Anda di halaman 1dari 3

PENYIMPANAN BENIH Penyimpanan benih merupakan salah satu cara yang dapat menunjang keberhasilan pe nyediaan benih, mengingat

bahwa kebanyakan jenis pohon hutan tidak berbuah sepan jang tahun sehingga perlu dilakukan penyimpanan yang baik agar dapat menjaga kes tabilan benih dari segi kuantitas maupun kualitasnya (Widodo, 1991). Menurut Schmidt (2000), tujuan utama penyimpanan benih adalah untuk menjamin per sediaan benih yang bermutu bagi suatu program penanaman bila diperlukan. Jika wa ktu penyemaian dilaksanakan segera setelah pengumpulan benih maka benih dapat la ngsung digunakan di persemian sehingga penyimpanan tidak diperlukan. Akan tetapi kasus semacam ini sangat jarang terjadi, hal ini disebabkan karena pada daerah dengan iklim musim yang memiliki musim penanaman pendek sangat tidak memungkinka n untuk langsung menyemai benih, sehingga benih perlu disimpan untuk menunggu sa at yang tepat untuk disemai. Kegiatan penyimpanan benih tidak terlepas dari penggunaan wadah simpan. Menurut Siregar (2000), beberapa sifat khusus yang harus diperhatikan dari wadah simpan adalah : 1. Permeabilitas, yaitu kemampuan wadah untuk dapat menahan kelembaban dan gas pada level tertentu 2. Insulasi, yaitu kemampuan wadah untuk mempertahankan suhu 3. Ukuran lubang, yaitu kemampuan wadah untuk bertahan dari serangan serang ga dan mikroorganisme yang dapat masuk melalui celah-celah kemasan 4. Kemudahan dalam hal penanganan seperti tidak licin, mudah ditumpuk, muda h dibuka, ditutup, disegel dan mudah dibersihkan. 5. Biaya, harus diperhitungkan dengan nilai nominal dari benih sendiri Wadah simpan pada dasarnya dapat digolongkan menjadi 2 (dua) macam yakni wadah y ang kedap udara dan wadah yang permeable (Widodo, 1991). Wadah kedap adalah wada h yang tidak memungkinkan lagi terjadi pertukaran udara antara benih yang disimp an dengan lingkungannya, sedangkan wadah permeabel adalah wadah yang masih memun gkinkan terjadinya pertukaran udara antara benih dengan lingkungannya. Menurut Siregar (2000), contoh dari wadah yang permeabel adalah karung goni, kan tong kain, karung nilon, keranjang, kotak kayu, kertas, karton dan papan serat y ang tidak dilapisi lilin. Sedangkan wadah yang tidak permeabel adalah kaleng log am, botol dan gelas. Justice dan Bass (1979), mengemukakan bahwa penggunaan wadah dan cara simpan b enih sangat tergantung pada jenis, jumlah benih, teknik pengepakan, lama penyimp anan, suhu ruang simpan dan kelembaban ruang simpan Lama Penyimpanan Berapa lama benih dapat disimpan sangat tergantung pada kondisi benih dan lingku ngannya sendiri. Beberapa tipe benih tidak mempunyai ketahanan untuk disimpan da lam jangka waktu yang lama atau sering disebut benih rekalsitran. Sebaliknya ben ih ortodoks mempunyai daya simpan yang lama dan dalam kondisi penyimpanan yang s esuai dapat membentuk cadangan benih yang besar di tanah (Schmidt, 2000). Meskipun tipe ortodoks dan rekalsitran relatif jelas perbedaannya, daya tahan be nih untuk bertahan pada saat penyimpanan meliputi variasi yang luas, dari yang s angat rekalsitran, intermediate sampai ortodoks (Schmdit, 2000). Pada umumnya se makin lama benih disimpan maka viabilitasnya akan semakin menurun. Mundurnya via bilitas benih merupakan proses yang berjalan bertingkat dan kumulatif akibat per ubahan yang diberikan kepada benih (Widodo, 1991). Stubsgaard (1992) dalam Siregar (2000), mengemukakan bahwa periode penyimpanan t erdiri dari penyimpanan jangka panjang, penyimpanan jangka menengah dan penyimpa nan jangka pendek. Penyimpanan jangka panjang memiliki kisaran waktu puluhan tah un, sedangkan penyimpanan jangka menengah memiliki kisaran waktu beberapa tahun dan penyimpanan jangka pendek memiliki kisaran waktu kurang dari satu tahun. Tid ak ada kisaran pasti dalam periode penyimpanan, hal ini disebabkan karena period e penyimpanan sangat tergantung dari jenis tanaman dan tipe benih itu sendiri. Tinggi rendahnya viabilitas dan vigor benih sebagai pembawaan dari baik atau tid aknya kondisi sewaktu pematangan fisik benih, akan mudah terpengaruh oleh faktor -faktor pada penyimpanan. Benih akan mengalami kecepatan kemundurannya tergantun g dari tingginya faktor kelembaban relatif udara dan suhu. Hal ini dapat dikaitk

an dengan hasil penelitian yang selanjutnya memiliki patokan sebagai berikut : a. Bagi tiap terjadinya penurunan 1% pada kadar air benih, umur benih akan bertahan sampai 2 kali. b. Bagi tiap terjadinya penurunan 50C suhu dalam penyimpanannya, maka umur benih akan bertahan sampai 2 kali. (Kartasapoetra, 2003) Faktor-faktor yang mempengaruhi viabilitas benih selama penyimpanan dibagi menja di dua faktor yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal mencakup sifa t genetik, daya tumbuh dan vigor, kondisi kulit dan kadar benih awal. Faktor eks ternal antara lain kemasan benih, komposisi gas, suhu dan kelembaban ruang simpa n. Menurut Harrington (1972), masalah yang dihadapi dalam penyimpanan benih sema kin kompleks sejalan dengan meningkatnya kadar air benih. Penyimpanan benih yang berkadar air tinggi dapat menimbulkan resiko terserang cendawan. Benih adalah b ersifat higroskopis, sehingga benih akan mengalami kemunduran tergantung dari ti ngginya faktor-faktor kelembaban relatif udara dan suhu lingkungan dimana benih disimpan (Purwanti, 2004). Viabilitas dari benih yang disimpan dengan kandungan air tinggi akan cepat sekal i mengalami kemunduran. Hal ini bisa dijelaskan mengingat sifat biji yang higros kopis, biji sangat mudah menyerap uap air dari udara sekitarnya. Biji akan menye rap atau mengeluarkan uap air sampai kandungan airnya seimbang dengan udara dise kitarnya. Kandungan air yang tinggi akan meningkatkan kegiatan enzim-enzim yang akan mempercepat terjadinya proses respirasi, sehingga perombakan cadangan makan an dalam biji menjadi semakin besar. Akhirnya benih akan kehabisan bahan bakar p ada jaringan-jaringan yang penting (meristem). Energi yang terhambur dalam bentu k panas ditambah keadaan yang lembab merangsang perkembangan organisme yang dapa t merusak benih. selain itu biji juga merupakan penghantar panas yang jelek. Kon duksi panas antar biji biasanya berlangsung melalui kontak fisik antar biji. Seh ingga perlu diperhatikan bahwa benih yang akan disimpan harus mempunyai kandunga n air yang seragam. kandungan air benih yang terlalu rendah (1-2%) pada beberapa jenis benih dapat menyebabkan benih kehilangan viabilitas serta kemampuan berke cambahnya (Sutopo, 1988) Penyimpanan kedap udara selain berfungsi menghambat kegiatan biologis benih, jug a berfungsi menekan pengaruh kondisi lingkungan seperti suhu dan kelembaban, ser ta mengurangi tersedianya oksigen, kontaminasi hama, kutu, jamur, bakteri dan ko toran. Kadar air awal dan kemasan sangat berpengaruh dalam mempertahankan kadar air benih selama penyimpanan (Kartono, 2004). Menurunnya daya kecambah benih yang disimpan berhubungan dengan tingginya kadar air menyebabkan struktur membran mitokondria tidak teratur sehingga permeabilita s membran meningkat. Peningkatan permeabilitas menyebabkan banyak metabolit anta ra lain gula, asam amino dan lemak bocor keluar sel. Dengan demikian substrat un tuk respirasi berkurang sehingga energi yang dihasilkan untuk berkecambah berkur ang (Tatipata, dkk, 2004). Faktor yang Berpengaruh dalam Penyimpanan Benih a. Faktor genetik Telah diketahui bahwa terdapat variasi umur simpan benih antar spesies. Benih da ri beberapa spesies tanaman dapat bertahan lebih lama pada kondisi penyimpanan t ertentu dibandingkan dengan spesies lainnya. Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa terdapat perbedaan daya simpan benih pada benih ortodoks dib andingkan dengan benih rekalsitran pada kondisi penyimpanan tertentu. b. Struktur dan Komposisi kimia benih Pengaruh struktur benih terhadap masa simpan yang paling dikenal adalah ada tida knya gluma (lemma dan palea) pada benih gramineae. Ditemukan bahwa lemma dan pal ea dapat menekan pertumbuhan cendawan pada saat benih disimpan. Komposisi kimia benih berkaitan dengan sifat hidroskopis benih. Benih yang mempu nyai kadar protein tinggi atau kadar karbohidrat tinggi lebih bersifat hidroskop is dibanding benih dengan kadar lemak tinggi (Copeland, 1976) . Sebagai contoh b enih jagung dengan kadar karbohidrat yang tinggi memperlihatkan kurva keseti mbangan kadar air yang lebih tinggi pada Rh ruang penyimpanan yang sama dibandi ng kacang tanah yang kadar lemaknya tinggi. Hal ini berarti jagung mempunyai k

adar air yang lebih tinggi dibanding benih kacang pada Rh yang sama. c. Viabilitas awal benih Sering dianggap bahwa benih tumbuhan dapat berkecambah hanya setelah bua h yang berisi benih itu telah masak, namun pada kenyataannya ada ben ih tumbuhan yang dapat berkecambah jauh sebelum benih itu mencapai masak fisiolo gis atau sebelum mencapai berat kering maksimum. Untuk kebanyakan benih, viabi litas maksimum terjadi beberapa waktu sebelum benih mencapai masak fisiologis. S ampai dengan saat masak fisiologis viabilitas itu konstan dan setelah i tu viabilitas turun dengan cepat karena pengaruh lingkungan tempat benih itu berada. Kemasakan fisiologis dapat ditafsirkan sebagai kondisi fisi ologis yang harus tercapai sebelum tingkat kualitas optimum untuk memanen be nih dapat dimulai. Kondisi fisik dan keadaan fisiologis benih banyak mempengaruhi umur hidupnya. Be nih yang pecah, retak atau lecet kondisi fisik dan fisiologisnya akan turun lebih cepat daripada benih yang baik (McDonald and Nelson, 1986) d. Kadar air benih dan Kelembaban nisbih ruang penyimpanan Benih yang akan disimpan harus memiliki kadar air yang optimal untuk dapat di simpan lama tanpa mengalami penurunan viabilitas. Pada benih-benih ortodoks, umu mnya pada saat panen kadar air masih cukup tinggi yaitu sekitar 16 25%. Oleh karena itu kadar air tersebut harus diturunkan untuk mempertahankan viabilitas benih t etap tinggi selama penyimpanan. Setiap penurunan kadar air sebesar 1% dan penurunan suhu ruang simpan sebesar 50C maka daya simpan benih akan menjadi 2 kali lipat. Hukum ini hanya berlaku pada benih ortodoks dengan kadar air ben ih 5 14% (Harrington, 1972 dalam Sutopo, 1988). Pada umumnya benih tidak dianjurkan disimpan pada kadar air tinggi, karena akan cepat kehilangan viabilitasnya. Adanya banyak air dalam benih, maka pernafasan akan dipercepat sehingga benih akan banyak kehilangan energi. Menurut Copeland (1976) benih itu higroskopis, sehingga dapat membiarkan kadar airnya berada dalam keseimbangan dengan tingkat kelembaban relatif udara di sekitarnya. Keseimbangan antara kadar air benih dengan kelembaban udara relatif dalam penyimpanan dilukiskan dalam kurva keseimbangan higroskopis. Di daerah yang beriklim tropik seperti di Indonesia kelembaban relatif udara bebas adalah 80% - 90%. Dalam keadaan demikian benih yang mempunyai kadar air yang rendah menyerap uap air dari udara bebas sehingga kadar airnya menin gkat. Hal ini menyebabkan benih yang disimpan dalam wadah terbuka segera kehila ngan viabilitasnya. Untuk benih orthodox yang berkadar air rendah, kelembaban ud ara yang rendah sangat baik untuk mempertahankan viabilitasnya, tetapi bagi beni h yang recalsitrant kelembaban udara yang rendah dapat menurunkan viabilitas ben ih selama penyimpanan. e. Suhu Ruang penyimpanan Suhu ruang penyimpanan merupakan faktor penting yang mempengaruhi umur simpan be nih. Makin rendah suhu ruang penyimpanan maka umur simpan benih akan semakin pan jang (Justice dan Bass, 1990). Menurut kaidah kedua Harrington dalam (Sutopo, 1988), dengan penurunan suhu ruang simpan sebesar 50C maka daya simpan benih akan meningkat 2 kali lipat. Hukum ini berlaku pada suhu ruang simpan anta ra 0 - 500C. Suhu yang terlalu tinggi pada saat penyimpanan dapat membahayakan dan mengakibat kan kerusakan pada benih, karena akan memperbesar terjadinya pen guapan air dari dalam benih. Hal tersebut bisa mengakibatkan benih kehilangan daya imbibisi dan kemampuan untuk berkecambah dan juga bisa berakibat pada matinya embrio f. Hama, penyakit dan mikroorganisme.