIFAT A. Pengertian 12 B. Faham Marifah 13 C. Jalan Marifah .. 13 D. Tokoh Marifah 13

III. FANA DAN BAQA A. Pengertian .. 14 B. Faham antara Fana Seiring Baqa 14 C. Tokoh Sufi . 14 IV. ITTIHAD DAN HULUL A. Pengertian B. Tokoh Sufi Ittihad al-Hulul dan Ajarannya .. V. 15 15

WAHDATUL AL-WUJUD DAN INSAN KAMIL A. Pengertian . 16 B. Tokoh Sufi Wahdatul al- Wujud Insan Kamil dan Ajarannya .. 16

19

VI. TARIKAT A. Pengertian . 17 B. Istilah Tariqat .. 17 C. Tokoh-tokoh Tarikat di Dunia Islam Maupun Indonesia ... 17 DAFTAR PUSTAKA .. 18

20