Anda di halaman 1dari 31

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Modul 4 Lingkungan Fisik Kelompok 1 ext

BAB I TINJAUAN PUSTAKA


Manusia sebagai salah satu komponen terpenting dalam suatu produksi mempunyai kelemahan-kelemahan yang sudah ada dalam diri manusia tersebut seperti lalai dan sebagainya. Dapat dikatakan bahwa hampir 90% penyebab kecelakaan kerja terjadi akibat adanya human error. Human error adalah setiap tindakan seseorang yang tidak konsisten dengan pola yang telah ditetapkan atau menyimpang dari prosedur yang ada. (Willie Hammer,1989). Maka dari itu, Human Engineering berusaha untuk memperoleh efektivitas yang maksimum dalam operasi manusia dan mesin dengan mengintegrasikan kemampuan terbaik dari masing-masing. Human Engineering berhubungan dengan desain dari perakatan kerja yang dapat dioperasikan secara mudah dan cepat dalam kondisi tekanan yang minimum baik secara fisik maupun mental. Ergonomi adalah ilmu penyesuaian peralatan dan perlengkapan kerja dengan kemampuan essensial manusia untuk memperoleh hasil yang optimum. Ergonomi berasal dari kata Yunani yaitu ergo yang berarti kerja dan nomos yang berarti hukum alam. Karena itu disiplin Ergonomi adalah suatu cabang keilmuan yang sistematis untuk memanfaatkan informasi-informasi, mengenai sifat, kemampuan, dan keterbatasan manusia untuk merancang suatu sistem kerja sehingga orang dapat hidup dan bekerja pada sistem tersebut dengan baik, yaitu untuk mencapai tujuan yang diinginkan melalui pekerjaan itu dengan efektif dan efisien, aman dan nyaman. Dari beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa peran Ergonomi dalam lingkungan kerja sangat penting, hal ini dapat mengurangi timbulnya penyakit akibat kecelakaan kerja dan memaksimalkan kemampuan kerja untuk melakukan pekerjaan, sehingga terciptalah peningkatan produktifitas kerja, karena perasaan kelelahan kerja cenderung meningkatkan terjadinya kecelakaan kerja sehingga dapat merugikan tenaga kerja sendiri maupun perusahaan karena adanya penurunan produktivitas kerja. (Gilmer, 1966 Sumamur, 1984, Setyawati, 1997) Kondisi lingkungan fisik yang mempengaruhi aspek ergonomi dan dapat diamati antara lain adalah sebagai berikut :

Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Semarang 2007

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Modul 4 Lingkungan Fisik Kelompok 1 ext

1.1 Temperatur Dalam kerja sehari-hari, berat ringan pekerjaan tidak hanya ditentukan kebutuhan oksigen dan kalori per-menit, tetapi juga ditentukan oleh kondisi lingkungan.Kerja ringan pada kondisi lingkungan yang nyaman akan menjadi berat bila dalam kondisi lingkungan yang panas. Pada kondisi kerja ringan pekerja relatif tidak membutuhkan istirahat, tapi dengan keluaran yang sama pada kondisi lingkungan yang panas, pekerja membutuhkan istirahat yang lebih panjang. Keadaan ini tentu menyebabkan tingkat produktivitas rendah dan akan merugikan industri. Kondisi normal sistem tubuh manusia akan selalu dipertahankan dengan menyesuaikan diri terhadap perubahan yang terjadi di luar tubuh. Manusia memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan temperatur ruang, jika perubahan temperatur luar tubuh tidak melebihi 20% untuk kondisi panas dan 35% untuk kondisi dingin. Iklim dalam ruangan adalah suatu kondisi fisik sekeliling dimana pekerjaan dilakukan. Bila terjadi kekurangan atau kelebihan panas yang membebaninya, tubuh manusia bisa menyesuaikan diri karena kemampuannya untuk melakukan proses konveksi, radiasi dan penguapan. Menurut penyelidikan untuk berbagai tingkat temperatur akan memberikan hasil yang berbeda-beda, seperti berikut :
Tabel 1.1. Pengaruh Temperatur

Temperatur + 49 C + 30 C
o o

Keterangan Dapat Timbul ditahan sekitar fisik, 1 jam, tetapi untuk jauh diatas

kemampuan fisik dan mental. kelelahan cenderung melakukan kesalahan dalam pekerjaan,aktivitas mental dan daya tanggap mulai menurun. + 24 C + 10 C
o o

Kondisi optimum Kelakuan fisik yang ekstrim mulai muncul.

Dari suatu penyelidikan pula dapat diperoleh hasil bahwa produktivitas kerja manusia akan mencapai tingkat yang paling tinggi pada temperatur disekitar 24 C sampai 27 C. (Wignjosoebroto,1995,P.84)

Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Semarang 2007

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Modul 4 Lingkungan Fisik Kelompok 1 ext

1.2 Kelembaban Kelembaban merupakan banyaknya kadar air yang terkandung di dalam udara biasanya dinyatakan dalam bentuk prosentase (%). Suatu keadaan dimana udara sangat panas dan kelembaban tinggi akan mengakibatkan penguapan panas dari tubuh secara besar-besaran. Pengaruh lainnya adalah semakin cepatnya denyut jantung, karena makin aktifnya peredaran darah untuk memenuhi kebutuhan akan oksigen. Kelembaban sangat berhubungan atau dipengaruhi oleh temperatur udara. (Wignjosoebroto,1995,P.84) 1.3 Sirkulasi Udara Oksigen terutama merupakan gas yang dibutuhkan oleh makhluk hidup terutama untuk menjaga kelangsungan hidupnya sebagai proses metabolisme. Udara disekitar kita dikatakan kotor apabila kadar oksigen dalam udara tersebut telah berkurang dan telah bercampur dengan gas-gas atau bau-bau yang berbahaya bagi kesehatan tubuh. Kotornya udara disekitar kita dapat menimbulkan sesak napas serta mempengaruhi kesehatan tubuh dan mempercepat proses kelelahan.Sebagaimana diketahui bahwa udara disekitar kita mengandung sekitar 21% oksigen, 0,03% karbondioksida, dan 0,9% campuran gas lain. Sirkulasi udara akan menggantikan udara kotor dengan udara yang bersih. Agar sirkulasi terjaga dengan baik, dapat ditempuh dengan memberi ventilasi yang cukup (lewat jendela), dapat juga dengan meletakkan tanam-tanaman untuk menyediakan kebutuhan akan oksigen yang cukup. (Wignjosoebroto,1995,P.85) 1.4 Pencahayaan Penerangan yang baik memungkinkan tenaga kerja melihat objek-objek yang dikerjakan secara jelas, cepat dan tanpa upaya-upaya yang tidak perlu.Lebih dari itu, penerangan yang memadai memberikan kesan pemandangan yang lebih baik, dan keadaan lingkungan yang menyegarkan. Permasalahan penerangan meliputi kemampuan manusia untuk melihat sesuatu, sifat-sifat dari indera penglihatan, usaha-usaha yang dilakukan untuk melihat suatu objek dengan mudah dan cepat, sedangkan lainnya harus dengan berusaha keras, dan yang lain tidak terlihat sama sekali. (Manuaba,A,2000)

Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Semarang 2007

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Modul 4 Lingkungan Fisik Kelompok 1 ext

Pencahayaan

ditempat

kerja

berfungsi

untuk

memudahkan

mata

membedakan benda-benda yang digunakan ditempat kerja.Pencahayaan yang baik adalah nyaman dan menyenangkan sehingga mampu memelihara kegairahan kerja.Penerangan yang mencukupi objek penglihatan akan membantu tenaga kerja untuk melaksanakan pekerjaannya dengan mudah dan cepat. (Budiono,1991) Kemampuan mata untuk melihat objek secara jelas dipengaruhi oleh ukuran objek, derajat kekontrasan lamanya antara waktu objek untuk dengan melihat sekelilingnya, objek luminansi Untuk (brightness), serta tersebut.

menghindari silau (glare) karena peletakan sumber cahaya yang kurang tepat, sebaiknya sumber cahaya diletakkan sedemikian rupa sehingga cahaya mengenai objek yang akan dilihat terlebih dahulu yang kemudian dipantulkan oleh objek tersebut ke mata kita. (Wignjosoebroto,1995,P.85) Kesilauan dapat ditimbulkan oleh tiga hal, yaitu: 1. Kesilauan Langsung Terjadi akibat mata menerima cahaya secara langsung, tempat cahaya terjadi dari penempatan lampu yang tidak tepat. 2. Kesilauan Tak Langsung Terjadi akibat cahaya yang dipantulkan oleh bahan atau alat yang mengkilat permukaan. 3. Kesilauan Kontras Terjadi akibat intensitas yang dipantulkan pada objek terlalu besar dari intensitas latar belakang. Arah sinar sumber cahaya yang cukup jumlahnya sangat berguna dalam mengatur penerangan secara baik. Sinar-sinar dari berbagai arah akan meniadakan gangguan bayangan. Pada umumnya intensitas penerangan dalam tempat kerja dapat diatur menurut tabel dibawah ini :
Tabel 1.2. Pedoman Intensitas Penerangan

Jenis pekerjaan Kasar Sedang Halus Sangat halus

Illuminansi 100-200 luks 200-500 luks 500-1000 luks 1000-2000 luks

Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Semarang 2007

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Modul 4 Lingkungan Fisik Kelompok 1 ext

Pencahayaan sangat mempengaruhi kemampuan manusia untuk melihat objek secara jelas, cepat dan tanpa menimbulkan kesalahan. Kurangnya pencahayaan akan mengakibatkan mata operator/pekerja menjadi cepat lelah karena mata akan berusaha untuk melihat jelas dengan membuka lebar-lebar. Kelelahan mata akan mengakibatkan kelelahan mental dan kerusakan mata. Pencahayaan buatan umumnya menggunakan energi listrik yang disebut juga penerangan listrik. Pencahayaan buatan harus memiliki syarat sebagai berikut : a. Penerangan listrik harus sesuai dengan pekerjaan yang dilaksanakan oleh tenaga kerja dengan intensitas yang cukup. b. Penerangan listrik tidak boleh menimbulkan perubahan suhu udara yang berlebihan pada tempat kerja. c. Sumber cahaya listrik harus memberikan penerangan dengan intensitas yang tepat, menyebar merata tidak berkedip, tidak menyilaukan dan tidak menimbulkan bayangan yang mengganggu. (Zulmiar, 1999) 1.5 Kebisingan Bunyi yang tidak memberikan kenikmatan disebut dengan kebisingan. Kemajuan teknologi akan menghasilkan masalah diantara polusi, antara lain kebisingan yaitu bunyi-bunyian yang tidak di kehendaki oleh telinga indera pendengar kita, karena terutama dalam jangka panjang bunyi-bunyian tersebut dapat mengganggu ketenangan kerja, merusak pendengaran dan dapat menimbulkan kesalahan komunikasi. Dengan demikian kebisingan dianggap

sebagai polutan yang selalu diprotes karena merupakan salah satu stress dalam industri. Telinga akan mulai biasa menangkap suara bisikan lembut pada frekuensi 1,000 Hz dimana tekanan suaranya sebesar 1 dB (1 dB=0,0002 dyne/cm ) yang disebut dengan ambang pendengaran, dan akan menjadi sakit apabila tekanannya 120 dB dinamakan dengan ambang sakit. Ada pengaruh kebisingan pada produktivitas khususnya untuk pekerjaan rumit dan memerlukan konsentrasi penuh. Ada tiga aspek yang menentukan kualitas bunyi yang menentukan tingkat gangguan terhadap manusia, yaitu : a. Lama waktu bunyi tersebut terdengar. b. Intensitas biasanya diukur dengan desibel (dB) yang menunjukkan besarnya arus energi per satuan luas.
2

Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Semarang 2007

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Modul 4 Lingkungan Fisik Kelompok 1 ext

c. Frekuensi suara yang menunjukkan jumlah gelombang suara yang sampai ke telinga seseorang setiap detik (jumlah getaran per-detik atau Hertz). Bising memiliki karakteristik sebagai berikut : a. Bising yang kadangkala dan tak terduga akan lebih mengganggu dari pada bising yang kontinu. b. Sumber nada tinggi lebih mengganggu dari pada nada rendah. c. Tugas yang menuntut konsentrasi mental terus-menerus akan lebih mudah diganggu bising dari pada tugas lainnya. d. Kegiatan yang memerlukan pelatihan lebih mudah terpengaruh bising dari pada pekerjaan rutin. Tabel berikut akan menunjukkan skala intensitas yang dapat terjadi akibat alat atau keadaan :
Tabel 1.3. Kondisi Suara dan Batas Tingkat Kebisingan

Kondisi suara Menulikan

Desibel (dB) 120 110 100

Sangat Hiruk Pikuk

90 80 70 60

Kuat

Sedang

50 40

Tenang

30 30 20 10 0

Sangat Tenang

Batas Dengar Tertinggi Halilintar Meriam Mesin uap Jalan Hiruk Pikuk Perusahaan sangat gaduh Pluit polisi Kantor gaduh Jalan pada umumnya Radio Perusahaan Rumah gaduh Kantor pada umumnya Percakapan kuat Radio perlahan Rumah tenang Kantor pribadi Auditorium Percakapan Suara dedaunan Berbisik-bisik Batas Dengar Terendah

Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Semarang 2007

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Modul 4 Lingkungan Fisik Kelompok 1 ext

Efek kebisingan yang dapat mempengaruhi kinerja seseorang berdasarkan hasil penelitian di Amerika (penelitian NASA 1989) adalah : a. Bila intensitas kebisingan terus meningkat, maka peningkatan yang ditimbulkan tersebut dapat mempengaruhi pada perbaikan dalam kinerja. Apabila melebihi intensitas tertentu maka akan menurunkan kinerja. b. Kebisingan yang datang tiba-tiba dan tidak diharapkan dapat menyebabkan sebuah respon mengejutkan yang mengganggu konsentrasi dan performance kerja fisik. c. Kebisingan yang terjadi secara periodik maupun terus menerus dapat menggangu dalam pekerjaan rumit. d. Efek psikologis antara lain kegelisahan, keadaan tak berdaya dan pengaruh lain yang merugikan kinerja. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada prinsipnya kebisingan merupakan suara yang mengganggu atau suara yang tidak dikehendaki oleh yang mendengarnya. Bising atau tidaknya suatu suara tidak hanya ditentukan oleh keras atau lemahnya suara itu saja, tetapi juga ditentukan oleh selera atau persepsi seseorang terhadap sumber bunyi tersebut. (Wignjosoebroto, 1995,P.85-86) 1.6 Bau-bauan Kemajuan teknologi kebanyakan menghasilkan polutan, bau-bauan yang dikategorikan sebagai polusi udara dapat menggangu konsentrasi pekerja.Dua faktor satu lingkungan cara yang yang dapat dapat mempengaruhi untuk kepekaan penciuman bau-bauan adalah yang temperatur dan kelembaban. Pemakaian air conditioning yang tepat adalah salah digunakan menghilangkan mengganggu sekitar tempat kerja. (Wignjosoebroto, 1995,P.86) 1.7 Quasa Test Quasa test adalah suatu metode QUASA, yakni pengukuran yang menggabungkan pertanyaan objektif (tes bersifat benar/salah) dan penilaian subjektif atas kepercayaan dari setiap tes yang dijawab. Dalam praktikum kali ini kita menggunakan metode quasa test, karena dengan metode ini, kita bisa menampilkan atau mengetahui seberapa besar kinerja

Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Semarang 2007

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Modul 4 Lingkungan Fisik Kelompok 1 ext

seorang pekerja dalam kondisi tertentu ( yang dimaksud disini adalah sesuai lingkungan fisik kerja, baik dari temperaturnya, pencahayaannya, kebisingannya, ataupun yang lain ). Kita bisa mengetahuinya dari hasil perolehan angka yang dicapai setelah menyelesaikan beberapa pertanyaan yang diberikan. Dalam metode ini, kita menggunakan software quasa test, dimana terdapat dua tool yang kita pakai. Yang satu server, dan yang satu adalah client. Dalam tool server ini, kita bisa mulai registry, serta memilih tipe pertanyaan yang tersedia. Serta dalam tool ini juga kita bisa mengetahui hasil akhir perolehan angka yang kita capai. Sedangkan tool client dipakai untuk menjawab beberapa pertanyaan yang diberikan. (www.google/TI_ITB/satwikalulu -13400092.co.id) 1.8 Anova Analisis Variansi atau ANOVA adalah metode statistik yang digunakan untuk menguji hipotesis atau dugaan bahwa rata-rata beberapa populasi adalah sama (populasi lebih dari dua). Teknik ini menguji variabilitas dari observasi-observasi dalam masing-masing grup dan variabilitas antar rata-rata dalam grup. Dari sini bisa dihasilkan Fratio yang akan dibandingkan dengan F tabel, yang rumusnya adalah:

Variabilitas dalam grup F ratio Variabilitas Antar grup


Untuk melakukan analisis variansii diperlukan asumsi: Masing-masing kelompok/grup merupakan sampel random yang berasal dari populasi normal Dalam populasi, variansi dalam kelompok-kelompok/grup-grup tersebut adalah sama/homogen Ada dua prosedur analisis variansi, yaitu analisis variansi satu jalur (One-Way ANOVA) dan analisis variansi faktorial sederhana (Simple Factorial ANOVA). Analisis variansi satu jalur digunakan bilamana hanya sebuah variabel saja yang digunakan untukmengklasifikasikan case-case ke dalam grup-grup yang berbeda, sehingga analisis ini juga sering disebut perancangan dengan sebuah faktor.

Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Semarang 2007

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Modul 4 Lingkungan Fisik Kelompok 1 ext

Keterangan Tabel Anova: 1. Count 2. Sum 3. Average 4. Variance 5. F 6. F crit : jumlah pengamatan yang dilakukan : Jumlah nilai pada suhu panas dan sejuk : Rata-rata nilai yang dihasilkan : Variansi dari nilai hasil pengamatan : F tabel : F Hitung

Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Semarang 2007

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Modul 4 Lingkungan Fisik Kelompok 1 ext

BAB II PENGUMPULAN DATA


Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan pengukuran pada

parameter-parameter lingkungan fisik kerja dengan menggunakan peralatan : 1. Termometer, ruang sebagai pengukur parameter temperature ( celcius) 2. Light meter, sebagai pengukur parameter pencahayaan (luks) 3. Sound level meter, sebagai pengukur parameter kebisingan (desibel) Serta perlengkapan penunjang : Quasa test, Stopwatch, alat tulis, lembar pengamatan. Kondisi lingkungan kerja yang meliputi kombinasi pada : Temperatur Pemakaian Lampu Letak Lampu Kebisingan (mesin amplas) : Sejuk/Panas : 100 Watt x 14 lampu : Depan/Atas/Belakang : Mesin amplas dihidupkan/tidak

Berikut Data Pengamatan Berdasarkan Kondisi Lingkungan Fisik Kerja : 2.1 Pencahayaan normal dan tidak bising Untuk mendapatkan lingkungan kerja yang seperti ini, maka: Diperlukan pencahayaan sebesar 4 x 100 Watt, letak lampu di atas operator Panas : Dengan mematikan air conditioning di dalam ruangan. Data yang diperoleh adalah sebagai berikut :
Tabel 2.1. Pengamatan lingkungan kerja dengan pencahayan normal dan sejuk

Sejuk : Dengan menghidupkan air conditioning di dalam ruangan.

Pengamatan ke1 2 3 4 5 6

Kondisi : pencahayaan normal, tidak bising Sejuk Panas Temperatur ( C ) 26 26 26 26 26 26


o

Score 34 31 35 33 33 32

Temperatur ( C ) 31 31 31 31 31 31

Score 35 35 34 34 34 36

Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Semarang 2007

10

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Modul 4 Lingkungan Fisik Kelompok 1 ext

2. 2 Pencahayaan normal dan sejuk Untuk mendapatkan lingkungan kerja yang seperti ini, maka: Diperlukan pencahayaan menggunakan lampu sebesar 100 Watt x 4 lampu Menghidupkan AC di dalam ruangan Bising : Dengan menyalakan mesin di dalam ruangan ( mesin amplas)

Data yang diperoleh adalah sebagai berikut :


Tabel 2.2 Pengamatan lingkungan kerja dengan pencahayan normal dan sejuk

Pengamatan ke1 2 3 4 5 6

Kondisi : pencahayaan normal, sejuk Bising Tidak Bising Kebisingan ( dB ) Score Kebisingan ( dB ) Score 83.5 33 61.6 34 85.5 34 70.4 31 83.3 35 60.4 35 85.5 35 61.6 33 86.9 35 60.3 33 90.6 35 61.6 32

2.3 Tidak bising dan sejuk Untuk mendapatkan lingkungan kerja yang seperti ini, maka: Menyalakan AC di dalam ruangan Pencahayaan redup Pencahayaan normal Pencahayaan silau : 2 x 100 Watt, letak lampu di belakang operator : 4 x 100 Watt, letak lampu di atas operator : 14 x 100 Watt (semua lampu dinyalakan)

Data yang diperoleh adalah sebagai berikut :


Tabel 2.3 Pengamatan lingkungan kerja dengan Tidak bising dan sejuk

Pengamatan ke1 2 3 4 5 6

Kondisi : tidak bising, sejuk Pencahayaan Pencahayaan redup normal Pencahayaan silau Pencahayaan Pencahayaan Pencahayaan ( luks ) Score ( luks ) Score ( luks ) Score 266 34 399 34 886 24 260 32 400 31 844 5 263 33 406 35 870 30 259 33 427 33 870 31 256 34 420 33 870 35 260 34 433 32 873 34

Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Semarang 2007

11

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Modul 4 Lingkungan Fisik Kelompok 1 ext

2.4 Kondisi : silau, panas dan bising, dan kondisi : normal, sejuk dan tidak bising
Tabel 2.4 Perbandingan nilai berdasarkan perbedaan lingkungan fisik

Pengamatan ke-

Kondisi : silau, panas dan bising Pencahayaan (Luks) 881 877 868 895 864 860 Temperatur 0 ( C) 28 28 29 29 29 30 Kebisingan (db) 81.5 82.5 86.6 83 83.3 83.7 Score 36 33 35 34 35 35

Kondisi : normal, sejuk dan tidak bising Pencahayaan (Luks) 399 400 406 427 420 433 Temperatur 0 ( C) 26 26 26 26 26 26 Kebisingan (db) 61.1 70.4 60.4 61.6 60.3 61.1 Score 34 31 35 33 33 32

1 2 3 4 5 6

Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Semarang 2007

12

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Modul 4 Lingkungan Fisik Kelompok 1 ext

BAB III PENGOLAHAN DATA


Setelah melakukan praktikum Lingkungan Fisik Kerja dalam Perancangan Sistem Kerja, kemudian data yang diperoleh diolah, untuk mengetahui perbandingan waktu kerja operator dalam menyamakan gambar berdasarkan perbedaan pada kondisi : 3.1 Temperatur/suhu ruangan Data yang diperoleh dari hasil praktikum adalah sebagai berikut :
Tabel 3.1 Perbandingan nilai berdasarkan perbedaan temperatur ruangan

Pengamatan ke1 2 3 4 5 6

Kondisi : pencahayaan normal, tidak bising Sejuk Panas Temperatur ( C ) 26 26 26 26 26 26 rata-rata


o

Score 34 31 35 33 33 32 33

Temperatur ( C ) 31 31 31 31 31 31 rata-rata

Score 35 35 34 34 34 36 34,667

Data analisis ANOVA : Parameter temperatur, dengan kondisi pencahayaan normal, tidak bising
Tabel 3.2 Hasil Anova berdasarkan perbedaan temperatur ruangan

Anova: Single Factor SUMMARY Groups Sejuk Panas

Count 6 6

Sum 198 208

Average 33 34.66667

Variance 2 0.666667

ANOVA Source of Variation Between Groups

SS 8.333333

df 1

MS 8.333333

F 6.25

P-value 0.031447

F crit 4.964603

Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Semarang 2007

13

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Modul 4 Lingkungan Fisik Kelompok 1 ext

Within Groups Total 3.2 Kebisingan

13.33333 21.66667

10 11

1.333333

Data yang diperoleh dari praktikum adalah sebagai berikut :


Tabel 3.3 Perbandingan nilai berdasarkan perbedaan tingkat kebisingan

Pengamatan ke1 2 3 4 5 6

Kondisi : pencahayaan normal, sejuk Bising Tidak Bising Kebisingan ( dB ) Score Kebisingan ( dB ) Score 83.5 33 61.6 34 85.5 34 70.4 31 83.3 35 60.4 35 85.5 35 61.6 33 86.9 35 60.3 33 90.6 35 61.6 32 rata-rata 34,5 rata-rata 33

Data analisis ANOVA : Parameter Kebisingan (bising & tidak bising), dengan kondisi pencahayaan normal, sejuk
Tabel 3.4 Hasil Anova berdasarkan perbedaan tingkat kebisingan

Anova: Single Factor SUMMARY Groups Bising Tidak Bising

Count 6 6

Sum 207 198

Average 34.5 33

Variance 0.7 2

ANOVA Source of Variation Between Groups Within Groups Total

SS 6.75 13.5 20.25

df 1 10 11

MS 6.75 1.35

F 5

P-value 0.049332

F crit 4.964603

Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Semarang 2007

14

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Modul 4 Lingkungan Fisik Kelompok 1 ext

3.3 Pencahayaan Dari praktikum yang dilakukan, didapatkan data sebagai berikut :
Tabel 3.5 Perbandingan nilai berdasarkan perbedaan tingkat pencahayaan

Pengamatan ke1 2 3 4 5 6

Kondisi : tidak bising, sejuk Pencahayaan Pencahayaan redup normal Pencahayaan silau Pencahayaan Pencahayaan Pencahayaan ( luks ) Score ( luks ) Score ( luks ) Score 266 34 399 34 886 24 260 32 400 31 844 5 263 33 406 35 870 30 259 33 427 33 870 31 256 34 420 33 870 35 260 34 433 32 873 34 rata-rata 33,333 rata-rata 33 rata-rata 26,5

Data analisis ANOVA : Parameter Pencahayaan (normal,silau, & redup), dengan kondisi tidak bising,sejuk
Tabel 3.6 Hasil Anova berdasarkan cahaya normal dan silau

Anova: Single Factor SUMMARY Groups Pencahayaan redup Pencahayaan normal Pencahayaan silau

Count 6 6 6

Sum 200 198 159

Average 33.33333 33 26.5

Variance 0.666667 2 125.9

ANOVA Source of Variation Between Groups Within Groups Total

SS 178.1111 642.8333 820.9444

df 2 15 17

MS 89.05556 42.85556

F 2.07804

P-value 0.159729

F crit 3.68232

Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Semarang 2007

15

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Modul 4 Lingkungan Fisik Kelompok 1 ext

3.4 Perbedaan Lingkungan Fisik Data yang diperoleh dari praktikum adalah sebagai berikut :

Tabel 3.7 Perbandingan nilai berdasarkan perbedaan lingkungan fisik

Pengamatan ke-

Kondisi : silau, panas dan bising Pencahayaan (Luks) 881 877 868 895 864 860 Temperatur 0 ( C) 28 28 29 29 29 30 rata-rata Kebisingan (db) 81.5 82.5 86.6 83 83.3 83.7 Score 36 33 35 34 35 35 34.667

Kondisi : normal, sejuk dan tidak bising Pencahayaan (Luks) 399 400 406 427 420 433 Temperatur 0 ( C) 26 26 26 26 26 26 rata-rata Kebisingan (db) 61.1 70.4 60.4 61.6 60.3 61.1 Score 34 31 35 33 33 32 33

1 2 3 4 5 6

Data analisis ANOVA : Parameter dengan kondisi pencahayaan normal, tidak bising, sejuk.
Tabel 3.8Hasil Anova berdasarkan perbedaan lingkungan fisik

Anova: Single Factor SUMMARY Groups Kondisi : silau, panas dan bising Kondisi : normal, sejuk dan tidak bising Count 6 6 Sum 208 198 Average 34.66667 33 Variance 1.066667 2

ANOVA Source of Variation Between Groups Within Groups Total

SS 8.333333 15.33333 23.66667

df 1 10 11

MS 8.333333 1.533333

F 5.434783

P-value 0.04196

F crit 4.964603

Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Semarang 2007

16

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Modul 4 Lingkungan Fisik Kelompok 1 ext

BAB IV ANALISA

Pada praktikum Lingkungan Fisik Kerja dalam Perancangan Sistem Kerja, dilakukan analisa menggunakan perbandingan unsur-unsur yang mempengaruhi lingkungan fisik kerja. Yaitu: temperatur, tingkat kebisingan, dan pencahayaan. Berikut analisa perbandingan nilai quasa test yang dilakukan operator dengan pengaturan pada kondisi parameter : 4.1. Temperatur Kondisi lingkungan fisik kerja memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap hasil kerja manusia. Dalam hal ini temperatur merupakan salah satu parameter lingkungan fisik yang mempengaruhi kinerja operator. Temperatur atau suhu dalam ruang kerja, sangat berdampak terhadap kenyamanan aktivitas operator. Kenyamanan aktivitas operator sangat berpengaruh pada produktivitas, bila operator merasa tidak nyaman maka akan menyebabkan produktivitas rendah yang sangat merugikan kinerja suatu sistem. Temperatur ruangan yang terlalu tinggi maupun terlalu rendah, dapat menyebabkan ketidaknyamanan yang berdampak pada perubahan fungsional pada organ yang bersesuaian pada tubuh manusia. Temperatur yang terlalu rendah atau suhu yang dingin akan menyebabkan operator merasa malas untuk bekerja, sehingga akan mengurangi kewaspadaan dan konsentrasi, terutama pada pekerjaan yang memerlukan ketelitian. Namun sebaliknya jika temperatur yang terlalu tinggi atau suhu yang panas, akan menyebabkan pekerja merasa cepat letih, sehingga mengakibatkan meningkatnya kesalahan kerja dan mengurangi kestabilan kerja. Bahkan aktivitas kerja yang seharusnya ringan pada kondisi lingkungan yang nyaman pun akan menjadi berat bila dikerjakan dalam kondisi lingkungan yang panas. Untuk mengetahui dampak yang diakibatkan oleh parameter temperatur, dilakukan penelitian yang membandingkan antara aktivitas kinerja operator saat melakukan quasa test pada temperatur ruangan sejuk dan panas, dengan jumlah pengamatan 6 kali untuk setiap perlakuan, dalam berbagai kondisi lingkungan fisik kerja. Data percobaan berupa nilai akhir quasa test yang diperoleh pada setiap

Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Semarang 2007

17

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Modul 4 Lingkungan Fisik Kelompok 1 ext

percobaan dengan keadaan pada temperatur ruangan sejuk dan panas kemudian dianalisis dengan metode ANOVA. Data yang diperoleh dari hasil penelitian adalah sebagai berikut :
Tabel 4.1. Perbandingan nilai berdasarkan perbedaan temperatur ruangan

Interval Temperatur (oC)

26 33

31 34.667

Berdasarkan data di atas, terlihat bahwa operator memiliki nilai yang tinggi pada temperatur ruangan 31 oC. Hal ini menyimpang dari ketentuan, karena diketahui bahwa temperatur yang nyaman bagi manusia untuk bekerja adalah pada temperatur sekitar 24-27
o

C. Namun justru nilai yang terendah didapat pada

temperatur optimal tersebut. Kejadian tersebut dapat dipengaruhi oleh urutan percobaan. Karena percobaan ini dilakukan pertama kali oleh operator yang masih belum memiliki pengalaman, maka pada percobaan awal dimana operator bekerja pada kondisi optimum belum bisa bekerja secara optimum pula.
Tabel 4.2 Hasil Anova berdasarkan perbedaan temperatur ruangan

Anova: Single Factor SUMMARY Groups Sejuk Panas

Count 6 6

Sum 198 208

Average 33 34.66667

Variance 2 0.666667

ANOVA Source of Variation Between Groups Within Groups Total

SS 8.333333 13.33333 21.66667

df 1 10 11

MS 8.333333 1.333333

F 6.25

P-value 0.031447

F crit 4.964603

Keterangan Tabel Anova: 1. Count 2. Sum 3. Average : jumlah pengamatan yang dilakukan : Jumlah nilai pada suhu panas dan sejuk : Rata-rata nilai yang dihasilkan

Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Semarang 2007

18

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Modul 4 Lingkungan Fisik Kelompok 1 ext

4. Variance 5. F 6. F crit

: Variansi dari nilai hasil pengamatan : F tabel : F Hitung

Analisa Anova : Syarat Ho diterima atau ditolak : 1. Ho= rata-rata nilai pada perbedaan tingkat temperatur adalah sama H 1 = rata-rata nilai pada perbedaan tingkat temperatur adalah tidak sama Ho > H1 > 2

1 2 1 2

Jika F tabel < F hitung , maka Ho diterima Jika F tabel > F hitung, maka Ho ditolak Jika probabilitas (P-value) < Jika probabilitas (P-value) >

, maka Ho ditolak , maka Ho diterima

3.

Ho F tabel > F hitung Ho 6,25 > 4,964603, maka Ho ditolak Ho P-value <

Ho 0,0314 < 0,05, maka Ho ditolak 3 Kesimpulan : Ho ditolak Temperatur berbeda mengakibatkan perbedaan secara signifikan pula. Dari data diatas dapat diketahui untuk analisa perhitungan temperatur/suhu ruangan memiliki F hitung yang lebih kecil daripada F tabel.Kemudian ditarik kesimpulan bahwa Ho ditolak dan terdapat perbedaan antara rata rata temperatur sejuk dan temperatur panas saat operator melakukan quasa test. Hal ini disebabkan oleh proses belajar (learning process) operator. Dalam hal ini operator masih belum berpengalaman dalam melakukan quasa test, sehingga dihasilkan berada saat percobaan pertama. Berdasarkan data pada Tabel 4.1, terlihat bahwa operator memiliki nilai yang tinggi pada temperatur ruangan 31 C. Padahal
o

nilai terendah yang

pada temperatur tersebut

apabila dibandingkan dengan tinjauan pustaka yang ada, akan menyebabkan timbulnya kelelahan fisik yaitu cenderung untuk melakukan kesalahan dalam pekerjaan, aktivitas mental dan daya tanggap mulai menurun. Dapat ditahan sekitar 1 jam, tetapi jauh diatas kemampuan fisik dan mental. Hal ini menyimpang dari ketentuan, karena diketahui bahwa temperatur yang nyaman bagi manusia

Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Semarang 2007

19

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Modul 4 Lingkungan Fisik Kelompok 1 ext

untuk bekerja adalah pada temperatur sekitar 24-27 C. Namun justru nilai yang terendah didapat pada temperatur optimum tersebut. Kejadian tersebut dapat dipengaruhi oleh urutan percobaan. Karena percobaan ini dilakukan pertama kali oleh operator yang masih belum memiliki pengalaman, maka pada percobaan awal dimana operator bekerja pada kondisi optimum belum bisa bekerja secara optimum pula 4.2 Kebisingan Kebisingan adalah bunyi-bunyian yang tidak memberikan kenikmatan pada panca indera pendengaran, dan dapat mengganggu konsentrasi kerja operator, sehingga kecepatan kerjanya dapat mengalami penurunan. Kebisingan juga termasuk dalam parameter lingkungan fisik kerja yang berpengaruh pada kerja melalui alat pendengaran, dan dapat menimbulkan kesalahan kerja dan komunikasi, bila terjadi secara berlanjut, tergantung pada tingkat kebisingan dan reaksi operator pada kebisingan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kebisingan terhadap aktivitas perakitan oleh operator. Praktiku m ini dilakukan dengan menggunakan media bantu, yaitu mesin amplas listrik, dengan kondisi bising dan tidak bising yang dilakukan 6 kali pada setiap kondisi. Data yang diperoleh dari hasil penelitian adalah sebagai berikut :
Tabel 4.3 Perbandingan nilai berdasarkan kebisingan

Kondisi

Tidak bising 34,5

bising 33

Berdasarkan data di atas, terlihat bahwa operator memiliki nilai yang tinggi pada kondisi tidak bising. Hal ini tejadi karena pada kondisi tidak bising, operator dapat bekerja lebih fokus. Sehingga nilai quasa test pada kondisi tidak bising lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi bising.

Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Semarang 2007

20

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Modul 4 Lingkungan Fisik Kelompok 1 ext

Tabel 4.4 Hasil Anova berdasarkan perbedaan tingkat kebisingan

Anova: Single Factor SUMMARY Groups Bising Tidak Bising

Count 6 6

Sum 207 198

Average 34.5 33

Variance 0.7 2

ANOVA Source of Variation Between Groups Within Groups Total

SS 6.75 13.5 20.25

df 1 10 11

MS 6.75 1.35

F 5

P-value 0.049332

F crit 4.964603

Keterangan Tabel Anova: 1. Count : jumlah pengamatan yang dilakukan 2. Sum 3. Average 4. Variance 5. F 6. F crit : Jumlah nilai pada bising dan tidak bising : Rata-rata nilai yang dihasilkan : Variansi dari nilai hasil pengamatan : F tabel : F Hitung

Analisa anova : Syarat Ho diterima atau ditolak : 1. Ho = rata-rata nilai pada perbedaan tingkat kebisingan adalah sama H1 = rata-rata nilai pada perbedaan tingkat kebisingan adalah tidak sama Ho > H1 >

1 2 1 2

2. Jika F tabel < F hitung , maka Ho diterima Jika F tabel > F hitung, maka Ho ditolak Jika probabilitas (P-value) < Jika probabilitas (P-value) > 3. Ho F tabel < F hitung Ho 5 > 4,964603, maka Ho ditolak

, maka Ho ditolak , maka Ho diterima

Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Semarang 2007

21

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Modul 4 Lingkungan Fisik Kelompok 1 ext

Ho P-value >

Ho 0,049332 < 0,05, maka Ho ditolak 4. Kesimpulan : Ho ditolak Dari data diatas dapat diketahui untuk analisa perhitungan berdasarkan kebisingan ruangan memiliki F tabel yang lebih besar daripada F hitung. Kemudian ditarik kesimpulan bahwa Ho ditolak dan terdapat perbedaan antara rata-rata situasi bising dan tidak bising saat operator melakukan quasa test. Berdasarkan data pada tabel 4.3 di atas, terlihat bahwa operator memiliki nilai yang tinggi pada kondisi tidak bising. Hal ini tejadi karena pada kondisi tidak bising, operator dapat bekerja lebih fokus. Sehingga nilai quasa test pada kondisi tidak bising lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi bising. Apabila dibandingkan dengan tinjauan pustaka yang ada, hal ini memanglah sesuai karena pada kondisi yang tenang ( tidak bising ) yaitu pada kondisi antara 1030 dB akan dapat membantu seseorang untuk bekerja lebih produktif dan dapat berkosentrasi lebih baik. Namun, apabila menggunakan mesin amplas yaitu pada kondisi yang menulikan (bising) yaitu pada kondisi antara 100-120 dB akan menyebabkan seseorang terganggu dalam pekerjaannya karena kebisingan yang terjadi secara periodik maupun terus menerus. Misalnya efek psikologis antara lain kegelisahan, keadaan tak berdaya dan pengaruh lain yang merugikan kinerja. 4.3 Pencahayaan Kemampuan mata untuk melihat objek secara jelas antara lain dipengaruhi oleh : ukuran objek, derajat kekontrasan antara objek dengan sekelilingnya, luminansi (brightness), serta durasi untuk melihat objek tersebut. Dalam hal ini, pencahayaan yang merupakan salah satu parameter lingkungan fisik yang dapat berpengaruh terhadap operator dalam bekerja sangat berperan penting, karena pencahayaan yang terlalu terang dapat mengurangi konsentrasi karena operator kesilauan, namun sebaliknya jika pencahayaan kurang, juga dapat menimbulkan kesalahan kerja, akibat kelelahan mata. Jika kondisi tersebut dibiarkan dalam tenggang waktu yang relatif lama dan secara terus menerus, maka dapat menyebabkan kerusakan pada mata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pencahayaan terhadap aktivitas perakitan oleh operator. Penelitian dilakukan dengan menggunakan tiga kondisi pencahayaan yaitu pencahayaan normal (400 Watt) ,pencahayaan redup

Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Semarang 2007

22

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Modul 4 Lingkungan Fisik Kelompok 1 ext

(200 Watt), dan pencahayaan silau (1400 Watt). Data yang diperoleh dari hasil penelitian kemudian dianalisa dengan metode anova. Dari praktikum yang dilakukan, didapatkan data sebagai berikut :
Tabel 4.5 Perbandingan nilai berdasarkan Pencahayaan di dalam ruangan

Nilai Rata-rata

Pencahayaan Normal (400 watt) 33

Pencahayaan Silau (1400 watt) 26.5

Pencahayaan Redup (200 watt) 33.33333

Berdasarkan data hasil praktikum, disimpulkan Cahaya berpengaruh terhadap nilai operator. Pada data hasil penelitian diatas, tingkat pencahayaan yang dapat memberikan hasil terbaik bagi operator adalah tingkat pencahayaan redup, yaitu 400 watt, dengan nilai rata-rata terbesar 33,333. Hal tersebut tidak sesuai dengan teori, karena pada saat melakukan quasa test, operator sangat bergantung pada penglihatan, sehingga apabila tingkat pencahayaan terlalu silau atau terlalu redup, dapat mengurangi kineja dari operator, berupa penurunan score pada quasa test. Tatapi pada saat melakukan percobaan, operator tidak dapat memperoleh nilai tertinggi pada saat kondisi pencahayaan normal, disebabkan oleh faktor pengalaman.
Tabel 4.6 Hasil Anova berdasarkan cahaya normal dan silau

Anova: Single Factor SUMMARY Groups Pencahayaan normal Pencahayaan silau

Count 6 6

Sum 198 159

Average 33 26.5

Variance 2 125.9

ANOVA Source of Variation Between Groups Within Groups Total

SS 126.75 639.5 766.25

df 1 10 11

MS 126.75 63.95

F 1.982017

P-value 0.189497

F crit 4.964603

Keterangan Tabel Anova: 1. Count 2. Sum : jumlah pengamatan yang dilakukan : Jumlah nilai pada silau dan normal

Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Semarang 2007

23

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Modul 4 Lingkungan Fisik Kelompok 1 ext

3. Average 4. Variance 5. F 6. F crit

: Rata-rata nilai yang dihasilkan : Variansi dari nilai hasil pengamatan : F tabel : F Hitung

Analisa anova : Syarat Ho diterima atau ditolak : 1. Ho= rata-rata nilai pada perbedaan tingkat pencahayaan adalah sama H1 = rata-rata nilai pada perbedaan tingkat pencahayaan adalah tidak Ho > H1 > 2. sama

1 2 1 2

Jika F tabel < F hitung , maka Ho diterima Jika F tabel > F hitung, maka Ho ditolak Jika probabilitas (P-value) < Jika probabilitas (P-value) >

, maka Ho ditolak , maka Ho diterima

3.

Ho F tabel < F hitung Ho 1,982017 < 4.964603, maka Ho diterima Ho P-value > Ho 0.189497 > 0,05, maka Ho diterima

4.

Kesimpulan : Ho diterima Nilai dengan faktor lingkungan pencahayaan tidak memiliki perbedaaan yang

signifikan. Dari data diatas dapat diketahui untuk perhitungan analisa pencahayaan memiliki F hitung yang lebih besar daripada F tabel. Sehingga ditarik kesimpulan bahwa Ho diterima dan terdapat kesamaan antara rata rata pencahayaan normal dan pencahayaan redup saat quasa test yang dilakukan oleh operator.

Tabel 4.7 Hasil Anova berdasarkan cahaya normal dan redup

Anova: Single Factor SUMMARY Groups Pencahayaan redup Pencahayaan normal

Count 6 6

Sum 200 198

Average 33.33333 33

Variance 0.666667 2

Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Semarang 2007

24

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Modul 4 Lingkungan Fisik Kelompok 1 ext

ANOVA Source of Variation Between Groups Within Groups Total

SS 0.333333 13.33333 13.66667

df 1 10 11

MS 0.333333 1.333333

F 0.25

P-value 0.627894

F crit 4.964603

Keterangan Tabel Anova: 1. Count 2. Sum 3. Average 4. Variance 5. F 6. F crit : jumlah pengamatan yang dilakukan : Jumlah nilai pada redup dan normal : Rata-rata nilai yang dihasilkan : Variansi dari nilai hasil pengamatan : F tabel : F Hitung

Analisa anova : 1. Ho = rata-rata nilai pada perbedaan tingkat pencahayaan adalah sama H1= rata-rata nilai pada perbedaan tingkat pencahayaan adalah tidak sama Ho > H1 >

1 2 1 2

2. Jika F tabel < F hitung , maka Ho diterima Jika F tabel > F hitung, maka Ho ditolak Jika probabilitas (P-value) < Jika probabilitas (P-value) > 3. Ho F tabel < F hitung Ho 0,25 < 4.964603, maka Ho diterima Ho P-value >

, maka Ho ditolak , maka Ho diterima

Ho 0.627894 > 0,05, maka Ho diterima 4. Kesimpulan : Ho diterima Nilai dengan faktor lingkungan pencahayaan tidak memiliki perbedaaan yang signifikan. Dari data diatas dapat diketahui untuk perhitungan analisa pencahayaan memiliki F hitung yang lebih besar daripada F tabel. Sehingga ditarik kesimpulan bahwa Ho diterima dan terdapat kesamaan antara rata rata pencahayaan normal dan pencahayaan redup saat quasa test yang dilakukan oleh operator.

Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Semarang 2007

25

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Modul 4 Lingkungan Fisik Kelompok 1 ext

Pada data pada tabel 4.5 hasil praktikum diatas, tingkat pencahayaan yang dapat memberikan hasil terbaik bagi operator adalah tingkat pencahayaan redup, yaitu 400 watt, dengan nilai rata-rata terbesar 33,333. padahal apabila dibandingkan dengan tinjauan pustaka yang ada, hal ini adalah menyimpang dari yang seharusnya. Quasa test merupakan jenis pekerjaan yang masuk jenis pekerjaan sedang, yaitu pekerjaan yang membedakan barang kecil dilakukan agak teliti yang mana intensitas penerangan yang seharusnya adalah berkisar antara 200-500 luks. Sedangkan hasil praktikum yang ada telah menyatakan nilai tertinggi pada pencahayaan redup yaitu berkisar antara 100-200 luks yang mana intensitas penerangan ini adalah untuk jenis pekerjaan yang kasar, hal ini disebabkan oleh faktor pengalaman. 4.4 Perbedaan Lingkungan Fisik(Perbedaan Temperatur, Pencahayaan, Kebisingan) Kemampuan manusia akan sangat optimal dalam melakukan suatu pekerjaan apabila berada pada kondisi yang nyaman dengan temperatur berkisar antara (24-27 C) dan kebisingan yang normal (10-30 db) Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pencahayaan, temperature dan kebisingan terhadap aktivitas operator dalam melakukan suatu pekerjaan. Data yang diperoleh dari hasil penelitian kemudian dianalisa dengan metode anova. Dari praktikum yang dilakukan, didapatkan data sebagai berikut :
Tabel 4.8 Perbandingan nilai berdasarkan perbedaan lingkungan fisik
o

Pengamatan ke-

Kondisi : silau, panas dan bising Pencahayaan (Luks) 881 877 868 895 864 860 Temperatur 0 ( C) 28 28 29 29 29 30 rata-rata Kebisingan (db) 81.5 82.5 86.6 83 83.3 83.7 Score 36 33 35 34 35 35 34.667

Kondisi : normal, sejuk dan tidak bising Pencahayaan (Luks) 399 400 406 427 420 433 Temperatur 0 ( C) 26 26 26 26 26 26 rata-rata Kebisingan (db) 61.1 70.4 60.4 61.6 60.3 61.1 Score 34 31 35 33 33 32 33

1 2 3 4 5 6

Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Semarang 2007

26

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Modul 4 Lingkungan Fisik Kelompok 1 ext

Tabel 4.9 Hasil anova berdasarkan perbedaan lingkungan fisik

Anova: Single Factor SUMMARY Groups Kondisi : silau, panas dan bising Kondisi : normal, sejuk dan tidak bising Count 6 6 Sum 208 198 Average 34.66667 33 Variance 1.066667 2

ANOVA Source of Variation Between Groups Within Groups Total Keterangan Tabel Anova: 1. Count 2. Sum 3. Average 4. Variance 5. F 6. F crit : jumlah pengamatan yang dilakukan : Jumlah nilai pada redup dan normal : Rata-rata nilai yang dihasilkan : Variansi dari nilai hasil pengamatan : F tabel : F Hitung SS 8.333333 15.33333 23.66667 df 1 10 11 MS 8.333333 1.533333 F 5.434783 P-value 0.04196 F crit 4.964603

Analisa anova : 1. Ho = rata-rata nilai pada perbedaan tingkat pencahayaan adalah sama H1= rata-rata nilai pada perbedaan tingkat pencahayaan adalah tidak sama Ho > H1 >

1 2 1 2

2. Jika F tabel < F hitung , maka Ho diterima Jika F tabel > F hitung, maka Ho ditolak Jika probabilitas (P-value) < Jika probabilitas (P-value) > 3. Ho F tabel > F hitung Ho 5.434783 > 4.964603, maka Ho ditolak

, maka Ho ditolak , maka Ho diterima

Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Semarang 2007

27

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Modul 4 Lingkungan Fisik Kelompok 1 ext

Ho P-value <

Ho 0.04196 < 0,05, maka Ho ditolak Berdasarkan data hasil dari penilitian dapat disimpulkan bahwa

pencahayaan, temperature dan kebisingan berpengaruh secara signifikan terhadap waktu kerja operator dan pada data hasil penelitian diatas dapat dilihat bahwa nilai kerja operator lebih besar apabila ia berada dalam ruangan yang silau, panas dan bising yaitu dengan nilai kerja rata-rata 34,667 dibandingkan dengan bila operator bekerja dalam ruangan yang normal, sejuk dan tidak bising dengan nilai kerja rata rata 33. Hal ini menyimpang dari yang seharusnya karena disebabkan oleh proses belajar (learning process) operator, dalam hal ini operator belum berpengalaman dalam melakukan pekerjaan. Studi empiris menunjukkan adanya kemampuan yang luar biasa pada diri manusia untuk meningkatkan produktivitas kerja dengan cara praktek. Dalam proses belajar, semakin sering operator melakukan latihan (praktek), maka tingkat penguasaan terhadap pekerjaan akan semakin tinggi sehingga dapat meningkatkan produktivitas kerja. Oleh karena operator bekerja pada kondisi panas dan silau di urutan terakhir maka operator merasa lebih berpengalaman dan maka itu pula nilai yang didapat operator lebih tinggi.

Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Semarang 2007

28

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Modul 4 Lingkungan Fisik Kelompok 1 ext

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan Kemampuan seorang operator atau pekerja sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu : 1. Faktor dari dalam (Intern) : Merupakan faktor yang berasal dari dalam diri operator tersebut. Misalnya seperti kondisi psikologis dari operator itu sendiri. 2. Faktor dari luar (ekstern) : Merupakan faktor yang berasal dari kondisi lingkungan fisik kerja, antara lain: Temperatur Temperatur yang nyaman untuk bekerja menurut hasil praktikum adalah pada temperatur ruangan 27 C. Hal ini dapat menghasilkan data yang berbeda tergantung dari jenis pekerjaan dan individu yang melakukannya. Dari praktikum yang kami lakukan didapat nilai F sebesar 6,25, dengan Fcrit sebesar 4,964603. Dan nilai P sebesar 0,031447. Maka H 0 ditolak, karena F tabel > F hitung dan probabilitas disimpulkan operator. Berdasarkan hasil praktikum, rata-rata waktu kerja operator paling cepat berada pada temperatur sejuk. Yaitu pada suhu 260C. Karena pada suhu tersebut, operator dapat bekerja secara nyaman, sehingga kinerjanya optimum. Kebisingan (Noise) Berdasarkan hasil praktikum, dapat disimpulkan bahwa sebaiknya ruang kerja seharusnya dijaga agar tidak bising dengan membuat ruangan menjadi kedap suara, agar ketenangan kerja dan konsentrasi operator tidak terganggu. Dari praktikum yang kami lakukan didapat nilai F sebesar 5, dengan Fcrit sebesar 4,964603. Dan nilai P sebesar 0,049332, nilai tersebut diperoleh karena quasa test yang dilakukan masih belum bisa dikuasai oleh operator, maka H 0 masih ditolak, karena F tabel > F hitung dan probabilitas (P-value) < . Berarti data masih belum (P-value) <
o

. Berarti data tidak seragam, sehingga dapat

bahwa pada praktikum ini suhu berpengaruh terhadap kinerja

Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Semarang 2007

29

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Modul 4 Lingkungan Fisik Kelompok 1 ext

seragam, sehingga dapat disimpulkan bahwa pada praktikum ini kebisingan juga berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja operator. Pencahayaan (Light) Dalam ruang kerja seharusnya banyaknya lampu disesuaikan dengan luas ruangan agar ruangan kerja nantinya tidak terlalu gelap dan juga tidak terlalu terang. Dari percobaan, didapatkan bahwa operator memiliki nilai tinggi pada pencahayaan dengan daya 200 Watt. Dari praktikum yang kami lakukan berdasarkan lingkungn kerja dengan perbedaan cahaya normal dan silau didapat nilai F sebesar 1,982017, dengan Fcrit sebesar 4.964603. Dan nilai P sebesar 0,189497. Maka H0 diterima, karena F tabel < F hitung dan probabilitas (P-value) >

. Berarti data seragam, sehingga dapat disimpulkan bahwa pada praktikum ini
dengan perbedaan cahaya normal dan redup didapat nilai F sebesar

pencahayaan tidak terlalu berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja operator. Sedangkan 0,25, dengan Fcrit sebesar 4.964603. Dan nilai P sebesar 0.627894. Maka H 0 diterima, karena F tabel < F hitung dan probabilitas (P-value) > . Berarti data seragam, sehingga dapat disimpulkan bahwa pada praktikum ini pencahayaan normal ataupun redup tidak terlalu berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja operator. Dari perhitungan sebelumnya, tampak bahwa kerja operator paling efektif bila dilakukan pada penerangan redup, yaitu menggunakan lampu dengan daya 200 Watt, diletakkan dibelakang operator.

5.2 Saran Dari praktikum yang telah ditempuh, praktikan dapat memberikan saran sebagai berikut: 1. Sebaiknya alat-alat pengukuran diperiksa terlebih dahulu sebelum praktikum, agar pengukuran lebih akurat. 2. Sebaikya sebelum melakukan praktikum, praktikan benar-benar mempersiapkan diri terlebih dahulu, seperti makan atau hal-hal lain yang harus dilakukan dan mempersiapkan kondisi tubuh yang fit supaya praktikan dapat berkonsentrasi semaksimal mungkin. 3. Operator yang bekerja sebaiknya berlatih terlebih dahulu, agar nilai yang dihasilkan benar-benar sesuai dengan teori.

Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Semarang 2007

30

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Modul 4 Lingkungan Fisik Kelompok 1 ext

4. Saat membaca output alat pengukuran, agar lebih diperhatikan ketelitian angkanya. Supaya data menjadi lebih valid. 5. Saat praktikum, agar praktikan lebih serius. Supaya praktikum berjalan sesuai prosedurnya.

Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Semarang 2007

31