Anda di halaman 1dari 2

Reaksi Kusta adalah interupsi dengan episode akut pada perjalan penyakit yang sebenarnya sangat kronik.

Ada dua tipe reaksi menurut hipersensitifitas yang menyebabkannya: 1. Reaksi tipe 1 disebabkan reaksi hipesensitifitas selular 2. Reaksi tipe 2 disebabkan hipersensitifitas humoral Fenomena lucio atau reaksi kusta tipe 3, sebenarnya merupakan bentuk reaksi tipe 2 yang lebih berat. Dari segi imunologisnya terdapat perbedaan prinsip antara reaksi tipe 1 dan tipe 2, yaitu pada tipe 1 yang memegang peranan adalah imunitas selular, sedangkan pada tipe 2 imunitas humoral. Menurut Ridley dan Jopling spectrum kusta terdiri atas 5 tipe yaitu: TT, BT, BB, BL, LL. Bentuk TT dan LL disebut bentuk polar dan mempunyai imunitas yang stabil, sedangkan yang lainnya disebut bentuk subpolar dan imunitasnya tidak stabil. Disamping tipe-tipe tersebut terdapat tipe TTs dan LLs, yang merupakan bentuk subpolar, berdekatan sekali dengan tipe TT maupun LL, sehingga secara klinis sukar dibedakan dengan bentuk TT maupun LL (klinis seperti TT dan LL, tetapi imunitasnya tidak stabil). Semakin tinggi imunitas (SIS) yang dimiliki seseorang pasien kusta, semakin tinggi jumlah basil yang dikandungnya. Pada tipe TT dengan imunitas tang tinggi sukar sekali menemukan basil, sedangkan pada tipe LL yang hampir atau tidak mempunyai imunitas, dengan mudah basil dapat ditemukan. Reaksi Tipe 1 Menurut Jopling reaksi kusta tipe 1 merupakan delayed hypersensitivity reaction seperti halnya reaksi hipersensitifitas tipe IV menurut Coombs dan Gell. Antigen yang berasal dari basil yang telah mati (breaking down leprosy bacilli) akan bereaksi dengan limfosit T disertai perubahan SIS yang cepat. Jadi pada dasarnya reaksi tipe 1 terjadi akibat perubahan keseimbangan antara imunitas (SIS) dan basil. Dengan demikian sebagai hasil reaksi tersebut dapat terjadi upgrading / reversal, apabila menuju kea rah tuberkuloid (terjadi peningkatan SIS) atau down grading, apabila menuju ke bentuk lepromatosa (terjadi penurunan SIS). Pada kenyataannya eaksi tipe 1 ini diartikan sebagai reaksi reversal oleh karena paling sering ditemui terutama pada kasus-kasus yang mendapat pengobatan, sedangkan down grading reaction lebih jarang ditemui oleh karena berjalan lebih lambat dan umumnya dijumpai pada kasus-kasus yang tidak mendapat pengobatan. Meskipun secara teoritis reaksi tipe 1 ini dapat terjadi pada semua bentuk kusta yang subpolar, tetapi pada bentuk BB lebih sering terjadi daripada bentuk yang lain. Bentuk BB, apabila terjadi reaksi reversal akan menjadi bentuk BT dan akhirnya ke bentuk TTs sedangkan bila down grading akan menjadi bentuk BL dan akhirnya ke bentuk LLs. Gejala klinis reaksi reversal ialah umumnya sebagian atau seluruh lesi yang telah ada bertambah aktif dan atau timbul lesi baru dalam waktu yang relative singkat. Perlu diperhatikan apakah reaksi ini disertai neuritis atau tidak. Sebab kalau tidak disertai neuritis tidak perlu diberi pengobatan tambahan. Kalau ada neuritis akut, obat pilihan pertama adalah kortikosteroid yang dosinya juga disesuaikan dengan berat ringannya neuritis, makin berat makin tinggi dosisnya. Biasanya diberikan prednisone 40-60 mg sehari, kemudian diturunkan perlahan-lahan. Pengobatan harus secepat-cepatnya dan dengan dosis yang adekuat untuk mengurani terjadinya kerusakan saraf secara mendadak. Reaksi Tipe 2

Reaksi tipe 2 ini dikenal dengan nama eritema nodusun leprosum (ENL). ENL merupakan reaksi hipersensitifitas tipe 3 menurut Coomb dan Gell. Antigen berasal dari produk kuman yang telah mati dan bereaksi dengan antibodi membentuk komplek Ag-Ab. Kompleks Ag-Ab ini akan mengaktivasi komplemen sehingga terjadi ENL. Jadi ENL merupakan reaksi humoral yang merupakan manifestasi sindrom kompleks imun. Terutama terjadi pada LL dan LLs dan kadang-kadang pada bentuk BL. Biasanya disertai gejala-gejala sistemik. Baik reaksi tipe 1 maupun tipe 2 ada hubungan dengan pemberian pengobatan antikusta, hanya saja reaksi tipe 2 tidak lazim terjadi dalam 6 bulam pertama pengobatan, tapi justru terjadi pada akhir pengobatan karena basil telah menjadi granular. Tidak terlihat gambaran perubaha lesi kusta seperti pada reaksi tipe 1 (SIS tidak berubah, dengan demikian kedudukannya dalam spectrum pun tetap. Obat yang paling sering dipakai untuk menangani reaksi ini adalah tablet kortikosteroid, antara lain prednisone. Dosisnya bergantung pada berat ringannya reaksi, biasanya prednisone 15-30 mg sehari, kadang-kadang lebih. Makin beratnya reaksi makin tinggi dosisnya, tetapi sebaliknya bila reaksinya terlalu ringan tidak perlu diberikan. Sesuai dengan perbaikan reaksi, dosisnya diturunkan secara bertahap sampai berhenti sama sekali.