Anda di halaman 1dari 21

PRESENTASI KASUS Penatalaksanaan Anestesi Umum Pada Operasi Kraniotomi Untuk Koreksi Fraktur Impresi Pada Ossis Frontalis

Pembimbing : Dr. Diding, Sp. An Disusun Oleh : 1. Arimas Bramantyo 2. Retno Suparihastuti 111.022.11.09 111.022.11.10

SMF ANESTESIOLOGI DAN REANIMASI RUMAH SAKIT WIJAYA KUSUMA PURWOKERTO UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN JAKARTA 2012

HALAMAN PENGESAHAN

Presentasi kasus dengan judul : Penatalaksanaan Anestesi Umum Pada Operasi Kraniotomi Untuk Koreksi Fraktur Impresi Pada Ossis Frontalis

Disusun untuk memenuhi sebagian syarat kegiatan kepaniteraan klinik di Bagian Anetesiologi dan Reanimasi Rumah Sakit Wijaya Kusuma Purwokerto.

Di susun oleh : 1. Arimas Bramantyo 2. Retno Suparihastuti 111.022.11.09 111.022.11.10

Telah dipresentasikan dan di setujui Pada tanggal : Juli 2012

Dokter Pembimbing,

dr. Diding, Sp. An

Penatalaksanaan Anestesi Umum Pada Operasi Kraniotomi Untuk Koreksi Fraktur Impresi Pada Ossis Frontalis

ABSTRAK Dilaporkan penatalaksanaan anestesi pada operasi kraniotomi untuk koreksi fraktur impresi pada os frontalis pada seorang laki-laki berumur 13 tahun dengan anestesi umum, status fisik ASA 1E Medikasi induksi dengan memakai Recofol 100mg, Petidin 4 ml. Premedikasi dengan menggunakan sulfas atropine 0,25mg dan fortanest 2mg. Maintenance dengan inhalasi O2, N2O dan Halotan menggunakan ET no. 7. Durante operasi 55 menit dengan memonitoring tensi, nadi, saturasi oksigen. Operasi berlangung selama 55 menit. Durante operasi tidak didapatkan penyulit anestesi maupun pembedahan. Postoperasi pasien tetap terintubasi dengan sedasi dan napas kontrol. Perawatan post operasi dilakukan di Bangsal.

BAB I PENDAHULUAN I.1 Definisi Trauma Kepala (Head Injury) Pada penanganan pasien dengan trauma kepala, seluruh tindakan resusitasi, anamnesis dan pemeriksaan fisik dilakukan secara serentak. Pendekatan yang sistematis dapat mengurangi unsur keterlewatannya evaluasi unsur vital. Jika telah terjadi suatu trauma kepala, tidak ada satu hal pun yang dapat dilakukan untuk mengubahnya. Yang dapat dilakukan adalah meminimalisir kerusakan yang muncul dari komplikasi sekunder. I.2 Klasifikasi Secara sederhana, trauma kepala dibagi berdasar mekanisme, keparahan dan morfologi. Berdasar mekanisme, trauma kepala dibagi menjadi trauma tumpul atau tajam. Berdasarkan keparahan cedera, trauma kepala dibagi dalam ringan (GCS 14-15), sedang (GCS 9-13) atau berat (GCS 3-8). Kemajuan teknologi pencitraan telah memungkinkan pengklasifikasian kerusakan otak menjadi fokal dan difus, walaupun mungkin saja terdapat keduanya. Selain itu kerusakan otak juga dapat dikelompokkan menjadi primer (terjadi pada saat benturan) atau sekunder (berasal dari kerusakan yang telah terjadi). Yang termasuk kerusakan fokal adalah 1. Laserasi dan kontusio 2. Hematoma intrakranial 3. Herniasi tentorial/tonsilar 4. Infeksi Yang termasuk kerusakan difus adalah 1. Kerusakan akson difus 2. Edema otak 3. Iskemia otak

I.3 Manajemen Pasien dengan Trauma Kepala Pasien yang datang dengan trauma kepala, khususnya yang dalam keadaan koma, memerlukan penatalaksanaan segera dengan prioritas yang sesuai. Pada cedera kepala sering terjadi gangguan terhentinya pernafasan yang sementara. Apnea yang berlangsung lama sering merupakan penyebab kematian langsung di tempat kecelakaan. Aspek yang sangat penting pada penatalaksanaan segera penderita cedera kepala berat ini adalah Intubasi endotrakeal. Penderita mendapat ventilasi dengan oksigen 100% sampai diperoleh hasil pemeriksaan analisis gas darah dan dapat dilakukan penyesuaian yang tepat terhadap FiO2. Tindakan hiperventilasi harus dilakukan secara hati-hati pada penderita cedera kepala berat. Walaupun hal ini dapat digunakan sementara untuk mengkoreksi asidosis dan menurunkan secara cepat TIK pada penderita dengan pupil yang telah berdilatasi, tindakan hiperventilasi ini tidak selalu menguntungkan. Hiperventilasi dapat dilakukan secara hati-hati pada penderita cedera kepala berat yang menunjukkan perburukan GCS atau timbulnya dilatasi pupil. pCO2 harus dipertahankan antara 25-35 mmHg (3,3-4,7 kPa). Hipotensi dan hipoksia adalah penyebab utama terjadinya perburukan pada penderita cedera kepala berat. Karenanya bila terjadi hipotensi maka harus segra dilakukan tindakan untuk menormalkan tekanan darahnya. Hipotensi biasanya tidak disebabkan oleh cedera otak itu sendiri keduali pada stadium terminal medulla oblongata sudah mengalami gangguan. Yang lebih sering terjadi adalah bahwa hipotensi merupakan adanya kehilangan darah yang cukup berat, walaupun tidak tampak. Penyebab lainnya adalah Trauma Medula Spinalis (Tetraplegia atau Paraplegia), kontusio jantung atau tamponade jantung dan tension pneumothorax. Pada pasien dengan trauma kepala, seringkali anamnesis tidak didapat dari pasien melainkan dari keluarga atau orang lain yang melihat kejadian trauma tersebut. Hal-hal yang perlu ditanyakan antara lain adalah : Berapa lama terjadinya penurunan kesadaran Periode amnesia pasca trauma

Penyebab trauma Keluhan nyeri kepala dan muntah

Pada pemeriksaan fisik, ada beberapa hal yang harus diperhatikan ialah : Kesadaran dan tanda vital Refleks pupil dan pergerakan bola mata Kelemahan pada ekstremitas Tanda fraktur basis cranii Laserasi dan hematoma

Pemeriksaan yang perlu dilakukan diantaranya adalah : Pemeriksaan lab rutin Pemeriksaan radiologis, berupa foto rontgen kepala dan bagian tubuh lain yang diperlukan. Jika tersedia, dapat dilakukan pemeriksaan dengan CT scan atau MRI. I.4 Anestesi pada cedera kepala Pertimbangan utama dalam memilih obat anestesi, atau kombinasi obat-obatan anestesi, adalah pengaruhnya terhadap TIK. Karena semua obat yang menyebabkan vasodilatasi serebral mungkin berakibat peninggian TIK,pemakaiannya sedapat mungkin harus dicegah. Satu yang terburuk dalam hal ini adalah ketamin, yang merupakan vasodilator kuat dan karenanya secara umum dicegah penggunaannya pada pasien cedera kepala. Semua obat anestesi inhalasi dapat meninggikan aliran darah serebral secara ringan hingga berat. Obat inhalasi volatil seperti halotan. enfluran dan isofluran, semua meninggikan aliran darah serebral, namun mereka mungkin aman pada konsentrasi rendah. Isofluran paling sedikit kemungkinannya menyebabkan vasodilatasi serebral. Nitrous oksida berefek vasodilatasi ringan yang mungkin secara klinik tidak bermakna, dan karenanya dipertimbangkan sebagai obat yang baik untuk digunakan pada pasien cedera kepala. Kombinasi yang umum digunakan adalah nitrous oksida (50-70 % dengan oksigen), relaksan otot intravena, dan tiopental. Penggunaan hiperventilasi dan mannitol sebelum dan selama induksi dapat mengaburkan efek vasodilatasi dan membatasi hipertensi intrakranial pada batas tertentu saat kranium mulai dibuka. Bila selama operasi pembengkakan otak

maligna terjadi, yang refraktori terhadap hiperventilasi dan mannitol, tiopental (Pentothal) pada dosis besar (5-10 mg/kg) harus digunakan. Obat ini dapat menyebabkan hipotensi, terutama pada pasien hipovolemik, karenanya harus digunakan hati-hati. Sebagai pilihan terakhir, penggunaan hipotensi terkontrol, dengan trimetafan (Arfonad) atau nitroprussida (Nipride) dapat dipertimbangkan. Pada setiap keadaan, penting untuk memastikan penyebab pembengkakan otak, seperti kongesti vena akibat kompresi leher dan adanya hematoma tersembunyi baik ipsi atau kontralateral dari sisi kraniotomi. II. 1 Definisi Peningkatan Tekanan Intrakranial Peningkatan tekanan intrakranial adalah peningkatan tekanan otak normal. Peningkatan tekanan intrakranial dapat disebabkan oleh peningkatan tekanan cairan serebrospinal. Juga dapat disebabkan oleh peningkatan tekanan dalam masalah otak yang disebabkan oleh lesi (seperti tumor) atau pembengkakan di dalam materi otak itu sendiri. Peningkatan tekanan intrakranial adalah masalah medis serius. Tekanan itu sendiri dapat merusak sistem saraf pusat dengan menekan struktur otak yang penting dan dengan membatasi aliran darah melalui pembuluh darah yang memasok otak. Penyebab umum termasuk: Aneurisma pecah dan pendarahan subarachnoid, tumor otak, pendarahan otak hipertensi, pendarahan, cedera kepala parah. II.2 Manifestasi Klinik a. Muntah Sakit kepala Perubahan kepribadian Diplopia Papil edema Pembesaran lingkar kepala Ubun ubun besar membonjol Trias Cushing :bradikardi, hipertensi,pernafasan ireguler. Herniasi otak

b.

d.

g.

h.

II.3 Diagnosa

a. Anamnesa b. Tanda vital : suhu, pola dan laju pernafasan, tekanan darah , tekanan dan frekwensi nadi c. Pemeriksaan Fisik d. Pemeriksaan neurologis lengkap e. Tingkat kesadaran f. Syaraf cranial g. Fungsi motorik : tonus otot, kekuatan h. Reflek fisiologis dan patologis i. Pemeriksaan penunjang CT Scan/ MRI kepala j. Pemeriksaan lain seperti darah rutin, studi koagulasi atas indikasi.

II.3 Penatalaksanaan II.3.1 Tujuan a. Menurunkan tekanan intracranial b. Memperbaiki aliran darah otak c. Mencegah dan menghilangkan herniasi II.3.2 Tatalaksana a. Mengurangi volume komponen-komponen otak 1. Volume darah o Hiperventilasi o Pemberian obat-obatan anestesi menyebabkan vasokonstriksi . o Analgesik,sedative o Mencegah hipertemi ( menurunkan metabolisme otak ) 2. Jaringan otak o Manitol o Deksametason

3. Cairan serebrospinal o Furosemide o Asetazolamid b. Mempertahankan fungsi metabolik otak o Tekanan O2 90-120 mmHg o Atasi kejang o Jaga keseimbangan elektrolit dan metabolic o Kadar Hemoglobin dipertahankan 10 mg/dl. o Mempertahankan MAP dalam batas normal c. Menghindari keadaan yang dapat meningkatkan tekanan intracranial 1. Pengelolaan pemberian cairan o

Keseimbangan cairan Diuresis > 1ml/kgbb/jam

2. Posisi kepala II.4 Penatalaksanaan intubasi pada pasien dengan peningkatan tekanan intracranial Tindakan utama untuk peningkatan ICP adalah untuk mengamankan ABCDE (primary survey) pada pasien. Banyak pasien dengan peningkatan ICP memerlukan intubasi. Pasien dengan skor GCS kurang dari 8 harus diintubasi untuk melindungi airway. Yang menjadi perhatian utama pada pemasangan intubasi ini adalah intubasi ini mampu memberikan ventilasi tekanan positif yang kemudian dapat meningkatkan tekanan vena sentral yang kemudian akan menghasilkan inhibisi aliran balik vena sehingga akan meningkatkan ICP. Hati-hati dalam memperhatikan gizi, elektrolit, fungsi kandung kemih dan usus. Pengobatan yang tepat untuk infeksi berupa pemberian antibiotik harus dilaksanakan dengan segera. Pemberian analgesia yang memadai harus diberikan walaupun pasien dalam kondisi di bawah sadar. Posisi kepala pasien juga harus diperhatikan. Elevasi pada kepala dapat menurunkan ICP pada komdisi normal dan pada pasien dengan cedera kepala melalui mekanisme penurunan tekanan hidrostatis CSF yang akan menghasilkan aliran balik vena. Sudut yang dianjurkan dan umumnya digunakan untuk elevasi pada kepala adalah 30o. Pasien harus diposisikan dengan kepala

menghadap lurus ke depan karena apabila kepala pasien menghadap ke salah satu sisinya dan disertai dengan fleksi pada leher akan menyebabkan penekanan pada vena jugularis interna dan memperlambat aliran balik vena.

BAB II LAPORAN KASUS I. IDENTITAS PASIEN Nama Umur Berat badan Tinggi badan Jenis kelamin Alamat Agama Tanggal masuk No. CM : Tn. JS : 13 tahun : 40 kg : 155 cm : Laki laki : Jl. Rempoah RT 03/03, Baturaden : Islam : 20 Juni 2012, 18.00 WIB : 234302

II ANAMNESIS (alloanamnesis) a. Keluhan utama b. Keluhan tambahan c. RPS : Penurunan kesadaran post KLL : Pusing : Pasien datang ke IGD RS Wijaya Kusumah dengan riwayat kecelakaan lalu lintas tabrakan sepeda motor dengan sepeda motor dengan benturan pada kepala bagian depan tanggal 20 Juni 2012 pukul 17.00 WIB. Menurut anamnesis yang dilakukan, pasien tidak sadarkan diri sesaat setelah terjadinya kecelakaan. Terdapat nyeri pada bagian kepala tanpa disertai muntah. d. RPD - Riwayat penyakit DM - Riwayat penyakit alergi - Riwayat penyakit asma - Riwayat operasi sebelumnya : : disangkal : disangkal : disangkal : ada, tapi tidak pernah kambuh sejak umur 4 tahun : disangkal

- Riwayat penyakit darah tinggi

III. PEMERIKSAAN FISIK a. Status generalis Keadaan Umum Kesadaran Vital Sign : Tampak Sakit Berat : Somnolen, GCS= E3M6V4 : Tekanan darah = 100/60 mmHg Respirasi = 22 kali/menit Nadi = 80x/menit, isi dan tekanan penuh Suhu = 36 0C Kepala : Hematom (+) VL dahi 3 x 0,5 x 0,5 cm VL garis hidung 1x 0,5 x 0,5 cm Mata : Konjungtiva anemis -/Sklera ikterik -/RCL+/+ , RCTL +/+ Pupil isokor, diameter 3 mm Telinga Hidung Mulut Gigi Leher Thorax : dbn : Discharge (-) epistaksis (+), deviasi septum (-) : dbn : dbn, gigi palsu (-) :Simestris, trakea ditengah, pembesaran tiroid dan kelenjar getah bening (-) : Pulmo : Simetris kanan kiri Tidak ada retraksi SN vesikuler (+/+) normal Ronkhi (-/-), Wheezing (-/-) Cor Abdomen : BJ I-II reguler, murmur (-), gallop (-) : Dinding perut datar, supel Hepar/ Lien: tidak teraba. Usus: BU (+) normal

Extremitas

: Edema (-), sianosis (-), akral hangat VL tungkai atas dextra sinistra, VL tungkai bawah sinistra Fraktur MCP II kanan

b. Terapi dari IGD 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Infus Ringer laktat 20 tts/menit Mannitol 4 x 100 cc Pirabrain 3 x 1200 mg Remopain 3 x 10 mg Kedacillin 2 x 1 gr Fordin 2 x 50 mg Kateter urin

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG Tanggal 20 Juni 2012 1. CT Scan Kesan : Fraktur impresi os frontale 2. Pemeriksaan darah lengkap : - Hb - Leukosit - Ht - Trombosit : 12,9 g/dl : 24.600 l : 39,5 % : 243.000/l :0 :3 :4 : 50 : 22 : 21 - Basofil - Batang - Segmen - Limfosit - Monosit - W. pembekuan - W. perdarahan - SGOT - SGPT (14 18 g/dl) (5000 10000 l) (L 40 54 %) (150.000 400.000/l) (0 1%) (1-4%) (2 5%) (40-70 %) (19 48 %) (3 9%)

- Hitung jenis : - Eosinofil

: 6 detik (2-6 detik) : 3 detik (1-3 detik) : 20 UI/L (<37 UI/L) (<41 UI/L)

: 11 UI/L

V.

DIAGNOSIS Diagnosis klinis Diagnosis etiologis Diagnosis topis Tindakan : Fraktur impresi : CKB : Os frontale : Kraniotomi

VI.

KESIMPULAN PEMERIKSAAN FISIK Status ASA I (E)

VII.

LAPORAN ANESTESI Status Anestesi 1) Persiapan Anestesi 1. 2. Informed concent Stop makan dan minum Jenis anestesi Status Fisik Vital Sign : General Anestesi (GA) : ASA I E : TD N S R BB 2mg - Anestesi : Recofol 100mg - Relaksasi vitamin K, vitamin C, efedrin, neostigmin, dexamethasone : Midazolam 2mg - Obat lain : Petidin, lidocain, ketorolac, transamin, : 122/68 mm Hg : 72 x/menit : 36,5 C : 18x/menit : 40 Kg : Sulfas atropine 0,25mg, Fortanest

2) Penatalaksanaan Anestesi

- Premedikasi

- Maintenance

: Halothan, O2, N2O Semi Closed System

- Teknik anestesi : Intubasi dengan ET 3) Infus Respirasi Posisi

Induksi IV recofol (propofol) : Terkontrol dengan tangan : Supine : RL, NaCl 0,9, Fimahes 200, Tutofusin ops

4) Pemantauan selama anestesi : Mulai anestesi Mulai operasi Operasi Selesai : 14.15 : 14.25 : 15.20

5) Cairan yang masuk durante operasi : RL NaCl 0,9 Fimahes 200 Tutofusin ops : 500 cc : 1000 cc : 500 cc : 500 cc

BB : 40 kg, durante operasi 55 menit, puasa 8 jam, bleeding 700 cc, stress: operasi besar Terapi cairan yang diberikan : Maintenance Anak: 2-4cc/ kgBB/ Jam 2 x 40 = 80 cc/jam Pengganti puasa 8 jam 8 x maintenance 8 x 80 = 640 cc/jam Stress operasi 8cc / kgBB/ jam 8 x 40 = 320 cc/jam

Mengganti bleeding 3 x jumlah darah yang hilang dalam cc (dengan kristaloid) 3 x 700 = 2100 cc/jam Pemberian cairan : Jam I : puasa + maintanance + stress operasi 640 + 80 + 320 = 880 cc Jam II : puasa + maintanance + stress operasi 640 + 80 + 320 = 800 cc Jam III : puasa + maintanance + stress operasi 640 + 80 + 320 = 800 cc VIII. PROGNOSIS Dubia IX. PEMBAHASAN 1) Pra Operatif Pasien datang dari bangsal ICU setelah sebelumnya sudah ditangani di IGD terlebih dahulu. Pada saat datang keadaaan umum pasien sedang, keluhan merasa nyeri di kepala dengan GCS E4M6V5, TD: 122/68, N: 72x/menit, RR: 18x/menit, S : 36C. Pasien tidak mempunyai riwayat operasi sebelumnya, tidak mempunyai riwayat alergi, hipertensi dan DM. Pasien memiliki riwayat asma yang sudah lama tidak kambuh. 2) Durante Operatif Sebelum dilakukan tindakan pembedahan pada pasien ini diputuskan untuk dilakukan general anestesi dengan teknik semi closed system dan memakai fasilitas intubasi. Alasannya karena tindakan operasi tersebut termasuk operasi besar khusus, dan berlangsung kurang lebih 1 jam sehingga dengan teknik ini diharapkan jalan nafas dapat dikendalikan dengan baik. Sebelum dilakukan tindakan anestesi terlebih dahulu diberikan premedikasi. Premedikasi yang digunakan adalah Sulfas Atropin (SA) dan Fortanest. SA diberikan

dengan dosis 0,01 mg/kgBB pemberiannya secara intravena. Pada pasien ini diberikan dengan dosis 0,25 mg. Indikasi SA adalah untuk penanganan hipersekresi dan hipersalivasi sebelum atau setelah operasi. Efek sampingnya berupa kekeringan mulut dan kekaburan pandangan. Sedangkan pemberian fortanest yang mengandung midazolam dengan dosis 2 mg iv digunakan sebagai pelemas otot. Midazolam mempunyai durasi dan onset cepat. Onsetnya adalah 2-12 menit dengan durasi 2,5 jam. Efek samping midazolam adalah amnesia anterograde sehingga diharapkan pasien tidak dapat mengingat kejadian selama di ruang operasi untuk menghindari trauma psikologis. Untuk induksi diberikan Recofol yang berisi Propofol. Indikasi Propofol adalah sebagai induksi sedative pada anastesi umum dan sedasi pada perawatan intensif. Suntikan secara iv seringkali menyebabkan nyeri oleh karenanya dapat diberikan lidocain 1-2 mg/kgBB secara iv dan harus dilakukan perlahan untuk mengurangi nyerinya. Dosis pemberian propofol untuk induksi adalah 23mg/kgBB sehingga pada pasien ini diberikan dosis 100mg. Pada wanita hamil tidak dianjurkan karena dapat menembus plasenta. Untuk pemeliharaan anestesi diberikan dengan cara inhalasi. Zat anestesi yang digunakan adalah N2O, O2, dan Halothan. N2O merupakan zat anestesi yang lemah tapi mempunyai efek analgetik yang kuat. Pemberian N2O biasanya bersamaan dengan O2 dengan tujuan untuk mencegah terjadinya hipoksia. Selain itu N2O bersifat mendesak oksigen dalam tubuh karena sebagian besar N2O maasuk ke dalam alveoli yang akan menyebabkan terjadinya hipoksia dan tindakan yang dilakukan untuk mencegah terjadinya hipoksia difusi adalah dengan cara pemberian O2 tinggi beberapa menit setelah selesai anestesi. Selain digunakan juga halothan untuk menjaga tingkat sedasi dari pasien. Baunya tidak mengganggu dan tidak merangsang jalan nafas, maka oleh sebab itu sering digunakan untuk maintenance anastesi umum dan induksi inhalasi pada pasien anak yg umumnya kurang kooperatif. Pada rumatan nafas spontan biasanya diberikan 12 vol% sedangkan pada rumatan pasien dengan nafas terkendali sekitar 0,51 vol%. Halothan menyebabkan vasodilatasi serebral yang meninggikan aliran darah ke otak yang sulit dikendalikan sehingga tidak dianjurkan untuk operasi pada bedah otak. Pada pasien kraniotomi dengan menggunakan gas halothan sebagai rumatan biasanya disertai perdarahan yang cukup banyak sehingga diperlukan obat yang bersifat hemostatik. Untuk mengatasinya maka pada pasien diberikan Transamin yang berisi Asam traneksamat

dengan dosis 500mg iv dikombinasi dengan vitamin K yang berperan dalam faktor pembekuan darah dan vitamin C yang bertujuan untuk meningkatkan kerja dari obat Transamin sehingga volume perdarahan bisa ditekan. Untuk mengatasi atau mengurangi nyeri operasi dan pasca operasi diberikan petidin dengan dosis 0,20,5mg/kgBB iv dan ketorolac dengan dosis 30 mg/ml. Petidin adalah zat sintetik opioid mirip morfin yang bersifat analgesi kuat dan sedasi namun menstimulasi saraf parasimpatis sehingga dapat menyebabkan mual muntah dan hiperaktif reflex spinal. Seperti morfin, petidin dapat menyebabkan konstipasi tapi efek terhadap sfinter oddi lebih ringan. Lama kerja petidin lebih pendek disbanding morfin sehingga pemulihan pasca bedah pasien menjadi lebih cepat. Ketorolac merupakan senyawa anti inflamasi non steroid bekerja pada jalur siklo oksigenase, menghambat biosintesis prostaglandin dengan aktifitas analgetik yang kuat secara perifer maupun sentral, disamping itu memiliki efek anti inflamasi dan anti piretik. Ketorolac tromethamine memiliki efek analgetik yang setara dengan morfin atau pethidin namun efeknya lebih lambat. Sehingga digunakan untuk nyeri pasca operasi. Efedrin merupakan agonis reseptor , 1, dan 2 sehingga merangsang pelepasan norepinefrin dari neuron simpatis. Dengan lepasnya norepinefrin akan menyebabkan bronkodilatasi dan meningkatkan aktivitas kardiovaskular dengan cara menstimulasi detak jantung sehingga mempengaruhi cardiac output disertai dengan vasokonstriksi sehingga berefek pada meningkatnya tekanan darah. Efedrin dapat meningkatkan gula darah sehingga penggunaannya pada pasien diabetes perlu diperhatikan. Neostigmin merupakan salah satu antikolinesterase yang paling sering digunakan sebagai penawar pelumpuh otot. Dosis neostigmin adalah 0,040,08 mg/kgBB. Neostigmin bersifat muskarinik sehingga menyebabkan hipersalivasi, hipersekresi, bradikardi, bronkospasme, hipermotilitas usus, sehingga penggunannya harus diperhatikan dan disertai obat vagolitik seperti Atropin dosis 0,010,02mg/kgBB. Penggunaan deksametason dimaksudkan untuk mengurangi peradangan pasca pembedahan. Untuk mengganti kehilangan cairan tubuh diberikan cairan kristaloid dan koloid pada pasien selama operasi dan cairan kristaloid selama puasa perioperatif. Setelah selesai operasi, pasien dibawa ke ruang pemulihan dan diberikan O2 secara inhalasi 2 l/mnt untuk mencegah hipoksia akibat N2O. Aldrette score pada pasien ini sewaktu memasuki recovery

room pada pukul 15.45 adalah 7 dengan rincian sebagai berikut: aktivitas motorik (1), pernafasan (1), tekanan darah (2), kesadaran (1), warna kulit (2) dan keluar recovery room pada pukul 15.50 dengan aldrette score 8 dengan rincian sebagai berikut: aktivitas motorik (1), pernafasan (2), tekanan darah (2), kesadaran (1), warna kulit (2), dan langsung dipindahkan ke ruang ICU. 3) Post operatif Laporan di Ruangan ICU Masuk ICU tanggal 22 06 2012, jam 15.50 WIB A : Clear B : Rr C : TD : 24 x / mnt, SN vesikuler +/+, Rh -/-, Wh -/- , ventilator () : 120/80 mmHg, N: 90 x /mnt, S : 36,7 0C

D : GCS : 9 (E2M5V2) X. KESIMPULAN 1) Fraktur impresi pada cranial harus mendapat tindakan segera karena dapat mengakibatkan perdarahan intracranial 2) Penatalaksanaan anestesi pada pasien yang di lakukan operasi craniotomy pada seorang pria usia 13 tahun adalah dengan anestesi umum. 3) Pasien yang akan dioperasi diperiksa terlebih dahulu, meliputi anamnesis, pemeriksaaan fisik, pemeriksaan penunjang untuk menentukan ASA. 4) Anestesi umum dengan teknik intubasi dipilih karena operasi tersebut dilakukan di region kapitis dan termasuk operasi mayor darurat sehingga dengan teknik ini diharapkan jalan nafas dapat dikendalikan dengan baik. 5) Perawatan pasien di ICU dilakukan dengan tujuan memonitoring stabilitas pasien post operatif sampai keadaan umum pasien membaik dan dapat dipindahkan ke ruangan.

XI. SARAN

1) Sebaiknya dilakukan pengawasan ketat terhadap pasien post operatif kraniotomi untuk memonitor kemungkinan yang terjadi, misalnya sepsis atau peningkatan TIK. 2) Untuk operasi pada cranial hindari penggunaan obat obat yang meningkatkan aliran darah ke otak untuk mengurangi resiko kehilangan darah lebih besar.

DAFTAR PUSTAKA 1. JAPARDI,S. Pentatalaksanaan Cedera Kepala Secara Operatif. http://library.usu.ac.id/modules.php? op=modload&name=Downloads&file=index&req=getit&lid=827. 2. NN. 2000. Catatan Kuliah AnestesiEdisi 1.SINAN 3. Pramudianti, Arlina, dkk. 2011. MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi Edisi 10. Jakarta : BIP 4. Said,A Latief. 2010. Petunjuk Praktis Anestesiologi. Jakarta: Bagian Anestesiologi dan Terqpi Intensif FK UI.