Anda di halaman 1dari 27

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI) ( Intellectual Property Rights ), agaknya masih kurang dikenal masyarakat umum di Indonesia. Sementara ada yang lebih suka menyebutnya sebagai Hak atas Kepemilikan Intelektual.Terlepas dari semua peristilahan tersebut, istilah ini sangat erat kaitannya dengan sebuah ide yang terlahir dari intelektual seseorang. Apakah itu merupakah ide yang kemudian dikembangkan menjadi sebuah karya seni, ilmu pengetahuan maupun teknologi, semua berawal dari sebuah ide manusia, yang secara terus menerus berkembang, melahirkan inovasi-inovasi baru, dan secara terus menerus pula digunakan oleh manusia dalam konteks pensejahteraan umat secara universal. Fakta yang dihadapi dewasa ini adalah pergaulan dengan produkproduk teknologi, mulai dari teknologi sederhana sampai kepada teknologi maju. Baik itu merupakan teknologi yang telah berumur ratusan tahun, seperti mesin kendaraan bermotor misalnya, maupun teknologi yang baru berumur puluhan tahun, seperti perangkat komputer. Di depan generasi kita mungkin masih akan muncul jenisjenis teknologi baru yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Hal yang menarik dalam kaitan ini adalah siapa yang akan muncul sebagai penemu jenis-jenis teknologi baru itu. Apakah orang-orang Eropa, Amerika, Jepang, Cina, India, atau mungkin orang Indonesia. Telah lebih dari seperempat abad lalu terpikirkan ide-ide baru di bidang teknologi tertentu dan perlunya perlindungan. Adanya upaya pemberian perlindungan hukum terhadap pemilik ide tersebut (dalam arti suatu ide yang telah dikembangkan menjadi suatu karya cipta 1

ilmiah) kemudian dikenal dengan istilah Hak atas Kekayaan Intelektual. Akar sejarah paten tersebut memang cukup tua. Pada awalnya memang sekedar perlindungan yang bersifat monopolistik di Eropa dan memperoleh wujud yang jelas pada abad ke-14. Perlindungan tersebut pada mulanya diberikan sebagai hak istimewa kepada mereka yang telah mendirikan usaha industry baru dengan teknologi yang diimpor. Dengan perlindungan tersebut pengusaha industri yang bersangkutan diberi hak untuk dalam jangka waktu tertentu menggunakan teknologi yang diimpornya. Hak tersebut diberikan dalam bentuk surat paten. Tujuannya, memberikan kesempatan kepada pengusaha pengimpor teknologi yang baru agar benar-benar terlebih dahulu menguasai seluk beluk dan cara penggunaan teknologi yang bersangkutan. Dengan demikian tujuan pemberian paten tersebut pada awalnya bukan pemberian perlindungan kepada penemu, tetapi lebih pada rangsangan untuk pendirian industri baru dan pengalihan teknologi. Dengan terbitnya Undang-undang Monopoli ( Statuta of Monopolies ) di Inggris pada tahun 1623, dasar-dasar paten sebagaimana kita artikan sekarang mulai ada dan berlaku. Hal ini sebagai akibat dari kekuasaan kaum gilda yang menguasai pasaran atau memegang monopoli, berdasarkan paten atau oktroi yang diberikan oleh raja. Hal ini memang pada dasarnya bertentangan dengan asas-asas persaingan bebas yang anti-monopoli di kemudian hari, dalam masa beralihnya ekonomi feudal ke ekonomi perdagangan yang bersifat kapitalistik. Baru kemudian timbul kebutuhan untuk memberi perlindungan hukum terhadap penemuan dengan pemberian paten untuk penemuan. Sejak saat itu beberapa Negara seperti Perancis, Amerika Serikat, Jerman, Belanda, Australia, dan lainnya membentuk Undang-undang paten yang bermaksud hendak memberikan perlindungan dan kepastian hukum bagi penemu di bidang teknologi. 2

Sementara itu perkembangan paten di Negara-negara sosialis sesuai dengan aliran falsafat masyarakat dan negaranya berbeda dengan perkembangan paten di Negara atau masyarakat yang menganut aliran liberal. Di Uni Sovyet, Bulgaria atau Czekoslowakia dikenal dengan apa yang dinamakan Sertifikat Penemuan ( Inventers Certificate ). Perbedaan pokok antara Paten untuk penemuan dan Sertifikat bagi Penemu adalah bagi yang pertama dilindungi adalah penemunya, haknya berada pada penemu sebagai hak perseorangan untuk melaksanakan penemuannya, sedangkan bagi yang kedua, yang dilindungi terutama adalah Negara. Negara memiliki hak khusus untuk melaksanakan penemuan itu sedang penemunya memperoleh ganti rugi Sesungguhnya Indonesia telah menerapkan Undang-undang Paten sejak masa penjajahan Belanda, yaitu melalui Eigendom 1912 Reglement Industriele yang mengesahkan pelaksanaan paten, merek, dan

desain dengan mengacu peraturan-peraturan yang serupa yang terjadi di Belanda sebelumnya juga disahkan Octrooiwet 1910 nomor 136 yang mengatur mengenai paten, yang mulai berlaku di Indonesia sejak 1 Juli 1912. Setelah Indonesia merdeka dan berdaulat, ketentuan-ketentuan tersebut tidak dapat diterapkan lagi, berhubung proses permintaan paten harus dilakukan di Negeri Belanda. Sebagai gantinya, Pemerintah Republik Indonesia pada tanggal 12 Agustus 1953, melalui Menteri Kehakiman mengeluarkan Pengumuman Nomor J.S.5/4114 Berita Negara tahun 1953 Nomor 69 tentang Permohonan Sementara Pendaftaran. Berdasarkan pengumuman tersebut, untuk sementara Kementrian Kehakiman diperkenankan menerima permintaan paten dalam bahasa asing, dengan keharusan dalam waktu 6 bulan sudah disusulkan terjemahannya. Permintaan paten tersebut, baru akan diproses setelah diberlakukannya Undang-undang yang baru. Pengumuman ini disusul lagi tanggal 29 Oktober 1953 Berita Negara 3

tahun 1953 Nomor 91, yang memungkinkan permintaan paten dari luar negeri didaftarkan pula di Indonesia.
1

Pengaturan mengenai paten di Indonesia baru pertama kali dikeluarkan pada tahun 1989, yakni dengan disahkannya Undangundang Nomor 6 Tahun 1989 tentang Paten (Lembaran Negara Tahun 1989 nomor 39, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3398), yang mulai efektif berlaku pada tanggal 1 Agustus 1991. Yang mana mengalami beberapa kali revisi dan penyempurnaan hingga akhirnya dikeluarkan UU No 14 tahun 2001 tentang paten yang berlaku sampai saat ini. Namun demikian harus diakui bahwa sosialisasi perangkat peraturan perundang-undangan tersebut masih kurang menjangkau kalangan yang sangat berkaitan dengan dunia penelitian dan industri. Situasi ini menempatkan bangsa Indonesia pada posisi memprihatinkan dalam hal tingkat pemahaman terhadap pentingnya aspek perlindungan paten. Hal ini bila dibandingkan dengan negara lain seperti Jepang yang telah mengawalinya sejak keluarnya Undangundang Monopoli Paten 1885. Adanya kepentingan Internasional terhadap negara-negara berkembang yang menghendaki diadopsinya norma-norma menurut ukuran negara maju, yang lebih didominasi negara-negara Barat itu, cukup mempengaruhi kepentingan negara-negara berkembang seperti Indonesia. Oleh karena dengan segala keterbatasannya di bidang penguasaan teknologi dan kemampuan industri, Indonesia dan negaranegara berkembang lainnya harus lebih banyak mengalah. Selama ini pengenalan masyarakat terhadap sistem paten atau pemahaman akan pentingnya perlindungan paten sangat rendah. Namun juga patut diakui bahwa hal ini pun dipengaruhi oleh ketidaksiapan

1 Usman, Rachmadi, Hukum Hak atas Kekayaan Intelektual Perlindungan dan Dimensi Hukumnya di Indonesia, Cetakan ke-1, Alumni, 2003, h. 189 - 191

institusi-institusi yang berkaitan dengan penyelenggaraan

sistem paten,

seperti lembaga riset baik pemerintah maupun swasta, perguruan tinggi, dan bahkan kantor paten sendiri, yang masih menempatkan prioritas pemasyarakatan HaKI di level bawah. Kurang giatnya penyelenggaraan sosialisasi sistem HaKI, terutama paten secara meluas, mulai dari lembaga riset/perguruan tinggi hingga industri kecil di pedesaan bangsa telah kita memberikan kurang bukti-bukti yang aspek menyedihkan, betapa mementingkan

perlindungan atas hasil-hasil risetnya. Boleh jadi banyak hal yang dapat dilakukan untuk dapat menolong situasi ini, namun akan sangat sia-sia bila tidak diselenggarakan gerakan terpadu terhadap kegiatan penelitian yang berorientasi paten, kebijaksanaan industri yang berorientasi paten, sistem pengajaran di sekolah-sekolah kejuruan teknik dan fakultas teknik yang berorientasi paten, dan sistem penyelenggaraan pengelolaan paten (sejak dari pendaftaran hingga penegakan hukum) yang benar-benar berorientasi pada kepentingan paten. Tidak sedikit hasil-hasil penelitian yang merupakan hasil dari kegiatan overlap. Lebih dari satu laboratorium melakukan kegiatan penelitian yang sama, padahal itu memerlukan dana yang besar. Belum lagi hasilnya nanti ternyata bukan merupakan suatu penemuan baru, tetapi hanya pengulangan belaka. Sementara, negara lain sudah melakukannya lebih dulu, bahkan telah mempatenkannya. Lalu apa artinya penelitian yang telah kita lakukan. Sebuah hasil penelusuran ( searching ) informasi paten telah menolong suatu kelompok peneliti terhindar dari kegiatan tumpangtindih, yang dapat memungkinkan terjadinya duplikasi penemuan. Sehingga apa yang kemudian dapat dilakukan, adalah dengan cara mengubah sasaran penelitian yang hendak dicapai. Paling tidak mencoba 5

mengembangkan lebih jauh apa yang sudah ditemukan penemu terdahulu. Namun, berkaitan dengan hak paten juga kerapkali terjadi permasalahan, yaitu antara lain apabila muncul klaim terhadap suatu invensi yang dipatenkan bahwa ternyata invensi tersebut lebih dahulu pernah dikembangkan oleh Inventor lain.UU No. 14 tahun 2001 menyatakan, Kecuali terbukti lain, yang dianggap sebagai Inventor adalah seorang atau beberapa orang yang untuk pertama kali dinyatakan sebagai Inventor dalam Permohonan2. Oleh banyak kalangan hal tersebut diinterpretasikan bahwa seseorang dapat menuntut hak paten atas suatu invensi yang dianggapnya dimanfaatkan orang lain, meski invensi tersebut belum didaftarkan, asal ia mampu membuktikannya. Kenyataan tersebut menimbulkan opini bahwa paten hanya sekedar pencatatan terhadap hasil invensi oleh Direktorat Jenderal Paten, sedangkan perlindungan hukum yang diberikan sama saja terhadap invensi tak terdaftar, asalkan invensi tersebut memiliki bukti otentik mengenai orisinalitasnya. Pendapat yang berkembang di masyarakat tersebut menjadikan banyak orang bertanya-tanya mengenai sejauh mana efektivitas pendaftaran paten guna perlindungan hukum terhadap temuan teknologi. Beberapa kasus sengketa paten juga mengindikasikan bahwa invensi terdaftar juga terkadang memiliki posisi hukum yang lemah dalam menghadapi klaim mengenai orisinalitas invensi oleh Inventor tersebut. Ini menimbulkan keraguan di kalangan inventor untuk melakukan proses pendaftaran terhadap invensi yang dilakukannya. Seperti yang diketahui bahwa proses pendaftaran paten bagi invensi memerlukan waktu yang lama dan biaya yang cukup besar. Keraguan terhadap efektivitas pendaftaran guna perlindungan hukum terhadap temuan teknologi ini menjadikan Inventor enggan mendaftarkan hasil invensinya. Dalam jangka panjang, hal ini akan menimbulkan dampak kelesuan di bidang perkembangan teknologi.
2 Pamuntjak, Amir, Suplemen Sistem Paten Pedoman Praktik dan Alih Teknologi Undangundang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2001 Tentang Paten, Penerbit Djambatan, Jakarta, 2002, h. 3

Dalam hal ini, penulis tertarik untuk mengungkap Efektivitas Perlindungan Hukum terhadap Temuan Teknologi oleh Inventor dari Perspektif UU No.14 tahun 2001 tentang Paten dalam makalah berikut ini. B. Formulasi Masalah Berdasarkan uraian diatas maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut : Bagaimanakah efektivitas perlindungan hukum terhadap temuan teknologi oleh Inventor ditinjau dari UU No 14 Tahun 2001 tentang Paten?

BAB II KERANGKA KONSEPTUAL

A. Tinjauan tentang Paten Paten adalah ide di bidang teknologi yang disebut Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI), yaitu berupa benda material bentuk jelmaannya antara lain ialah televisi, proses pembuatan obat. Hak Paten merupakan salah satu unsur dalam Hak Kekayaan Intelektual. Pengertian Paten menurut Undang-undang Nomor 14 Tahun 2001 adalah hak eksklusif yang diberikan oleh negara kepada Inventor atas hasil Invensinya di bidang teknologi, yang untuk selama waktu tertentu melaksanakan sendiri invensinya tersebut atau memberikan persetujuannya kepada pihak lain untuk melaksanakannya. Paten mempunyai fungsi : 1) Memberi intelektual kejelasan hukum dengan mengenai hubungan antara kekayaan pemilik, perantara yang penemu/pencipta,

menggunakan, wilayah kerja pemanfaatannya dan yang menerima akibat dari pemanfaatan HAKI untuk jangka waktu tertentu; 2) Memberikan 3) penghargaan atas keberhasilan dari hasil ciptaan atau publikasi penemuan atau ciptaan , dalam hal ini alih informasi melalui karena temuan temuan dari hasil penemuan; Mempromosikan dokumen Paten dan Hak Cipta yang terbuka bagi masyarakat; 4) Mendorong atau merangsang terciptanya suatu karya cipta serta alih teknologi melalui Paten; 5) Memberikan perlindungan bagi kemungkinan di tiru merupakan hasil dari suatu penelitian yang mengandung resiko akan di tiru orang lain untuk dikembangkan menjadi penemuan yang lebih menguntungkan dari temuan sebelumnya tanpa kesepakatan dari pihak yang terkait. 8

B. Pelaksanaan Pendaftaran Paten Pasal 20 Undang-Undang Nomor 14 tahun 2001 tentang Paten menyatakan bahwa : Paten diberikan atas dasar permohonan dan pasal 21 Undang-undang Nomor 14 tahun 2001 tentang Paten menyatakan bahwa : Setiap permohonan hanya dapat diajukan untuk satu invensi atau beberapa invensi yang merupakan satu kesatuan invensi.3 Dari ketentuan pasal 20 dan pasal 21 ini jelas bahwa pemberian paten diberikan atas dasar permohonan yang diajukan oleh inventor atau kuasanya. Artinya, tanpa adanya permohonan seseorang, paten tidak akan diberikan. Permohonan paten dimaksud hanya dapat diajukan baik untuk satu invensi atau beberapa invensi yang merupakan satu kesatuan dan saling berkaitan yang erat.
4

C. Unsur-unsur Paten Invensi yang dapat dipatenkan harus memenuhi unsur-unsur Paten dan unsur-unsur Paten tersebut merupakan syarat absolut. Tidak terpenuhinya salah satu unsur tersebut maka suatu invensi tidak akan dapat dipatenkan. Meskipun ternyata invensi tersebut pada akhirnya dapat memperoleh hak Paten, namun karena tidak memenuhi unsur-unsur Paten, invensi tersebut dapat dibatalkan hak Patennya. UU No. 14 Tahun 2001 tentang Paten mensyaratkan tiga unsur suatu penemuan dapat dipatenkan, yaitu : a) Adanya kebaruan (novelty) Pasal 2 UU No.14 Tahun 2001 menyatakan bahwa : Paten diberikan untuk Invensi yang baru dan mengandung langkah inventif serta dapat diterapkan dalam industri.
3 Pamuntjak, Amir, Op.Cit., h.12 4 Usman, Rachmadi, Op.Cit 239

Salah satu unsur penting untuk diterima atau ditolaknya suatu permintaan Paten adalah unsur kebaruan atau novelty. Jika suatu penemuan tidak memiliki kebaruan, maka ia tidak berhak memperoleh Paten. Suatu penemuan akan hilang kebaruannya atau tidak dianggap memiliki novelty apabila penemuan itu telah diumumkan di Indonesia atau di luar Indonesia dalam suatu tulisan yang sedemikian rupa sehingga memungkinkan seorang ahli mampu melaksanakan penemuan tersebut, atau penemuan tersebut telah diumumkan di Indonesia dengan penguraian lisan atau melalui peragaan penggunaannya atau dengan cara lain sedemikian rupa sehingga memungkinkan seorang ahli mampu melaksanakan penemuan tersebut. Ketentuan serupa juga dianut dalam sstem Paten di negara-negara lain. Misalnya, Amerika Serikat, Jepang, Inggris, dan sebagainya. Inggris pada pasal 2 ayat 1 Paten Act 1977 menyatakan an invention shall be taken to be new if it does not form part of the state of the art. The state of the art dalam hal yang berkaitan dengan Paten akan mencakup segala hal, apakah produk, proses, informasi tentang segala sesuatu tentang penemuan tersebut yang terjadi setiap saat sebelum tanggal prioritas penemuan tersebut sehingga terbuka untuk umum baik melalui uraian secara tertulis atau lisan dengan berbagai macam cara. Ketentuan serupa juga dicantumkan pada pasal 54 European Patent Convention (EPC). Kekecualian tersebut diberikan apabila dalam waktu 6 bulan diajukan permintaan Paten (vide pasal 55 ayat 1) dengan persyaratan bahwa penemuan yang dikemukakan tersebut terjadi pada pameran yang dianggap resmi.5 b) Memiliki langkah inventif (Inventive Step) Selain sebagaimana tersebut dalam pasal 2 ayat 1 UU No.14 Tahun 2001, pasal 2 ayat 2 juga menyebutkan bahwa : Suatu Invensi mengandung langkah inventif jika Invensi tersebut bagi seseorang yang mempunyai keahlian tertentu
5 Maulana, Insan Budi, Sukses Bisnis Melalui Merek, Paten, & Hak Cipta, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 1997 : 117

10

di bidang teknik merupakan hal yang tidak dapat diduga sebelumnya. Penilaian yang tidak dapat diduga tersebut harus dilakukan dengan memperhatikan keahlian yang ada pada saat dilakukan permintaan Paten atau yang telah ada pada saat diajukan permintaan Paten pertama dalam hal permintaan Paten tersebut dilakukan dengan hak prioritas.6 c) Dapat diterapkan di bidang Industri (Industrial Applicability) Unsur ketiga suatu invensi yang dapat dipatenkan adalah invensi tersebut harus dapat diterapkan di Bidang Industri. Persyaratan ketiga ini berkaitan dengan perilaku manufaktur. Sebagaimana disebutkan pada pasal 5 UU No.14 tahun 2001, yaitu : Suatu Invensi dapat diterapkan dalam industri jika Invensi tersebut dapat dilaksanakan dalam industri sebagaimana yang diuraikan dalam Permohonan.7 D. Perlindungan Paten Ditinjau Dari UU No 14 Tahun 2001 Sekalipun paten merupakan hak milik perseorangan, pelaksanaannya memiliki dampak yang sangat luas dalam segi lain, terutama di bidang tatanan kehidupan sosial, ekonomi dan politik. Oleh karena itu, pelaksanaan hak tersebut dapat berlangsung dengan tertib. Negara juga mengancam pidana atas pelanggaran tertentu terhadap Undang-undang Paten. Dengan Ungkapan lain, bahwa hak untuk mengajukan tuntutan ganti kerugian tidak mengurangi hak Negara untuk melakukan tuntutan pidana terhadap pelanggaran paten.
8

Dalam Undang-undang Paten No 14 Tahun 2001 ketentuan-ketentuan tentang pelanggaran Paten yang sifatnya pidana diatur pada pasal 130 sampai dengan pasal 135. Pasal 130 menyatakan bahwa barang siapa
6 Ibid : 118 7 Pamuntjak, Amir, Op.Cit., h.2 8 Usman, Rachmadi, Hukum Hak atas Kekayaan Intelektual Perlindungan dan Dimensi Hukumnya di Indonesia, Cetakan ke-1, Alumni, 2003 : 297

11

dengan sengaja dan tanpa hak melanggar hak pemegang Paten dengan melakukan salah satu tindakan sebagaimana dimaksud dalam pasal 16 dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 tahun dan atau denda paling banyak 500 juta rupiah. Sedangkan sanksi terhadap pelanggaran tahun dan atau denda paling banyak 250 juta rupiah. Ketentuan yang dimaksud dalam pasal 16 adalah hak-hak yang dimiliki oleh pemegang Paten. Pasal 16 menyatakan bahwa pemegang Paten memiliki hak khusus untuk malaksanakan secara perusahaan atas Patennya baik secara sendiri maupun dengan memberikan persetujuaan kepada orang lain, yaitu : a. Membuat, menggunakan, menjual, mengimpor, menyewakan, menyerahkan, atau menyediakan untuk dijual atau disewakan atau diserahkan produk yang diberi Paten b. Menggunakan proses produksi yang diberi Paten untuk membuat barang dan tindakan lainnya sebagaimana dimaksud di atas. Berdasarkan Pasal 130 dan pasal 131 UU No.14 Tahun 2001 tentang Paten tersebut juga, seseorang dapat mengajukan tuntutan perdata atas hak Paten dan juga pembatalan atas hak Paten. Tuntutan perdata atas hak Paten dapat terjadi apabila terjadi kekeliruan mengenai siapa yang berhak atas hak Paten tersebut. Misalnya nama penemu yang sesungguhnya masih belum dicantumkan dalam hak Paten tersebut, sehingga penemu yang dimaksud tidak memperoleh royalti atas penggunaan invensinya. Dalam hal ini, ia dapat mengajukan gugatan perdata untuk memperoleh hak sesuai dengan invensi yang dilakukannya. Juga bisa terjadi apabila nama yang dicantumkan sebagai inventor ternyata memang sama sekali bukan individu yang melakukan invensi sehingga berhak memperoleh hak Paten. Dalam hal ini, inventor sesungguhnya berhak melakukakan gugatan untuk pembatalan Paten secara perdata, sebagaimana diatur dalam pasal 91 UU No. 14 tahun 12 Paten sederhana yang diatur dalam pasal 131 adalah pidana penjara paling lama 2

2001. Dengan demikian, pemilik invensi sesungguhnya dapat memperoleh haknya kembali berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

13

BAB III PEMBAHASAN

Perlindungan terhadap hasil penelitian dan temuan teknologi hanya dapat dijamin oleh perundang-undangan yang ada, dalam hal ini dalam UU No 14 tahun 2001, apabila inventor telah mengajukan permohonan dan memiliki hak paten atas invensi yang dilakukannya. Suatu invensi memerlukan pengakuan, yang mana berupa hak paten. Pengakuan tersebut diperlukan mengingat keistimewaan dari invensi tersebut. Sebagaimana disebutkan dalam pasal 2 ayat (1) Undang-undang tentang paten, bahwa invensi adalah sesuatu yang memiliki aspek memiliki langkah inventive, dan dapat diproduksi baru , . Dimana ketiga aspek

tersebut merupakan syarat suatu produk yang dapat diusulkan untuk mendapatkan perlindungan paten dari Direktorat Jendral HAKI. Persyaratan yang berkenaan dengan invensi yang dipatenkan adalah sebagai berikut : 1. Kebaruan ( novelty ) maksudnya adalah pada saat pengajuan permintaan paten, penemuan tersebut tidak sama atau tidak merupakan bagian dari invensi terdahulu ( prior art ) 2. Mengandung langkah inventif ( inventiv steps ) Biasanya disebut juga dengan "ketidaktampakan secara nyata nonobvius ", jadi penemuan tersebut merupakan hal yang tidak dapat diduga sebelumnya bagi seorang yang mempunyai keahlian biasa di bidang teknik Sehingga dengan sendirinya invensi yang dimintakan perlindungan paten pasti memiliki sifat-sifat yang tersebut diatas dan memiliki perbedaan-perbedaan serta memiliki langkah inventif dibandingkan produk Prior Art (carian seni terdahulu/ penemuan produk yang sudah ada). Persyaratan yang harus dipenuhi dalam 14

memperoleh paten ada dua aspek yaitu persyaratan administratif (permohonan pengajuan paten) dan persyaratan yang harus dipenuhi oleh invensi itu sendiri (baru, memiliki langkah inventif, dan dapat diproduksi) Dapat diproduksi, berarti invensi tersebut dapat digunakan dalam berbagai tujuan praktis, dengan kata lain penemuan tersebut tidak dapat bersifat teoritis semata-mata. Perlindungan terhadap hasil invensi tersebut juga meliputi tindak pelanggaran pidana maupun perdata atas paten. 1. Tindak Pelanggaran Pidana atas Paten Pasal 130 Undang-undang Paten No.14 Tahun 2001 menyatakan Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melanggar hak Pemegang Paten dengan melakukan salah satu tindakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah). Jika tindakan tersebut di atas dilakukan terhadap paten sederhana, maka pelakunya diancam dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah). Perbuatan yang sengaja melanggar ketentuan paten sebagaimana disebutkan pada pasal 130 Undang-undang tentang Paten No.14 tahun 2001 dapat terjadi baik disengaja maupun tidak. Perbuatan yang sengaja melakukan pelanggaran ini terjadi karena mengira pemilik paten tersebut tidak mengajukan permintaan paten di Indonesia atau karena faktor-faktor lainnya. Sedangkan perbuatan pidana paten yang tidak disengaja misalnya adalah mengimpor produk atau proses paten dari luar negeri tanpa izin atau tanpa hak dari pemegang paten atau penerima lisensi paten tersebut. Uraian 15

terakhir ini terjadi dengan syarat bahwa penerima lisensi tersebut berhak untuk melarang impor tersebut. Pihak yang merasa dirugikan akibat adanya pelanggaran paten dapat melaporkan tindak pidana tersebut kepada pihak Kepolisian, yang selanjutnya akan diproses oleh pihak Kejaksaan Negeri setempat. Pada proses ini, pihak kepolisian, kejaksaan atau pengadilan negeri dapat menyita barang-barang yang merupakan pelanggaran paten tersebut. Prinsip proses pidana paten sebenarnya tidak jauh berbeda dengan tindak pidana lainnya. Pidana paten yang dianut di Indonesia sebenarnya merupakan delik biasa dan bukan delik aduan. Dengan delik ini, pihak kepolisian dapat melakukan penyelidikan atau penyidikan terhadap siapapun yang diduga melakukan perbuatan pidana paten . Adanya tuntutan pidana paten yang dilaksanakan oleh pejabat negara tidak mengurangi hak bagi pemegang paten untuk mengajukan tuntutan secara perdata yang menimbulkan kerugian bagi pemegang paten karena adanya pelanggaran paten tersebut. Besar kecilnya tuntutan secara perdata tersebut juga akan mempengaruhi kompensasi yang dapat diberikan oleh pengadilan terhadap pihak pemegang paten atau pihak lain yang berhak atas paten tersebut, misalnya : pemegang lisensi.

16

Untuk menentukan telah terjadi suatu tindak pidana hak paten, perlu diadakan penyelidikan dan penyidikan. Penyidikan tindak pidana hak paten ini , selain dilakukan oleh penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia, juga dapat dilakukan Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu pula. Hal ini sesuai dengan KUHAP yang memungkinkan penyidikan tindak pidana tidak hanya dilakukan oleh Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia, tetapi juga dapat dilakukan oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil tertentu, namun dalam pelaksanaan tugas dan wewenangnya penyidik pejabat Pegawai Negeri Sipil tersebut berasal di bawah koordinasi dan pengawasan Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia.9 2. Tindak Pelanggaran Perdata atas Paten Dalam tuntutan perdata paten, tuntutan dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu : a) masalah hak atas paten, dan b) masalah gugatan pembatalan atas paten. Tuntutan terhadap masalah hak atas paten tersebut terjadi apabila terjadi kekeliruan terhadap siapakah yang berhak atas paten tersebut. Bisa juga terjadi penemu atas paten tersebut sebenarnya lebih dari satu orang tetapi ternyata salah satu diantara para penemu tersebut tidak menyertakan penemu lainnya sebagai pihak yang berhak atas paten tersebut. Setelah paten itu diberikan kepadanya, kemudian penemupenemu paten lainnya menuntut sebagian atau hak paten tersebut. Atau ia (mereka) mengajukan tuntutan atas royalti yang seharusnya dapat diterimanya.

9 Usman, Rachmadi, Hukum Hak atas Kekayaan Intelektual Perlindungan dan Dimensi Hukumnya di Indonesia, Cetakan ke-1, Alumni, 2003 : 301

17

Bisa juga terjadi, jika perusahaan yang mengajukan permintaan paten tidak menyebutkan nama pegawai yang sesungguhnya sebagai penemu atas paten tersebut. Dalam hal ini, si pegawai mengajukan tuntutan agar ia dicantumkan sebagai pihak yang menemukan paten tersebut dan berhak atas penerimaan royalti yang wajar atau imbalan yang sepatutnya. Untuk masalah-masalah di atas, gugatan perdata tersebut dapat diajukan di pengadilan manapun yang bergantung pada yuridiksi tergugat atau masalah itu berada. Pemilihan pengadilan negeri ini berbeda dengan masalah gugatan pembatalan paten. Sedangkan masalah gugatan pembatalan paten hanya dapat diajukan melalui Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Gugatan ini timbul apabila paten yang diberikan kepada pihak tertentu ternyata sebenarnya tidak memenuhi persyaratan absolut (yang diatur pada pasal 2 Undang-undang Paten No.6 Tahun 1989) atau peryaratan relatif (yang diatur pada pasal 7). Selain alasan di atas, gugatan pembatalan dapat diajukan jika ternyata paten yang diberikan kepada orang lain tersebut merupakan penemuan yang sama dengan pemilik paten yang akan melakukan pembatalan tersebut. Gugatan pembatalan ini tentu saja diajukan oleh pihak ketiga. Dan pengertian pihak ketiga ternyata tidak dijelaskan. Dengan demikian, pengertian bahwa pihak ketiga dapat siapa saja yang memang mengetahui bahwa paten yang diberikan kepada orang tersebut sebenarnya tidak memenuhi persyaratan-persyaratan Pasal 2 atau pasal 7. Akan tetapi, ada pengecualian khusus dalam hal ini, yaitu beberapa tindakan yang dikecualikan dari ketentuan pidana sebagaimana disebutkan dalam pasal 135 UU No. 14 tahun 2001 yang mana adalah : a. mengimpor suatu produk farmasi yang dilindungi Paten di Indonesia dan produk tersebut telah dimasukkan ke pasar 18

di suatu negara oleh Pemegang Paten yang sah dengan syarat produk itu diimpor sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku; b. memproduksi produk farmasi yang dilindungi Paten di Indonesia dalam jangka waktu 2 (dua) tahun sebelum berakhirnya perlindungan Paten dengan tujuan untuk proses perizinan kemudian melakukan pemasaran setelah perlindungan Paten tersebut berakhir. 3. Penyelesaian Sengketa Paten Dalam Undang-undang Paten yang baru ini, penyelesaian sengketa paten dapat dilakukan melalui proses penyelesaian sengketa di luar pengadilan, disamping proses penyelesaian sengketa melalui pengadilan. Proses pengadilan dalam menyelesaikan suatu sengketa pada umumnya memakan waktu yang lama dan biaya yang besar. Mengingat sengketa paten berkaitan erat dengan masalah perekonomian dan perdagangan yang harus tetap berjalan, penyelesaian sengketa paten dapat dilakukan melalui arbitrase atau alternatif penyelesaian sengketa, selain relatif lebih cepat, biayanya pun lebih ringan. Demikian pula dalam Undangundang Paten yang baru ini, penyelesaian perdata di bidang paten tidak dilakukan ini di Pengadilan Negeri, tetapi dilakukan di Pengadilan Niaga. Jika pemegang paten atau penerima lisensi mendapat invensi yang dimilikinya diberikan atau digunakan orang lain yang tidak berhak, dapat menggugat hal tersebut ke Pengadilan Niaga sebagaimana diatur dalam pasal 117 sampai pasal 124 Undang-undang No.14 Tahun 2001 tentang paten. Pasal 117 menyatakan : (1) Jika suatu Paten diberikan kepada pihak lain selain dari yang berhak berdasarkan Pasal 10, Pasal 11, dan Pasal 12, pihak yang berhak atas Paten tersebut dapat menggugat kepada Pengadilan Niaga. (2) Hak menggugat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku surut sejak Tanggal Penerimaan. 19

(3) Pemberitahuan isi putusan atas gugatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada para pihak oleh Pengadilan Niaga paling lama 14 (empat belas) hari terhitung sejak tanggal putusan diucapkan. (4) Isi putusan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dicatat dan diumumkan oleh Direktorat Jenderal10 Dari pasal 117 ini, seseorang yang berhak atas paten berdasarkan pasal 10, pasal 11, dan pasal 12, tetapi diberikan kepada pihak lain yang tidak berhak, pihak yang merasa berhak dapat menggugat orang lain yang telah diberikan paten tersebut ke Pengadilan Niaga. Selanjutnya, isi putusan atas gugatan itu wajib diberitahukan dan disampaikan kepada para pihak oleh Pengadilan Niaga paling lama 14 hari terhitung sejak tanggal putusan diucapkan dan juga wajib dicatat dalam Daftar Umum Paten dan diumumkan dalam Berita Resmi Paten oleh Direktorat Jenderal HAKI. Dalam hak paten, selain melekat hak moral, juga melekat hak ekonomis. Karena pasal 118 menentukan bahwa gugatan ganti rugi kepada Pengadilan Niaga setempat terhadap siapa pun yang dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan membuat, menggunakan, menjual, mengimpor, menyewakan, menyerahkan, atau menyediakan untuk membuat barang dan tindakan lainnya. Gugatan ganti rugi tersebut hanya dapat diterima apabila produk atau proses itu terbukti dibuat dengan menggunakan invensi yang telah diberi paten. Isi putusan pengadilan niaga tentang gugatan dimaksud disampaikan kepada Direktorat Jenderal HAKI paling lama 14 hari setelah tanggal putusan diucapkan untuk dicatat dalam daftar umum paten dan diumumkan dalam berita resmi paten. Pasal 118 ini menunjukkan suatu bukti bahwa hak paten itu merupakan hak kebendaan, karena terhadap orang lain yang tidak berhak, hak tersebut tidak dapat dipertahankan, bahkan terhadap siapapun juga. Salah satu ciri hak kebendaan adalah bahwa hak tersebut terus mengikuti dimana pun bendanya berada. Mengenai pembuktian terbalik dalam kaitan dengan penanganan sengketa
10 Pamuntjak, Amir, Op.Cit.

20

paten proses, pasal 119 ayat (1) dan (2) menyatakan sebagai berikut : 1) Dalam hal pemeriksaan gugatan terhadap Paten-proses, kewajiban pembuktian bahwa suatu produk tidak dihasilkan dengan menggunakan Paten-proses sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (1) huruf b dibebankan kepada pihak tergugat apabila: a. produk yang dihasilkan melalui Paten-proses tersebut merupakan produk baru; b. produk tersebut diduga merupakan hasil dari Paten-proses dan sekalipun telah dilakukan upaya pembuktian yang cukup untuk itu, Pemegang Paten tetap tidak dapat menentukan proses apa yang digunakan untuk menghasilkan produk tersebut. (2) Untuk kepentingan pemeriksaan gugatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pengadilan berwenang: a. memerintahkan kepada Pemegang Paten untuk terlebih dahulu menyampaikan salinan Sertifikat Paten bagi proses yang bersangkutan dan bukti awal yang menjadi dasar gugatannya; dan b. memerintahkan kepada pihak tergugat untuk membuktikan bahwa produk yang dihasilkannya tidak menggunakan Paten-proses tersebut. (3) Dalam pemeriksaan gugatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), pengadilan wajib mempertimbangkan kepentingan tergugat untuk memperoleh perlindungan terhadap rahasia proses yang telah diuraikannya dalam rangka pembuktian di persidangan.11 Dari bunyi ketentuan pasal 119 ayat (1) dan ayat (2) Undang-undang Nomor 14 Tahun 2001 tentang paten tersebut dapat diketahui bahwa proses pemeriksaan gugatan terhadap paten proses dilakukan dengan menggunakan beban pembuktian terbalik. Penerapan beban pembuktian terbalik ini dilakukan mengingat sulitnya penanganan sengketa paten proses. Beban pembuktian terbalik akan digunakan bila produk yang dihasilkan melalui paten proses tersebut merupakan produk baru atau produk tersebut diduga merupakan hasil paten proses
11 Pamuntjak, Amir, Op.Cit. h.50

dan

21

sekalipun telah dilakukan upaya pembuktian yang cukup, tetapi pemegang paten tidak dapat menentukan proses apa yang digunakan menghasilkan produk tersebut. Sekali beban pembuktian dalam proses pemeriksaan gugatan paten proses berada di tangan pihak tergugat, guna menjaga keseimbangan kepentingan yang wajar diantara pihak, hakim tetap diberi kewenangan untuk memerintahkan kepada pemilik paten untuk terlebih dahulu menyampaikan bukti salinan Sertifikat Paten bagi proses yang bersangkutan serta bukti awal yang memperkuat dugaan itu. Dengan demikian, beban pembuktian dalam proses pemeriksaan gugatan paten proses, dapat dibebankan kepada tergugatnya, disamping kepada penggugatnya. Mengingat proses persidangan Pengadilan Niaga terbuka untuk umum, hakim juga wajib mempertimbangkan kepentingan tergugat untuk memperoleh perlindungan terhadap rahasia proses yang diuraikannya dalam rangka pembuktian di Persidangan sebagaimana ditentukan dalam Pasal 119 ayat(3) Undang-undang No.14 tahun 2001. Perlindungan terhadap kerahasiaan paten proses sangat penting, mengingat sifat suatu proses yang pada umumnya sangat mudah dimanipulasi atau disempurnakan oleh orang yang memiliki pengetahuan yang umum di bidang teknik atau teknologi tertentu. Dengan demikian, berdasarkan ketentuan ini, atas permintaan para pihak, hakim dapat mempertimbangkan untuk menetapkan agar persidangan dinyatakan tertutup untuk umum. Mengenai tata cara penanganan sengketa paten lebih lanjut diatur dalam pasal 120 sampai pasal 124 Undang-undang No. 14 tahun 2001 tentang paten. Setelah menerima pendaftaran gugatan dalam waktu paling lama 14 hari, Pengadilan Niaga akan menetapkan hari sidang. Sidang pemeriksaan atas gugatan akan dimulai dalam waktu paling lambat 60 hari sejak pendaftaran gugatan. Gugatan yang didaftarkan di Pengadilan Niaga sudah tentu dikenai biaya gugatan. Pemanggilan para pihak dilakukan oleh juru sita Pengadilan Niaga paling lama 14 hari sebelum pemeriksaan pertama diselenggarakan. Putusan atas gugatan harus diucapkan paling lambat 180 hari setelah tanggal gugatan didaftarkan dan 22

selesai selama 180 hari atau 6 bulan dihitung sejak tanggal gugatan didaftarkan. Putusan atas gugatan dimaksud harus memuat secara lengkap pertimbangan hukum yang mendasari putusan tersebut serta harus diucapkan dalam siding terbuka untuk umum. Pengadilan Niaga berkewajiban menyampaikan isi putusan kepada para pihak yang tidak hadir paling lambat 14 hari sejak putusan diucapkan dalam sidang yang dinyatakan terbuka untuk umum. Penyelesaian sengketa paten, selain dapat diselesaikan melalui Pengadilan Niaga, menurut pasal 124 juga dapat diselesaikan melalui arbitrase atau Alternatif Penyelesaian Sengketa. Penyelesaian Sengketa dapat dilakukan melalui negosiasi, mediasi, konsiliasi, atau cara lain yang dipilih oleh para pihak sesuai dengan Undang-undang yang berlaku yang mengatur mengenai alternatif penyelesaian sengketa.

23

BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan Pengertian Paten menurut Undang-undang Nomor 14 Tahun 2001 adalah hak eksklusif yang diberikan oleh negara kepada Inventor atas hasil Invensinya di bidang teknologi, yang untuk selama waktu tertentu melaksanakan sendiri invensinya tersebut atau memberikan persetujuannya kepada pihak lain untuk melaksanakannya. Pendaftaran adalah perbuatan hukum yang diatur dalam Undangundang Hak Paten suatu negara dan konvensi-konvensi Internasional tentang Hak Paten: Dalam hubungannya dengan Hak Paten, pendaftaran adalah kegiatan pemeriksaan dan pencatatan setiap Hak Paten seseorang, oleh pejabat pendaftaran, dalam buku daftar yang disediakan untuk itu, berdasarkan permohonan pemilik/pemegang hak, menurut syarat-syarat dan tata cara yang diatur Undang-undang, dengan tujuan untuk memperoleh kepastian status kepemilikan dan perlindungan hukum, dan sebagai bukti pendaftar an diterbitkan Sertifikat Hak Paten. Melalui pendaftaran, Undang-undang menetapkan kepemilikan yang dibuktikan dengan sertifikat. Dengan demikian, akan diketahui dan diakui pemilik sah atas suatu Paten. Di samping memberikan kepastian hukum, pendaftaran juga bertujuan untuk memberikan perlindungan hukum. Prinsip Undang-undang adalah hanya mengakui Hak Kekayaan lntelektual yang terdaftar. Pendaftaran harus dilakukan melalui permohonan yang diajukan secara tertulis dan dalam bahasa Indonesia, juga harus di sertai dengan biaya yang telah ditetapkan. Kemudian, permohonan ditandatangani oleh pemohon atau kuasanya. Jadi, dapat diberikan kuasa pada orang lain untuk mengajukan permohonan ini. 24

Paten yang telah terdaftar akan mendapatkan perlindungan hukum dari Pemerintah Republik Indonesia. Perlindungan terhadap hasil invensi tersebut juga meliputi tindak pelanggaran pidana maupun perdata atas paten Pasal 130 Undang-undang Paten No.14 Tahun 2001 menyatakan Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melanggar hak Pemegang Paten dengan melakukan salah satu tindakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah). Pihak yang merasa dirugikan akibat adanya pelanggaran paten dapat melaporkan tindak pidana tersebut kepada pihak Kepolisian, yang selanjutnya akan diproses oleh pihak Kejaksaan Negeri setempat. Pada proses ini, pihak kepolisian, kejaksaan atau pengadilan negeri dapat menyita barang-barang yang merupakan pelanggaran paten tersebut. Prinsip proses pidana paten sebenarnya tidak jauh berbeda dengan tindak pidana lainnya Dalam tuntutan perdata paten, dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu : a) masalah hak atas paten, dan b) masalah gugatan pembatalan atas paten. Tuntutan terhadap masalah hak atas paten tersebut terjadi apabila terjadi kekeliruan terhadap siapa yang berhak atas paten tersebut. Untuk masalah-masalah di atas, gugatan perdata tersebut dapat diajukan di pengadilan manapun yang bergantung pada yuridiksi tergugat atau masalah itu berada. Pemilihan pengadilan negeri ini berbeda dengan masalah gugatan pembatalan paten.

B. Implikasi 25

Adanya Undang-undang Paten dapat memberikan perlindungan hukum terhadap teknologi yang berhak paten sehingga dapat memberikan daya tarik bagi investor untuk menginvestasikan modal dan membawa teknologi patennya ke Indonesia dan dengan teknologi patennya diharapkan kita dapat menerima transfer teknologi melalui pelatihan atau secara tidak langsung menimbulkan inisiatif dan inovasi untuk mengembangkan teknologi paten dan ada juga baiknya bila para peneliti diberikan insentif dan penghargaan apabila mampu untuk menemukan atau mengembangkan suatu penemuan baru. Sedang dalam hal pelaksanaan perundangan Paten hendaknya pemerintah menyebarluaskan informasi paten kepada masyarakat pada umumnya dan peneliti pada khususnya. Dengan cara ini diharapkan jumlah pengajuan dan permohonan paten dari masyarakat maupun dari kalangan ilmuwan akan mendekati seimbang dengan permohonan paten dari luar negeri dan selanjutnya para pemegang hak paten dipertemukan dengan para pengusaha yang berminat menggunakan teknologi hak paten

26

DAFTAR PUSTAKA Abdulkadir, Mohammad, Kajian Ekonomi Hak atas Kekayaan Intelektual, Rosda, Bandung, 1995 Maulana, Insan Budi, Sukses Bisnis Melalui Merek, Paten, & Hak Cipta, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 1997. Pamuntjak, Amir, Suplemen Sistem Paten Pedoman Praktik dan Alih Teknologi Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2001 Tentang Paten, Penerbit Djambatan, Jakarta,2002. Usman, Rachmadi, Hukum Hak atas Kekayaan Intelektual Perlindungan dan Dimensi Hukumnya di Indonesia, Cetakan ke-1, Alumni, 2003

27