Anda di halaman 1dari 7

Ketika baju seseorang kotor, apakah dia harus mengeluarkan uang untuk menjadikan baju bersih kembali atau

justru menerima uang ? Lazimnya sih dia harus mengeluarkan uang , entah untuk membeli sabun colek, deterjen, pewangi atau untuk membayar jasa cuci kiloan bahkan binatu/laundry. Analogi baju kotor ini bisa menjadi pembanding ketika seseorang harus membersihkan rumahnya dari kotoran dan sampah, dia mengeluarkan biaya entah untuk membeli sapu, tempat sampah, kain pel, dan cairan pembersih lantai . Anehnya paradigma ini ingin diubah dengan dikampanyekannya Bank Sampah. Seolah-olah proses membersihkan sampah (membuang), bisa digantikan dengan menabung di bank Sampah. Mungkin tujuan Bank sampah adalah mengiming-imingi warga agar mau memilah sampah sehingga lingkungannya bersih. Tetapi menetapkan tujuan hendaknya jangan bersifat pragmatis tapi keadaan yang ideal untuk jangka panjang. Selain itu pertimbangkan juga efisiensi dan efektifitasnya. Sebelum perdebatan baik buruknya Bank Sampah, ada baiknya kita ketahui apa sih Bank Sampah ? Penggagasnya adalah Bapak Bambang Suwerda, beliau mendirikan Bank Sampah Gemah Ripah di dusun Badegan, Kelurahan Bantul, Kecamatan Bantul DIY. Secara temporer warga menyetorkan berbagai macam sampah yang dicatat sukarelawansukarelawan dalam sebuah buku Tabungan Bank Sampah. Setelah terkumpul beberapa lama, dananya baru bisa dicairkan dengan alasan apabila langsung diuangkan, jumlahnya terlalu kecil. Sekilas ide ini brilian, sehingga banyak daerah ingin mereplikasikannya. Bahkan beberapa program lingkungan hidup di beberapa kota besar sudah melaksanakan dengan cara memberi materi tentang Bank Sampah dalam pelatihan pengelolaan sampah. Mereka menafikan bahwa : Setiap daerah mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing, sebagai contoh program serupa jelas tidak dapat diterapkan di perumahan yang mayoritas penduduknya kaum urban yang sibuk. Bahkan para pembantu rumah tanggapun sibuk sehingga suasana guyub

yang melahirkan sukarelawan-sukarelawan jelas jauh dari impian. Menurut mereka, repot amat dan gak perlu banget catat mencatat seperti itu, panggil aja tukang rongsokan yang lewat setiap jam didepan rumah, yang siap memberi layanan memilah , mengikat, menimbang dan berakhir dengan pembayaran cepat dan ..selesai !! Perlu digaris bawahi perumahan urban semacam diatas lebih banyak memproduksi sampah anorganik daripada sampah organik. Pelaksanaan program Bank Sampah didaerah pak Bambang Suwerdapun belum berjalan mulus, penyetornya kebanyakan anak-anak yang datang sesudah pengeras suara mengumumkan tentang acara pelaksanaan penyetoran sampah hari itu. Hal tersebut dimungkinkan karena warga masih enggan memisah sampah , bisa dibayangkan apabila pak Bambang Suwerda pindah dari desa Badegan, program Bank Sampah mungkin akan terhenti. Program Bank Sampah bertolak belakang dengan pemahaman lingkungan hidup yang berkelanjutan dimana idealnya adalah zero waste atau tidak ada sampah yang dibuang dari setiap rumah tangga karena mereka wajib mengelolanya. Dan jalan menuju kesana adalah minimalisir sampah. Coba kita runut apa saja sih isi sampah dan sejauh mana kita bisa mengelolanya. Paling banyak pastinya adalah sampah sisa makanan dan sampah dapur, dengan mudah kita bisa mengkomposnya atau memasukkannya ke lubang biopori. Sampah kaleng, plastik, botol dan kertas bisa langsung diberikan ke pemulung atau dijual ke tukang rongsokan. Khusus kantung plastik sebaiknya dihindari karena pemulungpun ogah menerima. Cara terbaik adalah selalu membawa tas reuseable untuk belanja. Jadi dengan sedikit niat untuk memperbaiki lingkungan sebetulnya kita bisa meminimalisir sampah tanpa perlu mendirikan Bank Sampah. Tenaga dan waktu para sukarelawan yang mengumpulkan, menimbang dan mencatat sampah sebetulnya kontraproduktif karena banyak tenaga pemulung dan tukang rongsokan yang bisa mengerjakannya. Jadi mengapa harus rebutan lahan dengan mereka ? Dari beberapa uraian diatas, bisa disimpulkan bahwa Bank Sampah mungkin sukses di desa Badegan, tetapi tidak dapat dengan mudah diaplikasikan di daerah lain mengingat kompleksnya masalah di setiap daerah. Untuk tujuan jangka panjang, ide pembentukan Bank Sampah jelas bertentangan dengan paham lingkungan hidup yang berkelanjutan. Setiap sisa produk yang dikonsumsi harus mudah

direcycle sehingga produksi sampah rumah tangga bisa diminimalisir. Dan hal tersebut tidak mungkin terlaksana apabila kita tidak memulainya dari sekarang ! Ada satu kisah yang menyesakkan dada ketika saya mengikuti rombongan bapak Camat dan jajarannya inspeksi ke suatu RW (Rukun Warga) karena RW tersebut termasuk peserta lomba program Lingkungan Hidup. Dengan menggebu-gebu pak RW dan tim PKK bercerita tentang kesuksesan daerah mereka mengelola Bank Sampah. Menurut laporan mereka hasil pemilahan dan penjualan sampah bulan lalu mencapai angka dua juta rupiah lebih, sungguh angka yang fantastis. Karena penasaran saya bertanya : Apa saja yang dipilah dan dijual bu ? Karena setahu saya orang masih sulit sulit memilah sampah, apalagi menjualnya Oh, warga disini sudah sadar untuk memilah sampah , bu. Sampah plastik ada yang membeli ? Bagaimana sampah dapur dan sisa makanan ? Oh sampah plastik terjual semua sedangkan sampah organik ditampung oleh pasar. Sekedar ditampung atau dibeli ? Dibeli bu Hmm, sayapun manggut-manggut heran. Karena apabila warga di daerah ini sudah mampu memilah dan mendirikan Bank Sampah yang sukses, jelas ini suatu prestasi besar. Untunglah bukan kebiasaan saya untuk selalu mengikuti rombongan pejabat. Di suatu pengkolantidak jauh dari tempat pak Camat berbincang-bincang dengan bawahannya, saya melihat tukang sampah lengkap dengan gerobag sampahnya. Loh ! isi gerobag sampahnya kok sama saja dengan daerah lain yang belum memilah sampahnya. Waktunya ambil sampah, mang ? Iya neng, seminggu dua kali.

Kok sampah dari rumah bercampur begini mang, belum dipilah-pilah ? Ya belum atuh neng, mang ajah yang misah-misahin, ada kaleng, bekas air mineral,kardus. Oh, hasilnya dijual ama emang ? Iya, kadang dapat Rp. 20.000, kadang Cuma Rp. 10.000,00, lumayanlah. Sampah dapurnya juga dijual, mang ? Ah si eneng, ya ngga atuh, siapa yang mau ? Sampah dapur ama sampah plastik begini gak ada yang mau beli neng, jadi dibuang aja ama emang. (Sampah plastik yang dimaksud tukang sampah adalah plastik bekas kemasan yang penuh dengan tulisan dan warna) Ah, bapak RW..ah, ibu PKK, hari gini masih ABS

Setiap pukul 16.00, antrean nasabah bank sampah biasanya sudah panjang. Mereka bukannya menanti giliran menyetor uang seperti di bank pada umumnya, melainkan sampah yang mereka kumpulkan selama dua hari. Meski yang disetorkan wujudnya tidak sama, pengelolaan bank sampah mirip dengan bank pada umumnya. Setiap nasabah datang dengan tiga kantong sampah berbeda. Kantong I berisi sampah plastik, kantong II sampah kertas, dan kantong III berupa kaleng dan botol. Ketika menimbang sampah, nasabah akan mendapat bukti setoran dari petugas teller. Bukti setoran itu menjadi dasar penghitungan nilai rupiah sampah, yang kemudian dicatat dalam buku tabungan. Untuk membedakan, warna buku tabungan tiap RT dibuat berbeda. Setelah sampah terkumpul banyak, petugas bank menghubungi tukang rosok. Tukang rosok memberi nilai ekonomi tiap kantong sampah milik nasabah. Catatan nilai rupiah itu lalu dicocokkan dengan bukti setoran dan kemudian dibukukan. Harga sampah bervariasi bergantung pada klasifikasinya. Kertas karton dihargai Rp 2.000 per kg, kertas arsip Rp 1.500 per kg. Sedangkan plastik, botol, dan kaleng harganya menyesuaikan ukuran. Tiap nasabah memiliki karung ukuran besar, yang tersimpan di bank untuk menyimpan seluruh sampah yang mereka tabung. Tiap karung diberi nama dan nomor rekening tiap nasabah. Tujuannya agar setiap tukang rongsok datang, petugas bank tidak kebingungan memilah tabungan sampah tiap nasabah. Karung- karung sampah itu tersimpan rapi di gudang bank. Gemah Ripah Bank Sampah Gemah Ripah, didirikan masyarakat Dusun Bandegan, Bantul, DI Yogyakarta, tiga bulan lalu. Kini jumlah nasabahnya 41 orang dari 12 RT di dusun tersebut. Pada tahap awal mereka masih membatasi diri untuk warga satu dusun, tetapi bila sudah memungkinkan nasabah tidak akan dibatasi asalnya. Tidak semua sampah disetor ke tukang rosok. Sebagian di antaranya, yakni jenis plastik sachet dan gabus, diolah sendiri oleh bank sampah. Plastik sachet kami hargai Rp 15 per sachet, sementara gabus bergantung pada ukuran, ujar Ismiyati, koordinator daur ulang sampah. Plastik-plastik itu lalu diolah untuk membuat aneka aksesori rumah tangga, seperti tas, dompet, hingga rompi. Barang-barang tersebut dijual dengan harga Rp 20.000-Rp 35.000. Beberapa pembeli asing minta dikirim contoh barang. Kalau mereka setuju, pesanan yang kami terima akan menumpuk. Karenanya, stok bahan baku harus banyak. Kami sudah meminta warga untuk lebih aktif menabung sampah, katanya. Sampah jenis gabus biasanya dibuat menjadi pot bunga, tempat dudukan bendera, atau perlengkapan rumah tangga lainnya. Gabus-gabus itu dicampur dengan pasir dan semen. Produksi dari bahan gabus pesananannya masih lokal saja, kata Ismiyanti

Menurut Panut Susanto, ketua pengelola bank sampah, sampah yang terkumpul tiap minggu mencapai 60-70 kg. Untuk sementara jam layanan bank dimulai pukul 16.00-21.00 tiap hari Senin-Rabu-Jumat. Kami baru bisa melayani pada sore hari karena sebagian besar petugas bank harus bekerja pada pagi hari, katanya. Belum maksimalnya kinerja petugas karena mereka mengelola bank sampah tanpa dibayar. Artinya, mereka harus tetap bekerja untuk membiayai kehidupan keseharian. Apa yang kami kerjakan sifatnya masih sosial. Jadi, kami memang tidak mengharapkan upah karena kondisi bank belum maksimal, katanya. Bank sampah memotong dana 15 persen dari nilai sampah yang disetor nasabah. Dana itu digunakan untuk membiayai kegiatan operasional, seperti fotokopi, pembuatan buku tabungan, dan biaya lainnya. Selama ini tidak ada nasabah yang keberatan. Kami harus melakukan pemotongan karena bank ini memang dikelola bersama-sama, katanya. Berbeda dengan bank tempat nasabah bisa mengambil dana setiap saat, di bank sampah nasabah hanya bisa menarik dana setiap tiga bulan sekali. Tujuannya agar dana yang terkumpul bisa lebih banyak sehingga uang tersebut dimanfaatkan sebagai modal kerja atau keperluan yang bersifat produktif. Kalau dibebaskan, mereka bisa konsumtif. Baru terkumpul Rp 20.000-Rp 30.000 sudah tergiur untuk mengambil. Karena hanya tiga bulan sekali, mereka bisa menarik dana sampai Rp 100.000-Rp 200.000 bergantung pada banyaknya sampah yang ditabung, kata Bambang Suwirda, penggagas bank sampah. Tersimpan Menurut Bambang, dana kelolaan yang saat ini tersimpan tinggal Rp 500.000. Sebagian besar nasabah sudah mengambil saat Lebaran lalu. Untuk sementara, dana nasabah disimpan sendiri oleh pengelola bank. Ke depan, pengelola akan menjalin kerja sama dengan Bank Bantul untuk menyimpan dana nasabah. Para pengelola bank juga bertekad memperluas operasional bank agar tidak terbatas pada penyimpanan, tetapi juga peminjaman. Dalam konsep bank sampah, barang jaminan mungkin berupa sampah juga, katanya. Fokus sampah yang dikumpulkan saat ini masih sebatas sampah anorganik. Ke depan, sampah organik juga akan diterima, yang selanjutnya diolah menjadi pupuk kompos. Bagi para nasabah, keberadaan bank sangat membantu. Mereka bisa mendapat penghasilan tambahan sekaligus kebersihan lingkungan sekitar terjaga. Lumayanlah tiap bulan ada pemasukan tambahan. Hitung-hitung buat nambah dana belanja dapur, kata Sutiyani, warga setempat.

Bila gerakan bank sampah bisa meluas ke berbagai desa, masalah sampah bisa tertangani. Tak hanya itu, perekonomian masyarakat juga ikut membaik sehingga angka kemiskinan bisa ditekan. Di Bantul, produksi sampah per hari mencapai 614 meter kubik. Sayangnya, pemerintah daerah setempat belum berpikiran ke arah itu.

Read more: http://desxripsi.blogspot.com/2012/06/gerakan-bank-sampah-daribantul.html#ixzz22GfzBqz1