Anda di halaman 1dari 11

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Pengamatan PKL Berdasarkan praktek kerja lapangan yang telah dilakukan diperoleh ekstrak biomassa dan ekstrak filtrat hasil bioproduksi kapang endofit jenis Cl.Bel.5F dari tanaman kunyit (Curcuma longa L.) yang dapat dilihat pada Tabel 1 berikut ini: Tabel 1. Berat Biomassa, Berat Ektrak Biomassa dan Berat Filtrat pada hari ke-14 Penambahan Berat Berat Ekstrak Berat Ektrak No. Sukrosa (mg) Biomassa (mg) Biomassa (mg) Filtrat (mg) 1. 200 240 40 10 2. 1000 610 90 10 3. 2000 1060 1010 40 4. 3000 330 130 20 5. 4000 110 100 20 6. 5000 50 40 30 Berdasarkan Tabel 1 di atas pada penambahan sukrosa sebanyak 200 mg diperoleh berat biomassa sebanyak 240 mg kemudian setelah dilakukan ekstraksi dihasilkan berat ekstrak biomassa sebanyak 40 mg dan berat ekstrak filtrat 10 mg. Pada penambahan sukrosa sebanyak 1000 mg diperoleh kenaikkan berat biomassa sebanyak 610 mg, yang menghasilkan berat ekstrak biomassa sebanyak 90 mg dan berat ekstrak filtrat 10 mg. Pada penambahan sukrosa sebanyak 2000 mg diperoleh berat biomassa, ekstrak biomassa dan ekstrak filtrat yang paling besar yaitu sebanyak 1060 mg, 1010 mg, dan 40 mg. Pada penambahan sukrosa sebanyak 3000 mg diperoleh berat biomassa yang mengalami penurunan yaitu sebanyak 330 mg yang menghasilkan berat ekstrak biomassa sebanyak 130 mg dan berat ekstrak filtrat 20 mg. Selanjutnya pada penambahan sukrosa sebanyak 4000 mg yang diperoleh berat biomassa sebanyak 110 mg kemudian setelah dilakukan ekstraksi dihasilkan berat ekstrak biomassa sebanyak 100 mg dan berat ekstrak filtrat 20 mg. Sedangkan pada penambahan sukrosa sebanyak

35

5000 mg diperoleh berat biomassa sebanyak 50 mg dan menghasilkan berat ekstrak biomassa sebanyak 40 mg dan berat ekstrak filtrat 30 mg. Data tersebut diambil pada hari ke- 14 dimana kapang endofit jenis yang diisolasi dari rimpang tanaman Cl.Bel.5F

kunyit (Curcuma longa L.)

difermentasikan di dalam media PSB sambil dishaker.

Tabel 2. Berat Biomassa, Berat Ektrak Biomassa dan Berat Filtrat pada hari ke-21 Berat Penambahan Berat Berat Ekstrak No. Ektrak Sukrosa (gr) Biomassa (gr) Biomassa (gr) Filtrat (gr) 1. 200 260 10 20 2. 1000 640 10 70 3. 2000 1550 30 90 4. 3000 330 10 80 5. 4000 400 10 80 6. 5000 210 10 50 Berdasarkan Tabel 2 di atas pada penambahan sukrosa sebanyak 200 mg diperoleh berat biomassa sebanyak 260 mg kemudian setelah dilakukan ekstraksi dihasilkan berat ekstrak biomassa sebanyak 10 mg dan berat ekstrak filtrat 20 mg. Pada penambahan sukrosa sebanyak 1000 mg diperoleh berat biomassa yang meningkat yaitu sebanyak 640 mg yang menghasilkan berat ekstrak biomassa sebanyak 10 mg dan berat ekstrak filtrat yang paling rendah yaitu 70 mg. Pada penambahan sukrosa sebanyak 2000 mg diperoleh berat tertinggi yaitu berat biomassa sebesar 1550 mg dan menghasilkan ekstrak biomassa sebesar 30 mg, sedangkan ekstrak filtrat yang diperoleh yaitu 90 mg. Selanjutnya pada penambahan sukrosa sebanyak 3000 mg mengalami penurunan yaitu berat biomassa yang diperoleh sebanyak 330 mg yang menghasilkan ekstrak biomassa sebanyak 10 mg dan ekstrak filtrat 80 mg. Pada penambahan sukrosa sebanyak 4000 mg mengalami peningkatan kembali yaitu diperoleh berat biomassa sebanyak 400 mg, setelah dilakukan ekstraksi dihasilkan berat ekstrak biomassa sebanyak 10 mg dan berat ekstrak filtrat 80 mg. Sedangkan pada penambahan sukrosa sebanyak 5000 mg

36

mengalami penurunan kembali yaitu diperoleh berat biomassa 210 mg setelah dilakukan ekstraksi menghasilkan berat ekstrak biomassa sebanyak 10 mg dan berat ekstrak filtrat 50 mg.

Bobot Biomassa (mg)


1800 1600 1400 Axis Title 1200 1000 800 600 400 200 0 200 1000 2000 3000

1550

1060

640
260 240 610 330 110
4000 Penambahan Sukrosa (mg)

Biomassa hari ke-14

330 400 210


5000

Biomassa hari ke-21

50

Gambar 3. Grafik Perbandingan Bobot Biomassa hari ke-14 dan hari ke- 21 Berdasarkan Gambar 3 dapat terlihat dengan jelas, dimana bobot biomassa pada penambahan sukrosa sebanyak 2000 mg dalam 200 ml media PSB (Potatoes Sukrose Broth) menghasilkan biomassa yang paling banyak pada hari ke-14 maupun hari ke-21. Sementara Bobot biomassa terendah berada di penambahan sukrosa sebanyak 5000 mg pada hari ke-14 maupun hari ke-12. Hal ini membuktikan bahwa pada penambahan sukrosa sebanyak 2000 mg ke dalam media PSB merupakan komposisi yang paling baik karena dapat menghasilkan biomassa yang paling banyak dibandingkan dengan penambahan sukrosa kurang dari 2000 mg maupun lebih dari 2000 mg sukrosa.

37

Ekstrak Biomassa (mg)


1200 1000 800 600 400 200 0 90 40 10 200 10 1000 30 2000 130 10 3000 100 10 4000 40 10 5000 Ekstrak Biomassa hari ke-14 Ekstrak Biomassa hari ke-21 1010

Penambahan Sukrosa (mg)

Gambar 4. Grafik Perbandingan Ekstrak Biomassa hari ke-14 dan hari ke- 21 Berdasarkan Gambar 4 di atas, dimana penambahan sukrosa sebanyak 2000 mg dalam 200 ml media PSB menghasilkan ekstrak biomassa paling banyak dibandingkan yang lain terutama pada hari ke-14. Namun, pada hari ke-21 ekstrak biomassa yang di dapat tidak sebanyak pada hari ke-14. Hal ini sesuai dengan pendapat Sartini (2009) yang sebelumnya telah melakukan penelitian bahwa pada hari ke-7 sampai hari ke-9 kapang mengalami fase eksponensial, dimana pada fase ini terlihat adanya peningkatan jumlah sel, pada hari ke- 9 sampai hari ke-14 kapang mengalami fase stasioner, dimana pada fase ini metabolisme terus berlangsung yang cenderung menumpuk, metabolit sekunder umumnya terbentuk pada saat jumlah populasi sel tetap karena jumlah sel yang tumbuh sama dengan jumlah sel yang mati dan habisnya beberapa komponen utama nutrien salah satunya gula (sebagai sumber karbon) dan protein sebagai sumber asam amino atau nitrogen dan hal ini yang menyebabkan terlepasnya zat-zat hasil katabolisme yang merupakan metabolit sekunder kemungkinan terbentuknya senyawa kimia pada hari ke-14 dikarenakan sumber karbohidrat masih tersedia cukup untuk membentuk metabolit. Pada fase ini sel akan menjadi tua, laju perkembangbiakan berkurang, sel-sel kapang lebih tahan terhadap keadaan

38

ekstrim, seperti suhu lebih panas atau lebih dingin, radiasi bahan kimia dan metabolit sekunder yang dihasilkan. Pada hari ke-15 sampai hari ke-21, kapang mengalami fase kematian dimana fase ini populasi kapang mulai mengalami kematian karena nutrien di dalam medium sudah habis dan energi cadangan di dalam sel habis.

Ekstrak Filtrat
100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0

90 80 70 50
Ekstrak Filtrat hari ke- 14 Ekstrak Filtrat hari ke-21

80

Axis Title

40 30
20 10
200

20 10
1000 2000 3000

20
4000 5000

Penambahan Sukrosa (mg)

Gambar 5. Grafik Perbandingan Ekstrak Filtrat hari ke-14 dan hari ke- 21 Berdasarkan Gambar 5 di atas dapat terlihat bahwa ekstrak filtrat yang dihasilkan sama halnya seperti ekstrak biomassa pada gambar sebelumnya dimana pada penambahan sukrosa sebanyak 2000 mg dihasilkan ekstrak filtrat yang paling banyak, baik pada hari ke-14 maupun hari ke-21. Namun, ekstrak filtrat yang dihasilkan pada hari ke-14 mengalami peningkatan pada hari ke-21, sehingga pada hari ke-21 menghasilkan ekstrak filtrat yang lebih banyak daripada hari ke-14 terutama pada penambahan sukrosa sebanyak 2000 mg yaitu 90 mg ekstrak filtrat.

4.2. Analisis Kromatografi Lapis Tipis Ekstrak Biomassa dan Ekstrak Filtrat Ekstrak biomassa dan ekstrak filtrat yang diperoleh dilakukan analisis dengan Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dengan tujuan untuk melihat

39

senyawa yang terkandung pada ekstrak biomassa dan filtrat dengan variasi penambahan sukrosa pada media PSB (Potatoes Sukrose Broth) sebagai media fermentasi. Eluen yang digunakan adalah kloroform-metanol dengan perbandingan 9 : 1. Kloroform digunakan karena bersifat non polar dan methanol bersifat polar. Bercak yang timbul pada lempeng KLT diamati di bawah sinar UV 254 dan 366 nm, senyawa yang berfluorosensi dengan UV diberi tanda, kemudian disemprot dengan serium sulfat dan dipanaskan di atas penangas dan akan terlihat pemisahan seperti yang terlihat di bawah sinar UV. Serium sulfat berfungsi untuk melihat senyawa-senyawa yang terbentuk setelah direaksikan.

0,2

BP

0,2

5 BP

Gambar 6. Ekstrak Biomassa hari ke-14

Gambar 7. Ekstrak Biomassa hari ke- 21

Kromatografi Lapis Tipis di bawah sinar UV 254 nm Keterangan: 0,2 1 2 3 4 5 BP = Penambahan sukrosa 200 mg/200 ml = Penambahan sukrosa 1000 mg/200 ml = Penambahan sukrosa 2000 mg/200 ml = Penambahan sukrosa 3000 mg/200 ml = Penambahan sukrosa 4000 mg/200 ml = Penambahan sukrosa 5000 mg/200 ml = Baku Pembanding Curcuma longa L.

40

0,2

BP

0,2

5 BP

Gambar 8. Ekstrak Biomassa hari ke-14

Gambar 9. Ekstrak Biomassa hari ke- 21

Kromatografi Lapis Tipis di bawah sinar UV 366 nm Keterangan:


0,2 6 7 8 9 10 BP = Penambahan sukrosa 200 mg/200 ml = Penambahan sukrosa 1000 mg/200 ml = Penambahan sukrosa 2000 mg/200 ml = Penambahan sukrosa 3000 mg/200 ml = Penambahan sukrosa 4000 mg/200 ml = Penambahan sukrosa 5000 mg/200 ml = Baku Pembanding Curcuma longa L.

Berdasarkan hasil analisis kromatografi di atas pada Gambar 6 dan 7 dapat terlihat bercak yang tampak pada lempeng KLT untuk ekstrak biomassa pada penambahan sukrosa 200, 1000, 2000, 3000, 4000, dan 5000 mg pada hari ke-14 maupun ke-21 menghasilkan bercak yang diperoleh sama. Meskipun pada Gambar 7 hasil bercak yang tampak tidak serapi pada Gambar 6, hal ini dikarenakan terjadi suatu kesalahan pada saat meletakkan lempeng KLT ke dalam chamber posisi lempeng KLT tidak rata atau miring, sehingga fase gerak yang dihasilkan tidak rapi seperti pada Gambar 6. Namun jika diamati dan diperhatikan dengan baik, bercak yang dihasilkan sama seperti pada Gambar 6. Bahkan dilihat pada sinar UV 366 nm pun hasil yang didapat sama (Gambar 8 dan 9).

41

0,2

5 BP

0,2

BP

Gambar 10. Ekstrak Filtrat hari ke-14

Gambar 11. Ekstrak Filtrat hari ke- 21

Kromatografi Lapis Tipis di bawah sinar UV 254

0,2

BP

0,2

BP

Gambar 12. Ekstrak Filtrat hari ke-14

Gambar 13. Ekstrak Filtrat hari ke- 21

Kromatografi Lapis Tipis di bawah sinar UV 366 Keterangan:


0,2 11 12 13 14 15 BP = Penambahan sukrosa 200 mg/200 ml = Penambahan sukrosa 1000 mg/200 ml = Penambahan sukrosa 2000 mg/200 ml = Penambahan sukrosa 3000 mg/200 ml = Penambahan sukrosa 4000 mg/200 ml = Penambahan sukrosa 5000 mg/200 ml = Baku Pembanding Curcuma longa L.

42

Berdasarkan analisis secara KLT senyawa kimia yang dihasilkan ektrak biomassa pada penambahan sukrosa 200, 1000, 2000, 3000, 4000, dan 5000 mg baik pada hari ke-14 maupun hari ke-21 yang ditandai dengan bercak pada lempeng KLT yang dibandingkan dengan BP (Baku Pembanding) Curcuma longa L. terlihat dengan jelas bahwa senyawa yang di dapat memiliki bercak yang sama seperti halnya yang terlihat pada Gambar 6, 7, 8, dan 9 di atas. Fraksi yang pola bercaknya sama digabung sehingga diperoleh fraksi-fraksi yang lebih sederhana. Begitu juga halnya pada ekstrak filtrat pada Gambar 10, 11, 12, dan 13, bercak yang dihasilkan pada lempeng KLT sama baik pada hari-14 maupun hari ke-21. Maka seluruh fraksi digabung menjadi satu sehingga di dapat ekstrak biomassa dan ekstrak filtrat hasil bioproduksi kapang endofit Cl.Bel.5F dari tanaman kunyit (Curcuma longa L.). Berikut hasil KLT setelah disemprot dengan asam sulfat 1% yang kemudian dipanaskan di atas hot plate:

0,2 1

BP

0,2

5 BP

Gambar 14. KLT Ekstrak Biomassa hari ke-14

Gambar 15. KLT Ekstrak Biomassa hari ke-21

Keterangan: Fase gerak : kloroform methanol (9:1) Fase diam : silika gel GF254 Pereaksi semprot : serium sulfat 1% dalam asam sulfat Setelah disemprot, lempeng dipanaskan di atas hot plate sampai timbul bercak

43

0,2 1

5 BP

0,2

5 BP

Gambar 16. KLT Ekstrak Filtrat hari ke-14

Gambar 17. KLT Ekstrak Filtrat hari ke-21

Keterangan: Fase gerak : kloroform methanol (9:1) Fase diam : silika gel GF254 Pereaksi semprot : serium sulfat 1% dalam asam sulfat Setelah disemprot, lempeng dipanaskan di atas hot plate sampai timbul bercak 4.3. Uji Aktivitas Ekstrak Biomassa dan Ekstrak Filtrat Dengan Metode BSLT (Brine Shrimp Lethality Test) Uji aktivitas dengan metode BSLT (Brine Shrimp Lethality Test) bertujuan untuk mengetahui apakah senyawa yang terdapat dalam ekstrak biomasssa dan ekstrak filtrat bersifat toksik terhadap larva udang Artemia salina Leach. yang berusia 2x24 jam. Metode BSLT digunakan karena merupakan uji biologi umum untuk komponen bioaktif yang menunjukkan aktivitas farmakologi yang luas. Uji ini menggunakan larva Artemia salina Leach. karena larva tersebut sangat sensitif sehingga dapat diamati dengan mudah, pengaruhnya terhadap ekstrak yang akan diuji. Selain itu, metode ini dapat dilakukan dengan cepat dan murah. Hasil uji toksisitas terhadap larva Artemia salina Leach. dalam ekstrak biomassa dan ekstrak filtrat dapat dilihat pada Tabel 3. Dimana data mortalitas (%) yaitu dengan membandingkan antara jumlah larva yang mati dengan total larva yang digunakan dikali 100 %, kemudian data mortalitas (%) tersebut diplotkan ke tabel probit untuk memperoleh nilai probit. Nilai LC50 diperoleh dari persamaan garis regresi

44

antara log konsentrasi (x) dan probit (y), serta tabel analisis probit (dapat dilihat pada lampiran). Konsentrasi Log % Probit Mati Hidup M/TH (bpj) Konsentrasi Kematian (y) Ekstrak 1000 3 30 0 30/30 100 8,09 Biomassa 100 2 28 2 28/30 93 6,48 10 1 27 3 27/30 90 6,28 Ekstrak 1000 3 30 0 30/30 100 8,09 Filtrat 100 2 30 0 30/30 100 8,09 10 1 30 0 30/30 100 8,09 Sampel LC50 (bpj) 13,95

5,76

Tabel 3. Nilai LC50 Hasil Uji Toksisitas BSLT (Brine Shrimp Lethality Test) Ekstrak Biomassa dan Ekstrak Filtrat Berdasarkan Tabel 3 di atas hasil uji bioaktivitas ekstrak biomassa dan ekstrak filtrat terhadap larva Artemia salina Leach. metode BSLT (Brine Shrimp Lethality Test) menunjukkan bahwa kedua ekstrak tersebut bersifat sangat toksik karena memiliki LC50 kurang dari 30 g/ml. Nilai LC50 dari ekstrak biomassa adalah 13,95229 bpj lebih besar dari nilai LC50 ekstrak filtrat yaitu 5,76112 bpj. Dari data tabel di atas dapat diketahui bahwa ekstrak filtrat memiliki efek toksisitas yang lebih kuat daripada ekstrak biomassa. Hal ini didukung oleh Meyer et al (1982), suatu sampel dinyatakan memperlihatkan aktivitas biologi terhadap larva udang bila memiliki LC50 < 1000 g/ml, dan sangat toksik karena LC50 < 30. Hasil uji toksisitas ini dapat diasosiasikan dengan sifat sitotoksik yang digunakan sebagai prasyaratan senyawa antikanker.

Uji Aktivitas BSLT


10 8 6 4 2 0 1 8.09 6.28 8.09 6.48 8.09 Ekstrak Biomassa Ekstrak Filtrat 2 3 4

Keterangan: X = Probit Y = Log Konsentrasi (g/ml)

Gambar 18. Grafik Hasil Uji Aktivitas Dengan Metode BSLT Pada Ekstrak Biomassa dan Ekstrak Filtrat