Anda di halaman 1dari 117

KESEHATAN GRATIS

Konsep dan Implementasi di Kabupaten Sumbawa Barat

Penulis Syahrul Mustofa Dwi Arie Santo Deni Wanputra

Design Lay-out Cak-Lan

Diterbitkan oleh : LEGITIMID atas dukungan TIFA FOUNDATION


Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

KATA PENGANTAR
Kabupaten Sumbawa Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat adalah merupakan Kabupaten hasil pemekaran dari Kabupaten Sumbawa. Kabupaten Sumbawa Barat atau dikenal dengan KSB, terbentuk berdasarkan UndangUndang Nomor 30 Tahun 2003 Tentang Pembentukan Kabupaten Sumbawa Barat. Pada tahun 2005 untuk pertama kali, dilaksanakan Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah secara langsung dan untuk pertama kali pula terpilih pasangan KH.Zulkifli Muhadli, SH.,MM dan Drs.Malarahman sebagai Bupati dan Wakil Bupati periode 2005-2010. Pada akhir tahun 2005, Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah terpilih meluncurkan gagasan program kesehatan gratis. Gagasan ini ditanggapi beragam dikalangan masyarakat ada yang pro dan kontra. Sebagian kelompok masyarakat yang kontra terhadap rencana kebijakan tersebut beralasan kemampuan keuangan daerah, sumberdaya manusia, sarana dan prasarana yang serta terbatas sebagai Kabupaten baru sisisilain kebutuhan serta persoalan dan tantangan yang dihadapi begitu kompleks sehingga sulit bagi daerah untuk dapat menyelenggarakan program kesehatan gratis1. Oleh karena itu mereka bersikap skeptis bahkan sinis menilai rencana kebijakan penyelenggaraan program kesehatan gratisdipandang sebagai sebuah kebijakan yang dinilai ambisius, tidak rasional dan keliru bahkan dinilai hanya sebuah program pencitraan politik belaka untuk mendongkrak popularitas politik Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah terpilih. Sebaliknya, bagi sebagian masyarakat lainnya yang pro atas rencana program kesehatan gratis menyambutnya dengan sikap penuh gembira (euphoria) dan penuh optimis. Program kesehatan gratis dinilai sebagai bentuk kebijakan yang dinilai tepat dan perlu untuk memperoleh dukungan dari seluruh lapisan masyarakat karena melalui program tersebut diyakini derajat kesehatan masyarakat dapat meningkat, termasuk Indeks Pembangunan Manusia yang pada akhirnya dapat meningkatkan pula tingkat kesejahteraan masyarakat, khususnya masyarakat pinggiran yang selama ini mengalami kesulitan dalam mengakses dan meningkatkan derajat kualitas kesehatan yang lebih baik. Meskipun pada awal rencana program kesehatan gratis banyak menuai kritik bahkan penolakan dari sebagian besar anggota DPRD Kabupaten sumbawa Barat, namun Pemerintah Daerah KSB tetap bertekad menetapkan kebijakan program kesehatan gratis sekalipun ketika itu muncul ancaman pemberhentian Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah. Tekad untuk menetapkan kebijakan penyelenggaraan program kesehatan gratis tidak terlepas dari komitmen atas visi dan misi Bupati dan Wakil Bupati terpilih dalam rangka memenuhi hak asasi manusia, meningkatkan derajat pembangunan pendidikan dan kesehatan yang berkualitas sebagai wujud nyata dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kebijakan penyelenggaraan program kesehatan gratis di Kabupaten Sumbawa Barat ditetapkan melalui Peraturan Bupati Nomor 9 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pelaksanaan Pelayanan Kesehatan/Pengobatan Gratis di Puskesmas dan Jaringannya Yang Dijamin Oleh Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat. Pada awalnya, pemerintah daerah telah mengajukan ke DPRD
Kabupaten Sumbawa Barat terbentuk pada tahun 2003 berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Pembentukan Kabupaten Sumbawa Barat di Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta
1

dalam bentuk Rancangan Peraturan Daerah, namun Rancangan Peraturan Daerah tersebut mendapat penolakan dari DPRD. Akhirnya, Pemerintah Daerah KSB menempuh dalam bentuk Peraturan Bupati. Pemerintah Daerah menyadari bahwa dari aspek hierarki peraturan perundang-undangan, kedudukan Peraturan Bupati relative lebih rendah dan lemah dibandingkan dengan Peraturan Daerah. Disamping itu, dari aspek substansi Pemerintah Daerah KSB juga menyadari bahwa substansi Peraturan Bupati yang ada saat ini memiliki banyak kelemahan karena disusun dalam situasi politik yang tidak kondusif. Oleh karena dalam bentuk Peraturan Bupati, maka jaminan keberlangsungan program kesehatan gratis pun terancam akan berakhir seiring dengan akan berakhirnya masa jabatan Bupati dan Wakil Bupati pada periode masa jabatan kedua yang akan berakhir pada tahun 2015. Padahal, disisilain program kesehatan gratis saat ini telah memperoleh dukungan luas dari masyarakat dan masyarakat telah merasakan dampak dan manfaat langsung atas program tersebut karena melalui program kesehatan gratis tingkat derajat kesehatan masyarakat mulai meningkat. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika masyarakat yang sebelumnya kontra terhadap kebijakan kesehatan gratis kini menginginkan program kesehatan gratis untuk tetap dipertahankan dan dilanjutkan dimasa yang akan datang. Harapan tersebut dibarengi pula dengan harapan adanya perbaikan atas pelayanan kesehatan dan pendidikan gratis yang lebih berkualitas. Dalam rangka merespon kebutuhan dan tuntutan masyarakat, Lembaga Penelitian dan Advokasi Masyarakat Desa (LEGITIMID) atas dukungan TIFA Foundation berinisiatif untuk mendorong adanya perubahan kebijakan (scallingup) program penyelenggaraan kesehatan gratis di Kabupaten Sumbawa Barat yang bermutu/berkualitas serta berkelanjutan. Program ini dimaksudkan untuk mendorong adanya perbaikan baik dari sisi konsep maupun implementasi atas kebijakan program kesehatan gratis yang berlangsung di KSB. Upaya perbaikan konsep dan implementasi program kesehatan gratis tersebut dilakukan dengan cara membangun kemitraan strategis dengan para stakeholders strategis terkait bidang kesehatan gratis. Serangkaian kegiatan telah dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut diantaranya adalah melakukan survey kepuasaan warga atas layanan kesehatan, serial diskusi, seminar, loby-loby dan negoisasi serta kegiatan lainnya. LEGITIMID atas dukungan TIFA foundation telah berhasil melakukan evaluasi dan mendokumentasikan salah satu hasil dari kegiatan program, yakni berupa naskah akademik dan rancangan peraturan daerah tentang kesehatan gratis yang berkualitas. Pada awalnya, naskah akademik dan rancangan peraturan daerah ini dihajatkan hanya sebagai bahan pertimbangan bagi pemerintah daerah dan DPRD untuk merumuskan perubahan kebijakan program kesehatan gratis. Namun, sebagian stakeholders di daerah menilai naskah akademik dan rancangan peraturan daerah yang telah disusun dipandang perlu untuk didokumentasikan dan dipublikasikan secara luas kepada para stakeholders, khususnya didaerah agar masyarakat secara luas dapat memahami program kesehatan gratis di KSB disamping sebagai bahan referensi sekaligus bahan untuk dapat turut berpartisipasi dalam rangka mendorong agenda perubahan kebijakan tentang kesehatan gratis di Kabupaten Sumbawa Barat. Naskah akademik dan rancangan peraturan daerah yang diterbitkan ini selain merespons tuntutan diatas, dimaksukan pula sebagai bahan dokumentasi dan sharing pembelajaran bersama atas hasil evaluasi kebijakan program kesehatan gratis yang dilakukan secara partisispatif di Kabupaten Sumbawa Barat. Kedua, untuk mendokumentasikan praktek best practices penyelenggaran program kesehatan gratis yang telah berlangsung di Kabupaten Sumbawa Barat.
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

Ketiga, sharing informasi dan pembelajaran bersama bagi semua pihak yang berkeinginan untuk melakukan replikasi kebijakan dan advokasi kebijakan program kesehatan gratis di daerah. Penulis menyadari bahwa buku naskah akademik dan raperda yang dipublikasikan ini masih sangat jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu masukan, saran atau krtikan bahkan caci-makian sekalipun untuk penyempurnaan buku ini akan kami terima dengan senang hati. Dalam kesempatan ini, kami juga ingin mengucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada TIFA Foundation yang telah memberikan dukungan untuk penerbitan buku ini, kepada pemerintah daerah KSB yang telah bersedia menjalin kemitraan atas program serta semua pihak yang telah berkonstribusi atas terbitnya buku ini. Besar harapan, semoga buku yang sangat sederhana ini dapat bermanfaat bagi semua pihak. Sumbawa Barat, 2 Januari 2012 Team Penulis

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, Pemerintah Daerah Kabupaten Sumbawa Barat telah menargetkan KSB Sehat 20102. Dalam rangka itu, maka pada tahun 2006 pemerintah daerah kabupaten Sumbawa Barat, telah mengeluarkan dan menetapkan Perbup Nomor 9 Tahun 2008 Tentang Pelayanan Kesehatan dan Pengobatan Gratis di Puskesmas dan Jaringannya yang dijamin oleh Pemerintah Daerah KSB. Program pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis3 dimaksudkan untuk meringankan beban/biaya kesehatan masyarakat yang selama ini tinggi, memperluas akses pelayanan kesehatan masyarakat, khususnya bagi masyarakat yang belum memiliki jaminan asuransi kesehatan, sekaligus sebagai upaya nyata pemerintah daerah untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat KSB. Penerapan kebijakan ini, pada awalnya telah diusulkan oleh Pemerintah Daerah dalam bentuk Peraturan Daerah, namun DPRD KSB periode 2004-2009, menolak Rancangan Peraturan Daerah tersebut, sehingga Pemerintah Daerah KSB kemudian menempuh jalan pintas dengan Perbup. Sejauh ini, pemahaman masyarakat terhadap program pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis masih begitu beragam, keberagaman pemehaman tersebut, bukan semata-mata karena minimnya sosialiasi secara komperhensif terhadap Perbup, melainkan pula karena ketidakjelasan materi dalam perbup, serta masih banyaknya materi yang belum diatur dalam perbup, ditambah dengan minimnya regulasi teknis yang menerangkan mengenai pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis. Dampak dari lemahnya, materi perbup tersebut, bukan hanya menimbulkan adanya kebingungan dari masyarakat, melainkan pula terhadap para pelaksana kesehatan di Puskesmas dan jaringannya yang melaksanakan perbup tersebut, bahkan banyak diantara para petugas kesehatan yang tidak tahu bagaimana bertindak dihadapan perbup tersebut. Sejauh ini implementasi pelaksanaan program pelayanan kesehatan telah dapat berjalan, namun dari sisi dampak pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis yang dirasakan bermanfaat masih sebatas kalangan masyarakat, khususnya masyarakat fakir miskin. Rendahnya mutu atau kualitas pelayanan kesehatan selama ini, telah menjadi sorotan banyak kalangan dan merupakan issue sangat strategis yang perlu untuk segera direspons oleh pemerintah daerah KSB, begitupun terkait dengan ketersediaan obat-obatan yang berkualitas, buruknya pelayanan petugas kesehatan, terbatasanya sarana dan prasarana kesehatan,

Visi dan target ini sejalan dengan visi, Indonesia Sehat 2010 yang merupakan kebijakan Pemerintah

Pusat.
3 Program pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis di Puskesmas dan jaringannya untuk pertama kali ditetapkan/diberlakukan di KSB, setelah itu beberapa daerah Kabupaten lainnya di NTB, seperti Dompu pada tahun 2009 menetapkan Perbup tentang Pelayanan dan Pengobatan Gratis, di tingkat Provinsi, Pemprov NTB menerbitkan perbup mengenai bantuan pelayanan kesehatan bagi warga miskin.

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

ketiadaan standar dalam pelayanan kesehatan hingga persoalan tingginya biaya sewa ambulance. Namun demikian, program pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis diharapkan terus dipertahankan dan dilanjutkan di masa mendatang dengan adanya upaya perbaikan/penyempurnaan, khususnya terkait dengan perbup yang sudah tidak relevan lagi dengan situasi dan kebutuhan masyarakat. Jaminan atas pelayanan kesehatan gratis yang bermutu dan berkelanjutan, diharapkan dapat dibangun oleh pemerintah daerah di masa mendatang. Dalam rangka itulah, maka perlu disusun naskah akademik raperda kesehatan gratis sebagai usaha untuk melakukan perbaikan/penyempurnaan (Revisi) perbup tentang pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis di KSB sebagai acuan penyelanggaraan pelayanan kesehatan secara gratis di masa mendatang. 1.2 Maksud dan Tujuan Revisi Peraturan Bupati Nomor 9 tahun 2006 dilakukan dengan tujuan untuk memperbaiki berbagai kelemahan dari Perbup Nomor 9 tahun 2006 terkait dengan konsep kebijakan pelayanan dan pengobatan gratis di puskesmas dan jaringannya, ketidakjelasan pengaturan dalam berbagai aspek penyelenggaraan pelayanan dan pengobatan gratis, mutu atau kualitas pelayanan kesehatan gratis dan berbagai kelemahan lainnya. Praktek penyelenggaraan pelayanan kesehatan gratis sejauh ini sesungguhnya belum sepenuhnya dapat menjamin terwujudnya derajat kesehatan masyarakat dan mampu mewujudkan visi dan misi pembangunan kesehatan di Kabupaten Sumbawa Barat. Dalam pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis, misalnya, ketersediaan dan mutu obat yang berkualitas selama ini masih sangat terbatas, pengguna layanan kesehatan gratis masih ditemukan penduduk KSB yang memiliki jaminan asuransi kesehatan, belum adanya kejelasan mengenai standar pelayanan kesehatan gratis di puskesmas maupun jaringannya, begitupun pengaturan mengenai prosedur dan mekanisme komplain masyarakat yang diatur dalam perbup masih sangat kabur, termasuk cakupan pelayanan kesehatan yang masih beragam, dan dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan gratis ditemukan pula kecendrungan meningkatnya praktek rujukan, tingginya angka rujukan pasien ini dikarenakan bukan sekedar ketidakmampuan puskesmas dalam memberikan pelayanan, namun ditemukan pula karena motif untuk memperoleh hasil pendapat yang lebih dari biaya klaim rujukan, disamping rendahnya kualitas petugas pelayan kesehatan, rendahnya motivasi kerja petugas pelayanan kesehatan, dan berbagai permasalahan lainnya, berbagai persoalan tersebut masih seringkali menyelimuti perjalanan pelaksanaan program pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis yang berlangsung hingga saat ini. Akibat dari berbagai persoalan tersebut, tidaklah mengherankan, jika muncul berbagai keluhan dan kekecewaan masyarakat terhadap program pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis, bahkan sebagian masyarakat memandang program pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis masih jauh dari tujuan dan sasarannya. Tingginya biaya yang harus dikeluarkan oleh pasien/keluarganya akibat banyaknya pasien yang dirujuk ke RSUD Sumbawa maupun RSUD Mataram, menimbulkan beban biaya kesehatan di RSUD Sumbawa dan atau RSUD Mataran jauh lebih tinggi, diwali dai pembayaran ambulance, hingga

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

biaya tambahan akomodasi dan transportasi yang tinggi, jangkauan pelayanan kesehatan yang sangat jauh.

karena jarak atau

Tingginya biaya kesehatan (rujuk) menyebabkan masyarakat miskin, justeru semakin jauh untuk mendapatkan akses pelayanan kesehatan yang murah dan terjangkau. bahkan, sebagian mereka terpaksa harus pasrah dengan keadaan, tidak mengobati sakit yang diderita, karena ketidakmampuan untuk membiaya kesehatan (rujuk). Tentu keadan ini menjadi konstradiktif dengan tujuan dari program pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis itu sendiri, yakni memberikan akses bagi masyarakat miskin, dan jika berbagai kelemahan ini tidak segera dilakukan perbaikan, maka tentu upaya Pemerintah Daerah Kabupaten Sumbawa Barat untuk mewujudkan perbaikan kesejahteraan rakyat KSB melalui peningkatan pelayanan dan derajat kesehatan masyarakat akan semakin sulit. Bahkan, visi KSB sehat akan semakin menjauh dari kenyataan. Secara prinsipil sesungguhnya program pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis di Kabupaten Sumbawa Barat, pada awal pelaksanaan program telah banyak mendapatkan apresiasi yang tinggi dari berbagai kalangan masyarakat, khususnya adalah masyarakat miskin, karena program ini dirasakan akan membantu mereka untuk memperoleh pelayanan kesehatan. Meski, saat ini program pelayanan kesehatan gratis, dikeluhkan oleh sebagian kalangan, khususnya masyarakat yang mampu, namun bagi sebagian besar masyarakat miskin berharap program pelayanan kesehatan gratis dimasa mendatang harus tetap dipertahankan dan dilanjutkan, harapan ini sesungguhnya sejalan pula dengan harapan masyarakat lainnya, yang mensyaratkan agar program pelayanan kesehatan gratis perlu untuk diperbaiki atau disempurnakan, bukan hanya sekedar akses, melainkan adalah mutu/kualitas pelayanan dan jaminan keberlanjutan program. Revisi perbup dibutuhkan untuk memperbaiki berbagai kelemahan dalam pengaturan sebelumnya, memperjelas konsep mengenai pelayanan dan pengobatan gratis. Disamping itu, revisi juga harus dilakukan untuk memperjelas berbagai aspek penyelenggaraan pelayanan kesehatan gratis yang selama ini belum diatur dengan jelas dalam Perbup Nomor 9 tahun 2006. Misalnya terkait dengan persyaratan penerima program pelayanan kesehatan gratis, ataupun mengenai standar pelayanan kesehatan gratis. Tentu saja, Revisi juga dilakukan untuk menambahkan beberapa pengaturan baru yang selama ini belum tercakup dalam Perbup, namun diarasakan sangat penting untuk mempercepat keberhasilan program. Beberapa pengaturan terkait dengan hubungan antara pemerintah daerah, khususnya petugas pelayanan kesehatan gratis dengan warganya atau penerima layanan seperti pengaturan tentang hak-hak warga/pasien untuk menerima pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis sesuai standar pelayanan minimal kesehatan, kewajiban daerah untuk menjamin hak-hak penerima program pelayanan kesehatan gratis, danhak-hak warga menyampaikan keluhan serta mekanisme penyelesaian sengketa antara warga dan penyelenggara pelayanan ksehatan gratis ternyata belum diatur secara komprehensig dalam Perbup. Disamping itu, materi perbup juga masih banyak yang menimbulkan multitafsir karena ktidakjelasan kalimat dalam perbup tersebut.

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

Revisi perbup ini juga dimaksudkan untuk menata tata urutan peraturan daerah yang lebih baik, agar sejalan dengan UU No.10 tahun 2000 tentang pembentukan peraturan perundangan-undangan, karena program pelayanan kesehatan gratis bersifat publik dan menagtur masyarakat, maka sudah sepatutnya diatur dalam Perda, sebagai landasan hukum dari penyelenggaraan pelayanan kesehatan gratis, bukan dalam bentuk peraturan bupati. Disamping itu, perubahan perbup ini juga dimaksudkan untuk mengakomir dinamkia kebutuhan daerah untuk mendorong inovasi dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan gratis. Karena kemajuan dalam pelayanan kesehatan gratis, tidak semata-mata karena ketersediaan anggaran, komitmen politik, melainkan pula adalah dari sejauhmanakah seluruh stakeholders terkait dalam pelayanan kesehatan gratis mampu berkreativitas untuk selalu mencari alternatif dalam peningkatan kualitas pelayanan kesehatan. Pemda KSB, sebagai pembuat kebijakan dan petugas pelayanan kesehatan sesungguhnya untuk dapat mencapau kemajuan yang diinginkan perlu untuk melakukan terobosanterobosan pemikiran untuk meningkatkan kinerjanya melalui peningkatan kreativitas dan inovasi dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan. Untuk itu diperlukan payung hukum untuk mendorong dan melindungi pemda KSB yang telah melakukan kegiatan-kegiatan inovatif dalam pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis, tanpa dihantui oleh tuntutan hukum. Jangan sampai kegiatan yang inovatif yang selama ini telah berjalan, bermuara pada kriminalisasi. Adanya revisi Perbup ini diharapkan dapat memberi kesempatan untuk membangun kerangka hukum penyelenggaraan penyalanan kesehatan dan pengobatan gratis yang menyeluruh, visioner, dan efektif merespon berbagai masalah yang sekarang dan mungkin terjadi di masa mendatang di dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan gratis di KSB. 1.2. Metodologi Revisi Perbup ini dirancang sedemikian rupa agar bersifat problem-based, partisipatif, dan berbasis pada pemikiran yang secara akademik dan politik dapat diterima. Bersifat problem-based karena inisiatif dan dasar untuk melakukan revisi adalah masalah yang dihadapi baik oleh pemerintah daerah, para petugas kesehatan, dan para pemangku kepentingan lainya terkait dengan penyelenggarakan program pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis di Puskesmas dan jaringannya. Berbagai masalah yang dihadapi oleh penyelenggara pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis dan pemangku kepentingan setelah dikaji secara akademik ternyata bersumber dari ketidak-jelasan pengaturan dari Perbup Nomor 9 Tahun 2006 dan ketidakharmonisan antara Perbup Nomor 9 Tahun 2006 dengan peraturan perundangan lainnya. Berbagai masalah yang dihadapi oleh banyak pemangku kepentingan ini menjadi dasar dan mendorong upaya untuk merevisi perbup Nomor 9 tahun 2006. Dorongan untuk melakukan revisi juga muncul dari masalah yang dihadapi dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis yang mekanisme pengelolaannya belum diatur dalam Perbup Nomor 9 Tahun 2006. Misalnya, mengenai standar pelayanan kesehatan gratis. Standar Pelayanan Kesehatan Gratis adalah hal yang sangat strategis dan menjadi isu yang sangat penting karena terkait secara langsung dengan pelayanan kesehatan yang diterima oleh masyarakat dan menyangkut pula derajat kesehatan masyarakat.

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

Untuk itu diperlukan revisi Perbup Nomor 9 Tahun 2006 untuk mengakomodasi kebutuhan adanya pengaturan yang diperlukan untuk menjawab tantangan yang sekarang dan dimasa mendatang dihadapi oleh pemerintah daerah KSB. Dengan demikian, diharapkan Perbup yang dihasilkan nanti benar-benar mampu menjawab berbagai masalah yang sekarang dihadapi ataupun tantangan yang mungkin terjadi di masa mendatang dalam penyelenggaraan kesehatan dan pengobatan gratis di KSB. Metoda partisipatori digunakan dalam keseluruhan proses revisi Perbup Nomor 9 tahun 2006. Didalam menentukan agenda revisi, yaitu menentukan hal apa dari Perbup Nomor 9 tahun 2006 yang perlu direvisi, tim revisi melakukan serangkaian FGD (focusssed- group discussion) di berbagai tingkat, desa (8 desa), 8 kecamatan dan kabupaten dengan multi-stakeholders, termasuk dengan penerima layanan kesehatan (pasien). Tim juga melakukan uji publik dengan berbagai kalangan seperti Akademisi, Pers, Dinas kesehatan, Petugas kesehatan dan lain-lain. Tim revisi telah memperoleh berbagai masukan dari berbagai kalangan dan masukan-masukan tersebut sepanjang bermanfaat serta layak dipertimbangkan telah dipergunakan Tim Revisi untuk menyempurnakan konsep yang secara terus menerus dibangun dan disempurnakan. Dengan melibatkan multi-stakeholders di berbagai tingkatan (desa/kelurahan, kecamatan dan kabupaten) diharapkan agenda revisi dapat mencakup masalah dan kebutuhan yang dirasakan oleh banyak pihak yang mewakili kepentingan yang berbeda-beda. Proses revisi juga dilakukan secara terbuka dan partisipatif dimana tim revisi yang terdiri dari pakar berbagai bidang keilmuan yang relevan dengan penyelenggaraan pelayanan kesehatan gratis bersama-sama dengan tim hukum dari berbagai komponen mendiskusikan berbagai masalah yang terjadi dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan gratis di KSB dan merumuskan norma yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Dalam membahas berbagai isu, perdebatan yang intens dilakukan bukan hanya dengan Tim Pakar, melainkan pula pihak diluar tim, seperti: pakar dari universitas dan lembaga lainnya, unsur-unsur dari Dinas dan perwakilan dari berbagai pers, NGO, dan pemangku kepentingan lainnya. Dengan melibatkan proses yang terbuka dan partisipatif diharapkan pemikiran yang berkembang dalam revisi menggambarkan pemikiran yang terkini, relevan, dan efektif untuk menjawab masalah dan tantangan yang dihadapi dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan gratis di KSB. Dengan konsultasi publik yang luas dengan berbagai pihak dan pemangku kepentingan diharapkan dapat mendorong terjadi perdebatan yang terbuka tentang berbagai aspek penyelenggaraan pelayanan kesehatan gratis yang selama ini menjadi perhatian masyarakat luas. Dinas kesehatan akan menjadikan masukan dan pemikiran yang berkembang dalam konsultasi publik menjadi informasi dan bahan yang penting untuk menjadikan Peraturan Daerah hasil revisi benar- benar menjadi milik masyarakat dan semua pemangku kepentingan. Revisi juga dilakukan dengan mengkombinasikan pendekatan keilmuan dan politik. Pendekatan keilmuan dilakukan untuk mencari solusi yang tepat terhadap berbagai masalah yang terjadi dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan gratis di KSB. Dengan melibatkan para pakar dari berbagai universitas dan lembaga penelitian yang berbeda diharapkan revisi dapat
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

menghasilkan pengaturan baru yang secara akademik kuat dan secara politik fisibel. Pengaturan baru tentunya harus memiliki landasan konsepsual yang kuat didukung oleh hasil riset dan pengalaman yang memadai. Untuk itu maka para pakar diminta melakukan kajian tentang berbagai isu yang dianggap penting dan menuliskan hasilnya sehingga dapat menjadi bahan untuk pembuatan naskah akademik dan masukan yang penting dalam revisi Perbup Pelayanan Kesehatan Gratis. Namun, pengaturan yang secara akademik sound harus juga dapat diimplementasikan dengan mudah, sederhana, dan efektif. Karena itu, pemikiran dari para pakar dan anggota Tim Revisi dikonsultasikan dengan para pihak yang berkepentingan sehingga pengaturan yang diusulkan bukan hanya tepat secara konsepsual, tetapi juga secara politik fisibel, dan akseptabel dimata berbagai pemangku kepentingan. 1.4. Struktur Penulisan Naskah akademik ini terdiri dari 6 Bab. Bab I menjelaskan tentang pendahuluan yang mencakup latar belakang, tujuan dari revisi, metodologi, dan struktur penulisan. Bab II berisi tentang gambaran umum pelaksanaan pelayanan kesehatan gratis dan landasan untuk melakukan scalling-up perbup menjadi perda. Bab III menjelaskan inventarisasi peraturan perundang-undangan terkait dengan pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis, termasuk jaminan sosial bagi masyarakat miskin. Inventarisasi ini dilakukan untuk melakukan singkronisasi dan harminsiasi perda yang akan dibentuk dengan peraturan perundang-undangan lainnya, termasuk memastikan bahwa peraturan daerah yang akan ditetapkan nantinya tidak bertentangan dengan peraturan yang lebih tinnggi dan ketentuan asas-asas lainnya. Bab IV menjelaskan kerangka pemikiran atau konseptual yang menjelaskan konsep pelayanan kesehatan gratis dan konstruksi pemikiranya. Adanya konsep yang jelas tentang pelayanan kesehatan gratis diharapkan dapat membantu para pembentuk Peraturan daerah dan pemangku kepentingan dalam menentukan arah dari Perbup. Bab V menjelaskan tentang landasan pembentukan peraturan daerah, secara filosofis, landasan sosio politik dan lansan yuridis pembentukan perda. Bab VI memuat materi dari revisi Perbup. Semua masalah strategis yang memerlukan perubahan pengaturan dalam Perbup dan keterkaitannya dengan peraturan perundangan lainnya dijelaskan disini. Disamping memuat masalah yang menuntut perubahan, Bab ini juga mengidentifikasi masalah yang memerlukan pengaturan baru dalam Perda hasil revisi, seperti ; standar pelayanan minimal kesehatan, pemberian reward dan beberapa materi lainnya. Dan diakhir tulisan, dilampirkan rancangan peraturan daerah.

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

10

BAB II GAMBARAN UMUM PELAYANAN KESEHATAN GRATIS DI SUMBAWA BARAT


Hasil penelitian berikut ini memberikan gambaran mengenai efektivitas dan berbagai permasalahan yang muncul dalam impelementasi Perbup Nomor 9 Tahun 2006 tentang pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis di Puskesmas dan Jaringannya yang dijamin oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Sumbawa Barat. Fakta ini sekaligus menjadi dasar pemikiran awal untuk mendorong lahirnya agenda untuk melakukan scalling-up perbup menjadi Peraturan Daerah, berikut temuan permasalahan dan harapan perubahan yang diiiginkan di masa mendatang : 2.1. Penduduk KSB yang belum memiliki asuransi kesehatan sebagai penerima program pelayanan kesehatan gratis. Persyaratan penerima program layanan kesehatan gratis adalah masyarakat yang belum memiliki jaminan asuransi kesehatan. Hal ini tercantum dalam Peraturan Bupati Nomor 9 Tahun 2006, Pasal 3 ayat (1) menyebutkan bahwa sasaran pelayanan kesehatan/pengobatan gratis di Kabupaten Sumbawa Barat adalah semua penduduk Kabupaten Sumbawa Barat yang belum memiliki Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK) yakni masyarakat yang tidak ditanggung oleh PJPK-MM, PT. ASKES, JAMSOSTEK, dan Jaminan Asuransi lainnya. Beranjak dari ketentuan di atas, maka jelas bahwa sasaran penerima layanan kesehatan gratis yang dijamin oleh pemerintah daerah adalah terbatas untuk penduduk KSB yang tidak/belum memiliki asuransi kesehatan, oleh karena itu, maka tanggung jawab pembiayaan kesehatan gratis pun terbatas, yakni ; hanya untuk penduduk KSB yang belum memiliki asuransi kesehatan.. Agar sasaran penerima program pelayanan kesehatan gratis tersebut menjadi tepat sasaran, maka, pemerintah daerah, khususnya masing-masing Puskemas dan jaringannya, haruslah memiliki sistem informasi dan database untuk dapat memastikan serta menjamin siapa dan berapa jumlah penduduk KSB yang belum memiliki asuransi kesehatan, maupun yang telah memiliki asuransi kesehatan. Informasi dan data iniah yang tidak tersedia di pemerintah daerah, khususnya dinas terkait (Dinas Kesehatan), Puskemas dan jaringannya sehingga para petugas medis di masing-masing puskesmas dan jaringannya, memberlakukan pelayanan kesehatan gratis kepada seluruh penduduk KSB, termasuk penduduk KSB yang telah memiliki asuransi kesehatan. Beranjak dari permasalahan di atas, maka, kedepan apabila pemerintah daerah tetap memberlakukan pelayanan kesehatan gratis, hanya untuk penduduk KSB yang belum memiliki asuransi kesehatan, maka ; pertama, pemerintah daerah perlu melakukan pendataan penduduk dan membangun sistem informasi tentang data warga yang belum memiliki asuransi, pemerintah daerah untuk itu dapat menjalin kerjasama dengan Pemerintahan Desa/Kelurahan setempat melalui program SIOS (Sistem Infomrasi Orang Susah) dalam PBRT (Pembangunan Berbasis Rukun Tetangga) Pemerintah Daerah dapat memasukkan atau mengintegrasikan kegiatan tersebut kedalam PBRT.
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

11

Kedua, pemerintah daerah perlu melakukan koordinasi dan kerjasama kepada perusahaan swasta/negara asuransi atau dinas terkait yang telah menyediakan jasa asuransi, atau kepada perusahaan-perusahaan yang menjalankan program Jamsostek. Data dan informasi dari perusahaan tersebut menjadi data dan informasi yang dapat digunakan oleh pemerintah daerah, khususnya para petugas medis di masing-masing puskesmas dan jaringannya untuk melakukan pengecekan dan validasi data pemegang asuransi yang berkunjung ke masingmasing puskesmas dan jaringannya. Ketiga, untuk menghindari terjadinya tumpang tindih, dan memudahkan pengawasan, puskesmas dan jaringannya yang memberikan program pelayanan kesehatan gratis mengumumkan secara terbuka, misalnya memasang daftar nama pemegang asuransi di papan informasi yang ada di masing-masing puskemas, sehingga publik dapat mengetahui pula, siapa sajakah yang telah memiliki asuransi. Keempat, untuk mencegah dan mengurangi terjadinya manipulasi data yang dikarenakan perilaku nakal atau penyalahgunaan kekuasaan para petugas medis di puskesmas dan jaringannya dan atau instansi terkait lainnya, maka pemerintah daerah dapat memberilakukan adanya sanksi administratif maupun sanksi pidana kepada para petugas medis yang tidak menjalankan aturan tersebut. Disisilain, harus pula dibarengi dengan adanya pemberian reward bagi mereka yang berperilaku dan berprestasi kerja baik. Persoalan pendataan dan validasi data, memang tidak semudah yang dibayangkan, untuk mendukung program ini, maka pemerintah daerah perlu melibatkan para stakeholders, khususnyaadalah mereka yang ada di desa/kelurahan, lebih khusus adalah para Ketua RT. Peran pemerintah adalah pas aspek supervisi, seperti ; menyusun pedoman pelaksanaan dan pedoman teknis, melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap para ketua RT dan para petugas pendata dan lain sebagainya. Data-data yang telah terkumpul dari masing-masing desa (RT) wajib diolah oleh Pemerintah Daerah, instansi terkait, sebagai bahan untuk sistem informasi dan database penerima layanan kesehatan gratis. Apabila data dan informasi ini sudah dimiliki dan dikembangkan oleh pemerintah daerah, maka pemerintah daerah dapat dengan mudah untuk menghitung, misalnya berapa jumlah penduduk KSB yang belum memiliki asuransi kesehatan, berapa kali rata-rata mereka ke Puskesmas dan jaringannya, dan pada akhirnya pemerintah daerah dapat menghitung berapa jumlah pembiayaan ideal untuk pelayanan kesehatan gratis/orang bagi penduduk KSB yang belum memiliki asuransi. 2.2. Persyaratan untuk menerima pelayanan kesehatan gratis di Puskesmas dan jaringanyya di KSB dengan bukti KTPG. Untuk dapat memperoleh pelayanan program kesehatan gratis tersebut, maka Penduduk KSB yang belum memiliki asuransi kesehatan, diberikan Kartu Tanda Pengobatan Gratis atau disingkat dengan KTPG. Kartu tersebut diterbitkan oleh Dinas Kesehatan, dan selama ini baru dua kali diterbitkan, yakni pada tahun 2006-20074. Setelah itu, tidak ada lagi dan setiap orang kemudian dapat memperoleh pelayanan kesehatan gratis, karena untuk memperoleh pelayanan

Dinas kesehatan tidak lagi meneribitkan KTPG setelah terjadi banjir tahun 2007
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

12

kesehatan gratis di Puskesmas dan jaringannya hanya dengan bukti KTP KSB, bahkan di sejumlah Puskesmas dan jaringannya, beberapa petugas medis, tidak melakukan pendataan dan pengecekan pasien yang berkunjung di puskesmas dan jaringannya. Kelemahan dari Perbup Nomor 9 Tahun 2006, terkait dengan persyaratan ini adalah karena di dalam Perbup tersebut tidak diatur secara jelas dan rinci, apasajakah syarat-syarat yang harus dipenuhi setiap penduduk KSB yang belum memiliki asuransi kesehatan untuk dapat memperoleh KTPG. Permasalahan lainnya adalah mengenai kartu yang dijadikan dasar untuk dapat memberikan pelayanan kesehatan gratis yang simpang siur, tidak tegas dan inkonsisten. Jika memang, pemerintah daerah memberlakukan KTPG sebagai basis untuk memberikan pelayanan kesehatan gratis di puskesmas dan jaringannya, maka terhadap penduduk yang tidak memiliki KTPG, seyogyanya tidak diberikan layanan kesehatan gratis. Beranjak dari permasalahan di atas, maka ada beberapa materi perbup yang perlu disempurnakan. Pertama, pemerintah daerah perlu untuk memperjelas dan merinci, mengenai persyaratan untuk dapat menerima KTPG, karena dalam Perbup tidak diatur, rujukan untuk dapat diterbitkannya KTPG hanya terbatas pada lingkup persyaratan Penduduk KSB dan belum memiliki asuransi kesehatan. Kedua, perlu diatur mengenai jenis dan bentuk KTPG, termasuk masa berlakunya KTPG. Ketiga, mekanisme pengelolaan KTPG, termasuk instansi yang memiliki otoritas untuk menerbitkan KTPG. Keempat, untuk memberikan kepastian terhadap pelayanan kesehatan, maka pemerintah daerah untuk memastikan dan memutuskan identitas persyaratan manakah yang digunakan bagi setiap penduduk yang akan menerima pelayanan kesehatan gratis. Dalam konteks inipula, penting untuk memastikan masa transisi, berapa lama penggunaan KTP, Sertifikat GSP, dan identitas lainnya dapat digunakan sepanjang belum diterbitkannya KTPG, termasuk mempertegas, apabila KTPG telah diterbitkan, maka identitas lainnya untuk dinyatakan tidak berlaku atau digunakan untuk memperoleh pelayanan kesehatan gratis. 2.3. Peningkatan mutu/kualitas dan keberlanjutan pelayanan kesehatan gratis. Secara umum tujuan pelayanan kesehatan/pengobatan gratis adalah untuk meningkatkan derajat kesehatan perorangan pada seluruh masyarakat Kabupaten Sumbawa Barat. Sedangkan secara khusus adalah ; pertama, meningkatkan akses kepada seluruh masyarakat Kabupaten Sumbawa Barat untuk pelayanan kesehatan dasar; kedua, meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dasar; ketiga, mengurangi keterlambatan rujukan dari desa ke Puskesmas5. Dalam perbup No.9 Tahun 2006, titik tekan dari tujuan program pelayanan kesehatan gratis adalah peningkatan akses pelayanan kesehatan dasar serta mengurangi keterlambatan rujukan dari desa ke Puskesmas. Meskipun dicantumkan pula mengenai peningkatan mutu pelayanan kesehatan dasar. Akan tetapi, selama kurun waktu 2006 s.d. 2011, alokasi anggaran kesehatan dalam APBD masih terbatas pada bagaimana masyarakat dapat memperoleh akses.

Pasal 2
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

13

Tujuan penyelenggaraan kesehatan gratis jika merujuk pada pencapain akses semata, maka dapat dikatakan pemerintah daerah berhasil. Masalah yang berkembang saat ini dan mendatang adalah bagaimana pelayanan kesehatan gratis, tidak sekedar untuk dapat memenuhi akses pelayanan kesehatan bagi masyarakat, tetapi bagaimana pemerintah daerah dan instansi terkait yang memberikan layanan kesehatan gratis dapat menjamin adanya pelayanan yang bermutu dan berkualitas, serta berkelanjutan. Oleh karena itu, perlu ada perubahan, yakni; pertama, orientasi tujuan penyelenggaran pelayananan kesehatan gratis, dari penyediaan akses menuju pada akses yang bermutu/berkualitas serta berkelanjutan. Kedua, untuk menjamin adanya keberlanjutan program pelayanan kesehatan gratis, maka dibutuhkan adanya komitmen politik dari lembaga legislatif dan eksekutif yang dituangkan dalam peraturan daerah. Saat ini, secara politik dan hukum, keberlanjutan penyelenggaraan kesehatan gratis, kondisi masih berada dalam ancaman karena dasar penyelenggaraan program yang hanya didasarkan pada peraturan bupati. Sehingga dikhawatirkan, setelah masa jabatan bupati berakhir, berakhir pula program pelayanan kesehatan gratis. Hadirnya peraturan daerah tentang pelayanan kesehatan gratis, selain menyempurnakan berbagai materi yang ada dalam Perbup No.9 tahun 2006, juga dimaksudkan untuk memperkokoh landasan pelaksanaan program pelayanan kesehatan gratis di masa mendatang. Terlepas dari berbagai kelemahan yang ada saat ini, program pelayanan kesehatan gratis, dirasakan sangat bermanfaat bagi masyarakat, khususnya masyarakat kurang mampu. 2.4. Lingkup dan jenis pelayanan kesehatan gratis Lingkup pelayanan kesehatan gratis adalah pelayanan kesehatan dasar yang berada di Puskesmas, Induk, Puskesmas Pembantu, Polindes, maupun Posyandu. Pelayanan kesehatan dasar tersebut, meliputi : a. Pelayanan gawat darurat dan operasi minor, meliputi: 1. Pemeriksaan dan pemeriksaan. 2. Tindakan medis sedang berat. 3. Tindakan medis ringan. 4. Pelayanan KB operatif. b. Rawat jalan tingkat Pertama meliputi: 1. Pelayanan pemeriksaan pisik dan konseling oleh dokter dan perawat. 2. Pelayanan kesehatan gigi dan mulut. 3. Pelayanan perawatan ibu hamil dan ibu nifas. 4. Pelayanan KB non operatif. 5. Pelayanan pemberi obat. 6. Pelayanan laboratorium sederhana. 7. Pelayana uji kesehatan. 8. Tindakan medis ringan. 9. Pemeriksaan luar dalam rangka visum et reperentum. 10. Pelayanan penunjang medis lainnya. c. Rapat Inap tingkat pertama, meliputi: 1. Pemeriksaan dan pengobatan. 2. Perawatan. 3. Pemberi obat obatan. 4. Pertolongan persalinan dan pasca persalinan. 5. Pertolongan penyakit kandungan dan efek samping keluarga berencana.
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

14

6. Tindakan medis ringan sedang. Ruang lingkup pelayanan dasar di Puskesmas terdiri dari: a. Pelayanan pemeriksaan dan pengobatan dan tindakan medis ringan oleh paramedik. b. Konseling kesehatan umum oleh perawat atau bidan. c. Melaksanakan rujukan. Permasalah dan keluhan yang dihadapi : a. Keterbatasan obat-obatan dan rendahnya kualitas obat Persoalan keterbatasan ketersediaan obat dan mutu obat yang berkualitas adalah perosalan yang paling banyak disoroti dan dikeluhkan masyarakat, mutu kualitas obat dinilai masyarakat masih sangat rendah. Sementara disisi lain, jika, masyarakat ingin mendapatkan obat yang bermutu/berkualitas, dapat diperoleh dari resep dokter atau apotik yang ditunjuk dokter, dan untuk mendapatkan obat tersebut, meraka harus membayar mahal. Oleh karena tidak mampu, terpaksa mereka tetap bertahan dengan obat generik yang telah disediakan oleh pemerintah daerah secara gratis, meskipun obat tersebut tidak mujarab, untuk menyebuhkan penyakit yang dideritanya. Daripada membeli obat yang berkualitas namun mahal, lebih baik menggunakan obat generik gratis yang diberikan meskipun tidak memiliki dampak atau pengaruh atas kesembuhan pasien. Atas dasar itu, maka, dimasa mendatang Pemerintah Daerah perlu untuk memberikan subsidi untuk penyediaan obat-obatan yang bermutu/berkalitas, khususnya bagi pasien warga miskin. b. Pelayanan Gawat Darurat dan Operasi Minor Pertama; sebagian besar masyarakat menilai unit pelayanan gawat darurat yang diberikan petugas medis di masing-masing kecamatan masih rendah, beberapa kasus yang membutuhkan penanganan cepat, seperti korban kecelakaan lalu lintas lamban untuk direspons. Salah satu penyebabnya adalah karena terbatasnya jumlah dokter di masing-masing kecamatan, dan terkadang dokter atau petugas medis di Puskesmas tersebut pada saat penanganan korban kecelakaan tidak berada di tempat. Kedua; terbatasnya sarana dan prasarana pendukung, termasuk kendaraan operasional untuk pasien (ambulance) ditambah dengan kelakuakn sejumlah oknum di puskesmas yang menggunakan kendaraan dinas operasional ambulance untuk kegiatan lainnya. Ketiga, keterbatasan SDM, di beberapa Puskesmas, seperti Puskesmas Taliwang sarana dan prasarana, khsusunya alat-alat kesehatan yang bertekhnologi tinggi yang disediakan Pemda , ternyata tidak mampu untuk dioperasionalisasikan secara optimal, sehingga penanganan pasien tetap melalui rujuk ke RSUD Sumbawa atau RSUD Mataram dan atau Rumah sakit lainnya. c. Pelayanan Rawat Jalan dan Rawat Inap Tingkat Pertama Permasalahan yang dihadapi atau dikeluhkan masyarakat, khususnya pasien/keluarga yang mendampingi pasien, adalah menyangkut ketersediaan petugas media yang sangat terbatas, khususnya adalah dokter yang merawat pasien, umumnya adalah Dokter umum, dan seringkali mereka tidak berada ditempat,

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

15

Beberapa fakta lapangan ditemukan, antara lain ; pelayanan kesehatan pada pasien rawat inap umumnya dilakukan oleh perawat, sementara dokter yang memiliki kompetensi, tidak berada ditempat, karena sejumlah Dokter yang bertugas di Puskesmas, jua membuka praktek di rumah atau tempat praktek, sebagian besar praktek tersebut dilakukan pada malam hari, sehingga pasien yang membutuhkan pertolongan, tidak langsung dapat memperoleh pelayanan, mereka harus menunggu hingga praktek dokter selesai. Oleh karena pelayanan kesehatan/pengobatan diberikan oleh Perawat, yang belum memiliki kompetensi atau kapasitas memadai, maka potensi untuk terjadinya mal-praktek pun potensial terjadi. Sejumlah kasus, terjadi pasien meninggal dalam perjalanan menuju RSUD, salah satunya adalah kasus Ibu melahirkan yang terjadi di Puskesmas Taliwang. Diduga, kasus ini terjadi karena kesalam perawat dalam melakukan diagnosis penyangkit dan keterlambatan dalam penanganan pasien. Disamping itu, terkait dengan pelayanan rawat inap, tantangan yang dihadapi adalah menyangkut keterbatasan keresediaan ruangan untuk rawat inap pasien yang terjadi dibeberapa puskesmas. Beranjak dari permasalahan di atas, maka ada 4 (empat) agenda utama yang perlu dilakukan perbaikan terkait dengan perbaikan pelayanan kesehatan bagi pasien rawat inap. Pertama, pemerintah daerah perlu melakukan menyediaan dan penambahan jumlah dokter, khususnya dokter sepesialis di masing-masing kecamatan. Kedua, perlu ada upaya peningkatan kapasitas,khususnya bagi para perawat puskesmas yang menangani pasien rawat inap. Ketiga, perlu adanya sanksi yang tegas terhadap para dokter yang membolos atai meninggalkan jadwal waktu pekerjaannya di Puskesmas. Perlu, dibutuhkan adanya upaya peningkatan sarana dan prasarana, khususnya adalah ruang wawat inap di masing-masing puskesmas. d. Pelayanan Rujukan dari Puskesmas ke RSUD mendorong biaya kesehatan yang tinggi Rujuk Pasien ke RSUD Sumbawa, RSUD Mataram dan Rumah Sakit lainnya sebagai lahan bisnis. Praktek rujuk merujuk, banyak sekali terjadi dan terus meningkat, alasan rujuk dari masing-masing puskesmas sangat beragam, mulai dari persoalan ketersediaan, dokter, peralatan kesehatan, hingga alasan di puskemas A lebih baik daripada puskemas B. Jika merujuk pada semangat dan tujuan rujuk, adalah untuk memudahkan pasien. Pelayanan rujuk, antara lain meliputi; rujuk dari Desa ke Puskesmas, dan antar Puskesmas dalam wilayah Kabupaten Sumbawa Barat. Sedangkan, rujuk ke RSUD Sumbawa, seperti; RSUD Mataram atau RSUD Sumbawa, atau Rumah Sakit lainnya tidak diatur dalam Perbup, dan biasanya dibebankan atau ditanggung sendiri oleh pasien. Persoalan sekaligus tantangan sekarang adalah tingginya angkat rujuk ke RSUD mataram dan Sumbawa, karena daerah KSB belum memiliki RSUD sendiri. Tingginya jumlah pasie yang dirujuk, telah menimbulkan reaksi dari masyarakat, biaya tinggi, waktu, jarak tempuh dan sebagainya menjadi pemicu utamanya. Kondisi ini sangat memberatkan masyarakat, khususnya mereka yang tidak mampu. Misalnya saja, biaya pengangkutan pasien dari Puskesmas Induk ke RSUD Sumbawa atau RSUD Mataram, untuk biaya sewa
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

16

ambulance, jika dari Puskesmas Sekongkang ke Sumbawa mencapai Rp.1.000.000,00 s/d Rp.1.500.000,-. Belum lagi biaya di RSUD, penginapan, dan sebagainya. Sehingga jauh lebih tinggi biaya yang harus dikeluarkan oleh pasien dan keluarganya. e. Dukungan untuk pasien yang tidak mampu yang di rujuk ke RSUD Mataram atau RSUD Sumbawa tidak berjalan optimal Untuk mengatasi masalah kesulitan biaya kesehatan yang dialami oleh pasien yang tidak mampu, maka Pemerintah Daerah telah mengambil kebijaksanaan dengan menyediakan alokasi anggaran khusus atau bantuan sosial kesehatan bagi warga miskin yang tidak mampu yang dirujuk ke RSUD Mataram maupun RSUD Sumbawa, namun, sejauh ini langkah tersebut belum cukup efektif dalam mengatasi masalah yang dihadapi penduduk miskin KSB. Beberapa warga (pasien) yang pernah dirujuk ke RSUD Sumbawa, khususnya pasien warga miskin, ternyata belum mendapat perlakuan pelayanan yang optimal, terlebih lagi yang berkualitas. Warga miskin yang menggunakan Jamkesda, akses untuk mendapatkan obat secara gratis, ternyata dibatasi, hanya memperoleh jenis obat-obatan tertentu saja, disamping itu pelayanan yang diberikan para medis pun sangat buruk. Bantuan keluarga miskin, yang dihajatkan untuk membantu para pasien kurang mampu, ternyata belum mampu dikelola Pemerintah Daerah c.q. melalui Setda-Kesra KSB, ternyata banyak bantuan sosial tersebut yang tidak sesuai sasaran. Hal ini dikarenakan kurangnya transparansi dan akuntabilitas, khususnya mengenai sosialiasi atau informasi bantuan sosial, kepada para keluarga miskin. kelemahan : (a) kurangnya ketersediaan informasi/akses informasi warga miskin, khususnya terkait dengan mekanisme pengajuan dan pencairan dana bantuan sosial; (b) proses pengajuan dan pencairan bantuan memerlukan waktu yang relative lama dan prosesnya terkesan masih birokratif. Disisilain, pada tingkat masyarakatada pula masyarakat yang memanfaatkan dana ini untuk kepentingan lainnya atau melakukan manipulasi data, misalnya, dana yang seyogya untuk biaya kesehatan tetapi digunakan untuk keperluan/kebutuhan yang lain. 2.5. Lemahnya Sistem Manajemen Pengelolaan Program Pelayanan Kesehatan. Dari aspek perencaan program dan kegiatan pelayanan kesehatan, keterlibatan stakeholders dalam perencanaan program sangat minim, bahkan Puskesmas dan jaringannya yang merupakan unsur terdepan dalam pelayanan kesehatan gratis tidak dilibatkan Dinas Kesehatan dalam penyusunan program/kegiatan dan anggaran tahunan daerah. Pada aspek Pengendalian dan Pengawasan, program pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis dilakukan oleh Tim Pengawasan yang terdiri dari; unsur inspektorat dan dinas yang meliputi Kepala BAPPEDA, Kepala Dinas Kesehatan, Kepala BPM, Tim di ketuai langsung oleh Sekretaris Daerah. Tugas utama Tim Pengawasan adalah ; Pertama, menerima laporan dan menindaklanjuti laporan dari masyarakat. Kedua, melakukan penngawasan terhadap pelaksanaan pelayanan kesehatan gratis kepada para petugas medis Puskesmas dan jaringannya.
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

17

Tim Pengawasan, ternyata belum dapat berjalan efektif, karena masing-masing personil maupun dinas/instansi terkait memiliki tupoksi dan beban masingmasing, keberadaan Tim Pengawasan tidak diketahui masyarakat, termasuk peran dan tugas Tim tersebut. Sementara disisilain, Tim Pengawasan bersifat pasif, hanya menunggu laporan keluhan dari Petugas Puskesmas. Meskipun, dalam rangka pengawasan tersebut, para petugas telah diwajibkan untuk membuat laporan dan menyampaikan laporan perkembangan pelaksanaan pelayanan kesehatan gratis, sekurang-kurangnya 1 (satu) kali dalam 3 (tiga) bulan, laporan dan evaluasi tersebut meliputi; (a) Laporan pelaksanaan. (b) Laporan pengawasan, dan (c) Laporan pengaduan. Namun kegiatan tersebut memiliki banyak kelemahan seperti dalam evaluasi, proses evaluasi pelayanan kesehatan/pengobatan gratis tidak melibatkan partisipasi masyarakat, sehingga pemerintah daerah kurang memperoleh feedback langsung dari pengguna layanan kesehatan masyarakat. Padahal, masukan, saran maupun ktitik dari pengguna layanan kepada pemda sangat diperlukan untuk mengetahui dan memastikan permasalahan yang berkembang dilapangan sekaligus bahan untuk melakukan perbaikan kebijakan dimasa mendatang. Begitupun dengan pelaporan pelaksanaan pelayanan kesehatan gratis, selama ini tidak pernah dipublikasikan secara kepada publik. Laporan program dibuat oleh masing-masing Puskesmas dan jaringannya dan dilaporkan ke Dinas Kesehatan setiap bulan sebagai bahan evaluasi, laporan tersebut, meliputi antara lain; laporan jumlah dan jenis pelayanan kesehatan, jenis penyakit, Laporan tentang Kesehatan Ibu dan Anak, Laporan pemakaian obat, laporan jumlah rujukan dan kebutuhan peralatan kesehatan. Publikasi laporan kesehatan penting bagi masyarakat, misalnya terkait dengan laporan mengenai jumlah dan jenis penyakit, jika dapat diketahui oleh masyarakat, dapat memahami ancaman penyakit yang berada dilingkungganya, diharapkan kemudian masyarakat dapat tergugah dan berpartisipasi untuk melakukan pencegahan dan pengobatan penyakit tersebut. 2.6. Sistem Manajemen Informasi Kesehatan Daerah belum berjalan optimal. Sistem Informasi Kesehatan Daerah bertujuan untuk meningkatkan akses informasi dan peningkatan pelayanan kesehatan, khususnya terkait ketersediaan database penerima layanan kesehatan gratis, melalui sistem informasi diharapkan Puskemas dan jaringannya dapat mempercepat pelayanan, memperbaiki validitas peserta layanan kesehatan dan sebagainya. Namun, sistem informasi manajemen kesehatan daerah disingkat SIM belum dapat berjalan optimal, beberapa kendala yang dihadapi ; tidak tersedianya sarana dan prasarana pendukung, seperti ; hardware perangkat computer, SDM pengelola, dan sebagian besar Puskesmas dan jaringannya belum memiliki jaringan koneksi yang dapat menghubungan pelayanan antar Puskesmas dan jaringannya (networking internet). SIM baru dapat dilaksanakan di di Puskesmas Taliwang, sedangkan 7 Puskesmas lainnya masih mengunakan sistem manual. 2.7. Mekanisme komplain penyelesaiannya. pelayanan kesehatan gratis dan

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

18

Dari sisi semangat dalam Perbup Nomor 9 tahun 2006 telah mengatur mekanisme pengaduan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan gratis. Tujuan diaturnya mekanisme ini adalah sebagai umpan balik (feedback) bagi semua pihak yang terkait dalam upaya mensukseskan kegiatan Pelayanan Kesehatan/Pengobatan Gratis, sehingga pelaksanaan kegiatan ini dapat mencapai tujuan dan memberikan manfaat sebaik-baiknya. Namun, pengaturannya belum dijabarkan secara terperinci, dintaranya misalnya ; materi pengaduan, lembaga yang menangani pengaduan, dan sebagainya.Meskipun, dalam Perbup mengharuskan setiap pengaduan masyarakat harus memperoleh penanganan dan penyelesaian secara memadai dan dalam waktu yang secepatnya diselesaikan, namun, dalam impelementasinya penanganan pengaduan berlarutlarut, dan tidak adan batas waktu penyelesainnya . Dalam rangka menerima dan menindaklanjuti pengaduan masyarakat, sesuai pasal Perbup No.9 Tahun 2006, dibentuk Unit/Forum penyelesaian pengaduan, keberadaanya mulai dari Tingkat Desa, Kecamatan dan Kabupaten dengan tugas sebagai berikut; a. Mengumpulkan, menerima dan mencatat pengaduan; b. Mempublikasikan alamat penyampaian pengaduan, atau cara-cara penyampaian pengaduan; c. Pengumpulan dilakukan secara pasif maupun proaktif; d. Pengaduan dicatat secara tertib, mencakup seluruh informasi; dan e. Menyelesaikan pengaduan. Sedangkan Mekanisme penyelesaian pengaduan sebagaimana dilakukan dengan cara sebagai berikut: a. Penyelesaian dilakukan sesegera mungkin, sejak diketahui terjadinya keluhan; b. Pengaduan diselesaikan atau ditangani terlebih dahulu oleh unit/Forum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang terdekat dengan sumber pengaduan; c. Jika ditemui kesulitan menangani dan menyelesaikan pengaduan pada tingkat terdekat, masalah yang dikeluhkan dapat dirujuk ke tingkat yang lebih tinggi; d. Pengaduan akan disampaikan kepada pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat melalui Sekretariat Tim Program Pengobatan Gratis. Forum di atas sifatnya ad-hoc, sejak diberlakukannya Perbup ternyata forum ini belum terbentuk, dan tidak ada tidak ada petunjuk pelaksana maupun pentunjuk teknis sebagai pedoman untuk menyelesaikan pengaduan, rencana kerja dan sebagainya. Beranjak dari permasalahan di atas, maka kedepan perlu ada penyempurnaan peraturan terkait dengan forum/unit penyelesaian pengaduan masyarakat, antara lain adalah meliputi ; (1) pengaturan kelembagaan dan tata kerja forum. (2) penetapan keanggotaan anggota forum. (3). Penyusunan standar operasional prosedur penanganan pengaduan masyarakat. (4). Tatacara pengaduan masyarakat dan lainnya. Keberadaan forum ini harus dipublikasikan secara luas kepada masyarakat agar masyarakat dapat mengentahuinya. Pemerintah daerah berkewajiban untuk melakukan supervisi kepada forum, termasuk menyediakan anggaran khusus untuk penanganan pengaduan masyarakat.

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

19

2.8.

Tingkat Kepuasaan/Indeks Kepuasaan Masyarakat terhadap pelayanan kesehatan gratis Dari hasil penelitian terakhir, LEGITIMID tahun 2011, tentang Indeks Kepuasaan Masyarakat (IKM) terhadap pelayanan kesehatan gratis yang dilakukan pada 8 Puskemas Kecamatan di Sumbawa Barat6, ditemukan hasil sebagai berikut : a. Prosedur Pelayanan. Nilai rata rata dari unsur Prosedur layanan adalah: Prosedur Pelayanan Unit Gawat Darurat: 2,92 ( Mutu Pelayanan C ) Prosedur Pelayanan Unit Rawat jalan: 2,9 ( Mutu Pelayanan C ) Prosedur Pelayanan Unit Rawat Inap: 2,92 ( Mutu Pelayanan C ) artinya secara umum responden menyatakan bahwa prosedur pelayanan pada Puskesmas di Kabupaten Sumbawa Barat pada ketiga unit layanan ialah Prosedurnya mudah (jawaban C). b. Persyaratan Pelayanan Nilai rata rata dari unsur persyaratan pelayanan adalah: Prosedur Pelayanan Unit Gawat Darurat: 2,82 ( Mutu Pelayanan C ) Prosedur Pelayanan Unit Rawat jalan: 3,00 ( Mutu Pelayanan C ) Prosedur Pelayanan Unit Rawat Inap: 2,94. ( Mutu Pelayanan C ) Jadi Nilai yang diberikan oleh responden pada ketiga unit layanan adalah Secara umum responden menilai bahwa terdapat kesesuaian antara persyaratan pelayanan yang ditetapkan puskesmas di Kabupaten Sumbawa Barat terhadap masing-masing jenis pelayanan dengan persyaratan yang harus di berikan oleh para pasien kepada petugas layanan. c. Kejelasan Petugas Pelayanan Nilai rata-rata dari unsur kejelasan petugas layanan adalah: Prosedur Pelayanan Unit Gawat Darurat: 2,8 ( Mutu Pelayanan C ) Prosedur Pelayanan Unit Rawat jalan: 2,9 ( Mutu Pelayanan C ) Prosedur Pelayanan Unit Rawat Inap: 2,93.( Mutu Pelayanan C ) Para responden secara umum menyatakan bahwa mereka dapat secara jelas dalam mengetahui identitas para karyawan pada Puskesmas di kabupaten Sumbawa Barat, baik nama maupun jabatan mereka sebagai dokter, bidan, perawat ataupun yang lainnya (Jawaban C). . d. Kedisiplinan Petugas Pelayanan Berkaitan dengan kesungguhan petugas dalam memberikan pelayanan yaitu kedisplinan petugas layanan, nilainya adalah: Prosedur Pelayanan Unit Gawat Darurat : 2,9 ( Mutu Pelayanan C ) Prosedur Pelayanan Unit Rawat jalan: 2,9 ( Mutu Pelayanan C ) Prosedur Pelayanan Unit Rawat Inap: 2,93( Mutu Pelayanan C ) Berdasarkan nilai IKM diatas, dapat kita lihat pada tiga unit layanan terkait penilaian yang berkaitan dengan konsistensi waktu kerja apakah sesuai ketentuan yang berlaku yang menjadi point dalam melihat kedisiplinan petugas pelayanan, para responden memberikan nilai rata rata menyatakan

jumlah responden keseluruhan penelitian sebanyak 390 responden, 130 orang responden untuk unit layanan rawat jalan, 130 responden untuk unit layanan gawat darurat dan 130 responden untuk unit layanan rawat inap, dengan komposisi responden 200 orang perempuan dan 190 laki-laki. Penentuan jumlah sampel dan pengukuran Indeks Kepuasan Masyarakat mengacu pada KEPMENPAN NO: KEP/25/2/M.PAN/2004. Komponen pembiayaan/biaya tidak dimasukkan dalam survey ini karena pelayanan kesehatan tidak dipungut biaya (gratis). Pada athun 2010, LEGITIMI telah melakukan IKM dan hasil IKM tahun 2011, tidak mengalami perubahan yang signifikan dengan hasil sebelumnya.
6

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

20

bahwa kedisplinan petugas layanan sesuai dengan ketentuan waktu yang berlaku pada Puskesmas di Kabupaten Sumbawa Barat (jawaban C). e. Tanggung Jawab Petugas Pelayanan Nilai rata-rata unsur tanggung jawab petugas layanan yang diberikan responden adalah : Prosedur Pelayanan Unit Gawat Darurat : 2,9 ( Mutu Pelayanan C ) Prosedur Pelayanan Unit Rawat jalan: 2,9 ( Mutu Pelayanan C ) Prosedur Pelayanan Unit Rawat Inap: 2,98.( Mutu Pelayanan C ) yang berarti mereka melihat adanya kejelasan wewenang dan tanggung jawab petugas dalam penyelenggaraan dan penyelesaian pelayanan pada ketiga unit layanan (jawaban C). f. Kemampuan Petugas Pelayanan Nilai rata rata unsur kemampuan petugas layanan yang berkaitan tingkat keahlian dan keterampilan yang dimiliki petugas dalam memberikan/menyelesaikan pelayanan kepada masyarakat yang diberikan responden adalah : Prosedur Pelayanan Unit Gawat Darurat : 2,8 ( Mutu Pelayanan C ) Prosedur Pelayanan Unit Rawat jalan: 2,9 ( Mutu Pelayanan C ) Prosedur Pelayanan Unit Rawat Inap: 2,9.( Mutu Pelayanan C ) g. Kecepatan Pelayanan Nilai rata rata unsur kecepatan pelayanan yang berkaitan target waktu pelayanan dapat diselesaikan dalam waktu yang telah ditentukan oleh unit penyelenggaraan pelayanan adalah : Prosedur Pelayanan Unit Gawat Darurat : 2,7 ( Mutu Pelayanan C ) Prosedur Pelayanan Unit Rawat jalan : 2,8 ( Mutu Pelayanan C ) Prosedur Pelayanan Unit Rawat Inap : 2,8.( Mutu Pelayanan C ) Para responden secara umum di tiga unit pelayanan menyatakan bahwa pelayanan dilaksanakan dengan cepat (Jawaban C). . h. Keadilan Mendapatkan Pelayanan Nilai rata rata unsur keadilan mendapatkan pelayanan yaitu yang berkenaan dengan pelaksanaan pelayanan dengan tidak membedakan golongan/status masyarakat yang dilayani pada tiga unit layanan adalah: Prosedur Pelayanan Unit Gawat Darurat : 2,9 ( Mutu Pelayanan C ) Prosedur Pelayanan Unit Rawat jalan : 2,9 ( Mutu Pelayanan C ) Prosedur Pelayanan Unit Rawat Inap : 3,0.( Mutu Pelayanan C ) Para responden secara umum menjawab bahwa pelayanan kesehatan pada Puskesmas di Kabupeten Sumbawa Barat berjalan dengan adil (Jawaban C). i. Kesopanan dan Keramahan Petugas Nilai rata rata unsur kesopanan dan keramahan petugas pelayanan kesehatan pada Puskesmas di Kabupaten Sumbawa Barat pada ketiga unit layanan adalah: Prosedur Pelayanan Unit Gawat Darurat : 2,9 ( Mutu Pelayanan C ) Prosedur Pelayanan Unit Rawat jalan: 3,0 ( Mutu Pelayanan C ) Prosedur Pelayanan Unit Rawat Inap: 3,05.( Mutu Pelayanan C ) Unsur yang berkaitan dengan sikap dan perilaku petugas dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat secara sopan dan ramah serta saling menghargai dan menghormati tersebut pada ketiga unit layanan dijawab dengan pernyataan responden bahwa petugas pelayanan melayani dengan sopan dan ramah (Jawaban C). j. Kepastian Jadwal Pelayanan

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

21

Nilai rata rata unsur Kepastian jadwal pelayanan yaitu yang berkenaan dengan pelaksanaan waktu pelayanan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan adalah: Prosedur Pelayanan Unit Gawat Darurat : 2,8 ( Mutu Pelayanan C ) Prosedur Pelayanan Unit Rawat jalan: 2,7 ( Mutu Pelayanan C ) Prosedur Pelayanan Unit Rawat Inap: 2,8.( Mutu Pelayanan C ) dimana para responden lebih banyak menjawab bahwa jadwal pelayanan sering tepat (Jawaban C) k. Kenyamanan Lingkungan Nilai rata rata unsur kenyamanan lingkungan pada Puskesmas di kabupaten Sumbawa Barat adalah Prosedur Pelayanan Unit Gawat Darurat: 2,65 ( Mutu Pelayanan C ) Prosedur Pelayanan Unit Rawat jalan: 3,0 ( Mutu Pelayanan C ) Prosedur Pelayanan Unit Rawat Inap: 2,8.( Mutu Pelayanan C ) rata rata responden menjawab dengan nilai C pada ketiga unit layanan. l. Keamanan Pelayanan Nilai rata rata unsur keamanan pelayanan adalah pada ketiga unit layanan adalah: Prosedur Pelayanan Unit Gawat Darurat : 3,0 ( Mutu Pelayanan C ) Prosedur Pelayanan Unit Rawat jalan: 3,0 ( Mutu Pelayanan C ) Prosedur Pelayanan Unit Rawat Inap: 3,0.( Mutu Pelayanan C ) Pada ketiga unit layanan rata rata responden menjawab dengan jawaban C dimana mereka menyatakan bahwa pelayanan kesehatan pada Puskesmas di kabupaten Sumbawa Barat berjalan dalam kondisi aman. 2.9. Tingkat Utilisasi Pelayanan Dasar di KSB Tingkat utilisasi pelayanan kesehatan/pengobatan gratis pada tahun pertama (2006) program kesehatan gratis dilaksanakan, pasie yang berkunjung sebanyak 82,042 atau 6,837/bulan, sebelumnya pada tahun 2005, ketika pelayanan kesehatan masih membayar, jumlah kunjungan pasien 41.861 atau 3.488/bulan7. Namun, ketika pelayanan kesehatan gratis diberlakukan pada tahun 2006 jumlah pasien meningkat dua kali lipat. Tahun 2007, jumlah pasien yang berkunjung 74,595 atau 6,216/bulan, mengalami penurunan 7.477 atau turun 10% dari sebelumnya. Tahun 2008, jumlah kunjungan 62,218 atau 5,185/bulan atau mengalami penurunan sebanyak 20%. Penurunan jumlah pasien terutama pada unit pelayanan rawat jalan puskesmas dan unit pelayanan rawat jalan Pustu. Sedangkan unit pelayanan rawat jalan Puskel, Rawat Inap dan Poskesdes, mengalami peningkatan jumlah kunjungan. Pertanyaannya kemudian adalah apakah penurunan jumlah mengindikasikan perbaikan kualitas/derajat kesehatan masyarakat akibat dari program pelayanan kesehatan/pengobatan gratis ataukah karena adanya kekecewaan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan gratis.

7 Pasien dimaksud adalah pasien yang menerima pelayanan dasar ; Rawat Jalan Puskesmas, Rawat Jalan Pustu, Rawat Jalan Puskel, Rawat Inap dan Poskesdes.

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

22

2.10.

Menurunnya motivasi dan kinerja pelayanan kesehatan yang berkualitas dari para petugas medis di Puskesmas dan jaringannya karena minimnya tingkat kesejahteraan petugas medis Sejak diberlakukannya pelayanan kesehatan gratis, jumlah pasien meningkat bila dibandingkan dengan jumlah pasien sebelum diberlakukannya pelayanan kesehatan gratis, beban kerja petugas medis meningkat, karena jumlah pasien meningkat 2-3 kali lipat dari sebelumnya. Sementara itu, jumlah petugas medis masih sangat terbatas, dan jumlah pendapatan atau tingkat kesejahteraan bagi para petugas kesehatan mengalami penurunan, sebelum pelayanan kesehatan digratiskan, para petugas kesehatan menerima honorarium (uang jasa layanan) langsung dari pasien (cash), setelah pelayanan kesehatan gratis uang tersebut tidak lagi diteroma. Motivasi kerja dan prestasi kerja para petugas medis cenderung menurun, karena rendahnya penghargaan atas jasa layanan yang diberikan. Harapan petugas kesehatan, kompensasi jasa layanan medis, sesungguhnya bukan hanya dalam bentuk finansial, dapat pula kompensasi non finansial yaitu berupa, misalnya rumah dinas, kendaraan dinas , peluang melanjutkan pendidikan atas biaya pemerintah, peluang mengikuti diklat, peluang mendapat kenaikan pangkat istimewa untuk PNS, peluang untuk diangkat menjadi pegawai negeri bagi PTT dan sebagainya. Karena pada dasarnya seseorang yang bekerja, mengharapkan imbalan yang sesuai dengan jenis pekerjaannya, karena adanya upah yang sesuai dengan pekerjaannya, maka timbul pula rasa gairah kerja yang semakin baik. Selama ini, kompensasi yang diterima kurang sebanding dengan beban kerja petugas medis, dan uang kompensasi dari pelayanan kesehatan gratis diberikan pemda diberikan, setiap tiga bulan sekali, karena itu bagi petugas medis kebijakan pelayanan kesehatan dasar ungguh tidak menyenangkan. Oleh karena itu, pemerintah daerah perlu melakukan perubahan kebijakan terkait dengan perbaikan kesejahteraan petugas medis di Puskesmas dan jaringannya. Beberapa alasan perbaikan kebijakan ini ; pertama, setelah kebijakan pelayanan kesehatan gratis, pasien yang dirawat mengalami peningkatan dua kali lipat, dibandingkan sebelumnya. Kedua, motivasi kerja petugas puskesmas, khsusnya pelayanan dasar rawat inap menurun, karena rendahnya pemberian insentif dan kompensasi atas jasa layanan yang diberikan, hanya sebesar Rp.3500/malam, uang tersebut hanya dapat untuk membeli obat nyamuk. Pemerintah daerah KSB, khususnya kepada petugas puskesmas rawat inap hendaknya di berikan kompensasi material dan non material dalam hal ini diberikan kesempatan meningkatkan SDM dengan bantuan tunjangan tugas belajar, diberikan kemudahan dalam kenaikan pangkat, serta bagi pegawai yang masih berstatus PTT/honorer agar di prioritaskan untuk dapat diangkat menjadi pegawai negeri sipil penuh. Kebijakan Bupati tentang Pelayanan/Pengobata gratis di KSB bisa diteruskan dengan membuat suatu modifikasi kebijakan yaitu bagi masyarakat miskin dan yang kurang mampu silahkan untuk diberikan pelayanan gratis tetapi bagi masyarakat yang mampu di sediakan jenis pelayanan yang berbeda sesuai dengan keinginan dan kemampuan yang mereka miliki yaitu dengan pola pelayanan prabayar.

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

23

2.11.

Orang kaya harus membantu orang miskin untuk memperoleh kesehatan gratis yang bermutu dan berkelanjutan Diberlakukanya kebijakan pelayanan kesehatan dasar gratis pada seluruh warga Kabupaten Sumbawa Barat, sesungguhnya merugikan hak-hak fakir miskin, mereka yang semestinya dapat menerima layanan kesehatan dasar gratis yang berkualitas dan berkelanjutan, akhirnya menerima pelayanan dasar kesehatan yang serba terbatas, karena anggaran atau pembiayaan pelayanan kesehatan tersebut dinimkati pula oleh warga yang mampu atau mapan (ekonomi atas), yang seharusnya membayar pelayanan kesehatan, jika masyarakat ekonomi atas membayar kesehatan dasar, maka mereka sesungguhnya membantu masyarakat miskin untuk memperoleh pelayanan kesehatan gratis yang bermutu dan berkelanjutan, karena anggaran yang dipakai oleh kelompok masyarakat atas dari biaya kesehatan gratis tersebut dapat direlokasi untuk dialokasikan pada penambahan mutu atau kualitas pelayanan bagi warga miskin. Oleh karena itu, pemerintah daerah perlu melakukan penyempurnaan terhadap Perbup terkait dengan kelompok sasaran penerima pelayanan kesehatan gratis untuk difokuskan atau diarahkan pada kelompok masyarakat miskin, agar ; (1). Beban pembiayaan anggaran pelayanan kesehatan gratis tidak terlalu besar bagi daerah (2). Untuk meningkatkan pelayanan kesehatan gratis yang berkualitas bagi warga miskin. (3) adanya keadilan pembangunan dengan adanya sistem subsidi silang antara di kaya dan dimiskin. (4). mencegah berkurangnya porsi pembangunan kesehatan bagi masyarakat miskin di masa mendatang.

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

24

BAB III PERUBAHAN KEBIJAKAN PENYELENGGARAAN KESEHATAN GRATIS


Sungguh aneh banyak orang yang perhatian dalam mengasuransikan harta bendanya seperti mobil, rumah dan barang dagangan, namun mereka lalai mengasuransikan jiwanya yang paling berharga bagi keluarga mereka dan berpotensi menimbulkan kerugian besar Benjamin Franklin ( 1706-1790 ).

4.1.

Scalling Up Perbup Menjadi Perda Sebagai Upaya Untuk Menjamin HAM, dan Memastikan Keberlangsung Program Pelayanan Kesehatan dan Pengobatan Gratis yang bermutu dan berkelanjutan di KSB Pembangunan kesehatan merupakan upaya untuk memenuhi salah satu hak dasar rakyat, yaitu hak untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang bermutu seperti diamanatkan dalam UUD 1945 dan dipertegas di dalam pasal 28 bahwa kesehatan adalah hak asasi manusia dan dinyatakan juga bahwa setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat, memperoleh pelayanan kesehatan, mendapat pendidikan, memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek), seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraannya. Secara umum, prinsip-prinsip Pembangunan kesehatan di Indonesia diselenggarakan dengan dasar-dasar, yaitu ; 1) perikemanusiaan, 2) pemberdayaan dan kemandirian, 3) adil dan merata, serta 4) pengutamaan dan manfaat. Sebagaimana yang telah diketahui bersama bahwa Visi Pembangunan Kesehatan sampai tahun 2025 adalah Indonesia Sehat 2025, yaitu keadaan masa depan masyarakat, bangsa dan negara yang ditandai oleh penduduknya yang hidup dalam lingkungan dan dengan berperilaku hidup sehat, baik jasmani, rohani maupun sosial, dan memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Pembangunan kesehatan pada prinsipnya adalah merupakan upaya pemenuhan HAM di bidang kesehatan. sebagaimana dalam Deklarasi Universal HAM PBB dalam Pasal 25 menjamin hak mendapatkan suatu standar kehidupan yang memadai untuk kesehatan. Hak Asasi Manusia itu sendiri bersifat universal dan menurut Deklarasi Wina (1993) negara memiliki kewajiban menegakkan hak asasi manusia dan menganjurkan setiap negara untuk menggabungkan standarstandar yang terdapat dalam instrumen-instrumen hak asasi manusia internasional ke dalam hukum nasional. Negara Repebulik Indonesia telah menjamin hak atas kesehatan sesuai ketentuan Pasal 28 H Ayat (1) UUD 1945 (pasca perubahan). Konstitusional tersebut diperkuat dengan ditetapkannya UndangUndang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, UndangUndang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dan berbagai aturan lainnya, seperti The International Covenant on Economic, Social and Cultural Rights PBB (1966) yang telah diratifikasi dan dituangkan dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2005 tentang Pengesahan International Covenant on Economic, Social, and Cultural Rights (Kovenan Internasional
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

25

tentang Hak-Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya) (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 118, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4557), maka dengan demikian ada kewajiban bagi negara melakukan sejumlah upaya pemenuhan hak atas kesehatan. Oleh karena, kesehatan merupakan dasar dari diakuinya derajat kemanusiaan., tanpa kesehatan, maka seseorang tidak akan mampu memperoleh hak-hak lainnya. Maka, kesehatan menjadi salah satu ukuran selain tingkat pendidikan dan ekonomi, yang menentukan mutu dari sumber daya manusia (Human Development Index). Pelayanan kesehatan gratis yang bermutu atau berkualitas dan berkelanjutan adalah merupakan inisiatif inovatif pemerintah daerah kabupaten Sumbawa Barat untuk melindungi dan menjamin warganya untuk memperoleh pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis, dan telah ditetapkan dalam bentuk Peraturan Bupati Nomor 9 Tahun 2006 Tentang Pelayanan Kesehatan/pengobatan gartis di Puskesmas dan jaringannya yang dijamin Pemerintah Daerah Kabupaten Sumbawa Barat. Komitmen Pemerintah Daerah KSB untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dengan cara memberikan jaminan pelayanan kesehatan dan pengobatan secara gratis, merupakan wujud nyata dari pemerintah daerah terhadap perlindungan hak-hak pelayanan dasar masyarakat dibidang kesehatan yang perlu untuk terus dipertahakan dan ditingkatkan keberlangsungannya di masa mendatang. Upaya untuk melakukan scalling up perbup pelayanan dan pengobatan gratis kedalam bentuk peraturan daerah ini dimaksudkan untuk;, pertama, meningkatkan mutu dan kualitas pelayanan kesehatan gratis. Kedua, menjaga keberlangsungan program pelayanan kesehatan gratis di masa mendatang. Ketiga, memperkuat regulasi atau kebijakan daerah tentang pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis. Keempat, menyempurnakan materi dalam peraturan Bupati Nomor 9 Tahun 2006, kelima, di harapkan dima masa mendatang program pelayanan kesehatan dan pengobatan grtais yang bermutu dan berkualitas serta berkelanjutan dapat tetap dilaksanakan dan berjalan lebih baik. Instrumen kebijakan di daerah ini (Peraturan Daerah) memiliki peran yang sangat strategis dalam upaya mewujudkan cita-cita pembangunan nasional. Khususnya, terkait dengan pembangunan kesehatan di daerah. Keberadaan, Peraturan Daerah yang akan dibentuk sebagai landasan pembangunan kesehatan di KSB merupakan indikator penting untuk menilai sejauhmanakah, keberpihakan maupun upaya pemerintah daerah dalam menegakkan dan memajukan HAM di daerah. Konstruksi Peraturan daerah yang mengatur tentang pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis ini, beranjak dari berbagai landasan hukum yang mengatur khusunya menyangkut HAM di bidang kesehatan. Peraturan tersebut adalah ; pertama, UUD 1945, selain ketentuan yang diatur dalam pasal 28 H, konstitusi kita juga mengatur tentang jaminan perlindungan bagi warga miskin dan terlantar, sebagaimana tertuang dalam pasal Pasal 34 UUD 1945 menyatakan bahwa : (1) Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara.
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

26

(2) Negara mengembangkan sistem jaringan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan (3) Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak. Kedua adalah TAP Nomor XVII/MPR/1998 tentang Hak Asasi Manusi. Dalam ketetapan MPR ini, HAM masyarakat dibidang kesehatan telah diatur diantaranya pada: Pasal 3 ; Setiap orang berhak atas pemenuhan kebutuhan dasar untuk tumbuh dan berkembang secara layak. Pasal 27; Setiap orang berhak untuk hidup sejahtera lahir dan batin. Pasal 28, Setiap orang berhak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. Pasal 29 : Setiap orang berhak untuk bertempat tinggal serta berkehidupan yang layak. Pasal 30 : Setiap orang berhak memperoleh kemudahan dan perlakuan khusus di masa kanak-kanak, di hari tua, dan apabila menyandang cacat. Pasal 31 : Setiap orang berhak atas jaminan sosial yang memungkinkan pengembangan dirinya secara utuh sebagai manusia yang bermartabat, dan Pasal 40 : Kelompok masyarakat yang rentan, seperti anak-anak dan fakir miskin, berhak mendapatkan perlindungan lebih terhadap hak asasinya. Komitmen legislative (MPR) ditingkat pusat untuk memajukan HAM ini, tentu harus pula didukung dan diikuti oleh para anggota DPRD di daerah. Pada awalnya, (tahun 2006) pemerintah daerah melalui Bagian Hukum, mengajukan kebijakan pelayanan kesehatan dna pengobatan gratis dalam bentuk Peraturan Daerah, akan tetapi mendapat penolakan dari DPRD periode 2004-2009, sehingga langkah pemda akhirnya membuat kebijakan tersebut dalam bentuk Peraturan Bupati. Dan sejalan tuntutan masyarakat saat ini, bahwa program pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis harus tetap dipertahankan dan dilanjutkan di masa mendatang, dan oleh karena itu diharapkan DPRD KSB dapat segera mendorong upaya perubahan Perbup Pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis menjadi Perda. Ketiga, landasan hukum yang menjamin HAM dibidang kesehatan adalah Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Azasi Manusia. UndangUndang HAM lahir sebagai respons atas tuntutan reformasi dan ini merupakan undang-undang HAM pertama yang lahir di Indonesia. Dalam Undang-undang ini, mengatur pula tentang HAM bidang kesehatan, yakni dalam : Pasal 9 ayat (3) Setiap orang berhak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. Pasal 11, Setiap orang berhak atas pemenuhan kebutuhan dasarnya untuk tumbuh dan berkembang secara layak. Pasal 41 ayat (1) (1) Setiap warga negara berhak atas jaminan sosial yang dibutuhkan untuk hidup layak serta untuk perkembangan pribadinya secara utuh. Ayat (2) Setiap penyandang cacat, orang yang berusia lanjut, wanita hamil, dan anak-anak, berhak memperoleh kemudahan dan perlakuan khusus . Pasal 42 : Setiap warga negara yang berusia lanjut, cacat fisik dan atau cacat mental berhak memperoleh perawatan, pendidikan, pelatihan, dan bantuan khusus atas biaya negara, untuk menjamin kehidupan yang layak sesuai dengan martabat kemanusiaannya, meningkatkan rasa percaya diri, dan kemampuan berpartisipasi dalam kehidupan
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

27

bennasyarakat, berbangsa, dan bemegara. Dan Pasal 62 ; Setiap anak berhak untuk memperoleh pelayanan kesehatan dan jaminan sosial secara layak, sesuai dengan kebutuhan fisik dan mentap spiritualnya. Dan dalam undang-undang ini negara diperintahkan untuk melindungi, menegakkan dan memajukan HAM. Ketentuan ini tercantum dalam : Pasal 71 Pemerintah wajib dan bertanggung jawab menghormati, melindungi, menegakan, dan memajukan hak asasi manusia yang diatur dalam Undang-undang ini, peraturan perundang-undangan lain, dan hukum internasional tentang hak asasi manusia yang.diterima oleh negara Republik Indonesia. Keempat, menyadari bahwa untuk mencapai atau mewujudkan cita-cita bangsa, dan sebagai tanggung jawab negara untuk dapat mensejahterakan seluruh masyarakatnya, maka, Pemerintah RI bersama dengan DPR RI kemudian menetapkan Undang-Undang No.40 Tahun 2004 tentang Jaminan Sosial. Undang-undang ini semakin mengkokohkan konsep negara kesejahteraan serta jaminan perlindungan sosial negara terhadap masyarakatnya, termasuk adalah jaminan masyarakat dalam bidang kesehatan, tercantum antara lain adalah dalam : Pasal 3 Sistem Jaminan Sosial Nasional bertujuan untuk memberikan jaminan terpenuhinya kebutuhan dasar hidup yang layak bagi setiap peserta dan/atau anggota keluarganya. Pasal 18 huruf a, tentangjenis program jaminan sosial meliputi (a). jaminan kesehatan; dan ketentuan dalam Pasal 19 ayat (1) dan ayat (2) yang mengatakan bahwa (1) Jaminan kesehatan diselenggarakan secara nasional berdasarkan prinsip asuransi sosial dan prinsip ekuitas. (2) Jaminan kesehatan diselenggarakan dengan tujuan menjamin agar peserta memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan. Jaminan kesehatan yang diberikan oleh pemerintah daerah KSB dalam bentuk pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis merupakan salah satu bentuk dari perlindungan pemerintah daerah terhadap warganya dan kebijakan tersebut sejalan dengan semangat pembukaan UUD 1945 maupun Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Jaminan Sosial. Kelima, pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis sebagai upaya pembangunan kesehatan yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah diperkuat dengan hadirnya Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan yang merubah UU Nomor 23 Tahun Tahun 1992 tentang Kesehatan. Dalam Undang-undang ini, menekankan tujuan pembangunan kesehatan adalah untuk mewujudkan cita-cita bangsa dan tujuan nasional, yakni ; melindungi segenap bangsa Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan seterusnya. Disamping itu, Undang-undnag ini juga memperokoh landasan bahwa kesehatan adalah sebagai hak asasi manusia dan salah satu unsur kesejahteraan yang harus diwujudkan. Beranjak dari tujuan di atas, maka tujuan pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis di Kabupaten Sumbawa Barat merupakan bentuk upaya Pemerintah Daerah untuk mencapai cita-cita bangsa maupun tujuan nasional, oleh sebab itu, maka kehadiran peraturan daerah untuk memperkokoh kebijakan yang telah ada sebelumnya perlu untuk dilakukan.
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

28

Program pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis yang perlu dikembangkan bukan hanya pada upaya sebatas atau sekedar upaya untuk melakukan penyembuhan penyakit semata, tetapi pembangunan kesehatan di KSB harus dibangun pula upaya untuk menumbuhkan tingkat kesadaran dan partisipasi masyarakat yang luas dalam bidang kesehatan, dan perlu dikembangkan bahwa cakupan upaya kesehatan di masa mendatang dilakukan secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan, cakupn pelayanan tersebut, meliputi; upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Makna kesehatan, sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan Pasal 1 angka 1 mengatakan bahwa yang dimaksud dengan kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Pasal 2 ; Pembangunan kesehatan diselenggarakan dengan berasaskan perikemanusiaan, keseimbangan, manfaat, pelindungan, penghormatan terhadap hak dan kewajiban, keadilan, gender dan nondiskriminatif dan norma-norma agama. Pasal 3 Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya, sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomis. Dalam Undang-uang tersebut telah diatur pula mengenai hak-hak masyarakat dalam kesehatan, yakni ; Pasal 4 Setiap orang berhak atas kesehatan. Pasal 5 ayat (1) Setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh akses atas sumber daya di bidang kesehatan. ayat (1) Setiap orang mempunyai hak dalam memperoleh pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, dan terjangkau. Pasal 6 Setiap orang berhak mendapatkan lingkungan yang sehat bagi pencapaian derajat kesehatan. Pasal 7 Setiap orang berhak untuk mendapatkan informasi dan edukasi tentang kesehatan yang seimbang dan bertanggung jawab. Pasal 8 Setiap orang berhak memperoleh informasi tentang data kesehatan dirinya termasuk tindakan dan pengobatan yang telah maupun yang akan diterimanya dari tenaga kesehatan. Dalam Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009, negara memiliki tanggung jawab, yakni sebagai berikut ; Pasal 19 Pemerintah bertanggung jawab atas ketersediaan segala bentuk upaya kesehatan yang bermutu, aman, efisien, dan terjangkau. Pasal 50 ayat (1) Pemerintah dan pemerintah daerah bertanggung jawab meningkatkan dan mengembangkan upaya kesehatan. ayat (2) Upaya kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurangkurangnya memenuhi kebutuhan kesehatan dasar masyarakat. Pasal 54 ayat (1) Penyelenggaraan pelayanan kesehatan dilaksanakan secara bertanggung jawab, aman, bermutu, serta merata dan nondiskriminatif. (2) Pemerintah dan pemerintah daerah bertanggung jawab atas penyelenggaraan pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 62 ayat (3) Pemerintah dan pemerintah
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

29

daerah menjamin dan menyediakan fasilitas untuk kelangsungan upaya peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit. Sejalan dengan semangat pembangunan kesehatan, maka dalam konteks pembiayaan kesehatan bertujuan untuk penyediaan pembiayaan kesehatan yang berkesinambungan dengan jumlah yang mencukupi, teralokasi secara adil, dan termanfaatkan secara berhasil guna dan berdaya guna untuk menjamin terselenggaranya pembangunan kesehatan agar meningkatkan derajat kesehatan masyarakat setinggi-tingginya. Dan oleh karena itu, maka untuk alokasi anggaran kesehatan, pasal 170 memerintakan kepada Pemerintah pusat untuk mengalokasikan anggaran kesehatan minimal sebesar 5% (lima persen) dari anggaran pendapatan dan belanja negara di luar gaji. Sedangkan untuk Pemerintah Daerah Provinsi/Kabupaten adalah dialokasikan minimal 10% (sepuluh persen) dari anggaran pendapatan dan belanja daerah di luar gaji. Dan Besaran anggaran kesehatan tersebut diprioritaskan untuk kepentingan pelayanan publik yang besarannya sekurang-kurangnya 2/3 (dua pertiga) dari anggaran kesehatan dalam anggaran pendapatan dan belanja negara dan anggaran pendapatan dan belanja daerah. Sasaran anggaran ditujukan untuk pelayanan kesehatan di bidang pelayanan publik, terutama bagi penduduk miskin, kelompok lanjut usia, dan anak terlantar. Dari materi yang terkandung dalam UU Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, jelas bahwa komitmen pemerintah daerah untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat melalui pembangunan kesehatan, bukan hanya sebatas melahirkan kebijakan, program dan kegiatan, melainkan pula harus didukung dengan mengalokasikan pembiayaan kesehatan, khususnya bagi masyarakat miskin. Peraturan Bupati Nomor 9 Tahun 2006, sejauh ini belum mengatur tentang alokasi biaya minimal kesehatan, meskipun anggaran kesehatan selama kurun waktu 2006-2011 telah mencapai persentase 10% dari total APBD KSB, namun anggaran tersebut bukan sepenuhnya untuk pelayanan publik, karena termasuk biaya gaji dan peraltan kantor dinas. Sejauh ini, dari hasil penelitian yang dilakukan oleh LEGITIMID tentang pembiayaan kesehatan gratis di Kabupaten Sumbawa Barat, anggaran kesehatan untuk program pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis realisasinya adalah berjumlah Rp 700 juta sampai dengan Rp. 1 milliar/tahun. Sementara, alokasi anggaran kesleuruhan kesehatan adalah sebesar Rp. 12 s.d. 15 milliar/tahun, anggaran tersebut belum termasuk dengan anggaran dari Dana Alokasi Khusus maupun Dana Pembantuan dari Pemerintah pusat, sehingga rata-rata keseluruhan anggaran kesehatan untuk Dinas kesehatan KSM mencapai antara Rp. 20 Miliiar s.d. Rp.25 milliar/tahun. Artinya, program pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis sesungguhnya tidak menyedot APBD daerah, atau menjadi beban daerah yang berlebihan. Bahkan, sesungguhnya dengan ketersediaan anggaran kesehatan selama ini, sesungguhhnya dapat meningkatkan mutu dan kualitas pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis di KSB. Bahwa langkah Pemerintah Daerah untuk melakukan scalling-up perbup menjadi perda adalah sebuah langkah yang tepat dan mesti didukung oleh semua kalangan, termasuk DPRD KSB. Tidak ada alasan bagi Pemda maupun DPRD untuk mencabut program pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis dengan alasan kemampuan atau keterbatasan fiskal daerah. Karena fakta menunjukkan tidak banyak anggaran yang dihabiskan untuk membiayai program pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis, kendati peserta

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

30

penerima program pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis tersebut diperlakukan untuk seluruh penduduk KSB. Keenam, Kebijakan pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis yang dijamin Pemda KSB, sejalan dengan semangat Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2009 Tentang Kesejahteraan Sosial. Dalam Undang-undang tentang kesejahteraan sosial telah ditegaskan secara eksplitit, bahwa tujuan dari adanya Penyelenggaraan kesejahteraan sosial adalah untuk nmeningkatkan taraf kesejahteraan, kualitas, dan kelangsungan hidup, dan negara bertanggungjawab atas penyelenggaraan kesejahteraan sosial. Adapun sasaran utama atau prioritas penerima program kesejahteraan sosial adalah terhadap warga negara yang tidak layak secara kemanusiaan dan memiliki kriteria masalah sosial antara lain; kemiskinan, ketelantaran, kecacatan, keterpencilan, ketunaan sosial dan penyimpangan perilaku, korban bencana; dan/atau korban tindak kekerasan, eksploitasi dan diskriminasi. Negara memberikan jaminan sosial kepada mereka yang fakir fakir miskin, anak yatim piatu terlantar, lanjut usia terlantar, penyandang cacat fisik, cacat mental, cacat fisik dan mental, eks penderita penyakit kronis yang mengalami masalah ketidakmampuan sosial-ekonomi agar kebutuhan dasarnya terpenuhi. Dan oleh sebab itu, maka dalam Jaminan sosial tersebut diberikan dalam bentuk asuransi kesejahteraan sosial dan bantuan langsung berkelanjutan. Dalam konteks kesehatan, pemerintah memberikan asuransi kesejahteraan sosial dengan asuransi kesehatan, asuransi kesejahteraan sosial ini diselenggarakan untuk melindungi warga negara yang tidak mampu membayar premi agar mampu memelihara dan mempertahankan taraf kesejahteraan sosialnya, termasuk penyediaan akses pelayanan kesehatan dasar. Pemerintah Daerah KSB menyadari bahwa Pembangunan Kesehatan telah mengalami pergeseran, yang disebabkan berbagai faktor baik ekternal maupun internal, termasuk perkembangan globalisasi dan tekhnologi kesehatan maupun tuntutan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan. Oleh sebab itu, dalam rangka pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis, terdapat kerangka pemikiran atau Paradigma Baru Pembangunan Kesehatan di KSB, khususnya terkait dengan bagaimana adanya perubahan sikap dan orientasi atau mindset para stakeholders didaerah dalam memahami pembangunan kesehatan. Perubahan baru dari paradigma pembangunan kesehatan yang akan dibangun oleh Pemerintah Daerah KSB, sebagaimana di maksud di atas adalah bagaimana Pemerintah Daerah dapat melakukan perubahan terhadap; pertama, adalah pola pikir beberapa kalangan yang masih memandang kesehatan sebagai kebutuhan yang bersifat pasif, padahal sesungguhnya kesehatan adalah kebutuhan yang bersifat aktif, yang mau tidak mau harus diupayakan atau diusahakan, karena kesehatan merupakan keperluan dan bagaian dari HAM. Jadi, bagaimana menjadikan kesehatan yang selama ini sebagai kebutuhan (need) menjadi sebuah keperluan (demand). Kedua, mendorong adanya perubahan pemahaman bahwa kesehatan bukannya sesuatu yang bersifat konsumtif, melainkan adalah sebuah investasi, karena kesehatan tersebut menjamin adanya SDM yang produktif secara sosial, ekonomi maupun politik. Jadi, pembangunan kesehatan, bukan pembangunan yang hanya akan menghabiskan uang daerah (APBD), melainkan adalah sebagai bentuk dari penanaman investasi bagi daerah KSB, karena jika kondisi masyarakat sehat,
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

31

maka di masa mendatang masyarakat KSB dapat membangun dari berbagai aspek atau segala bidang, sebaliknya jika masyarakat KSB sakit, maka akan sangat sulit untuk dapat membangun KSB. Perubahan ini tidak hanya berlaku pada level pemda dan DPRD, melainkan pula diharapkan dapat terjadi dikalangan masyarakat, sehingga masyarakat dapat melakukan berbagai upaya pencegahan penyakit. Dan dapat mensisihkan sebagian hasilnya untuk peningkatan kesehatan mereka. Ketiga, pembangunan kesehatan bukan hanya bersifat sementara dan bersifat jangka pendek, misalnya hanya sebatas mengobati warga yang sakit, melainkan dalam paradigma baru pembangunan kesehatan di KSB di masa mendatang diarahkan pada upaya bagaimana ke depan kesehatan adalah bagian dari pengembangan SDM yang berjangka panjang, sistematik dan komprehensif serta dilakukan secara terpadu. Keempat, bahwa perubahan lainnya adalah terhdap pelayanan kesehatan, bukan hanya pelayanan medis, yang melihat bagian-bagian yang sakit saja, tetapi adalah pelayanan kesehatan paripurna yang memandang manusia sebagai manusia seutuhnya (pelayanan medispelayanan kesehatan). Kelima, dalam pembangunan kesehatan dimasa mendatang, tidak boleh lagi dilakukan pelayanan kesehatan yang terpecah-pecah atau terfragmentasi, melainkan pelayanan kesehatan yang lebih bersifat sistemik dan terpadu. Keenam, perubahan terhadap makna kesehatan, bahwa kesehatan bukan hanya jasmani atau fisik, tetapi mencakup pula kesehatan mental dan sosial dan urusan kesehatan, bukan hanya menjadi urusan pemerintah, melainkan pula adalah urusan swasta. Ketujuh, pelayanan kesehatan bukan lagi pelayanan yang bersifat birokratis (kaku dan tidak responsif) tetapi harus berjiwa entrepreneur(perencanaan kesehatan harus inovatif dan responsif terhadap lingkungan). Kedelapan, merubah paradigma partisipasi masyarakat, dari sekedar bernuansa mengajak masyarakat untuk menyetujui dan melaksanakan program kesehatan yang disusun oleh pemerintah, kearah bagaimana terbangunnya kemitraan, dimana ruang partisipasi masyarakat dibuka secara seluas-luasnyadalam semua langkah kegiatan dan program kesehatan sejak perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, sampai evaluasi program kesehatan (partisipasipartnership).

Beberapa paradima baru tersebut perlu dibangun dan dimasukkan kedalam konstruksi perubahan kebijakan scalling-up perbup menjadi perda atau dalam bentuk regulasi yang lainnya untuk mendukung tercapainya tujuan pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis. 4.2. Tantangan Pembangunan Kesehatan di Kabupaten Sumbawa Barat
Permasalahan utama dalam pembangunan kesehatan di Kabupaten sumbawa barat yang dihadapi saat ini adalah masih terjadinya disparitas status kesehatan, beban ganda penyakit, kinerja dan kualitas pelayanan kesehatan yang rendah, perilaku masyarakat yang kurang mendukung pola hidup bersih dan sehat (PHBS). Disamping itu masih rendahnya kondisi kesehatan lingkungan, kurangnya pemerataan dan keterjangkauan pelayanan kesehatan, terbatasnya tenaga kesehatan, tidak meratanya distribusi tenaga kesehatan, rendahnya status kesehatan penduduk miskin, serta kendala ketersediaan dan keterjangkauan bahan baku obat, sediaan obat, perbekalan farmasi dan alat kesehatan. a. Disparitas status kesehatan
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

32

Meskipun secara umum kualitas kesehatan masyarakat di KSB telah meningkat, namun disparitas status kesehatan antar tingkat sosial ekonomi, antar kawasan, dan antar pedesaan masih tinggi. Angka kematian bayi dan balita pada golongan miskin hampir empat kali lebih tinggi dari golongan kaya. Selain itu, angka kematian bayi dan angka kematian ibu melahirkan lebih tinggi di daerah pedesaan (terpencil), umumnya terjadi pada penduduk dengan tingkat pendidikan rendah. Persentase anak balita yang berstatus gizi kurang dan buruk di daerah pedesaan masih lebih tinggi, teruma di daerahdaerah yang jauh dari akses pelayanan kesehatan gratis. Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan terlatih dan cakupan imunisasi pada golongan miskin lebih rendah dibanding dengan golongan kaya. b. Beban ganda penyakit Pola penyakit yang diderita masyarakat sebagian besar adalah penyakit menular seperti tuberkulosis paru, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), malaria, demam berdarah dengue (DBD), diare, dan penyakit kulit. Selain itu masih ada beberapa penyakit yang terabaikan (neglected diseases) seperti frambusia, dan taeniasis-cysticercosis. Pemerintah KSB, juga menghadapi penyakit menular seperti HIV AIDS yang relative cukup tinggi, khususnya di daerah lingkar tambang (Kecamatan Maluk). Pada waktu yang bersamaan terjadi peningkatan penyakit tidak menular kronik dan degeneratif seperti penyakit jantung dan pembuluh darah, diabetes mellitus dan kanker. Terjadinya beban ganda yang disertai dengan meningkatnya jumlah penduduk, mobilisasi penduduk yang tinggi serta perubahan struktur umur penduduk yang ditandai dengan meningkatnya penduduk usia produktif dan usia lanjut, akan berpengaruh terhadap jumlah dan jenis pelayanan kesehatan yang dibutuhkan masyarakat di masa datang. c. Kinerja pelayanan kesehatan yang rendah Kinerja pelayanan kesehatan merupakan salah satu faktor penting dalam upaya peningkatan kualitas kesehatan masyarakat. Masih rendahnya kinerja pelayanan kesehatan dapat dilihat dari beberapa indikator, seperti proporsi pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan, proporsi bayi yang mendapatkan imunisasi, dan angka penemuan kasus tuberkulosis paru belum mencapai target yang diharapkan, termasuk pelayanan rawat inap yang diberikan di puskesmas masing-masing kecamatan di KSB. d. Perilaku masyarakat yang kurang mendukung pola hidup bersih dan sehat Perilaku masyarakat yang tidak sehat dapat dilihat dari kebiasaan merokok, jumlah penduduk yang merokok di KSB terus meningkat dari tahun ketahun, dan kebiasaan merokok masyarakat disembarangan tempat, termasuk kantor pemerintahan daerah, rendahnya pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif, tingginya prevalensi gizi kurang dan gizi lebih pada anak balita, serta kecenderungan meningkatnya jumlah penderita malaria, HIV/AIDS, penderita penyalahgunaan narkotik, psikotropik, zat adiktif (NAPZA) dan kematian akibat kecelakaan. e. Rendahnya kondisi kesehatan lingkungan Kondisi lingkungan yang rendah tercermin antara lain dari masih rendahnya akses masyarakat terhadap air bersih dan sanitasi dasar. Upaya peningkatan kesehatan lingkungan yang merupakan kegiatan lintas sektor belum dikelola
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

33

dengan baik dalam suatu sistem kesehatan kewilayahan. Hal ini terlihat dari tingginya angka kematian akibat penyakit Demam Berdarah Dengue, malaria dan penyakit yang di sebabkan oleh leptospira. f. Rendahnya kualitas, pemerataan dan keterjangkauan pelayanan kesehatan Selain jumlahnya yang kurang, juga kualitas, pemerataan dan keterjangkauan pelayanan kesehatan di puskesmas juga masih menjadi kendala. Ditambah lagi dengan belum dibanggunnya Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD), sebagian besar kualitas pelayanan di Puskemas maupun RSUD yang ditunjuk untuk rujuk pemerintah daerah KSB, seperti RSUD Sumbawa RSUD Mataram pada umumnya masih di bawah standar. Pelayanan kesehatan rujukan belum optimal dan belum memenuhi harapan masyarakat. Masyarakat merasa kurang puas dengan mutu pelayanan RSUD tersebut dan puskesmas, karena lambatnya pelayanan, kesulitan urusan administrasi dan lamanya waktu tunggu, bahkan dalam beberapa kasus, masyarakat miskin yang dijamin memperoleh pelayanan dan pengobatan gratis tidak diberikan pelayanan oleh RSUD dengan asalan yang beragam. Perlindungan masyarakat di bidang obat dan makanan pun masih rendah. Di era perdagangan bebas, serta dengan semakin terbuka KSB sebagai daerah industri pertambangan, kondisi kesehatan masyarakat semakin rentan akibat meningkatnya kemungkinan konsumsi obat dan makanan yang tidak memenuhi persyaratan mutu dan keamanan.

g. Terbatasnya tenaga kesehatan dan distribusi tidak merata Pemerintah KSB masih mengalami kekurangan pada hampir semua jenis tenaga kesehatan yang diperlukan. Bukan hanya tenaga pelayanan medik tetapi juga tenaga-tenaga ahli di bidang peralatan kesehatan misalnya tenaga ahli Medico Enginering. Banyak puskesmas belum memiliki dokter dan tenaga kesehatan lainnya, keterbatasan ini diperburuk oleh distribusi tenaga kesehatan yang tidak merata. h. Rendahnya status kesehatan penduduk miskin Angka kematian bayi pada kelompok miskin masih relatif tinggi bila dibandingkan dengan masyarakat pada kelompok kaya. Penyakit infeksi yang merupakan penyebab kematian utama pada bayi dan anak balita, seperti ISPA, diare, tetanus neonatorum dan penyulit kelahiran, lebih sering terjadi pada penduduk miskin. Penyakit lain yang banyak diderita penduduk miskin adalah penyakit tuberkulosis paru dan malaria. Rendahnya status kesehatan penduduk miskin terutama disebabkan oleh terbatasnya akses terhadap pelayanan kesehatan karena kendala geografis dan kendala biaya. Utilisasi Puskesmas dan RSUD yang berada di luar KSB masih didominasi oleh golongan mampu, sedangkan masyarakat miskin cenderung memanfaatkan pelayanan di puskesmas. Persalinan oleh tenaga kesehatan pada penduduk miskin lebih rendah daripada penduduk kaya. Penduduk miskin belum terjangkau oleh sistem jaminan/asuransi kesehatan. Walaupun UndangUndang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) telah ditetapkan, pengalaman di berbagai kecamatan dan desa menunjukkan bahwa keterjangkauan penduduk miskin terhadap pelayanan kesehatan belum cukup terjamin.

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

34

i.

Ketersediaan dan keterjangkauan bahan baku obat, sediaan obat, perbekalan farmasi dan alat kesehatan (OPA). Kendala akses terhadap OPA yang berkualitas merupakan permasalahan kesehatan di KSB yang perlu mendapat perhatian. Oleh karena sebagian besar obat adalah dari impor bahan baku obat (95%) adalah penyebab utama mahalnya obat, ditambah dengan jarak kondisi geogarfis distribusi obat ke sejumlah kecamatan/desa di KSB yang sulit. Sementara itu, pemerintah pusat belum secara optimal melakukan pengembangan obat herbal dengan target obat herbal terstandar (OHT) dan fitofarmaka, meskipun kekayaan sumberdaya alam Indonesia besar, terbesar kedua dunia setelah Brazil. Selain itu, dengan kemajuan spektakuler dalam bidang bioteknologi pascagenomik, terjadi perubahan arah secara besar-besaran dalam bidang industri farmasi, dari industri berbasis sintesis kimia kearah industri berbasis bioteknologi. Melalui teknologi ini, obat dan sediaan farmasi berbasis protein rekombinan berupa vaksin, diagnostik, antibodi, hormon dan enzim yang merupakan senyawa yang mempunyai nilai tinggi dengan volume kecil dapat diproduksi dan sejauh ini pemerintah belum memprioritaskan aplikasi bioteknologi untuk memenuhi kebutuhan obat dan sediaan farmasi yang rata-rata nilai dan harganya sangat tinggi. Tantangan pembangunan kesehatan sebagaimana yang telah diuraikan diatas tersebut tentu tidak mungkin dapat diselesaikan hanya dengan melakukan upaya scalling-up perbup kesehatan pelayanan dan pengobatan gratis, melainkan harus didukung dengan berbagai program dan kegiatan serta kebijakan lainnya, termasuk adalah pembiayaan. Rencana strategis (Renstra) Dinas Kesehatan perlu untuk segera disusun dan ditetapkan oleh Dinas Kesehatan sebagai kerangka rencana kerja pembangunan kesehatan KSB.

4.3.

Jaminan Kesehatan Masyarakat Sumbawa Barat8


Program Jaminan Kesehatan Masyarakat atau dikenal dengan Jamkesmas adalah sebuah program bantuan sosial untuk pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin dan tidak mampu. Program ini diselenggarakan secara nasional agar terjadi subsidi silang dalam rangka mewujudkan pelayanan kesehatan yang menyeluruh bagi masyarakat miskin. Pelayanan kesehatan terhadap masyarakat miskin itu sendiri adalah merupakan tanggung jawab dan dilaksanakan bersama oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Tujuan dari program Jamkesmas ini adalah untuk meningkatkan akses dan mutu pelayanan kesehatan bagi seluruh penduduk miskin agar tercapai derajat kesehatan yang optimal secara efektif dan efisien. Program Jaminan Kesehatan bagi Masyarakat Miskin (Jamkesmas) ini dibiayai oleh Pemerintah dari sumber dana yang berasal dari APBN untuk dan kontribusi APBD. PT. Askes (Persero) dalam hal ini hanya mengelola kepesertaan saja. Dalam program jamkesmas telah diatur bahwa setiap Peserta Jamkesmas berhak Peserta berhak untuk tidak dibebani biaya sedikitpun dalam memperoleh pelayanan kesehatan. Pemerintah Daerah Kabupaten Sumbawa Barat telah melakukan sinkronisasi dan sinegisitas atas kebijakan di atas, dengan cara mendorong lahirnya Peraturan Bupati Nomor 9 Tahun 2006. Kebijakan ini sesungguhnya dilatarbelakangi pula

8 Jamkesmas sesungguhnya adalah program bantuan sosial untuk pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin dan tidak mampu. Program ini diselenggarakan secara nasional agar terjadi subsidi silang dalam rangka mewujudkan pelayanan kesehatan yang menyeluruh bagi masyarakat miskin.

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

35

dengan keadaan kesehatan masyarakat KSB, dimana derajat kesehatan masyarakat miskin berdasarkan indikator Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Ibu (AKI) pada tahun 2004 atau sebelum diberlakukannya program pelayanan kesehatan gratis tergolong tinggi. Indeks Angka Harapan Hidup pada akhir tahun 2004 hanya 56,0 dan setelah adanya program pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis, meningkat menjadi 66,0 pada tahun 2010 (atau meningkat minimal 2 % per tahun). Derajat kesehatan masyarakat , khususnya miskin tersebut diakibatkan karena pada saat itu (sebelum adanya pelayanan kesehatan gratis), masyarakat sulit untuk dapat mengakses pelayanan kesehatan. Kesulitan akses pelayanan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor salah satunya adalah ketidakmampuan kemampuan secara ekonomi, sementara biaya kesehatan relative mahal. Pemberian pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis ini adalah merupakan bentuk dari asuransi sosial kesehatan, yang dimaksudkan untuk memberikan jaminan sosial bagi masyarakat khususnya bagi masyarakat miskin. Karena dengan pertumbuhan penduduk KSB yang semakin meningkat, tentu akan banyak muncul berbagai permasalahan sosial yang melahirkan risiko-risiko, baik itu risiko sosial maupun risiko ekonomi. Seluruh rrisiko yang dapat mendatangkan kerugian bagi masyarakat tersebut, tentu adalah ssesuatu yang tidak kita inginkan, untuk itu maka agar risiko tersebut tidak menjadi beban secara personal, maka perlu dilakukan upaya, salah satunya adalah dengan jalan memeindahkan risiko tersebut dengan jalan mengasuransikan, khususnya asuransi kesehatan bagi masyarakat agar peluang masyarakat untuk dapat hidup sehat dan sejahtera tetap terjaga. Tujuannya adalah pertama, untuk mewujudkan ketentraman jasmaniah, rohaniah dan sosial. kedua, memperoleh jaminan dalam mengurangi ketidakpastian dimasa mendatang. Ketiga, membangun stabilitas sosial dan ekonomi dalam rangka mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Keempat, menyediakan program- program untuk menjamin kesejahteraan sosial baik masyarakat umum, terutama bagi masyarakat yang tidak diuntungkan. Dapat dikatakan bahwa dengan adanya asuransi kesehatan bagi warga miskin diharapkan agar masyarakat miskin (golongan tidak mampu) dapat mengakses dan memperoleh pelayanan kesehatan yang bermutu dan berkelanjutan Asuransi sosial kesehatan merupakan program pemeliharaan kesejahteraan dan pendapatan dengan cara redistribusi kekayaan dari segmen masyarakat yang lebih mampu kepada segmen masyarakat yang kurang mampu melalui subsidi pembiayaan kesehatan9. Kebijakan asuransi kesehatan masyarakat bagi masyarakat fakir miskin dilakukan dalam bentuk program Jamkesmas atau Jaminan Kesehatan Masyarakat. Program ini pada hakekatnya dimaksudkan untuk ; pertama, menjamin akses penduduk miskin ke pelayanan kesehatan. kedua, meningkatnya akses dan mutu pelayanan kesehatan terhadap seluruh masyarakat miskin dan tidak mampu agar tercapai derajat kesehatan masyarakat yang optimal secara efektif dan efisien. Ketiga, secara khusus, adalah untuk meningkatkan cakupan masyarakat miskin dan tidak mampu yang mendapat pelayanan kesehatan di Puskesmas serta jaringannya dan di rumah sakit, meningkatnya kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin, dan
Lihat pula R. Ali Ridho, 1992, tentang Prinsip dan Fungsi Asuransi dalam Lembaga Keuangan, Pasar Modal dan Asuransi Haji, PT. Alumni, Bandung, halaman 375
9

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

36

terselenggaranya pengelolaan keuangan yang transparan dan akuntabel. Sesuai dengan tujuan di atas, maka dari sisi kepesertaan, Peserta Penerima Program Jamkesmas adalah difokuskan pada setiap orang fakir miskin yang tidak mampu, termasuk adalah para gelandangan, pengemis, anak terlantar, dan bagi bayi yang terlahir dari keluarga peserta Jamkesmas yang tidak mampu, langsung menjadi peserta baru Jamkesmas. Secara teoritis, ada beberapa konsep asuransi kesehatan10: a. Konsep Tripartite (tiga pihak) Dimaksud dengan tripartite (tiga pihak) adalah pihak perusahaan asuransi (insurance company) sebagai pengelola dana, pihak pemberi jasa pelayanan kesehatan (health provider) dan pihak peserta (consumer). Ketiga pihak harus saling bekerjasama terutama dalam hal pengawasan pelaksanaan pelayanan kesehatan kepada peserta sehingga dapat dilaksanakan secara efisien dan efektif. b. Konsep Pelayanan Menyeluruh Bentuk pelayanan asuransi meliputi semua jenis pelayanan kesehatan meliputi semua jenis pelayanan kesehatan mulai dari yang bersifat preventif, promotif, kuratif sampai bersifat rehabilitasi. Di dalam pelaksanaannya, ada jaminan untuk pelayanan rawat jalan tingkat pertama, pelayanan rawat jalan tingkat lanjutan dan pelayanan rawat inap serta pelayanan obat. c. Konsep Wilayah (dokter keluarga/puskesmas) Peserta asuransi dikelompokkan dalam satu wilayah tertentu. Pelayanan kesehatan dasar diberikan oleh dokter umum atau dokter keluarga. Dengan cara seperti ini, RS akan melaksanakan program penyuluhan dan pencegahan untuk masyarakat di wilayahnya sehingga masyarakat akan tetap sehat. d. Konsep Rujukan Konsep ini diterapkan dengan surat pernyataan rujukan dari institusi pemberi pelayanan kesehatan (misalnya pukesmas) ke pemberi pelayanan kesehatan rujukan ( misalnya rumah sakit). Dalam Perbup Nomor 9 tahun 2006 tentang Pelayanan Kesehatan dan Pengobatan gratis di Puskemas dan Jaringannya yang dijamin oleh Pemerintah Daerah KSB. Sasaran penerima program adalah kepada seluruh penduduk KSB yang belum memiliki jaminan asuransi kesehatan11. Oleh sebab itu memang, kemungkinan terjadinya sasaran penerima program adalah kelompok masyarakat yang kaya yang tidak memiliki asuransi kesehatan dapat saja menerima program pelayanan kesehatan gratis, sebaliknya, masyarakat miskin yang sudah memiliki asuransi kesehatan gratis, meskipun asuransi yang dimilikinya tersebut tidaklah mempuni, dapat pula pada akhirnya tidak menerima pelayanan dan pengobatan gratis. Karena memang indikator dan persyaratan yang digunakan untuk menentukan apakah seseorang berhak untuk menerima pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis, bukan didasarkan atas tingkat kemiskinan, melainkan adalah kepemilikan asuransi kesehatan. Indikator dan persyaratan ini perlu ditinjau, karena dapat merugikan kepentingan masyarakat fakir miskin. Mereka yang seharusnya dapat menerima pelayanan
A.A. Gde Muninjaya, 2004, Manajemen Kesehatan, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta halaman 122
11
10

Pelayanan kesehatan terhadap masyarakat miskin menjadi tanggung jawab dan dilaksanakan bersama oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

37

kesehatan dan pengobatan gratis yang bermutu dan berkualitas, dapat berkurang karena hak kepesertaaan asuransi orang miskin telah diambil oleh masyarakat yang mampu. Menyadari pentingnya kesehatan, karena kesehatan adalah merupakan prasayarat untuk menuju kesejahteraan hidup, sehingga berbagai upaya dan usaha, pemerintah berusaha untuk menyediakan dana bagi pelaksanaan kegiatan pelayanan kesehatan secara gratis bagi setiap penduduk. Salah satu upaya pelayanan kesehatan tersebut adalah dengan melaksanakan asuransi kesehatan.12. Secara teoritik, ada tiga jenis asuransi kesehatan, yakni : (1) Asuransi kesehatan sosial (ASKES) yang diperuntukkan untuk PNS dan para pensiun. (2) Asuransi kesesehatan (ASKES) komersial yang diperuntukkan kepada pihak Swasta dan BUMN dan (3) Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) yang diperuntukkan bagi masyarakat miskin atau dikenal dengan sebutan PJPK- MM (Program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Miskin). Penyelenggaraan asuransi kesehatan, berprinsi pada asas-asas bahwa kesehatan adalah sebuah pelayanan sosial, karena pelayanan kesehatan, oleh sebab itu dalam penyelenggaraan asuransi kesehatan tidak boleh semata-mata untuk mencari keuntungan dan diberikan hanya pada masyarakat tertentu saja, melainkan harus diberikan kepada semua lapisan masyarakat yang berhak untuk memperoleh jaminan pelayanan kesehatan dan karena itupula, maka dalam penyelanggaraan asuransi kesehatan didasarkan atas usaha bersama berdasarkan kekeluargaan, asas adil dan merata, asas percaya diri, asas kepentingan dan keseimbangan, asas musyawarah dan mufakat dan asas tidak mencari keuntungan semata. 4.4. Sejarah dan Perkembangan Kebijakan Asuransi Sosial-Kesehatan. Asuransi sosial sesungguhnya adalah alat untuk menghimpun risiko dengan memindahkan kepada organisasi yang biasanya adalah organisasi pemerintah yang diharuskan oleh Undang-Undang untuk memberikan manfaat atau pelayanan kesehatan kepada atau atas nama orang-orang yang diasuransikan itu pada waktu terjadinya kerugian-kerugian tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya13. Asuransi Sosial memberikan perlindungan yang dari segi objeknya diutamakan pada benda immaterial dan umumnya tidak dapat dinilai dengan uang14 Asuransi sosial timbul karena kebutuhan akan terselenggaranya suatu jaminan sosial (social security) bagi masyarakat sehingga jaminan sosial merupakan suatu hal yang mendesak dan tidak dapat ditunda. Setiap jaminan sosial selalu mempunyai tujuan dan fungsi ganda yaitu sosial dan ekonomis. Tujuan dan fungsi sosial diwujudkan dalam bentuk perlindungan terhadap risiko yang mengakibatkan hilangnya pendapatan seseorang yang mendapat kecelakaan seperti jaminan hari tua, sakit dan kematian. Dengan demikian korban akan memperoleh bantuan pada saat yang benar-benar dibutuhkannya yang mana akan membantu tercapainya ketenangan kerja dan produktivitas meningkat.
Wirjono Prodjodikoro, 1986, Hukum Asuransi di Indonesia, PT. Intermasa, Jakarta, halaman 12 memberikan definisi mengenai pengertian Asuransi Kesehatan : Suatu sistem pengelolaan dana yang diperoleh dari uang iuran anggota secara teratur kepada suatu organisasi guna membiayai pelayanan kesehatan yang dibutuhkan 13 A. Hasymi Ali, 1999, Bidang Usaha Asuransi, PT. Bumi Aksara, Jakarta halaman 14 R. Ali Ridho, 1984, Aspek-Aspek Hukum dalam Asuransi Udara dan Perkembangan Perseroan Terbatas, CV. Remadja Karya, halaman 279
12

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

38

Pemerintah berkewajiban untuk melindungi kesejahteraan umum bagi warga negaranya, asuransi sosial sendiri bertitik tolak pada upaya perlindungan bagi golongan lemah, baik kondisi sosialnya maupun posisi keuangan perseorangannya. Ciri dari asuransi sosial adalah15: asuransi tersebut ditujukan untuk kepentingan umum, bersifat wajib, harus ada hukum yang bersifat publik, dikelola oleh Perusahaan Negara. Dalam kesejarahannya, sesungguhnya Pemerintah Indonesia telah mulai mengembangkan konsep asuransi sejak tahun 1947, tetapi berbagai kondisi politik dan perekonomian yang kurang menguntungkan regulasi yang dimunculkan lebih banyak mentah di tengah jalan. Jalan terang mulai terlihat pada tahun 1968 ketika Menteri Tenaga Kerja Awaludin Djanin mengupayakan asuransi kesehatan bagi pegawai negeri dan keluarganya. Pada tahun 1968 dikeluarkan Keppres No. 230 tahun 1968 tentang Peraturan Pemeliharaan Pegawai Negeri Sipil dengan peserta yang masih terbatas yaitu Pegawai Negeri Sipil dan militer termasuk pensiunannya. Pemerintah membentuk suatu organisasi penyelenggara tingkat pusat yang disebut dengan Badan Penyelenggara dan Pemelihara Kesehatan Pegawai Negeri Sipil, penerima Pensiun beserta keluarganya. Upaya ini merupakan pengembangan asuransi kesehatan sosial pertama di Indonesia. Setelah dikeluarkan Keppres No. 230 Tahun 1968, kemudian diubah dengan Keppres No. 13 Tahun 1981 yang berisi tentang perubahan atas Keppres No. 230 Tahun 1968, tetapi kedua keppres tersebut dicabut serta diganti dengan peraturan Pemerintah No. 22 Tahun 1984 tentang Asuransi Kesehatan Pegawai Negeri Sipil dan Peraturan Pemerintah N0. 23 Tahun 1984 Kesehatan Pegawai Negeri sipil yang dikelola PERUM Husada, dimana menurut Peraturan Pemerintah pengelolaannya diserahkan kepada suatu badan hukum yang berbentuk Perusahaan Umum (PERUM) Husada Bakti16. Pada awalnya, program asuransi kesehatan pegawai negeri ini semula dikelola oleh suatu badan di tubuh Departemen Kesehatan (Depkes) yang dikenal dengan Badan Penyelenggara Dana Pemeliharaan Kesehatan (BPDPK). Akibat birokrasi dan adminsitrasi yang kurang efisien BPDPK kemudian dikonversi secara korporat menjadi Perusahaan Umum (Perum) yang dikenal dengan Perusahaan Umum Husada Bakti (PUHB) di tahun 1984. Dalam rangka meningkatkan efisiensi dan efektifitas usaha, maka PERUM Husada Bakti dialihkan bentuknya menjadi Perusahaan Persero (PERSERO) dengan dikeluarkan PP No. 6 Tahun 1992 tentang pengalihan Bentuk Perusahaan Umum Husada Bakti menjadi Perusahaan Perseroan (PERSERO). Kemudian pada tahun 1992 PUHB dirubah menjadi PT (Persero) Asuransi Kesehatan (PT Askes). Kebijakan ini sebenarnya merupakan sesuatu yang membingungkan karena sesuai dengan tujuannya asuransi kesehatan sosial tidak bersifat for profit, melainkan not for profit. Bentuk PT merupakan suatu keabnormalan mengingat PT biasanya bertujuan for profit dan wajib menyetorkan deviden ke pemegang sahamnya dalam kasus ini adalah pemerintah. Istilah not for profit sendiri bukan berarti tidak boleh mencari untung melainkan keuntungan yang diperoleh harus dikembalikan untuk
15 16

Ibid, halaman 374 Tarsis Tarmudi, 1990, Wawasan Perasuransian, IKIP, Semarang-Press, halaman 124

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

39

meningkatkan mutu pelayanan oleh pengelola asuransi dan pemberi pelayanan kesehatan. Bagi pegawai swasta, pemerintah mulai mengembangkan asuransi sosial pada tahun 1971, ditandai dengan dibentuknya Perusahaan Asuransi Sosial Tenaga Kerja (Astek). Astek pada awalnya hanya menangani asuransi kecelakaan kerja, kemudian setelah uji coba selama 5 tahun yang dimulai pada tahun 1985 program ini diperluas sebagai program jaminan sosial. Di bulan Februari 1992, undang- undang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) disetujui DPR dan diundangkan. Jaminan sosial tenaga kerja mencakup jaminan pemeliharaan kesehatan (JPK), Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Hari Tua (JHT), dan Jaminan Kematian. Dalam perkembangannya Jamsostek ternyata tidak sepenuhnya diwajibkan, karena jika perusahaan bersedia memberikan jaminan dengan manfaat yang lebih baik dapat tidak mendaftarkan karyawannya dalam kepesertaan Jamsostek. Hal inilah yang menyebabkan cakupan Jamsostek kurang optimal. Upaya pengembangan asuransi/jaminan sosial yang sifatnya mencakup seluruh rakyat Indonesia mendapat angin segar ketika Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) mengeluarkan Ketetapan MPR No. X/2001 yang menugaskan Presiden Megawati untuk mengembangkan Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). Ketetapan ini ditindaklanjuti Presiden dengan menerbitkan Keputusan Presiden (Keppres) No. 20/2002 yang membentuk tim penyusun rancangan UU SJSN. Setelah usaha yang keras untuk merumuskan suatu reformasi sistem jaminan sosial, akhirnya UU SJSN disetujui DPR dan kemudian diundangkan dalam lembar negara pada tanggal 19 Oktober 2004 oleh Presiden Megawati dengan dihadiri oleh lima menteri terkait. Komitmen pemerintahan Presiden Megawati tetap dipertahankan oleh pemerintahan berikutnya, terbukti dengan diluncurkannya program jaminan kesehatan bagi masyarakat miskin (Askeskin). Saat ini pemerintah sedang menggodok Peraturan Pemerintah untuk mengimplementasikan UU SJSN dan merancang pembentukan Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN). Setelah DJSN dan PP pelaksana UU SJSN terbentuk diharapkan asuransi kesehatan sosial dalam SJSN dapat segera meluas kepada penduduk yang bukan miskin. Namun demikian, harus diakui bahwa perkembangan asuransi kesehatan di Indonesia bisa dikatakan lebih lambat dibandingkan negara lainnya di wilayah Asia. Keterlambatan tersebut muncul karena ; pertama, penduduk Indonesia pada umumnya adalah risk taker dalam hal kesakitan dan kematian. Sakit dan mati dalam kehidupan bangsa Indonesia yang religius adalah takdir sehingga membeli asuransi kesehatan dianggap sebagai tindakan mencegah sesuatu yang bersifat takdir. Kedua, keadaan sosial ekonomi masyarakat yang belum memungkinkan mereka untuk menyisihkan uang guna membayar premi asuransi. Dari sisi suplay, yang juga dipengaruhi oleh demand, belum banyak perusahaan asuransi yang beroperasi di Indonesia. Selain itu fasilitas kesehatan yang mendukung terlaksananya asuransi kesehatan juga tidak berkembang dengan baik dan merata. Dari sisi regulasi, pemerintah terlambat memperkenalkan konsep asuransi kepada masyarakat melalui kemudahan perijinan dan kepastian hukum dalam bisnis asuransi, atau mengembangkan asuransi kesehatan sosial bagi masyarakat luas.

Beikut ini adalah jenis-

jenis asuransi sosial, yang berkembang yakni :

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

40

Tabungan Asuransi Sosial Pegawai Negeri Sipil (TASPEN) Adalah merupakan asuransi wajib dalam rangka memberikan jaminan kesejahteraan bagi pegawai negeri. Usaha Tabungan Asuransi Sosial Pegawai Negeri Sipil (TASPEN) adalah merupakan usaha asuransi sosial yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan pegawai negeri dengan memberikan sejumlah modal pada saat mereka mengakhiri masa pengabdiannya kepada pemerintah (pensiun) atau memberikan sejumlah modal kepada keluarga apabila pegawai negeri tersebut meninggal dunia dalam masa aktif. Berdasarkan hal tersebut diatas maka jelaslah tujuan dari program Tabungan Asuransi Sosial Pegawai Negeri Sipil (TASPEN) adalah sesuai dengan tujuan asuransi sosial pada umumnya yaitu memberikan kesejahteraan. Tabungan Asuransi Sosial Pegawai negeri Sipil (TASPEN) diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 10 tahun 1963, yang kemudian dicabut dan diganti dengan Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 1981 b. Asuransi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ASABRI) Asuransi Angkatan Bersenjata RI (ASABRI) pada permulaannya dijadikan satu dengan TASPEN ( Peraturan Pemerintah No. 10 Tahun 1963), tetapi karena tidak begitu lancar sehingga perlu diadakan pemisahan yang diwujudkan pada tahun 1971 dengan Lembaran Negara No. 50 Tahun 1971. Adapun yang menjadi pesertanya adalah Anggota TNI dan Pegawai sipil Departemen Pertahanan dan Keamanan diwajibkan menjadi peserta mulai dari tanggal pengangkatannya c. Asuransi Kesehatan ( ASKES). Asuransi kesehatan yang berada di tingkat pusat, penyelenggaraannya diserahkan pada badan penyelenggara dan pemeliharaan kesehatan pusat, sedangkan pada tingkat propinsi diselenggarakan oleh kepala dinas kesehatan dan kotamadya. Dana yang dipakai oleh pemerintah untuk membiayai pemeliharaan kesehatan dibentuk dengan cara memotong prosentase tertentu dari gaji pegawai negeri setiap bulan dan potongan ini bersifat wajib. Dari dana yang terkumpul inilah pemerintah membiayai atau membayar tuntutan atau klaim dari setiap pegawai negeri bilamana mereka harus mengeluarkan biaya untuk kesehatannya. Jadi sebenarnya dana tersebut dibentuk dengan cara gotong royong membantu mereka jika dalam keadaan sakit dan memerlukan biaya. Walaupun seorang pegawai negeri dipotong gajinya setiap bulan, kalau dia tidak sakit maka ia tidak mendapatkan apa-apa tetapi dari uangnya yang terkumpul bersama-sama dengan peserta lain akan dipakai untuk membiayai perawatan atau obat kepada peserta lain yang sedang sakit. Dasar hukumnya adalah Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1991. d. Asuransi Tenaga Kerja (ASTEK). Asuransi Tenaga Kerja (ASTEK) didirikan berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 33 Tahun 1977 dan Surat Keputusan Menteri Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Koperasi No. 116/Men/1977 tentang peraturan, tata cara, persyaratan, pembayaran iuran dan pembayaran jaminan sosial tenaga kerja. Jenis program yang diselenggarakan oleh ASTEK antara lain program asuransi kecelakaan kerja dan Program tabungan hari tua yang dikaitkan dengan asuransi kematian. Sedangkan dalam Upaya Pengembangan Kesehatan bagi masyarakat miskin dilaksanakan Melalui Jaminan kesehatan penduduk miskin, salah satunya dilakukan melalui Program Dana Sehat adalah salah satu upaya penghimpunan dana masyarakat untuk kepentingan pengobatan dalam bentuk yang paling sederhana. Di awal tahun 1970 mulai berkembang konsep dana sehat di berbagai wilayah kabupaten bahkan provinsi di Indonesia. Upaya pengembangan ini didorong oleh pemerintah dengan harapan yang begitu besar agar masyarakat memiliki
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

a.

41

kesadaran untuk membiayai dirinya sendiri melalui mekanisme transfer resiko. Namun demikian upaya ini akhirnya tidak berhasil. Hingga saat ini tidak ada dana sehat yang bertahan hidup, apalagi berkembang. Setelah mengembangkan konsep dana sehat, pemerintah berupaya mengembangkan konsep Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JPKM) yang diambil dari konsep Health Maintenance Organisation (HMO) di Amerika dengan dukungan struktural yang lebih kuat, diantaranya dengan dicantumkannya konsep JPKM dalam UU No.23 tentang kesehatan sebagaiman telah diubah dengan UU No.36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan. Upaya mengembangkan JPKM dimulai dengan merangsang dana sehat menjadi JPKM, sayangnya upaya ini tidak banyak membuahkan hasil. Di daerah banyak pejabat di lingkungan Dinas Kesehatan (Dinkes) yang tidak bisa membedakan konsep dana sehat dengan JPKM. Pengembangan JPKM menjadi lebih stagnan ketika JPKM dibuat dalam kerangka pikir dana sehat, sehingga sasaran program ini kebanyakan adalah kelompok ekonomi lemah. Kenyataan tersebut diperburuk dengan kurangnya dukungan kemampuan pengelolaan yang diakibatkan oleh rendahnya keterlibatan profesional asuransi kesehatan. Kekurangan dukungan profesional asuransi dihambat oleh adanya anggapan bahwa JPKM bukan asuransi. Upaya pengembangan JPKM memasuki babak baru ketika Indonesia mengalami krisis ekonomi pada tahun 1997. Pemerintah yang khawatir dengan penurunan akses masyarakat ke fasilitas pelayanan kesehatan dengan didukung oleh pihak internasional mengembangkan program Jaring Pengaman Sosial untuk bidang kesehatan (JKJBK) yang ditumpangi keinginan untuk lebih mengembangkan JPKM. Upaya JKJBK didanai pinjaman Asian Development Bank (ADB) sebesar 300 juta US dolar untuk masa lima tahun. Dana dibayarkan ke Puskesmas dan Bidan Desa melalui suatu badan yang disebut pra bapel JPKM. Lagi-lagi upaya ini tidak banyak membuahkan hasil bagi upaya memperluas cakupan JPKM menuju universal coverage. Berbagai kontroversi tentang pengembangan JPKM yang didomplengkan pada program jaring pengaman sosial dan sesungguhnya menerapkan konsep asuransi kesehatan komersial dengan produk managed care, berlangsung cukup lama. Pada tahun 2002 akhirnya program tersebut diganti dengan memberikan dana secara langsung kepada Puskemas dan RS. Dana yang digunakan untuk mensubsidi kelompok miskin ini kemudian berasal dari pengalihan subsidi bahan bakar minyak (BBM). Setelah mengalami berbagai macam kebuntuan dalam pengembangan konsep dana sehat, JKJ, dan JPKM akhirnya Pemerintah RI menyadari pentingnya pengembangan asuransi kesehatan sosial yang lebih terstruktur melalui pengembangan SJSN yang didalamnya mencakup pengembangan asuransi kesehatan sosial. Adapun prinsip-prinsip Asuransi Kesehatan Nasional, meliputi ; a. Prinsip solidaritas sosial atau kegotongroyongan. Asuransi kesehatan nasional diselenggarakan berdasarkan mekanisme asuransi sosial yang wajib untuk mencapai cakupan universal yang akan dicapai secara bertahap. b. Prinsip efisiensi. Manfaat terutama diberikan dalam bentuk pelayanan yang terkendali, baik utilisasi maupun biayanya. c. Prinsip ekuitas. Program AKN diselenggarakan berdasarkan prinsip keadilan dimana setiap penduduk, tanpa memandang suku, ras, agama, aliran politik, dan status ekonomi, harus memperoleh pelayanan kesehatan sesuai
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

42

dengan kebutuhan dasar medisnya dan membayar iuran sesuai dengan kemampuan ekonominya. d. Prinsip portabilitas. Seseorang tidak boleh kehilangan haknya untuk memperoleh jaminan apabila ia pindah tempat tinggal, pindah kerja, atau sementara tidak bekerja. e. Prinsip nirlaba (not for profit). Pengelolaan program AKN diselenggarakan atas dasar tidak mencari laba untuk sekelompok orang atau pemerintah, akan tetapi memaksimalkan pelayanan. Bapel dibebaskan dari pajak dan tidak memiliki kewajiban untuk menyetorkan deviden yang diperolehnya. Sisa dana digunakan untuk dana cadangan atau dikembalikan lagi ke dalam bentuk upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan yang dijamin. f. Prinsip responsif. Penyelenggaraan AKN harus responsif terhadap tuntutan peserta sesuai dengan perubahan standar hidup para peserta yang mungkin berbeda dan terus berkembang di berbagai daerah. g. Prinsip koordinasi manfaat. Tidak boleh terjadi duplikasi jaminan atau pembayaran kepada PPK antara program AKN dengan program asuransi atau jaminan lainnya. Koordinasi ini belum diatur dalam UU SJSN. Prinsip koordinasi ini menjadi penting ketika Pemda membuat jaminan sosial lokal. 4.5. Pelayanan Kesehatan dan Pengobatan di Puskesmas dan Jaringannya a. Pengertian Puskesmas Puskesmas adalah unit pelaksana pembangunan kesehatan diwilayah kerjanya.') Yang dimaksud dengan unit pelaksana adalah Unit Pelaksana Teknis Dinas yang selanjutnya disebut UPTD, yakni unit organisasi di lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota yang melaksanakan tugas teknis operasional. Pembangunan kesehatan oleh Puskesmas adalah penyelenggaraan upaya kesehatan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk di kecamatan agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang optimal. Pembangunan kesehatan tersebut meliputi pembangunan yang berwawasan kesehatan, pemberdayaan masyarakat dan keluarga serta pelayanan kesehatan tingkat pertama yang bermutu. b. Tujuan, Fungsi dan Program Kegiatan Puskesmas Puskesmas didirikan untuk memberikan pelayanan kesehatan dasar, menyeluruh, paripurna, dan terpadu bagi seluruh penduduk yang tinggal di wilayah kerja Puskesmas. Program dan upaya kesehatan yang diselenggarakan oleh Puskesmas merupakan program pokok (public health essential) yang wajib dilaksanakan oleh Pemerintah untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Tujuan pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh Puskesmas adalah mendukung tercapainya tujuan pembangunan kesehatan nasional yakni meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang yang bertempat tinggal di wilayah kerja Puskesmas, agar tewujud derajat kesehatan yang setinggi-tingginya dalam rangka mewujudkan Indonesia Sehat (Khususnya KSB sehat)17. Puskesmas sebagai unit pelaksana pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya mempunyai fungsi:
17Kesejahteraan menurut UNDP (United Nation Development Program) diukur dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Index (HDI) melalui pengukuran 3 (tiga) sektor pembangunan yaitu pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Indikator pendidikan ditentukan oleh 2 (dua) indikator yaitu Angka Rata-rata Lama Sekolah (RLS) dan Angka Melek Hurup (AMH). Indikator kesehatan ditentukan oleh Angka Harapan Hidup (AHH) yaitu rata-rata lama hidup yang mungkin dicapai oleh penduduk sejak usia satu tahun yang dihitung dari AKB. Sedangkan indikator ekonomi ditentukan oleh daya beli

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

43

1) Pusat Penggerak Pembangunan Berwawasan Kesehatan. Puskesmas harus selalu berupaya menggerakkan dan memantau penyelenggaraan pembangunan lintas sektoral termasuk oleh masyarakat dan dunia usaha di wilayah kerjanya, sehingga berwawasan serta mendukung pembangunan kesehatan. Di samping itu Puskesmas aktif memantau dan melaporkan dampak kesehatan dari penyelenggaraan setiap program pembangunan di wilayah kerjanya. Khusus untuk pembangunan kesehatan, upaya yang dilakukan Puskesmas adalah mengutamakan pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit tanpa mengabaikan penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan. 2) Pusat Pemberdayaan Masyarakat. Puskesmas harus selalu berupaya agar perorangan terutama pemuka masyarakat, keluarga dan masyarakat termasuk dunia usaha memiliki kesadaran, kemauan dan kemampuan melayani diri sendiri dan masyarakat untuk hidup sehat, berperan aktif dalam memperjuangkan kepentingan kesehatan termasuk sumber pembiayaannya, serta ikut menetapkan, menyelenggarakan dan memantau pelaksanaan program kesehatan. Pemberdayaan perorangan, keluarga dan masyarakat ini diselenggarakan dengan memperhatikan kondisi dan situasi, khususnya sosial budaya masyarakat setempat. 3) Pusat Pelayanan Kesehatan Strata Pertama Puskesmas bertanggung jawab menyelenggarakan pelayanan kesehatan tingkat pertama secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan. Pelayanan kesehatan tingkat pertama yang menjadi tanggungjawab Puskesmas meliputi: (1) Pelayanan Kesehatan Perorangan, yaitu pelayanan yang bersifat pribadi (private goods) dengan tujuan utama menyembuhkan penyakit dan pemulihan kesehatan perorangan, tanpa mengabaikan pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit. Pelayanan perorangan tersebut adalah rawat jalan dan untuk Puskesmas tertentu ditambah dengan rawat inap. (2) Pelayanan Kesehatan Masyarakat, yaitu pelayanan yang bersifat publik (publik goods) dengan tujuan utama memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah penyakit tanpa mengabaikan penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan. Pelayanan kesehatan masyarakat tersebut antara lain adalah promosi kesehatan, pemberantasan penyakit, penyehatan lingkungan, perbaikan gizi, peningkatan kesehatan keluarga, keluarga berencana, kesehatan jiwa masyarakat serta berbagai program kesehatan masyarakat lainnya. Sebagai pusat pelayanan tingkat pertama di wilayah kerjanya Puskesmas merupakan sarana kesehatan pemerintah yang wajib menyelenggarakan pelayanan kesehatan secara bermutu, terjangkau adil dan merata. Upaya pelayanan yang diselenggarakan meliputi: a. Pelayanan kesehatan masyarakat adalah pelayanan yang bersifat public goods dengan tujuan utama memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah penyakit tanpa mengabaikan penyembuhan penyakit dan pemulihan. Dengan pendekatan kelompok masyarakat serta

(puschasing power) masyarakat. IPM Indonesia berdasarkan hasil penelitian UNDP pada tahun 2004 menduduki ranking ke-111 dari 117 negara, dengan angka indeks sebesar 0,682, tahun 2005 menduduki ranking ke-117 dari 175 negara, dengan angka indeks sebesar 0,692, dan pada tahun 2006 menduduki ranking ke-107 dari 177 negara, sedangkan pada tahun 2008 menduduki ranking ke-109 dari 179 negara. Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

44

sebagian besar diselenggarakan bersama masyarakat melalui upaya pelayanan dalam dan luar gedung di wilayah kerja Puskesmas. b. Pelayanan medik dasar yang lebih mengutamakan pelayanan kuratif dan rehabilitatif dengan pendekatan individu dan keluarga pada umumnya melalui upaya rawat jalan dan rujukan Program Puskesmas merupakan wujud dari pelaksanaan ke tiga fungsi Puskesmas di atas, program tersebut dikelompokan menjadi : 1) Upaya Kesehatan Dasar Upaya kesehatan wajib Puskesmas yang ditetapkan berdasarkan kebutuhan sebagian besar masyarakat serta mernpunyai daya ungkit yang tinggi dalam mengatasi permasalahan kesehatan nasional dan intemasional yang berkaitan dengan kesakitan, kecacatan dan kematian. Upaya kesehatan dasar tersebut adalah : a) Upaya Promosi Kesehatan b) Upaya Kesehatan Lingkungan dan Pemberantasan Penyakit Menular c) Upaya Kesehatan Ibu dan Anak termasuk KB. d) Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat e) Pencegahan dan pemberantasan penyakit menular ; dan f) Upaya Pengobatan. 2). Upaya Kesehatan Pengembangan Upaya kesehatan pengembangan Puskesmas adalah upaya yang ditetapkan berdasarkan permasalahan yang ditemukan di masyarakat serta disesuaikan dengan kemampuan Puskesmas. Upaya kesehatan pengembangan di pilih dari daftar upaya kesehatan pokok di Puskesmas yang telah ada yang termasuk upaya kesehatan pengembangan yaitu : a) Upaya Kesehatan Sekolah, b) Upaya Kesehatan Olah Raga, c) Upaya Kesehatan Kerja, d) Upaya Perawatan Kesehatan Masyarakat, e) Upaya Kesehatan Gigi dan Mulut, f) Upaya Kesehatan Jiwa c. Sejarah Keberadaan dan Perkembangan Puskesmas Sejarah perkembangan Puskesmas di Indonesia dimulai dari didirikannya berbagai institusi dan sarana kesehatan seperti Balai Pengobatan, Balai Kesehatan Ibu dan Anak, serta diselenggarakannya berbagai upaya kesehatan seperti usaha hygiene dan sanitasi lingkungan yang masing-masing berjalan sendiri-sendiri. Pada pertemuan Bandung Plan (1951), dicetuskan pertama kali pemikiran untuk mengintegrasikan berbagai institusi dan upaya kesehatan tersebut di bawah satu pimpinan agar lebih efektif dan efisien. Selanjutnya konsep pelayanan kesehatan yang terintegrasi lebih berkembang dengan pembentukan Team Work dan Team Approach dalam pelayanan kesehatan tahun 1956. Penggunaan istilah Puskesmas pertama kali dimuat pada Master Plan of Operation for Strengthening National Health Service in Indonesia tahun 1969. Dalam dokumen tersebut Puskesmas terdiri atas 3 (tiga) tipe Puskesmas (Tipe A, Tipe B, Tipe C). Kemudian dalam Rapat Kerja Kesehatan Nasional ke-3 tahun 1970 ditetapkan hanya ada satu tipe Puskesmas dengan 6 (enam) kegiatan pokok Puskesmas. Perkembangan selanjutnya lebih mengarah pada penambahan kegiatan pokok Puskesmas seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

45

teknologi, kemampuan pemerintah, serta keinginan program di tingkat pusat, sehingga kegiatan pokok Puskesmas berkembang menjadi 18 (delapan belas) kegiatan pokok Puskesmas bahkan Daerah Khusus Ibukota Jakarta misalnya mengembangkan menjadi 21 (dua puluh satu) program pokok Puskesmas (Departemen Kesehatan, 2004) Sejak diperkenalkannya konsep Puskesmas, berbagai hasil telah banyak dicapai. Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) menurun, begitupun dengan angka gizi kurang pada Balita menurun. Sementara itu Angka Harapan Hidup (AHH) mengalami peningkatan (Departemen Kesehatan, 2007). Pada saat ini Puskesmas telah didirikan di hampir seluruh pelosok tanah air. Untuk menjangkau seluruh wilayah kerjanya, Puskesmas diperkuat dengan Puskesmas Pembantu serta Puskesmas Keliling. Kecuali itu untuk daerah yang jauh dari sarana pelayanan rujukan, Puskesmas dilengkapi dengan fasilitas rawat inap. Jumlah Puskesmas pada tahun 2002 tercatat sebanyak 7.277 unit, Puskesmas Pembantu 21.587 unit, Puskesmas Keliling 5.084 unit (Perahu 716 unit, Ambulance 1.302 unit). Sedangkan Puskesmas yang telah dilengkapi dengan fasilitas rawat inap tercatat sebanyak 1.818 unit (Departemen Kesehatan, 2004). Secara kuantitatif jumlah Puskesmas sudah mencukupi dan tersebar merata di seluruh pelosok tanah air, namun secara kualitatif masih jauh dari harapan. Hal ini disebabkan antara lain lemahnya organisasi dan manajemen Puskesmas serta dukungan sumber dayanya. Krisis ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, tidak saja menambah jumlah penduduk miskin, tetapi juga menurunkan kemampuan pemerintah dalam menyediakan alokasi anggaran untuk pembangunan kesehatan, disamping itu masih adanya anggapan bahwa pembangunan bidang kesehatan bersifat konsumtif dan belum dipandang sebagai investasi pada peningkatan mutu Sumber Daya Manusia (SDM), sehingga anggaran yang dialokasikan tidak memadai. Hal tersebut berdampak pada menurunnya dukungan sumber daya Puskesmas. Dana operasional Puskesmas saat ini hanya bersumber dari pengembalian retribusi Puskesmas dengan besaran yang bervariasi di masingmasing daerah kabupaten/ kota, sedangkan dana program hanya bersumber dari Program Kompensasi Pengurangan Subsidi Bahan Bakar Minyak Bidang Kesehatan (PKPS-BBM Bidkes) yang kemudian menjadi Program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) bagi keluarga miskin. Partisipasi dan pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan kesehatan saat ini belum juga tumbuh sebagaimana yang diharapkan, apalagi selama 32 tahun Orde Baru, pembangunannya bersifat sentralistis dengan pola seragam dan bersifat instruktif dari atas yang harus dilaksanakan sesuai dengan petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis. Masyarakat dalam hal ini lebih sebagai obyek pembangunan dan pelaksana program yang telah dirancang sebelumnya oleh Pemerintah. Strategi pembangunan yang seragam dari Sabang sampai Merauke tanpa memperhatikan keanekaragaman sistem sosial budaya Indonesia hasilnya semu dan kurang menunjukan kondisi nyata yang sebenarnya terjadi di masyarakat dan keberhasilan pembangunan penuh dengan manipulasi data untuk menyenangkan pihak pemrakarsa program dari Pemerintah (Adimihardja, 2004).

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

46

Pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan saat ini dilakukan melalui pembentukan dan pengembangan Desa Siaga sebagai upaya merekonstruksi atau membangun kembali berbagai Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyakarat (UKBM). Pengembangan Desa Siaga merupakan revitalisasi Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa (PKMD) sebagai pendekatan edukatif yang perlu dihidupkan kembali, dipertahankan, dan ditingkatkan. Pengembangan Desa Siaga juga merupakan pengembangan dari konsep Siap-Antar-Jaga, yaitu Siap yakni memberikan perlindungan terhadap semua ibu dan anak serta masyarakat lainnya dari terjadinya kesakitan dan kematian, Antar yakni antarkan semua ibu, anak, dan masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan ke tempat pelayanan kesehatan yang tepat, dan Jaga yakni galang upaya penyelamatan ibu dan anak serta tingkatkan derajat kesehatan masyarakat. Pengembangan Desa Siaga merupakan upaya untuk lebih mendekatkan pelayanan kesehatan dasar kepada masyarakat Desa, menyiapsiagakan masyarakat menghadapi masalah-masalah kesehatan, memandirikan masyarakat dalam pembiayaan kesehatan, serta mengembangkan perilaku hidup bersih dan sehat. Dengan mewujudkan Desa Siaga, akan tercipta Desa Sehat yang merupakan basis bagi terwujudnya Indonesia Sehat. Inti kegiatan Desa Siaga adalah memberdayakan masyarakat agar mau dan mampu untuk hidup sehat. Oleh karena itu dalam pengembangannya diperlukan langkahlangkah pendekatan edukatif yaitu upaya mendampingi (memfasilitasi) masyarakat untuk menjalani proses pembelajaran yang berupa proses pemecahan masalah-masalah kesehatan yang dihadapinya. SKN (2004) telah menetapkan pendekatan Pelayanan Kesehatan Primer (PKP)/Primary Health Care dengan metode pendekatan PKMD, yang secara global telah diakui sebagai pendekatan yang tepat dalam mencapai kesehatan bagi semua, yang untuk Indonesia diformulasikan sebagai visi Indonesia Sehat (Departemen Kesehatan, 2004). Indonesia Sehat 2010 (IS10) telah dicanangkan sejak tahun 1999 oleh Presiden RI dan di beberapa daerah sudah dilaksanakan. Sejalan dengan gerakan IS10, semua Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota perlu merumuskan Rencana Strategis yang memaparkan tentang visi, misi, kebijakan, strategi, tujuan, program, dan kegiatan pembangunan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan lokal sehingga gerakan Provinsi Sehat, Kabupaten/Kota Sehat sampai Desa/ Kelurahan Sehat akan sejalan dengan IS10 dengan Program Desa Siaga sebagai fondasinya. Untuk menunjang maksud tersebut Pemda Kabupaten/Kota harus memiliki vital registration dan based line data tentang derajat kesehatan masyarakat (mortalitas, morbiditas, dan status gizi), kesehatan lingkungan, perilaku hidup masyarakat, serta akses dan mutu pelayanan kesehatan di wilayah kerjanya masing-masing dengan mengembangkan Sistem Informasi Kesehatan (SIK) Daerah. Vital registration dan based line data masing-masing wilayah (Provinsi dan Kabupaten/Kota) akan membantu Pemda setempat dalam menyusun Rencana Strategis dan Rencana Operasional Reformasi kesehatan di wilayah kerjanya masing-masing disesuaikan dengan indikator- indikator IS10 (Muninjaya, 2004). d. Manajemen dan Kinerja Puskesmas Menurut kebijakan dasar Puskesmas, yang dimaksud dengan manajemen Puskesmas adalah rangkaian kegiatan yang bekerja secara sistematik untuk
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

47

menghasilkan keluaran Puskesmas yang efektif dan efesien. Untuk dapat melaksanakan usaha pokok Puskesmas secara efisien, efektif, produktif, dan berkualitas, pimpinan Puskesmas harus memahami dan menerapkan prinsipprinsip manajemen. Dalam upaya menunjang pengembangan program pokok Puskesmas, mempunyai enam subsistem manajemen yaitu : 1) Subsistem pelayanan kesehatan (promosi, pencegahan, pengobatan, rehabilitasi medis dan sosial). 2) Subsistem keuangan 3) Subsistem logistik 4) Subsistem personalia (pengembangan staf) 5) Subsistem pencatatan dan pelaporan 6) Subsistem pengembangan peran serta masyarakat ( PKMD) Kinerja manajemen Puskesmas diukur oleh 2 (dua) konsepsi utama yaitu efisiensi dan efektivitas. Menurut Drucker (1954), efisiensi adalah melakukan pekerjaan dengan benar (doing the job right), sedangkan efektivitas adalah melakukan pekerjaan yang benar (doing the right job). Efisiensi (daya guna) Puskesmas adalah proses pemanfaatan, penghematan, dan pemberdayaan sumber daya Puskesmas dengan cara melakukan pekerjaan dengan benar, sedangkan efektivitas (hasil guna) Puskesmas adalah tingkat keberhasilan pencapaian tujuan Puskesmas dengan cara melakukan pekerjaan yang benar. Efektivitas Puskesmas juga berarti mampu mencapai tujuan Puskesmas dengan baik. Jika efisiensi lebih memfokuskan diri pada proses pemanfaatan, penghematan, dan pemberdayaan masukan (input) sumber daya , maka efektivitas lebih memfokuskan pada output dan outcome atau hasil kinerja Puskesmas yang diharapkan. Efisiensi terkait dengan hubungan antara output pelayanan kesehatan dengan sumber daya yang digunakan untuk menghasilkan output dan outcome (Handoko, 2003). Asas manajemen penyelenggaraan Puskesmas di era desentralisasi berpedoman pada 4 (empat) asas, yaitu: (1) Asas Petanggungjawaban Wilayah : Artinya Puskesmas bertanggungjawab meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang bertempat tingal di wilayah kerjanya. Program Puskesmas yang dilaksanakan selain menunggu kunjungan masyarakat ke Puskesmas (kegiatan dalam gedung Puskesmas/kegiatan pasif), juga memberikan pelayanan kesehatan sedekat mungkin ke masyarakat melalui kegiatan di luar gedung (kegiatan aktif/ outreach activities), (2) Asas Pemberdayaan masyarakat : Artinya Puskesmas wajib memberdayakan perorangan, keluarga dan masyarakat, agar beperan serta aktif dalam penyelenggaraan setiap upaya Puskesmas. Untuk itu, berbagai potensi masyarakat perlu dihimpun melalui pembentukan dan pendayagunaan Badan Penyantun Puskesmas (BPP). Bentuk peran serta masyarakat dalam pelayanan kesehatan, antara lain Pos Pelayanan Terpadu Keluarga Berencana-Kesehatan (Posyandu), Pos Kesehatan Desa (Poskesdes), Bina Keluarga Balita (BKB), Keluarga Sadar Gizi (Kadarzi), Pos Kesehatan Pesantren (Poskestrena), Warung Obat Desa, Dana Sehat dan lainlain, (3) Asas Keterpaduan: Untuk mengatasi keterbatasan sumberdaya serta diperolehnya hasil yang optimal, penyelenggaan setiap upaya Puskesmas harus diselenggarakan secara terpadu. Ada dua macam keterpaduan, yakni: (a) Keterpaduan Lintas Program, yaitu upaya memadukan penyelenggaraan berbagai upaya kesehatan yang menjadi tanggungjawab Puskesmas, dan (b) Keterpaduan Lintas Sektor, yaitu upaya memadukan penyelenggaraan upaya Puskesmas (wajib, pengembangan dan inovasi) dengan berbagai program dari sektor terkait tingkat kecamatan, termasuk organisasi kemasyarakatan dan
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

48

dunia usaha, serta (4) Asas Rujukan: Sebagai sarana pelayanan kesehatan tingkat pertama, kemampuan yang dimiliki oleh Puskesmas terbatas. Padahal Puskesmas berhadapan langsung dengan masyarakat dengan berbagai permasalahan kesehatannnya. Untuk membantu Puskesmas menyelesaikan berbagai masalah kesehatan tersebut dan juga untuk meningkatkan efisiensi, maka penyelenggaraan setiap upaya kesehatan Puskesmas harus ditopang oleh asas rujukan. Rujukan adalah pelimpahan wewenang dan tanggungjawab atas kasus penyakit atau masalah kesehatan yang diselenggarakan secara timbal balik, baik secara vertikal dalam arti dari satu strata sarana pelayanan kesehatan ke strata sarana pelayanan kesehatan lainnya, maupun secara horizontal dalam arti antar strata sarana pelayanan kesehatan yang sama (Departemen Kesehatan, 2004). Untuk mempercepat perubahan kinerja Puskesmas sesuai dengan perubahan manajemen Puskesmas di era desentralisasi, Pemda kabupaten/kota perlu merumuskan kebijakan strategis untuk meningkatkan efektivitas sistem dan manajemen pelayanan kesehatan untuk mengatasi masalah kesehatan masyarakat yang potensial berkembang di wilayah kerja Puskesmas. Konsep pengembangan Puskesmas di era desentralisasi harus dikaji oleh DPRD Kabupaten/Kota sehingga dapat dihasilkan Perda tentang manajemen Puskesmas yang baru. LSM dan pakar pemerhati masalah kesehatan perlu melakukan advokasi ke DPRD Kabupaten/ Kota untuk mempercepat lahirnya Perda Puskesmas di era desentralisasi sehingga kinerja Puskesmas yang efisien dan efektif, merata, bermutu, terjangkau dan memenuhi kebutuhan masyarakat di wilayah kerjanya dapat terwujud. Saat ini dikembangkan konsep Puskesmas efektif dan responsif. Puskesmas efektif adalah Puskesmas yang keberadaannya dirasakan manfaatnya oleh masyarakat serta memberi kepuasan kepada pelanggan dan masyarakat sesuai dengan mutu pelayanan dan profesionalisme. Puskesmas efektif berarti Puskesmas mampu mengubah perilaku masyarakat sejalan dengan paradigma sehat, mampu menangani semua masalah kesehatan di wilayah kerjanya sejalan dengan kewenangan dan sesuai dengan desentralisasi, serta mampu mempertanggung jawabkan setiap biaya yang dikeluarkan kepada masyarakat dalam bentuk hasil kegiatan Puskesmas dan dirasakan dampaknya oleh masyarakat dalam bentuk peningkatan derajat kesehatan masyarakat di wilayah kerjanya. Sedangkan Puskesmas responsif adalah Puskesmas yang senantiasa melindungi seluruh penduduk dari kemungkinan gangguan kesehatan serta tanggap dan mampu menjawab berbagai masalah kesehatan di wilayah kerjanya. Puskesmas responsif juga berarti sekecil apapun masalah yang ada harus segera terdeteksi dan segera ditanggulangi dan dikoordinasikan dengan sarana rujukan kesehatan dan kedokteran, masyarakat terlindung dari berbagai bencana penyakit dan masalah kesehatan lainnya, serta tanggap terhadap potensi yang ada di wilayah kerjanya yang dapat membantu meningkatkan derajat kesehatan masyarakat (Departemen Kesehatan, 2002). Peningkatan mutu Puskesmas merupakan tuntutan nyata masyarakat karena jumlah kunjungan Puskesmas sejak tahun 1997 semakin menurun. Penetapan prioritas oleh masing-masing Puskesmas merupakan langkah awal untuk pengembangan program menjaga Mutu Pelayanan Kesehatan Puskesmas. Peningkatan komitmen dan dukungan pegawai
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

49

Puskesmas perlu terus dikembangkan agar dapat meningkatkan proses kerja dengan menyusun Standar Pelayanan Kesehatan Puskesmas yang realistis dan sesuai dengan kebutuhan lokal dan kemudian memantau kemajuannya. Dengan kata lain, Jaminan Mutu Pelayanan Kesehatan Puskesmas dilakukan melalui pendekatan siklus pemecahan masalah (problem solving cycle) serta mata rantai peningkatan mutu dengan penilaian kinerja yang berkesinambungan. Jaminan Mutu Pelayanan Kesehatan Puskesmas dimulai dengan membentuk Gugus Kendali Mutu Pelayanan Kesehatan Puskesmas yang akan melakukan Identifikasi Masalah, kemudian mencari Penyebab Masalah dan pada saat yang sama melakukan pemantauan pelaksanaan untuk memenuhi Standar Pelayanan Kesehatan dan akhirnya akan tersusun suatu Standar kinerja berdasarkan informasi terkini, teknologi dan harapan pasien. Kegiatan ini akan berulang terus, menemukan masalah, menentukan penyebab masalah dan melaksanakan tindakan perbaikan danmemantau hasil, sehingga tercipta upaya peningkatan Mutu Pelayanan Kesehatan Puskesmas yang berkesinambungan (Pohan, 2003). Untuk terselenggaranya berbagai upaya kesehatan Puskesmas, perlu ditunjang dengan tersedianya pembiayaan yang cukup. Pada saat ini ada beberapa sumber pembiayaan Puskesmas yakni: (1) Pemerintah: Sesuai dengan asas desentralisasi, sumber pembiayaan yang berasal dari pemerintah terutama adalah pemerintah kabupaten/kota. Disamping itu Puskesmas masih menerima dana yang berasal dari pemerintah provinsi dan pemerintah pusat, (2) Pendapatan Puskesmas: Sesuai dengan kebijakan Pemerintah, masyarakat dikenakan kewajiban membiayai upaya kesehatan perorangan yang dimanfaatkannya, yang besarannya ditentukan oleh peraturan daerah masing-masing (retribusi). Pada saat ini ada beberapa kebijakan yang terkait dengan pemanfaatan dana yang diperoleh dari retribusi Puskesmas yakni: (a) Seluruhnya disetor ke Kas Daerah, (b) Sebagian dimanfaatkan secara langsung oleh Puskesmas, dengan besaran berkisar antara 25 50 % dari total dana retribusi yang diterima, dan (c) Seluruhnya dimanfaatkan secara langsung oleh Puskesmas, serta (3) Sumber lain: Seperti dari PT ASKES dan PT Jamsostek sebagai imbalan jasa pelayanan dan JPSBK/PKPSBBM- Jamkesmas untuk membantu masyarakat miskin yang disalurkan secara langsung ke Puskesmas yang pengelolalaannya mengacu pada pedoman yang berlaku.

4.6.

Pelayanan Kesehatan Yang Bermutu, Dasar Hukum dan Standar Pelayanan Minimal Kesehatan a. Pelayanan Kesehatan Yang Bermutu Pelayanan kesehatan ialah setiap upaya yang diselenggarakan secara sendiri atau bersama-sama dalam suatu organisasi untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan perseorangan, keluarga, kelompok dan/ataupun masyarakat18. Syarat utama pelaksanaan pelayanan kesehatan adalah19; 1) Tersedia dan berkesinambungan Pelayanan kesehatan harus tersedia di masyarakat (available) serta bersifat berkesinambungan (continous). Artinya semua jenis
18 19

Azwar, A. Pengantar Administrasi Kesehatan, Binarupa Aksara, Jakarta, 1996. ibid

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

50

pelayanan kesehatan yang dibutuhkan oleh masyarakat tidak sulit ditemukan, serta keberadaannya dalam masyarakat adalah pada setiap saat yang dibutukan 2) Dapat diterima dan wajar Pelayanan kesehatan dapat diterima oleh masyarakat (acceptable) serta bersifat wajar (appropriate), artinya pelayanan kesehatan tersebut tidak bertentangan dengan keyakinan dan kepercayaan masyarakat 3) Mudah dicapai Pelayanan kesehatan tersebut hendaknya mudah dicapai masyarakat (accesible), pengertian ketercapaian disini adalah terutama dari sudut lokasi, sehingga pengaturan distribusi sarana kesehatan menjadi sangatlah penting 4) Mudah dijangkau Pelayanan kesehatan tersebut hendaknya mudah dijangkau oleh masyarakat (affordable) keterjangkauan disini adalah dari sudut biaya 5) Bermutu Pelayanan kesehatan tersebut hendaknya mudah dicapai masyarakat (accesible), pengertian ketercapaian disini adalah terutama dari sudut lokasi, sehingga pengaturan distribusi sarana kesehatan menjadi sangatlah penting Untuk dapat memberikan pelayanan kesehatan dengan baik, maka setidaknya selain memenuhi 7 (tujuh) syarat sebagaimana diatas, harus pula memenuhi; pelayanan kesehatan hendaknya bersifat menyeluruh (comprehensive), terpadu (integrated), bersifat adil/merata (equity) dan mandiri (sustainable), efektif (effective), efisien (efficient), dan bermutu (quality)20. Pelayanan kesehatan harus diarahkan agar dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di wilayah tersebut21,. Oleh karena pelayanan kesehatan sebagai bagian dari pelayanan publik, maka, pelayanan kesehatan bersifat: 1) Pelayanan bersifat komprehensif yaitu untuk seluruh masyarakat yang ada disuatu wilayah (availability) 2) Dilaksanankan secara wajar, tidak melebihi kebutuhan dan daya jangkau masyarakat (appropriateness) 3) Dilakukan secara berkesinambungan (continuity) 4) Dapat diterima oleh masyarakat setempat (acceptability) 5) Terjangkau oleh masyarakat pada umumnya (affordable) 6) Manajemennya harus efisien (efficient) 7) Selalu terjaga mutunya (quality) Untuk dapat menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang bermutu banyak upaya yang dapat dilaksanakan. Upaya tersebut jika dilaksanakan secara terarah dan terencana, dalam ilmu administrasi kesehatan dikenal dengan istilah Program Menjaga Mutu (Quality Assurance Program). Program Menjaga Mutu adalah suatu proses yang dilaksanakan secara berkesinambungan, sistematis, obyektif dan terpadu dalam menetapkan masalah dan penyebab masalah mutu pelayanan kesehatan berdasarkan standar yang telah ditetapkan, menetapkan dan melaksanakan cara penyelesaian masalah sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, serta menilai hasil yang dicapai guna menyusun saran tindak lanjut untuk lebih
20 Saifuddin, AB. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, Yayasan Bina Pustaka, Jakarta, 2001 21 Muninjaya Gde.A.A. Manajemen Kesehatan, Edisi 2, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 2004.

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

51

meningkatkan mutu pelayanan kesehatan22.Mutu pelayanan kesehatan menunjuk pada tingkat kesempurnaan pelayanan kesehatan. Untuk dapat menjamin terselenggaranya pelayanan kesehatan yang bermutu, maka ditetapkanlah standarisasi (standarization). b. Standar Pelayanan Minimal Kesehatan 1) Dasar Hukum Undang-undang RI Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah telah menetapkan bidang kesehatan merupakan salah satu kewenangan wajib yang harus dilaksanakan oleh Kabupaen/Kota. Penyelenggaraan Kewenangan Wajib oleh Daerah adalah merupakan perwujudan otonomi yang bertanggung jawab, yang pada intinya merupakan pengakuan/pemberiaan hak dan kewenangan Daerah dalam wujud tugas dan kewajiban yang harus dipikul oleh Daerah. Tanpa mengurangi arti serta pentingnya prakarsa Daerah dalam penyelenggaraan otonominya dan untuk menghindari terjadinya kekosongan penyelenggaraan pelayanan dasar kepada masyarakat, Daerah Kabupaten/Kota wajib melaksanakan kewenangan dalam bidang tertentu termasuk di dalamnya kewenangan bidang kesehatan. Untuk menyamakan persepsi dan pemahaman dalam pengaktualisasian kewenangan wajib bidang kesehatan di Kabupaten/Kota seiring dengan Lampiran Surat Edaran Menteri Dalam Negeri No.100/756/OTDA/tanggal 8 Juli 2002 tentang Konsep Dasar Penentuan Kewajiban Wajib dan Standar Pelayanan Minimal, maka dalam rangka memberikan panduan untuk melaksanakan pelayanan dasar dibidang kesehatan kepada masyarakat di Daerah, telah ditetapkan Keputusan Menteri Kesehatan No.1457/Menkes/SK/X/2003 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota. 2) Pengertian Standar Pelayanan Minimal Yang dimaksud dengan Standar Pelayanan Minimal (SPM) adalah suatu standar dengan batas-batas tertentu untuk mengukur kinerja penyelenggaraan kewenangan wajib daerah yang berkaitan dengan pelayanan dasar kepada masyarakat yang mencakup jenis pelayanan, indikator, dan nilai (benchmark). Pelayanan dasar kepada masyarakat adalah fungsi Pemerintah dalam memberikan dan mengurus keperluan kebutuhan dasar masyarakat untuk meningkatkan taraf kesejahteraan rakyat. SPM Bidang Kesehatan pada hakekatnya merupakan bentuk-bentuk pelayanan kesehatan yang selama ini telah dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota. Namun demikian mengingat kondisi masing-masing daerah yang terkait dengan keterbatasan sumber daya yang tidak merata, maka diperlukan pentahapan pelaksanaannya dalam mencapai pelayanan minimal. Puskesmas sebagai Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Kesehatan Kabupaten/Kota berperan menyelenggarakan sebagian dari tugas
22

ibid
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

52

teknis operasional Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan merupakan unit pelaksana tingkat pertama serta ujung tombak pembangunan kesehatan di Indonesia sehingga mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan SPM bidang kesehatan. 3) Pelayanan Kesehatan yang wajib dilaksanakan oleh semua Puskesmas Pelayanan kesehatan yang wajib dilaksanakan oleh Puskesmas mengacu pada SPM yang ditetapkan oleh pemerintah Pusat adalah meliputi; (1) Pelayanan Kesehatan Ibu dan Bayi (2) Pelayanan Kesehatan Anak Pra Sekolah dan Usia Sekolah (3) Pelayanan Keluarga Berencana (Cakupan Peserta KB Aktif) (4) Pelayanan Imunisasi Desa/Kelurahan (Universal Child Immunization/ UCI) (5) Pelayanan Pengobatan/Perawatan (6) Cakupan Rawat Jalan (7) Cakupan Rawat Inap (8) Pelayanan Kesehatan Jiwa (Pelayanan Gangguan Jiwa di Sarana Pelayanan Umum) (9) Pemantauan Pertumbuhan Balita (10) Pelayanan Gizi (11) Pelayanan Kesehatan Rujukan dan Penunjang (12) Pelayanan Obstetrik dan Neonatal Emergesi Dasar dan Komperhensif (PONED dan PONEK) (13) Pelayanan Gawat Darurat (14) Penyelenggaraan Penyelidikan Epidemiologi dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) dan Gizi Buruk (15) Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Polio (16) Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit TB Paru (17) Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit ISPA Cakupan Balita dengan Pneumonia yang ditangani (18) Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit HIV/AIDS (19) Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Demam Berdarah Dangue (DBD) Penderita DBD yang ditangani (20) Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Diare Balita dengan diare yang ditangani (21) Pelayanan Kesehatan Lingkungan (22) Pelayanan Pengendalian Vektor Rumah/Bangunan Bebas Jentik Nyamuk Aedes (23) Pelayanan Higiene Sanitasi di Tempat Umum Tempat Umum yang Memenuhi Syarat (24) Penyuluhan Perilaku Sehat (25) Penyuluhan Pencegahan dan Penaggulangan Penyalahgunaan Narkoba, Psikotropika dan Zat Adiktif (P3NAPZA) Berbasis Masyarakat (26) Pelayanan Penyediaan Obat dan Perbekalan Kesehatan (27) Pelayanan Penggunaan Obat Generik (28) Penyelenggaraan Pembiayaan Untuk Pelayanan Kesehatan Perorangan. (29) Penyelenggaraan Pembiayaan Untuk Keluarga Miskin dan Masyarakat Rentan

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

53

Pelayanan kesehatan yang wajib dilaksanakan oleh puskesmas tertentu sebagai UPTD kesehatan kabupaten/kota, meliputi ; Pelayanan Kesehatan Kerja, Pelayanan Kesehatan Usia Lanjut, Pelayanan Gizi dan Rujukan.

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

54

BAB IV RELEVANSI KEBIJAKAN KESEHATAN GRATIS DI KSB DENGAN KEBIJAKAN NASIONAL


3.1. Inventarisasi Peraturan Perundang-Undangan Kesehatan pada hakikatnya merupakan salah satu bagian dari hak asasi manusia. Deklarasi Universal HAM PBB dalam Pasal 25 menjamin hak mendapatkan suatu standar kehidupan yang memadai untuk kesehatan. Dalam implementasinya, negara masing-masing anggota PBB dapat menjabarkannya dalam ketentuan hukum positif. Hak asasi manusia itu sendiri bersifat universal dan menurut Deklarasi Wina (1993) negara memiliki kewajiban menegakkan hak asasi manusia dan menganjurkan pemerintah-pemerintah untuk menggabungkan standar-standar yang terdapat dalam instrumen-instrumen hak asasi manusia internasional ke dalam hukum nasional. Di Indonesia, negara memiliki kewajiban menjamin hak atas kesehatan sesuai ketentuan Pasal 28 H Ayat (1) UUD 1945 (pasca perubahan). Ketentuan konstitusional di atas kemudian dijabarkan ke dalam UndangUndang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia dan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan yang kemudian di rubah dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Selain itu, dengan diratifikasinya The International Covenant on Economic, Social and Cultural Rights PBB (1966) oleh Indonesia, sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2005 tentang Pengesahan International Covenant on Economic, Social, and Cultural Rights (Kovenan Internasional tentang Hak-Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya) (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 118, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4557), maka dengan demikian ada kewajiban bagi negara melakukan sejumlah upaya pemenuhan hak atas kesehatan. Beberapa hukum internasional yang mengatur tentang HAM terkait kesehatan, yakni ; 1) Pasal 25 Universal Declaration of Human Rights (UDHR). Pasal 6 dan 7 International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR) 2) Pasal 12 International Covenant on Economic, Social and Cultural Right (ICESCR) 3) Pasal 5 International Convention on the Elimination of All Forms of Racial Discrimination (ICERD). 4) Pasal 11, 12 dan 14 Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination against Women (Womens Convention). 5) Pasal 1 Convention against Torture and Other Cruel, Inhuman or Degrading Treatment or Punishment (Torture Convention, or CAT). 6) Pasal 24 Convention on the Rights of the Child (Childrens Convention, or CRC) Oleh karena kesehatan merupakan dasar dari diakuinya derajat kemanusiaan., tanpa kesehatan, maka seseorang tidak akan mampu memperoleh hak-hak lainnya. Maka, kesehatan menjadi salah satu ukuran selain tingkat pendidikan dan ekonomi, yang menentukan mutu dari sumber daya manusia (Human Development Index). Pelayanan kesehatan gratis yang bermutu atau berkualitas dan berkelanjutan adalah merupakan inisiatif invatif pemerintah daerah kabupaten Sumbawa Barat yang telah dituangkan dalam bentuk Peraturan Bupati Nomor 9 Tahun 2006 Tentang Pelayanan Kesehatan/pengobatan gartis di Puskesmas dan jaringannya yang dijamin
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

55

Pemerintah Daerah Kabupaten Sumbawa Barat. Dan dalam rangka mewujudkan pelayanan kesehatan gratis yang bermutu/berkualitas dan berkelanjutan pemerintah daerah KSB bermaksud untuk melakukan scalling-up dari perbup menjadi perda dengan melakukan penyempurnaan sejumlah materi yang ada dalam perbup. Untuk mewujudkan peraturan daerah yang efektif, dan dalam rangka sinkronisasi dan harmonisasi dengan berbagai peraturan perundang-undangan lainnya dilakukan inventarisasi peraturan perundang-undangan.

a. Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai konstitusi negara, dalam pembukaan Undang-Undang Dasar alinea keempat dijelaskan tugas negara adalah untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, serta mencerdaskan kehidupan bangsa. Dalam rangka itu, negara kemudian membangun sistem jaminan sosial, untuk mensejahterakan bangsa, salah satu bentuk upaya tersebut adalah dalam bentuk peraturan, dan secara konstitusional, hak-hak masyarakat dijamin dan dilindungi. Pasal 34 ayat (2) UUD 1945 menyatakan bahwa: (a) Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara. (b) Negara mengembangkan sistem jaringan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan (c) Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak (d) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam undang-undang. Pasal 28 A : Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya. Pasal 28H (1) Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan medapatkan lingkungan hidup baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan. (2) Setiap orang mendapat kemudahan dan perlakuan khusus untuk memperoleh kesempatan dan manfaat yang sama guna mencapai persamaan dan keadilan. (3) Setiap orang berhak atas jaminan sosial yang memungkinkan pengembangan dirinya secara utuh sebagai manusia yang bermartaba t. Pasal 28I (4) Perlindungan, pemajuan, penegakan, dan pemenuhan hak asasi manusia adalah tanggung jawab negara, terutama pemerintah. (5) Untuk menegakan dan melindungi hak asasi manusia sesuai dengan pri n-sip negara hukum yang demokratis, maka pelaksanaan hak asasi manusia dijamin, diatur, dan dituangkan dalam peraturan perundangan undangan. b. TAP Nomor XVII/MPR/1998 tentang Hak Asasi Manusi
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

56

Ketetapan MPR No. XVII/MPR/1998 tentang Hak Aasi Manusia mengatur dan menjamin hak setiap warga negara untuk dapat memperoleh pemenuhan kebutuhan dasar, khususnya kesehatan dan hidup sejahtera, yakni tertuang dalam : a. Pasal 3 ; Setiap orang berhak atas pemenuhan kebutuhan dasar untuk tumbuh dan berkembang secara layak. b. Pasal 27; Setiap orang berhak untuk hidup sejahtera lahir dan batin. c. Pasal 28 : Setiap orang berhak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. d. Pasal 29 : Setiap orang berhak untuk bertempat tinggal serta berkehidupan yang layak. e. Pasal 30 : Setiap orang berhak memperoleh kemudahan dan perlakuan khusus di masa kanak-kanak, di hari tua, dan apabila menyandang cacat. f. Pasal 31 : Setiap orang berhak atas jaminan sosial yang memungkinkan pengembangan dirinya secara utuh sebagai manusia yang bermartabat. g. Pasal 33 : Setiap orang berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. h. Pasal 40 : Kelompok masyarakat yang rentan, seperti anak-anak dan fakir miskin, berhak mendapatkan perlindungan lebih terhadap hak asasinya. c. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Azasi Manusia Undang-undang ini merupakan undang-undang HAM pertama yang lahir di Indonesia, dalam Undang-undang ini diatur tentang HAM terkait bidang kesehatan, sebagai berikut ; 1) Pasal 9 ayat (3) Setiap orang berhak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. 2) Pasal 11, Setiap orang berhak atas pemenuhan kebutuhan dasarnya untuk tumbuh dan berkembang secara layak. 3) Pasal 41 ayat (1) (1) Setiap warga negara berhak atas jaminan sosial yang dibutuhkan untuk hidup layak serta untuk perkembangan priadinya secara utuh. Ayat (2) Setiap penyandang cacat, orang yang berusia lanjut, wanita hamil, dan anak-anak, berhak memperoleh kemudahan dan perlakuan khusus. 4) Pasal 42 : Setiap warga negara yang berusia lanjut, cacat fisik dan atau cacat mental berhak memperoleh perawatan, pendidikan, pelatihan, dan bantuan khusus atas biaya negara, untuk menjamin kehidupan yang layak sesuai dengan martabat kemanusiaannya, meningkatkan rasa percaya diri, dan kemampuan berpartisipasi dalam kehidupan bennasyarakat, berbangsa, dan bemegara. 5) Pasal 62 ; Setiap anak berhak untuk memperoleh pelayanan kesehatan dan jaminan sosial secara layak, sesuai dengan kebutuhan fisik dan mentap spiritualnya. 6) Pasal 71 Pemerintah wajib dan bertanggung jawab menghormati, melindungi, menegakan, dan memajukan hak asasi manusia yang diatur dalam Undang-undang ini, peraturan perundang-undangan lain, dan hukum internasional tentang hak asasi manusia yang.diterima oleh negara Republik Indonesia. d. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Jaminan Sosial
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

57

Dalam rangka mwujudkan cita-cita bangsa, dan sebagai tanggung jawab negara untuk mensejahterakan seluruh masyarakat, ditetapkan Undang-undang No.40 Tahun 2004 tentang Jaminan Sosial. Undang-undang ini secara ekplisit menjelaskan jaminan sosial negara terhadap warganya, termasuk jaminan sosial kesehatan antara lain tercantum dalam pasal : 1) Pasal 1 angka 1 yang dimaksud dengan Jaminan sosial adalah salah satu bentuk perlindungan sosial untuk menjamin seluruh rakyat agar dapat memenuhi kebutuhan dasar hidupnya yang layak. 2) Pasal 2 Sistem Jaminan Sosial Nasional diselenggarakan berdasarkan asas kemanusiaan, asas manfaat, dan asas keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. 3) Pasal 3 Sistem Jaminan Sosial Nasional bertujuan untuk memberikan jaminan terpenuhinya kebutuhan dasar hidup yang layak bagi setiap peserta dan/atau anggota keluarganya. 4) Pasal 18 Jenis program jaminan sosial meliputi : a. jaminan kesehatan; b. jaminan kecelakaan kerja; c. jaminan hari tua; d. jaminan pensiun; dan e. jaminan kematian. 5) Pasal 19 ayat (1) dan ayat (2) : (1) Jaminan kesehatan diselenggarakan secara nasional berdasarkan prinsip asuransi sosial dan prinsip ekuitas. (2) Jaminan kesehatan diselenggarakan dengan tujuan menjamin agar peserta memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan. e. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan Undang-undang ini menggantikan UU Nomor 23 Tahun Tahun 1992 tentang Kesehatan, terdiri dari 22 bab dengan jumlah pasal sebanyak 205 pasal, mengatur tentang Ketentuan umum, Asas dan tujuan, Hak dan kewajiban, Tanggung jawab pemerintah, Sumber daya di bidang kesehatan, Upaya kesehatan, Kesehatan ibu, bayi, anak, Remaja, lanjut usia, dan penyandang cacat, Kesehatan jiwa, Penyakit menular dan tidak menular, Kesehatan lingkungan, Kesehatan kerja, Pengelolaan kesehatan, Informasi kesehatan, Pembiayaan kesehatan, Peran serta masyarakat, Badan pertimbangan kesehatan, Pembinaan dan pengawasan, Penyidikan, Ketentuan pidana, Ketentuan peralihan, Ketentuan penutup. Dalam Undang-undang ini, menekankan tujuan pembangunan kesehatan adalah untuk mewujudkan cita-cita bangsa dan tujuan nasional, yakni ; melindungi segenap bangsa Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan seterusnya. Dalam UU Nomor 36 Tahun 2009, secara tegas menekankan bahwa kesehatan adalah sebagai hak asasi manusia dan salah satu unsur kesejahteraan yang harus diwujudkan. Undang-undang ini, meletakkan pembangunan kesehatan, bukan sebatas pemerintah, dan pembangunan kesehatan bukan sekedar upaya penyembuhan penyakit semata, tetapi dalam pembangunan kesehatan membutuhkan adanya partisipasi masyarakat yang luas, dan cakupan upaya kesehatan dilkukan secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan, meliputi; upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

58

1)

2)

3)

4)

Tentang Pengertian Kesehatan, Asas dan Tujuan diatur dalam Pasal 1 angka 1; yang dimaksud dengan kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Pasal 2 dan Pasal 3 tentang asas dan tujuan. Pasal 2 ; Pembangunan kesehatan diselenggarakan dengan berasaskan perikemanusiaan, keseimbangan, manfaat, pelindungan, penghormatan terhadap hak dan kewajiban, keadilan, gender dan nondiskriminatif dan norma-norma agama. Pasal 3 Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya, sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomis. Tentang hak-hak masyarakat dalam kesehatan diatur dalam Pasal 4 Setiap orang berhak atas kesehatan. Pasal 5 ayat (1) Setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh akses atas sumber daya di bidang kesehatan. ayat (1) Setiap orang mempunyai hak dalam memperoleh pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, dan terjangkau. ayat (3) Setiap orang berhak secara mandiri dan bertanggung jawab menentukan sendiri pelayanan kesehatan yang diperlukan bagi dirinya. Pasal 6 Setiap orang berhak mendapatkan lingkungan yang sehat bagi pencapaian derajat kesehatan. Pasal 7 Setiap orang berhak untuk mendapatkan informasi dan edukasi tentang kesehatan yang seimbang dan bertanggung jawab. Pasal 8 Setiap orang berhak memperoleh informasi tentang data kesehatan dirinya termasuk tindakan dan pengobatan yang telah maupun yang akan diterimanya dari tenaga kesehatan. Tentang Tanggung jawab pemerintah diatur dalam Pasal 19 Pemerintah bertanggung jawab atas ketersediaan segala bentuk upaya kesehatan yang bermutu, aman, efisien, dan terjangkau. Pasal 50 ayat (1) Pemerintah dan pemerintah daerah bertanggung jawab meningkatkan dan mengembangkan upaya kesehatan. ayat (2) Upaya kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya memenuhi kebutuhan kesehatan dasar masyarakat. Pasal 54 ayat (1) Penyelenggaraan pelayanan kesehatan dilaksanakan secara bertanggung jawab, aman, bermutu, serta merata dan nondiskriminatif. (2) Pemerintah dan pemerintah daerah bertanggung jawab atas penyelenggaraan pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 62 ayat (3) Pemerintah dan pemerintah daerah menjamin dan menyediakan fasilitas untuk kelangsungan upaya peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit. Tentang pembiayaan kesehatan diatur dalam Pasal 170, pasal 171 dan pasal 172. Pasal 170 : (1) Pembiayaan kesehatan bertujuan untuk penyediaan pembiayaan kesehatan yang berkesinambungan dengan jumlah yang mencukupi, teralokasi secara adil, dan termanfaatkan secara berhasil guna dan berdaya guna untuk menjamin terselenggaranya pembangunan kesehatan agar meningkatkan derajat kesehatan masyarakat setinggi-tingginya. (2) Unsur-unsur pembiayaan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas sumber pembiayaan, alokasi, dan pemanfaatan. (3) Sumber pembiayaan kesehatan berasal dari Pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat, swasta dan sumber lain. 59

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

Pasal 171 : (1) Besar anggaran kesehatan Pemerintah dialokasikan minimal sebesar 5% (lima persen) dari anggaran pendapatan dan belanja negara di luar gaji. (2) Besar anggaran kesehatan pemerintah daerah provinsi, kabupaten/kota dialokasikan minimal 10% (sepuluh persen) dari anggaran pendapatan dan belanja daerah di luar gaji. (3) Besaran anggaran kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diprioritaskan untuk kepentingan pelayanan publik yang besarannya sekurang-kurangnya 2/3 (dua pertiga) dari anggaran kesehatan dalam anggaran pendapatan dan belanja negara dan anggaran pendapatan dan belanja daerah. Pasal 172 (1) Alokasi pembiayaan kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 171 ayat (3) ditujukan untuk pelayanan kesehatan di bidang pelayanan publik, terutama bagi penduduk miskin, kelompok lanjut usia, dan anak terlantar. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara alokasi pembiayaan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

f. Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit


Undang-undang ini terdiri dari 15 Bab, sebanyak 66 pasal, mengatur tentang ketentuan umum, asas dan tujuan, tugas dan fungsi tanggung jawab pemerintah dan pemerintah daerah, Persyaratan, jenis dan klasifikasi, perizinan, kewajiban dan hak, penyelenggaraan, pembiayaan, pencatatan dan pelaporan, pembinaan dan pengawasan, ketentuan pidana, ketentuan peralihan dan ketentuan penutup. Dalam Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009, diatur tentang : 1) Pasal 2 Rumah Sakit diselenggarakan berasaskan Pancasila dan didasarkan kepada nilai kemanusiaan, etika dan profesionalitas, manfaat, keadilan, persamaan hak dan anti diskriminasi, pemerataan, perlindungan dan keselamatan pasien, serta mempunyai fungsi sosial. 2) Pasal 3 Pengaturan penyelenggaraan Rumah Sakit bertujuan: a. mempermudah akses masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan; b. memberikan perlindungan terhadap keselamatan pasien, masyarakat, lingkungan rumah sakit dan sumber daya manusia di rumah sakit; c. meningkatkan mutu dan mempertahankan standar pelayanan rumah sakit; dan d. memberikan kepastian hukum kepada pasien, masyarakat, sumber daya manusia rumah sakit, dan Rumah Sakit. 3) Bab IV Tanggung Jawab Pemerintah Dan Pemerintah Daerah, diatur dalam Pasal 6 ayat (1) point a s.d.e sebagai berikut : (1) Pemerintah dan pemerintah daerah bertanggung jawab untuk : a. menyediakan Rumah Sakit berdasarkan kebutuhan masyarakat;

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

60

b. menjamin pembiayaan pelayanan kesehatan di Rumah Sakit bagi fakir miskin, atau orang tidak mampu sesuai ketentuan peraturan perundangundangan; c. membina dan mengawasi penyelenggaraan Rumah Sakit; d. memberikan perlindungan kepada Rumah Sakit agar dapat memberikan pelayanan kesehatan secara profesional dan bertanggung jawab; e. memberikan perlindungan kepada masyarakat pengguna jasa pelayanan Rumah Sakit sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan; 4) Bab VIII Kewajiban Dan Hak, tentang Kewajiban Pasal 29 : (1) Setiap Rumah Sakit mempunyai kewajiban : a. memberikan informasi yang benar tentang pelayanan Rumah Sakit kepada masyarakat; b. memberi pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, antidiskriminasi, dan efektif dengan mengutamakan kepentingan pasien sesuai dengan standar pelayanan Rumah Sakit; c. memberikan pelayanan gawat darurat kepada pasien sesuai dengan kemampuan pelayanannya; d. berperan aktif dalam memberikan pelayanan kesehatan pada bencana, sesuai dengan kemampuan pelayanannya; e. menyediakan sarana dan pelayanan bagi masyarakat tidak mampu atau miskin; f. melaksanakan fungsi sosial antara lain dengan memberikan fasilitas pelayanan pasien tidak mampu/miskin, pelayanan gawat darurat tanpa uang muka, ambulan gratis, pelayanan korban bencana dan kejadian luar biasa, atau bakti sosial bagi misi kemanusiaan; g. membuat, melaksanakan, dan menjaga standar mutu pelayanan kesehatan di Rumah Sakit sebagai acuan dalam melayani pasien;

g. Undang-Undang Republik Indonesianomor 11 Tahun 2009 Tentang Kesejahteraan Sosial 1) Bab I Ketentuan, pasal 1 point 1 : Dalam Undang-Undang ini yang dimaksudkan dengan: Kesejahteraan Sosial adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan material, spiritual, dan sosial warga negara agar dapat hidup layak dan mampu mengembangkan diri, sehingga dapat melaksanakan fungsi sosialnya. 2) Bab II Asas dan Tujuan, pasal 3 butir a Penyelenggaraan kesejahteraan sosial bertujuan meningkatkan taraf kesejahteraan, kualitas, dan kelangsungan hidup; 3) Bab III, Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial Pasal 4 Negara bertanggung jawab atas penyelenggaraan kesejahteraan sosial. Pasal 5 ayat (2 Penyelenggaraan kesejahteraan sosial sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diprioritaskan kepada mereka yang memiliki kehidupan yang tidak layak secara kemanusiaan dan memiliki kriteria masalah sosial: a. kemiskinan; b. ketelantaran;
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

61

c. kecacatan; d. keterpencilan; e. ketunaan sosial dan penyimpangan perilaku; f. korban bencana; dan/atau g. korban tindak kekerasan, eksploitasi dan diskriminasi. Pasal 9 ayat (1) huruf a Jaminan sosial dimaksudkan untuk: menjamin fakir miskin, anak yatim piatu terlantar, lanjut usia terlantar, penyandang cacat fisik, cacat mental, cacat fisik dan mental, eks penderita penyakit kronis yang mengalami masalah ketidakmampuan sosial-ekonomi agar kebutuhan dasarnya terpenuhi. Ayat (2) Jaminan sosial sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a diberikan dalam bentuk asuransi kesejahteraan sosial dan bantuan langsung berkelanjutan. Pasal 10 ayat (1) Asuransi kesejahteraan sosial diselenggarakan untuk melindungi warga negara yang tidak mampu membayar premi agar mampu memelihara dan mempertahankan taraf kesejahteraan sosialnya ayat (2) Asuransi kesejahteraan sosial sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan dalam bentuk bantuan iuran oleh Pemerintah. 4) Bab IV Penanggulangan Kemiskinan, pasal Pasal 19 Penanggulangan kemiskinan merupakan kebijakan, program, dan kegiatan yang dilakukan terhadap orang, keluarga, kelompok dan/atau masyarakat yang tidak mempunyai atau mempunyai sumber mata pencaharian dan tidak dapat memenuhi kebutuhan yang layak bagi kemanusiaan. Pasal 21 Penanggulangan kemiskinan dilaksanakan dalam bentuk point d adalah penyediaan akses pelayanan kesehatan dasar. 5) Bab V Tanggung Jawab Dan Wewenang, Pasal 29Tanggung jawab pemerintah kabupaten/kota dalam menyelenggarakan kesejahteraan sosial meliputi: a. mengalokasikan anggaran untuk penyelenggaraan kesejahteraan sosial dalam anggaran pendapatan dan belanja daerah; b. melaksanakan penyelenggaraan kesejahteraan sosial di wilayahnya/bersifat lokal, termasuk tugas pembantuan; c. memberikan bantuan sosial sebagai stimulan kepada masyarakat yang menyelenggarakan kesejahteraan sosial; h. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2009 Tentang Pelayanan Publik Undang-Undang pelayanan publik mengatur tentang pelayanan pengadaan barang dan jasa, termasuk adalah pelayanan bidang kesehatan, sebagaimana tertuang dalam : 1) Bab I Ketentuan Umum, Pasal 1 angka 1 : Pelayanan publik adalah kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan perundangDiterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

62

undangan bagi setiap warga negara dan penduduk atas barang, jasa, dan/atau pelayanan administratif yang disediakan oleh penyelenggara pelayanan publik. 2) Bab II Maksud, Tujuan, Asas, Dan Ruang Lingkup, pasal 4 : Penyelenggaraan pelayanan publik berasaskan:
a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. k. l. kepentingan umum; kepastian hukum; kesamaan hak; keseimbangan hak dan kewajiban; keprofesionalan; partisipatif; persamaan perlakuan/tidak diskriminatif; keterbukaan; akuntabilitas; fasilitas dan perlakuan khusus bagi kelompok rentan; ketepatan waktu; dan kecepatan, kemudahan, dan keterjangkauan.

Pasal 5
(1) Ruang lingkup pelayanan publik meliputi pelayanan barang publik dan jasa publik serta pelayanan administratif yang diatur dalam peraturan perundang-undangan. (2) Ruang lingkup sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi pendidikan, pengajaran, pekerjaan dan usaha, tempat tinggal, komunikasi dan informasi, lingkungan hidup, kesehatan, jaminan sosial, energi, perbankan, perhubungan, sumber daya alam, pariwisata, dan sektor lain yang terkait. 3) Bab IV Hak, Kewajiban, Dan Larangan. Pasal 14 Penyelenggara memiliki hak: a. memberikan pelayanan tanpa dihambat pihak lain yang bukan tugasnya; b. melakukan kerja sama; c. mempunyai anggaran pembiayaan penyelenggaraan pelayanan publik; d. melakukan pembelaan terhadap pengaduan dan tuntutan yang tidak sesuai dengan kenyataan dalam penyelenggaraan pelayanan publik; dan e. menolak permintaan pelayanan yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. Pasal 15 Penyelenggara berkewajiban: a. menyusun dan menetapkan standar pelayanan; b. menyusun, menetapkan, dan memublikasikan maklumat pelayanan; c. menempatkan pelaksana yang kompeten; d. menyediakan sarana, prasarana, dan/atau fasilitas pelayanan publik yang mendukung terciptanya iklim pelayanan yang memadai; e. memberikan pelayanan yang berkualitas sesuai dengan asas penyelenggaraan pelayanan publik; f. melaksanakan pelayanan sesuai dengan standar pelayanan;

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

63

g. berpartisipasi aktif dan mematuhi peraturan perundangundangan yang terkait dengan penyelenggaraan pelayanan publik; h. memberikan pertanggungjawaban terhadap pelayanan yang diselenggarakan; i. membantu masyarakat dalam memahami hak dan tanggung jawabnya; j. bertanggung jawab dalam pengelolaan organisasi penyelenggara pelayanan publik; k. memberikan pertanggungjawaban sesuai dengan hukum yang berlaku apabila mengundurkan diri atau melepaskan tanggung jawab atas posisi atau jabatan; dan l. memenuhi panggilan atau mewakili organisasi untuk hadir atau melaksanakan perintah suatu tindakan hukum atas permintaan pejabat yang berwenang dari lembaga negara atau instansi pemerintah yang berhak, berwenang, dan sah sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pasal 16 Pelaksana berkewajiban: a. melakukan kegiatan pelayanan sesuai dengan penugasan yang diberikan oleh Penyelenggara; b. memberikan pertanggungjawaban atas pelaksanaan pelayanan sesuai dengan peraturan perundang-undangan; Pasal 17 Pelaksana dilarang: a. merangkap sebagai komisaris atau pengurus organisasi usaha bagi pelaksana yang berasal dari lingkungan instansi pemerintah, badan usaha milik negara, dan badan usaha milik daerah; b. meninggalkan tugas dan kewajiban, kecuali mempunyai alasan yang jelas, rasional, dan sah sesuai dengan peraturan perundang-undangan; c. menambah Pelaksana tanpa persetujuan Penyelenggara; d. membuat perjanjian kerja sama dengan pihak lain tanpa persetujuan Penyelenggara; dan e. melanggar asas penyelenggaraan pelayanan publik. Pasal 18 Masyarakat berhak: a. mengetahui kebenaran isi standar pelayanan; b. mengawasi pelaksanaan standar pelayanan; c. mendapat tanggapan terhadap pengaduan yang diajukan; d. mendapat advokasi, perlindungan, dan/atau pemenuhan pelayanan; e. memberitahukan kepada pimpinan penyelenggara untuk memperbaiki pelayanan apabila pelayanan yang diberikan tidak sesuai dengan standar pelayanan; f. memberitahukan kepada Pelaksana untuk memperbaiki pelayanan apabila pelayanan yang diberikan tidak sesuai dengan standar pelayanan; g. mengadukan Pelaksana yang melakukan penyimpangan standar pelayanan dan/atau tidak memperbaiki pelayanan kepada Penyelenggara dan ombudsman;
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

64

h. mengadukan Penyelenggara yang melakukan penyimpangan standar pelayanan dan/atau tidak memperbaiki pelayanan kepada pembina Penyelenggara dan ombudsman; dan i. mendapat pelayanan yang berkualitas sesuai dengan asas dan tujuan pelayanan. 4) Penyelenggaraan pelayanan publik. Pelayanan Khusus Pasal 29 : (1) Penyelenggara berkewajiban memberikan pelayanan dengan perlakuan khusus kepada anggota masyarakat tertentu sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (2) Sarana, prasarana, dan/atau fasilitas pelayanan publik dengan perlakuan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilarang digunakan oleh orang yang tidak berhak.

5)

Perilaku Pelaksana dalam Pelayanan . Pasal 34 Pelaksana dalam menyelenggarakan pelayanan publik harus berperilaku sebagai berikut:
a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. k. l. adil dan tidak diskriminatif; cermat; santun dan ramah; tegas, andal, dan tidak memberikan putusan yang berlarut-larut; profesional; tidak mempersulit; patuh pada perintah atasan yang sah dan wajar; menjunjung tinggi nilai-nilai akuntabilitas dan integritas institusi penyelenggara; tidak membocorkan informasi atau dokumen yang wajib dirahasiakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan; terbuka dan mengambil langkah yang tepat untuk menghindari benturan kepentingan; tidak menyalahgunakan sarana dan prasarana serta fasilitas pelayanan publik; tidak memberikan informasi yang salah atau menyesatkan dalam menanggapi permintaan informasi serta proaktif dalam memenuhi kepentingan masyarakat; tidak menyalahgunakan informasi, jabatan, dan/atau kewenangan yang dimiliki; sesuai dengan kepantasan; dan tidak menyimpang dari prosedur.

m. n. o.

i.

Peraturan Menteri hk.02.02/menkes/095/1/2010 Jaminan kesehatan

Kesehatan Nomor Tentang Penyelenggaraan

1) BAB I, Ketentuan Umum Pasal 1 yang dimaksud dengan jaminan kesehatan adalah salah satu bentuk perlindungan sosial di bidang kesehatan untuk menjamin agar memenuhi kebutuhan dasar kesehatan yang layak, bersifat pelayanan kesehatan menyeluruh (komprehensif) mencakup pelayanan promotif, preventif, serta kuratif dan rehabilitatif yang diberikan secara berjenjang dan dengan mutu yang terjamin serta pembayaran secara pra upaya, diselenggarakan dalam mekanisme asuransi sosial.

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

65

2) Bab II, Tujuan, Prinsip dan Ruang Lingkup. Pasal 2 : jaminan kesehatan diselenggarakan dengan tujuan menjamin agar peserta dan atau keluarganya memperoleh manfaat jaminan kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan. 3) Bab III, Kepesertaan. Pasal 5 ayat (1) setiap orang dapat menjadi peserta jaminan kesehatan (2) peserta jaminan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari : a. Kelompok masyarakat miskin dan tidak mampu b. Kelompok pekerja formal ; dan c. Kelompok pekerja non formal. Pasal 7 ayat (1) pemerintah daerah kabupaten/kota menetapkan masyarakat miskin dan orang yang tidak mampu menjadi peserta jaminan kesehatan berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik. Ayat (5) Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah daerah Kabupaten/Kota dapat memperluas kepesertaan dengan menetapkan daftar kepesertaan Penerima Bantuan Iuran Pemerintah Daerah Provinsi dan Penerima Bantuan Iuran Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. 4) Bab IV Pelayanan Kesehatan. Pasal 10 ayat (1) Pelayanan kesehatan bagi peserta dilakukan secara berjenjang dan terstruktur di PPK milik pemerintah dan atau swasta yang menjalin kerjasama dengan Badan Penyelenggara. Ayat (2) PPK sebagaimana dimaksud ayat (1) antara lain Puskesmas, dokter praktek swasta, dokter gigi praktek swasta, dokter keluarga, dokter gigi keluarga, dokter spesialis, dokter gigi spesialis, klinik, rumah sakit pemerintah, rumah sakit swasta dan balai kesehatan. Ayat (3) PPK dilarang menolak peserta yang ingin mendapatkan pelayanan kesehatan. Ayat (4) PPK wajib melayani peserta dengan menerapkan kendali mutu dan kendali biaya.

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

66

BAB V URGENSI DAN LANDASAN PERUBAHAN KEBIJAKAN KESEHATAN GRATIS


Pada bab dua telah dijelaskan alasan-alasan mengapa perlu dilakukan scalling up untuk perubahan perbup nomor 9 tahun 2006 tentang pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis di puskesmas dan jaringannya yang dijamin oleh Pemerintah Daerah KSB, untuk memperkuat alasan tersebut pada bagian kelima ini akan dijabarkan mengenai landasan pembentukan peraturan daerah tentang pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis di Kabupaten Sumbawa Barat. Landasan tersebut meliputi landasan filosofis, soiopolitik dan landasan yuridis. 5.1. Landasan Filosofis Secara filosofis ada tiga landasan filosofi pembentukan Peraturan Daerah ini. Pertama, adalah landasan kesehatan sebagai hak azasi manusia dan merupakan investasi bagi pembangunan daerah KSB di masa mendatang. Landasan ini didasari pemikiran bahwa kesehatan adalah hak dan investasi bagi KSB. Semua warga negara, khususnya adalah penduduk KSB berhak atas kesehatan, terutama adalah penduduk KSB yang berasal atau merupakan keluarga fakir miskin. Kesehatan yang baik dan prima memungkinkan seseorang hidup lebih produktif baik secara sosial maupun ekonomi. Oleh karena itu, kesehatan menjadi salah satu hak dan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi, agar setiap individu dapat berkarya dan menikmati kehidupan yang bermartabat. Saat ini jasa pelayanan kesehatan makin lama makin mahal. Tingginya biaya kesehatan yang harus dikeluarkan oleh perseorangan, menyebabkan tidak semua anggota masyarakat mampu untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang layak. Selain itu, kemampuan pemerintah untuk mensubsidi pelayanan kesehatan sangat rendah. Tanpa sistem yang menjamin pembiayaan kesehatan, maka akan semakin banyak masyarakat yang tidak mampu yang tidak memperoleh pelayanan kesehatan sebagaimana yang mereka butuhkan. Dengan kecenderungan meningkatnya biaya hidup, termasuk biaya pemeliharaan kesehatan, diperkirakan beban masyarakat terutama penduduk berpenghasilan rendah akan bertambah berat. Biaya kesehatan yang meningkat akan menyulitkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang dibutuhkannya, terutama bila pembiayaannya harus ditanggung sendiri (out of pocket) dalam sistem fee for services. Sistem fee for service untuk sistem pelayanan kesehatan menyebabkan masyarakat sulit menjangkau pelayanan kesehatan yang layak. Namun, apabila hendak ikut asuransi, tidak banyak masyarakat yang mampu membayar biaya premi. Sebagai contoh, pada tahun 2003, biaya rawat inap pasien di rumah sakit selama lima hari menghabiskan 1,4 kali rata-rata pendapatan sebulan penduduk KSB. Tahun 2004 biaya ini melonjak menjadi 2,7 kali. Apabila biaya tersebut tidak ditanggung oleh kantor atau asuransi, berarti biaya rumah tangga orang yang bersangkutan akan tersedot untuk membayar perawatan di rumah sakit. Pertanyaannya adalah bagaimana dan apa yang terjadi dengan penduduk miskin apabila mereka sakit, sementara biaya kesehatan makin meningkat dari waktu ke waktu. Sehubungan dengan hal tersebut, , keberadaan sistem asuransi kesehatan yang mencakup seluruh penduduk mendesak untuk diwujudkan. Jika tidak, akan
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

67

banyak penduduk terutama penduduk miskin akan mengalami kesulitan untuk dapat mengakses pelayanan kesehatan, apalagi pada saat perdagangan bebas di sektor jasa mulai diberlakukan. Kesehatan menjadi salah satu hak dan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi, agar setiap individu dapat berkarya dan menikmati kehidupan yang baik dan bermartabat dan karena itulah Pemerintah Daerah KSB pada tahun 2006 telah menetapkan program pelayanan kesehatan dan pengobatan secara gratis, dan dalam rangka pengembangan program di masa mendatang membutuhkan Peraturan Daerah. Kedua, adalah landasan filosofi konstitusional. Bahwa dalam Undang-Undang Dasar 1945 pasal 28 H ayat (1) menyatakan bahwa setiap orang berhak untuk hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan dan dalam Undang-Undang Dasar 1945 pasal 34 ayat (1) menyatakan bahwa Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh Negara. Ayat (2) Negara mengembangkan system jaminan social bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai martabat kemanusiaan. Ayat (3) Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak. Landasan konstitusional itupula yang menjadi dasar lahirnya Undang Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan pasal 4 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan menyatakan bahwa setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh derajat kesehatan yang optimal. Dalam konstitusi kita secara eksplisit telah menegaskan bahwa kesehatan adalah sebagai hak asasi manusia sebagai tanggung jawab Pemerintah, dan pemerintah daerah KSB telah melaksanakan tanggung jawab tersebut dengan telah mengeluarkannya Peraturan bupati Nomor 9 tahun 2006 tentang Pelayanan Kesehatan dan pengobatan gratis yang di puskesmas dan jaringannya yang dijamin oleh Pemerintah Daerah. Dalam rangka untuk meningkatkan derajat kesehatan, maka selain memberikan akses pelayanan kesehatan bagi penduduk KSB, terpenting di masa mendatang adalah bagaimana pemerintah daerah dapat meningkatkan mutu/kualitas pelayanan kesehatan dan pengobatan secara gratis agar tujuan pemberian pelayanan kesehatan, bukan semata-mata untuk menyediakan pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis, melainkan pula adalah dapat meningkatkan mutu/kualitas pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis, sehingga program pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis pada akhirnya dapat membawa perubahan yang signifikan bagi peningkatan derajat kesehatan masyarakat KSB, khususnya dan dapat memberikan konstribusi terhadap pencapaian pembangunan kesehatan secara nasional. Menyadari berbagai kelemahan yang ada dalam program pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis yang berlangsung selama ini, maka Pemerintah Daerah KSB memandang perlu untuk melakukan penyempurnaan terhadap materi kebijakan, perbaikan ini ditujukan untuk mendorong adanya peningkatan terhadap mutu atau kualitas pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis, mendorong adanya keadilan dan pemerataan program dengan memberikan perhatian khusus kepada penduduk miskin, anak-anak, para ibu dan para lanjut usia yang terlantar baik di perkotaan maupun di pedesaan. Prioritas diberikan pula kepada daerah terpencil, pemukiman baru, wilayah perbatasan dan daerah
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

68

kantong-kantong keluarga miskin, melalui program Pembangunan kesehatan yang berkelanjutan, diharapkan dapat meningkatkan derajat kesehatan dan mensejahteraan masyarakat KSB, yang sesungguhnya merupakan tanggung pemerintah daerah Kabupaten Sumbawa Barat. Ketiga, visi bangsa dalam pembangunan kesehatan Indonesia, adalah merupakan bagian dari visi dan misi pembangunan KSB lima tahun kedepan. Visi ini sejalan dengan tujuan bangsa Indonesia, sebagaimana yang diamanatkan dalam UUD 45 alinea IV Pembukaaan UUD 45 yaitu : melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial Agar tujuan tersebut dapat tercapai, Pemerintah Daerah tentu perlu berusaha untuk memajukan derajat kesehatan setiap warganya secara intens dan berkelanjutan, agar tercapai pula kesejahteraan sosial masyarakat KSB. Bertitik tolak dari gagasan tentang pentingnya kesejahteraan sosial bagi masyarakat KSB dimasa mendatang sebagai amanah yang tertuang di dalam UUD 1945, maka Pemerintah Daerah KSB memandang sudah sepatutnya, Pemerintah Daerah KSB dapat berperan aktif dalam usaha untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat yang lebih baik, lebih manusiawi dan bermartabat melalui penyediaan pelayanan kesehatan dan pengobatan secara gratis. Langkah konkret yang ditempuh adalah dengan melakukan scalling-up perubahan perbup menjadi perda pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis yang berkualitas dan berkelanjutan di Kabupaten Sumbawa Barat sebagai dasar hukum, sekaligus upaya untuk penyempurnaan program pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis di KSB. Scalling up perbup menjadi perda ini dimaksudkan agar; Pertama, program pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis memliki landasan hukum yang kuat, dapat memberikan kepastian atas keberlangsungan program dimasa mendatang, serta mendorong adanya kepastian upaya untuk peningkatkan perlindungan dan jaminan pelayanan dan pengobatan gratis yang bermutu/berkualitas bagi masyarakat fakir miskin. Kedua, scalling-up ini juga dimaksudkan untuk menjamin interkoneksi dan integrasi pelbagai komponen perundang-undangan di bidang kesehatan yang terus mengalami perubahan dan perkembangan, dan oleh karena itupula dibutuhkan adanya penyesuaiakan kebijakan kesehatan di daerah, khususnya adalah perbup pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis. Integrasi ini untuk memastikan pula bahwa pelaksanaan Peraturan Daerah ini nantinya, tidak terkendala dengan pelbagai peraturan perundang-undangan yang berlaku, dan diharapkan dengan adanya Perda ini proram pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis dapat lebih baik dan sempurna. Ketiga, melalui scalling-up ini diharapkan Perda (dasar hukum baru) ini akan memberi orientasi baru program pembangunan kesehatan di KSB yang lebih komprehensif, serta sejalan dengan perkembangan paradigma pembangunan kesehatan, perkembangan kebijakan nasional, iptek dan perkembangan global saat ini, sekaligus untuk mengantisipasi kecenderungan masalah dan perkembangan kesehatan di daerah. Keempat, dasar hukum baru ini akan memberi kerangka baru pembangunan kesehatan di KSB yang tidak semata-mata memberikan pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis, yang bersifat kuratif dan rehabilitatif, melainkan pula bersifat preventif dan promotif. Peraturan daerah ini memastikan bahwa pembangunan kesehatan melalui program pemberian pelayanan kesehatan dan pengobatan

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

69

secara gratis dilaksanakan dengan tetap menjaga mutu/kualitas pelayanan kesehatan, sekaligus memastikan keberlangsungan program dimasa mendatang. Secara garis besar, Peraturan Daerah ini (pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis) ini diarahkan untuk menjamin terselenggaranya pelayanan kesehatan dan pengobatan secara gratis yang lebih bermutu/berkualitas dan terjamin berkelanjutannya di masa mendatang sehingga melalui langkah itupula diharapkan tingkat derajat kesehatan masyarakat KSB semakin meningkat, khususnya adalah masyarakat fakir miskin, harkat, martabat dan kualitas hidup masyarakat miskin, mengembangkan prakarsa dan peran aktif masyarakat miskin, mencegah dan menangani masalah kesehatan warga miskin, mengembangkan sistem perlindungan dan jaminan kesehatan bagi warga miskin, serta memperkuat derajat kesehatan bagi setiap warga negara penduduk KSB yang tergolong fakir dan miskin.

5.2.

Landasan Sosiopolitis Komitmen politik Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah terpilih periode 20102015 adalah melanjutkan program pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis di puskesmas dan jaringannya. Komitmen tersebut telah tertuang dalam RPJMD KSB 2010-2015, maupun dalam RPJP KSB 2025. Secara sosial, program pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis yang telah dimulai dilaksanakan sejak tahun 2006, dinilai masyarakat sebagai program yang sangat baik, memiliki dampak dan manfaat langsung bagi masyarakat, program ini sekaligus sebagai bentuk dan wujud nyata atas pemenuhan janji politik Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah terpilih terhadap masyarakat. Selama ini, Pelaksanaan Program Pelayanan Kesehatan dan Pengobatan gratis yang dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah KSB, berlandaskan pada Perbup Nomor 9 tahun 2006. Secara politis, komitmen pelaksanaan program pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis, belum mencerminkan sebagai komitmen politik bersama dengan DPRD KSB yang notabennya adalah merupakan para wakil rakyat di daerah. Kedepan, untuk menjamin dan memastikan program pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis yang bermutu dan berkelanjutan dibutuhkan adanya komitmen bersama seluruh stakeholders di daerah, khususnya antara legislative dan eksekutif, sehingga diharapkan, secara politis pula agenda program pelayanan dan pengobatan gratis menjadi agenda politik DPRD yang mesti pula harus diperjuangkan dalam pengembangan kebijakan maupun program. Program pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis, berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh LEGITIMID KSB, telah menemukan bahwa secara sosial-politik, kebijakan penyelenggaraan program pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis, dinilai masyarakat KSB sebagai bentuk kebijakan yang bersifat populis, mencerminkan kehendak atau keinginan masyarakat, membantu masyarakat, khususnya masyarakat fakir miskin, meringankan biaya kesehatan bagi masyarakat, serta dapat merubah pola hidup kesehatan masyarakat, dan sebagian besar masyarakat KSB menginginkan agar program pelayanan kesehatan gratis untuk tetap dipertahankan dan dilanjutkan di masa mendatang. Dari hasil penelitian pula menemukan bahwa adanya apresiasi dukungan publik atas rencana scalling-up perbup menjad perda yang begitu tinggi, hampir 98% responden menginginkan adanya keberlanjutan program dan mengharapkan
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

70

kedudukan atau status hukum Perbup ditingkatkan menjadi perda. Dan untuk memastikan keberlangsungan program dimasa mendatang, diharapkan Pemerintah Daerah KSB bersama dengan DPRD dan para stakeholders lainnya yang memiliki perhatian terhadap bidang kesehatan untuk segera merespons dan mengantisipasi pasca berakhirnya Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah saat ini (2010-2015). Bentuk respons yang diharapkan adalah bagaimana Pemda dan DPRD serta para stakeholders lainnya untuk segera mendorong perda pelayanan kesehatan gratis yang berkualitas dan berkelanjutan di masa mendatang. 5.3. Landasan Yuridis Undang Undang No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan dan konstitusi WHO menetapkan bahwa kesehatan adalah hak fundamental setiap individu. Oleh karena itu, negara bertanggungjawab untuk mengatur agar hak hidup sehat bagi penduduknya dapat terpenuhi. MPR RI melalui perubahan keempat UUD 1945, tanggal 10 Agustus 2002, telah melakukan pengubahan dan/atau penambahan pada Pasal 34 ayat 2 yang menyatakan bahwa Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan. Keputusan MPR RI tersebut menjadi landasan yang kuat bagi dikembangkannya suatu sistem jaminan kesehatan bagi keluarga miskin (JPK Gakin) yang terkait dengan penyelenggaraan sistem jaminan kesehatan yang selama ini telah dilaksanakan yaitu Jaminan Kesehatan Nasional (Jamkesnas), yang menjadi bagian dari Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). Selanjutnya, juga terdapat Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 527/Menkes/Per/ VII/1993 tentang Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JPKM) yang mencantumkan adanya suatu paket pemeliharaan kesehatan yang berisi kumpulan pelayanan kesehatan yang diselenggarakan oleh suatu badan penyelenggara dalam rangka melindungi dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, yang meliputi rawat jalan, rawat inap, gawat darurat, dan penunjang. Pemberian pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis, dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat merupakan bentuk pengamalan dila ke-5 Pancasila dan Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 secara jelas dinyatakan bahwa keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia menjadi dasar salah satu filosofis pembangunan bangsa, karenanya setiap warga Negara Indonesia berhak atas kesejahteraan sosial, khususnya adalah dalam upaya pemenuhan terhadap kebutuhan dasar (pelayanan kesehatan) yang sebaikbaiknya. Dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 mengamanatkan Negara memelihara fakir miskin dan anak-anak yang telantar, mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan, serta bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesejahteraan sosial yang layak yang diatur dengan undangundang. Untuk memberikan perlindungan sosial dalam bidang kesehatan terhadap fakir miskin, termasuk anak telantar sebagaimana yang diamanahkan dalam UUD 45, dibutuhkan upaya dan langkah-langkah perlindungan sosial (protection measures) sebagai perwujudan pelaksanaan kewajiban negara (state obligation) dalam menjamin terpenuhinya hak dasar dasar warganya yang tidak mampu, miskin atau marginal. Pemenuhan kebutuhan dasar, bidang kesehatan telah diatur dalam UUD 1945 Pasal 28 huruf H ayat (3), Pasal 34 ayat (1) dan (2)
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

71

mengatur mengenai hak-hak warga Negara dalam mewujudkan kesejahteraan sosial, yaitu : a. Pasal 27 ayat (2) menyatakan : Tiap-tiap warga Negara Indonesia berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan . b. Pasal 28 huruf H ayat (2) menyatakan : Setiap orang berhak mendapat kemudahan dan perlakuan khusus untuk memperoleh kesempatan dan manfaat yang sama guna mencapai persamaan dan keadilan c. .Pasal 28 huruf H ayat (3) menyatakan : Setiap orang berhak atas Jaminan Sosial yang memungkinkan pengembangan dirinya secara utuh sebagai manusia yang bermartabat . d. Pasal 34 ayat (1) menyatakan : Fakir miskin dan anak-anak yang telantar dipelihara oleh negara . .Pasal 34 ayat (2) menyatakan : Negara mengembangkan sistem jaminan Sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan . Pasal-pasal dalam amanat konstitusi tersebut memberi penegasan bahwa setiap warga Negara berhak atas kesejahteraan sosial yang sebaik-baiknya dan pemerintah wajib melindungi kehidupan dan penghidupan bangsa Indonesia dan berusaha untuk mewujudkan kesejahteraan sosial bagi setiap warga Negara Indonesia. Dengan demikian Kesejahteraan Sosial berasaskan Pancasila dan berlandaskan UndangUndang Dasar Republik Indonesia 1945 Pelaksanaan pembangunan kesejahteraan sosial selama ini diperkuat dengan Pertama, UndangUndang Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Azasi Manusia. Pasal 9 ayat (3) Setiap orang berhak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. Pasal 11, Setiap orang berhak atas pemenuhan kebutuhan dasarnya untuk tumbuh dan berkembang secara layak. Pasal 41 ayat (1) Setiap warga negara berhak atas jaminan sosial yang dibutuhkan untuk hidup layak serta untuk perkembangan priadinya secara utuh. Ayat (2) Setiap penyandang cacat, orang yang berusia lanjut, wanita hamil, dan anakanak, berhak memperoleh kemudahan dan perlakuan khusus. Pasal 62 ; Setiap anak berhak untuk memperoleh pelayanan kesehatan dan jaminan sosial secara layak, sesuai dengan kebutuhan fisik dan mentap spiritualnya. Kedua, Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Jaminan Sosial. Dalam undang-undang jaminan sosial, termasuk jaminan sosial kesehatan antara lain tercantum dalam pasal : Pasal 1 angka 1 yang dimaksud dengan Jaminan sosial adalah salah satu bentuk perlindungan sosial untuk menjamin seluruh rakyat agar dapat memenuhi kebutuhan dasar hidupnya yang layak. Pasal 18 Jenis program jaminan sosial meliputi : a. jaminan kesehatan; b. jaminan kecelakaan kerja; c. jaminan hari tua; d. jaminan pensiun; dan e. jaminan kematian. Pasal 19 ayat (1) Jaminan kesehatan diselenggarakan secara nasional berdasarkan prinsip asuransi sosial dan prinsip ekuitas. (2)(2) Jaminan kesehatan diselenggarakan dengan tujuan menjamin agar peserta memperoleh

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

72

manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan. Ketiga, Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Dalam Undang-undang ini, menekankan tujuan pembangunan kesehatan adalah untuk mewujudkan cita-cita bangsa dan tujuan nasional, yakni ; melindungi segenap bangsa Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan seterusnya. Pasal 1 angka 1; yang dimaksud dengan kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Pasal 2 ; Pembangunan kesehatan diselenggarakan dengan berasaskan perikemanusiaan, keseimbangan, manfaat, pelindungan, penghormatan terhadap hak dan kewajiban, keadilan, gender dan nondiskriminatif dan norma-norma agama. Pasal 3 Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya, sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomis. Pasal 4 Setiap orang berhak atas kesehatan. Pasal 5 ayat (1) Setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh akses atas sumber daya di bidang kesehatan. ayat (1) Setiap orang mempunyai hak dalam memperoleh pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, dan terjangkau. ayat (3) Setiap orang berhak secara mandiri dan bertanggung jawab menentukan sendiri pelayanan kesehatan yang diperlukan bagi dirinya. Pasal 6 Setiap orang berhak mendapatkan lingkungan yang sehat bagi pencapaian derajat kesehatan. Pasal 7 Setiap orang berhak untuk mendapatkan informasi dan edukasi tentang kesehatan yang seimbang dan bertanggung jawab. Pasal 8 Setiap orang berhak memperoleh informasi tentang data kesehatan dirinya termasuk tindakan dan pengobatan yang telah maupun yang akan diterimanya dari tenaga kesehatan. Sedangkan Tanggung jawab pemerintah diatur dalam Pasal 19 Pemerintah bertanggung jawab atas ketersediaan segala bentuk upaya kesehatan yang bermutu, aman, efisien, dan terjangkau. Pasal 50 ayat (1) Pemerintah dan pemerintah daerah bertanggung jawab meningkatkan dan mengembangkan upaya kesehatan. ayat (2) Upaya kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurangkurangnya memenuhi kebutuhan kesehatan dasar masyarakat. Pasal 54 ayat (1) Penyelenggaraan pelayanan kesehatan dilaksanakan secara bertanggung jawab, aman, bermutu, serta merata dan nondiskriminatif. (2) Pemerintah dan pemerintah daerah bertanggung jawab atas penyelenggaraan pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 62 ayat (3) Pemerintah dan pemerintah daerah menjamin dan menyediakan fasilitas untuk kelangsungan upaya peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit. Ketiga, Undang-Undang Republik Indonesianomor 11 Tahun 2009 Tentang Kesejahteraan Sosial. Pasal 1 point 1Kesejahteraan Sosial adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan material, spiritual, dan sosial warga negara agar dapat hidup layak dan mampu mengembangkan diri, sehingga dapat melaksanakan fungsi sosialnya. Pasal 3 butir a Penyelenggaraan kesejahteraan sosial bertujuan meningkatkan taraf kesejahteraan, kualitas, dan kelangsungan hidup. Pasal 10 ayat (1) Asuransi kesejahteraan sosial diselenggarakan untuk melindungi warga negara yang tidak mampu membayar premi agar mampu memelihara dan mempertahankan taraf kesejahteraan sosialnya ayat (2) Asuransi kesejahteraan sosial sebagaimana
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

73

dimaksud pada ayat (1) diberikan dalam bentuk bantuan iuran oleh Pemerintah. Keempat, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2009 Tentang Pelayanan Publik. Pasal 1 angka 1 : Pelayanan publik adalah kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan perundang-undangan bagi setiap warga negara dan penduduk atas barang, jasa, dan/atau pelayanan administratif yang disediakan oleh penyelenggara pelayanan publik. Pasal 18 Masyarakat berhak: p. mengetahui kebenaran isi standar pelayanan; q. mengawasi pelaksanaan standar pelayanan; r. mendapat tanggapan terhadap pengaduan yang diajukan; s. mendapat advokasi, perlindungan, dan/atau pemenuhan pelayanan; t. memberitahukan kepada pimpinan penyelenggara untuk memperbaiki pelayanan apabila pelayanan yang diberikan tidak sesuai dengan standar pelayanan; u. memberitahukan kepada Pelaksana untuk memperbaiki pelayanan apabila pelayanan yang diberikan tidak sesuai dengan standar pelayanan; v. mengadukan Pelaksana yang melakukan penyimpangan standar pelayanan dan/atau tidak memperbaiki pelayanan kepada Penyelenggara dan ombudsman; w. mengadukan Penyelenggara yang melakukan penyimpangan standar pelayanan dan/atau tidak memperbaiki pelayanan kepada pembina Penyelenggara dan ombudsman; dan x. mendapat pelayanan yang berkualitas sesuai dengan asas dan tujuan pelayanan. Pelayanan Khusus Pasal 29 (1)Penyelenggara berkewajiban memberikan pelayanan dengan perlakuan khusus kepada anggota masyarakat tertentu sesuai dengan peraturan perundang-undangan. . Kelima, Peraturan Menteri Kesehatan Nomor hk.02.02/menkes/095/1/2010 Tentang Penyelenggaraan Jaminan kesehatan. Pasal 1 yang dimaksud dengan jaminan kesehatan adalah salah satu bentuk perlindungan sosial di bidang kesehatan untuk menjamin agar memenuhi kebutuhan dasar kesehatan yang layak, bersifat pelayanan kesehatan menyeluruh (komprehensif) mencakup pelayanan promotif, preventif, serta kuratif dan rehabilitatif yang diberikan secara berjenjang dan dengan mutu yang terjamin serta pembayaran secara pra upaya, diselenggarakan dalam mekanisme asuransi sosial. Pasal 2 : jaminan kesehatan diselenggarakan dengan tujuan menjamin agar peserta dan atau keluarganya memperoleh manfaat jaminan kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan. Pasal 5 ayat (1) setiap orang dapat menjadi peserta jaminan kesehatan (2) peserta jaminan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari : d. Kelompok masyarakat miskin dan tidak mampu e. Kelompok pekerja formal ; dan f. Kelompok pekerja non formal. Pasal 7 ayat (1) pemerintah daerah kabupaten/kota menetapkan masyarakat miskin dan orang yang tidak mampu menjadi peserta jaminan kesehatan berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik. Ayat (5) Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah daerah Kabupaten/Kota dapat
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

74

memperluas kepesertaan dengan menetapkan daftar kepesertaan Penerima Bantuan Iuran Pemerintah Daerah Provinsi dan Penerima Bantuan Iuran Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. Atas dasar alasan dan landasan itulah, maka perlu dibentuk perda tentang pelayanan dan pengobatan gratis di kabupaten Sumbawa Barat.

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

75

BAB VI GAGASAN MATERI RAPERDA TENTANG KESEHATAN GRATIS


A. MATERI MUATAN RAPERDA Materi muatan rancangan peraturan daerah yang akan diatur adalah meliputi ; 6.1. Pengertian Umum Beberapa pengertian pokok dalam rancangan peraturan daerah tentang pelayanan dan pengobatan gratis, antara lain adalah ; a. Pelayanan Kesehatan Gratis selanjutnya disebut Pelayanan adalah pelayanan kesehatan dasar di Puskesmas dan Jaringannya dan pelayanan kesehatan rujukan tertentu yang biayanya ditanggung Pemerintah Daerah;. b. Peserta Program Pelayanan Kesehatan adalah seluruh penduduk Kabupaten Sumbawa Barat yang belum mempunyai jaminan kesehatan yang berasal dari program lain, yang terdaftar dan memiliki kartu identitas selanjutnya berhak mendapatkan pelayanan kesehatan. c. Unit Pelayanan Kesehatan selanjutnya disingkat UPK adalah unit-unit yang memberikan pelayanan kesehatan di Kabupaten Sumbawa Barat, yang meliputi Puskesmas dan jaringannya serta pelayanan kesehatan Rumah Sakit Umum. d. Standar Pelayanan Minimal yang selanjutnya disebut SPM adalah ketentuan tentang jenis dan mutu pelayanan dasar yang merupakan urusan wajib daerah yang berhak diperoleh setiap warga secara minimal. e. Rawat Jalan Tingkat Pertama selanjutnya disebut RJTP adalah kegiatan fungsional yang dilakukan oleh petugas medik atau petugas kesehatan lain yang melayani berbagai jenis pelayanan kesehatan rawat jalan yang dilaksanakan di puskesmas dan jaringannya. f. Rawat Inap Tingkat Pertama selanjutnya RITP adalah kegiatan fungsional yang dilakukan oleh petugas medik atau petugas kesehatan lain yang melayani berbagai jenis pelayanan kesehatan rawat inap yang dilaksanakan di puskesmas dan jaringanya. g. Rawat Jalan Tingkat Lanjutan selanjutnya RJTL adalah kegiatan fungsional yang dilakukan oleh petugas medik atau petugas kesehatan lain yang melayani berbagai jenis pelayanan kesehatan rawat jalan yang dilaksanakan di rumah sakit dan jaringannya. Asas-Asas Pelayanan Kesehatan Gratis Pelayanan kesehatan gratis diselenggarakan berdasarkan asas ; a. Kepentingan Umum Yang dimaksud dengan asas kepentingan umum adalah Pemberian pelayanan kesehatan gratis yang memprioritaskan penduduk KSB yang belum memiliki jaminan asuransi kesehatan, dalam asas ini pelaksana pelayanan kesehatan tidak dibolehkan untuk mengutamakan kepentingan pribadi dan atau golongan atau hubungan kedekatan kekeluargaan dalam pemberian pelayanan kesehatan. b. Kesamaan hak Yang dimaksud dengan asas kesamaan hak bahwa dalam pemberian pelayanan kesehatan tidak dibolehkan untuk membedakan suku, ras,
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

6.2.

76

agama, golongan, gender, dan atau status ekonomi dan sosial, petugas pelayanan kesehatan harus memperhatikan dan memprioritaskan kebutuhan dan akses pelayanan kesehatan gratis bagi fakir miskin. c. Profesional Yang dimaksud dengan asas profesional adalah bahwa dalam pengelolaan program dan pemberian pelayanan kesehatan gratis pelaksana pelayanan kesehatan memiliki kompetensi atau keahlian yang memadai sesuai dengan bidang tugas dan fungsinya. d. Transparansi Yang dimaksud dengan asas transpransi adalah bahwa dalam pengelolaan program pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga pertanggungjawaban penyelenggaraan pelayanan kesehatan gratis dilakukan secara terbuka, baik berkaitan dengan lingkup pelayanan, prosedur pelayanan, maupun jenis pelayanan yang diberikan kepada masyarakat. e. Akuntabilitas Publik Yang dimaksud dengan asas akuntabilitas publik adalah bahwa dalam pengelolaan program dan penyelenggaraan pelayanan kesehatan gratis yang diberikan dapat dipertanggung jawabkan (akuntabel), baik dari aspek perencanaan, pelaksanaan, pelayanan maupun aspek kesehatan. f. Partisipatif Yang dimaksud dengan asas partisipatif adalah bahwa dalam pengelolaan program, khususnya perencanaan program pelayanan kesehatan gratis melibatkan masyarakat dan ada peningkatan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan dengan memperhatikan aspirasi, kebutuhan, dan harapan masyarakat g. Kepastian Hukum Yang dimaksud dengan asas kepastian hukum bahwa dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan gratis berdasarkan atas peraturan perundang-undangan yang berlaku dan adanya jaminan dan perlindungan terhadap hak dan kewajiban dalam pelayanan kesehatan, baik bagi penerima layanan maupun petugas layanan kesehatan h. Inovatif Yang dimaksud dengan asas inovatif adalah bahwa dalam pengelolaan program dan penyelenggaraan pelayanan kesehatan gratis yang diberikan kepada masyarakat harus terus ditingkatkan dengan memberikan inovasi yang baik untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. i. Cepat, cermat dan akurat Yang dimaksud dengan asas cepat, cermat, akurat adalah bahwa penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang diberikan dilakukan secara cepat tanpa mengabaikan kecermatan dan akurasi medis. j. Kendali mutu dan kendali biaya Yang dimaksud dengan asas kendali mutu dan kendali biaya adalah bahwa penyelenggaraan pelayanan kesehatan gratis yang dilaksanakan dapat dipertanggung jawabkan dari segi mutu atau kualitas dengan pengelolaan dan pembiayaan yang efektiv dan efisien. k. Ketepatan waktu Yang dimaksud dengan asas ketepatan waktu adalah penyelesaian setiap jenis pelayanan dilakukan tepat waktu sesuai dengan standar pelayanan kesehatan yang ditetapkan. l. Fasilitas dan perlakukan khusus bagi kelompok rentan

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

77

Bahwa yang dimaksud dengan fasilitas dan perlakuan khusus bagi kelompok rentan adalah pemberian kemudahan pelayanan kesehatan gratis bagi kelompok rentan, seperti fakir miskin, anak terlantar, lanjut usia sehingga tercipta keadilan dalam pelayanan kesehatan gratis. 6.3. Tujuan Pelayanan Kesehatan Gratis Tujuan umum dari penyelenggaraan pelayanan kesehatan gratis adalah untuk memberikan dan meningkatkan akses, mendorong adanya pemerataan dan peningkatan mutu pelayanan kesehatan di KSB guna tercapainya derajat kesehatan masyarakat KSB untuk mencapai peradaban yang fitrah. Yang dimaksud dengan peradaban yang fitrah adalah suatu peradaban yang menunjukkan tingkat kemajuan masyarakat, khusus untuk kemajuan masyarakat di bidang kesehatan ditunjukkan dengan meningkatnya derajat kesehatan masyarakat. Secara khusus penyelenggaraan pelayanan kesehatan gratis ini adalah untuk : a. meningkatkan akses pelayanan kesehatan ; b. meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal; c. membantu meringankan beban biaya pelayanan kesehatan; d. meningkatkan cakupan layanan kesehatan di Puskesmas beserta jaringannya dan pada Rumah Sakit rujukan milik Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat dan Rumah Sakit lain yang telah ditunjuk; e. meningkatnya kualitas serta mutu pelayanan kesehatan masyarakat Kabupaten Sumbawa Barat; f. meningkatkan pemerataan pelayanan kesehatan masyarakat Kabupaten Sumbawa Barat; g. menyediakan pembiayaan pelayanan kesehatan dengan pola Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat di Kabupaten Sumbawa barat. Sasaran Program Pelayanan Kesehatan Gratis Sasararan penerima program pelayanan kesehatan gratis ini adalah Warga Negara Indonesia Penduduk Kabupaten Sumbawa Barat. Prioritas utama dari penerima program adalah berasal dari masyarakat fakir miskin atau tidak mampu, anak terlantar, lanjut usia dan kelompok rentan lainnya yang belum memiliki jaminan asuransi kesehatan masyarakat. Untuk dapat memperoleh program pelayanan kesehatan gratis, maka Warga Negara Indonesia Penduduk Kabupaten Sumbawa Barat tersebut harus memenuhi syarat, adapun syarat tersebut antara lain adalah meliputi; a. Penduduk Kabupaten Sumbawa Barat ; Untuk membuktikan bahwa seseorang adalah Penduduk KSB maka harus dibuktikan dengan Kartu Tanda Penduduk (KTP) b. Berpendapatan/penghasilan rendah ; Setiap Penduduk yang memiliki pendapatan yang rendah atau kurang untuk memenuhi kebutuhan dasar, adalah prioritas utama penerima program. Untuk membuktikan jumlah pendapatan yang dihasilkan setiap bulan/hari, maka ditunjukkan dengan slip gaji/penghasilan dari instansi/perusahaan, apabila tidak memiliki slip gaji, seperti pekerja buruh tani atau pekerjaan sektor informal lainnya dapat dengan Surat Pernyataan yang dibuat oleh yang bersangkutan, dan Surat keterangan penghasilan tersebut kemudian diketahui atau disetujui oleh Pemerintah Desa/Kelurahan Setempat c. Tidak memiliki jaminan Asuransi Kesehatan

6.4.

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

78

Penduduk yang bersangkutan membuat Surat Pernyataan yang dibubuhi tanda tangan diatas materai, dan surat pernyataan tersebut kemudian disetujui/diketahui oleh pemerintah desa/kelurahan setempat. 6.5. Cakupan Pelayanan Kesehatan Gratis Apasajakah yang diberikan dalam program pelayanan kesehatan gratis?, Cakupan dan ruang lingkup pelayanan kesehatan gratis, meliputi ; a. pelayanan kesehatan dasar di Puskesmas dan jaringannya serta ; b. pelayanan rujukan spesialistik di Rumah Sakit Daerah Kabupaten Sumbawa Barat ; dan atau c. Rumah Sakit Umum Daerah yang ditunjuk oleh Pemerintah Daerah. Pelayanan rujukan di RSUD Kabupaten Sumbawa Barat memang belum dapat dilaksanakan saat ini, karena belum ada RSUD KSB, untuk mengantisipasi keberadaan RSUD KSB nantinya, maka perlu tetap dicantumkan cakupan pelayanan di RSUD, sehingga apabila nanti proses pembangunan gedung RSUD KSB selesai dan dapat dioperasionalkan tidak lagi melakukan perubahan terhadap cakupan pelayanan kesehatan gratis yang telah ditetapkan dalam Peraturan Daerah ini nantinya. Adapun jenis-jenis pelayanan kesehatan gratis yang diberikan pemerintah daerah KSB adalah meliputi; a. Rawat Jalan Tingkat Pertama (RJTP); Pelayanan rawat jalan tingkat pertama ini berlaku pada Puskesmas dan jaringannya. Adapun Jenis Pelayanan Rawat Jalan Tingkat Pertama (RJTP), meliputi : - Pendaftaran. - Pemeriksaan dan konsultasi kesehatan, - Pelayanan pengobatan dasar, umum dan gigi, - Tindakan medis sederhana, - Pelayanan kesehatan ibu dan anak, termasuk pemeriksaan ibu hamil dan ibu nifas, - Imunisasi, - Pelayanan KB, - Pelayanan laboratorium sederhan dan penunjang lainnya, b. Rawat Inap Tingkat Pertama (RITP); Pelayanan rawat inap tingkat pertama ini berlaku pada Puskesmas Perawatan dan rawat inap tingkat lanjutan kelas III (tiga) pada Rumah Sakit Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat dan atau Rumah Sakit lain yang telah ditunjuk oleh Pemerintah Daerah KSB. Adapun jenis Pelayanan Rawat Inap Tingkat Pertama (RITP) ini meliputi : - Pelayanan perawatan pasien, - Persalinan normal dan perawatan nifas, - Tindakan medis yang dibutuhkan, - Pemberian obat-obatan (generik), - Pemeriksaan laboratorium dan penunjang medis lainnya, - Perawatan perbaikan gizi buruk; c. Rawat Inap Tingkat Lanjutan (RITL); Pelayanan rawat inap tingkat lanjutan berlaku pada kelas III (tiga) Rumah Sakit Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat dan atau Rumah Sakit lain yang telah ditunjuk Pemda KSB. Adapun Jenis Pelayanan Rawat Inap Tingkat Lanjutan (RITL), meliputi :

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

79

d.

e.

f.

akomodasi rawat inap kelas III, konsultasi kesehatan, Pemeriksaan fisik dan penyuluhan kesehatan; penunjang diagnostik : laboratorium klinik, patologi anatomi, radiologi dan elektromedik; - operasi sedang dan berat; - pelayanan rehabilitasi medis; - perawatan intensif (ICU, ICCU, PICU, NICU, PACU); - pemberian obat (obat generik); - pelayanan darah (3 bag/kantong); - bahan dan alat kesehatan habis pakai; - persalinan dengan resiko tinggi dan penyulih. Rawat Jalan Tingkat Lanjutan (RJTL) melalui poliklinik spesialis; Pelayanan rawat jalan tingkat lanjutan melalui poliklinik spesialis sebagaimana berlaku pada Rumah Sakit Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat dan Rumah Sakil lain yang telah ditunjuk. Adapun jenis pelayanan rawat jalan tingkat lanjutan (RJTL) melalui poliklinik spesialis, meliputi : - konsultasi kesehatan, pemeriksaan fisik dan penyuluhan kesehatan oleh dokter spesialis atau umum; - rehabilitas medis; - penunjang diagnostik, laboratorium klinik, radiologi dan elektromedik; - tindakan medis kecil dan sedang; - pemeriksaan dan pengobatan gigi lanjutan; - pelayanan KB, termasuk kontap aktif, kontap pasca persalinan/keguguran, penyembuhan efek samping dan komplikasinya; - pemberian obat (obat generik); - pelayanan darah (3 bag/kantong); - pemeriksaan kehamilan dengan resiko tinggi dan penyulih. Pelayanan Kesehatan Luar Gedung; Pelayanan kesehatan luar gedung berlaku untuk pemeriksaan dasar kesehatan pada Puskesmas Keliling, Pos Pelayanan Terpadu (posyandu) / Pos Kesehatan Desa (poskesdes) dan Pos Kesehatan Pesantren (poskestren) serta pelayanan kesehatan melalui kunjungan rumah bagi pasien pasca rawat inap (home care). Adapun jenis pelayanan kesehatan luar gedung, meliputi; - perawatan rawat jalan melalui Puskesmas Keliling - perawatan kesehatan pada posyandu/poskesdes dan poskestren; - pelayanan kesehatan melalui kunjungan rumah bagi pasien pasca rawat inap (home care); - penyuluhan kesehatan; - imunisasi; - pelayanan ibu hamil melalui berbagai kegiatan/program; - surveilans penyakit dan surveilans gizi; - pelayanan nifas; - kegiatan sweeping; - fogging (pengasapan), pemberantasan sarang nyamuk (PSN) Pelayanan Gawat Darurat. Pelayanan gawat darurat (emergency) berlaku pada seluruh unit pelayanan kesehatan milik Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat dan Rumah Sakit lain yang telah ditunjuk, jenis pelayanan yang diberikan adalah meliputi ; kegiatan puskesmas termasuk penanganan obstetri neonatal. -

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

80

6.6. Administrasi kepesertaan, prosedur pelayanan, dan perilaku pelaksana pelayanan kesehatan gratis a. Administrasi Kepesertaan Untuk dapat memperoleh pelayanan kesehatan gratis, maka setiap penduduk Kabupaten Sumbawa Barat yang memenuhi syarat sebagai peserta program, berhak dan harus memiliki Kartu Peserta Pelayanan Kesehatan Gratis (KPPKGratis) dari Pemerintah Daerah. Kartu ini sebagai Kartu Asuransi sekaligus bukti bahwa penduduk yang bersangkutan telah tercatat sebagai peserta penerima program pelayanan kesehatan gratis dari pemda. Dan untuk mendapatkan kartu tersebut, maka penduduk yang bersangkutan harus memenuhi persyaratan, secara administratif syarat tersebut meliputi ; - memiliki Surat Keterangan Miskin dari Kepala Desa/Kelurahan yang telah disetujui oleh BPD dan disahkan oleh Pemerintah Kecamatan Setempat; - memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) Kabupaten Sumbawa Barat - memiliki Kartu Keluarga (KK) Kabupaten Sumbawa Barat; - memiliki Surat Keterangan belum/tidak memiliki jaminan kesehatan asuransi dari Pemerintah Desa/Kelurahan setempat yang disahkan oleh Pemerintah Kecamatan setempat; - memiliki Surat Keterangan Penghasilan/Pendapatan dari RT setempat yang disahkan oleh Pemerintah Desa/Kelurahan setempat dan diketahui oleh Pemerintah Kecamatan Apabila didalam pelaksanaan pemberian layanan kesehatan gratis di lapangan menemukan adanya penduduk yang memenuhi syrarat sebagai peserta, namun karena sesuatu hal belum memiliki Kartu Asuransi Kesehatan Gratis, maka Petugas Pelayanan berdasarkan rekomendasi atau keterangan dari pemerintahan desa/kelurahan setempat, dapat memberikan pelayanan kesehatan gratis, sepanjang dari hasil verifikasi yang dilakukan membuktikan bahwa memang benar penduduk yang bersangkutan belum terdata atau tercatat sebagai penerima program. Untuk kepentingan adminsitrasi, petugas kesehatan dapat meminta penduduk yang bersangkutan untuk menunjukkan bukti Kartu Tanda Penduduk (KTP) atau Kartu Keluarga (KK) atau Surat Keterangan Penduduk sebagai pengganti Kartu Peserta sementara. b. Prosedur Umum Pelayanan Kesehatan gratis Prosedur pemberian pelayanan kesehatan gratis, dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut : - Peserta layanan kesehatan gratis berkunjung ke Puskesmas atau jaringannya atau Rumah Sakit Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat atau Rumah Sakit yang telah ditunjuk - Peserta menunjukkan Kartu Peserta Layanan Kesehatan Gratis kepada Pelaksana Pelayanan Kesehatan - Petugas pelaksana pelayanan kesehatan gratis memberikan layanan kesehatan kepada peserta sesuai dengan standar pelayanan yang ditetapkan - khusus pelayanan kesehatan rujukan diberikan sesuai dengan identitas medis, selanjutnya dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan rujukan disertai surat rujukan dan kartu identitas yang ditunjukkan sejak awal sebelum mendapatkan pelayanan kesehatan; Apabila peserta tidak dapat menunjukkan Kartu Peserta atau identitas lain berupa Kartu Tanda Penduduk atau Kartu Keluarga atau Surat Keterangan

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

81

penduduk, karena adanya sesuatu hal, maka, peserta yang bersangkutan diberikan kesempatan waktu paling lama 2 x 24 jam untuk memenuhi persyaratan tersebut, dan apabila dalam batas waktu tersebut pasien atau keluarganya/kuasanya tidak dapat juga memenui persyaratan, maka segala biaya pelayanan kesehatan gratis tersebut ditanggung oleh pasien/keluarga bersangkutan. Sedangkan terhadap kasus tertentu, seperti dalam penanganan gawat darurat yang membutuhkan pelayanan/tindakan yang cepat, maka petugas kesehatan terlebih dahulu harus menangani pasien yang bersangkutan, dan peserta tidak diwajibkan untuk membawa atau menunjukkan surat rujukan terlebih dahulu. Hal ini untuk menghindari penanganan gawat darurat menjadi terhambat lantaran disebabkan ketiadaan Kartu.

c.

Perilaku Pelaksana Pelayanan Kesehatan gratis Perilaku para petugas pelayanan kesehatan gratis perlu diatur dalam peraturan daerah ini, untuk memastikan dan mengikat para pelaksana pelayanan kesehatan gratis bertindak sesuai dengan standar pelayanan kesehatan. perilaku yang diatur dalam perda ini meliputi keharusan untuk; - adil dan tidak diskriminatif; - cermat; - santun dan ramah; - tegas, andal, dan tidak memberikan putusan yang berlarut-larut; - profesional; - tidak mempersulit; - patuh pada perintah atasan yang sah dan wajar; - menjunjung tinggi nilai-nilai akuntabilitas dan integritas institusi penyelenggara; - terbuka dan mengambil langkah yang tepat untuk menghindari benturan kepentingan; - tidak menyalahgunakan sarana dan prasarana serta fasilitas pelayanan kesehatan; - tidak memberikan informasi yang salah atau menyesatkan dalam menanggapi permintaan pelayanan kesehatan, informasi serta proaktif dalam memenuhi kepentingan penerima pelayanan kesehatan; - tidak menyalahgunakan informasi, jabatan, dan/atau kewenangan yang dimiliki; - sesuai dengan kepantasan; dan - tidak menyimpang dari prosedur yang ditetapkan.

6.7.

Standar Pelayanan kesehatan Gratis Untuk menjaga mutu dan kualitas pelayanan kesehatan gratis, maka perlu ditetapkan standar pelayanan minimal atau SPM. Standar pelayanan minimal secara rinci diatur dalam peraturan bupati atau dinas terkait, sebagai kerangka acuan atau pedoman dalam pemberian pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis yang dilaksanakan di puskesmas dan jaringannya. Materi yang perlu diatur dalam standar pelayanan minimal tersebut, antara lain meliputi; - dasar hukum; - persyaratan; - sistem, mekanisme, dan prosedur; - jangka waktu penyelesaian;
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

82

6.8.

biaya/tarif (khusus biaya ambulance); produk pelayanan; sarana, prasarana, dan/atau fasilitas; kompetensi Pelaksana; pengawasan internal; penanganan pengaduan, saran, dan masukan; jumlah Pelaksana; jaminan pelayanan yang memberikan kepastian pelayanan kesehatan gratis dilaksanakan sesuai dengan standar pelayanan yang berlaku; jaminan keamanan dan keselamatan pelayanan dalam bentuk komitmen untuk memberikan rasa aman, bebas dari bahaya, dan risiko keragu-raguan; dan evaluasi kinerja Pelaksana.

Sistem Informasi Pelayanan Kesehatan Gratis Sistem Informasi Layanan Kesehatan Gratis perlu dibuat oleh Pemerintah daerah untuk mengetahui tingkat utilitas pengguna layanan kesehatan gratis, sekaligus memastikan penerima layanan kesehatan gratis, mengetahui jenis dan jumlah pasien dan penyakit yang diderita, mengetahui pembiayaan yang dikeluarkan di masing-masing unit pelayanan dan sebagainya. Secara teknis sistem informasi ini diatur lebih lanjut dengan peraturan bupati.

6.9.

Hak dan Kewajiban Hak kewajiban yang perlu diatur dalam perda adalah meliputi hak dan kewajiban peserta penerima program layanan kesehatan gratis dan hak dan kewajiban pemberi pelayanan kesehatan gratis. Disamping menyangkut maslaah hak dan kewajiban perda juga perlu mengatur tentang larangan bagi pelaksana pelayanan kesehatan gratis, misalnya adalah larangan untuk menggunakan fasilitas kendaraan ambulance untuk keperluan pribadi Pendanaan Pelayanan Dan Pengelolaan Fasilitas Pelayanan Kesehatan Gratis Pendanaan kesehatan gratis ditanggung atau dijamin oleh Pemerintah Daerah, dialokasikan dalam APBD. Sesuai dengan ketentuan perundang-undangan alokasi untuk sekitor kesehatan adalah sebesar 15% dari jumlah APBD, dari jumlah tersebut, alokasi anggaran kesehatan dialokasikan untuk sektor penyelenggaraan pelayanan dan pengobatan secara gratis. Untuk mendukung upaya peningkatan mutu/kualitas pelayanan kesehatan gratis, pemerintah daerah dapat menjalin kerjasama dengan pihak ketiga dalam pembiayaanya, pemerintah juga dapat melakukan retribusi terhadap masyarakat yang mampu untuk membayar biaya kesehatan, sehingga terjadi subsidi silang. Untuk menjamin masyarakat penerima layanan kesehatan gratis, pemerintah daerah dapat bekerjasama dengan pihak jasa asuransi, khusus untuk asuransi kesehatan adalah BUMN/BUMD yang ditunjuk oleh Pemerintah daerah. Kerjsama tersebut kemudian dituangkan dalam MOU dan secara teknis mengenai MOU tersebut diatur lebih lanjut dengan Keputusan/Peraturan Bupati.

6.10.

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

83

6.11.

Pembina, Penanggung Jawab, Pengawasan Dan Evaluasi Pelayanan Kesehatan Gratis Pembina penyelenggaraan kesehatan gratis adalah Bupati Sumbawa Barat, tugas dari pembina adalah melakukan pembinaan, melakukan pengawasan, dan ; melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan tugas dari penanggung jawab. Sedangkan Penanggung Jawab dari program pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis adalah Pimpinan Dinas Kesehatan atau atau pejabat yang memang ditunjuk Bupati. Tugas dari Penanggung jawab antara lain meliputi ; mengoordinasikan kelancaran penyelenggaraan pelayanan kesehatan gratis sesuai dengan standar pelayanan kesehatan, melakukan evaluasi penyelenggaraan pelayanan kesehatan gratis; dan elaporkan kepada pembina pelaksanaan penyelenggaraan pelayanan kesehatan gratis.Selaku penanggung jawab pelayanan kesehatan gratis bertugas: merumuskan kebijakan pelayanan kesehatan gratis, menyelesaikan permasalahan yang terjadi dalam pelayanan kesehatan gratis; dan melakukan pemantauan dan evaluasi kinerja pelaksana pelayanan kesehatan gratis . Sedangkan untuk pengawasan program pelayanan kesehatan gratis, dilakukan secara internal dan eksternal. Pengawasan internal penyelenggaraan pelayanan kesehatan dilakukan oleh atasan langsung sesuai dengan peraturan perundangundangan; dan pengawas fungsional sesuai dengan peraturan perundangundangan. Sedangkan pengawasan eksternal dilakukan oleh masyarakat berupa laporan atau pengaduan masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan gratis; dan Pengawasan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Untuk mengetahui tingkat keberhasilan dan memastikan program pelayanan kesehatan berjalan sesuai dengan peraturan daerah dan atau kebijakan yang telah ditetapkan, maka dilakukan evaluasi. Evaluasi dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan secara berkala yang merupkan leading sektor dari program pelayanan kesehatan gratis. Dari hasil evaluasi itulah, Dinas kesehatan melakukan perbaikan/penyempurnaan, termasuk meningkatkan kapasitas pelaksana pelayanan kesehatan gratis. Hasil laporan dari dinas tersebut kemudian dilaporkan atau diteruskan kepada Bupati Sumbawa Barat untuk mengambil langkah dan kebijakan selanjutnya untuk penyempurnaan program/kegiatan. Secara teknis mengenai tata cara evaluasi dan penyampaian laporan ini diatur dengan peraturan bupati.

6.12.

Pengaduan dan Penyelesaian Pengaduan Masyarakat Umpan balik (feedback) atas pelayanan kesehatan gratis berupa adanya mekanisme komplain atau tanggung gugat atas pelayanan publik perlu diatur dalam Peraturan Daerah. Sebelumnya dalam Perbup pemerintah daerah juga menyediakan mekanisme komplain, namun tidak jelas pengaturannya. Dalam peraturan daerah yang perlu diatur antara lain adalah, meliputi; sarana pengaduan layanan, mekanisme atau prosedur mekanisme komplain, batas waktu penyelesaian, lembaga yang menangani komplain, dan secara rinci penjabaran mengenai lembaga komplain di atur lebih lanjut dengan Peraturan Bupati. Materi yang diatur dalam Perbup tersebut sekurang-kurangnya mengatur tentang : - prosedur pengelolaan pengaduan; - penentuan Pelaksana yang mengelola pengaduan; - prioritas penyelesaian pengaduan; - pelaporan proses dan hasil pengelolaan pengaduan kepada atasan pelaksana;
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

84

rekomendasi pengelolaan pengaduan; penyampaian hasil pengelolaan pengaduan kepada pihak terkait; pemantauan dan evaluasi pengelolaan pengaduan; dokumentasi dan statistik pengelolaan pengaduan; dan pencantuman nama dan alamat penanggung jawab serta sarana pengaduan yang mudah diakses.

6.13.

Penyidikan Dan Sanksi Pidana Penyidikan terhadap pelanggaran atas peraturan daerah ini akan dilakukan oleh penyidik, penyidik tersebut berasal dari pejabat Polisi Negara Republik Indonesia ; dan pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh undang-undang, adapun wewenang penyidik antara lain meliputi ; - menerima laporan atau pengaduan dari seseorang tentang adanya tindak pidana; - melakukan tindakan pertama pada saat di tempat kejadian; - menyuruh berhenti seorang tersangka dan memeriksa tanda pengenal diri tersangka; - melakukan penangkapan, penahanan, penggeledahan dan penyitaan ; - melakukan pemeriksaan dan penyitaan surat; - mengambil sidik jari dan memotret sesorang; - memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi; mendatangka orang ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan pemeriksaan perkara; - mengadakan penghentian penyidikan; Pelanggaraan atas perda ini diancam pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau denda paling banyak Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah). Disamping terdapat sanksi pidana, juga terdapat sanksi administrasi , dapat diberikan dalam bentuk sanksi kepegawaian atau tuntutan ganti rugi. Ketentuan Peralihan Pada saat diundangkanya Peraturan Daerah ini penyelanggaraan program kesehatan gratis yang sedang berjalan efektif dengan dasar Peraturan Bupati Nomor 9 Tahun 2006 tentang Pedoman pnyelenggaraan pelayanaan/pengobatan gratis di Puskesmas dan jaringannya yang dijamin oleh Pemerintah daerah dinyatakan tidak berlaku, dan selambat-lambatnya 1 tahun sejak Peraturan Daerah ditetapkan pelaksana pelayanan kesehatan gratis menyesuaikan dengan ketentuan perda ini. Ketentuan Penutup Ketentuan lebih lanjut untuk mendukung pelaksanaan program pelayanan kesehatan gratis akan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Bupati dan agar setiap orang mengetahuinya, pengundangan Peraturan Daerah ditempatkan dalam Lembaran Daerah Kabupaten Sumbawa Barat SISTEMATIKA RAPERDA Sistematika Rancangan Peraturan Daerah tentang pelayanan Kesehatan dan pengobatan gratis, yang perlu diatur meliputi; Bab I Ketentuan Umum Bab II Asas dan Tujuan Bab III Sasaran dan Ruang Lingkup Pelayanan Bab IV Administrasi Kepesertaan, Prosedur Pelayanan dan perilaku Pelaksana Pelayanan Kesehatan
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

6.14.

6.15.

B.

85

Bab V Bab VI Bab VII Bab VIII Bab IX Bab X Bab XI Bab XII

Standar Pelayanan dan Sistem Informasi Pelayanan Kesehatan Gratis Hak dan Kewajiban Pendanaan Pelayanan Kesehatan Gratis Pembina, Penanggung Jawab, Pengawasan dan evaluasi Pelayanan Ksehatan Pengaduan dan Penyelesaian Pengaduan Masyarakat Penyidikan dan Sanksi Pidana Ketentuan Peralihan Ketentuan Penutup

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

86

LAMPIRAN

PEMERINTAH KABUPATEN SUMBAWA BARAT


PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMBAWA BARAT NOMOR ............ TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN PELAYANAN KESEHATAN GRATIS DI KABUPATEN SUMBAWA BARAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KABUPATEN SUMBAWA BARAT,
Menimbang : bahwa untuk meningkatkan kesejahteraan sosial masyarakat Sumbawa Barat serta menjamin akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pemerintah Daerah Sumbawa barat perlu untuk menyediakan jaminan kesehatan dan pelayanan kesehatan secara gratis, berkualitas dan berkelanjutan; b. bahwa penyelenggaraan kesehatan gratis yang berkualitas, dan berkelanjutan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dilaksanakan dalam bentuk pemberian jaminan asuransi kesehatan dan pelayanan kesehatan secara gratis di Puskesmas dan jaringannya yang peruntukkanya diprioritaskan untuk penduduk yang belum memiliki asuransi kesehatan, khususnya adalah penduduk miskin, usia lanjut, anak terlantar dan masyarakat rentan lainnya ; c. bahwa program pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis di Puskesmas dan Jaringannya sebagaimana yang telah ditetapkan dalam Peraturan Bupati Sumbawa Barat Nomor 9 tahun 2006, menemukan kelemahan dan tantangan, serta kurang sesuai dengan dinamika, kebutuhan dan perkembangan masyarakat saat ini dan di masa mendatang; d. bahwa untuk dapat menyelengggarakan pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis yang berkualitas dan berkelanjutan dimasa mendatang diperlukan Peraturan Daerah sebagai dasar pedoman pelaksanaan program pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis ; e. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, b, c, dan d, dipandang perlu untuk segera membentuk Peraturan Daerah Tentang Penyelenggaraan Kesehatan Gratis di Kabupaten Sumbawa Barat 87 a.

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

Mengingat

1. 2. 3.

4.

5.

6.

7.

8. 9.

10.

11.

12.

Pasal 20, Pasal 28H dan Pasal 34 Undang-Undang Dasar Negara RepubIik Indonesia Tahun 1945; Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 165, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3886); Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Sumbawa Barat di Propinsi Nusa Tenggara Barat (Lembaran Negara Republik Indonesia (Lembaran Negara Tahun 2003 Nomor 145, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4340); Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4389); Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421); 5. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437), sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844); Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844); Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438); Undang_undang Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktek Kedokteran (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 116, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4431) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 150, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4456); Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2005 tentang Pengesahan International Covenant on Economic, Social, and Cultural Rights (Kovenan Internasional tentang HakHak Ekonomi, Sosial, dan Budaya) (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 118, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4557); Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 Tentang Pelayanan Publik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 112, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5038) ; Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 88

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

13.

14.

15.

16.

17.

18. 19. 20. 21.

2009 Tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144,1tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5063) Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 153, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5072) Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140,Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4578); Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 150, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4585); Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesa Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737); Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007; Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara No Per/20/M.PAN/04/2006 tentang Pedoman Penyusunan Standard Pelayanan Masyarakat/Publik Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 574/Menkes/SK/IV/2000 tentang Pembangunan Kesehatan Menuju Indonesia Sehat 2010; Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 131/Menkes/SK/II/2004 tentang Sistem Kesehatan Nasional; Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1091/2004 tentang Petunjuk Teknis Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota.

Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN SUMBAWA BARAT dan BUPATI SUMBAWA BARAT MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN DAERAH PENYELENGGARAAN PELAYANAN KESEHATAN GRATIS DI KABUPATEN SUMBAWA BARAT BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Daerah ini, yang dimaksud dengan : 1. Pemerintah Pusat selanjutnya disebut Pemerintah, adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan Negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 2. Pemerintah Daerah adalah Bupati dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah.
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

89

3. 4. 5. 6.

7. 8.

9. 10.

11.

12.

13.

Kabupaten adalah Kabupaten Sumbawa Barat. Bupati adalah Bupati Sumbawa Barat. Kepala Dinas adalah Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat. Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Layanan Kesehatan adalah pelayanan yang diberikan oleh Tenaga Kesehatan Tenaga kesehatan selanjutnya disebut Pelaksana Kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan. Penyelanggara pelayanan kesehatan gratis selanjutanya disebut penyelenggara kesehatan adalah Dinas Kesehatan Pelayanan Kesehatan Gratis selanjutnya disebut dengan pelayanan adalah pelayanan kesehatan dasar di Puskesmas dan Jaringannya yang pembiayaannya ditanggung atau dijamin Pemerintah Daerah;. Peyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Gratis adalah pengelolaan pelayanan kesehatan yang diberikan oleh Pemerintah Daerah dan perangkatnya di Puskesmas dan jaringannya yang dilakukan secara terpadu, terintegrasi, sinergi, holistik, berkualitas dan berkelanjutan Peserta Pelayanan Kesehatan Gratis adalah setiap penduduk Kabupaten Sumbawa Barat yang memenuhi syarat sebagai peserta penerima layanan kesehatan gratis Pasien adalah setiap orang yang melakukan konsultasi masalah kesehatannya untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang diperlukan, baik secara langsung maupun tidak langsung di Rumah Sakit maupun di Puskesmas dan jaringannya

14. Jaminan Kesehatan Masyarakat adalah jaminan asuransi kesehatan yang diberikan oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah kepada penduduk yang memenuhi syarat sebagai peserta jaminan asuransi kesehatan 15. Fasilitas pelayanan kesehatan adalah suatu alat dan/atau tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan, baik promotif, preventif, kuratif maupun rehabilitatif yang dilakukan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau masyarakat. 16. Obat adalah bahan atau paduan bahan, termasuk produk biologi yang digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan dan kontrasepsi, untuk manusia. 17. Asuransi kesehatan adalah asuransi yang diberikan oleh pemerintah daerah, pemerintah dan atau pihak swasta 18. Unit Pelayanan Kesehatan selanjutnya disingkat UPK adalah unit-unit yang memberikan pelayanan kesehatan di Kabupaten Sumbawa Barat, yang meliputi Puskesmas dan jaringannya seta pelayanan kesehatan Rumah Sakit Umum. 19. Pengalokasian Dana adalah pendistribusian dana untuk penyelenggaraan upaya pelayanan kesehatan mulai dari kabupaten, kecamatan, dan desa/kelurahan. 20. Verifikasi adalah kegiatan penilaian adminstrasi klaim dan Tim Pengendali yang diajukan oleh Unit Pelayanan Kesehatan dengan mengacu pada standar penilaian klaim. 21. Standar Pelayanan Minimal yang selanjutnya disebut SPM adalah ketentuan tentang jenis dan mutu pelayanan dasar yang merupakan urusan wajib daerah yang berhak diperoleh setiap warga secara minimal.

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

90

22. Pelayanan kesehatan tingkat pertama adalah pelayanan kesehatan perorang yang bersifat umum yang meliputi pelayanan rawat jalan tingkat pertama dan rawat inap tingkat pertama 23. Rawat Jalan Tingkat Pertama selanjutnya disebut RJTP adalah pelayanan kesehatan perorangan yang bersifat umum yang dilaksanakan pada pemberi pelayanan kesehatan tingkat pertama untuk keperluan observasi, diagnosis, pengobatan, dan atau pelayanan kesehatan lainnya. 24. Rawat Inap Tingkat Pertama selanjutnya RITP adalah pelayanan kesehatan perorangan yang bersifat umum dan dilaksanakan di puskesmas perawatan untuk keperluan observasi, perawatan, diagnosis, pengobatan, dan atau pelayanan medis lainnya, dimana peserta dan atau anggota keluarganya dirawat inap paling singkat 1 (satu) hari. 25. Pelayanan kesehatan tingkat lanjutan adalah upaya pelayanan kesehatan perorangan yang bersifat spesialistik atau sub spesialistik yang meliputi rawat jalan tingkat lanjutan, rawat inap tingkat lanjutan, dan rawat inap di ruang perawatan khusus. 26. Rawat jalan tingkat lanjutan selanjutnya RJTL adalah pelayanan kesehatan perorangan yang bersifat spesialistik atau sub spesialistik dan dilaksanakan pada pemberi pelayanan kesehatan ttingkat lanjutan sebagai rujukan dari pemberi pelayanan kesehatan tingkat pertama, untuk keperluan observasi,diagnosis, pengobatan, rehabilitasi medis, dan atau pelayanan medis lainnya termasuk konsultansi psikologi tanpa menginap di ruang perawatan 27. Rawat inap tingkat lanjutan selanjutnya di singkat RITL adalah pelayanan kesehatan perorangan yang bersifat spesialistik atau sub spesialistik untuk keperluan observasi, perawatan, diagnosis, pengobatan, rehabilitasi medis dan atau pelayanan medis lainnya termasuk konsultasi psikologi yang dilaksanakan pada pemberi pelayanan kesehatan tingkat lanjutan dimana peserta atau anggota keluarganya dirawat inap di ruang perawatan paling singkat 1 (satu) hari. 28. Gawat Darurat adalah keadaan klinis pasien yang membutuhkan tindakan medis segera guna penyelamatan nyawa dan pencegahan kecacatan lebih lanjut. 29. Pelayanan di unit gawat darurat adalah pelayanan kesehatan tingkat lanjutan yang harus diberikan secepatnya untuk mengurangi risiko kematian atau cacat, tanpa memperhitungkan jumlah kunjungan dan pelayanan yang diberikan kepada peserta atau anggota keluarganya. 30. Tindakan medis adalah tindakan yang bersifat operatif dan non operatif yang dilaksanakan baik untuk tujuan diagnostik maupun pengobatan 31. Rehabilitasi medik adalah pelayanan yang diberikan untuk pemeliharaan kesehatan peserta dalam bentuk fisoterapi, terapi okupasi, terapi wicara dan bimbingan sosial medik. 32. Rumah Sakit adalah rumah sakit milik pemerintah daerah atau rumah sakit yang menjalin kerjasama dengan pemerintah daerah dalam program pelayanan kesehatan gratis, yaitu Rumah Sakit Umum Kelas A, Kelas B, Kelas C dan Kelas D yang memberikan pelayanan kesehatan atau menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat. 33. Puskesmas atau Pusat Kesehatan Masyarakat adalah unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten sumbawa barat yang bertanggungjawab dalam menyelenggarakan pembangunan kesehatan di satu atau sebagian wilayah. 34. Puskesmas Pembantu Pengertian puskesmas pembantu yaitu Unit pelayanan kesehatan yang sederhana dan berfungsi menunjang dan membantu melaksanakan kegiatan-kegiatan yang dilakukan puskesmas dalam rung lingkup wilayah yang lebih kecil
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

91

BAB II ASAS DAN TUJUAN Pasal 2 Pelayanan kesehatan gratis diselenggarakan berdasarkan asas : m. Kepentingan Umum n. Kesamaan hak o. Profesional p. Transparansi q. Akuntabilitas Publik r. Partisipatif s. Kepastian Hukum t. Inovatif u. Cepat, cermat dan akurat v. Kendali mutu dan kendali biaya w. Ketepatan waktu x. Fasilitas dan perlakukan khusus bagi kelompok rentan Pasal 3 (2) Tujuan umum pelayanan kesehatan gratis bertujuan untuk meningkatkan akses pelayanan kesehatan, meningkatkan pemerataan dan mutu pelayanan kesehatan yang berkualitas guna tercapainya derajat kesehatan masyarakat serta tercapainya masyarakat Sumbawa Barat berperadaban fitrah yang maju. (3) Tujuan khusus penyelenggaraan pelayanan kesehatan gratis adalah: h. meningkatkan akses dan pemerataan pelayanan kesehatan, khususnya bagi masyarakat fakir miskin, daerah terpencil, anak terlantar, usia lanjut, dan kelompok masyarakat rentan lainnya; i. membantu meringankan atau mengurangi beban biaya pelayanan kesehatan, khususnya bagi masyarakat fakir miskin, anak terlantar, usia lanjut dan kelompok masyarakat rentan; j. meningkatkan cakupan layanan kesehatan di Puskesmas beserta jaringannya dan pada Rumah Sakit rujukan milik Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat dan Rumah Sakit lain yang telah ditunjuk; k. meningkatnya kualitas atau mutu pelayanan kesehatan bagi masyarakat, khususnya masyarakat fakir miskin, daerah terpencil, anak terlantar, usia lanjut dan kelompok masyarakat rentan lainnnya di Kabupaten Sumbawa Barat; l. meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal untuk mewujudkan Sumbawa Barat Sehat Pasal 4 (1) Untuk mencapai tujuan sebagaimana dimaksud pada pasal 3 ayat (1) dan ayat (2) pemerintah daerah wajib menyediakan anggaran atau pembiayaan pelayanan kesehatan kepada setiap penduduk yang telah memenuhi syarat sebagai peserta layanan kesehatan gratis. (2) Pembiayaan pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diberikan dalam bentuk program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (3) Program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan dalam bentuk jaminan asuransi kesehatan BAB III
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

92

SASARAN PESERTA LAYANAN Bagian Pertama Sasaran Pasal 5 (1) Sasararan peserta layanan kesehatan gratis adalah seluruh penduduk Kabupaten Sumbawa Barat yang belum memiliki asuransi kesehatan. (2) Sasaran layanan kesehatan gratis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diutamakan dan diprioritaskan terlebih dahulu untuk fakir miskin, anak terlantar, usia lanjut, dan kelompok masyarakat rentan lainnya. Pasal 6 (1) Syarat untuk memperoleh layanan kesehatan gratis sebagaimana dimaksud dalam pasal 5, adalah : a. Penduduk Kabupaten Sumbawa Barat; b. Berpendapatan/penghasilan rendah; c. Tidak memiliki jaminan asuransi kesehatan. (2) Syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dibuktikan dengan Kartu Tanda Penduduk dan Kartu Keluarga (3) Syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dibuktikan dengan Surat keterangan penghasilan dari instansi atau perusahaan dan diketahui/disetujui oleh pemerintah desa/kelurahan setempat atau surat pernyataan yang dibuat oleh calon penerima layanan kesehatan gratis bagi penduduk yang belum bekerja yang dibubuhi materai dan disetujui oleh pemerintah desa/kelurahan setempat. (4) Syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dibuktikan dengan surat pernyataan dari yang bersangkutan dan surat keterangan dari pemerintah desa/kelurahan setempat. BAB IV CAKUPAN DAN RUANG LINGKUP PELAYANAN KESEHATAN Bagian Pertama Jenis Pelayanan Pasal 6 (1) Cakupan dan ruang lingkup layanan kesehatan gratis, meliputi : d. pelayanan kesehatan dasar di Puskesmas dan jaringannya serta ; e. pelayanan rujukan spesialistik di Rumah Sakit Daerah Kabupaten Sumbawa Barat ; dan atau f. Rumah Sakit Umum Daerah yang ditunjuk oleh Pemerintah Daerah. (2) Jenis-jenis pelayanan kesehatan gratis sebagaimana dimaksud pada ayat (1), meliputi ; g. rawat jalan tingkat pertama (RJTP); h. rawat inap tingkat pertama (RITP); i. rawat inap tingkat lanjutan (RITL); j. rawat jalan tingkat lanjutan (RJTL) melalui poliklinik spesialis; k. pelayanan kesehatan luar gedung; dan l. pelayanan gawat darurat. Pasal 7 (1) Pelayanan Rawat Jalan Tingkat Pertama (RJTP) sebagimana dimaksud dalam pasal 6 ayat (2) huruf a, berlaku pada Puskesmas dan jaringannya. (2) Jenis pelayanan kesehatan gratis yang diberikan pada layanan Rawat Jalan Tingkat Pertama (RJTP), meliputi :

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

93

a. b. c. d. e. f. g. h.

Pendaftaran; Pemeriksaan dan konsultasi kesehatan; Pelayanan pengobatan dasar, umum dan gigi; Tindakan medis sederhana; Pelayanan kesehatan ibu dan anak, termasuk pemeriksaan ibu hamil dan ibu nifas; Imunisasi; Pelayanan KB; Pelayanan laboratorium sederhan dan penunjang lainnya. Pasal 8

(1) Pelayanan Rawat Inap Tingkat Pertama (RITP) sebagaimana dimaksud dalam pasal 6 ayat (2) huruf b berlaku pada Puskesmas Perawatan dan Rawat Inap Tingkat Lanjutan Kelas III (tiga) pada Rumah Sakit Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat dan atau Rumah Sakit lain yang telah ditunjuk oleh Pemerintah Daerah. (2) Jenis pelayanan kesehatan gratis yang diberikan pada Pelayanan Rawat Inap Tingkat Pertama (RITP), meliputi : b. Pelayanan perawatan pasien; c. Persalinan normal dan perawatan nifas; d. Tindakan medis yang dibutuhkan; e. Pemberian obat-obatan (generik); f. Pemeriksaan laboratorium dan penunjang medis lainnya; g. Perawatan perbaikan gizi buruk. Pasal 9 (1) Pelayanan Rawat Inap Tingkat Lanjutan (RJTL) sebagaimana dimaksud dalam pasal 6 pada ayat (1) huruf c berlaku pada kelas III (tiga) Rumah Sakit Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat dan Rumah Sakit lain yang telah ditunjuk Pemerintah Daerah. (2) Jenis pelayanan kesehatan gratis yang diberikan pada Pelayanan Rawat Inap Tingkat Lanjutan (RJTL), meliputi ; a. akomodasi rawat inap kelas III, konsultasi kesehatan, Pemeriksaan fisik dan penyuluhan kesehatan; penunjang diagnostik : laboratorium klinik, patologi anatomi, radiologi dan elektromedik; b. operasi sedang dan berat; c. pelayanan rehabilitasi medis; d. perawatan intensif (ICU, ICCU, PICU, NICU, PACU); e. pemberian obat (obat generik); f. pelayanan darah (3 bag/kantong); g. bahan dan alat kesehatan habis pakai; h. persalinan dengan resiko tinggi dan penyulih. Pasal 10 (1) Pelayanan Rawat Jalan Tingkat Lanjutan (RJTL) melalui poliklinik spesialis sebagaimana dimaksud dalam pasal 6 ayat (1) huruf d berlaku pada Rumah Sakit Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat dan Rumah Sakil lain yang telah ditunjuk Pemerintah Daerah.

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

94

(2) Jenis pelayanan kesehatan gratis yang diberikan pada Pelayanan Rawat Jalan Tingkat Lanjutan melalui polikinik spesial, meliputi; a. konsultasi kesehatan, pemeriksaan fisik dan penyuluhan kesehatan oleh dokter spesialis atau umum; b. rehabilitas medis; c. penunjang diagnostik, laboratorium klinik, radiologi dan elektromedik; d. tindakan medis kecil dan sedang; e. pemeriksaan dan pengobatan gigi lanjutan; f. pelayanan KB, termasuk kontap aktif, kontap pasca persalinan/keguguran, penyembuhan efek samping dan komplikasinya; g. pemberian obat (obat generik); h. pelayanan darah (3 bag/kantong); i. pemeriksaan kehamilan dengan resiko tinggi dan penyulih. Pasal 11 (1) Pelayanan kesehatan luar gedung sebagaimana dimaksud dalam pasal 6 ayat (2) huruf e berlaku untuk pemeriksaan dasar kesehatan pada Puskesmas Keliling, Pos Pelayanan Terpadu (posyandu) / Pos Kesehatan Desa (poskesdes) dan Pos Kesehatan Pesantren (poskestren) serta pelayanan kesehatan melalui kunjungan rumah bagi pasien pasca rawat inap (home care). (2) Jenis pelayanan gratis pada pelayanan kesehatan luar geduang sebagaimana dimaksud pada ayat (1), meliputi ; a. perawatan rawat jalan melalui Puskesmas Keliling b. perawatan kesehatan pada posyandu/poskesdes dan poskestren; c. pelayanan kesehatan melalui kunjungan rumah bagi pasien pasca rawat inap (home care); d. penyuluhan kesehatan; e. imunisasi; f. pelayanan ibu hamil melalui berbagai kegiatan/program; g. surveilans penyakit dan surveilans gizi; h. pelayanan nifas; i. kegiatan sweeping; j. fogging (pengasapan), pemberantasan sarang nyamuk (PSN) Pasal 12 (1) Pelayanan gawat darurat (emergency) sebagaimana dimaksud dalam pasal 6 ayat (1) huruf f, berlaku pada seluruh unit pelayanan kesehatan milik Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat dan Rumah Sakit lain yang telah ditunjuk. (2) Jenis pelayanan gawat darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi kegiatan puskesmas termasuk penanganan obstetri neonatal. Bagian Kedua Paket Pelayanan Pasal 13 (1) Paket pelayanan kesehatan gratis, sebagaimana dimaksud dalam pasal 6, termasuk meliputi : a. pemeriksaan laboratorium dasar; b. pemeriksaan laboratorium klinik; c. pemeriksaan radio diagnostik; d. pemeriksaan patologi anatomi;
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

95

e. tindakan bedah operatif; (2) Tindakan bedah operatif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e, meliputi : a. Bedah umum; b. Bedah urologi; c. Pelayanan kebidanan dan kandungan; d. Gigi dan mulut; e. Penyakit kulit; f. Penyakit mata; g. T H T; h. Onkologi; i. Neurologi; j. Rehabilitasi medis; k. Vasculer. (3) Ketentuan tentang cakupan atau lingkup, jenis dan paket pelayanan kesehatan gratis, jumlah biaya masing-masing jenis layanan serta mekanisme pembiayaan masing-masing jenis pelayanan diatur lebih lanjut dalam Peraturan Bupati. BAB V PERSYARATAN DAN TATA CARA PENGAJUAN PESERTA Bagian Pertama Persyaratan Peserta Pasal 14 (1) Setiap penduduk Kabupaten Sumbawa Barat yang telah memenuhi syarat berhak untuk menjadi peserta dan mendapatkan Kartu Peserta Pelayanan Kesehatan Gratis (KPPK-Gratis) dari Pemerintah Daerah. (2) Setiap bayi yang lahir dari peserta penerima program pelayanan kesehatan gratis langsung dapat menjadi peserta penerima layanan kesehatan gratis. Pasal 15 (1) Untuk dapat menjadi peserta, sebagaimana dimaksud dalam pasal 14 ayat (1), harus melengkapai persyaratan sebagai berikut : a. memiliki Surat Keterangan Miskin dari Kepala Desa/Kelurahan yang telah disetujui oleh BPD dan disahkan oleh Pemerintah Kecamatan setempat ; b. memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) Kabupaten Sumbawa Barat; c. memiliki Kartu Keluarga (KK) Kabupaten Sumbawa Barat; d. memiliki Surat Keterangan belum/tidak memiliki jaminan kesehatan (asuransi) dari Pemerintah Desa/Kelurahan setempat yang disahkan oleh Pemerintah Kecamatan setempat; e. memiliki Surat Keterangan Penghasilan/Pendapatan dari RT setempat yang disahkan oleh Pemerintah Desa/Kelurahan setempat dan diketahui oleh Pemerintah Kecamatan (2) Berkas kelangkapan persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuat dalam rangkap 3 (tiga) diserahkan kepada masing-masing RT untuk diserahkan ke pemerintah desa/kelurahan setempat (3) Pemerintah Desa/Kelurahan setempat melakukan verifikasi calon peserta dan mengumumkan secara terbuka hasil verifikasi kepada masyarakat (4) Hasil verifikasi yang telah dilakukan oleh Pemerintah Desa/Kelurahan setempat diajukan ke Dinas Kesehatan untuk dilakukan verifikasi ulang dan untuk ditetapkan sebagai peserta.

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

96

(5) Peserta yang telah memenuhi syarat dan ditetapkan wajib diumumkan oleh Dinas Kesehatan di masing-masing desa/kelurahan setempat secara terbuka. (6) Peserta yang telah ditetapkan sebagai peserta wajib untuk diberikan Kartu Pelayanan Kesehatan Gratis oleh Dinas Kesehatan atau instansi yang ditunjuk oleh Pemerintah Daerah. Pasal 16 Tata cara, bentuk dan prosedur penerbitan Kartu Peserta Layanan Kesehatan Gratis sebagaimana dimaksud dalam pasal 14 dan pasal 15 diatur lebih lanjut dengan Peraturan/Keputusan Bupati. BAB VI PROSEDUR PELAYANAN PELAYANAN KESEHATAN Pasal 17 (1) Prosedur umum pelayanan kesehatan gratis di puskesmas dan jaringannya, dilakukan dengan tahapan sebagai berikut : b. Peserta layanan kesehatan gratis berkunjung ke Puskesmas atau jaringannya atau Rumah Sakit Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat atau Rumah Sakit yang telah ditunjuk; c. Peserta menunjukkan Kartu Peserta Layanan Kesehatan Gratis kepada Pelaksana Pelayanan Kesehatan; d. Petugas pelaksana pelayanan kesehatan gratis memberikan layanan kesehatan kepada peserta sesuai dengan standar pelayanan yang ditetapkan; e. Khusus pelayanan kesehatan rujukan diberikan sesuai dengan identitas medis, selanjutnya dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan rujukan disertai surat rujukan dan kartu identitas yang ditunjukkan sejak awal sebelum mendapatkan pelayanan kesehatan; (2) Bagi peserta yang dirujuk ke RSUD Sumbawa, RSUD Mataram, dan atau RSUD lainnya atau Rumah Sakit Swasta diluar Kabupaten Sumbawa Barat mengikuti prosedur yang berlaku dan ditetapkan masing-masing RSUD atau Rumah Sakit Swasta bersangkutan.

Pasal 18 (1) Setiap peserta yang tidak membawa atau tidak dapat menunjukkan Kartu Peserta sebagaimana dimaksud dalam pasal 17 ayat (1) butir b diberi waktu paling lama 2 x 24 jam untuk memenuhi persyaratan. (2) Apabila dalam batas waktu yang telah ditetapkan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasien atau keluarganya/kuasanya tidak dapat membuktikan memiliki Kartu Peserta, maka segala biaya pelayanan kesehatan gratis ditanggung oleh pasien/keluarga bersangkutan. Pasal 19 (1) Dalam keadaan dan kasus-kasus tertentu seperti pemberian pelayanan pada instalasi gawat darurat, Tenaga Kesehatan wajib untuk terlebih dahulu menangani dan menyelamatkan pasien gawat darurat; (2) Pasien gawat darurat dan atau keluarganya dapat membawa Kartu peserta atau menunjukkan surat rujukan setelah penanganan pasien gawat darurat ditangani oleh petugas kesehatan.

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

97

BAB VII HAK DAN KEWAJIBAN Bagian Kesatu Peserta Pelayanan Kesehatan Gratis Pasal 20 (1) Setiap peserta layanan kesehatan gratis berhak untuk memperoleh pelayanan kesehatan gratis yang bermutu dan berkualitas dari tenaga kesehatan Puskesmas dan jaringannya maupun RSUD yang ditunjuk Pemerintah Daerah. (2) Peserta penerima layanan kesehatan gratis berhak untuk ; a. mengetahui kebenaran isi standar pelayanan kesehatan gratis; b. mengawasi pelaksanaan standar pelayanan kesehatan gratis; c. mendapat tanggapan terhadap pengaduan yang diajukan; d. mendapat advokasi, perlindungan, dan/atau pemenuhan pelayanan; e. memberitahukan kepada pimpinan penyelenggara untuk memperbaiki pelayanan kesehatan gratis apabila pelayanan yang diberikan tidak sesuai dengan standar pelayanan kesehatan; f. memberitahukan kepada tenaga kesehatan untuk memperbaiki pelayanan kesehatan gratis apabila pelayanan yang diberikan tidak sesuai dengan standar pelayanan kesehatan; g. mengadukan tenaga kesehatan yang melakukan penyimpangan standar pelayanan dan/atau tidak memperbaiki pelayanan kesehatan gratis kepada Penyelenggara, Bupati, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan atau Komisi Pengaduan Pelayanan yang dibentuk oleh daerah h. mengadukan tenaga kesehatan maupun penyelenggara yang melakukan penyimpangan standar pelayanan dan/atau tidak memperbaiki pelayanan kepada pembina Penyelenggara dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah; dan i. mendapat pelayanan yang berkualitas sesuai dengan asas dan tujuan pelayanan kesehatan gratis. Pasal 21 Setiap peserta layanan kesehatan gratis berkewajiban untuk: a. mematuhi dan memenuhi ketentuan sebagaimana dipersyaratkan dalam standar pelayanan kesehatan gratis; b. ikut menjaga terpeliharanya sarana, prasarana, dan/atau fasilitas pelayanan kesehatan gratis; dan c. berpartisipasi aktif dan mematuhi peraturan yang terkait dengan penyelenggaraan pelayanan kesehatan gratis. Bagian Kedua Hak dan Kewajiban bagi Penyelenggara Pasal 22 (1) Penyelenggara pelayanan kesehatan gratis adalah Pemerintah Daerah yang dikuasakan kepada Dinas Kesehatan. (2) Penyelenggara kesehatan gratis memiliki hak: a. menyusun program pelayanan kesehatan gratis; b. melakukan kerja sama; c. mempunyai anggaran pembiayaan penyelenggaraan pelayananan kesehatan gratis; d. melakukan pembelaan terhadap pengaduan dan tuntutan yang tidak sesuai dengan kenyataan dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan gratis; dan e. menolak permintaan pelayanan yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

98

Pasal 23 Penyelenggara berkewajiban: a. menyusun dan menetapkan standar pelayanan kesehatan gratis; b. menyusun, menetapkan, dan memublikasikan maklumat pelayanan kesehatan gartis; c. menempatkan pelaksana pelayanan kesehatan gratis yang kompeten; d. menyediakan sarana, prasarana, dan/atau fasilitas pelayanan kesehatan gratis yang mendukung terciptanya iklim pelayanan yang memadai; e. memberikan pelayanan kesehatan gratis yang berkualitas/bermutu sesuai dengan asas penyelenggaraan pelayanan kesehatan gratis dan asas pelayanan publik; f. melaksanakan pelayanan kesehatan gratis sesuai dengan standar pelayanan kesehatan; g. mematuhi peraturan perundang-undangan yang terkait dengan penyelenggaraan pelayanan kesehatan; h. memberikan pertanggungjawaban terhadap pelayanan kesehatan gratis yang diselenggarakan; i. membantu masyarakat, khususnya penerima layanan kesehatan gratis dalam memahami hak dan tanggung jawabnya; j. memberikan pertanggungjawaban sesuai dengan hukum yang berlaku apabila mengundurkan diri atau melepaskan tanggung jawab atas posisi atau jabatan; dan k. memenuhi panggilan atau mewakili organisasi untuk hadir atau melaksanakan perintah suatu tindakan hukum atas permintaan pejabat yang berwenang dari instansi pemerintah yang berhak, berwenang, dan sah sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Bagian Hak Pasal 24 (1) Pelaksana layanan kesehatan adalah tenaga kesehatan terdiri dari; dokter, perawat, bidan, dan petugas medis lainnya. (2) Pelaksana layanan kesehatan gratis berhak untuk : a. memperoleh gaji/honorarium atau tunjangan lainnya sesuai dengan jenis jasa pelayanan yang ditetapkan oleh pemerintah daerah ; b. memperoleh penghargaan atau reward dari pemerintah daerah atas kinerja dan prestasi yang dicapai ; c. memperoleh peningkatan kapasitas dari pemerintah daerah d. memberikan masukan dan saran kepada penyelenggara pelayanan ; e. menolak untuk memberikan pelayanan kepada pasien yang tidak memenuhi syarat dan prosedur pelayanan kesehatan gratis. Pasal 25 Pelaksana pelayanan kesehatan berkewajiban untuk: a. melakukan kegiatan pelayanan kesehatan gratis sesuai dengan penugasan yang diberikan oleh Penyelenggara ; b. memberikan pertanggungjawaban atas pelaksanaan pelayanan kesehatan gratis sesuai dengan peraturan perundang-undangan; c. memberikan pertanggungjawaban apabila mengundurkan diri atau melepaskan tanggung jawab sesuai dengan peraturan perundang-undangan; dan e. melakukan evaluasi dan membuat laporan keuangan dan kinerja kepada Penyelenggara secara berkala. Pasal 26 Pelaksana pelayanan kesehatan dilarang untuk : dan Kewajiban Pelaksana Layanan Kedua Kesehatan

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

99

a.

b. c. d. e. Pasal 27

merangkap sebagai komisaris atau pengurus organisasi usaha bagi pelaksana yang berasal dari lingkungan instansi pemerintah, badan usaha milik negara, dan badan usaha milik daerah; meninggalkan tugas dan kewajiban, kecuali mempunyai alasan yang jelas, rasional, dan sah sesuai dengan peraturan perundang-undangan; membuat perjanjian kerja sama dengan pihak lain tanpa persetujuan Penyelenggara; dan melanggar asas penyelenggaraan pelayanan kesehatan gratis dan asas-asas dalam pelayanan publik. Menolak pasien yang berasal dari peserta kesehatan layanan gratis.

Dalam memberikan pelayanan kesehatan gratis, tenaga kesehatan wajib untuk: j. adil dan tidak diskriminatif; k. cermat; l. santun dan ramah; m. tegas, andal, dan tidak memberikan putusan yang berlarut-larut; n. profesional; o. tidak mempersulit; p. menjunjung tinggi nilai-nilai akuntabilitas dan integritas institusi penyelenggara; y. terbuka dan mengambil langkah yang tepat untuk menghindari benturan kepentingan; z. tidak menyalahgunakan sarana dan prasarana serta fasilitas pelayanan kesehatan; aa. tidak memberikan informasi yang salah atau menyesatkan dalam menanggapi permintaan pelayanan kesehatan, informasi serta proaktif dalam memenuhi kepentingan penerima pelayanan kesehatan; bb. tidak menyalahgunakan informasi, jabatan, dan/atau kewenangan yang dimiliki; cc. sesuai dengan kepantasan; dan dd. tidak menyimpang dari prosedur yang ditetapkan.

BAB VIII STANDAR PELAYANAN DAN SISTEM INFORMASI PELAYANAN KESEHATAN Bagian Pertama Standar Pelayanan Pasal 28 (1) Penyelenggara pelayanan kesehatan wajib menyusun dan menetapkan standar pelayanan kesehatan gratis dengan memperhatikan kemampuan Penyelenggara dan pelaksana, kebutuhan masyarakat, kondisi lingkungan serta peraturan perundangundangan. (2) Dalam menyusun dan menetapkan standar pelayanan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Penyelenggara wajib mengikutsertakan masyarakat dan pihak terkait. (3) Penyelenggara berkewajiban menerapkan standar pelayanan kesehatan gratis sebagaimana dimaksud pada ayat (2) di Puskesmas dan jaringannya. (4) Pengikutsertaan masyarakat dan pihak terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan dengan prinsip tidak diskriminatif, terkait langsung dengan jenis

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

100

pelayanan, memiliki kompetensi memperhatikan keberagaman.

dan

mengutamakan

musyawarah,

serta

Pasal 29 Penyusunan standar pelayanan kesehatan gratis, sebagaimana dimaksud dalam pasal 28 sekurang-kurangnya meliputi: a. dasar hukum; b. persyaratan; c. sistem, mekanisme, dan prosedur; d. jangka waktu penyelesaian; e. biaya/tarif (khusus biaya ambulance); f. produk pelayanan; g. sarana, prasarana, dan/atau fasilitas; h. kompetensi Pelaksana; i. pengawasan internal; j. penanganan pengaduan, saran, dan masukan; k. jumlah Pelaksana; l. jaminan pelayanan yang memberikan kepastian pelayanan kesehatan gratis dilaksanakan sesuai dengan standar pelayanan yang berlaku; m. jaminan keamanan dan keselamatan pelayanan dalam bentuk komitmen untuk memberikan rasa aman, bebas dari bahaya, dan risiko keragu-raguan; dan n. evaluasi kinerja Pelaksana. Pasal 30 (1) Penyelenggara pelayanan kesehatan gratis berkewajiban menyusun dan menetapkan maklumat pelayanan yang merupakan pernyataan kesanggupan Penyelenggara dalam melaksanakan pelayanan sesuai dengan standar pelayanan yang ditetapkan. (2) Maklumat pelayanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib dipublikasikan secara terbuka, jelas dan luas kepada masyarakat serta para pemangku kepentingan lainnya. Bagian Kedua Sistem Pasal 31 (1) (2) (3) Penyelenggara pelayanan kesehatan gratis wajib untuk menyusun dan menetapkan Sistem Informasi Layanan Kesehatan. Sistem Informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bersifat terbuka dan dapat diakses oleh masyarakat. Sistem Informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berisi informasi pelayanan kesehatan gratis dalam bentuk informasi elektronik atau nonelektronik, yang berisikan sekurang-kurangnya meliputi: a. profil Penyelenggara; b. profil Pelaksana; c. standar pelayanan kesehatan gratis; d. maklumat pelayanan kesehatan gratis; e. pengelolaan pengaduan; f. penilaian kinerja. g. Jumlah pasien dan jenis penyakit, dan ; h. informasi lainnya yang dibutuhkan peserta layanan. BAB VII PENDANAAN PELAYANAN DAN PENGELOLAAN FASILITAS
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

Informasi

Pelayanan

Kesehatan

101

(1) (2) (3) (4)

PELAYANAN KESEHATAN GRATIS Bagian Pertama Pendanaan Pelayanan Kesehatan Gratis Pasal 32 Pemerintah Daerah wajib untuk menjamin tersedianya dana/anggaran pelayanan kesehatan gratis dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah ; Alokasi anggaran untuk bidang kesehatan sekurang-kurangnya mencakup jumlah peserta penerima layanan kesehatan gratis yang telah ditetapkan. untuk mengantisipasi penambahan jumlah peserta penerima layanan kesehatan gratis pada tahun berjalan, pemerintah daerah dapat mengalokasikan dana cadangan ; Dana cadangan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) adalah sebesar 10% dari jumlah peserta penerima layanan kesehatan yang telah terdaftar dan disahkan oleh Pemerintah Daerah Pasal 33

(1) Dalam rangka meningkatkan akses dan mutu serta kualitas pelayanan kesehatan gratis, Pemerintah Daerah dapat melakukan kerjasama dan atau menetapkan kebijaksanaan dengan pihak ketiga/swasta untuk berpartisipasi dalam pembiayaan pelayanan kesehatan gratis dengan mengacu kepada Sistem Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat. (2) Pelaksanaan ketentuan kemitraan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diberlakukan secara bertahap dengan memperhatikan kondisi keuangan daerah. (3) Tata cara kerjasama, pemanfaatan dan penyaluran dana sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur lebih lanjut dengan Peraturan/Keputusan Bupati. Bagian Pengelolaan Sarana, Prasarana, Pasal 34 (1) Penyelenggara dan Pelaksana pelayanan kesehatan gratis berkewajiban mengelola sarana, prasarana, dan/atau fasilitas pelayanan kesehatan gratis secara efektif, efisien, transparan, akuntabel, dan berkesinambungan serta bertanggung jawab terhadap pemeliharaan dan/atau penggantian sarana, prasarana, dan/atau fasilitas pelayanan kesehatan. (2) Penyelenggara dilarang memberikan izin dan/atau membiarkan pihak lain menggunakan sarana, prasarana, dan/atau fasilitas pelayanan kesehatan yang mengakibatkan sarana, prasarana, dan/atau fasilitas pelayanan kesehatan tidak berfungsi atau tidak sesuai dengan peruntukannya. dan/atau Fasilitas Pelayanan Kesehatan Kedua

BAB DEWAN KESEHATAN, PEMBINA DAN KESEHATAN GRATIS Bagian Pertama Dewan Kesehatan Pasal 35

IX PENANGGUNG JAWAB, PELAYANAN

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

102

(1) (2) (3)

Dalam rangka pembangunan kesehatan di daerah serta meningkatkan efektivitas penyelenggaraan kesehatan gratis, pemerintah daerah dapat membentuk Dewan Kesehatan Daerah. Pembentukan Dewan Kesehatan Daerah untuk pertama kali difasilitasi oleh Pemerintah Daerah. Pembentukan Dewan Kesehatan Daerah ditetapkan melalui Peraturan/Keputusan Bupati

Pasal 36 (1) Dewan Kesehatan Daerah adalah merupakan lembaga mitra pemerintah daerah yang berfungsi sebagai wadah untuk menampung aspirasi masyarakat dalam bidang kesehatan, pengembangan kebijakan kesehatan, perumusan perencanaan kesehatan strategik, monitoring dan evaluasi serta memberikan pertimbangan kepada pemerintah daerah dan DPRD dalam pelaksanaan pembangunan kesehatan dan penyelenggaraan pelayanan kesehatan gratis di daerah. Tugas Pokok Dewan Kesehatan Daerah adalah : a. merumuskan visi dan misi pembangunan kesehatan dan berperan aktif dalam proses perencanaan program dan kegiatan tahunan kesehatan daerah; b. menyalurkan dan menjembatani aspirasi kebutuhan dan kepentingan masyarakat kepada lembaga eksekutif dan legislatif daerah; c. melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap pelaksanaan program pembangunan kesehatan daerah serta penyelenggaraan kesehatan gratis ; d. memantau akuntabilitas dan kinerja pelaksanaan pembangunan kesehatan daerah dan penyelenggaraan pelayanan kesehatan gratis; e. memberikan masukan, berupa saran maupun kritik serta rekomendasi untuk perbaikan berbagai kebijakan kabupaten yang mempunyai dampak terhadap persoalan kesehatan masyarakat; f. Membantu menyelesaikan pengaduan masyarakat atas pelayanan kesehatan gratis.

(2)

Pasal 37 (1) (2) Keanggotaan Dewan Kesehatan Daerah, sebanyak 5 orang terdiri dari unsur tokoh masyarakat, tokoh agama, akademisi, profesi, LSM, dan unsur masyarakat lainnya yang memiliki pengetahuan dan kepedulian dalam bidang kesehatan. Masa jabatan anggota Dewan Kesehatan Daerah adalah selama 5 tahun dan dapat diangkat kembali untuk 1 (satu) periode selanjutnya.

Pasal 38 Sumber pendanaan Dewan Kesehatan Daerah bersumber dari : a. b. c. d. APBN APBD Sumbangan masyarakat atau sumbangan Pihak ketiga dan Sumbangan pihak lainnya yang tidak mengikat

Pasal 39 Tata cara pembentukan, fungsi dan rincian tugas pokok, syarat-syarat keanggotaan, tatacara pengangkatan dan pemberhentikan, dan pembiayaan sebagaimana dimaksud dalam pasal 35, pasal 36, pasal 37 dan pasal 38 akan diatur lebih lanjut dengan Peraturan/keputusan Bupati.

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

103

Bagian Kedua Pembina dan Penanggung Jawab Pasal 40 (1) (2) Pembina penyelenggaraan kesehatan gratis adalah Bupati Sumbawa Barat. Pembina mempunyai tugas ; a. melakukan pembinaan; b. melakukan pengawasan, dan ; c. melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan tugas dari penanggung jawab. Pasal 41 (1) (2) Penanggung jawab adalah pimpinan Dinas Kesehatan atau atau pejabat yang ditunjuk Bupati. Penanggung jawab mempunyai tugas: a. mengoordinasikan kelancaran penyelenggaraan pelayanan kesehatan gratis sesuai dengan standar pelayanan kesehatan; b. melakukan evaluasi penyelenggaraan pelayanan kesehatan gratis; dan c. melaporkan kepada pembina pelaksanaan penyelenggaraan pelayanan kesehatan gratis. Dinas Kesehatan selaku penanggung jawab pelayanan kesehatan gratis bertugas: a. merumuskan kebijakan pelayanan kesehatan gratis; b. menyelesaikan permasalahan yang terjadi dalam pelayanan kesehatan gratis; dan c. melakukan pemantauan dan evaluasi kinerja pelaksana pelayanan kesehatan gratis . Kepala Dinas sebagaimana dimaksud pada ayat (3) wajib: a. mengumumkan kebijakan tentang pelayanan kesehatan gratis, hasil pemantauan dan evaluasi kinerja, serta hasil koordinasi; b. membuat peringkat kinerja pelaksana pelayanan kesehatan gratis secara berkala; dan c. memberikan penghargaan kepada pelaksana pelayanan kesehatan gratis sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Dinas Kesehatan wajib melaporkan hasil perkembangan kinerja pelayanan kesehatan kepada Bupati Sumbawa Barat dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.

(3)

(4)

(5)

Bagian Ketiga Pengawasan Pasal 42 (1) (2) Pengawasan penyelenggaraan pelayanan kesehatan dilakukan oleh pengawas internal dan pengawas eksternal. Pengawasan internal penyelenggaraan pelayanan kesehatan dilakukan melalui: a. pengawasan oleh atasan langsung sesuai dengan peraturan perundangundangan; dan b. pengawasan oleh pengawas fungsional sesuai dengan peraturan perundangundangan. Pelayanan penyelenggaraan kesehatan gratis

(3) Pengawasan eksternal penyelenggaraan pelayanan kesehatan gratis dilakukan melalui: 104

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

a. pengawasan oleh masyarakat berupa laporan atau pengaduan masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan gratis; b. pengawasan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.

Bagian Evaluasi Pasal 43 dan Pengelolaan Pelaksana Pelayanan Kesehatan

Ketiga Gratus

(1) Dinas Kesehatan berkewajiban untuk melaksanakan evaluasi dan penilaian terhadap kinerja Pelaksana di lingkungan organisasi secara berkala dan berkelanjutan. (2) Berdasarkan hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Dinas Kesehatan wajib untuk membantu melakukan perbaikan dan melakukan upaya peningkatan kapasitas terhadap pelaksana pelayanan kesehatan gratis. (3) Evaluasi dan penialian terhadap kinerja pelaksana pelayanan kesehatan gratis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan indikator yang jelas dan terukur dengan memperhatikan perbaikan prosedur dan/atau penyempurnaan organisasi sesuai dengan asas pelayanan kesehatan gratis Pasal 44 (1) Bupati berdasarkan laporan evaluasi dan penilaian kinerja yang diberikan dari Dinas Kesehatan wajib memberikan penghargaan kepada Pelaksana Pelayanan kesehatan gratis yang memiliki prestasi kerja dan wajib memberikan hukuman kepada Pelaksana yang melakukan pelanggaran. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai mekanisme pemberian penghargaan dan hukuman diatur lebih lanjut dengan Peraturan Bupati. BAB X PENGADUAN DAN PENYELESAIAN PENGADUAN MASYARKAT Bagian Pengelolaan Pasal 45 (1) Penyelenggara pelayanan kesehatan gratis berkewajiban ; a. menyediakan sarana pengaduan layanan masyarakat dan menugaskan pihak tertentu yang ditunjuk dan memiliki kompetensi untuk mengelola dan menangani pengaduan peserta layanan maupun masyarakat. b. mengelola pengaduan yang berasal dari peserta/penerima layanan, LSM, Pers, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dalam batas waktu tertentu. c. menyusun mekanisme pengelolaan pengaduan dari peserta layanan/penerima pelayanan dengan mengedepankan asas penyelesaian yang cepat dan tuntas. Dalam rangka efektivitas penanganan dan penyelesaian pengaduan masyarakat, Penyelenggara wajib bekerjsama dengan Dewan Kesehatan Daerah, Pemerintah Daerah dan DPRD untuk membentuk Komisi atau unit khusus untuk menangani pengaduan dan penyelesaian pengaduan masyarakat. Komisi atau Unit Khusus pengaduan dan penyelesaian pengaduan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat bersifat permanen atau bersifat sementara (ad-hoc). Tata cara pembentukan dan tata kerja Komisi atau Unit Khusus Pengaduan dan penanganan pengaduan di atur lebih lanjut dengan Peraturan/Keputusan Bupati pertama Pengaduan

(2)

(3) (4)

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

105

Pasal 46 (1) (2) Penyelenggara berkewajiban menyusun mekanisme pengelolaan pengaduan dari penerima pelayanan dengan mengedepankan asas penyelesaian yang cepat dan tuntas. Materi dan mekanisme pengelolaan pengaduan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya meliputi: a. identitas pengadu; b. prosedur pengelolaan pengaduan; c. penentuan Pelaksana yang mengelola pengaduan; d. prioritas penyelesaian pengaduan; e. pelaporan proses dan hasil pengelolaan pengaduan kepada atasan pelaksana; f. rekomendasi pengelolaan pengaduan; g. penyampaian hasil pengelolaan pengaduan kepada pihak terkait; h. pemantauan dan evaluasi pengelolaan pengaduan; i. dokumentasi dan statistik pengelolaan pengaduan; dan j. pencantuman nama dan alamat penanggung jawab serta sarana pengaduan yang mudah diakses.

Pasal 47 Setiap peserta layanan kesehatan dan atau masyarakat berhak dan dijamin hakhaknya untuk mengadukan pelayanan kesehatan gratis ke Dewan Kesehatan Daerah dan atau Komisi/Unit khusus yang telah ditetapkan untuk menangani Pengaduan dan Penyelesaian Pengaduan dan/atau Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Pengaduan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan terhadap: a. Penyelenggara yang tidak melaksanakan kewajiban dan/atau melanggar larangan; dan b. Pelaksana yang memberi pelayanan yang tidak sesuai dengan standar pelayanan. Pengaduan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak pengadu menerima pelayanan. Pengaduan disampaikan secara tertulis memuat: a. nama dan alamat lengkap; b. uraian pelayanan yang tidak sesuai dengan standar pelayanan kesehatan dan uraian kerugian materiil atau immateriil yang diderita; c. permintaan penyelesaian yang diajukan; dan d. tempat, waktu penyampaian, dan tanda tangan. Pengadu dapat memasukkan tuntutan ganti rugi dalam surat pengaduannya dalam keadaan tertentu, nama dan identitas pengadu dapat dirahasiakan. Pasal 48 (1) (2) Komisi atau Unit Pengaduan Kesehatan wajib menanggapi pengaduan masyarakat paling lambat 14 (empat belas) hari sejak pengaduan diterima. Dalam hal materi aduan tidak lengkap, pengadu melengkapi materi aduannya selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak menerima tanggapan dari Penyelenggara atau Komisi/Unit khusus Pengaduan. Dalam hal berkas pengaduan tidak dilengkapi dalam waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (3), pengadu dianggap mencabut pengaduannya. Pasal 49

(1)

(2)

(3) (4)

(5) (6)

(3)

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

106

(1) (2)

Pengaduan terhadap Pelaksana Penyelenggara Pelayanan kesehatan gratis ditujukan kepada atasan Pelaksana. Pengaduan terhadap Penyelenggara (Dinas kesehatan) ditujukan kepada atasan satuan kerja Penyelenggara dan atau Bupati. Pasal 50

(1) (2) (3)

Atasan satuan kerja penyelenggara berwenang menjatuhkan sanksi kepada satuan kerja Penyelenggara yang tidak memenuhi kewajiban dan/atau melanggar larangan yang telah ditetapkan. Atasan Pelaksana menjatuhkan sanksi kepada Pelaksana yang melakukan pelanggaran. Pemberian sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilakukan berdasarkan aduan masyarakat dan/atau berdasarkan kewenangan yang dimiliki atasan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Kedua Pengaduan oleh Penyelenggara Pelayanan Kesehatan Gratis

Bagian Penyelesaian Pasal 51 (1) (2) (3) (4)

Penyelenggara wajib memeriksa pengaduan dari masyarakat mengenai pelayanan kesehatan gratis yang diselenggarakannya. Proses pemeriksaan untuk memberikan tanggapan pengaduan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan Penyelenggara wajib memutuskan hasil pemeriksaan pengaduan paling lambat 60 (enam puluh) hari sejak berkas pengaduan dinyatakan lengkap. Keputusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib disampaikan kepada pihak pengadu paling lambat 14 (empat belas) hari sejak diputuskan.

Pasal 52 (4) Dalam hal Penyelenggara melakukan perbuatan melawan hukum dalam penyelenggaraan pelayanan publik sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini, masyarakat dapat mengajukan gugatan terhadap Penyelenggara ke pengadilan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Dalam hal Penyelenggara diduga melakukan tindak pidana dalam penyelenggaraan pelayanan publik sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini, masyarakat dapat melaporkan Penyelenggara kepada pihak berwenang. BAB XI PENYIDIKAN DAN SANKSI Bagian Pertama Sanksi Adminsitratif Pasal 53 (1) Penyelenggara yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 dan tidak melakukan kewajiban sebagaimana diatur pasal 23, pasal 28, pasal 31, pasal 34 dan pasal 38 dikenai sanksi teguran tertulis (2) Pelaksana yang melanggar pasal 2, dan tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana diatur dalam pasal 25, pasal 26, pasal 27 dan pasal 34 dikenai sanksi teguran tertulis. (3) Penyelenggara atau Pelaksana yang tidak melakukan kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dan atas perbuatan tersebut mengakibatkan

(5)

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

107

timbulnya luka, cacat tetap, atau hilangnya nyawa bagi pihak lain dikenai sanksi pidana sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan. (4) Pengenaan sanksi pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak membebaskan dirinya membayar ganti rugi bagi korban. (5) Besaran ganti rugi korban ditetapkan berdasarkan putusan pengadilan. Pasal 54 (1) Penyidik adalah : a. pejabat Polisi Negara Republik Indonesia ; b. pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh UndangUndang. (2) Wewenang penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a di atas adalah: a. menerima laporan atau pengaduan dari seseorang tentang adanya tindak pidana; b. melakukan tindakan pertama pada saat di tempat kejadian; c. menyuruh berhenti seorang tersangka dan memeriksa tanda pengenal diri tersangka; d. melakukan penangkapan, penahanan, penggeledahan dan penyitaan ; e. melakukan pemeriksaan dan penyitaan surat; f. mengambil sidik jari dan memotret sesorang; g. memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi; mendatangka orang ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan pemeriksaan perkara; h. mengadakan penghentian penyidikan; i. mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggungjawab. (3) Wewenang penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b di atas sesuai Undang-Undang yang menjadi dasar hukumnya masing-masing dan dalam pelaksanaan tugasnya berada di bawah koordinasi dan pengawasan penyidik Kepolisian Republik Indonesia. (4) Dalam melakukan tugasnya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan (2) penyidik wajib menjunjung tinggi hukum yang berlaku. Bagian Kedua Sanksi Pidana Pasal 55 Pelanggaraan terhadap penyelenggaraan pelayanan kesehatan gratis, diancam pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau denda paling banyak Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah). Penyalagunaan dana penyelenggaraan pelayanan kesehatan gratis selain yang dimaksud pada ayat (1) yang mengakibatkan kerugian keuangan Negara/daerah dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan gratis dikenakan sanksi berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Sanksi sebagaimana dimasud pada ayat (2) dapat berupa sanksi pidana, perdata dan atau sanksi administrasi. Sanksi administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat diberikan dalam bentuk: a. Sanksi kepegawaian sebagaimana diatur dalam perundang-undangan dalam bidang kepegawaian b. Tuntutan perbendaharaan dan ganti rugi, diatur dalam perundang-undangan dalam bidang pengelolaan Keuangan Negaara / Daerah. BAB XII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 56
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

(1) (2)

(3) (4)

108

(1)

(2)

(3)

Pada saat diundangkanya Peraturan Daerah ini penyelanggaraan program kesehatan gratis yang sedang berjalan efektif dengan dasar Peraturan Bupati Nomor 9 Tahun 2006 tentang Pedoman penyelenggaraan pelayanaan/pengobatan gratis di Puskesmas dan jaringannya yang dijamin oleh Pemerintah daerah dinyatakan tidak berlaku Terhadap segala kebijaksanaan Pemerintah Daerah yang bersifat pedoman dalam pelaksanaan program penyelenggaraan kesehatan gratis di Kabupaten Sumbawa Barat sepanjang tidak bertentangan dengan Peraturan Daerah ini tetap berlaku. Selambat-lambatnya 1 tahun sejak Peraturan Daerah ini diberlakukan segala kebijaksanaan penyelenggaraan kesehatan gratis sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disesuaikan dengan Peraturan Daerah ini

BAB XIII KETENTUAN PENUTUP Pasal 57 Ketentuan lebih lanjut mengenai teknis pelaksanaannya pelayanan kesehatan gratis akan diatur lebih lanjut dengan Peraturan/Keputusan Bupati. Peraturan Daerah ini mulai berlaku sejak tanggal diundangkan dan agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten Sumbawa Barat Ditetapkan di Taliwang pada tanggal ............... 2011 BUPATI SUMBAWA BARAT, ZULKIFLI MUHADLI Diundangkan di Taliwang pada tanggal Nopember 2011 SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN SUMBAWA BARAT,

MUSYAFIRIN LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SUMBAWA BARAT TAHUN........... NOMOR .............

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMBAWA BARAT NOMOR .............. TAHUN 2012 TENTANG

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

109

PELAYANAN KESEHATAN GRATIS I. UMUM Cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 adalah melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. dalam rangka itu, maka kesehatan menjadi salah satu unsur kesejahteraan umum yang harus diwujudkan. Dan untuk mencapai tujuan tersebut, maka diselenggarakanlah upaya pembangunan kesehatan di sumbawa barat yang dilakukan secara berkesinambungan, menyeluruh terarah dan terpadu. Dalam rangka meningkatkan akses pelayanan kesehatan, meningkatkan mutu dan kualitas pelayanan serta membantu meringankan biaya kesehatan bagi masyarakat, maka pembangunan kesehatan pemerintah daerah kabupaten Sumbawa Barat sejak tahun 2006 dilaksanakan dengan menetapkan program pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis di Puskesmas dan jaringannya. Kebijakan ini sebagai wujud komitmen pemerintah daerah untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, tercapainya cita-cita bangsa dan tujuan pembangunan kesehatan. Kesehatan itu sendiri sesungguhnyanya merupakan hak asasi manusia dan salah satu unsur kesejahteraan yang harus diwujudkan, bukan hanya oleh pemerintah, melainkan pula pemerintah daerah Kabupaten Sumbawa Barat sebagaimana amanah konstitusi, Pasal 28 H ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 telah ditegaskan bahwa setiap orang berhak memperoleh pelayanan kesehatan, kemudian dalam Pasal 34 ayat (3) dinyatakan negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak. Oleh sebab itu, dibutuhkan kegiatan dan upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya secara terus menerus yang dilandasakan pada prinsip nondiskriminatif, partisipatif, perlindungan, dan berkelanjutan untuk terbentuknya sumber daya manusia di Kabupaten Sumbawa Barat, yang maju dan beradab, memiliki ketahanan dan daya saing yang tinggi, serta dapat memajukan pembangunan daerah maupun nasional. Upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya telah dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Sumbawa Barat melalui program pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis di Puskesmas dan jaringannya sebagaimana tertuang dalam Peraturan Bupati Nomor 9 Tahun 2006. Namun, sejalan dengan berbagai perubahan kebijakan atau peraturan perundang-undangan di bidang kesehatan, perubahan atas paradigma kesehatan, perkembangan teknologi kesehatan, serta tuntutan dan kebutuhan masyarakat serta dinamika sosial, ekonomi, dan politik terus mengalami perubahan dan perkembangan di daerah, serta banyaknya berbagai kendala dan tantangan yang dihdapi dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis di Kabupaten Sumbawa Barat, maka perlu dilakukan penyesuaian atau penyempurnaan Peraturan Bupati Nomor 9 tahun 2006. Perubahan kebijakan pelayanan dan pengobatan gratis ini dilakukan dalam rangka untuk menyempurnakan berbagai kelemahan dan tantangan yang dihadapi selama ini dalam pelaksanaan program pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis, sekaligus untuk memperkuat landasan hukum penyelenggaraan program, meningkatkan akses dan cakupan pelayanan kesehatan, serta memastikan adanya peningkatan mutu pelayanan dan keberlanjutan program di masa mendatang. Hal tersebut perlu dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Sumbawa Barat, selain sebagai upaya untuk memenuhi hak-hak masyarakat juga adalah sebagai upaya pemerintah daerah untuk meningkatkan akselreasi pencapian visi dan misi pembangunan kesehatan di daerah yang lebih maju dan sejahtera i masa mendatang. Atas dasar itulah, dibentuk peraturan daerah ini. II. PASAL DEMI PASAL
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

110

Pasal 1 Cukup jelas. Pasal 2 Pelayanan kesehatan gratis adalah merupakan pelayanan publik oleh karena itu dalam pelayanan kesehatan harus harus memperhatikan asas-asas pelayanan publik, meliputi ; (1) Asas kepentingan umum asas kepentingan umum yang berarti bahwa penyelanggaraan pelayanan kesehatan ditujukan untuk kepentingan umum, berdasarkan perikemanusiaan, adil dan merata kepada semua lapisan masyarakat yang terjangkau. (2) asas kesamaan hak yang dimaksud dengan asas kesamaan hak bahwa dalam pemberian pelayanan kesehatan tidak dibolehkan untuk membedakan suku, ras, agama, golongan, gender, dan atau status ekonomi dan sosial, petugas pelayanan kesehatan harus memperhatikan dan memprioritaskan kebutuhan dan akses pelayanan kesehatan gratis bagi fakir miskin. (3) asas profesional yang dimaksud dengan asas profesional adalah bahwa dalam pengelolaan program dan pemberian pelayanan kesehatan gratis pelaksana pelayanan kesehatan memiliki kompetensi atau keahlian yang memadai sesuai dengan bidang tugas dan fungsinya. (4) asas transparansi yang dimaksud dengan asas transpransi adalah bahwa dalam pengelolaan program pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga pertanggungjawaban penyelenggaraan pelayanan kesehatan gratis dilakukan secara terbuka, baik berkaitan dengan lingkup pelayanan, prosedur pelayanan, maupun jenis pelayanan yang diberikan kepada masyarakat. (5) Akuntabilitas publik yang dimaksud dengan asas akuntabilitas publik adalah bahwa dalam pengelolaan program dan penyelenggaraan pelayanan kesehatan gratis yang diberikan dapat dipertanggung jawabkan (akuntabel), baik dari aspek perencanaan, pelaksanaan, pelayanan maupun aspek kesehatan. (6) asas partisipatif yang dimaksud dengan asas partisipatif adalah bahwa dalam pengelolaan program, khususnya perencanaan program pelayanan kesehatan gratis melibatkan masyarakat dan ada peningkatan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan dengan memperhatikan aspirasi, kebutuhan, dan harapan masyarakat (7) asas Kepastian Hukum yang dimaksud dengan asas kepastian hukum bahwa dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan gratis berdasarkan atas peraturan perundang-undangan yang berlaku dan adanya jaminan dan perlindungan terhadap hak dan kewajiban dalam pelayanan kesehatan, baik bagi penerima layanan maupun petugas layanan kesehatan (8) asas inovatif yang dimaksud dengan asas inovatif adalah bahwa dalam pengelolaan program dan penyelenggaraan pelayanan kesehatan gratis yang diberikan kepada masyarakat harus terus ditingkatkan dengan memberikan inovasi yang baik untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. (9) asas cepat, cermat dan akurat yang dimaksud dengan asas cepat, cermat, akurat adalah bahwa penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang diberikan dilakukan secara cepat tanpa mengabaikan kecermatan dan akurasi medis. (10) asas kendali mutu dan kendali biaya

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

111

yang dimaksud dengan asas kendali mutu dan kendali biaya adalah bahwa penyelenggaraan pelayanan kesehatan gratis yang dilaksanakan dapat dipertanggung jawabkan dari segi mutu atau kualitas dengan pengelolaan dan pembiayaan yang efektiv dan efisien. (11) Asas ketepatan waktu yang dimaksud dengan asas ketepatan waktu adalah penyelesaian setiap jenis pelayanan dilakukan tepat waktu sesuai dengan standar pelayanan kesehatan yang ditetapkan. (12) asas fasilitas dan perlakukan khusus bagi kelompok rentan yang dimaksud dengan fasilitas dan perlakuan khusus bagi kelompok rentan adalah pemberian kemudahan pelayanan kesehatan gratis bagi kelompok rentan, seperti fakir miskin, anak terlantar, lanjut usia sehingga tercipta keadilan dalam pelayanan kesehatan gratis. Pasal 3 Yang dimaksud dengan tercapainya derajat kesehatan masyarakat adalah tercapainya suatu keadaan kesehatan masyarakat dimana keadaan tersebut lebih baik dari keadaan sebelumnya sehingga masyarakat dapat hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Sedangkan yang dimaksud dengan peradaban fitrah yang maju adalah suatu keadaan diaman peradaban masyarakat sumbawa barat yang secara sosial ekonomi, budaya, politik dan hukum, serta keamanan memiliki kemandirian dan kemajuan yang tinggi dalam mengembangkan berbagai potensi dan peluang pembangunan di Kabupaten Sumbawa Barat, sehingga kesejahteraan sosial di Kabupaten Sumbawa Barat dapat tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan. Pasal 4 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Yang dimaksud dengan Program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat adalah program jaminan sosial pemerintah daerah di bidang kesehatan yang diberikan oleh pemerintah daerah kabupaten sumbawa barat kepada seluruh penduduk kabupaten sumbawa barat yang dijamin kesehatannya oleh pemerintah daerah. Ayat (3) Yang dimaksud dengan jaminan asuransi kesehatan adalah asuransi kesehatan yang dibayar oleh pemerintah daerah untuk setiap peserta yang memenuhi syarat sebagai peserta layanan kesehatan dan pengobatan gratis kepada penyelenggara asuransi kesehatan yang ditunjuk/ditetapkan oleh pemerintah daerah sebagai pihak penyelnggara asuransi kesehatan layanan kesehatan gratis di Kabupaten Sumbawa Barat Pasal 5 Cukup jelas. Pasal 6 Ayat (1) Huruf a Cukup jelas Huruf b Yang dimaksud dengan penghasilan rendah adalah penghasil yang tidak tercapainya kehidupan yang layak dengan penghasilan Rp.10.000 atau 1,00 dolar AS perhari. Huruf c Asuransi dimaksud antaralain adalah asuransi kesehatan (ASKES), Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek), dan asuransi lainnya.
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

112

Ayat (2) Yang dimaksud dengan Kartu Tanda Penduduk adalah identitas resmi Penduduk sebagai bukti diri yang diterbitkan oleh Dinas Kependudukan atau instansi resmi yang ditunjuk oleh Pemerintah Daerah untuk menerbitkan Kartu Tanda Penduduk. Sedangkan yang dimaksud dengan Kartu Keluarga adalah kartu identitas keluarga yang memuat data tentang nama, susunan dan hubungan dalam keluarga, serta identitas anggota keluarga. Ayat (3) Bagi Pegawai Negeri Sipil atau Pegawai Honorer/Sukarela Daerah atau Pegawai Swasta surat keterangan penghasilan dikeluarkan dari atasan/instansi dimana tempat bekerja, bagi petani, peternak, atau penduduk yang belum bekerja, dibuat surat pernyataan penghasilan oleh yang bersangkutan diatas materai dan disahkan/rekoemndasikan oleh pemerintah desa dan diketahui oleh pemerintah kecamatan setempat. Pasal 7 Cukup jelas. Pasal 8 Cukup jelas. Pasal 9 Cukup jelas. Pasal 10 Cukup jelas. Pasal 11 Cukup jelas. Pasal 12 Cukup jelas. Pasal 13 Cukup jelas. Pasal 14 Pasal 15 Cukup jelas. Pasal 16 Cukup jelas Pasal 17 Cukup jelas. Pasal 18 Cukup jelas. Pasal 19 Cukup jelas. Pasal 20 Cukup jelas. Pasal 21 Cukup jelas. Pasal 22 Cukup jelas. Pasal 23 Cukup jelas. Pasal 24 Cukup jelas. Pasal 25 Cukup jelas. Pasal 26 Cukup jelas. Pasal 27 Ayat (1)
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

113

Cukup jelas. Pasal 28 Ayat (1) Yang dimaksud dengsn standar pelayanan adalah tolok ukur yang dipergunakan sebagai pedoman penyelenggaraan pelayanan dan acuan penilaian kualitas pelayanan sebagai kewajiban dan janji penyelenggara kepada masyarakat dalam rangka pelayanan yang berkualitas, cepat, mudah, terjangkau, dan terukur. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 29 Cukup jelas Pasal 30 Ayat (1) Yang dimaksud dengan maklumat pelayanan adalah pernyataan tertulis yang berisi keseluruhan rincian kewajiban dan janji yang terdapat dalam standar pelayanan. Ayat (2) Publikasi adalah kegiatan komunikasi melalui penyebaran informasi dan atau pengumuman/pernyataan kepada masyarakat dan para pemangku kepentingan. Publikasi tersebut dapat dilakukan melalui penyebaran informasi di media massa cetak maupun elektornik, pemasangan brosur, spanduk dan media informasi lainnya. Pasal 31 Ayat (1) Yang dimaksud dengan Sistem informasi Layanan Kesehatan Gartis adalah rangkaian kegiatan yang meliputi penyimpanan dan pengelolaan informasi tentang data kepesertaan program layanan kesehatan gratis, jenis dan cakupan layanan, data jumlah pasien yang berkunjung, jumlah dan jenis penyakit, jumlah dan jenis obat, dan data serta informasi lainnya, serta mekanisme penyampaian informasi dari penyelenggara kepada masyarakat dan sebaliknya dalam bentuk lisan, tulisan Latin, tulisan dalam huruf Braile, bahasa gambar, dan/atau bahasa lokal, serta disajikan secara manual ataupun elektronik. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 32 Ayat (1) Jaminan sebagaimana dimaksud adalah berupa ketersediaan anggaran khusus untuk alokasi pembiayaan pelayanan dan pengobatan gratis di puskesmas dan jaringannya. Ayat (2) Cukup jelas .Ayat (3) Dana cadadangan sebagaimana dimaksud adalah dana taktis yang dialokasikan oleh Pemerintah Daerah bersama dengan DPRD untuk mengantisipasi penambahan jumlah peserta penerima layanan kesehatan gratis pada tahun anggaran atau program berjalan. Ayat (4)
Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

114

Asumsi dana cadangan 10% didasari jumlah pertumbuhan penduduk dan jumlah peserta pelayanan kesehatan gratis mengalami peningkatan per tahun sebanyak 10%, jika alokasi biaya kesehatan APBD tahun anggaran sekarang 1 milyar, maka alokasi dana cadangan sebesar Rp.100 juta dalam APBD tersebut, jumlah dana cadangan ini disesuaikan dengan tingkat kebutuhan dan perkembangan jumlah layanan kesehatan gratis. Pasal 33 Cukup jelas. Pasal 34 Ayat (1) yang dimaksud dengan fasilitas pelayanan kesehatan adalah tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan, baik promotif, preventif, kuratif maupun rehabilitatif yang dilakukan oleh pemerintah, pemerintah daerah dan atau masyarakat termasuk swasta.

Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 35 Cukup jelas. Pasal 36 Cukup jelas. Pasal 37 Cukup jelas. Pasal 38 Cukup jelas. Pasal 39 Cukup jelas. Pasal 40 Cukup jelas Pasal 41 Cukup jelas. Pasal 42 Cukup jelas. Pasal 43 Ayat (1) yang dimaksud dengan evaluasi dan penilaian kinerja kegiatan evaluasi yang dilakukan secara periodik yang dilakukan oleh instansi yang bersangkutan meliputi antara lain kegiatan evaluasi dan penilaian bulanan, evaluasi dan penilaian tengah semester, serta evaluasi dan penilaian tahunan. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 44 Ayat (1) Penghargaan (reward) kepada para pelaksana/tenaga kesehatan yang berprestasi dapat diberikan dalam bentuk pemberian beasiswa, pelatihan atau dalam bentuk lainnya sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan daerah. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 45 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2)

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

115

yang dimaksud dengan unit khusus/Komisi pengaduan adalah kelompok kerja/bidang kerja yang secara khusus menangani pengaduan dan penyelesaian pengadian pelayanan kesehatan masyarakat, unit/komisi khusus ini secara struktural organisasi dapat berada dibawah atau bagian dari Dewan Kesehatan Daerah dan atau dapat dibentuk secara tersendiri, sifatnya dapat adhoc atau permanen sesuai dengan situasi dan kondisi serta kebutuhan daerah. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 46 Cukup jelas. Pasal 47 Ayat (1) Jaminan dimaksud adalah jaminan atas perlindungan hukum atas hak-hak pasien atau hak-hak masyarakat, dimana masyarakat sebagai pelapor/pengadu tidak dibolehkan untuk diberikan ancaman dari penyelenggara atau pelaksana pelayanan kesehatan, baik berupa ancaman fisik maupun psikologis, serta ancaman lainnya seperti ancaman gugatan/pelaporan atau sanksi hukum karena laporannya/pengaduannya atas pelayanan kesehatan yang disampaikan pasien atau masyarakat atas layanan kesehatan yang berikan oleh penyelnggara maupun oleh tenaga kesehatan. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Cukup jelas Pasal 48 Cukup jelas. Pasal 49 Cukup jelas. Pasal 50 Cukup jelas. Pasal 51 Cukup jelas. Pasal 52 Cukup jelas. Pasal 53 Cukup jelas. Pasal 54 Cukup jelas. Pasal 55 Cukup jelas. Pasal 56 Cukup jelas. Pasal 57 Cukup jelas. Pasal 58 Cukup jelas. TAMBAHAN LEMBARAN DAERAH ............5063 KABUPATEN SUMBAWA BARAT NOMOR

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

116

Diterbitkan oleh LEGITIMID atas dukungan TIFA Foundation Jakarta

117