Anda di halaman 1dari 18

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT atas segala Rahmat dan Hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan individu pada Blok Biomedik yang disusun untuk pengambilan nilai dari praktikum yang dilaksanakan pada blok Biomedik di Program Studi Kedokteran ini. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas bantuan serta bimbingan yang diberikan kepada semua pihak sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada para instruktur dan Bapak Dr. dr Ilham Jaya Patellongi yang telah memimbing penulis pada saat melaksanakan praktikum. Harapan penulis, semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan sebagai bekal tambahan pengetahuan mengenai keterampilan dalam Pengukuran Tinggi Badan, Pengukuran Berat Badan, Perhitungan Indeks Massa Tubuh (IMT), Pemeriksaan Suhu Tubuh, Perhitungan Nadi, Pemeriksaan Bunyi Jantung, Pemeriksaan Bunyi Paru-Paru, dan Pemeriksaan letak jantung.

Batam, 22 Januari 2009 Penulis

DAFTAR ISI
Kata Pengantar .............................................................................................. ............. 1 Daftar Isi .......................................................................................................... ........... 2 BAB I: PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang ................................................................................... 4 I.2 Tujuan Pembelajaran ......................................................................... 5 I.2.1 Tujuan Pembelajaran PRAKTIKUM 1 ...................................... 5 I.2.2 Tujuan Pembelajaran PRAKTIKUM 2 ...................................... 5 I.2.3 Tujuan Pembelajaran PRAKTIKUM 3 ...................................... 5 BAB II : PEMBAHASAN PRAKTIKUM 1

II.1 Pengukuran Tinggi dan Berat Badan ................................................. 6 II.2 Indeks Massa Tubuh (IMT) ................................................................. 6 II.3 Usaha Perbaikan Kondisi Tubuh ......................................................... 7 BAB III III.1 : PEMBAHASAN PRAKTIKUM 2

Pemeriksaan Nadi dan Suhu Tubuh ................................................... 8 III.1.1 Suhu Tubuh ............................................................................ 8

III.1.2 Denyut Nadi ........................................................................... 8 III.1.3 Denyut Nadi Setelah Aktivitas ............................................... 9 III.1.4 Prinsip Kerja termometer, tensimeter, dan stetoskop ......... 9 III.1.4.1 Termometer ............................................................ 9 III.1.4.2 Tensimeter .............................................................. 10 III.1.4.3 Stetoskop ................................................................ 12

BAB IV : IV.1

PEMBAHASAN PRAKTIKUM 3 Pemeriksaan Bunyi Pernapasan, Bunyi Jantung, dan Batas-Batas Jantung .............................................................................. ............... 13 IV.1.1 Pemeriksaan Bunyi Pernapasan ........................................... 13 IV.1.2 Pemeriksaan Bunyi Jantung ................................................. 13 IV.1.3 Pemeriksaan Batas-Batas Jantung ....................................... 14

BAB V

: Kesimpulan Saran

PENUTUP

V.1 V.2

BAB I PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Adapun hal-hal yang melatar belakangi penulisan laporan ini adalah untuk memenuhi persyaratan pengambilan nilai dari Praktikum yang dilaksanakan pada Blok Biomedik Universitas Batam. Praktikum ini dilakukan untuk mengasah kemampuan dan keterampilan mahasiswa dalam beberapa pengukuran sederhana. Terdapat tiga jenis praktikum yang akan dibahas di dalam laporan ini. Praktikum pertama, yaitu mengukur tinggi badan dan berat badan. Setelah terampil dalam mengukur tinggi badan dan berat badan, mahasiswa Prodi Kedokteran diharapkan sudah bisa menghitung Indeks Massa Tubuh (IMT) yang bertujuan untuk mengklasifikasikan individu ke dalam keadaannya masing-masing. Apakah individu tersebut termasuk kurus, normal, atau mengalami obesitas (kelebihan berat nadan). Mahasiswa Prodi Kedokteran juga harus mampu mengetahui usaha-usaha apa saja yang harus dilakukan untuk menanggulangi ketidaknormalan Indeks Massa Tubuh seseorang. Hal ini sangat penting karena seorang dokter harus terampil dalam mengukur berat badan, mengukur tinggi badan, menghitung Indeks Massa Tubuh, dan Bagaimana cara penanggulangan ketidaknormalan Indeks Massa Tubuh ini.

Praktikum kedua, yaitu mengukur suhu tubuh dan denyut nadi. Mahasiwa Prodi Kedokteran diharapkan dapat mengetahui suhu tubuh dan denyut nadi yang normal dan perubahan suhu tubuh dan denyut nadi akibat aktivitas fisik. Hal ini disadari penting karena untuk menjadi seorang dokter, tentulah harus terampil dalam mengukur suhu tubuh dan denyut nadi. Mahasiswa juga harus mengetahui bagaimana prinsip kerja alat-alat pengukur seperti termometer, tensimeter, dan stetoskop. Praktikum ketiga, yaitu memeriksa bunyi jantung, bunyi pernapasan dan batas-batas jantung. Bunyi jantung dan bunyi pernapasan sangat penting untuk diketahui. Mahasiswa Prodi Kedokteran harus menegetahui bagaimana cara memeriksa bunyi jantung dan bunyi pernapasan. Mahasiswa Prodi Kedokteran juga harus paham jika ada kelainan pada bunyi jantung dan Bunyi pernapasan. Dalam ilmu kedokteran, juga sangat penting membahas masalah anatomi tubuh manusia. Oleh karena itu, mahasiswa Prodi Kedokteran harus mengetahui bagaimana cara mengukur batas-batas jantung dan mengetahui apakah ada kelainan pada struktur jantung tersebut.

I.2 Tujuan Pembelajaran


I.2.1 Tujuan Pembelajaran PRAKTIKUM 1
Setelah melakukan pembelajaran ini, mahasiswa diharapkan sudah mampu menghitung Indeks Massa Tubuh (IMT) dan melakukan klasifikasi individu berdasarkan kriteria.

I.2.2 Tujuan Pembelajaran PRAKTIKUM 2


Setelah melakukan pengamatan dan pembelajaran, mahasiswa diharapkan sudah mampu menjelaskan tentang: a. Prinsip dasar pemeriksaan suhu tunuh dan denyut nadi b. Prinsip dasar perubahan suhu tubuh dan denyut nadi karena aktifitas fisik

I.2.3 Tujuan Pembelajaran PRAKTIKUM 3


Setelah melakukan pengamatan dan pembelajaran, mahasiswa diharapkan sudah mampu menjelaskan tentang pemeriksaan bunyi pernapasan, bunyi jantung dan batas-batas jantung.

BAB II PEMBAHASAN PRAKTIKUM I


II.1 Pengukuran Tinggi dan Berat Badan
Alat yang digunakan untuk mengukur tinggi dan berat badan adalah: a. Alat pengukur tinggi badan (Insertion tape = pita pengukur dalam cm) b. Timbangan berat badan (kg) Hasil yang didapat dari pengukuran berat dan tinggi badan terhadap diri saya sendiri yang dibantu dengan anggota keluarga adalah Tinggi Badan : 150 cm Berat Badan : 46 kg

II.2 Indeks Massa Tubuh (IMT)


Dalam menghitung Indeks Massa Tubuh, diperlukan hasil pengukuran tinggi dan berat badan. Penghitungan Indeks Massa Tubuh ini menggunakan rumus adalah: 6

IMT = BB TB2
IMT BB TB : Indeks Massa Tubuh (kg/m2) : Berat Badan (kg) : Tinggi Badan (m)

Hasil penghitungan Indeks Massa Tubuh diri saya adalah sebagai berikut:

BB = 46 kg TB = 1.5 m IMT = BB TB2 IMT = 46 kg 1.52 m = 20,44 kg/m2 KLASIFIKASI Kurus Normal Obesitas Derajat Obesitas Pre-Obes Obes I Obes II IMT (Kg/m2) < 18,5 18,5 22,9 23 23 24,9 25 29,9 30 RESIKO MORBIDITAS Rendah Sedang Ringan Sedang Berat

Dari ha sil perhitungan IMT di atas, saya termasuk ke dalam skala normal. Klasifikasi skala Indeks Massa Tubuh pada orangorang di masing-masing daerah. Karena di setiap daerah, pola makan, gaya hidup, gen, lingkungan, dan struktur tubuh populasinya yang berbeda-beda. Untuk itulah diperlukan klasifikasi skala yang berbeda pula.

II.3 Usaha Perbaikan Kondisi Tubuh


Dalam hal ini, kondisi tubuh saya sudah termasuk ke dalam kondisi normal. Hal ini sudah baik karena dalam kondisi normal, berarti sudah terjadi keeimbangan antara input dan output. Namun seiring dengan berkembangnya ilmu kedokteran, alat-alat yang digunakan untuk mengukur kebugaran tubuh jugasemakin berkembang. Pada saat ini sudah ada alat yang digunakan untuk mengukur kadar lemak di tubuh kita. Hal ini tenunya lebih akurat dibandingkan dengan menggunakan Indeks Massa Tubuh. Karena

orang yang Indeks Massa tubuhnya normal, belum tentu kebugarannya baik.

Hal yang harus saya lakukan adalah terus mempertahankan Indeks Massa Tubuh saya tetap dalam keadaan normal. Saya harus terus berolah raga secara teratur sehingga tidak ada timbunan lemak di dalam tubuh. Namun olahraga yang dipilih adalah olah raga yang dapat membakar lemak, bukannya olahraga yang dapat membakar karbohidrat. Saya juga harus memakan makanan yang seimbang. Memperbanyak makan sayuran yang mengandung mineral, dan buah yang mengandung vitamin. Saya tetap harus makan makanan yang mengandung karbohidrat, lemak dan protein. Namun kadarnya saja yang harus seimbang, dan tidak berlebihan. Indeks Massa Tubuh ini perlu untuk diperhatikan. Sebaiknya kita selalu dalam keadaan normal, karena jika keadaan badan kita kurus atau gemuk, maka akan berpotensi mengalami beberapa penyakit tertentu. Misalnya saja jika kita terlalu kurus. Tubuh yang kurus banyak kekurangan serat, potein dan hal-hal sejenisnya yang dapat mengakibatkan daya tahan tubuh lemah, sehingga tubuh orang yang kurus biasanya lebih rentan terhadap penyakit. Lalu misalnya saja jika kondisi tubuh kita terlalu gemuk atau obesitas. Biasanya orang yang obesitas

lebih rentan terkena penyakit karena banyak memiliki lemak sehingga sehingga aliran darah tersumbat. Contohnya seperti hipertensi, DM, dislipidemia, dll. Maka dari itu orang yang obesitas di anjurkan diet, dengan cara menyeimbangkan pola makan dan olahraga yang teratur.

BAB III PEMBAHASAN PRAKTIKUM 2


III.1 Pemeriksaan Denyut Nadi dan Suhu Tubuh.
III.1.1 Suhu Tubuh
Alat yang digunakan untuk mengukur suhu tubuh adalah termometer. Termometer ada bermacam-macam seperti temometer
air raksa dan digital.

Dalam penelitian ini saya mengukur suhu tubuh saya dalam dua keadaan dengan menggunakan termometer digital, yaitu pada saat terjaga di pagi hari dan pada saat tiba di kampus. Dari pengukuran tersebut, didapatkan hasil sebagai berikut: a. Terjaga di pagi hari : 35,5 C b. Saat tiba di kampus : 35,8 C Dapat dilihat bahwa terjadi perubahan temperatur pada saat terjaga di pagi hari dan pada sat tiba di kampus. Hal ini disebabkan oleh pembakaran kalori di dalam tubuh kita. Pada saat tubuh kita mulai melakukan aktivitas, terjadi peningkatan proses metabolisme. Pada saat proses metabolisme, terjadi perubahan energi kimia menjadi energi panas. Hal ini lah yang menyebabkan temperatur tubuh kita meningkat setelah melakukan aktivitas.

III.1.2 Denyut Nadi


Denyut nadi menentukan frekuensi pemompaan darah pada jantung. Penghitungan denyut nadi dapat dilakukan secara sederhana. Yaitu dengan meletekkan tiga ujung jari kita pada arteri radialis. Denyut nadi normal adalah sekitar 80 kali/menit. Hasil pengukuran denyut nadi saya dalam beberapa keadaan adlah sebagai berikut:

Waktu
Terjaga di pagi hari Setelah mandi Sebelum keluar rumah Tiba di kampus Setelah naik tangga

Jumlah nadi/menit
80 72 84 84 112

III.1.3 Perubahan Denyut Nadi Setelah Aktivitas


Untuk mengatahui perubahan denyut nadi setelah aktivitas, dilakukan percobaan sebagai berikut Sit-up maksimal 37 kali Step-up maksimal 48 kali Nadi sebelum aktivitas 84 kali/menit Nadi sesudah aktivitas 120 kali/menit

Dari hasil penghitungan denyut nadi di atas, dapat kita lihat peningkatan jumlah denyut nadi setelah melakukan aktivitas fisik. Jika kita melakukan aktivitas fisik, maka kita akan memerlukan tenaga atau energi yang didapat dari proses metabolisme di dalam sel dalam bentuk ATP. Energi kimia ini dirubah menjadi energi mekanik. Salah satu penggunaan energi mekanik ini adalah dalam pemompaan jantung. Jika aktivitas kita meningkat, maka semakin banyak juga energi yang dibutuhkan. Artinya proses metabolisme di dalam sel tubuh kita juga dipacu untuk bertambah cepat. Hal ini menyebabkan darah yang dipompa oleh jantung mengalir lebih cepat. Peningkatan kecepatan pemompaan darah oleh jantung ini lah yang menyebabkan denyut nadi kita semakit cepat pula. Karena proses metabolisme di dalam tubuh semakin cepat, maka semakin banyak juga energi panas yang dihasilkan tubuh kita. Hal ini lah yang menyebabkan suhu tubuh kita meningkat setelah melakukan aktivitas fisik.

III.1.4 Prinsip Kerja termometer, tensimeter, dan stetoskop III.1.4.1 TERMOMETER

Gambar: termometer air raksa

Termometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur suhu tubuh. Termometer air raksa adalah termometer yang dibuat dari tabung kaca yang didalamnya terdapat air raksa. Dalam tabung kaca termometer ini terdapat katup pada leher tabung dekat bohlam. Saat suhu naik, air raksa didorong ke atas melalui katup oleh gaya pemuaian. Saat suhu turun air raksa tertahan pada katup dan tidak dapat kembali ke bohlam membuat air raksa tetap di dalam tabung. Pembaca kemudian dapat membaca temperatur maksimun selama waktu yang telah ditentukan. Untuk mengembalikan fungsinya, termometer harus diayunkan dengan keras. Waktu yang digunakan dalam pengukuran temperatur menggunakan termometer air raksa, biasanya 3 menit. Sedangkan pada termometer digital, prinsip kejanya lebih sederhana. Termometer ini menggunakan program dan dapat dengan sendirinya mengukur temperatur

10

tubuh kita. Kita hanya menunggu sampai termometer berbunyi, dan hasil pengukuran sudah dapat dibaca pada layar termometer ini. III.1.4.2 TENSIMETER Sphygmomanometer atau biasanya disebut tensimeter adalah alat yang digunakan untuk mengukur tekanan darah. Tensimeter terdiri dari cuff karet (manset) yang diletakkan di lengan atas pada saat penggunaanya. Mengapa Cuff karet diletakkan di lengan atas? Karena, tekanan dalam cairan tertutup akan selalu tergantung pada ketinggiannnya. Semakin tinggi lokasinya, semakin rendah tekanannya. Demikian pula sebaliknya, semakin tinggi rendah lokasiknya,semakim tinggi tekanannya. Karena kita mau mengukur tekanan pada jantung, maka kita harus mengukur tekanan yang sejajar dengannnya. Lengan atas letaknya sejajar dengan jantung, oleh sebab itu lah Cuff karet diletakkan di lengan atas, tepatnya di sekitar arteri brachial. Ada perbedaan tekanan darah pada saat kita meletakkan Cuff karet di lengan kiri dengan lengan kanan. Hal ini dikarenakan panjang pembuluh darah dari jantung ke arteri brachial di lengan kiri lebih pendek dibandingkan dengan panjang pembuluh dari jantung ke arteri brachial lengan kanan. Dalam ilmu fisika, Hukum poiseulle mengungkapkan bawa tahan dalam pemuluh dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu panjang pembuluh, diameter pembuluh, kekentalan cairan dan tekanan. Dalam hal ini disebutkan bahwa panjang pembuluh mempengaruhi tahanan pada pembuluh. Semakin panjang pembuluh, maka semakin besar pula lah tahanannya. Demikian sebaliknya, semakin pendek pembuluh, semakin kecil tahanannya. Hal ini yang menyebabkan tekanan darah yang diukur di lengan kiri biasanya sedikit lebih tinggi dibanding tekanan darah yang di ukur di lengan kanan.

11

Gambar: Cuff karet (manset) berisi air

Gambar: tabung kaca yang raksa dan terdapat skala untuk membaca tekanan air raksa (mmHg)

Cuff karet yang diletakkan di lengan ini mempunyai dua selang kecil. Selang yang satu dihubungkan dengan tabung kaca, dan selang yang satu lagi dihubungkan dengan pemompa. Tabung kaca pada tensimeter ini berisi air raksa. Air raksa akan naik saat kita memberikan tekanan, dan tekanan ini dapat dibaca pada skala di sampingnya.

Gambar: pemompa

Prinsip kerja pompa ini juga sangat sederhana. Di ujung pompa yang saya tandai pada gambar di atas, terdapat lubang untuk masuknya udara. Di ujung karet pemompa tersebut, terdapat lubang besi dan ada bola besi kecil. Bola besi kecil ini menghambat udara keluar pada saat pemompaan. Jika pemompa ditekan, volume di dlm karet pemompa akan mengecil. Jika volume di dlm karet pemopa mengecil, tekanan di dalam karet pemompa ini akan membesar. Tekanan ini lah yg menyebabkan bola kecil terdorong dan menyumbat lubang pada ujung karet pemompa.

Pada

saat

pengukuran

tekanan

darah,

spygmomanometer harus diletakkan di tempat yang rata dan sejajar dengan mata si Pemeriksa, agar skala yang tertulis dapat dengan mudah di baca. Mengukur tekanan darah ini dilakukan dengan tiga langkah, yaitu palpasi, auscultasi dan oksilasi. Pada saat Cuff karet sudah diletakkan di lengan, peganglah pergelangan tangan dan rasakan denyutan nadi pasien dengan tida jari. Pompa tensimeter tersebut sampai denyut nadi tidak terasa lagi (hilang). Pada saat denyut nadi hilang, tekanan di Cuff karet sudah sama dengan tekanan di jantung. Skala pada saat denyut nadi ini hilang sama dengan tekanan sistolik. Langkah mengukur tekanan darah dengan merasakan denyut nadi di pergelangan tangan ini disebut Palpasi. 12

Setelah denyut nadi hilang, teruskan memopa sampai tekanan 20 atau 30 mmHg lebih tinggi. Hal ini dilakukan agar kita dapan mendengar tekanan sistolik lebih jelas dan akurat. Setelah itu, letakkan stetoscope di bawah Cuff karet, dan lepaskan baut pemompa secara perlahan. Dengarkan pada skala berapa suara korotkov pada arteri brachial muncul. Skala pada saat pertama kali terdengar suara korotkov di arteri brachial ini menandakan sistol. Dan terus dengarkan pada skala berapa denyut pada arteri brachial tersebut hilang. Skala pada saat suara korotkov di arteri brachial ini hilang menandakan diastol. Suara korotkov di arteri brachial ini dapat terdengar karena terjadi aliran turbulen pada saat Cuff karen mulai dikempeskan. Langkah pada saat kita mendengar sistol dan diastol dengan menggunakan stetoscope ini disebut Auscultasi. Mengukur tekana sistolik juga bisa dengan cara Oksilasi. Yaitu dengan cara memperhatikan air pada saat air raksa itu menurun. Saat baut pemompa dilepaskan secara perlahan, air raksa juga menurun secara perlahan. Pada saat sampai di skala yang menunjukkan tekanan sistolik, air raksa ini akan turun naik seperti seolah-oleh mengikuti denyut jantung kita. Ketiga langkah ini dilakukan agar memperoleh hasil pengukuran yang lebih akurat.

III.1.4.3 STETOSKOP
Stetoskop adalah alat yang digunakan untuk mendengar denyut jantung dan bunyi pernapasan. Stetoskop beropersi dengan menyalurkan suara dari bagian dada melalui tabung kosong berisi udara ke telinga pendengar. Bagian chestpiece biasanya terdiri dari dua sisi yang dapat diletakaan di badan pasien untuk memperjelas suara. Dua sisi tersebut adalah diaphgram dan bell. Bila diaphgram diletakkan di pasien, suara tubuh menggetarkan diaphgram, menciptakan tekanan gelombang akustik yang berjalan sampai ke telinga pendengar. Bila bell diletakkan di tubuh pasien, getaran kulit secara langsung memproduksi gelombang tekanan akustik yang berjalan ke telinga pendengar. Bell menyalurkan suara frekuensi rendah, sedangkan diaphgram menyalurkan frekuensi suara yang lebih tinggi dan tidak semua stetoskop memiliki bell.

13

Gambar: stetoskop

Gambar: diaphgram dan bell

BAB IV PEMBAHASAN PRAKTIKUM 3


IV.1 Pemeriksaan Bunyi Pernapasan, Bunyi Jantung, dan Batas-Batas Jantung
IV.1.1 Pemeriksaan Bunyi Pernapasan

Bunyi pernapasan muncul saat berinspirasi dan ekspirasi terjadi. Ada 2 bunyi pernapasan yaitu visikuler dan bronkial. Visikuler adalah bunyi yang sama dan rentang waktu yang sama antara inspirasi dan ekspirasi. Bronkial adalah bunyi pernapasan yang tidak sama antara inspirasi dan ekspirasi, terdapat pada orang berpenyakit asma. Pemeriksaan bunyi pernapasan ini sudah saya lakukan dengan anggota keluarga saya. Dan tidak ada ketidaknormalan dalam bunyi pernapasan mereka.

IV.1.2

Pemeriksaan Bunyi Jantung

Dua bunyi jantung utama dalam keadaan normal dapat didengar dengan menggunakan stetoskop. Bunyi jantung pertama bernada rendah, lunak, relatif lama dan sering dikatakan terdengar seperti lub. Bunyi jantung kedua lebih singkat dan tajam, sering dikatakan terdengar seperti dup. Bunyi jantung pertama berkaitan dengan penutupan katup

14

atrioventrikel, sedangkan bunyi jantung kedua berkaitan dengan penutupan katub semilunaris. Pembukaan katup tidak menimbulkan bunyi apapun. Bunyi timbul karena getaran yang terjadi di dinding ventrikel dan arteri-arteri besar ketika katup menutup. Karena penutupan katup AV (atrioventrikel) terjadi pada awal kontraksi ventrikel ketika tekanan ventrikel pertama kali melebihi atrium, bunyi jantung pertama menandakan sistol ventrikel. Penutupa katup semilunaris terjadi pada awal relaksasi ventrikel kiri dan kanan turun di bawah tekanan aorta dan arteri pulmonaris. Dengan demikian bunyi jantung kedua menandakan permulaan diastol ventrikel. Saya sudah memeriksa bunyi jantung anggota keluarga saya. Dan saya tidak menemukan suara mur-mur atau ketidaknormalan dalam bunyi jantung keluarga saya. Untuk melengkapi laporan ini, saya juga melakukan aktivitas fisik, yaitu step-up sebanyak 40 langkah, dan denyut nadi saya meningkat. Saat istirahat : 80 /menit Setelah aktivitas fisik : 120 /menit Hal ini menunjukkan adanya peningkatan denyut jantung setelah aktivitas fisik. Namun bukan hanya peningkatan denyut jantung ini yang terjadi setelah saya melakukan step-up tadi. Saya juga dapat mendengarkan bunyi jantung ketiga. Bunyi jantung ketiga adalah bunyi pada saat relaksasi.
Bunyinya lemah dan bergemuruh, pada awal sepertiga bagian tengah diastole. Bunyi sangat lemah, maka sangat sulit di dengar oleh telinga. Bunyi jantung keempat timbul pada saat atrium berkontraksi dan di sebabkan oleh meluncurnya darah kedalam ventrikel, sehingga menimbulkan getaran. Bunyi tidak dapat di dengar oleh stetoskop , biasanya 20 siklus/detik atau kurang.

Bunyi jantung abnormal atau murmur (bising jantung), biasanya barkaitan dengan penyakit jantung. Dalam kadaan normal, darah mengalir secara laminar. Namun, apabila aliran darah menjadi turbulen, dapat menyebabkan bunyi. Bunyi abnormal tersebut disebabkan oleh getaran yang terbentuk di sekitar aliran turbulen tersebut. Penyebab tersering turbulensi adalah malfungsi katup, baik katup stenotik atau insufisien. Katup stenotik adalah katup zang kaku dan menyempit dan tidak membuka secara sempurna. Darah harus dipaksa melewati lubang yang menyempit dengan kecepatan yang sangat tinggi, sehingga terjadi turbulensi yang menimbulkan suara siulan abnormal. Katup insufisien adalah katup yang tidak dapat menutup sempurna, biasanya karena tepi-tepi daun katup mengalami jaringan parut dan tidak pas satu sama lain. Turbulensi terjadi sewaktu darah mengalir berblik arah melalui katup yang insufisien dan bertumbukan dengan darah yang mengalir dalam arah berlawanan, menimbulkan murmur yang berdesir atau berdeguk. Aliran balik darah demikian dikenal sebagai regurgitasi. Biasanya katup jantung yang insufisien 15

disebut katup bocor, karena memungkinkan darah mengalir balik pada saat katup seharusnya menutup.

IV.1.3

Pemeriksaan Batas-Batas Jantung

Jantung adalah organ berotot berongga dengan ukuran sekepalan. Jantung terletak di rongga toraks (dada) sekitar garis tengah antara sternum (tulang dada) di sebelah anterior dan vertebra (tulang punggung) di sebelah posterior. Letak jantung di garis tengah menimbulkan perkiraan letak yang dapat membingungkan. Orang biasanya mengira jantung terletak di dada sebelah kiri. Jantung sebenarnya terletak di garis tengah dada. Jantung memiliki pangkal yang lebar di sebelah atas danmeruncing membentuk ujung yang disebut apeks. Jantung embentuk sudut terhadap sternum, sehingga pangkalnya terutama berada di kanan dan apeks di kiri sternum. Sewaktu jantung berdenyut, terutama saat berkontraksi secara kuat, apeks sebenarnya membentur bagian dalam dinding dada di sisi kiri. Karena kita menyadari detak jantung melalui benturan apeks di sisi kiri dada, kita cenderung menganggap bahwa seluruh jantung terletak di sebelah kiri. Jantung terdiri dari,

Metode pemeriksaan perkusi adalah dengan meletakkan jari di antara tulang iga (intercostalis), dan mengetuknya. Dengan metode pemeriksaan perkusi, kita dapat mengetahui batas-batas jantung dan paru-paru seseorang.

atas jantung, pinggang jantung, katub jantung, dan bawah jantung. Dengan menggunakan perkusi, kita dapat mengetahui batas-batas tersebut dengan organ-organ didekatnya.

Saat perkusi dilakukan pada jantung, bunyi yang dihasilkan akan berbeda jika jari sudah menyentuh pinggir jantung atau sudah masuk ke daerah paru-paru yang berada di sebelah jantung. Suara jantung disebut bedah. Pemerikasaan menggunakan metode perkusi pada jantung ini dapat digunakan untuk mendeteksi penyakit cardiomegaly (pembesaran jantung).

16

BAB V PENUTUP
V.1 Kesimpulan
Laporan ini berisi penjelasan tentang cara mengukur tinggi badan dan berat badan yang baik, alat-alat yang digunakan, dan juga bagaimana cara menghitung Indeks Massa Tubuh (IMT) seseorang. Laporan ini berisi usaha-usaha apa saja yang harus kita lakukan untuk memiliki IMT yang normal. Setiap individu berkepentingan untuk memeriksa kesehatannya masing-masing. Hal ini bisa dilakukan dengan banyak cara. Salah satunya bisa dengan mengukur suhu tubuh dan denyut nadi. Di dalam laporan ini anda bisa menemukan alasan mengapa denyut nadi dan suhu tubuh seseorang bisa meningkat setelah melakukan aktivitas fisik. Di dalam laporan ini juga dijelaskan secara singkat mengenai prinsip dasar dari kerja alatalat pengukuran, seperti termometer, tensimeter, dan stetoskop. Laporan ini juga membahas masalah-masalah yang berkaitan dengan pengukuran suhu tubuh dan denyut nadi seseorang. Di dalam laporan ini juga dibahas mengenai bunyi jantung dan bunyi pernapasan yang 17

normal. Ada beberapa penyakit jantung dan penyakit pernapasan yang bisa dideteksi dengan mendengarkan bunyinya.

V.2 Saran
Penulis menyadari bahwa laporan ini sangat jauh dari sempurna dan masih banyak kekurangan-kekurangan di berbagai hal. Untuk itu penulis mengharapkan saran yang bersifat membangun untuk menyempurnakan laporan ini. Penulis juga mengharapkan revisi dan kritik positif sehingga untuk ke depannya penulis dapat memperbaiki dan tidak mengulang kesalahan yang sama.

18