Anda di halaman 1dari 9

PERANAN BADAN ARBITRASE ICSID DALAM PENYELESAIAN SENGKETA INTERNASIONAL

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hubungan-hubungan internasional yang diadakan oleh subjek hukum internasional selalu ada kemungkinan munculnya sengketa di kemudian hari. Sengketa bisa saja muncul terkait perbatasan, perdagangan dan lain-lain. Untuk menyelesaikan sengketa ada beberapa cara yang bisa dipilih, yaitu melalui negosiasi, mediasi, pengadilan dan arbitrase. Sebagai salah satu alternatif penyelesaian sengketa, arbitrase dipandang sebagai cara yang efektif dan adil. Badan arbitrase akan berfungsi apabila para pihak sepakat untuk menyerahkan sengketa kepadanya baik sebelum sengketa muncul maupun setelah sengketa muncul. Salah satu badan arbitrase untuk menyelesaikan sengketa internasinal adalah ICSID. ICSID (International Center for the Settlement of Investment Dispute) merupakan lembaga arbitrase yang berfungsi menyelesaikan sengketa penanaman modal asing yang bernaung dan diprakarsai oleh bank Dunia. Konvensi yang mendirikan badan ini adalah Konvensi Washington atau disebut juga Word Bank Convention yang ditandatangani di Washington D. C., 18 Maret 1965. Konvensi ini mulai berlaku pada 14 Oktober 1966. Terbentuknya Konvensi ini adalah sebagai akibat dari situasi perekonomian dunia pada waktu 19501960-an yaitu khususnya dikala beberapa negara berkembang menasionalisasi atau mengekpropriasi perusahaan-perusahaan asing yang berada di dalam wilayahnya. Tindakan ini mengakibatkan konflikkonflik ekonomi yang dapat berubah menjadi sengketa politik atau bahkan sengketa terbuka (perang)[1]. Berdasarkan UU No.5 Tahun 1968, Pemerintah Indonesia meratifikasi Konvensi tentang penyelesaian sengketa mengenai penanaman modal antarnegara dan warga negara lain (convention on the Settlement of Investment Dispute Between States and Nationals of Other States). Undang-Undang ini berisi 5 pasal. Pasal 2 menyatakan bahwa sesuatu perselisihan mengenai penanaman modal antara Republik Indonesia dengan warga negara asing diputuskan menurut konvensi ICSID dan mewakili Republik Indonesia dalam perselisihan tersebut untuk hak substitusi. Kemudian dalam pasal 3 disebutkan bahwa untuk melaksanakan putusan Mahkamah Arbitrase ICSID di wilayah Indonesia, maka diperlukan pernyataan Mahkamah Agung untuk melaksanakannya.

B. Identifikasi Masalah 1. Bagaimana pengaturan mengenai Dewan Arbitrase ICSID dalam Word Bank Convention? 2. Bagaimana peranan badan arbitrase ICSID dalam penyelesaian sengketa Internasional? 3. Apakah yang membuat badan arbitrase ICSID berbeda dengan lembaga atau badan-badan arbitrase lainnya?

BAB II PEMBAHASAN A. Pengaturan Mengenai Dewan Arbitrase ICSID dalam Word Bank Convention 1. Kedudukan Centre (ICSID) Menurut ketentuan pasal 2, tempat kedudukan Centre di tempat kantor pusat Bank Pembangunan Dunia (at the principal office of the international Bank for Reconstruction and Development). Namun demikian, kalimat selanjutnya pasal 2 memungkinkan dipindahkannya kedudukan centre ke tempat lain atas putusan Dewan Administrasi (administrative council). Putusan yang demikian, diambil dengan suara mayoritas, yaitu dua pertiga dari anggota dewan. 2. Organisasi Centre ICSID memiliki susunan organisasi, yang terdiri dari: 1. Dewan Administrasif (Administrative Council) Menurut pasal 4 ayat (1) Konvensi, keanggotan Dewan Administrasif terdiri dari setiap anggota Konvensi. Setiap negara anggota masing-masing diwakili oleh seorang anggota. Menurut pasal 3 Konvensi, Presiden Bank Dunia secara ex officio menjadi ketua dewan administrasif. 2. Sekretariat Badan sekretariat menurut pasal 9 Konvensi, terdiri dari: seorang pejabat sekretaris jenderal (secretary general) dan dibantu oleh seorang atau lebih deputi sekretaris jenderal (deputy secretary general) serta beberapa orang staf. 3. Panel

Menurut pasal 12 Konvensi, Panel adalah orang yang ditunjuk sebagai pendamai atau conciliator atau sebagai wasit atau arbitrator (arbiter). Setiap negara peserta konvensi boleh mencalonkan 4 orang untuk setiap panel. Sedang Ketua Dewan (Chairman of the Administrative Council) dapat mencalonkan sepuluh orang untuk setiap panel. Dalam hal yang seperti itu, orang yang dicalonkan adalah orang yang berasal dari negara yang berbeda. 4. Status, Immunitas dan Privilese Berdasarkan ketentuan pasal 18 Konvensi, ICSID mempunyai legalitas personal internasional yang penuh. Guna melancarkan fungsinya, Centre leluasa bergerak pada setiap wilayah negara peserta konvensi. Keleluasaan tersebut dibarengi dengan hak immunitas serta hak previlese. 5. Yurisdiksi Centre Pada prinsipnya, kewenangan yurisdiksi Centre secara legal hanya meliputi sengketa yang langsung timbul dari penanaman modal (investment) antara negara-negara peserta Konvensi. Prinsip ini dapat diperluas jangkauannya, asalkan sengketa yang terjadi masih merupakan perselisihan yang timbul secara langsung dari permasalahan investasi antara satu negara dengan orang asing atau negara asing. 6. Tata Cara Pengajuan Permohonan Menurut ketentuan pasal 28 Konvensi, pengajuan permohonan disampaikan: - Kepada sekretaris Jenderal Dewan Administratif Centre, - permohonan diajukan secara tertulis, - Permohonan memuat penjelasan tentang: pokok-pokok perselisihan, identitas para pihak dan mengenai adanya persetujuan mereka untuk mengajukan perselisihan yang timbul menurut ketentuan Centre. 7. Pembentukan Tribunal Menurut pasal 37 ayat 2 Konvensi, pembentukan Mahkamah Arbitrase yang dilakukan Centre boleh hanya terdiri dari seorang arbiter (arbitrator) saja, tetapi boleh juga arbiternya terdiri dari beberapa orang yang jumlahnya ganjil ( any unneven number of arbitrator). Mayoritas anggota arbitrase harus ditunjuk dari luar negara peserta konvensi yang sedang berselisih. Hal itu ditegaskan dalam pasal 39 konvensi. 8. Kewenangan dan fungsi Tribunal

- Menutus sengketa menurut hukum (Pasal 42 konvensi), - Memanggil dan melakukan pemeriksaan setempat (Pasal 43 konvensi), dan - Putusan provisi atau putusan pendahuluan (Pasal 47 konvensi). 9. Putusan Arbitase Centre Menurut pasal 48 konvensi, tata cara pengambilan keputusan adalah - putusan diambil berdasar suara mayoritas anggota arbiter, - putusan arbiter yang sah adalah dituangkan dalam putusan secara tertulis dan ditandatangani oleh anggota arbiter yang menyetujui putusan, - putusan memuat segala segi permasalahan serta alasan-alasan yang menyangkut dengan dasar pertimbangan putusan, - setiap anggota arbiter dibenarkan mencantumkan pendapat pribadi (individual opinion) dalam putusan, - Centre tidak boleh mempublikasikan putusan, tanpa persetujuan para pihak, - selanjutnya, sekretaris jenderal harus segera mengirimkan salinan putusan kepada para pihak. 10. Pengakuan dan Eksekusi Putusan Bertitik tolak dari Pasal 53 dan 54, dapat dijelaskan hal-hal berikut ini. - Putusan mengikat Setiap putusan yang dijatuhkan arbitrase Centre binding dan final. Oleh karena itu, tidak ada kemungkinan untuk mengajukan banding (appeal) atas putusan tersebut. - Pengakuan putusan Makna pengakuan putusan arbitrase Centre, mempersamakan daya kekuatan mengikatnya seperti putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, yang dijatuhkan oleh badan peradilan di negara yang bersangkutan. - Eksekusi putusan

Putusan arbitrase Centre bersifat self executing. Pasal 54 ayat 3 Konvensi menegaskan bahwa pelaksanaan putusan arbitrase Centre, sama halnya dengan tata cara eksekusi putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum yang tetap. B. Peranan Badan Arbitrase ICSID dalam Penyelesaian Sengketa Internasional Peranan badan arbitrase tampak pada beberapa hal berikut ini, yaitu[2]: 1) Pada beberapa perundang-undangan nasional, persyaratan penunjukan badan arbitrase ICSID sebagai badan arbitrase yang akan menangani sengketa-sengketa yang timbul dari adanya kontrak penanaman modal asing telah dicantumkan di dalamnya. Kebijaksanaan hukum seperti ini dilakukan oleh Afganistan, Kongo, Niger dan Tunisia. 2) Peran yang dimainkan oleh Bank Dunia dalam memberikan bantuan biaya pembangunan proyek di banyak negara. Peran yang dimainkannya yaitu memonitor atau mengawasi kontrak yang dibuat untuk pelaksanaan proyek tersebut. Disini Bank Dunia bisa saja merekomendasikan kepada negara-negara yang bersangkutan dalam membuat kontrak-kontraknya dan menggunakan sarana arbutrase ICSID tersebut. Badan Arbitrase ICSID telah menyelesaikan beberapa sengketa penanaman modal internasional. Salah satu diantaranya adalah Kasus Holiday Inns (Holiday Inns/Occidentawql Petroleum v. Governent of Marocco). Pada tahun 1966, pemerintah Maroko meminta perusahaan Occidental untuk menghubungi perusahaan hotel Amerika Serikat membangun industri pariwisata negara tersebut.. Kemudian Pemerintah Maroko dan Occidental menandatangani perjanjian dasar (penanaman modal) tentang pembangunan industri parawisata di Negeri Maroko. Dalam perjanjian tersebut ditetapkan bahwa group perusahaan Holiday Inns, perusahaan perhotelan Amerika Serikat yang dihubungi oleh Occidental, akan membangun 4 hotel di kota Rabat, Marrakesh, Fez dan Tangier. Keempat hotel ini nantinya akan dimiliki anak perusahaan cabang Holiday Inns. Ditentukan pula bahwa pemerintah Maroko akan memberikan fasilitas pemberian pinjaman modal, memberi bantuan di dalam mencari dan mendapatkan lokasi bangunan dan fasilitas perpajakan dan keuangan lainnya. Di dalam klausul perjanjian ditetapkan pula bahwa apabila kelak muncul sengketa maka sengketa akan diserahkan pada badan arbitrase ICSID. Ketika dua hotel berhasil dibangun dan dua bangunan hotel lainnya nyaris selesai, proyek tersebut mengalami kesulitan berhubungan dengan masalah pembiayaan. Karena masalah itu. group perusahaan Holiday Inns mengancam akan meninggalkan proyek tersebut dan di pihak lainnya, pemerintah Maroko menghentikan pemberian pinjaman uang dan menolak fasilitas keuangan dan bantuan administratif lainnya kepada perusahaan tersebut.

Ketika sengketa itu dilimpahkan ke badan arbitrase ICSID, ternyata pemerintah Maroko serta merta menolak Jurisdiksi dewan arbitrase ini atas para pihak. Maroko berpendapat bahwa perusahaan Holiday Inns kurang memiliki kapasitas untuk menyerahkan sengketa yang bersangkutan kepada badan arbitrase ICSID karena pada waktu penandatanganan perjanjian dasar pada 1966, baik Maroko maupun Swiss bukanlah anggota peserta konvensi ICSID. Terhadap argumentasi ini, Dewan arbitrase berkesimpulan bahwa para pihak sepakat menyerahkan sengketanya kepada badan arbitrase menurut pengertian konvensi. Kemudian, Maroko berpendapat bahwa cabang perusahaan Holiday Inns lainnya yakni Holiday Inns SA dan Occidental tidak mempunyai hak untuk menjadi peserta di dalam proses arbitrase tersebut karena mereka bukanlah penandatangan perjanjian kontrak pembangunan hotel tersebut yang mengandung klausula arbitrase ICSID. Terhadap argumentasi ini, Dewan arbitrase memutuskan bahwa setiap pihak yang hak-hak dan kewajibannya berdasarkan perjanjian telah tergabung di dalamnya, berhak ats keuntungan-keuntungan dan tunduk kepada klausula arbitrase. Setelah adanya keputusan sementara di atas, Maroko kemudian mengangkat kembali masalah jurisdiksi lainnya. Setelah ditandatangani perjanjian dasar di tahun 1966, perjanjian tambahan lainnya juga ditandatangani. Diantaranya adalah kontrak antara perusahaan Holiday Inns dan perusahaan milik pemerintah Maroko dan perusahaan swasta asing lainnya yaitu Credit Immobilier Hotelier (CIH). Kontrak tersebut menyebutkan bahwa peradilan Maroko akan memiliki jurisdiksi atas sengketa-sengketa yang timbul sehubungan dengan pelaksanaan isi kontrak tersebut. Oleh karenanya, Maroko berpendapat bahwa dewan arbitrase ICSID hanya berwenang memeriksa akibat-akibat yang mungkin timbul dari putusan-putusan yang dikeluarkan pengadilan Maroko tentang hak-hak dan kewajiban para pihak terhadap Konvensi ICSID. Dewan arbitrase ICSID menolak argumentasi ini, dengan alasan bahwa proyek-proyek tersebut secara umum dilaksanakan oleh berbagai macam tindakan hukum. Para pihak tidak bermaksud untuk membeda-bedakan atau memisah-misahkan perbuatan hukum yang satu dengan yang lainnya. Perjanjian dasar 1966 yang ditandatangani bersama pemerintah pada dasarnya adalah perjanjian utama. sedangkan kontrak yang diadakana kemudian merupakan perjanjian pelaksana dari perjanjian utama tersebut. Oleh Karena itu, dewan arbitrase memiliki jurisdiksi utama untuk memutuskan masalahmasalah yang berhubungan langsung dengan perjanjian tersebut, sedangkan pengadilan maroko hanya memiliki jurisdiksi atas masalah-masalah yang tidak langsung atau aspek-aspek tambahan dengan penanaman modalnya. C. Perbedaan antara Badan Arbitrase ICSID dengan Lembaga atau Badan-badan Arbitrase Lainnya Badan arbitrase ICSID berbeda dengan lembaga atau badan-badan arbitase lainnya. hal ini tampak pada:[3]

1. Tidak seperti lembaga-lembaga arbitrase komersial lainnya, ICSID merupakan suatu organisasi internasional yang dibentuk oleh Konvensi Washington yang berlaku pada tanggal 14 Oktober 1966. 2. ICSID adalah suatu organisasi yang terkait dengan Bank Dunia, tujuan utama badan ICSID adalah untuk meningkatkan iklim saling percaya dan menguntungkan antara negara dengan investor untuk meningkatkan arus sumber kekayaan kepada negara-negara berkembang berdasarkan syarat yang reasonable. Oleh karena itu ICSID tidak dapat dipandang semata-mata sebagai suatu mekanisme penyelesaian sengketa, namun juga meningkatkan perkembangan ekonomi negara sedang berkembang. Akibat lain dari adanya keterkaitan antara ICSID dan Bank Dunia yaitu bahwa karena Bank Dunia mensubsidi ICSID, maka biaya arbitrase menjadi relative lebih murah. 3. Persidangan arbitrase ICSID dapat dilaksanakan dalam konteks hukum internasional yang ditetapkan dalam konvensi ICSID dan the Regulation and Rules yang dibuat guna pelaksanaannya. Tidak seperti arbitrase komersial lainnya, ICSID merupakan suatu perangkat/mekanisme penyelesaian sengketa yang berdiri sendiri, terlepas dari sistem-sistem hukum nasional suatu negara tententu. 4. Dalam konteks ICSID, peranan utama pengadilan nasional adalah menguatkan dan meningkatkan pengakuan atas eksekusi putusan-putusan badan arbitrase ICSID. Jika salah satu pihak bersikap apatis dan tidak mau ambil bagian dalam prsidangan, ICSID akan tetap melanjutkan persidangannya dan mengeluarkan putusannya. 5. Arbitrase ICSID dimaksudkan untuk menjaga atau memelihara keseimbangan antara kepentingan investor dengan negara penerima modal (host state)

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan 1. Pengaturan mengenai Dewan Arbitrase ICSID dalam Word Bank Convention meliputi kedudukan Centre, organisasi Centre, panel, status, Immunitas, previlese, yurisdiksi Centre, tata cara pengajuan permohonan, pembentukan tribunal, kewenangan dan fungsi tribunal, putusan arbitrase Centre, pengakuan dan eksekusi putusan. 2. Peranan badan arbitrase ICSID dalam penyelesaian sengketa Internasional terkait penanaman modal sangat diperlukan. Hal ini tampak pada beberapa perundang-undangan nasional, persyaratan penunjukan badan arbitrase ICSID sebagai badan arbitrase yang akan menangani sengketa-sengketa yang timbul dari adanya kontrak penanaman modal asing telah dicantumkan di dalamnya. Kebijaksanaan hukum seperti ini dilakukan oleh Afganistan, Kongo, Niger dan Tunisia.

Hal ini juga tampak pada peran yang dimainkan oleh Bank Dunia dalam memberikan bantuan biaya pembangunan proyek di banyak negara. Peran yang dimainkannya yaitu memonitor atau mengawasi kontrak yang dibuat untuk pelaksanaan proyek tersebut. Disini Bank Dunia bisa saja merekomendasikan kepada negara-negara yang bersangkutan dalam membuat kontrak-kontraknya dan menggunakan sarana arbutrase ICSID tersebut. 3. Perbedaan arbitrase ICSID dengan lembaga atau badan-badan arbitrase lainnya yaitu: - ICSID merupakan suatu organisasi internasional yang dibentuk oleh Konvensi Washington yang berlaku pada tanggal 14 Oktober 1966. - ICSID adalah suatu organisasi yang terkait dengan Bank Dunia. - ICSID merupakan suatu perangkat/mekanisme penyelesaian sengketa yang berdiri sendiri, terlepas dari sistem-sistem hukum nasional suatu negara tententu. - Dalam konteks ICSID, peranan utama pengadilan nasional adalah menguatkan dan meningkatkan pengakuan atas eksekusi putusan-putusan badan arbitrase ICSID. - Arbitrase ICSID dimaksudkan untuk menjaga atau memelihara keseimbangan antara kepentingan investor dengan negara penerima modal (host state) B. Saran 1. Pengaturan mengenai Dewan Arbitrase ICSID dalam Word Bank Convention sudah sangat lengkap. Negara peserta (contracting state) hendaknya mematuhi pengaturan tersebut dan di implementasikan dalam hukum nasional masing-masing negara. 2. Dalam menyelesaikan sengketa internasional terkait penanaman modal hendaknya badan arbitrase ICSID bersikap adil dan tidak memihak pada kepentingan politik negara tertentu agar tujuan dibentuknya ICSID tersebut dapat tercapai. 3. Salah satu hal yang membedakan arbitrase ICSID dengan lembaga atau badan arbitrase lainnya adalah karena ICSID terkait (associated) dengan Bank Dunia. Oleh karena adanya keterkaitan tersebut hendaknya arbitrase ICSID dapat dijadikan sebagai sarana untuk menciptakan stabilitas perekonomian dunia.

[1] Huala Adolf, Hukum Ekonomi Internasional Suatu Pengantar, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2005, Hal 315.

[2] Huala Adolf, Arbitrase Komersial Internasional, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, Hal 39-40 [3] Huala Adolf, Op cit, halaman 320-323.

DAFTAR PUSTAKA Adolf, Huala. 2002. Arbitrase Komersial Internasional. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Adolf, Huala. 2005. Hukum Ekonomi Internasional Suatu Pengantar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Harahap, Yahya. 2004. Arbitrase. Jakarta: Sinar Grafika.