Anda di halaman 1dari 24

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian

ISSN 2088-3153

TINJAUAN EKONOMI DAN KEUANGAN


Volume 2 Nomor 7 Juli 2012

Redaksi menerima tulisan/artikel dan saran/kritik yang ditujukan kepada:

Redaksi Tinjauan Ekonomi dan Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Gedung Sjafruddin Prawiranegara (d.h. Gd. PAIK II) Lantai 4 Jalan Lapangan Banteng Timur No. 2-4 Jakarta, 10710 Telepon. 021-3521843, Fax. 021-3521836 Email : tinjauan.ekon@gmail.com
Tinjauan Ekonomi dan Keuangan dapat didownload pada website www.ekon.go.id

ISSN 2088-3153 ISSN 2088-3153 ISSN 2088-3153

TINJAUAN EKONOMI DAN KEUANGAN


KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN
VOLUME 2 NOMOR 7 JULI 2012

REDAKSI Pembina
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian

DAFTAR ISI
Editorial Rubrik Agenda Koordinasi Workshop / Sosialisasi Perluasan Kredit Usaha Rakyat di Gorontalo dan Maluku Utara Rubrik Ekonomi Makro Inflasi Juni 2012 Koinsiden Bertemunya 3 Faktor Pendorong: Musim Kemarau, Ramadhan dan Ajaran Baru Neraca Perdagangan Mei 2012 Masih Defisit Penduduk Miskin Berkurang 890.000 orang dalam 1 tahun Terakhir Rubrik Ekonomi Internasional Prospek Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2012 di Mata Bank Dunia China-Indonesia dalam review IMF Rubrik Keuangan Siaran Pers: Seminar Nasional Asuransi TKI Program Financial Inclusion di Indonesia Rubrik APBN Pelaksanaan APBN Semester I-2012 Rubrik Kebijakan dan Regulasi Ekonomi Undang-Undang No. 6/2012: Tonggak Perlindungan Pekerja Migran Rubrik Utama Kebijakan dan Tantangan Asuran TKI Dana Kesejahteraan Pekerja Migran: Pengalaman Filiphina, Pakistan dan Srilanka OWWA: Organisasi Peduli Kesejahteraan Pekerja Migran Filiphina Program Penempatan dan Perlindungan TKI di Luar Negeri Edukasi Keuangan Bagi TKI di Singkawang Rubrik Ekonomi Daerah Pentingnya Terminal Agrobisnis Rubrik Penyaluran KUR Realisasi Penyaluran KUR Juni 2012 1

Pengarah
Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Deputi Ekonomi Makro dan Keuangan

4 5 6

Koordinator
Bobby H. Rafinus

Kontributor Tetap
Edi Prio Pambudi M. Edy Yusuf Mamay Sukaesih Tri Kurnia Ayu Rista Amallia Windy Pradipta Alexcius Winang Komite Kebijakan KUR

7 8 9 10

12

Kontributor Edisi Ini


Djoko Waluyo Gede Edy Prasetya Tim Pemantauan dan Pengendalian Inflasi

13

14 14 15 16 18

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan dapat didownload pada website www.ekon.go.id

Redaksi menerima tulisan/artikel dan saran/kritik yang ditujukan ke email: tinjauan.ekon@gmail.com

19

20

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan diterbitkan dalam rangka meningkatkan pemahaman pimpinan daerah terhadap perkembangan indikator ekonomi makro dan APBN, sebagai salah satu Direktif Presiden pada retreat di Bogor, Agustus 2010

EDITORIAL
Peran sektor jasa-jasa (services) semakin besar dalam perekonomian Indonesia. Dalam periode krisis ekonomi global, pertumbuhan ekonomi Indonesia ditopang oleh kinerja sektor ini. Pertumbuhan sektor jasa-jasa dipengaruhi pesatnya perkembangan masyarakat kelas menengah dan permintaan global. Kedua faktor ini mendorong pengembangan jasa pariwisata, transportasi, dan perdagangan. Kebutuhan tenaga kerja di sektorsektor tersebut meningkat pesat demikian pula yang terkait dengan ekspor, seperti perkapalan dan jasa keuangan. Pengiriman tenaga kerja Indonesia (TKI) ke luar negerinya yang mencapai sekitar 600 ribu setiap tahunnya juga memastikan besarnya peran sektor jasa. Demikian beberapa kesimpulan dari studi Trade and Employment in Services : The Case of Indonesia (ILO, 2012) oleh Chris Manning and Haryo Aswicahyono. Studi mengupas tentang ketenagakerjaan di sektor jasa yang menunjukkan semakin pentingnya faktor people to people connectivity , migrasi tenaga kerja Indikator Ekonomi
Indikator
Inflasi (% yoy) Indeks Harga Saham Gabungan Harga Minyak ICP (USD per barel) Indeks Harga Perdagangan Besar Cadangan Devisa* (USD milyar) Nilai Tukar Petani Nilai Tukar (Rp/USD) Pertumbuhan Ekonomi Tw.1-2012 (%) Tingkat Pengangguran (Feb. 2012) (%) *kumulatif, NPI : Neraca Pembayaran Indonesia

antar-negara pada sektor tersebut di masa mendatang. Dalam upaya mendorong ekspor, kualitas tenaga kerja di sektor yang terkait berkontribusi penting terhadap peningkatan daya saing dan produktivitas. Keterbatasan kesediaan tenaga ahli tertentu perlu menjadi prioritas pengadaannya melalui kegiatan pendidikan dan pelatihan. Jika belum tersedia, maka perlu dibuka kesempatan lebih luas bagi tenaga ahli asing bekerja di Indonesia yang diatur melalui kesepakatan regional dan multilateral.

Berbagai kebijakan dikeluarkan selama enam tahun terakhir. Dari mulai pembentukan BNP2TKI hingga bantuan hukum kepada TKI bermasalah di luar negeri dan pengembangan registrasi calon TKI secara on-line system di seluruh pemerintah daerah wilayah asal calon TKI. Hal ini menunjukkan permasalahan TKI perlu diselesaikan bertahap dari hulu hingga ke hilir.

Upaya lain yang sedang ditempuh adalah mengembangkan skema pembiayaan kredit, asuransi, dan remitansi untuk pekerja migran. Dalam hal pembiayaan kredit, telah Selain itu juga masalah masih diluncurkan Kredit Usaha Rakyat bagi besarnya jumlah TKI yang TKI untuk meringankan biaya berketrampilan rendah. Indonesia disarankan mempelopori peningkatan penempatan TKI. Langkah pemberian kredit ini memerlukan pembangunan perlindungan terhadap tenaga kerja infrastruktur penyaluran dan asing berketrampilan rendah di pembayaran kembali pinjaman yang kawasan regional ASEAN plus tertib dan akuntabel. Dari mulai Hongkong , Taiwan, dan Jepang. penyiapan calon debitur hingga Untuk itu disarankan perlunya inisiatif menyusun ketentuan hak-hak pengembangan jejaring kerjasama pekerja rumah tangga di dalam negeri antar-lembaga di dalam negeri dan luar negeri. Upaya perluasan akses maupun luar negeri. pelayanan keuangan (financial Saran studi ini telah dilaksanakan inclusion) tersebut akan berhasil beberapa tahun yang lalu dengan apabila tata kelola penempatan dan diterbitkannya Inpres 6 tahun 2006 perlindungan TKI berlangsung baik tentang Kebijakan Reformasi Sistem hingga tingkat kabupaten/kota. Penempatan dan Perlindungan Semoga. (Bobby H. Rafinus) Tenaga Kerja Indonesia.
Mei 2012
4,45% 3.832,82 113,76 189,72 115,53 104,77 9.312 Ekspor (USD miliar) Impor (USD miliar) Wisatawan Mancanegara (ribu orang) Suku Bunga Kredit Modal Kerja Bank (%) Belanja Negara APBN-P 2012 (Rp. Tr)* Pendapatan Negara APBN-P 2012 (Rp. Tr)* Tingkat Kemiskinan (Maret, 2012) (%) Neraca Keseluruhan NPI Tw I-2012 (USD miliar)

Juni 2012
4,53% 3.955, 58 99,08 190,22 106,5 104,88 9.480 6,30 6,32

Indikator
Utang Pemerintah* (USD milyar)

Mei 2012
203,26 16,7 17,2 650,9 11,78

Apr 2012
207,10 16,2 16,9 626,1 11,86

1.548,3 1.358,2 11,96% -1,03

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan I Juli 2012

Rubrik Agenda Koordinasi

Workshop/Sosialisasi Perluasan Kredit Usaha Rakyat di Gorontalo dan Maluku Utara


Tim Pelaksana Komite Kebijakan Kredit Usaha Rakyat (KUR) telah melakukan Workshop/Sosialisasi Perluasan KUR di Gorontalo, Provinsi Gorontalo pada tanggal 14 Juni 2012 dan di Ternate, Provinsi Maluku Utara pada tanggal 26 Juni 2012. Sosialisasi tersebut dilaksanakan atas kerjasama Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dengan Kantor Bank Indonesia Pusat/Daerah dan Pemerintah Daerah setempat. Sesuai dengan Instruksi Presiden No.3 Tahun 2010 tentang Program Pembangunan yang Berkeadilan telah diamanatkan agar Pemerintah Daerah (Provinsi) lebih berperan dalam perluasan penyaluran KUR terutama untuk sektor pertanian, perikanan & kelautan, kehutanan dan industri kecil. Oleh karena itu, pada acara Sosialisasi tersebut Pemerintah Daerah lebih aktif dan menjadi salah satu yang menyampaikan paparan. Peserta Sosialisasi antara lain wakilwakil dari Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD) Provinsi, SKPD Kabupaten/Kota, Bank Pelaksana, Perusahaan Penjamin, Kadinda, Asosiasi/Kelompok Usaha Mikro dan Kecil (UMK) dan para UMK debitur KUR dan calon debitur. Workshop/Sosialisasi di Gorontalo Penyaluran KUR di Provinsi Gorontalo sejak tahun 2007 sampai dengan April 2012 sebesar Rp 426 milyar dengan jumlah debitur sebanyak 44.649. 2 Sedangkan untuk periode Januari April 2012 KUR yang sudah tersalurkan sebesar Rp 41,9 milyar dengan jumlah debitur sebanyak 3.169. Sektor hulu yaitu pertanian, peternakan dan perikanan darat, industri kecil cukup potensi untuk dikembangkan di Gorontalo dan program KUR dapat menjadi salah satu sumber pembiayaan untuk pengembangan sektor hulu tersebut. Kerjasama Pemerintah Daerah dan Kantor Perwakilan Bank Indonesia telah berjalan dengan baik terutama dalam pengembangan UMK yang salah satunya pengembangan kain Trawang khas Gorontalo. BI Gorontalo juga akan turut mendukung pengembangan perikanan darat. Tim Pemantauan, Monitoring dan Evaluasi Penyaluran KUR yang telah dibentuk Pemerintah Provinsi merupakan salah satu forum para pihak untuk membahas perkembangan penyaluran KUR. Dalam rangka peningkatan intermediasi perbankan kepada sektor UMK, BI telah menyediakan informasi dan melakukan kajian yang antara lain adalah kajian mengenai Lending Model komoditi. Saat ini telah tersedia 118 lending model : 12 judul tanaman perkebunan, 16 judul tanaman pangan/hortikultura, 11 judul peternakan, 30 judul apat dipeternakan, 43 judul industri dan kerajinan, 4 judul sektor perdagangan dan 2 judul sektor jasajasa. Informasi lending model

Pelaksanaan Workshop/Sosialisasi KUR di Gorontalo, 14 Juni 2012

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan I Juli 2012

Rubrik Agenda Koordinasi

tersebut dapat dipakai referensi berbagai pihak baik kelompok usaha/UMK maupun perbankan dalam pembiayaan usaha. Pada workshop/sosialisasi tersebut muncul aspirasi dari Pemerintah Daerah untuk meningkatkan kerjasama pengembangan UMK di Gorontalo tidak saja kepada BI, namun juga kepada bank pelaksana KUR. Sedangkan pertanyaan dari kelompok usaha/UMK antara lain terkait dengan persyaratan menjadi nasabah KUR dan penentuan suku bunga KUR. Wakil dari BI dan PT. BRI menjawab pertanyaan tersebut dan mengharapkan untuk informasi yang lebih rinci persyaratan permohonan KUR dapat diajukan kepada petugas di desk bank pelaksana yang disediakan. Pada workshop/sosialisasi dilakukan secara simbolis pemberian KUR yaitu oleh BPD Sulut, BTN, BSM, BNI dan Mandiri serta testimoni dari wakil debitur BTN dan BSM. Workshop/Sosialisasi di Ternate, Maluku Utara Kantor BI Maluku Utara menyampaikan realisasi pertumbuhan KUR di Maluku Utara tumbuh sebesar 250% dalam kurun waktu dua (2) tahun terakhir dan jumlah debitur KUR tumbuh pesat. Penyaluran KUR masih didominasi oleh sektor perdagangan, hotel & Restoran sebesar 71% sedangkan sektor produktif/hulu seperti pertanian, perikanan dan industri pengolahan baru mendapat porsi sebesar 13%. Penyaluran KUR ke sektor pertanian mulai mengalami pertumbuhan sejak tahun 2011.

Dengan tingginya pertumbuhan penyaluran kredit konsumtif dan kredit produktif dalam dua (2) tahun terakhir menyebabkan peluang penyaluran kredit pada ceruk tersebut jenuh. Namun dengan masih banyaknya usaha pada sektor unggulan daerah yang belum tersentuh pembiayaan, berarti penyaluran kredit usaha di Maluku Utara banyak menyimpan potensi yang masih terbuka lebar, khususnya untuk skala UMK.

pameran, bazar pembiayaan) perlu terus dilanjutkan dan ditingkatkan, terutama dalam pengembangan kelembagaan UMK (kelompok, koperasi, pendampingan) dan pengembangan klaster usaha/industri. Berkembangnya klaster usaha dan kelembagaan akan lebih memudahkan pembinaan UMK termasuk dalam mengefisiensi penyaluran pembiayaan.

Pada workshop/sosialisasi tersebut juga disiapkan counter/desk dari Dalam rangka pengembangan sektor masing-masing bank pelaksana KUR yang menyediakan brosur-brosur unggulan di Maluku Utara seperti dan petugas yang dapat menjelaskan rumput laut dan peningkatan akses program KUR. (Djoko Waluyo) UMK ke pembiayaan, maka kerjasama Pemerintah Daerah dengan BI dan perbankan yang saat ini telah dilakukan (seperti sosialiasi,

Pelaksanaan Workshop/Sosialisasi KUR di Ternate, 26 Juni 2012

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan I Juli 2012

Rubrik Ekonomi Makro

Inflasi Juni 2012 Koinsiden Bertemunya 3 Faktor Pendorong: Musim Kemarau, Ramadhan, dan Ajaran Baru
Inflasi bulan Juni 2012 sebesar 0,62% mtm atau 4,53% yoy, melonjak dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 0,07% mtm atau 4,45% yoy. Lonjakan tersebut ditengarai karena koinsiden bertemuanya 3 pemicu inflasi; memasuki musim kemarau, datangnya bulan Ramadhan dan dimulainya tahun ajaran baru menjelang Juli 2012. Kondisi cuaca mulai mengganggu pasokan bahan makanan. Volatile food, terutama cabe mendongkrak inflasi Juni 2012. Inflasi volatile food tercatat sebesar 1,73% mtm atau 7,52% yoy. Harga komoditas yang mengalami lonjakan tajam adalah cabai merah. Kenaikan harga cabai merah karena pasokan dan produksi rendah terhambat cuaca hujan. Seperti tahun lalu, lonjakan harga cabai terbesar terjadi di Padang mencapai 101%. Diperlukan langkah taktis agar lonjakan harga cabai tidak berlarut seperti kondisi tahun lalu. Beberapa harga komoditas lain juga beranjak naik, seperti bawang putih, daging ayam, ikan segar, gula pasir, telur ayam dan emas perhiasan. Sebagian besar disebabkan oleh pasokan barang dan kenaikan harga pakan ternak. Kenaikan harga komoditas tersebut berkisar 10%80%. Sementara itu harga komoditas yang mengalami menurun, antara lain: minyak goreng, tomat dan pertamax. Menjelang Ramadhan, para pedagang mulai menyesuaikan harga-harga. Faktor musiman ini akan menguat di bulan Juli. Selama ini tingkat inflasi yang wajar menjelang puasa berada di atas 0,5% dan laju inflasi menjelang lebaran akan mencapai 1%. Selain Ramadhan, perlu waspada terhadap inflasi pendidikan yang 1 secara historis melonjak tinggi pada periode Juli September. Secara spasial, kenaikan inflasi volatile food yang signifikan terjadi di sebagian besar wilayah Sumatera terutama bagian utara untuk komoditas cabai merah dan di wilayah timur untuk komoditas ikan. Inflasi administered prices tercatat rendah yakni 0,26% mtm atau 2,9% yoy. Rendahnya inflasi ini karena penurunan harga minyak dunia. Harga pertamax turun secara ratarata sebesar 6% (mtm). Penurunan harga pertamax tersebut memberi sumbangan deflasi sebesar 0,01%. Inflasi inti relatif stabil sebesar 0,34% mtm atau 4,15% yoy. Depresiasi Rupiah tidak berdampak signifikan pada perkembangan harga domestik karena diimbangi oleh pengaruh penurunan harga global yang terus berlanjut dan upaya stabilisasi nilai tukar rupiah. Koinsiden 3 faktor pendorong yang bertemu dalam satu waktu berpengaruh pada ekspektasi harga. Hasil survey konsumen Bank Indonesia, indeks ekspektasi harga untuk 3 6 bulan mendatang meningkat. Aksi antisipasi kenaikan harga periode Juli September 2012 perlu dilakukan agar lonjakan harga tidak terlalu tinggi. Koodinasi antara Kementerian/Lembaga baik di pusat maupun daerah diperkuat agar target inflasi 2012 tercapai. (Mamay Sukaesih)
Referensi: Analisis Inflasi, Tim Pemantauan dan Pengendalian Inflasi (TPI)

Perkembangan Inflasi

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan I Juli 2012

Rubrik Ekonomi Makro

Neraca Perdagangan Mei 2012 Masih Defisit


Bulan Mei 2012 menjadi bulan kedua di mana neraca perdagangan Indonesia kembali mengalami defisit. Setelah pada bulan April 2012 terjadi defisit sebesar USD 765 juta, laporan BPS menunjukkan defisit sebesar USD 486 juta pada Mei 2012. Jika dibandingkan dengan neraca perdagangan Mei 2011, terjadi kontraksi (penurunan pertumbuhan) neraca perdagangan sebesar minus 114% (yoy). Defisit ini disebabkan oleh ekspor yang melemah dan sembilan bulan berturut-turut sejak September 2011, pertumbuhan ekspor Indonesia berada dibawah pertumbuhan impor. Pada bulan Mei 2012, ekspor masih tumbuh negatif sebesar minus 8,8% (yoy) atau USD 16,7 miliar, sedangkan impor tumbuh 16,1% (yoy) atau sebesar USD 17,2 miliar. Secara kumulatif, dari Januari hingga Mei 2012, ekspor hanya tumbuh 1,5% (yoy) tetapi impor tumbuh hingga dua digit, yaitu 16,6% (yoy). Ketidakseimbangan ini menekan surplus neraca perdagangan sebesar minus 86,9% (yoy) atau USD 1,5 miliar; sektor nonmigas surplus USD 2,6 miliar sedangkan sektor migas defisit USD 1,1 miliar. Berdasarkan kelompok sektoral komoditas nonmigas, ekspor sektor pertanian dan industri tumbuh negatif, masing-masing sebesar minus 2,6% (yoy) dan minus 3,1% (yoy) dari Januari hingga Mei 2012. Pertumbuhan ini turun signifikan dibandingkan tahun lalu di mana masing-masing sektor tumbuh
Sumber: BPS

21,3% (yoy) dan 36,3% (yoy). Dengan demikian, porsi kedua sektor terhadap total ekspor mengalami penurunan, khususnya sektor industri turun dari 61,8% menjadi 59%. Sedangkan sektor pertambangan tumbuh 12,7% (yoy). Akan tetapi kontribusi terbesar masih bersumber dari sektor industri . Berdasarkan golongan barang nonmigas, pada Mei 2012, ekspor kelompok lemak dan minyak hewan nabati kembali turun melanjutkan penurunan April 2012; tercatat turun USD 469,9 juta dibandingkan bulan sebelumnya. Penyebab turunnya ekspor CPO diduga karena kenaikan bea keluar ekspor CPO yang ditetapkan naik dari 18,5% pada April menjadi 19,5% pada Mei 2012. Selain itu, permintaan dari Cina dan India akibat krisis global yang melambat juga menjadi penyebab. Dari sisi impor, dari Januari hingga Mei 2012, peningkatan impor terbesar terjadi pada kelompok barang modal sebesar 37,1% (yoy).

Namun demikian, impor terbesar adalah impor bahan baku penolong yang naik 13,1% (yoy) dan mencapai USD 58,4 miliar. Sedangkan impor barang konsumsi tumbuh 6,1% (yoy). Pertumbuhan impor barang modal dan bahan baku penolong tersebut diharapkan mampu memberikan kontribusi positif pada peningkatan peran sektor industri pada perekonomian. Berdasarkan laporan Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Perdagangan (BP2KP), produk yang impornya meningkat tajam sehingga mempengaruhi surplus perdagangan RI diantaranya aeroplane, telepon seluler, sirkuit elektronik, dan loader. Defisit perdagangan yang terjadi dalam dua bulan terakhir ini juga disebabkan oleh penurunan surplus perdagangan nonmigas. Terjadi peningkatan defisit perdagangan Indonesia dengan beberapa negara mitra dagang utama, diantaranya Cina, Jepang, Australia, Korea Selatan, dan negara kawasan ASEAN. (Tri Kurnia Ayu) 2

Perkembangan Ekspor-Impor

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan I Juli 2012

Rubrik Ekonomi Makro

Penduduk Miskin Berkurang 890.000 orang dalam 1 Tahun Terakhir


Tingkat kemiskinan terus menurun dengan acuan garis kemiskinan yang meningkat. Garis kemiskinan pada Maret 2012 sebesar Rp. 233,740 per kapita/bulan, meningkat 6,4% dari Maret 2011. Dengan menggunakan garis kemiskinan tersebut, jumlah penduduk miskin pada Maret 2012 berkurang 0,89 juta orang atau turun 0,53% dibandingkan Maret 2011. Tingkat kemiskinan pada Maret 2012 menjadi 11,96% turun dari level per Maret 2011sebesar 12,49%. Penurunan jumlah penduduk miskin lebih banyak terjadi dipedesaan sebesar 487 ribu orang (0,60%) daripada di daerah perkotaan yang turun sebesar 399,5 ribu orang (0,455%). Faktor mempengaruhi penurunan kemiskinan selama satu tahun terakhir, antara lain: (a) kenaikan upah harian buruh tani dan buruh bangunan masing-masing sebesar 2,96% dan 4,81%; (b) peningkatan penerima raskin dalam 3 bulan terakhir dari 13,3% pada tahun 2011menjadi 17,2% pada tahun 2012; (c) peningkatan pelayanan kesehatan gratis selama 6 bulan terakhir; (d) tingkat inflasi yang rendah; (e)peningkatan nilai tukar petani dari 103, 32 pada Maret 2011 menjadi 104,68 pada Maret 2012 yang menunjukkan perbaikan penghasilan petani; (f) pertumbuhan pengeluaran konsumsi rumah tangga yang meningkat. Secara spasial, persentase penduduk miskin terbesar berada di Pulau Maluku dan Papua, yaitu sebesar 24,77%, sedangkan persentasi terkecil di Pulau Kalimantan sebesar 6,69%. Jumlah penduduk miskin terbanyak berada di Pulau Jawa sebesar 16,11 juta orang dan paling sedikit di Pulau Kalimantan sebesar 0,95 juta orang. Selain upaya memperkecil jumlah penduduk miskin, kebijakan penanggulangan kemiskinan juga terkait dengan penurunan tingkat kedalaman dan keparahan kemiskinan. Indeks kedalaman kemiskinan (P1) dan indeks keparahan kemiskinan (P2) berkurang pada Maret 2012, masing-masing menjadi sebesar 1,88 dan 0,47. Penurunan nilai kedua indeks ini menunjukkan bahwa ratarata pengeluaran penduduk miskin cenderung semakin mendekati garis kemiskinan dan ketimpangan pengeluaran penduduk miskin juga semakin menyempit. Nilai P1 dan P2 di daerah pedesaan lebih tinggi daripada di perkotaan. Kondisi ini menandakan tingkat kemiskinan di pedesaan lebih buruk daripada di perkotaan. Beberapa ekonom berpendapat penurunan angka kemiskinan ini masih mengkhawatirkan. Persentase penurunan penduduk miskin sebesar 0,53% tidak sebanding dengan pertumbuhan ekonomi diatas 6%. Mereka berpendapat dengan pertumbuhan ekonomi di atas 6%yang berpotensi menciptakan lapangan kerja, penduduk miskin semestinya dapat turun antara 0,8% hingga 1% termasuk adanya anggaran kemiskinan yang terus meningkat. Kondisi ini mengindikasikan progam kemiskinan belum sepenuhnya tepat sasaran. (Mamay Sukaesih)

Tingkat Kemiskinan

Sumber: BPS

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan I Juli 2012

Rubrik Ekonomi Internasional

Prospek Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2012: di Mata Bank Dunia


Pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan I-2012 sebesar 6,3 persen di bawah target Pemerintah tahun 2012 sebesar 6,5 persen. Kinerja tersebut tidak terlepas dari perkembangan permasalahan ekonomi yang terjadi di AS dan Kawasan Eropa. Berdasarkan risiko dan tantangan tersebut, Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan Indonesia sekitar 6 persen pada akhir tahun 2012. Sri Mulyani, Managing Director Bank Dunia untuk Asia Pasifik menilai angka perkiraan tersebut tergolong tinggi mengingat perkiraan pertumbuhan untuk negara-negara berpendapatan menengah lainnya hanya sekitar 5,3 persen untuk tahun 2012. Estimasi perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia tersebut seiring dengan menurunnya prospek pertumbuhan ekonomi negaranegara mitra dagang utama Indonesia. Sebagai contoh Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Cina turun dari 9,2 persen tahun 2011 menjadi 8,2 persen tahun 2012. Hal ini diperkuat dengan rilis data pertumbuhan ekonomi Cina triwulan II-2012 yang hanya sekitar 7,6 persen. Selain itu, tren menurunnya harga berbagai komoditas internasional yang menyebabkan turunnya volume ekspor dinilai sebagai salah satu faktor penting yang menentukan kinerja neraca perdagangan Indonesia. Secara ringkas, Bank Dunia memperkirakan penetrasi gejolak ekonomi global pada perekonomian Indonesia dapat terjadi melalui dua jalur yaitu sektor perdagangan Tinjauan Ekonomi dan Keuangan I Juli 2012 7 dansektor keuangan. Sedangkan dampak totalnya terhadap perekonomian Indonesia sangat ditentukan kekuatan fundamental ekonomi, kualitas respon kebijakan domestik, dan sensitivitas terhadap sentimen pelaku pasar. ekonomi global yang lama.

Jika gejolak perekonomian terus berlangsung hingga menyerupai krisis global tahun 2009, Bank Dunia memperkirakan perekonomian Indonesia hanya akan tumbuh 5,8 persen pada tahun 2012. Sedangkan Menurut Bank Dunia, prospek jika kemerosotan ekonomi global semakin dalam, pertumbuhan perekonomian global kedepannya ekonomi Indonesia diperkirakan masih harus menghadapi berbagai hanya sekitar 4,8 persen pada tahun risiko seperti goncangan pasar finansial, kemerosotan pertumbuhan 2012. Sebagai langkah antisipasi atas berbagai tantangan tersebut, Bank ekonomi AS dan Kawasan Eropa serta penurunan harga komoditas di Dunia menekankan pentingnya pasar internasional. Berbagai risiko upaya stabilisasi sistem dan pasar tersebut dapat memicu gejolak keuangan, optimalisasi penyerapan anggaran dan pengeluaran perekonomian dunia sebagaimana yang terjadi pada krisis global tahun pemerintah, serta kebijakan untuk melindungi rakyat miskin dari 2009. Selanjutnya prospek berbagai risiko yang ada. perekonomian global juga ditentukan oleh kemampuan (Rista Amallia) berbagai negara emerging market khususnya BRICs (Brazil, Rusia, India dan Cina) dalam merespon risiko-risiko tersebut. Jika negaranegara tersebut gagal merespon berbagai potensi kemerosotan ekonomi yang ada, maka masyarakat dunia harus menghadapi krisis Perkembangan Harga Komoditas Internasional 4

Rubrik Ekonomi Internasional

CHINA-INDONESIA dalam Review IMF


IMF mencermati perkembangan ekonomi Indonesia yang terus membaik masih terhalang beberapa tantangan yang perlu diselesaikan agar selaras dengan persepsi global. Hal tersebut diungkapkan Tim Ekonom IMF dalam sebuah diskusi yang membahas prospek ekonomi dan tantangan kebijakan di Bank Indonesia awal Juli ini. Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang pesat menguatkan daya tahan untuk meredam gejolak krisis yang terus menghantui dunia. Kapasitas fiskal Indonesia juga masih relatif kuat untuk menahan transmisi krisis karena defisit anggaran rendah dan rasio pinjaman terhadap PDB menurun. IMF mengingatkan agar tidak lengah dengan resiko persepsi yang masih tinggi. Respon pertumbuhan output Indonesia terhadap harga minyak dunia dan pertumbuhan output dunia relatif tinggi dibandingkan respon pada volatilitas sektor keuangan. VIX indeks yang mengukur respon investor pada resiko kerentanan lebih rendah dibandingkan dengan respon pada harga minyak dunia dan ekonomi global. Saat ini saja surplus bersih ekspor terus tertekan akibat permintaan pasar global terhadap produk Indonesia menurun. Tentu saja kontraksi surplus bersih ekspor ini akan berdampak pada pertumbuhan PDB, sehingga dorongan pengeluaran pemerintah diharapkan dapat menjadi penahan kontraksi PDB. IMF juga menjelaskan bahwa kebijakan moneter yang longgar 8 Tinjauan Ekonomi dan Keuangan I Juli 2012 turut memberi kontribusi tekanan walaupun hal ini memancing argumentasi dari para pembahas dan peserta diskusi. Indonesia disarankan untuk segera mengatasi tantangan kebijakan terutama situasi politik yang diharapkan tetap menjaga kondisi ekonomi yang kondusif. Dalam hubungan perdagangan dengan China, Indonesia merupakan mitra dagang yang penting terutama pada komoditas batu bara, minyak sawit dan karet. Batu bara Indonesia saat ini sebesar 30% dari total impor batu bara China. Sedangkan minyak sawit Indonesia sebesar 20% dari total impor China. Ekspor karet ke China mencapai sekitar 80% atau hampir US$ 10 milyar dari total ekspor karet Indonesia US$ 12 milyar. Hubungan dagang yang kuat tersebut mengandung resiko besar jika ekonomi China melambat. Analis IMF menghitung bahwa 10% penurunan investasi real estat di China akan menurunkan 1% pertumbuhan PDB China dan dampaknya pada penurunan PDB Indonesia sekitar 0,5% tergantung pada respon ekspor Indonesia ke China. Indonesia berada di jalur yang tepat dengan memprioritaskan pembangunan infrastruktur. Sebagai negara yang tumbuh pesat, Indonesia masih tertinggal dengan negaranegara tetangga dilihat dari indeks infrastruktur dan urutan infrastruktur dasar. IMF menyambut baik MP3EI sebagai arah pembangunan infrastruktur Indonesia secara komprehensif. Akan tetapi, Indonesia harus jeli menangkap peluang investasi ditengah arena lomba negara-negara yang saat ini juga gencar menawarkan program investasi. Kebijakan reformasi regulasi harus mampu menarik minat investor asing dan domestik untuk membiayai MP3EI, tidak cukup hanya dengan mengandalkan promosi kondisi ekonomi makro saja. (Edi Prio Pambudi)

Rubrik Keuangan

Seminar Nasional Asuransi TKI


Pada hari Senin, tanggal 25 Juni 2012, telah diselenggarakan seminar nasional asuransi TKI oleh Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dengan dukungan Kantor Bank Dunia Jakarta bertempat di Hotel Aryaduta Jakarta. Seminar ini menghadirkan pembicara Direktur Jenderal Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja, Kemenakertrans, Kepala Biro Perasuransian, Bapepam-LK, Kementerian Keuangan, Yoko Doi, Bank Dunia Kantor Jakarta, Vijay Kalavakonda, IFC, Kepala OWWA (Overseas Workers Welfare Administration) Filipina Dr. Carmelita S. Dimzon, Prof. Edita A. Tan PhD,Universitas Filipina. Sedangkan pembahas adalah Deputi Perlindungan BNP2TKI,Direktur Perlindungan WNI dan BHI, Kementerian Luar Negeri, Ketua Konsorsium Asuransi TKI, Pialang Asuransi, Anggota Komisi IX DPR RI Ibu Diana Anwar, Ketua Sekolah Tinggi Manajemen Risiko dan Asuransi (STIMRA) B.Munir Sjamsoeddin. Dalam sambutan pembukaan, Sesmenko Perekonomian menyampaikan bahwa pelaksanaan asuransi TKI merupakan bagian dari upaya perlindungan kepada TKI. Hal ini penting mengingat TKI menghadapi berbagai risiko, seperti perubahan ketentuan ketenagakerjaan di negara tempat TKI bekerja, gaji tidak dibayar, kecelakaan pada saat bekerja, risiko sakit, dan risiko lainnya. Namun demikian, disadari masih terdapat kekurangan dan kelemahan dalam pelaksanaan Asuransi TKI ini. Penyempurnaan skema Asuransi TKI terus dilakukan hingga terakhir berupa Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor 7 Tahun 2010 tentang Asuransi TKI dan revisinya Nomor 1 Tahun 2012. Kekurangan dan kelemahan pelaksanaan Asuransi TKI diantaranya adalah prosedur klaim yang lama dan berbelit-belit sehingga berbagai pihak mengkritik efektifitas Asuransi TKI. Selain itu juga adalah masalah coverage Asuransi TKI yang kurang tepat dan layak dari sudut pandang usaha asuransi. Hal-hal tersebut perlu dicarikan jalan penyelesaian yang terbaik. Dalam upaya tersebut perlu diperhatikan pembagian tugas yang tepat antara instansi pemerintah dan perusahaan asuransi. Pembebanan yang tidak tepat akan menyebabkan misi para pihak tidak tercapai. Ke depan diharapkan terwujud skema Asuransi TKI yang optimal dalam memberikan pelayanan kepada TKI dan tumbuhnya industri asuransi yang sehat dan profesional. Beberapa hal kritis yang mengemuka dalam seminar ini diantaranya: (a) Adanya kebijakan penetapan konsorsium tunggal tidak menjadi masalah asal melibatkan banyak perusahaan asuransi yang berkualifikasi sehat; (b) Risiko-risiko yang tercover dalam asuransi TKI tidak bisa diselenggarakan hanya oleh satu jenis asuransi perlu kolaboratif antara asuransi kerugian dan asuransi jiwa dalam konsorsium; (c) Perlunya mendesain kembali produk asuransi menjadi lebih baik dengan tidak mencampur adukan risiko yang dapat diasuransikan untuk TKI dan risiko operasional PPTKIS. Risiko yang dapat diasuransikan untuk TKI: meninggal, biaya pemakaman (mencakup pemulangan jenazah), kecelakaan dan sakit. Risiko operasional PPTKIS: penghentian kontrak kerja lebih awal, kegagalan penempatan, pindah kerja tanpa diketahui/ijin, gaji yang tidak dibayar. Hal ini perlu ditangani secara berbeda; (d) Adanya risiko yang 9

Pelaksanaan Seminar Nasional Asuransi TKI, 25 Juni 2012 Tinjauan Ekonomi dan Keuangan I Juli 2012

Rubrik Keuangan

tidak dapat diasuransikan (noninsurable risk): mencakup risiko kekerasan fisik dan perkosaan, pelecehan seksual dan deportasi merupakan bidang diluar cakupan asuransi dan lebih tepat ditangani pemerintah. Sementara itu dalam paparannya Kepala OWWA Filipina menyampaikan pengalaman Filipina dalam menangani pekerja migran, diantaranya: (a) OWWA adalah badan pemerintah yang mengatur kesejahteraan tenaga kerja Filipina di luar negeri. Badan ini berada di bawah kementerian dan dibangun dengan sistem membership, artinya migran worker harus menjadi

anggota terlebih dahulu untuk menikmati sejumlah manfaat. Kantor cabang OWWA berjumlah 37 kantor yang tersebar di 25 negara; (b)Tugas utamanya adalah mempromosikan kesejahteraan dan proteksi untuk pekerja migran dan memastikan peningkatan kapasitas dari para pekerja. Jadi bukan hanya bagi pekerja migran namun juga bagi keluarganya; (c)Pembiayaan OWWA bersifat single trust fund , yaitu iuran anggota para pekerja migran yang dibayar oleh employer sebesar US $ 25. Jadi tidak mendapatkan alokasi anggaran pemerintah. Dana berasal dari iuran anggota dan pendapatan bunga. Keanggotaan berlaku selama 2 tahun; (d) Selain asuransi oleh

negara, ada 4 perusahaan asuransi yang secara privat menyediakan jasa asuransi, biasanya kontrak dilakukan dengan employer. Sedangkan Prof. Edita A. Tan PhD dari Universitas Filipina mengemukakan bahwa i) program terbaik untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja migran adalah dimulai dengan mengenal karakteristik, jenis pekerjaan, latar belakang pendidikan serta kondisi perlindungan di negara tujuan dari pekerja migran, ii) program kesejahteraan yang harus disediakan untuk pekerja migrant dapat berupa program bantuan sosial atau asuransi. (M. Edy Yusuf)

Program Financial Inclusion di Indonesia


Financial inclusion atau keuangan inklusif saat ini menjadi isu penting di seluruh dunia, karena memberikan kesempatan bagi seluruh masyarakat untuk mendapatkan layanan jasa keuangan. Pemerintah Indonesia saat ini sedang menyelesaikan dokumen strategi nasional program keuangan inklusif yang akan diluncurkan langsung oleh Presiden. Strategi tersebut diarahkan untuk mewujudkan akses masyarakat seluas-luasnya kepada layanan jasa keuangan. Adanya akses keuangan untuk semua lapisan masyarakat termasuk kaum miskin tentu akan memberikan kemudahan untuk perbaikan hidupnya. Hal tersebut diharapkan mendorong masyarakat lebih produktif dan berkontribusi positif dalam perekonomian sehingga pada akhirnya dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan pendapatan nasional, mengurangi tingkat kemiskinan dan ketidakmerataan pendapatan. Lima pilar strategi financial inclusion sudah disiapkan yang mencakup i) perluasan kegiatan edukasi keuangan dan perlindungan konsumen; ii) peningkatan kelayakan keuangan melalui capacity building; dan iii) penyediaan fasilitasi intermediasi untuk menjembatani kelompok masyarakat unbanked dan perbankan. Kemudian iv) perluasan saluran distribusi produk keuangan melalui inovasi dan teknologi serta v) penerbitan kebijakan dan ketentuan untuk mendukung dan mempercepat financial inclusion. Produk dalam strategi financial inclusion itu sendiri mencakup tabungan, kredit/ pembiayaan, sistem pembayaran, asuransi, dan jasa keuangan lain untuk usaha mikro dan kecil. Terkait program ini, berbagai institusi keuangan sudah siap menyukseskannya. Bank Indonesia sudah siap menerbitkan sejumlah kebijakan terkait financial inclusion, seperti i) branchless banking yang merupakan kebijakan untuk memperluas jangkauan bank dalam memberikan jasa keuangan; ii) edukasi keuangan yang merupakan kebijakan untuk meningkatkan pelajaran keuangan sehingga masyarakat dapat memanfaatkan produk dan jasa keuangan untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya; iii) kebijakan start-up kredit, yang merupakan upaya untuk

10

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan I Juli 2012

Rubrik Keuangan

menciptakan produk dan jasa perbankan yang sesuai dengan kebutuhan pengusaha pemula. Selain itu juga kebijakan Financial Identity Number (FIN), yang merupakan penyusunan nomer induk keuangan yang mencakup masyarakat yang sama sekali belum pernah berhubungan dengan bank (strictly unbanked people), masyarakat yang pernah terhubung dengan bank (partially unbanked), maupun masyarakat yang sudah terhubung dengan bank (fully banked). Beberapa hal yang perlu mendapatkan perhatian supaya program financial inclusion sukses diantaranya adalah masalah ketimpangan informasi, rendahnya tingkat literacy keuangan, dan desain produk. Ketimpangan informasi terjadi karena lembaga keuangan tidak bisa membedakan calon nasabah yang berisiko tinggi dan rendah. Termasuk adanya potensi penyimpangan dana oleh nasabah setelah diberikan pendanaan. Hal ini mengakibatkan lembaga keuangan memberikan persyaratan cukup ketat dalam penyediaan dana. Dengan begitu, sering terjadi calon nasabah tidak dapat memperoleh akses pembiayaan karena tidak memenuhi persyaratan administratif. Sementara terkait rendahnya tingkat literacy keuangan pada sebagian masyarakat atas produk keuangan, perlu adanya edukasi keuangan yang dilakukan berbagai pihak terkait secara continue dan massive.

Adapun untuk desain produk dan pola layanan yang tidak sesuai pada sebagian masyarakat, menjadi hambatan bagi masyarakat berpenghasilan rendah untuk mengakses pembiayaan. Perhatian pemerintah dalam financial inclusion ini juga mendapatkan perhatian dari masyarakat internasional terbukti dengan ditunjuknya Indonesia sebagai tuan rumah Konferensi Internasional tingkat ASEAN tentang financial inclusion yang diadakan pada akhir Juni 2012. Dalam kesempatan itu, Wakil Presiden RI sekaligus mencanangkan setiap hari Rabu pekan pertama setiap bulan sebagai hari rajin menabung. Hal ini

dimaksudkan untuk meningkatkan budaya menabung di masyarakat serta sebagai kelanjutan dari Gerakan Indonesia Menabung yang sebelumnya telah dicanangkan Presiden RI pada Februari 2010. Hal ini mengingat 32 persen penduduk Indonesia belum memiliki tabungan. Pada hari Rabu pekan pertama setiap bulan tersebut merupakan hari kunjungan bank-bank ke sekolah dan pasar sebagai pos layanan menabung. (M. Edy Yusuf)

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan I Juli 2012

11

Rubrik APBN

Pelaksanaan APBN Semester I Tahun 2012


Memasuki tahun 2012, perlambatan ekonomi global mulai berdampak pada perekonomian nasional. Melonjaknya harga minyak dan depresiasi nilai tukar rupiah telah memberikan tekanan pelaksanaan APBN 2012 pada semester 1-2012. Hal tersebut ditunjukkan dengan perubahan APBN 2012 (APBN-P) lebih awal dari siklus normal. Realisasi pendapatan negara dan hibah pada semester I-2012 mencapai Rp. 593,3 triliun atau 43,7% dari target dalam APBN-P 2012. Realisasi pendapatan negara dan hibah tersebut bersumber dari penerimaan dalam negeri sebesar Rp. 592,6 triliun, yang terdiri atas penerimaan perpajakan sebesarRp. 456,8 triliun dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sebesar Rp.135,8 triliun. Secara umum, faktor yang berpengaruh terhadap pencapaian realisasi penerimaan dalam negeri pada semester 1-2012 adalah tetap terjaganya kondisi ekonomi makro dan konsistensi pelaksanaan kebijakan optimalisasi penerimaan negara. Realisasi belanja negara pada semester I-2012 mencapai Rp. 629, 4 triliun atau 40,7% terhadap APBNP 2012. Realisasi belanja negara terbesar bersumber dari belanja pemerintah pusat yang mencapai Rp. 393,9 triliun atau36,8% dari target dalam APBN-P 2012. Penyerapan subsidi dan bantuan sosial merupakan yang tertinggi di antara penyerapan kedelapan jenis belanja Pemerintah Pusat, dengan penyerapan masing-masing sebesar 55% dan 54,5%. Di lain pihak, realisasi belanja hibah dan belanja lain-lain sampai dengan semester I 2012 masih rendah, yaitu hanya mencapai masing-masing 0,4% dan 4,2% dari pagu dalam APBN-P 2012. Sementara realisasi transfer kedaerah dalam semester I-2012 telah disalurkan sebesar Rp. 235, 5 triliun atau 49,2% terhadap APBN-P 2012. Dengan demikian, realisasi defisit anggaran pada semester I-2012 mencapai Rp. 36,1 triliun atau 0,91% terhadap PDB. Sementara dalam APBN-P, defisit anggaran ditetapkan sebesar Rp. 190,1 triliun atau 2,23% terhadap PDB. Untuk membiayai defisit, realisasi pembiayaan anggaran pada semester I-2012 mencapai Rp. 101,6 triliun atau 53,5% terhadap target APBN-P 2012. Pembiayaan realisasi pembiayaan anggaran tersebut terdiri dari pembiayaan non-utang yang mencapai Rp 3.208,1 miliar atau sebesar 9,5% terhadap APBN-P TA 2012, dan realisasi pembiayaan utang yang mencapai Rp 98.437,2 miliar atau 63% terhadap APBN-P 2012. Kedepannya, untuk mengamankan pelaksanaan APBN-2012, Pemerintah telah dan sedang mempersiapkan langkah-langkah kebijakan antisipasi krisis, antara lain: (a) menjaga kesinambungan fiskal melalui pengendalian defisit anggaran dalam batas yang aman; (b) meningkatkan efisiensi belanja dengan pemotongan (sharing the participation) belanja K/L yang diarahkan untuk kegiatan yang lebih produktif; (c) memanfaatkan SAL untuk tambahan belanja infrastruktur dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi; dan (d) mengimplementasikan pengendalian di bidang energi dan air. (Mamay Sukaesih) 5

Realisasi Semester I APBN-P 2012 (triliun Rp)

Sumber: Laporan Semester I APBN 2012, Kemenkeu

12

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan I Juli 2012

Rubrik Kebijakan dan Regulasi Ekonomi

Undang-Undang 6/2012 : Tonggak Perlindungan Pekerja Migran


Setelah menunggu beberapa tahun akhirnya diterbitkan UU nomor 6 tahun 2012 tentang Ratifikasi Konvensi Internasional tentang Perlindungan Hak-Hak Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya pada April yang lalu. Sampai dengan tahun 2011, konvensi Internasional tersebut telah diratifikasi oleh 45 negara dan ditanda-tangani oleh 16 negara, termasuk Indonesia pada tanggal 22 September 2004 di New York. Sejak mendukung konvensi tersebut, pemerintah Indonesia melaksanakan langkah langkah perlindungan dan pemenuhan hak-hak seluruh pekerja migran dan anggota keluarganya. Pada UU No. 6 Tahun 2012 dicakup materi pokok yang disampaikan dalam Konvensi tersebut diantaranya: pekerja migran dan anggota keluarganya memiliki hak atas kebebasan untuk meninggalkan, masuk dan menetap di negara manapun. Selain itu pekerja migrant mempunyai hak hidup, hak bebas dari penyiksaan, hak bebas dari perbudakan, hak untuk mendapatkan perlakukan yang sama terkait kontrak/hubungan kerja, hak untuk perawatan kesehatan serta pendidikan bagi anak pekerja migran. Termasuk juga hak tambahan bagi para pekerja migran dalam kategori pekerjaan tertentu seperti pekerja lintas batas, pekerja musiman, pekerja keliling, pekerja proyek, pekerja mandiri. Pelaksanaan butir-butir konvensi tersebut didukung oleh Komisi Hak Asasi Manusia, Komisi Pembangunan Sosial, Organisasi Pertanian dan Pangan PBB, bekerja sama dengan UNESCO serta Organisasi Kesehatan Dunia. Dukungan internasional ini didasari pertimbangan bahwa mendapatkan pekerjaan merupakan tujuan pekerja migran untuk menghidupi para anggota keluarganya. Untuk memastikan pelaksanaan konvensi tersebut dibutuhkan adanya perjanjian bilateral dan multilateral untuk perlindungan hak para pekerja migran pada saat bekerja di negara penempatan. Namun, prakteknya hingga saat ini masih banyak Negara belum mengakui hak para pekerja migran dan anggota keluarganya, sehingga penting ada kegiatan monitoring dan evaluasi perlindungan internasional yang tepat sasaran. Beberapa masalah perlindungan pekerja migran yang sering muncul adalah perdagangan para pekerja migran gelap. Kelompok pekerja migran ini menghadapi banyak kasus serius akibat kegagalan memenuhi kewajibannya. Kasus yang sering dialami oleh pekerja migran tersebut seperti penyiksaan, gaji tidak dibayar, PHK, pelecehan seksual hingga pembunuhan. Sementara pada Pasal 9 konvensi tersebut dinyatakan bahwa hak hidup para pekerja migran dan anggota keluarganya harus dilindungi oleh hukum. Lebih lanjut adanya pertimbangan penambahan hak atas pekerja migran dan keluarga akan membantu pekerja migran dan majikan untuk saling mematuhi hukum dan prosedur yang telah ditetapkan oleh negara tujuan. Dengan adanya penambahan hak tersebut dimaksudkan tidak terjadi non-diskriminasi yang dijelaskan seperti pada Pasal 7 mengenai hak asasi manusia untuk menghormati dan memastikan pekerja migran beserta keluarganya memperoleh hak tanpa membedakan apapun. (Windy Pradipta)

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan I Juli 2012

13

Rubrik Utama

Kebijakan dan Tantangan Asuransi TKI


Kinerja asuransi TKI menurut Kepala Biro Perasuransian Bapepam-LK, Isa Rachmatarwata dalam paparannya pada Seminar Nasional Asuransi TKI di penghujung Juni 2012 dirasa belum optimal. Beberapa usulan/ issue disampaikan untuk mengoptimalkan kinerja tersebut diantaranya adalah perlu adanya perwakilan di negara tujuan TKI untuk mempermudah proses klaim dan adanya perbaikan pelayanan. Sementara itu, pembentukan konsorsium tunggal yang terdiri dari sepuluh perusahaan asuransi bertujuan untuk memberikan kesempatan pada perusahaan asuransi TKI untuk dapat bersaing secara sehat berdasarkan kualifikasi tertentu bukan saling memberikan perang diskon premi kepada para TKI. Premi yang harus dibayarkan oleh para TKI sendiri yaitu sebesar Rp. 400.000 yang terdiri dari premi pra penempatan dan purna masingmasing sebesar Rp. 50.000 lalu pada masa penempatan sebesar Rp. 300.000. Terkait penetapan premi asuransi TKI sebesar Rp. 400.000 tersebut hingga saat ini masih mengalami pro dan kontra. Hal tersebut dikarenakan masih banyaknya para TKI yang merasa keberatan dengan jumlah premi tersebut. Lebih lanjut proses klaim yang diajukan oleh para TKI sangat berbelit-belit dan pencairan memerlukan waktu yang lama. Untuk itu, perlu dilakukan suatu studi mengenai perhitungan dan analisa aktuaria untuk penetapan premi yang tepat. Penetapan besaran premi seharusnya berdasarkan pertimbangan yang mencakup : (i) premi murni berdasarkan profil risiko dan kerugian untuk periode lima tahun terakhir untuk asuransi kerugian atau premi murni dihitung berdasarkan tingkat bunga, tabel mortalita atau mobidita untuk asuransi jiwa; (ii) biaya akuisisi, biaya administrasi dan biaya umum lainnya; dan (iii) perkiraan hasil investasi dari premi untuk asuransi jiwa. Perlu dipikirkan kembali penetapan premi asuransi TKI khusus masa penempatan dengan menggunakan klasifikasi yang berbeda-beda, mengingat terdapat perbedaan negara tujuan dan jenis pekerjaan yang dilakukan oleh TKI. Untuk memperpanjang masa asuransi TKI khusus masa penempatan sebaiknya memberikan discount premi sesuai Pasal 17 ayat 2 Permenakertrans No. 07/MEN/V/2010. Untuk jangka waktu satu tahun dikenakan premi 40% dari premi awal, sedangkan untuk dua tahun dikenakan premi 80% dari premi awal. (Windy Pradipta)

Dana Kesejahteraan Pekerja Migran: Pengalaman Filipina, Pakistan dan Sri Lanka
Filipina, Pakistan dan Sri Lanka adalah tiga negara yang sejak lebih dari 30 tahun lalu telah memberikan perhatian pada pekerja migrannya. Filipina sendiri penduduknya mulai banyak melakukan migrasi ke negara kawasan Timur Tengah pada pertengahan tahun 1970. Melihat banyaknya warga negara Filipina yang melakukan migrasi, pada tahun 1980, melalui instrument hukum, dibentuk satu badan pengelola dana kesejahteraan pekerja migran dibawah 14 Departemen Tenaga Kerja. Badan dengan fungsi yang sama juga dibentuk oleh Pemerintah Pakistan (1975) dan Sri Lanka (1985). Berdasarkan hasil studi perbandingan di ketiga negara yang dilakukan oleh Prof. Edita E. Tan, Phd (Universitas Filipina), program terbaik untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja migran adalah dimulai dengan mengenal karakteristik, jenis pekerjaan, latar belakang pendidikan, serta kondisi perlindungan di negara tujuan pekerja migran. Tingkat upah, kondisi kerja dan risiko di tempat kerja berbeda-beda diantara jenis pekerjaan dan negara tujuan.Sebagai contoh, pekerja migran yang bekerja di Amerika Utara adalah pekerja yang profesional. Sementara itu, sebagian besar pekerja migran di negara Timur Tengah bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Sejumlah risiko yang dihadapi pekerja migrant juga bermacammacam diantaranya upah tidak dibayar, lingkungan kerja yang tidak sehat serta kekerasan fisik. Dan biasanya pekerja migran yang baru

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan I Juli 2012

Rubrik Utama

berangkat memiliki risiko lebih tinggi. Selain itu, pelayanan yang akan diberikan juga harus diperhatikan. Jenis pelayanan harus member manfaat seperti beasiswa, kredit usaha dan perumahan. Dalam upaya memberikan perlindungan bagi pekerja migran, program dana kesejahteraan ini dibentuk dengan beberapa tujuan. Pertama, memberikan layanan perlindungan pada pekerja migrant atas risiko-risiko di tempat kerja.Kedua, memberikan pelatihan dan membantu pekerja migrant dalam mempersiapkan proses keberangkatan. Ketiga, membantu keluarga pekerja migrant dan pekerja yang baru kembali ke tanah air. Badan ini memberikan pelayanan kepada pekerja migran sejak sebelum keberangkatan hingga kembali ke negara asal. Sejumlah

pelayanan utama yang diberikan diantaranya membentuk Pusat Pekerja Migran di negara tujuan utama; memberikan asuransi kematian, cacat dan kesehatan; serta pemulangan pekerja karena permasalahan kontrak, penempatan dan kekerasan fisik. Pusat Pekerja Migran dan Kedutaan Besar di negara tujuan juga berfungsi membantu permasalahan yang dihadapi pekerja migran di negara tujuan hingga memberikan bantuan hukum.

Namun demikian, Sri Lanka juga mengenakan biaya kepada majikan di luar negeri sebesar US$ 25 untuk setiap pekerja migran yang ditempatkan.

Selanjutnya, dalam pengelolaan dana, ketiga negara juga memiliki pola yang berbeda. Filipina menggunakan lebih dari setengah pendapatannya untuk administrasi namun tetap mempertahankan keuntungan yang besar. Sri Lanka menjaga perolehan keuntungan yang tidak terlalu besar dan biaya administrasi yang tidak Dalam melaksanakan fungsinya, dana terlalu tinggi.Pakistan juga tidak diperoleh dari biaya keanggotan yang menggunakan biaya yang terlalu dibayar oleh pekerjamigran. Ketiga tinggi untuk administrasi tetapi lebih negara mengenakan biaya yang banyak digunakan untuk kepentingan berbeda-beda. Pakistan mengenakan masyarakat (pekerja). Meskipun biaya keanggotaan sebesar US$ 18,2; memiliki sistem pengelolaan yang Filipina US$ 25; dan Sri Lanka US$ berbeda, ketiganya lebih banyak 7,5. Diantara ketiga negara, Sri Lanka memanfaatkan dana untuk asuransi mengenakan biaya yang jauh lebih pekerja. (Tri Kurnia Ayu) murah kepada para pekerja migran.

OWWA: Organisasi Peduli Kesejahteraan Pekerja Migran Filipina


OWWA atau Overseas Workers Welfare Administration adalah salah satu institusi pemerintah yang mengatur kesejahteraan tenaga kerja Filipina di luar negeri. OWWA ini berada di bawah Department of Labor and Employment. OWWA didirikan pada tahun 1977 dengan naman Welfare and Training Fund for Overseas Workers. OWWA memiliki 37 kantor yang tersebar diseluruh dunia mencakup 25 negara baik dikawasan Amerika Utara, Eropa, Asia, dan Timur Tengah. Sumber pembiayaan berasal dari keanggotaan sebesar US$ 25 yang diambil dari iuran pekerja migran Filipina (PMF) dengan masa kontrak kerja dua tahun. Asetnya saat ini mencapai 14 milyar peso atau setara dengan Rp. 3,150 trilyun dengan rata-rata dapat mengumpulkan 1 milyar peso (Rp. 225 milyar) setiap tahunnya. Angka ini tentu sangat besar mengingat setiap harinya ratarata Filipina mengirimkan PMF sejumlah 3500 orang atau hampir 1,3 juta orang setiap tahunnya. Dari dana tersebut diinvestasikan keberbagai sektor terutama yang menjamin keamanan dana itu sendiri seperti obligasi pemerintah dan deposito. Berbagai program dan pelayanan yang disediakan oleh OWWA mencakup:(i) pre-employment; (ii) onsite employment; dan (iii) return and integration. Dalam program pre-employment mencakup pre-departure orientation seminar, stress management, language

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan I Juli 2012

15

Rubrik Utama

and culture training, dan counseling. Pemerintah Filipina menyadari bahwa tenaga kerja mereka yang akan bekerja di luar negeri tentu menghadapai karakteristik, budaya, lingkungan tempat tinggal dan kerja yang jauh berbeda dengan negaranya yang dikhawatirkan dapat mengakibatkan stress. Menyadari hal tersebut, OWWA menyediakan pelatihan yang mereka sebut stress management. Materi dalam pelatihan ini mencakup penjelasan tentang apa yang disebut stress, sumber asal stress, baik internal maupun eksternal; serta pendekatan umum dalam mengelola stress. Pemahaman tentang materi ini pada akhirnya bermanfaat dalam meningkatkan

kualitas dan produktivitas kerja para PMF. Sementara itu untuk program dan penyediaan pelayanan on-site employment, OWWA diantaranya menyediakan juru damai jika terjadi perselisihan antara PMF dengan employer; kunjungan ke rumah sakit dan tahanan; counseling; dan entrepreneurial skills training/ IT literacy training. OWWA juga menyediakan repatriation assistance program yang dikhususkan untuk PMF jika terjadi kondisi emergency seperti perang, konflik politik (seperti yang terjadi di Mesir dan sekarang yang terjadi di Suriah), bencana alam, dan pemulangan jenazah.

Sedangkan untuk post employment, OWWA membantu PMF selama di airport dan penyediaan shelter sementara; program reintegrasi; dan stress de-briefing. Disamping hal-hal tersebut di atas, OWWA juga memberikan asuransi yang terbatas hanya untuk meninggal dunia dan cacat dengan nilai pertanggungan mencapai 100,000-200.000 peso (Rp. 22,5 juta- Rp. 45 juta) untuk meninggal dunia plus penguburan diberikan Rp. 4,5 juta dan untuk cacat diberikan Rp. 22,5 juta. Untuk keluarga PMF terutama anak PMF yang berprestasi diberikan beasiswa. (M. Edy Yusuf)

Program Penempatan dan Perlindungan TKI di Luar Negeri


Ketidaksesuaian, baik jumlah dan kualitas, penawaran dan permintaan tenaga kerja di Indonesia telah mendorong terjadinya migrasi tenaga kerja tidak hanya di dalam negeri tetapi juga ke luar negeri. Tidak dipungkiri bahwa pendapatan yang lebih besar di negara lain telah menjadi pull factor migrasi ke negara lain. Selain pendapatan yang lebih besar, terdapat sejumlah faktor penarik lainnya. Pertama, perubahan demografis di negara lain seperti halnya di Jepang dengan jumlah penduduk usia lanjut yang tinggi. Kedua, pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan yang kemudian mendorong peningkatan permintaan tenaga kerja. Ketiga, kelangkaan 16 tenaga kerja dikarenakan tingkat kelahiran yang rendah di sejumlah negara. Tidak hanya faktor penarik, terdapat sejumlah faktor pendorong migrasi tenaga kerja. Pertama, lapangan kerja yang terbatas sehingga meningkatkan jumlah pengangguran. Kedua, tingginya angka kemiskinan. Ketiga, kemudahan memperoleh informasi dan transportasi yang mudah. Keempat, pekerjaan merupakan hak asasi manusia. Globalisasi yang diterapkan hampir semua negara di dunia dalam hal investasi, perdagangan dan jasa akan menciptakan kebebasan migrasi manusia di dunia. Oleh sebab itu, regulasi dan fasilitasi dari Pemerintah menjadi hal penting guna memastikan ketersediaan lapangan kerja bagi masyarakatnya sebagai dampak dari globalisasi tersebut. Migrasi tenaga kerja merupakan konsekuensi yang tidak dapat dihindari. Oleh sebab itu, program penempatan yang baik harus dipersiapkan untuk membantu masyarakat yang akan melakukan migrasi. Terkait dengan hal tersebut, untuk kasus Indonesiasendiri, migrasi lebih banyak dikaitkan dengan pengiriman tenaga kerja Indonesia (TKI). Program pengiriman/ penempatan TKI mencakup penempatan TKI oleh Perusahaan PelaksanaPenempatan TKI Swasta (PPTKIS), penempatan perorangan, penempatan untuk kepentingan perusahaan sendiri,

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan I Juli 2012

Rubrik Utama

dan penempatan yang difasilitasi oleh Pemerintah bekerjasama dengan Pemerintah negara lain (Program G to G). Berdasarkan data Kemenakertrans, hingga saat ini terdapat 565 PPTKIS yang beroperasi di Indonesia. Sedangkan untuk Program G to G, Pemerintah telah bekerjasama dengan Pemerintah Korea dan Jepang. Berdasarkan laporan BNP2TKI, sejak tahun 2008 hingga 2011, jumlah TKI informal yang bekerja di luar negeri lebih banyak dibandingkan TKI formal. Namun demikian, jumlah TKI formal semakin bertambah dari tahun ke tahun. Semakin banyakTKI formal yang bekerja di luar negeri tentu akan semakin baik kesejahteraan pekerja dengan gaji yang lebih tinggi dibandingkan TKI informal. Selain

itu, penerimaan negara melalui remitansi juga semakin besar. Di tahun 2011, jumlah TKI formal sebesar 45,56% dari total TKI. Pencapaian ini diatas target Pemerintah yaitu sebesar 40%. Untuk tahun 2012, Pemerintah menaikkan target TKI formal menjadi sebesar 45%. Selama bekerja di luar negeri, terdapat sejumlah risiko yang mungkin dialami para TKI. Untuk itu, langkah perlindungan TKI menjadi hal penting lainnya yang harus disiapkan oleh Pemerintah.Pemerintah telah menetapkan adanya Asuransi bagi TKI yang mencakup sejumlah risiko pra penempatan, selama penempatan, hingga purna penempatan. Selain itu, untuk

memantau kondisi dan posisi TKI, Pemerintah dalam hal ini BNP2TKI telah membangun database TKI melalui penempatan TKI berbasis online system. Perlu diketahui pula bahwa sebagian besar permasalahan yang dihadapi TKI disebabkan oleh keberangkatan TKI secara ilegal melalui calo. Berdasarkan penelitian Balitfo Kemenakertrans tahun 2009, calo memiliki peran sebesar 64% dalam memberikan informasi keberangkatan pada TKI; PPTKIS 32%; Pemerintah 2%; dan lainnya sebesar 2%. Besarnya peran calo ini menjadi salah satu sebab TKI berangkat secara ilegal.Untuk itu, Pemerintah harus meningkatkan perannya dalam memberikan informasi keberangkatan dan memfasilitasi penempatan TKI. (Tri Kurnia Ayu)

ASURANSI TKI

Persentase TKI Formal dan Informal

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan I Juli 2012

17

Rubrik Utama

Edukasi Keuangan Bagi TKI di Singkawang


Kegiatan edukasi keuangan bagi TKI di Singkawang, Kalimantan Barat diadakan oleh Kemenko Perekonomian bekerjasama dengan Bank BRI dilaksanakan pada tanggal 4 Juli 2012. Kegiatan ini bertujuan memberikan pemahaman yang lebih baik kepada calon TKI tentang fasilitas pembiayaan dan produk keuangan lainnya (termasuk asuransi) yang dapat dimanfaatkan pada periode pra-penempatan, penempatan dan sesudah penempatan. Dalam kata sambutan kegiatan edukasi ini, Walikota Singkawang, Hasan Karman menyinggung masih adanya kendala yang dihadapi masyarakat Singkawang terkait dengan pembiayaan perbankan yaitu masalah penambahan modal usaha dan kesulitan untuk mengakses sumber-sumber permodalan atau perbankan. Sementara itu Bank Indonesia menyampaikan paparannya tentang produk perbankan seperti tabungan, pinjaman, transfer dana, ATM dan penukaran mata uang asing. BI juga menyampaikan adanya fasilitas yang ada di BI terkait dengan UMKM meliputi pemberian pelatihan mengenai pembuatan laporan keuangan secara sederhana, penyusunan proposal kredit dan pelatihan kewirausahaan. Terkait dengan pemberian kredit untuk biaya penempatan calon TKI, diberikan penjelasan oleh Kemenko Tinjauan Ekonomi dan Keuangan I Juli 2012 Perekonomian dan Bank BRI. Dikatakan bahwa calon TKI tidak perlu lagi mencari sumber pembiayaan untuk keberangkatan ke luar negeri (dari rentenir atau pihak lainnya yang membebankan bunga sangat tinggi) mengingat sudah disediakan akses memperoleh pinjaman melalui KUR TKI (tentu harus dibayar kembali oleh debitur /calon TKI sebagai peminjam) di bank-bank pelaksana KUR TKI (diantaranya Bank BRI, BNI, dan Mandiri). Untuk pinjaman sampai dengan Rp. 20 juta, KUR TKI hanya membebankan suku bunga efektif 22% per tahun atau 11% suku bunga flat dan bebas biaya administrasi/ provisi. Tentu bunga ini sangat rendah dibandingkan dengan sumber pembiayaan lainnya yang rata-rata membebankan bunga efektif 36% sd 60% per tahun dan masih juga membebankan biaya administrasi/ provisi. Bank BRI juga menyampaikan paparannya bagaimana para calon TKI yang nantinya bekerja di luar negeri dapat memanfaatkan jasa perbankan melalui jasa remitansi/ pengiriman uang melalui perbankan. Hal ini penting, agar TKI dapat memastikan kiriman uangnya/ gajinya dapat sampai dengan baik,tepat waktu dan dengan biaya yang wajar. Disampaikan pula bahwa bagi TKI yang sudah pulang ke Indonesia (TKI Purna) disediakan juga kredit untuk mengembangkan usaha mereka sehingga dapat membantu perluasan lapangan pekerjaan dan mengurangi pengangguran di daerahnya. Dalam kegiatan edukasi tersebut juga disampaikan penjelasan mengenai asuransi TKI yang disampaikan oleh Konsorsium. Hal ini perlu agar para calon TKI mengetahui bahwa mereka di cover oleh asuransi mengingat banyak yang tidak tahu akan keberadaan asuransi TKI. (Windy Pradipta)

18

Rubrik Ekonomi Daerah

Pentingnya Terminal Agrobisnis


Petani tentu selalu mengharapkan kenaikan harga komoditas yang diproduksinya, sebaliknya konsumen lebih menghendaki harga komoditas tersebut stabil dan terjangkau. Seperti halnya bejana berhubungan, prinsip ekonomi menghendaki terjadinya keseimbangan. Petani mendapatkan harga yang layak dan konsumen dapat menjangkau harga sesuai kemampuannya. Namun, muncul distorsi karena rantai pemasaran yang panjang, sehingga harga dari pertani menggelembung ketika sampai di hadapan konsumen. Petani sebagai produsen jelas tidak menikmati selisih harga tersebut. Kondisi inilah yang sebenarnya dapat disiasati dengan hadirnya terminal agrobisnis. Harga produkproduk pertanian jauh lebih murah dari harga sebelumnya. Sebab mengurangi jalur distribusi yang panjang yakni dari produsen (petani) langsung didistribusikan ke marketing. Terminal agrobisnis dapat memotong mata rantai distribusi yang tidak perlu, sehingga harganya dapat jauh lebih murah. Sebuah terminal agrobisnis dibangun dengan tujuan meningkatkan efisiensi rantai pasok, memperkuat posisi tawar petani (bargaining power), meningkatkan nilai tambah produk, menambah segmentasi pasar, meningkatkan penjaminan mutu barang, meningkatkan sanitasi pasar, pembinaan pelaku usaha dan pengendalian volume pasokan dan harga barang serta bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah. yang mendasari berdirinya Terminal Agrobisnis. Pertama, terminal tersebut dapat menampung melimpahnya produksi pangan dan hortikultura di suatu daerah . Suatu daerah yang mempunyai produk unggulan perlu membangun Terminal Agrobisnis ini untuk mengendalikan dari sisi volume, harga dan kwalitas komoditas tersebut. Kedua, masih terbatasnya akses dan kurangnya pasar yang representatif untuk memasarkan produksi petani. mengubah pola pikir dan pola kerja petani yang sederhana menjadi petani modern, melalui akses pasar yang lebih luas. Ketiga, belum tersedianya tempat atau pasar khusus untuk memasarkan produk pangan dan hortikultura (agrobis) dalam skala besar. Terminal Arobisnis juga bisa dijadikan sarana untuk mendidik petani memperbaiki mutu produksinya, Pada gilirannya hal itu akan berdampak pada peningkatan nilai tambah dan pendapatan mereka. Keempat, masih terbukanya peluang untuk meningkatkan penjualan hasil pertanian,baik untuk skala regional,nasional,maupun internasional (ekspor). Besarnya potensi dan peluang itulah yang mendasari pembangunan terminal agrobisnis dan mewujudkan sektor pertanian modern yang berbudaya industri untuk mengembangkan industri pertanian berbasis pedesaan. Dengan demikian, pengembangan Terminal Agrobisnis tidak saja membuka peluang bisnis bagi investor, tetapi sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani melalui peningkatan nilai ekonomi produk yang dihasilkan petani. Kondisi faktual ini hendaknya dapat dimanfaatkan Pemerintah Daerah dalam mensejahterakan Petani dan meningkatkan ketahanan pangan. Manfaat lain yang bisa diperoleh oleh Pemerintah Daerah adalah dapat berpotensi meningkatakn pendapatan asli daerah (PAD) . Selain itu, dapat meningkatkan devisa dari hasil ekspor dan menciptakan lapangan kerja baru di sektor pertanian. Ini merupakan program pemerintah yang seharusnya diapresiasi positif oleh Pemerintah Daerah. Masalah pembiayaan yang tinggi dapat dicari jalan keluarnya dengan membuat sebuah BUMD (Badan Usaha Milik Daerah). Pembiayaan dapat dilakukan dengan penyetoran modal melalui pemisahan kekayaan daerah baik propinsi dan kabupaten, partisipasi swasta melalui, public private partnership. Apabila berkembang dengan baik dan mempunyai potensi yang besar, pembangunan agrobisnis bisa dikembangkan dan didanai menggunakan mekanisme penerbitan obligasi pemerintah daerah. Pemerintah Daerah dapat memanfaatkan dan mengintegrasikan beberapa proyek pembangunan yang berasal dari (bersambung ke halaman 20)

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan I Juli 2012

19

Rubrik Penyaluran KUR

Realisasi Penyaluran KUR Juni 2012


Realisasi penyaluran KUR pada Juni 2012 tercatat sebesar Rp 3,65 T. Dengan capaian tersebut, KUR yang disalurkan dari Januari hingga Juni 2012 tercatat Rp 15,7 T. Sedangkan penyaluran total KUR sejak November 2007 hingga Juni 2012 mencapai Rp 79,1 T dengan jumlah debitur sebanyak 6,64 juta orang. Rata-rata tiap debitur menerima kredit sebesar Rp 11,9 juta dengan tingkat NPL 3,3%. Bank BRI merupakan penyalur terbanyak khususnya untuk KUR Mikro. Tercatat realisasinya hingga Juni 2012 mencapai Rp 37,4 T. Sedangkan untuk KUR Ritel Bank BRI tercatat realisasinya hingga Juni 2012 sebesar 10,9 T. Realisasi penyaluran KUR oleh BPD pada bulan Juni 2012 mencapai Rp 317 M dengan jumlah debitur sebanyak 4.043 orang. Tingkat NPL rata-rata untuk BPD sebesar 5,3%. Bank Jatim dan Jabar Banten merupakan penyalur KUR tertinggi. Bank Jatim menyalurkan sebanyak Rp 2,8 T dan Bank Jabar Banten sebesar Rp 1,9 T. Dilihat dari sektor yang menerima KUR pada bulan Juni 2012, sektor perdagangan mendapatkan KUR terbanyak hingga 58%. Sedangkan untuk urutan kedua pertanian 16%. Menurut sebaran regional, secara kumulatif penyaluran terbanyak KUR berada di provinsi Jawa Timur tercapat Rp 12,2 T. Untuk Provinsi Jawa Tengah sebesar Rp 11,7 T. Namun penyaluran KUR di luar Jawa masih sangat rendah, khususnya di Maluku Utara dan Papua Barat yang masing-masing 7 hanya Rp 330 M dan Rp 397 M. Kerja sama antara perbankan serta pemerintah daerah di wilayah tersebut perlu ditingkatkan. Berdasarkan laporan sementara KUR TKI saat ini terus mengalami peningkatan, tercatat realisasi penyaluran Juni 2012 mencapai Rp 17 M dengan jumlah debitur hingga mencapai 1.698 TKI. Jumlah penyaluran KUR TKI melalui PPTKIS sebanyak 593 TKI dan 1.105 TKI yang mengikuti program G to G Korea. Sebagian besar KUR TKI diberikan bagi para pekerja yang ditempatkan di negara tujuan Malaysia, Hongkong, Brunei Darussalam. Masing-masing sebesar 330 TKI, 95 TKI dan 168 TKI. (Windy Pradipta) Sambungan halaman 19: Pentingnya Terminal Agrobisnis beberapa Kementerian/ Lembaga, dan bantuan teknis negara sahabat sehingga dari segi pembiayaan akan dapat meringankan daerah tersebut dalam membangun Terminal Agrobisnis. Pembangunan sebuah Terminal Agrobisnis harus menjadi tanggung jawab bersama semua pihak; Pemerintah (pusat dan daerah), dunia usaha, petani dan masyarakat. Masing-masing pihak harus berkomitmen sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya. (Gede Edy Prasetya) 20 Tinjauan Ekonomi dan Keuangan I Juli 2012

Penyaluran KUR Menurut Sektor Ekonomi Nov 2007-Juni 2012

Halaman ini sengaja dikosongkan