Anda di halaman 1dari 9

RESUME

PIAGAM ASEAN/ASEAN CHARTER

LATAR BELAKANG
Pada awal berdirinya ASEAN pada 8 Agustus 1967, ASEAN tidak memiliki sebuah Charter
yang berfungsi sebagai konstitusi ASEAN. ASEAN berdiri dengan didasarkan sebuah Deklarasi,
yaitu Deklarasi Bangkok. Namun demikian, dalam perkembangannya dirasakan perlu untuk
membuat suatu Charter yang berfungsi sebagai konstitusi ASEAN dan menegaskan legal
personality dari ASEAN. Pada akhirnya, ASEAN Charter telah disetujui dan ditandatangani oleh
para Kepala Negara/Pemerintahan ASEAN pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-
13 di Singapura, November 2007.
Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara (ASEAN) mencatat sejarah baru dengan
ditandatanganinya ASEAN Charter (Piagam ASEAN) dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT)
Ke-13 ASEAN di Singapura, (20/11). Piagam ASEAN tersebut ditandatangani oleh 10 pemimpin
negara anggota ASEAN, termasuk Myanmar. Kesepuluh kepala negara atau kepala pemerintahan
ASEAN yang membubuhkan tanda tangan pada Piagam ASEAN itu adalah Sultan Hassanal
Bolkiah (Brunei Darussalam), PM Hun Sen (Kamboja), Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
(Indonesia), PM Bouasone Bouphavanh (Laos), Abdullah Ahmad Badawi (Malaysia).
Selanjutnya, PM Thein Sein (Myanmar), Gloria Maccapagal Arroyo (Filipina), PM Surayud
Chulanont (Thailand), PM Nguyen Tan Dung (Vietnam), dan PM Lee Hsien Loong (Singapura).
Padahal sebelumnya sejumlah pihak mengkhawatirkan PM Myanmar tidak akan ikut
menandatangani dokumen tersebut dikaitkan dengan kondisi politik yang memanas di dalam
negeri negara itu.
Selain Piagam ASEAN, juga ditandatangani tiga deklarasi yaitu cetak biru ASEAN
Economic Community (AEC), ASEAN Declaration on the 13th Session of the Conference on
Climate Change (UNFCCC), dan Conference of Parties Serving as the Meeting of the Parties
(CMP) to the Protocol Kyoto Protocol

ARTI PENTING ASEAN CHARTER

1
ASEAN Charter merupakan “Crowning Achievement” dalam memperingati 40 tahun
berdirinya ASEAN yang akan memperkuat semangat kemitraan, solidaritas, dan kesatuan
negara-negara anggotanya dalam mewujudkan Komunitas ASEAN. ASEAN Charter ini menjadi
landasan konstitusional pencapaian tujuan dan pelaksanaan prinsip-prinsip yang dianut bersama
untuk pencapaian pembangunan Komunitas ASEAN di tahun 2015.
ASEAN Charter menjadi landasan hukum kerjasama ASEAN sebagai suatu “rules-based
organization” setelah 40 tahun berdirinya ASEAN. ASEAN Charter menjadikan ASEAN
sebagai subjek hukum (memiliki legal personality). ASEAN Charter membuat ASEAN dapat
melaksanakan kegiatannya berdasarkan aturan-aturan hukum yang telah disepakati serta
diarahkan pada kepentingan rakyat.
ASEAN Charter membuat kerjasama antar negara anggota ASEAN akan berlangsung lebih
erat dan diatur dalam kerangka hukum dan kelembagaan yang lebih mengikat.

TUJUAN DIBENTUKNYA PIAGAM ASEAN


Tahun 2007 bisa dikatakan bersejarah bagi ASEAN. Kawasan ini memiliki tampilan baru
dengan adanya harapan untuk menjadikan ASEAN lebih terstruktur dan tersistematis. Semua itu
ditandai dengan ditandatanginya Piagam ASEAN (ASEAN Charter) sebagai kerangka “konstitusi
bersama” ASEAN.
Keberadaan sebuah piagam agar bisa lebih mengikat negara-negara anggota sebenarnya
sudah cukup lama dikumandangkan di kalangan pemikir ASEAN. Akan tetapi, baru pada
Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN tahun 2003 di Bali, keinginan ASEAN untuk
memiliki sebuah piagam bersama itu mulai dikonkretkan.
ASEAN sebagai organisasi regional yang sudah berusia 40 tahun ini memang sudah
seharusnya punya status hukum. Idealnya, dengan adanya status hukum itu, ASEAN lebih punya
keleluasaan untuk bekerja sama dengan berbagai pihak, khususnya kalangan pebisnis. ASEAN
juga bisa memiliki aset, visi, dan misi, serta alat/perangkat untuk mewujudkan visi dan misinya
tersebut.
Piagam ASEAN memang tidak otomatis akan mengubah banyak hal di ASEAN. Piagam itu
sesungguhnya makin mengekalkan banyak kebiasaan lama. Misalnya, pengambilan keputusan di
ASEAN tetap dengan cara konsensus dan KTT ASEAN menjadi tempat tertinggi untuk
pengambilan keputusan jika konsensus tidak tercapai atau jika sengketa di antara anggota terjadi.

2
Meski demikian, piagam tersebut hadir di saat yang pas, yaitu ketika kawasan Asia Tenggara
ini terus berubah dan negara-negara ASEAN semakin memperluas cakupan kerja sama yang
lebih kukuh ke Asia Timur (Jepang, Korea Selatan, dan China), Asia Tengah (India), serta ke
selatan (Australia dan Selandia Baru). Juga, KTT Asia Timur yang diselenggarakan beriringan
dengan KTT ASEAN.
Tujuan dibentuknya Piagam Asean adalah sebagai berikut :

1. Mempermudah kerja sama

Adanya Piagam ASEAN akan membuat negara anggota ASEAN relatif akan lebih terikat
kepada berbagai kesepakatan yang telah dibuat ASEAN. Secara teoretis, piagam itu akan
semakin mempermudah kerja sama yang dibuat ASEAN dengan mitra-mitra dialognya.

Jika pada masa lalu mitra ASEAN terkadang mengeluh bahwa kesepakatan yang telah dibuat
dengan ASEAN ternyata hanya dilaksanakan dan dipatuhi oleh beberapa negara anggota
ASEAN, kini kekhawatiran itu bisa dikurangi.

Mekanisme kerja yang lebih jelas di ASEAN seperti tertuang dalam Piagam ASEAN itu juga
akan mempermudah mitra-mitra atau calon-calon mitra yang ingin berurusan dengan ASEAN.
Begitu pula bila di kemudian hari terjadi persengketaan, Piagam ASEAN telah membuat
pengaturan umum untuk penyelesaian sengketa itu.

Lebih penting lagi secara politis, ASEAN kini menegaskan dirinya sebagai organisasi yang
menghormati serta bertekad untuk menjunjung tinggi hak asasi manusia (HAM) dan nilai-nilai
demokrasi. Piagam meminta ASEAN menghargai HAM.

Meski saat ini pelaksanaan kedua hal itu masih jauh dari ideal, setidaknya ASEAN sudah
mengakui bahwa penghormatan atas HAM dan demokrasi sebagai nilai-nilai dasar, sama seperti
umumnya negara maju. Dengan demikian, hambatan psikologis untuk bekerja sama dengan
negara-negara ASEAN seperti sering terdengar selama ini dari beberapa negara maju, setidaknya
sudah bisa dikurangi meski hambatan belum sepenuhnya bisa dihapuskan.

2. Tantangan internal

Keberhasilan ASEAN melahirkan sebuah piagam bersama tidak otomatis bermakna ASEAN
yang semakin solid. Tantangan terbesar justru berada di lingkungan internal ASEAN sendiri,

3
khususnya bagaimana agar benar-benar bisa mengimplementasikan piagam itu sehingga ASEAN
menjadi kekuatan yang menyatu dan tidak terpecah belah.

Bagaimanapun, kehadiran Piagam ASEAN, yang di dalamnya mengharuskan para anggota


mematuhi aturan yang sudah diputuskan bersama oleh ASEAN, akan menimbulkan
ketidaknyamanan bagi beberapa pihak. Mereka ini sebenarnya menaruh keberatan atas keputusan
bersama itu. Meski demikian, Piagam ASEAN memang telah didesain sedemikian rupa sehingga
tidak terlalu keras terhadap para anggotanya yang belum bisa menaati kesepakatan-kesepakatan
yang telah dibuat.

Celah-celah untuk kompromi yang sering kali diistilahkan banyak kalangan sebagai cara
ASEAN (the ASEAN way) masih banyak diakomodasi di dalam piagam tersebut. Di bidang
ekonomi, misalnya, Piagam ASEAN menjamin hak negara-negara anggota untuk berpartisipasi
secara fleksibel dalam pelaksanaan komitmen-komitmen ekonomi di ASEAN. Begitu pula dalam
pelaksanaan prinsip-prinsip “politik” ASEAN, seperti khususnya demokrasi dan penghormatan
dan jaminan atas hak-hak asasi manusia, asas yang fleksibel tetap dipertahankan.

Satu hal penting dalam Piagam ASEAN yang memang sudah selayaknya dilakukan adalah
menjadikan organisasi ini sebagai organisasi yang berorientasi pada rakyat atau bukan organisasi
birokrat semata. Dengan demikian, dibuka bahkan didorong kesempatan lebih besar kepada
warga masyarakat ASEAN untuk berinteraksi satu sama lain dengan lebih intensif.

Pergaulan rakyat ASEAN di kawasan regional dan internasional itu tentu akan berkontribusi
positif kepada kerja sama ASEAN dengan mitra-mitranya di seluruh kawasan.

3. Langkah paling maju

Ada tiga rencana ASEAN yang dituliskan di piagam itu. Tiga hal itu adalah menginginkan
lahirnya Komunitas Ekonomi ASEAN, Komunitas Keamanan ASEAN, dan Komunitas Sosial
Budaya ASEAN.

4
Sesungguhnya, rencana pembentukan komunitas itu merupakan refleksi dari tajamnya visi
para pemikir ASEAN. Piagam itu disusun para pakar atau figur terkenal di ASEAN. Wakil dari
Indonesia adalah mantan Menteri Luar Negeri (Alm) Ali Alatas.

4. Piagam merefleksikan pandangan jauh ke depan.

Bahkan, piagam secara tersirat akan membuat ASEAN malu jika tidak bisa memenuhinya di
kemudian hari. Inilah sumbangsih para pemikir ASEAN. Ini merupakan bukti bahwa para pakar
ASEAN memiliki sudut pandang yang strategis menuju masa depan.

Hal ini diperkuat lagi dengan rencana pemerintah ASEAN, yang pada November tahun lalu,
di Singapura, sudah menandatangani deklarasi pembentukan Komunitas Ekonomi ASEAN pada
tahun 2015. Bahkan, pada tahun 2008 sudah ada langkah untuk mewujudkan komunitas ekonomi
ini. Tujuan akhirnya adalah aliran barang, jasa, warga yang relatif lebih bebas di ASEAN.

5. Strategis

Piagam itu sendiri dinilai strategis karena akan menjadi landasan hukum yang menjamin
integrasi politik, sosial, ekonomi, budaya, keamanan, demokratisasi, perlindungan hak asasi, dan
pelestarian lingkungan.

Pembuatan piagam merupakan terobosan penting dalam sejarah ASEAN, yang selama 40
tahun lebih bersifat peguyuban/perkumpulan. Dalam menghadapi tantangan 40 tahun kedua,
ASEAN memang membutuhkan pijakan hukum yang lebih jelas dalam membangun blok politik
dan ekonomi.

GARIS BESAR ISI PIAGAM ASEAN (ASEAN CHARTER)


Penyusunan ASEAN Charter menegaskan kembali prinsip-prinsip yang tertuang dalam
seluruh perjanjian, deklarasi dan kesepakatan ASEAN.
ASEAN Charter antara lain memuat:
• Tujuan dan prinsip ASEAN
• Hak dan kewajiban negara anggota ASEAN
• Struktur dan fungsi kelembagaan ASEAN
• Mekanisme dan proses pengambilan keputusan ASEAN
5
• Penyelesaian sengketa antara negara anggota ASEAN
• Hubungan eksternal ASEAN dengan pihak luar.
Pokok-pokok penting dari ASEAN Charter antara lain:
• Pembentukan ASEAN Human Rights Body
• Dicantumkannya konsep regional resilience, comprehensive security, good
governance and rule of law dan demokrasi
• Mengatur apabila terjadi ketidakpatuhan (non compliance) dan pelanggaran
terhadap isi dari ASEAN Charter
• Menekankan pada kedaulatan dan integritas teritorial serta tidak menggunakan
wilayah ASEAN untuk upaya yang mengancam kedaulatan dan integritas wilayah
suatu negara
• Pembentukan single market dan production base serta upaya memfasilitasi arus
perdagangan, investasi, modal, pergerakan pelaku usaha dan tenaga kerja
• Mekanisme penyelesaian sengketa secara damai
• Diperkuatnya peranan Sekretaris Jenderal (Sekjen) ASEAN
• Memperkuat Sekretariat ASEAN di Jakarta dan menyepakati pembentukan
Committee of Permanent Representative yang terdiri dari Wakil Tetap negara
ASEAN pada tingkat Duta Besar yang berkedudukan di Jakarta.

STRUKTUR ASEAN CHARTER


ASEAN Charter terdiri dari Preamble, 13 Bab dan 55 Pasal yang strukturnya terdiri dari:
• Preamble
Memuat komitmen dan keinginan bersama negara anggota untuk mewujudkan Komunitas
ASEAN yang damai, aman, stabil dan sejahtera, yang ditujukan untuk kepentingan generasi
ASEAN saat ini dan mendatang
• Chapter I - Purposes and Principles
Antara lain memuat hasrat ASEAN untuk menjaga perdamaian, keamanan dan stabilitas
kawasan serta mendorong peace-oriented attitudes dan perwujudan kawasan Asia Tenggara yang
bebas senjata nuklir; membentuk ASEAN menjadi pasar tunggal dan basis produksi yang

6
kompetitif dan terintegrasi, dengan memfasilitasi arus perdagangan, investasi, arus modal,
pergerakan pelaku usaha dan tenaga kerja yang lebih bebas; mengurangi kemiskinan dan
kesenjangan pembangunan; dan memperkuat demokrasi, good governance, dan perlindungan
HAM.
• Chapter II - Legal Personality
Menegaskan bahwa ASEAN menjadi suatu organisasi antar-pemerintah dengan legal
personality.
• Chapter III - Membership
Menyebutkan bahwa aksesi dan penerimaan anggota baru harus diputuskan secara consensus
oleh KTT ASEAN (ASEAN Summit) Menegaskan langkah dan tindakan yang diambil apabila
terjadi pelanggaran serius (serious breach) terhadap ASEAN Charter dan ketidak-patuhan (non-
compliance).
• Chapter IV - Organs
Mengatur struktur dan mekanisme ASEAN antara lain:
o Konferensi Tingkat Tinggi/KTT (Summit) ASEAN
o Dewan Koordinasi ASEAN (ASEAN Coordinating Council) terdiri dari Menteri
Luar Negeri
o Dewan Komunitas ASEAN (ASEAN Community Councils) terdiri dari ketiga
pilar Komunitas ASEAN yaitu Dewan Komunitas Politik-Keamanan ASEAN
(ASEAN Political-Security Community Council), Dewan Komunitas Ekonomi
ASEAN (ASEAN Economic Community Council), Dewan Komunitas Sosial
Budaya ASEAN (ASEAN Socio-Cultural Community Council).
o ASEAN Sectoral Ministerial Bodies
o Committee of Permanent Representatives
o Sekretaris Jenderal ASEAN
o Sekretariat Nasional ASEAN
o ASEAN Human Rights Body
o ASEAN Foundation
• Chapter V - Entities Associated with ASEAN
Memuat pasal yang mengatur hubungan ASEAN dengan badan-badan yang berasosiasi
dengan ASEAN, serta prosedur dan criteria interaksi ASEAN dengan badan-badan tersebut.
• Chapter VI - Immunities and Privileges

7
Mengatur kekebalan dan hak khusus Sekretaris Jenderal dan Pejabat Sekretariat ASEAN,
Perwakilan Tetap negara-negara anggota pada ASEAN, dan Pejabat yang bertugas dalam
kerangka ASEAN di negara-negara anggota
• Chapter VII - Decision Making
Prinsip dasar pengambilan keputusan di ASEAN didasarkan pada konsultasi dan consensus.
Sekiranya konsensus tidak dapat tercapai maka KTT ASEAN akan memutuskan bagaimana suatu
keputusan spesifik akan diambil.
• Chapter VIII - Settlement of Disputes
Prinsip umum penyelesaian sengketa dilakukan secara damai, dengan dialog, konsultasi dan
negosiasi.
• Chapter IX - Budget and Finance
Anggaran operasional Sekretariat ASEAN akan dibebankan kepada negara-negara anggota
ASEAN melalui iuran tahunan.
• Chapter X - Administration and Procedure
Kepemimpinan (chairmanship) ASEAN akan dipegang secara berotasi berdasarkan abjad
dan dipegang selama satu tahun.
Ketua ASEAN akan mengetuai pertemuan:
o KTT ASEAN dan KTT terkait lainnya
o ASEAN Coordinating Council
o ASEAN Community Council
o Pertemuan tingkat Menteri Sektoral yang relevan
o Committee of Permanent Representatives.
• Chapter XI - Identity and Symbols
Mengatur motto, bendera, lambang, hari ASEAN dan lagu ASEAN (ASEAN Anthem)
• Chapter XII - External Relations
Menegaskan bahwa ASEAN akan menjadi primary driving force dalam tatanan kerjasama
regional yang dilakukannya.
• Chapter XIII - General and Final Provisions
Mengatur tentang ketentuan-ketentuan umum yang terkait dengan ASEAN Charter yang
antara lain menjelaskan bahwa semua negara anggota ASEAN wajib menandatangani dan
meratifikasi ASEAN Charter yang dilakukan sesuai dengan mekanisme internal masing-masing.

8
DAFTAR PUSTAKA

Referensi :
ASEAN Secretariat, 2008, THE ASEAN CHARTER, Jakarta.
Direktorat Jenderal Kerjasama ASEAN, 2007, ASEAN Selayang Pandang, Departemen
Luar Negeri Republik Indonesia, Jakarta.

Anda mungkin juga menyukai